Rabu, 09 Oktober 2013

KEUTAMAAN 10 HARI BULAN DZULHIJJAH

Diriwayatkan imam Al-Bukhary dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu, bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah satu hari seorang beramal shalih di dalamnya melainkan akan lebih dicintai Allah dari pada hari-hari lainnya, ( Yaitu 10 hari dibulan dzul-Hijjah)". Para sahabat bertanya, "Apakah lebih baik dari berjihad fi sabilillah?". Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ya lebih dari berjihad fi sabilillah, kecuali bila ia berjihad dengan harta dan nyawanya kemudian ia tidak kembali lagi selamanya".

Diriwayatkan Imam Ahmad, dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu'anhu, dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda," Tidaklah suatu hari beramal di dalamnya lebih utama dan lebih dicintai Allah dari 10 hari ini (Dzul-Hijjah), maka perbanyaklah bertahlil, bertakbir, dan bertahmid".

Dibawakan oleh Ibnu Hibban, dari sahabat Jabir radhiyallahu'anhu, dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Seutama-utama hari adalah hari Arofah". Jika kita merenungi akan keutamaan 10 hari ini maka seyogyanya kita banyak melakukan amal shalih yang sesuai dengan sunnah Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam diantaranya sebagai berikut:

1. Menunaikan ibadah haji dan umroh bagi yang mampu dan diberi kesempatan, ibadah ini adalah yang paling utama, Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ibadah umroh sampai umroh berikutnya adalah penghapus dosa antara keduanya, ibadah Haji yang mabrur tiada balasan baginya kecuali surga".

2. Melakukan ibadah Puasa di hari-hari ini, terlebih khusus pada puasa hari Arofah. Ibadah puasa banyak memiliki keutamaan secara khusus, sebagaimana di dalam hadist Qudsy, Allah Ta'ala berfirman: "Ibadah puasa hanyalah untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasi nya secara langsung, ia meninggalkan syahwatnya dan makan minumnya karena-Ku".

Dari sahabat Abu Said Al-khudriy radhiyallahu'anhu berkata, bersabda Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, "Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari karena Allah kecuali ia akan dijauhkan wajahnya dari api neraka di hari Kiamat kelak sejauh tujuh puluh khorif (perjalanan sejauh 70 th)". (HR Bukhary dan Muslim).

Diriwayatkan oleh imam Muslim dalam Shohihnya, dari Sahabat Abu Qotadah radhiyallahu'anhu, dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Berpuasa di hari Arofah aku berharap kepada Allah agar diampuni dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang".

3. Banyak mengucap Takbir dan berdzikir pada hari-hari yang muliya ini, Allah Ta'ala berfirman, "Dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan". (QS.Al-Hajj: 28). Ditafsirkan maksud hari-hari tersebut adalah 10 hari bulan Dzul Hijjah, disunnahkan agar banyak berdzikir sebagaimana hadist Ibnu Umar radhiyallahu'anhu dalam riwayat Imam Ahmad, "Maka perbanyaklah pada hari tersebut untuk bertahlil, bertakbir, dan bertahmid".

Imam Bukhory membawakan riwayat dari sahabat Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu'anhuma, bahwa beliau berdua pergi menuju pasar pada hari yang 10 dan bertakbir, maka para manusia bertakbir bersama beliau berdua. Dan disunnahkan mengeraskan suara tatkala bertakbir, baik di pasar, di rumah, di jalanan, dan selainnya. Allah Ta'ala berfirman: "Agar kalian mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepada kalian". (QS.Al-Hajj: 37). Dan tidak dibolehkan bertakbir jama'ah yang bersifat satu lafadz dan satu suara, karena hal ini tidak pernah dilakukan para salaf terdahulu, akan tetapi hendaknya masing-masing bertakbir sendiri.

4. Memperbanyak taubat dan melepas segala kemaksyiatan dan dosa, hingga memperoleh magfiroh dan rohmah, dikarenakan dalam hadist Abu Hurairah dinyatakan, "Sesungguhnya Allah memiliki kecemburuan, dan kecemburuan Allah adalah tatkala seorang hamba melakukan maksyiat kepada Allah". (HR.Bukhary dan Muslim).

5. Memperbanyak amal-amal sunnah dari berbagai jenis ibadah seperti sholat-sholat sunnah, sedekah, tilawah, menjalankan amar ma'ruf, nahi munkar, dan yang lainnya niscaya akan dilipat gandakan amal tsb.

6. Disyariatkan untuk berqurban dan menyembelih pada hari 'ied dan hari tasyrik, dan ini adalah sunnah dari semenjak Nabi Ibrahim-alaihissalam- tatkala Allah berikan ganti sembelihan yang besar untuk putranya Ismail, dan sebagaimana Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam menyembelih dua ekor domba besar bertanduk. (HR Bukhary dan Muslim).

7. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummu Salamah, bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam apabila telah melihat bulan Dzul Hijjah, dan telah berniat untuk berqurban maka menahan diri dari memotong rambut, kuku, hingga menyembelih hewan qurban, hal ini bisa jadi Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam mengqiyaskan dengan para jamaah haji yang membawa sembelihan yang diniatkan untuk disembelih.

Allah Ta'ala berfirman, "Dan janganlah kalian mencukur kepala kalian sebelum sembelihan sampai di tempat penyembelihannya". (QS.Al-Baqoroh: 196). Larangan mencukur ini hanya khusus bagi yang berkendak menyembelih, adapun keluarga, anak, tidak masuk dalam larangan, kecuali ia menyembelih juga secara khusus untuk sang anak atau istri.

8. Sepantasnya seorang muslim berusaha untuk mengerjakan sholat 'Ied dan hadir dalam khutbah hingga bisa mengambil faidah, dan menemukan hikmah dari disyariatkan 'Ied ini, yaitu hari bersyukur, hari beramal kebaikan. Hendaknya setiap muslim dapat mengambil manfaat pada hari-hari ini untuk bertaat kepada Allah, banyak berdzikir, menunaikan kewajiban-kewajiban, menghindari perkara yang diharamkan, hingga meraih ridho Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dia-lah Dzat Yang memberi hidayah menuju jalan yang lurus.

Selasa, 08 Oktober 2013

KAIDAH DALAM MEMPERBAIKI HUBUNGAN KELUARGA

Hidup adalah suatu tantangan, yang banyak dijumpai aral yang melintang yang dapat menganggu keberlangsungan pasangan suami istri dan kebahagiyaannya. Dalam hal ini ada beberapa nasehat yang ditulis oleh fadhilatus Syaikh Abul Aziz Ar-Royyis, diantaranya sebagai berikut:

** Hendaknya pasangan suami-istri mengingat akan kenikmatan dalam menjalin rumah tangga antara keduanya, dan selalu menginggat bahwa syetan sangatlah gencar untuk merusak nikmat ini, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Maka mereka mempelajari dari keduanya (harut-marut) apa yang dapat memisahkan antara seorang suami dengan istrinya". (QS.Al-Baqoroh: 102).

Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya iblis memiliki singasana di atas air dan mengutus para pasukannya, dan pasukan tersebut kembali memberikan laporan, yang paling ringan diantara mereka datang dengan membawa fitnah yang amat besar seraya mengatakan, 'Aku melakukan keburukan ini dan itu', maka iblis menjawab, 'Engkau tidak melakukan sesuatu yang berarti bagiku'. Kemudian datang salah satu dari mereka mengatakan, 'Aku tidaklah meninggalkan mereka -manusia- hingga aku telah memisahkan antara laki-laki dengan para istri mereka'. Maka iblis mendekatinya seraya berkata, 'Kamu hebat, kamu hebat'." (HR.Muslim).

**Jika menjumpai tipu daya syetan untuk merusak hubungan pasutri, terkadang berupa tidak timbulnya kasih sayang kecuali setelah satu tahun, maka jangan terburu-buru, karena sifat terburu-buru datang dari syetan, dan Allah mencela sifat ini dalam firman-Nya: "Dan manusia memiliki sifat terburu-buru". (QS.Al-Isro': 11).

**Jika seseorang membenci pasangannya dalam sifat tertentu, maka ingatlah bahwa disana pula ada banyak perangai yang disukai, Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam memberikan nasihat dalam sabda beliau, "Janganlah seseorang mukmin menceraikan pasangannya mukminah, jika ia benci dalam satu sisi, niscaya ia pasti menjumpai hal yang ia sukai dari sisi yang lain". (HR.Muslim).

**Jika benar-benar benci antara satu dengan yang lain, maka hendaknya keduanya tetap bersabar, bisa jadi Allah berkendak kebaikan yang tidak ia ketahui, bisa jadi kebaikan kepada sang anak atau lainnya, Allah Ta'ala berfirman: "Maka bisa jadi engkau membenci sesuatu dan Allah menjadikan hal itu sesuatu kebaikan yang melimpah". (QS.An-Nisaa': 19).

**Memahami secara nyata bahwa kehidupan rumah-tangga bukanlah hanya sekedar bersenang-senang, sendau-gurau antara pasutri, masih saja beranggapan bahwa ia adalah permaisuri yang tinggal di kamar sang raja, atau pangeran yang sediakala memerintah, akan tetapi hendaknya ia memandang jauh ke depan bahwa ini adalah amanah yang harus dijalankan dan beban serta tanggung jawab yang nantinya akan ditanyakan di padang mahsyar.

**Seorang istri hendaknya memahami bahwa qowam (pemimpin) dan penegak serta pemegang kendali berada di tangan suami yang harus ditaati. Allah Ta'ala berfirman: "Para lelaki(suami) adalah pemimpin bagi wanita(istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka memberikan nafkah dari hartanya". (QS.An-Nisaa': 34).

Demikian pula hendaknya para suami memahami akan kasih sayang kepada para istri, Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam berpesan kepada para lelaki dalam sabdanya, "Aku wasiatkan kalian agar berbuat baik kepada para wanita". (HR.Bukhary-Muslim).

**Para suami tatkala memimpin istri hendaknya mengunakan cara yg lembut dalam meluruskan kekurangan yang dijumpai, Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam menerangkan dalam sabdanya, "Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, rusuk yang paling bengkok adalah bagian yang paling atas, jika engkau terlalu keras dalam meluruskannya niscaya akan patah, dan jika engkau biarkan maka niscaya ia dalam kondisinya yang bengkok". (HR.Bukhary dan Muslim).

**Seorang istri hendaknya menyadari bahwa dirinya adalah pusat kecintaan dan kebahagiaan sang suami, maka hendaknya ia berdandan dan berhias kepada suaminya. Demikian pula suami hendaknya berpenampilan menawan, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut (ma'ruf)". (QS.Al-Baqoroh: 228).

**Diantara perkara yang membawa keabadian rumah tangga serta kebahagiaannya adalah karakter yang kuat bagi suami, hingga mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang menghampirinya, walau tidak menghilangkan rasa romantis antara keduanya, akan tetapi ia berjiwa kokoh, kuat, tanpa kasar dan lapuk.

**Memperbaharui rasa cinta kasih antar pasutri, dengan saling memberi hidayah dan kenangan. Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Hendaknya kalian saling memberi hadiah, niscaya akan timbul cinta-kasih". (HR.Bukhary dalam Adab Mufrodnya).

**Hendaknya para istri banyak menyibukkan diri untuk berkhidmat untuk suami di dalam rumah, bukan meniti karir di luar rumah hingga urusan dapur dan sumur tidak terkondisi dengan baik.

**Hendaknya pasangan pasutri tatkala memanggil pasangannya dengan panggilan yang paling disukai dan mengandung pujian antara keduanya. Allah Ta'ala berfirman: "Katakanlah kepada para hamba-Ku, hendaknya mereka berkata-kata dengan ucapan yang paling baik, sesungguhnya syetan menggoda(menggelincirkan) mereka". (QS.Al-Isro': 53).

**Tidak saling melupakan kebaikan yang telah dilakukan antara pasutri, banyak jasa dan kenangan indah dan manis yang telah mereka lalui, oleh karenanya tidak mengkufuri dan melalaikan ukiran sejarah, terlebih bila telah memasuki usia udzur dan lamanya hubungan antar keduanya. Karena kufur nikmat akan mengantarkan wanita ke ancaman jurang neraka.

**Hendaknya pasangan pasutri saling menampakkan kebahagiaan dan kecintaannya, sebagaimana anjuran Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, "Jika salah seorang diantara kalian mencintai lainnya maka hendaknya ia memberitahukan kencintaan tersebut padanya". (HR.Ahmad).

**Hendaknya para istri mencurahkan perhatian kepada sang anak dengan perhatian yang besar, agar menimbulkan cinta kasih antara pasutri, dikatakan, "Wanita suku Quraisy adalah wanita yang paling baik, lihai mengendarai onta, sayang kepada anak, taat kepada suami".

**Merupakan faktor yang amat berperan dalam merusak hubungan pasutri adalah melihat apa yang ada pada rekan-rekannya, kerabatnya, tetangganya dari kenikmatan apa yang tidak ada pada pasangannya. Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Lihatlah kepada orang-orang yang berada dibawah kalian, dan jangan melihat kepada yang ada diatas kalian, agar kalian lebih bisa merasa cukup hingga tidak ingkar nikmat Allah".

**Jika terjadi permasalahan antara pasutri maka hendaknya keduanya saling bertaqwa kepada Allah dan berusaha untuk meredamnya dan mencari solusi, Allah Ta'ala berfirman: "Jika keduanya menghendaki islah (memperbaiki keadaan) niscaya Allah beri taufiq keduanya". (QS.An-Nisa': 35).

**Do'a merupakan sebab langgengnya hubungan pasutri dan kebahagiaan keduanya, Allah Ta'ala berfirman: "Dan jika para hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) maka katakan Aku Maha Dekat, Aku niscaya mengabulkan permintaan jika mereka memohon kepada-Ku". (QS.Al-Baqoroh: 186).

Aku memohon kepada Allah agar menjadikan risalah ini bermanfaat bagi para pasutri hingga membawa keabadiyan dalam cinta-kasih diantara mereka dan saling bekerja sama dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

http : // islamancient.com/ Dr. Abdul Aziz ar-Rayyis.

Senin, 07 Oktober 2013

RIBA

Dahulu zaman jahiliyah riba berkembang dan bertumbuh subur, hingga mereka menganggap sebagai mesin pencetak laba yang amat besar, bahkan tatkala salah seorang diantara mereka berkehendak melunasi hutangnya maka dikatakan, "Engkau hendak melunasi atau menambah riba?". Sekiranya tidak dilunasi maka akan ditambahkan biaya tambahan sekaligus diperpanjang masa pelunasan. Berkata Al-Imam At-Thobary dengan sanad di dalam tafsirnya meriwayatkan dari Mujahid berkata, "Dahulu di masa jahiliyah seseorang berkata kepada yang dimintai hutang, 'Engkau akan aku tambai sekian dan sekian tambahan jika engkau memberi perpanjangan pelunasan kepadaku' " - Ja'miul Bayan 3/67-

Telah dijumpai banyak dalil Al Kitab dan As-Sunnah yang memperingatkan dari riba, bahkan perkara tersebut telah diharamkan di setiap Al-Kitab yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul. Allah Ta'ala berfirman: "Dan Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan perbuatan riba". (QS.Al-Baqoroh: 275).

Allah Ta'ala berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan tingalkan apa yang masih tersisa dari perbuatan riba, jika kalian benar-benar beriman. Jika sekiranya kalian tidak meninggalkannya, maka kumandangkan peperangan dari Allah dan Rasul-Nya". (QS.Al-Baqoroh: 278-279).

Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Allah melaknati pemakan riba, pemberi riba, pencatat riba, kedua saksi transaksi riba, mereka semua sama". (HR.Muslim dan Tirmidzy). Kalimat laknat dalam segala aktifitas riba di atas menunjukkan bahwa riba termasuk dari dosa besar.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu, "Bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam melarang menjual buah-buahan hingga telah matang", dan berkata, "Apabila muncul perbuatan zina dan riba pada suatu kampung, sungguh penduduk tersebut telah menghalalkan Adzab atas diri mereka". (HR.Al-Hakim).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, "Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yg akan membawa kebinasaan". "Apa itu wahai Rosulullah?" Beliau bersabda, "Berbuat syirik, sihir, membunuh suatu jiwa dengan tanpa hak, memakan hasil riba, memakan harta anak yatim, berpaling dari peperangan, menuduh wanita baik berbuat zina". (HR.Bukhary dan Muslim).

Dari Samuroh ibnu Jundub radhiyallahu'anhu, bersabda Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, "Sesungguhnya tadi malam aku didatangi dua malaikat, berkata kepadaku, pergilah bersamaku, maka sampailah pada suatu sungai yang airnya merah darah, di tepi sungai terdapat seseorang yang telah menumpuk bebatuan besar disampingnya, tiba-tiba muncul seseorang yang tengah berenang di sungai tersebut dan dilempari batu pada mulutnya, maka ia kembali ketempat semula, dan jika ia berenang maka dilempari kembali dan menyumpal mulutnya dan begitu seterusnya. Maka Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada kedua Malaikat tersebut, "Siapa dia?" Maka dijawab, "Ia pemakan riba". (HR.Bukhary).

Dari sahabat Ibnu Mas'ud radhiyallahu'anhu bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda," Tidaklah seseorang berbanyak harta dari riba kecuali dipenghujung urusannya menjadi lenyap ". (HR.Ibnu Majah).

Tatkala seseorang terhimpit riba maka hendaknya ia mencari solusi yang terbaik, yaitu kembali ke jalan Allah, dimana Allah Ta'ala telah berfirman: "Siapakah yang mampu mengabulkan panjatan doa tatkala dalam keadaan terjepit dan menyingkap kesusahan ???". (QS An-Naml: 62)

Allah Ta'ala berfirman: "Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya diberikan padanya jalan keluar, dan dikaruniai rizki dari jalan yang tidak ia sangka-sangka, dan barang siapa bertawakal kepada Allah maka Dia-lah pencukup segala urusannya". (QS.At-Tholaq: 2-3).

Seorang muslim hendaknya terus-menerus berusaha berpegang dengan syari'at dalam segala urusannya, melaksanakan kewajiban dan menghindari perkara haram dan makruh, melakukan perbuatan mustahab dan mubah sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan, dan berhati-hati dalam perkara syubhat yang dikhawatirkan terjerumus dalam perkara terlarang.

Dari sahabat Nu'man ibnu Basyir radhiyallahu'anhu, ia mendengar Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya halal sangat jelas, dan haram sangat jelas, dan diantara keduanya terdapat perkara samar yang tidak diketahui kebanyakan manusia, dan barang siapa menjauhi syubhat maka ia telah menjaga diri dan agamanya. Dan barang siapa terperangkap dalam perkara syubhat maka ia terjerumus dalam perkara haram, seperti penggembala ternak disekitar tapal batas, dikawatirkan terjerumus dalam larangan. Ketahuilah setiap Raja memiliki batasan, ketahuilah batasan Allah adalah apa yang telah diharamkan, ketahuilah di setiap jasad terdapat segumpal daging, jika baik maka baik seluruh badannya, dan jika buruk maka buruklah seluruh anggaota tubuhnya, gumpalan daging tersebut adalah hati". (HR Bukhary dan Muslim).

Berkata Imam An-Nawawy, "Para ulama' sepakat akan agungnya hadist ini, memiliki banyak faidah dan tergolong dalam hadist yang menjadi pondasi ajaran islam, bahkan berkata sekumpulan Ahli Ilmi, hadist ini sepertiga ajaran agama islam, yaitu hadist di atas,  hadist tentang amal bertumpu pada niat dan hadist tentang termasuk baiknya seseorang adalah menjauhi perkara yang tidak berguna". (HR Malik dalam kitab Al-Muwatho').

Sabtu, 05 Oktober 2013

QURBAN

Berqurban atau yang dikenal dengan 'udhiyah adalah sesuatu yang disembelih di waktu dhuha atau sesuatu yang disembelih dari hewan onta, sapi atau domba dalam rangka ibadah mendekatkan diri kepada Allah di hari Ied Qurban. Hukum melakukan ibadah ini paling tidak sunnah muakkadah, bahkan sebagian ahli ilmu berpendapat wajib bagi yang mampu.

Allah Ta'ala berfirman: "Dan setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban) agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka yang berupa hewan ternak. Maka Tuhan-mu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikan (wahai Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk dan patuh (kepada Allah)". (QS Al-Hajj: 34).

Di dalam melaksanakan ibadah ini tentu kita tidak sembarangan berqurban, tentu memilih dan memilah mana yang layak dipersembahkan kepada Allah dan mana yang tidak pantas. Paling tidak harus cukup umur dan selamat dari cacat dan tidak terlalu kurus yang mana bertolak belakang dari makna berqurban.

Allah Ta'ala berfirman: "Demikianlah, Dan barang siapa yang mengagungkan Syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketaqwaan hati".(QS. Al-Hajj: 32).

 Berkata Ibnu Katsir dlm tafsirnya, "Termasuk dalam ayat ini mengagungkan hewan qurban yang mana memilih yang paling baik paling gemuk paling mahal. Berkata Abu Umamah ibn Sahl, "Kami dahulu di Madinah memilih yang paling berharga(mahal) dan kaum muslimin di hari itu memilih yang paling tinggi harganya". (HR Bukhary).

Dan Allah Ta'ala menegaskan di dalam ayat yang muliya yang sepantasnya kita memperhatikannya, "Tidak akan sampai daging (hewan kurban) dan darahnya kepada Allah, akan tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketaqwaan kamu. Demikianlah Dia mengaruniakannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik".(QS.Al-Hajj: 37).

Berkata Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya 10/70, "Allah Ta'ala mengatakan, "Sesungguhnya disyariatkan bagi kalian berkurban dan menyembelih sembelihan, agar kalian ingat kepada-Nya tatkala menyembelih, karena Dia adalah Sang Pencipta dan Pemberi Rizki, dan tidak akan butuh pada daging dan darahnya sedikitpun, dikarenakan Ia adalah Dzat Yang Maha Kaya atas selainnya.

 Dahulu di zaman jahiliyah, bilamana mereka menyembelih untuk tuhan-tuhan mereka, mereka menaruh daging dan darah di hadapan berhala mereka dan memerciki darah padanya. Maka dalam syariat islam Allah tegaskan, "Tidak akan sampai daging dan darah tersebut kepada Allah sedikitpun".

AMALAN SUNNAH DI BULAN DZULHIJJAH

Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sebaik-baik hari di dunia adalah sepuluh hari di bulan Dzulhijjah".(HR.Al-Bazzar dan Ibnu Hibban dan disahkan Imam Al-Albany).

Bilamana kita mengetahui keutamaan bulan ini, bahwasanya ini adalah suatu kesempatan emas yang Allah berikan kepada kita, maka sepantasnya kita mengisi hari-hari ini dengan penuh semangat dan mengkhususkan perhatian padanya dan berlomba di dalam kebaikan, sebagaimana pernyataan orang-orang salaf, diantaranya Abu Utsman An-Nahdy bercerita, "Dahulu para Salaf, senantiasa mengagungkan sepuluh hari yang tiga, yang pertama: Sepuluh hari akhir Ramadhon, yang kedua: Sepuluh hari awal Dzulhijjah, yang ketiga: Sepuluh hari di awal Muharrom.

Diantara Amal-amal salih sebagai berikut:

1. Menunaikan manasik Haji dan Umroh bagi yang Allah berikan kemampuan. Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Umroh ke umroh berikutnya akan menghapus antara keduanya, dan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga".(HR Bukhary dan Muslim)

2. Berpuasa, dimana Allah berfirman dalam hadist Qudsy, "Setiap amal anak Adam untuknya pribadi, kecuali puasa sesungguhnya ini untuk-Ku, dan Aku akan balasi dengannya". (HR.Bukhari-Muslim).

Dan Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam telah mengkhususkan puasa di hari Arofah di sepuluh hari tersebut, dan bersabda, "Puasa hari Arofah aku berharap kepada Allah agar diampuni setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya". (HR.Muslim).

Diantara amal-amal yang dianjurkan untuk memperbanyak di bulan nan suci ini adalah:

3. Sholat, dikarenakan sholat merupakan amal yang paling mulia, dan banyak dalil yang menganjurkannya, oleh karenanya diwajibkan agar menjaga sholat pada waktunya dengan berjamaah, Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, meriwayatkan dari Allah Ta'ala: "Senantiasa seseorang hamba mendekatkan diri dengan mengerjakan nafilah (sholat sunnat) hingga aku mencintainya". (HR Bukhari)

 4. Memperbanyak Takbir-Tahmid-Tahlil-Dzikir
Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu'anhu dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak ada hari yang lebih muliya di sisi Allah dan tidak ada amal yang paling dicintai Allah dari hari-hari yg sepuluh ini, maka perbanyaklah dari Tahlil,Takbir,Tahmid". (HR Ahmad)

Berkata Imam Bukhari, "Dahulu Ibnu Umar dan Abu Hurairah pergi menuju pasar di hari yang sepuluh dengan bertakbir dan manusia ikut bertakbir pula".

5. Sedekah Diantara amal shalih yang dianjurkan adalah sedekah, dan memperbanyak di hari tersebut, Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah harta berkurang dengan bersedekah".(HR Muslim)

6. Diantara amal-amal yang lain adalah Membaca Al-Qur'an dan mempelajari arti-arti dan tafsirnya, memperbanyak istighfar dan berbuat bakti kepada orang tua, menyambung silaturrohmi, Amar ma'ruf dan Nahi munkar, mendamaikan seseorang yang berselisih, menjaga lisan, berbuat baik kepada tetangga, memuliakan tamu, berinfak di jalan Allah, memberi nafkah keluarga-anak yatim-para janda, menjenguk orang sakit, meringankan beban saudaranya, mendo'akan saudara dengan kebaikan, longgar dada kepada kaum muslimin, berusaha membuat senang orang lain dan tidak menyusahkannya, menjalin ta'awun antara kaum muslimin dalam kebajikan, dll.

Selasa, 01 Oktober 2013

KURANG BERSYUKUR DAN SEBAB SEBABNYA

Allah Ta'ala telah mengabarkan di dalam Muhkamul Tanzil bahwa para makhluk tidak mampu mengkalkulasi aneka karunia yang telah Allah berikan, di dalam ayat disebutkan, "Sekiranya kalian menghitung-hitung karunia Allah niscaya kalian tidak mampu mengungkapnya". (QS.An-Nahl: 18).

Dari sini dipahami bahwa para makhluk tidak bisa menegakkan syukur yang sepantasnya dilakukan atas karunia Allah Ta'ala yang telah diberikan, dikarenakan orang itu tidak dapat mengkalkulasi nikmat Allah, bagaimana mungkin ia akan mensyukurinya?? Seorang hamba bilamana telah mencurahkan segala kemampuan untuk besyukur dengan merealisasikan 'ubudiyah kepada Allah Robb semesta Alam, semoga ia tidak tergolong dari hamba yang lalai.

Allah Ta'ala berfirman: "Maka bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sekuat tenaga kalian". (QS.At-Taghobun: 16).

Sesungguhnya orang yang lalai akan nikmat Allah ialah orang yg bergelimang dengan banyak nikmat, di siang maupun malam, tidur maupun terjaga, safar maupun mukim, kemudian ucapan, perbuatan, keyakinan yang jauh dari bersyukur. Diantara sebab-sebab tidak bersyukurnya hamba adalah sebagai berikut:

√ Lalai. Banyak dari kalangan manusia yang telah diberikan aneka ragam kenikmatan seperti kesehatan, keselamatan, kebugaran yang mana ia tidak sadar bahwa ia di atas nikmat, ia bergelimang dengannya, ia belum merasakan bagaimana nikmat tersebut tercabut darinya. Ia tidak mampu bersyukur karena ia merasa tidak memilikinya, bagaimana mungkin dapat mensyukuri atas sesuatu yang ia lalai darinya. Karena syukur dibangun atas pengakuan dan perasaan akan pemberian tersebut. Berkata para salaf terdahulu, "Nikmat Allah atas seorang hamba tidak akan terasa bahwa ia telah menadapatkannya, akan tetapi bila telah tercabut, baru ia akan menyadarinya".

Jika kita melihat manusia zaman sekarang, mereka bergelimang dengan aneka nikmat Allah, dari aneka ragam makanan dan minuman, aneka baju yg halus berwarna warni, aneka kendaraan mewah, akan tetapi tidak merasa akan karunia tersebut datang dari Allah, tidak mengagungkan Allah sebenar-benarnya, bak ibarat binatang yang makan di dalam kandang dan berlalu begitu saja, sekedar itu perbuatannya. Oleh karenanya Allah perintahkan manusia agar banyak mengingat atas karunia-Nya agar bisa mensyukurinya.

Allah Ta'ala berfirman: "Dan ingatlah nikmat Allah atas kalian dan apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Al-Kitab dan Hikmah yang memberikan teguran didalamnya". (QS.Al-Baqoroh: 231).

√ Bodoh akan hakikat nikmat. Diantara manusia ia acuh tak acuh akan limpahan nikmat Allah, tidak mengetahui hakikat dari nikmat, menggunakan dengan semestinya, hingga menyeretnya untuk megkufuri nikmat tersebut dan tidak bersyukur. Sebagai contoh adalah nikmat melihat dengan kedua mata yang sehat, ini merupakan karunia yang amat besar yang dilupakan banyak manusia, bahkan tidak mengangapnya suatu nikmat dan limpahan karunia, hingga ia lalai bahkan kufur atas nikmat tersebut. Jika sekiranya nikmat mata tersebut dicabut Allah, hingga tidak mampu melihat untuk beberapa waktu, pastilah ia akan sadar betapa mahalnya nikmat mata ini. Tatkala ia disembuhkan atas takdir Allah kemudian bisa melihat seperti semula, niscaya ia berpikiran tidak seperti sebelum terkena ujian, ia akan begitu sadar dan bersyukur.

√ Memandang kepada orang yang diatasnya. Jika seseorang berkaca kepada yang Allah berikan kelebihan, niscaya ia akan merasa kurang atas nikmat yang telah Allah berikan kepadanya, hingga ia tidak mampu untuk bersyukur. Dikarenakan apa yang telah ia terima terasa sedikit, menghendaki lebih dari apa yang ia terima, hingga sejajar dengan orang lain yang ia pandang. Sehingga ia siang malam berusaha mencari dunia dan lupa akan bersyukur dan melakukan 'ubudiyah yang semestinya ia lakukan. Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika kalian melihat orang-orang yang berada di atas kalian dari sisi harta dan dunia, maka hendaknya kalian melihat kepada orang yang berada di bawah kalian". (HR.Muslim).

√ Lupa daratan. Diantara manusia telah lewat baginya kehidupan dahulu yang dalam kondisi susah, payah, kekurangan, hidup dipenuhi rasa takut dan khawatir, sangat sederhana dalam harta, dan tempat tinggal. Akan tetapi tatkala Allah telah merubah nasibnya hingga diberikan banyak kelebihan, ia lupa dan tidak membandingkan kehidupan dahulu dan yang sekarang, hingga nampak jelas perubahan aneka anugrah yang telah Allah berikan hingga ia mampu besyukur, bahkan ia terlena dan lupa akan dirinya dahulu kala.

"Dikisahkan di zaman dahulu ada tiga orang dari bangsa Bani Isra'il yang Allah berikan ujian dan cobaan. Seseorang Allah timpakan penyakit kusta yang tidak kunjung sembuh, seseorang yang Allah uji dengan tidak tumbuh rambut kepalanya(botak), dan seseorang yang Allah uji dg tdk dapat melihat(buta). Adapun orang yang buta ini Allah berikan kesembuhan hingga melihat dan ia pun bersyukur dan menyadari akan karunia Allah, ia sadar dahulu ia buta, fakir, hidup sebatang kara. Tatkala ia sembuh ia pun banyak-banyak bersyukur dan memberikan hartanya kepada orang-orang yang datang meminta bantuan kepadanya. Semua itu ia lakukan dalam rangka bersyukur atas karunia Allah Yang Maha Kuasa. Adapun orang yang botak dan berpenyakit kusta, tatkala Allah berikan kesembuhan dan harta yang melimpah ia lalai dan tidak menyadari bahwa segala karunia datang dari Allah semata. Ia kufur atas nikmat dan tatkala ada seseorang yang meminta bantuan kepadanya ia pun berkata, "Harta ini semata-mata usahaku dan warisan orang-tuaku". Demikianlah keadaan kebanyakan manusia, lalai akan keadaannya yang dahulu, hingga Allah kembalikan keadaannya seperti dahulu dalam keadaan sakit kusta dan botak, dan seluruh hartanya lenyap tertelan bumi". (HR.Bukhary dan Muslim).