Sabtu, 23 November 2013

MENGHINDARI FITNAH

Dari sahabat Miqdad ibnul Aswad radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya orang yang beruntung adalah orang yang terhindarkan dari fitnah-fitnah". (HR.Abu Dawud no 4263).

Banyak orang yang baik dan orang yang memiliki ghiroh menghendaki untuk dirinya dan untuk umat agar meraih kebahagiaan. Bagaimana caranya? Dan bagaimana seseorang dapat terhindar dari fitnah? Bagaimana jalan selamat dari keburukan?

Seorang muslim yang memiliki ghiroh dan semangat nasihat niscaya akan berpegang dengan sabda Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, "Agama adalah nasihat". Dikatakan, "Untuk siapa?" Maka dijawab, "Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rosul-Nya, dan para pemimpin kaum muslimin dan untuk kaum muslimin seluruhnya". (HR Muslim). Dan dari nasihat untuk kaum muslimin adalah mengajak umat agar terhindar dari fitnah, berjuang agar menjauhinya dan berlindung kepada Allah dari keburukan fitnah yang nampak dan yang tidak nampak.

Disini akan kita sebutkan beberapa kunci agar terhindar dari fitnah, diantaranya;

- Bertakwa kepada Allah secara sir dan 'alaniyah, baik sendiri maupun bersama orang banyak. Allah Ta'ala berfirman, "Dan barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya diberikan padanya jalan keluar. Dan dikaruniai rizki dari jalan yang ia tidak sangka". (QS At-Tholaq: 2-3).

Maksud ayat di atas adalah diberikan jalan keluar dari setiap fitnah dan cobaan dan keburukan baik di dunia dan di akhirat. Allah Ta'ala berfirman: "Dan barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya akan dimudahkan segala perkaranya". (QS.AtTholaq: 4). Yaitu segala akibat kebaikan hanya ada bagi orang yang bertakwa.

Tatkala terjadi fitnah dimasa tabiin, datang beberapa orang kepada Tholk ibnu habib rohimahullah dan berkata, "Telah terjadi fitnah, bagaimana mengatasinya?" Maka dijawab, "Atasilah dengan bertakwa, yaitu beramal dengan ketaatan Allah, berdasarkan cahaya Allah, mengharap rahmat Allah dan menjauhi maksyiat kepada Allah atas dasar cahaya dari Allah, karena kawatir siksa Allah". Dari sini kalimat takwa bukan hanya sekedar ucapan semata, atau hanya sekedar seruan saja, akan tetapi takwa adalah usaha untuk meraih ketaatan yang mampu mendekatkan dirinya kepada Allah, dengan mengerjakan faridhoh dan menjauhi maksyiat dan munkarot.

- Berpegang teguh terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah, dikarenakan hal ini akan menjadikan jalan kemuliyaan dan keberuntungan. Berkata Imam Malik rohimahullah, "As-Sunnah adalah ibarat bahtera Nabi Nuh, barang siapa menaikinya niscaya akan selamat dan siapa yang meninggalkannya akan tengelam". Maka barang siapa memakmurkan sunnah-sunnnah niscaya ia akan banyak mendapat hikmah serta selamat dari fitnah dan meraih keberuntungan dunia dan akhirat. Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya barang siapa diantara kalian yang hidup sepeninggalku maka ia akan menjumpai banyak perselisihan, maka berpeganglah dengan Sunnahku dan sunnah para kholifah yang mendapat petunjuk sepeninggalku, peganglah dengan erat dan hindari dari perkara yang diada-adakan, karena itu adalah bid'ah, dan dan setiap bid'ah adalah sesat". (HR Ibnu Majah, Abu Dawud dan Tirmidzy).

Maka cara selamat dari pertikaian dan fitnah dengan berpegang erat dengan Sunnah Nabi dan menjauhi bid'ah dan hawa. Adapun bila terjerumus dengan hawa nafsu dan mengikutinya maka akan mendatangkan keburukan dan fitnah untuk dirinya pribadi dan orang lain.

- Bersikap hati-hati dan tidak terburu-buru, melihat akan akibat dan dampak di masa yang akan datang. Dikarenakan keterburuan tidaklah mendatangkan kebaikan dan keberuntungan, bahkan ia akan terjerumus dan menyeleweng hingga ia menyesal. Sebaliknya, hati-hati adalah modal kebaikan dan keberkahan. Berkata Abdullah ibnu Mas'ud rodhiyallahu 'anhu, "Sesungguhnya akan datang kepada kalian perkara yang samar, maka hendaknya kalian hati-hati dan waspada, kalian menjadi seorang pengikut kebenaran itu lebih muliya daripada menjadi seorang pemimpin keburukan".

Sesungguhnya keterburuan, sikap ceroboh, tidak berhati-hati akan membawa pintu keburukan, sebagaimana diterangkan dalam sabda Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, "Diantara manusia ada yang menjadi pintu keburukan dan menutup pintu kebaikan, maka celaka bagi mereka yang menjadi pintu keburukan ada pada dirinya". (HR Ibnu Majah).

Maka orang yang berakal hendaknya melihat akibat dari suatu perkara, berhati hati dalam bersikap, jauh dari terpancing semangat emosi dan hawa, karena hal itu akan membawa kepada dampak yg buruk.

- Berpegang dengan Jamaah Kaum muslimin, dan menjaui perpecahan dan perselisihan, karena dengan berjamaah akan menjalin kesatuan dan kekuatan diantara mereka, saling bekerjasama diatas birr dan takwa, sebaliknya, tatkala bercerai berai, akan menimbulkan kegagalan dan keburukan serta fitnah, yang akan menghasilkan kesengsaraan. Oleh karenanya Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jama'ah adalah rahmat dan kasih sayang, dan perpecahan adalah adzab". (HR Ahmad).
Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Hendaknya kalian berjama'ah, dan hindari dari perpecahan". (HR Tirmidzy).
Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Janganlah kaliyan berselisih, sesungguhnya umat sebelum kaliyan berselisih, maka mereka binasa". (HR Bukhary).

- Mengambil ilmu dan pengalaman dari para ulama dan aimah yang kokoh ilmunya, dan menghindari dari mengambil ilmu dari ashoghir (dangkal ilmunya). Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam berpesan, "Barokah ada bersama mereka yang tua (ilmunya)". (HR Ibnu Hibban no 559). Yaitu keberkahan senantiasa turun menyertai mereka para ulama sepuh (senior) yang mana kaki mereka kokoh tegak diatas ilmu, lama menggeluti bidang-bidang ilmu, hingga mereka memiliki kedudukan dihadapan umat, dikarenakan ilmu, hikmah dan kehati-hatian mereka dalam melihat suatu permasalahan dan perkara, hingga memandang suatu perkara menatap jauh ke depan akan dampak yang akan terjadi.

Kepada mereka kita diperintah untuk berpegang dan bersandar, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, "Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka secara langsung menyiarkannya. Padahal apabila mereka menyerahkan urusan tersebut kepada Rasul dan Ulil Amri diantara mereka, tentulah orang orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri ), sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kalian akan mengikuti syaiton kecuali sebagian kecil saja". (QS.An-Nisaa': 83).

- Banyak memanjatkan doa, karena doa adalah pintu kebaikan, terlebih bila memohon agar dihindarkan dari segala fitnah yang tampak dan yang tidak tampak, dan berlindung dari ketergelinciran fitnah, maka barang siapa berlindung kepada Allah niscaya akan diberikan perlindungan dan pertolongan, sebagaimana janji Allah Ta'ala, "Jika para hamba-Ku betanya tentang-Ku, katakan Aku dekat, Aku akan mengabulkan seruan orang-orang yang menyeru-Ku". (QS Al Baqoroh: 186).

Marilah kita memohon kepada Allah Ta'ala dengan Nama dan Sifat-Nya, agar kita dihindarkan dari segala fitnah yang nampak dan yang tidak nampak, agar kita diberikan penjagaan iman kita, dan dijauhkan dari seluruh keburukan, dan diberikan pungkasan yang baik, Sesungghnya Allah Ta'ala adalah Dzat Yang Maha Mendengar do'a , Hasbunallah wa nikmal Wakil.

PINTU KEBAIKAN

Dari sahabat Anas ibnu Malik radhiyallahu 'anhu, Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya diantara para manusia ada yang menjadi pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan, dan sebaliknya diantara para manusia ada yang menjadi pintu keburukan dan menutup pintu-pintu kebaikan, maka beruntunglah bagi orang yang berperangai sebagai pintu kebaikan di tangannya, dan celaka bagi mereka yang menjadi pintu keburukan ada pada dirinya". (HR.Ibnu Majah no 237).

Barangsiapa yang berkehendak pada dirinya agar menjadi pintu-pintu dan sarana kebaikan dan penutup keburukan, maka hendaknya menjalankan berbagai usaha diantaranya sebagai berikut;
- Berikhlas kepada Allah Ta'ala dalam ucapan dan perbuatan, karena hal ini merupakan kunci dan pondasi segala kebaikan dan kemuliyaan.
- Berdoa memohon kepada Allah dan senantiasa terus menerus melantunkan panjatan doa, dikarenakan Allah Ta'ala tidak akan menolak doa dari para hambanya dan menyia-nyiakannya.
- Bersemangat mencari ilmu, dikarenakan ilmu akan menyeru kepada kebaikan dan meninggalkan keburukan.
- Menghadap Allah Ta'ala sepenuh hati dalam beribadah, terlebih dalam urusan faridhoh, dan terkhusus sholat, karena ia akan menahan dari fahsya' dan mungkar.
- Berhias dengan akhlak yang terpuji dan menjauh dari perkara yang rendah dan buruk.
- Bergaul dengan orang yang baik dan sholih, karena para malaikat menurunkan rahmat dan kasih sayang kepada mereka, dan menjauh dari pergaulan orang-orang buruk, dikarenakan banya syetan yang mengitari mereka.
- Saling memberikan masukan dan nasihat dalam bergaul satu sama lain hingga terpalingkan dari perkara-perkara yang buruk.
- Mengingat dan saling mengingatkan akan hari kiamat tatkala berhadapan di hadapan Allah Ta'ala, dimana pada hari itu segala kebaikan akan dibalasi dan segala keburukan akan dimintai pertanggungjawabannya. Allah Ta'ala berfirman: "Barang siapa beramal kebaikan setitik dzaroh maka ia akan melihat (balasannya) dan barang siapa berbuat keburukan pasti ia akan melihat (balasan) nya". (QS.Al-Zalzalah: 7-8).
- Gemar akan menebar kebaikan dan membawa manfaat bagi manusia. Kapan saja seseorang memiliki semangat dalam kebaikan dan dilandasi niat yang tulus serta memohon pertolongan kepada Allah Ta'ala dan menjalankan segala perkara sesuai jalurnya, niscaya bi idznillah akan menjadi orang yang menjadi pembuka kebaikan sekaligus sebagai penutup keburukan.

Jumat, 22 November 2013

ANTARA DUA SYIRIK

Alhamdulillah, Washolatu was salamu 'ala Rasulillah, wa'ba'du;

Perbuatan syirik besar biasa terjadi di dalam perbuatan, ucapan dan keyakinan hati seorang manusia, seperti menyamakan kekhususan hak Allah kepada para makhluk, atau menjadikan para makhluk sebagai tandingan bagi Allah, menyembah makhluk sebagaimana menyembah Allah Ta'ala.

Allah Ta'ala berfirman, "Dan mereka beribadah kepada selain Allah yang tidak memiliki mudhorot dan tidak pula mendatangkan manfaat, dan mereka mengatakan bahwa apa yang mereka sembah akan memberikan syafaat di sisi Allah". (QS.Yunus: 18).

Demikian pula syirik kecil biasa terjadi pada perbuatan, ucapan dan kehendak yang terselubung, seperti perbuatan tathoyyur, menyimpan tamimah, melakukan ruqyah, dan aneka jampi-jampi, termasuk berkeyakinan ramalan pada bintang-bintang langit. Demikian pula bersumpah dengan selain nama Allah, ucapan kehendak Allah serta kehendakmu, demikian pula aneka perbuatan riya'. Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Aku kawatir pada kalian sesuatu yang paling aku takuti yaitu perbuatan riya". (HR Ahmad dan Baihaqi dan Thobrony).

Syirik kecil ini mampu mengurangi kesempurnaan tauhid, bahkan mampu berubah menjadi syirik besar yang mampu mengeluarkan pelakunya dari islam, membatalkan seluruh amal, jika mati tanpa bertaubat maka ia tidak akan masuk Surga. Oleh karenanya sepantasnya berhati-hati akan syirik kecil ini sebagamana yang dikawatirkan Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam.

Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan memberikan apunan selain dosa syirik bagi orang-orang yang dikehendaki". (QS.An-Nisaa': 48).

Sebagaimana perbuatan syirik, disana pula ada perbuatan kufur, yaitu jenis kufur besar seperti mendustakan, ragu, enggan, sombong, bodoh, nifaq, kufur perbuatan dan kufur ucapan dan sebagainya. Adapula kufur kecil (ringan) seperti kufur akan nikmat Allah, mencela nasab, ataupun bangga atas nasab dan sebagainya.

Semoga Allah memberikan kepada kita ikhlas dan tauhid, dan terhindar dari syirik, kufur, dan segala keburukan.

PERAYAAN HARI ASYURO

Alhamdulillah, was sholatu was salamu ala Rosulillah, wa ba`du; 

Tidak diragukan lagi bahwa hari Asyuro' adalah barokah dari Syahrullah Muharrom, yaitu hari yang kesepuluh darinya. Dan penyandaran bulan tersebut kepada Allah menunjukkan akan muliya dan agungnya bulan tersebut, karena Allah tidaklah diberikan sandaran melainkan dari makhluk yang memiliki keistimewaan.

 Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Seutama-utama puasa setelah bulan Ramadhon adalah puasa bulan muharrom". (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzy, An-Nasa'i, Ibnu Majah dan Ahmad).

Kehususan hari kesepuluh bulan Muharrom memiliki sejarah yang agung, dimana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya, sedangkan fira'un serta bala tentaranya ditengelamkan ke laut, hingga Nabi Musa 'alaihis sallam berpuasa pada hari tersebut dalam rangka bersyukur kepada Allah Ta'ala. Dan kaum Quraisy jahiliyah juga turut serta berpuasa, demikian umat yahudi. Maka Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kami lebih berhak dan lebih utama untuk Musa dari pada mereka para yahudi". (HR Bukhary dan Muslim).

Maka Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam berpuasa dan memerintahkan umatnya agar berpuasa dan dahulu hukumnya wajib, kemudian menjadi sunnah setelah difardhukan puasa Ramadhon. Dan dianjurkan pula berpuasa di hari ke sembilannya dalam rangka menyelisihi kaum yahudi. Diantara keutamaan puasa hari itu adalah dapat menghapus dosa setahun yang telah lampau.

Adapun perkara bid'ah yang diada-adakan kelompok rofidhoh (kelompok syiah) adalah menampakkan kesedihan dan duka yang mendalam, hingga dijadikan hari berkabung. Adapun kelompok an-nashibah (orang-orang yang benci dan memusuhi Ali -radhiyallahu 'anhu- lihat Majmu fatawa 25/301 ) mereka menjadikan hari tersebut hari perayaan dan gembira serta berpesta. Maka kedua kelompok ini tidak memiliki dasar kecuali hadist palsu.

Berkata Ibnu Taimiyah, "Seperti apa yang dilakukan kelompok ahli ahwa' pada hari Asyuro' dari bersedih, berduka, berkabung, merupakan perkara yang diada-adakan yang tidak ada syariatnya dari Allah dan Rasul-Nya, juga tidak ada dari contoh Salaf juga Ahli Bait Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, juga dari lainnya. Akan tetapi di hari terbunuhnya Husain radhiyallahu 'anhu hendaknya disikapi sebagaimana mestinya yang dicontohkan syari'at seperti istir'ja. Adapun yang diada-adakan ahlu bid'ah dari lawan rafidhoh yang memalsukan hadist seperti, "Keutamaan mandi pada hari tersebut, bercelak, bersalam-salaman, ini semua adalah perkara bid'ah".

Dari sini diketahui bahwa yang disyariatkan pada hari Asyuro' adalah berpuasa, bukan menjadikan sebagai hari perayaan kesedihan maupun kegembiraan. 

( Iktido'ushirotul mustaqim ibnu taimiyah 133-2 / 129)

Minggu, 10 November 2013

SYAHRULLAH AL-MUHARROM

  berkesempatan memperbanyak berpuasa di bulan ini maka itu adalah keberuntungan, jika sekiranya berhalangan maka hendaknya ia menyempatkan agar berpuasa pada tanggal kesepuluhnya, sebagaimana Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang puasa Asyuro' maka menjawab," Menghapus dosa setahun yang lalu ". Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, "Aku tidak melihat Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersemangat melakukan puasa hari Asyuro' melebihi puasa yang lainnya". (HR Bukhari dan Muslim).

Yang utama bagi yang melakukan puasahendaknya agar berpuasa sehari sebelumnya dan jika berkenan sehari setelah nya. Sebagaimana Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam memiliki kehendak jika diberikan umur panjang, akan melakukan puasa di hari yang kesembilan". (HR Muslim).

Hikmah dari kehendak Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam melakukan puasa di hari kesembilan adalah untuk menyelisihi orang-orang yahudi dan nasrani, karena mereka hanya berpuasa dihari yang kesepuluh saja. Berkata Ibnu Abbas," Tatkala Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam berpuasa hari Asyuro' maka para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari ini hari kemuliyaan yahudi dan nasrani, maka Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Jika sekiranya datang tahun depan niscaya Aku akan berpuasa di hari kesembilan insyaa Allah. Berkata ibnu Abbas, "Sebelum datang bulan Muharom di tahun depannya melainkan Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam telah wafat". (HR.Muslim)

Hikmah dianjurkannya puasa di hari Asyuro' ini adalah dalam rangka bersyukur kepada Allah Ta'ala, dikarenakan pada bulan tersebut merupakan bulan yang bersejarah, dimana Nabi Musa 'alaihis sallam dan pengikutnya dari orang-orang mukmin diselamatkan Allah sedangkan fir'aun serta bala tentaranya Allah tengelamkan di dalam lautan.

Jika orang yahudi mengenang bulan ini maka kita sebagai umat islam lebih utama dan berhak atas Nabi Musa 'alaihis sallam dari pada mereka orang yahudi, dikarenakan mereka kafir terhadap ajaran Nabi Musa 'alaihis sallam dan merubah ajarannya, terlebih mereka kafir dengan agama islam ini dan dengan Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam, yang mana mereka diwajibkan mengikuti ajaran islam yang muliya ini.

Sekiranya Nabi Musa hidup dimasa Nabi Muhammad, niscaya ia akan mengikuti ajaran Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam. Adapun kita orang muslim berada diatas fitrah tauhid di atas ajaran Nabi Musa dan seluruh para Rasul.

Diantara keyakinan yang salah pada bulan mulia ini adalah keyakinan sebagian mereka bahwa di bulan Muharom ini dimulai lembaran amal baru bagi para hamba, setelah sebelumnya meyakini lembaran cataan amal telah dilipat pada bulan Dzul-Hijjah, hingga dijadikan akhir tahun sebagai kesempatan untuk muhasabah dan taubat. Ini adalah keyakinan yang tidak memiliki dasar. Dikarenakan dimulainya pengkalenderan hijriyah dilakukan pada masa kholifah Umar dalam rangka maslahat penanggalan dan pembeda antara waktu ke waktu lain hingga tidak timbul sengketa dalam melakukan akad dan transaksi dalam jualbeli.

Termasuk kesalahan adalah melakukan doa jama'i yang dilakukan di awal tahun. Ini tidak lain dikarenakan bersandar pada hadist palsu yang tidak ada asal muasalnya. Diantara kesalahan yg dilakukan pada bulan Muharom adalah mengadakan perayaan kesedihan sebagaimana yang dilakukan penganut rofidhoh, dalam mengenang kejadian tentang terbunuhnya Husain ibnu Ali rodhiyallahu anhuma.

Kamis, 07 November 2013

MEMAKMURKAN MASJID

Alhamdulillah, washolatu wassalamu 'ala Rasulillah, waba'du.

Sesungguhnya amal salih sangat beraneka ragam bentuk, dan keutamaannya di sisi Allah Ta'ala, dan diantaranya yang paling berharga dan mulia adalah membangun Masjid dengan penuh keimanan dan mengharap pahala di sisi Allah Ta'ala, dikarenakan Masjid merupakan Baitullah yaitu rumah Allah yang ada dimuka bumi yang diwasiatkan agar dibangun, disucikan dan diagungkan, serta diperintahkan agar dimakmurkan.

Allah Ta'ala berfirman: "Di rumah-rumah yang disana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, dengan bertasbih menyebut nama-Nya pada waktu pagi dan petang. Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan perniagaan dari mengingat Allah, melaksanakan sholat, menunaikan zakat, mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat)". (QS.An-Nur 36-37).

Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak merasa takut kepada apapun kecuali kepada Allah. Mudah-mudahan mereka tergolong orang-orang yang mendapat petunjuk". (QS At-Taubah: 18).

Maka barang siapa yang memakmurkan masjid baik secara lahir dan maknawi dengan aneka ibadah, maka ia tergolong orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan ia tergolong orang yang mendapat petunjuk kebaikan baik di dunia dan akhirat.

Dari sahabat Utsman ibnu Affan radiyallahu anhu, ia mendengar Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barang siapa yang membangun masjid dalam rangka mencari wajah Allah, niscaya Allah bangunkan baginya rumah di Surga". (HR.BukharI dan Muslim). Dalam riwayat Tirmidzy, Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barang siapa yang membangun masjid, besar atau kecil, niscaya Allah bangunkan rumah baginya di Surga". (HR Tirmidzy). Di dalam kedua hadist ini dan semisalnya terdapat anjuran agar mendirikan masjid, baik besar atau kecil sederhana, walau dengan ikut serta dengan harta yang terbatas, jika dilakukan dalam rangka mencari wajah Allah, maka niscaya Allah membangunkan rumah di Surga.

Jika sekiranya kita sadar bahwa sesuatu di dalam surga tidak ternilai harganya bila dibandingkan dengan dunia, bagaimana dengan rumah yang megah di dalam Surga? Disisi Allah Ta'ala? Membangun masjid termasuk amal jariyah yang senantiasa tidak akan terputus walau setelah mati, disaat itulah seorang hamba butuh akan amal hasanah hingga dilipatgandakan sehingga menjadi bekal amal timbangan kebajikan di hari penimbangan amal. Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya dari amal seorang mukmin setelah wafatnya diantaranya adalah ilmu yang pernah diajarkan, anak saleh yang ia didik, mushaf yang ia wariskan, masjid yang ia bangun, rumah bagi ibnu sabil, sungai yang ia alirkan, sedekah yang ia keluarkan di saat ia masih hidup sehat, maka perkara itu akan mendatangkan pahala setelah wafatnya". (HR.Ibnu Majah).

Sesungguhnya memakmurkan masjid, memuliyakannya, memberikan perhatian padanya, telah diperintahkan Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana Beliau shalallahu 'alaihi wa sallam tatkala melihat kotoran di dinding Masjid, maka Nabi membersihkannya. Sebagaimana pula para kholifah turut memberikan perhatian pada Masjid. Dikisahkan bahwa Umar tatkala menjadi kholifah datang ke Masjid Quba, kemudian sholat dua rekaat, dan meminta diambilkan pelepah kurma lantas menyapu masjid. Demikian pula yang dilakukan para 'aimah seperti Sya'bi, Bukhori, dan selainnya, dikarenakan mengagungkan rumah Allah sama halnya mengagungkan Allah Ta'ala.

Dahulu ada seorang wanita budak berkulit hitam yang senantiasa merawat masjid di masa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, kemudian suatu hari ia wafat dan tidak dikabarkan kepada Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, maka Nabi pun menanyakannya karena tidak terlihat, maka diceritakan bahwa ia telah wafat. Maka Nabi pun menegur kenapa tidak diberi tahu atas kejadian tersebut. Maka diberitakan bahwa ia wafat pada malam hari dan para sahabat tidak ingin menganggu Nabi pada malam tersebut. Maka Nabi pun menuju kuburnya dan melakukan sholat diatas kuburnya dalam rangka memberikan penghormatan dan pemuliyaan atas amal kesehariannya. Dari kisah ini memberikan pelajaran bagi kita agar memperhatikan dan merawat masjid, dan termasuk di dalamnya memakmurkannya dengan mengerjakan sholat baik faridhoh maupun sholat sunnah, melakukan i'tikaf di dalamnya, membaca Al Qur'an , mengajarkan ilmu agama di dalamnya.

Sebagaimana yang dilakukan di masa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bahwa masjid merupakan pusat kegiatan, para sahabat duduk bersama Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam mendengarkan mauidhoh, nasihat bahkan lantunan tilawah Al-Qur'an hingga para malaikat turun memberikan penghormatan kepada orang-orang yang di dalamnya.

Diantara memakmurkan masjid adalah menjaganya dari aneka bentuk perbuatan yang mendatangkan murka Allah Ta'ala, seperti halnya menjaga dari perbuatan kesyirikan dengan menguburkan orang mati di dalam masjid. Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Allah melaknat orang-orang yahudi dan nasrani yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid tempat ibadah mereka". (HR.Muslim). Hal ini dikarenakan akan menjadi perantara kesyirikan, orang-orang akan melakukan tawaf di sekelilingnya, meminta doa di sampingnya, menyembelih di atasnya dan sebagainya.

Termasuk perkara yang seyogyanya dihindari adalah menghias masjid secara berlebihan, sebagaimana berkata Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, "Sungguh kalian akan menghias masjid sebagaimana yang dilakukan oleh orang yahudi dan nasrani". Dan sesungguhnya perkara ini dilarang dikarenakan akan timbul dampak yang tidak baik, diantaranya akan menyibukkan hati orang yang sholat di dalamnya hingga menghilangkan rasa khusuk dan rasa menghadap kepada Allah Ta'ala, serta menjadikan pandangan mata takjub akan hiasan tersebut dan lalai dari berdzikir kepada Allah Ta'ala.

Sebagaimana pula dicegah dari melakukan perniagaan dan perdagangan di dalam masjid, karena masjid dibangun bukan untuk tujuan ini, akan tetapi agar digunakan untuk berdzikir, menginggat Allah dan untuk ibadah.

Senin, 04 November 2013

KEWAJIBAN SUAMI KEPADA ISTRI

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu 'ala Rosulillah, wa ba'du;

Allah Ta'ala telah menetapkan hak-hak bagi suami dan istri, hak yang imbang dengan kewajiban masing-masing, Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ketahuilah sesungguhnya kalian wahai para suami memiliki kewajiban yang harus kalian tunaikan kepada para istri, dan para istri memiliki kewajiban yang harus ditunaikan kepada para suami". (HR.Tirmidzi).

Allah Ta'ala berfirman: "Dan para istri memiliki hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut(ma'ruf), dan para suami memiliki kelebihan di atas mereka". (QS.Al-Baqoroh: 228).

Adapun hak yang berkaitan antara suami-istri terdiri dari tiga bentuk, yang pertama hak yang bersekutu antara istri dan suami, yang kedua apa yang menjadi hak khusus dari istri, yang ketiga apa yang menjadi hak khusus untuk suami. Hak-hak tersebut nantinya akan dimintai pertanggung-jawaban di hadapan Allah, hendaknya pasutri menjaga hak ini, jangan sampai meremehkannya.

Adapun hak yang berkaitan dengan harta, diantaranya sebagai berikut:
- Memberi mahar atau maskawin tatkala diadakannya akad nikah yang menjadi tanda keseriusan dalam menikah. Allah Ta'ala berfirman: "Dan berikanlah para wanita calon istri kalian mahar/mas kawin mereka sebagai pemberiyan yang penuh kerelaan". (QS.An-Nisaa': 4).

Allah Ta'ala berfirman: "Dan berilah mereka maskawin yang pantas". (QS.An-Nisaa': 25).

Berkata Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam kepada sahabat Abdurrahman ibnu Auf radhiyallahu'anhu, "Apa yang kamu berikan sebagai maskawin?" (HR.Bukhory Muslim)

Mahar merupakan hak istri, maka tdk dibolihkan bagi suami atau para wali istri untuk mengambil hak mahar ini. Allah Ta'ala berfirman: "Jika kalian telah memberikan kepada para istri harta yang banyak (mahar) maka janganlah kaliyan mengambil kembali sedikitpun darinya". (QS.An-Nisaa': 20).

Memberi nafkah kepada istri yang dirasa cukup menurut timbangan syar'i, dari aneka makanan, pakaian, tempat tinggal, sesuai kemampuan suami tidak berlebihan dan tidak kurang. Allah Ta'ala berfirman: "Dan para suami berkewajiban memberi nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut". (QS.Al-Baqoroh: 233).

Allah Ta'ala berfirman: "Hendaknya orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani hamba melainkan sesuai dengan apa yang diberikan Allah kepadanya". (QS.At-Tholak: 7).

Allah Ta'ala berfirman: "Berilah tempat tinggal mereka (para istri) dimana kalian bertempat tinggal menurut kemampuan kalian". (QS.At-Tholaq: 6)

Di dalam ayat muliya ini perintah agar memberikan tempat tinggal yang bermakna agar memberi nafkah, dikarenakan tempat tinggal bagian dari nafkah. Berkata Ibnu Kudamah, "Jika di dalam ayat terdapat perintah agar memberikan tempat tinggal bagi istri yang ditalak, maka istri yang dalam tidak ditalak lebih utama". Secara akal, wanita tidak diwajibkan untuk menafkahi dirinya dengan keluar rumah untuk bekerja mencari penghasilan, akan tetapi diperintahkan agar berdiam di rumah dalam rangka mengabdikan diri kepada suami, jika ia dilarang untuk mencari penghasilan maka hendaknya kebutuhannya dicukupi dengan cara dinafkahi.

Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Hendaknya kalian para suami bertakwa kepada Allah terhadap para istri, kalian mengambil wanita untuk menjadi istri sebagai amanah Allah, kaliyan menghalalkan hubungan dengan kalimat Allah". (HR. Muslim).

Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Hendaknya kalian memberi makan para istri dari apa yang kalian makan, hendaknya kalian memberi pakaiyan dari apa yang kaliyan pakai". (HR. Abu Dawud).

Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kepada hindun bintu utbah radhiyallahu'anha, tatkala suaminya Abu Sufyan tidak memberikan nafkah, maka beliau bersabda, "Ambillah dari harta Abu Sufyan yang sekiranya mencukupi dirimu dan anak mu". (HR. Bukhari).

- Bermuasyaroh (memperlakukan) istri dengan sesuatu yang ma'ruf, yaitu dengan perilaku yang mendatangkan cinta kasih, saling sayang, sesuai tabiat yang tidak melawan arus syariat. Allah Ta'ala berfirman: "Dan pergaulilah mereka para istri dengan perilaku yang makruf". (QS.An-Nisaa': 19).

Perintah di dalam ayat diatas merupakan perkara yang wajib, sebagaimana dipertegas dalam sabda Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, "Dan aku wasiatkan hendaknya kalian bersikap baik pada para wanita". (HR.Muslim).

Agama islam menganjurkan umatnya agar bermuamalah kepada para wanita dengan cara yang ma'ruf, perilaku yang baik, bahkan menjadikan tolak ukur kebaikan adalah sebaik-baik suami adalah baik kepada istrinya, karena istri adalah manusia yang paling berhak untuk diperlakukan dengan ma'ruf, dengan santun, lembut, kasih sayang, nafkah, dan seterusnya. Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sebaik-baik kalian -wahai para lelaki- adalah yang paling baik bersikap kepada keluarganya". (HR.Tirmidzy).

Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Paling sempurna dari kalian keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istri-istri kalian". (HR Tirmidzy).

Maksud dari dalil-dalil di atas adalah agar berbuat baik dan mendatangkan cinta kasih serta lemah lembut dalam bermuasyaroh antara keduanya, hingga mendatangkan kelanggengan hubungan rumah tangga.

Diantara bentuk muasyaroh yang ma'ruf antara lain:
- Berhati lembut kepada pasangan dan menjaga penampilan di hadapannya. Sebagaimana yang dilakukan Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam terhadap para istrinya Umahatul Mukminin, yang mana akhlak Nabi indah dalam memperlakukan para istrinya, bercanda, berlembut hati, memberikan kelonggaran dalam nafkah, bahkan Nabi berlomba bersama 'Aisyah hingga terlihat senang akan hal itu. Dan tidak diragukan lagi bahwa menyakiti istri dengan perkataan dan perbuatan, bermuka masam, berpaling darinya merupakan bertentangan dengan bermuasyaroh yang baik.

Berkata imam Al-Qurtuby menafsirkan QS An-Nisaa': 19, "Yaitu bermuasyaroh dengan baik sebagaimana yang diperintahkan Allah, yaitu dengan memberikan mahar dan nafkah, tidak bermuka masam, tidak berkata-kata kasar, sedangkan Allah memerintahkan kita agar bersikap baik jika menjadikannya sebagai pasangan hidup, hingga mendapatkan ketenangan dan kelembutan dalam mengarungi kehidupan ini.

Diantara perbuatan yang bertentangan dengan muasyaroh yang baik adalah tidak berhias dan berpenampilan indah di hadapan para istri, berkata Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu, "Sungguh aku sangat senang berhias dan berdandan dihadapan para istri-istriku, sebagaimana aku sangat senang jika mereka para istri berhias dan bersolek untukku, hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala, "Dan mereka (para istri) memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut(ma'ruf)". (QS.Al-Baqoroh: 228).

Berhias untuk istri beragam bentuknya sesuai keadaan masing-masing seperti memakai wangian, bersiwak, berminyak rambut dan menyemirnya jika telah berubah, dan aneka ragam hingga mendatangkan kegembiraan para istri.

Diantara bentuk muasyaroh yang baik adalah bersikap lembut, dan bercengkrama sesuai kadar usia mereka. Berkata 'Aisyah radhiyallahu'anha hari aku pergi bersama Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam sedangkan aku adalah masih sangat belia, belum berbadan besar dan gemuk, maka Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat, "Berjalanlah di depan", maka para sahabat berjalan mendahului di depan, maka Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadaku, "Kemarilah aku berlomba denganmu", maka aku mengalahkan beliau dan aku memenangkannya, maka Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam mendiamkanku. Hingga aku berbadan berat dan berisi, dan ketika safar bersama Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam di waktu yang lain, mengajakku berlomba lagi, maka aku mendahului Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam akan tetapi beliau kemudian mendahuluiku dan mengalahkanku, dan Nabi tertawa seraya berkata, "Ini balasan yang dahulu". (HR.Ahmad dan Abu Dawud). 'Aisyah radhiyallahu'anha berkata, "Dahulu orang-orang dari bangsa Habsyi mempertunjukkan keahlian bermain tombak mereka di masjid, maka Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam berdiri untuk menutupiku agar aku dapat melihat pertunjukan tersebut, hingga aku merasa puas melihat nya". (HR. Bukhary dan Muslim).

'Aisyah radhiyallahu'anha juga berkata, "Aku bermain boneka di rumah Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, dan aku memiliki teman-teman bermain, maka tatkala Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam masuk maka teman-temanku menutup wajah dan bersembunyi di belakangku dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dan kemudian melanjutkan bermain denganku". (HR.Bukhari dan Muslim)

- Bercengkrama dan berbincang-bincang bersama pasangannya, sebagaimana perangai Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersama para istri nya, Beliau senantiasa berkumpul dengan para istri-istrinya disetiap malam dan makan malam bersama, kemudian bermalam bersama istrinya, berbincang-bincang sebentar sebelum tidur.

- Memberikan kelonggaran dalam nafkah, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Hendaknya memberikan nafkah bagi yang diberikan kelonggaran dengan kelongarannya". (QS.At-Tholaq: 7).

Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya engkau tidak memberikan suatu nafkah kecuali engkau akan diberi pahala atasnya, termasuk makanan yang engkau berikan kepada istrimu". (HR Bukhary dan Muslim).

- Menutup mata atas kekurangan yang ada pada sang istri selagi masih dianggap wajar dalam batasan syara'. Terlebih bila ia seorang wanita yang baik, memiliki akhlak terpuji. Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Janganlah seorang mukmin laki-laki menceraikan wanita mukminah, jika ia tidak menyukai dalam satu sisi bisa jadi ia suka pada perangai yang lainnya". (HR.Muslim).

Berkata imam An-Nawawy memberikan keterangan hadist di atas, "Seorang suami seyogyanya tidak membenci pasangannya disebabkan ia mendapati sesuatu yang ia kurang suka, dikarenakan disana masih banyak perangai yang niscaya ia sukai".

Oleh karenanya seorang suami hendaknya mencari pahala disisi Allah yang mana Allah telah berikan banyak kelebihan pada pasangannya, jika ada kurangnya maka itu sesuatu diatas kewajaran, dikarenakan tiada manusia yg sempurna dalam berbagai sisi. Allah Ta'ala berfirman: "Dan bermuasyarohlah istri-istri kalian dengan cara yang ma'ruf, jika sekiranya kalian membenci dalam hal sesuatu, maka bisa jadi engkau membenci sesuatu akan tetapi Allah menjadikan sesuatu padanya kebaikan yang banyak". (QS.An-Nisaa': 19).

Berkata Ibnu Kastir, "Bisa jadi kesabaran kalian tatkala bersamanya walau engkau tidak menyukainya, akan mendatangkan kebaikan yang banyak baik di dunia dan di akhirat, sebagaimana perkataan sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu dalam ayat ini, "Yaitu engkau bersabar dengannya, maka engkau dikaruniai keturunan, dari keturunan tersebut akan muncul banyak kebaikan". -Tafsir ibnu katsir 1/ 466-

- Tidak menyebarluaskan aib dan rahasianya dengan banyak bercerita kepada para manusia. Karena ia adalah orang yang memegang rahasia, yang seyogyanya ia pegang dengan erat. Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam memberikan ancaman dalam sabdanya, "Sesungguhnya seburuk-buruk manusia pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang berhubungan dengan istrinya kemudian ia menceritakan dengan menyebarluaskan hubungannya kepada manusia". (HR.Bukhari dan Muslim).

Berkata Imam As-Shon'any, "Di dalam hadist terdapat dalil haramnya seseorang menyebarluaskan hubungannya dengan istrinya, dan dari sifat-sifat rahasia wanita dan semisalnya".

- Membantu para istri dalam menyelesaikan pekerjaan rumahnya, terlebih disaat ia sakit atau lemah seperti mengandung, melahirkan, menyusui. Hal ini sebagaimana yg dilakukan Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam kepada para istrinya. Suatu hari 'Aisyah radhiyallahu'anha ditanya tentang kehidupan Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dirumahnya maka dijawab, "Dahulu Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam membantu pekerjaan rumah para istrinya, jika datang waktu sholat maka Nabi keluar rumah menunaikan sholat". (HR.Bukhary dan Muslim).