Senin, 12 Oktober 2026

TAFSIR SURAT AL BAQARAH 204


Terjemah Tafsir Ibnu al-Jauzi
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 204

Karya Imam Ibnul Jauzi رحمه الله (wafat 597 H)

Firman Allah Ta'ala:
“Dan di antara manusia ada orang yang perkataannya tentang kehidupan dunia membuatmu kagum, dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada di dalam hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras.”
(QS. Al-Baqarah: 204)

1. Sebab Turunnya Ayat
Firman Allah Ta'ala:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Dan di antara manusia ada orang yang perkataannya tentang kehidupan dunia membuatmu kagum.”

Para ulama berbeda pendapat mengenai siapa yang menjadi sebab turunnya ayat ini.

Terdapat tiga pendapat : 

Pendapat pertama: 

Ayat ini turun mengenai Al-Akhnas bin Syuraiq
Pendapat pertama menyatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Al-Akhnas bin Syuraiq.

Dia adalah orang yang tutur katanya lembut, tetapi hatinya kafir. Dia menampakkan sikap yang baik kepada Nabi ﷺ dan bersumpah kepada beliau bahwa dirinya mencintai beliau serta mengikuti agama beliau, padahal sesungguhnya dia menyembunyikan sesuatu yang berbeda dari apa yang dia tampakkan.

Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, As-Suddi, dan Muqatil.

Pendapat kedua: 
Ayat ini turun mengenai orang-orang munafik
Pendapat kedua menyatakan bahwa ayat ini turun mengenai orang yang melakukan kemunafikan, yaitu orang yang menampakkan dengan lisannya sesuatu yang tidak terdapat di dalam hatinya.

Pendapat ini dikemukakan oleh Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, dan Ibnu Zaid.

Pendapat ketiga: 
Ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa Sariyah Ar-Raji'
Pendapat ketiga menyatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa pasukan Ar-Raji'.

Kisahnya adalah sebagai berikut.

Orang-orang kafir Quraisy mengirim utusan kepada Nabi ﷺ ketika beliau berada di Madinah. 

Mereka berkata:
“Sesungguhnya kami telah masuk Islam. 
Oleh karena itu, utuslah beberapa orang sahabatmu kepada kami untuk mengajarkan agama kami.”

Maka Nabi ﷺ mengutus sejumlah sahabat. 
Mereka adalah :  
Khubaib bin Adi, 
Martsad Al-Ghanawi, 
Khalid bin Bukair, 
Abdullah bin Thariq, 
dan Zaid bin Ad-Datsinah.

 Beliau menunjuk Ashim bin Tsabit sebagai pemimpin mereka.

Mereka pun berangkat menuju Makkah. 

Dalam perjalanan, mereka singgah di suatu tempat di antara Makkah dan Madinah.

 Mereka membawa bekal berupa kurma dan memakannya.

Kemudian, seorang perempuan tua melewati tempat tersebut dan melihat biji-biji kurma yang mereka tinggalkan. 

Perempuan itu kembali kepada kaumnya seraya berkata:
“Orang-orang Yatsrib telah melewati jalan ini!”

Maka, tujuh puluh orang dari kalangan mereka menaiki kendaraan hingga mengepung para sahabat tersebut.

Para sahabat itu pun memerangi mereka. 

Dalam pertempuran tersebut, Martsad, Khalid, dan Ibnu Thariq terbunuh.

Ashim kemudian mengeluarkan tempat anak panahnya. 

Di dalamnya terdapat tujuh anak panah. 

Dengan setiap anak panah, dia berhasil membunuh seorang tokoh terkemuka dari pihak musuh.

Setelah itu, Ashim berdoa:
“Ya Allah, sesungguhnya pada awal hari ini aku telah melindungi agama-Mu. 
Maka, lindungilah daging tubuhku pada akhir hari ini.”

Kemudian, mereka mengepung Ashim dan membunuhnya.

Orang-orang kafir itu bermaksud memenggal kepala Ashim untuk menjualnya kepada Sulafah binti Sa'ad.

 Sebab, Ashim pernah membunuh beberapa anggota keluarganya. 

Perempuan itu telah bernazar bahwa jika dia berhasil memperoleh kepala Ashim, dia pasti akan meminum khamar dari tempurung kepalanya.

Lalu, Allah Ta'ala mengirimkan sekelompok serangga yang disebut ad-dubar, yaitu tawon, untuk melindungi jasad Ashim.

 Orang-orang kafir itu tidak mampu mendekatinya.

Mereka kemudian berkata:
“Biarkanlah dia sampai petang, agar serangga-serangga itu pergi meninggalkannya.
 Setelah itu, kita akan mengambilnya.”

Namun, datanglah awan yang menurunkan hujan sangat deras, seperti air yang tercurah dari tempat-tempat penampungan air. 

Allah kemudian mengalirkan air lembah yang membawa jasad Ashim pergi.

Adapun Khubaib dan Zaid, keduanya berhasil ditawan.

Bani Al-Harits bin Amir membeli Khubaib untuk membunuhnya, karena Khubaib pernah membunuh ayah-ayah mereka.

Ketika mereka membawa Khubaib keluar untuk membunuhnya, dia berkata:
“Biarkanlah aku melaksanakan salat dua rakaat.”

Mereka pun membiarkannya, lalu Khubaib melaksanakan salat dua rakaat.

Setelah selesai, dia berkata:
“Seandainya bukan karena kalian akan mengatakan bahwa Khubaib ketakutan, niscaya aku akan menambah salatku.”

Kemudian, dia melantunkan syair:

وَلَسْتُ أُبَالِي حِينَ أُقْتَلُ مُسْلِمًا
عَلَى أَيِّ شِقٍّ كَانَ فِي اللَّهِ مَصْرَعِي

“Aku tidak peduli ketika aku dibunuh dalam keadaan Muslim, di sisi mana pun tubuhku akan terjatuh karena Allah.”

وَذَلِكَ فِي ذَاتِ الْإِلَهِ وَإِنْ يَشَأْ
يُبَارِكْ عَلَى أَوْصَالِ شِلْوٍ مُمَزَّعِ

“Semua itu demi Zat Allah. 
Jika Dia menghendaki, Dia akan memberikan keberkahan pada anggota-anggota tubuh yang telah tercabik-cabik.”

Kemudian, mereka menyalib Khubaib dalam keadaan masih hidup.

Khubaib berkata:
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa tidak ada seorang pun di sekelilingku yang dapat menyampaikan salamku kepada Rasul-Mu.”

Lalu, datanglah seorang laki-laki dari kalangan mereka yang bernama Abu Sirwa'ah. 

Dia membawa sebuah tombak dan meletakkannya di hadapan Khubaib.

Khubaib berkata kepadanya:
“Bertakwalah kepada Allah!”

Namun, perkataan tersebut justru semakin menambah kedurhakaannya.

Adapun Zaid, 
dia dibeli oleh Shafwan bin Umayyah untuk dibunuh sebagai pembalasan atas kematian ayahnya.

Ketika Zaid dibawa untuk dibunuh, 
Abu Sufyan bin Harb datang menemuinya dan berkata:

“Wahai Zaid! Aku memintamu bersumpah demi Allah, apakah engkau lebih suka jika Muhammad sekarang berada di tempatmu, sementara engkau berada bersama keluargamu?”

Zaid menjawab:

“Demi Allah, aku tidak suka jika Muhammad sekarang berada di tempatnya, lalu beliau tertusuk duri yang menyakitinya, sementara aku duduk bersama keluargaku.”

Setelah itu, Zaid pun dibunuh.

Berita tersebut sampai kepada Nabi ﷺ. Beliau kemudian bersabda:

“Siapakah di antara kalian yang bersedia mengambil Khubaib dari kayu tempat penyalibannya, dan baginya surga?”

Az-Zubair berkata:
“Aku dan sahabatku, Al-Miqdad.”

Maka, keduanya berangkat.

 Mereka berjalan pada malam hari dan bersembunyi pada siang hari hingga tiba di tempat tersebut.

Ternyata, di sekitar kayu penyaliban itu terdapat empat puluh orang musyrik yang sedang tidur dalam keadaan mabuk.

Mereka mendapati jasad Khubaib masih segar dan lentur. 

Tidak ada sesuatu pun yang berubah pada jasadnya meskipun telah berlalu empat puluh hari.

Az-Zubair kemudian mengangkat jasad Khubaib dan meletakkannya di atas kudanya. 

Setelah itu, dia berangkat pergi.

Namun, tujuh puluh orang dari kalangan musyrik mengejar mereka.

Az-Zubair kemudian menjatuhkan jasad Khubaib, lalu bumi menelannya.

Az-Zubair berkata:

“Apa yang membuat kalian berani menghadapi kami, wahai orang-orang Quraisy?”

Kemudian, dia mengangkat penutup kepalanya seraya berkata:

“Aku adalah Az-Zubair bin Al-Awwam. 

Ibuku adalah Shafiyyah binti Abdul Muthalib. 

Bersamaku ada sahabatku, Al-Miqdad. 

Kami berdua adalah dua ekor singa yang sedang berbaring untuk melindungi anak-anaknya.

Jika kalian menghendaki, aku akan bertarung dengan kalian menggunakan senjata dari kejauhan. 

Jika kalian menghendaki, aku akan menghadapi kalian secara langsung. 

Dan jika kalian menghendaki, kalian boleh pergi.”

Mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut.

Az-Zubair dan Al-Miqdad kemudian kembali menemui Rasulullah ﷺ. 

Ketika itu, Jibril sedang berada di sisi beliau.

Jibril berkata:

“Wahai Muhammad, sesungguhnya para malaikat benar-benar membanggakan kedua orang sahabatmu ini.”

Sebagian orang munafik kemudian berkata mengenai para sahabat Khubaib yang terbunuh:

“Celakalah orang-orang yang terbunuh itu! 

Mereka tidak tinggal duduk di rumah mereka, dan mereka juga tidak berhasil menunaikan tugas yang diberikan oleh sahabat mereka.”

Maka, Allah Ta'ala menurunkan ayat ini 
beserta tiga ayat setelahnya berkaitan dengan 
Az-Zubair, 
Al-Miqdad, 
Khubaib 
dan para sahabatnya, 
serta orang-orang munafik tersebut.

Kisah panjang ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas.


2. Tafsir Firman Allah: 
“Dan Dia Menjadikan Allah sebagai Saksi atas Apa yang Ada di Dalam Hatinya”

Allah Ta'ala berfirman:

وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ

“Dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada di dalam hatinya.”

Mengenai makna ayat ini, terdapat dua pendapat.

Pendapat pertama:
Orang tersebut berkata:
“Sesungguhnya Allah menjadi saksi bahwa apa yang diucapkan oleh lisanku adalah sama dengan apa yang ada di dalam hatiku.”

Dengan kata lain, dia mengaku bahwa perkataannya sesuai dengan isi hatinya dan menjadikan Allah sebagai saksi atas pengakuan tersebut.

Pendapat kedua:
Orang tersebut berkata:
“Ya Allah, saksikanlah perkataanku ini!”

Artinya, dia meminta Allah menjadi saksi atas apa yang diucapkannya.

Perbedaan bacaan ayat
Ibnu Mas'ud membaca ayat tersebut dengan tambahan huruf sin dan ta', yaitu:

وَيَسْتَشْهِدُ اللَّهَ

Bacaan ini mengandung makna meminta Allah menjadi saksi.

Adapun Al-Hasan Al-Bashri, Thalhah bin Musharrif, Ibnu Muhayshin, dan Ibnu Ablah membaca:

وَيَشْهَدُ اللَّهُ

Dalam bacaan ini, huruf ya' pada kata yasyhadu dibaca dengan fathah, sedangkan lafaz Allah dibaca dengan harakat rafa'.

3. Tafsir Firman Allah:
 “Padahal Dia Adalah Penentang yang Paling Keras”

Allah Ta'ala berfirman:

وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ

“Padahal dia adalah penentang yang paling keras.”

Kata الْخِصَامُ (al-khishām) merupakan bentuk jamak dari kata خَصْمٌ (khashm), yang berarti pihak yang berselisih atau lawan dalam suatu perselisihan.

Dalam bahasa Arab, bentuk-bentuk kata yang digunakan antara lain khashm, khishām, dan khushūm.

Az-Zajjaj berkata:
Kata الْأَلَدُّ (al-aladd) berarti orang yang sangat keras dalam permusuhan dan perdebatan.

Kata tersebut berasal dari ungkapan لَدِيدَيِ الْعُنُقِ, yaitu kedua sisi leher.

Makna yang dimaksud ialah bahwa orang tersebut, dalam menghadapi lawannya, akan mengalahkannya dari sisi mana pun pintu perdebatan itu dimasuki.

Dengan kata lain, dia sangat keras dalam berdebat dan berselisih, serta berusaha mengungguli lawannya melalui berbagai cara.





Kesimpulan makna ayat: 

Ayat ini menggambarkan orang yang tutur katanya mengagumkan, bahkan bersumpah dengan menyebut Allah untuk membenarkan pengakuannya, padahal kenyataan batinnya berbeda. 

Ia juga sangat keras dalam permusuhan dan perdebatan.

Ayat ini mengingatkan kita agar tidak menilai kejujuran seseorang hanya berdasarkan kefasihan berbicara, sumpah yang diucapkan, atau penampilan lahiriahnya.

Perkataan yang baik harus disertai kejujuran hati dan kesesuaian antara ucapan dengan perbuatan.






Terjemah Kitab Naẓm ad-Durar fī Tanāsub al-Āyāt wa as-Suwar
Karya Imam Burhanuddin al-Biqa‘i (wafat 885 H)

Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 204

Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن یُعۡجِبُكَ قَوۡلُهُۥ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَا وَیُشۡهِدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا فِی قَلۡبِهِۦ وَهُوَ أَلَدُّ ٱلۡخِصَامِ ۝٢٠٤﴾

Artinya:
“Di antara manusia ada orang yang perkataannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada dalam hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras.”
(QS. Al-Baqarah: 204)

Penjelasan Tafsir Imam al-Biqa‘i
Ketika sebelumnya Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah menyebutkan orang yang hanya menginginkan dunia dan orang yang menginginkan kedua negeri, yakni dunia dan akhirat, masih tersisa beberapa kemungkinan golongan manusia berdasarkan pembagian yang dapat dipahami oleh akal.

Di antara golongan tersebut adalah orang yang berpaling dari kedua negeri itu, tetapi golongan semacam ini tidak ditemukan dalam pembahasan tersebut sehingga tidak disebutkan. 

Golongan lainnya adalah orang yang hanya menginginkan akhirat.

Masing-masing golongan itu terkadang menyembunyikan apa yang ada dalam hatinya dan terkadang menampakkannya secara terang-terangan.

Adapun hal yang harus diwaspadai di antara golongan-golongan tersebut adalah orang yang secara tersembunyi menginginkan dunia, tetapi menampakkan bahwa dirinya menginginkan akhirat.

Orang seperti inilah yang disebut sebagai orang munafik.

Oleh karena itu, Allah memulai pembahasan tentangnya setelah menyebutkan ketakwaan dan peristiwa penghimpunan manusia pada hari Kiamat (al-ḥasyr).

 Tujuannya adalah agar ancaman tersebut langsung menghunjam sejak awal, sekaligus menjadikan orang itu sebagai sasaran peringatan keras tentang hari penghimpunan manusia.

Allah menyampaikan ayat ini dengan susunan ungkapan yang serupa dengan pembahasan tentang orang-orang munafik pada permulaan surah. 

Dengan demikian, pendengar akan kembali mengingat kisah-kisah mereka dan menghadirkan kembali keadaan mereka dalam ingatannya.

Hal ini menjadi semakin tepat karena jarak pembahasan antara penyebutan orang-orang munafik pada awal surah dan ayat ini cukup panjang, sehingga peristiwa yang telah disebutkan sebelumnya mungkin telah lama berlalu dari ingatan pendengar.

Kemudian Allah berfirman:

1. Firman Allah:

 ﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ﴾

“Dan di antara manusia ada orang yang...”

Maksudnya, di antara manusia terdapat seseorang, atau orang tertentu, yang memiliki sifat sebagaimana akan dijelaskan dalam ayat ini.

2. Firman Allah: 
﴿يُعْجِبُكَ﴾

“Yang menarik hatimu.”

Maksudnya, perkataannya membuatmu merasa kagum, memikat hatimu, dan mengambil alih perhatianmu secara menyeluruh, wahai orang yang diajak berbicara.

Hal ini sebagaimana telah kami jelaskan pada permulaan surah, bahwa orang tersebut melakukan tipu daya.

Kata yu‘jibuka (يُعْجِبُكَ) 
berasal dari kata i‘jāb (إعجاب), yang bersumber dari kata ‘ajab (عجب), 
yaitu keadaan ketika sesuatu tampak berbeda dari hal-hal lain yang sejenis dengannya, sehingga menjadi sesuatu yang luar biasa atau langka dalam bentuk dan keadaannya.

Demikianlah penjelasan yang dikemukakan oleh al-Ḥarālī.

Al-Aṣbahānī berkata:
Kekaguman merupakan suatu keadaan yang menyelimuti manusia ketika ia mengetahui adanya kesempurnaan yang sebabnya tidak diketahui.

Adapun ar-Rāghib al-Aṣfahānī menjelaskan bahwa kekaguman bukanlah sesuatu yang melekat pada suatu benda berdasarkan zatnya sendiri. 
Akan tetapi, hal itu bergantung pada hubungan antara orang yang mengetahui sebab sesuatu dan orang yang tidak mengetahui sebabnya.

Hakikat ungkapan a‘jabanī kadzā (أَعْجَبَنِي كَذَا), 
yang berarti “sesuatu itu membuatku kagum”, 
adalah bahwa sesuatu tersebut tampak di hadapanku dengan cara yang belum kuketahui sebabnya.

Dengan demikian, seseorang dapat merasa kagum terhadap suatu perkataan karena perkataan itu tampak luar biasa baginya, sedangkan sebab yang membuatnya demikian belum diketahuinya.

3. Firman Allah: 
﴿قَوْلُهُ﴾
“Perkataannya.”

Maksudnya, perkataan orang tersebutlah yang membuatmu kagum dan terpikat.

Ia mampu menyampaikan kata-kata yang tampak indah, meyakinkan, dan memikat hati.

 Akan tetapi, keindahan perkataannya itu tidak serta-merta menunjukkan kebenaran isi hatinya.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, orang semacam ini menggunakan perkataannya untuk melakukan tipu daya.

 Ia menampakkan sesuatu yang baik melalui lisannya, padahal keadaan batinnya bisa berbeda dari apa yang ditampakkannya.

4. Firman Allah: 
﴿فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا﴾

“Dalam kehidupan dunia.”

Karena penyebutan orang semacam ini datang setelah pembahasan tentang hari penghimpunan manusia pada hari Kiamat, mungkin muncul dugaan bahwa perkataan atau kekaguman yang dimaksud terjadi dalam keadaan tersebut.

Oleh sebab itu, Allah membatasinya dengan firman-Nya, “dalam kehidupan dunia”, yakni perkataan yang menarik hati itu terjadi di kehidupan dunia.

Selama orang tersebut hidup di dunia, ia justru semakin memperindah perkataannya dan semakin berusaha membuatnya tampak baik.

 Pada saat yang sama, ia semakin berusaha menyamarkan keburukan perbuatannya yang tersembunyi.

Adapun di akhirat, perkataannya tidak lagi tampak baik dan tidak lagi menimbulkan kekaguman.

Dengan demikian, keindahan perkataannya di dunia tidak menunjukkan bahwa dirinya benar-benar baik.
 Sebab, keindahan tersebut bisa jadi hanyalah penampilan lahiriah yang digunakan untuk menutupi keburukan batinnya.

5. Firman Allah:
 ﴿وَيُشْهِدُ اللَّهَ﴾

“Dan dia menjadikan Allah sebagai saksi.”

Maksudnya, orang tersebut menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang dikatakannya.

Allah adalah Zat yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan.

Orang itu menggunakan nama Allah untuk menguatkan perkataannya dan membuat orang lain percaya kepadanya.

 Dengan menyebut Allah sebagai saksi, ia seolah-olah menegaskan bahwa perkataannya benar dan bahwa dirinya sungguh-sungguh memiliki niat yang baik.

Padahal, penggunaan nama Allah sebagai saksi tidak dengan sendirinya membuktikan kejujuran seseorang.

 Sebab, seseorang bisa saja mengucapkan sumpah atau menggunakan nama Allah untuk menguatkan perkataannya, sementara kenyataan yang tersembunyi dalam hatinya bertentangan dengan apa yang diucapkannya.

6. Firman Allah: 
﴿عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ﴾

“Atas apa yang ada dalam hatinya.”

Maksudnya, ia menjadikan Allah sebagai saksi bahwa apa yang ada dalam hatinya sesuai dengan apa yang telah ia tampakkan melalui lisannya.

Dengan kata lain, orang tersebut ingin meyakinkan orang lain bahwa perkataannya sesuai dengan isi hatinya, bahwa ia benar-benar tulus, dan bahwa apa yang ditampakkannya secara lahiriah merupakan gambaran dari keadaan batinnya.

Padahal, ia justru menyembunyikan kenyataan yang berbeda dari penampilan lahiriahnya.

Ia berusaha menampilkan dirinya sebagai orang yang baik dan jujur, sementara niat serta tujuan yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang diperlihatkannya.

7. Firman Allah: 
﴿وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ﴾

“Padahal dia adalah penentang yang paling keras.”

Maksudnya, keadaan orang tersebut justru bertentangan dengan penampilan baik yang diperlihatkannya.

Ia terus-menerus melakukan perdebatan dengan cara yang batil.

 Ia tidak berhenti dalam perdebatan dan pertengkarannya, bahkan terus melanjutkannya dengan keras.

Semua itu dilakukannya sambil tetap menampilkan dirinya seolah-olah berada di atas kebaikan dan memiliki perilaku yang terpuji.

Setiap kali terlibat dalam suatu perselisihan, ia berusaha mencari-cari alasan dan memberikan pembenaran terhadap perkataannya. 

Ia mengemas setiap sisi perdebatan dengan cara tertentu agar sesuatu yang sebenarnya buruk tampak baik, dan sesuatu yang seharusnya dipandang tercela seolah-olah menjadi indah.

Dengan demikian, ia berusaha mengalihkan perhatian orang lain dari keburukan yang terkandung dalam perkataan dan tindakannya menuju penampilan yang tampak menarik.

Makna kata al-ladad (اللَّدَد)
Al-Ḥarālī menjelaskan bahwa kata al-ladad berarti kerasnya permusuhan dan perdebatan.

Adapun kata al-khiṣām (الخِصَام), menurut penjelasannya, 
adalah perkataan dalam suatu perdebatan yang diarahkan kepada lawan bicara, 
sehingga orang yang mendengarnya seakan-akan menerima sesuatu yang dimasukkan ke dalam telinganya untuk menghalanginya dari mempertahankan keyakinan dan klaimnya.

Maksudnya, orang yang keras dalam perdebatan berusaha memengaruhi lawannya melalui perkataan-perkataannya, agar lawan tersebut tidak lagi mampu mempertahankan pendapat atau klaim yang sebelumnya ia pegang.

Al-Aṣbahānī berkata:
Kata al-khiṣām menunjukkan pendalaman pembahasan terhadap suatu perkara dan sikap mempersempit ruang gerak lawan dalam perdebatan.

Maksudnya, seseorang terus-menerus mendalami persoalan yang diperdebatkan dan mendesak lawannya dengan berbagai argumen, sehingga lawan tersebut berada dalam keadaan terpojok.

Al-Aṣbahānī juga menjelaskan bahwa kata al-khiṣām dapat dijadikan sebagai sifat yang menunjukkan tingkat yang sangat tinggi dalam permusuhan dan perdebatan.

 Dengan demikian, ungkapan al-khiṣām al-aladd menunjukkan orang yang sangat keras dan berlebihan dalam perdebatan.
Selesai penjelasan al-Aṣbahānī

Kesimpulan Makna Tafsir:

Dalam penjelasan ayat ini, Imam al-Biqa‘i menyoroti keadaan seseorang yang perkataannya tampak indah dan mengagumkan dalam kehidupan dunia, tetapi kenyataan batinnya berbeda dari apa yang ditampakkannya.

Orang tersebut menggunakan perkataan yang memikat dan bahkan menjadikan Allah sebagai saksi untuk meyakinkan orang lain bahwa dirinya benar-benar tulus.

 Namun, ketika berhadapan dengan perselisihan, ia memperlihatkan sifat keras dalam perdebatan dan terus mempertahankan kebatilan dengan berbagai pembenaran.

Karena itu, keindahan perkataan, penggunaan nama Allah, dan kemampuan berargumentasi tidak dengan sendirinya menjadi bukti ketulusan hati atau kebenaran seseorang. 

Perkataan harus dinilai berdasarkan kesesuaiannya dengan kebenaran, sedangkan keadaan seseorang perlu dilihat dari keselarasan antara perkataan, niat, dan perbuatannya.

Ayat ini juga mengingatkan bahwa keburukan seseorang terkadang tidak tampak melalui perkataannya, melainkan justru tersingkap melalui sikap dan perilakunya ketika menghadapi perselisihan.

Dengan demikian, peringatan ayat ini bukan sekadar tentang orang yang pandai berbicara, melainkan tentang bahaya ketidaksesuaian antara penampilan lahiriah dan keadaan batin, serta bahaya menggunakan perkataan yang indah untuk menutupi kebatilan.







Terjemah Tafsir Ibnu Katsir
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 204

Karya Al-Hafizh Ismail bin Umar bin Katsir rahimahullah (wafat 774 H)

Firman Allah Ta'ala

وَمِنَ النَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ ۝٢٠٤

“Dan di antara manusia ada orang yang perkataannya tentang kehidupan dunia membuatmu kagum, dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada di dalam hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras.” (QS. Al-Baqarah: 204)

1. Sebab Turunnya Ayat dan Cakupan Maknanya

As-Suddi berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan Al-Akhnas bin Syuraiq Ats-Tsaqafi.

 Dia datang menemui Rasulullah ﷺ, menampakkan keislamannya, padahal di dalam batinnya tersimpan sesuatu yang bertentangan dengan hal itu.”

Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini turun berkenaan dengan sekelompok orang munafik yang membicarakan Khubaib dan para sahabatnya yang terbunuh di Ar-Raji‘. 

Mereka mencela Khubaib dan para sahabatnya tersebut.

Maka Allah menurunkan ayat untuk mencela orang-orang munafik dan memuji Khubaib beserta para sahabatnya, 
yaitu firman-Nya:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah.” (QS. Al-Baqarah: 207)

Ada pula yang berpendapat bahwa ayat tersebut berlaku secara umum, mencakup seluruh orang munafik dan seluruh orang beriman.
Inilah pendapat Qatadah, Mujahid, Ar-Rabi‘ bin Anas, dan beberapa ulama lainnya.
Pendapat inilah yang benar.

2. Gambaran Orang yang Memperalat Agama untuk Kepentingan Dunia

Ibnu Jarir berkata, “Yunus telah menceritakan kepadaku, 
Ibnu Wahb telah mengabarkan kepada kami, 
Al-Laits bin Sa‘ad telah mengabarkan kepadaku, 
dari Khalid bin Yazid, 
dari Sa‘id bin Abi Hilal, 
dari Al-Qurazhi, 
dari Nauf—yaitu Al-Bikali, 
yang termasuk orang yang membaca kitab-kitab terdahulu—ia berkata:
‘Sungguh, aku menemukan gambaran tentang sekelompok orang dari umat ini di dalam kitab Allah yang diturunkan.

 Mereka adalah suatu kaum yang mencari keuntungan dunia melalui agama. 

Lidah mereka lebih manis daripada madu, sedangkan hati mereka lebih pahit daripada tanaman ash-shabr.

Mereka mengenakan kulit domba di hadapan manusia, tetapi hati mereka adalah hati serigala.

Allah Ta‘ala berfirman,
 “Apakah terhadap-Ku mereka berani lancang? 
Apakah dengan-Ku mereka tertipu? 
Aku bersumpah demi diri-Ku, sungguh, 
Aku akan menimpakan kepada mereka suatu fitnah yang membuat orang yang bijaksana sekalipun menjadi kebingungan di dalamnya.”’

Al-Qurazhi berkata, ‘Aku merenungkan gambaran tersebut di dalam Al-Qur’an.

 Ternyata, mereka adalah orang-orang munafik.

 Kemudian aku menemukan ayat ini:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ

“Dan di antara manusia ada orang yang perkataannya tentang kehidupan dunia membuatmu kagum, dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada di dalam hatinya.”’”

3. Riwayat Lain tentang Orang yang Memperalat Agama

Muhammad bin Abi Ma‘syar menceritakan kepadaku. Ayahku, Abu Ma‘syar Najih, mengabarkan kepadaku, 
ia berkata:
“Aku mendengar Sa‘id Al-Maqburi berdiskusi dengan Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi. 
Sa‘id berkata:
‘Sesungguhnya, di dalam sebagian kitab terdapat keterangan:
“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang lidah mereka lebih manis daripada madu, sedangkan hati mereka lebih pahit daripada tanaman ash-shabr. 
Mereka mengenakan kulit domba di hadapan manusia karena kelembutan yang mereka tampakkan, tetapi mereka mencari keuntungan dunia melalui agama.
Allah Ta‘ala berfirman,
 ‘Apakah terhadap-Ku mereka berani lancang? 
Apakah dengan-Ku mereka tertipu? 
Demi kemuliaan-Ku, 
sungguh, Aku akan menimpakan kepada mereka suatu fitnah yang membuat orang yang bijaksana di antara mereka menjadi kebingungan.’”’

Muhammad bin Ka‘b berkata, ‘Hal ini terdapat di dalam Kitabullah.’

Sa‘id bertanya, ‘Di bagian mana hal itu terdapat di dalam Kitabullah?’

Muhammad bin Ka‘b menjawab, ‘Dalam firman Allah:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Dan di antara manusia ada orang yang perkataannya tentang kehidupan dunia membuatmu kagum.”’”

Sa‘id berkata, “Aku sudah mengetahui siapa yang menjadi sebab turunnya ayat ini.”

Muhammad bin Ka‘b berkata, “Sesungguhnya, suatu ayat bisa saja turun berkenaan dengan seseorang, kemudian setelah itu hukumnya berlaku secara umum.”

Apa yang dikatakan oleh Al-Qurazhi ini merupakan pendapat yang baik dan benar.

4. Makna Firman Allah: 
“Dan Dia Menjadikan Allah sebagai Saksi atas Apa yang Ada di Dalam Hatinya”

Adapun firman Allah Ta'ala:

وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ

“Dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada di dalam hatinya.”

Ibnu Muhayshin membaca lafaz tersebut dengan bentuk:

وَيَشْهَدُ اللَّهُ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ

Dengan huruf ya berharakat fathah dan lafaz Allah berharakat dhammah sebagai subjek kalimat.

Menurut bacaan ini, maknanya adalah bahwa meskipun orang tersebut menampakkan berbagai tipu daya di hadapan kalian, Allah tetap mengetahui keburukan yang tersembunyi di dalam hatinya.

Hal ini serupa dengan firman Allah Ta'ala:

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar Rasul Allah.’ Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya, dan Allah bersaksi bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (QS. Al-Munafiqun: 1)

Adapun bacaan mayoritas ulama adalah dengan huruf ya berharakat dhammah dan lafaz Allah berharakat fathah sebagai objek kalimat:

وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ

“Dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada di dalam hatinya.”

Maknanya adalah bahwa orang tersebut menampakkan keislaman kepada manusia, tetapi pada saat yang sama, dia secara terang-terangan mempertentangkan dirinya dengan Allah melalui kekufuran dan kemunafikan yang tersimpan di dalam hatinya.

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala:

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ

“Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah.” (QS. An-Nisa': 108)

Inilah makna riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Ishaq, 
dari Muhammad bin Abi Muhammad, 
dari Ikrimah, dari Sa‘id bin Jubair, 
dari Ibnu Abbas.

Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa maknanya ialah: 
ketika orang tersebut menampakkan keislamannya di hadapan manusia, dia bersumpah dan menjadikan Allah sebagai saksi bagi mereka bahwa apa yang ada di dalam hatinya sesuai dengan apa yang diucapkan oleh lisannya.
Makna ini benar.
Pendapat tersebut dikemukakan oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. 
Ibnu Jarir memilih pendapat ini dan menisbatkannya kepada Ibnu Abbas. 
Ia juga meriwayatkannya dari Mujahid.
Allah lebih mengetahui kebenarannya.

5. Makna Firman Allah:

 “Padahal Dia adalah Penentang yang Paling Keras”

Allah Ta'ala berfirman:

وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ

“Padahal dia adalah penentang yang paling keras.”

Kata الْأَلَدُّ (al-aladd) dalam bahasa Arab berarti orang yang menyimpang atau berbelit-belit dari kebenaran.

Hal ini serupa dengan firman Allah Ta'ala:
وَتُنْذِرَ بِهِ قَوْمًا لُدًّا

“Dan agar engkau memberi peringatan dengannya kepada kaum yang sangat keras membangkang.” (QS. Maryam: 97)

Artinya, mereka adalah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran.

Demikian pula keadaan orang munafik ketika terlibat dalam perselisihan. 
Ia berdusta, berpaling dari kebenaran, dan tidak mau bersikap lurus terhadapnya. Bahkan, ia membuat-buat kebohongan dan melampaui batas.

Sebagaimana telah ditetapkan dalam hadis sahih dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara, ia berdusta; apabila berjanji, ia mengkhianati; dan apabila berselisih, ia melampaui batas.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

6. Orang yang Paling Dibenci oleh Allah dalam Perselisihan

Al-Bukhari berkata, 
“Qabishah telah menceritakan kepada kami, 
Sufyan telah menceritakan kepada kami, 
dari Ibnu Juraij, 
dari Ibnu Abi Mulaikah, 
dari Aisyah radhiyallahu 'anha, yang menisbatkan hadis ini kepada Nabi ﷺ. 
Beliau bersabda:

أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ

‘Orang yang paling dibenci oleh Allah di antara kaum laki-laki adalah orang yang paling keras dalam pertengkaran.’”

Al-Bukhari juga berkata, “Abdullah bin Yazid berkata, Sufyan telah menceritakan kepada kami, 
Ibnu Juraij telah menceritakan kepadaku, 
dari Ibnu Abi Mulaikah, 
dari Aisyah, 
dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ

‘Sesungguhnya, orang yang paling dibenci oleh Allah di antara kaum laki-laki adalah orang yang paling keras dalam pertengkaran.’”

Demikian pula hadis ini diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, dari Ma‘mar, mengenai firman Allah Ta'ala:
وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ

“Padahal dia adalah penentang yang paling keras.”

Riwayat tersebut berasal dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Aisyah, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda:

إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ

“Sesungguhnya, orang yang paling dibenci oleh Allah di antara kaum laki-laki adalah orang yang paling keras dalam pertengkaran.”


Catatan penting dari penjelasan Ibnu Katsir:

Perkataan yang menarik tidak selalu mencerminkan kebenaran hati. 

Seseorang bisa berbicara dengan indah, menampakkan kesalehan, dan bersumpah atas nama Allah, padahal batinnya menyimpan keburukan.

Memperalat agama untuk memperoleh keuntungan dunia merupakan sifat tercela.

Gambaran orang yang lisannya manis, tetapi hatinya menyimpan keburukan, menjadi peringatan agar kaum muslimin tidak tertipu oleh penampilan dan retorika semata.

Ayat ini memiliki cakupan umum. 
Meskipun terdapat riwayat yang menghubungkannya dengan orang-orang tertentu, Ibnu Katsir menegaskan bahwa pendapat yang benar adalah ayat ini mencakup seluruh orang munafik dan menjadi peringatan bagi manusia secara umum.

Keras dalam perselisihan bukanlah tanda kekuatan yang terpuji. 

Apabila seseorang berdusta, memutarbalikkan fakta, dan melampaui batas demi memenangkan perdebatan, ia memiliki sifat tercela yang diperingatkan dalam ayat ini dan hadis Nabi ﷺ.

Allah mengetahui hakikat hati manusia. 

Seseorang mungkin dapat menipu manusia melalui ucapan dan penampilannya, tetapi tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah.

Wallahu a'lam bish-shawab.








Kamis, 08 Oktober 2026

JALAN YANG LURUS


JALAN YANG LURUS: PETUNJUK DI DUNIA DAN KESELAMATAN DI AKHIRAT

Khotib: Syekh Mahir bin Hamad Al-Mu‘aiqili

Unsur-unsur Khutbah

  1. Mendapat petunjuk menuju jalan yang lurus adalah tuntutan terbesar seorang mukmin.
  2. Tauhid dan ittiba‘ adalah dasar istiqamah.
  3. Ilmu dan amal adalah bekal orang-orang yang menempuh perjalanan menuju Allah.
  4. Keteguhan di dunia merupakan sebab keselamatan di atas shirath di akhirat.
  5. Berpegang teguh kepada Allah dan berdoa merupakan sebab memperoleh petunjuk.
  6. Menjaga persatuan dan bertaubat merupakan bagian dari konsekuensi istiqamah.

Kutipan

Barang siapa tersesat dari jalan, ia memohon kepada Allah Ta‘ala agar dikembalikan kepada jalan tersebut. Dan barang siapa telah menempuh jalan itu, ia memohon kepada-Nya agar diteguhkan di atasnya.

Itulah jalan para nabi dan rasul, jalan orang-orang yang sangat benar, para syuhada, dan orang-orang saleh.

Shirath yang lurus adalah agama Islam. Al-Qur’an adalah petunjuknya, sedangkan Nabi ﷺ adalah penjelasnya.


KHUTBAH PERTAMA

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Kitab kepada hamba-Nya, memberikan petunjuk kepada orang-orang beriman menuju jalan petunjuk dan kebenaran, serta menetapkan bagi para hamba-Nya jalan yang lurus. Barang siapa berpegang teguh kepadanya, ia akan mendapatkan petunjuk; dan barang siapa berpaling darinya, ia akan tersesat.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya penciptaan dan perintah, dan kepada-Nya tempat kembali dan kesudahan.

Aku juga bersaksi bahwa junjungan dan nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya. Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi seluruh alam dan sebagai pemberi petunjuk bagi seluruh manusia. Semoga Allah mencurahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepadanya, kepada keluarganya, para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Kiamat.

Amma ba‘du.

Wahai kaum mukminin, aku wasiatkan kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar bertakwa kepada Allah. Barang siapa bertakwa kepada Rabb-nya, niscaya ia selamat. Dan barang siapa mengikuti hawa nafsunya, niscaya ia tersesat.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan bertakwalah pada hari ketika kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak dizalimi.”
(QS. Al-Baqarah: 281)

Wahai umat Islam!

Sesungguhnya Allah Jalla Jalaluhu mengutus Nabi-Nya yang mulia untuk menyeru manusia kepada jalan-Nya yang lurus, memberikan petunjuk kepada jalan-Nya, menjelaskan rambu-rambunya, serta memperingatkan manusia dari berbagai jalan yang memalingkan mereka darinya.

Karena begitu agungnya kedudukan istiqamah di atas jalan ini, Allah Subhanahu wa Ta‘ala memerintahkan kita agar memohon petunjuk menuju jalan tersebut dalam setiap shalat, bahkan dalam setiap rakaat. Kita berkata:

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
(QS. Al-Fatihah: 6)

Maknanya: tunjukilah kami, bimbinglah kami, berilah kami taufik, dan teguhkanlah kami di atas jalan-Mu yang lurus.

Barang siapa tersesat dari jalan tersebut, ia memohon kepada Allah agar dikembalikan kepadanya. Dan barang siapa telah menempuh jalan tersebut, ia memohon kepada-Nya agar diteguhkan di atasnya.

Jalan itu adalah jalan para nabi dan rasul, orang-orang yang sangat benar, para syuhada, dan orang-orang saleh.

Shirath yang lurus adalah agama Islam. Al-Qur’an adalah petunjuknya, sedangkan Nabi ﷺ adalah penjelasnya.

Barang siapa menempuh jalan beliau, berpegang teguh kepada Sunnah beliau, mengikuti petunjuk beliau, dan berjalan di atas metode beliau, maka ia berada di atas jalan yang lurus.

Wahai saudara-saudara seiman!

Seorang hamba tidak akan dapat istiqamah di atas jalan ini kecuali dengan ilmu yang bermanfaat yang memberikan petunjuk kepadanya dan amal saleh yang menyucikan dirinya.

Jalan yang lurus berdiri di atas dua landasan yang agung:

Pertama: mentauhidkan Allah dan mengesakan-Nya dalam ibadah.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.”
(QS. Yasin: 61)

Kedua: mengikuti Nabi ﷺ.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
(QS. Asy-Syura: 52)

Maka barang siapa memalingkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah, atau beribadah kepada Allah dengan cara yang tidak datang dari Rasulullah ﷺ, sungguh ia telah menyimpang dan tersesat dari jalan yang lurus.

Dalam Musnad Imam Ahmad, Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Rasulullah ﷺ membuat satu garis untuk kami, lalu beliau bersabda:

‘Ini adalah jalan Allah.’

Kemudian beliau membuat beberapa garis di sebelah kanan dan kirinya, lalu bersabda:

‘Ini adalah jalan-jalan yang lain. Pada setiap jalan tersebut terdapat setan yang menyeru kepadanya.’

Kemudian beliau ﷺ membaca:

‘Dan bahwa inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan itu; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.’
(QS. Al-An‘am: 153)”

Wahai saudara-saudara seiman!

Sebagaimana Allah mensyariatkan bagi para hamba-Nya di dunia sebuah jalan yang lurus dan tidak bengkok, maka pada Hari Kiamat Dia juga akan memasang shirath di atas Jahannam, yang akan dilewati oleh manusia.

Dalam Shahih Muslim, dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang syafaat pada Hari Kiamat, Nabi ﷺ bersabda:

“Kemudian amanah dan silaturahmi dikirimkan, lalu keduanya berdiri di kedua sisi shirath, di sebelah kanan dan kiri. Kemudian orang pertama di antara kalian melintasinya seperti kilat.”

Abu Hurairah berkata: Aku berkata, “Ayah dan ibuku sebagai tebusan untukmu, bagaimana cepatnya seperti kilat?”

Beliau menjawab:

“Tidakkah kalian melihat bagaimana kilat berlalu dan kembali dalam sekejap mata? Kemudian seperti hembusan angin, kemudian seperti burung, kemudian seperti orang-orang yang berlari dengan cepat. Amal-amal mereka yang membuat mereka berjalan. Dan nabi kalian berdiri di atas shirath sambil berkata: ‘Wahai Rabb-ku, selamatkanlah, selamatkanlah!’ Sampai amal-amal para hamba menjadi lemah, sehingga datang seseorang yang tidak mampu berjalan kecuali dengan merangkak.”

Beliau kemudian bersabda:

“Di kedua sisi shirath terdapat kait-kait yang tergantung, yang diperintahkan untuk mengambil siapa saja yang diperintahkan untuk diambil. Ada yang terluka tetapi selamat, dan ada yang dilemparkan bertumpuk-tumpuk ke dalam neraka.”

Kemudian Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Demi Zat yang jiwa Abu Hurairah berada di tangan-Nya, sesungguhnya dasar Jahannam itu sejauh perjalanan tujuh puluh tahun.”

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak melewatinya. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu ketetapan yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.”
(QS. Maryam: 71–72)

Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya perjalanan manusia di atas shirath, cepat atau lambatnya, sesuai dengan cepat atau lambatnya perjalanan mereka di atas shirath Allah yang lurus di dunia. Orang yang paling lambat di sini akan menjadi orang yang paling lambat di sana. Dan orang yang paling teguh di atas jalan yang lurus di sini akan menjadi orang yang paling teguh di sana.

Barang siapa yang di dunia dicengkeram oleh kait-kait syahwat, syubhat, dan bid‘ah yang menyesatkan, maka di sana ia akan dicengkeram oleh kait-kait yang seperti duri pohon Sa‘dan.”

Wahai saudara-saudara seiman!

Di antara perkara yang membantu seorang hamba memperoleh petunjuk dan mendapatkan taufik untuk tetap teguh di atasnya adalah mengamalkan Sunnah Nabi ﷺ.

Allah Ta‘ala berfirman kepada Nabi-Nya:

“Maka tetaplah engkau istiqamah sebagaimana engkau diperintahkan.”
(QS. Hud: 112)

Jika perintah ini ditujukan kepada Nabi ﷺ, maka hal tersebut menunjukkan bahwa istiqamah bukanlah berdasarkan hawa nafsu dan keinginan seseorang.

Akan tetapi, tolok ukurnya adalah berpegang teguh kepada Al-Kitab dan Sunnah.

Barang siapa berpegang teguh kepada keduanya, Allah Ta‘ala akan memberikan kepadanya taufik menuju petunjuk.

Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab itu dan apakah iman itu, tetapi Kami menjadikannya cahaya yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, yaitu jalan Allah yang milik-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, segala urusan kembali kepada Allah.”
(QS. Asy-Syura: 52–53)

Semoga Allah memberikan keberkahan kepadaku dan kepada kalian melalui Al-Qur’an dan Sunnah, dan memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian dengan ayat-ayat dan hikmah yang terdapat di dalam keduanya.

Aku mengatakan perkataanku ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian. Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.


KHUTBAH KEDUA

Segala puji bagi Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungan wajah-Nya dan kebesaran kekuasaan-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya.

Aku bersaksi bahwa junjungan dan nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya.

Semoga shalawat dan salam dari Rabb-ku senantiasa tercurah kepadanya, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang berjalan di atas jalannya hingga Hari Kiamat.

Amma ba‘du.

Wahai kaum mukminin!

Sesungguhnya mendapatkan petunjuk menuju jalan yang lurus tidaklah dapat diperoleh seorang hamba kecuali dengan taufik dari Zat Yang Mahamulia lagi Maha Penyayang.

Dialah yang memuliakan siapa saja yang Dia kehendaki dengan petunjuk-Nya dan menganugerahkan kepadanya cahaya tauhid dan ibadah.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan sesungguhnya Allah benar-benar memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman menuju jalan yang lurus.”
(QS. Al-Hajj: 54)

Barang siapa yang Allah kehendaki untuk mendapatkan petunjuk, niscaya Dia memberinya petunjuk.

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:

“Barang siapa yang Allah kehendaki untuk disesatkan-Nya, niscaya Dia menyesatkannya; dan barang siapa yang Dia kehendaki, niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.”
(QS. Al-An‘am: 39)

Oleh karena itu, wahai kaum mukminin, di antara sebab terbesar untuk memperoleh dan merealisasikan petunjuk adalah memohon pertolongan dan berpegang teguh kepada Pemilik petunjuk tersebut.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan barang siapa berpegang teguh kepada Allah, sungguh dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
(QS. Ali ‘Imran: 101)

Maka berdoa kepada Allah agar diberi petunjuk menuju jalan yang lurus merupakan salah satu doa yang paling lengkap, paling bermanfaat, paling agung, dan paling mulia.

Dalam hadis qudsi, Nabi ﷺ bersabda bahwa Allah Ta‘ala berfirman:

“Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Setengahnya untuk-Ku dan setengahnya untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.”

Dalam hadis tersebut disebutkan:

“Apabila dia berkata: ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat,’ Allah berfirman: ‘Ini untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.’”

(HR. Muslim)

Wahai saudara-saudara seiman!

Barang siapa merenungkan firman Allah:

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
(QS. Al-Fatihah: 6)

ia akan memahami bahwa mendapatkan petunjuk menuju jalan yang lurus bukanlah suatu tingkatan yang apabila telah dicapai seorang hamba, kemudian ia tidak lagi membutuhkannya.

Akan tetapi, seorang hamba senantiasa membutuhkan agar diteguhkan di atas petunjuk yang telah diperolehnya.

Karena itu Nabi ﷺ banyak memohon kepada Allah agar diberikan petunjuk, padahal beliau adalah manusia yang paling mendapatkan petunjuk dan manusia yang paling sempurna.

Dalam Shahih Muslim, Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya:

“Dengan doa apa Nabi Allah ﷺ memulai shalatnya apabila beliau bangun untuk shalat malam?”

Aisyah menjawab:

“Apabila beliau bangun pada malam hari, beliau memulai shalatnya dengan membaca:

‘Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail, dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Mengetahui perkara yang gaib dan yang nyata. Engkau yang memutuskan perkara di antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang mereka perselisihkan. Berilah aku petunjuk kepada kebenaran dalam perkara yang diperselisihkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus.’”

Di antara keindahan yang terdapat dalam firman Allah:

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
(QS. Al-Fatihah: 6)

adalah bahwa doa tersebut menggunakan bentuk jamak, bukan bentuk tunggal.

Hal ini mengandung pendidikan tentang makna kebersamaan dan persatuan.

Seorang mukmin memohon kepada Allah agar diberikan petunjuk untuk dirinya sendiri sekaligus untuk saudara-saudaranya.

Agama Allah menyatukan, sedangkan hawa nafsu dan bid‘ah memecah-belah.

Maka di antara konsekuensi berpegang teguh kepada jalan yang lurus adalah berpegang teguh kepada jamaah kaum muslimin dan menjauhi sebab-sebab perpecahan dan fitnah.

Allah Jalla Jalaluhu, setelah memerintahkan untuk mengikuti jalan-Nya, berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.”
(QS. Al-An‘am: 153)

Perpecahan merupakan salah satu dampak dari jalan-jalan yang menyimpang, sedangkan persatuan merupakan salah satu dampak dari jalan yang lurus.

Karena itu, manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah dibangun di atas:

  • berpegang teguh kepada Al-Kitab dan Sunnah,
  • menyatukan kalimat,
  • menaati pemimpin kaum muslimin,
  • serta mewaspadai jalan-jalan berlebihan dalam agama.

Kerajaan Arab Saudi, dengan karunia Allah Ta‘ala, dibangun di atas Al-Kitab dan Sunnah serta persatuan.

Semua itu merupakan nikmat yang wajib disyukuri dan hendaknya kita berdoa agar nikmat tersebut senantiasa terjaga.

Sesungguhnya “jamaah adalah rahmat, sedangkan perpecahan adalah azab.”

Wahai saudara-saudara!

Di antara rahmat Allah Ta‘ala kepada para hamba-Nya adalah bahwa istiqamah di atas jalan yang lurus tidak berarti seseorang terbebas dari kesalahan dan kekeliruan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah mereka yang banyak bertaubat.”

Barang siapa melakukan kekurangan, hendaknya ia segera memperbaikinya.

Barang siapa menzalimi seseorang, hendaknya ia mengembalikan hak orang tersebut.

Dan barang siapa dirinya dikuasai oleh hawa nafsu sehingga terjatuh ke dalam dosa, hendaknya ia segera bertaubat darinya.

Allah Jalla Jalaluhu berfirman:

“Maka tetaplah istiqamah kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.”
(QS. Fussilat: 6)

Orang yang mendapatkan taufik adalah orang yang mau merenung dan mengambil pelajaran, kemudian beristiqamah dan memohon ampun, serta mempersiapkan diri untuk menghadapi Hari Mahsyar.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan Allah menyeru manusia ke Darussalam (surga), dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”
(QS. Yunus: 25)

Wahai Zat Yang membolak-balikkan hati!

Teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad, kepada istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada keluarga Ibrahim.

Dan limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad, kepada istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim.

Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Ya Allah, ridhailah para khalifah yang mendapatkan petunjuk: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali; juga seluruh sahabat, para tabi'in, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Kiamat.

Dan ridhailah kami bersama mereka dengan ampunan, kemurahan, dan kedermawanan-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin.

Jadikanlah negeri ini aman, tenteram, makmur, dan penuh kesejahteraan, demikian pula seluruh negeri kaum muslimin.

Ya Allah, berikanlah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami.

Berikanlah taufik kepada para imam dan pemimpin kami.

Teguhkanlah pemimpin kami dan wali urusan kami di atas kebenaran.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami, Pelayan Dua Tanah Suci, kepada apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai.

Berikanlah taufik kepadanya dan kepada putra mahkotanya yang terpercaya menuju segala sesuatu yang mengandung kemuliaan Islam, kebaikan kaum muslimin, serta kemaslahatan negeri dan para hamba.

Ya Allah, balaslah mereka dengan kebaikan atas apa yang telah mereka berikan dalam pelayanan terhadap Dua Tanah Suci.

Balaslah mereka atas jasa mereka kepada Islam dan kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan.

Ya Allah, jagalah agama kami, kepemimpinan kami, dan keamanan kami.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada para petugas keamanan kami dan mereka yang berjaga di perbatasan serta benteng-benteng negeri kami.

Menangkanlah mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka, wahai Zat Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.

Ya Allah, lepaskanlah kesusahan saudara-saudara kami di Palestina.

Jadilah penolong, pembela, pendukung, dan penguat bagi mereka.

Ya Allah, jagalah Masjid Al-Aqsha dari kezaliman orang-orang zalim dan agresi para penjajah.

Jadikanlah ia tetap tinggi, mulia, dan terhormat hingga Hari Kiamat.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri, dan kecukupan.

Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
(QS. Al-Baqarah: 201)

“Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Yang memiliki keperkasaan, dari apa yang mereka sifatkan. Dan salam sejahtera atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”


Rabu, 07 Oktober 2026

MINTALAH KEPADA ALLAH AMPUNAN DAN KESELAMATAN



MINTALAH KEPADA ALLAH KESELAMATAN DAN KESEJAHTERAAN 



Khutbah Masjidil Haram, 6/3/1434 H — Syaikh Saud asy-Syuraim



Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah, Pemilik kemuliaan dan keagungan, Yang mengampuni dosa dan menerima taubat, Yang keras hukuman-Nya, Yang menganugerahkan setiap keuntungan dan karunia, serta Yang menyingkap setiap kesulitan dan kesempitan. 

Aku memuji-Nya—Mahasuci Dia—atas nikmat-nikmat-Nya yang melimpah, kemurahan-Nya yang luas, dan karunia-karunia-Nya yang agung.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, sejak awal hingga akhir, yang lahir maupun yang batin. 

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. 
Dia mengutusnya kepada dua golongan yang dibebani syariat, yaitu manusia dan jin, sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, serta sebagai penyeru kepada Allah dengan izin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi.

Semoga Allah mencurahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, kepada keluarga beliau yang baik dan suci, kepada para sahabat, para tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Amma ba'du...

Aku berwasiat kepada kalian, wahai manusia, dan kepada diriku sendiri agar bertakwa kepada Allah—Mahasuci Dia. Sesungguhnya kalian di dunia ini hanyalah orang-orang yang diperintah dan dibebani kewajiban. 

Berbagai musibah menimpa kalian, kematian mencabut kalian, dan berbagai nikmat datang silih berganti kepada kalian.

Kalian tidak memperoleh suatu nikmat kecuali dengan berpisah dengan nikmat yang lain.

Tidaklah bagi kalian suatu jejak kehidupan menjadi hidup kecuali jejak yang lain telah mati. 

Tidaklah sesuatu yang baru bagi kalian muncul kecuali sesuatu yang baru lainnya menjadi usang.

Generasi-generasi terdahulu telah berlalu dan kita adalah cabang dari mereka. 

Maka, bagaimana mungkin cabang akan tetap ada setelah pokoknya telah tiada?

Allah berfirman:
“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang sementara.”
(QS. Ar-Ra'd: 26)

Wahai manusia,..

Sesungguhnya seluruh manusia pada umumnya hidup dalam kesungguhan dan kerja keras. Allah telah menciptakan mereka dalam keadaan penuh perjuangan dan kesusahan.

Nabi ﷺ bersabda:
“Setiap manusia berangkat pada pagi hari; maka ada yang menjual dirinya lalu membebaskannya, dan ada pula yang menjual dirinya lalu membinasakannya.”

Manusia berada di antara orang yang bekerja keras dapat menikmati hasilnya dan orang yang lain merasakan penderitaan.

 Mereka terkadang menjadi lemah karena berbagai kesulitan hingga mencapai keadaan hina, dan terkadang mereka bergembira dengan berbagai kenikmatan hingga mencapai batas kesombongan dan kedurhakaan.

Orang yang cerdas di antara mereka adalah orang yang tidak menyimpang dan tidak melampaui batas, serta tetap teguh dan kokoh dalam kedua keadaan tersebut.

Ia mendorong dirinya untuk berdiri di pintu Pencipta dan Tuannya, memohon kepada-Nya ampunan dan 'afiyah—keselamatan, kesehatan, dan perlindungan—dalam agama, dunia, keluarga, dan hartanya.

Sebab, mendahulukan keselamatan merupakan fitrah yang Allah tanamkan dalam jiwa manusia. 

Tidak ada orang yang menyukai bala dan penyakit kecuali orang yang rusak tabiatnya atau hatinya telah tertutup.

Sesungguhnya tidak ada yang mengetahui nilai 'afiyah kecuali orang yang telah kehilangan 'afiyah tersebut, baik dalam agamanya maupun dunianya.

'Afiyah, apabila terus berlangsung, sering kali tidak disadari nilainya. 
Namun ketika ia hilang, barulah nilainya diketahui.

Pakaian 'afiyah merupakan salah satu pakaian terindah bagi kehidupan dunia dan agama. 

Dengan keduanya, kehidupan dunia menjadi nikmat dan kesudahan di akhirat menjadi baik.

Oleh karena itu, Nabi ﷺ memberikan arahan kepada umatnya sebagai bentuk kasih sayang dan perhatian kepada mereka. 

Beliau bersabda:
“Mintalah kepada Allah ampunan dan 'afiyah, karena tidak ada seseorang yang diberikan sesuatu setelah keyakinan yang lebih baik daripada 'afiyah.”
(HR. Ahmad)

Nabi ﷺ tidak hanya mengatakan hal tersebut kepada umatnya, tetapi beliau juga berulang kali mempraktikkannya, agar umatnya benar-benar merasakan nilai nikmat yang agung ini.

Beliau ﷺ berdoa:
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu 'afiyah di dunia dan akhirat. 
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan 'afiyah dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku...”
(HR. Abu Dawud dan selainnya)

Ibnu al-Jazari—rahimahullah—berkata:
“Barang siapa diberikan 'afiyah, maka ia telah memperoleh apa yang diharapkan dan dicintai oleh hatinya, baik secara lahir maupun batin, dalam agama maupun dunia, serta dilindungi dari apa yang ia khawatirkan di kedua negeri.”

Wahai hamba-hamba Allah,
'Afiyah adalah nilai yang bersifat menyeluruh dan tidak dapat dipilah-pilah serta tidak boleh dipandang secara relatif.

 Oleh karena itu, orang yang membatasi 'afiyah hanya pada kesehatan tubuh semata adalah keliru.

Barang siapa hanya meminta keselamatan tubuh tanpa keselamatan agama, maka ia telah berlebihan dalam berpaling dan menyimpang dari jalan yang benar.

Sebaliknya, barang siapa hanya meminta keselamatan dalam agama tanpa keselamatan tubuh, maka ia telah menzalimi dirinya sendiri. 

Bahkan mungkin ia akan melemahkan agamanya karena lemahnya kesehatan dan keselamatan fisiknya.

Padahal Nabi ﷺ bersabda:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.”

Orang yang berbahagia—sebagaimana dikatakan Ibnu al-Jauzi rahimahullah—adalah orang yang merendahkan diri kepada Allah dan meminta 'afiyah kepada-Nya.

Sebab, tidak mungkin seseorang mendapatkan 'afiyah secara mutlak; pasti ada ujian dan cobaan. 

Orang yang berakal senantiasa memohon kepada Allah 'afiyah agar ia dapat mengatasi sebagian besar keadaan yang dihadapinya.

Abu Bakr radhiyallahu 'anhu berkata:
“Orang yang diberi 'afiyah kemudian bersyukur lebih aku sukai daripada orang yang diuji kemudian bersabar.”

Wahai hamba-hamba Allah,..

Setiap orang yang memiliki pandangan dan ketajaman hati dapat melihat betapa besar perhatian manusia secara umum terhadap kesehatan tubuh.

Mereka mencurahkan waktu, tenaga, perhatian, dan doa untuk memperoleh nikmat kesehatan tersebut. 

Namun pada saat yang sama, mereka sering lalai terhadap nilai 'afiyah dalam agama dan keselamatan agama dari berbagai penyakit serta fitnah.

Padahal fitnah yang menimpa agama dapat melemahkan individu-individu yang pada akhirnya merupakan kumpulan dari suatu masyarakat.

Apabila seseorang lalai dalam memperoleh keselamatan bagi agamanya, berarti ia telah membuka pintu kehancuran dan kesesatan bagi dirinya.

Kehancuran dan kerugian akan semakin besar ketika seseorang terang-terangan menampakkan kemaksiatan yang telah menimpanya. 

Allah telah menutupinya, tetapi ia sendiri justru membuka dan mempermalukan dirinya.

Rasulullah ﷺ telah bersabda:
“Seluruh umatku mendapatkan keselamatan kecuali orang-orang yang menampakkan kemaksiatannya.”

Berkurangnya 'afiyah dalam agama terjadi karena penyimpangan dari syariat Allah. 

Hal itu dapat terjadi karena dua hal:
Pertama, dominasi syahwat hewani, yang mengembalikan seseorang kepada derajat yang sangat rendah sehingga ia menenggelamkan dirinya dalam berbagai syahwat seperti hewan-hewan yang kehausan.

Kedua, dominasi syubhat dalam agama, yang menyimpangkan seseorang hingga ia berada di barisan orang-orang yang duduk di setiap jalan untuk mengancam, menghalangi manusia dari jalan Allah, dan menghendaki agar jalan Allah menjadi bengkok.

Nabi ﷺ telah memperingatkan kita dari berbagai hal yang merusak 'afiyah dalam agama. Beliau bersabda:
“Akan terjadi berbagai fitnah. Orang yang duduk ketika itu lebih baik daripada orang yang berdiri; orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan; dan orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari. 
Barang siapa menampakkan diri untuk menghadapi fitnah tersebut, niscaya fitnah itu akan menjerumuskannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Di antara doa yang diajarkan Nabi ﷺ kepada al-Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhuma untuk dibaca dalam doa dan qunut adalah:
“Ya Allah, berilah aku petunjuk bersama orang-orang yang Engkau beri petunjuk, berilah aku 'afiyah bersama orang-orang yang Engkau beri 'afiyah...”
(HR. Ahmad dan para penyusun kitab Sunan)

Wahai hamba-hamba Allah,..

Di antara bentuk kehilangan 'afiyah dalam agama yang paling besar adalah ketika seseorang menjadi perusak, bukan pembangun; menjadi orang yang suka mengejek, bukan orang yang serius; menjadi alat penghancur bagi masyarakatnya, bukan orang yang bekerja membangun bangunan masyarakatnya.

Ia tidak ditemukan kecuali di tempat-tempat yang penuh ejekan, atau dalam upaya membuat sesuatu yang mencederai agama dan fitrah yang Allah ciptakan pada manusia.

Dengan demikian, ia memikul dosanya sendiri dan dosa orang-orang yang mengikuti sunnah buruk yang ia buat hingga hari kiamat.

Dalam Sunnah terdapat dalil yang menunjukkan bahwa seseorang akan dibebani akibat dari peristiwa yang ia sebabkan. 

Ia menanggung dosanya hingga hari kiamat karena kerusakan yang ia timbulkan kepada orang lain dengan menyimpangkan mereka dari manhaj dan syariat Allah.

Di antaranya sabda Nabi ﷺ:
“Tidaklah suatu jiwa dibunuh secara zalim kecuali anak Adam yang pertama mendapatkan bagian dari dosa pembunuhan tersebut, karena dialah orang pertama yang mencontohkan pembunuhan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah merahmati Imam Malik ketika beliau berwasiat kepada salah seorang muridnya:
“Janganlah engkau meletakkan manusia di atas punggungmu.”

Maksudnya: jangan engkau memikul dosa mereka karena berbagai perkara yang mereka ada-adakan.

Dan beliau juga berkata:
“Apa pun yang engkau hanya bermain-main dengannya, maka janganlah engkau bermain-main dengan agamamu.”

Benar, wahai hamba-hamba Allah...

Hendaknya setiap orang yang meletakkan batu bata fitnah atau kerusakan dalam agama maupun akhlak berhati-hati.

 Mereka akan memikul dosa-dosa mereka secara sempurna pada hari kiamat, serta memikul sebagian dosa orang-orang yang mereka sesatkan tanpa ilmu.

Hendaknya setiap orang yang tertipu oleh hiasan kebatilan, serta oleh berbagai ornamen fitnah dan godaan, berhati-hati.

Kebenaran tetap terang meskipun tirai-tirai diturunkan untuk menutupinya.

Sedangkan kebatilan tetap lemah dan kacau. 

Ia hanyalah seperti fatamorgana di tanah datar yang menggoda tetapi tidak memberikan kepuasan.

Seandainya setiap orang yang berjalan memperhatikan apa yang berada di bawah kedua kakinya, niscaya ia tidak akan menginjak duri dan tidak akan terjatuh ke dalam lubang.

Waspadalah—semoga engkau dilindungi—karena di bawah kakimu ada sebuah lubang.

Betapa banyak manusia telah jatuh ke dalamnya.

Barang siapa diberikan 'afiyah, hendaknya ia memuji Allah.

Barang siapa belum tergelincir, hendaknya ia bersyukur. 

Dan barang siapa meminta keselamatan, sesungguhnya keselamatan itu merupakan benteng bagi seseorang dalam menghadapi berbagai perubahan dan keadaan yang dahsyat.

Tidak ada seorang manusia pun—betapapun tinggi cita-citanya—yang diberikan setelah keyakinan sesuatu yang lebih baik daripada 'afiyah.

Semoga Allah memberkahi kita dan kalian dengan Al-Qur'an yang agung, memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.

Apa yang aku sampaikan ini benar, maka itu berasal dari Allah. 

Jika terdapat kesalahan, maka itu berasal dari diriku sendiri dan setan. 
Aku memohon ampun kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.



Khutbah Kedua


Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan-Nya. Syukur kepada-Nya atas taufik dan karunia-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sebagai pengagungan terhadap kedudukan-Nya.

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang menyeru kepada keridhaan-Nya.

Amma ba'du...

Ketahuilah—semoga Allah menjaga kalian—bahwa mengutamakan keselamatan dan 'afiyah dalam agama bukan berarti seseorang rela hidup bermalas-malasan dan meninggalkan berbagai kebaikan atau kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan.

Mengutamakan keselamatan dan 'afiyah adalah dalam situasi fitnah, riya, dan ketika dua perkara sama-sama tampak sehingga kebenaran bercampur dengan kebatilan dan menjadi sulit dibedakan.

Dalam keadaan seperti itu, seseorang meninggalkan perkara yang meragukannya menuju perkara yang tidak meragukannya.

Barang siapa menjaga diri dari perkara-perkara syubhat, berarti ia telah menjaga agama dan kehormatannya.

Dan barang siapa terjatuh ke dalam perkara-perkara syubhat, maka ia akan terjatuh ke dalam perkara haram.

Imam Ahmad—rahimahullah—pernah berkata:
“Sungguh aku meninggalkan sesuatu yang sebenarnya tidak mengapa, karena khawatir terjatuh ke dalam sesuatu yang mengandung dosa.”

Al-Qadhi al-Jurjani—rahimahullah—telah memberikan ungkapan yang sangat indah ketika menggambarkan nilai 'afiyah di tengah berbagai persoalan yang ia keluhkan pada zamannya:

Aku tidak mengorbankan jiwaku dalam melayani ilmu
agar aku melayani orang yang kutemui, tetapi agar aku dilayani.

Aku tidak menunaikan hak ilmu jika setiap kali
muncul suatu keinginan, aku menjadikannya sebagai tangga untuk meraihnya.

Apabila dikatakan, “Ini adalah sumber air,” aku menjawab, “Aku memang melihatnya,”
tetapi jiwa orang merdeka sanggup menanggung rasa haus.

Aku menahan diriku dari sebagian perkara yang sebenarnya tidak mencemarkannya,
karena takut terhadap perkataan orang-orang yang mencela: karena apa dan untuk apa.


Oleh karena itu, termasuk bagian dari keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam menghadapi berbagai fitnah dan perkara besar yang gelap adalah bahwa keselamatan tidak ada sesuatu pun yang menyamainya.

Menjauh dan tidak ikut serta lebih selamat, kecuali apabila kebenaran telah jelas bagi mereka berdasarkan dalil-dalil syariat yang terang, tegas, dan sahih.

Apabila kebenaran telah jelas, mereka membelanya dan mendukungnya tanpa keraguan.

Sebagian ulama menyebutkan dalam kisah Ashhabul Kahfi, berdasarkan perkataan sebagian ahli tafsir:
“Dalam kisah ini terdapat dalil bahwa orang yang melarikan diri demi menyelamatkan agamanya dari berbagai fitnah, Allah akan menyelamatkannya dari fitnah tersebut. 

Barang siapa menginginkan keselamatan, Allah akan memberinya keselamatan.

 Barang siapa berlindung kepada Allah, Allah akan melindunginya.

 Hal itu terutama terjadi ketika fitnah telah mencapai puncak kekuatannya.”

Di antara perkara yang harus diwaspadai adalah pemahaman yang keliru dari sebagian orang yang memilih untuk tidak bertindak.

 Mereka memahami makna 'afiyah secara tidak tepat.

Mereka berdalil dengan firman Allah:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu. 
Orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk.”
(QS. Al-Ma'idah: 105)

Mereka mengira bahwa ayat ini berarti meninggalkan amar makruf nahi mungkar, tidak berusaha memperbaiki manusia, dan tidak menjelaskan kebenaran ketika terjadi fitnah.

Ini bukan maksud Allah dalam ayat tersebut, sebagaimana telah dijelaskan oleh Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu.

Maknanya adalah bahwa kesesatan orang lain tidak akan membahayakan seseorang apabila ia sendiri telah mendapatkan petunjuk dan telah melaksanakan apa yang Allah wajibkan terhadap dirinya berkaitan dengan orang lain, yaitu menunjukkan mereka kepada kebenaran dan memperingatkan mereka dari kebatilan.
Sebab, hidayah berada di tangan Allah.
Kewajiban manusia hanyalah menyampaikan.
Dan Allah-lah yang memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus.

Shalawat dan Doa
Semoga Allah merahmati kalian.

Bershalawatlah kepada manusia terbaik dan manusia paling suci, yaitu Muhammad bin Abdullah, pemilik telaga dan syafaat.

Allah telah memerintahkan kalian dengan suatu perintah yang Dia mulai dengan menyebut diri-Nya sendiri, kemudian menyebut para malaikat-Nya yang bertasbih menyucikan-Nya, kemudian memerintahkan kalian—wahai kaum mukminin.

Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab: 56)

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam, tambahkanlah keberkahan kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad.

Ya Allah, ridhailah keempat khalifah beliau: Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali.

Ridhailah seluruh sahabat Nabi-Mu Muhammad ﷺ, para tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. 

Dan jadikanlah kami bersama mereka dengan ampunan, kemurahan, dan karunia-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik.

Ya Allah, tolonglah agama-Mu, kitab-Mu, Sunnah Nabi-Mu, dan hamba-hamba-Mu yang beriman.

Ya Allah, hilangkanlah kesedihan orang-orang Muslim yang sedang bersedih.

Lapangkanlah kesusahan orang-orang yang sedang mengalami kesulitan.

Lunasilah utang orang-orang yang terlilit utang.

Sembuhkanlah orang-orang sakit di antara kami dan orang-orang sakit dari kaum Muslimin dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu ampunan dan 'afiyah.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ampunan dan 'afiyah dalam agama kami, harta kami, dan keluarga kami, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan, wahai Yang Mahahidup dan Yang terus-menerus mengurus makhluk.

Ya Allah, berikanlah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami.

Perbaikilah para pemimpin dan penguasa kami.

Jadikanlah kepemimpinan kami berada di tangan orang-orang yang takut kepada-Mu, bertakwa kepada-Mu, dan mengikuti keridhaan-Mu, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, berilah taufik kepada pemimpin kami untuk melakukan apa yang Engkau cintai dan ridhai, berupa perkataan dan perbuatan, wahai Yang Mahahidup dan Yang terus-menerus mengurus makhluk.

Ya Allah, perbaikilah orang-orang yang menjadi pendamping dan penasihatnya, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas dalam agama mereka di seluruh penjuru dunia.

Ya Allah, tolonglah mereka di mana pun mereka berada.

Ya Allah, tolonglah mereka menghadapi orang-orang yang menzalimi dan menelantarkan mereka.

Ya Allah, tolonglah mereka menghadapi musuh-Mu dan musuh mereka.

Ya Allah, jadikanlah urusan musuh mereka berada di tempat yang rendah, dan jadikanlah perkaranya membawa kebinasaan baginya.
Ya Allah, segerakanlah kemenangan dan jalan keluar bagi mereka, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.

Ya Allah, Engkaulah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau.

Engkaulah Yang Mahakaya sedangkan kami adalah orang-orang yang fakir.

Turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.

Ya Allah, sesungguhnya kami adalah makhluk di antara makhluk-makhluk-Mu. 
Maka janganlah dosa-dosa kami menghalangi karunia-Mu dari kami, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.

Allah berfirman:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
(QS. Al-Baqarah: 201)

Mahasuci Rabb kami, Rabb Yang memiliki keperkasaan, dari apa yang mereka sifatkan.

Semoga keselamatan tercurah kepada para rasul.

Dan penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.