Senin, 02 November 2026

CINTA KEPADA ALLAH DAN SEBAB-SEBAB YANG MENDATANGKANNYA


CINTA KEPADA ALLAH DAN SEBAB-SEBAB YANG MENDATANGKANNYA




Khutbah Masjid Nabawi, 24 Jumadal Ula 1434 H


Oleh: Syekh Abdul Bari bin ‘Awadh ats-Tsubaiti حفظه الله

Sumber: Alukah – Khutbah Masjid Nabawi, 24/5/1434 H




 Khutbah pertama

Segala puji bagi Allah. Segala puji bagi Allah yang menjadikan cinta kepada-Nya sebagai pencapaian yang paling mulia dan anugerah yang paling agung. Aku memuji-Nya, Mahasuci Dia, dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat makanan dan minuman.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Yang Mahasuci dari segala kekurangan dan cela.

Dialah yang menciptakan manusia dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.

Aku bersaksi bahwa junjungan dan Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang menyeru kepada petunjuk, cahaya, dan penyucian jiwa dari segala kekurangan.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.

Amma ba‘du:

Aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar senantiasa bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya takwa merupakan jalan keselamatan dan keberuntungan.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Muslim."

(QS. Ali ‘Imran: 102).

### Cinta kepada Allah merupakan konsekuensi keimanan

Cinta kepada Allah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan. Tauhid tidak akan sempurna sampai sempurna pula kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya.

Cinta tidak dapat dibatasi dengan suatu definisi yang lebih jelas daripada hakikatnya sendiri, dan tidak dapat digambarkan dengan suatu sifat yang lebih terang daripada maknanya.

Tidak ada sesuatu pun yang dicintai karena zatnya dari segala sisi selain Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Dialah satu-satunya yang berhak menerima uluhiyah, penghambaan, ketundukan, kerendahan diri, dan kecintaan yang sempurna.

Kecintaan kepada Rabb, Subhanahu wa Ta‘ala, memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Tidak ada sesuatu pun yang lebih dicintai oleh hati daripada Pencipta dan Yang Mengadakan dirinya.

Dialah sesembahan, tempat ibadah, pelindung, penolong, Rabb, pengatur segala urusan, pemberi rezeki, Yang mematikan, dan Yang menghidupkan.

Maka, mencintai-Nya merupakan kenikmatan bagi jiwa, kehidupan bagi ruh, kebahagiaan bagi diri, kekuatan bagi hati, cahaya bagi akal, penyejuk mata, dan kehidupan bagi batin.

Tidak ada sesuatu yang lebih indah, lebih lezat, lebih baik, lebih membahagiakan, dan lebih menenteramkan bagi hati yang sehat, ruh yang baik, serta akal yang bersih daripada mencintai Allah, merasa tenteram dan akrab dengan-Nya, serta merindukan perjumpaan dengan-Nya.

Yahya bin Mu‘adz berkata:

"Pengampunan-Nya meliputi seluruh dosa; lalu bagaimana dengan keridaan-Nya? Keridaan-Nya meliputi segala harapan; lalu bagaimana dengan cinta-Nya? Cinta-Nya membuat akal menjadi takjub; lalu bagaimana dengan kasih sayang-Nya? Kasih sayang-Nya membuat seseorang melupakan segala sesuatu selain-Nya; lalu bagaimana dengan kelembutan-Nya?"

Semakin banyak seseorang memiliki kecintaan kepada Allah, semakin besar pula kenikmatan dan manisnya iman yang ia rasakan.

Barang siapa hatinya dipenuhi kecintaan kepada Allah, niscaya kecintaan tersebut akan mencukupkannya dari ketergantungan kepada kecintaan selain-Nya, rasa takut kepada selain-Nya, dan ketergantungan kepada selain-Nya.

Tidak ada sesuatu yang dapat mencukupi hati, menutup kekurangannya, dan mengenyangkan kebutuhannya selain kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.

Seandainya seseorang memperoleh segala sesuatu yang dapat memberikan kenikmatan kepadanya, ia tetap tidak akan merasa akrab dan tenteram kecuali dengan mencintai Allah Azza wa Jalla.

Apabila hati kehilangan kecintaan tersebut, rasa sakit yang dirasakannya lebih besar daripada sakitnya mata ketika kehilangan cahaya penglihatan, telinga ketika kehilangan pendengaran, hidung ketika kehilangan penciuman, dan lidah ketika kehilangan kemampuan berbicara.

Bahkan, rusaknya hati ketika kosong dari kecintaan kepada Pencipta, Yang Mengadakan, dan Sesembahan yang hak, jauh lebih besar daripada rusaknya tubuh ketika kehilangan ruh.

### Hakikat cinta kepada Allah

Hakikat cinta adalah menyerahkan seluruh dirimu kepada sesuatu yang engkau cintai, sehingga tidak tersisa sedikit pun dari dirimu untuk selainnya.

Kecintaan kepada Allah harus mendahului seluruh kecintaan lainnya dan mengalahkannya. Adapun kecintaan-kecintaan seorang hamba yang lain harus mengikuti kecintaan tersebut.

Dengan kecintaan inilah kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba dapat terwujud.

Orang-orang yang mencintai Allah memiliki tingkatan yang berbeda-beda dalam kadar kecintaan mereka. Hal ini karena Allah Ta‘ala menggambarkan orang-orang beriman sebagai orang yang sangat kuat cintanya kepada Allah.

Allah berfirman:

﴿وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ﴾

"Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah."

(QS. Al-Baqarah: 165).

Penggunaan kata أَشَدُّ (lebih kuat atau sangat kuat) merupakan dalil bahwa kecintaan mereka bertingkat-tingkat, karena maknanya adalah semakin kuat dan semakin kuat lagi.

Cinta kepada Allah adalah mengutamakan segala sesuatu yang dicintai-Nya di atas diri, jiwa, dan hartamu.

Kemudian engkau menyesuaikan diri dengan kehendak-Nya, baik secara tersembunyi maupun terang-terangan.

Selanjutnya, engkau menyadari kekuranganmu dalam mencintai-Nya.

Artinya, seluruh dirimu disibukkan dengan sesuatu yang dicintai-Nya, jiwamu dicurahkan untuk-Nya, hatimu terus melakukan perjalanan dalam mencari sesuatu yang dicintai-Nya, dan lisanmu senantiasa basah dengan menyebut-Nya.

Nabi kita ﷺ pernah berdoa:

«وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ»

"Aku memohon kepada-Mu kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang yang mencintai-Mu, dan kecintaan kepada amal yang dapat mendekatkan kepada kecintaan-Mu."

Apabila kecintaan semakin kuat, semakin besar, dan semakin tinggi kedudukannya dalam diri seseorang, maka kecintaan tersebut dapat mencapai tingkatan walah (kerinduan dan kecintaan yang sangat mendalam).

Walah adalah kecintaan yang sangat kuat.

Adapun ta'alluh kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala adalah kecintaan yang sangat mendalam kepada Allah dan kecintaan terhadap segala sesuatu yang datang dari sisi Allah Tabaraka wa Ta‘ala.

Kebutuhan manusia terhadap penghambaan dan ketuhanan Allah jauh lebih besar daripada kebutuhan mereka terhadap makanan.

Sebab, apabila makanan tidak tersedia, tubuh akan rusak. Sementara itu, dengan hilangnya penghambaan dan ketergantungan kepada Allah, jiwa akan mengalami kerusakan.

Seorang mukmin, apabila mengenal Rabbnya, niscaya ia akan mencintai-Nya. Apabila mencintai-Nya, ia akan bergegas menghadap kepada-Nya.

Apabila telah merasakan manisnya menghadap kepada Allah, ia tidak lagi memandang dunia dengan pandangan yang didorong oleh syahwat, dan tidak memandang akhirat dengan pandangan yang diliputi kelemahan dan kelalaian.

### Pengaruh cinta kepada Allah dalam kehidupan seorang hamba

Cinta kepada Allah mendorong seseorang untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan.

Cinta tersebut juga mendorong seorang hamba untuk mengerjakan amalan-amalan sunnah dan menjauhi perkara-perkara yang makruh.

Cinta kepada Allah memenuhi hati dengan kenikmatan dan manisnya iman.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا»

"Akan merasakan manisnya iman orang yang rida Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasulnya."

Cinta kepada Allah mengeluarkan dari hati kecintaan terhadap segala sesuatu yang dibenci Allah.

Anggota tubuh pun terdorong untuk melakukan ketaatan karena kecintaan kepada Allah. Jiwa menjadi tenang dan tenteram.

Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:

«... فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا»

"...Apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memegang, dan kakinya yang dengannya ia berjalan."

Orang yang mencintai Allah akan mendapatkan kenikmatan cinta yang dapat membuatnya melupakan berbagai musibah. Ia tidak merasakan beratnya musibah sebagaimana yang dirasakan oleh orang lain.

Cinta kepada Allah termasuk sebab paling kuat yang membantu seseorang bersabar untuk tidak menyelisihi-Nya dan tidak melakukan kemaksiatan kepada-Nya.

Sebab, orang yang mencintai akan menaati sesuatu yang dicintainya.

Semakin kuat kekuasaan cinta di dalam hati, semakin kuat pula dorongannya untuk melakukan ketaatan dan meninggalkan penyelisihan.

Adapun kemaksiatan dan penyelisihan terhadap perintah Allah muncul karena lemahnya kecintaan dan pengaruhnya di dalam hati.

Orang yang benar-benar mencintai Allah senantiasa merasa diawasi oleh Dzat yang dicintainya. Ia menjaga hati dan seluruh anggota tubuhnya.

Kecintaan semata tidak akan menghasilkan pengaruh tersebut apabila tidak disertai dengan pengagungan dan penghormatan terhadap Dzat yang dicintai.

Apabila kecintaan disertai pengagungan dan penghormatan, maka hal itu akan melahirkan rasa malu kepada-Nya dan ketaatan.

Jika tidak demikian, kecintaan yang tidak disertai pengagungan dan penghormatan hanya akan melahirkan suatu bentuk keakraban, kelapangan, ingatan, dan kerinduan.

Oleh sebab itu, pengaruh dan konsekuensi kecintaan tersebut terkadang tidak terwujud.

Seorang hamba memeriksa hatinya, lalu mendapati bahwa ia memiliki suatu bentuk kecintaan kepada Allah. Akan tetapi, kecintaan itu tidak mendorongnya untuk meninggalkan kemaksiatan.

Penyebabnya adalah karena kecintaan tersebut tidak disertai pengagungan dan penghormatan kepada Allah.

Tidak ada sesuatu pun yang dapat memenuhi hati sebagaimana kecintaan yang disertai pengagungan dan penghormatan kepada Allah.

Kecintaan seperti itulah salah satu karunia Allah yang paling utama bagi seorang hamba, bahkan boleh jadi itulah karunia yang paling utama.

Semua itu merupakan karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Apabila kecintaan terlepas dari ketundukan dan kerendahan diri, maka kecintaan tersebut berubah menjadi sekadar pengakuan yang tidak memiliki nilai.

Inilah keadaan orang yang mengaku mencintai Allah, tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya, tidak tunduk kepada Sunnah Muhammad ﷺ, dan tidak menjadikan Sunnah tersebut sebagai pedoman dalam perkataan, perbuatan, serta ibadahnya.

Tidak mungkin seseorang benar-benar mencintai Allah dan mengaku mencintai-Nya sementara ia tidak mengikuti Rasulullah ﷺ.

Oleh karena itu, orang-orang Yahudi dan Nasrani pernah berkata sebagaimana yang Allah kisahkan dalam firman-Nya:

﴿وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ﴾

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata, 'Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.'"

(QS. Al-Ma'idah: 18).

Pengakuan semata dapat diklaim oleh siapa saja.

Namun, Allah telah memutuskan perkara berbagai pengakuan tersebut dan menjelaskan mana yang benar dan mana yang palsu melalui firman-Nya:

﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾

"Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

(QS. Ali ‘Imran: 31).

### Tanda-tanda kecintaan kepada Allah

Di antara tanda kecintaan kepada Allah adalah mencintai orang-orang yang menaati-Nya, memberikan loyalitas kepada para wali-Nya, memusuhi orang-orang yang melakukan kemaksiatan kepada-Nya, bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan menolong para penolong agama-Nya.

Semakin kuat kecintaan seorang hamba kepada Allah di dalam hatinya, semakin kuat pula amal-amal tersebut dalam dirinya.

### Sebab-sebab yang mendatangkan kecintaan Allah

Di sini, sudah sepantasnya kita mengetahui sebab-sebab yang mendatangkan kecintaan kepada Allah.

Di antaranya adalah:

1\. Mengenal nikmat-nikmat Allah kepada para hamba-Nya.

Nikmat-nikmat Allah tidak terhitung dan tidak terhingga.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا﴾

"Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya."

(QS. An-Nahl: 18).

Allah juga berfirman:

﴿وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ﴾

"Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu."

(QS. Al-Qashash: 77).

2\. Mengenal Allah Ta‘ala melalui nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya.

Barang siapa mengenal Allah, niscaya ia akan mencintai-Nya.

Barang siapa mencintai Allah, niscaya ia akan menaati-Nya.

Barang siapa menaati Allah, niscaya Allah akan memuliakannya.

Barang siapa dimuliakan oleh Allah, niscaya Allah akan menempatkannya di sisi-Nya.

Dan barang siapa ditempatkan di sisi Allah, maka sungguh beruntunglah ia.

3\. Merenungkan kerajaan langit dan bumi serta segala sesuatu yang telah Allah ciptakan.

Di antara sebab terbesar yang mendatangkan kecintaan kepada Allah adalah memikirkan kerajaan langit dan bumi serta segala sesuatu yang telah Allah ciptakan berupa tanda-tanda kebesaran-Nya.

Tanda-tanda tersebut menunjukkan keagungan, kekuasaan, kemuliaan, kesempurnaan, kebesaran, kasih sayang, rahmat, dan kelembutan-Nya, serta berbagai nama Allah yang indah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna.

Semakin kuat pengetahuan seorang hamba tentang Allah, semakin kuat pula kecintaannya kepada Allah dan kecintaannya terhadap ketaatan kepada-Nya.

4\. Berinteraksi dengan Allah secara jujur dan ikhlas serta menyelisihi hawa nafsu.

Di antara sebab yang mendatangkan kecintaan kepada Allah Azza wa Jalla adalah bermuamalah dengan Allah melalui kejujuran dan keikhlasan serta menyelisihi hawa nafsu.

Sesungguhnya hal itu merupakan sebab datangnya karunia Allah kepada hamba-Nya dan sebab Allah menganugerahkan kecintaan-Nya kepada hamba tersebut.

5\. Memperbanyak zikir kepada Allah.

Di antara perkara terbesar yang dapat mendatangkan kecintaan kepada Allah adalah memperbanyak zikir kepada-Nya.

Barang siapa mencintai sesuatu, niscaya ia akan banyak menyebutnya.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

(QS. Ar-Ra‘d: 28).

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian melalui Al-Qur'an yang agung, dan memberikan manfaat kepada kita semua dengan ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah yang terkandung di dalamnya.

Inilah yang aku sampaikan. Aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung untuk diriku dan untuk kalian. Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

### Khutbah kedua

Segala puji bagi Allah yang telah menolong hamba-hamba-Nya melalui doa-doa yang baik.

Aku memuji-Nya, Mahasuci Dia, dan bersyukur kepada-Nya atas berbagai kemuliaan dan karunia.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Rabb seluruh makhluk.

Aku bersaksi bahwa junjungan dan Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang dikuatkan dengan berbagai mukjizat.

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.

Amma ba‘du:

Aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar senantiasa bertakwa kepada Allah.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia telah memperoleh kemenangan yang besar."

(QS. Al-Ahzab: 70–71).

### Empat macam kecintaan yang harus dibedakan

Wahai saudara-saudara kaum Muslimin, di sini terdapat empat macam kecintaan yang wajib dibedakan.

Pertama: Kecintaan kepada Allah.

Kecintaan kepada Allah saja belum cukup untuk menyelamatkan seseorang dari azab Allah dan memperoleh pahala-Nya.

Sebab, orang-orang musyrik, para penyembah salib, orang-orang Yahudi, dan selain mereka juga mencintai Allah.

Kedua: Mencintai segala sesuatu yang dicintai Allah.

Inilah kecintaan yang memasukkan seseorang ke dalam Islam dan mengeluarkannya dari kekufuran.

Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling lurus dan paling kuat dalam mewujudkan kecintaan semacam ini.

Ketiga: Mencintai karena Allah dan di jalan Allah.

Kecintaan ini merupakan konsekuensi dari mencintai segala sesuatu yang dicintai Allah.

Sebab, kecintaan terhadap sesuatu yang dicintai Allah tidak akan menjadi benar dan lurus kecuali apabila kecintaan tersebut dilakukan karena Allah dan di jalan-Nya.

Keempat: Mencintai sesuatu bersama Allah.

Inilah kecintaan yang mengandung kesyirikan.

Setiap orang yang mencintai sesuatu bersama Allah, bukan karena Allah, bukan demi Allah, dan bukan dalam rangka mencintai-Nya, berarti ia telah menjadikan sesuatu tersebut sebagai tandingan bagi Allah selain-Nya.

Inilah bentuk kecintaan orang-orang musyrik.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ﴾

"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah."

(QS. Al-Baqarah: 165).

### Shalawat kepada Nabi ﷺ

Ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah, bershalawatlah kepada Rasul pembawa petunjuk.

Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk melakukan hal tersebut di dalam kitab-Nya.

Allah berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

(QS. Al-Ahzab: 56).

Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad, istri-istri, dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada keluarga Ibrahim.

Dan limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad, istri-istri, dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

### Doa-doa khutbah

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik. Hancurkanlah musuh-musuh-Mu, musuh-musuh agama.

Ya Allah, jadikanlah negeri ini sebagai negeri yang aman dan tenteram, demikian pula seluruh negeri kaum Muslimin.

Ya Allah, sesungguhnya saudara-saudara kami di negeri Syam telah ditimpa berbagai musibah yang Engkau Maha Mengetahui dan Mahakuasa untuk menghilangkannya.

Ya Allah, angkatlah dari mereka bencana dan bahaya yang telah menimpa mereka.

Ya Allah, satukanlah barisan mereka dan persatukanlah kalimat mereka.

Ya Allah, jadilah Engkau sebagai penolong, pendukung, dan pelindung mereka, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, satukanlah barisan mereka dan luruskanlah bidikan mereka.

Ya Allah, tolonglah mereka dalam menghadapi musuh-Mu dan musuh mereka, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, timpakanlah kehinaan kepada musuh-musuh mereka.

Ya Allah, timpakanlah kebinasaan kepada penguasa zalim di Syam dan para pendukungnya, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, pecah-belahlah persatuan mereka, cerai-beraikanlah kekuatan mereka, dan jadikanlah kehancuran menimpa mereka, wahai Dzat Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.

Ya Allah, Dzat Yang menurunkan kitab, menggerakkan awan, dan mengalahkan pasukan-pasukan musuh, kalahkanlah musuh mereka dan tolonglah mereka, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, kalahkanlah musuh mereka di Syam dan tolonglah saudara-saudara kami di Syam dalam menghadapi musuh mereka, wahai Rabb semesta alam.

Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, sesungguhnya saudara-saudara kami di Syam ada yang tidak memiliki pakaian, maka berilah mereka pakaian.

Mereka kelaparan, maka berilah mereka makanan.

Mereka tidak beralas kaki, maka sediakanlah kendaraan bagi mereka.

Mereka dizalimi, maka berilah mereka pertolongan.

Ya Allah, sesungguhnya mereka benar-benar dizalimi, maka berilah mereka pertolongan.

Ya Allah, sesungguhnya mereka benar-benar dizalimi, maka berilah mereka pertolongan.

Ya Allah, sesungguhnya mereka benar-benar dizalimi, maka berilah mereka pertolongan.

Ya Allah, sesungguhnya mereka benar-benar dizalimi, maka berilah mereka pertolongan, wahai Dzat Yang Mahakuat, Mahaperkasa, dan Mahakuasa.

Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, kabulkanlah doa kami.

Ya Allah, kabulkanlah doa kami.

Ya Allah, kabulkanlah doa kami.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu surga dan segala perkataan serta perbuatan yang mendekatkan kepadanya.

Dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala perkataan serta perbuatan yang mendekatkan kepadanya.

Ya Allah, perbaikilah agama kami yang merupakan penjaga urusan kami.

Perbaikilah dunia kami yang di dalamnya terdapat kehidupan kami.

Perbaikilah akhirat kami yang merupakan tempat kembali kami.

Jadikanlah kehidupan sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai waktu istirahat bagi kami dari segala keburukan, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, tolonglah kami dan janganlah Engkau menolong pihak yang memusuhi kami.

Menangkanlah kami dan janganlah Engkau memenangkan pihak yang memusuhi kami.

Aturlah urusan kami dengan baik dan janganlah Engkau menjadikan urusan kami berada di tangan pihak yang memusuhi kami.

Berilah kami petunjuk dan mudahkanlah petunjuk itu bagi kami.

Tolonglah kami dalam menghadapi orang-orang yang melampaui batas terhadap kami.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang banyak mengingat-Mu, banyak bersyukur kepada-Mu, tunduk dan khusyuk kepada-Mu, banyak merintih dalam doa kepada-Mu, serta senantiasa kembali dan bertobat kepada-Mu.

Ya Allah, terimalah tobat kami, kabulkanlah doa kami, dan bersihkanlah kedengkian serta kebencian dari dada kami, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, lapangkanlah kesedihan orang-orang Muslim yang sedang bersedih.

Hilangkanlah kesusahan orang-orang yang sedang mengalami kesulitan.

Lunasilah utang orang-orang yang terlilit utang.

Sembuhkanlah orang-orang sakit di antara kami dan kaum Muslimin.

Ampunilah orang-orang yang telah meninggal dunia di antara kami dan kaum Muslimin, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami untuk melakukan perkara-perkara yang Engkau cintai dan Engkau ridai.

Bimbinglah dirinya menuju kebaikan dan ketakwaan.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada seluruh pemimpin kaum Muslimin agar mereka mengamalkan Kitab-Mu dan menerapkan syariat-Mu, wahai Rabb semesta alam.

### Doa penutup dari Al-Qur'an

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ﴾

"Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."

(QS. Al-Hasyr: 10).

Allah Ta‘ala juga berfirman:

﴿رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾

"Ya Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi."

(QS. Al-A‘raf: 23).

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾

"Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka."

(QS. Al-Baqarah: 201).

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."

(QS. An-Nahl: 90).

Maka, ingatlah Allah, niscaya Dia akan mengingat kalian.

Bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat-Nya kepada kalian.

Dan sungguh, mengingat Allah itu lebih besar keutamaannya.

Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.



Minggu, 01 November 2026

MUSIBAH DUNYAWI ANTARA PENYAKIT DAN PENAWARAN NYA.


MUSIBAH DUNYAWI ANTARA 
PENYAKIT DAN PENAWARAN NYA. 



 Terjemahan Khutbah Masjid Nabawi

Tanggal 2 Rabiulakhir 1433 H 

Syekh Husain bin Abdul Aziz Alusy-Syaikh hafizhahullah



 Khutbah pertama

Segala puji bagi Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungan wajah-Nya dan kebesaran kekuasaan-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam uluhiyah-Nya, rububiyah-Nya, serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, kekasih Allah dan manusia pilihan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, keluarga, serta para sahabatnya.

Amma ba‘du.

Wahai kaum muslimin, perkara terbaik yang hendaknya senantiasa kita saling wasiatkan adalah ketakwaan kepada Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung, menaati-Nya, dan menaati Rasul-Nya ﷺ. Hanya dengan itulah keberuntungan, kebaikan, kemaslahatan, dan kesuksesan dapat diraih di dunia maupun di akhirat.

Wahai kaum muslimin!

Banyak di antara kita yang bertanya-tanya tentang keadaan kita: Apa yang telah menimpa kita? Bagaimana keberkahan dalam rezeki itu menghilang? Di manakah musim-musim yang dahulu tanah menumbuhkan berbagai macam hasil bumi dan segala kebaikan?

Banyak di antara kita bertanya-tanya tentang penyebab berubahnya jiwa manusia. Mengapa kedengkian dan kebencian semakin banyak? Di manakah kasih sayang, kejernihan hati, kerja sama, dan kesetiaan yang dahulu dikenal di antara manusia?

Kita semua bertanya, baik melalui keadaan maupun ucapan: Apa penyebab berkurangnya hujan dan mengeringnya sumur-sumur?

Kita merasa heran melihat debu yang menyelimuti cakrawala dan berlangsung tanpa henti, sesuatu yang tidak dikenal oleh para pendahulu kita. Kita juga merasa heran melihat keserakahan sebagian pedagang dan perilaku buruk orang-orang jahat yang menimpa kaum muslimin.

Belum lagi pertanyaan tentang penguasaan musuh terhadap kaum muslimin dan berbagai tipu daya mereka. Keadaan ini sungguh semakin mengherankan. Permusuhan mereka memiliki beragam bentuk, kerugian yang mereka timbulkan semakin banyak, dan keburukan mereka semakin meluas. Hingga kaum muslimin menjadi santapan yang mudah bagi musuh-musuh mereka. Musuh-musuh itu mengarahkan kaum muslimin sesuka hati mereka dan mengatur urusan serta kehidupan dunia mereka sesuai dengan kehendaknya.

Jika kita hendak berbicara tentang berbagai kejadian yang aneh, maka bicarakanlah tentang munculnya wabah-wabah yang luar biasa, yang sebelumnya tidak dikenal, yang menyerang manusia pada zaman ini dan menyebar di kalangan hewan.

Itulah sebagian musibah yang menimpa kehidupan dunia manusia. Lantas, apa sebenarnya penyebab terjadinya semua itu? Bagaimana cara melindungi diri darinya dan mengobati berbagai penyakit yang ditimbulkannya?

Wahai kaum muslimin!

Kita adalah umat yang terikat dengan sebuah risalah yang agung. Karena itu, jawaban mengenai hakikat penyebab semua ini dan cara melepaskan diri dari berbagai keburukan, kerusakan, serta bahaya tidak boleh diambil kecuali dari Zat yang paling mengetahui manusia dan apa yang memperbaiki serta meluruskan kehidupan mereka.

Allah Ta‘ala berfirman:

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui, padahal Dia Maha Lembut lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14).

Sesungguhnya berbagai musibah dengan segala bentuknya dan berbagai ujian dengan segala macam rupanya menimpa kaum muslimin karena tersebarnya dosa-dosa, perbuatan maksiat yang dilakukan secara terang-terangan, serta berbagai perbuatan keji.

Ada satu ayat dari Kitabullah—dan sungguh banyak ayat semacam ini—yang menjelaskan penyakit sekaligus obatnya serta menunjukkan jalan keluar dari berbagai musibah tersebut. Ayat itu adalah firman Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41).

Ayat ini menyingkap kepada manusia hubungan antara keadaan dan kondisi kehidupan dengan perbuatan mereka. Kerusakan dan bahaya terjadi di bumi, memenuhi daratan, lautan, dan udara sebagai akibat dari dosa-dosa yang mereka lakukan secara terang-terangan dan mereka nyatakan secara terbuka.

Ketika mereka merasakan panasnya kerusakan tersebut dan menderita akibat berbagai musibah yang menimpa kehidupan mereka, mudah-mudahan pada saat itulah mereka bertekad untuk melawan kerusakan tersebut, kembali kepada Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung, beralih kepada amal-amal saleh, menempuh jalan yang lurus, dan melakukan tobat dengan sebenar-benarnya.

Benar, wahai kaum muslimin!

Perbuatan keji dan tindakan terang-terangan dalam melakukannya dapat mendatangkan kebinasaan dan kehancuran bagi negeri serta penduduknya.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati.” (QS. Al-An‘am: 42).

Berbagai ketakutan dan musibah dengan beragam bentuknya merupakan akibat dari perbuatan maksiat dan dosa yang dilakukan secara terang-terangan, serta berbagai perbuatan keji dan kemungkaran.

Rabb kita Yang Mahatinggi lagi Mahaagung berfirman:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah. Karena itu, Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nahl: 112).

Dalam Shahih Al-Bukhari, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

إِنَّ الْفَاجِرَ إِذَا مَاتَ تَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ

“Sesungguhnya apabila orang yang durhaka meninggal dunia, para hamba, negeri, pepohonan, dan hewan-hewan pun merasa lega darinya.”

Karena itu, kaum muslimin wajib memerangi berbagai kemaksiatan dan kemungkaran serta mencegah orang-orang yang tidak bijaksana, yang hendak menenggelamkan bahtera kehidupan yang baik dan suci.

Bukankah Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung telah berfirman?

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

“Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan (ucapan) Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” (QS. Al-Ma’idah: 78).

Nabi kita ﷺ juga bersabda dalam hadis yang diriwayatkan dari Hudzaifah:

لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَعُمَّكُمْ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ، ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

“Sungguh, kalian harus benar-benar memerintahkan kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Jika tidak, hampir saja Allah menimpakan kepada kalian azab dari sisi-Nya. Kemudian kalian berdoa kepada-Nya, tetapi doa kalian tidak dikabulkan.”

Hadis ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Beliau menilainya sebagai hadis hasan dan menyebutkan bahwa hadis ini memiliki sejumlah penguat.

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, An-Nasa’i, dan At-Tirmidzi dengan sanad-sanad yang baik, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ اللَّهُ أَنْ يَعُمَّهُمْ بِعِقَابٍ مِنْ عِنْدِهِ

“Sesungguhnya apabila manusia melihat orang zalim, tetapi mereka tidak mencegahnya, hampir saja Allah menimpakan hukuman dari sisi-Nya kepada mereka semua.”

Maka bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah! Nyatakanlah perlawanan terhadap setiap bentuk kerusakan, perbuatan keji, dan kemungkaran di negeri-negeri kaum muslimin.

Aku cukupkan perkataanku ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku, kalian, serta seluruh kaum muslimin dari setiap dosa. Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

### Khutbah kedua

Segala puji bagi Allah semata. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, keluarga, serta para sahabatnya.

Amma ba‘du.

Wahai kaum muslimin!

Sesungguhnya merupakan kewajiban kita semua untuk memerangi setiap sarana media yang menyebarkan paham ateisme dan kerusakan di negeri-negeri kaum muslimin. Kita semua berkewajiban untuk saling menasihati agar menaati Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung, serta menegakkan amar makruf dan nahi mungkar.

Rabb kita Yang Mahatinggi lagi Mahaagung mengaitkan rahmat-Nya kepada kita dengan sifat-sifat tersebut. Allah Ta‘ala berfirman:

وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ

“Orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan menaati Allah serta Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah.” (QS. At-Taubah: 71).

Wahai kaum muslimin!

Kita berdoa kepada Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung, tetapi dalam sebagian keadaan kita tidak melihat pengabulan doa. Hal itu disebabkan oleh tersebarnya dosa-dosa dan kemaksiatan.

Dikisahkan bahwa Ibrahim bin Adham pernah melewati sekelompok orang di pasar Bashrah. Mereka berkata kepadanya:

“Wahai Abu Ishaq! Sesungguhnya Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung telah memerintahkan kita untuk berdoa. Kita pun berdoa, tetapi doa kita tidak dikabulkan.”

Ibrahim bin Adham menjawab:

“Hal itu karena hati kalian telah mati akibat beberapa perkara:

Kalian telah mengenal Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung, tetapi kalian tidak menunaikan hak-Nya.

Kalian telah membaca Al-Qur’an, tetapi kalian tidak mengamalkannya.

Kalian mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, tetapi kalian tidak mengikuti sunah beliau.

Kalian mengatakan bahwa kalian merindukan surga, tetapi kalian tidak beramal untuk meraihnya.

Kalian mengatakan bahwa kalian takut terhadap neraka, tetapi kalian tidak berusaha menjauh darinya.

Kalian meyakini bahwa kematian itu benar-benar akan terjadi, tetapi kalian tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Kalian sibuk memperhatikan aib orang lain dan meninggalkan aib kalian sendiri.

Kalian menikmati nikmat-nikmat Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung, tetapi kalian tidak bersyukur kepada-Nya.

Kalian telah menguburkan orang-orang yang meninggal di antara kalian, tetapi kalian tidak mengambil pelajaran dari mereka.

Lalu, bagaimana mungkin doa kalian akan dikabulkan?”

Wahai kaum muslimin!

Marilah kita semua saling menasihati untuk melakukan segala hal yang dapat memperbaiki keadaan kita yang rusak dan meluruskan jalan hidup kita yang menyimpang.

Semua itu hanya dapat diwujudkan dengan mengikatkan diri kepada Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung serta menjadikan tuntunan Rasulullah ﷺ sebagai pedoman yang menguasai kehidupan kita, sehingga kita tidak menyimpang darinya ke kanan maupun ke kiri.

Kemudian, sesungguhnya Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung telah memerintahkan kepada kita suatu perkara yang agung, yaitu berselawat dan mengucapkan salam kepada Nabi yang mulia.

### Doa penutup khutbah

Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan keberkahan kepada Nabi, pemimpin, kekasih, dan penyejuk hati kami, Nabi Muhammad.

Ya Allah, ridhailah para khalifah yang lurus dan para imam yang mendapat petunjuk: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Ridhailah seluruh keluarga Rasulullah ﷺ, seluruh sahabat, para tabi'in, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Ya Allah, perbaikilah keadaan kami dengan ketakwaan kepada-Mu.

Ya Allah, perbaikilah keadaan kami dengan ketakwaan kepada-Mu.

Ya Allah, perbaikilah keadaan kami dengan ketakwaan kepada-Mu.

Ya Allah, luruskanlah kehidupan kami dengan mengikuti sunah Nabi-Mu, Muhammad ﷺ.

Ya Allah, luruskanlah kehidupan kami dengan mengikuti sunah Nabi-Mu, Muhammad ﷺ.

Ya Allah, jagalah kaum muslimin di Suriah dan di setiap tempat.

Ya Allah, hilangkanlah kesedihan dan kesusahan mereka.

Ya Allah, hilangkanlah kesedihan dan kesusahan kami serta kesedihan dan kesusahan mereka. Singkapkanlah segala kesulitan kami semua.

Ya Allah, mudahkanlah bagi mereka segala kebaikan. Angkatlah dari mereka setiap bahaya.

Ya Allah, angkatlah dari mereka setiap bahaya.

Ya Allah, angkatlah dari mereka setiap bahaya, wahai Zat Yang Mahahidup lagi Maha Mengurus seluruh makhluk-Nya.

Ya Allah, sejukkanlah mata kami dengan tegaknya penerapan agama ini di setiap tempat.

Ya Allah, hadapilah musuh-musuh kaum muslimin, karena sesungguhnya mereka telah melampaui batas dan berbuat sewenang-wenang.

Ya Allah, hadapilah musuh-musuh kaum muslimin.

Ya Allah, siapa pun yang menghendaki keburukan terhadap negeri-negeri kaum muslimin, sibukkanlah dia dengan dirinya sendiri.

Ya Allah, siapa pun yang menghendaki keburukan terhadap kami dan kaum muslimin, maka hadapilah dia.

Ya Allah, siapa pun yang hendak mencelakakan agama kami, akhlak kami, negeri kami, atau diri kami, maka timpakanlah pembalasan-Mu kepadanya.

Ya Allah, timpakanlah pembalasan-Mu kepadanya.

Ya Allah, timpakanlah pembalasan-Mu kepadanya.

Ya Allah, hadapilah setiap orang yang melampaui batas dan menyebarkan paham ateisme serta kerusakan.

Ya Allah, hadapilah setiap orang yang melampaui batas dan menyebarkan paham ateisme serta kerusakan.

Ya Allah, jadikanlah orang-orang terbaik di antara kaum muslimin sebagai pemimpin mereka.

Ya Allah, jadikanlah orang-orang terbaik di antara kaum muslimin sebagai pemimpin mereka.

Ya Allah, tegakkanlah hukum syariat-Mu di tengah-tengah mereka.

Ya Allah, tegakkanlah di tengah-tengah mereka amar makruf dan nahi mungkar.

Ya Allah, jadikanlah syiar ini tampak nyata dan memperoleh pertolongan.

Ya Allah, jadikanlah syiar ini tampak nyata dan memperoleh pertolongan, wahai Zat Yang Mahahidup lagi Maha Mengurus seluruh makhluk-Nya.

Ya Allah, siapa pun yang menghendaki keburukan terhadap syiar ini, sibukkanlah dia dengan dirinya sendiri dan lindungilah kaum muslimin dari kejahatan mereka, wahai Zat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.

Ya Allah, berilah taufik kepada pemimpin kami, Pelayan Dua Tanah Suci, agar melakukan perkara-perkara yang Engkau cintai dan ridhai.

Ya Allah, jadikanlah dia sebagai kekuatan yang menghalangi musuh-musuh Islam dan kaum muslimin.

Ya Allah, menangkanlah agama-Mu melalui dirinya dan tinggikanlah kalimat-Mu dengannya.

Ya Allah, menangkanlah agama ini melalui dirinya dan putra mahkotanya. Menangkanlah pula melalui mereka syiar amar makruf dan nahi mungkar, wahai Zat Yang Mahahidup lagi Maha Mengurus seluruh makhluk-Nya.

Ya Allah, ampunilah setiap muslim laki-laki dan perempuan.

Ya Allah, mudahkanlah urusan mereka dan lindungilah mereka dari kejahatan, wahai Zat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.

Ya Allah, lindungilah mereka dari segala keburukan, wahai Zat Yang Mahahidup lagi Maha Mengurus seluruh makhluk-Nya.

Karuniakanlah kepada mereka kehidupan yang baik dan membahagiakan di kedua negeri, dunia dan akhirat.

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, wahai Zat Yang Mahahidup lagi Maha Mengurus seluruh makhluk-Nya, wahai Zat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.

Wahai Zat Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji!

Tanah-tanah kami telah mengering, tubuh-tubuh kami melemah, dan sebagian hewan ternak kami telah mati. Maka rahmatilah kami, wahai Zat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.

Ya Allah, rahmatilah kami dengan rahmat yang membuat kami tidak membutuhkan rahmat selain dari-Mu.

Ya Allah, rahmatilah kami dengan rahmat yang membuat kami tidak membutuhkan siapa pun selain Engkau.

Ya Allah, siramilah kami dengan hujan.

Ya Allah, siramilah kami dengan hujan.

Ya Allah, siramilah kami dengan hujan, wahai Zat Yang Mahahidup lagi Maha Mengurus seluruh makhluk-Nya.

Kami memohon kepada-Mu agar Engkau merahmati kami karena keberadaan orang-orang lemah di antara kami.

Kami memohon kepada-Mu agar Engkau merahmati kami karena keberadaan hewan-hewan ternak kami.

Kami memohon kepada-Mu agar Engkau tidak menghukum kami disebabkan perbuatan orang-orang yang tidak bijaksana di antara kami, wahai Zat Yang Mahahidup lagi Maha Mengurus seluruh makhluk-Nya, wahai Zat Yang Mahakaya, Maha Terpuji, dan Maha Pemurah.

Wahai hamba-hamba Allah!

Ingatlah Allah dengan sebanyak-banyaknya zikir dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.

PENGHAMBAAN SELURUH MAKHLUK KEPADA ALLAH TA'ALA


PENGHAMBAAN SELURUH MAKHLUK KEPADA ALLAH TA'ALA 



Terjemah Khutbah Masjid Nabawi



23 Syawal 1434 H · Syaikh Abdul Muhsin bin Muhammad al-Qasim حفظه الله



 Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam yang sebanyak-banyaknya kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya.

Amma ba'du:

Bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah, dengan sebenar-benar takwa. Barang siapa bertakwa kepada Rabb-nya, niscaya Allah mengangkat derajatnya dan menjadikan kesudahan hidupnya setelah kematian menjadi baik.

Wahai kaum muslimin!

Allah Ta'ala memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan keindahan. Dia Mahasuci dari segala aib dan kekurangan. Dia Mahakaya, tidak membutuhkan sedikit pun makhluk selain-Nya, sedangkan seluruh makhluk membutuhkan-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

﴿إِنْ تَكْفُرُوا أَنْتُمْ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا فَإِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ﴾

"Jika kalian dan seluruh manusia yang ada di bumi mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji." (QS. Ibrahim: 8).

Allah adalah Pemilik keagungan dan kebesaran. Segala sesuatu tunduk kepada-Nya dan berserah diri kepada-Nya, baik dengan sukarela maupun terpaksa. Seorang mukmin menyerahkan diri kepada-Nya dengan hati dan anggota tubuhnya, sedangkan orang kafir pun tetap tunduk kepada-Nya secara terpaksa melalui ketetapan, penundukan, dan kekuasaan-Nya.

Allah عز وجل berfirman:

﴿وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ﴾

"Dan hanya kepada-Nya berserah diri segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, baik dengan sukarela maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nyalah mereka dikembalikan." (QS. Ali Imran: 83).

Seluruh makhluk tunduk kepada Allah. Semua yang berada di langit dan bumi, termasuk burung-burung, semuanya melaksanakan salat dan beribadah kepada Allah sesuai dengan keadaan yang layak bagi mereka.

Allah عز وجل berfirman:

﴿أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ﴾

"Tidakkah engkau mengetahui bahwa kepada Allah bertasbih siapa saja yang ada di langit dan di bumi, dan juga burung-burung yang mengembangkan sayapnya? Masing-masing sungguh telah mengetahui cara salat dan tasbihnya." (QS. An-Nur: 41).

Para malaikat setiap hari memasuki Baitul Ma'mur yang berada di langit untuk melaksanakan salat kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis tentang peristiwa Isra':

«فَرُفِعَ لِيَ الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ، فَسَأَلْتُ جِبْرِيلَ، فَقَالَ: هَذَا الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ يُصَلِّي فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ، إِذَا خَرَجُوا لَمْ يَعُودُوا إِلَيْهِ آخِرَ مَا عَلَيْهِمْ»

"Lalu diperlihatkan kepadaku Baitul Ma'mur. Aku bertanya kepada Jibril, kemudian ia menjawab, 'Inilah Baitul Ma'mur. Setiap hari tujuh puluh ribu malaikat melaksanakan salat di dalamnya. Apabila mereka telah keluar darinya, mereka tidak akan kembali lagi ke sana untuk selamanya.'"

Muttafaq 'alaih (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Seluruh makhluk bersujud kepada Allah dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.

Allah عز وجل berfirman:

﴿أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ﴾

"Tidakkah engkau mengetahui bahwa kepada Allah bersujud siapa saja yang ada di langit, siapa saja yang ada di bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, hewan-hewan melata, dan banyak di antara manusia?" (QS. Al-Hajj: 18).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:

"Dan tidaklah harus bahwa sujud setiap sesuatu itu sama seperti sujudnya manusia."

Hewan-hewan dan para malaikat bersujud karena takut kepada Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ دَابَّةٍ وَالْمَلَائِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ ۝ يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ﴾

"Dan kepada Allah bersujud segala apa yang ada di langit dan segala apa yang ada di bumi, yaitu semua makhluk bergerak dan juga para malaikat, dan mereka tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Rabb mereka yang berada di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka." (QS. An-Nahl: 49–50).

Matahari setiap hari pergi ke bawah Arasy dan bersujud kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abu Dzar ketika matahari terbenam:

«أَتَدْرِي أَيْنَ تَذْهَبُ؟»

"Tahukah engkau ke mana matahari pergi?"

Aku menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."

Beliau bersabda:

«فَإِنَّهَا تَذْهَبُ حَتَّى تَسْجُدَ تَحْتَ الْعَرْشِ»

"Sesungguhnya matahari pergi hingga bersujud di bawah Arasy."

Muttafaq 'alaih.

Ibnu al-'Arabi رحمه الله berkata:

"Tidak ada sesuatu pun yang menghalangi kekuasaan Allah untuk menjadikan setiap makhluk, baik hewan maupun benda mati, mampu bersujud kepada-Nya."

Bahkan segala sesuatu yang memiliki bayangan di alam semesta bersujud kepada Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

﴿أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى مَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ يَتَفَيَّأُ ظِلَالُهُ عَنِ الْيَمِينِ وَالشَّمَائِلِ سُجَّدًا لِلَّهِ وَهُمْ دَاخِرُونَ﴾

"Apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah, yang bayang-bayangnya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan bersujud kepada Allah, sedangkan mereka merendahkan diri?" (QS. An-Nahl: 48).

Bersamaan dengan salat dan sujud seluruh makhluk kepada Allah, mereka juga bertasbih kepada-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ﴾

"Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya." (QS. Al-Isra': 44).

Petir bertasbih dengan memuji Allah disertai rasa takut kepada-Nya. Semut pun menyucikan Allah dan menafikan segala sekutu serta tandingan bagi-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«قَرَصَتْ نَمْلَةٌ نَبِيًّا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ، فَأَمَرَ بِقَرْيَةِ النَّمْلِ فَأُحْرِقَتْ، فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ: أَنْ قَرَصَتْكَ نَمْلَةٌ أَحْرَقْتَ أُمَّةً مِنَ الْأُمَمِ تُسَبِّحُ؟!»

"Seekor semut menggigit salah seorang nabi dari kalangan para nabi. Kemudian nabi tersebut memerintahkan agar sarang semut itu dibakar. Maka Allah mewahyukan kepadanya, 'Hanya karena seekor semut menggigitmu, engkau membakar suatu umat dari umat-umat yang bertasbih kepada-Ku?!'"

Muttafaq 'alaih.

Tumbuh-tumbuhan pun bertasbih kepada Allah semata.

Ibnu al-Qayyim رحمه الله berkata:

"Maha Berkah Allah, Rabb seluruh alam, yang mengetahui tempat jatuhnya daun-daun dan tempat tumbuhnya. Tidaklah sehelai daun keluar melainkan dengan izin-Nya, dan tidak pula gugur melainkan dengan pengetahuan-Nya.

Meskipun demikian, seandainya para hamba menyaksikan dedaunan itu dengan jumlahnya yang begitu banyak dan jenisnya yang beraneka ragam, sementara semuanya bertasbih memuji Rabb-nya bersama buah-buahan, ranting-ranting, dan pepohonan, niscaya mereka akan menyaksikan keindahan yang lain darinya. Mereka akan memandang penciptaannya dengan pandangan yang berbeda dan mengetahui bahwa semua itu diciptakan untuk suatu perkara yang agung."

Para sahabat رضي الله عنهم ketika bersama Nabi ﷺ pernah mendengar makanan bertasbih.

Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه berkata:

«وَلَقَدْ كُنَّا نَسْمَعُ تَسْبِيحَ الطَّعَامِ وَهُوَ يُؤْكَلُ»

"Sungguh, dahulu kami pernah mendengar makanan bertasbih ketika sedang dimakan."

(HR. Al-Bukhari).

Setiap partikel di alam semesta mengesakan Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ﴾

"Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya." (QS. Al-Isra': 44).

Ibnu Katsir رحمه الله berkata:

"Ayat ini bersifat umum, mencakup hewan-hewan, benda-benda mati, dan tumbuh-tumbuhan."

Adapun bagaimana tata cara tasbih tersebut, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah.

Allah عز وجل berfirman:

﴿وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ﴾

"Tetapi kalian tidak memahami tasbih mereka." (QS. Al-Isra': 44).

Bersamaan dengan tasbih bebatuan kepada Allah, sebagian batu juga turun dari tempat yang tinggi karena takut kepada Allah, dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri kepada-Nya.

Allah عز وجل berfirman:

﴿وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ﴾

"Dan sesungguhnya di antara batu-batu itu ada yang jatuh karena takut kepada Allah." (QS. Al-Baqarah: 74).

Langit dan bumi taat kepada Allah serta melaksanakan perintah-Nya. Allah berfirman kepada keduanya, "Tunduklah kalian kepada perintah-Ku dengan sukarela atau terpaksa."

Keduanya menjawab:

﴿قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ﴾

"Keduanya berkata, 'Kami datang dengan penuh ketaatan.'" (QS. Fussilat: 11).

Ketika amanah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, yaitu berupa beban kewajiban syariat yang apabila dilaksanakan akan memperoleh pahala dan apabila tidak dilaksanakan akan mendapatkan hukuman, semuanya enggan memikulnya karena takut tidak mampu menunaikan tanggung jawab yang dibebankan kepada mereka, bukan karena bermaksiat kepada Rabb mereka.

Benda-benda mati pun mencintai Rasulullah ﷺ. Bahkan benda-benda tersebut dahulu memberikan salam kepada beliau semasa hidupnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنِّي لَأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ، إِنِّي لَأَعْرِفُهُ الْآنَ»

"Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Makkah yang dahulu mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus menjadi nabi. Sungguh, aku masih mengenalinya sekarang."

(HR. Muslim).

Demikian pula batang pohon kurma yang ditinggalkan oleh Nabi ﷺ. Batang pohon itu merindukan beliau dan menangis.

Jabir رضي الله عنه berkata:

"Masjid dahulu beratapkan batang-batang pohon kurma. Apabila Nabi ﷺ berkhutbah, beliau berdiri bersandar pada salah satu batang pohon tersebut. Ketika mimbar dibuat untuk beliau, lalu beliau berdiri di atas mimbar itu dan meninggalkan batang pohon tersebut, kami mendengar suara dari batang pohon itu seperti suara unta betina yang sedang bunting, hingga Nabi ﷺ datang dan meletakkan tangannya di atasnya, maka batang pohon itu pun menjadi tenang."

(HR. Al-Bukhari).

Al-Hasan al-Bashri رحمه الله apabila menyampaikan hadis ini, beliau berkata:

"Wahai kaum muslimin! Sebatang kayu saja merindukan Rasulullah ﷺ karena kerinduannya untuk bertemu dengan beliau. Maka kalian lebih berhak untuk merindukan beliau."

Mengikuti petunjuk Nabi ﷺ tanpa berlebih-lebihan dan tanpa meremehkan merupakan bukti ketulusan cinta kepada beliau.

Sebuah batu besar juga pernah bergerak ketika Nabi ﷺ naik ke atasnya bersama para sahabat senior beliau.

Abu Hurairah رضي الله عنه berkata:

"Rasulullah ﷺ berada di atas Gunung Hira bersama Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, dan az-Zubair. Kemudian batu itu bergerak. Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

«اهْدَأْ فَمَا عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدٌ»

'Tenanglah! Tidak ada di atasmu selain seorang nabi, seorang shiddiq, atau seorang syahid.'"

(HR. Muslim).

Bahkan sebuah gunung secara keseluruhan pernah berguncang ketika Nabi ﷺ naik ke atasnya bersama para khalifah yang mendapat petunjuk.

Anas رضي الله عنه berkata:

"Nabi ﷺ naik ke Gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Kemudian gunung itu berguncang. Maka beliau menghentakkannya dengan kaki beliau seraya bersabda:

«اثْبُتْ أُحُدُ، فَمَا عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدَانِ»

'Tetaplah tenang, wahai Uhud! Sesungguhnya di atasmu tidak ada selain seorang nabi, seorang shiddiq, dan dua orang syahid.'"

(HR. Al-Bukhari).

Ibnu al-Munir رحمه الله berkata:

"Ini merupakan getaran kegembiraan. Oleh karena itu, Nabi ﷺ menyebutkan kedudukan kenabian, shiddiqiyah, dan kesyahidan yang menyebabkan kegembiraan bagi sesuatu yang berkaitan dengannya."

Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya dalam keadaan beriman, maka Gunung Uhud mencintainya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«أُحُدٌ جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ»

"Uhud adalah gunung yang mencintai kita dan kita pun mencintainya."

(HR. Al-Bukhari).

Imam an-Nawawi رحمه الله berkata:

"Uhud benar-benar mencintai kita. Allah Ta'ala telah menjadikan padanya kemampuan untuk membedakan sehingga ia dapat mencintai."

Di rumah keluarga Rasulullah ﷺ juga pernah terdapat seekor hewan liar. Apabila Nabi ﷺ memasuki rumah, hewan tersebut tidak bergerak agar tidak mengganggu beliau.

Aisyah رضي الله عنها berkata:

«كَانَ لِآلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحْشٌ، فَإِذَا خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعِبَ وَاشْتَدَّ وَأَقْبَلَ وَأَدْبَرَ، فَإِذَا أَحَسَّ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ دَخَلَ رَبَضَ - أَيْ: جَلَسَ - فَلَمْ يَتَرَمْرَمْ - أَيْ: لَمْ يَتَحَرَّكْ - مَا دَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْبَيْتِ كَرَاهِيَةَ أَنْ يُؤْذِيَهُ»

"Keluarga Rasulullah ﷺ dahulu memiliki seekor hewan liar. Apabila Rasulullah ﷺ keluar dari rumah, hewan itu bermain, berlari dengan kencang, bergerak ke sana kemari, dan mondar-mandir. Namun, apabila hewan itu merasakan bahwa Rasulullah ﷺ telah masuk rumah, ia segera duduk dan tidak bergerak selama Rasulullah ﷺ berada di dalam rumah, karena tidak ingin mengganggu beliau."

(HR. Ahmad).

Seluruh makhluk selain manusia dan jin yang durhaka mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Jabir رضي الله عنه berkata:

"Kami pernah datang bersama Rasulullah ﷺ dari suatu perjalanan. Ketika kami sampai di sebuah kebun milik Bani an-Najjar, ternyata di dalamnya terdapat seekor unta yang tidak membiarkan seorang pun memasuki kebun tersebut melainkan ia akan menyerangnya."

Kemudian hal itu disampaikan kepada Nabi ﷺ. Beliau pun datang hingga memasuki kebun tersebut. Lalu beliau memanggil unta itu. Unta tersebut datang dengan meletakkan kedua bibirnya ke tanah hingga berlutut di hadapan Nabi ﷺ.

Nabi ﷺ kemudian bersabda:

«هَاتُوا خِطَامَهُ»

"Bawakan tali kekangnya!"

Beliau lalu memasang tali kekang pada unta itu dan menyerahkannya kepada pemiliknya.

Kemudian Nabi ﷺ berpaling kepada orang-orang dan bersabda:

«إِنَّهُ لَيْسَ شَيْءٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِلَّا يَعْلَمُ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَّا عَاصِيَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ»

"Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun antara langit dan bumi melainkan mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali jin dan manusia yang durhaka."

(HR. Ahmad).

Barang siapa termasuk ulama Islam, maka seluruh penghuni langit dan bumi, bahkan ikan-ikan di dalam air, memohonkan ampunan baginya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ، وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ»

"Sesungguhnya seorang alim benar-benar dimohonkan ampunan oleh makhluk yang berada di langit dan di bumi, bahkan ikan-ikan yang berada di dalam air."

(HR. Abu Dawud).

Pohon gharqad berpihak kepada kaum mukminin dan memberikan pertolongan kepada mereka.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«تُقَاتِلُونَ الْيَهُودَ حَتَّى يَخْتَبِئَ أَحَدُهُمْ وَرَاءَ الْحَجَرِ، فَيَقُولَ: يَا عَبْدَ اللَّهِ! هَذَا يَهُودِيٌّ وَرَائِي فَاقْتُلْهُ»

"Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi hingga salah seorang dari mereka bersembunyi di balik batu. Kemudian batu itu berkata, 'Wahai hamba Allah! Ini ada seorang Yahudi di belakangku, maka bunuhlah dia.'"

Muttafaq 'alaih.

Sebagian makhluk ikut mengucapkan talbiyah sebagaimana talbiyah seorang muslim.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُلَبِّي - أَيْ: فِي الْحَجِّ أَوِ الْعُمْرَةِ - إِلَّا لَبَّى مَنْ عَنْ يَمِينِهِ أَوْ عَنْ شِمَالِهِ مِنْ حَجَرٍ أَوْ شَجَرٍ أَوْ مَدَرٍ - أَيْ: طِينٍ - حَتَّى تَنْقَطِعَ الْأَرْضُ مِنْ هَاهُنَا وَهَاهُنَا»

"Tidaklah seorang muslim mengucapkan talbiyah—yakni dalam ibadah haji atau umrah—melainkan segala sesuatu yang berada di sebelah kanan dan kirinya, baik batu, pohon, maupun tanah liat, turut mengucapkan talbiyah bersamanya hingga seluruh penjuru bumi di sisi kanan dan kirinya dipenuhi dengannya."

(HR. At-Tirmidzi).

Langit dan bumi menangis karena berpisah dengan seorang mukmin.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang kaum Fir'aun:

﴿فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ﴾

"Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan mereka pun tidak diberi penangguhan waktu." (QS. Ad-Dukhan: 29).

Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata:

"Apabila seorang mukmin meninggal dunia, tempat di bumi yang dahulu menjadi tempat ia melaksanakan salat dan berzikir kepada Allah akan merasa kehilangan dan menangisinya. Demikian pula langit."

Adapun orang-orang yang durhaka, sesungguhnya makhluk-makhluk merasa terganggu oleh mereka. Ketika mereka meninggal dunia, makhluk-makhluk tersebut merasa lega karena terbebas dari gangguan mereka.

Pernah dibawa melewati Nabi ﷺ sebuah jenazah, kemudian beliau bersabda:

«مُسْتَرِيحٌ وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ»

"Ada yang beristirahat dan ada pula yang membuat orang lain beristirahat darinya."

Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah yang dimaksud dengan orang yang beristirahat dan orang yang membuat orang lain beristirahat darinya?"

Beliau menjawab:

«الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْبِلَادُ وَالْعِبَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ»

"Seorang hamba yang beriman beristirahat dari keletihan dan gangguan dunia menuju rahmat Allah. Sedangkan seorang hamba yang durhaka, negeri, para hamba, pepohonan, dan hewan-hewan beristirahat dari gangguannya."

Muttafaq 'alaih.

Syirik kepada Allah merupakan dosa yang paling besar. Apabila benda-benda mati mendengar perbuatan syirik kepada Allah Ta'ala, semuanya merasa takut dan gentar karena mengagungkan Allah, disebabkan hak Allah dalam uluhiyah-Nya telah direndahkan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

﴿وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا ۝ لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا ۝ تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا﴾

"Dan mereka berkata, 'Tuhan Yang Maha Pengasih mempunyai anak.' Sungguh, kalian telah membawa sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir saja langit pecah karena ucapan itu, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh berkeping-keping." (QS. Maryam: 88–90).

Ibnu Katsir رحمه الله berkata:

"Yakni, hampir saja hal itu terjadi ketika langit mendengar perkataan tersebut dari orang-orang durhaka di antara anak Adam, sebagai bentuk pengagungan dan penghormatan kepada Rabb. Sebab, langit dan seluruh makhluk diciptakan dan ditegakkan di atas prinsip mengesakan-Nya."

Seekor burung pun pernah berbicara mengingkari perbuatan kaum musyrikin dari kalangan manusia karena kesyirikan mereka kepada Allah. Burung itu menyeru mereka agar bertauhid.

Burung hud-hud berkata kepada Nabi Sulaiman عليه السلام:

﴿وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ ۝ إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ ۝ وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ ۝ أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُونَ وَمَا تُعْلِنُونَ﴾

"Dan aku datang kepadamu dari negeri Saba' dengan membawa suatu berita yang meyakinkan. Sesungguhnya aku mendapati seorang perempuan yang memerintah mereka dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan Allah. Setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan Allah, maka mereka tidak mendapat petunjuk. Mereka tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi serta mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan." (QS. An-Naml: 22–25).

Karena burung hud-hud menyeru kepada kebaikan, mengajak beribadah hanya kepada Allah, dan bersujud kepada-Nya, maka burung tersebut dilarang untuk dibunuh.

(HR. Ahmad).

Amma ba'du, wahai kaum muslimin!

Seluruh makhluk, baik malaikat, benda-benda mati, tumbuh-tumbuhan, maupun hewan, telah menyatakan kesucian Allah dan mengesakan-Nya. Mereka bersujud kepada Allah dan menaati-Nya. Maka manusia lebih pantas untuk melakukan hal yang sama.

Apabila manusia merealisasikan penghambaan kepada Allah, niscaya ia menjadi makhluk yang paling mulia. Namun, barang siapa berbuat syirik kepada-Nya, maka hewan-hewan lebih sempurna keadaannya daripada dirinya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

﴿أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ﴾

"Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi." (QS. Al-A'raf: 179).

Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾

"Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan." (QS. Az-Zumar: 67).

Semoga Allah memberkahiku dan kalian melalui Al-Qur'an yang agung. Semoga Allah memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.

Aku menyampaikan apa yang kalian dengarkan ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum muslimin dari setiap dosa. Maka mohonlah ampun kepada-Nya.

### Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan-Nya. Segala syukur hanya milik-Nya atas taufik dan karunia-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagai bentuk pengagungan terhadap keagungan-Nya.

Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam yang lebih banyak kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.

Wahai kaum muslimin!

Seluruh makhluk tunduk dan patuh kepada Allah.

Diharamkan untuk berdoa dan memohon kepada sesuatu pun dari kalangan makhluk selain Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

﴿لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ﴾

"Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika memang hanya kepada-Nya kalian beribadah." (QS. Fussilat: 37).

Bersamaan dengan ketundukan seluruh makhluk kepada Allah, mereka juga ditundukkan untuk kepentingan kita agar kita dapat memanfaatkannya sebagai sarana untuk menaati-Nya.

Allah عز وجل berfirman:

﴿وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ﴾

"Dan Dia telah menundukkan untuk kalian apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya sebagai karunia dari-Nya." (QS. Al-Jatsiyah: 13).

Barang siapa menaati Rabb-nya, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya dan meninggikan kedudukannya.

Kemudian ketahuilah bahwa Allah telah memerintahkan kalian agar berselawat dan mengucapkan salam kepada Nabi-Nya.

Allah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56).

Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, tambahan keberkahan, dan kemuliaan kepada Nabi kami Muhammad.

Ya Allah, ridhailah para khalifah beliau yang mendapat petunjuk, yang menetapkan hukum dengan kebenaran dan senantiasa berlaku adil dengannya: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Ridhailah pula seluruh sahabat beliau, dan jadikanlah kami bersama mereka dengan kemurahan dan karunia-Mu, wahai Zat Yang Maha Pemurah di antara semua yang pemurah.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik. Binasakanlah musuh-musuh agama.

Ya Allah, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, tenteram, dan penuh kemakmuran, demikian pula seluruh negeri kaum muslimin.

Ya Allah, perbaikilah keadaan kaum muslimin di mana pun mereka berada.

Ya Allah, lindungilah darah mereka dan jauhkanlah mereka dari berbagai fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Ya Allah, jadikanlah orang-orang terbaik di antara mereka sebagai pemimpin mereka, jauhkanlah mereka dari keburukan orang-orang yang paling jahat di antara mereka, dan jadikanlah negeri-negeri mereka sebagai negeri yang penuh keamanan dan keimanan, wahai Zat Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.

Ya Allah, barang siapa yang menghendaki keburukan terhadap kami, atau terhadap Islam dan kaum muslimin, maka sibukkanlah dia dengan dirinya sendiri. Jadikanlah tipu dayanya berbalik menimpa dirinya sendiri dan tanamkanlah rasa takut ke dalam hatinya.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾

"Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Al-Baqarah: 201).

Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami untuk mengikuti petunjuk-Mu dan jadikanlah amal perbuatannya berada dalam keridaan-Mu.

Berikanlah taufik kepada seluruh pemimpin kaum muslimin agar senantiasa mengamalkan Kitab-Mu dan menerapkan syariat-Mu, wahai Zat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.

Wahai hamba-hamba Allah!

Allah berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl: 90).

Maka ingatlah Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia, niscaya Dia akan mengingat kalian.

Bersyukurlah kepada-Nya atas segala karunia dan nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat-Nya kepada kalian.

Dan sungguh, mengingat Allah itu lebih besar keutamaannya. Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.