Jumat, 14 Agustus 2026

BAHAYA RIYA



BAHAYA RIYA' 


Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasul-Nya yang mulia, kepada keluarga beliau dan seluruh sahabatnya.

Amma ba'du...

Di antara definisi riya dan sum'ah adalah apa yang dikatakan oleh Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah:
“Riya diambil dari kata ru'yah (melihat), sedangkan sum'ah berasal dari kata sama' (mendengar).”

Dengan demikian, riya berkaitan dengan indra penglihatan, sedangkan sum'ah berkaitan dengan indra pendengaran.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
“Riya adalah menampakkan ibadah dengan tujuan agar manusia melihatnya, lalu mereka memuji pelakunya.”

Riya terbagi menjadi dua :

Pertama, riya yang merupakan syirik akbar, karena masuk ke dalam dasar dan tujuan amal. Pelakunya termasuk golongan orang-orang munafik. 

Allah Ta'ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya di hadapan manusia dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit.”
(QS. An-Nisa: 142).

Orang munafik pada dasarnya tidak memiliki keinginan untuk melaksanakan ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan lainnya. Ia melakukannya hanya karena riya. Seandainya bukan karena riya, niscaya ia tidak akan shalat, tidak berpuasa, dan tidak berdzikir kepada Allah Ta'ala.

Kedua, riya yang merupakan syirik kecil, yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam. 

Riya jenis ini masuk dalam perkara memperindah atau memperbagus amal karena ingin dilihat manusia.

Misalnya seseorang pada asalnya beribadah karena Allah Ta'ala, tetapi kemudian ia memperindah ibadahnya karena riya dan sum'ah. 

Ia memperpanjang shalat agar dilihat manusia, atau mengeraskan suaranya ketika membaca Al-Qur'an dan berdzikir agar didengar manusia sehingga mereka memujinya.

Di antara sebab terbesar munculnya riya
Di antara sebab dan pendorong terbesar riya adalah:

@ Mencintai kenikmatan mendapatkan pujian, sanjungan dan penghormatan.

@ Takut mendapatkan celaan.

@ Mengharapkan sesuatu yang dimiliki oleh manusia.

Hal ini ditegaskan dalam hadits Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu. Ia berkata:
Rasulullah ﷺ ditanya tentang seseorang yang berperang karena keberanian, seseorang yang berperang karena fanatisme, dan seseorang yang berperang karena riya. Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah di antara mereka yang berada di jalan Allah?”
Rasulullah ﷺ menjawab:
“Barang siapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka ia berada di jalan Allah.”
(HR. Muslim).

Adapun orang yang berperang karena keberanian, tujuannya agar ia disebut-sebut, disyukuri, dipuji dan disanjung.

Orang yang berperang karena fanatisme, tujuannya karena ia tidak mau dikalahkan atau ditundukkan sehingga dirinya mendapatkan celaan.

Sedangkan orang yang berperang karena riya, tujuannya agar kedudukan dan kemuliaannya di hati manusia terlihat.

Bentuk-bentuk Riya
Wahai hamba-hamba Allah, riya memiliki banyak bentuk dan macam. 

Di antara yang paling penting adalah:

1. Riya melalui perbuatan

Contohnya seseorang menampakkan kekhusyukan dalam shalat dengan memperpanjang berdiri, rukuk dan sujudnya agar dilihat manusia.

Nabi ﷺ bersabda:
“Wahai manusia! Jauhilah syirik yang tersembunyi.”
Para sahabat bertanya:
“Wahai Rasulullah, apakah syirik yang tersembunyi itu?”
Beliau menjawab:
“Seseorang berdiri lalu shalat, kemudian ia memperindah shalatnya dengan sungguh-sungguh karena melihat perhatian manusia kepadanya. Itulah syirik yang tersembunyi.”

Hadits ini dinilai shahih dan diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya dan al-Baihaqi dalam As-Sunan.

2. Riya melalui ucapan

Misalnya riya dalam memberikan nasihat dan peringatan, menghafal berbagai berita dan riwayat demi berdebat, berdiskusi dan beradu argumentasi.

Termasuk pula seseorang berbangga-bangga dengan hafalan Al-Qur'annya, menggerakkan kedua bibirnya dengan dzikir di hadapan manusia agar mereka melihatnya, atau mencela dirinya sendiri di hadapan manusia agar tampak sebagai orang yang tawadhu.

3. Riya melalui pakaian

Misalnya seseorang mengenakan pakaian yang bertambal agar terlihat sebagai orang yang zuhud terhadap dunia.

Termasuk pula orang yang sengaja mengenakan pakaian kasar dan sederhana secara berlebihan, atau menggulung pakaiannya terlalu tinggi agar orang mengatakan bahwa ia adalah seorang ahli ibadah.

4. Riya melalui kondisi tubuh

Misalnya seseorang menampakkan tubuh yang kurus dan wajah yang pucat agar manusia melihatnya sebagai orang yang banyak beribadah.

Termasuk pula seseorang sengaja berfoto dengan pakaian ihram di depan Ka'bah agar dilihat oleh manusia.

Bahaya dan Dampak Buruk Riya :

Pertama

Riya merupakan sarana yang dapat menyeret pelakunya kepada syirik akbar, wal'iyadzubillah.

Kedua

Riya dapat menggugurkan amal yang disertainya dan menghilangkan keberkahannya.

Allah Ta'ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu membatalkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan penerima, seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.”
(QS. Al-Baqarah: 264).

Nabi ﷺ bersabda:
“Apabila Allah mengumpulkan manusia pada hari kiamat, pada hari yang tidak ada keraguan padanya, seorang penyeru akan menyeru: ‘Barang siapa yang menyekutukan seseorang dalam amal yang ia kerjakan karena Allah, hendaklah ia mencari pahalanya dari selain Allah. Sesungguhnya Allah Mahakaya dari segala bentuk kesyirikan.’”
(HR. Tirmidzi, dinilai hasan).

Ketiga

Riya dapat menjadi sebab pelakunya mendapatkan azab pada hari kiamat.

Nabi ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya orang yang pertama kali diputuskan perkaranya pada hari kiamat adalah seseorang yang mati syahid...”
Kemudian Nabi ﷺ menyebutkan bahwa Allah memperlihatkan kepadanya berbagai nikmat yang telah diberikan kepadanya, lalu ia mengaku bahwa dirinya telah berperang karena Allah sampai mati syahid.
Allah berkata kepadanya:
“Kamu berdusta. Akan tetapi kamu berperang agar dikatakan: ‘Dia seorang pemberani.’ Dan itu telah dikatakan.”
Kemudian diperintahkan agar ia diseret dengan wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.
Kemudian disebutkan pula seseorang yang mempelajari ilmu, mengajarkannya dan membaca Al-Qur'an. Ketika ditanya tentang amalnya, ia mengaku telah belajar ilmu, mengajarkannya dan membaca Al-Qur'an karena Allah.
Allah berfirman kepadanya:
“Kamu berdusta. Akan tetapi kamu belajar ilmu agar dikatakan: ‘Dia seorang alim.’ Dan kamu membaca Al-Qur'an agar dikatakan: ‘Dia seorang qari.’ Dan itu telah dikatakan.”
Kemudian ia diperintahkan agar diseret dengan wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.
(HR. Muslim).

Keempat

Riya termasuk fitnah yang sangat ditakutkan Nabi ﷺ atas umatnya.

Beliau bersabda:
“Maukah aku beritahukan kepada kalian sesuatu yang lebih aku takutkan atas kalian daripada Al-Masih Ad-Dajjal?”
Para sahabat menjawab, “Tentu.”
Beliau bersabda:
“Syirik yang tersembunyi, yaitu seseorang berdiri untuk shalat kemudian ia memperindah shalatnya karena melihat perhatian seseorang kepadanya.”
(HR. Ibnu Majah, dinilai hasan).

Nabi ﷺ juga bersabda:
“Sesungguhnya perkara yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.”
Para sahabat bertanya:
“Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Riya. 
Allah Ta'ala berfirman kepada mereka pada hari kiamat, ketika manusia mendapatkan balasan atas amal-amal mereka: ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu kalian riya kepada mereka di dunia. Lihatlah, apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?’”
(HR. Ahmad dalam Al-Musnad, dinilai shahih).

Kelima

Riya dapat menyebabkan kehinaan, kerendahan, kenistaan dan terbukanya aib seseorang, baik di dunia maupun di akhirat.

Nabi ﷺ bersabda:
“Barang siapa melakukan sum'ah, Allah akan memperdengarkan keburukannya; dan barang siapa melakukan riya, Allah akan menampakkan riya-nya.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Keenam

Riya menjadi salah satu sebab kekalahan umat.

Nabi ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah hanya memberikan pertolongan kepada umat ini melalui orang-orang lemahnya, yaitu melalui doa, shalat dan keikhlasan mereka.”
(HR. An-Nasa'i, dinilai shahih).

Hadits ini menunjukkan bahwa keikhlasan kepada Allah merupakan sebab seseorang berhak mendapatkan pertolongan Allah, sedangkan riya menjadi salah satu sebab kekalahan umat.



Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah...
Wahai hamba-hamba Allah!
Apabila riya merupakan perkara yang sangat berbahaya, dapat menggugurkan amal, menjadi sebab kemurkaan dan kebencian Allah Ta'ala, serta termasuk perkara yang membinasakan dan dapat menyeret seseorang kepada syirik akbar, maka sudah semestinya seorang muslim bersungguh-sungguh untuk menghilangkannya, memutus akar-akarnya dan berusaha memperoleh keikhlasan kepada Allah Ta'ala dalam seluruh keadaan dan amalnya.

Di antara sarana terpenting untuk mengobati penyakit berbahaya ini adalah:

1. Mengenal keagungan Allah Ta'ala
Yaitu dengan mengenal nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Allah dengan pemahaman yang benar, berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah, sesuai dengan pemahaman salafus shalih.

2. Memohon pertolongan Allah untuk mendapatkan keikhlasan
Hendaknya seorang muslim berlindung kepada Allah, berdoa kepada-Nya dan memohon perlindungan dari riya.

Rasulullah ﷺ telah mengajarkan hal tersebut kepada kita. Beliau bersabda:
“Wahai manusia! Takutlah kalian terhadap syirik ini, karena ia lebih tersembunyi daripada langkah semut.”
Sebagian sahabat bertanya:
“Bagaimana kami dapat menghindarinya, wahai Rasulullah, padahal ia lebih tersembunyi daripada langkah semut?”
Beliau menjawab:
“Ucapkanlah:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ
‘Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampun kepada-Mu dari sesuatu yang tidak kami ketahui.’”
(HR. Ahmad dalam Al-Musnad, dinilai hasan).

3. Mengenal berbagai bentuk amal yang ditujukan untuk dunia

Hendaknya seseorang mengetahui berbagai bentuk amal yang dilakukan demi kepentingan dunia, serta mengetahui macam-macam riya, pembagiannya dan sebab-sebabnya.

Setelah itu ia berusaha memutus dan mencabut akar-akar riya tersebut.
Sebab, seseorang terkadang terkena penyakit ini karena kebodohan atau karena kurang waspada.

4. Mengetahui akibat riya di dunia dan akhirat

Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata:
“Barang siapa menghiasi dirinya dengan sesuatu yang sebenarnya tidak ada pada dirinya, Allah akan membuatnya menjadi buruk.”

Al-Khaththabi rahimahullah berkata:
“Barang siapa melakukan suatu amal tanpa keikhlasan, tetapi hanya ingin agar manusia melihat dan mendengarnya, maka ia akan diberi balasan dengan Allah menyebarluaskan dan mempermalukannya serta menampakkan apa yang selama ini ia sembunyikan.”

Di antara akibat riya di akhirat adalah terbukanya aib seseorang di hadapan seluruh manusia, sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang tiga golongan yang pertama kali api neraka dinyalakan untuk mereka.

5. Menyembunyikan dan merahasiakan amal

Al-Qur'an telah menunjukkan keutamaan sedekah yang dilakukan secara tersembunyi.

Di antara tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya adalah:
“Seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu kedua matanya berlinang air mata.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi ﷺ juga bersabda:
“Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bertakwa, merasa cukup, dan tersembunyi.”
(HR. Muslim).

6. Mengingat kematian dan pendeknya angan-angan

Hendaknya seorang muslim selalu mengingat kematian, menyadari bahwa kehidupan dunia ini singkat, dan takut terhadap su'ul khatimah (akhir kehidupan yang buruk).

7. Mengetahui buah dan manfaat keikhlasan

Hendaknya seorang muslim mengetahui berbagai buah dan manfaat ikhlas di dunia maupun di akhirat.

Ia juga hendaknya bergaul dengan orang-orang yang ikhlas dan bertakwa, karena teman yang ikhlas tidak akan membuatmu kehilangan kebaikan.
Berbeda dengan teman yang suka melakukan riya.

Beberapa Hal yang Disangka Riya, Padahal Bukan Riya

Wahai kaum muslimin!

Ada beberapa perkara yang sebagian orang mengira sebagai riya, padahal sebenarnya bukan riya.

1. Mendapatkan pujian setelah melakukan amal secara ikhlas

Apabila seseorang melakukan amal saleh dengan ikhlas karena Allah Ta'ala, kemudian Allah menjadikan pujian yang baik terhadap dirinya muncul di hati dan lisan orang-orang beriman, lalu ia merasa gembira dengan hal tersebut, maka hal itu tidak membahayakannya dan tidak termasuk riya.

Allah Ta'ala berfirman:
“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
(QS. Yunus: 58).

Nabi ﷺ juga pernah ditanya tentang seseorang yang melakukan suatu amal kebaikan lalu manusia memujinya karena amal tersebut.
Beliau menjawab:
“Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.”
(HR. Muslim).

2. Bertambah semangat dalam beribadah ketika melihat orang-orang yang beribadah

Seseorang yang menjadi lebih bersemangat dalam melakukan kebaikan dan beribadah ketika melihat orang-orang yang rajin beribadah atau ketika berkumpul bersama orang-orang yang ikhlas dan saleh, hal itu tidak otomatis merupakan riya.

3. Menyembunyikan dosa

Menyembunyikan dosa dan tidak menampakkannya bukan termasuk riya.

Bahkan, hal itu merupakan kewajiban syar'i, karena Allah Ta'ala membenci ditampakkannya kemaksiatan dan menyukai ditutupinya aib.

4. Menampakkan syiar-syiar Islam

Menampakkan syiar-syiar Islam seperti shalat Jumat, shalat berjamaah, haji, umrah dan yang lainnya, bukanlah riya.

Seorang muslim tidak disebut sebagai orang yang riya hanya karena menampakkan syiar-syiar tersebut, karena meninggalkan sebagian syiar tersebut justru dapat menyebabkan seseorang mendapatkan celaan dan kemurkaan.
Wallahu a'lam.



Jumat, 07 Agustus 2026

KEAMANAN NEGERI ADALAH TANGGUNG JAWAB BERSAMA


"KEAMANAN NEGERI ADALAH TANGGUNG JAWAB BERSAMA"


 Karya : Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al-Muhays


Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi Karunia. 

Dia telah menganugerahkan kepada hamba-hamba-Nya nikmat kesehatan dan kesejahteraan, melimpahkan kelembutan-Nya kepada mereka dalam kesulitan dan musibah, menurunkan pertolongan dan kesabaran kepada mereka, serta mengilhamkan keridaan dan rasa syukur dalam hati mereka.

Kita memuji-Nya dengan pujian yang banyak dan bersyukur kepada-Nya dengan syukur yang berlimpah. 

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. 

Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. 

Semoga Allah melimpahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, keluarga, para sahabat beliau, serta memberikan salam yang sebanyak-banyaknya.

Amma ba‘du...

Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan merasa diawasi oleh-Nya dalam kesendirian maupun keramaian. 

Allah Ta‘ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

Wahai kaum muslimin,
Di antara nikmat yang sangat besar setelah nikmat Islam adalah nikmat keamanan yang Allah anugerahkan kepada negeri kita. 

Dengan keamanan itu negeri menjadi stabil, masyarakat hidup tenteram, bumi dapat dimakmurkan, serta terjaga agama, jiwa, akal, harta, dan kehormatan. 

Semua itu merupakan karunia dan anugerah dari Allah Ta‘ala.

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka, serta sungguh Dia akan menggantikan keadaan mereka setelah ketakutan menjadi keamanan. Mereka beribadah kepada-Ku dan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu apa pun.” (QS. An-Nur: 55)

Karena itu, setelah Allah memuliakan kita dengan nikmat keamanan, maka wajib bagi kita untuk saling bekerja sama, saling menasihati, dan bersatu dalam menjaga nikmat tersebut, terlebih di tengah berbagai peristiwa yang bergolak dan peperangan yang berkecamuk. 

Hal itu dapat dilakukan dengan beberapa cara:

Pertama:

Mensyukuri nikmat keamanan yang Allah berikan dengan istiqamah dalam ketaatan kepada-Nya dan menjauhi segala yang mendatangkan murka serta kemurkaan-Nya.

 Dengan bersyukur, nikmat akan terus terjaga dan bertambah.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian. Tetapi jika kalian kufur, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Kedua:

Memohon kepada Allah ampunan, kesehatan, keselamatan, dan perlindungan yang terus-menerus.

Rifa‘ah bin Rafi‘ radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pernah berdiri di atas mimbar lalu menangis. 
Kemudian beliau berkata: Rasulullah ﷺ pernah berdiri di atas mimbar pada tahun sebelumnya lalu menangis, kemudian bersabda:
‘Mintalah kepada Allah ampunan dan keselamatan (afiyah), karena tidak ada seorang pun yang diberikan sesuatu setelah keyakinan (iman) yang lebih baik daripada afiyah.’”
(HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani)

Yang dimaksud dengan keyakinan (al-yaqin) adalah iman dan pemahaman yang benar dalam agama.

Ketiga:

Waspada dan memperingatkan dari penyebaran serta peredaran berita bohong dan desas-desus, serta tergesa-gesa dalam menyebarkan berita yang menimbulkan kepanikan. 

Sebab hal itu termasuk penyakit paling berbahaya yang mengancam masyarakat dan persatuannya, mengganggu ketenteramannya, serta mengguncang keamanan dan stabilitasnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang didengarnya.” (HR. Muslim)

Keempat:

Hendaknya berhati-hati dari membicarakan berbagai peristiwa dan krisis di majelis-majelis maupun media sosial, serta menyerahkan urusan tersebut kepada para ahli dan pihak yang diberi wewenang oleh Allah untuk menanganinya.

Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka langsung menyiarkannya. Padahal jika mereka menyerahkannya kepada Rasul dan kepada ulil amri di antara mereka, niscaya orang-orang yang mampu mengambil kesimpulan akan mengetahuinya dari mereka.” (QS. An-Nisa’: 83)

Seorang muslim yang berpegang teguh kepada agamanya dengan benar akan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya dan menyibukkan dirinya dengan perkara yang membawa manfaat. 

Ia menggunakan waktu dan umurnya untuk hal-hal yang mendatangkan kebaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi dan lainnya)

Kelima:

Berhati-hatilah dari merekam, menyebarkan, atau memperdagangkan video dan gambar yang berkaitan dengan peristiwa keamanan atau lokasi-lokasi militer. 

Sebab hal itu dapat menimbulkan kepanikan, menyebarkan rasa takut, membahayakan jiwa dan kepentingan umum, membantu musuh melanjutkan agresinya, serta mewujudkan tujuan-tujuan mereka.

Semoga Allah menjaga negeri kita, melanggengkan keamanan dan stabilitasnya, serta menggagalkan tipu daya musuh-musuhnya.

Aku berkata demikian, dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku, kalian, dan seluruh kaum muslimin. 
Maka mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan-Nya. 

Syukur bagi-Nya atas taufik dan karunia-Nya. 

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah sebagai bentuk pengagungan kepada-Nya. 

Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang mengajak kepada keridaan-Nya. 

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, keluarga, para sahabat, dan para penolong beliau.

Amma ba‘du...

Wahai kaum muslimin,..

bertakwalah kepada Allah Ta‘ala dan ketahuilah bahwa siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka ia tidak bersyukur kepada Allah.

Termasuk bentuk syukur kepada Allah adalah menghargai dan menyebut jasa para pemimpin yang Allah berikan taufik dalam menjaga keamanan kita, berjaga demi kenyamanan kita, serta melindungi berbagai kepentingan kita. 

Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk mendengar dan taat kepada mereka dalam perkara yang ma‘ruf, baik ketika senang maupun susah, dalam keadaan lapang maupun sempit.

Demikian pula hendaknya kita mendoakan mereka agar diberikan penjagaan dan taufik, serta memohon kepada Allah agar senantiasa melanggengkan kemuliaan dan kekuatan negeri, menjaga keamanan, ketenteraman, dan stabilitasnya, serta menjaga seluruh negeri kaum muslimin.

Kita juga memohon agar Allah menjaga para prajurit yang membela negeri, meluruskan pandangan mereka, dan menepatkan sasaran mereka.

Kemudian bershalawatlah dan ucapkan salam kepada Nabi kalian sebagaimana Allah memerintahkan:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada hamba dan utusan-Mu, Nabi kami Muhammad, kepada keluarga beliau yang suci, serta ridhailah para Khulafaur Rasyidin, seluruh sahabat, para tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. 

Ridhailah pula kami bersama mereka dengan karunia dan kemurahan-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin, hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik, serta tolonglah hamba-hamba-Mu yang mentauhidkan-Mu.

Ya Allah, jagalah negeri kami dari tipu daya para perusak dan agresi para musuh. 

Ya Allah, berilah taufik kepada para pemimpin kami, kuatkan mereka dengan pertolongan-Mu, jadikan mereka sebagai penolong agama-Mu, dan karuniakan kepada mereka para penasihat yang saleh dan tulus.

Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, yang masih hidup maupun yang telah wafat. 

Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Maha Mengabulkan doa.

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau, dan seluruh sahabat beliau.



NIKMAT KEAMANAN DALAM NEGERI


“Nikmat Keamanan di Negeri”

 Karya Khalid Asy-Syayi'



Khutbah Pertama

Amma ba’du...

Wahai manusia, tidak ada sesuatu pun yang dapat menyamai nikmat keamanan di sebuah negeri setelah hidayah kepada akidah yang benar.

Tanpa keamanan, seorang hamba tidak akan mampu menemukan jalan menuju kebahagiaan. 

Rasa takut akan merusak ketenangan hidupnya setiap saat, bahkan dapat melumpuhkan kehidupan itu sendiri.

Allah telah mengaruniakan nikmat keamanan kepada hamba-hamba-Nya. 

Allah berfirman:
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, padahal manusia di sekeliling mereka saling dirampok dan diculik?” (QS. Al-'Ankabut: 67)

Bukti nyata ayat ini dapat dilihat dengan memperhatikan negeri-negeri di sekitar kita yang kehilangan keamanan; bagaimana keadaan hidup mereka sekarang?

Allah juga memberikan perumpamaan kepada manusia tentang sebuah negeri yang dahulu menjadi pelajaran besar, yaitu negeri Saba'. 

Allah menceritakan kisah mereka dalam Al-Qur'an:
“Sungguh, bagi kaum Saba' terdapat tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua kebun di sebelah kanan dan kiri. (Dikatakan kepada mereka), ‘Makanlah dari rezeki Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu adalah) negeri yang baik dan (Tuhanmu adalah) Tuhan Yang Maha Pengampun.’ Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir besar yang merusak, dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang menghasilkan buah-buahan pahit, pohon atsl dan sedikit pohon bidara. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan hukuman yang demikian itu melainkan kepada orang-orang yang sangat kufur.” (QS. Saba': 15-17)

Di antara raja-raja Himyar di Yaman terdapat Ratu Balqis yang kisahnya disebutkan Allah bersama Nabi Sulaiman ‘alaihis salam. 

Mereka hidup dalam kebahagiaan yang besar, rezeki yang melimpah, buah-buahan dan hasil pertanian yang banyak. 

Mereka juga berada di atas jalan yang lurus dan petunjuk yang benar. 

Namun ketika mereka mengganti nikmat Allah dengan kekufuran, mereka menyeret kaumnya kepada kehancuran.

Wahb bin Munabbih berkata bahwa Allah mengutus kepada mereka tiga belas nabi.

Namun ketika mereka berpaling dari petunjuk menuju kesesatan dan menyembah matahari selain Allah, baik pada masa Balqis maupun sebelumnya, dan terus berlangsung hingga Allah menurunkan kepada mereka banjir besar yang menghancurkan sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat di atas.

Para ulama salaf dan khalaf dari kalangan ahli tafsir menjelaskan bahwa Bendungan Ma'rib dibangun di antara dua gunung. 

Mereka menutup celah di antara kedua gunung itu dengan bangunan yang sangat kokoh sehingga air tertahan dan naik hingga ke puncak-puncak gunung. 

Di sana mereka menanam kebun-kebun yang indah, pohon-pohon berbuah, serta berbagai tanaman yang melimpah.

Dikatakan bahwa yang pertama membangunnya adalah Saba' bin Ya'rub. 

Tujuh puluh lembah mengalir ke bendungan itu. 

Ia membuat tiga puluh saluran air darinya.

Namun ia meninggal sebelum pembangunan selesai, lalu disempurnakan oleh kaum Himyar setelahnya. 

Luas bendungan itu sekitar satu farsakh kali satu farsakh.

Mereka hidup dalam kenikmatan yang luar biasa, kehidupan yang makmur, dan hari-hari yang menyenangkan.

Bahkan Qatadah dan ulama lainnya menyebutkan bahwa seorang wanita berjalan membawa keranjang di atas kepalanya, lalu keranjang itu terisi penuh oleh buah-buahan yang jatuh karena begitu banyak dan matangnya hasil panen.

Disebutkan pula bahwa di negeri mereka tidak ada kutu, serangga berbahaya, maupun hewan pengganggu karena udaranya yang sehat dan lingkungannya yang baik.

Sebagaimana firman Allah:
“Sungguh, bagi kaum Saba' terdapat tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka... 
(yaitu) negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS. Saba': 15)

Dan Allah berfirman:
“Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Tatkala mereka menyembah selain Allah, mengingkari nikmat-Nya, serta merasa bosan dengan kemudahan yang mereka rasakan, dekatnya jarak antar kampung, indahnya kebun-kebun, dan amannya perjalanan, mereka justru meminta agar perjalanan mereka dijadikan jauh dan sulit.

Mereka ingin menukar kebaikan dengan keburukan, sebagaimana Bani Israil meminta mengganti manna dan salwa dengan sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah.

Akibatnya, mereka dicabut dari nikmat yang agung itu. 

Negeri mereka dihancurkan dan mereka tercerai-berai ke berbagai penjuru. 

Allah berfirman:
“Maka mereka berpaling, lalu Kami datangkan kepada mereka banjir besar yang merusak.”

Sebagian ulama menyebutkan bahwa Allah mengirim seekor tikus besar atau sejenis binatang pengerat yang menggerogoti dasar bendungan. 

Ketika mereka menyadarinya, mereka menempatkan banyak kucing untuk mengusirnya, namun semuanya tidak berguna. 

Ketika takdir Allah telah tiba, kewaspadaan manusia tidak lagi dapat menolaknya.

Kerusakan pun semakin besar hingga bendungan runtuh dan jebol. 

Air mengalir deras menghancurkan saluran-saluran dan sungai-sungai.

Buah-buahan terputus, tanaman dan pepohonan rusak. 

Kebun-kebun yang subur berubah menjadi tanaman yang buruk dan hasil yang sedikit.

Sebagaimana firman Allah:
“Dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang menghasilkan buah-buahan pahit, pohon atsl dan sedikit pohon bidara.”

Inilah hukuman bagi orang yang mengingkari nikmat Allah.

Allah berfirman:
“Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan hukuman yang demikian itu melainkan kepada orang-orang yang sangat kufur.”

Artinya, hukuman yang berat seperti ini diberikan kepada orang-orang yang kufur kepada Allah, mendustakan para rasul-Nya, menyelisihi perintah-Nya, dan melanggar larangan-larangan-Nya.

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat kesehatan dan keselamatan yang Engkau berikan, dari datangnya siksa-Mu secara tiba-tiba, dan dari seluruh kemurkaan-Mu.

Aku berkata demikian dan memohon ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian.

Khutbah Kedua

Amma ba’du...

Wahai manusia, tidak ada sesuatu yang lebih menjaga nikmat keamanan selain penerapan syariat Allah. 

Setiap kali manusia menyimpang dari syariat-Nya, Allah akan menimpakan rasa takut kepada mereka dan mencabut keamanan sesuai kadar penyimpangan mereka dari syariat.

Wahai hamba-hamba Allah, kita hidup di negeri yang aman, dengan rezeki yang melimpah dan persatuan antara pemimpin dan rakyat. 

Keadaan inilah yang membuat sebagian pihak di sekitar kita iri dan berharap agar nikmat tersebut hilang dari kita.

Karena itu, waspadalah.

Kenalilah musuh-musuh yang mengintai kalian dan berharap dapat menguasai kalian serta merampas berbagai kebaikan yang kalian nikmati. 

Ketahuilah pula kedudukan saudara-saudara kalian yang berjaga di garis perbatasan Yaman, yang melindungi kita, keluarga kita, dan harta benda kita dengan pengorbanan jiwa mereka. 

Jangan lupakan mereka dalam doa-doa kalian.

Wahai kaum mukminin, berpegang teguhlah pada syariat Allah dan jangan menyimpang darinya. 

Jauhilah segala bentuk maksiat, baik yang kecil maupun yang besar, karena maksiat adalah penyebab hilangnya nikmat.

Ketahuilah bahwa musuh-musuh agama selalu mengintai siang dan malam. 

Namun mereka tidak akan mampu mengalahkan kalian selama kalian berpegang teguh kepada syariat Allah. 

Allah akan menolong orang-orang yang menolong agama-Nya dan menghinakan orang-orang yang meninggalkannya.

Selama kalian tetap setia kepada pemimpin kalian, memberikan nasihat yang baik kepada mereka, mendoakan mereka agar mendapat petunjuk dan kebaikan, serta tidak memberi kesempatan kepada para penghasut untuk memecah belah hubungan antara rakyat dan pemimpinnya, maka kalian akan berada dalam kebaikan.

Waspadalah pula terhadap berbagai fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. 

Kita hidup dalam masyarakat yang dikenal menjaga kehormatan dan kesucian diri, tumbuh dalam lingkungan yang memegang teguh nilai-nilai agama. 

Karena itu, hati-hatilah terhadap fitnah dunia.

Demi Allah, fitnah datang kepada manusia seperti gelapnya malam. 

Seseorang pada pagi hari masih beriman, lalu sore harinya menjadi kafir. 

Ada pula yang sore hari beriman namun pagi harinya menjadi kafir. 

Ia menjual agamanya demi keuntungan dunia yang sedikit.

Demikianlah dahsyatnya fitnah apabila telah terjadi. 

Semoga Allah melindungi kita semua darinya.

Wahai kaum mukminin, umat ini tidak akan binasa selama masih menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar.

Keduanya adalah katup pengaman umat.

Yang harus ditakuti adalah ketika kemungkaran dilakukan secara terang-terangan tetapi tidak ada yang mengingkarinya, hingga kemungkaran dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan kebenaran menjadi kabur.

Pada saat itulah azab Allah dapat menimpa seluruh masyarakat.

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunannya dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu bahwa beliau berkata:
“Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini:
‘Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian; orang yang sesat tidak akan membahayakan kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk.’ (QS. Al-Ma'idah: 105)

Padahal aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Sesungguhnya apabila manusia melihat orang zalim lalu tidak mencegahnya, maka hampir saja Allah menimpakan kepada mereka semua azab dari sisi-Nya.’”

Ya Allah, lindungilah kami dari berbagai fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.