Jumat, 06 November 2026

KEZALIMAN, HUKUMAN DUNIA DAN AKHIRAT


 Kezaliman: Hukumannya di Dunia Sebelum Akhirat

Terjemahan lengkap khutbah karya Yahya bin Hasan Hatarisy



 KHUTBAH PERTAMA

Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

 QS. Ali Imran: 102

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim."

QS. An-Nisa: 1

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾

"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan darinya Dia menciptakan pasangannya (Hawa), dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."

 QS. Al-Ahzab: 70–71

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia telah memperoleh kemenangan yang besar."

Amma ba'du.

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan dalam agama. Setiap perkara baru yang diada-adakan dalam agama adalah bid'ah, setiap bid'ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di dalam neraka.

Wahai kaum Muslimin laki-laki dan perempuan!

Aku berwasiat kepada diriku sendiri dan kepada kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah عز وجل, serta mempersiapkan amal-amal untuk diri kita yang akan menjadikan wajah kita berseri-seri pada hari ketika kita bertemu Allah; yaitu hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi bermanfaat, kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang bersih.


Wahai kaum Muslimin!

Imam Muslim رحمه الله meriwayatkan dari Abu Dzarr رضي الله عنه, ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis qudsi yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Tabaraka wa Ta'ala:


«يَا عِبَادِي، إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا؛ فَلَا تَظَالَمُوا»

"Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku menjadikannya sebagai sesuatu yang diharamkan di antara kalian. Maka janganlah kalian saling menzalimi."

(HR. Muslim, no. 2577)

Wahai kaum Muslimin laki-laki dan perempuan!

Sesungguhnya Allah telah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan memerintahkan hamba-hamba-Nya agar tidak saling menzalimi, serta tidak berbuat zalim satu sama lain.

Apa yang kita saksikan pada zaman ini berupa tersebarnya kezaliman di tengah-tengah kaum Muslimin, sungguh demi Allah, merupakan sesuatu yang menyayat hati dan membuat mata menangis.

Kezaliman telah tersebar pada zaman ini dan kita menyaksikannya di berbagai tempat.

Kezaliman telah menyebar di dalam rumah-rumah kita. Betapa banyak seorang ayah yang menzalimi anak-anaknya, keluarganya, dan orang-orang yang berada dalam tanggungannya.

Kezaliman juga tersebar di antara para tetangga. Betapa banyak tetangga yang menzalimi tetangganya, mengganggu kehormatannya, mengambil haknya, bahkan menyerobot sebagian tanah miliknya.

Kezaliman juga tersebar di pengadilan-pengadilan kita. Betapa banyak orang yang dijatuhi hukuman secara zalim, dipersaksikan dengan kesaksian palsu, dan dimasukkan ke dalam penjara secara paksa. Tidak ada penolong baginya selain Allah, Penolong orang-orang yang tertindas.

Allah Ta'ala berfirman:

QS. Ibrahim: 42

﴿وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ﴾

"Dan jangan sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata (mereka) terbelalak."

Di tengah kezaliman yang kita alami dan yang dialami umat Islam ini, Allah telah menetapkan suatu hari bagi orang yang zalim dan orang yang dizalimi. Pada hari itu, setiap orang akan mengambil haknya dari orang yang telah menzaliminya.

Benar, demi Allah! Allah pasti akan menegakkan keadilan-Nya. Dia akan memberikan kepada setiap pemilik hak apa yang menjadi haknya. Rabbmu tidak akan menzalimi seorang pun.

Bahkan, hewan ternak pun akan mendapatkan haknya untuk membalas hewan lain yang pernah menanduknya hingga mematahkan tanduknya, atau hewan bertanduk yang menyerang hewan tanpa tanduk lalu menanduknya.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim رحمه الله dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقُ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، حَتَّى إِنَّهُ لَيُقَادُ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ»

"Sungguh, hak-hak itu benar-benar akan dikembalikan kepada para pemiliknya pada hari kiamat. Sampai-sampai kambing yang tidak bertanduk akan mendapatkan hak pembalasan dari kambing yang bertanduk."

(HR. Muslim, no. 2582)

Wahai umat Islam!

Nabi kita ﷺ telah memperingatkan kita dari perbuatan zalim dan dari tindakan sebagian kita menzalimi sebagian yang lain.

Imam Muslim رحمه الله meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah رضي الله عنهما, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«اتَّقُوا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

"Jauhilah kezaliman, karena sesungguhnya kezaliman adalah kegelapan-kegelapan pada hari kiamat."

(HR. Muslim, no. 2578)

Rasulullah ﷺ juga bersabda ketika melepas kepergian umatnya dalam Haji Wada', sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari رحمه الله:

«أَلَا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ؟ قَالُوا: نَعَمْ. قَالَ: اللَّهُمَّ اشْهَدْ، اللَّهُمَّ اشْهَدْ، ثَلَاثًا، وَيْلَكُمْ، أَوْ وَيْحَكُمْ، انْظُرُوا لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ»

"Ketahuilah, sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kalian darah dan harta kalian, sebagaimana haramnya hari kalian ini, di negeri kalian ini, dan pada bulan kalian ini. Ketahuilah, apakah aku telah menyampaikan?"

Mereka menjawab, "Benar."

Beliau bersabda, "Ya Allah, saksikanlah! Ya Allah, saksikanlah!" Beliau mengulanginya tiga kali.

Kemudian beliau bersabda, "Celakalah kalian, atau betapa buruk keadaan kalian! Janganlah kalian kembali sepeninggalku menjadi orang-orang kafir, dengan sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lain."

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam al-Bukhari رحمه الله juga meriwayatkan dari Abu Musa رضي الله عنه, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ، حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ»

"Sesungguhnya Allah benar-benar memberikan tenggang waktu kepada orang zalim. Namun, ketika Allah telah menghukumnya, Dia tidak akan melepaskannya."

Kemudian Rasulullah ﷺ membaca firman Allah:

QS. Hud: 102

﴿وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ﴾

"Demikianlah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, azab-Nya sangat pedih dan sangat keras."

(HR. Al-Bukhari, no. 4686; Muslim, no. 2583)

Imam al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Aisyah رضي الله عنها bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ ظَلَمَ قِيدَ شِبْرٍ مِنَ الْأَرْضِ طُوِّقَهُ فِي سَبْعِ أَرَاضِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

"Barang siapa menzalimi dengan mengambil tanah meskipun hanya sejengkal, niscaya tanah itu akan dikalungkan kepadanya dari tujuh lapis bumi pada hari kiamat."

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam al-Bukhari رحمه الله meriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ أَرْضِهِ أَوْ مِنْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْ مِنْهُ الْيَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، وَإِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ»

"Barang siapa memiliki tanggungan kezaliman terhadap saudaranya, baik berkaitan dengan tanah maupun perkara lainnya, hendaklah ia meminta agar saudaranya membebaskannya dari tanggungan itu sekarang, sebelum datang suatu hari ketika tidak ada lagi dinar maupun dirham.

Jika ia memiliki amal saleh, maka amal salehnya akan diambil sesuai kadar kezalimannya. Jika ia tidak memiliki kebaikan, dosa-dosa saudaranya yang dizalimi akan diambil lalu dibebankan kepadanya."

(HR. Al-Bukhari, no. 2449)

Imam Muslim رحمه الله meriwayatkan dari Abu Umamah Iyas bin Tsa'labah al-Haritsi رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بِيَمِينِهِ فَقَدْ أَوْجَبَ اللَّهُ لَهُ النَّارَ، وَحَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ»

"Barang siapa mengambil hak seorang Muslim dengan sumpahnya, sungguh Allah telah menetapkan baginya neraka dan mengharamkan surga atasnya."

Seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah, meskipun sesuatu itu sedikit?"

Beliau menjawab:

«وَإِنْ كَانَ قَضِيبًا مِنْ أَرَاكٍ»

"Meskipun hanya sebatang kayu siwak dari pohon arak."

(HR. Muslim, no. 137)

Imam Ahmad dalam Musnad-nya, an-Nasa'i dalam Sunan-nya, dan Ibnu Majah meriwayatkan, serta dinilai sahih oleh Syekh al-Albani رحمه الله, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الْفَقْرِ، وَالْقِلَّةِ، وَالذِّلَّةِ، وَأَنْ تَظْلِمَ، أَوْ تُظْلَمَ»

"Berlindunglah kepada Allah dari kemiskinan, kekurangan, kehinaan, serta dari berbuat zalim atau dizalimi."

Wahai manusia!

Kezaliman adalah suatu istilah yang menghimpun berbagai keburukan dan menunjukkan berbagai perkara tercela. Kezaliman adalah sesuatu yang dibenci oleh pendengaran dan terasa berat diucapkan oleh lisan.

Wahai hamba-hamba Allah! Kezaliman mempunyai kegelapan yang dapat membolak-balikkan keadaan dan mengubah nasib suatu negeri.

Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. Apabila hukuman dan kemurkaan Allah menimpa orang zalim, maka betapa celakanya dia!

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

QS. Ibrahim: 42

﴿وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ﴾

"Jangan sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata terbelalak."

Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berkata:

«يَوْمُ الْمَظْلُومِ عَلَى الظَّالِمِ أَشَدُّ مِنْ يَوْمِ الظَّالِمِ عَلَى الْمَظْلُومِ»

"Hari ketika orang yang dizalimi mendapatkan haknya atas orang yang menzaliminya jauh lebih berat daripada hari ketika orang zalim berkuasa atas orang yang dizaliminya."

Ada pula bait syair:

"Janganlah engkau berbuat zalim, sebab sesungguhnya engkau akan mati. Dan pada hari kebangkitan, engkau akan ditanya tentang apa yang dahulu engkau lakukan."

Sesungguhnya orang yang menzalimi manusia dalam kehormatan mereka, harta mereka, dan hak-hak mereka, akan ditanya tentang setiap perkara kecil maupun besar.

Orang zalim, sekalipun ia berlaku sewenang-wenang dan menyombongkan diri, pasti akan menghadapi suatu hari. Tahukah engkau betapa dahsyatnya hari itu?

Sufyan bin Uyainah رحمه الله berkata:

«أَوَّلُ مَا كُتِبَ فِي الزَّبُورِ: وَيْلٌ لِلظَّلَمَةِ»

"Perkara pertama yang ditulis dalam kitab Zabur adalah: Celakalah orang-orang zalim."

Al-Qadhi Syuraih رحمه الله berkata:

«سَيَعْلَمُ الظَّلَمَةُ حَقَّ مَنِ انْتَقَصُوا، إِنَّ الظَّالِمَ يَنْتَظِرُ الْعِقَابَ، وَالْمَظْلُومَ يَنْتَظِرُ النَّصْرَ وَالثَّوَابَ»

"Orang-orang zalim kelak akan mengetahui hak siapa yang telah mereka kurangi. Sesungguhnya orang zalim sedang menunggu hukuman, sedangkan orang yang dizalimi sedang menunggu pertolongan dan pahala."

Ada pula syair:

"Wahai orang yang berbuat zalim dalam perbuatannya! Kezaliman itu akan kembali kepada orang yang melakukannya.

Sampai kapan engkau terus demikian? Engkau menyaksikan berbagai musibah, tetapi melupakan hukuman Allah."

Sebagian orang bijak berkata:

«اذْكُرْ عِنْدَ الظُّلْمِ عَدْلَ اللَّهِ فِيكَ، وَعِنْدَ الْقُدْرَةِ قُدْرَةَ اللَّهِ عَلَيْكَ»

"Ketika engkau hendak berbuat zalim, ingatlah keadilan Allah terhadap dirimu. Dan ketika engkau memiliki kekuasaan, ingatlah kekuasaan Allah atas dirimu."

Ingatlah sebelum engkau berbuat zalim bahwa dirimu berada dalam genggaman kekuasaan Allah. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia dapat membenamkanmu ke dalam bumi dan membalas perbuatanmu.

Wahai hamba-hamba Allah!

Ketahuilah bahwa hukuman bagi orang-orang zalim tidak hanya terbatas pada individu. Bahkan, apabila kezaliman telah merata di suatu negeri, hal itu merupakan pertanda kehancurannya dan semakin dekatnya kebinasaan negeri tersebut.

Betapa banyak negara yang hancur karena kezaliman! Betapa banyak negeri yang bangunan-bangunannya hancur, tanahnya menjadi kering, dan tanamannya mati akibat kezaliman penduduknya!

Allah Ta'ala berfirman:

QS. Al-Kahfi: 59

﴿وَتِلْكَ الْقُرَىٰ أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِمْ مَوْعِدًا﴾

"Dan negeri-negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka."

Sufyan bin Uyainah رحمه الله berkata:

Ka'b al-Ahbar berkata:

«إِنِّي لَأَتْلُو فِي كِتَابِ اللَّهِ الْمُنَزَّلِ غَيْرِ الْقُرْآنِ: إِنَّ الظُّلْمَ يُخَرِّبُ الدِّيَارَ»

"Sesungguhnya aku membaca dalam kitab Allah yang diturunkan selain Al-Qur'an: Sesungguhnya kezaliman menghancurkan negeri-negeri."

Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata:

"Aku juga mendapati hal tersebut di dalam Kitabullah."

Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:

QS. An-Naml: 52

﴿فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ﴾

"Maka itulah rumah-rumah mereka yang telah runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mengetahui."

Syekh Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:

«وَيُرْوَى أَنَّ اللَّهَ يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ، وَلَوْ كَانَتْ كَافِرَةً، وَلَا يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الظَّالِمَةَ، وَلَوْ كَانَتْ مُؤْمِنَةً»

"Diriwayatkan bahwa Allah menolong negara yang adil meskipun negara itu kafir, dan tidak menolong negara yang zalim meskipun negara itu beriman."

Keadilan merupakan sebab baiknya suatu negara, kemakmuran negeri, dan kebahagiaan seluruh makhluk.

Pernah seorang pejabat Umar bin Abdul Aziz رحمه الله menulis surat kepadanya:

"Amma ba'du. Sesungguhnya kota kami telah rusak. Jika Amirul Mukminin berkenan, hendaknya ia mengalokasikan sejumlah harta untuk kami agar kami dapat memperbaikinya."

Amirul Mukminin pun membalas suratnya:

"Amma ba'du. Perbaikilah kota itu dengan keadilan. Demi Allah, sesungguhnya keadilan adalah sebab baiknya negeri dan para hamba."

Maka berhati-hatilah, sekali lagi berhati-hatilah, jangan sampai engkau berbuat zalim, wahai hamba Allah!

Sesungguhnya orang yang dizalimi, meskipun tidak mempunyai sesuatu untuk melawan dan menghalangimu, ia memiliki Allah yang tidak pernah lalai dan tidak pernah tidur!

Tahukah engkau, wahai orang zalim, bahwa Allah telah menjanjikan pertolongan bagi orang yang dizalimi? Bahkan, Allah menjadikan doa orang yang dizalimi sebagai doa yang dikabulkan. Dengan doa itu, bisa jadi berakhirlah kehidupanmu; engkau dapat menjadi lumpuh atau menjadi tawanan. Bahkan, engkau mungkin mengharapkan kematian tetapi tidak mendapatkannya!

Tahukah engkau bahwa orang yang dizalimi memiliki doa yang bagaikan api yang membakar?

Al-Hakim dan ad-Dailami meriwayatkan, dan Syekh al-Albani رحمه الله menilainya sahih, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ؛ فَإِنَّهَا تَصْعَدُ إِلَى السَّمَاءِ كَأَنَّهَا شَرَارٌ»

"Takutlah kalian terhadap doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya doa itu naik ke langit seperti percikan api."

Ath-Thabarani meriwayatkan, dan Syekh al-Albani menilainya sahih, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ؛ فَإِنَّهَا تُحْمَلُ عَلَى الْغَمَامِ، فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَعِزَّتِي وَجَلَالِي لَأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ»

"Takutlah kalian terhadap doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya doa itu dibawa ke atas awan. Kemudian Allah عز وجل berfirman: Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh Aku pasti akan menolongmu meskipun setelah beberapa waktu."

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

«اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ وَلَوْ كَانَ فَاجِرًا؛ فَإِنَّ فُجُورَهُ عَلَى نَفْسِهِ»

"Takutlah kalian terhadap doa orang yang dizalimi, meskipun ia seorang pendosa. Sebab, dosa kefajirannya itu menjadi tanggung jawab dirinya sendiri."

Bergembiralah, wahai orang yang dizalimi! Bergembiralah, wahai orang yang dizalimi! Sesungguhnya Allah akan menolongmu.

Meskipun orang yang menzalimimu berlindung, melarikan diri, dan bersembunyi, sekalipun ada orang-orang seperti dirinya yang membelanya, sesungguhnya ia mempunyai suatu hari yang darinya ia tidak akan dapat meloloskan diri.

Yazid bin Hatim رحمه الله berkata:

"Aku tidak pernah merasa takut terhadap sesuatu sebagaimana rasa takutku terhadap seseorang yang pernah aku zalimi, padahal aku mengetahui bahwa tidak ada penolong baginya selain Allah. Ia berkata: 'Cukuplah Allah sebagai penolongku. Antara aku dan engkau, Allah yang akan memutuskan.'

Takutlah terhadap kezaliman kepada orang yang tidak memiliki penolong selain Allah!"

Demi Allah! Betapa banyak orang zalim yang akhirnya menjadi pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran. Betapa banyak orang zalim yang selama bertahun-tahun berbuat kerusakan di bumi, mengambil harta orang-orang lemah, dan menyakiti kaum lemah serta orang-orang miskin, kemudian Allah menghukumnya dengan hukuman dari Zat Yang Mahaperkasa lagi Mahakuat.

Abu Darda' رضي الله عنه berkata:

«إِيَّاكَ وَدَمْعَةَ الْيَتِيمِ، وَدَعْوَةَ الْمَظْلُومِ؛ فَإِنَّهَا تَسْرِي بِاللَّيْلِ، وَالنَّاسُ نِيَامٌ»

"Jauhilah air mata anak yatim dan doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya doa itu berjalan pada malam hari ketika manusia sedang tidur."

Ada pula syair:

"Janganlah engkau menzalimi apabila engkau sedang memiliki kekuasaan, karena akibat kezaliman itu akan kembali berupa penyesalan.

Kedua matamu tertidur, sementara orang yang dizalimi tetap terjaga. Ia berdoa agar keburukan menimpamu, sedangkan mata Allah tidak pernah tidur."


Wahai kaum Muslimin, hamba-hamba Allah!

Sesungguhnya banyak orang yang mungkin tangannya tidak pernah menumpahkan darah kaum Muslimin dan tidak pernah mengambil harta orang lain. Lalu ia mengira bahwa dirinya telah selamat dari kezaliman dan doa orang-orang yang dizalimi.

Padahal, ia tidak mengetahui bahwa kezaliman memiliki beragam bentuk dan macam.

Ada kezaliman terhadap anak-anak yatim, kezaliman terhadap kerabat, kezaliman terhadap anak laki-laki dan perempuan, serta kezaliman terhadap istri-istri.

Betapa banyak rintihan dan keluhan yang keluar dari rumah-rumah kita! Betapa banyak air mata yang mengalir di wajah kaum perempuan kita!

Betapa banyak laki-laki yang menzalimi istrinya atau istri-istrinya, tidak berlaku adil di antara mereka dan tidak memperlakukan mereka dengan baik.

Terkadang ia menzalimi istri pertama, terkadang menzalimi istri yang lain.

Ada seorang laki-laki yang menikah lagi, kemudian menzalimi istri pertamanya, berpaling darinya, tidak lagi memperhatikannya, menekan dan menyakitinya, serta lebih condong kepada istri kedua.

Ada pula yang menzalimi istri kedua, mencurahkan kasih sayang dan hartanya kepada istri pertama dengan alasan bahwa istri pertama adalah teman hidupnya, ibu dari anak-anaknya, atau karena ia merupakan istri yang lebih tua.

Dan berbagai alasan lainnya.

Akibatnya, istri kedua tetap berada di sisinya seperti seorang pembantu atau budak perempuan yang disewa. Seolah-olah ia tidak menikahinya kecuali hanya untuk melayani dan memenuhi kebutuhan syahwatnya.

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Maka bertakwalah kepada Allah, wahai kaum laki-laki! Berlaku adillah terhadap istri-istri kalian. Janganlah kalian mengira bahwa diamnya istri-istri kalian berarti kalian terbebas dari tuntutan, wahai para suami yang melakukan poligami tetapi berlaku tidak adil!

Sesungguhnya keadilan Allah tidak akan melupakan kalian.

Wahai orang yang zalim! Berhati-hatilah terhadap doa orang yang engkau zalimi!

Wahai orang yang zalim! Berhati-hatilah terhadap rintihan orang yang engkau halangi haknya!

Berhati-hatilah terhadap anak panah doa pada waktu malam! Kedudukannya di sisi Allah sangat besar, sekalipun pengaruhnya datang setelah waktu yang lama, dan sekalipun engkau telah melupakannya atau orang yang pernah engkau zalimi juga telah melupakannya.

Sesungguhnya Allah tidak akan melupakannya dan tidak akan membiarkan orang-orang yang dizalimi begitu saja.

Wahai kaum Muslimin, hamba-hamba Allah!

Apa yang telah kita alami dan saksikan pada tahun-tahun sebelumnya berupa kehancuran para penguasa zalim dan selain mereka, menunjukkan kepada kita bahwa Allah memberikan penangguhan, tetapi tidak membiarkan begitu saja.

Mereka memerangi agama Allah, menzalimi hamba-hamba Allah, dan membuat kerusakan di bumi Allah. Maka Allah menghinakan dan menghukum mereka, serta menjadikan mereka sebagai pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran.

Salah seorang dari mereka akhirnya tergantung antara langit dan bumi. Yang lain dipukul dan ditampar wajahnya dengan sepatu hingga meninggal dunia. Orang ketiga berada dalam sebuah sangkar seperti binatang, dibawa dari satu tempat ke tempat yang lain.

Masing-masing akan mengalami bagiannya. Itulah sunnatullah terhadap orang-orang zalim.

Allah Ta'ala berfirman:

QS. An-Nahl: 33

﴿هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ أَمْرُ رَبِّكَ كَذَٰلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ﴾

"Tidak ada yang mereka tunggu-tunggu selain kedatangan para malaikat kepada mereka atau datangnya perintah Tuhanmu. Demikianlah yang telah diperbuat oleh orang-orang sebelum mereka. Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri."

Ada syair:

"Bersabarlah menghadapi kezaliman dan janganlah berputus asa, karena kezaliman itu akan kembali kepada orang yang melakukannya.

Serahkanlah orang zalim kepada Allah, karena Rabbku tidak pernah tidur dan tidak pernah lalai terhadap orang zalim."

Aku memohon kepada Allah agar Dia menjauhkan kita dan kalian dari kezaliman, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui.

Aku cukupkan perkataanku ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum Muslimin dari setiap dosa. Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.




 KHUTBAH KEDUA

Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri kita serta keburukan amal perbuatan kita.

Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.

Wahai kaum Muslimin, hamba-hamba Allah!

Sesungguhnya ancaman Allah terhadap orang-orang yang zalim dan para pelaku kezaliman yang telah kalian dengar tadi, bukanlah hukuman yang hanya berlaku pada hari akhirat. Akan tetapi, mereka juga dapat memperoleh hukuman dan siksa yang disegerakan di dunia sebelum hukuman yang ditangguhkan di akhirat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ، مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ»

"Tidak ada suatu dosa yang lebih pantas untuk Allah segerakan hukumannya bagi pelakunya di dunia, disertai hukuman yang Allah simpan untuknya di akhirat, daripada perbuatan melampaui batas (kezaliman) dan memutuskan hubungan kekerabatan."

(HR. Abu Dawud, no. 4902; At-Tirmidzi, no. 2511; Ibnu Majah, no. 4211. Hadis ini dinilai sahih oleh sejumlah ahli hadis).

Kitab-kitab sejarah dipenuhi dengan kisah kehancuran orang-orang zalim dan berita tentang para penguasa lalim yang membuat kerusakan.

Betapa banyak orang yang berbuat zalim kemudian Allah menghukumnya, dan Allah menyegerakan hukuman baginya di dunia sebelum hukuman di akhirat!

Marilah kita mendengarkan sebagian kisah tersebut dan mengambil pelajaran darinya. Bisa jadi masing-masing dari kita juga mempunyai kisah atau berita tentang seseorang yang berbuat zalim dan bagaimana Allah membalas perbuatannya.



Inilah Sa'ad bin Abi Waqqash رضي الله عنه, paman Rasulullah ﷺ dari pihak ibu.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, Umar bin Khaththab رضي الله عنه pernah mengangkat Sa'ad sebagai gubernur Kufah.

Sa'ad menjalankan tugasnya dengan baik dan adil. Akan tetapi, meskipun beliau berlaku adil, beliau tidak luput dari tuduhan seorang yang zalim.

Orang tersebut mengadukan kepada Umar bahwa gubernur yang diangkatnya di Irak tidak berlaku adil.

Umar رضي الله عنه memang sangat tegas terhadap para pejabatnya. Ketika mengangkat Sa'ad, Umar pernah berpesan kepadanya:

"Berpegang teguhlah kepada ketakwaan, wahai Sa'ad! Berpegang teguhlah kepada ketakwaan, wahai Sa'ad! Janganlah engkau tertipu dengan perkataan orang-orang yang mengatakan bahwa engkau adalah paman Rasulullah ﷺ."

Kemudian Umar mengutus Muhammad bin Maslamah dan berkata kepadanya:

"Pergilah ke setiap masjid di Kufah dan tanyakan kepada mereka tentang Sa'ad."

Muhammad bin Maslamah pun bertanya kepada masyarakat. Mereka memberikan pujian dan penilaian yang baik terhadap Sa'ad.

Namun, tiba-tiba berdirilah seorang laki-laki di antara mereka yang bernama Usamah bin Qatadah, yang dikenal dengan nama panggilan Abu Sa'ad.

Ia berkata:

"Jika engkau meminta kami bersumpah dan memberikan keterangan, sesungguhnya Sa'ad tidak pernah berangkat bersama pasukan, tidak membagi harta rampasan secara merata, tidak memutuskan perkara dengan adil, dan tidak menghadiri salat berjamaah."

Mahasuci Allah! Betapa buruk tuduhan yang dilontarkan oleh orang yang menuduh!

Ketika Sa'ad mendengar tuduhan dusta tersebut, beliau tidak melakukan pembalasan terhadap orang itu. Beliau justru mengangkat kedua tangannya kepada Allah, Penolong orang-orang lemah dan orang-orang yang dizalimi, seraya berdoa:

Doa Sa'ad bin Abi Waqqash رضي الله عنه

«اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ عَبْدُكَ هَذَا كَاذِبًا، وَقَامَ رِيَاءً وَسُمْعَةً، اللَّهُمَّ فَأَطِلْ عُمْرَهُ، وَفَقْرَهُ، وَعَرِّضْهُ لِلْفِتَنِ»

"Ya Allah, apabila hamba-Mu ini berdusta dan melakukan hal itu demi riya serta mencari popularitas, maka panjangkanlah umurnya, jadikanlah ia terus hidup dalam kemiskinan, dan hadapkanlah ia kepada berbagai fitnah."

Allah mengabulkan doa Sa'ad, orang saleh yang dizalimi tersebut.

Laki-laki itu hidup hingga melewati usia seratus tahun. Ia berjalan di pasar-pasar Kufah, sementara ia suka menggoda perempuan.

Orang-orang berkata kepadanya:

"Engkau sudah tua renta, tetapi masih saja menggoda perempuan?"

Ia menjawab:

"Aku adalah orang tua yang terkena fitnah. Aku telah tertimpa doa Sa'ad!"

Abdul Malik bin Umair berkata:

"Aku sendiri melihat laki-laki itu setelah kedua alis matanya terkulai menutupi matanya karena usianya yang sangat tua. Namun, ia masih saja menggoda para budak perempuan."

Kita berlindung kepada Allah dari keadaan seperti itu!

(Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dalam kisah pengaduan terhadap Sa'ad bin Abi Waqqash).

Inilah kezaliman dan inilah akibatnya. Inilah sebagian hukuman yang disegerakan sebelum hukuman yang akan datang di akhirat.



Inilah Sa'id bin Zaid رضي الله عنه, salah seorang dari sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira masuk surga.

Pada masa pemerintahan Bani Umayyah, seorang perempuan bernama Arwa binti Uwais menuduh bahwa Sa'id bin Zaid telah mengambil sebagian tanah miliknya secara zalim, lalu menggabungkannya dengan tanah milik Sa'id sendiri.

Perempuan itu menyebarkan tuduhan tersebut di tengah-tengah kaum Muslimin. Ia berkata:

"Sa'id telah menzalimiku dan mengambil tanahku!"

Kemudian ia mengadukan persoalan tersebut kepada Marwan bin al-Hakam, yang pada waktu itu menjadi gubernur Madinah.

Marwan pun mengutus beberapa orang untuk berbicara dengan Sa'id mengenai masalah tersebut.

Sa'id رضي الله عنه merasa sangat berat mendengar tuduhan itu. Beliau berkata:

"Bagaimana mungkin aku menzaliminya, padahal aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ ظَلَمَ شِبْرًا مِنَ الْأَرْضِ طُوِّقَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي سَبْعِ أَرَضِينَ»

"Barang siapa mengambil tanah sejengkal secara zalim, niscaya tanah tersebut akan dikalungkan kepadanya pada hari kiamat dari tujuh lapis bumi."

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kemudian Sa'id berdoa:

«اللَّهُمَّ إِنَّهَا زَعَمَتْ أَنِّي قَدْ ظَلَمْتُهَا، فَإِنْ كَانَتْ كَاذِبَةً، اللَّهُمَّ فَأَعْمِ بَصَرَهَا، وَأَلْقِهَا فِي بِئْرِهَا الَّتِي تُنَازِعُنِي فِيهِ، وَأَظْهِرْ مِنْ حَقِّي نُورًا لِلْمُسْلِمِينَ يُبَيِّنُ أَنِّي لَمْ أَظْلِمْهَا»

"Ya Allah, sesungguhnya perempuan itu mengaku bahwa aku telah menzaliminya. Jika ia berdusta, ya Allah, butakanlah penglihatannya dan jatuhkanlah ia ke dalam sumur yang ia perselisihkan denganku. Tunjukkanlah kebenaran hakku dengan suatu bukti yang jelas bagi kaum Muslimin sehingga mereka mengetahui bahwa aku tidak menzaliminya."

Tidak lama kemudian, lembah al-Aqiq dilanda banjir besar. Akibatnya, batas tanah yang selama ini diperselisihkan menjadi tersingkap.

Kaum Muslimin akhirnya mengetahui bahwa Sa'id memang benar dan tidak pernah menzalimi perempuan tersebut.

Tidak berselang lama setelah kejadian itu, hanya beberapa bulan kemudian, perempuan tersebut mengalami kebutaan.

Ketika ia berjalan di tanah miliknya, ia terjatuh ke dalam sumur yang ada di sana.

Orang-orang pun berkata:

"Semoga Allah membutakanmu sebagaimana Dia membutakan Arwa."

Akhirnya, perempuan itu menjadi perumpamaan bagi orang-orang yang berbuat zalim dan para pelaku kezaliman.

Ya Allah, jauhkanlah kami dari perbuatan zalim, wahai Rabb seluruh alam!



Diriwayatkan bahwa Al-Hajjaj pernah memenjarakan seseorang selama beberapa hari.

Orang yang dipenjara itu kemudian menulis surat kepada Al-Hajjaj.

Perhatikanlah apa yang ia tuliskan:

"Wahai Al-Hajjaj! Telah berlalu beberapa hari dari penderitaan kami, dan telah berlalu beberapa hari pula dari kenikmatan hidupmu. Adapun waktu pertemuan kita adalah hari kiamat, dan penjara yang sesungguhnya adalah neraka Jahanam."

Kemudian ia menuliskan bait-bait syair pada akhir suratnya:

Syair tentang pertemuan orang zalim dan orang yang dizalimi di hadapan Allah

«سَتَعْلَمُ يَا ظَلُومُ إِذَا الْتَقَيْنَا غَدًا عِنْدَ الْإِلَهِ مَنِ الْمَلُومُ»

"Wahai orang yang sangat zalim, kelak ketika kita bertemu esok hari di hadapan Allah, engkau akan mengetahui siapa sebenarnya yang tercela."

«أَمَا وَاللَّهِ إِنَّ الظُّلْمَ لُؤْمٌ وَمَا زَالَ الظَّلُومُ هُوَ الْمَلُومُ»

"Demi Allah, sesungguhnya kezaliman adalah perbuatan tercela, dan orang yang terus-menerus berbuat zalim senantiasa menjadi orang yang tercela."

«إِلَى الدَّيَّانِ يَوْمَ الدِّينِ نَمْضِي وَعِنْدَ اللَّهِ تَجْتَمِعُ الْخُصُومُ»

"Kita semua akan menghadap Allah, Sang Hakim Yang Mahaadil, pada hari pembalasan. Dan di hadapan Allah, semua orang yang bersengketa akan dikumpulkan."

Kita memohon kepada Allah agar Dia menyucikan tangan dan lisan kita dari tindakan merusak kehormatan kaum Muslimin dan dari menumpahkan darah mereka.

Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari segala bentuk kezaliman, baik yang kecil maupun yang besar.







Catatan penting untuk kajian ilmiah

Beberapa hal perlu diperhatikan apabila khutbah ini akan disampaikan di mimbar:

1\. Kezaliman memiliki tiga bentuk utama:

* Kezaliman seorang hamba terhadap hak Allah, yaitu syirik dan kemaksiatan.

* Kezaliman terhadap sesama manusia, seperti mengambil harta, merusak kehormatan, dan menumpahkan darah.

* Kezaliman terhadap diri sendiri, dengan melakukan kemaksiatan dan meninggalkan kewajiban.

2\. Hadis-hadis yang dicantumkan dalam khutbah perlu dibedakan antara hadis sahih, hadis yang diperselisihkan derajatnya, dan atsar atau perkataan ulama. Khusus riwayat tentang doa orang yang dizalimi yang disebutkan melalui Al-Hakim, Ad-Dailami, dan Ath-Thabarani, sebaiknya dilakukan takhrij tersendiri sebelum dijadikan dalil utama.

3\. Kisah Sa'ad bin Abi Waqqash dan Sa'id bin Zaid merupakan pelajaran penting tentang bahaya menuduh orang saleh tanpa bukti dan bahaya merampas hak orang lain.

Pesan utama khutbah: Jangan merasa aman dari kezaliman hanya karena orang yang kita zalimi tidak mampu melawan. Bisa jadi ia tidak memiliki kekuatan untuk membalas, tetapi ia mempunyai doa yang dipanjatkan kepada Allah.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa berlaku adil, menjauhkan kita dari kezaliman, dan memberikan pertolongan kepada seluruh kaum Muslimin yang dizalimi. آمين.

KESOMBONGAN DAN KECONGKAKAN MANUSIA SERTA KETUNDUKAN HEWAN KEPADA ALLAH TA'ALA


KESOMBONGAN DAN KECONGKAKAN MANUSIA SERTA KETUNDUKAN HEWAN KEPADA ALLAH TA'ALA 



 Terjemahan Khutbah Masjidil Haram

12 Rabiul Akhir 1429 H / 19 April 2008 M


Khatib: Syekh Su'ud asy-Syuraim حفظه الله



Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya (Muhammad), dan Dia tidak menjadikan di dalamnya kebengkokan. Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan azab yang sangat keras dari sisi-Nya dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang beriman yang mengerjakan amal saleh bahwa mereka akan mendapatkan pahala yang baik.

Allah berfirman:

﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَل لَّهُ عِوَجًا ۜ قَيِّمًا لِّيُنذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِّن لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا﴾

(QS. Al-Kahfi: 1–2).

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia telah memuliakan anak cucu Adam, mengangkut mereka di daratan dan lautan, memberikan rezeki kepada mereka dari berbagai hal yang baik, serta melebihkan mereka atas banyak makhluk yang telah Dia ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.

Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, manusia pilihan-Nya, kekasih-Nya, dan makhluk terbaik di antara seluruh ciptaan-Nya. Beliau telah meninggalkan kita di atas jalan yang terang benderang, malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya kecuali orang yang binasa.

Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga, para sahabat, serta orang-orang yang menempuh jalan mereka dan mengikuti petunjuk mereka hingga hari kiamat.

Amma ba'du:

Bertakwalah kepada Allah, wahai kaum muslimin! Awasi dan takutlah kepada-Nya dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan, ketika sendirian maupun bersama orang banyak.

Sesungguhnya:

﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ ۝ هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ﴾

"Sesungguhnya bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan di langit. Dialah yang membentuk kalian dalam rahim sebagaimana yang Dia kehendaki. Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana."

(QS. Ali Imran: 5–6).

Wahai hamba-hamba Allah!

Sesungguhnya Allah Sang Pencipta, Mahasuci Dia, dengan hikmah, keadilan, dan ilmu-Nya telah menciptakan alam semesta, baik yang berada di atas maupun di bawah, yang tampak maupun yang tersembunyi.

Dia menempatkan di dalamnya berbagai makhluk: para malaikat, manusia, jin, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati, dan berbagai makhluk lainnya yang tidak diketahui kecuali oleh-Nya.

Semua itu diciptakan untuk satu tujuan yang tidak memiliki tujuan kedua, dan untuk suatu hakikat agung yang tidak ada hakikat lain di baliknya. Yaitu agar seluruh makhluk beribadah hanya kepada-Nya, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

Agar seluruh makhluk mengakui rububiyah-Nya, merealisasikan uluhiyah-Nya, serta mengakui kefakiran, kebutuhan, dan ketundukan mereka kepada-Nya, Yang Mahatinggi lagi Mahamulia.

Oleh karena itu, merealisasikan penghambaan kepada Allah tidak mungkin mencapai kedudukannya yang benar kecuali dengan merealisasikan ketaatan, istiqamah, dan senantiasa berpegang teguh pada jalan yang lurus.

Dengan demikian, agama hanya untuk Allah, hukum hanya milik Allah, dan dakwah hanya ditujukan kepada Allah.

Semua itu dilaksanakan oleh makhluk yang telah Allah jadikan sebagai khalifah di bumi dan diberi kemampuan untuk memakmurkannya.

Kedudukan semacam ini tidak dapat diwujudkan oleh manusia di antara seluruh makhluk lainnya kecuali melalui ucapan lisan serta amalan hati dan anggota badan secara bersamaan.

Demikian pula, penghambaan tidak mungkin disempurnakan dengan sempurna kecuali dengan menyempurnakan kedudukan puncak ketundukan dan kepatuhan yang disertai puncak kecintaan kepada Allah سبحانه وتعالى.

Makhluk yang paling sempurna penghambaan dirinya kepada Allah adalah orang yang paling sempurna dalam merendahkan diri, tunduk, dan taat kepada-Nya.

Sebab, inilah bentuk ketundukan kepada Allah, kepada kemuliaan-Nya, kekuasaan-Nya, rububiyah-Nya, serta kebaikan dan nikmat-Nya yang Dia limpahkan kepada anak cucu Adam.

Inti dari seluruh penghambaan, wahai hamba-hamba Allah, adalah bahwa penghambaan itu merupakan agama. Dan agama yang diridai Allah adalah Islam.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾

"Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi."

(QS. Ali Imran: 85).

Inilah rahasia penciptaan seluruh makhluk oleh Allah dan tujuan keberadaan mereka di muka bumi ini.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾

"Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."

(QS. Adz-Dzariyat: 56).

Allah juga berfirman:

﴿أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ﴾

"Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian secara sia-sia dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?"

(QS. Al-Mu'minun: 115).

Allah juga berfirman:

﴿أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى﴾

"Apakah manusia mengira bahwa dirinya akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban?"

(QS. Al-Qiyamah: 36).

Wahai kaum muslimin!

Allah Ta'ala berfirman:

﴿أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ﴾

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi serta segala sesuatu yang telah Allah ciptakan?"

(QS. Al-A'raf: 185).

Allah سبحانه وتعالى juga mencela sekelompok manusia yang lalai dan lengah, yang tidak mengambil pelajaran dan nasihat dari apa yang mereka saksikan siang dan malam di seluruh penjuru alam semesta yang luas ini.

Allah berfirman:

﴿وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ ۝ وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ﴾

"Betapa banyak tanda-tanda (kebesaran Allah) di langit dan di bumi yang mereka lalui, tetapi mereka berpaling darinya. Dan sebagian besar mereka tidak beriman kepada Allah melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya."

(QS. Yusuf: 105–106).

Mahasuci Allah! Tidakkah mereka melihat bintang-bintang yang bercahaya dan benda-benda langit yang beredar, semuanya tunduk dan ditundukkan dengan perintah-Nya?!

Betapa banyak hamparan bumi yang saling berdampingan, taman-taman dan kebun-kebun, gunung-gunung yang kokoh, lautan yang luas dan bergelombang, ombak-ombak yang saling menerjang, serta padang-padang tandus yang terbentang luas.

Namun, mereka justru menisbatkan anak-anak perempuan kepada Allah dan menyembah selain-Nya, seperti Al-'Uzza dan Al-Lata!

Mahasuci Allah, Yang Maha Esa, satu-satunya Pencipta seluruh makhluk.

Ada satu perkara yang membuat orang berakal dan mau merenung merasa sangat heran, yaitu ketika menyaksikan keadaan makhluk manusia.

Manusia justru berbalik ke belakang, berpaling dan menjauh dari penghambaan kepada Sang Pencipta dan Pelindungnya. Dia sibuk dengan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, sibuk dengan sesuatu yang fana daripada sesuatu yang kekal.

Dia terus bergelimang dalam berbagai kenikmatan dan syahwat, menyelimuti dirinya dengan kesenangan-kesenangan tersebut.

Padahal Allah telah memuliakan dan mengangkat derajatnya, mengangkutnya di daratan dan lautan, serta melebihkannya atas banyak makhluk dengan kelebihan yang sempurna.

Allah juga telah melimpahkan kepadanya berbagai nikmat, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Dia menciptakannya, membentuk rupanya, serta memberinya pendengaran dan penglihatan.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ﴾

"Dan Dia telah memberikan kepada kalian segala sesuatu yang kalian mohonkan kepada-Nya. Jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat."

(QS. Ibrahim: 34).

Meskipun demikian, manusia tetap menyombongkan diri, kufur, bersikap bodoh, kikir, dan suka membantah.

Allah berfirman tentang manusia:

﴿إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ﴾

"Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat."

(QS. Ibrahim: 34).

﴿إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا﴾

"Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh."

(QS. Al-Ahzab: 72).

﴿قُتِلَ الْإِنْسَانُ مَا أَكْفَرَهُ﴾

"Celakalah manusia! Alangkah sangat kufurnya dia!"

(QS. 'Abasa: 17).

﴿وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا﴾

"Dan manusia itu sangat kikir."

(QS. Al-Isra': 100).

﴿وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا﴾

"Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah."

(QS. Al-Kahfi: 54).

﴿كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى ۝ أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى﴾

"Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas karena melihat dirinya serba berkecukupan."

(QS. Al-'Alaq: 6–7).

﴿بَلْ يُرِيدُ الْإِنْسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ﴾

"Bahkan manusia itu hendak terus-menerus melakukan kemaksiatan sepanjang hidupnya."

(QS. Al-Qiyamah: 5).

﴿إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ﴾

"Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian."

(QS. Al-'Ashr: 2).

Padahal, seharusnya manusia yang telah dimuliakan dan diberi berbagai nikmat oleh Allah menjadi seorang hamba yang beribadah, bukan orang yang lalai; menjadi orang yang taat, bukan orang yang bermaksiat; menghadap kepada Rabb-nya, bukan berpaling dari-Nya; menjadi orang yang bersyukur, bukan orang yang kufur; serta menjadi orang yang berbuat baik, bukan orang yang zalim.

Sesungguhnya orang yang memperhatikan berbagai makhluk di alam yang dapat kita saksikan ini akan melihat bahwa kebanyakan makhluk tersebut tidak mendapatkan perhatian, pemeliharaan, pemakmuran, dan kedudukan sebagai khalifah sebagaimana yang diberikan kepada manusia.

Mereka juga tidak dibebani tanggung jawab sebagaimana anak cucu Adam.

Bahkan Allah menjadikan mereka sebagai makhluk yang ditundukkan dan dimanfaatkan untuk kepentingan manusia.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا﴾

"Dialah Allah yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi untuk kalian."

(QS. Al-Baqarah: 29).

Bahkan para malaikat pun ditundukkan untuk kepentingan anak cucu Adam. Di antara mereka ada yang bertugas mencatat amal manusia, ada yang menjaga dan melindungi mereka melalui para malaikat yang bergiliran menjaga dari depan dan belakang atas perintah Allah.

Di antara mereka ada pula yang ditugaskan mengatur pengiriman angin dan hujan.

Bahkan salah satu tugas besar para malaikat adalah memohonkan ampun bagi anak cucu Adam.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿وَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِ﴾

"Para malaikat bertasbih dengan memuji Rabb mereka dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi."

(QS. Asy-Syura: 5).

Meskipun demikian, wahai hamba-hamba Allah, seluruh makhluk ini selain anak cucu Adam telah menyempurnakan penghambaan mereka kepada Allah, tunduk kepada-Nya, serta merendahkan diri di hadapan kekuasaan, rububiyah, dan uluhiyah-Nya.

Pengecualiannya adalah sebagian makhluk yang durhaka, seperti setan-setan, jin-jin yang bermaksiat, serta sebagian hewan seperti cicak.

Nabi ﷺ bersabda:

"Bunuhlah cicak, karena sesungguhnya cicak itu dahulu meniup-niup api yang membakar Nabi Ibrahim."

(HR. Ahmad).

Akan tetapi, sekalipun makhluk-makhluk tersebut melakukan kedurhakaan, kedurhakaan mereka tidak sampai menyamai kedurhakaan sebagian anak cucu Adam.

Hal itu karena di antara anak cucu Adam ada yang berkata:

﴿أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى﴾

"Akulah tuhan kalian yang paling tinggi."

(QS. An-Nazi'at: 24).

Ada pula yang berkata:

﴿إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ﴾

"Sesungguhnya Allah itu adalah Al-Masih putra Maryam."

(QS. Al-Ma'idah: 17).

Ada yang berkata:

﴿إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ﴾

"Sesungguhnya Allah adalah salah satu dari tiga tuhan."

(QS. Al-Ma'idah: 73).

Ada pula yang berkata:

﴿أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ﴾

"Aku dapat menghidupkan dan mematikan."

(QS. Al-Baqarah: 258).

Ada yang berkata:

﴿اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ﴾

"Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka mempunyai sesembahan-sesembahan."

(QS. Al-A'raf: 138).

Ada pula yang mengatakan tentang Al-Qur'an:

﴿إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ﴾

"Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia."

(QS. Al-Muddatstsir: 25).

Belum lagi, wahai hamba-hamba Allah, orang-orang yang berkata:

﴿يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ﴾

"Tangan Allah terbelenggu."

(QS. Al-Ma'idah: 64).

Ada pula yang menjadikan para malaikat, yang sebenarnya merupakan hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih, sebagai makhluk perempuan.

Lalu, bagaimana lagi dengan orang yang berkata:

﴿إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ﴾

"Sesungguhnya Allah itu miskin, sedangkan kami kaya."

(QS. Ali Imran: 181).

Demikianlah, wahai hamba-hamba Allah, tali-temali kezaliman, kesombongan, dan kecongkakan di kalangan manusia terus memanjang.

Hingga muncul orang yang berkata:

"Sesungguhnya syariat Islam tidak layak diterapkan untuk setiap zaman dan tempat."

Atau orang yang menyerukan pemisahan agama dari negara dengan mengatakan:

"Tidak ada politik dalam agama dan tidak ada agama dalam politik."

Atau orang yang mengatakan:

"Agama adalah milik Allah, sedangkan tanah air adalah milik semua orang."

Atau:

"Serahkanlah urusan Allah kepada Allah, dan urusan Kaisar kepada Kaisar."

Ada pula yang menyifati agama sebagai sesuatu yang terbelakang, serta menyebut hukum-hukum hudud dan hukuman ta'zir sebagai sesuatu yang biadab dan keras.

Ada pula yang menggambarkan agama sebagai sesuatu yang membatasi perempuan, menzaliminya, dan merampas identitasnya.

Atau orang yang berpandangan bahwa kebebasan dan pembebasan perempuan dari belenggunya hanya dapat diwujudkan dengan mengeluarkannya dari batasan-batasan Rabb-nya, mengumumkan pembangkangannya terhadap syariat Sang Pencipta, serta menjadikannya sebagai sasaran bagi setiap pencuri, wadah bagi setiap orang yang berbuat keji, dan barang temuan bagi siapa saja yang menginginkannya.

Tubuhnya dijadikan sarana untuk menggoda dan diperdagangkan, sementara mereka menginginkan tersebarnya perbuatan keji di tengah-tengah orang-orang beriman!

Itulah sebagian perkataan manusia.

Maka, adakah orang yang mau merenungkan secara matang sikap-sikap Iblis yang disebutkan dalam Kitab Rabb kita, agar kalian mengetahui: apakah kalian mendapati Iblis pernah mengatakan sesuatu dari perkataan-perkataan tersebut?

Padahal, puncak perkataannya hanyalah bahwa dia berjanji akan menyesatkan manusia.

Bahkan, kesombongan Iblis hanya sampai pada sikap mengunggulkan jenisnya atas jenis Adam. Dia menyombongkan diri sehingga enggan bersujud kepada makhluk yang diciptakan dari tanah.

Bahkan, Iblis pernah berkata kepada sebagian manusia:

﴿إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾

"Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, dan Allah sangat keras siksa-Nya."

(QS. Al-Anfal: 48).

Sungguh, betapa besarnya kedurhakaan anak cucu Adam dan betapa dahsyat kesombongan serta tipu daya buruk mereka!

Allah Ta'ala berfirman:

﴿وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا سُنَّتَ الْأَوَّلِينَ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا﴾

"Rencana jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Mereka tidak menunggu selain berlakunya ketentuan terhadap orang-orang terdahulu. Maka engkau tidak akan mendapati perubahan pada ketetapan Allah, dan engkau tidak akan mendapati penyimpangan pada ketetapan Allah."

(QS. Fathir: 43).

Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi menegaskan hakikat kedurhakaan sebagian anak cucu Adam dibandingkan makhluk-makhluk lainnya, serta sikap enggan mereka untuk menjadi hamba bagi Allah yang telah menciptakan dan mengadakan mereka.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ﴾

"Tidakkah engkau mengetahui bahwa kepada Allah bersujud siapa saja yang ada di langit dan siapa saja yang ada di bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, hewan-hewan melata, dan banyak manusia? Namun, banyak pula manusia yang telah ditetapkan azab atas mereka."

(QS. Al-Hajj: 18).

Ayat ini menunjukkan bahwa banyak manusia yang durhaka, menyombongkan diri, dan tersesat.

Allah berfirman:

﴿وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ﴾

"Jika engkau menaati kebanyakan orang yang ada di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah."

(QS. Al-An'am: 116).

Allah juga berfirman:

﴿وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ﴾

"Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang benar-benar bersyukur."

(QS. Saba': 13).

Dan Allah berfirman:

﴿وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ﴾

"Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, sekalipun engkau sangat menginginkannya."

(QS. Yusuf: 103).

Wahai kaum muslimin!

Kami ingin mengantarkan kita semua menuju satu tujuan, yaitu agar kita benar-benar merasakan dan menyadari bahwa kita adalah hamba-hamba Allah.

Hendaknya kita menyadari bahwa di antara kita ada orang-orang yang lalai dan melampaui batas. Bahkan, seseorang yang telah melakukan suatu bentuk ketaatan terkadang diliputi oleh rasa kagum terhadap dirinya sendiri.

Dia meyakinkan dirinya dan masyarakatnya bahwa dirinya telah hidup dalam suasana aman, tenteram, istiqamah, dan mendapatkan petunjuk. Dia merasa telah menunaikan seluruh kewajibannya sehingga tidak ada lagi alasan yang masuk akal untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas dirinya menuju tingkatan yang diharapkan.

Hal ini kami sampaikan agar kita mengetahui keadaan tersebut dan agar kita tidak merasa bangga terhadap amal perbuatan kita, betapa pun baiknya amal tersebut, apabila dibandingkan dengan amal makhluk-makhluk lainnya, baik benda mati, tumbuh-tumbuhan, maupun hewan.

Oleh karena itu, sangat tepat apabila kita mengarahkan pembahasan kepada beberapa contoh beragam makhluk ciptaan Allah سبحانه وتعالى, agar melalui contoh-contoh tersebut kita dapat membuktikan betapa jauhnya kesenjangan antara kita dan mereka dalam kesempurnaan penghambaan kepada Allah serta ketaatan mutlak kepada-Nya.

Di antara contohnya adalah apa yang Allah ilhamkan kepada sebagian makhluk-Nya berupa kesadaran terhadap akidah tauhid dan pengingkaran terhadap kesyirikan dalam uluhiyah Allah جل وعلا.

Hal tersebut tampak dalam kisah yang Allah sebutkan tentang burung hudhud Nabi Sulaiman عليه السلام.

Burung hudhud mengingkari kekufuran dan kesyirikan penduduk suatu negeri, sekaligus menyeru mereka kepada tauhid kepada Allah سبحانه وتعالى.

Allah Ta'ala menceritakan perkataan burung hudhud:

﴿وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ ۝ أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُونَ وَمَا تُعْلِنُونَ ۝ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ﴾

"Aku mendapati dia dan kaumnya bersujud kepada matahari, bukan kepada Allah. Setan telah menjadikan perbuatan-perbuatan mereka terasa indah bagi mereka sehingga menghalangi mereka dari jalan Allah, maka mereka tidak mendapatkan petunjuk.

Mereka tidak bersujud kepada Allah yang mengeluarkan segala sesuatu yang tersembunyi di langit dan di bumi serta mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian tampakkan.

Allah, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, Rabb pemilik 'Arsy yang agung."

(QS. An-Naml: 24–26).

Di antara contoh lainnya, wahai hamba-hamba Allah, adalah kecemburuan terhadap agama Allah yang Allah tanamkan pada sebagian benda mati, serta rasa terganggu mereka ketika anak cucu Adam melanggar kehormatan-kehormatan yang telah Allah tetapkan.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa pernah lewat di hadapan Nabi ﷺ sebuah jenazah. Beliau kemudian bersabda:

"Orang yang beristirahat dan orang yang orang lain beristirahat darinya."

Para sahabat bertanya:

"Wahai Rasulullah, siapakah orang yang beristirahat dan siapakah orang yang orang lain beristirahat darinya?"

Beliau menjawab:

"Seorang hamba yang beriman akan beristirahat dari keletihan dan gangguan dunia menuju rahmat Allah Ta'ala. Sedangkan seorang hamba yang durhaka, manusia, negeri, pepohonan, dan hewan-hewan akan beristirahat dari gangguannya."

(HR. Al-Bukhari).

Perhatikanlah, semoga Allah menjaga kalian, bagaimana pepohonan dan hewan-hewan merasa terganggu oleh keberadaan orang yang durhaka!

Perhatikan pula kerusakan dan kehancuran yang ditimbulkannya di muka bumi serta kemaksiatan yang dia tampakkan terhadap Allah Ta'ala.

Dampak buruk kemaksiatan tersebut ternyata tidak hanya terbatas pada anak cucu Adam saja.

Sebaliknya, ada pula hewan-hewan yang bergembira dengan kesalehan dan agama, serta merasakan pengaruh dan keberkahannya pada diri manusia dan di muka bumi.

Karena itu, hewan-hewan tersebut mendoakan, memohonkan rahmat, dan memohonkan ampun bagi orang yang berbuat baik.

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dalam kitab Al-Jami' bahwa Nabi ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, seluruh penghuni langit dan bumi, bahkan semut di dalam sarangnya dan ikan-ikan di lautan, benar-benar berselawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia."

Bahkan seluruh hewan merasa takut dan khawatir terhadap hari kiamat serta kedahsyatan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari tersebut.

Nabi ﷺ bersabda:

"Tidak ada seekor hewan pun melainkan ia memasang telinganya pada hari Jumat karena takut apabila kiamat terjadi."

(HR. Ahmad).

Kata mushghiyah berarti memasang telinga dan menyimak dengan penuh perhatian.

Telah diriwayatkan pula hadis yang menunjukkan bentuk penghambaan ayam jantan kepada Allah dan seruannya kepada salat serta kebaikan.

Nabi ﷺ bersabda:

"Janganlah kalian mencela ayam jantan, karena sesungguhnya ia menyeru kepada salat."

(HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

"Tidak ada seekor kuda Arab pun melainkan setiap waktu fajar ia diberi izin untuk menyampaikan sebuah doa. Ia berkata:

'Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menjadikanku berada dalam kepemilikan salah seorang dari anak cucu Adam. Maka jadikanlah aku sebagai sesuatu yang paling dicintai oleh pemilikku, baik dari kalangan keluarganya maupun hartanya.'

Kemudian Nabi ﷺ bersabda:

'Sungguh, doa kuda ini telah dikabulkan.'"

(HR. Ahmad).

Adapun semut, semoga Allah menjaga kalian, maka ia merupakan salah satu umat dari berbagai umat makhluk Allah yang senantiasa bertasbih kepada-Nya.

Padahal tubuhnya kecil, keadaannya tampak lemah, dan manusia sering meremehkannya.

Allah Ta'ala berfirman tentang semut:

﴿حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ﴾

"Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: 'Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarang kalian agar Sulaiman dan bala tentaranya tidak menginjak kalian, sedangkan mereka tidak menyadarinya.'"

(QS. An-Naml: 18).

Tentang semut ini, Nabi ﷺ bersabda:

"Seekor semut pernah menggigit salah seorang nabi dari kalangan para nabi. Maka nabi tersebut memerintahkan agar sarang semut itu dibakar.

Kemudian Allah mewahyukan kepadanya:

'Apakah hanya karena seekor semut menggigitmu, lalu engkau membakar suatu umat dari umat-umat yang senantiasa bertasbih kepada Allah?!'"

(HR. Al-Bukhari).

Adapun pepohonan, yang termasuk tumbuh-tumbuhan, Allah Ta'ala berfirman tentangnya:

﴿وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ﴾

"Dan tumbuh-tumbuhan yang tidak berbatang serta pepohonan, keduanya bersujud."

(QS. Ar-Rahman: 6).

Ibnu Majah meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:

"Tidaklah seseorang mengucapkan talbiyah melainkan segala sesuatu yang berada di sebelah kanan dan kirinya, baik batu, pepohonan maupun tanah, turut mengucapkan talbiyah bersamanya, hingga bumi terputus dari sini dan dari sini."

Adapun kesetiaan batu dan pepohonan kepada orang-orang beriman serta pertolongannya terhadap agama Allah ketika Sang Pencipta membuatnya berbicara, maka hal tersebut menunjukkan betapa dalam penghambaan mereka kepada Rabb-nya dan betapa besarnya kecemburuan mereka terhadap agama-Nya.

Rasulullah ﷺ telah bersabda tentang hal tersebut:

"Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kaum muslimin memerangi orang-orang Yahudi. Kaum muslimin kemudian membunuh mereka, sampai-sampai seorang Yahudi bersembunyi di balik batu atau pohon. Maka batu atau pohon itu berkata:

'Wahai muslim! Wahai hamba Allah! Ini ada seorang Yahudi bersembunyi di belakangku. Kemarilah dan bunuhlah dia.'"

(HR. Al-Bukhari).

Perhatikanlah, semoga Allah menjaga kalian, seluruh makhluk yang telah disebutkan tadi!

Demikian pula gunung-gunung yang kokoh dan menjulang tinggi seperti pasak-pasak bumi. Bagaimana semuanya bertasbih memuji Allah, takut kepada keagungan-Nya, merasa gentar, bahkan menjadi hancur karena takut kepada Allah, ketika mendengar kekufuran kepada-Nya dan penisbatan anak kepada-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا ۝ أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا ۝ وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا﴾

"Hampir-hampir langit pecah karena perkataan itu, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh berkeping-keping, karena mereka menganggap bahwa Ar-Rahman mempunyai anak. Padahal tidak pantas bagi Ar-Rahman mempunyai anak."

(QS. Maryam: 90–92).

Gunung-gunung itu juga merasa takut kepada Rabb dan Penciptanya ketika amanah ditawarkan kepadanya, tetapi ia merasa takut untuk memikulnya.

Demikian pula gunung yang hancur ketika Rabb kita menampakkan diri kepadanya.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا﴾

"Maka ketika Rabb-nya menampakkan diri kepada gunung itu, Dia menjadikannya hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan."

(QS. Al-A'raf: 143).

Itulah keadaan gunung-gunung, meskipun ia terdiri dari batu-batuan yang keras. Namun, betapa lembutnya, betapa takutnya, dan betapa hancurnya ia karena keagungan dan kebesaran Rabb-nya.

Allah juga telah mengabarkan bahwa seandainya Al-Qur'an diturunkan kepada gunung, niscaya gunung itu akan terpecah belah karena takut kepada Allah.

Maka sungguh mengherankan, ada segumpal daging yang lebih keras daripada batu yang kokoh!

Ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya, tetapi ia tetap bersikap sombong seolah-olah tidak pernah mendengarnya.

Seakan-akan terdapat sumbatan di telinganya, sehingga hatinya tidak menjadi lembut dan tidak pula tunduk.

Namun, benarlah firman Allah:

﴿أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ﴾

"Maka tidakkah mereka berjalan di bumi, sehingga mereka mempunyai hati yang dengannya mereka dapat memahami, atau mempunyai telinga yang dengannya mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada di dalam dada."

(QS. Al-Hajj: 46).

Semoga Allah memberikan keberkahan kepadaku dan kepada kalian melalui Al-Qur'an yang agung, serta memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.

Apa yang telah aku sampaikan, apabila benar maka itu berasal dari Allah. Namun, apabila terdapat kesalahan, maka itu berasal dari diriku sendiri dan setan. Aku memohon ampun kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.




Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan yang Dia limpahkan. Segala syukur hanya bagi-Nya atas taufik dan karunia-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagai bentuk pengagungan terhadap keagungan-Nya.

Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang menyeru kepada segala sesuatu yang mendatangkan keridaan-Nya.

Selanjutnya:

Wahai sekalian manusia!

Seekor serigala pernah berbicara dengan perkataan yang sangat mengherankan pada masa kehidupan Nabi ﷺ.

Perkataan serigala tersebut menunjukkan bahwa ia mengetahui bahwa rezeki berasal dari Allah. Bahkan, serigala itu memerintahkan seorang penggembala kambing agar bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى.

Selain itu, serigala tersebut juga mengetahui kenabian Muhammad ﷺ dan risalah yang beliau bawa.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Abu Sa'id Al-Khudri رضي الله عنه, ia berkata:

"Seekor serigala menerkam seekor kambing dan membawanya pergi. Penggembala kambing itu mengejarnya, lalu berhasil merebut kembali kambing tersebut dari serigala.

Serigala itu kemudian duduk di atas ekornya dan berkata:

'Apakah engkau tidak bertakwa kepada Allah? Engkau mengambil dariku rezeki yang telah Allah datangkan kepadaku!'

Penggembala itu berkata:

'Aku sungguh heran! Seekor serigala duduk di atas ekornya dan berbicara kepadaku dengan perkataan manusia!'

Serigala itu berkata:

'Maukah aku beritahukan kepadamu sesuatu yang lebih mengherankan daripada itu? Muhammad ﷺ berada di Yatsrib (Madinah), beliau memberitahukan kepada manusia berita-berita tentang peristiwa yang telah terjadi sebelumnya.'"

(Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad).

Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan:

"Orang-orang berkata: 'Mahasuci Allah! Seekor serigala berbicara!'

Maka Nabi ﷺ bersabda:

'Sesungguhnya aku beriman terhadap hal itu, demikian pula Abu Bakar dan Umar.'"

Maka bertakwalah kepada Allah, wahai kaum muslimin, dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebenar-benarnya!

Renungkanlah pengaruh penghambaan benda-benda mati, tumbuh-tumbuhan, dan hewan, serta kesempurnaan ketundukan mereka kepada Allah Ta'ala.

Padahal keutamaan dan kemuliaan mereka lebih rendah dibandingkan kalian.

Ketahuilah bahwa kalian tetap memiliki kekurangan, betapa pun tinggi pencapaian kalian. Kalian tetap menzalimi diri sendiri, betapa pun kalian mengaku telah berada di atas jalan yang benar atau mencapai kesempurnaan.

Sesungguhnya jauhnya manusia dari kebenaran, lemahnya keyakinan mereka terhadap Dzat Yang memerintah dan melarang, dominasi hawa nafsu mereka, serta kelalaian yang menguasai diri mereka, semuanya membutuhkan perjuangan yang jauh lebih besar daripada perjuangan makhluk-makhluk lain yang senantiasa taat dan bertasbih kepada Allah.

Setiap pagi, salah seorang dari kita berhadapan dengan tuntutan syariat yang mengatakan kepadanya:

"Tegakkanlah ibadahmu dengan istiqamah, jauhilah kemaksiatanmu, dan perhatikanlah bagaimana engkau mencari penghasilan."

Dahulu, kekasih Allah, Nabi Ibrahim عليه السلام, pernah diperintahkan:

"Sembelihlah anakmu dengan tanganmu sendiri, dan potonglah buah hatimu dengan tanganmu sendiri!"

Kemudian beliau juga diperintahkan untuk menuju alat pelempar (manjaniq) agar dilemparkan ke dalam api.

Orang yang sedang marah diperintahkan untuk menahan amarahnya.

Orang yang memiliki penglihatan diperintahkan untuk menundukkan pandangannya.

Orang yang memiliki kemampuan berbicara diperintahkan untuk menjaga lisannya dan diam dari perkataan yang tidak bermanfaat.

Orang yang menyukai tidur diperintahkan untuk melaksanakan salat tahajud.

Orang yang ditinggal wafat oleh orang yang dicintainya diperintahkan untuk bersabar.

Orang yang berdiri di medan jihad di tengah-tengah dahsyatnya pertempuran diperintahkan agar tidak melarikan diri.

Dan apabila seseorang ditimpa penyakit, ia diperintahkan agar tidak mengadukan keluhannya kepada selain Allah.

Oleh karena itu, ketahuilah, wahai kaum muslimin, betapa mulianya kedudukan anak cucu Adam dengan diberikannya amanah kekhalifahan ini.

Jagalah kemuliaan yang berharga ini dengan penghambaan yang sebenar-benarnya kepada Allah, agar tidak dinodai oleh keburukan dosa-dosa dan kehinaan karena melalaikan ketaatan.

Berhati-hatilah agar dosa-dosa tidak menjatuhkan kalian ke tempat yang sangat rendah, sehingga kalian disambar oleh burung-burung atau diterbangkan angin ke tempat yang sangat jauh dan dalam.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ﴾

"Demikianlah. Barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu merupakan bagian dari ketakwaan hati."

(QS. Al-Hajj: 32).

Sungguh mengherankan, wahai hamba-hamba Allah!

Keheranan itu bukanlah terhadap makhluk-makhluk yang telah ditundukkan jalannya sehingga mereka tidak mengenal selain ketaatan kepada Allah.

Bukan pula terhadap air yang mengalir atau sesuatu yang meluncur turun dengan cepat.

Akan tetapi, yang benar-benar mengherankan adalah sesuatu yang mendaki, yang harus membuka jalan dengan susah payah, menghadapi berbagai rintangan dengan perjuangan, serta melawan terpaan angin ketika bergerak maju.

Tidak ada yang mengherankan dari orang yang binasa, bagaimana ia bisa binasa?

Akan tetapi, yang mengherankan adalah orang yang selamat, bagaimana ia bisa selamat?

Allah Ta'ala berfirman:

﴿وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ﴾

"Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar."

(QS. Fushshilat: 35).

Seorang hamba, semakin ia merendahkan diri di hadapan Allah, semakin besar ia merasakan kefakiran dan kebutuhannya kepada Allah serta semakin tunduk kepada-Nya, maka semakin dekat pula kedudukannya di sisi Allah.

Bahkan, ia menjadi semakin mulia dan semakin tinggi derajatnya.

Manusia yang paling berbahagia adalah mereka yang paling sempurna penghambaan dirinya kepada Allah.

Nabi ﷺ meriwayatkan bahwa Allah سبحانه وتعالى berfirman:

"Wahai anak Adam! Luangkanlah dirimu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan memenuhi dadamu dengan kekayaan (kecukupan) dan menutupi kefakiranmu.

Namun, jika engkau tidak melakukannya, niscaya Aku akan memenuhi dadamu dengan kesibukan dan tidak akan menghilangkan kefakiranmu."

(HR. Ibnu Majah).

Selanjutnya, berselawatlah kalian, semoga Allah merahmati kalian, kepada manusia terbaik, makhluk paling suci, yaitu Muhammad bin Abdullah, pemilik telaga dan syafaat.

Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk melakukan suatu perkara yang Dia mulai dengan menyebut diri-Nya sendiri, kemudian menyebut para malaikat-Nya yang senantiasa bertasbih menyucikan-Nya, lalu memerintahkan kalian, wahai orang-orang beriman, untuk melakukannya.

Allah جل وعلا berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

"Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

(QS. Al-Ahzab: 56).

Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, pemilik wajah yang paling bercahaya dan dahi yang paling bersinar.

Ridhailah pula keempat khalifah beliau: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Ridhailah seluruh sahabat Nabi-Mu Muhammad ﷺ, para tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Dan ridhailah pula kami bersama mereka, dengan ampunan, kemurahan, dan karunia-Mu, wahai Dzat Yang paling penyayang di antara para penyayang.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin, hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik.

Ya Allah, tolonglah agama-Mu, Kitab-Mu, Sunnah Nabi-Mu, dan hamba-hamba-Mu yang beriman.

Ya Allah, hilangkanlah kesedihan orang-orang yang bersedih dari kalangan kaum muslimin, lepaskanlah kesusahan orang-orang yang tertimpa kesulitan, lunasilah utang orang-orang yang berutang, dan sembuhkanlah orang-orang yang sakit di antara kami dan seluruh kaum muslimin, dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang paling penyayang di antara para penyayang.

Ya Allah, anugerahkanlah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami.

Perbaikilah para pemimpin dan para penguasa yang mengurusi urusan kami.

Jadikanlah kepemimpinan di tengah-tengah kami berada di tangan orang-orang yang takut kepada-Mu, bertakwa kepada-Mu, dan mengikuti keridaan-Mu, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami untuk melakukan segala perkataan dan perbuatan yang Engkau cintai dan Engkau ridai, wahai Dzat Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri Sendiri.

Ya Allah, perbaikilah orang-orang yang menjadi penasihat dan pembantu di sekelilingnya, wahai Dzat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.

Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.

Mahasuci Rabb-mu, Rabb Yang memiliki keperkasaan, dari segala sifat yang mereka nisbatkan kepada-Nya.

Semoga keselamatan tercurah kepada para rasul.

Dan penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.