Jumat, 16 Oktober 2026

SURGA


SURGA, NEGERI KENIKMATAN DAN TUJUAN ORANG-ORANG BERIMAN

Khatib: Syekh Shalih bin Muhammad al-Budair
Tanggal khutbah: 25 September 2026 / 14 Rabiul Akhir 1448 H

Pokok-pokok khutbah

  1. Surga adalah kenikmatan yang tidak akan pernah sirna.
  2. Firdaus adalah tingkatan surga yang paling tinggi.
  3. Sungai-sungai dan istana-istana surga berada di luar jangkauan gambaran manusia.
  4. Keridaan Allah lebih agung daripada seluruh kenikmatan.
  5. Melihat Allah adalah puncak kenikmatan penghuni surga.
  6. Takwa dan amal saleh adalah jalan untuk meraih kemenangan berupa surga.

KHUTBAH PERTAMA

Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Mencintai, Pemilik keutamaan, kemurahan, kebaikan, dan karunia. Aku memuji-Nya atas nikmat-nikmat-Nya yang melimpah dan pemberian-pemberian-Nya yang jernih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dengan suatu persaksian yang merendahkan orang-orang yang mengingkari.

Aku bersaksi bahwa Nabi dan junjungan kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya. Cahaya risalahnya telah menerangi dataran-dataran rendah dan pegunungan, serta menghapus kegelapan kebodohan dan malam-malamnya yang kelam.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, kepada keluarga, dan para sahabatnya, selama burung-burung tekukur masih berkicau dan pepohonan masih menghijau.

Amma ba’du.

Wahai kaum Muslimin, bertakwalah kepada Allah dengan ketakwaan orang yang mengobati dirinya dengan ketaatan dan melindungi dirinya dari perkara-perkara yang diharamkan.

Allah Ta'ala berfirman:

“Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 194)

Wahai kaum Muslimin!

Allah telah menciptakan surga dan menjadikannya sebagai negeri bagi para wali-Nya serta tempat tinggal bagi orang-orang pilihan-Nya. Allah memenuhi surga dengan rahmat, kemuliaan, dan keridaan-Nya. Allah mendorong manusia untuk merindukannya dan menyeru mereka menuju kepadanya.

Allah menamakannya Darussalam (negeri keselamatan).

Ia adalah negeri yang kenikmatannya tidak akan habis dan tidak akan binasa. Di dalamnya terdapat tambahan dari segala bentuk kebaikan. Surga telah merindukan orang-orang yang mencarinya dan telah berhias untuk orang-orang yang menginginkannya.

Dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah telah menjelaskan berbagai gambaran tentang apa yang ada di dalamnya.

Betapa berbahagianya para penghuninya dan betapa beruntungnya orang-orang yang mewarisinya!

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda bahwa Allah Ta'ala berfirman:

“Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Surga adalah negeri yang keindahannya bercahaya, halamannya menyenangkan, dan bangunannya sangat agung.

Bangunannya tersusun dari batu bata emas dan batu bata perak, perekatnya adalah misik yang sangat harum, kerikilnya berupa mutiara dan permata, sedangkan tanahnya adalah za'faran.

Barangsiapa memasukinya, ia akan hidup dalam kenikmatan dan tidak akan pernah mengalami kesengsaraan. Ia akan kekal dan tidak akan mati. Pakaiannya tidak akan usang dan masa mudanya tidak akan pernah berakhir.

Orang pertama yang mengetuk pintu surga adalah Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Penjaga surga akan berkata kepadanya:

“Siapakah engkau?”

Beliau menjawab:

“Muhammad.”

Penjaga itu berkata:

“Aku diperintahkan untuk tidak membukakan pintu bagi siapa pun sebelum engkau.”

Surga memiliki delapan pintu.

Jarak antara kedua daun pintu surga adalah seperti jarak antara Makkah dan Hajar, atau seperti jarak antara Makkah dan Bushra.

Rombongan pertama yang memasuki surga akan memiliki wajah seperti bulan purnama. Rombongan berikutnya seperti bintang yang paling terang cahayanya di langit.

Mereka tidak buang air kecil, tidak buang air besar, tidak mengeluarkan ingus, dan tidak meludah.

Sisir mereka terbuat dari emas. Keringat mereka beraroma misik. Tempat pembakaran wewangian mereka adalah kayu gaharu.

Tidak ada perselisihan dan tidak ada kebencian di antara mereka. Hati mereka seperti satu hati.

Mereka memiliki rupa seperti rupa bapak mereka, Adam, dengan tinggi enam puluh hasta ke langit.

Mereka bertasbih kepada Allah pada pagi dan petang.

Penghuni surga memasuki surga dalam keadaan tanpa pakaian dunia, masih muda, berkulit putih, berambut keriting, dan bercelak, berusia tiga puluh tiga tahun.

Pada wajah mereka tampak cahaya, keindahan, kecemerlangan, dan kemuliaan. Engkau dapat mengenali pada wajah mereka kenikmatan hidup.

Mereka akan diseru:

“Sesungguhnya bagi kalian adalah kehidupan, sehingga kalian tidak akan mati selamanya. Bagi kalian kesehatan, sehingga kalian tidak akan sakit selamanya. Bagi kalian masa muda, sehingga kalian tidak akan menjadi tua selamanya. Bagi kalian kenikmatan, sehingga kalian tidak akan mengalami kesengsaraan selamanya.”

Allah Ta'ala berfirman:

“Dan bagi mereka di dalamnya segala macam buah-buahan.”
(QS. Muhammad: 15)

Seandainya seorang lelaki dari penghuni surga menampakkan dirinya kepada penduduk bumi sehingga gelangnya terlihat, niscaya cahaya gelang tersebut akan menghilangkan cahaya matahari sebagaimana cahaya matahari menghilangkan cahaya bintang-bintang.

Mintalah Firdaus

Apabila kalian meminta kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya Al-Firdaus, karena ia merupakan bagian tengah surga dan surga yang paling tinggi. Di atasnya terdapat Arsy Ar-Rahman, dan dari Firdauslah sungai-sungai surga memancar.

Sungai yang paling besar, paling manis, dan paling indah adalah Sungai Al-Kautsar.

Allah menjadikannya sebagai kemuliaan bagi Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kedua tepinya berupa kubah-kubah mutiara yang berlubang. Tanahnya adalah misik yang sangat harum. Kerikilnya berupa mutiara. Airnya lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu.

Bejana-bejananya sebanyak jumlah bintang-bintang di langit. Sungai itu didatangi burung-burung yang lehernya seperti leher unta besar.

Adapun telaga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, maka telaga itu berada di tanah tempat manusia dikumpulkan pada hari Kiamat.

Lebarnya sama dengan panjangnya. Jarak antara kedua sisinya adalah perjalanan selama satu bulan, atau seperti jarak antara Shan'a dan Madinah.

Dua pancuran dari surga mengalir deras ke dalamnya.

Orang-orang beriman akan mendatangi telaga tersebut. Barangsiapa meminum airnya, ia tidak akan pernah haus setelah itu.

Namun akan ada orang-orang yang dihalangi dari telaga tersebut, yaitu orang-orang yang telah mengubah, mengganti, dan membuat perkara-perkara baru dalam agama.

Penghuni Surga yang Paling Rendah Kedudukannya

Penghuni surga yang paling rendah kedudukannya adalah seseorang yang datang setelah para penghuni surga telah masuk ke tempat mereka masing-masing.

Dikatakan kepadanya:

“Masuklah ke surga.”

Ia berkata:

“Wahai Rabbku, bagaimana mungkin, sementara manusia telah menempati tempat-tempat mereka dan telah memperoleh bagian mereka?”

Maka dikatakan kepadanya:

“Apakah engkau rela jika engkau mendapatkan kerajaan seperti kerajaan salah seorang raja di dunia?”

Ia menjawab:

“Aku rela, wahai Rabbku.”

Allah berkata:

“Bagimu yang seperti itu, dan yang semisalnya, dan yang semisalnya, dan yang semisalnya, dan yang semisalnya.”

Pada yang kelima kalinya ia berkata:

“Aku rela, wahai Rabbku.”

Allah berfirman:

“Itu untukmu dan sepuluh kali lipatnya. Bagimu apa saja yang diinginkan oleh jiwamu dan yang menyenangkan matamu.”

Ia berkata:

“Aku rela, wahai Rabbku.”

Adapun penghuni surga yang paling tinggi kedudukannya, maka Allah berfirman tentang mereka:

“Mereka itulah orang-orang yang Aku kehendaki. Aku tanamkan kemuliaan mereka dengan tangan-Ku dan Aku tutup dengan segelnya. Tidak pernah ada mata yang melihatnya, tidak pernah ada telinga yang mendengarnya, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.”

Di dalam surga terdapat sebuah pohon yang apabila seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun, ia belum mampu melewati seluruhnya.

Seorang mukmin di dalam surga memiliki sebuah kemah dari satu mutiara yang berongga. Panjangnya menjulang ke langit sejauh enam puluh mil.

Di dalamnya terdapat keluarga-keluarganya. Seorang mukmin berkeliling mengunjungi mereka, tetapi sebagian dari mereka tidak melihat sebagian yang lain.

Seandainya seorang wanita penghuni surga menampakkan dirinya kepada penduduk bumi, niscaya ia akan menerangi ruang antara keduanya dan memenuhi tempat tersebut dengan aroma harum.

Kerudung yang dikenakannya di atas kepala lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.

Dan di dalam surga tidak ada seorang pun yang hidup tanpa pasangan.

Keridaan Allah

Allah Azza wa Jalla berkata kepada penghuni surga:

“Wahai penghuni surga!”

Mereka menjawab:

“Kami memenuhi panggilan-Mu, wahai Rabb kami. Kami datang memenuhi seruan-Mu. Segala kebaikan berada di tangan-Mu.”

Allah bertanya:

“Apakah kalian telah ridha?”

Mereka menjawab:

“Mengapa kami tidak ridha, wahai Rabb kami, sedangkan Engkau telah memberikan kepada kami sesuatu yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun dari makhluk-Mu?”

Allah berfirman:

“Maukah Aku memberikan kepada kalian sesuatu yang lebih baik daripada itu?”

Mereka berkata:

“Apakah ada sesuatu yang lebih baik daripada itu?”

Allah berfirman:

“Aku halalkan bagi kalian keridaan-Ku. Setelah itu Aku tidak akan pernah murka kepada kalian selama-lamanya.”

Betapa agung kenikmatan ini dan betapa mulianya penghormatan tersebut!

Sesungguhnya pemberian yang paling agung dan kenikmatan yang paling besar, yang membuat seluruh kenikmatan lainnya menjadi kecil di hadapannya, adalah memandang wajah Allah Yang Mahamulia.

Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

“Kami sedang berada di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau memandang bulan pada malam purnama, lalu bersabda:
‘Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata kepala kalian, sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan kesulitan dalam melihat-Nya.’”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak ada yang menghalangi suatu kaum dari melihat Rabb mereka selain hijab kebesaran-Nya di wajah-Nya di dalam Jannah Adn.

Akan ada seorang penyeru yang menyerukan:

“Wahai penghuni surga! Sesungguhnya kalian memiliki suatu janji di sisi Allah yang Dia ingin tunaikan kepada kalian.”

Mereka berkata:

“Apakah itu? Bukankah Dia telah memberatkan timbangan amal kami, memutihkan wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?”

Kemudian hijab dibuka.

Mereka pun memandang kepada Allah.

Tidak ada sesuatu pun yang diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada memandang-Nya.

Allah Mahabesar!

Dia telah memberikan kenikmatan kepada mereka, memberikan manfaat kepada mereka, memenuhi segala keinginan mereka, bahkan menambahkan lebih dari apa yang mereka harapkan.

Semoga Allah menjadikan aku dan kalian termasuk orang-orang yang berbahagia dan memberikan kepada kita al-husna (kebaikan yang terbaik) dan tambahan.

Aku mengatakan apa yang kalian dengarkan ini. Aku memohon ampun kepada Allah untukku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum Muslimin dari setiap dosa dan kesalahan. Maka mohonlah ampun kepada-Nya.

Sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang banyak kembali kepada-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

“Sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang banyak bertobat.”
(QS. Al-Isra: 25)


KHUTBAH KEDUA

Segala puji bagi Allah dengan pujian yang sesuai dengan segala nikmat-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan tidak ada yang berhak disembah selain Dia.

Aku bersaksi bahwa Nabi dan junjungan kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, orang pilihan-Nya dan manusia yang Dia pilih.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya dengan shalawat dan salam yang terus-menerus hingga hari kiamat.

Allah Ta'ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang benar.”
(QS. At-Taubah: 119)

Wahai kaum Muslimin!

Itulah sebagian gambaran tentang surga dan kenikmatannya.

Lalu bagaimana mungkin seseorang menyia-nyiakan kenikmatan yang demikian besar hanya demi dunia yang hina, sementara dunia telah mengumumkan bahwa dirinya akan ditinggalkan dan masa kepergiannya semakin dekat?

Maka waspadalah, wahai hamba-hamba Allah!

Waspadalah!

Kematian telah diikat pada ubun-ubun kalian, dan dunia sedang dilipat di belakang kalian.

Betapa banyak luka yang menyebabkan kematian. Betapa banyak terpeleset yang mengantarkan kepada kebinasaan.

Barangsiapa takut, ia akan berangkat pada awal malam; dan barangsiapa berangkat pada awal malam, ia akan sampai ke tempat tujuan.

Ketahuilah!

Sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah adalah surga.

Wahai kaum Muslimin!

Marilah kita mengingat dengan penuh rasa syukur karunia Allah dan pemberian-Nya yang besar serta kebaikan-Nya kepada negeri yang penuh berkah ini berupa nikmat keamanan dan keimanan, persatuan barisan dan kesatuan kalimat.

Negeri ini telah Allah muliakan dengan pelayanan terhadap dua Masjid Suci. Allah memberikan kepadanya kedudukan yang agung di hati kaum Muslimin.

Di negeri ini terdapat Masjidil Haram, Masjid Nabawi yang mulia, dan tempat-tempat suci untuk ibadah haji.

Di negeri ini pula terdapat tempat turunnya wahyu dan tempat hijrah Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dari negeri inilah risalah Islam tersebar.

Karena itu negeri ini dahulu dan sekarang menjadi tempat tegaknya akidah, mercusuar ilmu, dan medan pelayanan bagi kaum Muslimin serta orang-orang yang datang menuju dua Masjid Suci.

Bershalawat dan ucapkan salam kepada Ahmad sang pemberi petunjuk, pemberi syafaat bagi seluruh manusia.

Barangsiapa bershalawat kepadanya satu kali, Allah akan memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi dan junjungan kami Muhammad, pembawa kabar gembira tentang rahmat dan pahala, pemberi peringatan tentang azab dan hukuman, pemberi syafaat yang diterima syafaatnya pada hari perhitungan.

Ya Allah, ridhailah para khalifah yang mendapatkan petunjuk, para imam yang mendapat petunjuk, orang-orang yang memiliki kemuliaan dan kedudukan tinggi: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta seluruh keluarga dan para sahabat beliau.

Dan jadikanlah kami bersama mereka, wahai Dzat Yang Mahamulia lagi Maha Pemberi.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin. Hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik. Hancurkanlah musuh-musuh agama.

Jagalah negeri kami, Kerajaan Arab Saudi, dan seluruh negeri kaum Muslimin dari tipu daya para pembuat makar, siasat para pendengki, kedengkian orang-orang yang membenci, dan hasad orang-orang yang iri, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, berilah taufik kepada imam kami dan pemegang urusan kami, Penjaga Dua Masjid Suci, kepada apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Tuntunlah dia kepada kebaikan dan ketakwaan.

Ya Allah, berilah taufik kepadanya dan kepada Putra Mahkotanya kepada perkara yang di dalamnya terdapat kemuliaan Islam dan kebaikan kaum Muslimin, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, jagalah pasukan kami. Lindungilah perbatasan kami. Satukanlah persatuan kami. Hinakanlah musuh kami.

Berilah petunjuk kepada putra-putri kami.

Ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum Muslimin, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, jagalah para prajurit kami yang berjaga di perbatasan dan garis depan.

Ya Allah, sembuhkanlah mereka yang sakit di antara mereka. Obatilah mereka yang terluka. Terimalah mereka yang meninggal sebagai syuhada.

Berilah mereka kemenangan atas musuh-Mu dan musuh mereka, wahai Dzat Yang Maha Mendengar doa.

Ya Allah, sembuhkanlah orang-orang sakit di antara kami. Berikanlah kesehatan kepada orang-orang yang sedang mendapatkan ujian. Rahmatilah orang-orang yang telah meninggal di antara kami, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, sucikanlah Masjid Al-Aqsha dari kotoran dan kejahatan para penjajah dan orang-orang yang menyerang.

Ya Allah, berilah kami pertolongan.

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.

Ya Allah, jadikanlah doa kami didengar dan seruan kami diangkat.

Wahai Dzat Yang Mahamulia, Yang Mahaagung, lagi Maha Penyayang.


Rabu, 14 Oktober 2026

QONAAH


Kepuasan Hati adalah Kekayaan Batin dan Kenyamanan Hidup

Khutbah Syekh Abdullah bin Abdurrahman al-Baijan

Khutbah Pertama

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, dan berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami serta keburukan amal perbuatan kami. Barang siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya; dan barang siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan keselamatan kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya.

Amma ba‘du:

Maka bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah, semampu kalian. Sesungguhnya Allah berfirman:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”
(QS. Ath-Thalaq: 4)

Dan Dia berfirman:

“Dan Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya serta memperbesar pahala baginya.”
(QS. Ath-Thalaq: 5)

Dan Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)

Wahai kaum Muslimin!

Sesungguhnya Allah Ta‘ala menciptakan makhluk dengan hikmah-Nya, mewujudkan mereka dengan kekuasaan-Nya, melimpahkan nikmat-nikmat-Nya kepada mereka, dan meluaskan karunia-Nya atas mereka. Dia semata yang memiliki hak menciptakan dan memerintah, menentukan dan mengatur.

Allah membagi rezeki di antara hamba-hamba-Nya. Dia membedakan umur mereka dan memberikan perbedaan dalam keadaan mereka.

Di antara manusia ada yang ridha dengan apa yang Allah bagikan kepadanya, sehingga hatinya menjadi tenteram, jiwanya tenang, dan kehidupannya menjadi baik.

Namun ada pula orang yang terus mengarahkan pandangannya kepada apa yang berada di tangan orang lain. Akibatnya, rasa tidak puas menguasai dirinya, ketamakan melelahkannya, dan akhirnya ia menjadi miskin secara batin meskipun hartanya banyak.

Wahai manusia!

Allah telah menetapkan takdir segala sesuatu sebelum menciptakan langit dan bumi. Dia telah menetapkan ajal dan rezeki. Seorang hamba tidak akan memperoleh kecuali apa yang telah dituliskan untuknya, dan tidak akan luput darinya sesuatu yang telah Allah tetapkan baginya.

Maka wahai orang yang dadanya terasa sempit karena sedikitnya harta, wahai orang yang dibebani berbagai persoalan kehidupan, dan wahai orang yang melelahkan dirinya dalam mengejar apa yang dimiliki orang lain:

Tenanglah dengan pengaturan Rabbmu. Tempuhlah sebab-sebab yang dibenarkan syariat. Jangan gantungkan hatimu kepada sesuatu yang memang tidak dituliskan untukmu.

Rezeki telah dibagi dan ajal telah ditentukan.

“Dan apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Asy-Syura: 36)

Wahai hamba-hamba Allah!

Kita hidup pada zaman ketika berbagai daya tarik dunia semakin banyak, persaingan untuk mendapatkan dunia semakin besar, dan banyak manusia mulai mengukur kebahagiaan mereka berdasarkan apa yang mereka miliki, mengukur nilai diri mereka berdasarkan pakaian yang mereka kenakan, serta mengukur kedudukan mereka berdasarkan apa yang mereka tampilkan.

Berbagai foto dan video terus bermunculan di hadapan mata. Jiwa pun mudah terdorong untuk melakukan perbandingan.

Seseorang melihat kenikmatan yang dimiliki orang lain, lalu melupakan nikmat Allah yang ada pada dirinya. Ia melihat apa yang tidak dimilikinya, lalu lalai terhadap apa yang telah ada padanya.

Di tengah keadaan seperti ini, kebutuhan terhadap qanaah menjadi semakin besar.

Qanaah senantiasa menjadi salah satu harta terbesar yang dimiliki manusia. Ia merupakan kekayaan yang hakiki, yang mewujudkan kebahagiaan, keridhaan, dan ketenangan jiwa.

Dengan qanaah, jiwa berhenti membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia terbebas dari rasa tidak puas, hasad, dan kerakusan. Ia hidup dalam kedamaian yang tidak mudah diguncangkan oleh badai ambisi dan ketamakan.

Wahai hamba-hamba Allah!

Qanaah adalah ridha terhadap apa yang Allah bagikan, tidak menginginkan apa yang berada di tangan manusia, merasa cukup dengan apa yang ada, serta meninggalkan keinginan berlebihan terhadap sesuatu yang belum dimiliki.

Qanaah berarti engkau melihat nikmat-nikmat Allah yang ada padamu sebelum engkau menghitung kekurangan-kekuranganmu.

Qanaah adalah harta yang sangat agung dan termasuk nikmat terbaik. Dengan qanaah, kehidupan menjadi baik, seseorang merasakan keridhaan dan ketenteraman, kebahagiaan dan keberuntungan tercapai, ketenangan turun ke dalam hati, keridhaan dan sikap adil tumbuh, kehormatan diri terjaga, dan kebutuhan menjadi tercukupi.

Nabi ﷺ bersabda:

“Sungguh telah beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang mencukupinya, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang telah diberikan kepadanya.”

(HR. Muslim)

Qanaah merupakan salah satu nikmat yang paling agung dan salah satu akhlak serta nilai yang paling utama. Islam mengajarkannya, menganjurkannya, dan mendorong manusia untuk memilikinya. Islam menjadikannya salah satu sebab kekayaan yang hakiki, kehidupan yang baik, dan keselamatan hati.

Nabi ﷺ pernah berwasiat kepada Abu Hurairah:

“Ridhalah dengan apa yang Allah bagikan kepadamu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya.”

Wahai hamba-hamba Allah!

Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, bukan karena bertambahnya saldo dan rekening, bukan pula karena banyaknya rumah dan kendaraan.

Sesungguhnya kekayaan adalah kekayaan jiwa: seorang hamba merasa cukup dengan Rabbnya, ridha terhadap apa yang Allah berikan kepadanya, dan tidak menjadi tawanan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya.

Nabi ﷺ bersabda:

“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.”

(Muttafaqun ‘alaih)

Maka wahai hamba-hamba Allah!

Carilah kekayaan yang tidak dapat dirampas, harta karun yang tidak dapat dicuri, dan nikmat yang tidak akan sirna.

Carilah qanaah dan kekayaan jiwa.

Sesungguhnya orang kaya adalah orang yang kaya dengan jiwanya
meskipun kedua pundaknya tidak berbalut pakaian.

Tidaklah segala sesuatu yang ada di atas bumi itu dapat mencukupi,
namun apabila engkau telah merasa cukup, maka segala sesuatu menjadi mencukupi.

Betapa kita sangat membutuhkan qanaah, wahai hamba-hamba Allah, yang mengembalikan ketenteraman ke dalam rumah-rumah kita, keridhaan dan ketenangan ke dalam hati kita, serta kasih sayang ke dalam hubungan kita.

Betapa banyak rumah tangga yang rusak karena perbandingan!

Betapa banyak keluarga yang terbebani utang karena persaingan!

Betapa banyak hati yang kelelahan karena terus melihat apa yang dimiliki orang lain!

Wahai orang yang melihat apa yang dimiliki orang lain, lihatlah nikmat yang telah Allah berikan kepadamu.

Wahai orang yang terus menghitung apa yang telah hilang darimu, hitunglah nikmat yang masih ada padamu.

Wahai orang yang mengeluhkan sempitnya kehidupan, jangan lupakan bahwa di antara nikmat terbesar adalah hati yang sehat, iman yang kokoh, kesehatan dan keselamatan, keluarga dan keamanan, serta berbagai nikmat yang tidak mungkin dihitung dan tidak akan mampu ditunaikan seluruh syukurnya.

Wahai orang yang mengeluhkan sedikitnya harta, renungkanlah berapa banyak nikmat yang Allah limpahkan kepadamu yang tidak mungkin dibeli dengan seluruh harta dunia.

Wahai orang yang selalu memperhatikan rezeki orang lain, tahanlah pandanganmu dari harta mereka dan lihatlah karunia Allah yang diberikan kepadamu.

Wahai orang yang membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain, janganlah engkau membandingkan sisi lahir kehidupanmu dengan sisi lahir kehidupan mereka. Sebab engkau tidak mengetahui apa yang ada di balik layar dan di balik pintu rumah mereka.

Wahai orang yang ingin hidup bahagia!

Belajarlah untuk mengatakan dari lubuk hatimu:

“Segala puji bagi Allah atas apa yang Dia berikan, segala puji bagi Allah atas apa yang Dia tahan, segala puji bagi Allah atas apa yang Dia pertahankan, dan segala puji bagi Allah atas apa yang Dia palingkan.”

Wahai orang-orang beriman!

Qanaah bukan berarti meninggalkan pekerjaan, bukan berarti meninggalkan usaha mencari rezeki, bukan berarti meninggalkan cita-cita, bukan pula berarti menyerah kepada kelemahan atau rela dengan kemalasan dan kekurangan.

Akan tetapi qanaah berarti engkau bekerja dan berusaha, sementara hatimu tetap bergantung kepada Rabbmu. Setelah engkau menempuh sebab-sebab, hatimu tetap ridha terhadap apa yang Allah bagikan kepadamu.

Ketamakan tidak memperbudakmu dan keinginan terhadap apa yang dimiliki orang lain tidak melelahkanmu.

Maka wahai hamba-hamba Allah, satukanlah antara usaha dan keridhaan, antara menempuh sebab-sebab dan bertawakal kepada Rabb seluruh makhluk.

Ketahuilah bahwa orang yang menjadikan ambisinya hanya untuk mengumpulkan dunia tidak akan pernah merasa kenyang darinya. Sedangkan orang yang menjadikan tujuannya adalah mencari keridhaan Allah, maka Allah akan mencukupkan segala sesuatu yang menjadi kegelisahannya.

Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita hati yang qanaah, jiwa yang ridha, rezeki yang baik, dan kehidupan yang penuh kenikmatan.

Aku menyampaikan perkataanku ini dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku dan kalian. Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan-Nya. Syukur kepada-Nya atas taufik dan karunia-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka.

Wahai hamba-hamba Allah!

Sesungguhnya Allah Ta‘ala menguji hamba-hamba-Nya dengan kebaikan dan keburukan sebagai ujian bagi mereka.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan kepada Kami kamu akan dikembalikan.”
(QS. Al-Anbiya: 35)

Orang miskin diuji dengan kemiskinan dan kebutuhannya, sedangkan orang kaya diuji dengan kekayaan dan hartanya.

Sesungguhnya salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada seorang hamba adalah Dia menganugerahkan kepadanya hati yang qanaah dan jiwa yang ridha.

Dengan demikian, ia bersyukur ketika berada dalam kelapangan dan kebahagiaan, serta bersabar ketika berada dalam kesulitan dan penderitaan.

Orang kaya maupun orang miskin, keduanya sama-sama membutuhkan qanaah.

Qanaahnya orang kaya adalah ia ridha dan bersyukur.

Qanaahnya orang miskin adalah ia ridha dan bersabar.

Wahai manusia!

Qanaah merupakan obat bagi berbagai penyakit jiwa dan kedengkian yang ada di dalamnya: kebencian, iri hati, hasad, dendam, kedengkian, kerakusan, kehinaan karena ketamakan, ketidakpuasan, banyak mengeluh, rasa tidak senang, kegelisahan, kecemasan, ketakutan, kesedihan, dan berbagai kegundahan.

Wahai hamba-hamba Allah!

Qanaah adalah akhlak yang dapat diperoleh dan keutamaan yang harus dilatih oleh jiwa.

Di antara perkara terbesar yang membantu seseorang untuk memiliki qanaah adalah iman kepada qadha dan qadar, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, yang manis maupun yang pahit.

Seorang mukmin mengetahui bahwa Rabbnya Mahabijaksana dalam menetapkan takdir dan Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.

Ia mengetahui bahwa apa yang menimpanya tidak mungkin luput darinya, dan apa yang luput darinya tidak mungkin akan menimpanya.

Nabi ﷺ bersabda:

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah kebaikan, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya.”

Di antara hal yang membantu seseorang memiliki qanaah adalah merenungkan hikmah Allah dalam perbedaan rezeki dan tingkatan manusia.

Hal tersebut agar bumi dapat dimakmurkan dan manusia dapat saling memberikan manfaat dan memenuhi berbagai kebutuhan serta kemaslahatan.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
(QS. Az-Zukhruf: 32)

Tidak boleh bagi seseorang untuk iri terhadap orang lain atas karunia yang Allah berikan kepadanya.

Sebaliknya, ia harus ridha terhadap pembagian Rabbnya, memohon karunia kepada-Nya, dan berusaha semaksimal mungkin dengan sebab-sebab yang dibenarkan.

Tidak akan mati suatu jiwa hingga ia menyempurnakan rezeki dan ajalnya.

Maka carilah rezeki dengan cara yang baik dan tidak berlebihan.

Di antara perkara yang membantu seseorang memiliki qanaah adalah hidup secara hemat, bersikap pertengahan dalam membelanjakan harta, serta tidak berlebihan dan tidak boros.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan harta secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.”
(QS. Al-Isra: 26–27)

Selanjutnya, wahai hamba-hamba Allah!

Bersikap lembutlah kepada orang-orang lemah dan kaum miskin.

Bersikaplah penuh kasih kepada orang-orang fakir dan mereka yang membutuhkan.

Jagalah nikmat agar tidak berubah menjadi ajang membanggakan diri, pamer, dan mempertontonkan kehidupan.

Jangan menjadikan nikmat yang kalian miliki sebagai sebab hancurnya hati saudara-saudara kalian dan melemahnya qanaah mereka.

Sesungguhnya di antara nikmat itu, bentuk mensyukurinya adalah menyembunyikannya.

Sungguh sangat disayangkan pada zaman kita ini, sebagian orang sengaja memotret apa yang Allah anugerahkan kepadanya berupa pakaian, makanan, minuman, perjalanan, rumah, dan kendaraan, kemudian menyebarkannya kepada manusia melalui media sosial.

Seakan-akan nikmat belum sempurna kecuali apabila orang lain melihatnya.

Padahal tidak semua yang engkau miliki pantas untuk engkau tampilkan, dan tidak semua yang mampu engkau lakukan harus engkau pertontonkan kepada manusia.

Sebab di balik layar terdapat jiwa-jiwa yang mungkin lalai terhadap qanaah. Tindakan tersebut dapat membuka pintu perbandingan.

Bisa jadi seseorang sedang membutuhkan kebutuhan-kebutuhan pokok, sementara engkau mempertontonkan berbagai kemewahan.

Hal itu dapat membuatnya merasakan kepedihan, ketidakberdayaan, dan bangkitnya rasa iri.

Betapa banyak orang yang melihat apa yang dimiliki orang lain sementara ia tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkan apa yang dilihatnya.

Akhirnya ia kembali ke rumah dalam keadaan patah hati dan hatinya dipenuhi rasa penyesalan serta kepedihan.

Betapa banyak orang miskin melihat berbagai kenikmatan yang tidak mampu ia miliki.

Betapa banyak orang yang kehilangan sesuatu melihat apa yang sangat ia dambakan sementara ia tidak memiliki jalan untuk mendapatkannya.

Betapa banyak seorang ayah yang tidak mampu menyediakan bagi anak-anaknya sebagian dari apa yang ia lihat dimiliki oleh anak-anak orang lain.

Maka bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah.

Jagalah nikmat-nikmat Allah dengan bersyukur.

Jagalah hati para hamba Allah dengan kasih sayang.

Ketahuilah bahwa termasuk kesempurnaan kehormatan dan keluhuran akhlak adalah engkau bergembira dengan apa yang Allah berikan kepadamu, tanpa menjadikan kegembiraanmu sebagai sebab kesedihan orang lain, kebahagiaanmu sebagai sebab kesedihan seorang fakir, dan nikmatmu sebagai sebab hilangnya qanaah seorang Muslim.

Wahai orang yang Allah luaskan rezekinya!

Bersyukurlah kepada Allah.

Berilah makan orang yang kelaparan.

Berikanlah kepada orang yang tidak memiliki.

Berusahalah memberikan kebahagiaan kepada orang yang membutuhkan.

Apabila engkau ingin menampakkan nikmat Allah yang ada padamu, maka tampakkanlah pengaruh nikmat tersebut dalam sedekahmu, dalam baktimu, dalam kebaikanmu, dalam menyambung silaturahmi, dan dalam berbuat ihsan, disertai keikhlasan kepada Rabbmu.

Jangan menampakkannya dalam bentuk gambar atau tampilan yang membebani hati orang lain.

Maka sembunyikanlah, wahai hamba-hamba Allah, sebagian nikmat Allah yang menyembunyikannya lebih lembut bagi hati saudara-saudara kalian, lebih jauh dari sikap membanggakan diri, dan lebih membantu mereka untuk memiliki qanaah.

Ya Allah, jadikanlah kami merasa cukup dengan rezeki yang Engkau berikan kepada kami dan berkahilah rezeki tersebut bagi kami.

Ya Allah, cukupkanlah kami dengan yang halal sehingga kami tidak membutuhkan yang haram, dan cukupkanlah kami dengan karunia-Mu sehingga kami tidak membutuhkan selain-Mu.

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang banyak mengingat-Mu dan banyak bersyukur atas nikmat-nikmat-Mu.

Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan dunia sebagai ambisi terbesar kami dan jangan pula menjadikannya sebagai batas tertinggi pengetahuan kami. Jangan Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri walaupun hanya sekejap mata.

Ya Allah, cintakanlah kepada kami keimanan dan hiasilah ia di dalam hati kami. Jadikanlah kami membenci kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan jalan yang benar.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin. Tolonglah hamba-hamba-Mu yang bertauhid. Ya Allah, jadikanlah negeri ini aman dan tenteram, demikian pula seluruh negeri kaum Muslimin.

Ya Allah, kekalkanlah keamanan, keselamatan, dan kestabilan di negeri kami. Jagalah negeri kami dari segala keburukan dan perkara yang tidak menyenangkan. Jauhkan darinya tipu daya orang-orang yang berbuat tipu daya, makar orang-orang yang berbuat makar, kedengkian orang-orang yang dengki, dan hasad orang-orang yang hasad, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, jagalah perbatasan kami. Berilah taufik kepada para tentara kami yang berjaga. Luruskan tembakan mereka, teguhkan langkah mereka, jadikan mereka sebagai perisai yang kokoh, dan menangkanlah mereka atas orang-orang yang memusuhi mereka.

Ya Allah, perbaikilah keadaan kaum Muslimin. Perbaikilah hubungan di antara mereka. Satukanlah kalimat mereka di atas kebenaran, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami, Penjaga Dua Tanah Suci, dengan taufik-Mu. Berikanlah kepadanya dukungan-Mu dan muliakanlah agama-Mu melalui dirinya, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, berikanlah taufik kepadanya dan kepada Putra Mahkotanya untuk melakukan perkara-perkara yang Engkau cintai dan Engkau ridhai, wahai Dzat Yang Maha Mendengar doa.

Ya Allah, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad, kepada keluarga beliau dan seluruh sahabat beliau.


Senin, 12 Oktober 2026

TAFSIR SURAT AL BAQARAH 204


Terjemah Tafsir Ibnu al-Jauzi
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 204

Karya Imam Ibnul Jauzi رحمه الله (wafat 597 H)

Firman Allah Ta'ala:
“Dan di antara manusia ada orang yang perkataannya tentang kehidupan dunia membuatmu kagum, dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada di dalam hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras.”
(QS. Al-Baqarah: 204)

1. Sebab Turunnya Ayat
Firman Allah Ta'ala:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Dan di antara manusia ada orang yang perkataannya tentang kehidupan dunia membuatmu kagum.”

Para ulama berbeda pendapat mengenai siapa yang menjadi sebab turunnya ayat ini.

Terdapat tiga pendapat : 

Pendapat pertama: 

Ayat ini turun mengenai Al-Akhnas bin Syuraiq
Pendapat pertama menyatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Al-Akhnas bin Syuraiq.

Dia adalah orang yang tutur katanya lembut, tetapi hatinya kafir. Dia menampakkan sikap yang baik kepada Nabi ﷺ dan bersumpah kepada beliau bahwa dirinya mencintai beliau serta mengikuti agama beliau, padahal sesungguhnya dia menyembunyikan sesuatu yang berbeda dari apa yang dia tampakkan.

Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, As-Suddi, dan Muqatil.

Pendapat kedua: 
Ayat ini turun mengenai orang-orang munafik
Pendapat kedua menyatakan bahwa ayat ini turun mengenai orang yang melakukan kemunafikan, yaitu orang yang menampakkan dengan lisannya sesuatu yang tidak terdapat di dalam hatinya.

Pendapat ini dikemukakan oleh Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, dan Ibnu Zaid.

Pendapat ketiga: 
Ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa Sariyah Ar-Raji'
Pendapat ketiga menyatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa pasukan Ar-Raji'.

Kisahnya adalah sebagai berikut.

Orang-orang kafir Quraisy mengirim utusan kepada Nabi ﷺ ketika beliau berada di Madinah. 

Mereka berkata:
“Sesungguhnya kami telah masuk Islam. 
Oleh karena itu, utuslah beberapa orang sahabatmu kepada kami untuk mengajarkan agama kami.”

Maka Nabi ﷺ mengutus sejumlah sahabat. 
Mereka adalah :  
Khubaib bin Adi, 
Martsad Al-Ghanawi, 
Khalid bin Bukair, 
Abdullah bin Thariq, 
dan Zaid bin Ad-Datsinah.

 Beliau menunjuk Ashim bin Tsabit sebagai pemimpin mereka.

Mereka pun berangkat menuju Makkah. 

Dalam perjalanan, mereka singgah di suatu tempat di antara Makkah dan Madinah.

 Mereka membawa bekal berupa kurma dan memakannya.

Kemudian, seorang perempuan tua melewati tempat tersebut dan melihat biji-biji kurma yang mereka tinggalkan. 

Perempuan itu kembali kepada kaumnya seraya berkata:
“Orang-orang Yatsrib telah melewati jalan ini!”

Maka, tujuh puluh orang dari kalangan mereka menaiki kendaraan hingga mengepung para sahabat tersebut.

Para sahabat itu pun memerangi mereka. 

Dalam pertempuran tersebut, Martsad, Khalid, dan Ibnu Thariq terbunuh.

Ashim kemudian mengeluarkan tempat anak panahnya. 

Di dalamnya terdapat tujuh anak panah. 

Dengan setiap anak panah, dia berhasil membunuh seorang tokoh terkemuka dari pihak musuh.

Setelah itu, Ashim berdoa:
“Ya Allah, sesungguhnya pada awal hari ini aku telah melindungi agama-Mu. 
Maka, lindungilah daging tubuhku pada akhir hari ini.”

Kemudian, mereka mengepung Ashim dan membunuhnya.

Orang-orang kafir itu bermaksud memenggal kepala Ashim untuk menjualnya kepada Sulafah binti Sa'ad.

 Sebab, Ashim pernah membunuh beberapa anggota keluarganya. 

Perempuan itu telah bernazar bahwa jika dia berhasil memperoleh kepala Ashim, dia pasti akan meminum khamar dari tempurung kepalanya.

Lalu, Allah Ta'ala mengirimkan sekelompok serangga yang disebut ad-dubar, yaitu tawon, untuk melindungi jasad Ashim.

 Orang-orang kafir itu tidak mampu mendekatinya.

Mereka kemudian berkata:
“Biarkanlah dia sampai petang, agar serangga-serangga itu pergi meninggalkannya.
 Setelah itu, kita akan mengambilnya.”

Namun, datanglah awan yang menurunkan hujan sangat deras, seperti air yang tercurah dari tempat-tempat penampungan air. 

Allah kemudian mengalirkan air lembah yang membawa jasad Ashim pergi.

Adapun Khubaib dan Zaid, keduanya berhasil ditawan.

Bani Al-Harits bin Amir membeli Khubaib untuk membunuhnya, karena Khubaib pernah membunuh ayah-ayah mereka.

Ketika mereka membawa Khubaib keluar untuk membunuhnya, dia berkata:
“Biarkanlah aku melaksanakan salat dua rakaat.”

Mereka pun membiarkannya, lalu Khubaib melaksanakan salat dua rakaat.

Setelah selesai, dia berkata:
“Seandainya bukan karena kalian akan mengatakan bahwa Khubaib ketakutan, niscaya aku akan menambah salatku.”

Kemudian, dia melantunkan syair:

وَلَسْتُ أُبَالِي حِينَ أُقْتَلُ مُسْلِمًا
عَلَى أَيِّ شِقٍّ كَانَ فِي اللَّهِ مَصْرَعِي

“Aku tidak peduli ketika aku dibunuh dalam keadaan Muslim, di sisi mana pun tubuhku akan terjatuh karena Allah.”

وَذَلِكَ فِي ذَاتِ الْإِلَهِ وَإِنْ يَشَأْ
يُبَارِكْ عَلَى أَوْصَالِ شِلْوٍ مُمَزَّعِ

“Semua itu demi Zat Allah. 
Jika Dia menghendaki, Dia akan memberikan keberkahan pada anggota-anggota tubuh yang telah tercabik-cabik.”

Kemudian, mereka menyalib Khubaib dalam keadaan masih hidup.

Khubaib berkata:
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa tidak ada seorang pun di sekelilingku yang dapat menyampaikan salamku kepada Rasul-Mu.”

Lalu, datanglah seorang laki-laki dari kalangan mereka yang bernama Abu Sirwa'ah. 

Dia membawa sebuah tombak dan meletakkannya di hadapan Khubaib.

Khubaib berkata kepadanya:
“Bertakwalah kepada Allah!”

Namun, perkataan tersebut justru semakin menambah kedurhakaannya.

Adapun Zaid, 
dia dibeli oleh Shafwan bin Umayyah untuk dibunuh sebagai pembalasan atas kematian ayahnya.

Ketika Zaid dibawa untuk dibunuh, 
Abu Sufyan bin Harb datang menemuinya dan berkata:

“Wahai Zaid! Aku memintamu bersumpah demi Allah, apakah engkau lebih suka jika Muhammad sekarang berada di tempatmu, sementara engkau berada bersama keluargamu?”

Zaid menjawab:

“Demi Allah, aku tidak suka jika Muhammad sekarang berada di tempatnya, lalu beliau tertusuk duri yang menyakitinya, sementara aku duduk bersama keluargaku.”

Setelah itu, Zaid pun dibunuh.

Berita tersebut sampai kepada Nabi ﷺ. Beliau kemudian bersabda:

“Siapakah di antara kalian yang bersedia mengambil Khubaib dari kayu tempat penyalibannya, dan baginya surga?”

Az-Zubair berkata:
“Aku dan sahabatku, Al-Miqdad.”

Maka, keduanya berangkat.

 Mereka berjalan pada malam hari dan bersembunyi pada siang hari hingga tiba di tempat tersebut.

Ternyata, di sekitar kayu penyaliban itu terdapat empat puluh orang musyrik yang sedang tidur dalam keadaan mabuk.

Mereka mendapati jasad Khubaib masih segar dan lentur. 

Tidak ada sesuatu pun yang berubah pada jasadnya meskipun telah berlalu empat puluh hari.

Az-Zubair kemudian mengangkat jasad Khubaib dan meletakkannya di atas kudanya. 

Setelah itu, dia berangkat pergi.

Namun, tujuh puluh orang dari kalangan musyrik mengejar mereka.

Az-Zubair kemudian menjatuhkan jasad Khubaib, lalu bumi menelannya.

Az-Zubair berkata:

“Apa yang membuat kalian berani menghadapi kami, wahai orang-orang Quraisy?”

Kemudian, dia mengangkat penutup kepalanya seraya berkata:

“Aku adalah Az-Zubair bin Al-Awwam. 

Ibuku adalah Shafiyyah binti Abdul Muthalib. 

Bersamaku ada sahabatku, Al-Miqdad. 

Kami berdua adalah dua ekor singa yang sedang berbaring untuk melindungi anak-anaknya.

Jika kalian menghendaki, aku akan bertarung dengan kalian menggunakan senjata dari kejauhan. 

Jika kalian menghendaki, aku akan menghadapi kalian secara langsung. 

Dan jika kalian menghendaki, kalian boleh pergi.”

Mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut.

Az-Zubair dan Al-Miqdad kemudian kembali menemui Rasulullah ﷺ. 

Ketika itu, Jibril sedang berada di sisi beliau.

Jibril berkata:

“Wahai Muhammad, sesungguhnya para malaikat benar-benar membanggakan kedua orang sahabatmu ini.”

Sebagian orang munafik kemudian berkata mengenai para sahabat Khubaib yang terbunuh:

“Celakalah orang-orang yang terbunuh itu! 

Mereka tidak tinggal duduk di rumah mereka, dan mereka juga tidak berhasil menunaikan tugas yang diberikan oleh sahabat mereka.”

Maka, Allah Ta'ala menurunkan ayat ini 
beserta tiga ayat setelahnya berkaitan dengan 
Az-Zubair, 
Al-Miqdad, 
Khubaib 
dan para sahabatnya, 
serta orang-orang munafik tersebut.

Kisah panjang ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas.


2. Tafsir Firman Allah: 
“Dan Dia Menjadikan Allah sebagai Saksi atas Apa yang Ada di Dalam Hatinya”

Allah Ta'ala berfirman:

وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ

“Dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada di dalam hatinya.”

Mengenai makna ayat ini, terdapat dua pendapat.

Pendapat pertama:
Orang tersebut berkata:
“Sesungguhnya Allah menjadi saksi bahwa apa yang diucapkan oleh lisanku adalah sama dengan apa yang ada di dalam hatiku.”

Dengan kata lain, dia mengaku bahwa perkataannya sesuai dengan isi hatinya dan menjadikan Allah sebagai saksi atas pengakuan tersebut.

Pendapat kedua:
Orang tersebut berkata:
“Ya Allah, saksikanlah perkataanku ini!”

Artinya, dia meminta Allah menjadi saksi atas apa yang diucapkannya.

Perbedaan bacaan ayat
Ibnu Mas'ud membaca ayat tersebut dengan tambahan huruf sin dan ta', yaitu:

وَيَسْتَشْهِدُ اللَّهَ

Bacaan ini mengandung makna meminta Allah menjadi saksi.

Adapun Al-Hasan Al-Bashri, Thalhah bin Musharrif, Ibnu Muhayshin, dan Ibnu Ablah membaca:

وَيَشْهَدُ اللَّهُ

Dalam bacaan ini, huruf ya' pada kata yasyhadu dibaca dengan fathah, sedangkan lafaz Allah dibaca dengan harakat rafa'.

3. Tafsir Firman Allah:
 “Padahal Dia Adalah Penentang yang Paling Keras”

Allah Ta'ala berfirman:

وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ

“Padahal dia adalah penentang yang paling keras.”

Kata الْخِصَامُ (al-khishām) merupakan bentuk jamak dari kata خَصْمٌ (khashm), yang berarti pihak yang berselisih atau lawan dalam suatu perselisihan.

Dalam bahasa Arab, bentuk-bentuk kata yang digunakan antara lain khashm, khishām, dan khushūm.

Az-Zajjaj berkata:
Kata الْأَلَدُّ (al-aladd) berarti orang yang sangat keras dalam permusuhan dan perdebatan.

Kata tersebut berasal dari ungkapan لَدِيدَيِ الْعُنُقِ, yaitu kedua sisi leher.

Makna yang dimaksud ialah bahwa orang tersebut, dalam menghadapi lawannya, akan mengalahkannya dari sisi mana pun pintu perdebatan itu dimasuki.

Dengan kata lain, dia sangat keras dalam berdebat dan berselisih, serta berusaha mengungguli lawannya melalui berbagai cara.





Kesimpulan makna ayat: 

Ayat ini menggambarkan orang yang tutur katanya mengagumkan, bahkan bersumpah dengan menyebut Allah untuk membenarkan pengakuannya, padahal kenyataan batinnya berbeda. 

Ia juga sangat keras dalam permusuhan dan perdebatan.

Ayat ini mengingatkan kita agar tidak menilai kejujuran seseorang hanya berdasarkan kefasihan berbicara, sumpah yang diucapkan, atau penampilan lahiriahnya.

Perkataan yang baik harus disertai kejujuran hati dan kesesuaian antara ucapan dengan perbuatan.






Terjemah Kitab Naẓm ad-Durar fī Tanāsub al-Āyāt wa as-Suwar
Karya Imam Burhanuddin al-Biqa‘i (wafat 885 H)

Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 204

Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن یُعۡجِبُكَ قَوۡلُهُۥ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَا وَیُشۡهِدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا فِی قَلۡبِهِۦ وَهُوَ أَلَدُّ ٱلۡخِصَامِ ۝٢٠٤﴾

Artinya:
“Di antara manusia ada orang yang perkataannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada dalam hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras.”
(QS. Al-Baqarah: 204)

Penjelasan Tafsir Imam al-Biqa‘i
Ketika sebelumnya Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah menyebutkan orang yang hanya menginginkan dunia dan orang yang menginginkan kedua negeri, yakni dunia dan akhirat, masih tersisa beberapa kemungkinan golongan manusia berdasarkan pembagian yang dapat dipahami oleh akal.

Di antara golongan tersebut adalah orang yang berpaling dari kedua negeri itu, tetapi golongan semacam ini tidak ditemukan dalam pembahasan tersebut sehingga tidak disebutkan. 

Golongan lainnya adalah orang yang hanya menginginkan akhirat.

Masing-masing golongan itu terkadang menyembunyikan apa yang ada dalam hatinya dan terkadang menampakkannya secara terang-terangan.

Adapun hal yang harus diwaspadai di antara golongan-golongan tersebut adalah orang yang secara tersembunyi menginginkan dunia, tetapi menampakkan bahwa dirinya menginginkan akhirat.

Orang seperti inilah yang disebut sebagai orang munafik.

Oleh karena itu, Allah memulai pembahasan tentangnya setelah menyebutkan ketakwaan dan peristiwa penghimpunan manusia pada hari Kiamat (al-ḥasyr).

 Tujuannya adalah agar ancaman tersebut langsung menghunjam sejak awal, sekaligus menjadikan orang itu sebagai sasaran peringatan keras tentang hari penghimpunan manusia.

Allah menyampaikan ayat ini dengan susunan ungkapan yang serupa dengan pembahasan tentang orang-orang munafik pada permulaan surah. 

Dengan demikian, pendengar akan kembali mengingat kisah-kisah mereka dan menghadirkan kembali keadaan mereka dalam ingatannya.

Hal ini menjadi semakin tepat karena jarak pembahasan antara penyebutan orang-orang munafik pada awal surah dan ayat ini cukup panjang, sehingga peristiwa yang telah disebutkan sebelumnya mungkin telah lama berlalu dari ingatan pendengar.

Kemudian Allah berfirman:

1. Firman Allah:

 ﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ﴾

“Dan di antara manusia ada orang yang...”

Maksudnya, di antara manusia terdapat seseorang, atau orang tertentu, yang memiliki sifat sebagaimana akan dijelaskan dalam ayat ini.

2. Firman Allah: 
﴿يُعْجِبُكَ﴾

“Yang menarik hatimu.”

Maksudnya, perkataannya membuatmu merasa kagum, memikat hatimu, dan mengambil alih perhatianmu secara menyeluruh, wahai orang yang diajak berbicara.

Hal ini sebagaimana telah kami jelaskan pada permulaan surah, bahwa orang tersebut melakukan tipu daya.

Kata yu‘jibuka (يُعْجِبُكَ) 
berasal dari kata i‘jāb (إعجاب), yang bersumber dari kata ‘ajab (عجب), 
yaitu keadaan ketika sesuatu tampak berbeda dari hal-hal lain yang sejenis dengannya, sehingga menjadi sesuatu yang luar biasa atau langka dalam bentuk dan keadaannya.

Demikianlah penjelasan yang dikemukakan oleh al-Ḥarālī.

Al-Aṣbahānī berkata:
Kekaguman merupakan suatu keadaan yang menyelimuti manusia ketika ia mengetahui adanya kesempurnaan yang sebabnya tidak diketahui.

Adapun ar-Rāghib al-Aṣfahānī menjelaskan bahwa kekaguman bukanlah sesuatu yang melekat pada suatu benda berdasarkan zatnya sendiri. 
Akan tetapi, hal itu bergantung pada hubungan antara orang yang mengetahui sebab sesuatu dan orang yang tidak mengetahui sebabnya.

Hakikat ungkapan a‘jabanī kadzā (أَعْجَبَنِي كَذَا), 
yang berarti “sesuatu itu membuatku kagum”, 
adalah bahwa sesuatu tersebut tampak di hadapanku dengan cara yang belum kuketahui sebabnya.

Dengan demikian, seseorang dapat merasa kagum terhadap suatu perkataan karena perkataan itu tampak luar biasa baginya, sedangkan sebab yang membuatnya demikian belum diketahuinya.

3. Firman Allah: 
﴿قَوْلُهُ﴾
“Perkataannya.”

Maksudnya, perkataan orang tersebutlah yang membuatmu kagum dan terpikat.

Ia mampu menyampaikan kata-kata yang tampak indah, meyakinkan, dan memikat hati.

 Akan tetapi, keindahan perkataannya itu tidak serta-merta menunjukkan kebenaran isi hatinya.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, orang semacam ini menggunakan perkataannya untuk melakukan tipu daya.

 Ia menampakkan sesuatu yang baik melalui lisannya, padahal keadaan batinnya bisa berbeda dari apa yang ditampakkannya.

4. Firman Allah: 
﴿فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا﴾

“Dalam kehidupan dunia.”

Karena penyebutan orang semacam ini datang setelah pembahasan tentang hari penghimpunan manusia pada hari Kiamat, mungkin muncul dugaan bahwa perkataan atau kekaguman yang dimaksud terjadi dalam keadaan tersebut.

Oleh sebab itu, Allah membatasinya dengan firman-Nya, “dalam kehidupan dunia”, yakni perkataan yang menarik hati itu terjadi di kehidupan dunia.

Selama orang tersebut hidup di dunia, ia justru semakin memperindah perkataannya dan semakin berusaha membuatnya tampak baik.

 Pada saat yang sama, ia semakin berusaha menyamarkan keburukan perbuatannya yang tersembunyi.

Adapun di akhirat, perkataannya tidak lagi tampak baik dan tidak lagi menimbulkan kekaguman.

Dengan demikian, keindahan perkataannya di dunia tidak menunjukkan bahwa dirinya benar-benar baik.
 Sebab, keindahan tersebut bisa jadi hanyalah penampilan lahiriah yang digunakan untuk menutupi keburukan batinnya.

5. Firman Allah:
 ﴿وَيُشْهِدُ اللَّهَ﴾

“Dan dia menjadikan Allah sebagai saksi.”

Maksudnya, orang tersebut menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang dikatakannya.

Allah adalah Zat yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan.

Orang itu menggunakan nama Allah untuk menguatkan perkataannya dan membuat orang lain percaya kepadanya.

 Dengan menyebut Allah sebagai saksi, ia seolah-olah menegaskan bahwa perkataannya benar dan bahwa dirinya sungguh-sungguh memiliki niat yang baik.

Padahal, penggunaan nama Allah sebagai saksi tidak dengan sendirinya membuktikan kejujuran seseorang.

 Sebab, seseorang bisa saja mengucapkan sumpah atau menggunakan nama Allah untuk menguatkan perkataannya, sementara kenyataan yang tersembunyi dalam hatinya bertentangan dengan apa yang diucapkannya.

6. Firman Allah: 
﴿عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ﴾

“Atas apa yang ada dalam hatinya.”

Maksudnya, ia menjadikan Allah sebagai saksi bahwa apa yang ada dalam hatinya sesuai dengan apa yang telah ia tampakkan melalui lisannya.

Dengan kata lain, orang tersebut ingin meyakinkan orang lain bahwa perkataannya sesuai dengan isi hatinya, bahwa ia benar-benar tulus, dan bahwa apa yang ditampakkannya secara lahiriah merupakan gambaran dari keadaan batinnya.

Padahal, ia justru menyembunyikan kenyataan yang berbeda dari penampilan lahiriahnya.

Ia berusaha menampilkan dirinya sebagai orang yang baik dan jujur, sementara niat serta tujuan yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang diperlihatkannya.

7. Firman Allah: 
﴿وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ﴾

“Padahal dia adalah penentang yang paling keras.”

Maksudnya, keadaan orang tersebut justru bertentangan dengan penampilan baik yang diperlihatkannya.

Ia terus-menerus melakukan perdebatan dengan cara yang batil.

 Ia tidak berhenti dalam perdebatan dan pertengkarannya, bahkan terus melanjutkannya dengan keras.

Semua itu dilakukannya sambil tetap menampilkan dirinya seolah-olah berada di atas kebaikan dan memiliki perilaku yang terpuji.

Setiap kali terlibat dalam suatu perselisihan, ia berusaha mencari-cari alasan dan memberikan pembenaran terhadap perkataannya. 

Ia mengemas setiap sisi perdebatan dengan cara tertentu agar sesuatu yang sebenarnya buruk tampak baik, dan sesuatu yang seharusnya dipandang tercela seolah-olah menjadi indah.

Dengan demikian, ia berusaha mengalihkan perhatian orang lain dari keburukan yang terkandung dalam perkataan dan tindakannya menuju penampilan yang tampak menarik.

Makna kata al-ladad (اللَّدَد)
Al-Ḥarālī menjelaskan bahwa kata al-ladad berarti kerasnya permusuhan dan perdebatan.

Adapun kata al-khiṣām (الخِصَام), menurut penjelasannya, 
adalah perkataan dalam suatu perdebatan yang diarahkan kepada lawan bicara, 
sehingga orang yang mendengarnya seakan-akan menerima sesuatu yang dimasukkan ke dalam telinganya untuk menghalanginya dari mempertahankan keyakinan dan klaimnya.

Maksudnya, orang yang keras dalam perdebatan berusaha memengaruhi lawannya melalui perkataan-perkataannya, agar lawan tersebut tidak lagi mampu mempertahankan pendapat atau klaim yang sebelumnya ia pegang.

Al-Aṣbahānī berkata:
Kata al-khiṣām menunjukkan pendalaman pembahasan terhadap suatu perkara dan sikap mempersempit ruang gerak lawan dalam perdebatan.

Maksudnya, seseorang terus-menerus mendalami persoalan yang diperdebatkan dan mendesak lawannya dengan berbagai argumen, sehingga lawan tersebut berada dalam keadaan terpojok.

Al-Aṣbahānī juga menjelaskan bahwa kata al-khiṣām dapat dijadikan sebagai sifat yang menunjukkan tingkat yang sangat tinggi dalam permusuhan dan perdebatan.

 Dengan demikian, ungkapan al-khiṣām al-aladd menunjukkan orang yang sangat keras dan berlebihan dalam perdebatan.
Selesai penjelasan al-Aṣbahānī

Kesimpulan Makna Tafsir:

Dalam penjelasan ayat ini, Imam al-Biqa‘i menyoroti keadaan seseorang yang perkataannya tampak indah dan mengagumkan dalam kehidupan dunia, tetapi kenyataan batinnya berbeda dari apa yang ditampakkannya.

Orang tersebut menggunakan perkataan yang memikat dan bahkan menjadikan Allah sebagai saksi untuk meyakinkan orang lain bahwa dirinya benar-benar tulus.

 Namun, ketika berhadapan dengan perselisihan, ia memperlihatkan sifat keras dalam perdebatan dan terus mempertahankan kebatilan dengan berbagai pembenaran.

Karena itu, keindahan perkataan, penggunaan nama Allah, dan kemampuan berargumentasi tidak dengan sendirinya menjadi bukti ketulusan hati atau kebenaran seseorang. 

Perkataan harus dinilai berdasarkan kesesuaiannya dengan kebenaran, sedangkan keadaan seseorang perlu dilihat dari keselarasan antara perkataan, niat, dan perbuatannya.

Ayat ini juga mengingatkan bahwa keburukan seseorang terkadang tidak tampak melalui perkataannya, melainkan justru tersingkap melalui sikap dan perilakunya ketika menghadapi perselisihan.

Dengan demikian, peringatan ayat ini bukan sekadar tentang orang yang pandai berbicara, melainkan tentang bahaya ketidaksesuaian antara penampilan lahiriah dan keadaan batin, serta bahaya menggunakan perkataan yang indah untuk menutupi kebatilan.







Terjemah Tafsir Ibnu Katsir
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 204

Karya Al-Hafizh Ismail bin Umar bin Katsir rahimahullah (wafat 774 H)

Firman Allah Ta'ala

وَمِنَ النَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ ۝٢٠٤

“Dan di antara manusia ada orang yang perkataannya tentang kehidupan dunia membuatmu kagum, dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada di dalam hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras.” (QS. Al-Baqarah: 204)

1. Sebab Turunnya Ayat dan Cakupan Maknanya

As-Suddi berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan Al-Akhnas bin Syuraiq Ats-Tsaqafi.

 Dia datang menemui Rasulullah ﷺ, menampakkan keislamannya, padahal di dalam batinnya tersimpan sesuatu yang bertentangan dengan hal itu.”

Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini turun berkenaan dengan sekelompok orang munafik yang membicarakan Khubaib dan para sahabatnya yang terbunuh di Ar-Raji‘. 

Mereka mencela Khubaib dan para sahabatnya tersebut.

Maka Allah menurunkan ayat untuk mencela orang-orang munafik dan memuji Khubaib beserta para sahabatnya, 
yaitu firman-Nya:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah.” (QS. Al-Baqarah: 207)

Ada pula yang berpendapat bahwa ayat tersebut berlaku secara umum, mencakup seluruh orang munafik dan seluruh orang beriman.
Inilah pendapat Qatadah, Mujahid, Ar-Rabi‘ bin Anas, dan beberapa ulama lainnya.
Pendapat inilah yang benar.

2. Gambaran Orang yang Memperalat Agama untuk Kepentingan Dunia

Ibnu Jarir berkata, “Yunus telah menceritakan kepadaku, 
Ibnu Wahb telah mengabarkan kepada kami, 
Al-Laits bin Sa‘ad telah mengabarkan kepadaku, 
dari Khalid bin Yazid, 
dari Sa‘id bin Abi Hilal, 
dari Al-Qurazhi, 
dari Nauf—yaitu Al-Bikali, 
yang termasuk orang yang membaca kitab-kitab terdahulu—ia berkata:
‘Sungguh, aku menemukan gambaran tentang sekelompok orang dari umat ini di dalam kitab Allah yang diturunkan.

 Mereka adalah suatu kaum yang mencari keuntungan dunia melalui agama. 

Lidah mereka lebih manis daripada madu, sedangkan hati mereka lebih pahit daripada tanaman ash-shabr.

Mereka mengenakan kulit domba di hadapan manusia, tetapi hati mereka adalah hati serigala.

Allah Ta‘ala berfirman,
 “Apakah terhadap-Ku mereka berani lancang? 
Apakah dengan-Ku mereka tertipu? 
Aku bersumpah demi diri-Ku, sungguh, 
Aku akan menimpakan kepada mereka suatu fitnah yang membuat orang yang bijaksana sekalipun menjadi kebingungan di dalamnya.”’

Al-Qurazhi berkata, ‘Aku merenungkan gambaran tersebut di dalam Al-Qur’an.

 Ternyata, mereka adalah orang-orang munafik.

 Kemudian aku menemukan ayat ini:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ

“Dan di antara manusia ada orang yang perkataannya tentang kehidupan dunia membuatmu kagum, dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada di dalam hatinya.”’”

3. Riwayat Lain tentang Orang yang Memperalat Agama

Muhammad bin Abi Ma‘syar menceritakan kepadaku. Ayahku, Abu Ma‘syar Najih, mengabarkan kepadaku, 
ia berkata:
“Aku mendengar Sa‘id Al-Maqburi berdiskusi dengan Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi. 
Sa‘id berkata:
‘Sesungguhnya, di dalam sebagian kitab terdapat keterangan:
“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang lidah mereka lebih manis daripada madu, sedangkan hati mereka lebih pahit daripada tanaman ash-shabr. 
Mereka mengenakan kulit domba di hadapan manusia karena kelembutan yang mereka tampakkan, tetapi mereka mencari keuntungan dunia melalui agama.
Allah Ta‘ala berfirman,
 ‘Apakah terhadap-Ku mereka berani lancang? 
Apakah dengan-Ku mereka tertipu? 
Demi kemuliaan-Ku, 
sungguh, Aku akan menimpakan kepada mereka suatu fitnah yang membuat orang yang bijaksana di antara mereka menjadi kebingungan.’”’

Muhammad bin Ka‘b berkata, ‘Hal ini terdapat di dalam Kitabullah.’

Sa‘id bertanya, ‘Di bagian mana hal itu terdapat di dalam Kitabullah?’

Muhammad bin Ka‘b menjawab, ‘Dalam firman Allah:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Dan di antara manusia ada orang yang perkataannya tentang kehidupan dunia membuatmu kagum.”’”

Sa‘id berkata, “Aku sudah mengetahui siapa yang menjadi sebab turunnya ayat ini.”

Muhammad bin Ka‘b berkata, “Sesungguhnya, suatu ayat bisa saja turun berkenaan dengan seseorang, kemudian setelah itu hukumnya berlaku secara umum.”

Apa yang dikatakan oleh Al-Qurazhi ini merupakan pendapat yang baik dan benar.

4. Makna Firman Allah: 
“Dan Dia Menjadikan Allah sebagai Saksi atas Apa yang Ada di Dalam Hatinya”

Adapun firman Allah Ta'ala:

وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ

“Dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada di dalam hatinya.”

Ibnu Muhayshin membaca lafaz tersebut dengan bentuk:

وَيَشْهَدُ اللَّهُ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ

Dengan huruf ya berharakat fathah dan lafaz Allah berharakat dhammah sebagai subjek kalimat.

Menurut bacaan ini, maknanya adalah bahwa meskipun orang tersebut menampakkan berbagai tipu daya di hadapan kalian, Allah tetap mengetahui keburukan yang tersembunyi di dalam hatinya.

Hal ini serupa dengan firman Allah Ta'ala:

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar Rasul Allah.’ Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya, dan Allah bersaksi bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (QS. Al-Munafiqun: 1)

Adapun bacaan mayoritas ulama adalah dengan huruf ya berharakat dhammah dan lafaz Allah berharakat fathah sebagai objek kalimat:

وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ

“Dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada di dalam hatinya.”

Maknanya adalah bahwa orang tersebut menampakkan keislaman kepada manusia, tetapi pada saat yang sama, dia secara terang-terangan mempertentangkan dirinya dengan Allah melalui kekufuran dan kemunafikan yang tersimpan di dalam hatinya.

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala:

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ

“Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah.” (QS. An-Nisa': 108)

Inilah makna riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Ishaq, 
dari Muhammad bin Abi Muhammad, 
dari Ikrimah, dari Sa‘id bin Jubair, 
dari Ibnu Abbas.

Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa maknanya ialah: 
ketika orang tersebut menampakkan keislamannya di hadapan manusia, dia bersumpah dan menjadikan Allah sebagai saksi bagi mereka bahwa apa yang ada di dalam hatinya sesuai dengan apa yang diucapkan oleh lisannya.
Makna ini benar.
Pendapat tersebut dikemukakan oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. 
Ibnu Jarir memilih pendapat ini dan menisbatkannya kepada Ibnu Abbas. 
Ia juga meriwayatkannya dari Mujahid.
Allah lebih mengetahui kebenarannya.

5. Makna Firman Allah:

 “Padahal Dia adalah Penentang yang Paling Keras”

Allah Ta'ala berfirman:

وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ

“Padahal dia adalah penentang yang paling keras.”

Kata الْأَلَدُّ (al-aladd) dalam bahasa Arab berarti orang yang menyimpang atau berbelit-belit dari kebenaran.

Hal ini serupa dengan firman Allah Ta'ala:
وَتُنْذِرَ بِهِ قَوْمًا لُدًّا

“Dan agar engkau memberi peringatan dengannya kepada kaum yang sangat keras membangkang.” (QS. Maryam: 97)

Artinya, mereka adalah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran.

Demikian pula keadaan orang munafik ketika terlibat dalam perselisihan. 
Ia berdusta, berpaling dari kebenaran, dan tidak mau bersikap lurus terhadapnya. Bahkan, ia membuat-buat kebohongan dan melampaui batas.

Sebagaimana telah ditetapkan dalam hadis sahih dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara, ia berdusta; apabila berjanji, ia mengkhianati; dan apabila berselisih, ia melampaui batas.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

6. Orang yang Paling Dibenci oleh Allah dalam Perselisihan

Al-Bukhari berkata, 
“Qabishah telah menceritakan kepada kami, 
Sufyan telah menceritakan kepada kami, 
dari Ibnu Juraij, 
dari Ibnu Abi Mulaikah, 
dari Aisyah radhiyallahu 'anha, yang menisbatkan hadis ini kepada Nabi ﷺ. 
Beliau bersabda:

أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ

‘Orang yang paling dibenci oleh Allah di antara kaum laki-laki adalah orang yang paling keras dalam pertengkaran.’”

Al-Bukhari juga berkata, “Abdullah bin Yazid berkata, Sufyan telah menceritakan kepada kami, 
Ibnu Juraij telah menceritakan kepadaku, 
dari Ibnu Abi Mulaikah, 
dari Aisyah, 
dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ

‘Sesungguhnya, orang yang paling dibenci oleh Allah di antara kaum laki-laki adalah orang yang paling keras dalam pertengkaran.’”

Demikian pula hadis ini diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, dari Ma‘mar, mengenai firman Allah Ta'ala:
وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ

“Padahal dia adalah penentang yang paling keras.”

Riwayat tersebut berasal dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Aisyah, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda:

إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ

“Sesungguhnya, orang yang paling dibenci oleh Allah di antara kaum laki-laki adalah orang yang paling keras dalam pertengkaran.”


Catatan penting dari penjelasan Ibnu Katsir:

Perkataan yang menarik tidak selalu mencerminkan kebenaran hati. 

Seseorang bisa berbicara dengan indah, menampakkan kesalehan, dan bersumpah atas nama Allah, padahal batinnya menyimpan keburukan.

Memperalat agama untuk memperoleh keuntungan dunia merupakan sifat tercela.

Gambaran orang yang lisannya manis, tetapi hatinya menyimpan keburukan, menjadi peringatan agar kaum muslimin tidak tertipu oleh penampilan dan retorika semata.

Ayat ini memiliki cakupan umum. 
Meskipun terdapat riwayat yang menghubungkannya dengan orang-orang tertentu, Ibnu Katsir menegaskan bahwa pendapat yang benar adalah ayat ini mencakup seluruh orang munafik dan menjadi peringatan bagi manusia secara umum.

Keras dalam perselisihan bukanlah tanda kekuatan yang terpuji. 

Apabila seseorang berdusta, memutarbalikkan fakta, dan melampaui batas demi memenangkan perdebatan, ia memiliki sifat tercela yang diperingatkan dalam ayat ini dan hadis Nabi ﷺ.

Allah mengetahui hakikat hati manusia. 

Seseorang mungkin dapat menipu manusia melalui ucapan dan penampilannya, tetapi tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah.

Wallahu a'lam bish-shawab.