Jumat, 03 Juli 2026

BAIK SANGKA KEPADA ALLAH TA'ALA



BERBAIK SANGKA KEPADA ALLAH TA'ALA

karya Syaikh Abdurrahman bin Abdullah Al-Huwaimil.

Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. 
Dia telah memilih hamba-hamba-Nya yang bertauhid, serta menjanjikan kepada mereka pertolongan, kemuliaan, dan kekuasaan. Maka mereka pun berbaik sangka kepada-Nya dan memurnikan agama hanya untuk-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, suatu persaksian yang dibangun di atas tauhid, keikhlasan, dan keyakinan. 
Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, manusia terbaik di antara para nabi dan rasul.

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.

Amma ba'du....

Bertakwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah dengan sebenar-benar takwa, dan awasilah Dia dalam keadaan sendiri maupun di tengah keramaian.

Wahai hamba-hamba Allah,
Sesungguhnya di antara kedudukan iman yang paling agung dan derajat ihsan yang paling tinggi adalah seorang hamba meyakini tentang Rabbnya apa yang layak bagi-Nya berupa kesempurnaan, sehingga ia berbaik sangka kepada-Nya.

Berbaik sangka kepada Allah merupakan sifat orang-orang mukmin yang mengenal Rabbnya, sedangkan buruk sangka kepada Allah merupakan celaan terhadap tauhid, kerusakan dalam akidah, serta ciri khas orang-orang kafir dan munafik.

Allah Ta'ala berfirman:
"Dan agar Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allah. 
Mereka akan mendapat giliran kebinasaan, Allah murka kepada mereka, melaknat mereka, dan menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Itulah seburuk-buruk tempat kembali."

Allah juga berfirman:
"Mereka menyangka terhadap Allah dengan sangkaan jahiliah yang tidak benar." (Ali Imran: 154)

Orang-orang munafik dalam Perang Uhud telah berburuk sangka kepada Rabb mereka, agama-Nya, dan Rasul-Nya.

Mereka menyangka bahwa Allah tidak akan menyempurnakan urusan Rasul-Nya dan bahwa kekalahan tersebut merupakan akhir bagi agama Allah.

Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir As-Sa'di, Allah menjadikan orang-orang munafik dan orang-orang kafir berada dalam satu timbangan, yang sama-sama disatukan oleh buruk sangka mereka kepada Allah.

Maka siapa yang menyangka bahwa Allah akan menelantarkan orang yang bertawakal kepada-Nya, atau tidak menerima orang yang bertaubat kepada-Nya, atau tidak menerima amal orang yang beribadah dengan baik, berarti ia telah berburuk sangka kepada Allah.

Akibatnya, Allah akan menimpakan kepadanya apa yang ia sangkakan terhadap Allah sebagai balasan yang setimpal.

Sebaliknya, siapa yang berbaik sangka kepada Allah, maka Allah akan memperlakukannya sesuai prasangkanya.

Doa dan husnuzan kepada Allah adalah dua perkara yang saling berkaitan dan saling menguatkan, sehingga perjalanan seorang hamba menuju Allah menjadi lurus dan ia memperoleh apa yang diharapkannya dari Rabbnya.

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah Ta'ala berfirman:
"Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku."

Al-Qadhi Iyadh رحمه الله berkata:
"Maknanya ialah Aku akan mengampuninya jika ia memohon ampun kepada-Ku, menerima taubatnya jika ia kembali kepada-Ku, mengabulkan doanya jika ia berdoa kepada-Ku, dan mencukupinya jika ia meminta kecukupan kepada-Ku. 
Sifat-sifat ini tidak akan muncul dari seorang hamba kecuali apabila ia berbaik sangka kepada Allah dan kuat keyakinannya."

Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda bahwa Allah عز وجل berfirman:
"Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. 
Jika ia berprasangka baik, maka baginya kebaikan; dan jika ia berprasangka buruk, maka baginya keburukan."
(HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan Al-Albani).

Maknanya, Allah memperlakukan hamba sesuai dengan apa yang ia harapkan dari-Nya, baik atau buruk.

Berbaik sangka kepada Allah berarti keyakinan seorang mukmin bahwa Allah menerima taubatnya apabila ia bertaubat, mengampuni seluruh dosanya apabila ia memohon ampun, mengabulkan doanya apabila ia berdoa, dan memberikan pahala kepadanya apabila ia beramal saleh.

Berbaik sangka kepada Allah adalah kuatnya keyakinan terhadap janji Allah berupa luasnya kemurahan dan rahmat-Nya.

Berbaik sangka berarti lebih mengedepankan sisi kebaikan daripada keburukan.

Berbaik sangka kepada Allah adalah mengharapkan segala yang indah dan baik dari Allah.

Allah Ta'ala berfirman:
"Maka bagaimana prasangkamu terhadap Rabb semesta alam?" (Ash-Shaffat: 87)

Berbaik sangka kepada Allah adalah akidah antara seorang hamba dengan Rabbnya.

Bahkan ia termasuk konsekuensi tauhid dan salah satu kewajiban agama yang paling penting.

Husnuzan kepada Allah sangat ditekankan ketika menjelang kematian. 
Ia termasuk sebaik-baik penutup kehidupan seorang hamba.

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda tiga hari sebelum wafatnya:
"Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah."

Seorang pemuda pernah didatangi Rasulullah ﷺ ketika sedang sakit menjelang wafat. Beliau bertanya:
"Bagaimana keadaanmu?"
Pemuda itu menjawab:
"Wahai Rasulullah, demi Allah aku berharap kepada Allah dan aku takut terhadap dosa-dosaku."
Maka Nabi ﷺ bersabda:
"Tidaklah keduanya (harap dan takut) berkumpul di hati seorang hamba pada keadaan seperti ini melainkan Allah akan memberikan apa yang ia harapkan dan mengamankannya dari apa yang ia takutkan."
(HR. Tirmidzi).

Imam An-Nawawi رحمه الله menjelaskan:
"Makna berbaik sangka kepada Allah adalah seseorang meyakini bahwa Allah akan merahmatinya, mengharapkan hal tersebut, merenungi ayat-ayat dan hadis-hadis tentang kemurahan Allah, ampunan-Nya, rahmat-Nya, janji-Nya kepada ahli tauhid, serta rahmat yang akan Dia limpahkan kepada mereka pada hari kiamat."

Wahai hamba-hamba Allah,
Berbaik sangka kepada Allah merupakan pintu menuju kebaikan yang besar dan karunia yang melimpah.

Sebesar kadar husnuzan seorang hamba kepada Allah, sebesar itu pula rahmat dan kebaikan Allah yang akan ia peroleh.

Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:
"Demi Dzat yang tiada sesembahan selain-Nya, tidaklah seorang mukmin diberi sesuatu yang lebih baik daripada berbaik sangka kepada Allah. 
Dan demi Dzat yang tiada sesembahan selain-Nya, tidaklah seorang hamba berbaik sangka kepada Allah melainkan Allah akan memberinya sesuai dengan prasangkanya. 
Sebab segala kebaikan berada di tangan-Nya."

Berbaik sangka kepada Allah memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan seorang mukmin, baik ketika hidup maupun setelah meninggal.

Apabila seorang hamba berbaik sangka kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya, Allah akan memudahkan seluruh urusannya, menenangkan hatinya, melapangkan dadanya, dan menjadikannya ridha terhadap qadha dan qadar-Nya.

Ya Allah, bantulah kami untuk taat kepada-Mu, berbaik sangka kepada-Mu, dan berilah kami taufik menuju segala kebaikan, wahai Rabb semesta alam.

Aku berkata demikian dan aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung untukku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum muslimin. 
Maka mohonlah ampun kepada-Nya dan bertaubatlah kepada-Nya. 
Sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.



Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah Yang Maha Agung kebaikan-Nya, luas karunia, kemurahan dan anugerah-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. 

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. 

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.

Amma ba'du...

Sesungguhnya berbaik sangka kepada Allah dibangun di atas dua perkara:

1. Benarnya akidah tentang Allah

Barang siapa mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya, mengetahui karunia dan nikmat-Nya, maka ia akan berbaik sangka kepada Allah.

Barang siapa meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang terlalu besar untuk diberikan oleh Allah, bahwa Dia Maha Mulia lagi Maha Dermawan, tangan-Nya penuh dan tidak berkurang karena pemberian, serta karunia-Nya terus mengalir siang dan malam, maka ia akan berbaik sangka kepada Allah.

2. Baiknya amal dalam ketaatan

Orang yang mengenal Allah dengan pengenalan tersebut akan terdorong untuk taat dan bersungguh-sungguh dalam ibadah, berharap karunia Allah yang besar dan takut terhadap azab-Nya yang pedih.

Seorang muslim tidak cukup hanya berbaik sangka kepada Allah sementara ia tetap bergelimang dalam kemaksiatan.

Ia harus berbaik sangka kepada Allah disertai amal saleh, taubat, dan kesungguhan dalam kebaikan.

Adapun berbaik sangka kepada Allah sambil terus menerus melakukan maksiat dan bersikeras di atasnya, maka itu hanyalah tertipu.

Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata:
"Sesungguhnya orang mukmin berbaik sangka kepada Allah sehingga ia memperbaiki amalnya. 
Sedangkan orang fajir berburuk sangka kepada Allah sehingga ia merusak amalnya."

Bukanlah orang yang membangkang hukum Allah termasuk orang yang berbaik sangka kepada-Nya.

Bukan pula orang yang durhaka terhadap perintah-Nya.

Dan bukan orang yang berpaling dari sebab-sebab rahmat-Nya.

Ia hanyalah orang yang tertipu oleh angan-angan palsu dan khayalan yang menyesatkan.

Bagaimana mungkin orang yang lalai dan menyia-nyiakan kewajiban dikatakan berbaik sangka kepada Rabbnya, sementara ia menjauh dari Allah, berpaling dari ketaatan, dan meninggalkan pintu-pintu rahmat serta ampunan-Nya?

Karena itu, husnuzan kepada Allah harus disertai dengan kembali kepada Allah dan memperbaiki amal.

Wahai hamba-hamba Allah,
Berbaik sangka kepada Allah hanya akan bermanfaat apabila disertai amal saleh dan rasa takut kepada Allah yang mendorong seseorang meninggalkan kemungkaran.

 Inilah yang dinamakan harapan yang terpuji.

Adapun orang yang berbaik sangka kepada Allah namun tetap tenggelam dalam kemungkaran dan melalaikan kewajiban, maka ia telah merasa aman dari makar Allah.

Allah Ta'ala berfirman:
"Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali kaum yang merugi." (Al-A'raf: 99)

Al-Hasan Al-Bashri berkata:
"Ada suatu kaum yang dilalaikan oleh angan-angan akan ampunan sampai mereka keluar dari dunia tanpa membawa satu pun kebaikan. Mereka berkata, 'Kami berbaik sangka kepada Allah.' 
Mereka berdusta. 
Seandainya mereka benar-benar berbaik sangka kepada Allah, niscaya mereka akan memperbaiki amal mereka."

Wahai hamba-hamba Allah,
Sesungguhnya setan sangat ingin membuat seorang hamba berburuk sangka kepada Allah, memenuhi hatinya dengan keraguan terhadap kekuasaan, rahmat, atau hikmah Allah.

Termasuk buruk sangka kepada Allah adalah meyakini bahwa seseorang tidak dapat sampai kepada Allah kecuali melalui perantara malaikat, nabi, atau wali yang harus diminta syafaatnya.

Di manakah keluasan ilmu Allah?

Di manakah kesempurnaan kerajaan dan kekuasaan-Nya?

Di manakah kesempurnaan rahmat dan ihsan-Nya?

Dan di manakah kedekatan Allah serta pengabulan-Nya terhadap doa hamba-hamba-Nya?

Karena itu, berbaik sangkalah kepada Allah Rabb kalian dengan disertai amal saleh, dan waspadalah terhadap buruk sangka kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Aku memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita keimanan yang benar kepada-Nya, ketawakalan yang jujur kepada-Nya, serta memberi taufik kepada kita untuk berbaik sangka kepada-Nya dan memperbaiki amal.

Kemudian bershalawatlah kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam kitab-Nya:
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan."

Dan Nabi ﷺ bersabda:
"Barang siapa bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali."


"Ya Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi."

"Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka."


"Wahai hamba-hamba Allah, ingatlah Allah niscaya Dia akan mengingat kalian. 
Bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya niscaya Dia akan menambahkannya kepada kalian. 
Dan sungguh mengingat Allah itu lebih besar, dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan."
(Khutbah Jumat, 13 Syawwal 1446 H).

PRASANGKA BAIK



KEPADA SETIAP ORANG YANG DIUJI, BERBAIK SANGKALAH KEPADA ALLAH TA'ALA 


Syaikh Bandar Balilah Hafizhahullah Ta‘ala. 

Pokok-pokok khutbah

Anjuran untuk berbaik sangka kepada Allah Ta'ala.

Makna berbaik sangka kepada Allah Ta'ala.

Pesan-pesan kepada berbagai golongan yang tertimpa ujian agar percaya kepada rahmat Rabb semesta alam.

Peringatan dari sikap putus asa dan berputus harap dari rahmat Allah Ta'ala.

Ketika datang kematian, kedudukan berbaik sangka kepada Allah menjadi semakin agung.

Kutipan :

"Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah, bahwa di antara keadaan yang paling ditekankan padanya berbaik sangka kepada Allah, dan ketika harapan kepada-Nya lebih didahulukan daripada rasa takut dan ketakwaan, ialah apabila kematian telah mendatangi seorang hamba dan ia hampir berpisah dengan dunianya. Sesungguhnya seorang mukmin, betapapun besar kekurangannya dan sebanyak apa pun dosa serta kemungkaran yang telah diperbuatnya, baik kecil maupun besar, maka Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat terhadap hamba-hamba-Nya…"


Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah, segala puji bagi Allah, tempat berlindung orang-orang yang ketakutan, tempat kembali orang-orang yang tertimpa musibah, dan pelindung bagi orang-orang yang meminta perlindungan.

Aku memuji-Nya dan bersyukur kepada-Nya. 

Dia adalah penolong orang-orang yang tertimpa kesusahan, penghibur orang-orang yang patah hati, dan penerima taubat orang-orang yang bertaubat.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya; Rabb orang-orang yang tertindas, penolong orang-orang yang dizalimi, dan pengabul doa orang-orang yang berada dalam kesulitan.

Dan aku bersaksi bahwa junjungan dan nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, pemimpin orang-orang yang bercahaya wajah dan anggota tubuhnya, serta pemberi petunjuk bagi seluruh makhluk.

Semoga Allah melimpahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, kepada keluarga beliau yang baik lagi suci, para sahabat beliau yang saleh lagi diberkahi, serta kepada para tabi'in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Pembalasan.

Amma ba'du....

Aku berwasiat kepada kalian wahai manusia dan kepada diriku sendiri agar bertakwa kepada Allah.

Maka bertakwalah kepada Allah, semoga Allah merahmati kalian.

Berpegangteguhlah dengan tali-tali-Nya, berpeganglah erat dengan tali-Nya, dan berlindunglah dalam perlindungan-Nya, niscaya keinginan-keinginan kalian akan terwujud dan kalian akan berbahagia dengan perjumpaan dengan-Nya.

Karena sesungguhnya tidak akan kecewa orang yang menyeru-Nya dan berdoa kepada-Nya, dan tidak akan menyesal orang yang merendahkan diri kepada-Nya dan berharap kepada-Nya.
Bagaimana tidak, sedangkan Dia Yang Mahatinggi berfirman:

"Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang berada dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya?"
(An-Naml: 62)

Kemudian ketahuilah, semoga Allah merahmati kalian, bahwa alam semesta berjalan sesuai dengan pena yang telah Dia tetapkan dan Dia putuskan.

Segala pengaturan makhluk berjalan dengan kehendak dan keridaan-Nya.

Dan hati para hamba berada di antara dua jari dari jari-jari Rabb kita, Sang Ilah, Dia membolak-balikkannya sebagaimana yang Dia kehendaki di bumi-Nya dan langit-Nya.

Maka berbaik sangkalah kepada Rabb kalian, dan harapkanlah kebaikan dari Pencipta kalian.

Karena barang siapa berbaik sangka kepada-Nya, niscaya Allah akan mencukupinya, mengurus urusannya, menganugerahinya, serta memberikan kepadanya apa yang diharapkannya dan diinginkannya.

"Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.
Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku.
Jika ia mengingat-Ku di tengah suatu perkumpulan, maka Aku mengingatnya di tengah perkumpulan yang lebih baik daripada mereka.
Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta.
Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa.
Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari."
(Muttafaq 'alaih)

Wahai hamba-hamba Allah,
Berbaik sangka kepada Allah merupakan suatu ibadah yang termasuk ibadah yang paling mulia, dan suatu pendekatan diri yang termasuk pendekatan diri yang paling agung.

Ia menunjukkan kesempurnaan iman, baiknya hati, dan kerelaan terhadap apa yang telah ditakdirkan oleh Ar-Rahman.

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu:
"Demi Dzat yang tidak ada sesembahan selain-Nya, tidaklah seorang hamba mukmin diberikan sesuatu yang lebih baik daripada berbaik sangka kepada Allah Azza wa Jalla.
Dan demi Dzat yang tidak ada sesembahan selain-Nya, tidaklah seorang hamba berbaik sangka kepada Allah Azza wa Jalla melainkan Allah pasti akan memberikan kepadanya sesuai dengan persangkaannya itu, karena sesungguhnya seluruh kebaikan berada di tangan-Nya."
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya)

Berbaik sangka kepada Allah adalah meyakini terhadap-Nya apa yang layak bagi-Nya, berupa makna-makna keagungan dan keindahan pada nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta pada mulia ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan-Nya, disertai kesempurnaan kekuasaan-Nya pada masa yang telah lalu maupun yang akan datang, serta apa yang muncul darinya berupa pengaruh-pengaruh dan sifat-sifat yang mulia.

Karena Dia Subhanahu wa Ta'ala adalah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi karunia, Yang Maha Lembut lagi Maha Dermawan, Yang Maha Penyantun lagi Maha Pemberi, Yang Maha Kuat lagi Maha Kuasa, Yang Maha Perkasa lagi Maha Memaksa, Pengabul doa orang-orang yang berada dalam kesempitan, Rabb segala rabb, penggerak awan, pencipta makhluk-Nya dari tanah, Yang Maha Hidup yang tidak akan mati, Yang Maha Berdiri Sendiri yang tidak tidur, dekat dalam ketinggian-Nya, tinggi dalam kedekatan-Nya, Maha Mengetahui apa yang telah Dia tetapkan dan jalankan.
Tidak tersembunyi bagi-Nya keadaan makhluk-Nya di bumi maupun di langit-Nya.
Dia Maha Bijaksana dalam perbuatan-perbuatan-Nya, Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya, dan penolong bagi orang yang berlindung kepada-Nya dan menjadikan-Nya sebagai pelindung.

Maka kepada orang yang penyakit telah membuatnya terbaring dan melemahkannya,
dan menahannya di atas ranjang-ranjang rumah sakit, sehingga tempat itu menjadi rumah dan tempat berlindungnya,
maka perhatikanlah doa Nabi Ayyub 'alaihis salam ketika penyakit telah mencapai puncaknya, menguasai tubuhnya dan melemahkannya.

Beliau merendahkan diri kepada Allah 'Azza wa Jalla dan menyeru-Nya, sambil menampakkan kebutuhannya kepada Rabb dan Pelindungnya:

"Dan (ingatlah kisah) Ayyub ketika ia menyeru Rabbnya, 'Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.' Maka Kami memperkenankan doanya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya, dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipatgandakan jumlah mereka bersama mereka, sebagai rahmat dari sisi Kami dan sebagai peringatan bagi orang-orang yang beribadah."
(Al-Anbiya': 83-84)

Dan kepada orang yang terhalang dari memperoleh penyejuk hati dari perhiasan kehidupan, yang merasa asing karena kesendirian dan melihat setiap orang sibuk dengan keluarga dan urusan dunianya,
di manakah engkau dari doa Nabi Zakariya 'alaihis salam, ketika beliau merendahkan diri kepada Rabbnya dan bermunajat kepada-Nya, memohon pertolongan dan berharap kepada-Nya, dengan suatu doa yang membuat hati setiap orang yang memiliki kasih sayang menjadi luluh dan kedua matanya bercucuran air mata?

"Dan (ingatlah kisah) Zakariya ketika ia menyeru Rabbnya, 'Ya Rabbku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, sedangkan Engkau adalah sebaik-baik pewaris.' 
Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, serta Kami jadikan istrinya dapat mengandung. 
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan, berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan takut, dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami."
(Al-Anbiya': 89-90)

Kepada orang yang dibebani utang,
kepada orang yang utang telah memberatkan pundaknya dan membuatnya lelah, yang penghidupan terasa sempit baginya, keadaan-keadaan hidup datang bertubi-tubi menimpanya, dan langkah-langkahnya dalam mencari nafkah tersendat,
di manakah keyakinanmu terhadap kemurahan Dzat Yang Maha Mulia, rezeki dari Ar-Razzaq, dan karunia dari Al-Wahhab?

Dialah yang berfirman dalam kitab-Nya yang paling sempurna:

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka mendapat petunjuk."
(Al-Baqarah: 186)

Dan Dialah yang berfirman, tidak ada Rabb selain Dia:

"Maka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Rabb kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. 
Niscaya Dia akan mengirimkan hujan yang lebat kepada kalian, memperbanyak harta dan anak-anak kalian, serta menjadikan bagi kalian kebun-kebun dan menjadikan bagi kalian sungai-sungai."
(Nuh: 10-12)

Kepada orang-orang yang ditimpa kesulitan,
yang musuh-musuh berkumpul menyerang mereka, dan jalan-jalan keluar terasa sempit bagi mereka,
angkatlah tangan-tangan permohonan, dan berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan pengabulan-Nya.

Sesungguhnya Allah Ta'ala melihat tempat kalian, mengetahui luka-luka kalian, melihat air mata kalian, dan mendengar rintihan-rintihan kalian.

Dan Dia Mahakuasa untuk menundukkan musuh kalian.
Apabila Allah Jalla wa 'Ala menghendaki sesuatu, Dia akan menyiapkan sebab-sebabnya.

Maka berbaik sangkalah kepada Rabb kalian, berpegangteguhlah kepada Kitab-Nya dan Sunnah Nabi kalian ﷺ.

Karena di sanalah terdapat kemenangan dan kekuasaan, dan dengan keduanya terdapat keselamatan yang pasti.

Allah Ta'ala berfirman:

"Hingga ketika para rasul telah berputus asa dan mereka mengira bahwa mereka telah didustakan, datanglah pertolongan Kami, lalu diselamatkanlah siapa yang Kami kehendaki, dan azab Kami tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa."
(Yusuf: 110)

Wahai hamba-hamba Allah,
berhati-hatilah kalian dari keputusasaan dan berputus asa dari rahmat Allah.

Keduanya merupakan jalan menuju kekufuran dan kesesatan.

Dzat Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia berfirman:

"Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir."
(Yusuf: 87)

Dan Dia berfirman:

"Dan tidak ada yang berputus asa dari rahmat Rabbnya kecuali orang-orang yang sesat."
(Al-Hijr: 56)

Karena sesungguhnya berputus asa dari rahmat Allah termasuk bentuk buruk sangka kepada Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri. Tetapi apabila ia ditimpa keburukan, ia menjadi sangat berputus asa."
(Al-Isra': 83)

Dan berhati-hatilah terhadap orang-orang yang membuat manusia berputus asa, melemahkan semangat, dan mematahkan harapan terhadap rahmat Allah.

Penyair berkata:
Katakanlah kepada orang yang telah memenuhi hatinya dengan pesimisme,
dan terus mempersempit cakrawala kehidupan di sekitar kita,
Rahasia kebahagiaan adalah baik sangkamu kepada Dzat
yang menciptakan kehidupan dan membagikan rezeki.

Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata:
"Semakin seorang hamba berbaik sangka kepada Allah, semakin baik pula harapannya kepada-Nya, dan semakin benar tawakalnya kepada-Nya, maka Allah sama sekali tidak akan mengecewakan harapannya kepada-Nya. 
Sebab Dia Subhanahu wa Ta'ala tidak akan mengecewakan harapan orang yang berharap kepada-Nya dan tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang beramal."

Aku mengucapkan perkataanku ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untukku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum muslimin dari setiap dosa.

Maka mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.



Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah dengan pujian yang sesuai dengan kesempurnaan dan kekayaan-Nya. 

Aku bersyukur kepada-Nya dengan syukur yang sepadan dengan karunia dan pemberian-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, baik di bumi-Nya maupun di langit-Nya.

Dan aku bersaksi bahwa nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang telah mencapai puncak kesempurnaan manusia.

Semoga Allah melimpahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepadanya, kepada keluarga dan para sahabatnya, serta kepada orang-orang yang mengikuti jejaknya dan menempuh jalannya.

Kemudian ketahuilah wahai hamba-hamba Allah,
Sesungguhnya di antara keadaan yang paling ditekankan padanya husnuzan kepada Allah, dan ketika harapan kepada-Nya lebih dikedepankan daripada rasa takut, ialah ketika seorang hamba didatangi kematian dan hampir berpisah dengan dunianya.

Karena sesungguhnya seorang mukmin, betapapun besar kekurangannya, dan sebanyak apa pun dosa serta kemungkaran yang telah ia lakukan, baik kecil maupun besar, maka Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat terhadap hamba-hamba-Nya.

Dia Maha Mengetahui kelemahan mereka, Maha Mengenal keadaan mereka, Maha Penyayang dan Maha Menutupi aib mereka.

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata:
"Aku mendengar Rasulullah ﷺ tiga hari sebelum wafatnya bersabda:
'Janganlah salah seorang dari kalian meninggal dunia melainkan dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah 'Azza wa Jalla.'"
(HR. Muslim)

Para ulama rahimahumullah berkata:
"Hadis ini merupakan peringatan dari sikap berputus asa dan dorongan untuk memperbesar harapan ketika menjelang akhir kehidupan, yaitu dengan meyakini bahwa Allah akan merahmatinya dan mengampuninya."

Kemudian bershalawat dan bersalamlah kepada sebaik-baik makhluk Allah, Muhammad bin Abdullah.
Karena Rabb kalian telah memerintahkan hal itu dengan firman-Nya:
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan sebenar-benarnya salam."
(Al-Ahzab: 56)

Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, tambahan kemuliaan, dan keberkahan kepada hamba dan Rasul-Mu, Nabi kami Muhammad.

Ya Allah, ridhailah empat khalifah yang lurus, para imam yang mendapat petunjuk: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Juga seluruh sepuluh sahabat yang dijamin surga, para sahabat Bai'at Syajarah, seluruh sahabat Nabi, para tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Kiamat.

Ya Allah,
muliakanlah Islam dan kaum muslimin, lindungilah agama-Mu, dan tolonglah hamba-hamba-Mu yang mentauhidkan-Mu, wahai Dzat Yang Mahakuat lagi Mahakokoh.

Ya Allah, hilangkanlah kesusahan orang-orang muslim yang sedang dilanda kegundahan, lapangkanlah kesulitan orang-orang yang tertimpa musibah, lunasilah utang orang-orang yang berutang, dan sembuhkanlah orang-orang sakit dari kalangan kami dan seluruh kaum muslimin, dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang.

Ya Allah, berikanlah keamanan kepada negeri-negeri kami, perbaikilah para pemimpin dan penguasa kami, berilah mereka pertolongan, taufik, dan petunjuk kepada kebenaran.

Ya Allah, panjangkanlah umur mereka dalam kesehatan dan kesejahteraan, limpahkanlah kepada mereka nikmat yang luas dan sempurna, dan berilah taufik kepada mereka dalam segala hal yang membawa kebaikan bagi negeri dan rakyat, serta kemuliaan bagi Islam dan kaum muslimin, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah,
jagalah pasukan kami yang berjaga di perbatasan-perbatasan negeri. 
Lindungilah mereka dengan pengawasan-Mu yang tidak pernah tidur, dan peliharalah mereka dengan perlindungan-Mu yang kokoh, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, jadilah penolong bagi saudara-saudara kami yang tertindas di mana pun mereka berada. 
Gantilah kelemahan mereka dengan kekuatan, ketakutan mereka dengan rasa aman, dan kesempitan mereka dengan kelapangan serta kesejahteraan, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, jadikanlah amal-amal kami yang terbaik adalah penutupnya, umur-umur kami yang terbaik adalah akhirnya, dan hari-hari kami yang terbaik adalah hari ketika kami berjumpa dengan-Mu.

Wafatkanlah kami dalam keadaan Engkau ridha kepada kami, bukan dalam keadaan murka, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, gantungkanlah hati-hati kami kepada keridhaan-Mu, penuhilah ia dengan rasa takut dan ketakwaan kepada-Mu, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang berbaik sangka kepada-Mu di kehidupan dunia dan pada hari perjumpaan dengan-Mu, dengan rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Penyayang.

"Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari azab neraka."
(Al-Baqarah: 201)

"Mahasuci Rabbmu, Rabb Yang memiliki kemuliaan, dari apa yang mereka sifatkan.

Keselamatan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam."
(Ash-Shaffat: 180–182)

(Khutbah Jumat Syaikh Bandar Balilah, 24 Rajab 1446 H / 24 Januari 2025).



Senin, 02 Februari 2026

TAFSIR QS. AL-BAQARAH: 191





TAFSIR QS. AL-BAQARAH: 191



Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata; 

“Dan karena jihad itu mengandung penghilangan nyawa dan pembunuhan manusia, maka Allah Ta‘ala menjelaskan bahwa apa yang mereka lakukan berupa kekafiran kepada Allah, menyekutukan-Nya, dan menghalangi dari jalan-Nya itu jauh lebih besar, lebih berat, dan lebih dahsyat dosanya daripada pembunuhan. 

Oleh karena itu Dia berfirman:

‘Fitnah itu lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan.’

Abu Malik berkata:

 ‘Maksudnya: apa yang kalian lakukan itu lebih besar daripada pembunuhan.’

Dan Abu al-‘Aliyah, Mujahid, Sa‘id bin Jubair, ‘Ikrimah, al-Hasan, Qatadah, ad-Dahhak, dan ar-Rabi‘ bin Anas menafsirkan firman Allah:

 ‘Fitnah lebih besar daripada pembunuhan’ dengan mengatakan:

‘Syirik itu lebih besar daripada pembunuhan.’

Dan firman-Nya:

‘Dan janganlah kalian memerangi mereka di Masjidil Haram…’

Sebagaimana dalam hadis sahih Bukhari dan Muslim:

“Sesungguhnya negeri ini (Makkah) Allah telah mengharamkannya sejak Dia menciptakan langit dan bumi. Maka ia tetap haram dengan kehormatan dari Allah sampai hari Kiamat. 
Tidak halal bagiku kecuali sesaat di siang hari, dan itu adalah saatku ini. 
Maka setelah itu ia kembali haram sampai hari Kiamat. Tidak boleh ditebang pohonnya dan tidak boleh dipotong rumputnya. 
Jika ada seseorang berdalil dengan pertempuran Rasulullah ﷺ (di Makkah), maka katakanlah: Sesungguhnya Allah memberi izin kepada Rasul-Nya, dan tidak memberi izin kepada kalian.”

Yang dimaksud adalah peperangan Nabi ﷺ terhadap penduduk Makkah pada hari penaklukan Makkah. 

Beliau menaklukkannya dengan kekuatan, dan terbunuhlah beberapa orang dari mereka di daerah al-Khandamah. 

Ada juga yang berkata: penaklukan itu terjadi dengan perdamaian, berdasarkan sabdanya:
“Siapa yang menutup pintu rumahnya maka ia aman; 
siapa yang masuk masjid maka ia aman; 
dan siapa yang masuk rumah Abu Sufyan maka ia aman.”

Al-Qurthubi menukil bahwa larangan berperang di Masjidil Haram telah dinasakh (dihapus). 

Qatadah berkata: 
ayat itu dihapus oleh firman Allah:
“Apabila telah berlalu bulan-bulan haram, maka bunuhlah orang-orang musyrik di mana saja kalian temui mereka.” (At-Taubah: 5)

Muqatil bin Hayyan juga berkata demikian. 
Namun pendapat ini masih perlu diteliti.

Firman-Nya:

“Sampai mereka memerangi kalian di dalamnya; jika mereka memerangi kalian maka bunuhlah mereka…”

Artinya:
 jangan kalian memerangi mereka di Masjidil Haram kecuali jika mereka memulai peperangan di sana. 
Jika mereka menyerang kalian, maka kalian boleh memerangi dan membunuh mereka sebagai bentuk pembelaan diri.

Seperti baiat Nabi ﷺ kepada para sahabat di bawah pohon (Hudaibiyah) ketika kabilah Quraisy dan sekutunya hendak menyerang. 
Namun Allah menahan peperangan itu. 

Maka Allah berfirman:

“Dialah yang menahan tangan mereka dari kalian dan tangan kalian dari mereka di perut Makkah…” (Al-Fath: 24)

Dan juga:

“Kalau bukan karena ada laki-laki dan perempuan mukmin yang tidak kalian ketahui… niscaya Kami akan mengazab orang-orang kafir itu…” (Al-Fath: 25)

Firman-Nya:

“Jika mereka berhenti, maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Yakni:
 jika mereka berhenti dari memerangi di Tanah Haram, masuk Islam dan bertobat, maka Allah mengampuni dosa-dosa mereka meskipun mereka telah membunuh kaum Muslimin di tanah haram.

Kemudian Allah memerintahkan memerangi orang kafir:

“Sampai tidak ada lagi fitnah…”

Yaitu: 
sampai tidak ada lagi syirik.

Ini adalah tafsir Ibnu Abbas, Abu al-‘Aliyah, Mujahid, al-Hasan, Qatadah, ar-Rabi‘, Muqatil bin Hayyan, as-Suddi, dan Zaid bin Aslam.

“Dan agama hanya milik Allah.”

Yakni: 
sampai agama Allah menjadi yang paling tinggi dan menang atas seluruh agama.

Sebagaimana dalam hadis sahih: 
ketika Nabi ﷺ ditanya tentang orang yang berperang karena keberanian, fanatisme, atau riya’, beliau bersabda:

“Barang siapa berperang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi, maka dialah yang berada di jalan Allah.”

Dan dalam hadis sahih:

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan ‘La ilaha illa Allah’. 
Jika mereka mengucapkannya, maka terpeliharalah darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haknya.”

Firman-Nya:

“Jika mereka berhenti, maka tidak ada permusuhan kecuali terhadap orang-orang zalim.”

Artinya: 
jika mereka berhenti dari syirik dan memerangi kaum mukminin, maka hentikanlah memerangi mereka. 
Barang siapa masih memerangi setelah itu, dialah orang zalim.

Makna “kezaliman” di sini adalah syirik, sebagaimana kata Ikrimah dan Qatadah.

Dan al-Bukhari meriwayatkan bahwa Ibnu Umar berkata saat fitnah Ibnu Zubair:

Dua orang berkata kepadanya: “Mengapa engkau tidak ikut berperang?”
Ia menjawab: “Allah telah mengharamkan darah saudaraku.”
Ketika mereka berdalil dengan ayat “Perangilah mereka sampai tidak ada fitnah…”, 
ia menjawab:
“Kami telah berperang sampai tidak ada fitnah dan agama hanya untuk Allah. 
Tetapi kalian ingin berperang sampai terjadi fitnah dan agama untuk selain Allah.”

Kemudian Ibnu Umar menjelaskan bahwa jihad itu dilakukan dahulu ketika kaum Muslimin disiksa karena iman, tetapi setelah Islam kuat, tidak lagi ada fitnah yang membolehkan perang saudara.







 Tafsir al-Qurṭubī untuk QS. Al-Baqarah 191 

﴿وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ…﴾

“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu. Dan fitnah itu lebih besar dosanya daripada pembunuhan. Dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram sampai mereka memerangi kamu di sana. Jika mereka memerangi kamu, maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir. Maka jika mereka berhenti, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Tafsir al-Qurṭubī
Di dalam ayat ini terdapat lima masalah:
1. Makna “ثَقِفْتُمُوهُمْ”
Firman Allah: “حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ”
Artinya: “di mana saja kalian mendapatkan mereka.”

Kata tsa-qafa berarti: menguasai dan mampu menangkap.

Seorang laki-laki disebut thaqf (cerdas dan tangkas) jika ia kokoh dalam urusan yang ia hadapi.

Dalam ayat ini terdapat dalil bolehnya membunuh tawanan perang, dan akan dijelaskan dalam surat Al-Anfāl.


Firman-Nya:

“dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu”

maksudnya: Makkah.

Ath-Ṭabarī berkata: 
ayat ini ditujukan kepada kaum Muhajirin, dan yang dimaksud “mereka” adalah kaum kafir Quraisy.

2. Makna “fitnah lebih besar daripada pembunuhan”

Yaitu: fitnah yang mereka lakukan terhadap kalian, yakni memaksa kalian kembali kepada kekafiran, itu lebih besar dosanya daripada pembunuhan.

Mujāhid berkata:
“Yaitu daripada seorang mukmin dibunuh; karena dibunuh itu lebih ringan baginya daripada dipaksa keluar dari agamanya.”

Yang lain berkata:
“Yaitu kesyirikan dan kekafiran mereka kepada Allah lebih besar dosanya dan lebih berat daripada pembunuhan yang mereka cela terhadap kalian.”

Ini menunjukkan bahwa ayat ini turun tentang ‘Amr bin al-Ḥaḍramī, yang dibunuh oleh Wāqid bin ‘Abdullāh at-Tamīmī pada akhir bulan Rajab (bulan haram), dalam peristiwa ekspedisi ‘Abdullāh bin Jahsy.

3. Hukum berperang di Masjidil Haram

Tentang ayat:
“Janganlah kalian memerangi mereka di Masjidil Haram sampai mereka memerangi kalian di sana.”

Ulama berbeda pendapat:

a. Pendapat pertama: ayat ini tidak mansukh (masih berlaku)
Mujāhid berkata: ayat ini muhkam; tidak boleh memerangi siapa pun di Masjidil Haram kecuali jika mereka memulai perang. 
Ini juga pendapat Ṭāwūs dan inilah pendapat yang paling benar, serta mazhab Abu Hanifah dan para sahabatnya.

Hadis Ibnu ‘Abbas:
“Sesungguhnya negeri ini Allah haramkan sejak penciptaan langit dan bumi… dan tidak dihalalkan bagiku kecuali satu saat…”

b. Pendapat kedua: 
ayat ini mansukh

Qatādah berkata: 
ayat ini dihapus oleh:
“Bunuhlah orang-orang musyrik di mana saja kalian temui mereka.” (At-Taubah: 5)

Muqatil berkata: 
ayat ini dihapus oleh ayat “bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka” lalu itu dihapus lagi oleh ayat At-Taubah 5.

Mereka berdalil bahwa Nabi ﷺ masuk Makkah dengan helm perang dan memerintahkan pembunuhan Ibnu Khaṭal yang bergantung di Ka‘bah.

Namun Ibnu al-‘Arabī membantah pendapat nasakh ini dengan hujah yang sangat kuat:

“Ayat At-Taubah itu umum, sedangkan ayat Masjidil Haram ini khusus. 
Dan yang umum tidak bisa menghapus yang khusus.”

Maka yang benar:
Jika orang kafir berlindung di Masjidil Haram, tidak boleh dibunuh kecuali jika ia memulai perang.

4. Perbedaan antara kafir dan pemberontak

Ayat ini menunjukkan:
Orang kafir boleh dibunuh jika memerangi
Tetapi orang Muslim pemberontak diperangi hanya untuk menolak kezaliman, bukan untuk membinasakan.

5. Makna “Jika mereka berhenti”

“Jika mereka berhenti (dari memerangi kalian) dengan masuk Islam, maka Allah mengampuni seluruh dosa mereka.”

Seperti firman Allah:
“Katakan kepada orang-orang kafir: jika mereka berhenti, akan diampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu.” (Al-Anfāl: 38)







 Tafsir Fakhruddin ar-Rāzī atas QS Al-Baqarah 191 

Firman Allah:
“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemui mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusirmu; dan fitnah itu lebih besar daripada pembunuhan. Dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram sampai mereka memerangi kamu di sana. Jika mereka memerangi kamu, maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir. Jika mereka berhenti, maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Di dalam ayat ini terdapat beberapa persoalan: 

Masalah pertama: 

makna “tsaqf” (ثقف)
Tsaqf berarti “mendapatkan, menangkap, dan menguasai”.

Dari kata ini pula dikatakan “rajul tsaqīf”, yaitu orang yang cepat menguasai lawannya.

Sebagaimana dalam syair:

“Jika kalian menangkapku, maka bunuhlah aku,
karena siapa yang tertangkap tak akan hidup lama.”

Kemudian kami berkata:
Firman Allah “bunuhlah mereka” adalah khitab kepada Nabi ﷺ dan orang-orang yang berhijrah bersama beliau, meskipun hukumnya juga berlaku bagi setiap orang beriman.

Kata ganti “mereka” kembali kepada orang-orang yang diperintahkan untuk dibunuh pada ayat sebelumnya, yaitu orang-orang kafir dari penduduk Mekah.

Maka Allah memerintahkan agar mereka diperangi di mana pun berada, baik di tanah halal, tanah haram, maupun di bulan haram.

Penjelasan yang benar:

Pada ayat sebelumnya Allah memerintahkan jihad dengan syarat kaum kafir memulai peperangan.
Sedangkan pada ayat ini, Allah menambah beban hukum: memerangi mereka baik mereka memerangi atau tidak, dengan pengecualian Masjidil Haram.

Masalah kedua: 
klaim nasakh
Diriwayatkan dari Muqātil bahwa ayat:
“Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian” (2:190)
telah dihapus oleh ayat ini, lalu ayat ini dihapus oleh:
“Perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah” (2:193).

Ar-Rāzī berkata:
Pendapat ini lemah.
Ayat 2:190 tidak dihapus oleh ayat ini.
Larangan berperang di Masjidil Haram bukan nasakh, tapi pengkhususan.
Dan ayat 2:193 tidak menghapus larangan memulai perang di tanah haram.
Sebab tidak boleh memulai perang di Haram, dan hukum ini tetap berlaku.
Dan tidak layak bagi Yang Maha Bijaksana menurunkan ayat-ayat berturut-turut yang saling menghapus satu sama lain.

Tentang 
“Usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu”
Ini memiliki dua makna:

Mereka memaksa kaum Muslim keluar secara fisik.

Mereka menakut-nakuti dan menekan sampai kaum Muslim terpaksa hijrah.

Dan kata “dari tempat” bisa berarti:
Dari Mekah
Atau dari negeri-negeri kalian
Maka Allah memerintahkan agar kaum Muslimin mengusir orang-orang musyrik dari Mekah jika mampu.

Dan memang di kemudian hari Nabi ﷺ mengusir semua orang musyrik dari Tanah Haram dan Madinah.

Beliau bersabda:
“Tidak boleh ada dua agama di Jazirah Arab.”

Makna 
“fitnah lebih besar daripada pembunuhan”

Ar-Rāzī menyebut lima tafsir:

1. Fitnah = kekufuran
Ini riwayat dari Ibn ‘Abbās.
Kufur lebih besar daripada membunuh karena kufur membawa azab kekal.

2. Fitnah = penindasan agama
Yaitu menakut-nakuti orang beriman sampai mereka terpaksa meninggalkan negeri dan agama. 
Ini lebih berat daripada kematian.

3. Fitnah = azab neraka
Artinya di balik pembunuhan itu ada azab Allah yang lebih berat.

4. Fitnah = menghalangi ibadah di Masjidil Haram
Ini lebih buruk daripada dibunuhnya kaum musyrik di Haram.

5. Fitnah = murtad
Lebih baik mati dalam iman daripada hidup dalam kekufuran.

Larangan berperang di Masjidil Haram

Ini menunjukkan bahwa:
Di semua tempat boleh memerangi mereka,
Tapi di Haram hanya jika mereka memulai perang.

Tentang qira’at 
“taqtulūhum / tuqātilūhum”
Dua bacaan itu sama-sama sah dan hukumnya sama.

Keduanya harus diamalkan selama tidak ada nasakh.

Dalil Hanafiyah
Ayat ini menjadi dalil bahwa: Jika orang kafir tidak boleh dibunuh di Haram karena kekafirannya,
maka pelaku dosa selain kufur lebih layak lagi tidak boleh dibunuh di Haram.

Makna 
“Jika mereka berhenti”
Allah menjelaskan bahwa: 
Jika mereka berhenti dari kekufuran dan permusuhan, maka hukuman bunuh gugur dan Allah mengampuni mereka.

Seperti firman-Nya:
“Jika orang kafir berhenti, diampuni dosa-dosa mereka yang lalu.” (8:38)

Masalah akhir
Ibn ‘Abbās:
“Jika mereka berhenti dari perang.”

Hasan al-Basri:
“Jika mereka berhenti dari kekufuran.”

Dan yang benar:
Pengampunan Allah hanya terjadi jika mereka meninggalkan kekufuran dan masuk Islam.

Ayat ini juga dalil bahwa:
Tobat dari semua dosa, termasuk pembunuhan, diterima.

Karena jika Allah menerima tobat orang kafir, maka tobat pembunuh lebih layak diterima.





Disebutkan dalam tafsir At-Tahrîr wa at-Tanwîr karya Ibnu ‘Âsyûr atas 
QS. Al-Baqarah 191;

“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu temui mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu. Dan fitnah itu lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan.”

Ini adalah perintah untuk membunuh siapa pun dari mereka yang dijumpai, meskipun tidak sedang berada di medan pertempuran. 

Karena setelah Allah memerintahkan memerangi orang yang memerangi kaum Muslimin, kemudian Dia memperluas perintah itu ke semua tempat, sebagai penegasan bahwa seluruh lokasi termasuk dalam izin tersebut. 

Tujuannya agar kaum Muslimin diberi izin membunuh musuh di mana pun mereka berada, karena setiap tempat yang ditempati musuh adalah tempat peperangan. 

Maka maknanya:
 bunuhlah mereka di mana saja kamu temui mereka jika mereka memerangimu.

Kata “bunuhlah” digunakan, bukan “perangilah”, untuk menunjukkan bahwa orang yang keluar sebagai musuh perang boleh dibunuh meskipun saat ditemui tidak sedang mengangkat senjata.

Kata (ثقفتموهم) berarti: 
kamu jumpai mereka dalam kondisi perang. 

Dalam tafsir Al-Kasysyaf: artinya menemui mereka dalam keadaan kalah dan dikuasai.

“Dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu”

Artinya:
 kalian boleh mengusir mereka dari Makkah sebagaimana mereka dahulu mengusir kalian. 

Ini mengandung ancaman bagi kaum musyrik dan janji akan dibukanya Makkah, yang benar-benar terjadi dua tahun kemudian.

“Dan fitnah itu lebih besar daripada pembunuhan”

Fitnah di sini adalah penindasan, 
teror, 
penganiayaan, 
penghinaan, 
pemaksaan akidah, 
hingga pengusiran dari kampung halaman. 
Semua itu lebih kejam daripada rasa sakit karena dibunuh, sebab penderitaannya terus berulang. 

Maka ayat ini menjadi hujjah bahwa kaum Muslimin tidak berdosa jika terpaksa berperang di Makkah.

Larangan berperang di Masjidil Haram

“Dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, sampai mereka memerangi kamu di sana. 
Jika mereka memerangi kamu, maka bunuhlah mereka.”

Ayat ini mengecualikan Masjidil Haram dari seluruh tempat.

 Artinya: jika kamu menjumpai mereka di sekitar Masjidil Haram tetapi mereka tidak memerangi kamu, maka jangan kamu bunuh mereka.

 Tujuannya adalah menjaga kesucian Masjidil Haram.

Namun jika mereka mulai memerangi di sana, maka bolehlah membunuh mereka di situ juga, karena merekalah yang melanggar kehormatan Masjidil Haram terlebih dahulu.

Penggunaan kata “bunuhlah” menunjukkan izin membunuh mereka baik dalam pertempuran langsung maupun setelah mereka mundur, agar mereka tidak menjadikan Masjidil Haram sebagai tempat berlindung strategis.

Tentang klaim nasakh
 (penghapusan hukum)
Sebagian mufasir bingung dengan susunan ayat-ayat ini lalu mengklaim adanya penghapusan (nasakh), tetapi Ibnu ‘Âsyûr menolak.

 Menurutnya, ayat-ayat ini saling melengkapi dan tidak bertentangan.

Namun terdapat perbedaan pendapat ulama:

Malik & Syafi‘i: musuh boleh dibunuh di Haram bila berbahaya.

Abu Hanifah: tidak boleh membunuh di Haram kecuali jika mereka memulai perang.

Dalil Malik dan Syafi‘i: Nabi ﷺ memerintahkan membunuh Ibnu Khathal meskipun ia berlindung di Ka‘bah.

“Demikianlah balasan orang-orang kafir”

Isyarat ini menunjuk pada hukuman bunuh sebagai balasan atas permusuhan mereka. 
Kata “demikian” digunakan untuk menakut-nakuti dan menegaskan bahwa tidak ada balasan yang lebih pantas bagi agresi mereka selain itu.

Penutup ayat

“Jika mereka berhenti, maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Artinya: 
jika mereka berhenti memerangi kalian, maka jangan lagi kalian membunuh mereka. 
Karena Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, maka kaum Muslimin juga harus mempraktikkan pengampunan.

Kata “berhenti” berarti berhenti dari niat dan perbuatan memusuhi.

Kesimpulan Makna Besar Tafsir Ibnu ‘Asyur
Ibnu ‘Asyur menegaskan bahwa:
Ayat ini bukan perintah membunuh non-Muslim secara mutlak, tetapi khusus terhadap:
Musuh yang memerangi,
Menindas,
Mengusir,
Menghancurkan kebebasan beragama.
Masjidil Haram tetap suci, kecuali jika dijadikan basis serangan.
Tujuan ayat bukan kekerasan, tetapi:
Menghentikan penindasan,
Menjaga kehormatan agama,
Membela diri,
Dan menegakkan keadilan.
Prinsip akhirnya adalah:
Perang hanya sampai mereka berhenti. 
Setelah itu yang berlaku adalah ampunan, bukan pembalasan.