CINTA KEPADA ALLAH DAN SEBAB-SEBAB YANG MENDATANGKANNYA
Khutbah Masjid Nabawi, 24 Jumadal Ula 1434 H
Oleh: Syekh Abdul Bari bin ‘Awadh ats-Tsubaiti حفظه الله
Sumber: Alukah – Khutbah Masjid Nabawi, 24/5/1434 H
Khutbah pertama
Segala puji bagi Allah. Segala puji bagi Allah yang menjadikan cinta kepada-Nya sebagai pencapaian yang paling mulia dan anugerah yang paling agung. Aku memuji-Nya, Mahasuci Dia, dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat makanan dan minuman.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Yang Mahasuci dari segala kekurangan dan cela.
Dialah yang menciptakan manusia dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.
Aku bersaksi bahwa junjungan dan Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang menyeru kepada petunjuk, cahaya, dan penyucian jiwa dari segala kekurangan.
Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.
Amma ba‘du:
Aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar senantiasa bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya takwa merupakan jalan keselamatan dan keberuntungan.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Muslim."
(QS. Ali ‘Imran: 102).
### Cinta kepada Allah merupakan konsekuensi keimanan
Cinta kepada Allah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan. Tauhid tidak akan sempurna sampai sempurna pula kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya.
Cinta tidak dapat dibatasi dengan suatu definisi yang lebih jelas daripada hakikatnya sendiri, dan tidak dapat digambarkan dengan suatu sifat yang lebih terang daripada maknanya.
Tidak ada sesuatu pun yang dicintai karena zatnya dari segala sisi selain Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Dialah satu-satunya yang berhak menerima uluhiyah, penghambaan, ketundukan, kerendahan diri, dan kecintaan yang sempurna.
Kecintaan kepada Rabb, Subhanahu wa Ta‘ala, memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Tidak ada sesuatu pun yang lebih dicintai oleh hati daripada Pencipta dan Yang Mengadakan dirinya.
Dialah sesembahan, tempat ibadah, pelindung, penolong, Rabb, pengatur segala urusan, pemberi rezeki, Yang mematikan, dan Yang menghidupkan.
Maka, mencintai-Nya merupakan kenikmatan bagi jiwa, kehidupan bagi ruh, kebahagiaan bagi diri, kekuatan bagi hati, cahaya bagi akal, penyejuk mata, dan kehidupan bagi batin.
Tidak ada sesuatu yang lebih indah, lebih lezat, lebih baik, lebih membahagiakan, dan lebih menenteramkan bagi hati yang sehat, ruh yang baik, serta akal yang bersih daripada mencintai Allah, merasa tenteram dan akrab dengan-Nya, serta merindukan perjumpaan dengan-Nya.
Yahya bin Mu‘adz berkata:
"Pengampunan-Nya meliputi seluruh dosa; lalu bagaimana dengan keridaan-Nya? Keridaan-Nya meliputi segala harapan; lalu bagaimana dengan cinta-Nya? Cinta-Nya membuat akal menjadi takjub; lalu bagaimana dengan kasih sayang-Nya? Kasih sayang-Nya membuat seseorang melupakan segala sesuatu selain-Nya; lalu bagaimana dengan kelembutan-Nya?"
Semakin banyak seseorang memiliki kecintaan kepada Allah, semakin besar pula kenikmatan dan manisnya iman yang ia rasakan.
Barang siapa hatinya dipenuhi kecintaan kepada Allah, niscaya kecintaan tersebut akan mencukupkannya dari ketergantungan kepada kecintaan selain-Nya, rasa takut kepada selain-Nya, dan ketergantungan kepada selain-Nya.
Tidak ada sesuatu yang dapat mencukupi hati, menutup kekurangannya, dan mengenyangkan kebutuhannya selain kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Seandainya seseorang memperoleh segala sesuatu yang dapat memberikan kenikmatan kepadanya, ia tetap tidak akan merasa akrab dan tenteram kecuali dengan mencintai Allah Azza wa Jalla.
Apabila hati kehilangan kecintaan tersebut, rasa sakit yang dirasakannya lebih besar daripada sakitnya mata ketika kehilangan cahaya penglihatan, telinga ketika kehilangan pendengaran, hidung ketika kehilangan penciuman, dan lidah ketika kehilangan kemampuan berbicara.
Bahkan, rusaknya hati ketika kosong dari kecintaan kepada Pencipta, Yang Mengadakan, dan Sesembahan yang hak, jauh lebih besar daripada rusaknya tubuh ketika kehilangan ruh.
### Hakikat cinta kepada Allah
Hakikat cinta adalah menyerahkan seluruh dirimu kepada sesuatu yang engkau cintai, sehingga tidak tersisa sedikit pun dari dirimu untuk selainnya.
Kecintaan kepada Allah harus mendahului seluruh kecintaan lainnya dan mengalahkannya. Adapun kecintaan-kecintaan seorang hamba yang lain harus mengikuti kecintaan tersebut.
Dengan kecintaan inilah kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba dapat terwujud.
Orang-orang yang mencintai Allah memiliki tingkatan yang berbeda-beda dalam kadar kecintaan mereka. Hal ini karena Allah Ta‘ala menggambarkan orang-orang beriman sebagai orang yang sangat kuat cintanya kepada Allah.
Allah berfirman:
﴿وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ﴾
"Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah."
(QS. Al-Baqarah: 165).
Penggunaan kata أَشَدُّ (lebih kuat atau sangat kuat) merupakan dalil bahwa kecintaan mereka bertingkat-tingkat, karena maknanya adalah semakin kuat dan semakin kuat lagi.
Cinta kepada Allah adalah mengutamakan segala sesuatu yang dicintai-Nya di atas diri, jiwa, dan hartamu.
Kemudian engkau menyesuaikan diri dengan kehendak-Nya, baik secara tersembunyi maupun terang-terangan.
Selanjutnya, engkau menyadari kekuranganmu dalam mencintai-Nya.
Artinya, seluruh dirimu disibukkan dengan sesuatu yang dicintai-Nya, jiwamu dicurahkan untuk-Nya, hatimu terus melakukan perjalanan dalam mencari sesuatu yang dicintai-Nya, dan lisanmu senantiasa basah dengan menyebut-Nya.
Nabi kita ﷺ pernah berdoa:
«وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ»
"Aku memohon kepada-Mu kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang yang mencintai-Mu, dan kecintaan kepada amal yang dapat mendekatkan kepada kecintaan-Mu."
Apabila kecintaan semakin kuat, semakin besar, dan semakin tinggi kedudukannya dalam diri seseorang, maka kecintaan tersebut dapat mencapai tingkatan walah (kerinduan dan kecintaan yang sangat mendalam).
Walah adalah kecintaan yang sangat kuat.
Adapun ta'alluh kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala adalah kecintaan yang sangat mendalam kepada Allah dan kecintaan terhadap segala sesuatu yang datang dari sisi Allah Tabaraka wa Ta‘ala.
Kebutuhan manusia terhadap penghambaan dan ketuhanan Allah jauh lebih besar daripada kebutuhan mereka terhadap makanan.
Sebab, apabila makanan tidak tersedia, tubuh akan rusak. Sementara itu, dengan hilangnya penghambaan dan ketergantungan kepada Allah, jiwa akan mengalami kerusakan.
Seorang mukmin, apabila mengenal Rabbnya, niscaya ia akan mencintai-Nya. Apabila mencintai-Nya, ia akan bergegas menghadap kepada-Nya.
Apabila telah merasakan manisnya menghadap kepada Allah, ia tidak lagi memandang dunia dengan pandangan yang didorong oleh syahwat, dan tidak memandang akhirat dengan pandangan yang diliputi kelemahan dan kelalaian.
### Pengaruh cinta kepada Allah dalam kehidupan seorang hamba
Cinta kepada Allah mendorong seseorang untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan.
Cinta tersebut juga mendorong seorang hamba untuk mengerjakan amalan-amalan sunnah dan menjauhi perkara-perkara yang makruh.
Cinta kepada Allah memenuhi hati dengan kenikmatan dan manisnya iman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا»
"Akan merasakan manisnya iman orang yang rida Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasulnya."
Cinta kepada Allah mengeluarkan dari hati kecintaan terhadap segala sesuatu yang dibenci Allah.
Anggota tubuh pun terdorong untuk melakukan ketaatan karena kecintaan kepada Allah. Jiwa menjadi tenang dan tenteram.
Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:
«... فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا»
"...Apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memegang, dan kakinya yang dengannya ia berjalan."
Orang yang mencintai Allah akan mendapatkan kenikmatan cinta yang dapat membuatnya melupakan berbagai musibah. Ia tidak merasakan beratnya musibah sebagaimana yang dirasakan oleh orang lain.
Cinta kepada Allah termasuk sebab paling kuat yang membantu seseorang bersabar untuk tidak menyelisihi-Nya dan tidak melakukan kemaksiatan kepada-Nya.
Sebab, orang yang mencintai akan menaati sesuatu yang dicintainya.
Semakin kuat kekuasaan cinta di dalam hati, semakin kuat pula dorongannya untuk melakukan ketaatan dan meninggalkan penyelisihan.
Adapun kemaksiatan dan penyelisihan terhadap perintah Allah muncul karena lemahnya kecintaan dan pengaruhnya di dalam hati.
Orang yang benar-benar mencintai Allah senantiasa merasa diawasi oleh Dzat yang dicintainya. Ia menjaga hati dan seluruh anggota tubuhnya.
Kecintaan semata tidak akan menghasilkan pengaruh tersebut apabila tidak disertai dengan pengagungan dan penghormatan terhadap Dzat yang dicintai.
Apabila kecintaan disertai pengagungan dan penghormatan, maka hal itu akan melahirkan rasa malu kepada-Nya dan ketaatan.
Jika tidak demikian, kecintaan yang tidak disertai pengagungan dan penghormatan hanya akan melahirkan suatu bentuk keakraban, kelapangan, ingatan, dan kerinduan.
Oleh sebab itu, pengaruh dan konsekuensi kecintaan tersebut terkadang tidak terwujud.
Seorang hamba memeriksa hatinya, lalu mendapati bahwa ia memiliki suatu bentuk kecintaan kepada Allah. Akan tetapi, kecintaan itu tidak mendorongnya untuk meninggalkan kemaksiatan.
Penyebabnya adalah karena kecintaan tersebut tidak disertai pengagungan dan penghormatan kepada Allah.
Tidak ada sesuatu pun yang dapat memenuhi hati sebagaimana kecintaan yang disertai pengagungan dan penghormatan kepada Allah.
Kecintaan seperti itulah salah satu karunia Allah yang paling utama bagi seorang hamba, bahkan boleh jadi itulah karunia yang paling utama.
Semua itu merupakan karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.
Apabila kecintaan terlepas dari ketundukan dan kerendahan diri, maka kecintaan tersebut berubah menjadi sekadar pengakuan yang tidak memiliki nilai.
Inilah keadaan orang yang mengaku mencintai Allah, tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya, tidak tunduk kepada Sunnah Muhammad ﷺ, dan tidak menjadikan Sunnah tersebut sebagai pedoman dalam perkataan, perbuatan, serta ibadahnya.
Tidak mungkin seseorang benar-benar mencintai Allah dan mengaku mencintai-Nya sementara ia tidak mengikuti Rasulullah ﷺ.
Oleh karena itu, orang-orang Yahudi dan Nasrani pernah berkata sebagaimana yang Allah kisahkan dalam firman-Nya:
﴿وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ﴾
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata, 'Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.'"
(QS. Al-Ma'idah: 18).
Pengakuan semata dapat diklaim oleh siapa saja.
Namun, Allah telah memutuskan perkara berbagai pengakuan tersebut dan menjelaskan mana yang benar dan mana yang palsu melalui firman-Nya:
﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾
"Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS. Ali ‘Imran: 31).
### Tanda-tanda kecintaan kepada Allah
Di antara tanda kecintaan kepada Allah adalah mencintai orang-orang yang menaati-Nya, memberikan loyalitas kepada para wali-Nya, memusuhi orang-orang yang melakukan kemaksiatan kepada-Nya, bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan menolong para penolong agama-Nya.
Semakin kuat kecintaan seorang hamba kepada Allah di dalam hatinya, semakin kuat pula amal-amal tersebut dalam dirinya.
### Sebab-sebab yang mendatangkan kecintaan Allah
Di sini, sudah sepantasnya kita mengetahui sebab-sebab yang mendatangkan kecintaan kepada Allah.
Di antaranya adalah:
1\. Mengenal nikmat-nikmat Allah kepada para hamba-Nya.
Nikmat-nikmat Allah tidak terhitung dan tidak terhingga.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا﴾
"Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya."
(QS. An-Nahl: 18).
Allah juga berfirman:
﴿وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ﴾
"Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu."
(QS. Al-Qashash: 77).
2\. Mengenal Allah Ta‘ala melalui nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya.
Barang siapa mengenal Allah, niscaya ia akan mencintai-Nya.
Barang siapa mencintai Allah, niscaya ia akan menaati-Nya.
Barang siapa menaati Allah, niscaya Allah akan memuliakannya.
Barang siapa dimuliakan oleh Allah, niscaya Allah akan menempatkannya di sisi-Nya.
Dan barang siapa ditempatkan di sisi Allah, maka sungguh beruntunglah ia.
3\. Merenungkan kerajaan langit dan bumi serta segala sesuatu yang telah Allah ciptakan.
Di antara sebab terbesar yang mendatangkan kecintaan kepada Allah adalah memikirkan kerajaan langit dan bumi serta segala sesuatu yang telah Allah ciptakan berupa tanda-tanda kebesaran-Nya.
Tanda-tanda tersebut menunjukkan keagungan, kekuasaan, kemuliaan, kesempurnaan, kebesaran, kasih sayang, rahmat, dan kelembutan-Nya, serta berbagai nama Allah yang indah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna.
Semakin kuat pengetahuan seorang hamba tentang Allah, semakin kuat pula kecintaannya kepada Allah dan kecintaannya terhadap ketaatan kepada-Nya.
4\. Berinteraksi dengan Allah secara jujur dan ikhlas serta menyelisihi hawa nafsu.
Di antara sebab yang mendatangkan kecintaan kepada Allah Azza wa Jalla adalah bermuamalah dengan Allah melalui kejujuran dan keikhlasan serta menyelisihi hawa nafsu.
Sesungguhnya hal itu merupakan sebab datangnya karunia Allah kepada hamba-Nya dan sebab Allah menganugerahkan kecintaan-Nya kepada hamba tersebut.
5\. Memperbanyak zikir kepada Allah.
Di antara perkara terbesar yang dapat mendatangkan kecintaan kepada Allah adalah memperbanyak zikir kepada-Nya.
Barang siapa mencintai sesuatu, niscaya ia akan banyak menyebutnya.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra‘d: 28).
Semoga Allah memberkahi aku dan kalian melalui Al-Qur'an yang agung, dan memberikan manfaat kepada kita semua dengan ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah yang terkandung di dalamnya.
Inilah yang aku sampaikan. Aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung untuk diriku dan untuk kalian. Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
### Khutbah kedua
Segala puji bagi Allah yang telah menolong hamba-hamba-Nya melalui doa-doa yang baik.
Aku memuji-Nya, Mahasuci Dia, dan bersyukur kepada-Nya atas berbagai kemuliaan dan karunia.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Rabb seluruh makhluk.
Aku bersaksi bahwa junjungan dan Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang dikuatkan dengan berbagai mukjizat.
Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.
Amma ba‘du:
Aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar senantiasa bertakwa kepada Allah.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia telah memperoleh kemenangan yang besar."
(QS. Al-Ahzab: 70–71).
### Empat macam kecintaan yang harus dibedakan
Wahai saudara-saudara kaum Muslimin, di sini terdapat empat macam kecintaan yang wajib dibedakan.
Pertama: Kecintaan kepada Allah.
Kecintaan kepada Allah saja belum cukup untuk menyelamatkan seseorang dari azab Allah dan memperoleh pahala-Nya.
Sebab, orang-orang musyrik, para penyembah salib, orang-orang Yahudi, dan selain mereka juga mencintai Allah.
Kedua: Mencintai segala sesuatu yang dicintai Allah.
Inilah kecintaan yang memasukkan seseorang ke dalam Islam dan mengeluarkannya dari kekufuran.
Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling lurus dan paling kuat dalam mewujudkan kecintaan semacam ini.
Ketiga: Mencintai karena Allah dan di jalan Allah.
Kecintaan ini merupakan konsekuensi dari mencintai segala sesuatu yang dicintai Allah.
Sebab, kecintaan terhadap sesuatu yang dicintai Allah tidak akan menjadi benar dan lurus kecuali apabila kecintaan tersebut dilakukan karena Allah dan di jalan-Nya.
Keempat: Mencintai sesuatu bersama Allah.
Inilah kecintaan yang mengandung kesyirikan.
Setiap orang yang mencintai sesuatu bersama Allah, bukan karena Allah, bukan demi Allah, dan bukan dalam rangka mencintai-Nya, berarti ia telah menjadikan sesuatu tersebut sebagai tandingan bagi Allah selain-Nya.
Inilah bentuk kecintaan orang-orang musyrik.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ﴾
"Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah."
(QS. Al-Baqarah: 165).
### Shalawat kepada Nabi ﷺ
Ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah, bershalawatlah kepada Rasul pembawa petunjuk.
Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk melakukan hal tersebut di dalam kitab-Nya.
Allah berfirman:
﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."
(QS. Al-Ahzab: 56).
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad, istri-istri, dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada keluarga Ibrahim.
Dan limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad, istri-istri, dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
### Doa-doa khutbah
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.
Hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik. Hancurkanlah musuh-musuh-Mu, musuh-musuh agama.
Ya Allah, jadikanlah negeri ini sebagai negeri yang aman dan tenteram, demikian pula seluruh negeri kaum Muslimin.
Ya Allah, sesungguhnya saudara-saudara kami di negeri Syam telah ditimpa berbagai musibah yang Engkau Maha Mengetahui dan Mahakuasa untuk menghilangkannya.
Ya Allah, angkatlah dari mereka bencana dan bahaya yang telah menimpa mereka.
Ya Allah, satukanlah barisan mereka dan persatukanlah kalimat mereka.
Ya Allah, jadilah Engkau sebagai penolong, pendukung, dan pelindung mereka, wahai Rabb semesta alam.
Ya Allah, satukanlah barisan mereka dan luruskanlah bidikan mereka.
Ya Allah, tolonglah mereka dalam menghadapi musuh-Mu dan musuh mereka, wahai Rabb semesta alam.
Ya Allah, timpakanlah kehinaan kepada musuh-musuh mereka.
Ya Allah, timpakanlah kebinasaan kepada penguasa zalim di Syam dan para pendukungnya, wahai Rabb semesta alam.
Ya Allah, pecah-belahlah persatuan mereka, cerai-beraikanlah kekuatan mereka, dan jadikanlah kehancuran menimpa mereka, wahai Dzat Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.
Ya Allah, Dzat Yang menurunkan kitab, menggerakkan awan, dan mengalahkan pasukan-pasukan musuh, kalahkanlah musuh mereka dan tolonglah mereka, wahai Rabb semesta alam.
Ya Allah, kalahkanlah musuh mereka di Syam dan tolonglah saudara-saudara kami di Syam dalam menghadapi musuh mereka, wahai Rabb semesta alam.
Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
Ya Allah, sesungguhnya saudara-saudara kami di Syam ada yang tidak memiliki pakaian, maka berilah mereka pakaian.
Mereka kelaparan, maka berilah mereka makanan.
Mereka tidak beralas kaki, maka sediakanlah kendaraan bagi mereka.
Mereka dizalimi, maka berilah mereka pertolongan.
Ya Allah, sesungguhnya mereka benar-benar dizalimi, maka berilah mereka pertolongan.
Ya Allah, sesungguhnya mereka benar-benar dizalimi, maka berilah mereka pertolongan.
Ya Allah, sesungguhnya mereka benar-benar dizalimi, maka berilah mereka pertolongan.
Ya Allah, sesungguhnya mereka benar-benar dizalimi, maka berilah mereka pertolongan, wahai Dzat Yang Mahakuat, Mahaperkasa, dan Mahakuasa.
Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
Ya Allah, kabulkanlah doa kami.
Ya Allah, kabulkanlah doa kami.
Ya Allah, kabulkanlah doa kami.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu surga dan segala perkataan serta perbuatan yang mendekatkan kepadanya.
Dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala perkataan serta perbuatan yang mendekatkan kepadanya.
Ya Allah, perbaikilah agama kami yang merupakan penjaga urusan kami.
Perbaikilah dunia kami yang di dalamnya terdapat kehidupan kami.
Perbaikilah akhirat kami yang merupakan tempat kembali kami.
Jadikanlah kehidupan sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai waktu istirahat bagi kami dari segala keburukan, wahai Rabb semesta alam.
Ya Allah, tolonglah kami dan janganlah Engkau menolong pihak yang memusuhi kami.
Menangkanlah kami dan janganlah Engkau memenangkan pihak yang memusuhi kami.
Aturlah urusan kami dengan baik dan janganlah Engkau menjadikan urusan kami berada di tangan pihak yang memusuhi kami.
Berilah kami petunjuk dan mudahkanlah petunjuk itu bagi kami.
Tolonglah kami dalam menghadapi orang-orang yang melampaui batas terhadap kami.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang banyak mengingat-Mu, banyak bersyukur kepada-Mu, tunduk dan khusyuk kepada-Mu, banyak merintih dalam doa kepada-Mu, serta senantiasa kembali dan bertobat kepada-Mu.
Ya Allah, terimalah tobat kami, kabulkanlah doa kami, dan bersihkanlah kedengkian serta kebencian dari dada kami, wahai Rabb semesta alam.
Ya Allah, lapangkanlah kesedihan orang-orang Muslim yang sedang bersedih.
Hilangkanlah kesusahan orang-orang yang sedang mengalami kesulitan.
Lunasilah utang orang-orang yang terlilit utang.
Sembuhkanlah orang-orang sakit di antara kami dan kaum Muslimin.
Ampunilah orang-orang yang telah meninggal dunia di antara kami dan kaum Muslimin, wahai Rabb semesta alam.
Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami untuk melakukan perkara-perkara yang Engkau cintai dan Engkau ridai.
Bimbinglah dirinya menuju kebaikan dan ketakwaan.
Ya Allah, berikanlah taufik kepada seluruh pemimpin kaum Muslimin agar mereka mengamalkan Kitab-Mu dan menerapkan syariat-Mu, wahai Rabb semesta alam.
### Doa penutup dari Al-Qur'an
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ﴾
"Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."
(QS. Al-Hasyr: 10).
Allah Ta‘ala juga berfirman:
﴿رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾
"Ya Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi."
(QS. Al-A‘raf: 23).
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾
"Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka."
(QS. Al-Baqarah: 201).
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."
(QS. An-Nahl: 90).
Maka, ingatlah Allah, niscaya Dia akan mengingat kalian.
Bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat-Nya kepada kalian.
Dan sungguh, mengingat Allah itu lebih besar keutamaannya.
Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.