Tafsir Ibnu Katsir
Surah Al-Baqarah ayat 204–207
Firman Allah Ta'ala:
﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ﴾
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah.”
Setelah Allah mengabarkan tentang orang-orang munafik beserta sifat-sifat mereka yang tercela, Allah kemudian menyebutkan sifat-sifat orang-orang beriman yang terpuji. Allah berfirman:
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah.”
Ibnu Abbas, Anas, Sa'id bin Al-Musayyib, Abu Utsman An-Nahdi, Ikrimah, dan sejumlah ulama lainnya mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Shuhaib bin Sinan Ar-Rumi.
Peristiwa tersebut bermula ketika Shuhaib masuk Islam di Makkah dan hendak berhijrah. Orang-orang Quraisy menghalanginya untuk membawa hartanya ketika berhijrah. Mereka berkata bahwa ia tidak boleh membawa hartanya pergi bersama dirinya.
Apabila ia ingin meninggalkan hartanya dan berhijrah tanpa membawa harta tersebut, maka mereka akan membiarkannya.
Akhirnya, Shuhaib berhasil melepaskan diri dari mereka dengan menyerahkan seluruh hartanya kepada mereka. Kemudian Allah menurunkan ayat ini berkenaan dengannya.
Ketika Shuhaib tiba di Madinah, Umar bin Al-Khaththab bersama sejumlah sahabat menyambutnya sampai di ujung kawasan Al-Harrah. Mereka berkata:
“Perdaganganmu benar-benar telah memperoleh keuntungan!”
Shuhaib menjawab:
“Begitu pula kalian, semoga Allah tidak menjadikan perdagangan kalian merugi. Memangnya ada apa?”
Mereka kemudian memberitahukan kepadanya bahwa Allah telah menurunkan ayat ini berkenaan dengannya.
Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadanya:
«رَبِحَ الْبَيْعُ صُهَيْبُ، رَبِحَ الْبَيْعُ صُهَيْبُ»
“Perdaganganmu telah menguntungkan, wahai Shuhaib! Perdaganganmu telah menguntungkan, wahai Shuhaib!”
Riwayat Ibnu Mardawaih
Ibnu Mardawaih berkata:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Rustah, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud, telah menceritakan kepada kami Ja'far bin Sulaiman Adh-Dhab'i, telah menceritakan kepada kami Auf, dari Abu Utsman An-Nahdi, dari Shuhaib, ia berkata:
“Ketika aku hendak berhijrah dari Makkah menuju Nabi ﷺ, orang-orang Quraisy berkata kepadaku:
‘Wahai Shuhaib! Engkau dahulu datang kepada kami dalam keadaan tidak memiliki harta, tetapi sekarang engkau hendak keluar meninggalkan kami dengan membawa hartamu? Demi Allah, hal itu tidak akan pernah terjadi!’
Aku pun berkata kepada mereka:
‘Bagaimana menurut kalian, jika aku menyerahkan hartaku kepada kalian, apakah kalian akan membiarkanku pergi?’
Mereka menjawab:
‘Ya.’
Maka aku menyerahkan hartaku kepada mereka. Setelah itu mereka membiarkanku pergi. Aku pun berangkat hingga akhirnya tiba di Madinah.
Berita tersebut sampai kepada Nabi ﷺ. Beliau kemudian bersabda:
«رَبِحَ صُهَيْبٌ، رَبِحَ صُهَيْبٌ»
‘Shuhaib benar-benar telah memperoleh keuntungan! Shuhaib benar-benar telah memperoleh keuntungan!’”
Beliau mengucapkannya sebanyak dua kali.
Riwayat lainnya tentang Shuhaib
Hammad bin Salamah meriwayatkan dari Ali bin Zaid, dari Sa'id bin Al-Musayyib, ia berkata:
“Shuhaib berangkat menuju Nabi ﷺ sebagai seorang muhajir. Namun, beberapa orang Quraisy mengejarnya.
Maka Shuhaib turun dari tunggangannya dan mengeluarkan seluruh anak panah yang ada di wadah anak panahnya. Kemudian ia berkata:
‘Wahai orang-orang Quraisy! Sungguh kalian telah mengetahui bahwa aku adalah orang yang paling mahir memanah di antara kalian. Demi Allah, kalian tidak akan dapat mendekatiku sampai aku melepaskan seluruh anak panah yang ada di wadah anak panahku. Setelah itu aku akan menyerang kalian dengan pedangku, hingga tidak tersisa sedikit pun senjata di tanganku.
Setelah itu, lakukanlah apa pun yang kalian kehendaki!
Namun, jika kalian mau, aku akan menunjukkan kepada kalian tempat hartaku dan tempat tinggal keluargaku di Makkah, kemudian kalian membiarkan aku pergi.’
Mereka menjawab:
‘Ya.’
Ketika Shuhaib telah tiba di hadapan Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«رَبِحَ الْبَيْعُ، رَبِحَ الْبَيْعُ»
‘Perdagangan itu benar-benar telah memperoleh keuntungan! Perdagangan itu benar-benar telah memperoleh keuntungan!’
Sa'id bin Al-Musayyib berkata:
‘Dan turunlah ayat:
﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ﴾
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”’”
Pendapat mayoritas ulama tentang makna ayat
Adapun mayoritas ulama berpendapat bahwa ayat tersebut mencakup setiap orang yang berjihad di jalan Allah.
Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala:
﴿إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu. Dan demikian itulah kemenangan yang agung.”
(QS. At-Taubah: 111).
Ketika Hisyam bin Amir menerobos masuk di antara dua barisan pasukan musuh, sebagian orang mengingkari tindakannya tersebut.
Maka Umar bin Al-Khaththab, Abu Hurairah, dan sahabat-sahabat lainnya membantah mereka. Mereka membacakan ayat ini sebagai dalil:
﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ﴾
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”
TAFSIR AL-QURTHUBI
Surah Al-Baqarah Ayat 207
﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ﴾
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”
(QS. Al-Baqarah: 207).
### 1\. Penjelasan susunan bahasa dan hubungan ayat
Kata ابْتِغَاءَ (ibtighā'a) dibaca nashab (manshub) karena berkedudukan sebagai maf'ul li ajlih (objek yang menjelaskan sebab atau tujuan suatu perbuatan).
Setelah Allah menyebutkan perbuatan orang-orang munafik, Allah kemudian menyebutkan perbuatan orang-orang mukmin.
Ada yang mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Shuhaib.
Hal itu karena Shuhaib datang berhijrah menuju Rasulullah ﷺ. Kemudian beberapa orang Quraisy mengejarnya.
Maka Shuhaib turun dari tunggangannya, mengeluarkan seluruh anak panah yang ada di wadah anak panahnya, mengambil busurnya, lalu berkata:
“Sungguh kalian telah mengetahui bahwa aku adalah orang yang paling mahir memanah di antara kalian. Demi Allah, kalian tidak akan dapat menjangkaiku sampai aku melepaskan seluruh anak panah yang ada di wadah anak panahku. Setelah itu aku akan menyerang kalian dengan pedangku, sampai tidak tersisa sedikit pun senjata di tanganku. Kemudian lakukanlah apa yang kalian kehendaki!”
Mereka berkata:
“Kami tidak akan membiarkanmu pergi meninggalkan kami dalam keadaan kaya, padahal dahulu engkau datang kepada kami dalam keadaan miskin dan tidak memiliki harta. Akan tetapi, tunjukkanlah kepada kami hartamu yang berada di Makkah, niscaya kami akan membiarkanmu pergi.”
Mereka membuat perjanjian dengannya mengenai hal tersebut. Maka Shuhaib pun melakukannya.
Ketika ia telah tiba di hadapan Rasulullah ﷺ, turunlah ayat:
﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ﴾
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah.”
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:
«رَبِحَ الْبَيْعُ أَبَا يَحْيَى»
“Perdaganganmu benar-benar menguntungkan, wahai Abu Yahya!”
Beliau juga membacakan ayat tersebut kepadanya.
Riwayat ini dikeluarkan oleh Razin. Riwayat ini juga dikemukakan oleh Sa'id bin Al-Musayyib rahimahullah.
### 2\. Riwayat lain mengenai pengorbanan Shuhaib Ar-Rumi
Para ahli tafsir mengatakan:
Orang-orang musyrik pernah menangkap Shuhaib dan menyiksanya.
Maka Shuhaib berkata kepada mereka:
“Sesungguhnya aku adalah seorang laki-laki tua yang sudah lanjut usia. Tidak ada bedanya bagi kalian apakah aku berada bersama kalian atau bersama orang lain. Bagaimana jika kalian mengambil hartaku, tetapi membiarkan aku tetap memegang agama dan keyakinanku?”
Mereka pun menyetujui hal tersebut.
Shuhaib juga mensyaratkan kepada mereka agar menyediakan seekor tunggangan dan bekal perjalanan untuknya.
Kemudian ia berangkat menuju Madinah.
Abu Bakar, Umar radhiyallahu 'anhuma, dan beberapa orang lainnya menyambut kedatangannya.
Abu Bakar berkata kepadanya:
“Perdaganganmu benar-benar menguntungkan, wahai Abu Yahya!”
Shuhaib menjawab:
“Begitu pula perdaganganmu, semoga tidak merugi. Memangnya ada apa?”
Abu Bakar berkata:
“Allah telah menurunkan ayat berkenaan dengan dirimu,” kemudian ia membacakan ayat tersebut kepadanya.
### 3\. Pendapat Al-Hasan Al-Bashri mengenai makna ayat
Al-Hasan berkata:
“Apakah kalian mengetahui berkenaan dengan siapa ayat ini diturunkan?
Ayat ini turun berkenaan dengan seorang muslim yang bertemu dengan orang kafir, lalu orang muslim tersebut berkata kepadanya:
‘Ucapkanlah: Lā ilāha illallāh!’
Apabila engkau telah mengucapkannya, engkau akan melindungi harta dan jiwamu.”
Namun orang kafir tersebut menolak untuk mengucapkannya.
Maka orang muslim itu berkata:
“Demi Allah, sungguh aku akan mengorbankan diriku untuk Allah.”
Kemudian ia maju menghadapi orang kafir tersebut dan berperang hingga akhirnya terbunuh.
### 4\. Pendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang yang melakukan amar makruf dan nahi mungkar
Ada pula yang berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran.
Umar, Ali, dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum menafsirkan ayat ini berdasarkan pengertian tersebut.
Ali dan Ibnu Abbas berkata:
“Dua orang laki-laki saling berperang.”
Maksudnya, seseorang yang melakukan perubahan terhadap kemungkaran berkata kepada orang yang melakukan kerusakan:
“Bertakwalah kepada Allah!”
Namun orang yang melakukan kerusakan itu menolak nasihat tersebut. Kesombongan dan keangkuhan menguasai dirinya.
Maka orang yang mengingkari kemungkaran itu mengorbankan dirinya demi mencari keridaan Allah dan memerangi orang tersebut. Akhirnya keduanya saling berperang.
### 5\. Kisah Umar bin Al-Khaththab ketika mendengar ayat ini
Abu Al-Khalil berkata:
Umar bin Al-Khaththab pernah mendengar seseorang membaca ayat ini.
Maka Umar berkata:
«إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ»
“Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kita akan kembali.”
Kemudian Umar berkata:
“Seorang laki-laki telah bangkit untuk memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, tetapi ia terbunuh.”
Ada pula yang mengatakan bahwa Umar pernah mendengar Ibnu Abbas berkata:
“Dua orang laki-laki saling berperang.”
Hal itu terjadi ketika seorang pembaca sedang membaca ayat tersebut.
Umar kemudian bertanya kepada Ibnu Abbas mengenai maksud perkataannya. Ibnu Abbas pun menjelaskan tafsir tersebut kepadanya.
Maka Umar berkata:
«لِلَّهِ تِلَادُكَ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ»
“Demi Allah, sungguh bagus pemahaman dan pengetahuan yang telah engkau warisi, wahai Ibnu Abbas!”
### 6\. Pendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang yang menerobos barisan musuh
Ada pula yang berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang yang menerobos masuk ke medan pertempuran.
Hisyam bin Amir pernah menyerang barisan musuh dalam peperangan di Konstantinopel. Ia terus berperang hingga terbunuh.
Kemudian Abu Hurairah membaca ayat:
﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ﴾
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah.”
Hal yang serupa juga diriwayatkan dari Abu Ayyub.
Ada pula yang mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan para syuhada dalam Perang Ar-Raji'.
Qatadah berkata:
“Mereka adalah kaum Muhajirin dan kaum Anshar.”
### 7\. Pendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib
Ada pula yang berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu.
Hal itu terjadi ketika Nabi ﷺ meminta Ali untuk tidur di tempat tidur beliau pada malam ketika Rasulullah ﷺ berangkat menuju gua.
Penjelasan mengenai peristiwa ini akan datang pembahasannya dalam Surah At-Taubah (Barā'ah), insya Allah Ta'ala.
### 8\. Pendapat bahwa ayat ini berlaku umum
Ada pula yang berpendapat bahwa ayat ini berlaku umum.
Ayat ini mencakup setiap orang yang berjihad di jalan Allah, atau seseorang yang mengorbankan dirinya untuk memperoleh kesyahidan, atau orang yang melakukan perubahan terhadap kemungkaran.
Pembahasan mengenai hukum seseorang yang menerobos barisan musuh telah dijelaskan sebelumnya.
Adapun pembahasan mengenai orang yang mengubah kemungkaran, persyaratan-persyaratannya, dan hukum-hukumnya akan dibahas dalam Surah Ali Imran, insya Allah Ta'ala.
### 9\. Penjelasan makna kata يَشْرِي (yasyri)
Kata:
يَشْرِي (yasyri)
Artinya adalah menjual.
Di antaranya terdapat dalam firman Allah Ta'ala:
﴿وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍ بَخْسٍ﴾
“Dan mereka menjualnya dengan harga yang murah.”
(QS. Yusuf: 20).
Maksudnya, mereka menjualnya.
Asal makna kata tersebut adalah al-istibdāl, yaitu saling mengganti atau menukarkan sesuatu.
Di antaranya juga firman Allah Ta'ala:
﴿إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ﴾
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.”
(QS. At-Taubah: 111).
Seorang penyair berkata:
وَإِنْ كَانَ رَيْبُ الدَّهْرِ أَمْضَاكَ فِي الْأُولَى شَرَوْا هَذِهِ الدُّنْيَا بِجَنَّاتِهِ الْخُلْدِ
“Jika ketidakpastian zaman telah membuatmu menderita dalam kehidupan yang pertama, mereka telah menjual dunia ini demi memperoleh surga-surga yang kekal.”
Penyair lainnya berkata:
وَشَرَيْتُ بُرْدًا لَيْتَنِي مِنْ بَعْدِ بُرْدٍ كُنْتُ هَامَهْ
“Aku telah membeli seorang budak bernama Burd. Seandainya setelah Burd itu aku menjadi Hāmah.”
Kata Burd dalam syair tersebut adalah nama seorang anak laki-laki.
Penyair lainnya berkata:
يُعْطِي بِهَا ثَمَنًا فَيَمْنَعُهَا وَيَقُولُ صَاحِبُهَا أَلَا فَأَشْرِ
“Dia memberikan harga untuk barang itu, tetapi kemudian menahannya. Sementara pemilik barang tersebut berkata: ‘Tidakkah engkau mau menjualnya?’”
### 10\. Makna mengorbankan jiwa dalam ayat
Yang dimaksud dengan menjual jiwa dalam ayat ini adalah:
Mengerahkan dan mengorbankan jiwa untuk melaksanakan perintah-perintah Allah.
Adapun kata:
ابْتِغَاءَ (ibtighā'a)
Berkedudukan sebagai maf'ul li ajlih, yaitu kata yang menjelaskan tujuan atau sebab suatu perbuatan.
### 11\. Perbedaan bacaan pada kata مَرْضَاتِ
Imam Al-Kisa'i berhenti (waqaf) pada kata:
مَرْضَاتِ
dengan huruf ta' (ت).
Sedangkan para imam qiraat lainnya berhenti dengan huruf ha' (ه), sesuai bentuk penulisan dan pengucapan ketika waqaf.
Abu Ali berkata:
Imam Al-Kisa'i berhenti dengan huruf ta' karena salah satu dari dua kemungkinan:
Pertama: Mengikuti bahasa Arab dari suatu kelompok yang mengucapkan kata-kata seperti:
طَلْحَتْ وَعَلْقَمَتْ
Mereka mengucapkan huruf ta' pada akhir kata yang pada umumnya diucapkan dengan ha' ketika berhenti.
Di antaranya adalah perkataan seorang penyair:
بَلْ جَوْزُ تِيهَاءَ كَظَهْرِ الْحَجَفَتِ
“Bahkan sebuah pohon kenari di padang tandus, seperti punggung perisai.”
Kedua: Karena kata yang disandarkan (mudhaf ilaih) dalam susunan tersebut tetap dipahami sebagai bagian yang dimaksud dalam lafaz itu. Oleh sebab itu, huruf ta' dipertahankan sebagaimana ketika dibaca sambung (washal), agar diketahui bahwa kata yang disandarkan kepadanya memang dimaksudkan.
### 12\. Makna kata مَرْضَاة (mardhāt)
Kata:
الْمَرْضَاةُ
Artinya adalah keridaan.
Dikatakan:
رَضِيَ يَرْضَى رِضًا وَمَرْضَاةً
“Dia telah rida, menjadi rida, dengan keridaan.”
Dengan demikian, makna mardhātillāh adalah mencari keridaan Allah.
### 13\. Pembahasan bahasa: apakah يَشْرِي bermakna membeli?
Sebagian ahli bahasa meriwayatkan bahwa kata:
شَرَى (syarā)
juga dapat digunakan dengan makna:
اشْتَرَى (isytarā)
yaitu membeli.
Makna ini diperlukan oleh orang yang menafsirkan ayat tersebut berkenaan dengan Shuhaib.
Sebab, Shuhaib sebenarnya membeli kebebasan dirinya dengan hartanya, bukan menjual dirinya.
Akan tetapi, hal tersebut dapat dijawab dengan mengatakan:
Bahwa tawaran Shuhaib kepada orang-orang Quraisy untuk menghadapi dan memerangi mereka merupakan bentuk penjualan dirinya kepada Allah.
Dengan demikian, penggunaan lafaz tersebut tetap benar berdasarkan makna menjual.
### Catatan kaki dari naskah
(1) Dalam sebagian naskah huruf ha' terdapat bacaan: al-muttaqī.
(2) Lihat pembahasan masalah tersebut pada jilid 2, halaman 363.
(3) QS. Yusuf: 20.
(4) QS. At-Taubah: 111.
Keterangan biografi Shuhaib Ar-Rumi:
Shuhaib adalah Shuhaib bin Sinan bin Malik Ar-Rumi. Ia pernah ditawan oleh bangsa Romawi ketika masih kecil, kemudian dibawa ke Makkah dan dibeli oleh Abdullah bin Jud'an.
Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa ia melarikan diri dari bangsa Romawi, kemudian datang ke Makkah dan menjalin persekutuan dengan Ibnu Jud'an.
Shuhaib termasuk orang-orang yang pertama kali masuk Islam. Ia mengikuti Perang Badar dan seluruh peperangan bersama Rasulullah ﷺ.
Ia wafat di Madinah pada tahun 38 H.
(Keterangan diambil dari kitab An-Nujūm Az-Zāhirah).
Keterangan istilah:
Intathala mā fī kinānatihi (انْتَثَلَ مَا فِي كِنَانَتِهِ) artinya mengeluarkan anak-anak panah yang berada di dalam wadahnya.
Al-kinānah (الْكِنَانَةُ) adalah wadah atau tempat menyimpan anak panah. Wadah tersebut dibuat dari kulit tanpa kayu, atau dari kayu tanpa kulit.
Syair pada pembahasan perbedaan bacaan:
Syair tersebut merupakan bagian akhir dari bait karya Ma'dī Karib. Bagian awalnya berbunyi:
وَخَيْلٍ قَدْ دَلَفْتُ لَهَا بِخَيْلٍ
“Dan pasukan berkuda yang telah aku hadapi dengan pasukan berkuda lainnya.”
Sumber: Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi, Al-Jāmi' li Ahkām Al-Qur'ān, jilid 3, hlm. 20–22, tafsir Surah Al-Baqarah ayat 207.
Catatan ilmiah: Al-Qurthubi menyebutkan beberapa pendapat tentang sebab turunnya ayat ini: Shuhaib Ar-Rumi, orang yang berjihad, orang yang melakukan amar makruf nahi mungkar, para syuhada, dan Ali bin Abi Thalib. Beliau juga menyebutkan pendapat bahwa ayat ini berlaku umum.
Karena itu, perlu dibedakan antara sabab an-nuzul (sebab khusus turunnya ayat) dan keumuman makna ayat. Tidak semua pendapat yang disebutkan merupakan riwayat sebab turun yang memiliki kekuatan sanad setara.
Makna umum ayat ini menunjukkan keutamaan orang yang mengorbankan kepentingan dirinya demi ketaatan kepada Allah dan mencari keridaan-Nya.
Tafsir Ibnu Al-Jauzi
Kitab: Zādul Masīr fī ‘Ilmit Tafsīr Surah Al-Baqarah Ayat 207, hlm. 223–224
Firman Allah Ta'ala:
﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ﴾
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah.”
Para ulama berbeda pendapat mengenai siapa yang dimaksud dengan orang yang disebutkan dalam ayat ini. Terdapat lima pendapat:
### Pendapat pertama: Ayat ini turun berkenaan dengan amar makruf dan nahi mungkar
Ayat ini turun berkenaan dengan orang yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran.
Inilah makna pendapat Qamar dan Ali radhiyallahu 'anhuma.
### Pendapat kedua: Ayat ini turun berkenaan dengan Az-Zubair dan Al-Miqdad
Ayat ini turun berkenaan dengan Az-Zubair dan Al-Miqdad ketika keduanya pergi untuk menurunkan Khubaib dari kayu tempat ia disalib.
Kisah tersebut telah kami jelaskan sebelumnya.
Ini merupakan pendapat Ibnu Abbas dan Adh-Dhahhak.
### Pendapat ketiga: Ayat ini turun berkenaan dengan Shuhaib Ar-Rumi
Para ulama berbeda pendapat mengenai kisah yang melatarbelakangi peristiwa tersebut.
Diriwayatkan bahwa:
“Shuhaib berangkat berhijrah menuju Nabi ﷺ. Kemudian beberapa orang Quraisy mengejarnya.
Maka Shuhaib turun dari tunggangannya, mengeluarkan seluruh anak panah dari wadah anak panahnya, lalu berkata:
‘Sungguh kalian telah mengetahui bahwa aku adalah orang yang paling mahir memanah di antara kalian. Demi Allah, kalian tidak akan dapat menjangkaiku sampai aku melepaskan seluruh anak panah yang kubawa kepada kalian. Setelah itu aku akan menyerang kalian dengan pedangku sampai tidak tersisa sedikit pun senjata di tanganku.
Namun, jika kalian menghendaki, aku akan menunjukkan kepada kalian tempat hartaku.’
Mereka berkata:
‘Tunjukkanlah kepada kami tempat hartamu, niscaya kami akan membiarkanmu pergi.’
Maka Shuhaib membuat perjanjian dengan mereka mengenai hal tersebut.
Kemudian turunlah ayat ini berkenaan dengannya.
Ketika Nabi ﷺ melihatnya, beliau bersabda:
«رَبِحَ الْبَيْعُ أَبَا يَحْيَى»
‘Perdaganganmu benar-benar telah menguntungkan, wahai Abu Yahya!’
Kemudian beliau membacakan ayat Al-Qur'an kepadanya.”
Ini merupakan pendapat Sa'id bin Al-Musayyib.
Abu Shalih juga menyebutkan kisah yang serupa dari Ibnu Abbas. Ia mengatakan bahwa orang yang menyambut Shuhaib dan menyampaikan kabar gembira kepadanya mengenai ayat yang turun berkenaan dengannya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Riwayat dari Muqatil
Muqatil menyebutkan bahwa Shuhaib berkata kepada orang-orang musyrik:
“Sesungguhnya aku adalah seorang laki-laki tua yang telah lanjut usia. Tidak ada kerugian bagi kalian, baik jika aku berada bersama kalian maupun berada di pihak yang memerangi kalian. Aku juga mempunyai hak atas kalian karena hubungan perlindungan dan tetangga di antara kita.
Maka ambillah hartaku, selain tungganganku, dan biarkanlah aku bersama agamaku.”
Shuhaib mensyaratkan agar dirinya tidak dihalangi untuk melaksanakan salat dan berhijrah.
Kemudian ia tinggal di sana selama waktu yang dikehendaki Allah.
Setelah itu, ia menaiki tunggangannya dan berangkat menuju Madinah untuk berhijrah.
Abu Bakar kemudian bertemu dengannya dan menyampaikan kabar gembira seraya berkata:
“Sesungguhnya ayat ini telah turun berkenaan dengan dirimu.”
Pendapat Ikrimah
Ikrimah berkata:
“Ayat ini turun berkenaan dengan Shuhaib dan Abu Dzar Al-Ghifari.
Adapun Shuhaib, keluarganya pernah menangkapnya, kemudian ia menebus dirinya dengan hartanya.
Sedangkan Abu Dzar, keluarganya pernah menangkapnya, tetapi ia berhasil meloloskan diri dari mereka hingga akhirnya tiba di Madinah sebagai seorang muhajir.”
### Pendapat keempat: Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah
Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah.
Pendapat ini dikemukakan oleh Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Zaid, dan beberapa ulama lainnya.
### Pendapat kelima: Ayat ini turun berkenaan dengan kaum Muhajirin dan Anshar
Ayat ini turun berkenaan dengan kaum Muhajirin dan Anshar ketika mereka berperang demi membela agama Allah hingga akhirnya memperoleh kemenangan.
Ini merupakan pendapat Qatadah.
### Penjelasan makna kata يَشْرِي (Yasyri)
Kata يَشْرِي (yasyri) termasuk kata dalam bahasa Arab yang memiliki dua makna berlawanan (al-adhdād).
Kata tersebut dapat digunakan dengan makna:
* بَاعَ (bā'a): menjual.
* اشْتَرَى (isytarā): membeli.
Dengan demikian, makna kata tersebut berbeda sesuai dengan pendapat mengenai sebab turunnya ayat.
* Menurut pendapat ulama yang mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Shuhaib, kata yasyri bermakna membeli. Sebab, Shuhaib membeli kebebasan dirinya dengan menyerahkan hartanya kepada orang-orang musyrik.
* Adapun menurut pendapat-pendapat lainnya, kata yasyri bermakna menjual, yakni mengorbankan dan menyerahkan dirinya demi mencari keridaan Allah.
Sumber: Imam Abul Faraj Abdurrahman bin Ali bin Muhammad Ibnu Al-Jauzi, Zādul Masīr fī ‘Ilmit Tafsīr, hlm. 223–224, tafsir Surah Al-Baqarah ayat 207.
### Catatan ilmiah
Dari penjelasan Ibnu Al-Jauzi ini terdapat dua pembahasan penting:
* Perbedaan sebab turunnya ayat: Beliau menghimpun lima pendapat yang berkaitan dengan Shuhaib, amar makruf nahi mungkar, penyelamatan Khubaib, jihad, serta perjuangan kaum Muhajirin dan Anshar.
* Perbedaan makna kata يَشْرِي: Kata ini dapat bermakna menjual ataupun membeli. Penentuan maknanya bergantung pada konteks penafsiran yang dipilih.
Dengan demikian, ayat ini mengandung pelajaran tentang pengorbanan jiwa, harta, dan kepentingan pribadi demi memperoleh keridaan Allah Ta'ala.
Tafsir Al-Alusi
Rūḥul Ma‘ānī fī Tafsīril Qur’ānil ‘Azhīm was-Sab‘il Matsānī
Surah Al-Baqarah ayat 207, hlm. 96–97.
Firman Allah Ta'ala:
﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ﴾
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya.”
Maksudnya, ia menjual dirinya dengan cara mengerahkan dan mengorbankannya dalam jihad, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Adh-Dhahhak radhiyallahu ta'ala 'anhuma, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan pasukan ekspedisi Ar-Raji'.
Ada pula pendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan perintah untuk melakukan amar makruf dan nahi mungkar, sebagaimana riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dari Abu Al-Khalil.
Abu Al-Khalil berkata:
“Umar radhiyallahu ta'ala 'anhu pernah mendengar seseorang membaca ayat ini. Maka beliau mengucapkan istirja' (mengucapkan Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn), kemudian berkata:
‘Seorang laki-laki telah bangkit untuk memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, tetapi ia terbunuh.’”
### Penjelasan firman Allah: ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ
﴿ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ﴾
“Untuk mencari keridaan Allah.”
Maksudnya, untuk mencari dan memperoleh keridaan-Nya.
Kata ibtighā'a berkedudukan sebagai maf'ul li ajlih (objek yang menjelaskan tujuan atau sebab suatu perbuatan).
Adapun kata mardhāt merupakan bentuk mashdar yang dibentuk dengan tambahan huruf ta', sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Bahr. Bentuk tersebut serupa dengan kata mad‘āh (مدعاة).
Padahal, menurut kaidah asal pembentukannya, kata tersebut semestinya tidak menggunakan tambahan huruf ta' tersebut.
Kata itu ditulis dalam mushaf dengan huruf ta'.
Adapun ketika berhenti (waqaf) pada kata tersebut, terdapat dua cara pembacaan: dengan huruf ta' maupun dengan huruf ha'.
### Sebab turunnya ayat berkenaan dengan Shuhaib Ar-Rumi
Mayoritas riwayat menyebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Shuhaib Ar-Rumi radhiyallahu ta'ala 'anhu.
Sejumlah ulama telah meriwayatkan:
“Shuhaib berangkat berhijrah menuju Nabi ﷺ. Kemudian beberapa orang musyrik mengejarnya.
Maka Shuhaib turun dari tunggangannya, mengeluarkan seluruh isi wadah anak panahnya, lalu mengambil busurnya.
Kemudian ia berkata:
‘Wahai orang-orang Quraisy! Sungguh kalian telah mengetahui bahwa aku adalah orang yang paling mahir memanah di antara kalian.
Demi Allah, kalian tidak akan dapat menjangkaiku sampai aku melepaskan seluruh anak panah yang ada di dalam wadah anak panahku. Setelah itu aku akan menyerang kalian dengan pedangku hingga tidak tersisa sedikit pun senjata di tanganku. Kemudian lakukanlah apa yang kalian kehendaki!’
Mereka berkata:
‘Tunjukkanlah kepada kami rumah dan hartamu yang berada di Makkah, niscaya kami akan membiarkanmu pergi.’
Mereka membuat perjanjian dengannya bahwa apabila ia menunjukkan tempat hartanya, mereka akan membiarkannya pergi.
Maka Shuhaib pun melakukan hal tersebut.
Ketika ia telah tiba di hadapan Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«أَبَا يَحْيَى، رَبِحَ الْبَيْعُ، رَبِحَ الْبَيْعُ»
‘Wahai Abu Yahya, perdaganganmu benar-benar telah menguntungkan! Perdaganganmu benar-benar telah menguntungkan!’
Kemudian beliau membacakan ayat tersebut kepadanya.”
Berdasarkan riwayat ini, kata asy-syirā' (الشِّرَاءُ) dipahami menurut makna asalnya, yaitu membeli.
### Pendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Az-Zubair bin Al-Awwam dan Al-Miqdad
Dalam kitab Al-Kawasyi disebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Az-Zubair bin Al-Awwam dan sahabatnya, Al-Miqdad bin Al-Aswad.
Hal itu terjadi ketika Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ يُنْزِلْ خُبَيْبًا عَنْ خَشَبَتِهِ فَلَهُ الْجَنَّةُ»
“Barang siapa yang bersedia menurunkan Khubaib dari kayu tempat ia disalib, maka baginya surga.”
Az-Zubair berkata:
“Aku dan sahabatku, Al-Miqdad.”
Saat itu Khubaib telah disalib oleh penduduk Makkah.
### Pendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib
Kaum Syiah Imamiyah dan sebagian ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib, semoga Allah memuliakan wajahnya.
Hal itu terjadi ketika Nabi ﷺ meminta Ali untuk menggantikan beliau tidur di tempat tidur beliau di Makkah, pada malam ketika Rasulullah ﷺ berangkat menuju gua.
Berdasarkan pendapat ini, pemaknaan kata asy-syirā' (الشِّرَاءُ) dilakukan dengan cara penafsiran yang sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, yakni tidak dipahami secara langsung dengan makna menjual, tetapi diarahkan kepada makna membeli atau menukarkan sesuatu.
### Penjelasan firman Allah: وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
﴿وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ﴾
“Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”
Maksudnya, Allah Maha Penyantun kepada orang-orang beriman.
Hal itu karena Allah telah memberikan petunjuk kepada mereka menuju perkara-perkara yang mengandung keridaan-Nya.
Allah juga menjadikan kenikmatan yang kekal sebagai balasan atas amal perbuatan yang sementara dan akan terputus.
Selain itu, Allah memberikan pahala kepada mereka atas transaksi pengorbanan kepemilikan mereka, dengan memberikan balasan berupa kepemilikan-Nya.
Sumber: Al-Imam Syihabuddin Mahmud Al-Alusi, Rūḥul Ma‘ānī fī Tafsīril Qur’ānil ‘Azhīm was-Sab‘il Matsānī, hlm. 96–97, tafsir Surah Al-Baqarah ayat 207.
Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir
Imam Muhammad ath-Thahir bin ‘Asyur
— QS. Al-Baqarah: 207 (Jilid 2, hlm. 272–274)
Firman Allah Ta‘ala:
﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ ٢٠٧﴾
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya demi mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”
### Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya
Ayat ini merupakan kebalikan dari firman Allah:
﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ﴾
“Dan di antara manusia ada orang yang perkataannya membuatmu kagum.” (Al-Baqarah: 204).
Penyebutan golongan ini di sini kedudukannya seperti penyisipan pembahasan tambahan (istithrad), sebagai bentuk penyempurnaan pembicaraan mengenai dua golongan manusia.
Golongan yang disebutkan dalam ayat ini adalah golongan yang seluruh perbuatannya benar-benar tertuju kepada kebaikan, hingga mencapai puncaknya. Puncak kebaikan tersebut adalah ketika seseorang mempertaruhkan dirinya sendiri—padahal dirinya merupakan sesuatu yang paling berharga baginya—untuk menghadapi kebinasaan demi memperoleh sesuatu yang mendatangkan keridaan Allah Ta‘ala.
Sesungguhnya keridaan Allah Ta‘ala terhadap perbuatan manusia terwujud melalui tindakan mereka melakukan kebaikan yang telah diperintahkan-Nya kepada mereka.
### Makna kata يَشْرِي
Kata يَشْرِي bermakna menjual, sebagaimana kata يَشْتَرِي bermakna membeli. Penjelasan mengenai hal ini telah dikemukakan sebelumnya ketika membahas firman Allah Ta‘ala:
﴿وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا﴾
“Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit.” (Al-Baqarah: 41).
Kata يَشْرِي dalam ayat ini digunakan secara majazi untuk menunjukkan makna pengorbanan.
Dengan demikian, maknanya adalah:
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk menghadapi kebinasaan demi mencari keridaan Allah.”
Maksudnya, ia menghadapkan dirinya kepada kebinasaan dalam rangka membela agama.
Ini merupakan tingkatan keimanan yang paling tinggi, karena jiwa manusia adalah sesuatu yang paling berharga yang dimilikinya.
### Makna مَرْضَاتِ اللَّهِ
Kata مَرْضَاتِ اللَّهِ berarti keridaan Allah.
Kata tersebut merupakan bentuk masdar dari kata رَضِيَ (rida), dengan pola maf‘al. Huruf ta’ ditambahkan di dalamnya berdasarkan pemakaian bahasa yang diriwayatkan secara turun-temurun (sama‘i), sebagaimana kata الْمَدْعَاة dan الْمَسْعَاة.
### Sebab turunnya ayat
Dalam pembahasan sebab-sebab turunnya ayat ini, Sa‘id bin Al-Musayyib berkata:
“Ayat ini turun berkenaan dengan Shuhaib bin Sinan An-Namiri bin An-Namir bin Qasith.” (1)
Ia dijuluki Ar-Rumi karena pada masa jahiliah pernah ditawan oleh bangsa Romawi di wilayah sekitar Mosul. Kemudian ia dibeli oleh Bani Kalb sehingga menjadi budak mereka.
Di Makkah, pada masa jahiliah, ia memperoleh kekayaan. Ia termasuk orang-orang yang pertama kali masuk Islam.
Ketika Nabi ﷺ berhijrah, Shuhaib pun keluar untuk berhijrah. Beberapa orang Quraisy menyusulnya dengan maksud menangkap dan mengikatnya.
Shuhaib kemudian turun dari tunggangannya dan mengeluarkan anak-anak panah dari tempat penyimpanannya. Ia adalah seorang pemanah yang mahir.
Ia berkata kepada mereka:
“Sungguh, kalian telah mengetahui bahwa aku termasuk orang yang paling mahir memanah di antara kalian. Demi Allah, kalian tidak akan dapat menjangkaiku sebelum aku melepaskan seluruh anak panah yang ada dalam tempat penyimpananku. Setelah itu, aku akan menyerang kalian dengan pedangku selama pedang itu masih berada di tanganku.”
Mereka berkata:
“Kami tidak akan membiarkanmu pergi dari hadapan kami dalam keadaan membawa kekayaan, padahal dahulu engkau datang kepada kami sebagai orang miskin. Akan tetapi, tunjukkanlah kepada kami hartamu, maka kami akan membiarkanmu pergi.”
Mereka membuat perjanjian dengannya mengenai hal itu. Shuhaib kemudian menunjukkan kepada mereka tempat hartanya.
Ketika ia tiba di hadapan Nabi ﷺ, beliau berkata kepadanya saat melihat kedatangannya:
«رَبِحَ الْبَيْعُ أَبَا يَحْيَى»
“Perdaganganmu benar-benar menguntungkan, wahai Abu Yahya.”
Kemudian beliau membacakan ayat ini kepadanya.
Ada pula yang mengatakan bahwa orang-orang kafir Makkah menyiksa Shuhaib karena keislamannya. Lalu ia menebus dirinya dari mereka dengan hartanya dan berangkat berhijrah.
Ada pula pendapat lain selain itu.
Namun, pendapat yang lebih jelas adalah bahwa ayat ini berlaku umum. Shuhaib atau orang selainnya termasuk orang-orang pertama yang tercakup dalam kandungan ayat tersebut.
### Makna firman Allah: وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
Adapun firman Allah:
﴿وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ﴾
“Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”
Kalimat ini merupakan tadzyil (kalimat penutup yang menegaskan dan menyempurnakan makna sebelumnya).
Maksudnya, Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya yang saleh, yang di antara mereka terdapat orang-orang yang mengorbankan dirinya demi mencari keridaan Allah.
Dengan demikian, sifat ra'fah (sangat penyantun) merupakan ungkapan yang menunjukkan sesuatu yang menjadi konsekuensinya, yaitu pemberian berbagai kebaikan, sebagaimana halnya sifat rahmat.
Secara lahiriah, kata sandang alif-lam pada kata الْعِبَادِ menunjukkan makna mencakup seluruhnya (istighraq). Sebab, Allah Maha Penyantun kepada seluruh hamba-Nya, meskipun mereka memiliki tingkatan yang berbeda-beda dalam memperoleh sifat penyantun-Nya.
Di antara mereka ada yang mendapatkan kasih sayang dan kelembutan Allah di dunia dan di akhirat, dengan tingkatan yang berbeda-beda pada keduanya, sesuai dengan tuntutan ilmu dan hikmah Allah.
Ada pula yang hanya mendapatkan kelembutan Allah di dunia, tidak di akhirat. Mereka adalah orang-orang musyrik dan kafir. Sebab, termasuk bentuk kelembutan Allah kepada mereka ialah bahwa Dia memberikan kesehatan dan rezeki kepada mereka.
Ada kemungkinan pula bahwa alif-lam dalam kata tersebut menunjukkan makna tertentu (al-‘ahd). Maksudnya, yang dimaksud adalah hamba-hamba yang termasuk golongan ini, yaitu golongan orang-orang yang mengorbankan dirinya demi mencari keridaan Allah.
Ada kemungkinan juga bahwa alif-lam tersebut merupakan pengganti dari kata yang disandarkan kepadanya (mudhaf ilaih), sebagaimana firman Allah:
﴿فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى﴾
“Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (An-Nazi‘at: 41).
Kata الْعِبَادُ apabila disandarkan kepada nama Allah Yang Mahaagung, biasanya dimaksudkan untuk menunjukkan hamba-hamba-Nya yang dekat dengan-Nya.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ﴾
“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak mempunyai kekuasaan atas mereka.” (Al-Hijr: 42).
### Kesesuaian penutup ayat dengan kandungan sebelumnya
Kesesuaian kalimat penutup ini dengan kalimat sebelumnya adalah bahwa orang-orang yang disebutkan dalam ayat tersebut telah mengorbankan diri mereka untuk Allah dan menjadikan diri mereka sebagai hamba-hamba-Nya. Karena itu, Allah Maha Penyantun kepada mereka, sebagaimana kelembutan seseorang terhadap hambanya.
Apabila cakupan kata مَنْ (orang yang) bersifat umum, sebagaimana yang tampak secara lahiriah, sehingga mencakup setiap orang yang mengorbankan dirinya untuk Allah, maka maknanya adalah:
“Allah Maha Penyantun kepada mereka.”
Dalam susunan kalimat ini, Allah beralih dari penggunaan kata ganti menjadi penyebutan kata yang jelas (izhhar), bukan menggunakan kata ganti (idhmar). Hal itu dimaksudkan agar kalimat penutup ini berkedudukan seperti sebuah peribahasa yang berdiri sendiri dan memiliki makna sempurna. Ini termasuk salah satu konsekuensi dari penggunaan tadzyil.
Selain itu, susunan tersebut juga menunjukkan bahwa sebab kelembutan Allah kepada mereka adalah karena mereka telah menjadikan diri mereka sebagai hamba-hamba-Nya.
Namun, apabila yang dimaksud dengan kata مَنْ adalah Shuhaib, maka maknanya:
“Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya, yang Shuhaib termasuk salah seorang di antara mereka.”
Dalam keadaan apa pun, kalimat tersebut tetap merupakan tadzyil.
Kesesuaiannya adalah bahwa Shuhaib sebelumnya pernah menjadi budak bangsa Romawi, kemudian menjadi budak suatu kelompok dari kalangan Quraisy, yaitu Bani Kalb. Mereka tidak bersikap lembut kepadanya, bahkan ia disiksa karena Allah.
Namun, ketika ia menjadi hamba Allah, Allah pun memberikan kelembutan kepadanya.
### Pelajaran adab, karakter, dan tingkatan jiwa dalam ayat
Dalam ayat ini, mulai dari firman Allah:
﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا﴾
“Dan di antara manusia ada orang yang perkataannya membuatmu kagum dalam kehidupan dunia,” (Al-Baqarah: 204),
hingga firman-Nya:
﴿رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ﴾
“Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya,”
terdapat sejumlah pelajaran tentang adab jiwa, tingkatan-tingkatannya, dan akhlaknya.
Pelajaran-pelajaran tersebut mengajarkan kepada kaum mukminin kewajiban untuk mencermati hakikat dan sisi batin berbagai perkara, serta tidak tertipu oleh penampilan lahiriah sebelum melakukan pengujian dan pembuktian.
Sebab, di antara manusia ada orang yang membuat orang lain tertipu oleh penampilan lahiriahnya yang baik, padahal batinnya menyimpan keburukan. Ia memperindah perkataannya dengan ungkapan yang manis, sementara di dalam dirinya tersembunyi niat buruk dan tipu daya.
Al-Ma‘arri berkata:
وَقَدْ يُخْلِفُ الْإِنْسَانُ ظَنَّ عَشِيرَةٍ وَإِنْ رَاقَ مِنْهُ مَنْظَرٌ وَرَوَاءُ
“Adakalanya seseorang menyelisihi dugaan dan penilaian kaum kerabatnya, meskipun penampilan dan parasnya tampak mengagumkan.”
Keadaan seperti ini tercakup dalam sabda Nabi ﷺ:
«إِنَّ مِنَ الْبَيَانِ لَسِحْرًا»
“Sesungguhnya sebagian penjelasan yang fasih benar-benar memiliki pengaruh seperti sihir.”
Hal ini mencakup salah satu dari dua makna yang terkandung dalam hadis tersebut. Hadis ini termasuk jawami‘ al-kalim, yaitu ungkapan singkat Nabi ﷺ yang mengandung makna sangat luas.
Keadaan tersebut dapat mencapai tingkat yang begitu parah sehingga seseorang sampai menjadikan Allah sebagai saksi bahwa apa yang dikatakannya adalah benar, padahal kenyataannya justru sebaliknya. Ia menyembunyikan di dalam dirinya permusuhan dan kebencian.
### Tanda-tanda yang menunjukkan keadaan batin seseorang
Tanda-tanda keadaan batin seseorang dapat diketahui melalui perilaku dan tindakan-tindakannya.
Orang yang menyukai kerusakan serta membinasakan tanaman dan keturunan bukanlah orang yang memiliki hati nurani yang baik.
Demikian pula, orang yang tidak mau mendengarkan seruan kebenaran ketika engkau mengajaknya kepada kebenaran, bahkan memperlihatkan sikap membanggakan diri dengan melakukan kezaliman, maka ia tidak akan berhenti dari kesesatannya dan tidak akan meninggalkan akhlak-akhlaknya yang tercela.
Adapun orang yang tidak segan mengorbankan dirinya untuk membela kebenaran, maka akhlaknya menunjukkan bahwa ia lebih mengutamakan kebenaran dan kebaikan daripada kebatilan dan kerusakan.
Dan barang siapa tidak memiliki sifat kasih sayang, maka Allah tidak akan menyayanginya.
### Catatan kaki
(1) Shuhaib termasuk orang-orang mukmin yang pertama kali masuk Islam. Ia masuk Islam bersama ‘Ammar bin Yasir pada hari Uhud. Ia mengikuti Perang Badar dan wafat pada tahun 37 H.
Sumber: At-Tahrir wa At-Tanwir, 2/272–274, tafsir QS. Al-Baqarah: 207.