Selasa, 27 Oktober 2026

RASA TAKUT DAN BERHARAP


Terjemahan Khutbah Masjid Nabawi

1 Rajab 1432 H — Di antara Amalan Hati: Rasa Takut dan Harapan

Khatib: Syekh Ali bin Abdurrahman Al-Hudzaifi hafizhahullah


 Khutbah pertama

Segala puji bagi Allah Yang Mahatinggi lagi Mahamulia. Milik-Nya segala yang ada di langit, segala yang ada di bumi, segala yang ada di antara keduanya, dan segala yang ada di bawah tanah.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى ۝ وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى﴾

“Segala yang ada di langit, segala yang ada di bumi, segala yang ada di antara keduanya, dan segala yang ada di bawah tanah adalah milik-Nya. Jika engkau mengeraskan ucapanmu, sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.” (QS. Thaha: 6–7).

Aku memuji Rabb-ku dan bersyukur kepada-Nya atas segala yang telah Dia karuniakan. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan milik-Nya nama-nama yang paling indah.

Aku juga bersaksi bahwa Nabi dan pemimpin kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya yang terpilih.

Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya yang saleh lagi bertakwa.

Amma ba'du.

Bertakwalah kepada Allah, wahai kaum muslimin, dengan sebenar-benar ketakwaan. Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada di dalam diri kalian, maka berhati-hatilah terhadap-Nya. Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang tersembunyi dari Allah.

### 1\. Kedudukan amalan hati

Wahai hamba-hamba Allah!

Sesungguhnya amalan-amalan hati merupakan perkara yang paling agung dan paling penting. Pahalanya adalah pahala yang sangat besar, sedangkan hukumannya juga merupakan hukuman yang sangat berat.

Amalan anggota badan mengikuti amalan hati dan dibangun di atasnya. Oleh karena itu, dikatakan, “Hati adalah pemimpin seluruh anggota badan, sedangkan anggota badan lainnya adalah pasukan-pasukannya.”

Dari Anas radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

«لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ»

“Iman seorang hamba tidak akan lurus hingga hatinya menjadi lurus.” (HR. Ahmad).

Makna lurusnya hati adalah mentauhidkan Allah Tabaraka wa Ta'ala, mengagungkan-Nya, mencintai-Nya, takut kepada-Nya, berharap kepada-Nya, mencintai ketaatan kepada-Nya, dan membenci kemaksiatan kepada-Nya.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ»

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).

Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata kepada seseorang, “Obatilah hatimu! Sebab, yang Allah kehendaki dari para hamba-Nya adalah kebaikan hati mereka.”

Di antara amalan hati yang mendorong seseorang melakukan amal saleh, membuatnya merindukan negeri akhirat, mencegahnya dari perbuatan buruk, menjadikan dunia terasa tidak berharga, dan mengendalikan gejolak jiwa yang durhaka adalah rasa takut dan harapan: takut kepada Allah dan berharap terhadap apa yang ada di sisi-Nya.

Rasa takut kepada Allah Ta'ala menggiring hati untuk melakukan setiap kebaikan dan menghalanginya dari setiap keburukan. Adapun harapan, ia menuntun seorang hamba menuju keridaan dan pahala Allah, membangkitkan semangatnya untuk melakukan amal saleh yang agung, serta menjauhkannya dari perbuatan yang buruk.

Rasa takut kepada Allah mencegah jiwa mengikuti syahwatnya, menghalanginya dari kesesatan, serta mendorongnya menuju segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan dan keberuntungan baginya.

### 2\. Takut kepada Allah merupakan bagian dari tauhid

Rasa takut kepada Allah merupakan salah satu cabang tauhid yang wajib ditujukan kepada Rabb seluruh alam. Adapun mengalihkan rasa takut kepada selain Allah dalam perkara yang merupakan kekhususan Allah merupakan salah satu bentuk kesyirikan kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala.

Allah Ta'ala memerintahkan kita agar takut kepada-Nya dan melarang kita takut kepada selain-Nya. Allah berfirman:

﴿إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾

“Sesungguhnya mereka itu hanyalah setan yang menakut-nakuti kalian dengan para pengikutnya. Karena itu, janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar orang beriman.” (QS. Ali 'Imran: 175).

Allah juga berfirman:

﴿فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا﴾

“Maka janganlah kalian takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada-Ku. Janganlah kalian menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah.” (QS. Al-Ma'idah: 44).

Allah berfirman pula:

﴿وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ﴾

“Dan hanya kepada-Ku-lah kalian harus merasa takut.” (QS. Al-Baqarah: 40).

Dari Anas radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menyampaikan khutbah kepada kami, lalu bersabda:

«لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا، وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا»

‘Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.’

Maka para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menutupi wajah mereka sambil terdengar suara isak tangis dari mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Yang dimaksud dengan rasa takut adalah kegelisahan dan keguncangan hati karena mengkhawatirkan hukuman Allah akibat melakukan sesuatu yang diharamkan, meninggalkan kewajiban, atau kurang bersungguh-sungguh dalam mengerjakan amalan sunah. Termasuk pula rasa khawatir apabila Allah tidak menerima amal saleh seseorang. Dengan demikian, jiwa akan tercegah dari perkara-perkara haram dan bersegera melakukan berbagai kebaikan.

### 3\. Perbedaan antara khauf, khasy-yah, wajal, rahbah, dan haibah

Istilah khasy-yah (rasa takut yang disertai pengagungan), wajal (getaran hati karena takut), rahbah (rasa takut yang mendorong menjauhi sesuatu), dan haibah (rasa gentar yang disertai pengagungan) memiliki makna yang berdekatan. Namun, semuanya tidak sepenuhnya sama dengan istilah khauf (rasa takut) dari setiap sisi.

Khasy-yah lebih khusus daripada khauf. Khasy-yah adalah rasa takut kepada Allah yang disertai pengetahuan tentang sifat-sifat-Nya, Yang Mahamulia lagi Mahatinggi.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ﴾

“Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28).

Dalam kitab hadis sahih disebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«أَمَا إِنِّي أَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ»

“Ketahuilah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya di antara kalian.”

Adapun wajal adalah bergetarnya hati dan seolah-olah terbelah karena mengingat Zat yang ditakuti kekuasaan dan hukuman-Nya.

Rahbah adalah menjauh atau melarikan diri dari sesuatu yang tidak disukai.

Haibah adalah rasa takut yang disertai pengagungan dan pemuliaan.

Allah Tabaraka wa Ta'ala adalah Zat yang paling berhak untuk ditakuti, diagungkan, dan digentari.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Khauf merupakan keadaan yang umum di kalangan kaum mukminin, khasy-yah bagi para ulama yang mengenal Allah, haibah bagi orang-orang yang mencintai-Nya, dan ijlal (pengagungan) bagi orang-orang yang didekatkan kepada-Nya. Tingkat rasa takut dan khasy-yah seseorang kepada Allah sesuai dengan kadar ilmu dan pengetahuannya tentang Allah Ta'ala.”

### 4\. Pahala bagi orang yang takut kepada Allah

Allah telah menjanjikan pahala kepada orang yang takut kepada-Nya, lalu rasa takut tersebut menghalanginya dari mengikuti syahwat dan mendorongnya melakukan ketaatan. Allah menjanjikan kepadanya jenis pahala yang paling utama.

Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:

﴿وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ ۝ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ۝ ذَوَاتَا أَفْنَانٍ﴾

“Bagi orang yang takut akan kedudukan Rabb-nya, tersedia dua surga. Maka nikmat Rabb kalian berdua yang manakah yang kalian dustakan? Kedua surga itu mempunyai pepohonan yang rindang dan beraneka ragam.” (QS. Ar-Rahman: 46–48).

Kata afnan berarti cabang-cabang pepohonan yang indah dan segar. Atha' berkata, “Setiap cabang menghimpun berbagai jenis buah.”

Allah juga berfirman:

﴿وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى﴾

“Adapun orang yang takut akan kedudukan Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi'at: 40–41).

Allah Tabaraka wa Ta'ala juga berfirman:

﴿وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ ۝ قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ ۝ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ ۝ إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ﴾

“Sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil saling bertanya. Mereka berkata, ‘Sesungguhnya dahulu, ketika kami berada di tengah keluarga kami, kami selalu merasa takut dan khawatir terhadap azab Allah. Kemudian Allah menganugerahkan karunia kepada kami dan melindungi kami dari azab neraka yang sangat panas. Sesungguhnya dahulu kami selalu berdoa kepada-Nya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Melimpahkan Kebaikan lagi Maha Penyayang.’” (QS. Ath-Thur: 25–28).

Allah menjelaskan bahwa orang yang takut kepada-Nya akan diselamatkan dari perkara-perkara yang tidak disukai, dicukupkan kebutuhannya, dan dianugerahi akhir kehidupan yang baik.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abdul Aziz—yakni Ibnu Abi Rawwad—bahwa telah sampai kepadanya berita bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah membaca ayat berikut:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6).

Saat itu, ada beberapa sahabat di sisi beliau, termasuk seorang lelaki tua. Lelaki itu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah batu-batu neraka Jahanam seperti batu-batu di dunia?”

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:

“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya satu batu dari neraka Jahanam lebih besar daripada seluruh gunung di dunia.”

Lelaki tua itu pun jatuh pingsan. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam meletakkan tangan beliau di dadanya dan mendapati bahwa ia masih hidup. Beliau kemudian memanggilnya seraya berkata, “Wahai orang tua, ucapkanlah la ilaha illallah.”

Lelaki itu pun mengucapkannya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian memberinya kabar gembira berupa surga.

Sebagian sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kabar gembira itu khusus diberikan kepadanya di antara kami?”

Beliau menjawab, “Ya. Allah Ta'ala berfirman:

﴿ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ﴾

“Yang demikian itu adalah bagi orang yang takut akan kedudukan-Ku dan takut terhadap ancaman-Ku.” (QS. Ibrahim: 14).”

Catatan: Riwayat kisah ini disebutkan oleh khatib melalui Ibnu Abi Hatim. Saya menerjemahkannya sesuai teks yang disampaikan, tanpa bermaksud menetapkan kesahihan sanadnya.

### 5\. Keteladanan generasi salaf dalam rasa takut kepada Allah

Generasi salaf sangat didominasi oleh rasa takut kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala. Mereka tetap memperbagus amal dan mengharapkan rahmat Allah Azza wa Jalla. Oleh sebab itu, keadaan mereka menjadi baik, kesudahan mereka terpuji, dan amal-amal mereka suci.

Umar radhiyallahu 'anhu pernah berkeliling pada malam hari untuk memeriksa keadaan rakyatnya. Ia mendengar seorang lelaki membaca Surah Ath-Thur. Umar pun turun dari keledainya dan bersandar pada sebuah dinding. Setelah peristiwa itu, ia jatuh sakit selama sebulan, sementara orang-orang yang menjenguknya tidak mengetahui penyebab penyakitnya.

Amirul Mukminin Ali radhiyallahu 'anhu pernah selesai menunaikan salat Subuh dengan wajah murung. Ia membolak-balikkan telapak tangannya, lalu berkata:

“Aku telah melihat para sahabat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi pada hari ini aku tidak melihat sesuatu pun yang menyerupai keadaan mereka. Dahulu, mereka bangun pagi dengan rambut kusut, wajah pucat, dan tubuh berdebu. Di antara kedua mata mereka terdapat bekas seperti lutut kambing karena lamanya sujud.

Mereka menghabiskan malam untuk Allah dengan bersujud dan berdiri salat. Mereka membaca Kitabullah, bergantian antara dahi dan kaki mereka—yakni lama bersujud dan berdiri. Ketika pagi tiba, mereka berzikir kepada Allah, lalu tubuh mereka bergoyang seperti pohon yang bergoyang pada hari berangin kencang. Mata mereka bercucuran air mata hingga membasahi pakaian mereka.”

Sufyan Ats-Tsauri pernah jatuh sakit karena rasa takut kepada Allah.

Ketika Abdullah bin Rawahah berpamitan kepada para sahabatnya sebelum berangkat menuju Perang Mu'tah, ia menangis seraya berkata:

“Demi Allah, aku tidak menangis karena sangat merindukan kalian, dan bukan pula karena takut berpisah dengan dunia. Akan tetapi, aku teringat sebuah ayat dari Kitabullah Azza wa Jalla. Allah Ta'ala berfirman:

﴿وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا﴾

“Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan akan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabb-mu merupakan ketetapan yang pasti terlaksana.” (QS. Maryam: 71).

Aku tidak tahu bagaimana keadaanku ketika keluar darinya setelah mendatanginya.”

Kisah-kisah tentang rasa takut para salaf kepada Allah masih sangat banyak dan panjang untuk disebutkan seluruhnya.

### 6\. Rasa takut yang terpuji dan rasa takut yang tercela

Rasa takut yang terpuji adalah rasa takut yang mendorong seseorang melakukan amal saleh dan mencegahnya dari perkara-perkara yang diharamkan.

Namun, apabila rasa takut melampaui batas yang terpuji, hingga berubah menjadi keputusasaan dan hilangnya harapan terhadap rahmat Allah, maka hal itu termasuk dosa besar.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

“Batas rasa takut yang wajib adalah rasa takut yang mendorong seseorang menunaikan kewajiban dan menjauhi perkara-perkara yang diharamkan. Jika rasa takut itu bertambah sehingga mendorong jiwa untuk bersungguh-sungguh mengerjakan amalan sunah, menjauhi perkara makruh yang ringan, dan membatasi diri dalam perkara-perkara mubah yang berlebihan, maka hal itu merupakan tambahan yang terpuji.

Namun, jika rasa takut itu semakin bertambah hingga menyebabkan penyakit, kematian, atau kesedihan yang terus-menerus sampai menghalangi seseorang untuk berusaha dan beraktivitas, maka rasa takut seperti itu tidak lagi terpuji.”

Abu Hafsh berkata, “Rasa takut adalah cambuk Allah yang dengannya Dia meluruskan orang-orang yang menyimpang dari pintu-Nya.”

Ia juga berkata, “Rasa takut adalah pelita di dalam hati.”

Abu Sulaiman berkata, “Tidaklah rasa takut meninggalkan sebuah hati melainkan hati itu akan rusak.”

Seorang muslim hidup di antara dua perkara yang membuatnya khawatir: perkara yang telah berlalu, sementara ia tidak mengetahui apa yang akan Allah tetapkan atasnya, dan perkara yang akan datang, sementara ia tidak mengetahui apa yang akan Allah putuskan baginya.

### 7\. Hakikat harapan kepada Allah

Adapun raja’ (harapan), maka maknanya adalah mengharapkan pahala Allah Tabaraka wa Ta'ala atas amal saleh yang dilakukan.

Syarat harapan adalah mendahuluinya dengan amal yang baik serta meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan atau bertobat darinya. Adapun meninggalkan kewajiban, mengikuti hawa nafsu, kemudian hanya berangan-angan dan berharap kepada Allah, maka sikap seperti itu merupakan merasa aman dari makar Allah, bukan harapan yang benar.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ﴾

“Maka tidak ada yang merasa aman dari makar Allah selain orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A'raf: 99).

Allah Ta'ala telah menjelaskan bahwa harapan kepada-Nya harus disertai dengan amal saleh terlebih dahulu. Harapan tidaklah benar apabila tidak disertai amal saleh.

Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi.” (QS. Fathir: 29).

Allah juga berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218).

Harapan merupakan ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Allah Ta'ala. Barang siapa menggantungkan harapan ibadahnya kepada selain Allah, maka ia telah melakukan kesyirikan.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾

“Maka barang siapa mengharapkan pertemuan dengan Rabb-nya, hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Kahfi: 110).

Harapan juga merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:

«أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي»

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

### 8\. Kewajiban menggabungkan rasa takut, harapan, dan cinta kepada Allah

Kewajiban seorang hamba adalah menggabungkan rasa takut dan harapan. Keadaan seorang hamba yang paling sempurna adalah mencintai Allah Ta'ala, dengan rasa takut dan harapan yang seimbang.

Inilah keadaan para nabi 'alaihimush shalatu was salam dan orang-orang beriman.

Allah Ta'ala berfirman tentang mereka:

﴿إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ﴾

“Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan, berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan takut, serta senantiasa khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya: 90).

Allah juga berfirman:

﴿تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ﴾

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya. Mereka berdoa kepada Rabb mereka dengan rasa takut dan penuh harap, serta menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajdah: 16).

Apabila seorang muslim mengetahui betapa luas rahmat Allah, betapa agung kemurahan-Nya, betapa besar ampunan-Nya terhadap dosa-dosa yang besar, betapa luas surga-Nya, dan betapa melimpah pahala-Nya, maka jiwanya akan menjadi lapang dan terdorong untuk berharap serta menginginkan berbagai kebaikan besar yang ada di sisi Allah.

Sebaliknya, apabila ia mengetahui betapa dahsyat hukuman Allah, betapa keras tindakan dan siksa-Nya, betapa berat perhitungan-Nya, betapa mengerikannya keadaan pada hari kiamat, betapa menakutkannya neraka, serta beragamnya azab di dalamnya, maka jiwanya akan tertahan dan terkendali. Ia akan berhati-hati dan takut terhadap hukuman Allah.

Oleh sebab itu, terdapat hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ مَا قَنِطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ»

“Seandainya seorang mukmin mengetahui hukuman yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang berani mengharapkan surga-Nya tanpa rasa takut. Dan seandainya orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang berputus asa dari surga-Nya.” (HR. Muslim).

Allah Azza wa Jalla sering kali menggabungkan penyebutan ampunan dan azab di dalam Kitab-Nya.

Di antara firman-Nya adalah:

﴿وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِلنَّاسِ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ الْعِقَابِ﴾

“Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar memiliki ampunan bagi manusia meskipun mereka berbuat zalim, dan sesungguhnya Rabb-mu sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Ar-Ra'd: 6).

Allah juga berfirman:

﴿اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾

“Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya dan bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ma'idah: 98).

Al-Ghazali rahimahullah menukil perkataan Makhul Ad-Dimasyqi:

“Barang siapa beribadah kepada Allah hanya dengan rasa takut, maka ia adalah seorang Haruri. Barang siapa beribadah kepada Allah hanya dengan harapan, maka ia adalah seorang Murji'ah. Barang siapa beribadah kepada Allah hanya dengan cinta, maka ia adalah seorang zindik. Namun, barang siapa beribadah kepada-Nya dengan rasa takut, harapan, dan cinta, maka ia adalah seorang ahli tauhid yang mengikuti Sunnah.”

Catatan istilah: Haruri merujuk kepada kelompok Khawarij, sedangkan Murji'ah merupakan kelompok yang dikenal dengan pandangan tertentu tentang iman dan amal. Perkataan yang dinukil di atas adalah penilaian dalam konteks pembahasan tersebut, bukan berarti setiap orang yang kuat harapannya otomatis termasuk Murji'ah atau setiap orang yang kuat cintanya otomatis menjadi zindik.

Dalam kitab Madarijus Salikin, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Hati dalam perjalanannya menuju Allah Azza wa Jalla bagaikan seekor burung. Cinta adalah kepalanya, sedangkan rasa takut dan harapan adalah kedua sayapnya. Apabila kepala dan kedua sayapnya selamat, burung itu dapat terbang dengan baik. Namun, apabila kepalanya terputus, burung itu akan mati. Dan apabila kedua sayapnya hilang, burung itu akan menjadi sasaran bagi setiap pemburu dan tidak mampu terbang.”

Para ulama salaf menganjurkan agar ketika seseorang masih sehat, sayap rasa takut lebih kuat daripada sayap harapan. Adapun ketika ia sudah mendekati akhir hayat, sayap harapan hendaknya lebih kuat daripada sayap rasa takut.

Cinta merupakan kendaraan yang membawanya menuju Allah, harapan menjadi penuntunnya, sedangkan rasa takut menjadi pendorongnya. Allah-lah yang menyampaikannya ke tujuan dengan karunia dan kemurahan-Nya.

Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:

﴿نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ۝ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ﴾

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49–50).

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian melalui Al-Qur'an yang agung, serta memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.

Aku mengucapkan perkataanku ini, dan aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung untuk diriku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum muslimin dari setiap dosa. Maka, mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

### Khutbah kedua

Segala puji bagi Allah, Pemilik keagungan dan kemuliaan, serta pemilik kekuatan yang tidak dapat ditandingi.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia Mahaperkasa dan memiliki kekuasaan untuk memberikan pembalasan.

Aku juga bersaksi bahwa Nabi dan pemimpin kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya yang mulia.

Amma ba'du.

Bertakwalah kepada Allah, wahai kaum muslimin. Berharaplah terhadap pahala-Nya dan takutlah terhadap hukuman-Nya. Dengarkanlah firman Allah Tabaraka wa Ta'ala:

﴿اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾

“Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya dan bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ma'idah: 98).

Karena itu, takutlah terhadap hukuman-Nya dan berharaplah terhadap rahmat serta pahala-Nya.

### 1\. Dahsyatnya azab neraka dan besarnya kenikmatan surga

Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari An-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhuma, ia berkata bahwa dirinya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَرَجُلٌ يُوضَعُ فِي أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ، مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا أَشَدُّ مِنْهُ عَذَابًا، وَإِنَّهُ لَأَهْوَنُهُمْ عَذَابًا»

“Sesungguhnya orang yang paling ringan azabnya di antara penghuni neraka pada hari kiamat adalah seseorang yang diletakkan dua bara api di bagian bawah kedua telapak kakinya. Karena kedua bara api itu, otaknya mendidih. Ia merasa bahwa tidak ada seorang pun yang azabnya lebih berat daripada dirinya, padahal dialah orang yang paling ringan azabnya di antara mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Imam Muslim juga meriwayatkan dari Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa Nabi Musa 'alaihissalam bertanya kepada Rabb-nya, “Siapakah penghuni surga yang paling rendah kedudukannya?”

Allah menjawab:

“Dia adalah seorang lelaki yang datang setelah para penghuni surga dimasukkan ke dalam surga. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke surga!’

Lelaki itu berkata, ‘Wahai Rabb-ku, bagaimana mungkin aku masuk, sementara orang-orang telah menempati kedudukan mereka dan memperoleh bagian mereka?’

Allah berfirman kepadanya, ‘Apakah engkau rela jika engkau memiliki kerajaan seperti kerajaan salah seorang raja di dunia?’

Ia menjawab, ‘Aku rela, wahai Rabb-ku.’

Allah berfirman, ‘Itu untukmu, ditambah yang semisalnya, ditambah yang semisalnya, dan ditambah yang semisalnya lagi.’

Ketika Allah menyebutkan yang kelima kalinya, lelaki itu berkata, ‘Aku rela, wahai Rabb-ku.’

Allah berfirman, ‘Itu semua untukmu, ditambah sepuluh kali lipatnya. Engkau juga memperoleh segala sesuatu yang diinginkan oleh jiwamu dan yang menyenangkan matamu.’

Lelaki itu berkata, ‘Aku rela, wahai Rabb-ku.’”

### 2\. Menguatkan rasa takut di dunia dan harapan menjelang kematian

Rasa takut terhadap azab Allah dan harapan terhadap pahala-Nya merupakan perkara yang tidak dapat dipisahkan dari kelurusan seorang muslim.

Pada zaman ini, ketika kekerasan hati, kelalaian, dan kecintaan terhadap dunia telah mendominasi banyak hati, serta banyak orang semakin berani melakukan dosa dan kemaksiatan, sayap rasa takut perlu diperkuat agar jiwa menjadi lurus dan hati menjadi bersih.

Adapun ketika seseorang telah mendekati akhir hayatnya, hendaknya harapan kepada Allah lebih dikedepankan daripada rasa takut, berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

«لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ»

“Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Rabb-nya.” (HR. Muslim).

Rasa takut kepada Allah menuntut seseorang menunaikan hak-hak Allah Ta'ala dan menjauhkannya dari sikap meremehkan kewajiban terhadap-Nya.

Rasa takut juga menghalangi seorang hamba dari menzalimi orang lain dan melampaui batas terhadap mereka. Sebaliknya, rasa takut mendorongnya menunaikan hak-hak orang lain, tidak menyia-nyiakannya, dan tidak meremehkannya.

Selain itu, rasa takut mencegah seorang muslim mengikuti hawa nafsu dan melakukan perkara-perkara yang diharamkan. Rasa takut menjadikannya selalu waspada terhadap fitnah, perhiasan, dan tipu daya dunia, serta menumbuhkan kerinduan terhadap akhirat dan kenikmatan yang ada di dalamnya.

Barang siapa mentauhidkan Allah Tabaraka wa Ta'ala dan Allah melindunginya dari menumpahkan darah manusia, merampas harta mereka, serta merusak kehormatan mereka, maka ia telah diselamatkan dari kesengsaraan dunia, kesulitan-kesulitan akhirat, dan azab Allah Tabaraka wa Ta'ala. Ia pun memperoleh kemenangan berupa surga yang kenikmatannya tidak akan berakhir dan tidak akan binasa.

### 3\. Selawat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam

Wahai hamba-hamba Allah!

Allah Ta'ala berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).

Karena itu, berselawatlah dan ucapkanlah salam kepada pemimpin seluruh manusia dari generasi pertama hingga generasi terakhir serta imam para rasul.

Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan selawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia.

Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia. Dan limpahkanlah salam sebanyak-banyaknya kepada beliau.

### 4\. Doa untuk para sahabat dan kaum muslimin

Ya Allah, rida dan rahmatilah seluruh sahabat Nabi, serta para khalifah yang mendapat petunjuk dan para imam yang diberi hidayah: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Rida dan rahmatilah seluruh sahabat Nabi-Mu, para tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Ya Allah, rida dan rahmatilah kami dengan karunia, kemurahan, dan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara semua yang menyayangi.

Ya Allah, ampunilah orang-orang yang telah meninggal dunia di antara kami dan seluruh kaum muslimin, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, satukanlah hati kaum muslimin dan perbaikilah hubungan di antara mereka.

Ya Allah, menangkanlah agama-Mu, Kitab-Mu, dan Sunnah Nabi-Mu, wahai Zat Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.

Ya Allah, hinakanlah berbagai bid'ah, wahai Rabb seluruh alam, hingga hari kiamat.

Ya Allah, lindungilah darah kaum muslimin. Ya Allah, lindungilah darah kaum muslimin. Ya Allah, cegahlah pertumpahan darah kaum muslimin, dan jagalah kehormatan serta harta mereka, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, cukupkanlah mereka dari keburukan orang-orang yang melampaui batas dan berbuat zalim, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, jagalah kaum muslimin di setiap tempat. Lindungilah mereka dari keburukan orang-orang zalim dan dari tindakan permusuhan mereka, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, padamkanlah fitnah-fitnah yang melanda kaum muslimin, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, padamkanlah fitnah-fitnah itu dengan kemuliaan bagi Islam dan kaum muslimin, dengan segala sesuatu yang Engkau ridai, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara semua yang menyayangi. Jadikanlah kehinaan bagi musuh-musuh agama. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, berikanlah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami. Ya Allah, perbaikilah keadaan para pemimpin kami.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada Penjaga Dua Tanah Suci agar melakukan segala sesuatu yang Engkau cintai dan Engkau ridai. Bimbinglah ia menuju petunjuk-Mu dan jadikanlah amalnya sesuai dengan keridaan-Mu.

Bantulah ia dalam melakukan segala sesuatu yang Engkau ridai dan yang mendatangkan kemaslahatan bagi Islam serta kaum muslimin, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada kedua wakilnya untuk melakukan segala sesuatu yang Engkau cintai dan Engkau ridai, serta segala sesuatu yang membawa kemuliaan bagi Islam, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara semua yang menyayangi.

Ya Allah, turunkanlah pertolongan dan hujan rahmat kepada kami.

Ya Allah, lindungilah kami dari keburukan diri kami sendiri dan dari keburukan amal perbuatan kami. Lindungilah kami dari keburukan setiap makhluk yang memiliki keburukan, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, lindungilah kami dan keturunan kami dari Iblis, keturunannya, bala tentaranya, dan setan-setannya.

Ya Allah, lindungilah seluruh kaum muslimin dari Iblis, keturunannya, dan setan-setannya, wahai Rabb seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾

“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201).

### 5\. Penutup khutbah

Wahai hamba-hamba Allah!

Allah Ta'ala berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ۝ وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ﴾

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kaum kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian mengambil pelajaran.

Penuhilah janji Allah apabila kalian berjanji, dan janganlah kalian membatalkan sumpah-sumpah setelah meneguhkannya, padahal kalian telah menjadikan Allah sebagai saksi atas janji kalian. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. An-Nahl: 90–91).

Ingatlah Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia, niscaya Dia akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat itu kepada kalian.

Sesungguhnya mengingat Allah adalah perkara yang paling besar. Dan Allah mengetahui segala sesuatu yang kalian kerjakan.



Senin, 26 Oktober 2026

JALAN SELAMAT DARI FITNAH


Terjemah Khutbah Masjidil Haram


 Jalan-Jalan untuk Melindungi Diri dari Fitnah

Syekh Saud bin Ibrahim asy-Syuraim حفظه الله

Tanggal khutbah: 3/6/1432 H

Sumber: Alukah — Khutbah Masjidil Haram, “سبل الوقاية من الفتن” (Jalan-Jalan untuk Melindungi Diri dari Fitnah).



Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan bertobat kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102).

Allah Ta'ala juga berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan darinya Dia menciptakan pasangannya, serta dari keduanya Dia memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa’: 1).

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia telah memperoleh kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70–71).

Amma ba‘du.

Wahai sekalian manusia!

Di antara bentuk rahmat Allah عز وجل kepada hamba-hamba-Nya ialah bahwa Dia mengutus Rasul pembawa petunjuk sebagai saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, penyeru kepada Allah dengan izin-Nya, dan sebagai pelita yang menerangi.

Rasulullah ﷺ telah menunaikan tugasnya. Beliau tidak meninggalkan satu kebaikan pun melainkan telah menunjukkan umat kepadanya, dan tidak meninggalkan satu keburukan pun melainkan telah memperingatkan umat darinya.

Di antara perkara yang beliau peringatkan kepada umatnya adalah berbagai fitnah yang akan terjadi pada akhir zaman, semakin banyaknya fitnah tersebut, serta datangnya satu fitnah menyusul fitnah lainnya. Fitnah-fitnah itu bagaikan kegelapan yang menyelimuti manusia dan masyarakat dari segala penjuru. Gelombangnya menerjang mereka seperti gelombang lautan.

Berbagai musibah dan kejadian besar pun menimpa suatu negeri atau wilayah di sekitarnya secara tiba-tiba, pada saat orang-orang sedang lengah. Peristiwa tersebut bahkan tidak pernah terlintas dalam benak orang yang merasa aman dan terlena, serta tidak pernah tampak dalam pandangannya.

Kejadian itu datang mendadak, sehingga manusia diliputi keterkejutan dan kebingungan akibat dahsyatnya peristiwa, perubahan, serta kecepatannya. Orang yang mendengar dan menyaksikannya hampir tidak mampu mencerna apa yang terjadi karena besarnya rasa takut dan keterkejutan.

Hal itu terjadi karena sebelumnya mereka tidak pernah membayangkan atau menduga bahwa berbagai perubahan dan peristiwa besar dalam bidang alam, sosial, politik, maupun pemikiran akan datang secara tiba-tiba, silih berganti, dan berlangsung dengan sangat cepat.

Keadaan ini mengingatkan kita kepada apa yang telah diberitakan oleh Nabi ﷺ mengenai tanda-tanda Hari Kiamat dan terjadinya Kiamat yang berlangsung dengan sangat cepat, di luar dugaan orang-orang yang hidup pada saat itu.

Sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, Nabi ﷺ bersabda:

«لَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَقَدْ نَشَرَ الرَّجُلَانِ ثَوْبَهُمَا بَيْنَهُمَا، فَلَا يَتَبَايَعَانِهِ وَلَا يَطْوِيَانِهِ، وَلَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَقَدِ انْصَرَفَ الرَّجُلُ بِلَبَنِ لِقْحَتِهِ فَلَا يَطْعَمُهُ، وَلَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَهُوَ يُلِيطُ حَوْضَهُ فَلَا يَسْقِي مِنْهُ، وَلَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَقَدْ رَفَعَ أُكْلَتَهُ إِلَى فِيهِ فَلَا يَطْعَمُهَا».

“Sungguh, Kiamat pasti terjadi ketika dua orang telah membentangkan kain di antara mereka, tetapi mereka belum sempat melakukan transaksi jual beli atas kain tersebut dan belum sempat melipatnya. Sungguh, Kiamat pasti terjadi ketika seseorang telah memerah susu untanya, tetapi ia belum sempat meminumnya. Sungguh, Kiamat pasti terjadi ketika seseorang sedang memperbaiki kolam airnya, tetapi ia belum sempat memberi minum dari kolam itu. Dan sungguh, Kiamat pasti terjadi ketika seseorang telah mengangkat suapan makanannya ke mulutnya, tetapi ia belum sempat memakannya.”

Wahai hamba-hamba Allah!

Semua itu menunjukkan betapa cepatnya suatu peristiwa dapat terjadi dan betapa banyak kejutan yang dibawanya. Sesungguhnya, tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang akan diperolehnya esok hari dan di bumi mana ia akan meninggal dunia.

Ketahuilah, silih bergantinya peristiwa dan datangnya kejadian secara berturut-turut dengan sangat cepat merupakan salah satu ciri zaman yang kita alami sekarang. Peradaban material telah mencapai puncaknya, sementara perkembangan pengetahuan dan teknologi telah mencapai tingkat yang sangat tinggi.

Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.

Kecepatan peristiwa dan berbagai kejadian besar telah sedemikian rupa sehingga angin perubahan tidak memberikan kesempatan kepada abu untuk tetap berada di tempatnya, ataupun kepada bara untuk benar-benar padam nyalanya.

Akibatnya, berbagai dampak dan persoalan menumpuk satu demi satu hingga atap ketenangan runtuh. Gelombang keadaan darurat dan kejutan pun datang, baik pada kegelapan malam maupun ketika fajar mulai menyingsing.

Namun, semua itu tidak terjadi begitu saja tanpa pendahuluan atau sebab-sebab yang mendasarinya.

Kita semua sepakat bahwa waktu terjadinya suatu peristiwa mungkin terasa mengejutkan. Akan tetapi, sesungguhnya hal itu menyerupai percikan bara yang tersembunyi di antara abu. Angin kencang bertiup pada suatu hari yang penuh badai, lalu percikan api beterbangan menuju rerumputan kering. Setelah itu, api pun menyala dan berkobar, sehingga terjadilah sesuatu yang tidak mungkin dihindari lagi.

Padahal, sebelumnya telah terdengar suara-suara yang jujur dan seruan-seruan nasihat yang tulus. Namun, semua itu tidak mendapatkan tanggapan. Orang-orang yang mendengarnya baru menyadari kebenaran nasihat tersebut pada keesokan harinya, ketika semuanya sudah terlambat dan tidak ada lagi jalan untuk melarikan diri dari akibatnya.

Wahai hamba-hamba Allah!

Ketika seorang Muslim atau suatu masyarakat bersyukur kepada Allah karena tidak ditimpa oleh berbagai peristiwa dan perubahan tersebut, serta karena musibah itu tidak melanda negeri mereka, mereka tidak boleh melupakan pentingnya memohon keselamatan dan afiat kepada Allah.

Mereka juga tidak boleh membiarkan berbagai kejadian besar itu berlalu begitu saja tanpa mengambil pelajaran, nasihat, dan ibrah darinya.

Nabi ﷺ bersabda:

«السَّعِيدُ مَنْ وُعِظَ بِغَيْرِهِ، وَالشَّقِيُّ مَنْ شَقِيَ فِي بَطْنِ أُمِّهِ».

“Orang yang berbahagia ialah orang yang mengambil pelajaran dari orang lain, sedangkan orang yang celaka ialah orang yang telah ditetapkan kecelakaannya sejak dalam kandungan ibunya.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dengan redaksi yang disebutkan dalam khutbah tersebut.

Wahai hamba-hamba Allah!

Bentuk mengambil pelajaran yang paling baik adalah ketika pelajaran itu diambil bersamaan dengan munculnya sebab yang menuntutnya. Sebab, kesiapan mental untuk menghadapi suatu kejadian akan menjadi lebih kuat apabila berhadapan dengan besarnya peristiwa tersebut.

Jika tidak demikian, manusia akan diliputi kelalaian dan kelupaan.

Apabila suatu dinding tidak terkena debu ketika sedang runtuh, maka tidak ada debu yang dapat mengenainya setelah keruntuhannya selesai. Demikian pula, apabila tindakan pencegahan baru dilakukan setelah musibah terjadi, berbagai upaya yang datang terlambat itu akan dilahap oleh kobaran peristiwa yang semakin membesar, disertai kemarahan dan dahsyatnya akibat yang ditimbulkan.

Semua ini bertujuan agar pelajaran dan nasihat mendorong kita untuk lebih dahulu mengambil langkah-langkah aman sehingga tidak terjerumus ke dalam kejadian serupa.

Dengan istilah yang digunakan pada zaman sekarang, kita menyebutnya: mencegah lebih baik daripada mengobati, atau keamanan preventif.

Adapun dalam ungkapan syariat yang lebih mendasar, prinsip ini disebut:

مبدأ الدفع أولى من الرفع

“Mencegah terjadinya keburukan lebih utama daripada menghilangkannya setelah terjadi.”

Semua orang yang berakal sepakat bahwa mencegah terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan lebih baik dan lebih utama daripada berusaha menghilangkannya setelah hal tersebut terjadi.

Syariat kita yang mulia mendorong manusia untuk segera mengambil langkah-langkah yang dapat mencegah berbagai keburukan sebelum keburukan itu menimpa individu maupun masyarakat.

Di antara dalilnya adalah firman Allah Ta'ala:

وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong.” (QS. Az-Zumar: 54).

Allah سبحانه وتعالى juga berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

“Janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.” (QS. Al-An‘am: 151).

Allah tidak hanya melarang perbuatan keji itu sendiri, tetapi juga melarang mendekatinya. Sebab, mendekati sesuatu yang haram merupakan salah satu jalan yang dapat mengantarkan seseorang untuk terjerumus ke dalamnya.

Ini merupakan bukti pentingnya melakukan pencegahan.

Dalam Sunnah Nabi ﷺ juga terdapat penegasan yang jelas mengenai prinsip tersebut.

Beliau bersabda:

«بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا».

“Bersegeralah melakukan amal saleh sebelum datangnya berbagai fitnah yang seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seseorang masih beriman, tetapi pada sore harinya ia menjadi kafir; atau pada sore hari ia masih beriman, tetapi pada pagi harinya ia menjadi kafir. Ia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.”

(HR. Muslim).

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

«اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ».

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara lainnya: masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, kecukupanmu sebelum kemiskinanmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, dan kehidupanmu sebelum kematianmu.”

(HR. Al-Hakim dan lainnya).

Di antara dalil lain yang menunjukkan perhatian syariat terhadap pencegahan, kesigapan, dan kewaspadaan adalah sabda Nabi ﷺ:

«لَا يُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ».

“Janganlah pemilik unta yang sakit mencampurkannya dengan unta yang sehat.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa di antara anggota delegasi Bani Tsaqif terdapat seorang laki-laki yang menderita penyakit kusta. Nabi ﷺ mengirimkan pesan kepadanya:

«أَنِ ارْجِعْ؛ فَقَدْ بَايَعْنَاكَ».

“Kembalilah, karena kami telah menerima baiatmu.”

Wahai hamba-hamba Allah!

Peristiwa tersebut menunjukkan upaya menghindari kemungkinan penularan penyakit dengan mencukupkan baiat dari jarak jauh.

Jika hal ini telah kita pahami, wahai hamba-hamba Allah, maka prinsip bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati merupakan prinsip yang mencakup seluruh urusan kehidupan.

Kesalahan yang nyata adalah membatasi prinsip ini hanya pada bidang kesehatan. Padahal, prinsip tersebut juga mencakup bidang pangan, ilmu pengetahuan, pemikiran, media, ekonomi, dan politik.

Upaya pencegahan dalam semua bidang itu semestinya dilakukan lebih dahulu dan mendapatkan perhatian yang lebih besar dari seluruh lapisan masyarakat dibandingkan upaya penanganan setelah masalah terjadi.

Di sinilah letak tanggung jawab setiap individu Muslim: menyadari akibat dari berbagai tindakan dan memiliki kewaspadaan terhadap berbagai peristiwa besar yang mungkin muncul.

Jika syariat yang mulia mendorong manusia untuk bersegera melakukan amal, dorongan ini tidak hanya ditujukan kepada satu pihak dan mengabaikan pihak lainnya.

Prinsip ini mencakup individu, keluarga, masyarakat awam, ulama, politisi, pemikir, dan semua pihak yang menjadi bagian dari pembentuk masyarakat.

Sungguh keliru apabila tanggung jawab tersebut dibebankan hanya kepada satu pihak, misalnya hanya kepada pemimpin atau hanya kepada ulama.

Tidak demikian!

Kesatuan masyarakat dan kesadaran akan kewajiban terhadapnya merupakan tanggung jawab semua orang.

Kesungguhan dalam melindungi masyarakat dari segala sesuatu yang dapat menyusup ke dalamnya merupakan bentuk partisipasi positif yang menunjukkan amanah yang sesungguhnya. Tujuannya adalah menyatukan masyarakat di atas kebenaran dan kebaikan serta saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan, bukan dalam dosa dan permusuhan.

Dengan demikian, bahtera besar masyarakat dapat berlayar menuju pantai keselamatan setelah berhasil keluar dari kegelapan lautan dalam, yang diliputi gelombang di atas gelombang dan awan yang menyelimutinya.

Wahai sekalian manusia, semoga Allah menjaga kalian!

Ketidaksiapan dan keterkejutan banyak orang terhadap berbagai perubahan dan kejadian yang berlangsung pada masa sekarang bukanlah terutama disebabkan oleh rendahnya kecerdasan masyarakat secara umum atau lemahnya mekanisme peringatan dini.

Sebaliknya, penyebab yang lebih mendasar adalah pengabaian terhadap prinsip pencegahan, tidak tersedianya sarana-sarana yang diperlukan untuk melakukannya, serta tidak adanya kesadaran yang memadai tentang pentingnya prinsip tersebut.

Sebab, sikap berlebihan dalam merasa aman dari perubahan justru menjadi sumber ketakutan dan bahaya. Sebaliknya, kewaspadaan yang berlebihan juga dapat menjadi sumber kebekuan, ketidakmampuan bergerak, dan keterlambatan kemajuan.

Sikap terbaik dalam perkara ini adalah sikap pertengahan.

Ada yang mengatakan:

“Sikap pertengahan dalam berbagai urusan merupakan keselamatan,

agar bahaya tidak menimpamu dan engkau tidak menimpakan bahaya kepada orang lain.

Seseorang bisa binasa karena rasa aman yang berlebihan,

atau ditimpa keburukan karena kewaspadaan yang melampaui batas.”

Kurangnya kesadaran masyarakat secara menyeluruh mengenai nilai pencegahan, serta kurangnya pemahaman mereka terhadap besarnya kebutuhan dan karakteristik tindakan pencegahan, merupakan sebab yang membuat mereka harus menanggung terjadinya suatu masalah, lalu berusaha mengobatinya setelah masalah itu muncul.

Kedua keadaan tersebut sama-sama menunjukkan jauhnya seseorang dari kenyataan dan dinginnya sikap dalam menghadapi perubahan.

Padahal, seharusnya ada langkah-langkah yang dapat mencegah munculnya berbagai peristiwa buruk atau, setidaknya, memperlambat kedatangannya sampai tersedia perlindungan yang aman untuk mengurangi bahayanya apabila peristiwa tersebut benar-benar terjadi.

Lebih jauh lagi, anggapan bahwa ada semacam tongkat ajaib yang dapat menghalau segala sesuatu kapan saja merupakan anggapan yang lahir dari ketidaksadaran.

Manfaat pencegahan adalah berusaha mencapai keadaan yang lebih baik atau keluar dari keadaan yang lebih buruk.

Tidak seorang pun di antara kita mampu memperbaiki roda pesawat setelah pesawat itu terlanjur mengudara.

Allah Ta'ala berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 53).

Karena satu perkara mengingatkan kita kepada perkara lainnya, maka negeri ini—semoga Allah menjaganya—telah memberikan contoh dalam hal hubungan dan keterpaduan antara pemimpin, ulama, dan masyarakatnya.

Di tengah berbagai peristiwa yang terjadi, negeri ini mengambil sikap bertanggung jawab dan menyadari adanya bahaya yang dapat muncul apabila setiap orang mengabaikan tanggung jawabnya.

Karena itulah, terdapat penjelasan yang tuntas dari Hai'ah Kibar al-‘Ulama, yaitu Dewan Ulama Senior di negeri ini—semoga Allah menjaganya. Demikian pula keputusan-keputusan penting yang dikeluarkan oleh pemimpin kami—semoga Allah menjaganya.

Melalui keputusan-keputusan tersebut, ditegaskan bahwa syariat Islam merupakan landasan dan ketetapan bagi negeri ini.

Keputusan-keputusan itu juga menegaskan kedudukan para ulama dan pengaruh mereka dalam masyarakat, melalui kepemimpinan ilmiah yang mendukung kepemimpinan politik.

Selain itu, keputusan-keputusan tersebut menyentuh kebutuhan masyarakat dan warga negara yang memerlukan perbaikan serta pembaruan.

Semoga Allah menjadikan semua itu sebagai pemberat timbangan amal kebaikan. Semoga Allah memberikan taufik kepada negeri ini, baik kepada pemimpin, ulama, maupun rakyatnya, untuk senantiasa berpegang pada kebajikan dan ketakwaan.

Semoga Allah melindunginya dari segala keburukan dan fitnah serta melindungi seluruh negeri kaum Muslimin dari kejahatan fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Allah Ta'ala berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal sehat.” (QS. Al-Baqarah: 197).

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian melalui Al-Qur’an yang agung, serta memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.

Apa yang telah aku sampaikan, jika benar, maka itu berasal dari Allah; dan jika salah, maka itu berasal dari diriku sendiri dan setan. Aku memohon ampun kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.

### Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Semoga selawat dan salam tercurah kepada nabi yang paling mulia di antara para nabi dan rasul, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Kiamat.

Amma ba‘du.

Ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah yang semoga senantiasa dijaga-Nya!

Kita telah sepakat mengenai pentingnya mengambil prinsip pencegahan dan mengakui kebenarannya.

Dengan demikian, persoalannya bukan lagi bagaimana kita melindungi diri, melainkan kapan kita melindungi diri dan masyarakat kita.

Sebab, ketika penyakit suka menunda-nunda mulai merasuki jiwa manusia, kemungkinan mereka menghadapi berbagai kejutan dan peristiwa mendadak akan semakin besar.

Jika ungkapan terkenal mengatakan, “Jangan menunda pekerjaan hari ini sampai esok,” maka seakan-akan keadaan banyak orang justru mengatakan, “Jangan menunda sampai esok apa yang sebenarnya bisa kamu kerjakan lusa.”

Seolah-olah dunia ini, wahai hamba-hamba Allah, tidak memiliki perubahan, kejadian yang silih berganti, dan berbagai musibah besar.

Sungguh tepat perkataan seseorang:

“Aku tidak memiliki jaminan atas hari esok dari hari ini,

dan pasti ada negeri keabadian yang kekal.”

Karena itu, waspadalah, wahai hamba-hamba Allah, jangan sampai sebagian kita diam-diam terjangkit penyakit menunda-nunda, padahal kita hidup pada masa ketika tekad dan tindakan nyata sangat diperlukan untuk membentuk karakter dan mendidik masyarakat berdasarkan prinsip pencegahan.

Prinsip inilah yang mengantarkan manusia dari keadaan buruk menuju keadaan baik, dan dari keadaan baik menuju keadaan yang lebih baik.

Apabila tujuan yang hendak dicapai itu mulia, prinsip pencegahan harus didasarkan pada keadilan dalam seluruh jalan yang ditempuh.

Tidak mungkin masyarakat secara umum melaksanakan tugasnya dengan melampaui hak orang lain yang harus mereka hormati.

Pada akhirnya, seluruh usaha itu harus bermuara pada nilai bersama yang menyatukan setiap individu dalam suatu masyarakat ke dalam satu kesatuan yang utuh, dengan standar yang berlaku bagi semuanya.

Dengan demikian, setiap orang melaksanakan tugasnya demi mempertahankan bangunan masyarakat yang sadar dan bersatu, tanpa keretakan, sesuai dengan bidang pekerjaan, keahlian, dan tingkat ilmu yang telah dicapainya.

Tidak semestinya kita meminta mata untuk melakukan pekerjaan tangan, padahal fungsi mata adalah melihat. Demikian pula, tidak semestinya kita meminta telinga untuk berjalan, padahal fungsinya adalah mendengar.

Jika hal itu dilakukan, keadaan kita akan seperti orang yang memakan garam untuk menghilangkan dahaga, meminum air untuk menghilangkan rasa lapar, atau menghirup gas untuk bernapas.

Ketahuilah, setiap kapal memiliki nakhodanya.

Apabila nakhoda kapal menghilang dan angin menerpa kapal itu dengan keras, lalu katak-katak mengambil alih pengaturannya, maka kapal itu tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.

Demikian pula, suatu umat yang memiliki orang-orang yang berperan sebagai pelindung dan pencegah bahaya adalah umat yang seluruh anggotanya, mulai dari rakyat hingga pemimpinnya, menjalankan tanggung jawab masing-masing.

Setiap orang hendaknya memperhatikan hak bersama dan kepentingan seluruh masyarakat. Ia tidak boleh mengejar tujuan yang bertentangan dengan tujuan mayoritas masyarakat, ataupun menempuh sasaran yang menyimpangkannya dari tujuan bersama mereka.

Umat seperti inilah yang memiliki keterpaduan, rasa memiliki yang baik, dan kemampuan mewujudkan kemaslahatan bersama.

Dalam masyarakat semacam itu, setiap individu ikut menjaga kepentingan bersama, bahkan orang yang paling sederhana di antara mereka pun memiliki peran dalam menjamin keamanan dan kehormatan masyarakatnya.

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّى يُبَيِّنَ لَهُمْ مَا يَتَّقُونَ وَإِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum setelah Dia memberi petunjuk kepada mereka sampai Dia menjelaskan kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taubah: 115).

Wahai kaum Muslimin, semoga Allah merahmati kalian!

Berselawatlah kepada manusia terbaik dan makhluk yang paling suci, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib, pemilik telaga dan pemberi syafaat.

Allah telah memerintahkan kalian untuk berselawat kepadanya melalui firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا».

“Barang siapa berselawat kepadaku satu kali, Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali karenanya.”

Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, tambahan kemuliaan, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, yang memiliki wajah paling bercahaya dan dahi yang bersinar.

Ya Allah, ridhailah empat khalifah beliau: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Ridhailah pula seluruh sahabat Nabi-Mu Muhammad ﷺ, para tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Kiamat. Ridhailah pula kami bersama mereka, dengan ampunan, kemurahan, dan karunia-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik. Ya Allah, menangkanlah agama-Mu, kitab-Mu, Sunnah Nabi-Mu, dan hamba-hamba-Mu yang beriman.

Ya Allah, perbaikilah keadaan kaum Muslimin di mana pun mereka berada.

Ya Allah, perbaikilah keadaan kaum Muslimin di mana pun mereka berada.

Ya Allah, perbaikilah keadaan kaum Muslimin di mana pun mereka berada.

Satukanlah hati mereka, ya Allah, wahai Tuhan Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.

Ya Allah, lindungilah darah, kehormatan, dan harta mereka, wahai Tuhan Yang Mahahidup dan terus-menerus mengurus makhluk-Nya, wahai Dzat Yang Maha Mendengar doa.

Ya Allah, anugerahkanlah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami. Perbaikilah keadaan para imam dan pemegang urusan kami. Jadikanlah kepemimpinan kami berada di tangan orang-orang yang takut kepada-Mu, bertakwa kepada-Mu, dan mengikuti keridaan-Mu, wahai Tuhan seluruh alam.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami untuk melakukan perkataan dan perbuatan yang Engkau cintai dan ridhai, wahai Tuhan Yang Mahahidup dan terus-menerus mengurus makhluk-Nya.

Ya Allah, perbaikilah orang-orang terdekat yang menjadi penasihatnya, wahai Tuhan Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.

Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari segala fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari segala fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari segala fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Apabila Engkau hendak menimpakan fitnah kepada hamba-hamba-Mu, maka wafatkanlah kami dalam keadaan kembali kepada-Mu, tanpa terjerumus ke dalam fitnah dan tanpa melalaikan kewajiban, wahai Tuhan Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.

Ya Allah, satukanlah barisan kaum Muslimin.

Ya Allah, satukanlah barisan kaum Muslimin dan persatukanlah hati mereka, wahai Tuhan Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.

Allah Ta'ala berfirman:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201).

Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Yang memiliki keperkasaan, dari apa yang mereka sifatkan kepada-Nya.

Semoga keselamatan tercurah kepada para rasul.

Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.



TAFSIR SURAT AL BAQARAH 205



Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 205

Firman Allah Ta‘ala:

﴿وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِی ٱلۡأَرۡضِ لِیُفۡسِدَ فِیهَا وَیُهۡلِكَ ٱلۡحَرۡثَ وَٱلنَّسۡلَۚ وَٱللَّهُ لَا یُحِبُّ ٱلۡفَسَادَ ۝٢٠٥﴾

“Dan apabila dia berpaling, dia berusaha di bumi untuk membuat kerusakan padanya serta membinasakan tanaman-tanaman dan keturunan, sedangkan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. Al-Baqarah: 205).


1\. Makna firman Allah: وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا

“Dan apabila dia berpaling, dia berusaha di bumi untuk membuat kerusakan padanya.”

Pada hakikatnya, kata tawallā (تَوَلَّىٰ) berarti berpaling atau pergi dengan tubuh. Kemudian penggunaannya diperluas sehingga kata tersebut juga digunakan untuk menunjukkan tindakan meninggalkan atau berbalik dari sesuatu, baik berupa perkataan maupun perbuatan.

Adapun makna kata tersebut dalam ayat ini, Ibnu Abbas berkata, “Dia marah,” karena kemarahan merupakan bentuk berbaliknya seseorang dari keridaan yang sebelumnya ada pada dirinya.

Al-Hasan berkata, “Dia berpaling dari perkataan yang telah diucapkannya.”

Muqatil dan Ibnu Qutaibah berkata, “Dia pergi dengan tubuhnya.”

Mujahid berkata, “Kata tersebut berasal dari makna kekuasaan atau kepemimpinan,” yakni orang itu menjadi seorang penguasa.

Adapun kata sa‘y (السَّعْي), secara hakikat berarti berjalan cepat dengan kedua kaki. Abu Sulaiman ad-Dimasyqi memaknai kata tersebut berdasarkan makna ini. Demikian pula Ibnu Abbas, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu ‘Athiyyah.

Berdasarkan penafsiran ini, maknanya ialah: apabila orang tersebut pergi meninggalkanmu, wahai Muhammad, setelah sebelumnya berbicara dengan perkataan yang lembut dan tutur kata yang manis, kemudian ia berjalan di bumi dengan kedua kakinya, memutus jalan dan melakukan kerusakan di sana, sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Akhnas terhadap kabilah Tsaqif.

Ada pula yang berpendapat bahwa kata sa‘y dalam ayat ini berarti melakukan suatu pekerjaan. Makna ini merupakan bentuk penggunaan majas yang dibenarkan dalam bahasa Arab.

Di antara contohnya adalah firman Allah:

﴿وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ﴾

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39).

Demikian pula firman-Nya:

﴿وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ﴾

“Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia seorang mukmin.” (QS. Al-Isra’: 19).

Seorang penyair berkata:

“Seandainya segala yang kuusahakan hanya untuk sekadar penghidupan yang sederhana, niscaya sedikit harta sudah mencukupiku dan aku tidak akan mencari lebih banyak lagi.

Akan tetapi, sesungguhnya aku berusaha demi kemuliaan yang kokoh dan abadi; dan orang-orang seperti diriku mungkin saja meraih kemuliaan yang kokoh itu.”

Al-A‘syā juga berkata:

“Qais berusaha untuk kepentingan Kinda, bukan seperti usaha orang yang bermalas-malasan. Maka ia menghalau musuh dari mereka dan membangun kekuatan bagi mereka.”

Penyair lainnya berkata:

“Aku berusaha demi kepentingan kaumku, Bani Malik; setiap orang berusaha untuk urusannya masing-masing.”

Dengan demikian, makna ayat tersebut berdasarkan penafsiran ini adalah bahwa orang itu berusaha dengan berbagai tipu daya dan mengatur siasat untuk melawan Islam.

Pendapat ini dikemukakan oleh Mujahid dan Ibnu Juraij. Pendapat serupa juga dinukil dari Ibnu Abbas.

Orang-orang yang berpendapat demikian memberikan penjelasan yang berbeda-beda. Sebagian mengatakan bahwa maksudnya adalah ia berusaha melakukan kerusakan di bumi melalui kekufuran, sedangkan sebagian lainnya mengatakan melalui kezaliman.

Usaha merusak juga dapat dilakukan melalui perkataan. Dalam bahasa Arab, dikatakan bahwa seseorang melakukan sa‘y di antara dua orang apabila ia menyampaikan perkataan kepada keduanya yang mengakibatkan perpecahan di antara mereka.

Contohnya adalah perkataan seorang penyair:

“Aku tidak mengatakan apa yang dikatakan oleh para pengadu domba yang berusaha di antara kami seperti musuh, menyebarkan kabar yang mengguncangkan hubungan kami.”

### 2\. Makna firman Allah: فِي الْأَرْضِ

“Di bumi.”

Telah diketahui bahwa usaha berjalan secara fisik tidak mungkin dilakukan kecuali di bumi. Meskipun demikian, penyebutan kata “di bumi” memberikan makna umum, yaitu bahwa di mana pun orang tersebut berada, ia akan berusaha melakukan kerusakan.

Ungkapan “di bumi” juga menunjukkan banyaknya usaha dan perjalanannya ke berbagai penjuru bumi. Sebab, penggunaan ungkapan yang mencakup seluruh bumi mengandung makna bahwa ia berulang kali melakukan usaha tersebut di berbagai tempat.

Hal yang serupa telah dijelaskan sebelumnya dalam firman Allah:

﴿وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ﴾

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 11).

Apabila orang yang dimaksud dalam ayat ini adalah Al-Akhnas, maka yang dimaksud dengan bumi ialah wilayah Madinah. Dalam hal ini, kata sandang alif-lam pada kata al-ardh menunjukkan tempat yang telah diketahui atau tertentu.

### 3\. Makna firman Allah: لِيُفْسِدَ فِيهَا

“Untuk membuat kerusakan padanya.”

Ungkapan ini menjelaskan tujuan dari usaha orang tersebut sekaligus menjadi alasan yang mendorongnya untuk melakukan berbagai tindakan di bumi.

Kerusakan merupakan lawan dari kebaikan dan perbaikan. Kerusakan juga berarti menentang ketentuan Allah dalam memakmurkan bumi, sebagaimana firman-Nya:

﴿وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا﴾

“Dan Dia menjadikan kamu sebagai pemakmur di bumi itu.” (QS. Hud: 61).

Kerusakan dapat terjadi dalam berbagai bentuk kezaliman, pembunuhan, perampasan harta, penawanan manusia, dan juga kekufuran.

### 4\. Makna firman Allah: وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ

“Dan membinasakan tanaman-tanaman dan keturunan.”

Ungkapan ini dihubungkan dengan tujuan sebelumnya, yaitu “untuk membuat kerusakan padanya”. Susunan seperti ini serupa dengan firman Allah:

﴿وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ﴾

“Para malaikat-Nya, para rasul-Nya, Jibril, dan Mikail.” (QS. Al-Baqarah: 98).

Demikian pula dengan perkataan seorang penyair:

“Aku menyerang mereka dengan kuda yang kuat dan berisi.”

Penyebutan tanaman dan keturunan secara khusus, padahal keduanya sudah tercakup dalam makna kerusakan, bertujuan menegaskan pentingnya kedua hal tersebut. Sebab, tanaman dan keturunan merupakan dua unsur terbesar yang dibutuhkan untuk keberlangsungan kehidupan dan kemakmuran dunia. Oleh karena itu, merusak keduanya merupakan bentuk kerusakan yang sangat besar.

Barang siapa menafsirkan kerusakan dalam ayat ini dengan makna penghancuran, maka penyebutan tanaman dan keturunan merupakan bentuk perincian setelah penyebutan makna yang umum.

Kata al-harth (الْحَرْثُ), yang berarti tanaman atau lahan pertanian, telah disebutkan sebelumnya dalam firman Allah:

﴿وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَ﴾

“Dan tidak mengairi tanaman.” (QS. Al-Baqarah: 71).

Adapun kata an-nasl (النَّسْلُ), yang berarti keturunan, telah dijelaskan sebelumnya dalam pembahasan kosakata.

Berdasarkan penafsiran bahwa ayat ini berkaitan dengan Al-Akhnas, maka yang dimaksud dengan al-harth ialah tanaman pertanian, sedangkan yang dimaksud dengan an-nasl ialah keledai-keledai yang dibunuhnya. Dengan demikian, kata an-nasl di sini dapat bermakna hewan-hewan yang berkembang biak.

Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-harth dalam ayat ini adalah perempuan, sedangkan an-nasl adalah anak-anak.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ﴾

“Istri-istrimu adalah ladang bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 223).

Ibnu ‘Athiyyah menukil kemungkinan penafsiran ini dari Az-Zajjaj. Berdasarkan penafsiran tersebut, ungkapan ini merupakan bentuk kiasan atau sindiran (kinayah), yang termasuk salah satu gaya penyampaian makna dalam bahasa Arab.

### 5\. Perbedaan bacaan Al-Qur’an pada kata يُهْلِكَ

Mayoritas ahli qiraat membaca kata tersebut dengan bentuk:

وَيُهْلِكَ

Kata ini berasal dari bentuk ahlaka (أَهْلَكَ), yang berarti membinasakan. Huruf wawu menghubungkannya dengan kata sebelumnya, yaitu liyufsida (لِيُفْسِدَ).

Ubay bin Ka‘b membacanya:

وَلِيُهْلِكَ

Dalam bacaan ini, huruf lam yang menunjukkan tujuan dinyatakan secara eksplisit.

Sebagian orang membacanya:

وَيُهْلِكُ

Bentuk ini berasal dari kata ahlaka juga, tetapi huruf kaf dibaca dengan harakat damah.

Bacaan ini ditafsirkan melalui beberapa kemungkinan tata bahasa: kata tersebut dapat dihubungkan dengan kata yu‘jibuka (يُعْجِبُكَ), atau dengan kata sa‘ā (سَعَى), karena maknanya mengandung arti “ia berusaha”; dapat pula dianggap sebagai kalimat baru, atau sebagai kalimat yang didahului subjek yang tidak disebutkan, dengan perkiraan makna: “dan dia membinasakan”.

Al-Hasan, Ibnu Abi Ishaq, Abu Haywah, dan Ibnu Muhaisin membacanya:

وَيَهْلِكُ

Bacaan ini berasal dari kata halaka (هَلَكَ), yang berarti binasa, dengan huruf kaf berharakat damah. Adapun kata al-harth dan an-nasl dibaca dengan harakat damah sebagai subjek atau pelaku dari kata kerja tersebut.

Bacaan ini juga diriwayatkan oleh Hammad bin Salamah dari Ibnu Katsir dan oleh Abdul Warits dari Abu Amr.

Al-Mahdawi menjelaskan bahwa bacaan yang diriwayatkan oleh Hammad dari Ibnu Katsir sebenarnya adalah yuhliku (يُهْلِكُ), berasal dari ahlaka, dengan huruf kaf berharakat damah dan kata al-harth dibaca mansub.

Sebagian orang membacanya:

وَيَهْلَكُ

Bacaan ini berasal dari halaka, dengan huruf lam berharakat fathah, huruf kaf berharakat damah, dan kata al-harth dibaca marfu‘.

Bacaan ini merupakan bentuk bahasa yang ganjil atau tidak lazim, serupa dengan pola kata rakana-yarkan (رَكَنَ يَرْكَنُ). Bacaan ini dinisbatkan kepada Al-Hasan dan Az-Zamakhsyari.

Az-Zamakhsyari juga menyebutkan bahwa diriwayatkan dari Al-Hasan suatu bacaan:

وَيُهْلَكُ

dengan bentuk kata kerja pasif, yaitu “dibinasakan”.

Dengan demikian, pada lafaz tersebut terdapat enam bentuk bacaan:

* Wa yuhlika (وَيُهْلِكَ).

* Wa liyuhlika (وَلِيُهْلِكَ).

* Wa yuhliku (وَيُهْلِكُ).

* Wa yahlaku (وَيَهْلَكُ).

* Wa yuhlaku (وَيُهْلَكُ).

* Wa yahlaku dengan pola pelafalan berbeda sebagaimana disebutkan dalam pembahasan qiraat di atas.

Pada tiga bacaan pertama, kata setelahnya dibaca mansub karena kata kerja mengandung pelaku yang berupa kata ganti tersembunyi. Adapun pada tiga bacaan berikutnya, kata setelahnya dibaca marfu‘ karena menjadi subjek atau pelaku yang dinyatakan oleh kata kerja.

Kalimat bersyarat ini dapat dipahami sebagai kalimat baru, sehingga pembicaraan sebelumnya telah selesai pada firman Allah, “Dan dia adalah orang yang paling keras permusuhannya.”

Kalimat tersebut juga dapat dihubungkan dengan sifat atau keterangan yang menjelaskan kata man (مَنْ), sebagaimana dalam firman-Nya, “Dan dia membuatmu kagum.”

### 6\. Makna firman Allah: وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ

“Dan Allah tidak menyukai kerusakan.”

Sebelumnya telah disebutkan dua tujuan atau bentuk tindakan: membuat kerusakan di bumi dan membinasakan tanaman serta keturunan. Tujuan yang kedua sebenarnya tercakup dalam tujuan pertama.

Karena itu, Allah Ta‘ala menegaskan bahwa Dia tidak menyukai kerusakan. Cukup dengan menyebutkan tujuan yang pertama, karena tujuan tersebut telah mencakup tujuan yang kedua.

Apabila kata mahabbah (مَحَبَّة), yaitu cinta atau kecintaan, ditafsirkan dengan makna kehendak (irādah), sebagaimana yang dilakukan dalam sejumlah pembahasan teologis, maka ayat ini harus dipahami dengan memberikan batasan tertentu.

Hal ini karena terdapat ayat lain yang menggunakan kata yuhibbūn (يُحِبُّونَ), seperti firman Allah:

﴿إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang senang agar perbuatan keji itu tersebar luas.” (QS. An-Nur: 19).

Apabila kecintaan diartikan sama dengan kehendak, maka ayat tersebut harus diberi pengkhususan, yaitu bahwa Allah tidak menghendaki kerusakan dari orang-orang yang saleh.

Menurut pandangan yang dibahas oleh penulis, ayat ini tidak dapat dipahami secara mutlak dalam arti bahwa segala sesuatu yang disebut kerusakan sama sekali tidak berada dalam kehendak Allah, karena kerusakan memang terjadi di dunia. Seandainya hal itu sama sekali tidak berada dalam kehendak-Nya, tentu hal tersebut tidak akan terjadi.

Kaum Mu‘tazilah menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa Allah tidak menghendaki kerusakan. Menurut mereka, sesuatu yang terjadi berupa kerusakan bukanlah sesuatu yang dikehendaki Allah dan bukan pula perbuatan yang dilakukan oleh-Nya. Sebab, menurut argumentasi mereka, apabila Allah melakukan sesuatu, berarti Dia menghendakinya, karena mustahil Dia melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya.

Mereka juga mengatakan bahwa kecintaan Allah terhadap suatu perbuatan menunjukkan kehendak-Nya terhadap perbuatan tersebut. Menurut mereka, tidak mungkin Allah menyukai terjadinya sesuatu tetapi tidak menghendaki sesuatu itu terjadi; bahkan, jika Dia tidak menghendakinya, berarti Dia membencinya.

Demikianlah argumentasi mereka.

Ada pula yang menafsirkan ayat ini dengan makna, “Allah tidak menyukai kerusakan sebagai agama,” yakni Allah tidak meridai kerusakan untuk dijadikan sebagai agama atau jalan hidup.

Pendapat lainnya menyatakan bahwa terdapat kata yang dihilangkan dalam susunan kalimat tersebut, sehingga maknanya adalah, “Allah tidak menyukai orang-orang yang melakukan kerusakan.”

Ibnu Abbas berkata bahwa maksud ayat ini ialah Allah tidak meridai berbagai kemaksiatan.

Ada pula yang mengatakan bahwa kata “menyukai” digunakan untuk mengungkapkan makna perintah. Dengan demikian, maknanya adalah bahwa Allah tidak memerintahkan kerusakan.

Ar-Raghib berkata:

“Kerusakan adalah mengeluarkan sesuatu dari keadaan yang baik dan terpuji tanpa tujuan yang benar. Hal seperti itu tidak terdapat dalam perbuatan Allah Ta‘ala.”

Berbagai penafsiran tersebut berangkat dari pandangan para ahli ilmu kalam yang mengartikan kecintaan sebagai kehendak.

Ibnu ‘Athiyyah berkata:

“Kecintaan memiliki keistimewaan berupa pemilihan dan pengutamaan dibandingkan sekadar kehendak. Seandainya seseorang mengatakan bahwa kerusakan yang dikehendaki tidak memiliki keistimewaan berupa pengutamaan, niscaya perkataan itu benar. Sebab, kecintaan Allah Ta‘ala hanya berkaitan dengan sesuatu yang baik dari seluruh sisinya.”

Demikian perkataan Ibnu ‘Athiyyah.

Apabila penjelasan ini benar, maka menjadi jelas perbedaan antara kehendak dan kecintaan. Dengan demikian, benar bahwa Allah dapat menghendaki sesuatu, tetapi tidak mencintainya.

Sebagian ulama mengatakan bahwa kaum Mu‘tazilah menyamakan kecintaan dengan kehendak, kemudian menjadikan ayat ini sebagai dalil untuk mendukung pandangan mereka. Padahal, mayoritas ulama berpendapat berbeda.

Perbedaan antara kehendak dan kecintaan merupakan perkara yang jelas. Sebagai contoh, seseorang mungkin menghendaki agar luka yang dialaminya segera sembuh, tetapi ia tidak menyukai luka tersebut.

Apabila secara akal telah jelas adanya perbedaan antara kehendak dan kecintaan, maka gugurlah anggapan bahwa keduanya memiliki makna yang sama.

Makna ayat ini juga sejalan dengan firman Allah Ta‘ala:

﴿وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ﴾

“Dan Dia tidak meridai kekafiran bagi hamba-hamba-Nya.” (QS. Az-Zumar: 7).

Demikian perkataan ulama tersebut.

### 7\. Penjelasan tentang kecintaan Allah dan lawannya

Dalam Kitab Allah Ta‘ala terdapat banyak ayat yang menafikan kecintaan Allah terhadap berbagai perkara.

Dalam kaitannya dengan Allah Ta‘ala, kecintaan dan ketiadaan kecintaan merupakan dua hal yang saling berlawanan. Berbeda dengan makhluk, yang terkadang tidak memiliki kecintaan maupun kebencian terhadap sesuatu.

Dengan demikian, kecintaan dan lawannya, jika dikaitkan dengan Allah Ta‘ala, merupakan dua hal yang saling meniadakan. Adapun jika dikaitkan dengan selain-Nya, keduanya merupakan dua hal yang berlawanan, tetapi masih dimungkinkan adanya keadaan ketika seseorang tidak memiliki keduanya.

Secara lahiriah, kata al-fasād (الْفَسَاد), yaitu kerusakan, mencakup segala bentuk kerusakan yang terjadi pada bumi, harta, maupun agama.

‘Atha’ berdalil dengan firman Allah, “Dan Allah tidak menyukai kerusakan,” untuk menunjukkan larangan merobek pakaian seseorang sebagai bentuk tindakan yang termasuk kerusakan.

Ibnu Abbas berkata, “Kerusakan yang dimaksud di sini adalah kehancuran.”

والله أعلم.




 Tafsir 

Firman Allah Ta‘ala:

﴿وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ ۝٢٠٥﴾

“Dan apabila dia berpaling, dia berusaha di bumi untuk membuat kerusakan padanya serta membinasakan tanaman-tanaman dan keturunan, sedangkan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. Al-Baqarah: 205).

### 1\. Tafsir firman Allah: وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا

“Dan apabila dia berpaling, dia berusaha di bumi untuk membuat kerusakan padanya.”

Ada yang berpendapat bahwa kata tawallā (تَوَلَّىٰ) dan sa‘ā (سَعَىٰ) merupakan perbuatan hati. Berdasarkan penafsiran ini, kata tawallā bermakna menyimpang, marah, dan merasa enggan atau menolak dalam dirinya.

Adapun kata sa‘ā, maknanya ialah bahwa ia berusaha menggunakan tipu daya dan kehendaknya untuk melancarkan berbagai siasat terhadap Islam dan kaum muslimin. Pendapat ini dinukil dari Ibnu Juraij dan ulama lainnya.

Ada pula yang berpendapat bahwa kedua kata tersebut merupakan perbuatan anggota badan. Berdasarkan penafsiran ini, kata tawallā berarti berpaling, berbalik, dan pergi meninggalkanmu, wahai Muhammad.

Adapun kata sa‘ā berarti ia berjalan dengan kedua kakinya, lalu merampok di jalan dan membuat kerusakan di sana. Pendapat ini dinukil dari Ibnu Abbas dan ulama lainnya.

Kedua bentuk usaha tersebut sama-sama merupakan kerusakan.

Dalam bahasa Arab dikatakan:

سَعَى الرَّجُلُ يَسْعَى سَعْيًا

Artinya, seseorang berjalan cepat atau berlari.

Ungkapan yang sama juga digunakan ketika seseorang bekerja dan mencari penghasilan.

Dikatakan pula:

فُلَانٌ يَسْعَى عَلَى عِيَالِهِ

Artinya, seseorang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan mengusahakan kemaslahatan mereka.

### 2\. Tafsir firman Allah: وَيُهْلِكَ

“Dan membinasakan.”

Kata yuhlika (يُهْلِكَ) dihubungkan dengan kata liyufsida (لِيُفْسِدَ), sehingga maknanya adalah “untuk membuat kerusakan dan membinasakan”.

Dalam bacaan Ubay bin Ka‘b, lafaz tersebut dibaca:

وَلِيُهْلِكَ

Artinya, “dan agar ia membinasakan.”

Al-Hasan dan Qatadah membacanya dengan harakat damah pada huruf terakhir:

وَيُهْلِكُ

Berkaitan dengan harakat damah tersebut, terdapat beberapa penjelasan.

Pertama, kata tersebut dihubungkan dengan firman Allah:

يُعْجِبُكَ

“Dia membuatmu kagum.”

Kedua, Abu Hatim berkata bahwa kata tersebut dihubungkan dengan kata sa‘ā (سَعَىٰ), karena maknanya adalah “ia berusaha dan membinasakan”.

Abu Ishaq berkata bahwa maknanya ialah:

وَهُوَ يُهْلِكُ

“Dan dia membinasakan.”

Diriwayatkan dari Ibnu Katsir suatu bacaan:

وَيَهْلِكُ

Dengan huruf ya berharakat fathah dan huruf kaf berharakat damah. Dalam bacaan ini, kata al-harth dan an-nasl dibaca marfu‘ karena menjadi subjek dari kata kerja yahlaku.

Bacaan ini merupakan bacaan Al-Hasan, Ibnu Abi Ishaq, Abu Haywah, dan Ibnu Muhaisin. Bacaan tersebut juga diriwayatkan oleh Abdul Warits dari Abu Amr.

Sebagian orang membacanya:

وَيَهْلَكُ

Dengan huruf ya berharakat fathah, huruf lam berharakat fathah, dan kata al-harth dibaca marfu‘.

Bacaan ini mengikuti bentuk bahasa halaka-yahlaku (هَلَكَ يَهْلَكُ), sebagaimana pola kata berikut:

* Rakāna-yarkan (رَكَنَ يَرْكَنُ).

* Abā-ya’bā (أَبَى يَأْبَى).

* Salā-yaslū (سَلَا يَسْلَى).

* Qalā-yaqlā (قَلَى يَقْلَى).

Dan bentuk-bentuk bahasa lainnya yang serupa.

### 3\. Siapakah yang dimaksud dalam ayat ini?

Orang yang dimaksud dalam ayat ini adalah Al-Akhnas, khususnya dalam peristiwa ketika ia membakar tanaman dan membunuh keledai-keledai. Demikianlah yang dikatakan oleh Ath-Thabari.

Ulama lainnya berkata bahwa meskipun ayat ini pada mulanya berkaitan dengan peristiwa tersebut, cakupannya kemudian berlaku umum bagi seluruh manusia.

Barang siapa melakukan perbuatan seperti yang dilakukan oleh Al-Akhnas, maka ia berhak mendapatkan celaan dan hukuman yang disebutkan dalam ayat tersebut.

Sebagian ulama berkata:

“Sesungguhnya orang yang membunuh seekor keledai atau membakar setumpuk hasil panen layak mendapatkan celaan, dan keburukan perbuatannya akan melekat padanya hingga Hari Kiamat.”

Mujahid berkata bahwa maksud ayat ini adalah orang zalim melakukan kerusakan di bumi, kemudian Allah menahan hujan sehingga tanaman dan keturunan binasa.

Ada pula yang berpendapat bahwa al-harth (الْحَرْثَ) berarti perempuan, sedangkan an-nasl (النَّسْلَ) berarti anak-anak.

Penafsiran ini didasarkan pada kenyataan bahwa kemunafikan dapat mengakibatkan perpecahan, perselisihan, dan terjadinya peperangan. Semua itu dapat menyebabkan kebinasaan manusia.

Demikian penjelasan yang dinukil dari Az-Zajjaj.

Usaha di bumi pada dasarnya berarti berjalan dengan cepat. Dalam konteks ayat ini, ungkapan tersebut merupakan gambaran tentang tindakan menimbulkan fitnah dan mengadu domba manusia.

Allah lebih mengetahui kebenarannya.

Dalam sebuah hadis disebutkan:

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ وَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ مِنْ عِنْدِهِ

“Sesungguhnya apabila manusia melihat orang zalim, lalu mereka tidak mencegahnya, hampir saja Allah menimpakan hukuman dari sisi-Nya kepada mereka semua.”

Penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini akan datang, insya Allah Ta‘ala.

### 4\. Tafsir firman Allah: الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ

“Tanaman-tanaman dan keturunan.”

### A. Makna kata al-harth (الْحَرْثَ)

Dalam bahasa Arab, kata al-harth secara bahasa berkaitan dengan makna membelah atau menggores.

Dari kata tersebut berasal kata al-mihrāth (الْمِحْرَاثُ), yaitu alat yang digunakan untuk membelah atau mengolah tanah.

Kata al-harth juga dapat berarti mencari dan mengumpulkan harta.

Dalam sebuah ungkapan hadis disebutkan:

احْرُثْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيشُ أَبَدًا

“Berusahalah untuk kehidupan duniamu seakan-akan engkau akan hidup selama-lamanya.”

Kata al-harth juga berarti tanaman atau kegiatan pertanian.

Adapun al-harrāth (الْحَرَّاثُ) berarti petani.

Kata kerja haratha dan ihtaratha (حَرَثَ وَاحْتَرَثَ) digunakan dengan makna menanam atau mengolah tanah, sebagaimana kata zara‘a dan izdara‘a (زَرَعَ وَازْدَرَعَ).

Dikatakan pula:

احْرُثِ الْقُرْآنَ

Artinya, “Pelajarilah Al-Qur’an secara mendalam.”

Dikatakan:

حَرَثْتُ النَّاقَةَ وَأَحْرَثْتُهَا

Artinya, “Aku mengendarai unta betina itu hingga tubuhnya menjadi kurus.”

Ungkapan:

حَرَثْتُ النَّارَ

berarti “Aku menggerakkan atau mengaduk api”.

Adapun al-mihrāth juga berarti alat yang digunakan untuk menggerakkan api di dalam tungku. Penjelasan ini dinukil dari Al-Jauhari.

### B. Makna kata an-nasl (النَّسْلَ)

Kata an-nasl berarti anak atau keturunan yang dilahirkan oleh setiap makhluk betina.

Makna asal kata ini berkaitan dengan sesuatu yang keluar atau jatuh.

Dari akar kata tersebut juga digunakan ungkapan mengenai rambut yang rontok atau bulu burung yang terlepas.

Kata kerja yansilūn (يَنْسِلُونَ) berarti mereka keluar atau bergerak dengan cepat.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ﴾

“Mereka segera keluar menuju Tuhan mereka.” (QS. Yasin: 51).

Allah juga berfirman:

﴿مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ﴾

“Mereka turun dengan cepat dari setiap tempat yang tinggi.” (QS. Al-Anbiya’: 96).

Imru’ul Qais berkata dalam syairnya:

فَسُلِّي ثِيَابِي مِنْ ثِيَابِكِ تَنْسُلِ

“Maka lepaskanlah pakaianku dari pakaianmu, niscaya engkau akan berpisah.”

Awal bait syair tersebut adalah:

وَإِنْ كُنْتِ قَدْ سَاءَتْكِ مِنِّي خَلِيقَةٌ

“Jika ada perangai dariku yang membuatmu tidak senang…”

Maksudnya, apabila ada sifat atau perilakuku yang tidak engkau sukai, lepaskanlah pakaianmu dari pakaianku. Artinya, pergilah dan pisahkan urusanmu dari urusanku.

Penjelasan makna syair ini dinukil dari kitab Syarh Diwan.

### C. Pelajaran yang berkaitan dengan pertanian dan keturunan

Saya katakan: ayat ini menunjukkan pentingnya mengolah tanah, bercocok tanam, dan menanaminya dengan pepohonan, berdasarkan makna al-harth sebagai kegiatan pertanian.

Ayat ini juga menunjukkan pentingnya mengusahakan keturunan, yakni perkembangbiakan hewan.

Dengan kedua hal tersebut, kebutuhan dasar kehidupan manusia dapat terpenuhi dan keberlangsungan hidupnya dapat terjaga.

Penjelasan ini sekaligus menjadi bantahan terhadap orang yang berpendapat bahwa seseorang harus meninggalkan usaha dan sebab-sebab duniawi.

Pembahasan mengenai hal tersebut akan dijelaskan lebih lanjut dalam kitab ini, insya Allah Ta‘ala.

### 5\. Tafsir firman Allah: وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ

“Dan Allah tidak menyukai kerusakan.”

Al-Abbas bin Al-Fadhl berkata:

“Kerusakan adalah kehancuran.”

Sa‘id bin Al-Musayyib berkata:

“Memotong atau merusak uang dirham termasuk perbuatan membuat kerusakan di bumi.”

‘Atha’ berkata bahwa dahulu ada seseorang yang bernama ‘Atha’ bin Munabbih. Ia berihram dengan mengenakan jubah, kemudian Nabi ﷺ memerintahkannya untuk melepaskan jubah tersebut.

Qatadah berkata:

Aku bertanya kepada ‘Atha’, “Kami dahulu mendengar bahwa jubah itu harus disobek.”

‘Atha’ menjawab:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai kerusakan.”

Maksudnya, pakaian tersebut tidak perlu disobek karena merusaknya merupakan tindakan yang tidak diperlukan.

Saya katakan: ayat ini, dengan keumuman maknanya, mencakup segala bentuk kerusakan yang terjadi pada bumi, harta, maupun agama.

Inilah pendapat yang benar, insya Allah Ta‘ala.

Ada yang mengatakan bahwa makna firman Allah, “Allah tidak menyukai kerusakan,” adalah bahwa Allah tidak menyukai kerusakan yang dilakukan oleh orang-orang saleh.

Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya ialah Allah tidak menyukai kerusakan sebagai suatu agama atau jalan hidup.

Kemungkinan lainnya, maknanya adalah bahwa Allah tidak memerintahkan kerusakan.

Allah lebih mengetahui kebenarannya.

### Catatan kaki

(1) Al-kuds (الْكَدْسُ)

Kata ini, dengan huruf kaf berharakat damah atau fathah dan huruf dal sukun, berarti tumpukan bahan makanan, kurma, atau dirham.

(2) QS. Yasin ayat 51

﴿فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ﴾

“Maka seketika itu mereka keluar dari kubur menuju Tuhan mereka dengan cepat.”

(3) QS. Al-Anbiya’ ayat 96

﴿حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ﴾

“Hingga apabila dibukakan tembok Ya’juj dan Ma’juj, lalu mereka turun dengan cepat dari setiap tempat yang tinggi.”

(4) Syair Imru’ul Qais

Bagian awal baitnya berbunyi:

وَإِنْ كُنْتِ قَدْ سَاءَتْكِ مِنِّي خَلِيقَةٌ

“Jika ada perangai dariku yang membuatmu tidak senang…”

Kemudian ia berkata:

فَسُلِّي ثِيَابِي مِنْ ثِيَابِكِ تَنْسُلِ

“Maka lepaskanlah pakaianmu dari pakaianmu.”

Maksudnya, jika ada perangai dariku yang tidak engkau sukai, berpisahlah denganku dan pisahkan urusanmu dari urusanku. 
Penjelasan ini dinukil dari Syarh Diwan.





Tafsir Imam As Sa'dy rahimahullah. 

Firman Allah Ta‘ala:

“Dan apabila dia berpaling, dia berusaha di bumi untuk membuat kerusakan padanya, serta membinasakan tanaman-tanaman dan hewan ternak, sedangkan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. Al-Baqarah: 205).

Penjelasan tafsir:

Firman Allah, “Dan apabila dia berpaling,” maksudnya adalah orang yang perkataannya membuatmu kagum ketika dia hadir di hadapanmu.

Firman Allah, “Dia berusaha di bumi untuk membuat kerusakan padanya,” maksudnya, dia bersungguh-sungguh melakukan berbagai perbuatan maksiat yang merupakan bentuk kerusakan di bumi. Akibatnya, dia membinasakan “tanaman-tanaman dan hewan ternak.” Tanaman, buah-buahan, dan hewan ternak menjadi rusak, mengalami penurunan, serta berkurang keberkahannya disebabkan oleh perbuatan maksiat.

Firman Allah, “Sedangkan Allah tidak menyukai kerusakan” (205). Jika Allah tidak menyukai kerusakan, berarti Dia sangat membenci hamba yang membuat kerusakan di bumi, sekalipun orang tersebut mengucapkan perkataan yang baik dengan lisannya.

Ayat ini menjadi dalil bahwa perkataan yang keluar dari seseorang tidak dapat dijadikan bukti untuk memastikan kejujuran atau kedustaannya, kebaikan atau kefasikannya, sampai terdapat perbuatan yang membenarkan perkataannya dan menyucikan dirinya dari tuduhan.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa keadaan para saksi serta orang-orang yang benar dan orang-orang yang batil di antara manusia hendaknya diuji dengan meneliti perbuatan mereka dan memperhatikan berbagai indikasi yang berkaitan dengan keadaan mereka. Seseorang tidak boleh tertipu oleh upaya mereka memperindah penampilan, menyamarkan kenyataan, dan menyatakan bahwa diri mereka bersih.

Kemudian, Allah menyebutkan bahwa orang yang membuat kerusakan di bumi melalui perbuatan maksiat kepada Allah ini, apabila diperintahkan agar bertakwa kepada Allah, justru menjadi sombong dan enggan menerima nasihat.

Catatan kaki:

(1) Dalam naskah asli dan cetakan ṭā’ (ط), tertulis kata ببر. Maksud yang benar dalam konteks ini adalah بِسَبْرِ, yakni meneliti, memeriksa, atau menguji keadaan seseorang melalui perbuatannya.






 Tafsir At Tahrir wa At Tanwir : 

 1\. Makna firman Allah: “Dan apabila dia berpaling, dia berusaha di bumi”

Firman Allah Ta‘ala, “Dan apabila dia berpaling, dia berusaha di bumi,” kata idzā (إذا) merupakan keterangan waktu yang mengandung makna syarat.

Kata tawallā (تَوَلَّى) bisa berasal dari kata at-tawliyah (التولية), yang berarti berpaling dan pergi meninggalkan. Dalam bahasa Arab dikatakan wallā dan tawallā. Makna ini telah dijelaskan sebelumnya dalam firman Allah Ta‘ala:

“Apakah yang memalingkan mereka dari kiblat yang dahulu mereka hadapi?” (QS. Al-Baqarah: 142).

Maksudnya, apabila dia berpisah darimu, dia berusaha di bumi untuk membuat kerusakan.

Kata kerja tawallā memiliki sesuatu yang dihilangkan sebagai objek keterkaitannya, yang diperkirakan berbunyi tawallā ‘anka (تَوَلَّى عَنْكَ), yakni “dia berpaling darimu”. Kata ganti orang kedua yang diperkirakan tersebut dapat dipahami berdasarkan dua kemungkinan makna yang telah disebutkan sebelumnya.

Kemungkinan kedua, kata tawallā berasal dari kata al-wilāyah (الولاية), yang berarti kekuasaan atau kepemimpinan. Dalam bahasa Arab dikatakan, waliya al-balad dan tawallāhu, yang berarti seseorang memegang pemerintahan suatu negeri atau mengambil alih kepemimpinannya.

Dengan demikian, maknanya adalah: apabila dia menjadi penguasa, yakni ketika dia menjadi pemimpin dan tokoh yang memimpin manusia, dia berusaha melakukan kerusakan di bumi.

Al-Akhnas memang merupakan pemimpin orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya, yaitu Bani Zuhrah.

### 2\. Makna kata “berusaha” dan bentuk-bentuk penggunaannya

Firman Allah Ta‘ala:

“Dia berusaha di bumi untuk membuat kerusakan padanya.”

Secara hakiki, kata sa‘ā (سعى), yang berarti berusaha atau berjalan, bermakna berjalan dengan cepat dan bersungguh-sungguh.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota dengan bergegas.” (QS. Al-Qashash: 20).

Kata sa‘ā juga digunakan untuk menunjukkan perbuatan, usaha, dan pekerjaan. Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh.” (QS. Al-Isra’: 19).

Imru’ al-Qais berkata dalam syairnya:

“Seandainya apa yang aku usahakan hanyalah untuk memperoleh penghidupan yang paling rendah …”

Kemudian, kata sa‘ā juga digunakan untuk menunjukkan tindakan menjadi perantara di antara manusia guna memperbaiki hubungan mereka atau mengurangi dampak buruk yang terjadi.

‘Amr bin Kultsum berkata:

“Di antara kami, sebelum dia, terdapat orang yang menjadi perantara, Kulaib. Maka keutamaan apakah yang tidak pernah kami miliki?”

Labid juga berkata:

“Mereka adalah orang-orang yang berusaha menjadi penengah ketika kaum mereka mengalami keadaan yang sangat genting …”

Selain itu, kata sa‘ā digunakan untuk menunjukkan kesungguhan, ambisi, dan pengerahan tekad demi memperoleh sesuatu. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta‘ala mengenai Fir‘aun:

“Kemudian dia berpaling seraya berusaha.” (QS. An-Nazi‘at: 22).

Dengan demikian, kata sa‘ā dalam ayat ini dapat dipahami berdasarkan makna pertama dan keempat yang telah disebutkan, yaitu berjalan atau pergi dengan bersungguh-sungguh, serta mengerahkan tekad untuk mencapai tujuan.

Maksudnya, dia pergi menyusuri bumi dengan melakukan penyerangan dan serangan mendadak untuk membuat kerusakan di sana.

### 3\. Hubungan ayat ini dengan perbuatan Al-Akhnas

Ayat ini dapat menjadi isyarat terhadap tindakan yang dilakukan Al-Akhnas terhadap tanaman milik sebagian kaum Muslimin. Sebab, perbuatan tersebut menunjukkan kekufuran dan kedustaannya dalam menampakkan kecintaan kepada Nabi ﷺ. Seandainya kecintaannya benar-benar tulus, tentu dia tidak akan menyakiti para pengikut beliau.

Ayat ini juga dapat merujuk kepada perbuatannya terhadap tanaman milik kaum Tsaqif, menurut pendapat sebagian ahli tafsir yang mengatakan bahwa Al-Akhnas merencanakan serangan pada malam hari terhadap kaum Tsaqif.

Antara Al-Akhnas dan mereka terdapat permusuhan, padahal mereka berasal dari kaumnya sendiri. Kemudian, dia menyerang mereka bersama orang-orang Bani Zuhrah yang menyertainya, membakar tanaman-tanaman mereka, dan membunuh hewan-hewan ternak mereka.

Perbuatan semacam ini terhadap suatu kaum, meskipun pada waktu itu mereka masih kafir, bukanlah sesuatu yang menguntungkan kaum Muslimin apabila mereka ditimpa kerugian. Terlebih lagi, Al-Akhnas tidak melakukannya demi membela Islam dan tidak pula sedang berada dalam keadaan perang dengan mereka.

Karena itu, tindakannya menunjukkan adanya kebusukan niat yang tidak sesuai dengan kebaikan dan kelembutan perkataan yang dia tampakkan. Sebab, salah satu karakter akhlak seseorang adalah adanya kesesuaian dan keselarasan antara berbagai sisi perilakunya.

Allah tidak meridai tindakan menyakiti hamba-hamba-Nya, sekalipun mereka orang-orang kafir, apabila tindakan tersebut tidak menghasilkan manfaat bagi mereka. Al-Akhnas tidak menyerang mereka dengan tujuan mengajak mereka beriman, tetapi semata-mata untuk merusak dan menghancurkan.

Oleh sebab itu, Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan Allah tidak menyukai kerusakan.”

### 4\. Hikmah penyebutan kata “di bumi”

Firman Allah, “di bumi”, berfungsi mempertegas makna kata sa‘ā.

Hal ini bertujuan menghilangkan kemungkinan anggapan bahwa kata sa‘ā di sini hanya bermakna kiasan, yaitu bekerja dan berusaha secara umum. Sebaliknya, ayat tersebut menegaskan bahwa usaha yang dimaksud adalah perjalanan di bumi untuk melakukan kerusakan, berupa penyerangan dan perampasan yang tidak bertujuan meninggikan kalimat Allah.

Karena itu, setelahnya Allah berfirman:

“Untuk membuat kerusakan padanya.”

Huruf lām pada kata liyufsida (لِيُفْسِدَ) menunjukkan tujuan atau alasan. Hal ini karena kerusakan memang merupakan tujuan yang dikehendaki oleh orang yang melakukan usaha tersebut.

Ada pula kemungkinan bahwa kata sa‘ā digunakan secara kiasan untuk menunjukkan kehendak dan perencanaan. Maksudnya, dia merancang tipu daya, sebab merintis suatu kerusakan dan menggunakan berbagai siasat untuk mewujudkannya, sambil menampakkan nasihat dan kebaikan melalui perkataan, merupakan bentuk tipu daya.

Dalam kemungkinan ini, frasa liyufsida berfungsi sebagai objek dari kata kerja sa‘ā. Perkiraan maknanya adalah: “Dia menghendaki kerusakan di bumi dan merencanakannya.”

Huruf lām di sini disebut lām at-tablīgh, sebagaimana telah dijelaskan dalam firman Allah Ta‘ala:

“Allah menghendaki kemudahan bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Kemudian, firman-Nya:

“Dan agar kamu menyempurnakan bilangan itu.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Dalam penggunaan ini, huruf lām menyerupai huruf tambahan, sedangkan kata kerja yang berada sesudahnya—yang secara takdir didahului kata an (أن)—berfungsi sebagai objek.

Contohnya juga terdapat dalam firman Allah Ta‘ala:

“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka.” (QS. Ash-Shaff: 8).

Demikian pula dalam syair Juz’ bin Kulaib al-Faq‘asi:

“Putra Kaus berusaha dengan kebodohan yang sesuai dengan namanya, agar dia dapat merampas ternak kami ketika kami menghabiskan malam-malam musim dingin.”

Maksudnya, dia berusaha melakukan perampasan ternak dari kami.

Al-Marzūqī berkata, “Penyair menggunakan kata kerja yang disertai huruf lām karena kata tabaghghā memiliki makna seperti arāda (menghendaki). Sebagaimana Allah Yang Mahamulia lagi Mahaagung berfirman, ‘Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka,’ yang bermakna mereka menghendaki pemadaman cahaya Allah, demikian pula perkataan penyair, ‘agar dia dapat merampas ternak,’ maksudnya, dia menghendaki perampasan ternak dari kami.”

Saya (penulis tafsir) berpendapat bahwa penggunaan semacam ini dapat berlaku pada setiap tempat ketika objek suatu kata kerja sekaligus menjadi tujuan atau sebab bagi perbuatan tersebut.

Seorang ahli balagah dapat mengungkapkannya dengan menyertakan huruf lām yang menunjukkan tujuan, dengan mengandalkan pemahaman bahwa kata tersebut juga berfungsi sebagai objek. Fungsi objek itu diketahui melalui perkiraan adanya kata an mashdariyyah sebelum kata kerja tersebut.

Dengan demikian, frasa “di bumi” berkaitan dengan kata sa‘ā. Hal ini menunjukkan bahwa usahanya berkaitan dengan salah satu urusan penduduk negeri kalian.

Adapun pengulangan kata fīhā (فِيها), yakni “padanya”, dalam firman Allah “untuk membuat kerusakan padanya”, berfungsi menjelaskan maksud yang masih umum dalam ungkapan “di bumi”, sekaligus memberikan penegasan.

### 5\. Makna “membinasakan tanaman dan keturunan”

Firman Allah Ta‘ala:

“Dan membinasakan tanaman-tanaman dan keturunan.”

Kata yuhliku (يُهْلِكَ), dengan huruf yā’ berharakat dammah, berarti “membinasakan” atau “merusakkan”.

Kata al-harth (الحرث), dalam ayat ini, dimaksudkan sebagai tanaman pertanian.

Adapun kata an-nasl (النسل) berarti anak-anak hewan. Kata ini berasal dari ungkapan nasala ash-shūfu nusūlan, yang berarti wol terlepas dan jatuh dari tempatnya.

Menurut saya, pembinasaan tanaman dan keturunan merupakan ungkapan kiasan tentang rusaknya hal-hal yang menjadi penopang kehidupan manusia.

Pada masa itu, manusia menggantungkan kehidupan mereka pada pertanian dan hewan ternak. Karena itu, yang dimaksud bukanlah hanya dua hal tersebut secara khusus, melainkan kehancuran segala sesuatu yang menopang kehidupan manusia.

Ungkapan ini termasuk ungkapan yang berlaku seperti peribahasa, yakni penyebutan dua hal tertentu untuk menggambarkan kerusakan yang lebih luas.

Ada pula pendapat bahwa kata al-harth dan an-nasl dalam ayat ini merupakan isyarat terhadap tindakan yang dilakukan Al-Akhnas bin Syuraiq.

Apa pun penafsirannya, ayat ini menunjukkan bahwa siapa pun yang menjadi penyebab terjadinya kerusakan semacam itu, baik secara langsung maupun melalui ungkapan kiasan, berhak mendapatkan hukuman di akhirat.

Karena itulah Allah menutup ayat ini dengan kalimat penegasan:

“Dan Allah tidak menyukai kerusakan.”

Kalimat tersebut berfungsi sebagai peringatan dan kecaman.

### 6\. Makna firman Allah: “Allah tidak menyukai kerusakan”

Makna penafian kecintaan dalam firman Allah “Allah tidak menyukai kerusakan” adalah bahwa Allah tidak meridai kerusakan.

Sebab, jika kata cinta dimaknai sebagai gejolak jiwa dan kecenderungan alami yang timbul karena menganggap sesuatu itu baik, maka makna seperti itu mustahil bagi Allah Ta‘ala. Oleh karena itu, makna tersebut tidak dapat dinisbatkan kepada Allah dalam pengertian tersebut.

Dengan demikian, menurut kami, yang dimaksud adalah konsekuensi dari kecintaan, yaitu keridaan. Adapun menurut kaum Mu‘tazilah, yang dimaksud adalah kehendak.

Persoalan ini berkaitan dengan pembahasan mengenai penciptaan perbuatan-perbuatan manusia.

Tidak diragukan lagi bahwa maksudnya adalah: apabila Allah tidak meridai sesuatu, Dia akan menghukum orang yang melakukannya, karena tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi-Nya dari hal itu.

Allah menyebut tindakan tersebut sebagai kerusakan, meskipun tanaman dan hasil pertanian itu milik orang-orang musyrik. Hal ini karena penghancuran berbagai sumber kebaikan di bumi merupakan kerugian bagi seluruh manusia.

Adapun peperangan dilakukan dengan menghancurkan benda-benda yang menjadi sarana kerusakan dan sebab terjadinya agresi.

### 7\. Hakikat kerusakan dan batasan sesuatu yang boleh dimusnahkan

Kerusakan (al-fasād) merupakan lawan dari kebaikan dan perbaikan (ash-shalāh).

Makna kerusakan adalah menghancurkan sesuatu yang memberikan manfaat kepada manusia secara murni atau manfaatnya lebih dominan.

Sebagai contoh, memusnahkan susu merupakan tindakan menghilangkan manfaat yang murni.

Adapun memusnahkan kayu bakar karena khawatir terjadi kebakaran merupakan tindakan menghilangkan sesuatu yang manfaatnya lebih dominan.

Yang dimaksud dengan dominannya manfaat di sini adalah dominannya penggunaan sesuatu itu oleh manusia, bukan perbandingan kuantitatif antara jumlah manfaat dan jumlah mudaratnya.

Karena itu, memusnahkan obat-obatan beracun termasuk kerusakan jika dilihat dari sisi bahwa obat-obatan tersebut memiliki manfaat untuk pengobatan, meskipun penggunaannya jarang dilakukan. Namun, kemungkinan terjadinya pembunuhan dengan obat-obatan itu dianggap sangat kecil karena akal manusia pada umumnya mencegah mereka melakukan pembunuhan dengannya.

Oleh sebab itu, bahaya obat-obatan tersebut dihindari melalui kehati-hatian dalam peredarannya dan dengan memastikan amanah orang yang menerima serta menyimpannya.

Adapun memusnahkan sesuatu yang manfaatnya lebih kecil daripada mudaratnya tidak termasuk kerusakan, seperti memusnahkan minuman keras. Terlebih lagi, memusnahkan sesuatu yang sama sekali tidak memiliki manfaat, seperti ular, kalajengking, tikus, dan anjing yang berbahaya karena penyakit rabies.

Kerusakan tidak disukai Allah karena kerusakan, berdasarkan penjelasan yang telah kami kemukakan, menyebabkan tidak berfungsinya berbagai hal yang telah Allah ciptakan di alam ini untuk suatu hikmah, yaitu mewujudkan kemaslahatan manusia.

Sesungguhnya Allah Yang Mahabijaksana tidak menyukai terhalangnya fungsi sesuatu yang dikehendaki oleh hikmah-Nya.

Oleh karena itu, memerangi musuh merupakan tindakan menghilangkan mudarat yang lebih dominan. Atas dasar itu, tindakan dalam peperangan dibatasi hanya pada kadar yang diperlukan untuk menghilangkan mudarat tersebut, tanpa melakukan penghancuran yang berlebihan.

Karena alasan inilah, terdapat larangan membakar rumah-rumah dalam peperangan dan menebang pepohonan, kecuali apabila menurut pertimbangan panglima pasukan, membiarkan sesuatu dari hal-hal tersebut akan menambah kekuatan musuh, memperpanjang masa peperangan, dan menimbulkan kekhawatiran bahwa pasukan kaum Muslimin akan mengalami kekalahan.

Keadaan semacam itu kembali kepada kaidah:

“Keadaan darurat harus ditetapkan sesuai dengan kadarnya.”

Artinya, tindakan yang dibolehkan karena keadaan darurat tidak boleh melampaui batas kebutuhan yang benar-benar diperlukan.