Kamis, 22 Oktober 2026

BERSEGERA MEMENUHI SERUAN ALLAH DAN RASUL-NYA


 Terjemahan Khutbah Masjid Nabawi

 Bersegera Memenuhi Seruan Allah dan Rasul-Nya

Khatib: Syekh Abdulbari bin ‘Awadh ats-Tsubaiti hafizhahullah

Tanggal khutbah: 21 Dzulqa‘dah 1434 H

Sumber: Alukah, Khutbah Masjid Nabawi: Bersegera Memenuhi Seruan Allah dan Rasul-Nya.

 Pengantar

Syekh Abdulbari bin ‘Awadh ats-Tsubaiti menyampaikan khutbah Jumat berjudul “Bersegera Memenuhi Seruan Allah dan Rasul-Nya”. Beliau menjelaskan bahwa bersegera melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangan keduanya merupakan bukti kejujuran dan kesempurnaan iman. Sikap ini merupakan kebiasaan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka.

Beliau mengingatkan beberapa contoh keteladanan para sahabat dalam menyambut perintah syariat tanpa banyak berpikir untuk menolak ataupun berbantah-bantahan. Beliau juga menjelaskan bahwa ibadah haji termasuk bentuk ketaatan yang paling agung dalam memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya.

 Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah. Segala puji bagi Allah yang telah memerintahkan kita untuk memenuhi seruan-Nya dan mendorong kita meraih keutamaan serta kembali kepada-Nya. Aku memuji dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat taufik dan jalan kebahagiaan yang dianugerahkan-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam ibadah kurban, salat, dan seluruh bentuk peribadatan. Aku juga bersaksi bahwa pemimpin dan Nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya. Beliau telah mengajarkan kepada kita jalan petunjuk dan kepemimpinan yang benar.

Semoga Allah melimpahkan selawat kepada beliau, keluarga beliau, dan para sahabatnya yang memiliki keteguhan hati serta kemuliaan.

Amma ba‘du.

Aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar senantiasa bertakwa kepada Allah.

Allah عز وجل berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102).

Allah سبحانه وتعالى juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru kalian kepada sesuatu yang memberikan kehidupan kepada kalian.” (QS. Al-Anfal: 24).

Memenuhi seruan Allah dan Rasul berarti memenuhi seruan Islam dengan seluruh ajarannya. Ini merupakan ketaatan yang menyeluruh dan luas dalam setiap perkara yang Allah dan Rasul-Nya, shallallahu ‘alaihi wa sallam, serukan kepada kita.

Seorang Muslim memenuhi seruan Allah dalam seluruh urusan kehidupannya: dalam salat, zakat, puasa, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, bermuamalah, berpakaian, berpenampilan, dan bekerja.

Seorang perempuan juga memenuhi seruan Allah dalam mengenakan hijab, menjaga aurat, perhiasan, mengurus rumah, serta menjalankan hubungannya dengan suami dan anak-anaknya.

Bersegera memenuhi seruan Allah merupakan bukti kejujuran dalam berserah diri kepada-Nya. Hal itu merupakan buah dari ilmu yang bermanfaat dan amal saleh.

Orang-orang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya adalah orang-orang yang memperoleh keberuntungan. Merekalah orang-orang yang benar-benar beriman, yang mendapatkan apa yang mereka harapkan dan diselamatkan dari berbagai kesulitan. Mata mereka menjadi sejuk dan jiwa mereka memperoleh kebahagiaan.

Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya ucapan orang-orang mukmin, apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka, hanyalah, ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur: 51).

Inilah ucapan orang-orang beriman: Kami mendengar dan kami taat, baik dalam keadaan bersemangat maupun dalam keadaan tidak menyukai suatu perkara, baik ketika lapang maupun ketika sulit.

Adapun orang-orang munafik, semboyan mereka adalah berpaling dan menolak. Kebiasaan mereka ialah menghalangi manusia dari jalan Allah serta menyelisihi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

“Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul,’ niscaya engkau melihat orang-orang munafik benar-benar berpaling darimu.” (QS. An-Nisa’: 61).

Dengan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, hati dan akal memperoleh kehidupan. Jiwa dan masyarakat memperoleh kehidupan. Bahkan, seluruh umat memperoleh kehidupan.

Oleh karena itu, manusia yang paling sempurna kehidupannya adalah orang yang paling sempurna dalam memenuhi seruan Allah. Barang siapa lemah dalam memenuhi seruan-Nya, maka hatinya pun melemah dan kehidupannya menjadi berkurang.

Adapun orang yang hatinya telah mati, ia tidak lagi memiliki respons terhadap seruan kebenaran.

Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَى وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ

“Sesungguhnya engkau tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar, dan engkau tidak dapat menjadikan orang-orang tuli mendengar seruan apabila mereka telah berpaling ke belakang.” (QS. An-Naml: 80).

Adapun orang-orang yang menolak memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya mereka menolak kehidupan yang baik. Mereka tidak mendapatkan kecuali keadaan yang rendah, dan kesudahan mereka adalah kebinasaan, kehancuran, serta akibat yang buruk.

Allah Ta‘ala berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَتَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ۝ جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا وَبِئْسَ الْقَرَارُ

“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka Jahanam; mereka masuk ke dalamnya. Itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (QS. Ibrahim: 28–29).

Allah kemudian berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim di antara kalian secara khusus. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25).

Berpaling dari seruan Allah dapat menyebabkan perselisihan, kekacauan keadaan, rusaknya keseimbangan, dan tersebarnya kerusakan. Semua itu termasuk perkara yang diungkapkan dengan istilah fitnah.

Dari Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar pada suatu hari dalam keadaan terkejut dan wajahnya memerah. Beliau bersabda:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ، فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذَا

“Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah. Celakalah bangsa Arab karena keburukan yang telah mendekat. Pada hari ini telah terbuka dari bendungan Ya’juj dan Ma’juj sebesar ini.”

Beliau kemudian membuat lingkaran dengan ibu jari dan jari yang berada di sebelahnya.

Zainab berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah kita akan dibinasakan padahal di tengah-tengah kita terdapat orang-orang saleh?’”

Beliau menjawab:

نَعَمْ، إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ

“Ya, apabila keburukan telah merajalela.”

Umat yang memenuhi seruan wahyu dari Rabb-nya dan menyerahkan diri kepada Penciptanya akan memperoleh keadaan yang baik. Kehidupannya akan berubah menuju kebaikan dan perbaikan.

Keamanan, kehidupan yang baik, dan persatuan sejati di antara kaum mukminin akan terwujud bagi mereka. Permusuhan dan kebencian pun berubah menjadi persaudaraan karena nikmat Allah.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan berempati adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh mengeluh karena sakit, seluruh tubuh turut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan mengalami demam.”

Allah juga akan memenuhi permohonan hamba-hamba-Nya apabila mereka memenuhi seruan-Nya. Allah menentukan waktu terkabulnya permohonan dengan hikmah-Nya yang sempurna.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، فَيَقُولَ: قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

“Doa salah seorang di antara kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, dengan mengatakan, ‘Aku telah berdoa, tetapi doaku belum dikabulkan.’”

Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Allah mengabulkan permohonan orang-orang yang memenuhi seruan-Nya.

Allah Ta‘ala berfirman:

فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ

“Maka Rabb mereka memperkenankan permohonan mereka dan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kalian, baik laki-laki maupun perempuan. Sebagian kalian adalah keturunan dari sebagian yang lain.’” (QS. Ali ‘Imran: 195).

Ketika terjadi kerusakan dalam memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, manusia dapat terhalang dari terkabulnya permohonan mereka dan dibiarkan bergantung kepada diri mereka sendiri. Barang siapa diserahkan kepada dirinya sendiri oleh Allah, maka ia akan merugi, menjadi lemah, dan terhina.

Dalam hal bersegera memenuhi seruan Allah, generasi terdahulu telah mengukir berbagai teladan yang abadi. Ketika salah seorang di antara mereka menerima perintah atau larangan, ia segera mematuhinya tanpa keraguan. Ia mengubah perintah tersebut menjadi kenyataan yang dapat dilihat dan tindakan yang benar-benar dilakukan.

Hal ini menunjukkan kedalaman iman dan ketulusan dalam menerima ketetapan Allah.

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Ketika aku sedang mengedarkan gelas minuman kepada Abu Thalhah dan beberapa orang lainnya, aku mendengar seorang penyeru berseru, ‘Ketahuilah, sesungguhnya khamar telah diharamkan!’

Ia berkata, ‘Tidak ada seorang pun yang masuk kepada kami dan tidak ada seorang pun yang keluar dari tempat kami sebelum kami menumpahkan minuman itu, memecahkan tempayan-tempayan khamar, kemudian sebagian dari kami berwudu dan sebagian lainnya mandi. Kami juga memakai wewangian milik Ummu Sulaim. Setelah itu, kami keluar menuju masjid. Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang membaca ayat berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

‘Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, berkurban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah semua itu agar kalian beruntung.’” (QS. Al-Ma’idah: 90).

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“Sesungguhnya perempuan-perempuan Quraisy memiliki keutamaan. Namun, demi Allah, aku tidak pernah melihat perempuan yang lebih utama daripada perempuan-perempuan Anshar dalam hal membenarkan Kitab Allah.

Ketika turun ayat:

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

‘Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka.’ (QS. An-Nur: 31),

para lelaki mereka pulang menemui istri-istri mereka sambil membacakan apa yang telah Allah turunkan mengenai hal tersebut. Seorang lelaki membacakannya kepada istrinya, putrinya, saudara perempuannya, dan seluruh kerabat perempuannya.

Tidak ada seorang perempuan pun di antara mereka melainkan segera mengambil kain panjang bermotif miliknya, lalu menggunakannya untuk menutupi kepala dan tubuh bagian atasnya, sebagai bentuk pembenaran dan keimanan terhadap apa yang Allah turunkan di dalam Kitab-Nya.

Pada pagi harinya, mereka berada di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan menutupi kepala mereka dengan kain, seolah-olah di atas kepala mereka terdapat burung-burung gagak.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat sebuah cincin emas di tangan seorang lelaki. Beliau melepaskannya, lalu melemparkannya seraya bersabda:

يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إِلَى جَمْرَةٍ مِنْ نَارٍ فَيَجْعَلُهَا فِي يَدِهِ

“Salah seorang di antara kalian sengaja mengambil bara api, lalu meletakkannya di tangannya.”

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi, seseorang berkata kepada lelaki tersebut, “Ambillah kembali cincinmu dan manfaatkanlah.”

Lelaki itu menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan mengambilnya kembali untuk selama-lamanya setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuangnya.”

Wahai hamba-hamba Allah!

Ibadah haji disyariatkan sebagai bentuk pemenuhan seruan Allah. Para jemaah haji datang dari berbagai penjuru yang jauh demi memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya.

Sikap memenuhi seruan Allah dalam ibadah haji tampak pada setiap rangkaian manasik dan setiap tempat pelaksanaannya. Mereka adalah para tamu Allah yang meninggalkan keluarga, harta, dan tanah air mereka.

Allah menyeru mereka untuk melakukan tawaf mengelilingi Baitullah, maka mereka pun memenuhi seruan-Nya.

Allah menyeru mereka untuk menyentuh dan mencium Hajar Aswad, atau memberikan isyarat kepadanya apabila tidak memungkinkan untuk menciumnya, maka mereka pun melaksanakannya, meskipun mereka mengetahui bahwa batu tersebut tidak dapat memberikan mudarat maupun manfaat dengan sendirinya.

Allah menyeru mereka untuk berangkat ke Mina dan bermalam di sana. Mereka pun menyatakan ketundukan kepada Allah dan hukum-Nya.

Mereka tidak melakukan ibadah itu demi riya atau mencari popularitas. Keikhlasan menjadi semboyan mereka, sedangkan mengikuti tuntunan Nabi menjadi pakaian mereka.

Ucapan Labbaik Allahumma labbaik merupakan lambang ketaatan yang sempurna. Maknanya adalah, “Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, sebagai jawaban atas seruan-Mu, pelaksanaan perintah-Mu, dan bentuk keteladanan kepada Nabi-Mu, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Beliau bersabda:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Haji yang mabrur tidak memiliki balasan selain surga.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dengan Al-Qur’an yang agung, serta memberikan manfaat kepada kita melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.

Inilah yang aku sampaikan. Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung untuk diriku dan untuk kalian. Oleh karena itu, mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

### Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan nikmat kepada kita dan memberikan petunjuk kepada kita. Aku memuji dan bersyukur kepada-Nya atas segala karunia yang telah Dia berikan kepada kita.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa pemimpin dan Nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya.

Semoga selawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, serta para sahabatnya.

Amma ba‘du.

Aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar bertakwa kepada Allah.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102).

Memenuhi seruan Allah memiliki sejumlah tanda. Di antara tanda yang paling menonjol adalah menegakkan salat, bermusyawarah dalam urusan bersama, dan menginfakkan rezeki di jalan Allah.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Dan orang-orang yang memenuhi seruan Rabb mereka, melaksanakan salat, sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Asy-Syura: 38).

Kesombongan, kecintaan terhadap kedudukan dan kepemimpinan, serta tenggelam dalam kemewahan merupakan penghalang untuk memenuhi seruan Allah.

Mengikuti hawa nafsu juga menghalangi seseorang dari memenuhi seruan kebenaran.

Allah Ta‘ala berfirman:

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ

“Maka jika mereka tidak memenuhi seruanmu, ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa mendapat petunjuk dari Allah?” (QS. Al-Qashash: 50).

Wahai saudara-saudara seiman!

Barang siapa memenuhi seruan Allah, ia akan memperoleh kebaikan yang terbaik. Adapun orang yang berpaling, bermaksiat, dan tidak memenuhi seruan-Nya, maka sungguh buruk kesudahan yang akan menantinya.

Harta dan kekayaannya tidak akan dapat menyelamatkannya, sekalipun ia memiliki emas sebanyak seluruh isi bumi, bahkan ditambah dengan jumlah yang sama lagi, lalu semuanya ia gunakan untuk menebus dirinya.

Allah Ta‘ala berfirman:

لِلَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمُ الْحُسْنَى وَالَّذِينَ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُ لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لَافْتَدَوْا بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ سُوءُ الْحِسَابِ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

“Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Rabb mereka disediakan balasan yang terbaik. Adapun orang-orang yang tidak memenuhi seruan-Nya, sekiranya mereka memiliki seluruh apa yang ada di bumi dan ditambah sebanyak itu lagi, niscaya mereka akan menebus diri mereka dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat perhitungan yang buruk, dan tempat tinggal mereka adalah Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.” (QS. Ar-Ra‘d: 18).

Ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah, bahwa Allah telah memerintahkan kalian untuk berselawat kepada Rasul pembawa petunjuk. Allah berfirman di dalam Kitab-Nya:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).

### Doa penutup khutbah

Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad.

Ya Allah, ridhailah empat khalifah yang mendapat petunjuk: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Ridhailah pula keluarga beliau, para sahabat yang mulia, dan kami bersama mereka dengan ampunan, kemurahan, dan karunia-Mu, wahai Zat Yang Mahamulia di antara semua yang mulia.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin. Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin. Hinakanlah kekafiran dan orang-orang kafir. Binasakanlah musuh-musuh-Mu, musuh-musuh agama. Jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan tenteram, demikian pula seluruh negeri kaum Muslimin.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu surga dan segala perkataan serta amalan yang mendekatkan kami kepadanya. Kami berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala perkataan serta amalan yang mendekatkan kami kepadanya.

Ya Allah, perbaikilah agama kami yang menjadi penjaga urusan kami. Perbaikilah dunia kami yang menjadi tempat kehidupan kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagi kami dari setiap keburukan, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan kehormatan diri, dan kecukupan.

Ya Allah, tolonglah kami dan janganlah Engkau menolong pihak yang melawan kami untuk mengalahkan kami. Menangkanlah kami dan janganlah Engkau memenangkan pihak yang melawan kami. Buatlah tipu daya yang menguntungkan kami terhadap musuh-musuh kami, dan janganlah Engkau membiarkan tipu daya mereka mengalahkan kami. Berilah kami petunjuk dan mudahkanlah petunjuk itu bagi kami. Tolonglah kami menghadapi orang yang melampaui batas terhadap kami.

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, tunduk kepada-Mu, banyak merintih memohon kepada-Mu, dan senantiasa kembali kepada-Mu.

Ya Allah, terimalah tobat kami, bersihkanlah dosa-dosa kami, teguhkanlah hujah kami, luruskanlah lisan kami, dan cabutlah kedengkian serta kebencian dari hati kami.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon keridaan-Mu dan surga. Kami berlindung kepada-Mu dari kemurkaan-Mu dan neraka.

Ya Allah, ampunilah seluruh kaum Muslimin yang telah meninggal dunia. Rahmatilah orang-orang yang telah wafat di antara kami, sembuhkanlah orang-orang sakit di antara kami, bebaskanlah para tawanan kami, uruslah perkara-perkara kami, dan hilangkanlah kesedihan serta kesusahan kami, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Ya Allah, jagalah para jemaah haji yang mengunjungi Rumah-Mu yang suci. Ya Allah, jagalah para jemaah haji yang mengunjungi Rumah-Mu yang suci. Ya Allah, jagalah para jemaah haji yang mengunjungi Rumah-Mu yang suci.

Jauhkanlah mereka dari segala keburukan dan dosa. Kembalikanlah mereka ke negeri mereka dalam keadaan selamat, aman, memperoleh pahala, dan diterima amal ibadahnya, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, jadikanlah haji mereka sebagai haji yang mabrur, usaha mereka sebagai usaha yang disyukuri, dosa mereka sebagai dosa yang diampuni, dan amal mereka sebagai amal saleh yang diterima, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, jagalah kaum Muslimin di mana pun mereka berada, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, jagalah dan tolonglah kaum Muslimin di Mesir, Suriah, kawasan Syam, dan di seluruh tempat, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, menangkanlah mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, berilah taufik kepada pemimpin kami untuk melakukan perkara-perkara yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Bimbinglah dia menuju petunjuk-Mu dan jadikanlah amalnya sebagai amal yang diridhai-Mu, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, berilah taufik kepada seluruh pemimpin kaum Muslimin agar mereka mengamalkan Kitab-Mu dan menerapkan syariat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Allah Ta‘ala berfirman:

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Wahai Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A‘raf: 23).

Allah Ta‘ala juga berfirman:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami. Janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10).

Allah Ta‘ala juga berfirman:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201).

Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90).

Maka, ingatlah Allah, niscaya Dia akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat kepada kalian.

Sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar keutamaannya. Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.



Jumat, 16 Oktober 2026

SURGA


SURGA, NEGERI KENIKMATAN DAN TUJUAN ORANG-ORANG BERIMAN

Khatib: Syekh Shalih bin Muhammad al-Budair
Tanggal khutbah: 25 September 2026 / 14 Rabiul Akhir 1448 H

Pokok-pokok khutbah

  1. Surga adalah kenikmatan yang tidak akan pernah sirna.
  2. Firdaus adalah tingkatan surga yang paling tinggi.
  3. Sungai-sungai dan istana-istana surga berada di luar jangkauan gambaran manusia.
  4. Keridaan Allah lebih agung daripada seluruh kenikmatan.
  5. Melihat Allah adalah puncak kenikmatan penghuni surga.
  6. Takwa dan amal saleh adalah jalan untuk meraih kemenangan berupa surga.

KHUTBAH PERTAMA

Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Mencintai, Pemilik keutamaan, kemurahan, kebaikan, dan karunia. Aku memuji-Nya atas nikmat-nikmat-Nya yang melimpah dan pemberian-pemberian-Nya yang jernih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dengan suatu persaksian yang merendahkan orang-orang yang mengingkari.

Aku bersaksi bahwa Nabi dan junjungan kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya. Cahaya risalahnya telah menerangi dataran-dataran rendah dan pegunungan, serta menghapus kegelapan kebodohan dan malam-malamnya yang kelam.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, kepada keluarga, dan para sahabatnya, selama burung-burung tekukur masih berkicau dan pepohonan masih menghijau.

Amma ba’du.

Wahai kaum Muslimin, bertakwalah kepada Allah dengan ketakwaan orang yang mengobati dirinya dengan ketaatan dan melindungi dirinya dari perkara-perkara yang diharamkan.

Allah Ta'ala berfirman:

“Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 194)

Wahai kaum Muslimin!

Allah telah menciptakan surga dan menjadikannya sebagai negeri bagi para wali-Nya serta tempat tinggal bagi orang-orang pilihan-Nya. Allah memenuhi surga dengan rahmat, kemuliaan, dan keridaan-Nya. Allah mendorong manusia untuk merindukannya dan menyeru mereka menuju kepadanya.

Allah menamakannya Darussalam (negeri keselamatan).

Ia adalah negeri yang kenikmatannya tidak akan habis dan tidak akan binasa. Di dalamnya terdapat tambahan dari segala bentuk kebaikan. Surga telah merindukan orang-orang yang mencarinya dan telah berhias untuk orang-orang yang menginginkannya.

Dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah telah menjelaskan berbagai gambaran tentang apa yang ada di dalamnya.

Betapa berbahagianya para penghuninya dan betapa beruntungnya orang-orang yang mewarisinya!

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda bahwa Allah Ta'ala berfirman:

“Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Surga adalah negeri yang keindahannya bercahaya, halamannya menyenangkan, dan bangunannya sangat agung.

Bangunannya tersusun dari batu bata emas dan batu bata perak, perekatnya adalah misik yang sangat harum, kerikilnya berupa mutiara dan permata, sedangkan tanahnya adalah za'faran.

Barangsiapa memasukinya, ia akan hidup dalam kenikmatan dan tidak akan pernah mengalami kesengsaraan. Ia akan kekal dan tidak akan mati. Pakaiannya tidak akan usang dan masa mudanya tidak akan pernah berakhir.

Orang pertama yang mengetuk pintu surga adalah Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Penjaga surga akan berkata kepadanya:

“Siapakah engkau?”

Beliau menjawab:

“Muhammad.”

Penjaga itu berkata:

“Aku diperintahkan untuk tidak membukakan pintu bagi siapa pun sebelum engkau.”

Surga memiliki delapan pintu.

Jarak antara kedua daun pintu surga adalah seperti jarak antara Makkah dan Hajar, atau seperti jarak antara Makkah dan Bushra.

Rombongan pertama yang memasuki surga akan memiliki wajah seperti bulan purnama. Rombongan berikutnya seperti bintang yang paling terang cahayanya di langit.

Mereka tidak buang air kecil, tidak buang air besar, tidak mengeluarkan ingus, dan tidak meludah.

Sisir mereka terbuat dari emas. Keringat mereka beraroma misik. Tempat pembakaran wewangian mereka adalah kayu gaharu.

Tidak ada perselisihan dan tidak ada kebencian di antara mereka. Hati mereka seperti satu hati.

Mereka memiliki rupa seperti rupa bapak mereka, Adam, dengan tinggi enam puluh hasta ke langit.

Mereka bertasbih kepada Allah pada pagi dan petang.

Penghuni surga memasuki surga dalam keadaan tanpa pakaian dunia, masih muda, berkulit putih, berambut keriting, dan bercelak, berusia tiga puluh tiga tahun.

Pada wajah mereka tampak cahaya, keindahan, kecemerlangan, dan kemuliaan. Engkau dapat mengenali pada wajah mereka kenikmatan hidup.

Mereka akan diseru:

“Sesungguhnya bagi kalian adalah kehidupan, sehingga kalian tidak akan mati selamanya. Bagi kalian kesehatan, sehingga kalian tidak akan sakit selamanya. Bagi kalian masa muda, sehingga kalian tidak akan menjadi tua selamanya. Bagi kalian kenikmatan, sehingga kalian tidak akan mengalami kesengsaraan selamanya.”

Allah Ta'ala berfirman:

“Dan bagi mereka di dalamnya segala macam buah-buahan.”
(QS. Muhammad: 15)

Seandainya seorang lelaki dari penghuni surga menampakkan dirinya kepada penduduk bumi sehingga gelangnya terlihat, niscaya cahaya gelang tersebut akan menghilangkan cahaya matahari sebagaimana cahaya matahari menghilangkan cahaya bintang-bintang.

Mintalah Firdaus

Apabila kalian meminta kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya Al-Firdaus, karena ia merupakan bagian tengah surga dan surga yang paling tinggi. Di atasnya terdapat Arsy Ar-Rahman, dan dari Firdauslah sungai-sungai surga memancar.

Sungai yang paling besar, paling manis, dan paling indah adalah Sungai Al-Kautsar.

Allah menjadikannya sebagai kemuliaan bagi Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kedua tepinya berupa kubah-kubah mutiara yang berlubang. Tanahnya adalah misik yang sangat harum. Kerikilnya berupa mutiara. Airnya lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu.

Bejana-bejananya sebanyak jumlah bintang-bintang di langit. Sungai itu didatangi burung-burung yang lehernya seperti leher unta besar.

Adapun telaga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, maka telaga itu berada di tanah tempat manusia dikumpulkan pada hari Kiamat.

Lebarnya sama dengan panjangnya. Jarak antara kedua sisinya adalah perjalanan selama satu bulan, atau seperti jarak antara Shan'a dan Madinah.

Dua pancuran dari surga mengalir deras ke dalamnya.

Orang-orang beriman akan mendatangi telaga tersebut. Barangsiapa meminum airnya, ia tidak akan pernah haus setelah itu.

Namun akan ada orang-orang yang dihalangi dari telaga tersebut, yaitu orang-orang yang telah mengubah, mengganti, dan membuat perkara-perkara baru dalam agama.

Penghuni Surga yang Paling Rendah Kedudukannya

Penghuni surga yang paling rendah kedudukannya adalah seseorang yang datang setelah para penghuni surga telah masuk ke tempat mereka masing-masing.

Dikatakan kepadanya:

“Masuklah ke surga.”

Ia berkata:

“Wahai Rabbku, bagaimana mungkin, sementara manusia telah menempati tempat-tempat mereka dan telah memperoleh bagian mereka?”

Maka dikatakan kepadanya:

“Apakah engkau rela jika engkau mendapatkan kerajaan seperti kerajaan salah seorang raja di dunia?”

Ia menjawab:

“Aku rela, wahai Rabbku.”

Allah berkata:

“Bagimu yang seperti itu, dan yang semisalnya, dan yang semisalnya, dan yang semisalnya, dan yang semisalnya.”

Pada yang kelima kalinya ia berkata:

“Aku rela, wahai Rabbku.”

Allah berfirman:

“Itu untukmu dan sepuluh kali lipatnya. Bagimu apa saja yang diinginkan oleh jiwamu dan yang menyenangkan matamu.”

Ia berkata:

“Aku rela, wahai Rabbku.”

Adapun penghuni surga yang paling tinggi kedudukannya, maka Allah berfirman tentang mereka:

“Mereka itulah orang-orang yang Aku kehendaki. Aku tanamkan kemuliaan mereka dengan tangan-Ku dan Aku tutup dengan segelnya. Tidak pernah ada mata yang melihatnya, tidak pernah ada telinga yang mendengarnya, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.”

Di dalam surga terdapat sebuah pohon yang apabila seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun, ia belum mampu melewati seluruhnya.

Seorang mukmin di dalam surga memiliki sebuah kemah dari satu mutiara yang berongga. Panjangnya menjulang ke langit sejauh enam puluh mil.

Di dalamnya terdapat keluarga-keluarganya. Seorang mukmin berkeliling mengunjungi mereka, tetapi sebagian dari mereka tidak melihat sebagian yang lain.

Seandainya seorang wanita penghuni surga menampakkan dirinya kepada penduduk bumi, niscaya ia akan menerangi ruang antara keduanya dan memenuhi tempat tersebut dengan aroma harum.

Kerudung yang dikenakannya di atas kepala lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.

Dan di dalam surga tidak ada seorang pun yang hidup tanpa pasangan.

Keridaan Allah

Allah Azza wa Jalla berkata kepada penghuni surga:

“Wahai penghuni surga!”

Mereka menjawab:

“Kami memenuhi panggilan-Mu, wahai Rabb kami. Kami datang memenuhi seruan-Mu. Segala kebaikan berada di tangan-Mu.”

Allah bertanya:

“Apakah kalian telah ridha?”

Mereka menjawab:

“Mengapa kami tidak ridha, wahai Rabb kami, sedangkan Engkau telah memberikan kepada kami sesuatu yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun dari makhluk-Mu?”

Allah berfirman:

“Maukah Aku memberikan kepada kalian sesuatu yang lebih baik daripada itu?”

Mereka berkata:

“Apakah ada sesuatu yang lebih baik daripada itu?”

Allah berfirman:

“Aku halalkan bagi kalian keridaan-Ku. Setelah itu Aku tidak akan pernah murka kepada kalian selama-lamanya.”

Betapa agung kenikmatan ini dan betapa mulianya penghormatan tersebut!

Sesungguhnya pemberian yang paling agung dan kenikmatan yang paling besar, yang membuat seluruh kenikmatan lainnya menjadi kecil di hadapannya, adalah memandang wajah Allah Yang Mahamulia.

Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

“Kami sedang berada di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau memandang bulan pada malam purnama, lalu bersabda:
‘Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata kepala kalian, sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan kesulitan dalam melihat-Nya.’”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak ada yang menghalangi suatu kaum dari melihat Rabb mereka selain hijab kebesaran-Nya di wajah-Nya di dalam Jannah Adn.

Akan ada seorang penyeru yang menyerukan:

“Wahai penghuni surga! Sesungguhnya kalian memiliki suatu janji di sisi Allah yang Dia ingin tunaikan kepada kalian.”

Mereka berkata:

“Apakah itu? Bukankah Dia telah memberatkan timbangan amal kami, memutihkan wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?”

Kemudian hijab dibuka.

Mereka pun memandang kepada Allah.

Tidak ada sesuatu pun yang diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada memandang-Nya.

Allah Mahabesar!

Dia telah memberikan kenikmatan kepada mereka, memberikan manfaat kepada mereka, memenuhi segala keinginan mereka, bahkan menambahkan lebih dari apa yang mereka harapkan.

Semoga Allah menjadikan aku dan kalian termasuk orang-orang yang berbahagia dan memberikan kepada kita al-husna (kebaikan yang terbaik) dan tambahan.

Aku mengatakan apa yang kalian dengarkan ini. Aku memohon ampun kepada Allah untukku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum Muslimin dari setiap dosa dan kesalahan. Maka mohonlah ampun kepada-Nya.

Sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang banyak kembali kepada-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

“Sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang banyak bertobat.”
(QS. Al-Isra: 25)


KHUTBAH KEDUA

Segala puji bagi Allah dengan pujian yang sesuai dengan segala nikmat-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan tidak ada yang berhak disembah selain Dia.

Aku bersaksi bahwa Nabi dan junjungan kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, orang pilihan-Nya dan manusia yang Dia pilih.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya dengan shalawat dan salam yang terus-menerus hingga hari kiamat.

Allah Ta'ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang benar.”
(QS. At-Taubah: 119)

Wahai kaum Muslimin!

Itulah sebagian gambaran tentang surga dan kenikmatannya.

Lalu bagaimana mungkin seseorang menyia-nyiakan kenikmatan yang demikian besar hanya demi dunia yang hina, sementara dunia telah mengumumkan bahwa dirinya akan ditinggalkan dan masa kepergiannya semakin dekat?

Maka waspadalah, wahai hamba-hamba Allah!

Waspadalah!

Kematian telah diikat pada ubun-ubun kalian, dan dunia sedang dilipat di belakang kalian.

Betapa banyak luka yang menyebabkan kematian. Betapa banyak terpeleset yang mengantarkan kepada kebinasaan.

Barangsiapa takut, ia akan berangkat pada awal malam; dan barangsiapa berangkat pada awal malam, ia akan sampai ke tempat tujuan.

Ketahuilah!

Sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah adalah surga.

Wahai kaum Muslimin!

Marilah kita mengingat dengan penuh rasa syukur karunia Allah dan pemberian-Nya yang besar serta kebaikan-Nya kepada negeri yang penuh berkah ini berupa nikmat keamanan dan keimanan, persatuan barisan dan kesatuan kalimat.

Negeri ini telah Allah muliakan dengan pelayanan terhadap dua Masjid Suci. Allah memberikan kepadanya kedudukan yang agung di hati kaum Muslimin.

Di negeri ini terdapat Masjidil Haram, Masjid Nabawi yang mulia, dan tempat-tempat suci untuk ibadah haji.

Di negeri ini pula terdapat tempat turunnya wahyu dan tempat hijrah Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dari negeri inilah risalah Islam tersebar.

Karena itu negeri ini dahulu dan sekarang menjadi tempat tegaknya akidah, mercusuar ilmu, dan medan pelayanan bagi kaum Muslimin serta orang-orang yang datang menuju dua Masjid Suci.

Bershalawat dan ucapkan salam kepada Ahmad sang pemberi petunjuk, pemberi syafaat bagi seluruh manusia.

Barangsiapa bershalawat kepadanya satu kali, Allah akan memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi dan junjungan kami Muhammad, pembawa kabar gembira tentang rahmat dan pahala, pemberi peringatan tentang azab dan hukuman, pemberi syafaat yang diterima syafaatnya pada hari perhitungan.

Ya Allah, ridhailah para khalifah yang mendapatkan petunjuk, para imam yang mendapat petunjuk, orang-orang yang memiliki kemuliaan dan kedudukan tinggi: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta seluruh keluarga dan para sahabat beliau.

Dan jadikanlah kami bersama mereka, wahai Dzat Yang Mahamulia lagi Maha Pemberi.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin. Hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik. Hancurkanlah musuh-musuh agama.

Jagalah negeri kami, Kerajaan Arab Saudi, dan seluruh negeri kaum Muslimin dari tipu daya para pembuat makar, siasat para pendengki, kedengkian orang-orang yang membenci, dan hasad orang-orang yang iri, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, berilah taufik kepada imam kami dan pemegang urusan kami, Penjaga Dua Masjid Suci, kepada apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Tuntunlah dia kepada kebaikan dan ketakwaan.

Ya Allah, berilah taufik kepadanya dan kepada Putra Mahkotanya kepada perkara yang di dalamnya terdapat kemuliaan Islam dan kebaikan kaum Muslimin, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, jagalah pasukan kami. Lindungilah perbatasan kami. Satukanlah persatuan kami. Hinakanlah musuh kami.

Berilah petunjuk kepada putra-putri kami.

Ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum Muslimin, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, jagalah para prajurit kami yang berjaga di perbatasan dan garis depan.

Ya Allah, sembuhkanlah mereka yang sakit di antara mereka. Obatilah mereka yang terluka. Terimalah mereka yang meninggal sebagai syuhada.

Berilah mereka kemenangan atas musuh-Mu dan musuh mereka, wahai Dzat Yang Maha Mendengar doa.

Ya Allah, sembuhkanlah orang-orang sakit di antara kami. Berikanlah kesehatan kepada orang-orang yang sedang mendapatkan ujian. Rahmatilah orang-orang yang telah meninggal di antara kami, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, sucikanlah Masjid Al-Aqsha dari kotoran dan kejahatan para penjajah dan orang-orang yang menyerang.

Ya Allah, berilah kami pertolongan.

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.

Ya Allah, jadikanlah doa kami didengar dan seruan kami diangkat.

Wahai Dzat Yang Mahamulia, Yang Mahaagung, lagi Maha Penyayang.


Rabu, 14 Oktober 2026

QONAAH


Kepuasan Hati adalah Kekayaan Batin dan Kenyamanan Hidup

Khutbah Syekh Abdullah bin Abdurrahman al-Baijan

Khutbah Pertama

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, dan berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami serta keburukan amal perbuatan kami. Barang siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya; dan barang siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan keselamatan kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya.

Amma ba‘du:

Maka bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah, semampu kalian. Sesungguhnya Allah berfirman:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”
(QS. Ath-Thalaq: 4)

Dan Dia berfirman:

“Dan Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya serta memperbesar pahala baginya.”
(QS. Ath-Thalaq: 5)

Dan Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)

Wahai kaum Muslimin!

Sesungguhnya Allah Ta‘ala menciptakan makhluk dengan hikmah-Nya, mewujudkan mereka dengan kekuasaan-Nya, melimpahkan nikmat-nikmat-Nya kepada mereka, dan meluaskan karunia-Nya atas mereka. Dia semata yang memiliki hak menciptakan dan memerintah, menentukan dan mengatur.

Allah membagi rezeki di antara hamba-hamba-Nya. Dia membedakan umur mereka dan memberikan perbedaan dalam keadaan mereka.

Di antara manusia ada yang ridha dengan apa yang Allah bagikan kepadanya, sehingga hatinya menjadi tenteram, jiwanya tenang, dan kehidupannya menjadi baik.

Namun ada pula orang yang terus mengarahkan pandangannya kepada apa yang berada di tangan orang lain. Akibatnya, rasa tidak puas menguasai dirinya, ketamakan melelahkannya, dan akhirnya ia menjadi miskin secara batin meskipun hartanya banyak.

Wahai manusia!

Allah telah menetapkan takdir segala sesuatu sebelum menciptakan langit dan bumi. Dia telah menetapkan ajal dan rezeki. Seorang hamba tidak akan memperoleh kecuali apa yang telah dituliskan untuknya, dan tidak akan luput darinya sesuatu yang telah Allah tetapkan baginya.

Maka wahai orang yang dadanya terasa sempit karena sedikitnya harta, wahai orang yang dibebani berbagai persoalan kehidupan, dan wahai orang yang melelahkan dirinya dalam mengejar apa yang dimiliki orang lain:

Tenanglah dengan pengaturan Rabbmu. Tempuhlah sebab-sebab yang dibenarkan syariat. Jangan gantungkan hatimu kepada sesuatu yang memang tidak dituliskan untukmu.

Rezeki telah dibagi dan ajal telah ditentukan.

“Dan apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Asy-Syura: 36)

Wahai hamba-hamba Allah!

Kita hidup pada zaman ketika berbagai daya tarik dunia semakin banyak, persaingan untuk mendapatkan dunia semakin besar, dan banyak manusia mulai mengukur kebahagiaan mereka berdasarkan apa yang mereka miliki, mengukur nilai diri mereka berdasarkan pakaian yang mereka kenakan, serta mengukur kedudukan mereka berdasarkan apa yang mereka tampilkan.

Berbagai foto dan video terus bermunculan di hadapan mata. Jiwa pun mudah terdorong untuk melakukan perbandingan.

Seseorang melihat kenikmatan yang dimiliki orang lain, lalu melupakan nikmat Allah yang ada pada dirinya. Ia melihat apa yang tidak dimilikinya, lalu lalai terhadap apa yang telah ada padanya.

Di tengah keadaan seperti ini, kebutuhan terhadap qanaah menjadi semakin besar.

Qanaah senantiasa menjadi salah satu harta terbesar yang dimiliki manusia. Ia merupakan kekayaan yang hakiki, yang mewujudkan kebahagiaan, keridhaan, dan ketenangan jiwa.

Dengan qanaah, jiwa berhenti membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia terbebas dari rasa tidak puas, hasad, dan kerakusan. Ia hidup dalam kedamaian yang tidak mudah diguncangkan oleh badai ambisi dan ketamakan.

Wahai hamba-hamba Allah!

Qanaah adalah ridha terhadap apa yang Allah bagikan, tidak menginginkan apa yang berada di tangan manusia, merasa cukup dengan apa yang ada, serta meninggalkan keinginan berlebihan terhadap sesuatu yang belum dimiliki.

Qanaah berarti engkau melihat nikmat-nikmat Allah yang ada padamu sebelum engkau menghitung kekurangan-kekuranganmu.

Qanaah adalah harta yang sangat agung dan termasuk nikmat terbaik. Dengan qanaah, kehidupan menjadi baik, seseorang merasakan keridhaan dan ketenteraman, kebahagiaan dan keberuntungan tercapai, ketenangan turun ke dalam hati, keridhaan dan sikap adil tumbuh, kehormatan diri terjaga, dan kebutuhan menjadi tercukupi.

Nabi ﷺ bersabda:

“Sungguh telah beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang mencukupinya, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang telah diberikan kepadanya.”

(HR. Muslim)

Qanaah merupakan salah satu nikmat yang paling agung dan salah satu akhlak serta nilai yang paling utama. Islam mengajarkannya, menganjurkannya, dan mendorong manusia untuk memilikinya. Islam menjadikannya salah satu sebab kekayaan yang hakiki, kehidupan yang baik, dan keselamatan hati.

Nabi ﷺ pernah berwasiat kepada Abu Hurairah:

“Ridhalah dengan apa yang Allah bagikan kepadamu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya.”

Wahai hamba-hamba Allah!

Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, bukan karena bertambahnya saldo dan rekening, bukan pula karena banyaknya rumah dan kendaraan.

Sesungguhnya kekayaan adalah kekayaan jiwa: seorang hamba merasa cukup dengan Rabbnya, ridha terhadap apa yang Allah berikan kepadanya, dan tidak menjadi tawanan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya.

Nabi ﷺ bersabda:

“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.”

(Muttafaqun ‘alaih)

Maka wahai hamba-hamba Allah!

Carilah kekayaan yang tidak dapat dirampas, harta karun yang tidak dapat dicuri, dan nikmat yang tidak akan sirna.

Carilah qanaah dan kekayaan jiwa.

Sesungguhnya orang kaya adalah orang yang kaya dengan jiwanya
meskipun kedua pundaknya tidak berbalut pakaian.

Tidaklah segala sesuatu yang ada di atas bumi itu dapat mencukupi,
namun apabila engkau telah merasa cukup, maka segala sesuatu menjadi mencukupi.

Betapa kita sangat membutuhkan qanaah, wahai hamba-hamba Allah, yang mengembalikan ketenteraman ke dalam rumah-rumah kita, keridhaan dan ketenangan ke dalam hati kita, serta kasih sayang ke dalam hubungan kita.

Betapa banyak rumah tangga yang rusak karena perbandingan!

Betapa banyak keluarga yang terbebani utang karena persaingan!

Betapa banyak hati yang kelelahan karena terus melihat apa yang dimiliki orang lain!

Wahai orang yang melihat apa yang dimiliki orang lain, lihatlah nikmat yang telah Allah berikan kepadamu.

Wahai orang yang terus menghitung apa yang telah hilang darimu, hitunglah nikmat yang masih ada padamu.

Wahai orang yang mengeluhkan sempitnya kehidupan, jangan lupakan bahwa di antara nikmat terbesar adalah hati yang sehat, iman yang kokoh, kesehatan dan keselamatan, keluarga dan keamanan, serta berbagai nikmat yang tidak mungkin dihitung dan tidak akan mampu ditunaikan seluruh syukurnya.

Wahai orang yang mengeluhkan sedikitnya harta, renungkanlah berapa banyak nikmat yang Allah limpahkan kepadamu yang tidak mungkin dibeli dengan seluruh harta dunia.

Wahai orang yang selalu memperhatikan rezeki orang lain, tahanlah pandanganmu dari harta mereka dan lihatlah karunia Allah yang diberikan kepadamu.

Wahai orang yang membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain, janganlah engkau membandingkan sisi lahir kehidupanmu dengan sisi lahir kehidupan mereka. Sebab engkau tidak mengetahui apa yang ada di balik layar dan di balik pintu rumah mereka.

Wahai orang yang ingin hidup bahagia!

Belajarlah untuk mengatakan dari lubuk hatimu:

“Segala puji bagi Allah atas apa yang Dia berikan, segala puji bagi Allah atas apa yang Dia tahan, segala puji bagi Allah atas apa yang Dia pertahankan, dan segala puji bagi Allah atas apa yang Dia palingkan.”

Wahai orang-orang beriman!

Qanaah bukan berarti meninggalkan pekerjaan, bukan berarti meninggalkan usaha mencari rezeki, bukan berarti meninggalkan cita-cita, bukan pula berarti menyerah kepada kelemahan atau rela dengan kemalasan dan kekurangan.

Akan tetapi qanaah berarti engkau bekerja dan berusaha, sementara hatimu tetap bergantung kepada Rabbmu. Setelah engkau menempuh sebab-sebab, hatimu tetap ridha terhadap apa yang Allah bagikan kepadamu.

Ketamakan tidak memperbudakmu dan keinginan terhadap apa yang dimiliki orang lain tidak melelahkanmu.

Maka wahai hamba-hamba Allah, satukanlah antara usaha dan keridhaan, antara menempuh sebab-sebab dan bertawakal kepada Rabb seluruh makhluk.

Ketahuilah bahwa orang yang menjadikan ambisinya hanya untuk mengumpulkan dunia tidak akan pernah merasa kenyang darinya. Sedangkan orang yang menjadikan tujuannya adalah mencari keridhaan Allah, maka Allah akan mencukupkan segala sesuatu yang menjadi kegelisahannya.

Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita hati yang qanaah, jiwa yang ridha, rezeki yang baik, dan kehidupan yang penuh kenikmatan.

Aku menyampaikan perkataanku ini dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku dan kalian. Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan-Nya. Syukur kepada-Nya atas taufik dan karunia-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka.

Wahai hamba-hamba Allah!

Sesungguhnya Allah Ta‘ala menguji hamba-hamba-Nya dengan kebaikan dan keburukan sebagai ujian bagi mereka.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan kepada Kami kamu akan dikembalikan.”
(QS. Al-Anbiya: 35)

Orang miskin diuji dengan kemiskinan dan kebutuhannya, sedangkan orang kaya diuji dengan kekayaan dan hartanya.

Sesungguhnya salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada seorang hamba adalah Dia menganugerahkan kepadanya hati yang qanaah dan jiwa yang ridha.

Dengan demikian, ia bersyukur ketika berada dalam kelapangan dan kebahagiaan, serta bersabar ketika berada dalam kesulitan dan penderitaan.

Orang kaya maupun orang miskin, keduanya sama-sama membutuhkan qanaah.

Qanaahnya orang kaya adalah ia ridha dan bersyukur.

Qanaahnya orang miskin adalah ia ridha dan bersabar.

Wahai manusia!

Qanaah merupakan obat bagi berbagai penyakit jiwa dan kedengkian yang ada di dalamnya: kebencian, iri hati, hasad, dendam, kedengkian, kerakusan, kehinaan karena ketamakan, ketidakpuasan, banyak mengeluh, rasa tidak senang, kegelisahan, kecemasan, ketakutan, kesedihan, dan berbagai kegundahan.

Wahai hamba-hamba Allah!

Qanaah adalah akhlak yang dapat diperoleh dan keutamaan yang harus dilatih oleh jiwa.

Di antara perkara terbesar yang membantu seseorang untuk memiliki qanaah adalah iman kepada qadha dan qadar, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, yang manis maupun yang pahit.

Seorang mukmin mengetahui bahwa Rabbnya Mahabijaksana dalam menetapkan takdir dan Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.

Ia mengetahui bahwa apa yang menimpanya tidak mungkin luput darinya, dan apa yang luput darinya tidak mungkin akan menimpanya.

Nabi ﷺ bersabda:

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah kebaikan, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya.”

Di antara hal yang membantu seseorang memiliki qanaah adalah merenungkan hikmah Allah dalam perbedaan rezeki dan tingkatan manusia.

Hal tersebut agar bumi dapat dimakmurkan dan manusia dapat saling memberikan manfaat dan memenuhi berbagai kebutuhan serta kemaslahatan.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
(QS. Az-Zukhruf: 32)

Tidak boleh bagi seseorang untuk iri terhadap orang lain atas karunia yang Allah berikan kepadanya.

Sebaliknya, ia harus ridha terhadap pembagian Rabbnya, memohon karunia kepada-Nya, dan berusaha semaksimal mungkin dengan sebab-sebab yang dibenarkan.

Tidak akan mati suatu jiwa hingga ia menyempurnakan rezeki dan ajalnya.

Maka carilah rezeki dengan cara yang baik dan tidak berlebihan.

Di antara perkara yang membantu seseorang memiliki qanaah adalah hidup secara hemat, bersikap pertengahan dalam membelanjakan harta, serta tidak berlebihan dan tidak boros.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan harta secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.”
(QS. Al-Isra: 26–27)

Selanjutnya, wahai hamba-hamba Allah!

Bersikap lembutlah kepada orang-orang lemah dan kaum miskin.

Bersikaplah penuh kasih kepada orang-orang fakir dan mereka yang membutuhkan.

Jagalah nikmat agar tidak berubah menjadi ajang membanggakan diri, pamer, dan mempertontonkan kehidupan.

Jangan menjadikan nikmat yang kalian miliki sebagai sebab hancurnya hati saudara-saudara kalian dan melemahnya qanaah mereka.

Sesungguhnya di antara nikmat itu, bentuk mensyukurinya adalah menyembunyikannya.

Sungguh sangat disayangkan pada zaman kita ini, sebagian orang sengaja memotret apa yang Allah anugerahkan kepadanya berupa pakaian, makanan, minuman, perjalanan, rumah, dan kendaraan, kemudian menyebarkannya kepada manusia melalui media sosial.

Seakan-akan nikmat belum sempurna kecuali apabila orang lain melihatnya.

Padahal tidak semua yang engkau miliki pantas untuk engkau tampilkan, dan tidak semua yang mampu engkau lakukan harus engkau pertontonkan kepada manusia.

Sebab di balik layar terdapat jiwa-jiwa yang mungkin lalai terhadap qanaah. Tindakan tersebut dapat membuka pintu perbandingan.

Bisa jadi seseorang sedang membutuhkan kebutuhan-kebutuhan pokok, sementara engkau mempertontonkan berbagai kemewahan.

Hal itu dapat membuatnya merasakan kepedihan, ketidakberdayaan, dan bangkitnya rasa iri.

Betapa banyak orang yang melihat apa yang dimiliki orang lain sementara ia tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkan apa yang dilihatnya.

Akhirnya ia kembali ke rumah dalam keadaan patah hati dan hatinya dipenuhi rasa penyesalan serta kepedihan.

Betapa banyak orang miskin melihat berbagai kenikmatan yang tidak mampu ia miliki.

Betapa banyak orang yang kehilangan sesuatu melihat apa yang sangat ia dambakan sementara ia tidak memiliki jalan untuk mendapatkannya.

Betapa banyak seorang ayah yang tidak mampu menyediakan bagi anak-anaknya sebagian dari apa yang ia lihat dimiliki oleh anak-anak orang lain.

Maka bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah.

Jagalah nikmat-nikmat Allah dengan bersyukur.

Jagalah hati para hamba Allah dengan kasih sayang.

Ketahuilah bahwa termasuk kesempurnaan kehormatan dan keluhuran akhlak adalah engkau bergembira dengan apa yang Allah berikan kepadamu, tanpa menjadikan kegembiraanmu sebagai sebab kesedihan orang lain, kebahagiaanmu sebagai sebab kesedihan seorang fakir, dan nikmatmu sebagai sebab hilangnya qanaah seorang Muslim.

Wahai orang yang Allah luaskan rezekinya!

Bersyukurlah kepada Allah.

Berilah makan orang yang kelaparan.

Berikanlah kepada orang yang tidak memiliki.

Berusahalah memberikan kebahagiaan kepada orang yang membutuhkan.

Apabila engkau ingin menampakkan nikmat Allah yang ada padamu, maka tampakkanlah pengaruh nikmat tersebut dalam sedekahmu, dalam baktimu, dalam kebaikanmu, dalam menyambung silaturahmi, dan dalam berbuat ihsan, disertai keikhlasan kepada Rabbmu.

Jangan menampakkannya dalam bentuk gambar atau tampilan yang membebani hati orang lain.

Maka sembunyikanlah, wahai hamba-hamba Allah, sebagian nikmat Allah yang menyembunyikannya lebih lembut bagi hati saudara-saudara kalian, lebih jauh dari sikap membanggakan diri, dan lebih membantu mereka untuk memiliki qanaah.

Ya Allah, jadikanlah kami merasa cukup dengan rezeki yang Engkau berikan kepada kami dan berkahilah rezeki tersebut bagi kami.

Ya Allah, cukupkanlah kami dengan yang halal sehingga kami tidak membutuhkan yang haram, dan cukupkanlah kami dengan karunia-Mu sehingga kami tidak membutuhkan selain-Mu.

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang banyak mengingat-Mu dan banyak bersyukur atas nikmat-nikmat-Mu.

Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan dunia sebagai ambisi terbesar kami dan jangan pula menjadikannya sebagai batas tertinggi pengetahuan kami. Jangan Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri walaupun hanya sekejap mata.

Ya Allah, cintakanlah kepada kami keimanan dan hiasilah ia di dalam hati kami. Jadikanlah kami membenci kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan jalan yang benar.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin. Tolonglah hamba-hamba-Mu yang bertauhid. Ya Allah, jadikanlah negeri ini aman dan tenteram, demikian pula seluruh negeri kaum Muslimin.

Ya Allah, kekalkanlah keamanan, keselamatan, dan kestabilan di negeri kami. Jagalah negeri kami dari segala keburukan dan perkara yang tidak menyenangkan. Jauhkan darinya tipu daya orang-orang yang berbuat tipu daya, makar orang-orang yang berbuat makar, kedengkian orang-orang yang dengki, dan hasad orang-orang yang hasad, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, jagalah perbatasan kami. Berilah taufik kepada para tentara kami yang berjaga. Luruskan tembakan mereka, teguhkan langkah mereka, jadikan mereka sebagai perisai yang kokoh, dan menangkanlah mereka atas orang-orang yang memusuhi mereka.

Ya Allah, perbaikilah keadaan kaum Muslimin. Perbaikilah hubungan di antara mereka. Satukanlah kalimat mereka di atas kebenaran, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami, Penjaga Dua Tanah Suci, dengan taufik-Mu. Berikanlah kepadanya dukungan-Mu dan muliakanlah agama-Mu melalui dirinya, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, berikanlah taufik kepadanya dan kepada Putra Mahkotanya untuk melakukan perkara-perkara yang Engkau cintai dan Engkau ridhai, wahai Dzat Yang Maha Mendengar doa.

Ya Allah, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad, kepada keluarga beliau dan seluruh sahabat beliau.