JALAN YANG LURUS: PETUNJUK DI DUNIA DAN KESELAMATAN DI AKHIRAT
Khotib: Syekh Mahir bin Hamad Al-Mu‘aiqili
Unsur-unsur Khutbah
- Mendapat petunjuk menuju jalan yang lurus adalah tuntutan terbesar seorang mukmin.
- Tauhid dan ittiba‘ adalah dasar istiqamah.
- Ilmu dan amal adalah bekal orang-orang yang menempuh perjalanan menuju Allah.
- Keteguhan di dunia merupakan sebab keselamatan di atas shirath di akhirat.
- Berpegang teguh kepada Allah dan berdoa merupakan sebab memperoleh petunjuk.
- Menjaga persatuan dan bertaubat merupakan bagian dari konsekuensi istiqamah.
Kutipan
Barang siapa tersesat dari jalan, ia memohon kepada Allah Ta‘ala agar dikembalikan kepada jalan tersebut. Dan barang siapa telah menempuh jalan itu, ia memohon kepada-Nya agar diteguhkan di atasnya.
Itulah jalan para nabi dan rasul, jalan orang-orang yang sangat benar, para syuhada, dan orang-orang saleh.
Shirath yang lurus adalah agama Islam. Al-Qur’an adalah petunjuknya, sedangkan Nabi ﷺ adalah penjelasnya.
KHUTBAH PERTAMA
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Kitab kepada hamba-Nya, memberikan petunjuk kepada orang-orang beriman menuju jalan petunjuk dan kebenaran, serta menetapkan bagi para hamba-Nya jalan yang lurus. Barang siapa berpegang teguh kepadanya, ia akan mendapatkan petunjuk; dan barang siapa berpaling darinya, ia akan tersesat.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya penciptaan dan perintah, dan kepada-Nya tempat kembali dan kesudahan.
Aku juga bersaksi bahwa junjungan dan nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya. Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi seluruh alam dan sebagai pemberi petunjuk bagi seluruh manusia. Semoga Allah mencurahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepadanya, kepada keluarganya, para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Kiamat.
Amma ba‘du.
Wahai kaum mukminin, aku wasiatkan kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar bertakwa kepada Allah. Barang siapa bertakwa kepada Rabb-nya, niscaya ia selamat. Dan barang siapa mengikuti hawa nafsunya, niscaya ia tersesat.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan bertakwalah pada hari ketika kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak dizalimi.”
(QS. Al-Baqarah: 281)
Wahai umat Islam!
Sesungguhnya Allah Jalla Jalaluhu mengutus Nabi-Nya yang mulia untuk menyeru manusia kepada jalan-Nya yang lurus, memberikan petunjuk kepada jalan-Nya, menjelaskan rambu-rambunya, serta memperingatkan manusia dari berbagai jalan yang memalingkan mereka darinya.
Karena begitu agungnya kedudukan istiqamah di atas jalan ini, Allah Subhanahu wa Ta‘ala memerintahkan kita agar memohon petunjuk menuju jalan tersebut dalam setiap shalat, bahkan dalam setiap rakaat. Kita berkata:
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
(QS. Al-Fatihah: 6)
Maknanya: tunjukilah kami, bimbinglah kami, berilah kami taufik, dan teguhkanlah kami di atas jalan-Mu yang lurus.
Barang siapa tersesat dari jalan tersebut, ia memohon kepada Allah agar dikembalikan kepadanya. Dan barang siapa telah menempuh jalan tersebut, ia memohon kepada-Nya agar diteguhkan di atasnya.
Jalan itu adalah jalan para nabi dan rasul, orang-orang yang sangat benar, para syuhada, dan orang-orang saleh.
Shirath yang lurus adalah agama Islam. Al-Qur’an adalah petunjuknya, sedangkan Nabi ﷺ adalah penjelasnya.
Barang siapa menempuh jalan beliau, berpegang teguh kepada Sunnah beliau, mengikuti petunjuk beliau, dan berjalan di atas metode beliau, maka ia berada di atas jalan yang lurus.
Wahai saudara-saudara seiman!
Seorang hamba tidak akan dapat istiqamah di atas jalan ini kecuali dengan ilmu yang bermanfaat yang memberikan petunjuk kepadanya dan amal saleh yang menyucikan dirinya.
Jalan yang lurus berdiri di atas dua landasan yang agung:
Pertama: mentauhidkan Allah dan mengesakan-Nya dalam ibadah.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.”
(QS. Yasin: 61)
Kedua: mengikuti Nabi ﷺ.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
(QS. Asy-Syura: 52)
Maka barang siapa memalingkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah, atau beribadah kepada Allah dengan cara yang tidak datang dari Rasulullah ﷺ, sungguh ia telah menyimpang dan tersesat dari jalan yang lurus.
Dalam Musnad Imam Ahmad, Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Rasulullah ﷺ membuat satu garis untuk kami, lalu beliau bersabda:
‘Ini adalah jalan Allah.’
Kemudian beliau membuat beberapa garis di sebelah kanan dan kirinya, lalu bersabda:
‘Ini adalah jalan-jalan yang lain. Pada setiap jalan tersebut terdapat setan yang menyeru kepadanya.’
Kemudian beliau ﷺ membaca:
‘Dan bahwa inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan itu; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.’
(QS. Al-An‘am: 153)”
Wahai saudara-saudara seiman!
Sebagaimana Allah mensyariatkan bagi para hamba-Nya di dunia sebuah jalan yang lurus dan tidak bengkok, maka pada Hari Kiamat Dia juga akan memasang shirath di atas Jahannam, yang akan dilewati oleh manusia.
Dalam Shahih Muslim, dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang syafaat pada Hari Kiamat, Nabi ﷺ bersabda:
“Kemudian amanah dan silaturahmi dikirimkan, lalu keduanya berdiri di kedua sisi shirath, di sebelah kanan dan kiri. Kemudian orang pertama di antara kalian melintasinya seperti kilat.”
Abu Hurairah berkata: Aku berkata, “Ayah dan ibuku sebagai tebusan untukmu, bagaimana cepatnya seperti kilat?”
Beliau menjawab:
“Tidakkah kalian melihat bagaimana kilat berlalu dan kembali dalam sekejap mata? Kemudian seperti hembusan angin, kemudian seperti burung, kemudian seperti orang-orang yang berlari dengan cepat. Amal-amal mereka yang membuat mereka berjalan. Dan nabi kalian berdiri di atas shirath sambil berkata: ‘Wahai Rabb-ku, selamatkanlah, selamatkanlah!’ Sampai amal-amal para hamba menjadi lemah, sehingga datang seseorang yang tidak mampu berjalan kecuali dengan merangkak.”
Beliau kemudian bersabda:
“Di kedua sisi shirath terdapat kait-kait yang tergantung, yang diperintahkan untuk mengambil siapa saja yang diperintahkan untuk diambil. Ada yang terluka tetapi selamat, dan ada yang dilemparkan bertumpuk-tumpuk ke dalam neraka.”
Kemudian Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Demi Zat yang jiwa Abu Hurairah berada di tangan-Nya, sesungguhnya dasar Jahannam itu sejauh perjalanan tujuh puluh tahun.”
Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak melewatinya. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu ketetapan yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.”
(QS. Maryam: 71–72)
Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya perjalanan manusia di atas shirath, cepat atau lambatnya, sesuai dengan cepat atau lambatnya perjalanan mereka di atas shirath Allah yang lurus di dunia. Orang yang paling lambat di sini akan menjadi orang yang paling lambat di sana. Dan orang yang paling teguh di atas jalan yang lurus di sini akan menjadi orang yang paling teguh di sana.
Barang siapa yang di dunia dicengkeram oleh kait-kait syahwat, syubhat, dan bid‘ah yang menyesatkan, maka di sana ia akan dicengkeram oleh kait-kait yang seperti duri pohon Sa‘dan.”
Wahai saudara-saudara seiman!
Di antara perkara yang membantu seorang hamba memperoleh petunjuk dan mendapatkan taufik untuk tetap teguh di atasnya adalah mengamalkan Sunnah Nabi ﷺ.
Allah Ta‘ala berfirman kepada Nabi-Nya:
“Maka tetaplah engkau istiqamah sebagaimana engkau diperintahkan.”
(QS. Hud: 112)
Jika perintah ini ditujukan kepada Nabi ﷺ, maka hal tersebut menunjukkan bahwa istiqamah bukanlah berdasarkan hawa nafsu dan keinginan seseorang.
Akan tetapi, tolok ukurnya adalah berpegang teguh kepada Al-Kitab dan Sunnah.
Barang siapa berpegang teguh kepada keduanya, Allah Ta‘ala akan memberikan kepadanya taufik menuju petunjuk.
Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab itu dan apakah iman itu, tetapi Kami menjadikannya cahaya yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, yaitu jalan Allah yang milik-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, segala urusan kembali kepada Allah.”
(QS. Asy-Syura: 52–53)
Semoga Allah memberikan keberkahan kepadaku dan kepada kalian melalui Al-Qur’an dan Sunnah, dan memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian dengan ayat-ayat dan hikmah yang terdapat di dalam keduanya.
Aku mengatakan perkataanku ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian. Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.
KHUTBAH KEDUA
Segala puji bagi Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungan wajah-Nya dan kebesaran kekuasaan-Nya.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya.
Aku bersaksi bahwa junjungan dan nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya.
Semoga shalawat dan salam dari Rabb-ku senantiasa tercurah kepadanya, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang berjalan di atas jalannya hingga Hari Kiamat.
Amma ba‘du.
Wahai kaum mukminin!
Sesungguhnya mendapatkan petunjuk menuju jalan yang lurus tidaklah dapat diperoleh seorang hamba kecuali dengan taufik dari Zat Yang Mahamulia lagi Maha Penyayang.
Dialah yang memuliakan siapa saja yang Dia kehendaki dengan petunjuk-Nya dan menganugerahkan kepadanya cahaya tauhid dan ibadah.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan sesungguhnya Allah benar-benar memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman menuju jalan yang lurus.”
(QS. Al-Hajj: 54)
Barang siapa yang Allah kehendaki untuk mendapatkan petunjuk, niscaya Dia memberinya petunjuk.
Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:
“Barang siapa yang Allah kehendaki untuk disesatkan-Nya, niscaya Dia menyesatkannya; dan barang siapa yang Dia kehendaki, niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.”
(QS. Al-An‘am: 39)
Oleh karena itu, wahai kaum mukminin, di antara sebab terbesar untuk memperoleh dan merealisasikan petunjuk adalah memohon pertolongan dan berpegang teguh kepada Pemilik petunjuk tersebut.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan barang siapa berpegang teguh kepada Allah, sungguh dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
(QS. Ali ‘Imran: 101)
Maka berdoa kepada Allah agar diberi petunjuk menuju jalan yang lurus merupakan salah satu doa yang paling lengkap, paling bermanfaat, paling agung, dan paling mulia.
Dalam hadis qudsi, Nabi ﷺ bersabda bahwa Allah Ta‘ala berfirman:
“Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Setengahnya untuk-Ku dan setengahnya untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.”
Dalam hadis tersebut disebutkan:
“Apabila dia berkata: ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat,’ Allah berfirman: ‘Ini untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.’”
(HR. Muslim)
Wahai saudara-saudara seiman!
Barang siapa merenungkan firman Allah:
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
(QS. Al-Fatihah: 6)
ia akan memahami bahwa mendapatkan petunjuk menuju jalan yang lurus bukanlah suatu tingkatan yang apabila telah dicapai seorang hamba, kemudian ia tidak lagi membutuhkannya.
Akan tetapi, seorang hamba senantiasa membutuhkan agar diteguhkan di atas petunjuk yang telah diperolehnya.
Karena itu Nabi ﷺ banyak memohon kepada Allah agar diberikan petunjuk, padahal beliau adalah manusia yang paling mendapatkan petunjuk dan manusia yang paling sempurna.
Dalam Shahih Muslim, Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya:
“Dengan doa apa Nabi Allah ﷺ memulai shalatnya apabila beliau bangun untuk shalat malam?”
Aisyah menjawab:
“Apabila beliau bangun pada malam hari, beliau memulai shalatnya dengan membaca:
‘Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail, dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Mengetahui perkara yang gaib dan yang nyata. Engkau yang memutuskan perkara di antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang mereka perselisihkan. Berilah aku petunjuk kepada kebenaran dalam perkara yang diperselisihkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus.’”
Di antara keindahan yang terdapat dalam firman Allah:
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
(QS. Al-Fatihah: 6)
adalah bahwa doa tersebut menggunakan bentuk jamak, bukan bentuk tunggal.
Hal ini mengandung pendidikan tentang makna kebersamaan dan persatuan.
Seorang mukmin memohon kepada Allah agar diberikan petunjuk untuk dirinya sendiri sekaligus untuk saudara-saudaranya.
Agama Allah menyatukan, sedangkan hawa nafsu dan bid‘ah memecah-belah.
Maka di antara konsekuensi berpegang teguh kepada jalan yang lurus adalah berpegang teguh kepada jamaah kaum muslimin dan menjauhi sebab-sebab perpecahan dan fitnah.
Allah Jalla Jalaluhu, setelah memerintahkan untuk mengikuti jalan-Nya, berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.”
(QS. Al-An‘am: 153)
Perpecahan merupakan salah satu dampak dari jalan-jalan yang menyimpang, sedangkan persatuan merupakan salah satu dampak dari jalan yang lurus.
Karena itu, manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah dibangun di atas:
- berpegang teguh kepada Al-Kitab dan Sunnah,
- menyatukan kalimat,
- menaati pemimpin kaum muslimin,
- serta mewaspadai jalan-jalan berlebihan dalam agama.
Kerajaan Arab Saudi, dengan karunia Allah Ta‘ala, dibangun di atas Al-Kitab dan Sunnah serta persatuan.
Semua itu merupakan nikmat yang wajib disyukuri dan hendaknya kita berdoa agar nikmat tersebut senantiasa terjaga.
Sesungguhnya “jamaah adalah rahmat, sedangkan perpecahan adalah azab.”
Wahai saudara-saudara!
Di antara rahmat Allah Ta‘ala kepada para hamba-Nya adalah bahwa istiqamah di atas jalan yang lurus tidak berarti seseorang terbebas dari kesalahan dan kekeliruan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah mereka yang banyak bertaubat.”
Barang siapa melakukan kekurangan, hendaknya ia segera memperbaikinya.
Barang siapa menzalimi seseorang, hendaknya ia mengembalikan hak orang tersebut.
Dan barang siapa dirinya dikuasai oleh hawa nafsu sehingga terjatuh ke dalam dosa, hendaknya ia segera bertaubat darinya.
Allah Jalla Jalaluhu berfirman:
“Maka tetaplah istiqamah kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.”
(QS. Fussilat: 6)
Orang yang mendapatkan taufik adalah orang yang mau merenung dan mengambil pelajaran, kemudian beristiqamah dan memohon ampun, serta mempersiapkan diri untuk menghadapi Hari Mahsyar.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan Allah menyeru manusia ke Darussalam (surga), dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”
(QS. Yunus: 25)
Wahai Zat Yang membolak-balikkan hati!
Teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad, kepada istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada keluarga Ibrahim.
Dan limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad, kepada istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim.
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
Ya Allah, ridhailah para khalifah yang mendapatkan petunjuk: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali; juga seluruh sahabat, para tabi'in, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Kiamat.
Dan ridhailah kami bersama mereka dengan ampunan, kemurahan, dan kedermawanan-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin.
Jadikanlah negeri ini aman, tenteram, makmur, dan penuh kesejahteraan, demikian pula seluruh negeri kaum muslimin.
Ya Allah, berikanlah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami.
Berikanlah taufik kepada para imam dan pemimpin kami.
Teguhkanlah pemimpin kami dan wali urusan kami di atas kebenaran.
Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami, Pelayan Dua Tanah Suci, kepada apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai.
Berikanlah taufik kepadanya dan kepada putra mahkotanya yang terpercaya menuju segala sesuatu yang mengandung kemuliaan Islam, kebaikan kaum muslimin, serta kemaslahatan negeri dan para hamba.
Ya Allah, balaslah mereka dengan kebaikan atas apa yang telah mereka berikan dalam pelayanan terhadap Dua Tanah Suci.
Balaslah mereka atas jasa mereka kepada Islam dan kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan.
Ya Allah, jagalah agama kami, kepemimpinan kami, dan keamanan kami.
Ya Allah, berikanlah taufik kepada para petugas keamanan kami dan mereka yang berjaga di perbatasan serta benteng-benteng negeri kami.
Menangkanlah mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka, wahai Zat Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.
Ya Allah, lepaskanlah kesusahan saudara-saudara kami di Palestina.
Jadilah penolong, pembela, pendukung, dan penguat bagi mereka.
Ya Allah, jagalah Masjid Al-Aqsha dari kezaliman orang-orang zalim dan agresi para penjajah.
Jadikanlah ia tetap tinggi, mulia, dan terhormat hingga Hari Kiamat.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri, dan kecukupan.
Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
(QS. Al-Baqarah: 201)
“Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Yang memiliki keperkasaan, dari apa yang mereka sifatkan. Dan salam sejahtera atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”