Minggu, 01 November 2026

PENGHAMBAAN SELURUH MAKHLUK KEPADA ALLAH TA'ALA


PENGHAMBAAN SELURUH MAKHLUK KEPADA ALLAH TA'ALA 



Terjemah Khutbah Masjid Nabawi



23 Syawal 1434 H · Syaikh Abdul Muhsin bin Muhammad al-Qasim حفظه الله



 Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam yang sebanyak-banyaknya kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya.

Amma ba'du:

Bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah, dengan sebenar-benar takwa. Barang siapa bertakwa kepada Rabb-nya, niscaya Allah mengangkat derajatnya dan menjadikan kesudahan hidupnya setelah kematian menjadi baik.

Wahai kaum muslimin!

Allah Ta'ala memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan keindahan. Dia Mahasuci dari segala aib dan kekurangan. Dia Mahakaya, tidak membutuhkan sedikit pun makhluk selain-Nya, sedangkan seluruh makhluk membutuhkan-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

﴿إِنْ تَكْفُرُوا أَنْتُمْ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا فَإِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ﴾

"Jika kalian dan seluruh manusia yang ada di bumi mengingkari (nikmat Allah), maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji." (QS. Ibrahim: 8).

Allah adalah Pemilik keagungan dan kebesaran. Segala sesuatu tunduk kepada-Nya dan berserah diri kepada-Nya, baik dengan sukarela maupun terpaksa. Seorang mukmin menyerahkan diri kepada-Nya dengan hati dan anggota tubuhnya, sedangkan orang kafir pun tetap tunduk kepada-Nya secara terpaksa melalui ketetapan, penundukan, dan kekuasaan-Nya.

Allah عز وجل berfirman:

﴿وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ﴾

"Dan hanya kepada-Nya berserah diri segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, baik dengan sukarela maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nyalah mereka dikembalikan." (QS. Ali Imran: 83).

Seluruh makhluk tunduk kepada Allah. Semua yang berada di langit dan bumi, termasuk burung-burung, semuanya melaksanakan salat dan beribadah kepada Allah sesuai dengan keadaan yang layak bagi mereka.

Allah عز وجل berfirman:

﴿أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ﴾

"Tidakkah engkau mengetahui bahwa kepada Allah bertasbih siapa saja yang ada di langit dan di bumi, dan juga burung-burung yang mengembangkan sayapnya? Masing-masing sungguh telah mengetahui cara salat dan tasbihnya." (QS. An-Nur: 41).

Para malaikat setiap hari memasuki Baitul Ma'mur yang berada di langit untuk melaksanakan salat kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis tentang peristiwa Isra':

«فَرُفِعَ لِيَ الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ، فَسَأَلْتُ جِبْرِيلَ، فَقَالَ: هَذَا الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ يُصَلِّي فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ، إِذَا خَرَجُوا لَمْ يَعُودُوا إِلَيْهِ آخِرَ مَا عَلَيْهِمْ»

"Lalu diperlihatkan kepadaku Baitul Ma'mur. Aku bertanya kepada Jibril, kemudian ia menjawab, 'Inilah Baitul Ma'mur. Setiap hari tujuh puluh ribu malaikat melaksanakan salat di dalamnya. Apabila mereka telah keluar darinya, mereka tidak akan kembali lagi ke sana untuk selamanya.'"

Muttafaq 'alaih (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Seluruh makhluk bersujud kepada Allah dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.

Allah عز وجل berfirman:

﴿أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ﴾

"Tidakkah engkau mengetahui bahwa kepada Allah bersujud siapa saja yang ada di langit, siapa saja yang ada di bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pepohonan, hewan-hewan melata, dan banyak di antara manusia?" (QS. Al-Hajj: 18).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:

"Dan tidaklah harus bahwa sujud setiap sesuatu itu sama seperti sujudnya manusia."

Hewan-hewan dan para malaikat bersujud karena takut kepada Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ دَابَّةٍ وَالْمَلَائِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ ۝ يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ﴾

"Dan kepada Allah bersujud segala apa yang ada di langit dan segala apa yang ada di bumi, yaitu semua makhluk bergerak dan juga para malaikat, dan mereka tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Rabb mereka yang berada di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka." (QS. An-Nahl: 49–50).

Matahari setiap hari pergi ke bawah Arasy dan bersujud kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abu Dzar ketika matahari terbenam:

«أَتَدْرِي أَيْنَ تَذْهَبُ؟»

"Tahukah engkau ke mana matahari pergi?"

Aku menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."

Beliau bersabda:

«فَإِنَّهَا تَذْهَبُ حَتَّى تَسْجُدَ تَحْتَ الْعَرْشِ»

"Sesungguhnya matahari pergi hingga bersujud di bawah Arasy."

Muttafaq 'alaih.

Ibnu al-'Arabi رحمه الله berkata:

"Tidak ada sesuatu pun yang menghalangi kekuasaan Allah untuk menjadikan setiap makhluk, baik hewan maupun benda mati, mampu bersujud kepada-Nya."

Bahkan segala sesuatu yang memiliki bayangan di alam semesta bersujud kepada Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

﴿أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى مَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ يَتَفَيَّأُ ظِلَالُهُ عَنِ الْيَمِينِ وَالشَّمَائِلِ سُجَّدًا لِلَّهِ وَهُمْ دَاخِرُونَ﴾

"Apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah, yang bayang-bayangnya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan bersujud kepada Allah, sedangkan mereka merendahkan diri?" (QS. An-Nahl: 48).

Bersamaan dengan salat dan sujud seluruh makhluk kepada Allah, mereka juga bertasbih kepada-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ﴾

"Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya." (QS. Al-Isra': 44).

Petir bertasbih dengan memuji Allah disertai rasa takut kepada-Nya. Semut pun menyucikan Allah dan menafikan segala sekutu serta tandingan bagi-Nya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«قَرَصَتْ نَمْلَةٌ نَبِيًّا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ، فَأَمَرَ بِقَرْيَةِ النَّمْلِ فَأُحْرِقَتْ، فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ: أَنْ قَرَصَتْكَ نَمْلَةٌ أَحْرَقْتَ أُمَّةً مِنَ الْأُمَمِ تُسَبِّحُ؟!»

"Seekor semut menggigit salah seorang nabi dari kalangan para nabi. Kemudian nabi tersebut memerintahkan agar sarang semut itu dibakar. Maka Allah mewahyukan kepadanya, 'Hanya karena seekor semut menggigitmu, engkau membakar suatu umat dari umat-umat yang bertasbih kepada-Ku?!'"

Muttafaq 'alaih.

Tumbuh-tumbuhan pun bertasbih kepada Allah semata.

Ibnu al-Qayyim رحمه الله berkata:

"Maha Berkah Allah, Rabb seluruh alam, yang mengetahui tempat jatuhnya daun-daun dan tempat tumbuhnya. Tidaklah sehelai daun keluar melainkan dengan izin-Nya, dan tidak pula gugur melainkan dengan pengetahuan-Nya.

Meskipun demikian, seandainya para hamba menyaksikan dedaunan itu dengan jumlahnya yang begitu banyak dan jenisnya yang beraneka ragam, sementara semuanya bertasbih memuji Rabb-nya bersama buah-buahan, ranting-ranting, dan pepohonan, niscaya mereka akan menyaksikan keindahan yang lain darinya. Mereka akan memandang penciptaannya dengan pandangan yang berbeda dan mengetahui bahwa semua itu diciptakan untuk suatu perkara yang agung."

Para sahabat رضي الله عنهم ketika bersama Nabi ﷺ pernah mendengar makanan bertasbih.

Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه berkata:

«وَلَقَدْ كُنَّا نَسْمَعُ تَسْبِيحَ الطَّعَامِ وَهُوَ يُؤْكَلُ»

"Sungguh, dahulu kami pernah mendengar makanan bertasbih ketika sedang dimakan."

(HR. Al-Bukhari).

Setiap partikel di alam semesta mengesakan Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ﴾

"Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya." (QS. Al-Isra': 44).

Ibnu Katsir رحمه الله berkata:

"Ayat ini bersifat umum, mencakup hewan-hewan, benda-benda mati, dan tumbuh-tumbuhan."

Adapun bagaimana tata cara tasbih tersebut, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah.

Allah عز وجل berfirman:

﴿وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ﴾

"Tetapi kalian tidak memahami tasbih mereka." (QS. Al-Isra': 44).

Bersamaan dengan tasbih bebatuan kepada Allah, sebagian batu juga turun dari tempat yang tinggi karena takut kepada Allah, dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri kepada-Nya.

Allah عز وجل berfirman:

﴿وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ﴾

"Dan sesungguhnya di antara batu-batu itu ada yang jatuh karena takut kepada Allah." (QS. Al-Baqarah: 74).

Langit dan bumi taat kepada Allah serta melaksanakan perintah-Nya. Allah berfirman kepada keduanya, "Tunduklah kalian kepada perintah-Ku dengan sukarela atau terpaksa."

Keduanya menjawab:

﴿قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ﴾

"Keduanya berkata, 'Kami datang dengan penuh ketaatan.'" (QS. Fussilat: 11).

Ketika amanah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, yaitu berupa beban kewajiban syariat yang apabila dilaksanakan akan memperoleh pahala dan apabila tidak dilaksanakan akan mendapatkan hukuman, semuanya enggan memikulnya karena takut tidak mampu menunaikan tanggung jawab yang dibebankan kepada mereka, bukan karena bermaksiat kepada Rabb mereka.

Benda-benda mati pun mencintai Rasulullah ﷺ. Bahkan benda-benda tersebut dahulu memberikan salam kepada beliau semasa hidupnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنِّي لَأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ، إِنِّي لَأَعْرِفُهُ الْآنَ»

"Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Makkah yang dahulu mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus menjadi nabi. Sungguh, aku masih mengenalinya sekarang."

(HR. Muslim).

Demikian pula batang pohon kurma yang ditinggalkan oleh Nabi ﷺ. Batang pohon itu merindukan beliau dan menangis.

Jabir رضي الله عنه berkata:

"Masjid dahulu beratapkan batang-batang pohon kurma. Apabila Nabi ﷺ berkhutbah, beliau berdiri bersandar pada salah satu batang pohon tersebut. Ketika mimbar dibuat untuk beliau, lalu beliau berdiri di atas mimbar itu dan meninggalkan batang pohon tersebut, kami mendengar suara dari batang pohon itu seperti suara unta betina yang sedang bunting, hingga Nabi ﷺ datang dan meletakkan tangannya di atasnya, maka batang pohon itu pun menjadi tenang."

(HR. Al-Bukhari).

Al-Hasan al-Bashri رحمه الله apabila menyampaikan hadis ini, beliau berkata:

"Wahai kaum muslimin! Sebatang kayu saja merindukan Rasulullah ﷺ karena kerinduannya untuk bertemu dengan beliau. Maka kalian lebih berhak untuk merindukan beliau."

Mengikuti petunjuk Nabi ﷺ tanpa berlebih-lebihan dan tanpa meremehkan merupakan bukti ketulusan cinta kepada beliau.

Sebuah batu besar juga pernah bergerak ketika Nabi ﷺ naik ke atasnya bersama para sahabat senior beliau.

Abu Hurairah رضي الله عنه berkata:

"Rasulullah ﷺ berada di atas Gunung Hira bersama Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, dan az-Zubair. Kemudian batu itu bergerak. Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

«اهْدَأْ فَمَا عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدٌ»

'Tenanglah! Tidak ada di atasmu selain seorang nabi, seorang shiddiq, atau seorang syahid.'"

(HR. Muslim).

Bahkan sebuah gunung secara keseluruhan pernah berguncang ketika Nabi ﷺ naik ke atasnya bersama para khalifah yang mendapat petunjuk.

Anas رضي الله عنه berkata:

"Nabi ﷺ naik ke Gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Kemudian gunung itu berguncang. Maka beliau menghentakkannya dengan kaki beliau seraya bersabda:

«اثْبُتْ أُحُدُ، فَمَا عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدَانِ»

'Tetaplah tenang, wahai Uhud! Sesungguhnya di atasmu tidak ada selain seorang nabi, seorang shiddiq, dan dua orang syahid.'"

(HR. Al-Bukhari).

Ibnu al-Munir رحمه الله berkata:

"Ini merupakan getaran kegembiraan. Oleh karena itu, Nabi ﷺ menyebutkan kedudukan kenabian, shiddiqiyah, dan kesyahidan yang menyebabkan kegembiraan bagi sesuatu yang berkaitan dengannya."

Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya dalam keadaan beriman, maka Gunung Uhud mencintainya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«أُحُدٌ جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ»

"Uhud adalah gunung yang mencintai kita dan kita pun mencintainya."

(HR. Al-Bukhari).

Imam an-Nawawi رحمه الله berkata:

"Uhud benar-benar mencintai kita. Allah Ta'ala telah menjadikan padanya kemampuan untuk membedakan sehingga ia dapat mencintai."

Di rumah keluarga Rasulullah ﷺ juga pernah terdapat seekor hewan liar. Apabila Nabi ﷺ memasuki rumah, hewan tersebut tidak bergerak agar tidak mengganggu beliau.

Aisyah رضي الله عنها berkata:

«كَانَ لِآلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحْشٌ، فَإِذَا خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعِبَ وَاشْتَدَّ وَأَقْبَلَ وَأَدْبَرَ، فَإِذَا أَحَسَّ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ دَخَلَ رَبَضَ - أَيْ: جَلَسَ - فَلَمْ يَتَرَمْرَمْ - أَيْ: لَمْ يَتَحَرَّكْ - مَا دَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْبَيْتِ كَرَاهِيَةَ أَنْ يُؤْذِيَهُ»

"Keluarga Rasulullah ﷺ dahulu memiliki seekor hewan liar. Apabila Rasulullah ﷺ keluar dari rumah, hewan itu bermain, berlari dengan kencang, bergerak ke sana kemari, dan mondar-mandir. Namun, apabila hewan itu merasakan bahwa Rasulullah ﷺ telah masuk rumah, ia segera duduk dan tidak bergerak selama Rasulullah ﷺ berada di dalam rumah, karena tidak ingin mengganggu beliau."

(HR. Ahmad).

Seluruh makhluk selain manusia dan jin yang durhaka mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Jabir رضي الله عنه berkata:

"Kami pernah datang bersama Rasulullah ﷺ dari suatu perjalanan. Ketika kami sampai di sebuah kebun milik Bani an-Najjar, ternyata di dalamnya terdapat seekor unta yang tidak membiarkan seorang pun memasuki kebun tersebut melainkan ia akan menyerangnya."

Kemudian hal itu disampaikan kepada Nabi ﷺ. Beliau pun datang hingga memasuki kebun tersebut. Lalu beliau memanggil unta itu. Unta tersebut datang dengan meletakkan kedua bibirnya ke tanah hingga berlutut di hadapan Nabi ﷺ.

Nabi ﷺ kemudian bersabda:

«هَاتُوا خِطَامَهُ»

"Bawakan tali kekangnya!"

Beliau lalu memasang tali kekang pada unta itu dan menyerahkannya kepada pemiliknya.

Kemudian Nabi ﷺ berpaling kepada orang-orang dan bersabda:

«إِنَّهُ لَيْسَ شَيْءٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِلَّا يَعْلَمُ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَّا عَاصِيَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ»

"Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun antara langit dan bumi melainkan mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali jin dan manusia yang durhaka."

(HR. Ahmad).

Barang siapa termasuk ulama Islam, maka seluruh penghuni langit dan bumi, bahkan ikan-ikan di dalam air, memohonkan ampunan baginya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ، وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ»

"Sesungguhnya seorang alim benar-benar dimohonkan ampunan oleh makhluk yang berada di langit dan di bumi, bahkan ikan-ikan yang berada di dalam air."

(HR. Abu Dawud).

Pohon gharqad berpihak kepada kaum mukminin dan memberikan pertolongan kepada mereka.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«تُقَاتِلُونَ الْيَهُودَ حَتَّى يَخْتَبِئَ أَحَدُهُمْ وَرَاءَ الْحَجَرِ، فَيَقُولَ: يَا عَبْدَ اللَّهِ! هَذَا يَهُودِيٌّ وَرَائِي فَاقْتُلْهُ»

"Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi hingga salah seorang dari mereka bersembunyi di balik batu. Kemudian batu itu berkata, 'Wahai hamba Allah! Ini ada seorang Yahudi di belakangku, maka bunuhlah dia.'"

Muttafaq 'alaih.

Sebagian makhluk ikut mengucapkan talbiyah sebagaimana talbiyah seorang muslim.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُلَبِّي - أَيْ: فِي الْحَجِّ أَوِ الْعُمْرَةِ - إِلَّا لَبَّى مَنْ عَنْ يَمِينِهِ أَوْ عَنْ شِمَالِهِ مِنْ حَجَرٍ أَوْ شَجَرٍ أَوْ مَدَرٍ - أَيْ: طِينٍ - حَتَّى تَنْقَطِعَ الْأَرْضُ مِنْ هَاهُنَا وَهَاهُنَا»

"Tidaklah seorang muslim mengucapkan talbiyah—yakni dalam ibadah haji atau umrah—melainkan segala sesuatu yang berada di sebelah kanan dan kirinya, baik batu, pohon, maupun tanah liat, turut mengucapkan talbiyah bersamanya hingga seluruh penjuru bumi di sisi kanan dan kirinya dipenuhi dengannya."

(HR. At-Tirmidzi).

Langit dan bumi menangis karena berpisah dengan seorang mukmin.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang kaum Fir'aun:

﴿فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ﴾

"Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan mereka pun tidak diberi penangguhan waktu." (QS. Ad-Dukhan: 29).

Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata:

"Apabila seorang mukmin meninggal dunia, tempat di bumi yang dahulu menjadi tempat ia melaksanakan salat dan berzikir kepada Allah akan merasa kehilangan dan menangisinya. Demikian pula langit."

Adapun orang-orang yang durhaka, sesungguhnya makhluk-makhluk merasa terganggu oleh mereka. Ketika mereka meninggal dunia, makhluk-makhluk tersebut merasa lega karena terbebas dari gangguan mereka.

Pernah dibawa melewati Nabi ﷺ sebuah jenazah, kemudian beliau bersabda:

«مُسْتَرِيحٌ وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ»

"Ada yang beristirahat dan ada pula yang membuat orang lain beristirahat darinya."

Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah yang dimaksud dengan orang yang beristirahat dan orang yang membuat orang lain beristirahat darinya?"

Beliau menjawab:

«الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْبِلَادُ وَالْعِبَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ»

"Seorang hamba yang beriman beristirahat dari keletihan dan gangguan dunia menuju rahmat Allah. Sedangkan seorang hamba yang durhaka, negeri, para hamba, pepohonan, dan hewan-hewan beristirahat dari gangguannya."

Muttafaq 'alaih.

Syirik kepada Allah merupakan dosa yang paling besar. Apabila benda-benda mati mendengar perbuatan syirik kepada Allah Ta'ala, semuanya merasa takut dan gentar karena mengagungkan Allah, disebabkan hak Allah dalam uluhiyah-Nya telah direndahkan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

﴿وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا ۝ لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا ۝ تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا﴾

"Dan mereka berkata, 'Tuhan Yang Maha Pengasih mempunyai anak.' Sungguh, kalian telah membawa sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir saja langit pecah karena ucapan itu, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh berkeping-keping." (QS. Maryam: 88–90).

Ibnu Katsir رحمه الله berkata:

"Yakni, hampir saja hal itu terjadi ketika langit mendengar perkataan tersebut dari orang-orang durhaka di antara anak Adam, sebagai bentuk pengagungan dan penghormatan kepada Rabb. Sebab, langit dan seluruh makhluk diciptakan dan ditegakkan di atas prinsip mengesakan-Nya."

Seekor burung pun pernah berbicara mengingkari perbuatan kaum musyrikin dari kalangan manusia karena kesyirikan mereka kepada Allah. Burung itu menyeru mereka agar bertauhid.

Burung hud-hud berkata kepada Nabi Sulaiman عليه السلام:

﴿وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ ۝ إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ ۝ وَجَدْتُهَا وَقَوْمَهَا يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ ۝ أَلَّا يَسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي يُخْرِجُ الْخَبْءَ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُخْفُونَ وَمَا تُعْلِنُونَ﴾

"Dan aku datang kepadamu dari negeri Saba' dengan membawa suatu berita yang meyakinkan. Sesungguhnya aku mendapati seorang perempuan yang memerintah mereka dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan Allah. Setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan Allah, maka mereka tidak mendapat petunjuk. Mereka tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi serta mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan." (QS. An-Naml: 22–25).

Karena burung hud-hud menyeru kepada kebaikan, mengajak beribadah hanya kepada Allah, dan bersujud kepada-Nya, maka burung tersebut dilarang untuk dibunuh.

(HR. Ahmad).

Amma ba'du, wahai kaum muslimin!

Seluruh makhluk, baik malaikat, benda-benda mati, tumbuh-tumbuhan, maupun hewan, telah menyatakan kesucian Allah dan mengesakan-Nya. Mereka bersujud kepada Allah dan menaati-Nya. Maka manusia lebih pantas untuk melakukan hal yang sama.

Apabila manusia merealisasikan penghambaan kepada Allah, niscaya ia menjadi makhluk yang paling mulia. Namun, barang siapa berbuat syirik kepada-Nya, maka hewan-hewan lebih sempurna keadaannya daripada dirinya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

﴿أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ﴾

"Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi." (QS. Al-A'raf: 179).

Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾

"Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan." (QS. Az-Zumar: 67).

Semoga Allah memberkahiku dan kalian melalui Al-Qur'an yang agung. Semoga Allah memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.

Aku menyampaikan apa yang kalian dengarkan ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum muslimin dari setiap dosa. Maka mohonlah ampun kepada-Nya.

### Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan-Nya. Segala syukur hanya milik-Nya atas taufik dan karunia-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagai bentuk pengagungan terhadap keagungan-Nya.

Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam yang lebih banyak kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.

Wahai kaum muslimin!

Seluruh makhluk tunduk dan patuh kepada Allah.

Diharamkan untuk berdoa dan memohon kepada sesuatu pun dari kalangan makhluk selain Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

﴿لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ﴾

"Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika memang hanya kepada-Nya kalian beribadah." (QS. Fussilat: 37).

Bersamaan dengan ketundukan seluruh makhluk kepada Allah, mereka juga ditundukkan untuk kepentingan kita agar kita dapat memanfaatkannya sebagai sarana untuk menaati-Nya.

Allah عز وجل berfirman:

﴿وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ﴾

"Dan Dia telah menundukkan untuk kalian apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya sebagai karunia dari-Nya." (QS. Al-Jatsiyah: 13).

Barang siapa menaati Rabb-nya, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya dan meninggikan kedudukannya.

Kemudian ketahuilah bahwa Allah telah memerintahkan kalian agar berselawat dan mengucapkan salam kepada Nabi-Nya.

Allah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56).

Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, tambahan keberkahan, dan kemuliaan kepada Nabi kami Muhammad.

Ya Allah, ridhailah para khalifah beliau yang mendapat petunjuk, yang menetapkan hukum dengan kebenaran dan senantiasa berlaku adil dengannya: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Ridhailah pula seluruh sahabat beliau, dan jadikanlah kami bersama mereka dengan kemurahan dan karunia-Mu, wahai Zat Yang Maha Pemurah di antara semua yang pemurah.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik. Binasakanlah musuh-musuh agama.

Ya Allah, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, tenteram, dan penuh kemakmuran, demikian pula seluruh negeri kaum muslimin.

Ya Allah, perbaikilah keadaan kaum muslimin di mana pun mereka berada.

Ya Allah, lindungilah darah mereka dan jauhkanlah mereka dari berbagai fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Ya Allah, jadikanlah orang-orang terbaik di antara mereka sebagai pemimpin mereka, jauhkanlah mereka dari keburukan orang-orang yang paling jahat di antara mereka, dan jadikanlah negeri-negeri mereka sebagai negeri yang penuh keamanan dan keimanan, wahai Zat Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.

Ya Allah, barang siapa yang menghendaki keburukan terhadap kami, atau terhadap Islam dan kaum muslimin, maka sibukkanlah dia dengan dirinya sendiri. Jadikanlah tipu dayanya berbalik menimpa dirinya sendiri dan tanamkanlah rasa takut ke dalam hatinya.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾

"Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Al-Baqarah: 201).

Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami untuk mengikuti petunjuk-Mu dan jadikanlah amal perbuatannya berada dalam keridaan-Mu.

Berikanlah taufik kepada seluruh pemimpin kaum muslimin agar senantiasa mengamalkan Kitab-Mu dan menerapkan syariat-Mu, wahai Zat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.

Wahai hamba-hamba Allah!

Allah berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl: 90).

Maka ingatlah Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia, niscaya Dia akan mengingat kalian.

Bersyukurlah kepada-Nya atas segala karunia dan nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat-Nya kepada kalian.

Dan sungguh, mengingat Allah itu lebih besar keutamaannya. Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.



Jumat, 30 Oktober 2026

PERSAUDARAAN DI ANTARA KAUM MUSLIMIN


PERSAUDARAAN DI ANTARA KAUM MUSLIMIN 



Khutbah Masjid Nabawi, 28 Dzulqa‘dah 1434 H

Syaikh Husain bin Abdul Aziz Alu asy-Syaikh حفظه الله




Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah, Pelindung orang-orang beriman. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, Raja Yang Mahabenar lagi Maha Menjelaskan. Aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, seorang nabi yang terpercaya.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.

Amma ba‘du.

Wahai kaum Muslimin!

Aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri dengan sebaik-baik wasiat, yaitu bertakwa kepada Allah عز وجل, karena takwa merupakan sebaik-baik bekal untuk menghadapi hari kembali (akhirat).

Wahai saudara-saudara seiman!

Di antara pokok-pokok keimanan dan landasan-landasan Islam adalah mewujudkan persaudaraan iman di antara kaum Muslimin serta menyebarkan kasih sayang di tengah masyarakat orang-orang beriman.

Allah عز وجل berfirman:

﴿ إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ ﴾

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara." (QS. Al-Hujurat: 10).

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

«الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ»

"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya."

Wahai kaum Muslimin!

Sesungguhnya prinsip yang agung dan landasan yang kokoh ini mengandung hak-hak dan kewajiban-kewajiban, serta menuntut adanya tanggung jawab dan komitmen.

Allah Rabb kita عز وجل berfirman:

﴿ وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ﴾

"Orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar." (QS. At-Taubah: 71).

Persaudaraan ini mengharuskan seorang Muslim menjalani kehidupannya dalam berinteraksi dengan sesama kaum Muslimin melalui setiap perilaku yang mulia dan perbuatan yang benar.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»

"Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri."

Persaudaraan ini membawa ketulusan hati untuk mendatangkan berbagai kemaslahatan dan manfaat bagi kaum Muslimin serta mencegah segala keburukan dan gangguan dari orang-orang beriman.

Allah عز وجل berfirman:

﴿ وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا ﴾

"Orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (QS. Al-Ahzab: 58).

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

«الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ»

"Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya."

Wahai saudara-saudara seiman!

Persaudaraan iman merupakan prinsip besar dalam Islam. Seorang Muslim menjalankan prinsip ini dalam hubungannya dengan saudara-saudaranya sesama Muslim dan masyarakat Islam sebagai suatu bentuk ibadah. Ia mengamalkannya sebagai salah satu syiar keimanan dan melaksanakannya sebagai kewajiban yang agung, bukan karena didorong oleh tujuan mencari keuntungan ataupun kepentingan pribadi.

Dengan demikian, masyarakat Muslim akan menjadi seperti bangunan yang satu, sebagaimana yang dikehendaki oleh syariat yang agung. Sebagian bagiannya menguatkan sebagian yang lain.

Sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:

«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»

"Seorang mukmin bagi mukmin lainnya seperti sebuah bangunan; sebagian bagiannya menguatkan sebagian yang lain."

Beliau kemudian menyilangkan jari-jari kedua tangannya.

Persaudaraan ini menuntut pengorbanan dan kesediaan berkorban, saling berempati dan menyayangi, bersikap lembut dan penuh kasih, serta berbagai makna dan perilaku mulia lainnya yang telah diserukan oleh Nabi pilihan صلى الله عليه وسلم melalui sabdanya:

«مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى»

"Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling menyayangi, dan saling berempati adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh mengeluh karena sakit, seluruh bagian tubuh lainnya ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan mengalami demam."

Wahai kaum Muslimin!

Bertolak dari prinsip-prinsip keimanan dan landasan-landasan Islam tersebut, umat Islam dituntut untuk menjaga persatuan Islam dan barisan keimanannya.

Umat Islam juga harus waspada terhadap tipu daya musuh-musuh dan rencana-rencana mereka untuk memecah belah barisan, merusak persatuan kaum Muslimin, menyebarkan berbagai sarana permusuhan di antara mereka, serta menebarkan unsur-unsur kebencian di tengah masyarakat mereka.

Allah عز وجل berfirman:

﴿ وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ﴾

"Mereka menginginkan kesulitan menimpa kalian. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka jauh lebih besar." (QS. Ali 'Imran: 118).

Sesungguhnya apa yang dialami umat Islam pada masa sekarang berupa perpecahan di dalam satu masyarakat dan tersebarnya budaya permusuhan serta kebencian di tengah masyarakat yang sama, hingga sebagian orang mengangkat senjata untuk memerangi sebagian yang lain, merupakan perkara yang sangat besar.

Hal tersebut tidak diridhai oleh Rabb seluruh alam, tidak sejalan dengan hukum-hukum agama, dan tidak sesuai dengan wasiat-wasiat penghulu seluruh makhluk, عليه أفضل الصلاة والسلام.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

«مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلَاحَ فَلَيْسَ مِنَّا»

"Barang siapa mengangkat senjata untuk memerangi kami, maka ia bukan termasuk golongan kami."

Dalam hadis lainnya, beliau bersabda:

«لَا يُشِيرُ أَحَدُكُمْ عَلَى أَخِيهِ بِالسِّلَاحِ؛ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي لَعَلَّ الشَّيْطَانَ يَنْزِعُ فِي يَدِهِ فَيَقَعَ فِي حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ»

"Janganlah salah seorang di antara kalian mengarahkan senjata kepada saudaranya. Sebab, ia tidak mengetahui, boleh jadi setan menggerakkan tangannya sehingga ia terjerumus ke dalam sebuah lubang api neraka."

Wahai umat Islam!

Waspadalah terhadap sebab-sebab perpecahan! Jauhilah faktor-faktor fitnah! Berhati-hatilah terhadap perbuatan-perbuatan yang mengakibatkan kerusakan yang tidak terhitung dan keburukan yang tidak berkesudahan.

Di antaranya adalah pertumpahan darah, pelanggaran terhadap kehormatan, penghancuran berbagai potensi dan kekayaan, porak-porandanya barisan umat, serta hilangnya kewibawaan masyarakat Muslim, sementara musuh-musuh menyaksikan semua itu dengan gembira dan penuh suka cita.

Itulah yang terjadi di tengah umat. Itulah yang diinginkan, menjadi sasaran, tujuan, dan maksud para musuh.

Allah عز وجل berfirman:

﴿ لَوْ خَرَجُوا فِيكُمْ مَا زَادُوكُمْ إِلَّا خَبَالًا وَلَأَوْضَعُوا خِلَالَكُمْ يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ لَهُمْ ﴾

"Seandainya mereka berangkat bersama kalian, niscaya mereka tidak menambah kalian selain kerusakan. Mereka tentu akan berjalan ke sana kemari di antara kalian untuk menimbulkan kekacauan, dan di antara kalian ada orang-orang yang suka mendengarkan perkataan mereka." (QS. At-Taubah: 47).

Wahai saudara-saudara Islam!

Di antara sebab fitnah terbesar yang wajib diwaspadai dan dijauhi adalah upaya mengafirkan kaum Muslimin secara umum tanpa landasan bukti dari Allah dan tanpa hujah dari Nabi. Tindakan tersebut hanya didorong oleh emosi keagamaan yang tidak memiliki dalil syar'i dan bukti yang bersumber dari Allah.

Tidaklah berbagai musibah dan bencana besar menimpa kaum Muslimin sepanjang sejarah melainkan disebabkan oleh perilaku-perilaku serampangan semacam itu dan metode-metode yang menyimpang.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda dalam sebuah penjelasan yang tegas dan dapat dipahami oleh setiap orang:

«مَنْ صَلَّى صَلَاتَنَا، وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا، وَأَكَلَ ذَبِيحَتَنَا، فَذَلِكَ الْمُسْلِمُ الَّذِي لَهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ»

"Barang siapa mengerjakan shalat sebagaimana shalat kami, menghadap kiblat kami, dan memakan sembelihan kami, maka dialah seorang Muslim yang mendapatkan jaminan perlindungan Allah dan perlindungan Rasul-Nya."

Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga bersabda:

«الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ»

"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzaliminya, menelantarkannya, ataupun merendahkannya. Setiap Muslim haram bagi Muslim lainnya: darahnya, hartanya, dan kehormatannya."

Wahai kaum Muslimin!

Di antara tanda mendapatkan taufik dan tanda kebahagiaan adalah seorang Muslim menjadi sebab terwujudnya kerukunan, serta menjadi orang yang berusaha menyatukan kalimat dan mempersatukan barisan.

Sebaliknya, di antara tanda kehinaan dan kerugian adalah berusaha melakukan kerusakan di antara kaum Muslimin serta menyebarkan berbagai sebab permusuhan di antara mereka.

Allah Rabb kita عز وجل berfirman:

﴿ لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ﴾

"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang lain) bersedekah, berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia." (QS. An-Nisa': 114).

Allah juga berfirman:

﴿ إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ﴾

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudara kalian." (QS. Al-Hujurat: 10).

Allah juga berfirman:

﴿ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ ﴾

"Dan perbaikilah hubungan di antara sesama kalian." (QS. Al-Anfal: 1).

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

«أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّدَقَةِ وَالصَّلَاةِ؟»

"Maukah aku beritahukan kepada kalian suatu amalan yang lebih utama daripada derajat puasa, sedekah, dan shalat?"

Para sahabat menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah."

Beliau bersabda:

«إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ»

"Memperbaiki hubungan di antara sesama."

Wahai saudara-saudara Islam!

Sesungguhnya Islam, ketika menegaskan pentingnya persaudaraan iman, juga mengharamkan dengan sangat tegas seorang Muslim menyimpan kebencian terhadap orang-orang beriman dan permusuhan terhadap kaum Muslimin. Sebab, hal itu dapat menimbulkan berbagai fitnah yang tidak terhitung jumlahnya.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

«لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا تَقَاطَعُوا»

"Janganlah kalian saling membenci, jangan saling dengki, jangan saling membelakangi, dan jangan saling memutuskan hubungan."

Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga bersabda:

«تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا»

"Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Lalu diampuni setiap hamba yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, kecuali seseorang yang antara dirinya dan saudaranya terdapat permusuhan. Maka dikatakan: Tangguhkanlah pengampunan bagi kedua orang ini sampai mereka berdamai."

Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya bersungguh-sungguh menjaga kebersihan hatinya dari kedengkian dan kebencian terhadap saudara-saudaranya sesama Muslim, betapapun ia berbeda pandangan dengan mereka.

Ia wajib mencintai segala kebaikan, kesalehan, dan kemanfaatan bagi mereka.

Nabi kita صلى الله عليه وسلم bersabda:

«مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ»

"Barang siapa ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, hendaklah kematiannya datang ketika ia beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan hendaklah ia memperlakukan manusia sebagaimana ia ingin diperlakukan oleh mereka."

Semoga Allah memberkahi kita dan kalian melalui apa yang telah kita dengar.

Aku menyampaikan perkataan ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku, untuk kalian, serta untuk seluruh kaum Muslimin dari setiap dosa. Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

### Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan-Nya. Segala syukur hanya bagi-Nya atas taufik dan karunia-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sebagai bentuk pengagungan terhadap keagungan-Nya.

Aku bersaksi bahwa Nabi dan junjungan kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang menyeru manusia menuju keridhaan-Nya.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, keluarga, serta para sahabatnya.

Wahai kaum Muslimin!

Sesungguhnya ibadah haji merupakan suatu kewajiban yang di dalamnya tampak jelas tujuan-tujuan syariat dalam mewujudkan persaudaraan di antara kaum Muslimin dan menyebarkan kasih sayang di antara orang-orang beriman.

Oleh karena itu, manfaatkanlah kesempatan ini, wahai para jamaah haji! Manfaatkanlah kesempatan ini, wahai kaum Muslimin, untuk mewujudkan persaudaraan di antara kalian melalui ibadah yang agung ini.

Seorang jamaah haji hendaknya menampakkan kesungguhannya dalam berhias dengan setiap akhlak yang mulia dan perilaku yang benar ketika melaksanakan ibadah tersebut.

Dari Jabir رضي الله عنه, dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم, beliau bersabda:

«أَفْضَلُ الْإِيمَانِ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: إِيمَانٌ بِاللَّهِ، وَجِهَادٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَحَجٌّ مَبْرُورٌ»

"Amalan iman yang paling utama di sisi Allah عز وجل adalah beriman kepada Allah, berjihad di jalan Allah, dan haji yang mabrur."

Kemudian beliau ditanya tentang haji yang mabrur. Beliau menjawab:

«إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَطِيبُ الْكَلَامِ»

"Memberi makan dan berkata-kata dengan baik."

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dinilai hasan oleh sejumlah ulama.

Dalam khutbah Haji Wada', Nabi صلى الله عليه وسلم mengingatkan kaum Muslimin tentang berbagai tujuan syariat yang agung dan sasaran-sasaran yang besar. Di antara yang terpenting adalah perhatian terhadap perwujudan persaudaraan di antara kaum Muslimin.

Beliau bersabda:

«إِنَّ أَمْوَالَكُمْ وَأَنْفُسَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا»

"Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian haram atas kalian, sebagaimana haramnya hari kalian ini, di negeri kalian ini, dan pada bulan kalian ini."

Dengan demikian, menyakiti seorang Muslim dan membuat seorang mukmin merasa terganggu merupakan perkara besar di sisi Allah عز وجل. Hal tersebut bertentangan dengan tujuan-tujuan ibadah yang agung ini.

Diriwayatkan dalam hadis Anas رضي الله عنه, ia berkata:

Aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

«ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ فَهُوَ مُنَافِقٌ وَإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَحَجَّ وَاعْتَمَرَ وَقَالَ: إِنِّي مُسْلِمٌ؛ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ»

"Ada tiga perkara, barang siapa ketiganya terdapat pada dirinya, maka ia adalah seorang munafik, sekalipun ia berpuasa, mengerjakan shalat, menunaikan haji, melaksanakan umrah, dan mengatakan, 'Sesungguhnya aku seorang Muslim.' Yaitu: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat."

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Ya'la dan dinilai hasan oleh sejumlah ulama ahli tahqiq.

Kemudian, sesungguhnya Allah عز وجل telah memerintahkan kita dengan suatu perkara yang agung, yaitu bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi yang mulia.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, keberkahan, dan karunia kepada Nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabat beliau hingga hari kiamat.

### Doa Penutup

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Ya Allah, jagalah kaum Muslimin di setiap tempat.

Ya Allah, lindungilah mereka dari keburukan diri mereka sendiri dan dari kejahatan amal perbuatan mereka.

Ya Allah, lindungilah mereka dari rencana-rencana jahat musuh-musuh mereka. Ya Allah, lindungilah mereka dari rencana-rencana jahat musuh-musuh mereka.

Ya Allah, wujudkanlah persaudaraan di antara kaum Muslimin. Jadikanlah mereka saudara-saudara yang saling mencintai dan saling bekerja sama dalam kebaikan.

Ya Allah, ampunilah kami dan kaum Muslimin.

Ya Allah, ampunilah kami dan seluruh orang-orang beriman.

Ya Allah, ampunilah kami dan seluruh orang-orang beriman, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

Ya Allah, jagalah para jamaah haji dan orang-orang yang melaksanakan umrah.

Ya Allah, lindungilah mereka dan mudahkanlah pelaksanaan ibadah haji mereka.

Ya Allah, wujudkanlah keamanan, ketenteraman, dan kestabilan bagi mereka serta seluruh orang-orang beriman.

Ya Allah, rahmatilah kaum Muslimin di setiap tempat.

Ya Allah, limpahkanlah kepada mereka rahmat yang dengannya Engkau memperbaiki keadaan mereka.

Ya Allah, limpahkanlah kepada mereka rahmat yang dengannya Engkau memperbaiki keadaan mereka.

Ya Allah, turunkanlah kepada mereka rahmat dari sisi-Mu yang dapat memperbaiki keadaan mereka, menjaga jiwa, harta, dan kehormatan mereka, serta menghancurkan kekuatan musuh mereka, wahai Dzat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada para pemimpin kaum Muslimin agar mereka dapat melakukan apa yang Engkau cintai dan ridhai.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada para pemimpin kaum Muslimin agar mereka dapat melakukan apa yang Engkau cintai dan ridhai.

Ya Allah, ilhamkanlah kepada kami agar senantiasa mensyukuri nikmat-Mu yang Engkau karuniakan kepada kami.

Ya Allah, wujudkanlah keamanan dan keselamatan bagi kami serta seluruh kaum Muslimin.

Ya Allah, wujudkanlah keamanan dan keselamatan bagi kami serta seluruh kaum Muslimin.

Ya Allah, jadikanlah orang-orang terbaik di antara kami sebagai pemimpin kami.

Ya Allah, jadikanlah orang-orang terbaik di antara kami sebagai pemimpin kami.

Ya Allah, jadikanlah orang-orang terbaik di antara kami sebagai pemimpin kami.

Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.

Ya Allah, wujudkanlah bagi kami dan para jamaah haji segala sesuatu yang kami harapkan.

Ya Allah, kembalikanlah para jamaah haji ke rumah-rumah mereka dalam keadaan selamat dan memperoleh keberuntungan, sementara Engkau telah mengampuni dosa-dosa mereka, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Wahai hamba-hamba Allah!

Ingatlah Allah dengan sebanyak-banyaknya zikir, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.

Dan penutup doa kami adalah:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

"Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam."



KEUTAMAAN MEMBANTU DAN KEDERMAWANAN


KEUTAMAAN MEMBERI DAN KEDERMAWANAN


Terjemahan Khutbah Masjid Nabawi 20/3/1434 H



Khatib: Syekh Abdul Bari bin Awwadh ats-Tsubaiti حفظه الله

 Pengantar

Syekh Abdul Bari bin Awwadh ats-Tsubaiti — semoga Allah menjaganya — menyampaikan khutbah Jumat berjudul Keutamaan Memberi dan Kedermawanan. Dalam khutbah ini, beliau membahas keutamaan memberi dan bersikap dermawan. Beliau menjelaskan bahwa manusia yang paling agung dalam memberi adalah Nabi Muhammad ﷺ, dan bahwa kegembiraan beliau ketika memberi lebih besar daripada kegembiraan orang yang menerima pemberian. Beliau juga menyebutkan sejumlah contoh kedermawanan dan infak para sahabat, serta beberapa hadis tentang permohonan Nabi ﷺ kepada Allah agar dilindungi dari kelemahan, sifat kikir, dan ketamakan.



Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah yang berfirman:

﴿ فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ ۝ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ ۝ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ ﴾

“Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkan baginya jalan menuju kemudahan.” (QS. Al-Lail: 5–7).

Aku memuji-Nya, Mahasuci Dia, dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya yang tidak terhitung dan tidak terbilang.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia berfirman:

﴿ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا ﴾

“Dan pemberian Tuhanmu tidaklah terhalang.” (QS. Al-Isra’: 20).

Aku juga bersaksi bahwa junjungan dan Nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya. Rabb beliau berfirman kepadanya:

﴿ وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ ﴾

“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau menjadi puas.” (QS. Ad-Duha: 5).

Semoga Allah melimpahkan selawat kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya.

Amma ba’du.

Aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar senantiasa bertakwa kepada Allah. Allah Ta'ala berfirman:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102).

### 1\. Memberi adalah ibadah dan bentuk syukur atas nikmat Allah

Wahai hamba-hamba Allah!

Memberi merupakan ibadah dan bentuk rasa syukur kepada Allah atas berbagai nikmat-Nya. Rasul kita yang mulia ﷺ telah memberikan teladan paling indah dalam hal memberi. Beliau memberikan segala sesuatu dan dari segala yang dimilikinya, hingga tidak menyisakan apa pun di tangannya dan tidak menahan apa pun dari dirinya.

Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Rasulullah ﷺ tidak pernah dimintai sesuatu pun, lalu beliau menjawab, ‘Tidak.’ Pernah seorang laki-laki meminta kepada beliau kambing yang memenuhi daerah di antara dua gunung, lalu beliau memberikannya kepadanya.”

Demikian besar kemurahan hati beliau, sampai-sampai beliau memberikan pakaian yang sedang dikenakannya di punggungnya.

Di antara bentuk pemberian beliau kepada umatnya ialah beliau mengabdikan seluruh kehidupannya untuk umat, sebagai pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira. Beliau menyeru dengan firman Allah:

﴿ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ ﴾

“Dia tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya azab yang sangat keras.” (QS. Saba’: 46).

Di antara pemberian beliau adalah cinta yang tiada tandingannya kepada umat, serta kasih sayang yang tidak tertandingi oleh siapa pun.

Beliau sering bersabda:

“Seandainya aku tidak khawatir memberatkan umatku, niscaya aku akan memerintahkan mereka …”

Yakni, memerintahkan suatu amalan yang beliau tidak wajibkan kepada mereka karena khawatir akan memberatkan mereka.

Ketika seorang laki-laki bertanya kepada beliau tentang haji, “Apakah wajib setiap tahun, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab:

“Seandainya aku menjawab, ‘Ya,’ niscaya haji itu akan diwajibkan dan kalian tidak akan mampu melaksanakannya.”

Beliau terus berdoa:

“Ya Allah, umatku! Ya Allah, umatku!”

Hingga Rabb beliau berfirman kepadanya:

“Sesungguhnya Kami akan membuatmu rida terhadap umatmu dan tidak akan membuatmu bersedih.”

Di antara limpahan kebaikan dan keberkahan Nabi ﷺ adalah bahwa pemberian dan manfaat beliau terus berlanjut hingga hari kiamat.

Para sahabat dan saudara-saudara beliau kemudian mengikuti jalan yang beliau tempuh. Mereka menimba dari sumber kedermawanan beliau hingga menjadi teladan dan tokoh besar dalam hal memberi.

 2\. Teladan kedermawanan para sahabat

Tentang Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

«مَا نَفَعَنِي مَالٌ قَطُّ مَا نَفَعَنِي مَالُ أَبِي بَكْرٍ»

“Tidak ada harta seseorang yang memberikan manfaat kepadaku sebagaimana manfaat harta Abu Bakar.”

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pun menangis seraya berkata:

“Wahai Rasulullah, bukankah aku dan hartaku hanyalah untukmu?”

Adapun Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau adalah orang yang sangat dermawan. Setiap malam, beliau memperhatikan keadaan seorang perempuan tua yang buta dan lumpuh. Beliau membantu memenuhi kebutuhannya dan membersihkan kotoran dari rumahnya.

Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu juga memberikan salah satu gambaran kedermawanan. Ia datang ke Madinah, dan dalam kurun waktu satu tahun, sebagian besar rumah penduduk Madinah telah dimasuki Islam melalui dakwahnya.

Sa‘ad bin Mu‘adz radhiyallahu ‘anhu berdiri menyampaikan kesiapan kaum Anshar untuk memberikan jiwa dan harta mereka. Ia berkata:

“Wahai Rasulullah! Demi Zat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, seandainya engkau mengajak kami menyeberangi lautan ini lalu engkau menyelaminya, niscaya kami akan menyelaminya bersamamu. Silakan engkau menjalin hubungan dengan siapa pun yang engkau kehendaki dan memutus hubungan dengan siapa pun yang engkau kehendaki. Ambillah dari harta kami apa pun yang engkau kehendaki. Kami tidak merasa keberatan apabila esok hari kami menghadapi musuh. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sabar ketika perang dan jujur ketika berhadapan dengan musuh. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu dari diri kami sesuatu yang menyejukkan pandanganmu.”

Adapun Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bentuk pemberiannya ialah melalui ilmu.

Setelah salat Subuh, beliau duduk di Masjidil Haram lalu berkata, “Mari, datangkan kepadaku orang-orang yang mempelajari Al-Qur’an.”

Mereka pun datang dan membaca Al-Qur’an hingga matahari terbit.

Kemudian beliau berkata, “Silakan pergi. Datangkan kepadaku orang-orang yang mempelajari hadis.”

Mereka pun datang dan mengajukan pertanyaan kepada beliau.

Setelah selesai, beliau berkata, “Silakan pergi. Datangkan kepadaku orang-orang yang mempelajari fikih.”

Setelah itu, beliau mendatangkan ahli tafsir, kemudian ahli bahasa Arab, dan demikian seterusnya.

Beliau juga mendidik murid-muridnya. Dengan demikian, beliau menggabungkan dua bentuk kebaikan dalam pemberiannya: mencurahkan ilmu dan kemurahan tangan.

3\. Memberi dalam berbagai bidang kehidupan

Pemberian yang terus mengalir dalam berbagai bidang telah mengubah arah peristiwa dan menulis ulang sejarah melalui generasi pertama umat ini.

Betapa indah apabila seorang Muslim memiliki sifat suka memberi dan mencintai kebaikan bagi orang lain!

Pemberian yang tulus tidak dibatasi oleh batasan tertentu dan tidak dikekang oleh persyaratan tertentu. Ia merupakan pemberian kepada orang yang engkau cintai maupun orang yang tidak engkau cintai.

Orang-orang yang gemar memberi tidak mengenal kekikiran, ketamakan, dan kebencian.

Apabila engkau memberikan sesuatu kepada orang lain, engkau akan memperoleh keuntungan berlipat ganda dibandingkan dengan apa yang telah engkau berikan.

Pemberianmu akan memasukkan harapan dan kebahagiaan ke dalam hati orang-orang yang pernah merasakan kesedihan dan penderitaan: anak yatim yang kehilangan kasih sayang seorang ayah, serta janda yang kehilangan orang yang menanggung kehidupannya.

Berilah saudara-saudara Muslimmu di mana pun mereka berada. Berilah kerabat dekatmu. Wujudkanlah pemberian di antara suami dan istri melalui cinta, kasih sayang, dan rahmat.

Pintu kedermawanan sangat luas. Di antaranya ialah memaafkan orang yang menzalimimu, berlapang dada terhadap orang yang berbuat buruk kepadamu, menyambung hubungan dengan orang yang memutus hubungan denganmu, mendoakan kaum Muslimin maupun orang-orang non-Muslim, menerima alasan orang yang meminta maaf, serta memaklumi kekeliruan orang-orang yang melakukan kesalahan.

Mengalah dengan melepaskan sebagian hakmu juga merupakan bentuk pemberian.

Memberi juga dapat berupa gagasan bermanfaat yang engkau sumbangkan bagi pekerjaan dan masyarakatmu.

Ada pemberian berupa harta, ilmu, pengetahuan, informasi, dan pengalaman.

Ada pula pemberian berupa pemanfaatan kedudukan dan pengaruh, pemberian waktu, reputasi, serta bantuan melalui perantaraan atau rekomendasi.

Ada pemberian melalui tenaga dan tubuh, seperti memberikan pelayanan, menyingkirkan gangguan dari jalan, serta berjalan untuk memenuhi kebutuhan orang lain.

Ada pula pemberian berupa pengorbanan jiwa di jalan Allah.

Pintu kedermawanan terbuka bagi semua golongan dan lapisan masyarakat. Memberi itu mudah dan sederhana: senyuman, kunjungan, perkataan yang baik, doa, nafkah, atau pelayanan seorang dokter melalui pengobatan.

Lantas, mengapa kita tidak memasuki pintu kedermawanan?

Mengapa kita tidak belajar memberi, kemudian menyirami masyarakat, negeri, dan umat kita dengan kedermawanan itu?

Dengan demikian, kehidupan akan memiliki makna, interaksi akan terasa indah, dan perasaan akan memiliki ruh.

Orang-orang yang merasakan kebahagiaan dalam memberi rela bersusah payah agar orang lain dapat kenyang. Mereka berkorban agar pemberian mereka kelak didapati di hadapan mereka pada hari kiamat sebagai pertolongan dan penopang.

4\. Setiap orang mampu memberi

Tidak ada seorang pun di tengah umat ini yang benar-benar tidak mampu memberi.

Dengan menolak memberi, seseorang membekukan gerak kehidupannya, mengubur potensi dirinya, dan menghancurkan kemampuannya. Perasaannya pun menjadi seperti jasad yang tidak bernyawa.

Setiap orang di antara kita mampu memberi dan melayani umat melalui perkataan maupun perbuatannya.

Karena itu, kita harus menyingkirkan penghalang-penghalang kedermawanan dari diri kita. Penghalang yang paling menonjol ialah kelemahan dan ketidakberdayaan, yang darinya Rasul kita ﷺ memohon perlindungan kepada Allah:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ»

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan ketidakberdayaan.”

Sebab, kelemahan sering kali menjadi penyebab kegagalan dan ketidakberhasilan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ»

“Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa lemah.” (HR. Muslim).

Kelemahan akan mengurangi semangat, menghancurkan cita-cita, dan menghilangkan keinginan untuk memberi. Akibatnya, engkau kehilangan bagian besar dari dirimu dan kemampuanmu untuk memberikan manfaat.

Engkau pun menjadi orang yang seolah-olah telah kehilangan kemampuan, sementara orang yang lemah mencari-cari alasan bagi ketidakberdayaannya dengan alasan-alasan yang rapuh dan dalih-dalih yang tidak berdasar.

Akibat kelemahan yang melemahkan semangat ini, sebagian kaum Muslimin berubah menjadi pihak yang selalu meminta dan mengulurkan tangan ke bawah. Ia terus mengambil dan mengambil tanpa pernah merasa cukup.

Ia menjalani hidup dengan mengasingkan diri secara egoistis. Dirinya kikir, semangatnya lemah, dan matanya selalu tertuju kepada apa yang dimiliki orang lain. Bahkan, sekalipun ia hidup berkecukupan, ia tetap merasakan dirinya miskin dan tidak menyukai pemberian.

“Mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah merasa lemah.”

Artinya: bangkitlah, berdirilah, bersegeralah, dan mulailah bergerak.

Namun, sebelum itu, bersamaan dengannya, dan setelahnya, tetaplah memohon pertolongan kepada Allah. Engkau akan mendapati kebaikan yang terus mengalir, pertolongan yang semakin bertambah, serta taufik dari Rabbmu yang membimbing dan menolongmu.

5\. Dampak kedermawanan bagi individu dan umat

Wahai saudaraku Muslim, kedermawanan memiliki pengaruh terhadap orang yang memberi, masyarakatnya, dan umatnya.

Kedermawanan membangkitkan potensi individu dan umat, membuka cakrawala pembangunan, memperkuat kemuliaan umat, serta menumbuhkan kepercayaan di antara anggota masyarakatnya.

Orang yang dermawan dicintai masyarakatnya, dihormati oleh kaumnya, merasa puas terhadap dirinya sendiri, dan memperoleh keridaan Rabbnya.

Pintu rumah orang yang dermawan akan terus diketuk oleh orang-orang yang membutuhkan. Pemberiannya terus berlanjut dan manfaatnya menjangkau banyak pihak dalam skala yang besar, disertai kehadirannya yang terus memberikan manfaat dan kebaikan yang senantiasa berlangsung.

Ketika kedermawanan demi Allah telah tertanam kuat di dalam hatimu, kebahagiaan yang lahir darinya akan segera tumbuh berlipat ganda.

Sebab, memberi memiliki kenikmatan tersendiri yang bahkan melampaui kenikmatan orang yang menerima pemberian tersebut.

Terlibat dalam amal kebaikan, berkorban, dan membantu orang lain dapat melindungi seseorang dari banyak kesedihan dan kegelisahan yang mungkin menghambat kehidupannya.

Karena itu, masukkanlah dirimu ke dalam golongan orang-orang yang suka memberi. Jadilah pelopor kedermawanan dan termasuk orang-orang yang memiliki tangan di atas.

Barang siapa memberi, Allah akan memberinya. Pemberian Allah adalah limpahan yang tidak terputus dan pertolongan yang tidak berakhir.

Umat kita pada hari ini, dengan berbagai penderitaan yang dialaminya dan kobaran peperangan serta fitnah yang membakarnya, sangat membutuhkan kebangkitan kembali nilai-nilai kedermawanan.

Dengan ilmu, kita mengatasi kebodohan yang telah menyebar.

Dengan infak dan pembangunan, kita mengatasi kemiskinan yang meluas.

Dengan penjaminan dan pemeliharaan, kita mengatasi bertambahnya anak-anak yatim.

Dengan keamanan, kita mengatasi ketakutan yang tersebar.

Dengan perdamaian, kita mengatasi peperangan.

Dengan pengawasan dan integritas, kita mengatasi kerusakan.

Inilah saatnya untuk memberi.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ﴾

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7).

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dengan Al-Qur’an yang agung, serta memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.

Aku menyampaikan perkataanku ini, dan aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung untuk diriku dan untuk kalian. Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.



Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat Islam. Aku memuji-Nya, Mahasuci Dia, dan senantiasa bersyukur kepada-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku mengucapkan persaksian yang dengannya aku berharap memperoleh keamanan di negeri kedamaian, yaitu surga.

Aku juga bersaksi bahwa junjungan dan Nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya, yang menyeru menuju negeri kedamaian, yaitu surga.

Semoga Allah melimpahkan selawat kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya, dengan selawat yang sempurna dan berkesinambungan.

Amma ba’du.

Aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar senantiasa bertakwa kepada Allah.

 1\. Ikhlas dan istiqamah dalam memberi

Agar pemberianmu diterima, bermanfaat, dan terus mengalir, waspadalah terhadap dorongan hawa nafsu, riya, sum‘ah (memperdengarkan amal agar dipuji), dan kemalasan.

Teruslah memberi meskipun sedikit. Amalan yang sedikit tetapi berkesinambungan lebih baik daripada amalan yang banyak tetapi terputus.

Tetesan air yang terus-menerus akhirnya dapat menjadi aliran besar.

Telah sahih bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ»

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling berkesinambungan, meskipun sedikit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

2\. Jangan meremehkan kebaikan sekecil apa pun

Sekalipun pemberian itu sederhana, Allah Tabaraka wa Ta'ala akan memberkahinya dan mengembangkannya. Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.

Pernah ada seorang laki-laki melewati dahan pohon yang berada di tengah jalan. Ia berkata:

“Demi Allah, sungguh aku akan menyingkirkan dahan ini dari jalan kaum Muslimin agar tidak menyakiti mereka.”

Maka ia pun dimasukkan ke dalam surga.

Dalam hadis sahih juga disebutkan bahwa ada seorang perempuan pezina yang memberi minum seekor anjing yang terengah-engah karena kehausan. Maka Allah mengampuninya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ»

“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”



Ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah, bahwa Allah telah memerintahkan kalian untuk berselawat kepada Rasul pembawa petunjuk. Allah berfirman dalam Kitab-Nya:

﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).

Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad.

Ya Allah, rida dan rahmatilah keempat khalifah yang lurus: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Rida dan rahmatilah keluarga beliau serta para sahabat yang mulia, dan sertakanlah kami bersama mereka dengan ampunan, kemurahan, dan kebaikan-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.



Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin, hinakanlah kekufuran dan orang-orang kafir, serta binasakanlah musuh-musuh-Mu, musuh-musuh agama.

Ya Allah, jadikanlah negeri ini aman dan tenteram, demikian pula seluruh negeri kaum Muslimin.



Ya Allah, sesungguhnya telah menimpa saudara-saudara kami di Syam berbagai penderitaan yang Engkau Maha Mengetahui dan Maha Kuasa untuk menghilangkannya.

Ya Allah, singkapkanlah dari mereka bencana dan kesengsaraan yang telah menimpa mereka, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, sesungguhnya mereka tidak beralas kaki, maka berilah mereka alas kaki.

Mereka tidak berpakaian, maka berilah mereka pakaian.

Mereka kelaparan, maka berilah mereka makanan.

Mereka dizalimi, maka tolonglah mereka.

Mereka dizalimi, maka tolonglah mereka.

Mereka dizalimi, maka tolonglah mereka.

Ya Allah, Zat Yang menurunkan Kitab, menggerakkan awan, dan mengalahkan pasukan-pasukan musuh, kalahkanlah musuh mereka dan menangkanlah mereka atas musuh-musuh itu, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, tolonglah mereka dengan segera dan jangan ditunda-tunda.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami di Syam dengan segera dan jangan ditunda-tunda.

Ya Allah, satukanlah barisan mereka, teguhkanlah hati mereka, satukanlah perkataan mereka, tolonglah mereka, dan tepatkanlah bidikan mereka, wahai Rabb seluruh alam.

Wahai Yang Maha Pengasih, wahai Yang Maha Perkasa, wahai Yang Mahakuat, wahai Yang Mahamulia, sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.



Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri, dan kecukupan.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu surga dan segala perkataan serta perbuatan yang mendekatkan kepadanya.

Kami berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala perkataan serta perbuatan yang mendekatkan kepadanya.

Ya Allah, perbaikilah agama kami yang merupakan penjaga urusan kami.

Perbaikilah dunia kami yang di dalamnya terdapat kehidupan kami.

Perbaikilah akhirat kami yang kepadanya kami akan kembali.

Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagi kami dari segala keburukan, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, bantulah kami dan janganlah Engkau membantu pihak yang melawan kami.

Menangkanlah kami dan janganlah Engkau memenangkan pihak yang melawan kami.

Aturlah urusan kami demi kebaikan kami dan janganlah Engkau menjadikan makar terhadap kami.

Berilah kami petunjuk dan mudahkanlah petunjuk itu bagi kami.

Menangkanlah kami atas orang yang melampaui batas terhadap kami.


Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, tunduk kepada-Mu, banyak merintih memohon kepada-Mu, dan selalu kembali bertobat kepada-Mu.

Ya Allah, terimalah tobat kami, bersihkanlah dosa-dosa kami, teguhkanlah hujah kami, luruskanlah lisan kami, dan cabutlah kedengkian serta kebencian yang tersembunyi di dalam hati kami, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon keridaan-Mu dan surga. Kami berlindung kepada-Mu dari kemurkaan-Mu dan neraka.

Ya Allah, hilangkanlah kegelisahan orang-orang Muslim yang sedang dirundung kesusahan.

Lapangkanlah penderitaan orang-orang yang tertimpa kesulitan.

Lunasilah utang orang-orang yang berutang.

Sembuhkanlah orang-orang sakit di antara kami dan seluruh kaum Muslimin, dengan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.


Ya Allah, berilah taufik kepada pemimpin kami menuju perkara-perkara yang Engkau cintai dan Engkau ridai.

Ya Allah, bimbinglah dia menuju petunjuk-Mu dan jadikanlah amalnya berada dalam keridaan-Mu, wahai Rabb seluruh alam.

Kenakanlah kepadanya pakaian kesehatan dan kesejahteraan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Berilah taufik kepada seluruh pemimpin kaum Muslimin agar mengamalkan Kitab-Mu dan menerapkan syariat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.


Allah Ta'ala berfirman:

﴿ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴾

“Wahai Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A‘raf: 23).

Allah Ta'ala juga berfirman:

﴿ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴾

“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201).

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ ﴾

“Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10).

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ﴾

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90).

Maka ingatlah Allah, niscaya Dia akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat itu kepada kalian.

Sungguh, mengingat Allah itu lebih besar keutamaannya. Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.