Rabu, 04 November 2026

KONSEP KEAMANAN DAN KETENTERAMAN


 Konsep Keamanan dan Ketenteraman


 (مفهوم الأمن والأمان)



Khutbah Masjidil Haram

20 Jumadil Akhir 1430 H (20/5/1430 H)


Khatib: Syekh Saud bin Ibrahim asy-Syuraim حفظه الله



KHUTBAH PERTAMA

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan bertobat kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa-jiwa kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim." (QS. Ali Imran: 102).

Allah Ta'ala juga berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan Allah menciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu." (QS. An-Nisa: 1).

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia telah memperoleh kemenangan yang besar." (QS. Al-Ahzab: 70–71).

Amma ba'du.

Wahai sekalian manusia!

Sesungguhnya siapa saja yang meneliti sejarah masa lampau dan masa kini dengan pemahaman yang jernih dan pandangan yang seimbang, serta mengenali keadaan bangsa-bangsa terdahulu dan masyarakat masa sekarang, niscaya tidak akan memiliki keraguan sedikit pun tentang adanya suatu hakikat yang tetap, suatu tujuan yang dicita-citakan oleh setiap masyarakat, dan suatu fondasi yang tidak berubah serta tidak berganti, betapapun zaman terus silih berganti dan angin perjalanan hari-hari yang Allah pergilirkan di antara manusia terus berembus.

Itulah kebutuhan terhadap keamanan dan ketenteraman (الأمن والأمان).

Keamanan yang dengannya makanan dapat dinikmati dengan tenteram, minuman terasa menyenangkan, siang menjadi waktu untuk mencari penghidupan, tidur menjadi waktu istirahat, dan malam menjadi pakaian yang menyelimuti manusia.

Wahai hamba-hamba Allah!

Apabila jaminan-jaminan nyata dan berbagai persiapan menyeluruh untuk menghadapi segala sesuatu yang dapat mengusik ketenangan kehidupan sehari-hari masyarakat Muslim mengalami kerusakan atau tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka ketahuilah bahwa keamanan dan stabilitas kehidupan manusia akan lenyap dan berubah menjadi kebingungan serta kekacauan.

Hal itu disebabkan oleh tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab dan pelanggaran-pelanggaran yang secara jelas tidak dapat diterima terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan keamanan.

Tindakan semacam itu mengancam kestabilan bahtera masyarakat Muslim yang sedang berlayar. Tidak boleh ada toleransi terhadapnya dalam bentuk apa pun, sekalipun berbagai alasan dan dalih dikemukakan untuk membenarkannya. Semua alasan tersebut akan ditolak oleh setiap orang yang akalnya masih sehat dan hatinya tidak kosong dari kebenaran.

Apabila dalam melakukan tindakan-tindakan tersebut terdapat sebagian anggota umat kita sendiri, bahkan orang-orang yang berbicara dengan bahasa kita, maka akibat dari tindakan-tindakan menyimpang itu justru akan menjadi bumerang yang menghancurkan mereka sendiri sebelum menghancurkan orang lain.

Ketika penyakit penyusupan dan tindakan melampaui batas dalam urusan keamanan mulai menjangkiti umat melalui sebagian anggotanya, sesungguhnya mereka sedang menimbun tanah di atas makna stabilitas dan memutus urat-urat kehidupan generasi yang ada sekarang serta harapan-harapan generasi mendatang.

Lebih dari itu, apabila tindakan-tindakan tersebut dijadikan sebagai alasan oleh musuh-musuh Islam dari kalangan orang-orang kafir yang menyimpan kebencian, maka mereka akan menjadikannya sebagai dalih yang dianggap sah menurut pemahaman mereka untuk terus mempersempit ruang gerak kaum Muslimin.

Dengan demikian, pelanggaran-pelanggaran tersebut seakan disuguhkan kepada mereka di atas nampan emas, sehingga mereka dapat menyerbu negeri-negeri kaum Muslimin dengan berbagai tipu daya yang paling sederhana.

Wahai kaum Muslimin!

Dalam kesempatan ini, kita perlu memahami konsep keamanan dengan maknanya yang menyeluruh dan nyata. Jangan sampai konsep tersebut dipersempit atau dipahami secara terbalik mengenai dimensi dan bentuk-bentuknya, ataupun keduanya sekaligus.

Hal itu karena terkadang konsep keamanan hanya dibatasi pada ruang lingkup yang sempit, yaitu sekadar melindungi masyarakat dari pencurian, perampokan, pembunuhan, dan perkara-perkara semisalnya.

Tidak! Sesungguhnya konsep keamanan jauh lebih luas dan lebih agung daripada itu.

Bahkan, konsep keamanan yang pertama dan paling agung adalah ketika masyarakat Muslim berangkat dari penegasan bahwa akidah masyarakat harus diwujudkan melalui persaksian:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ

"Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah."

Hal itu diwujudkan dengan menjauhi kesyirikan kepada Allah dalam uluhiyah-Nya, rububiyah-Nya, serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Juga menjauhi kesyirikan kepada-Nya dalam hukum dan ketetapan-Nya, menjauhi kekafiran terhadap agama Islam dan penyimpangan darinya, serta tidak menyingkirkan syariat Sang Pencipta—Yang Mahamulia kedudukan-Nya—dari realitas kehidupan.

Demikian pula tidak menyandingkan syariat selain syariat Allah dengan syariat-Nya Yang Mahatinggi.

Allah Ta'ala berfirman:

صِبْغَةَ اللّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللّهِ صِبْغَةً

"(Demikianlah) agama Allah. Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada Allah?" (QS. Al-Baqarah: 138).

Allah juga berfirman:

أَفَغَيْرَ دِينِ اللّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

"Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nyalah berserah diri segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan sukarela maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nyalah mereka dikembalikan?" (QS. Ali Imran: 83).

Demikian pula, wahai hamba-hamba Allah, konsep keamanan tidak boleh dipisahkan dari pusat-pusat kekuatan dalam masyarakat Muslim. Jangan sampai kita mengabaikan pengaruh nyata pusat-pusat kekuatan tersebut terhadap keamanan masyarakat, baik pengaruh yang positif maupun negatif.

Di sana terdapat apa yang disebut dengan:

* Keamanan pangan.

* Keamanan kesehatan preventif.

* Ketentuan-ketentuan keamanan dalam bidang solidaritas sosial.

* Penyediaan kesempatan kerja dan lapangan produksi.

* Pemberantasan pengangguran.

* Perhatian terhadap generasi muda dalam segala hal yang bermanfaat dan tidak membahayakan.

Termasuk pula mengatasi sumber pengangguran intelektual dan kekosongan spiritual, apa pun bentuknya, karena kedua hal tersebut dapat menghasilkan berbagai penyimpangan dan kekacauan berupa syubhat maupun syahwat.

Selain itu, perlu pula memahami berbagai aspek keamanan yang bersumber dari kajian terhadap fenomena-fenomena keluarga serta berbagai keretakan dan keguncangan yang menimpa fondasi internalnya.

Kita juga tidak boleh lalai terhadap sesuatu yang menjadi perhatian keamanan setiap masyarakat sekaligus menjadi penentu terbuka atau tertutupnya pintu berbagai bentuk gangguan keamanan.

Itulah yang disebut dengan keamanan pemikiran (الأمن الفكري), yaitu keamanan yang melindungi akal masyarakat dan menjaganya agar tidak terjerumus ke dalam berbagai syubhat karena sikap polos dan tidak kritis, ataupun tenggelam dalam berbagai syahwat dengan penuh keserakahan.

Keamanan jenis ini tidak akan dapat terwujud secara sempurna kecuali dengan memperhatikan dua poros utama:

Pertama: poros pemikiran pendidikan dan pembinaan.

Kedua: poros keamanan media dan kebudayaan.

Umat ini harus menghindari jurang kemerosotan, westernisasi, ketergantungan, dan berbagai bentuk penyimpangan melalui kedua poros tersebut.

Sebab, menjaga keamanan akal tidaklah lebih ringan urgensinya dibandingkan menjaga keamanan jiwa dan harta.

Kita dapat menyaksikan bahwa sebagaimana terdapat pencuri dan pembobol rumah, terdapat pula pencuri dan pembobol akal manusia.

Oleh karena itu, pendidikan di kalangan kaum Muslimin harus dilindungi agar identitasnya tidak disusupi dan dialihkan secara diam-diam.

Pendidikan juga harus dilindungi dengan membangun mekanisme yang efektif untuk menyediakan sarana-sarana ilmu yang bermanfaat, yang mendorong kepada amal saleh.

Hal ini mencakup menjauhkan diri dari ketergantungan yang tercela, tidak meremehkan ilmu-ilmu agama yang bermanfaat, tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang berat bagi jiwa, serta tidak mengakuinya dengan sikap malu-malu dan penuh kekhawatiran.

Sikap seperti itu dapat menimbulkan fitnah yang terus berulang dari waktu ke waktu mengenai sejauh mana manfaat mengambil ilmu-ilmu agama tersebut, seolah-olah mempelajarinya hanyalah sesuatu yang terpaksa dilakukan dan mengkhawatirkan, dengan alasan bahwa ilmu-ilmu tersebut bukan termasuk prioritas kebutuhan pasar kerja.

Padahal, pemikiran pendidikan semestinya memenuhi kebutuhan pasar kerja secara khusus dan kebutuhan pembinaan masyarakat secara umum.

Masyarakat Muslim tidak mungkin terlepas dari kedua kebutuhan tersebut.

Adapun poros pemikiran media, maka ia merupakan pusat kendali kehidupan masyarakat kontemporer dan unsur utama yang memengaruhi masyarakat.

Melalui media, manusia dapat diberi penjelasan dan diarahkan. Melalui media pula manusia dapat ditipu dan diarahkan kepada westernisasi.

Melalui media, persoalan-persoalan kaum Muslimin dapat dilayani dan diperjuangkan. Namun melalui media pula berbagai kebenaran dapat ditutupi dan disia-siakan.

Melalui pemikiran media, dapat diketahui masyarakat yang sungguh-sungguh dan masyarakat yang gemar meremehkan perkara.

Segala bentuk keseimbangan dan kesempurnaan yang terdapat dalam masyarakat merupakan cerminan kesempurnaan dan keseimbangan dalam bangunan keamanan media.

Oleh sebab itu, merupakan kesalahan besar apabila pemikiran media diterjemahkan hanya sebagai sekumpulan film-film rendahan atau lagu-lagu cabul yang tidak mengakui nilai-nilai dan prinsip-prinsip, serta tidak memandang kehidupan sebagai sesuatu yang memiliki gambaran dan hakikat.

Tidak! Ini merupakan kekeliruan dalam memahami sesuatu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

"Barang siapa menipu kami, maka dia bukan termasuk golongan kami."

Demikian pula, setiap orang yang memiliki kemampuan berbicara dengan fasih dan didengar oleh masyarakat, atau memiliki pena yang lancar dan tulisannya dibaca, wajib berbicara mengenai urusan kaum Muslimin dengan penuh kejujuran, realisme, keadilan, dan sikap objektif.

Jangan sampai mereka mudah terprovokasi oleh berbagai peristiwa dan reaksi yang muncul, lalu setan memperdaya mereka sehingga mereka berbicara dengan penuh ketegangan, melontarkan cacian tanpa henti, dan terlibat dalam pertengkaran yang justru menutupi persoalan utama.

Pertengkaran seperti itu terkadang dapat melukai mata, tetapi tidak mampu membunuh musuh.

Allah Ta'ala berfirman:

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

"Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya. Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia akan tetap berada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan." (QS. Ar-Ra'd: 17).

Mengembalikan berbagai persoalan kepada sebab-sebab yang sebenarnya dan menempatkan setiap perkara pada tempatnya semestinya menjadi langkah pertama dalam menyelesaikan berbagai persoalan rumit dan masalah yang meresahkan.

Adapun mengabaikan sebab-sebab dan faktor-faktor yang melatarbelakanginya, atau mengaitkannya dengan sumber yang bukan sebenarnya, tidak akan menambah apa pun selain semakin rumitnya persoalan dan semakin meluasnya keburukan.

Sesungguhnya akal yang sehat akan menganggap bodoh seorang dokter yang mengaitkan penyebab penyakit kanker dengan minum air atau menghirup udara.

Sebab, apa pun hasil diagnosisnya, akibatnya akan menimpa diriku dan dirimu, wahai kaum Muslimin; anakku dan anakmu; putriku dan putrimu; keluargaku dan keluargamu.

Demikian pula, penyelesaian persoalan semacam ini hendaknya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keahlian, yaitu para ulama besar dan orang-orang bijaksana yang terpercaya dalam agama dan amanah mereka.

Hal itu harus dilakukan tanpa membuat kegaduhan, kekacauan, saling menyebarkan kabar yang tidak jelas, prasangka, dan dugaan-dugaan tanpa dasar.

Allah جل وعلا berfirman:

قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ

"Celakalah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan dan kelalaian." (QS. Adz-Dzariyat: 10–11).

Qatadah رحمه الله berkata:

الْخَرَّاصُونَ هُمْ أَهْلُ الْغِرَّةِ وَالظُّنُونِ

"Al-Kharrashun adalah orang-orang yang berada dalam kelalaian dan prasangka-prasangka."

Sesungguhnya membiarkan lisan berbicara tanpa kendali dan membiarkan pena terus mengalir membahas berbagai persoalan pelik serta peristiwa besar tanpa batasan dan kendali, termasuk perkara yang dapat menimbulkan kegaduhan, membangkitkan kebencian dalam dada, dan mengeluarkan masyarakat Muslim dari upaya mendiagnosis peristiwa yang sedang terjadi menuju saling menyerang, perselisihan, dan melampiaskan dendam tersembunyi dalam jiwa.

Setelah itu, janganlah kalian bertanya mengenai usaha pihak-pihak yang meragukan keislaman masyarakat Muslim dan kejernihan sumber ajaran Islam di dalamnya untuk mencari-cari kesalahan, melontarkan sindiran, celaan, dan fitnah melalui adu domba.

Akibatnya, kegaduhan semakin banyak, sedangkan penguasaan ilmu semakin sedikit.

Ketenangan dan keselamatan dari bahaya pun semakin lenyap.

Bahkan, mereka tidak mampu memberikan solusi segera selain dengan mencampuradukkan persoalan, kebodohan, dan penyesatan.

Kemudian, masalah yang ada justru diselesaikan dengan masalah lain yang lebih buruk darinya.

Sebagai contoh:

Seandainya seseorang mencuri di masjid, tentu akan terdengar teriakan sebagian orang yang gemar mencela atau membenci Islam, yang menyerukan agar masjid-masjid ditutup atau dihancurkan demi memutus akar pencurian.

Seandainya seorang perempuan berjilbab melakukan penipuan dan kecurangan, tentu akan terdengar gema seruan untuk menanggalkan jilbab demi menghilangkan sumber penipuan dan kecurangan—demikian menurut anggapan mereka.

Padahal, pada hakikatnya, mereka tidak menyerukan agar tangan pencuri dipotong dan tidak pula menuntut agar perempuan yang menipu dan berbuat curang itu diberikan hukuman yang layak.

Sebaliknya, mereka justru menyerukan penghancuran masjid dan penanggalan jilbab.

Inilah sumber keanehan yang sesungguhnya. Inilah sesuatu yang menimbulkan keterkejutan dan melahirkan sikap berlebih-lebihan serta berbagai reaksi yang tidak terkendali.

Akibatnya, sikap melampaui batas dan sikap meremehkan semakin cepat berkembang dengan mengorbankan sikap moderat yang diharapkan dalam masyarakat Muslim.

Wahai hamba-hamba Allah!

Islam membenci pembicaraan sia-sia yang bertele-tele, yang terkadang secara tersembunyi tidak menimbulkan bahaya yang berarti.

Lantas, bagaimana jika pembicaraan itu benar-benar menimbulkan bahaya yang nyata dan pertikaian yang memecah belah?

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَنَاجَيْتُمْ فَلَا تَتَنَاجَوْا بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُولِ وَتَنَاجَوْا بِالْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan perbuatan dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Akan tetapi, bicarakanlah tentang kebajikan dan ketakwaan. Bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan." (QS. Al-Mujadilah: 9).

Sesungguhnya Islam sangat jelas dalam menentukan sikapnya terhadap kebebasan mengkritik dan berdialog.

Islam tidak memandang bahwa kebebasan tersebut merupakan sesuatu yang terbuka tanpa batas bagi setiap orang.

Islam juga tidak membenarkan seseorang menulis dan berbicara sesuka hatinya, dengan cara apa pun yang dikehendakinya, tanpa terikat oleh ketentuan dan batasan syariat.

Sungguh sangat disayangkan bahwa pemahaman tentang kebebasan berekspresi dan kebebasan berdialog telah tersebar secara terbalik dalam pemikiran sebagian orang yang belum matang dari kalangan penulis dan orang-orang yang pandai berbicara.

Mereka mengira bahwa kebebasan tersebut tidak lebih dari sekadar melepaskan ucapan tanpa pertimbangan dan memenuhi halaman-halaman tulisan dengan berbagai perkataan yang tidak bermutu, yang justru mendatangkan bahaya dan tidak memberikan manfaat.

Sesungguhnya keamanan media dalam masyarakat sangat membutuhkan kajian-kajian luas yang mampu menangkap tujuan yang benar dan penuh kesadaran melalui penelitian terhadap berbagai lapisan masyarakat Muslim.

Kajian tersebut harus menghubungkan keadaan masyarakat dengan latar belakang syariat dan sosial dari kelompok yang menjalankan berbagai aktivitas media yang berpengaruh.

Demikian pula, perlu dilakukan analisis terhadap berbagai tindakan dan reaksi yang muncul dengan mempertimbangkan tuntutan syariat dan tuntutan sosial, serta membandingkannya dengan tuntutan keinginan pribadi yang dikelilingi syubhat atau syahwat.

Juga perlu dikaji pengaruh berbagai keterlibatan tersebut dalam membangkitkan kesadaran keamanan media dan meningkatkan kecukupan produktivitas melalui stabilitas masyarakat.

Stabilitas tersebut pada akhirnya akan kembali memberikan manfaat umum dan ketenangan yang luas bagi keluarga dan individu, baik di dunia maupun di akhirat.

Oleh karena itu, kewajiban kita semua, wahai kaum Muslimin, adalah memandang hakikat keamanan melalui pintu yang paling luas dan jalan yang paling dekat untuk mencapainya.

Kita harus menempatkan setiap persoalan sesuai dengan kedudukannya dalam menghadapi berbagai perkembangan baru.

Janganlah kita melibatkan diri dalam persoalan-persoalan besar yang hanya layak ditangani oleh orang-orang besar yang memiliki kapasitas untuk itu.

Setiap orang hendaknya menjalankan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang Allah berikan kepadanya dalam mengurus kemaslahatan kaum Muslimin, menjaga mereka, serta menegakkan kebenaran dan keadilan terhadap orang-orang yang Allah amanahkan kepadanya.

Maka takutlah kepada Allah! Takutlah kepada Allah!

Janganlah kita memenuhi ruang kehidupan dengan pembicaraan yang berlebihan, kabar yang tidak jelas, dan perkataan yang tidak bermanfaat.

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra': 36).

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian melalui Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat dan hikmah yang terkandung di dalam keduanya.

Apa yang telah aku sampaikan, apabila benar, maka itu berasal dari Allah. Namun, apabila salah, maka itu berasal dari diriku sendiri dan setan.

Aku memohon ampun kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.



 KHUTBAH KEDUA

Segala puji bagi Allah semata, dan semoga shalawat serta salam tercurah kepada orang yang tidak ada nabi setelahnya.

Amma ba'du.

Bertakwalah kepada Allah, wahai kaum Muslimin!

Ketahuilah bahwa terdapat sejumlah perkara yang telah menjadi ketetapan dan prinsip-prinsip mendasar yang harus dipahami oleh masyarakat Muslim secara umum.

Yang aku maksud adalah masyarakat yang menjadikan syariat Allah sebagai tujuan dan cita-citanya.

Penegasan terhadap prinsip-prinsip ini harus terus diulang setiap kali terdapat kesempatan, terlebih ketika berbagai peristiwa besar dan kesulitan melanda.

Di antara prinsip-prinsip tersebut, wahai hamba-hamba Allah, adalah bahwa:

Pertama: Akidah kaum Muslimin berlandaskan tauhid kepada Allah.

Akidah mereka dibangun di atas ketundukan kepada-Nya melalui ketaatan dan pemurnian ibadah dari segala bentuk kesyirikan.

Mustahil ada bentuk keyakinan lain yang dapat mendatangkan keberuntungan apabila menyimpang dari prinsip tersebut.

Allah Ta'ala berfirman:

حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

"Dengan ikhlas beribadah kepada Allah, tanpa mempersekutukan-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh." (QS. Al-Hajj: 31).

Kedua: Syariat Islam merupakan syariat yang tetap dan kokoh.

Syariat Islam sesuai untuk setiap zaman dan tempat. Segala sesuatu harus tunduk kepadanya, sedangkan syariat itu sendiri tidak tunduk kepada segala sesuatu.

Prinsip ini telah berlaku sejak diutusnya Nabi ﷺ hingga hari ini.

Sepanjang perjalanan berabad-abad, kaum Muslimin hidup dalam keadaan silih berganti antara kemenangan yang mereka sikapi dengan kerendahan hati dan kekalahan serta kerugian yang mereka hadapi dengan mengucapkan istirja' dan hauqalah.

Mereka tetap bersabar menghadapi semua keadaan tersebut sampai Allah mendatangkan kemenangan atau keputusan-Nya.

Sementara itu, syariat mereka tetap ada, tidak berubah dan tidak berganti.

Ketiga: Umat Islam tidak akan pernah dapat terlepas dari kebutuhan terhadap para ulama rabbani dan para dai yang jujur.

Betapapun tinggi tingkat persenjataan militer, kemajuan revolusi industri, dan perkembangan globalisasi peradaban yang dicapai umat Islam, mereka tetap tidak dapat terlepas dari kebutuhan terhadap para ulama rabbani dan para dai yang tulus.

Merekalah orang-orang yang hati manusia berkumpul di sekelilingnya dan jiwa-jiwa menjadi bersatu karena mereka.

Mereka berangkat dari pemahaman yang benar dan kokoh terhadap Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ.

Mereka adalah bintang-bintang yang bercahaya terang dan rembulan-rembulan yang menerangi.

Seandainya bukan karena mereka, setelah pertolongan Allah, niscaya bumi akan berguncang bersama para penghuninya.

Namun, keberadaan mereka di tengah umat ibarat pasak-pasak dan gunung-gunung penyangga.

Mereka merupakan bekal utama umat dalam menghadapi pemikiran ateisme yang menyimpang dan berbagai seruan menyesatkan yang membabi buta.

Mereka juga merupakan bekal umat untuk mengendalikan sikap ekstrem dan membangkitkan semangat orang-orang yang bersikap berlebihan dalam meremehkan agama.

Para ulama dan dai tidak akan mampu menjalankan tugas ini apabila kepercayaan terhadap mereka hilang atau masyarakat tidak lagi menghormati dan membanggakan keberadaan mereka.

Sebab, tidak ada kemuliaan bagi suatu masyarakat kecuali dengan menisbatkan dirinya kepada Islam dan berpegang teguh kepada para ulama yang memiliki akal yang matang, kejujuran, dan amanah.

Kemudian, bershalawatlah kalian—semoga Allah merahmati kalian—kepada manusia terbaik dan makhluk paling suci, yaitu Muhammad bin Abdullah, pemilik telaga (Al-Haudh) dan pemberi syafaat.

Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian dengan suatu perintah yang Dia awali dengan menyebut diri-Nya sendiri, kemudian menyebut para malaikat-Nya yang senantiasa bertasbih menyucikan-Nya, lalu memerintahkan kalian, wahai orang-orang beriman, untuk melaksanakannya.

Allah جل وعلا berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56).

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

"Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali."

Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, pemilik wajah yang paling bercahaya dan dahi yang paling bersinar.

Ya Allah, ridhailah empat khalifah beliau: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Ridhailah pula seluruh sahabat Nabi-Mu Muhammad ﷺ, para tabi'in, para pengikut tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat.

Dan ridhailah pula kami bersama mereka dengan ampunan, kemurahan, dan karunia-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik.

Ya Allah, tolonglah agama-Mu, Kitab-Mu, Sunnah Nabi-Mu, dan hamba-hamba-Mu yang beriman.

Ya Allah, lapangkanlah kesedihan orang-orang Muslim yang sedang bersedih.

Hilangkanlah kesusahan orang-orang yang sedang mengalami kesulitan.

Lunasilah utang orang-orang yang terlilit utang.

Sembuhkanlah orang-orang yang sakit di antara kami dan seluruh kaum Muslimin.

Ya Allah, anugerahkanlah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami.

Perbaikilah para pemimpin kami dan para pemegang urusan kami.

Jadikanlah kepemimpinan kami berada di tangan orang-orang yang takut kepada-Mu, bertakwa kepada-Mu, dan mengikuti keridaan-Mu, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami agar dapat melakukan perkataan dan perbuatan yang Engkau cintai dan Engkau ridhai, wahai Zat Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.

Ya Allah, perbaikilah orang-orang dekat dan para penasihatnya, wahai Zat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.

Ya Allah, segala kebaikan yang kami minta kepada-Mu, maka karuniakanlah kepada kami.

Segala kebaikan yang tidak kami minta, maka mulailah dengan menganugerahkannya kepada kami.

Dan segala kebaikan yang belum mampu dijangkau oleh harapan-harapan kami, maka sampaikanlah kami kepadanya.

Allah Ta'ala berfirman:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Wahai Tuhan kami! Berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Al-Baqarah: 201).

Mahasuci Rabb kami, Rabb Yang memiliki keperkasaan, dari segala yang mereka sifatkan kepada-Nya.

Dan keselamatan semoga tercurah kepada para rasul.

Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.





 Catatan pokok kandungan khutbah : 

Khutbah Syekh Saud asy-Syuraim ini menegaskan bahwa keamanan dalam Islam bukan sekadar bebas dari pencurian, pembunuhan, dan gangguan kriminalitas. Keamanan memiliki cakupan yang jauh lebih luas.

Di antara pokok-pokok penting yang ditekankan:

* Keamanan akidah: menjaga tauhid dan memurnikan ibadah kepada Allah dari kesyirikan.

* Keamanan syariat: menjadikan syariat Allah sebagai pedoman kehidupan.

* Keamanan jiwa dan harta: menjaga masyarakat dari kejahatan dan tindakan yang merusak stabilitas.

* Keamanan pangan dan kesehatan: menjamin kebutuhan pokok masyarakat.

* Keamanan sosial dan ekonomi: mengatasi pengangguran serta menyediakan lapangan kerja.

* Keamanan keluarga: memperhatikan keretakan dan berbagai persoalan dalam kehidupan rumah tangga.

* Keamanan pemikiran: melindungi akal dari syubhat dan syahwat yang menyesatkan.

* Keamanan pendidikan dan media: membangun pendidikan yang bermanfaat serta media yang jujur, adil, dan bertanggung jawab.

* Menjaga persatuan: tidak menyebarkan kegaduhan, prasangka, dan pertikaian dalam menghadapi persoalan umat.

* Menghormati ulama: mengembalikan persoalan besar kepada ulama dan orang-orang yang memiliki keahlian serta amanah.

Pesan utama khutbah: Keamanan merupakan nikmat besar yang harus dijaga melalui tauhid, penerapan syariat, ilmu, keadilan, tanggung jawab, persatuan, dan kebijaksanaan dalam menyikapi berbagai persoalan umat.

TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN


 “Setiap Kalian Adalah Pemimpin dan Setiap Kalian Akan Dimintai Pertanggungjawaban atas Kepemimpinannya”


Khutbah Masjidil Haram, 19 Rabiul Akhir 1429 H



Khatib: Syekh Dr. Usamah bin Abdullah Khayyath حفظه الله



Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, dan memohon ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa junjungan dan Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Amma ba'du:

Bertakwalah kalian kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah!

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

﴿وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ﴾

"Dan takutlah kalian terhadap suatu hari ketika kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak dizalimi sedikit pun."

(QS. Al-Baqarah: 281).

Wahai kaum muslimin!

Dalam menjelaskan tanggung jawab yang wajib dan harus ditunaikan oleh setiap individu dalam masyarakat muslim, disebutkan laki-laki dan perempuan sebagai bagian dari orang-orang yang memikul tanggung jawab. Mereka tidak memiliki jalan lain kecuali melaksanakan tanggung jawab tersebut, menunaikannya sebagaimana mestinya, serta menjaganya dengan sebaik-baiknya.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dalam kedua kitab Shahih mereka. Lafaz hadis ini berdasarkan riwayat Al-Bukhari, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata:

Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Seorang imam (pemimpin pemerintahan) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya.

Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya.

Seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya.

Seorang pelayan adalah pemimpin atas harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang berada di bawah pengurusannya.

Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya."

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

### Tanggung jawab seorang laki-laki terhadap keluarganya

Adapun tanggung jawab seorang laki-laki terhadap keluarganya tercermin dalam kesungguhannya melaksanakan segala sesuatu yang dapat memperbaiki urusan agama dan dunia mereka.

Dengan demikian, mereka dapat memperoleh kemenangan dan kebahagiaan di dunia, serta keberuntungan dan keselamatan di akhirat.

Perbaikan agama menuntut seorang laki-laki untuk meluruskan mereka, membina akhlak mereka, mengajari mereka, memerintahkan mereka kepada kebaikan, melarang mereka dari kemungkaran, serta mengambil tindakan terhadap mereka apabila menyimpang dari jalan yang lurus, meninggalkan jalan kebenaran, dan berpaling dari jalan yang benar.

Di antara perkara yang paling penting dan paling ditekankan dalam tanggung jawab tersebut adalah memerintahkan keluarga untuk mendirikan salat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengarahkan perintah tersebut melalui firman-Nya:

﴿وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ﴾

"Dan perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan salat dan bersabarlah dengan tekun dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberikan rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa."

(QS. Thaha: 132).

Wahai hamba-hamba Allah!

Perintah kepada keluarga untuk melaksanakan salat dalam ayat tersebut bukanlah sekadar perintah yang berdiri sendiri. Akan tetapi, perintah itu merupakan dorongan dan motivasi untuk melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi seluruh larangan yang menjadi penopang kebaikan urusan keluarga dan anak-anak, meluruskan keadaan mereka, serta memperbaiki kehidupan mereka.

Sebab, tidaklah pantas menurut orang-orang yang memiliki akal sehat apabila seseorang memerintahkan keluarganya untuk salat, tetapi pada saat yang sama dia mengabaikan pembinaan mereka dalam segala perkara yang dapat memperbaiki keadaan mereka, meluruskan kehidupan mereka, dan menjadikan kehidupan mereka baik dan menyenangkan.

Hal itu bertujuan agar mereka terlindungi dari keterjerumusan ke dalam berbagai jalan yang menyimpang, serta terjaga dari sebab-sebab kegagalan, keterpurukan ke dalam jurang keburukan, dan berbagai tingkatan kehinaan.

Dengan demikian, di akhirat kelak mereka terlindungi dari akibat buruk berupa kesia-siaan usaha, kesudahan yang buruk, dan tempat kembali yang hina.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ﴾

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."

(QS. At-Tahrim: 6).

Bagaimana mungkin seorang ayah dapat menikmati kehidupannya dengan tenang atau merasa nyaman tinggal di rumahnya, sementara ancaman yang begitu keras ini terus bergema di telinganya, dan kesudahan yang sangat buruk serta akibat yang menyakitkan telah menanti anak-anaknya, ketika dia membiarkan mereka begitu saja tanpa pengawasan?

Mereka dibiarkan melakukan apa saja yang mereka kehendaki tanpa pengendali dan tanpa pencegah.

Mereka bebas berteman dengan siapa pun yang mereka inginkan tanpa seleksi dan pemeriksaan.

Mereka menghabiskan waktu dan berjam-jam lamanya di dalam kamar-kamar tertutup, tanpa diketahui situs-situs apa saja yang mereka kunjungi di jaringan internet.

Tidak diketahui pula siapa saja orang yang mereka ajak berbicara melalui ruang-ruang percakapan yang dikenal dengan istilah chat.

Tidak diketahui pembicaraan apa yang mereka lakukan, maupun video, gambar, dan berbagai tayangan apa yang mereka kirimkan atau terima melalui telepon genggam mereka dengan menggunakan layanan yang disebut Bluetooth.

Semua itu terjadi karena orang tua terlalu berlebihan dalam memanjakan anak-anak, tunduk kepada keinginan mereka yang tidak terkendali dan tuntutan mereka yang ceroboh, atau karena mengikuti jalan kebebasan yang tidak memiliki batas dan tidak bertanggung jawab, serta jauh dari segala bentuk pengawasan dan pengarahan yang bijaksana, penuh kesadaran, dan seimbang.

Wahai hamba-hamba Allah!

Cara seperti itu bukanlah jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang memiliki kecerdasan dan akal sehat. Bukan pula jalan orang-orang yang memahami tanggung jawab mereka di hadapan Allah, Rabb mereka, dengan pemahaman yang benar.

Sebab, pemimpin dalam keluarga tersebut telah menyia-nyiakan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Dia justru membuka jalan bagi penyimpangan dalam agama Allah melalui perbuatan yang dilakukan oleh anak-anaknya sendiri.

Akibatnya, Allah akan meminta pertanggungjawabannya atas dosa dan perbuatan mereka. Dan Rabbmu tidak akan menzalimi seorang pun.

Kemudian, dia juga memiliki tanggung jawab di hadapan masyarakatnya, karena dirinya merupakan salah satu anggota masyarakat tersebut.

Sudah menjadi kewajibannya untuk turut berkontribusi dalam membangun masyarakat dengan menghadirkan anak-anak yang dapat memperkuat dan memajukannya, bukan justru menjadikan mereka sebagai alat penghancur, faktor kemunduran, penyebab kelemahan, dan sebab kerusakan di tengah masyarakat.

### Tanggung jawab seorang perempuan terhadap rumah tangga dan anak-anaknya

Adapun tanggung jawab seorang perempuan yang dimaksudkan oleh Nabi ﷺ dalam sabda beliau:

«وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا»

"Seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya."

Maka tanggung jawab tersebut adalah menjaga rumah suaminya dan anak-anaknya dalam seluruh makna pemeliharaan dan penjagaan.

Hal yang paling utama dalam tanggung jawab tersebut adalah mendidik anak-anak dengan baik, serta memberikan perhatian sepenuhnya untuk membina mereka agar tumbuh di atas segala bentuk kebaikan, baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Dia tidak boleh menutupi atau membela kesalahan anak-anaknya apabila mereka menyimpang dari petunjuk dan mengikuti hawa nafsu.

Bahkan, merupakan kewajibannya untuk menjaga mereka dari berbagai keburukan dan perkara yang membinasakan, mengendalikan gejolak jiwa mereka, serta memberitahukan kepada orang yang bertanggung jawab atas urusan mereka, atau orang yang diharapkan dapat membantunya, mengenai berbagai kecenderungan buruk dan pelanggaran yang dia lihat pada diri mereka.

Dengan demikian, berbagai kekurangan yang telah terjadi masih dapat diperbaiki, kerusakan yang ada dapat ditangani, dan anak-anak dapat dikembalikan kepada jalan yang lurus melalui segala cara yang dibenarkan oleh syariat.

Bahkan, hal itu boleh mencakup sedikit ketegasan dan kekerasan dalam mendidik, karena ketegasan tersebut termasuk bagian dari sikap tegas dan bijaksana yang diharapkan dapat menghasilkan kesudahan yang baik, berupa lurusnya keadaan dan baiknya akhir kehidupan mereka.

Wahai hamba-hamba Allah!

Semua perkara tersebut merupakan bagian dari kebaikan dan jasa orang tua yang terkadang dilupakan oleh anak-anak ketika mereka telah mencapai usia dewasa dan matang.

Padahal, Allah telah mengarahkan anak-anak agar mengingat kebaikan kedua orang tua dan membalas jasa mereka dengan mendoakan keduanya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

﴿وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا﴾

"Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, 'Wahai Rabbku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.'"

(QS. Al-Isra': 24).

Akan tetapi, apabila kedua orang tua telah mengerahkan seluruh kemampuan mereka dalam meluruskan anak-anaknya, mengikhlaskan amal mereka, memberikan nasihat dengan tulus, mendidik dengan baik, dan bersabar menghadapi berbagai kesulitan, tetapi kemudian anak tersebut dikuasai oleh kesengsaraan dan keburukan dirinya, sehingga dia mengikuti hawa nafsunya serta terus berjalan di jalan kesesatan dan berbagai jalan kerugian, maka kedua orang tua tersebut tidaklah tercela dan tidak perlu menyesali diri mereka.

Dalam keadaan seperti itu, mereka memiliki teladan penghibur yang sangat indah pada diri Nabi Allah, Nuh 'alaihissalam, mengenai apa yang terjadi antara beliau dan anaknya.

Ketika Nabi Nuh memerintahkan anaknya agar naik bersama beliau ke dalam kapal keselamatan, anaknya justru menjawab dengan perkataan yang telah Allah kisahkan kepada kita:

﴿قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ﴾

"Dia (anaknya) menjawab, 'Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air bah.'

Nuh berkata, 'Tidak ada yang dapat melindungi pada hari ini dari ketetapan Allah selain orang yang dirahmati-Nya.'

Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan."

(QS. Hud: 43).

Maka bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah!

Berusahalah untuk menunaikan tanggung jawab yang telah dipercayakan kepada kalian.

Berhati-hatilah, jangan sampai kalian menyia-nyiakan orang-orang yang telah Allah amanahkan kepada kalian urusan mereka, baik keluarga maupun anak-anak kalian.

Sesungguhnya semua itu merupakan amanah yang akan ditanyakan kepada kita semua di hadapan Allah ketika kita berjumpa dengan-Nya.

Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan pula kalian mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada kalian, padahal kalian mengetahui."

(QS. Al-Anfal: 27).

Semoga Allah memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui petunjuk Kitab-Nya dan sunah Nabi-Nya ﷺ.

Aku cukupkan perkataanku sampai di sini. Aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia untuk diriku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum muslimin dari setiap dosa.

Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

### Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah, Dzat Yang Mahaluas pemberian dan kemurahan-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Dan aku bersaksi bahwa junjungan kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, pemilik kedudukan yang terpuji (Al-Maqam Al-Mahmud) dan telaga yang akan didatangi (pada hari kiamat).

Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Amma ba'du:

Wahai hamba-hamba Allah!

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dalam kedua kitab Shahih mereka, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ» وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا

"Sesungguhnya pada hari Jumat terdapat suatu waktu yang apabila seorang hamba muslim mendapatinya dalam keadaan berdiri melaksanakan salat, lalu memohon sesuatu kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan apa yang dia minta."

Beliau kemudian memberi isyarat dengan tangannya untuk menunjukkan bahwa waktu tersebut sangat singkat.

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah, marilah kita memanfaatkan kesempatan pada waktu yang penuh berkah di hari ini untuk memohon kepada Allah segala kebaikan dunia dan akhirat.

Di antara perkara yang kita mohon kepada Allah adalah agar Dia memperbaiki keadaan anak-anak kita.

Sebab, hal tersebut merupakan konsekuensi dari tanggung jawab kita terhadap mereka dan termasuk tuntutan dari kewajiban memimpin, memelihara, dan memberikan perhatian kepada mereka.

Wahai saudara-saudaraku!

Aku juga mengingatkan kalian bahwa telah dikeluarkan perintah dari pemimpin negeri ini untuk melaksanakan salat istisqa (salat meminta hujan) pada hari Senin mendatang.

Oleh karena itu, aku menganjurkan setiap orang yang mampu agar melaksanakan salat tersebut, sebagai bentuk mengamalkan sunah Rasulullah ﷺ dan mengharapkan pahala dari Allah.

Semoga Allah menurunkan hujan kepada negeri dan seluruh hamba-Nya, serta menjadikannya hujan yang mencukupi kebutuhan orang-orang yang hadir maupun yang tidak hadir.

Ingatlah selalu bahwa Allah Ta'ala telah memerintahkan kalian untuk berselawat dan mengucapkan salam kepada penutup para nabi, pemimpin para rasul, dan rahmat bagi seluruh alam.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Kitab-Nya yang terang:

﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

(QS. Al-Ahzab: 56).

Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad.

Ya Allah, ridhailah empat khalifah beliau: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Ridhailah pula seluruh keluarga beliau, para sahabat, para tabiin, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Dan ridhailah pula kami bersama mereka, dengan ampunan, kemurahan, dan kebaikan-Mu, wahai Dzat Yang Paling Mulia di antara semua yang mulia.

### Doa khutbah

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin.

Lindungilah wilayah dan kehormatan agama ini. Hancurkanlah musuh-musuh agama, seluruh orang-orang zalim, para penguasa yang melampaui batas, dan para pelaku kerusakan.

Satukanlah hati kaum muslimin, persatukanlah barisan mereka, perbaikilah para pemimpin mereka, dan himpunkanlah mereka di atas kebenaran, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, tolonglah agama-Mu, Kitab-Mu, sunah Nabi-Mu Muhammad ﷺ, dan hamba-hamba-Mu yang beriman, yang berjihad, dan yang senantiasa jujur.

Ya Allah, berikanlah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami.

Perbaikilah para imam dan para pemegang urusan kami.

Kuatkanlah pemimpin kami dan pemegang urusan negeri kami dengan kebenaran.

Karuniakanlah kepadanya para pembantu dan penasihat yang saleh.

Berikanlah taufik kepadanya untuk melakukan segala sesuatu yang Engkau cintai dan ridhai, wahai Dzat Yang Maha Mendengar doa.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami dan putra mahkotanya untuk melakukan segala sesuatu yang mengandung kebaikan bagi Islam dan kaum muslimin, wahai Rabb semesta alam.

Berikanlah taufik kepada mereka untuk melakukan segala sesuatu yang membawa kemaslahatan bagi para hamba dan negeri-negeri.

Wahai Dzat yang kepada-Nya seluruh makhluk akan kembali pada hari ketika mereka dipanggil untuk menghadap.

Ya Allah, jadikanlah kesudahan kami dalam seluruh urusan sebagai kesudahan yang baik.

Lindungilah kami dari kehinaan di dunia dan azab di akhirat.

Ya Allah, perbaikilah agama kami yang menjadi penjaga seluruh urusan kami.

Perbaikilah dunia kami yang menjadi tempat kehidupan dan penghidupan kami.

Perbaikilah akhirat kami yang merupakan tempat kembali kami.

Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai waktu istirahat bagi kami dari segala keburukan.

Ya Allah, sembuhkanlah orang-orang sakit di antara kami.

Rahmatilah orang-orang yang telah meninggal dunia di antara kami.

Sampaikanlah kepada kami segala cita-cita dan harapan kami yang Engkau ridhai.

Akhirilah seluruh amal perbuatan kami dengan amal-amal saleh.

Wahai Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.

Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.

### Penutup khutbah

Wahai hamba-hamba Allah!

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dan Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran."

(QS. An-Nahl: 90).

Maka ingatlah Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia, niscaya Dia akan mengingat kalian.

Bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat-Nya kepada kalian.

Dan sungguh, mengingat Allah itu lebih besar keutamaannya. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.





 khutbah Syekh Dr. Usamah bin Abdullah Khayyath, Masjidil Haram, 19 Rabiul Akhir 1429 H.

Selasa, 03 November 2026

TUGAS PARA NABI


Tugas Para Nabi – Semoga Selawat dan Salam Allah Tercurah kepada Mereka


Terjemahan Khutbah Masjid Nabawi 5/4/1429 H


Khatib: Syekh Abdul Muhsin bin Muhammad al-Qasim حفظه الله

Tanggal penambahan: 19 April 2008 M / 14 Rabiul Akhir 1429 H.




 KHUTBAH PERTAMA

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga selawat dan salam yang berlimpah tercurah kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya.

Amma ba'du.

Bertakwalah kalian kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah, dengan sebenar-benar ketakwaan. Dan berpegang teguhlah kepada Islam dengan tali yang paling kuat.

Wahai kaum muslimin!

Dahulu manusia merupakan satu umat yang berada di atas fitrah yang lurus. Kemudian setan-setan menyelewengkan orang-orang yang menyimpang dari jalan yang lurus tersebut. Maka Allah mengutus para nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.

Setan senantiasa menyertai manusia, membisikkan godaan kepadanya dan menyesatkannya. Di antara bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya ialah Dia menjadikan bagi manusia para penolong dari kalangan sesama manusia, yang mengajak mereka kepada kebaikan serta memperingatkan mereka dari berbagai fitnah dan mengikuti hawa nafsu. Mereka adalah para rasul dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

﴿إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ أَنْ أَنذِرْ قَوْمَكَ﴾

"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah): Berilah peringatan kepada kaummu." (QS. Nuh: 1).

Allah عز وجل juga berfirman:

﴿وَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنذَرَ قَوْمَهُ بِالْأَحْقَافِ﴾

"Dan ingatlah saudara kaum 'Ad, ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al-Ahqaf." (QS. Al-Ahqaf: 21).

Nabi Syuaib عليه السلام berkata:

﴿وَيَا قَوْمِ أَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ﴾

"Wahai kaumku! Sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil." (QS. Hud: 85).

Allah berfirman kepada Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم:

﴿يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ۝ قُمْ فَأَنذِرْ﴾

"Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan!" (QS. Al-Muddatstsir: 1–2).

Di antara sifat Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم yang disebutkan dalam Kitabullah ialah bahwa beliau memerintahkan kepada perkara yang makruf dan melarang dari perkara yang mungkar.

Allah عز وجل memuji beliau dengan firman-Nya:

﴿يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ﴾

"Dia menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar." (QS. Al-A'raf: 157).

Amar makruf dan nahi mungkar merupakan salah satu sendi agama. Inilah tugas yang karenanya Allah mengutus para nabi dan rasul.

Bahkan Allah mendahulukan penyebutannya dalam beberapa ayat sebelum iman kepada Allah, padahal amar makruf dan nahi mungkar merupakan bagian dari keimanan itu sendiri.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

﴿كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ﴾

"Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali Imran: 110).

Allah سبحانه وتعالى juga menyebutkannya sebelum salat dan zakat. Allah berfirman:

﴿وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ﴾

"Orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan salat, menunaikan zakat." (QS. At-Taubah: 71).

Ibnu al-'Arabi رحمه الله berkata:

"Amar makruf dan nahi mungkar merupakan pokok dalam agama dan salah satu pilar utama kaum muslimin. Keduanya merupakan kewajiban atas seluruh manusia, baik secara bersama-sama maupun secara individu."

Umat ini tidak akan memperoleh keberuntungan kecuali dengan menegakkannya.

Allah جل شأنه berfirman:

﴿وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾

"Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran: 104).

Allah bersumpah bahwa manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kebalikannya.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

﴿وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ﴾

"Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati untuk menaati kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran." (QS. Al-'Ashr: 1–3).

Firman Allah, 'saling menasihati untuk menaati kebenaran', maksudnya adalah saling memerintahkan kepada kebaikan dan saling melarang dari kemungkaran.

Amar makruf dan nahi mungkar merupakan salah satu prinsip pokok Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka meyakini pensyariatannya dengan hati, mengakuinya dengan lisan, dan melaksanakannya dengan anggota badan sesuai kemampuan mereka.

Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:

"Kemudian, di samping prinsip-prinsip tersebut, mereka—yakni Ahlus Sunnah—juga memerintahkan kepada perkara yang makruf dan melarang dari perkara yang mungkar. Mereka beragama dengan memberikan nasihat kepada umat, serta meyakini makna sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:

'Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.'"

Syekh Muhammad bin Ibrahim رحمه الله berkata:

"Apabila pengamalan terhadap konsekuensi dari apa yang mereka yakini tidak terlaksana, hal itu menunjukkan tidak sempurnanya keyakinan tersebut. Dan apabila pengamalannya melemah, hal itu menunjukkan lemahnya keyakinan."

Para sahabat رضي الله عنهم dahulu berbaiat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم.

Jarir bin Abdullah رضي الله عنه berkata:

"Aku berbaiat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم untuk menegakkan salat, menunaikan zakat, dan memberikan nasihat kepada setiap muslim."

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Menegakkan amar makruf dan nahi mungkar juga termasuk bentuk syukur atas nikmat Allah yang diberikan kepada para hamba.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

﴿الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ﴾

"(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar." (QS. Al-Hajj: 41).

Amar makruf dan nahi mungkar juga termasuk sebab penghapusan dosa-dosa dan kesalahan.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ وَدَارِهِ، يُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصَّوْمُ وَالصَّدَقَةُ، وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ»

"Fitnah (ujian berupa kesibukan dan kekurangan) seseorang pada keluarga, harta, anak, dan tempat tinggalnya dapat dihapuskan oleh salat, puasa, sedekah, serta amar makruf dan nahi mungkar."

(Muttafaq 'alaih).

Amar makruf dan nahi mungkar juga merupakan salah satu bentuk sedekah.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ»

"Memerintahkan kepada perkara yang makruf adalah sedekah, dan melarang dari perkara yang mungkar adalah sedekah."

Nabi صلى الله عليه وسلم memerintahkan orang-orang yang duduk di jalan agar tetap melaksanakan ibadah tersebut meskipun mereka sedang berada dalam keadaan duduk di jalan.

Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda:

«إِذَا أَتَيْتُمْ إِلَى الْمَجَالِسِ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا»

"Apabila kalian duduk di tempat-tempat berkumpul, maka berikanlah hak jalan."

Para sahabat bertanya:

"Apakah hak jalan itu, wahai Rasulullah?"

Beliau menjawab:

«غَضُّ الْبَصَرِ، وَكَفُّ الْأَذَى، وَرَدُّ السَّلَامِ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ»

"Menundukkan pandangan, menahan diri dari mengganggu orang lain, menjawab salam, memerintahkan kepada perkara yang makruf, dan melarang dari perkara yang mungkar."

(Muttafaq 'alaih).

Kewajiban hisbah (amar makruf dan nahi mungkar) bukanlah sesuatu yang khusus bagi kelompok tertentu dengan mengesampingkan kelompok lainnya. Bahkan setiap individu yang mukalaf berkewajiban melaksanakan ketaatan tersebut, baik laki-laki maupun perempuan.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ»

"Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, hendaklah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman."

(HR. Muslim).

Ibnu 'Athiyyah رحمه الله berkata:

"Telah terwujud kesepakatan bahwa mencegah kemungkaran merupakan kewajiban bagi orang yang mampu melaksanakannya. Hal itu merupakan bukti kesempurnaan iman dan kebaikan Islam, salah satu makna kebaikan dan kecintaan terhadap umat, serta salah satu sebab diperolehnya rahmat Allah bagi para hamba.

Hal itu juga merupakan tanda bersatunya masyarakat, saling menguatkan, dan tercapainya kebahagiaan mereka. Kebaikan senantiasa ada di tengah-tengah manusia. Fitrah manusia telah diciptakan untuk mencintai kebaikan dan mencintai orang yang mengajak mereka kepadanya."

Maka janganlah engkau bermalas-malasan, wahai laki-laki muslim dan perempuan muslimah, dalam melaksanakan ibadah tersebut, mengajak orang lain, bersabar menghadapi mereka, serta bersikap santun kepada mereka.

Sesungguhnya hati manusia sering kali lalai dari kebaikan. Pahala diberikan sesuai dengan kadar keikhlasan dan kesungguhan seseorang. Waspadalah terhadap rasa bosan, dan ulangilah nasihat demi nasihat berikutnya dengan penuh hikmah.

Nabi Nuh عليه السلام tinggal bersama kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Beliau menyeru mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, pada malam dan siang hari.

Imam an-Nawawi رحمه الله berkata:

"Kewajiban amar makruf dan nahi mungkar tidak gugur dari seorang mukalaf hanya karena berdasarkan dugaan kuatnya, apabila ia meninggalkannya, doa kaum muslimin tidak akan dikabulkan dari langit."

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ، ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ»

"Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Sungguh, kalian benar-benar harus memerintahkan kepada perkara yang makruf dan melarang dari perkara yang mungkar. Jika tidak, hampir saja Allah mengirimkan hukuman dari sisi-Nya kepada kalian. Kemudian kalian berdoa kepada-Nya, tetapi doa kalian tidak dikabulkan."

(HR. At-Tirmidzi).

Berpaling dari amar makruf dan nahi mungkar termasuk sebab kehancuran umat-umat terdahulu.

Allah عز وجل berfirman:

﴿لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ ۝ كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ﴾

"Orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil telah dilaknat melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain tidak saling mencegah dari kemungkaran yang mereka perbuat. Sungguh, sangat buruk apa yang selalu mereka lakukan." (QS. Al-Ma'idah: 78–79).

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«إِنَّ أَوَّلَ مَا دَخَلَ النَّقْصُ عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ، كَانَ الرَّجُلُ يَلْقَى الرَّجُلَ فَيَقُولُ: يَا هَذَا، اتَّقِ اللَّهَ وَدَعْ مَا تَصْنَعُ، فَإِنَّهُ لَا يَحِلُّ لَكَ، ثُمَّ يَلْقَاهُ مِنَ الْغَدِ فَلَا يَمْنَعُهُ ذَلِكَ أَنْ يَكُونَ أَكِيلَهُ وَشَرِيبَهُ وَقَعِيدَهُ، فَلَمَّا فَعَلُوا ذَلِكَ ضَرَبَ اللَّهُ قُلُوبَ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ»

"Sesungguhnya kekurangan pertama yang masuk ke dalam kehidupan Bani Israil adalah ketika seseorang bertemu dengan orang lain, lalu berkata: 'Wahai orang ini, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah perbuatan yang engkau lakukan, karena sesungguhnya perbuatan itu tidak halal bagimu.'

Kemudian pada keesokan harinya ia bertemu lagi dengannya, tetapi hal itu tidak menghalanginya untuk tetap makan bersama, minum bersama, dan duduk bersama orang tersebut.

Ketika mereka melakukan hal demikian, Allah menjadikan hati sebagian mereka saling bertentangan."

(HR. Ahmad).

Al-Hasan al-Bashri رحمه الله berkata:

"Perintahkanlah kepada perkara yang makruf dan cegahlah dari perkara yang mungkar. Jika tidak, kalian sendirilah yang akan menjadi pelajaran (bagi orang lain)."

Amar makruf dan nahi mungkar merupakan ibadah yang disyariatkan kepada seluruh umat. Allah bahkan memuji orang-orang yang melaksanakannya dari kalangan Yahudi dan Nasrani sebelum agama mereka mengalami penghapusan hukum syariat sebelumnya.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

﴿مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ ۝ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ﴾

"Di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus. Mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (salat). Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh berbuat yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan bersegera dalam mengerjakan berbagai kebajikan." (QS. Ali Imran: 113–114).

Luqman, yang berasal dari umat terdahulu, juga memberikan nasihat kepada anaknya:

﴿يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ﴾

"Wahai anakku! Dirikanlah salat, suruhlah (manusia) berbuat yang makruf, cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu." (QS. Luqman: 17).

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan dalam umat ini apabila seseorang diperintahkan untuk menebarkan salam, seorang perempuan diingatkan agar mengenakan hijab, orang yang tersesat diarahkan menuju jalan petunjuk, atau keburukan sihir seorang penyihir dihilangkan dari tengah-tengah manusia.

Wahai kaum muslimin!

Agama yang diridai Allah adalah Islam, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan agama ini.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

﴿يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ﴾

"Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya." (QS. At-Taubah: 32).

Ibnu Katsir رحمه الله berkata:

"Perumpamaan mereka dalam hal itu seperti orang yang ingin memadamkan sinar matahari dengan tiupannya. Hal ini mustahil dilakukan. Demikian pula agama yang Allah utus Rasul-Nya dengannya, pasti akan disempurnakan dan ditampakkan."

Allah سبحانه وتعالى telah menjamin penyebaran agama ini dan terbukanya hati manusia untuk menerimanya.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الْأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، وَلَا يَتْرُكُ اللَّهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلَا وَبَرٍ إِلَّا أَدْخَلَهُ هَذَا الدِّينُ»

"Sungguh, urusan agama ini akan mencapai tempat yang dapat dijangkau oleh malam dan siang. Allah tidak akan membiarkan satu pun rumah dari batu bata maupun rumah dari bulu (tenda), melainkan Dia akan memasukkan agama ini ke dalamnya."

(HR. Ahmad).

Tidaklah seseorang berusaha menentang agama ini atau menolak hukum-hukum dan syariatnya, melainkan agama ini akan mengalahkannya.

Kaum Nabi Hud, ketika berkata kepada nabi mereka:

﴿سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ﴾

"Sama saja bagi kami, apakah engkau memberi nasihat atau tidak termasuk orang-orang yang memberi nasihat." (QS. Asy-Syu'ara: 136).

Maka Allah mengirimkan kepada mereka angin yang sangat dingin dan membinasakan.

Adapun kaum Nabi Luth, ketika mereka berkata:

﴿لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ يَا لُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمُخْرَجِينَ﴾

"Jika engkau tidak berhenti, wahai Luth, niscaya engkau termasuk orang-orang yang diusir."

Maka mereka ditimpa suara yang sangat keras ketika matahari terbit.

Barang siapa mengira bahwa dirinya akan mampu memadamkan agama ini atau membatalkan salah satu syiar agama, sungguh ia telah menginginkan sesuatu yang mustahil.

Allah عز وجل berfirman:

﴿وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ﴾

"Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya." (QS. Yusuf: 21).

Tidaklah seseorang memusuhi agama ini atau pemeluknya, melainkan Allah akan menghinakannya.

Fir'aun pernah berkata kepada para pengikut Musa:

﴿لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ ثُمَّ لَأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ﴾

"Aku pasti akan memotong tangan dan kaki kalian secara bersilang, kemudian aku benar-benar akan menyalib kalian semuanya." (QS. Al-A'raf: 124).

Namun Allah menenggelamkannya dengan air.

Kaum Nabi Syuaib mengingkari nabi mereka dan berkata kepadanya:

﴿أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ﴾

"Apakah salatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang kami, atau agar kami tidak melakukan apa yang kami kehendaki terhadap harta kami?" (QS. Hud: 87).

Maka mereka ditimpa suara yang sangat keras, sehingga pada pagi harinya mereka bergelimpangan mati di tempat tinggal mereka.

Barang siapa mencela salah satu syiar Allah, mengolok-oloknya, atau membencinya, sungguh ia telah menghadapkan dirinya kepada ancaman Allah dalam firman-Nya:

﴿قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ۝ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ﴾

"Katakanlah: Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok? Tidak perlu kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir setelah beriman." (QS. At-Taubah: 65–66).

Barang siapa menginginkan kemuliaan, kehormatan, dan kedudukan yang tinggi, ia tidak akan mendapatkannya kecuali dengan berpegang teguh kepada agama.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا﴾

"Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) bahwa kemuliaan itu semuanya milik Allah." (QS. Fathir: 10).

Dengan agama, perjalanan hidup para nabi, para sahabat, dan generasi salaf tetap abadi dan dikenang. Sementara dengan memusuhi agama, masa kehidupan Abu Jahal, Abu Lahab, dan Ubay bin Khalaf telah berlalu dan menjadi masa yang tidak lagi bernilai.

Maka hadapkanlah hatimu, lisanmu, dan seluruh anggota badanmu kepada agama ini. Bergembiralah dengannya, berpegang teguhlah kepadanya, pujilah agama ini, dan teguhkanlah pembelaanmu terhadapnya dalam berbagai majelis.

Agungkanlah agama ini dalam pertemuan-pertemuan, forum-forum, dan kesempatan lainnya. Tampakkanlah keutamaan-keutamaan dan keindahan-keindahannya. Tunjukkanlah kecemburuan dan pembelaan terhadap agama ini, serta teguhkanlah ketulusan batinmu dengan hidayah yang Allah berikan kepadamu.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

﴿قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ﴾

"Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan." (QS. Yunus: 58).

Tidaklah seseorang mendekat kepada agama ini, melainkan ia akan menjadi mulia dan terhormat, serta Allah akan meluruskan perkataan dan perbuatannya.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

«لَيْسَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ الْمَدْحُ مِنَ اللَّهِ، مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ مَدَحَ نَفْسَهُ»

"Tidak ada seorang pun yang lebih menyukai pujian daripada Allah. Oleh karena itu, Dia memuji diri-Nya sendiri."

(Muttafaq 'alaih).

Orang yang menegakkan agama, berdakwah kepadanya, serta melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar, berhak mendapatkan ucapan terima kasih, pujian, penghormatan, dan doa.

Kaum Anshar telah menolong agama Allah. Karena itu, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda tentang mereka:

«الْأَنْصَارُ لَا يُحِبُّهُمْ إِلَّا مُؤْمِنٌ، وَلَا يُبْغِضُهُمْ إِلَّا مُنَافِقٌ، مَنْ أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُ اللَّهُ»

"Tidaklah mencintai kaum Anshar kecuali seorang mukmin, dan tidaklah membenci mereka kecuali seorang munafik. Barang siapa mencintai mereka, Allah akan mencintainya. Dan barang siapa membenci mereka, Allah akan membencinya."

(HR. Muslim).

Waraqah bin Naufal, sepupu Nabi صلى الله عليه وسلم, hidup pada masa jahiliah dengan tetap berada di atas fitrahnya. Ketika wahyu turun kepada Nabi صلى الله عليه وسلم, ia telah berusia lanjut.

Ia berharap dapat menjumpai masa kenabian agar bisa menolong Nabi صلى الله عليه وسلم.

Ia berkata kepada Nabi صلى الله عليه وسلم:

"Alangkah baiknya seandainya aku masih muda dan kuat ketika kaummu mengusirmu. Jika aku masih hidup pada hari itu, sungguh aku akan menolongmu dengan pertolongan yang sangat kuat."

Maka orang yang hidup di dalam Islam tentu lebih layak untuk menolong agama, menyebarkannya, dan mencintainya daripada orang yang hidup pada masa jahiliah tetapi berharap dapat menjumpai Nabi dan menolong agama beliau.

Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang (kalian) melakukan perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl: 90).

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dengan Al-Qur'an yang agung. Semoga Allah memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.

Aku menyampaikan apa yang kalian dengar ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum muslimin dari setiap dosa. Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

### KHUTBAH KEDUA

Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan-Nya. Segala syukur hanya bagi-Nya atas taufik dan karunia-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagai bentuk pengagungan terhadap kedudukan-Nya.

Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga selawat dan salam yang berlimpah tercurah kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.

Amma ba'du.

Wahai kaum muslimin!

Masyarakat muslim adalah masyarakat yang saling bersatu, saling menguatkan, dan saling membantu. Seseorang yang hidup sendirian akan menjadi lemah ketika menghadapi hawa nafsu dan setan.

Di antara hak persaudaraan dalam agama ialah memberikan nasihat dan kebaikan kepada umat, serta memberikan nasihat dan kebaikan kepada orang lain.

Abu Bakar al-Muzani رحمه الله berkata:

"Abu Bakar ash-Shiddiq dan para sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak mengungguli orang lain karena banyaknya puasa dan salat. Akan tetapi, karena sesuatu yang ada di dalam hati mereka. Di dalam hati mereka terdapat kecintaan kepada Allah dan ketulusan memberikan nasihat kepada makhluk-Nya."

Mendoakan orang lain tanpa sepengetahuan mereka agar mendapatkan hidayah merupakan salah satu bentuk ketulusan dalam memberikan nasihat dan bukti kecintaan kepada mereka.

Orang yang diberi nasihat hendaknya menerima nasihat tersebut dan bergembira dengannya, serta menjadikannya sebagai sarana untuk memperbaiki kekurangan dirinya.

Sebab, engkau tidak akan menemukan orang yang lebih tulus mencintaimu daripada orang yang berusaha menyempurnakan sifat-sifat baikmu dan memperbaiki kekurangan-kekuranganmu.

Dialah orang yang benar-benar mencintaimu. Maka terimalah nasihatnya dan balaslah kebaikannya, meskipun hanya dengan mendoakannya.

Kemudian ketahuilah bahwa Allah telah memerintahkan kalian untuk berselawat dan mengucapkan salam kepada Nabi-Nya.

Allah berfirman dalam kitab-Nya yang kokoh:

﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56).

Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad.

Ya Allah, ridhailah para khalifah beliau yang mendapatkan petunjuk, yang memutuskan perkara dengan kebenaran dan senantiasa berlaku adil dengannya: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Ridhailah pula seluruh sahabat beliau, dan ridhailah kami bersama mereka dengan kemurahan dan karunia-Mu, wahai Zat Yang Maha Pemurah di antara semua yang pemurah.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik. Binasakanlah musuh-musuh agama.

Ya Allah, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan tenteram, demikian pula seluruh negeri kaum muslimin, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada orang-orang yang memerintahkan kepada perkara yang makruf dan melarang dari perkara yang mungkar.

Ya Allah, jadilah Engkau pelindung dan penolong mereka, serta berikanlah bantuan dan dukungan kepada mereka.

Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.

Ya Allah, Engkaulah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau Mahakaya, sedangkan kami adalah orang-orang fakir.

Turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.

Wahai Rabb kami, sungguh kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami untuk mengikuti petunjuk-Mu. Jadikanlah amal perbuatannya berada dalam keridaan-Mu.

Berikanlah pula taufik kepada seluruh pemimpin kaum muslimin agar mereka mengamalkan Kitab-Mu dan menerapkan syariat-Mu, wahai Zat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.

Wahai hamba-hamba Allah!

Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan berbuat kebajikan, memberikan bantuan kepada kerabat, serta melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.

Allah memberikan pengajaran kepada kalian agar kalian mengambil pelajaran.

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang (kalian) melakukan perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl: 90).

Maka ingatlah Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia, niscaya Dia akan mengingat kalian.

Bersyukurlah kepada-Nya atas segala karunia dan nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat-Nya kepada kalian.

Sesungguhnya mengingat Allah adalah perkara yang paling besar, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.