Minggu, 08 November 2026

KEZALIMAN ADALAH KEGELAPAN-KEGELAPAN


KEZALIMAN ADALAH KEGELAPAN-KEGELAPAN 



Penulis: Muhammad bin Hasan Abu ‘Uqail

Sumber: Alukah Tanggal publikasi: 6 Juni 2022 M / 8 Zulkaidah 1443 H.



KHUTBAH PERTAMA

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Penguasa hari pembalasan. Tidak ada kemuliaan kecuali dengan menaati-Nya, tidak ada kebahagiaan kecuali dengan mengharapkan keridaan-Nya, dan tidak ada kenikmatan yang hakiki kecuali dengan mengingat-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Semoga Allah senantiasa melimpahkan selawat dan salam yang sebanyak-banyaknya kepada beliau.

Amma ba'du.

Wahai hamba-hamba Allah!

Aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar senantiasa bertakwa kepada Allah Ta'ala dan berhati-hati terhadap perbuatan zalim. Sebab, kezaliman merupakan dosa yang besar, kejahatan yang sangat berbahaya, dan akhlak yang buruk.

Kezaliman akan memakan kebaikan-kebaikan, mendatangkan berbagai malapetaka, mewariskan permusuhan dan perselisihan, menyebabkan terputusnya hubungan silaturahmi dan kedurhakaan, serta mengubah kehidupan manusia menjadi neraka, kesengsaraan, kesusahan, dan penderitaan.

Kezaliman adalah melampaui batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla.

Kezaliman merupakan tindakan melampaui batas dan berani menerjang syariat Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, serta melanggar hak-hak orang lain.

Wahai hamba-hamba Allah!

Kezaliman terbagi menjadi dua macam.

Pertama: Kezaliman seseorang terhadap dirinya sendiri.

Bentuk kezaliman yang paling besar dalam kategori ini adalah mempersekutukan Allah Ta'ala (syirik), sebagaimana firman-Nya:

Allah Ta'ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberikan pelajaran kepadanya, 'Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) benar-benar merupakan kezaliman yang besar.'" (QS. Luqman: 13).

Sesungguhnya orang musyrik telah menempatkan makhluk pada kedudukan Sang Pencipta. Ia pun menyembah makhluk tersebut dan menjadikannya sebagai sesembahan.

Syirik kepada Allah Ta'ala merupakan kezaliman yang sangat besar terhadap diri sendiri.

Sebagian besar ancaman dalam Al-Qur'an yang disebutkan mengenai orang-orang zalim, sesungguhnya yang dimaksud adalah orang-orang musyrik.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang suatu hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Baqarah: 254).

Setelah kesyirikan, tingkatan berikutnya dalam kezaliman terhadap diri sendiri adalah berbagai macam kemaksiatan, baik dosa besar maupun dosa kecil.

Setiap kemaksiatan yang dilakukan seorang hamba sesungguhnya merupakan kezaliman terhadap dirinya sendiri yang ia jerumuskan ke dalamnya. Dan ia akan mendapatkan akibat dari perbuatannya tersebut.

Kedua: Kezaliman seorang hamba terhadap orang lain.

Inilah yang dimaksud dalam sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

لَا تَظَالَمُوا

"Janganlah kalian saling menzalimi."

Demikian pula dalam sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam:

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا، فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ

"Barang siapa memiliki suatu kezaliman terhadap saudaranya, hendaklah ia meminta agar saudaranya tersebut menghalalkan dan membebaskannya dari kezaliman itu. Sebab, pada hari itu tidak ada lagi dinar dan dirham (sebagai alat pembayaran). Sebelum datang suatu hari ketika kebaikan-kebaikannya diambil untuk diberikan kepada saudaranya yang dizalimi. Jika ia tidak memiliki kebaikan, maka dosa-dosa saudaranya itu akan diambil lalu dibebankan kepadanya."

(HR. Al-Bukhari no. 6534).

Di antara bentuk kezaliman adalah mengambil atau menguasai harta anak-anak yatim, orang-orang lemah, dan masyarakat umum yang tidak memiliki kemampuan untuk memperjuangkan kembali hak-hak mereka serta tidak mengetahui jalan untuk mendapatkannya.

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

"Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api ke dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)." (QS. An-Nisa': 10).

Termasuk pula melanggar hak-hak orang lain, atau menunda-nunda dan mengulur-ulur pembayaran utang, khususnya bagi orang kaya yang mampu membayarnya.

Dalam hadis sahih disebutkan:

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ

"Penundaan pembayaran utang oleh orang yang mampu adalah suatu kezaliman."

(HR. Al-Bukhari no. 2288 dan Muslim no. 1564).

Dalam hadis ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa penundaan pembayaran utang oleh orang kaya merupakan suatu kezaliman.

Yang dimaksud dengan mathl adalah menunda-nunda dan mengulur-ulur pembayaran utang.

Apabila orang kaya menunda pembayaran utangnya, maka hal tersebut dianggap sebagai kezaliman. Sebab, ia sebenarnya mampu melunasi dan mengembalikan harta tersebut. Namun, ketika ia menahan harta itu dan terus-menerus menunda pembayarannya, berarti ia telah melakukan kezaliman.

Termasuk bentuk kezaliman lainnya adalah menghalangi seorang wanita dari hak warisnya, baik warisan dari ayahnya, suaminya, maupun ahli waris yang meninggalkan harta untuknya, siapa pun orang tersebut. Termasuk pula menunda-nunda pemberian hak waris tersebut.

Di antara bentuk kezaliman yang dilakukan sebagian orang adalah menzalimi para pekerja dan karyawan, seperti para buruh dan semisalnya, dengan cara mengurangi hak-hak mereka, menunda pembayaran hak mereka dari waktu yang telah ditentukan, mengubah kesepakatan kerja yang telah dibuat dengan mereka di negeri asal mereka, atau menghina mereka melalui perkataan maupun perbuatan.

Dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ثَلَاثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: رَجُلٌ أَعْطَى بِي ثُمَّ غَدَرَ، وَرَجُلٌ بَاعَ حُرًّا فَأَكَلَ ثَمَنَهُ، وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُعْطِهِ أَجْرَهُ

"Allah Ta'ala berfirman: Ada tiga golongan yang Aku menjadi lawan mereka pada hari Kiamat:

* Seseorang yang memberikan janji dengan menyebut nama-Ku, kemudian ia mengkhianatinya.

* Seseorang yang menjual orang merdeka, lalu memakan hasil penjualannya.

* Seseorang yang mempekerjakan seorang buruh, kemudian telah mengambil seluruh manfaat pekerjaannya, tetapi tidak memberikan upahnya."

(HR. Al-Bukhari no. 2270).

Termasuk kezaliman pula adalah melakukan tindakan yang menyakiti fisik maupun psikis seseorang.

Dalam hadis disebutkan:

إِنَّ اللَّهَ يُعَذِّبُ الَّذِينَ يُعَذِّبُونَ النَّاسَ فِي الدُّنْيَا

"Sesungguhnya Allah akan mengazab orang-orang yang menyiksa manusia di dunia."

(HR. Muslim no. 2613).

Wahai hamba-hamba Allah!

Di antara orang yang paling dekat dengan seseorang adalah istrinya.

Bentuk kezaliman terhadap istri antara lain dengan bersikap pelit dan tidak mencukupi kebutuhannya, memperlakukannya dengan buruk, menghinanya, mendiamkannya, mengancamnya, atau tidak memperlakukannya dengan akhlak yang baik.

Orang yang tidak memiliki kebaikan terhadap keluarganya, maka tidak ada kebaikan pula padanya bagi umatnya.

Dalam hadis disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku."

(HR. At-Tirmidzi no. 3895).

Termasuk kezaliman juga adalah menzalimi anak-anak dengan cara mengabaikan pendidikan dan pembinaan mereka, memperlakukan mereka dengan buruk, atau mengistimewakan sebagian anak dibandingkan anak-anak yang lainnya.

Wahai hamba-hamba Allah!

Janganlah sekali-kali seseorang menyangka bahwa kezaliman yang dilakukannya terhadap sesama manusia, baik berupa pemukulan, celaan, makian, pemalsuan, mengambil harta dengan cara yang batil, merusak kehormatan, menumpahkan darah, menggunjing, mengadu domba, menghina, mengejek, maupun melukai harga diri seseorang, akan hilang begitu saja tanpa perhitungan dan tanpa hukuman.

Janganlah sekali-kali seseorang mengira demikian!

Bahkan, orang yang zalim dan orang yang dizalimi pasti akan berdiri di hadapan Allah Azza wa Jalla dalam pengadilan keadilan Ilahi, agar Allah memutuskan perkara di antara mereka dengan penuh keadilan.

Itulah hari ketika tidak ada kezaliman, tidak ada perantara, tidak ada kedudukan atau pengaruh yang dapat menyelamatkan seseorang, tidak ada suap, dan tidak ada kesaksian palsu.

Allah Ta'ala berfirman:

اللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

"Allah akan memberikan keputusan di antara kalian pada hari Kiamat tentang apa yang dahulu kalian perselisihkan." (QS. Al-Hajj: 69).

Allah Ta'ala juga berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

"Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata (mereka) terbelalak." (QS. Ibrahim: 42).

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian melalui Al-Qur'an yang agung, serta memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat-Nya dan peringatan yang penuh hikmah.

Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia, Raja Yang Maha Baik, Maha Lembut lagi Maha Penyayang.

Maka, mintalah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.




 KHUTBAH KEDUA

Segala puji bagi Allah yang telah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya sendiri dan menjadikannya sebagai sesuatu yang diharamkan di antara sesama hamba.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Apabila Dia menghukum orang zalim, maka Dia akan menghukumnya dengan hukuman yang sangat keras.

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Beliau telah memperingatkan umatnya dari perbuatan zalim dengan sabdanya:

اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Jauhilah perbuatan zalim, karena sesungguhnya kezaliman adalah kegelapan-kegelapan pada hari Kiamat."

(HR. Muslim no. 2578).

Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.

Amma ba'du.

Wahai hamba-hamba Allah!

Aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar senantiasa bertakwa kepada Allah Ta'ala, saling bekerja sama dalam kebaikan, serta menjauhi kezaliman dengan segala bentuk dan macamnya.

Kezaliman yang paling besar adalah mempersekutukan Allah, mengingkari ayat-ayat-Nya, melanggar perkara-perkara yang diharamkan-Nya, menelantarkan hukum-hukum-Nya, berpaling dari Kitab-Nya, dan menjadikan selain Allah sebagai sumber hukum dan tempat berhukum.

Termasuk kezaliman pula adalah melampaui batas terhadap makhluk-makhluk Allah, melanggar perkara-perkara yang dimuliakan dan diharamkan, merusak kehormatan, merampas harta, serta melanggar berbagai hal yang telah Allah haramkan.

Di antara bentuk kezaliman yang paling buruk adalah seseorang menzalimi dirinya sendiri. Hal itu dilakukan dengan memaksakan dirinya untuk melakukan kefasikan dan kemaksiatan, terjerumus ke dalam perkara-perkara yang diharamkan, serta melakukan berbagai perkara yang dilarang.

Wahai hamba-hamba Allah!

Tidak akan ada keberuntungan bersama kezaliman. Tidak ada kelanggengan bagi orang zalim dan tidak ada kestabilan bagi orang yang melampaui batas, betapapun panjangnya waktu dan betapapun tinggi kedudukan yang dicapainya.

Rabb kita Jalla wa 'Ala berfirman:

إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan beruntung." (QS. Al-An'am: 21).

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

"Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam." (QS. Al-An'am: 45).

Allah Yang Mahatinggi lagi Mahamulia berfirman:

هَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الظَّالِمُونَ

"Tidak ada yang dibinasakan selain kaum yang zalim." (QS. Al-An'am: 47).

Terkadang hukuman atas kezaliman ditangguhkan hingga waktu tertentu dan ajal yang hanya diketahui oleh Allah.

Dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُمْلِي لِلظَّالِمِ، فَإِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ، ثُمَّ قَرَأَ: ﴿وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ﴾

"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memberikan tenggang waktu kepada orang yang zalim. Namun, apabila Dia telah menghukumnya, maka orang itu tidak akan dapat meloloskan diri dari hukuman-Nya."

Kemudian beliau membaca firman Allah:

وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ

"Dan begitulah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, azab-Nya sangat pedih lagi sangat keras." (QS. Hud: 102).

(HR. Muslim no. 2583).

Sesungguhnya berbagai hukuman dan sanksi dari Allah merupakan bagian dari sunnatullah, ketetapan Allah yang tidak akan berubah dan tidak akan berganti.

Sebagaimana firman Allah:

قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

"Sungguh, telah berlalu sebelum kalian berbagai ketetapan (Allah). Maka berjalanlah kalian di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." (QS. Ali 'Imran: 137).

Wahai hamba-hamba Allah!

Di antara sarana terbesar untuk menghilangkan kezaliman adalah melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar, serta berdakwah kepada Allah dengan keadilan, kebijaksanaan, dan nasihat yang baik.

Allah Ta'ala berfirman:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik." (QS. An-Nahl: 125).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

"Tolonglah saudaramu, baik ketika ia berbuat zalim maupun ketika ia dizalimi."

Kemudian seseorang bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا، أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ؟

"Wahai Rasulullah, aku akan menolongnya apabila ia dizalimi. Namun, bagaimana menurutmu jika ia justru berbuat zalim, bagaimana aku menolongnya?"

Beliau menjawab:

تَحْجِزُهُ، أَوْ تَمْنَعُهُ، مِنَ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ

"Engkau menahan atau mencegahnya dari perbuatan zalim. Sesungguhnya itulah bentuk pertolongan kepadanya."

(HR. Al-Bukhari).

Penyair berkata:

لَا تَظْلِمَنَّ إِذَا مَا كُنْتَ مُقْتَدِرًا فَالظُّلْمُ آخِرُهُ يَأْتِيكَ بِالنَّدَمِ

Janganlah engkau berbuat zalim ketika engkau memiliki kekuasaan dan kemampuan.

Sebab, pada akhirnya kezaliman itu akan mendatangkan penyesalan kepadamu.

نَامَتْ عُيُونُكَ وَالْمَظْلُومُ مُنْتَبِهٌ يَدْعُو عَلَيْكَ وَعَيْنُ اللَّهِ لَمْ تَنَمِ

Engkau tidur dengan nyenyak, sementara orang yang dizalimi tetap terjaga.

Ia berdoa memohon keburukan atasmu, sedangkan mata Allah tidak pernah tidur.

Maka, bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah!

Berselawat dan ucapkanlah salam kepada Muhammad, Rasulullah.

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56).

Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

"Barang siapa berselawat kepadaku satu kali, Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali."



Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari Kiamat.

Ya Allah, rida-lah kepada para khalifah yang lurus: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali; juga kepada seluruh sahabat, para tabiin, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat. Dan jadikanlah kami bersama mereka dengan karunia dan kemurahan-Mu, wahai Zat Yang Paling Pemurah di antara semua yang pemurah.

Ya Allah, jadikanlah bagi kami jalan keluar dari setiap kesedihan, jalan keluar dari setiap kesempitan, kemudahan dari setiap kesulitan, dan keselamatan dari setiap musibah.

Ya Allah, lindungilah darah kami dari pertumpahan, jagalah negeri kami, dan satukanlah hati-hati kami.

Barang siapa yang menghendaki keburukan atau kejahatan terhadap kami maupun terhadap negeri kami, maka kembalikanlah tipu dayanya kepada dirinya sendiri, dan jadikanlah rencana jahatnya sebagai kehancuran baginya.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami untuk melakukan perkara-perkara yang Engkau cintai dan Engkau ridai. Karuniakanlah kepadanya para pembantu dan penasihat yang saleh, yang membantunya untuk menegakkan kebenaran, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin, hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik.

Ya Allah, tolonglah agama-Mu, Kitab-Mu, sunnah Nabi-Mu, dan hamba-hamba-Mu yang beriman.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, serta seluruh kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

Allah Ta'ala berfirman:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Al-Baqarah: 201).

Wahai hamba-hamba Allah!

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang (kalian) melakukan perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl: 90).

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

"Dan tepatilah janji kepada Allah apabila kalian berjanji, dan janganlah kalian melanggar sumpah setelah diikrarkan, padahal kalian telah menjadikan Allah sebagai saksi atas sumpah kalian. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian perbuat." (QS. An-Nahl: 91).

Maka, ingatlah Allah, niscaya Dia akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat kepada kalian.

Dan sungguh, mengingat Allah adalah perkara yang paling besar. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.






BAHAYA KEZALIMAN DAN BURUKNYA AKIBATNYA


BAHAYA KEZALIMAN DAN BURUKNYA AKIBATNYA 



 Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah yang telah mengharamkan kezaliman dan tindakan melampaui batas terhadap hamba-hamba-Nya. Allah mengancam orang-orang zalim dengan hukuman dan kerugian. Allah menjadikan doa orang yang dizalimi sebagai doa yang mustajab, demi menegakkan keadilan dan keseimbangan.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam yang sebanyak-banyaknya kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya.

Amma ba'du:

Aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar senantiasa bertakwa kepada Allah Ta'ala. Sesungguhnya, ketakwaan merupakan wasiat Allah kepada orang-orang terdahulu maupun orang-orang yang datang kemudian.

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

"Sungguh, Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu agar bertakwa kepada Allah." (QS. An-Nisa': 131).


Wahai hamba-hamba Allah!

Kezaliman merupakan bagian dari tabiat manusia dan karakter dasar yang ada pada diri manusia. Manusia sering kali kurang dalam menunaikan hak-hak Rabb-nya, banyak mengingkari nikmat-nikmat Allah, serta berani melakukan kemaksiatan kepada-Nya. Kecuali orang-orang yang Allah sucikan dengan keimanan, ketakwaan, ilmu, dan petunjuk.

Allah Ta'ala berfirman:

وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

"Dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh." (QS. Al-Ahzab: 72).

Allah juga berfirman:

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

"Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim lagi sangat mengingkari (nikmat Allah)." (QS. Ibrahim: 34).

Imam Al-Mawardi rahimahullah berkata:

"Faktor yang dapat mencegah seseorang dari melakukan kezaliman ada empat: akal yang menghalangi dan memperingatkan, agama yang membentengi, kekuasaan yang memberikan tindakan pencegahan, atau kelemahan yang membuat seseorang tidak mampu melakukan kezaliman."


Wahai hamba-hamba Allah!

Kezaliman merupakan akhlak yang sangat tercela dan dosa yang sangat besar. Kezaliman mengikis agama dan amal-amal kebaikan, mendatangkan berbagai bencana dan malapetaka, menghilangkan keberkahan, mewariskan kedengkian dan permusuhan, menyebabkan pemutusan hubungan serta kedurhakaan, dan mengubah kehidupan manusia menjadi kesengsaraan dan penderitaan.

Kezaliman adalah tindakan melampaui batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla serta tindakan menyerobot hak-hak orang lain.

Karena buruknya kezaliman dan besarnya kerusakan yang ditimbulkannya, Allah menyucikan diri-Nya dari sifat tersebut.

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ

"Sesungguhnya Allah tidak menzalimi seseorang walaupun sebesar zarah." (QS. An-Nisa': 40).

Bahkan, Allah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya sendiri karena kesempurnaan keadilan dan keagungan-Nya. Allah juga menjadikan kezaliman sebagai sesuatu yang diharamkan di antara para hamba-Nya.

Allah berfirman dalam hadis qudsi:

يَا عِبَادِي، إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فَلَا تَظَالَمُوا

"Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku sendiri dan Aku menjadikannya sebagai sesuatu yang diharamkan di antara kalian. Maka, janganlah kalian saling menzalimi."

(HR. Muslim).


Wahai hamba-hamba Allah!

Kezaliman yang paling besar dan paling berbahaya adalah mempersekutukan Allah Ta'ala. Itulah kezaliman yang tidak akan diampuni oleh Allah apabila pelakunya meninggal dunia tanpa bertobat darinya.

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

"Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) benar-benar merupakan kezaliman yang besar." (QS. Luqman: 13).

Di antara bentuk kezaliman lainnya adalah seseorang menzalimi dirinya sendiri, yaitu dengan menjerumuskan dirinya kepada azab dan hukuman Allah melalui perbuatan-perbuatan yang diharamkan, melalaikan kewajiban dan berbagai perkara yang difardukan, serta melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

"Barang siapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Baqarah: 229).

Di antara bentuk kezaliman lainnya adalah kezaliman yang dilakukan oleh sesama manusia terhadap satu sama lain, baik berkaitan dengan darah (jiwa), harta, kehormatan, maupun seluruh hak-hak lainnya.

Inilah bentuk kezaliman yang dimaksud ketika kata kezaliman disebutkan secara mutlak. Inilah perkara yang menjadi catatan hak-hak sesama manusia, yang tidak akan dibiarkan oleh Allah begitu saja dan tidak akan diampuni kecuali dengan mengembalikan hak-hak tersebut kepada pemiliknya serta meminta pembebasan atau kerelaan dari orang-orang yang telah dizalimi.



Wahai hamba-hamba Allah!

Kezaliman merupakan perbuatan yang akibatnya sangat buruk dan kesudahannya sangat menyakitkan. Allah telah mengancam para pelakunya dengan azab dan hukuman yang keras.

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

"Jangan sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata (mereka) terbelalak." (QS. Ibrahim: 42).

Hukuman kezaliman terkadang disegerakan di dunia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ، مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

"Tidak ada suatu dosa pun yang lebih pantas untuk Allah segerakan hukumannya bagi pelakunya di dunia, di samping azab yang telah Allah persiapkan baginya di akhirat, selain perbuatan melampaui batas (kezaliman) dan memutuskan hubungan kekerabatan."

(HR. At-Tirmidzi dengan sanad sahih).

Orang-orang yang zalim akan terhalang dari mendapatkan kecintaan Allah, dijauhkan dari petunjuk, dihalangi dari keberuntungan, diancam dengan kesudahan yang buruk, dijauhkan dari rahmat Allah, serta berhak mendapatkan laknat dan kemurkaan Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

"Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) kepada orang-orang yang zalim." (QS. Hud: 18).

Allah juga berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

"Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al-Ma'idah: 51).

Allah juga berfirman:

إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan beruntung." (QS. Al-An'am: 21).

Selain itu, orang zalim akan mengalami penyesalan dan kesedihan yang sangat mendalam pada hari Kiamat.

Allah Ta'ala berfirman:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا

"Dan (ingatlah) pada hari ketika orang yang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata, 'Aduhai, sekiranya dahulu aku mengambil jalan bersama Rasul.'" (QS. Al-Furqan: 27).



Wahai hamba-hamba Allah!

Di antara bentuk kezaliman adalah:

1\. Durhaka kepada kedua orang tua dan memutuskan hubungan kekerabatan.

Padahal, kedua orang tua dan kerabat merupakan orang-orang yang paling membutuhkan sikap lemah lembut, kasih sayang, dan keadilan.

2\. Kezaliman di antara suami dan istri.

Hal itu dapat terjadi melalui perlakuan buruk, tidak menunaikan hak dan kewajiban, atau mengingkari kebaikan serta jasa yang telah diberikan oleh pasangannya.

3\. Menzalimi orang lain melalui perkataan maupun perbuatan.

Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya:

* Membunuh atau memukul orang lain.

* Mencela dan mencaci maki.

* Menggunjing dan mengadu domba.

* Memanggil orang lain dengan gelar-gelar yang buruk.

* Merendahkan dan menghina orang lain.

* Membongkar rahasia mereka dan mencari-cari aib mereka.

* Memotret atau merekam orang lain dengan melanggar privasi mereka.

* Sengaja melakukan kesalahan terhadap orang lain ketika berkendara dengan mobil.

* Tidak mematuhi antrean.

4\. Memakan harta orang lain dengan cara yang batil.

Di antaranya:

* Menunda-nunda pembayaran utang padahal mampu membayarnya.

* Melakukan kecurangan dalam jual beli.

* Memakan harta riba.

* Berbuat zalim terhadap para pembantu dan pekerja.

* Bersumpah palsu.

* Memberikan kesaksian palsu.

5\. Kezaliman yang dilakukan oleh pegawai atau pejabat dalam pekerjaannya.

Di antaranya adalah mengabaikan tugas dan kewajibannya, menyalahgunakan jabatan, serta menghambat kepentingan masyarakat.

Hal itu termasuk kezaliman terhadap diri sendiri karena memakan harta yang haram, sekaligus kezaliman terhadap orang lain karena menghambat urusan mereka dan menghalangi mereka memperoleh hak-haknya.

6\. Memutus hubungan dan saling menjauhi karena perkara-perkara sepele.

Di antara bentuk kezaliman lainnya adalah saling mendiamkan dan memutus hubungan di antara manusia hanya karena sebab-sebab yang sangat remeh, terutama di kalangan orang-orang yang melaksanakan salat.

Termasuk pula:

* Meninggikan suara di dalam masjid.

* Menguasai atau memesan tempat tertentu sehingga menghalangi orang lain.

* Meletakkan sepatu di depan pintu-pintu masjid sehingga mengganggu orang-orang lanjut usia dan orang-orang yang menggunakan kursi roda.

Wahai hamba-hamba Allah!

Sesungguhnya bentuk dan macam kezaliman sangat banyak, bahkan jumlahnya melampaui batas untuk dapat dihitung satu per satu.

Karena itu, hendaklah seorang muslim benar-benar waspada agar tidak melanggar hak-hak orang lain atau menyakiti mereka dalam bentuk apa pun.

Rasulullah ﷺ bersabda:

اتَّقُوا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Jauhilah kezaliman, karena sesungguhnya kezaliman merupakan kegelapan-kegelapan pada hari Kiamat."

(HR. Muslim).

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dengan Al-Qur'an yang agung, serta memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.

Aku mengakhiri perkataanku ini, dan aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung untuk diriku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum muslimin dari setiap dosa.

Maka, mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.



 Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan dan karunia-Nya. Segala syukur hanya milik-Nya atas taufik dan anugerah-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam yang sebanyak-banyaknya kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya.

Amma ba'du:


Wahai hamba-hamba Allah!

Kezaliman merupakan tindakan melampaui batas terhadap Sang Pencipta dan tindakan sewenang-wenang terhadap makhluk. Kezaliman bertentangan dengan fitrah dan tabiat yang lurus, menyelisihi syariat, menentang kebenaran, serta memberikan kekuasaan dan kemenangan kepada kebatilan.

Orang-orang yang melakukan kezaliman tidak akan selamat dari keburukan dan dampak buruknya. Demikian pula para pengikutnya tidak akan terbebas dari kehinaan dan akibat tercelanya.

Para pelakunya dilaknat, orang-orang yang memikulnya dihapus keberkahannya, dan para pengikutnya dibenci.

Sebab kezaliman adalah kebodohan terhadap Allah Ta'ala dan hari Akhir, serta kelalaian terhadap akibat-akibat buruk yang ditimbulkan oleh kezaliman.

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا

"Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang-orang zalim. Gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (minum), mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek." (QS. Al-Kahfi: 29).


Wahai hamba-hamba Allah!

Bagaimanapun lemahnya orang yang dizalimi, sesungguhnya Allah pasti akan menolongnya.

Allah Azza wa Jalla telah menjadikan doa orang yang dizalimi sebagai doa yang mustajab, bahkan sekalipun doa tersebut berasal dari orang kafir. Maka, bagaimana lagi jika yang dizalimi itu seorang muslim?

Hal tersebut karena orang yang dizalimi biasanya mengalami perasaan hina, patah hati, tertindas, dan tidak berdaya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ تَحْمِلُ عَلَى الْغَمَامِ، وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَيَقُولُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

"Doa orang yang dizalimi dibawa ke atas awan, dan pintu-pintu langit dibukakan untuknya. Kemudian Rabb Tabaraka wa Ta'ala berfirman, 'Demi kemuliaan-Ku, sungguh Aku pasti akan menolongmu, meskipun setelah beberapa waktu.'"

(HR. Ahmad dengan sanad sahih).


Janganlah seorang zalim tertipu oleh penangguhan hukuman yang diberikan Allah kepadanya. Sesungguhnya Allah memberikan tenggang waktu, tetapi tidak pernah melalaikan atau membiarkan kezaliman begitu saja tanpa perhitungan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ، حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ

"Sesungguhnya Allah benar-benar memberikan tenggang waktu kepada orang yang zalim. Namun, apabila Allah telah menghukumnya, Dia tidak akan melepaskannya."

Kemudian beliau membaca firman Allah:

وَكَذَٰلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَىٰ وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ

"Demikianlah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya siksa-Nya sangat pedih lagi sangat keras." (QS. Hud: 102).

(HR. Al-Bukhari).


Wahai hamba-hamba Allah!

Barang siapa memiliki tanggungan kezaliman terhadap saudaranya, baik berupa hak-hak yang berkaitan dengan harta maupun hak-hak yang bersifat maknawi, hendaklah ia segera bertobat dan memohon ampun kepada Allah.

Hendaklah ia mengembalikan hak-hak tersebut kepada pemiliknya dan meminta kerelaan serta pembebasan dari orang-orang yang pernah dizaliminya.

Lakukanlah hal itu sekarang, selama masih ada kesempatan dan kelapangan waktu.

Hendaklah ia mengingat kematian beserta sakaratul mautnya, alam kubur beserta kegelapannya, timbangan amal beserta ketelitiannya, jembatan shirath beserta kemungkinan tergelincir darinya, serta peristiwa pengumpulan manusia dan berbagai keadaannya, juga kebangkitan dan segala kedahsyatannya.

Pada saat itu, ia akan mengetahui bahwa selama ini dirinya tidak lain hanyalah berada dalam tipuan dan kelalaian.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ، أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ، أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

"Barang siapa memiliki kezaliman terhadap seseorang, baik yang berkaitan dengan kehormatannya maupun perkara lainnya, hendaklah ia meminta pembebasan dan kerelaan dari orang tersebut sekarang juga, sebelum datang suatu hari ketika tidak ada lagi dinar dan dirham.

Jika orang yang menzalimi itu memiliki amal saleh, maka akan diambil darinya sejumlah amal saleh sesuai dengan kadar kezalimannya. Namun, jika ia tidak memiliki amal kebaikan, akan diambil dosa-dosa orang yang dizaliminya, kemudian dosa-dosa tersebut dibebankan kepadanya."

(HR. Al-Bukhari).


Selanjutnya, bershalawat dan ucapkanlah salam kepada orang yang Allah perintahkan kepada kalian untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepadanya.

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56).

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada hamba dan utusan-Mu, Nabi kami Muhammad, beserta seluruh keluarga dan sahabat beliau.









Pelajaran penting dari khutbah:

* Kezaliman merupakan perkara yang diharamkan Allah, bahkan Allah mengharamkannya atas diri-Nya sendiri karena kesempurnaan keadilan-Nya.

* Syirik merupakan kezaliman terbesar, sedangkan kemaksiatan dan pelanggaran terhadap kewajiban termasuk kezaliman terhadap diri sendiri.

* Hak sesama manusia merupakan perkara yang sangat berat pertanggungjawabannya, sebab tidak cukup hanya dengan istigfar dan tobat, tetapi harus mengembalikan hak atau meminta kerelaan pemiliknya.

* Doa orang yang dizalimi sangat berbahaya bagi orang zalim, meskipun orang yang dizalimi itu lemah dan tidak memiliki kekuatan.

* Penangguhan hukuman bukan tanda bahwa Allah meridai kezaliman. Allah memberikan kesempatan, tetapi apabila hukuman-Nya datang, tidak ada yang mampu menghindarinya.

* Kezaliman tidak hanya berupa pembunuhan dan perampasan harta, tetapi juga mencakup perkataan, penghinaan, ghibah, fitnah, pelanggaran privasi, pengabaian tugas, serta tindakan menyusahkan orang lain.

* Penyelesaian kezaliman harus dilakukan sebelum kematian, karena pada hari Kiamat tidak ada lagi dinar dan dirham. Yang digunakan untuk membayar hak manusia adalah pahala dan dosa.

Inti peringatan khutbah: Jangan sampai seseorang datang menghadap Allah dengan membawa pahala salat, puasa, dan berbagai amal saleh, tetapi semuanya habis untuk membayar hak-hak orang yang pernah dizaliminya.

Semoga Allah melindungi kita dari segala bentuk kezaliman, menjadikan kita orang-orang yang menegakkan keadilan, dan memberikan taufik kepada kita untuk menunaikan hak-hak sesama manusia. Amin.

Sabtu, 07 November 2026

KEZALIMAN ADALAH KEGELAPAN-KEGELAPAN PADA HARI KIAMAT


KEZALIMAN ADALAH KEGELAPAN-KEGELAPAN PADA HARI KIAMAT



Khutbah Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Alusy-Syaikh

Disampaikan di Riyadh, 12/8/1423 H, Masjid Jami' Imam Turki bin Abdullah.



### Ringkasan tema khutbah

* Allah Ta'ala mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan mengharamkannya di antara para hamba-Nya.

* Kezaliman yang paling besar adalah kesyirikan.

* Kezaliman manusia terhadap dirinya sendiri.

* Kezaliman manusia terhadap sesamanya.

* Bahaya kezaliman dan buruknya akibat yang ditimbulkannya.

* Peringatan agar tidak menzalimi istri.

* Berbagai macam bentuk kezaliman.

* Peringatan terhadap tindakan menunda-nunda pembayaran hak orang lain.

* Doa orang yang dizalimi.





 KHUTBAH PERTAMA

Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampunan kepada-Nya, dan bertobat kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita.

Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam yang sebanyak-banyaknya kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya hingga hari pembalasan.

Amma ba'du.

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan!

Wahai hamba-hamba Allah!

Sesungguhnya Allah Jalla Jalaluhu memiliki seluruh sifat kesempurnaan dan keagungan. Dia Mahasuci dari segala sifat cacat dan kekurangan.

Allah Ta'ala berfirman:

وَلِلَّهِ ٱلْمَثَلُ ٱلْأَعْلَىٰ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

"Dan Allah mempunyai sifat Yang Mahatinggi, dan Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. An-Nahl: 60).

Seluruh sifat Allah adalah sifat kesempurnaan. Adapun segala bentuk cacat dan kekurangan, Allah Mahasuci dan terbebas darinya. Mahatinggi Rabb kita, Mahasuci Dia, dan Mahasempurna Dia sebagai Tuhan serta sesembahan.

Di antara kesempurnaan keadilan Allah Jalla Jalaluhu adalah bahwa Dia mengharamkan kezaliman atas diri-Nya sendiri dan menjadikan kezaliman itu haram di antara para hamba-Nya.

Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:

يَا عِبَادِي، إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فَلَا تَظَالَمُوا

"Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku sendiri dan Aku menjadikannya haram di antara kalian. Oleh karena itu, janganlah kalian saling menzalimi."

(HR. Muslim no. 2577, dari Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu).

Dalil-dalil Al-Qur'an juga datang untuk menafikan sifat kekurangan dan cacat berupa kezaliman dari Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا هُمُ الظَّالِمِينَ

"Dan Kami tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri." (QS. Az-Zukhruf: 76).

Allah juga berfirman:

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

"Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-Nya." (QS. Fushshilat: 46).

Allah berfirman:

وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعَالَمِينَ

"Dan Allah tidak menghendaki kezaliman terhadap seluruh alam." (QS. Ali 'Imran: 108).

Allah juga berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَٰكِنَّ النَّاسَ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

"Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusialah yang menzalimi diri mereka sendiri." (QS. Yunus: 44).

Wahai saudara-saudaraku!

Sesungguhnya kezaliman dalam Kitabullah dan sunah Rasul-Nya berkisar pada tiga perkara.

### 1\. Kezaliman yang paling besar: kesyirikan

Kezaliman yang paling besar, paling berat, dan paling besar dosanya adalah kezaliman orang musyrik.

Sesungguhnya seseorang yang beribadah kepada selain Allah, dengan memalingkan seluruh atau sebagian jenis ibadah kepada selain Allah, sungguh telah melakukan kezaliman yang paling besar.

Sebab, hakikat penghambaan yang sebenarnya adalah mengesakan Allah dalam seluruh jenis ibadah.

Doa harus ditujukan hanya kepada Allah. Penyembelihan harus ditujukan hanya kepada Allah. Nazar harus ditujukan hanya kepada Allah. Rasa takut dalam bentuk ibadah hanya kepada Allah. Harapan dalam bentuk ibadah hanya kepada Allah.

Seluruh jenis ibadah merupakan hak Rabb kita Jalla Jalaluhu. Tidak boleh sedikit pun dari ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah. Maka janganlah kalian menyembah atau berdoa kepada siapa pun selain Allah di samping menyembah-Nya." (QS. Al-Jinn: 18).

Allah juga berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

"Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah, sungguh Allah telah mengharamkan surga baginya, dan tempat kembalinya adalah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim." (QS. Al-Ma'idah: 72).

Allah berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ۝ بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

"Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi sebelummu: 'Sungguh, jika engkau mempersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi.'

Karena itu, hendaklah Allah saja yang engkau sembah dan hendaklah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur." (QS. Az-Zumar: 65–66).

Luqman berkata kepada putranya dalam nasihatnya, sebagaimana Allah mengabarkan hal tersebut di dalam Kitab-Nya:

يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

"Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah benar-benar merupakan kezaliman yang besar." (QS. Luqman: 13).

Benar, kesyirikan merupakan kezaliman. Bahkan, kezaliman yang sangat besar.

Sebab, hakikat kezaliman adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Maka, kezaliman apakah yang lebih besar daripada memalingkan hak yang wajib diberikan kepada Allah kepada makhluk yang sama seperti dirimu, kepada orang mati atau orang yang tidak hadir, yang tidak mengetahui dan tidak menyadari sesuatu pun?!

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ

"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allah, yaitu sesuatu yang tidak dapat memperkenankan doanya sampai hari Kiamat, sedangkan mereka lalai terhadap doa orang-orang yang berdoa kepadanya?" (QS. Al-Ahqaf: 5).

Allah juga berfirman:

إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

"Jika kalian menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruan kalian. Sekiranya mereka mendengar, mereka juga tidak dapat memperkenankan permintaan kalian. Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kesyirikan kalian. Tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti Yang Maha Mengetahui." (QS. Fathir: 14).

Dengan demikian, kesyirikan merupakan kezaliman yang paling besar, paling agung, dan paling berat.

Oleh sebab itu, kesyirikan menghapus seluruh amal perbuatan. Tidak ada satu amal pun yang dapat menjadi baik dan diterima apabila disertai kesyirikan yang membatalkan keislaman.

Allah tidak menerima amal seorang musyrik yang mati dalam keadaan membawa kesyirikan. Bahkan, seluruh amalnya, betapapun besar amal tersebut, akan dijadikan oleh Allah seperti debu yang beterbangan.

Allah Ta'ala berfirman:

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

"Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan." (QS. Al-Furqan: 23).

### 2\. Kezaliman seorang hamba terhadap dirinya sendiri

Jenis kezaliman lainnya adalah kezaliman seorang hamba terhadap dirinya sendiri, yaitu dengan menyia-nyiakan sebagian perintah Allah dan melakukan sebagian larangan-Nya.

Wahai seorang muslim, sesungguhnya hal itu merupakan kezalimanmu terhadap dirimu sendiri.

Engkau menzalimi dirimu sendiri ketika bermaksiat kepada Allah, meninggalkan sebagian kewajiban Islam, dan melakukan sebagian perkara yang telah Allah haramkan.

Dengan demikian, engkau telah menzalimi dirimu sendiri.

Sebab, kewajibanmu adalah menaati Allah dan menyucikan jiwamu dengan amal saleh.

Allah Ta'ala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

"Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams: 9–10).

Maka, ketika engkau meninggalkan suatu kewajiban atau melakukan suatu perkara yang diharamkan, engkau telah menzalimi dirimu sendiri dan berbuat buruk terhadapnya.

Dalam hadis disebutkan:

كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو، فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

"Setiap manusia berangkat pada pagi harinya, lalu ada yang menjual dirinya sehingga membebaskannya, dan ada pula yang menjual dirinya sehingga membinasakannya."

(HR. Muslim no. 223, dari Abu Malik Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu).

Apabila seorang muslim selamat dari kezaliman berupa kesyirikan, kezaliman terhadap sesama manusia, dan kezaliman terhadap dirinya sendiri, niscaya dia termasuk orang-orang yang mendapatkan keamanan pada hari Kiamat.

Allah Ta'ala berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (kesyirikan), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-An'am: 82).

Maka, wahai hamba Allah, berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk menyucikan jiwamu. Jauhilah perbuatan menzalimi dirimu sendiri dengan melakukan kemaksiatan kepada Allah.

Selamatkanlah dirimu dari azab Allah dan bebaskanlah dirimu dari kemurkaan-Nya selama engkau masih berada di dunia ini dan pintu tobat masih terbuka untukmu.

### 3\. Kezaliman manusia terhadap sesamanya

Di antara bentuk kezaliman adalah kezaliman sebagian manusia terhadap sebagian yang lain, baik berkaitan dengan darah, harta, maupun kehormatan mereka.

Sesungguhnya kezaliman terhadap sesama manusia akan menjadi kegelapan-kegelapan pada hari Kiamat.

Engkau menzalimi saudaramu sesama muslim dengan merusak kehormatannya, menumpahkan darahnya, atau mengambil hartanya. Semua itu termasuk berbagai bentuk kezaliman.

Karena itu, berusahalah untuk melepaskan diri dari berbagai kezaliman tersebut selama engkau masih berada di dunia.

Nabi kita telah memperingatkan agar sebagian kita tidak menzalimi sebagian yang lain dan tidak menyakiti satu sama lain.

Beliau bersabda:

اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ

"Jauhilah kezaliman, karena sesungguhnya kezaliman adalah kegelapan-kegelapan pada hari Kiamat. Dan jauhilah sifat kikir yang berlebihan, karena sesungguhnya sifat tersebut telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Sifat itu mendorong mereka untuk menumpahkan darah sesama mereka dan menghalalkan perkara-perkara yang diharamkan atas mereka."

(HR. Muslim no. 2578, dari Jabir radhiyallahu 'anhu).

Beliau juga bersabda:

الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Kezaliman adalah kegelapan-kegelapan pada hari Kiamat."

(HR. Bukhari no. 2447 dan Muslim no. 2579, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma).

Manusia yang paling berbahagia di dunia ini adalah orang yang bertemu dengan Allah dalam keadaan telah terbebas dari kezaliman terhadap sesama manusia.

Yaitu orang yang bertemu Allah tanpa membawa tanggungan kezaliman terhadap manusia, baik berkaitan dengan darah, harta, maupun kehormatan.

Dengan demikian, amal-amal kebaikannya tetap terjaga dan dia dapat mengambil manfaat darinya pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.

Wahai seorang muslim!

Ketahuilah bahwa kezaliman yang engkau lakukan di dunia ini tidak akan hilang begitu saja. Pada hari Kiamat, penyelesaiannya akan dilakukan dengan mengambil pahala kebaikanmu.

Apabila engkau tidak membebaskan dirimu dari kezaliman terhadap manusia ketika masih di dunia, kelak akan dilakukan pembayaran hak melalui amal-amal kebaikanmu.

Apabila amal kebaikanmu telah habis sebelum seluruh tanggungan kezalimanmu diselesaikan, dosa-dosa dan kesalahan orang-orang yang pernah engkau zalimi akan dibebankan kepadamu.

Betapa besar kerugian pada hari yang agung tersebut!

Rasulullah memperingatkan seorang muslim agar tidak berbuat zalim. Beliau bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَكْذِبُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ

"Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Dia tidak boleh menzaliminya, mendustainya, dan membiarkannya dalam keadaan tidak mendapatkan pertolongan."

(HR. Muslim no. 2564; tambahan lafaz tentang tidak mendustai diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 1927).

Beliau juga memberikan petunjuk kepada seorang muslim agar melepaskan diri dari kezaliman terhadap sesama manusia selama masih di dunia.

Beliau bersabda:

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

"Barang siapa memiliki tanggungan kezaliman terhadap saudaranya, baik berkaitan dengan kehormatannya maupun perkara lainnya, hendaklah dia meminta agar dibebaskan dari tanggungan tersebut pada hari ini, sebelum datang suatu hari ketika tidak ada lagi dinar dan dirham.

Jika dia memiliki amal saleh, akan diambil darinya sesuai kadar kezalimannya. Namun, jika dia tidak memiliki amal kebaikan, akan diambil dosa-dosa saudaranya yang pernah dizaliminya, kemudian dosa-dosa itu dibebankan kepadanya."

(HR. Bukhari no. 2449, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dengan lafaz yang semakna).

Beliau juga pernah bertanya kepada para sahabat:

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ فِيكُمْ؟

"Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut di antara kalian?"

Para sahabat menjawab, "Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak mempunyai dinar dan tidak mempunyai harta benda."

Sebab, menurut pemahaman kami, orang yang bangkrut adalah orang yang sedikit hartanya.

Kemudian Rasulullah bersabda:

إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

"Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat dengan membawa pahala salat, puasa, dan zakat. Akan tetapi, dia juga datang dengan keadaan pernah mencaci orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang ini.

Maka diberikanlah kepada orang yang pernah dizaliminya sebagian pahala kebaikannya, dan kepada orang lainnya juga diberikan sebagian pahala kebaikannya.

Apabila pahala kebaikannya telah habis sebelum seluruh tanggungan kezalimannya diselesaikan, dosa-dosa orang-orang yang pernah dizaliminya akan diambil lalu dibebankan kepadanya. Kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka."

(HR. Muslim no. 2581, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu).

Inilah kebangkrutan yang sebenarnya.

Yaitu ketika seseorang memiliki berbagai amal saleh: dia telah melaksanakan salat, berpuasa, menunaikan zakat, berhaji, berbakti kepada kedua orang tua, dan menunaikan kewajiban-kewajibannya.

Namun, pada saat yang sama, dia menzalimi hamba-hamba Allah dalam harta mereka. Dia mengambil harta mereka secara zalim dan melampaui batas.

Dia menggunakan lisannya untuk menyakiti mereka, mencela dan menuduh mereka dengan berbagai tuduhan. Dia mengatakan tentang mereka sesuatu yang Allah mengetahui bahwa mereka sebenarnya terbebas darinya.

Dia menumpahkan darah yang diharamkan. Dia membantu kezaliman terhadap seorang muslim, baik dengan perkataan maupun perbuatan.

Dia menggunakan berbagai cara untuk menimpakan kezaliman dan gangguan kepada seorang muslim. Dia menghalangi orang tersebut dari hak-haknya. Dia mengatakan sesuatu yang tidak ada pada diri orang tersebut.

Maka, ketahuilah bahwa orang-orang yang pernah engkau zalimi akan diberi kesempatan mengambil pahala kebaikanmu pada hari Kiamat.

Padahal, setiap orang di hari itu sangat membutuhkan walaupun hanya sebesar biji zarah dari kebaikan agar timbangan amalnya menjadi berat.

Allah Ta'ala berfirman:

فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ۝ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ

"Barang siapa berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa ringan timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri. Mereka kekal di dalam neraka Jahanam." (QS. Al-Mu'minun: 102–103).

### Berbagai bentuk kezaliman dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah

Wahai seorang muslim!

Sesungguhnya di dalam Al-Qur'an dan sunah terdapat penjelasan mengenai berbagai bentuk kezaliman. Hal itu dimaksudkan untuk memperingatkan seorang muslim dan membimbingnya agar menjauhi perbuatan menzalimi sesama manusia.

Ketika Allah Jalla wa 'Ala menjelaskan dalam Kitab-Nya bahwa seorang suami tidak boleh mengambil kembali sesuatu pun dari mahar yang telah diberikan kepada istrinya, kecuali apabila terdapat sebab yang menghalangi keduanya untuk menegakkan hak-hak Allah, Allah kemudian berfirman:

إِلَّا أَنْ يَخَافَا أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

"Kecuali apabila keduanya khawatir tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kalian khawatir bahwa keduanya tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kalian melanggarnya. Barang siapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Baqarah: 229).

Dengan demikian, Allah menyifati suami yang menyusahkan istrinya dengan cara mengambil kembali maharnya apabila tidak terjadi kecocokan di antara keduanya, sementara tidak ada kesalahan atau kerugian yang dilakukan oleh pihak istri dan persoalannya justru berasal dari pihak suami, bahwa pengambilan kembali mahar yang telah diberikan kepada istrinya merupakan kezaliman terhadap istri.

Sebab, dia mengambil sesuatu yang bukan haknya. Istri tersebut telah berhak atas seluruh mahar yang diberikan kepadanya karena suaminya telah menikahinya dan telah menghalalkan hubungan dengannya.

Apabila suami ingin mengambil kembali mahar tersebut tanpa adanya sebab atau kesalahan dari pihak istri, berarti dia telah berbuat zalim. Harta yang diambilnya itu haram baginya.

Ketika Allah mengharamkan riba, Allah menyebutnya sebagai kezaliman.

Allah Ta'ala berfirman:

وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

"Jika kalian bertobat dari mengambil riba, maka bagi kalian pokok harta kalian. Kalian tidak menzalimi dan tidak pula dizalimi." (QS. Al-Baqarah: 279).

Allah menjadikan riba sebagai bentuk kezaliman karena riba merupakan pengambilan harta tanpa hak.

Orang yang memberikan pinjaman dengan riba, apabila tidak mendapatkan keuntungan, tidak boleh kemudian menimpakan kerugian kepada orang lain. Dia tidak boleh membebani seseorang dengan sesuatu yang bukan menjadi kewajibannya.

Karena itulah Allah menyebut perbuatan tersebut sebagai kezaliman.

Allah Jalla wa 'Ala juga menyebut tindakan memakan harta anak yatim secara zalim sebagai kezaliman.

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

"Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api ke dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)." (QS. An-Nisa': 10).

Allah Ta'ala juga mengabarkan bahwa memakan harta manusia dan membunuh diri sendiri termasuk bentuk kezaliman.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا ۝ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kalian. Dan janganlah kalian membunuh diri kalian. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada kalian.

Barang siapa berbuat demikian dengan cara melanggar hukum dan berbuat zalim, kelak Kami akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu mudah bagi Allah." (QS. An-Nisa': 29–30).

Allah juga menyifati pencuri sebagai orang zalim karena dia mengambil harta tanpa hak.

Allah berfirman:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ۝ فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya sebagai balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Tetapi barang siapa bertobat setelah melakukan kezaliman itu dan memperbaiki diri, sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Ma'idah: 38–39).

Allah menjadikan pencuri harta sebagai orang zalim karena dia mengambil harta yang bukan haknya.

Allah juga menyebut orang yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan-Nya sebagai orang zalim.

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

"Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim." (QS. Al-Ma'idah: 45).

Sebab, hukum-hukum selain syariat Allah mengandung kezaliman dan ketidakadilan serta memberikan hak kepada orang yang tidak berhak menerimanya.

Hukum-hukum tersebut tidak terbebas dari ketidakadilan dan jauh dari keadilan. Sebab, keadilan yang sebenarnya adalah syariat Allah yang dengannya Dia mengutus Nabi-Nya, Muhammad ﷺ.

### Menunda pembayaran hak orang lain adalah kezaliman

Wahai seorang muslim!

Di antara bentuk kezaliman adalah tindakan orang yang memiliki kewajiban terhadap orang lain, tetapi menunda-nunda pembayaran hak tersebut dan tidak memberikan hak yang seharusnya dia tunaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ، يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوبَتَهُ

"Penundaan pembayaran oleh orang yang mampu adalah suatu kezaliman. Hal itu membolehkan kehormatannya dicela dan dikenakan hukuman kepadanya."

Maksudnya, seseorang yang memiliki kewajiban membayar hak orang lain, kemudian menunda pelunasannya padahal dia mampu membayar, sungguh telah menzalimi muslim tersebut. Dia menahan hartanya tanpa hak.

Adapun orang yang memang memiliki uzur karena tidak mempunyai kemampuan, Allah berfirman:

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ

"Dan jika orang yang berutang itu dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan." (QS. Al-Baqarah: 280).

Maka, tindakan menzalimi orang yang memiliki hak atas dirimu dan menunda pembayaran tanpa alasan, padahal engkau mampu membayarnya, merupakan kezalimanmu terhadap seorang muslim.

Sebab, engkau menunda pembayaran haknya sementara engkau mampu melunasinya.

Di antara bentuk kezaliman lainnya adalah kezaliman seorang mitra usaha terhadap mitra usahanya dan tidak mengakui hak-hak yang dimiliki oleh mitranya.

Dalam hadis disebutkan bahwa Allah berfirman:

أَنَا ثَالِثُ الشَّرِيكَيْنِ مَا لَمْ يَخُنْ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ

"Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang berserikat selama salah seorang dari keduanya tidak mengkhianati rekannya."

Apabila salah seorang dari keduanya mengkhianati rekannya, Aku keluar dari keduanya.

(HR. Abu Dawud no. 3383. Tambahan lafaz dalam riwayat yang disebutkan oleh penulis adalah: 'Datanglah setan'. Status hadis ini diperselisihkan; Ad-Daraquthni mengkritik sanadnya karena diriwayatkan secara mursal, sedangkan Al-Albani melemahkannya).

Di antara bentuk kezaliman adalah mengambil sebagian tanah milik seorang muslim tanpa hak.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنِ اقْتَطَعَ شِبْرًا مِنَ الْأَرْضِ ظُلْمًا طُوِّقَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ

"Barang siapa mengambil sejengkal tanah secara zalim, kelak pada hari Kiamat tanah tersebut akan dikalungkan kepadanya dari tujuh lapis bumi."

(HR. Bukhari no. 2452 dan Muslim no. 1610, dari Sa'id bin Zaid radhiyallahu 'anhu, dengan lafaz yang semakna).

Di antara bentuk kezaliman adalah mengutamakan sebagian anak dibandingkan anak-anak lainnya karena dorongan hawa nafsu dan mengikuti keinginan orang yang tidak pantas untuk ditaati dalam perkara tersebut.

Ketika Nabi ﷺ diminta untuk memberikan kesaksian atas tindakan mengutamakan sebagian anak dalam pemberian, beliau bersabda:

اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ

"Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah di antara anak-anak kalian."

(HR. Bukhari no. 2587 dan Muslim no. 1623, dari An-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhuma).

Beliau juga bersabda:

أَشْهِدْ عَلَى هَذَا غَيْرِي

"Carilah orang lain selain aku untuk menjadi saksi atas hal ini."

Beliau juga bersabda:

إِنِّي لَا أَشْهَدُ عَلَى جَوْرٍ

"Sesungguhnya aku tidak mau menjadi saksi atas suatu tindakan ketidakadilan."

(HR. Bukhari no. 2650 dan Muslim).

Dengan demikian, Nabi ﷺ menyebut tindakan mengutamakan sebagian anak dibandingkan yang lain sebagai ketidakadilan. Beliau pun menolak memberikan kesaksian atas perbuatan tersebut.

Di antara bentuk kezaliman adalah mengolok-olok kaum muslimin, merendahkan mereka, dan memandang mereka hina melalui perkataan maupun perbuatan.

Allah Jalla wa 'Ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok. Jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan yang lain, karena boleh jadi perempuan yang diperolok-olokkan lebih baik daripada perempuan yang mengolok-olok.

Janganlah kalian saling mencela dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk setelah beriman. Barang siapa tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim." (QS. Al-Hujurat: 11).

Allah menyebut orang-orang yang mengolok-olok, mencela, dan merendahkan saudara-saudara mereka sebagai orang-orang zalim.

Sebab, perbuatan tersebut merupakan kezalimanmu terhadap saudaramu.

Padahal, kewajibanmu adalah menghormatinya, menahan diri dari menyakitinya, memuji Allah atas nikmat yang telah diberikan kepadamu, dan memohon kepada Allah agar semua orang mendapatkan keselamatan dan kebaikan.

Wahai seorang muslim!

Di antara bentuk kezaliman lainnya adalah memberikan kesaksian palsu.

Orang yang memberikan kesaksian palsu telah menzalimi dirinya sendiri karena membebani dirinya dengan dosa-dosa dan kesalahan.

Dia juga menzalimi orang yang diberi kesaksian untuknya karena telah membantunya dalam perbuatan dosa dan permusuhan.

Dia juga menzalimi orang yang menjadi sasaran kesaksian tersebut karena berusaha mengambil harta dan haknya tanpa alasan yang dibenarkan.

Ini pun termasuk berbagai bentuk kezaliman.

Oleh karena itu, hendaklah seorang muslim bertakwa kepada Rabb-nya dalam urusan kezaliman terhadap hamba-hamba Allah.

Hendaklah dia waspada terhadap akibat dan dampak buruk kezaliman.

Hendaklah dia merenungkan kehidupannya. Tidak ada kebaikan dalam kehidupan yang seluruhnya dipenuhi dengan kezaliman terhadap sesama manusia.

Bebaskanlah dirimu dari hak-hak manusia yang masih menjadi tanggunganmu dan selesaikanlah tanggungan tersebut semampumu.

Periksalah urusanmu dan renungkanlah keadaan dirimu.

Wahai orang yang memiliki hubungan transaksi dan ikatan perdagangan dengan orang lain!

Bebaskanlah dirimu dari tanggungan tersebut sekarang, sebelum engkau bertemu Allah dengan membawa beban tanggungan terhadap manusia.

Manusia mungkin melupakannya dan tidak lagi mengingatnya, tetapi Allah mencatat seluruhnya atas dirimu pada hari Kiamat.

Allah Ta'ala berfirman:

أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ

"Allah menghitungnya, sedangkan mereka telah melupakannya." (QS. Al-Mujadilah: 6).

Janganlah kekuatanmu, kemampuanmu, dan kecerdikanmu dalam berbagai urusan membuatmu tertipu.

Akan tetapi, awasilah Allah yang mengetahui pandangan mata yang khianat dan segala sesuatu yang tersembunyi di dalam dada.

Awasilah Allah dalam seluruh keadaanmu.

Ketahuilah bahwa kemampuanmu untuk menzalimi manusia dengan cara apa pun tidak akan memberikan manfaat sedikit pun bagimu.

Sikap yang benar-benar bijaksana adalah membebaskan tanggunganmu dari kezaliman terhadap sesama manusia.

Inilah kebijaksanaan, akal, dan pemahaman yang sebenarnya.

Adapun mencari-cari cara untuk mengakali manusia, mengerahkan segala sarana, dan menggunakan kecerdikan yang penuh tipu daya untuk menzalimi mereka, semua itu sama sekali tidak memberikan manfaat di sisi Allah.

Karena itu, berhati-hatilah!

Janganlah engkau menzalimi manusia dalam harta mereka.

Janganlah engkau melanggar kehormatan mereka.

Janganlah engkau menuduh mereka dengan sesuatu yang sebenarnya mereka terbebas darinya.

Janganlah engkau berusaha menumpahkan darah mereka.

Janganlah engkau memberikan kesaksian palsu terhadap mereka dan mengatakan tentang mereka sesuatu yang tidak ada pada diri mereka.

Sesungguhnya semua itu merupakan tindakan menyakiti orang-orang beriman.

Allah Ta'ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

"Dan orang-orang yang menyakiti laki-laki dan perempuan yang beriman tanpa kesalahan yang mereka perbuat, sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (QS. Al-Ahzab: 58).

Aku menyampaikan perkataanku ini, dan aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia untuk diriku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum muslimin dari setiap dosa.

Maka, mohonlah ampun kepada-Nya dan bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

### KHUTBAH KEDUA

Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan penuh berkah, sebagaimana yang dicintai dan diridai oleh Rabb kita.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam yang sebanyak-banyaknya kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya hingga hari pembalasan.

Amma ba'du.

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan!

### Kezaliman para pengusaha terhadap para pekerja

Wahai hamba-hamba Allah!

Di antara bentuk kezaliman manusia adalah kezaliman para pengusaha terhadap para pekerja yang berada di bawah tanggung jawab mereka.

Kezaliman tersebut dilakukan dengan menunda hak-hak para pekerja dan mengulur-ulur pembayarannya. Mereka menjadikan pembayaran hak para pekerja sebagai perkara paling akhir yang mereka tunaikan.

Mereka tidak memedulikan hak-hak orang-orang miskin tersebut.

Mereka menzalimi para pekerja dengan menunda pembayaran hak-hak mereka hingga berbulan-bulan lamanya, padahal sebagian dari para pengusaha itu adalah orang-orang kaya.

Mereka menggunakan uang tersebut untuk kepentingan dan keuntungan pribadi mereka, sementara para pekerja yang miskin dan lemah tidak mempunyai bekal penghidupan dan tidak memiliki kemampuan untuk menuntut haknya.

Para pengusaha tersebut menzalimi mereka dengan menunda pembayaran hak-haknya.

Bahkan, kezaliman itu terkadang bertambah parah dengan memotong sebagian hak mereka dan membuat berbagai alasan serta tipu daya untuk mengambil sebagian hak orang-orang miskin tersebut.

Atau, pada waktu-waktu tertentu mereka berusaha memaksa para pekerja agar mengubah kontrak kerja sebelumnya, yaitu kontrak yang menjadi alasan kedatangan mereka untuk bekerja.

Mereka memaksa para pekerja tersebut, sementara para pekerja tidak memiliki pilihan lain selain menyetujuinya.

Dengan demikian, para pengusaha itu telah mengkhianati amanah mereka.

Padahal, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ

"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu." (QS. Al-Ma'idah: 1).

Dalam hadis disebutkan bahwa Allah berfirman:

ثَلَاثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Ada tiga golongan yang Aku menjadi lawan mereka pada hari Kiamat."

Di antara ketiga golongan tersebut adalah:

وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُعْطِهِ أَجْرَهُ

"Seorang laki-laki yang mempekerjakan seorang pekerja, kemudian dia telah mengambil seluruh hasil pekerjaannya, tetapi tidak memberikan upahnya."

(HR. Bukhari no. 2227, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu).

Wahai saudaraku!

Pekerja miskin ini telah meninggalkan negeri dan keluarganya, kemudian datang untuk mencari rezeki dan penghidupan.

Maka, berbuat baiklah kepadanya dan pahamilah kebutuhan serta kelemahannya.

Selama engkau telah menerima pekerjaan yang dilakukannya secara sempurna dan tuntas, janganlah engkau menzaliminya setelah itu.

Berikanlah haknya.

Janganlah engkau memanfaatkan kelemahan dan ketidakmampuannya untuk memotong haknya atau sebagian haknya.

Janganlah engkau menunda hak yang memang wajib diberikan kepadanya.

Jangan pula engkau menggunakan berbagai cara untuk memaksanya menyetujui kontrak baru yang akan menyulitkan kehidupannya.

Dia mungkin menyetujuinya dengan berat hati, tetapi dia tidak memiliki pilihan dan tidak mempunyai kemampuan untuk menolak.

Karena itu, bertakwalah kepada Allah dalam urusan dirimu sendiri, wahai para pengusaha!

Berikanlah hak-hak manusia kepada mereka.

Berikanlah hak pekerja sebelum kering keringatnya.

Ketahuilah bahwa memberikan hak-hak manusia kepada mereka merupakan salah satu tanda keimanan.

Di antara tiga orang yang terjebak di dalam gua karena sebuah batu besar menutup pintu gua, terdapat seorang laki-laki yang berdoa kepada Allah dengan menyebut amal salehnya.

Dia berkata:

"Ya Allah, dahulu aku memiliki beberapa orang pekerja. Aku telah memberikan upah mereka, kecuali seorang pekerja yang pergi meninggalkan upahnya.

Kemudian aku mengembangkan upah tersebut sehingga menjadi harta yang banyak.

Ketika pekerja itu datang kembali dan berkata, 'Berikanlah hakku kepadaku,' aku berkata kepadanya, 'Seluruh unta, sapi, kambing, tanaman, dan budak yang engkau lihat ini adalah milikmu.'

Dia berkata, 'Apakah engkau sedang mempermainkanku?'

Aku menjawab, 'Tidak.'

Kemudian dia mengambil seluruh harta tersebut tanpa menyisakan sedikit pun.

Ya Allah, jika aku melakukan hal tersebut semata-mata untuk mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kami dari kesulitan yang sedang kami hadapi."

Kemudian batu besar itu bergeser setelah dua orang lainnya juga berdoa kepada Allah dengan menyebut amal saleh mereka.

(HR. Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, dalam hadis tentang tiga orang yang terjebak di dalam gua).

Dengan demikian, menunaikan hak-hak manusia merupakan salah satu sebab terangkatnya kesusahan dan terbebasnya seseorang dari berbagai kesulitan.

Betapa banyak orang yang bertanya dan berkata:

"Aku mempunyai para pekerja yang telah pergi dan meninggalkan hak-hak mereka. Apa yang harus aku lakukan terhadap hak-hak tersebut?"

Dia baru bertanya setelah sebelumnya melalaikan, menyia-nyiakan, dan mengabaikan hak-hak mereka.

Ketika dia mengetahui kesalahan yang telah dilakukannya, barulah dia ingin melepaskan diri dari tanggungan tersebut.

Padahal, selama masih ada kesempatan, dia bisa memberikan hak-hak manusia kepada mereka dan senantiasa merasa diawasi oleh Allah dalam seluruh urusannya.

Sesungguhnya Allah senantiasa melihat dan menyaksikan dirimu serta seluruh amal perbuatanmu.

Barang siapa selalu merasa diawasi Allah dalam setiap keadaannya, menjadikan Allah sebagai pengawasan utama dalam seluruh urusannya, niscaya dia akan menunaikan amanah dan memberikan hak-hak kepada pemiliknya.

Dia akan hidup dengan bahagia dan hati yang tenang.

Adapun orang yang melalaikan hak-hak manusia, dia akan menyesal pada hari ketika penyesalan tidak lagi berguna.

Ketika ajalnya datang dan keberangkatannya dari dunia semakin dekat, berbagai kezaliman terhadap manusia akan terbayang di hadapannya.

Dia akan berharap agar dikembalikan ke dunia supaya dapat membebaskan dirinya dari berbagai kezaliman tersebut.

Maka, manfaatkanlah kesempatan hidupmu yang masih tersisa!

Bebaskanlah dirimu dari berbagai tanggungan tersebut.

Berikanlah kepada setiap orang haknya, sehingga engkau bertemu Allah dalam keadaan selamat dari berbagai tanggungan dan tuntutan manusia.

Aku memohon kepada Allah agar memberikan taufik, ketepatan, dan pertolongan kepada kita semua untuk melakukan segala kebaikan. Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

### Doa orang yang dizalimi pasti mendapatkan perhatian Allah

Wahai seorang muslim!

Sesungguhnya doa orang yang dizalimi adalah doa yang menembus, doa yang dikabulkan, dan doa yang akan mengenai orang zalim, siapa pun dia.

Doa tersebut naik menuju langit. Pintu-pintu langit dibukakan untuknya. Doa itu naik kepada Allah Yang Mahamulia lagi Mahaagung.

Betapa banyak musibah yang menimpa dirimu, anakmu, atau hartamu, sementara engkau melupakan berbagai kezaliman yang pernah engkau lakukan.

Kemudian tiba-tiba berbagai musibah datang menghampirimu.

Pada saat itulah engkau mengetahui hakikat persoalan yang sebenarnya.

Nabi ﷺ pernah memberikan wasiat kepada Mu'adz bin Jabal, yang beliau utus ke Yaman, ketika memberikan penjelasan tentang penentuan kadar zakat hewan ternak.

Beliau bersabda:

اتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

"Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah."

(HR. Bukhari no. 1496 dan Muslim no. 19, dalam hadis tentang pengutusan Mu'adz ke Yaman).

Dalam hadis lainnya disebutkan:

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

"Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa ketika berbuka, dan doa orang yang dizalimi."

يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ الْغَمَامِ، وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَيَقُولُ الرَّبُّ: وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

"Allah mengangkat doa tersebut ke atas awan, pintu-pintu langit dibukakan untuknya, dan Rabb berfirman: 'Demi kemuliaan-Ku, sungguh Aku akan menolongmu, sekalipun setelah beberapa waktu.'"

(HR. At-Tirmidzi no. 3598, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dengan pembahasan mengenai kualitas sanad sebagaimana dijelaskan para ulama hadis).

Betapa banyak kezaliman yang mendatangkan kebinasaan bagi pelakunya sendiri!

Kezaliman menghilangkan keberkahan umur, harta, dan anak-anak. Kezaliman menghancurkan rumah tangga dan membinasakan berbagai kebaikan.

Oleh karena itu, kewajiban seorang muslim adalah bertakwa kepada Allah dan membebaskan dirinya dari berbagai tuntutan doa orang-orang yang dizalimi.

Orang yang dizalimi berdoa untuk kebinasaanmu, sedangkan Allah mendengar doanya setiap saat dan setiap waktu.

Engkau berada dalam kelalaian di dunia ini, sibuk dengan kesenangan dan permainanmu.

Sementara itu, orang yang pernah engkau sakiti melalui kezalimannya, orang yang hartanya engkau makan secara zalim, terus memanjatkan doa terhadapmu.

Doanya didengar oleh Allah Yang Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Mahakuasa atas segala sesuatu.

Allah mendengar doa tersebut. Dia adalah Zat yang apabila menghendaki sesuatu, Dia hanya berfirman kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu.

Dalam hadis disebutkan:

إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ

"Sesungguhnya Allah benar-benar memberikan penangguhan kepada orang zalim. Namun, ketika Allah telah menghukumnya, Dia tidak akan melepaskannya."

Kemudian Rasulullah membaca firman Allah:

وَكَذَٰلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَىٰ وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ

"Dan begitulah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya sangat pedih dan sangat berat." (QS. Hud: 102).

(HR. Bukhari no. 4686 dan Muslim no. 2583, dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu).

Nabi kita ﷺ juga pernah bersabda kepada sebagian sahabatnya ketika mereka mengajukan suatu perselisihan kepada beliau.

Beliau bersabda:

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ، وَإِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ، وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَلْحَنَ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ، فَأَقْضِي لَهُ عَلَى نَحْوِ مَا أَسْمَعُ، فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ مِنْ حَقِّ أَخِيهِ شَيْئًا فَلَا يَأْخُذْهُ، فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنَ النَّارِ

"Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia. Kalian mengajukan perselisihan kepada diriku. Boleh jadi sebagian dari kalian lebih pandai menyampaikan hujahnya daripada sebagian yang lain. Kemudian aku memutuskan perkara berdasarkan apa yang aku dengar.

Maka barang siapa yang aku putuskan mendapatkan sesuatu dari hak saudaranya, janganlah dia mengambilnya. Sesungguhnya aku hanya memberikan kepadanya sepotong bagian dari api neraka."

(HR. Bukhari no. 6967 dan Muslim no. 1713, dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, dengan lafaz yang semakna).

Aku memohon kepada Allah agar memberikan taufik dan petunjuk kepada diriku dan kalian, serta menjaga kita dari perbuatan menzalimi sesama manusia.

Aku juga memohon kepada-Nya agar membebaskan kita dari berbagai tanggungan kezaliman tersebut dengan karunia dan rahmat-Nya.

Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ketahuilah, semoga Allah merahmati kalian, bahwa sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ.

Seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam agama. Setiap bid'ah adalah kesesatan.

Hendaklah kalian senantiasa berpegang teguh kepada jamaah kaum muslimin, karena sesungguhnya tangan Allah bersama jamaah. Barang siapa menyimpang dari jamaah, dia akan menyimpang menuju neraka.

Kemudian berselawatlah kalian kepada Nabi kalian, Muhammad ﷺ, semoga Allah merahmati kalian, sebagai bentuk pelaksanaan perintah Rabb kalian.

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56).

Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad.

Ya Allah, ridaailah para khalifah beliau yang mendapatkan petunjuk, yaitu para khalifah yang lurus...







### Keterangan takhrij hadis : 



1\. Hadis qudsi tentang Allah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan mengharamkannya di antara para hamba-Nya: diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Al-Birr, no. 2577, dari Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu.

2\. Hadis tentang setiap manusia yang berangkat pada pagi hari, lalu membebaskan atau membinasakan dirinya: diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Ath-Thaharah, bab Keutamaan Wudu, no. 223, dari Abu Malik Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.

3\. Hadis tentang larangan kezaliman dan sifat kikir yang membinasakan umat terdahulu: diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Al-Birr, bab Pengharaman Kezaliman, no. 2578, dari Jabir radhiyallahu 'anhu.

4\. Hadis tentang kezaliman sebagai kegelapan pada hari Kiamat: diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Al-Mazhalim, no. 2447, dan Muslim dalam Kitab Al-Birr, no. 2579, dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma.

5\. Hadis bahwa seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak menzalimi, tidak mendustai, dan tidak membiarkannya: diriwayatkan oleh Muslim no. 2564. Tambahan lafaz "tidak mendustainya" terdapat dalam riwayat At-Tirmidzi no. 1927.

6\. Hadis tentang kewajiban meminta pembebasan dari kezaliman sebelum datang hari yang tidak ada dinar dan dirham: diriwayatkan oleh Bukhari no. 2449, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dengan lafaz yang semakna.

7\. Hadis tentang orang yang bangkrut pada hari Kiamat: diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Al-Birr wash-Shilah, no. 2581, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

8\. Hadis tentang penundaan pembayaran utang oleh orang kaya sebagai kezaliman: lafaz "مطل الغني ظلم" diriwayatkan oleh Bukhari no. 2287 dan Muslim no. 1564. Adapun lafaz tentang orang yang mampu membayar utang tetapi sengaja menunda sehingga kehormatan dan hukumannya dapat dituntut, diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud no. 3627, An-Nasa'i no. 4689–4690, dan Ibnu Majah no. 2427. Dinilai sahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim, disetujui Adz-Dzahabi, serta dinilai hasan oleh Al-Hafizh dan Al-Albani.

9\. Hadis tentang Allah sebagai pihak ketiga bagi dua orang yang berserikat selama keduanya tidak saling mengkhianati: diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3383, Ad-Daraquthni, dan Al-Baihaqi. Hadis ini dinilai sahih oleh Al-Hakim, tetapi dikritik oleh Ad-Daraquthni karena sanadnya mursal dan dilemahkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa'.

10\. Hadis tentang orang yang mengambil tanah sejengkal secara zalim: diriwayatkan oleh Bukhari no. 2452 dan Muslim no. 1610, dari Sa'id bin Zaid radhiyallahu 'anhu.

11\. Hadis tentang kewajiban berlaku adil di antara anak-anak: diriwayatkan oleh Bukhari no. 2587 dan Muslim no. 1623, dari An-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhuma.

12\. Lafaz tentang penolakan Nabi ﷺ untuk menjadi saksi atas ketidakadilan terdapat dalam riwayat Muslim.

13\. Lafaz إِنِّي لَا أَشْهَدُ عَلَى جَوْرٍ diriwayatkan oleh Bukhari no. 2650 dan juga terdapat dalam riwayat Muslim.




Catatan penting: 

Khutbah ini memberikan pelajaran besar: 
kezaliman bukan hanya mengambil harta orang lain, tetapi juga mencakup kesyirikan, kemaksiatan, merusak kehormatan, menunda hak pekerja, mengkhianati mitra, tidak adil kepada anak, dan segala bentuk tindakan melanggar hak manusia.