Rabu, 28 Oktober 2026

APA YANG DISISI ALLAH LEBIH BAIK DAN KEKAL


APA YANG DISISI ALLAH LEBIH BAIK DAN KEKAL


 Terjemahan Lengkap Khutbah Masjid Nabawi



Khatib: Syekh Ali bin Abdurrahman al-Hudzaifi حفظه الله

Tanggal khutbah: 13 Dzulhijjah 1431 H


Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada para hamba-Nya berbagai nikmat-Nya yang tidak terhitung. Mahaberkah dan Mahasuci nama Rabb kita. Milik-Nya nama-nama yang paling indah. Dialah Rabb kita dan Rabb segala sesuatu. Kita tidak mampu menghitung pujian kepada-Nya; Dia sebagaimana Dia memuji diri-Nya sendiri dengan sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi.

Segala puji bagi Allah di dunia dan di akhirat.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku menyimpan kesaksian keikhlasan ini untuk hari ketika tidak ada sesuatu pun yang bermanfaat kecuali ketakwaan.

Aku bersaksi bahwa Nabi dan pemimpin kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya yang terpilih.

Ya Allah, limpahkanlah salawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, serta kepada keluarga dan para sahabatnya yang menjadi panji-panji petunjuk.

Amma ba’du.

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan, dan berpegang teguhlah pada tali Islam yang paling kokoh.

Wahai hamba-hamba Allah!

 1\. Kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan dalam ketaatan kepada Allah

Sesungguhnya merasa senang dan gembira ketika memperoleh apa yang diinginkan, meraih sesuatu yang dicintai, dan mencapai berbagai tujuan merupakan sifat jiwa, sesuatu yang telah menjadi tabiat hati, serta perkara yang diusahakan oleh manusia.

Akan tetapi, keinginan duniawi dan berbagai manfaat yang segera diperoleh hanyalah kesenangan yang akan lenyap dan bayangan yang terus berubah. Semuanya berakhir bersamaan dengan berakhirnya umur manusia.

Allah Ta'ala berfirman:

“Dan apa saja yang diberikan kepada kalian, maka itu adalah kesenangan hidup dunia dan perhiasannya; sedangkan apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal. Tidakkah kalian mengerti?”

(QS. Al-Qashash: 60)

Allah Ta'ala juga berfirman:

“Maka apa saja yang diberikan kepada kalian, maka itu adalah kesenangan hidup dunia. Adapun apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman dan hanya bertawakal kepada Rabb mereka.

Dan juga bagi orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, serta apabila mereka marah, mereka memberikan maaf.

Dan juga bagi orang-orang yang memenuhi seruan Rabb mereka, mendirikan salat, memutuskan urusan mereka dengan musyawarah di antara mereka, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

(QS. Asy-Syura: 36–38)

Kebahagiaan dan kegembiraan yang paling baik, kemenangan yang paling agung, serta keberhasilan yang paling utama adalah ketika seseorang bergembira atas ketaatan kepada Allah Ta'ala yang berhasil dilakukannya dan atas keselamatannya dari kemaksiatan serta dosa.

Allah Ta'ala berfirman:

“Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’”

(QS. Yunus: 58)

Para ahli tafsir berkata, “Katakanlah kepada mereka, wahai Nabi Allah, hendaklah mereka bergembira dengan ketaatan kepada Allah, dengan agama-Nya, dan dengan Al-Qur’an yang merupakan rahmat dari Allah. Bergembira dengan semua itu lebih baik daripada kesenangan dunia yang mereka kumpulkan dan lebih baik daripada segala sesuatu yang mereka inginkan serta berlomba-lomba untuk mendapatkannya.”

 2\. Kegembiraan kaum muslimin atas keberhasilan ibadah haji

Setelah para jamaah haji menunaikan manasik haji mereka, melaksanakan ibadah kepada Rabb mereka, dimudahkan untuk berpindah di antara tempat-tempat suci, memperoleh kebutuhan dan pelayanan yang diperlukan, serta menikmati naungan keamanan yang luas dan menenteramkan yang Allah bentangkan di negeri ini, kemudian mereka mulai kembali ke negeri masing-masing dengan selamat dan memperoleh keuntungan berupa ampunan Allah Ta'ala, kaum muslimin pun bergembira atas semua itu.

Mereka bergembira karena pelaksanaan haji dimudahkan, berlangsung dengan lancar, dan diselesaikan dengan baik serta dalam keadaan sehat dan selamat.

Mereka juga bergembira karena keamanan tetap terjaga. Allah telah menjadikan keamanan sebagai salah satu syarat penting bagi pelaksanaan haji. Demikian pula, mereka bergembira karena berbagai sarana telah disiapkan untuk membantu jamaah haji menunaikan manasik dengan ketenangan, kenyamanan, dan kebahagiaan.

Alasan kaum muslimin bergembira atas keberhasilan penyelenggaraan haji adalah bahwa orang yang menunaikan kewajiban haji bergembira karena Allah Ta'ala telah memberinya pertolongan untuk melaksanakannya.

Ia bergembira karena memperoleh kebaikan dunia dan akhirat, serta telah menunaikan kewajiban besar dalam perjalanan hidupnya. Barang siapa yang hajinya terjaga dengan baik, maka ia telah memperoleh keselamatan dalam perjalanan hidupnya.

3\. Keutamaan haji: menghapus dosa dan memperoleh surga

Di antara keistimewaan haji adalah bahwa haji melemahkan penguasaan setan terhadap seorang muslim dan menghapus dosa-dosanya.

Dari Amr bin al-Ash radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Islam menghapuskan apa yang terjadi sebelumnya, dan haji menghapuskan apa yang terjadi sebelumnya.”

HR. Muslim.

Barang siapa menunaikan haji sunah, maka ia menutupi kekurangan dalam pelaksanaan kewajiban dan menambah amal kebaikan di atasnya. Ia juga dijanjikan pahala yang sangat besar.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Haji yang mabrur tidak memiliki balasan selain surga.”

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Barang siapa berhaji karena Allah, kemudian ia tidak berkata kotor dan tidak melakukan kefasikan, niscaya ia kembali dari dosa-dosanya seperti pada hari ketika ibunya melahirkannya.”

HR. Al-Bukhari dan Muslim.

Adapun kegembiraan kaum muslimin lainnya atas keberhasilan pelaksanaan haji adalah karena mereka berharap memperoleh manfaat dari doa saudara-saudara mereka yang sedang berhaji.

Doa khusus yang mereka panjatkan dengan menyebut orang-orang tertentu maupun doa umum untuk kaum muslimin diharapkan dikabulkan oleh Allah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang-orang yang berhaji dan berumrah adalah utusan-utusan Allah. Jika mereka berdoa kepada-Nya, Dia mengabulkan doa mereka; dan jika mereka memohon ampun kepada-Nya, Dia mengampuni mereka.”

HR. An-Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban dalam kitab-kitab Shahih mereka.

Kaum muslimin juga bergembira karena ibadah haji terus berlangsung dan dilaksanakan setiap tahun.

Hal ini karena keberlangsungan haji dari tahun ke tahun merupakan sebab keamanan bagi penduduk bumi dari azab kebinasaan dan pemusnahan secara menyeluruh. Selain itu, keberlangsungan haji juga menjaga keteraturan berbagai kepentingan, manfaat, dan penghidupan manusia.

Hal tersebut diketahui oleh orang yang mengetahuinya, sedangkan orang yang tidak mengetahuinya tetap tidak mengetahuinya.

Allah Ta'ala berfirman:

“Allah telah menjadikan Ka'bah, rumah suci itu, sebagai pusat kehidupan dan kemaslahatan bagi manusia; demikian pula bulan haram, hewan kurban, dan hewan kurban yang diberi tanda. Yang demikian itu agar kalian mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(QS. Al-Ma’idah: 97)

4\. Musibah terjadi karena sebagian dosa manusia

Berbagai bencana yang menimpa manusia terjadi karena sebagian dosa mereka, sebagaimana firman Allah Tabaraka wa Ta'ala:

“Dan musibah apa pun yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan-kesalahan kalian.”

(QS. Asy-Syura: 30)

Adapun berbagai keburukan yang Allah jauhkan dari manusia jauh lebih banyak daripada yang mereka ketahui. Hal itu terjadi melalui banyaknya doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh, beragam permohonan yang disampaikan kepada Rabb bumi dan langit, banyaknya hewan kurban dalam ibadah haji yang dengannya Allah meridai orang-orang yang beribadah, serta beragam ketaatan yang dilakukan oleh orang-orang saleh.

Bumi akan senantiasa berada dalam kebaikan selama ibadah haji masih berlangsung.

Atha’ bin Abi Rabah berkata:

“Seandainya mereka meninggalkannya selama satu tahun saja, niscaya mereka tidak akan diberi penangguhan.”

Maksudnya, Allah akan segera menimpakan hukuman kepada penduduk bumi.

Makna firman Allah:

“Allah telah menjadikan Ka'bah, rumah suci itu, sebagai pusat kehidupan dan kemaslahatan bagi manusia.”

(QS. Al-Ma’idah: 97)

Adalah bahwa Allah menjadikan Baitullah yang suci ini sebagai sebab kebaikan dan kemaslahatan urusan agama serta dunia manusia. Allah menjadikannya sebagai kebaikan bagi kehidupan mereka di dunia dan akhirat, karena mereka memperoleh manfaat dari haji, umrah, perdagangan, serta berbagai manfaat dan kemaslahatan lainnya.

Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

“Sesungguhnya rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.”

(QS. Ali Imran: 96)

Baitullah itu diberkahi, yakni mengandung banyak kebaikan dan keutamaan, karena orang-orang yang mendatanginya untuk berhaji dan berumrah memperoleh pahala yang sangat besar.

Baitullah menjadi petunjuk bagi seluruh alam karena merupakan kiblat mereka. Di dalamnya terdapat berbagai bukti dan tanda yang membimbing orang berakal menuju agama yang benar, yaitu agama yang menjadi tujuan dibangunnya rumah tersebut.

Betapa baik pengaruh kaum muslimin terhadap orang-orang nonmuslim, dan betapa buruk pengaruh orang-orang nonmuslim terhadap kaum muslimin.

Adapun orang yang datang untuk melakukan kejahatan dan kerusakan, bukan untuk menunaikan haji, maka Allah akan mengembalikannya dalam keadaan gagal, kecewa, tertahan, dan hina. Allah akan menimpakan kepadanya apa yang Dia kehendaki untuk menjaga rumah-Nya dan para jamaah haji dari keburukan orang-orang yang membuat kerusakan.

Allah Ta'ala berfirman:

“Dan barang siapa bermaksud melakukan kejahatan secara zalim di dalamnya, niscaya akan Kami rasakan kepadanya siksa yang pedih.”

(QS. Al-Hajj: 25)

 5\. Nasihat bagi orang yang telah menunaikan haji dan orang yang belum berhaji

Wahai orang yang telah diberi taufik oleh Allah untuk menunaikan haji!

Sambutlah kehidupanmu dengan berbagai amal yang baik. Allah telah menghapuskan dosa-dosamu apabila engkau mengikuti sunah dalam pelaksanaan hajimu.

Janganlah engkau merusak hajimu dengan perkara-perkara yang membatalkannya.

Orang-orang saleh terdahulu sangat menjaga haji mereka dari segala sesuatu yang dapat merusak dan menggugurkan pahalanya. Mereka bahkan lebih bersungguh-sungguh menjaga haji mereka daripada menjaga diri dan harta mereka sendiri.

Wahai orang yang pada tahun ini belum ditakdirkan untuk menunaikan haji!

Sesungguhnya engkau telah memperoleh banyak kebaikan selama bulan-bulan haji melalui berbagai ketaatan yang telah engkau kerjakan.

Maka iringilah satu kebaikan dengan kebaikan-kebaikan berikutnya, dan janganlah engkau membatalkan amal-amalmu dengan berbagai keburukan. Kesempatan hidupmu masih terbuka, maka manfaatkanlah untuk memperbanyak amal saleh.

Allah Ta'ala berfirman:

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”

(QS. Al-Baqarah: 197)

Segala puji bagi Allah, baik secara lahir maupun batin, atas nikmat-nikmat-Nya yang telah Dia limpahkan kepada kita, kaum muslimin.

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan para pemimpin negeri ini sebagai pihak yang mengemban amanah untuk mengurus tempat-tempat suci dan Masjid Rasulullah ﷺ.

Mereka mempersiapkan diri, tenaga, dan harta untuk merawat, melayani, serta menyediakan berbagai kebutuhan tempat-tempat suci tersebut bagi para jamaah haji dan umrah.

Hingga berbagai pelayanan itu menjadi pembicaraan yang menyenangkan untuk didengar dalam berbagai majelis dan penjuru dunia.

Mereka akan mendapati kebaikan-kebaikan tersebut tercatat dalam lembaran amal pada hari ketika Allah memberikan balasan kepada seluruh manusia atas kebaikan yang telah mereka kerjakan.

Semoga Allah memberikan balasan terbaik kepada mereka.

Oleh karena itu, kita semua wajib bersyukur kepada Allah dengan berpegang teguh pada ketaatan kepada-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepada-Nya, agar Allah menjaga nikmat-nikmat-Nya untuk kita dan menjauhkan hukuman-Nya dari kita.

 6\. Sebab kemunduran dan berbagai kesulitan yang menimpa kaum muslimin

Wahai kaum muslimin!

Sesungguhnya kalian menyaksikan dan mendengar berbagai persoalan besar yang menimpa kaum muslimin, berbagai kesusahan yang menimpa mereka, serta persoalan-persoalan yang membuat akal kebingungan di banyak negeri.

Penyebabnya adalah kurangnya perhatian terhadap agama.

Allah Ta'ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

(QS. Ar-Ra'd: 11)

Apabila kaum muslimin tidak menyelesaikan persoalan mereka sendiri, maka mereka tidak akan memperoleh kebaikan dari musuh-musuh mereka.

Perkara terbesar yang kami nasihatkan kepada diri kami sendiri dan seluruh kaum muslimin adalah memberikan perhatian kepada tauhid Allah Ta'ala, dengan memurnikan ibadah hanya kepada Allah.

Tidak boleh ada seorang pun yang dipersekutukan dengan Allah dalam doa, istigasah atau permohonan pertolongan, penyembelihan kurban, nazar, permintaan untuk memenuhi kebutuhan, maupun permohonan agar kesulitan dihilangkan.

Sebab, tauhid kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala merupakan fondasi agama.

Apabila seorang muslim berdiri di atas fondasi tauhid, kebaikannya akan dilipatgandakan. Adapun keburukannya, Allah dapat mengampuninya dengan karunia, anugerah, dan kemurahan-Nya.

Selanjutnya, kita harus memberikan perhatian terhadap salat, dengan melaksanakannya secara tenang dan sempurna serta menunaikannya sesuai dengan tata cara salat Rasulullah ﷺ semampu kita.

Salat mempunyai kedudukan yang sangat agung dalam memperbaiki keadaan dan seluruh urusan manusia.

Barang siapa memperbaiki salatnya, maka amal-amalnya akan menjadi baik, dan kehidupan dunia serta akhiratnya akan menjadi baik baginya.

Selanjutnya, kita harus memberikan perhatian terhadap persaudaraan Islam dengan saling membantu, saling menasihati, saling menyayangi, dan saling berempati berdasarkan persaudaraan Islam.

Tidak ada perkara yang lebih membahayakan persoalan kaum muslimin daripada perpecahan dan perselisihan.

Allah Ta'ala berfirman:

“Dan berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepada kalian ketika dahulu kalian bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian sehingga dengan karunia-Nya kalian menjadi bersaudara. Padahal, ketika itu kalian berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian mendapat petunjuk.”

(QS. Ali Imran: 103)

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dengan Al-Qur’an yang agung, memberikan manfaat kepada kita melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya, serta memberikan manfaat kepada kita melalui petunjuk pemimpin para rasul.

Aku mengucapkan perkataanku ini dan memohon ampun kepada Allah untuk diriku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum muslimin dari setiap dosa. Maka mohonlah ampun kepada-Nya.


 Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Aku bersaksi bahwa Nabi dan pemimpin kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya.

Ya Allah, limpahkanlah salawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Amma ba’du.

Bertakwalah kepada Allah, wahai kaum muslimin! Bertakwalah kepada Allah dan taatilah Dia, niscaya kalian memperoleh keridaan-Nya, masuk ke dalam surga-Nya, dan selamat dari azab-Nya. Itulah kemenangan yang agung.

7\. Bahaya bid'ah dan kewajiban mengikuti Rasulullah ﷺ

Wahai kaum muslimin!

Sesungguhnya berbagai bid'ah telah memecah belah kaum muslimin. Tidak ada sesuatu yang dapat menyatukan hati selain kebenaran. Kebenaran itu satu dan tidak berbilang-bilang, sedangkan hawa nafsu bercabang-cabang dan terpecah-pecah.

Jalan-jalan kesesatan tidak terhitung banyaknya.

Nabi ﷺ telah memberitakan bahwa umat ini akan terpecah belah. Namun, golongan yang selamat adalah golongan yang berpegang teguh pada apa yang dijalankan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat beliau.

Nabi ﷺ bersabda:

“Orang-orang Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, orang-orang Nasrani terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya berada di neraka kecuali satu golongan.”

Kami bertanya, “Siapakah golongan itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab:

“Orang-orang yang mengikuti jalan seperti yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.”

Sesungguhnya kebodohan merupakan penyakit yang sangat besar.

Apabila kebodohan menguasai kaum muslimin dan mereka mengabaikan pembelajaran terhadap urusan agama mereka, berbagai penyimpangan akan masuk ke tengah-tengah mereka. Bidah pun masuk ke dalam setiap amal yang mereka lakukan.

Kebodohan dapat mengubah pemahaman terhadap makna Islam.

Bahkan, kebodohan terhadap tauhid Allah Tabaraka wa Ta'ala telah mengubah pemahaman tentang tauhid. Akibatnya, tauhid dan orang-orang yang menyerukannya menjadi sesuatu yang dibenci oleh sebagian orang karena mereka tidak memahaminya.

Sebaliknya, kesyirikan dan tawasul yang menyimpang—termasuk kesyirikan kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala, meminta pemenuhan kebutuhan kepada orang-orang saleh, serta meminta kepada penghuni kubur—justru dianggap oleh mereka sebagai bagian dari agama Allah Azza wa Jalla.

Akibatnya, mereka mencintai sesuatu yang dibenci oleh Allah Tabaraka wa Ta'ala dan membenci sesuatu yang dicintai oleh Allah.

 8\. Para wali Allah dihormati, tetapi tidak boleh diibadahi

Sesungguhnya para wali Allah Tabaraka wa Ta'ala tidak akan diliputi rasa takut dan tidak pula bersedih hati. Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Allah Azza wa Jalla.

Akan tetapi, mereka tidak boleh diibadahi bersama Allah Tabaraka wa Ta'ala.

Mereka hendaknya dijadikan teladan dalam perbuatan-perbuatan mereka, dan perjalanan hidup serta jalan mereka hendaknya diikuti.

Allah Ta'ala berfirman:

“Katakanlah, ‘Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS. Ali Imran: 31)

Allah tidak menjadikan kecintaan kepada-Nya cukup dengan pengakuan semata, tanpa mengikuti Rasulullah ﷺ, padahal mencintai Rasulullah ﷺ termasuk kewajiban yang paling agung.

Sebab, kecintaan yang benar tidak akan menjadi kecintaan yang sesungguhnya kecuali dengan mengikuti beliau.

Oleh karena itu, wahai hamba-hamba Allah, jadilah kalian orang-orang yang mengikuti Rasul kalian ﷺ dan mencintai beliau. Cintailah para wali Allah dan teladanilah perbuatan mereka. Namun, janganlah seorang pun mempersekutukan sesuatu dengan Allah.

9\. Akan senantiasa ada golongan yang teguh di atas kebenaran

Nabi ﷺ telah memberitakan bahwa akan senantiasa ada sekelompok orang dari umat beliau yang berada di atas kebenaran.

Beliau ﷺ bersabda:

“Akan senantiasa ada sekelompok orang dari umatku yang tampil teguh di atas kebenaran. Orang-orang yang mengabaikan mereka dan orang-orang yang menyelisihi mereka tidak akan membahayakan mereka, sampai datang ketetapan Allah Tabaraka wa Ta'ala.”

Barang siapa berpegang teguh pada kebenaran, Allah Tabaraka wa Ta'ala akan menolongnya. Sebaliknya, barang siapa memusuhi agama Allah, Allah Azza wa Jalla akan menghinakannya.

Oleh karena itu, wahai hamba-hamba Allah, jadilah kalian para penolong agama Allah dalam diri kalian sendiri, keluarga kalian, dan masyarakat kalian. Serulah manusia menuju Allah Azza wa Jalla dengan hikmah dan nasihat yang baik.

Allah telah memerintahkan kalian melakukan suatu perkara yang Dia mulai dengan menyebut diri-Nya sendiri.

Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

(QS. Al-Ahzab: 56)

Maka, bersalawat dan ucapkanlah salam kepada pemimpin seluruh manusia terdahulu dan yang akan datang, serta imam para rasul.

10\. Doa penutup khutbah

Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan salawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan limpahkanlah salam dengan sebanyak-banyaknya.

Ya Allah, ridhailah seluruh sahabat Nabi, serta para khalifah yang lurus dan para imam yang mendapat petunjuk: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Ridhailah seluruh sahabat lainnya, para tabiin, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Ya Allah, ridhailah pula kami bersama mereka, dengan anugerah, kemurahan, dan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin.

Ya Allah, berikanlah kepada kami dan kaum muslimin pemahaman yang mendalam tentang agama. Ya Allah, berikanlah kepada kami, keturunan kami, dan kaum muslimin pemahaman yang mendalam tentang agama-Mu, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang berpegang teguh pada syariat Nabi-Mu. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang berpegang teguh pada sunah Nabi-Mu, Muhammad ﷺ.

Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Perlihatkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk menjauhinya, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, anugerahkanlah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami.

Ya Allah, perbaikilah keadaan para pemimpin kami.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami, imam kami, pelayan Dua Tanah Suci, agar melakukan perkara-perkara yang Engkau cintai dan Engkau ridhai.

Ya Allah, bimbinglah dia menuju petunjuk-Mu dan jadikanlah amalnya berada dalam keridaan-Mu, wahai Rabb seluruh alam. Tolonglah agama-Mu melalui dirinya.

Ya Allah, perbaikilah orang-orang kepercayaannya yang berada di sekelilingnya. Bantulah dia dalam urusan dunia dan agama, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada kedua wakilnya untuk melakukan perkara-perkara yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Bimbinglah keduanya menuju petunjuk-Mu dan jadikanlah amal keduanya berada dalam keridaan-Mu, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, anugerahkanlah kesehatan dan keselamatan kepada mereka semua, wahai Rabb seluruh alam. Bantulah mereka dalam segala perkara yang membawa kebaikan bagi Islam dan kaum muslimin.

Ya Allah, jadikanlah amal para pemimpin kaum muslimin sebagai kebaikan bagi rakyat dan negeri mereka.

Ya Allah, tolonglah agama-Mu, kitab-Mu, dan sunah Nabi-Mu, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, gagalkanlah tipu daya musuh-musuh Islam. Ya Allah, gagalkanlah tipu daya musuh-musuh Islam. Gagalkanlah rencana-rencana musuh Islam yang mereka gunakan untuk memerangi Islam, wahai Rabb seluruh alam.

Jadikanlah kerugian dan kehancuran menimpa mereka, wahai Rabb seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, siapkanlah bagi kami petunjuk dan kelurusan dalam urusan kami.

Ya Allah, lindungilah kami dari kejahatan orang-orang yang melampaui batas. Lindungilah kami dari kejahatan orang-orang zalim. Lindungilah kami dari kejahatan setiap pemilik kejahatan, wahai Rabb seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, lindungilah kami dari keburukan diri kami sendiri dan dari keburukan amal-amal kami.

Ya Allah, lindungilah kami dari kejahatan setiap pemilik kejahatan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, jagalah kami dan keturunan kami dari Iblis, keturunannya, bala tentaranya, dan setan-setannya, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, jagalah kaum muslimin dari Iblis, keturunannya, dan setan-setannya, wahai Rabb seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, turunkanlah hujan pertolongan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan pertolongan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan pertolongan kepada kami, wahai Rabb seluruh alam.

Janganlah Engkau menghalangi karunia-Mu dari kami karena dosa-dosa kami.

Ya Allah, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang, turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.

Ya Allah, wahai Rabb seluruh alam, kami memohon kepada-Mu agar Engkau mengurusi perkara setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan.

Ya Allah, hilangkanlah penderitaan kaum muslimin yang tertindas, wahai Rabb seluruh alam. Angkatlah penderitaan kaum muslimin yang dizalimi, yang ditindas oleh musuh-musuh-Mu dan musuh-musuh mereka tanpa alasan yang benar.

Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, wahai Rabb seluruh alam, bebaskanlah Baitul Maqdis dari belenggu penindasan.

Ya Allah, jagalah Baitul Maqdis, wahai Rabb seluruh alam, dari tindakan orang-orang yang membuat kerusakan.

Ya Allah, persiapkanlah Baitul Maqdis agar dapat digunakan untuk beribadah kepada-Mu hingga hari kiamat. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.


Wahai hamba-hamba Allah!

Allah Ta'ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.

Dan penuhilah janji Allah apabila kalian berjanji, dan janganlah kalian melanggar sumpah-sumpah setelah diteguhkan, padahal kalian telah menjadikan Allah sebagai saksi atas diri kalian. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian lakukan.”

(QS. An-Nahl: 90–91)

Ingatlah Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia, niscaya Dia akan mengingat kalian.

Bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat tersebut kepada kalian.

Sesungguhnya mengingat Allah adalah perkara yang paling besar. Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.






TAKUT KEPADA ALLAH DAN PENGARUHNYA DALAM KEHIDUPAN SEORANG MUSLIM


TAKUT KEPADA ALLAH DAN PENGARUHNYA DALAM KEHIDUPAN SEORANG MUSLIM 

 Terjemahan Khutbah Masjid Nabawi



Khatib: Syekh Ali bin Abdurrahman Al-Hudzaifi حفظه الله

Tanggal khutbah: 8 Shafar 1434 H



Khutbah pertama

Segala puji bagi Allah Yang Mahatinggi lagi Mahamulia. Milik-Nya segala yang ada di langit, segala yang ada di bumi, segala yang ada di antara keduanya, dan segala yang ada di bawah tanah.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى ۝ وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى ﴾

“Segala yang ada di langit, segala yang ada di bumi, segala yang ada di antara keduanya, dan segala yang ada di bawah tanah adalah milik-Nya. Jika engkau mengucapkan perkataan dengan suara keras, sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan sesuatu yang lebih tersembunyi.” (QS. Thaha: 6–7).

Aku memuji Rabb-ku dan bersyukur kepada-Nya atas segala yang telah Dia berikan.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan milik-Nya nama-nama yang paling indah.

Aku juga bersaksi bahwa Nabi dan pemimpin kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya yang terpilih.

Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya yang baik lagi bertakwa.

Amma ba'du.

Wahai kaum muslimin, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan. Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam diri kalian, maka waspadalah terhadap-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ ﴾

“Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik di bumi maupun di langit.” (QS. Ali 'Imran: 5).

 Kedudukan amalan hati

Wahai hamba-hamba Allah!

Sesungguhnya amalan-amalan hati merupakan perkara yang paling agung dan paling besar. Pahala yang berkaitan dengannya adalah pahala yang sangat besar, dan hukuman yang berkaitan dengannya pun merupakan hukuman yang sangat besar.

Amalan-amalan anggota badan mengikuti amalan-amalan hati dan dibangun di atasnya. Oleh karena itu, dikatakan, “Hati adalah raja bagi seluruh anggota badan, sedangkan anggota badan lainnya adalah bala tentaranya.”

Dari Anas radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ»

“Iman seorang hamba tidak akan lurus sampai hatinya lurus.” (HR. Ahmad).

Makna lurusnya hati adalah mentauhidkan Allah Ta'ala, mengagungkan-Nya, mencintai-Nya, takut kepada-Nya, berharap kepada-Nya, mencintai ketaatan kepada-Nya, serta membenci kemaksiatan kepada-Nya.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ»

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).

Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata kepada seseorang:

“Obatilah hatimu, karena yang Allah kehendaki dari para hamba adalah baiknya hati mereka.”

Di antara amalan hati yang mendorong seseorang melakukan amal-amal saleh, menjadikan akhirat sebagai sesuatu yang dirindukan, mencegahnya dari perbuatan buruk, membuatnya tidak terlalu terpaut pada dunia, serta mengendalikan jiwa yang melampaui batas adalah rasa takut dan harapan.

Rasa takut kepada Allah Ta'ala menggiring hati untuk melakukan setiap kebaikan dan menghalanginya dari segala keburukan.

Adapun harapan, ia menuntun seorang hamba menuju keridaan Allah dan pahala-Nya, membangkitkan semangat untuk mengerjakan amal-amal yang agung, serta menjauhkannya dari perbuatan-perbuatan tercela.

Rasa takut kepada Allah menghalangi jiwa dari memperturutkan syahwatnya, mencegahnya dari kesesatan, dan mendorongnya menuju perkara-perkara yang mendatangkan kebaikan serta keberhasilannya.

 Takut kepada Allah merupakan bagian dari tauhid

Rasa takut kepada Allah merupakan salah satu cabang tauhid yang wajib ditujukan kepada Rabb seluruh alam. Adapun memalingkan rasa takut yang merupakan ibadah kepada selain Allah Ta'ala merupakan salah satu cabang kesyirikan kepada Allah Ta'ala.

Allah Ta'ala memerintahkan kita agar takut kepada-Nya dan melarang kita takut kepada selain-Nya dalam perkara yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah.

Allah berfirman:

﴿ إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ﴾

“Sesungguhnya mereka itu hanyalah setan yang menakut-nakuti kalian dengan para pengikutnya. Karena itu, janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar orang-orang beriman.” (QS. Ali 'Imran: 175).

Allah Ta'ala juga berfirman:

﴿ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا ﴾

“Maka janganlah kalian takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kalian menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit.” (QS. Al-Ma'idah: 44).

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ ﴾

“Dan hanya kepada-Ku-lah kalian harus takut.” (QS. Al-Baqarah: 40).

Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ pernah berkhutbah kepada kami, lalu bersabda:

«لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا، وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا»

“Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”

Maka para sahabat Rasulullah ﷺ menutupi wajah mereka, sementara terdengar isak tangis dari mereka. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Makna takut, khasy-yah, wajal, rahbah, dan haibah

Yang dimaksud dengan rasa takut adalah keguncangan dan keresahan hati, serta kekhawatiran akan hukuman Allah karena melakukan sesuatu yang diharamkan, meninggalkan kewajiban, atau kurang sempurna dalam melaksanakan amalan sunah. Termasuk pula kekhawatiran bahwa Allah tidak menerima amal saleh yang telah dikerjakan.

Dengan demikian, jiwa akan tercegah dari perkara-perkara yang diharamkan dan bersegera melakukan berbagai kebaikan.

Adapun khasy-yah, wajal, rahbah, dan haibah merupakan istilah-istilah yang maknanya berdekatan, tetapi tidak sepenuhnya sama dengan kata takut dalam segala seginya.

Khasy-yah lebih khusus daripada rasa takut secara umum. Khasy-yah adalah rasa takut kepada Allah yang disertai pengetahuan tentang sifat-sifat Allah Yang Mahamulia lagi Mahatinggi.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ﴾

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28).

Dalam kitab Shahih disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«أَمَا إِنِّي أَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ»

“Ketahuilah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan yang paling bertakwa kepada-Nya.”

Adapun wajal adalah bergetarnya hati dan terguncangnya hati ketika mengingat Zat yang kekuasaan dan hukuman-Nya ditakuti.

Rahbah adalah perasaan takut yang mendorong seseorang menjauh atau melarikan diri dari sesuatu yang tidak disukai.

Haibah adalah rasa takut yang disertai pengagungan dan penghormatan.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:

“Rasa takut merupakan keadaan umum kaum mukminin, khasy-yah merupakan keadaan para ulama yang mengenal Allah, haibah merupakan keadaan orang-orang yang mencintai Allah, sedangkan pengagungan merupakan keadaan orang-orang yang didekatkan kepada-Nya. Sesuai dengan kadar ilmu dan pengenalan seseorang terhadap Allah, demikian pula kadar rasa takut dan khasy-yah-nya kepada Allah Ta'ala.”

Pahala bagi orang yang takut kepada Allah

Allah telah menjanjikan kepada orang yang takut kepada-Nya, sehingga rasa takut itu menghalanginya dari memperturutkan syahwat dan mendorongnya melakukan ketaatan, balasan yang paling utama.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ ۝ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ۝ ذَوَاتَا أَفْنَانٍ ﴾

“Dan bagi orang yang takut akan kedudukan Rabbnya, ada dua surga. Maka nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian dustakan? Kedua surga itu mempunyai aneka pepohonan dan buah-buahan yang indah.” (QS. Ar-Rahman: 46–48).

Kata afnān berarti cabang-cabang pohon yang indah dan segar.

Atha' berkata, “Setiap cabang menghimpun beragam jenis buah-buahan.”

Allah Ta'ala juga berfirman:

﴿ وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى ﴾

“Adapun orang yang takut akan kedudukan Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi'at: 40–41).

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ ۝ قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ ۝ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ ۝ إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ ﴾

“Sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil saling bertanya. Mereka berkata, ‘Sesungguhnya dahulu, ketika kami berada di tengah-tengah keluarga kami, kami selalu merasa takut. Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan melindungi kami dari azab neraka yang sangat panas. Sesungguhnya dahulu kami selalu berdoa kepada-Nya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Melimpahkan Kebaikan lagi Maha Penyayang.’” (QS. Ath-Thur: 25–28).

Allah menjelaskan bahwa orang yang takut kepada-Nya akan diselamatkan dari perkara-perkara yang tidak disukai, dicukupkan kebutuhannya, dan dianugerahi kesudahan yang baik.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdul Aziz, yaitu Ibnu Abi Rawwad, ia berkata:

“Telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ membaca ayat berikut:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ﴾

‘Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.’ (QS. At-Tahrim: 6).

Ketika itu, di dekat beliau terdapat beberapa sahabat, di antaranya seorang lelaki tua. Lelaki tua itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah batu-batu neraka Jahanam seperti batu-batu di dunia?’

Nabi ﷺ menjawab, ‘Sungguh, sebuah batu dari batu-batu Jahanam lebih besar daripada seluruh gunung di dunia.’

Lelaki tua itu pun jatuh pingsan. Nabi ﷺ meletakkan tangan beliau di dada lelaki tersebut dan ternyata ia masih hidup. Beliau memanggilnya seraya berkata, ‘Wahai orang tua, ucapkanlah: Lā ilāha illallāh.’

Lelaki itu pun mengucapkannya, lalu Nabi ﷺ memberikan kabar gembira kepadanya berupa surga.”

Sebagian sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ia memperoleh keistimewaan itu di antara kami?”

Beliau menjawab, “Ya. Allah Ta'ala berfirman:

﴿ ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ ﴾

“Yang demikian itu adalah bagi orang yang takut akan kedudukan-Ku dan takut terhadap ancaman-Ku.” (QS. Ibrahim: 14).

 Ketakutan para salaf kepada Allah

Para salaf yang saleh didominasi oleh rasa takut kepada Allah Ta'ala. Mereka tetap mengerjakan amal dengan sebaik-baiknya dan mengharapkan rahmat Allah Yang Mahamulia. Karena itulah keadaan mereka menjadi baik, kesudahan mereka indah, dan amal-amal mereka menjadi suci.

Umar radhiyallahu 'anhu dahulu berkeliling pada malam hari untuk memeriksa keadaan rakyatnya. Pada suatu malam, beliau mendengar seorang lelaki membaca Surah Ath-Thur.

Umar turun dari keledainya dan bersandar pada sebuah dinding. Setelah peristiwa itu, beliau jatuh sakit selama sebulan. Orang-orang menjenguknya, tetapi mereka tidak mengetahui penyebab penyakitnya.

Amirul Mukminin Ali radhiyallahu 'anhu pernah mengucapkan salam setelah salat Subuh dalam keadaan tampak sedih. Beliau membolak-balikkan tangannya, lalu berkata:

“Sungguh, aku telah melihat para sahabat Muhammad ﷺ, tetapi aku tidak melihat seorang pun pada hari ini yang menyerupai mereka. Dahulu, ketika pagi tiba, keadaan mereka kusut, pucat, dan berdebu. Di antara kedua mata mereka tampak bekas seperti lutut kambing.

Mereka menghabiskan malam untuk Allah dengan bersujud dan berdiri dalam salat. Mereka membaca Kitabullah, bergantian menggunakan dahi dan kaki mereka untuk berdiri dan bersujud.

Ketika pagi tiba, mereka mengingat Allah, lalu tubuh mereka bergoyang seperti pohon yang bergoyang pada hari berangin. Mata mereka bercucuran air mata hingga membasahi pakaian mereka.”

Sufyan Ats-Tsauri pernah jatuh sakit karena rasa takut kepada Allah.

Riwayat-riwayat mengenai hal ini sangat banyak. Semoga Allah meridai mereka semua.

Rasa takut yang terpuji dan rasa takut yang tercela

Rasa takut yang terpuji adalah rasa takut yang mendorong seseorang melakukan amal saleh dan mencegahnya dari perkara-perkara yang diharamkan.

Apabila rasa takut melampaui batas yang terpuji, sehingga berubah menjadi keputusasaan dan kehilangan harapan terhadap rahmat Allah, maka hal itu termasuk dosa besar.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

“Kadar rasa takut yang wajib adalah rasa takut yang mendorong seseorang menunaikan kewajiban dan menjauhi perkara-perkara yang diharamkan.

Jika rasa takut itu bertambah sehingga mendorong jiwa untuk bersungguh-sungguh mengerjakan amalan-amalan sunah dan ketaatan, menahan diri dari perkara-perkara makruh yang samar atau ringan, serta membatasi diri dalam menikmati perkara-perkara mubah, maka tambahan rasa takut tersebut merupakan keutamaan yang terpuji.

Namun, jika rasa takut itu terus bertambah hingga menyebabkan penyakit, kematian, atau kesedihan yang terus-menerus sehingga menghalangi seseorang untuk berusaha dan beraktivitas, maka rasa takut seperti itu tidak lagi terpuji.”

Abu Hafsh berkata:

“Rasa takut adalah cambuk Allah yang dengannya Dia meluruskan orang-orang yang menyimpang dari pintu-Nya.”

Ia juga berkata:

“Rasa takut adalah pelita di dalam hati.”

Abu Sulaiman berkata:

“Tidaklah rasa takut meninggalkan sebuah hati, melainkan hati itu akan rusak.”

Seorang muslim berada di antara dua perkara yang menimbulkan rasa takut: perkara yang telah berlalu, sementara ia tidak mengetahui apa yang Allah tetapkan terhadapnya; dan perkara yang akan datang, sementara ia tidak mengetahui apa yang Allah putuskan baginya.

Hakikat harapan kepada Allah

Adapun harapan (raja'), maknanya adalah mengharapkan pahala Allah atas amal saleh yang dikerjakan.

Syarat harapan adalah mendahuluinya dengan amal yang baik dan menjauhi perkara-perkara yang diharamkan, atau bertobat darinya.

Adapun meninggalkan kewajiban, mengikuti hawa nafsu, kemudian hanya berangan-angan dan berharap kepada Allah tanpa melakukan ketaatan, maka sikap demikian merupakan perasaan aman dari makar Allah, bukan harapan yang benar.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ ﴾

“Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah selain orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A'raf: 99).

Allah Ta'ala telah menjelaskan bahwa harapan harus disertai dengan amal saleh yang dilakukan terlebih dahulu. Harapan tidak terwujud dengan benar tanpa amal tersebut.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ ۝ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan pahala mereka dan menambah karunia-Nya kepada mereka.” (QS. Fathir: 29–30).

Allah Ta'ala juga berfirman:

﴿ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218).

Harapan merupakan ibadah yang tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah Ta'ala. Barang siapa menggantungkan harapan ibadahnya kepada selain Allah, maka ia telah melakukan kesyirikan kepada Allah.

Allah Yang Mahamulia berfirman:

﴿ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا ﴾

“Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110).

Harapan juga merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:

«أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي»

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.”

Kewajiban memadukan rasa takut dan harapan

Seorang hamba wajib memadukan rasa takut dan harapan kepada Allah. Keadaan seorang hamba yang paling sempurna adalah mencintai Allah Ta'ala dengan rasa takut dan harapan yang seimbang.

Inilah keadaan para nabi 'alaihimush shalatu was salam dan kaum mukminin.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ ﴾

“Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan, berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan takut, dan mereka senantiasa khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya': 90).

Allah Ta'ala juga berfirman:

﴿ تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ ﴾

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya. Mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan penuh harap, serta menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajdah: 16).

Apabila seorang muslim mengetahui betapa luas rahmat Allah, betapa agung kemurahan-Nya, dan betapa besar ampunan-Nya terhadap dosa-dosa yang besar, serta mengetahui luasnya surga dan besarnya pahala-Nya, maka jiwanya akan menjadi lapang. Ia akan semakin bersemangat dalam berharap dan menginginkan kebaikan yang agung di sisi Allah.

Sebaliknya, apabila ia mengetahui betapa dahsyat hukuman Allah, betapa keras tindakan-Nya terhadap orang yang berhak menerimanya, betapa berat perhitungan-Nya, dahsyatnya keadaan pada hari kiamat, mengerikannya neraka, menakutkannya saat kematian dan kebangkitan, serta beragam azab di akhirat, maka jiwanya akan tertahan, tunduk, berhati-hati, dan takut.

Oleh karena itu, dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ»

“Seandainya seorang mukmin mengetahui hukuman yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang berani terlalu berharap untuk memperoleh surga-Nya. Dan seandainya orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang berputus asa dari surga-Nya.” (HR. Muslim).

Allah Ta'ala sering kali menyandingkan ampunan dengan hukuman dalam firman-Nya.

Allah berfirman:

﴿ وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِلنَّاسِ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ الْعِقَابِ ﴾

“Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mempunyai ampunan bagi manusia meskipun mereka berbuat zalim, dan sesungguhnya Rabbmu sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Ar-Ra'd: 6).

Al-Ghazali rahimahullah menukil perkataan Makhul Ad-Dimasyqi:

“Barang siapa beribadah kepada Allah hanya dengan rasa takut, maka ia adalah seorang Haruri. Barang siapa beribadah kepada Allah hanya dengan harapan, maka ia adalah seorang Murji'ah. Barang siapa beribadah kepada Allah hanya dengan cinta, maka ia adalah seorang zindik. Dan barang siapa beribadah kepada-Nya dengan rasa takut, harapan, dan cinta, maka ia adalah seorang yang bertauhid dan mengikuti Sunnah.”

Dalam kitab Madarijus Salikin, Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:

“Hati dalam perjalanannya menuju Allah Azza wa Jalla ibarat seekor burung. Cinta adalah kepalanya, sedangkan rasa takut dan harapan adalah kedua sayapnya.

Apabila kepala dan kedua sayapnya selamat, burung itu akan terbang dengan baik. Apabila kepalanya terputus, burung itu mati. Dan apabila kedua sayapnya hilang, ia akan menjadi sasaran setiap pemburu dan pemangsa.”

Akan tetapi, para salaf menganjurkan agar ketika seseorang berada dalam keadaan sehat, sayap rasa takut lebih kuat daripada sayap harapan. Adapun ketika ia mendekati akhir hayat, sayap harapan hendaknya lebih kuat daripada sayap rasa takut.

Cinta adalah kendaraan, harapan adalah pengarah yang menuntun perjalanan, rasa takut adalah pendorong yang menggiringnya, sedangkan Allah Azza wa Jalla-lah yang menyampaikan hamba kepada tujuan dengan karunia dan kemuliaan-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ۝ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ ﴾

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49–50).

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dengan Al-Qur'an yang agung, serta memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.

Aku mengakhiri perkataanku ini dan memohon ampun kepada Allah untuk diriku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum muslimin dari setiap dosa. Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.



Khutbah kedua

Segala puji bagi Allah, Pemilik keagungan dan kemuliaan, serta kekuasaan yang tidak dapat ditandingi.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Dia Mahaperkasa dan memiliki kekuasaan untuk memberikan pembalasan.

Aku bersaksi bahwa Nabi dan pemimpin kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.

Amma ba'du.

Wahai kaum muslimin, bertakwalah kepada Allah. Berharaplah akan pahala-Nya dan takutlah terhadap hukuman-Nya. Dengarkanlah firman Allah Ta'ala:

﴿ اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴾

“Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya dan bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ma'idah: 98).

 Dahsyatnya azab Allah dan besarnya pahala surga

Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari An-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhuma, ia berkata bahwa dirinya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ يُوضَعُ فِي أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ، مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا أَشَدُّ عَذَابًا مِنْهُ، وَإِنَّهُ لَأَهْوَنُهُمْ عَذَابًا»

“Sesungguhnya orang yang paling ringan azabnya di antara penghuni neraka pada hari kiamat adalah seseorang yang diletakkan dua bara api di bagian telapak kakinya yang melengkung. Karena keduanya, otaknya mendidih. Ia merasa bahwa tidak ada seorang pun yang azabnya lebih berat daripada azab yang menimpanya, padahal dialah orang yang paling ringan azabnya di antara mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Imam Muslim meriwayatkan dari Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda:

«سَأَلَ مُوسَى رَبَّهُ: مَا أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً؟ قَالَ: هُوَ رَجُلٌ يَجِيءُ بَعْدَمَا أُدْخِلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، فَيُقَالُ لَهُ: ادْخُلِ الْجَنَّةَ. فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ، كَيْفَ وَقَدْ نَزَلَ النَّاسُ مَنَازِلَهُمْ، وَأَخَذَ النَّاسُ أَخَذَاتِهِمْ؟ فَيُقَالُ لَهُ: أَتَرْضَى أَنْ يَكُونَ لَكَ مِثْلُ مُلْكِ مَلِكٍ مِنْ مُلُوكِ الدُّنْيَا؟ فَيَقُولُ: رَضِيتُ رَبِّ. فَيَقُولُ: لَكَ ذَلِكَ، وَمِثْلُهُ، وَمِثْلُهُ، وَمِثْلُهُ، وَمِثْلُهُ. فَيَقُولُ فِي الْخَامِسَةِ: رَضِيتُ رَبِّ. فَيَقُولُ: هَذَا لَكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ، وَلَكَ مَا اشْتَهَتْ نَفْسُكَ وَلَذَّتْ عَيْنُكَ. فَيَقُولُ: رَضِيتُ رَبِّ»

“Musa bertanya kepada Rabbnya, ‘Siapakah penghuni surga yang paling rendah kedudukannya?’

Allah berfirman, ‘Ia adalah seseorang yang datang setelah para penghuni surga dimasukkan ke dalam surga. Lalu dikatakan kepadanya, “Masuklah ke dalam surga!”

Ia berkata, “Wahai Rabbku, bagaimana mungkin aku masuk, sementara orang-orang telah menempati kedudukan mereka dan memperoleh bagian mereka?”

Kemudian dikatakan kepadanya, “Apakah engkau rela jika engkau memiliki kerajaan seperti kerajaan salah seorang raja di dunia?”

Ia menjawab, “Aku rela, wahai Rabbku.”

Allah berfirman, “Itu menjadi milikmu, ditambah yang semisalnya, ditambah yang semisalnya, ditambah yang semisalnya, dan ditambah yang semisalnya lagi.”

Pada kali kelima, orang itu berkata, “Aku rela, wahai Rabbku.”

Allah berfirman, “Semua itu menjadi milikmu, ditambah sepuluh kali lipatnya. Engkau juga memperoleh apa saja yang diinginkan jiwamu dan yang menyenangkan matamu.”

Orang itu berkata, “Aku rela, wahai Rabbku.” (HR. Muslim).

 Menguatkan rasa takut kepada Allah pada zaman kelalaian

Karena itu, takutlah terhadap azab Allah dan berharaplah akan pahala-Nya.

Pada zaman ini, kekerasan hati, kelalaian, dan kecintaan terhadap dunia telah mendominasi banyak hati. Banyak manusia berani melakukan dosa dan kemaksiatan. Banyak di antara mereka melupakan negeri akhirat dan menganggap ringan hukuman-hukuman Allah Tabaraka wa Ta'ala.

Dalam keadaan seperti ini, sayap rasa takut perlu diperkuat agar jiwa menjadi lurus dan hati menjadi suci.

Adapun ketika seseorang telah mendekati akhir hayat, hendaknya harapan kepada Allah lebih dikedepankan, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

«لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ»

“Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Rabbnya.” (HR. Muslim).

Rasa takut kepada Allah menuntut seseorang untuk menunaikan hak-hak Allah Ta'ala dan menjauhkannya dari kelalaian dalam melaksanakannya.

Rasa takut itu juga menghalangi seorang hamba dari menzalimi orang lain dan melakukan tindakan melampaui batas terhadap mereka. Ia mendorong seseorang menunaikan hak-hak pemiliknya, tidak menyia-nyiakannya, dan tidak meremehkannya.

Selain itu, rasa takut kepada Allah mencegah seorang muslim mengikuti hawa nafsu dan melakukan perkara-perkara yang diharamkan. Rasa takut tersebut menjadikannya selalu waspada terhadap dunia dan fitnah-fitnahnya, sekaligus menumbuhkan kerinduan kepada akhirat dan kenikmatannya.


Wahai hamba-hamba Allah!

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).

Nabi ﷺ bersabda:

«مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا»

“Barang siapa berselawat kepadaku satu kali, Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim).

Karena itu, berselawatlah dan ucapkanlah salam kepada pemimpin manusia terdahulu dan manusia yang datang kemudian, serta imam para rasul.

Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan selawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan limpahkanlah salam dengan sebanyak-banyaknya.

Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada pemimpin dan Nabi kami, Muhammad, beserta istri-istri dan keturunannya hingga hari kiamat.

Ya Allah, rida dan rahmatilah seluruh sahabat Nabi, serta para khalifah yang lurus lagi mendapat petunjuk: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Rida dan rahmatilah pula seluruh sahabat lainnya.

Ya Allah, rida dan rahmatilah para tabi'in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Dan ridailah kami bersama mereka dengan karunia, kemurahan, dan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.


Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin.

Ya Rabb seluruh alam, hinakanlah kekufuran dan orang-orang kafir.

Ya Allah, hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik.

Ya Allah, menangkanlah agama-Mu, Kitab-Mu, dan Sunnah Nabi-Mu, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, menangkanlah agama-Mu, Kitab-Mu, dan Sunnah Nabi-Mu, wahai Zat Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.

Ya Allah, mudahkanlah urusan setiap laki-laki dan perempuan yang beriman.

Ya Allah, lapangkanlah dada kami dan mudahkanlah urusan kami, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Ya Allah, ampunilah orang-orang yang telah meninggal dunia di antara kami dan seluruh kaum muslimin.

Ya Allah, terangilah kubur-kubur mereka, lipatgandakanlah pahala kebaikan mereka, dan maafkanlah kesalahan-kesalahan mereka, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu agar Engkau menurunkan hujan yang membawa pertolongan.

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, hujan yang mendatangkan pertolongan.

Ya Allah, dengan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.

Jadikanlah hujan itu penuh keberkahan dan kebaikan bagi kaum muslimin, wahai Rabb seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, anugerahkanlah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami.

Ya Allah, perbaikilah keadaan para pemimpin yang mengurus urusan kami.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada penjaga Dua Tanah Suci agar melakukan apa yang Engkau cintai dan ridai, serta apa yang mengandung kebaikan bagi Islam, kaum muslimin, rakyatnya, dan negerinya, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, kenakanlah kepadanya pakaian kesehatan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, jagalah negeri kami dari segala keburukan dan perkara yang tidak menyenangkan.

Jagalah negeri-negeri kaum muslimin, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, berlemah lembutlah kepada saudara-saudara kami kaum muslimin di Syam.

Ya Allah, berlemah lembutlah kepada saudara-saudara kami kaum muslimin di Syam.

Ya Allah, tetapkanlah bagi mereka jalan keluar dan petunjuk yang benar dalam urusan mereka, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, lindungilah mereka dari orang-orang jahat di antara mereka.

Ya Allah, cukupkanlah mereka dari kejahatan orang-orang yang jahat dan tipu daya orang-orang durhaka.

Ya Allah, lindungilah dan jagalah mereka dari kezaliman orang-orang zalim dan serangan orang-orang yang melampaui batas. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, jagalah Islam dan para pemeluknya di setiap tempat.

Ya Allah, perbaikilah seluruh keadaan kami, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, wahai Rabb seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, jauhkanlah dari kami kenaikan harga yang memberatkan, wabah penyakit, riba, zina, gempa bumi, berbagai musibah, dan keburukan fitnah-fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.


Wahai hamba-hamba Allah!

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ۝ وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ ﴾

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian mengambil pelajaran.

Penuhilah janji Allah apabila kalian berjanji, dan janganlah kalian melanggar sumpah setelah meneguhkannya, padahal kalian telah menjadikan Allah sebagai saksi atas diri kalian. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. An-Nahl: 90–91).

Ingatlah Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia, niscaya Dia akan mengingat kalian.

Bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat-Nya kepada kalian.

Sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar keutamaannya, dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.

Selasa, 27 Oktober 2026

RASA TAKUT DAN BERHARAP


Terjemahan Khutbah Masjid Nabawi

1 Rajab 1432 H — Di antara Amalan Hati: Rasa Takut dan Harapan

Khatib: Syekh Ali bin Abdurrahman Al-Hudzaifi hafizhahullah


 Khutbah pertama

Segala puji bagi Allah Yang Mahatinggi lagi Mahamulia. Milik-Nya segala yang ada di langit, segala yang ada di bumi, segala yang ada di antara keduanya, dan segala yang ada di bawah tanah.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى ۝ وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى﴾

“Segala yang ada di langit, segala yang ada di bumi, segala yang ada di antara keduanya, dan segala yang ada di bawah tanah adalah milik-Nya. Jika engkau mengeraskan ucapanmu, sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.” (QS. Thaha: 6–7).

Aku memuji Rabb-ku dan bersyukur kepada-Nya atas segala yang telah Dia karuniakan. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan milik-Nya nama-nama yang paling indah.

Aku juga bersaksi bahwa Nabi dan pemimpin kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya yang terpilih.

Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya yang saleh lagi bertakwa.

Amma ba'du.

Bertakwalah kepada Allah, wahai kaum muslimin, dengan sebenar-benar ketakwaan. Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada di dalam diri kalian, maka berhati-hatilah terhadap-Nya. Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang tersembunyi dari Allah.

### 1\. Kedudukan amalan hati

Wahai hamba-hamba Allah!

Sesungguhnya amalan-amalan hati merupakan perkara yang paling agung dan paling penting. Pahalanya adalah pahala yang sangat besar, sedangkan hukumannya juga merupakan hukuman yang sangat berat.

Amalan anggota badan mengikuti amalan hati dan dibangun di atasnya. Oleh karena itu, dikatakan, “Hati adalah pemimpin seluruh anggota badan, sedangkan anggota badan lainnya adalah pasukan-pasukannya.”

Dari Anas radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

«لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ»

“Iman seorang hamba tidak akan lurus hingga hatinya menjadi lurus.” (HR. Ahmad).

Makna lurusnya hati adalah mentauhidkan Allah Tabaraka wa Ta'ala, mengagungkan-Nya, mencintai-Nya, takut kepada-Nya, berharap kepada-Nya, mencintai ketaatan kepada-Nya, dan membenci kemaksiatan kepada-Nya.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ»

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).

Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata kepada seseorang, “Obatilah hatimu! Sebab, yang Allah kehendaki dari para hamba-Nya adalah kebaikan hati mereka.”

Di antara amalan hati yang mendorong seseorang melakukan amal saleh, membuatnya merindukan negeri akhirat, mencegahnya dari perbuatan buruk, menjadikan dunia terasa tidak berharga, dan mengendalikan gejolak jiwa yang durhaka adalah rasa takut dan harapan: takut kepada Allah dan berharap terhadap apa yang ada di sisi-Nya.

Rasa takut kepada Allah Ta'ala menggiring hati untuk melakukan setiap kebaikan dan menghalanginya dari setiap keburukan. Adapun harapan, ia menuntun seorang hamba menuju keridaan dan pahala Allah, membangkitkan semangatnya untuk melakukan amal saleh yang agung, serta menjauhkannya dari perbuatan yang buruk.

Rasa takut kepada Allah mencegah jiwa mengikuti syahwatnya, menghalanginya dari kesesatan, serta mendorongnya menuju segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan dan keberuntungan baginya.

### 2\. Takut kepada Allah merupakan bagian dari tauhid

Rasa takut kepada Allah merupakan salah satu cabang tauhid yang wajib ditujukan kepada Rabb seluruh alam. Adapun mengalihkan rasa takut kepada selain Allah dalam perkara yang merupakan kekhususan Allah merupakan salah satu bentuk kesyirikan kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala.

Allah Ta'ala memerintahkan kita agar takut kepada-Nya dan melarang kita takut kepada selain-Nya. Allah berfirman:

﴿إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾

“Sesungguhnya mereka itu hanyalah setan yang menakut-nakuti kalian dengan para pengikutnya. Karena itu, janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar orang beriman.” (QS. Ali 'Imran: 175).

Allah juga berfirman:

﴿فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا﴾

“Maka janganlah kalian takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada-Ku. Janganlah kalian menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah.” (QS. Al-Ma'idah: 44).

Allah berfirman pula:

﴿وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ﴾

“Dan hanya kepada-Ku-lah kalian harus merasa takut.” (QS. Al-Baqarah: 40).

Dari Anas radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menyampaikan khutbah kepada kami, lalu bersabda:

«لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا، وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا»

‘Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.’

Maka para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menutupi wajah mereka sambil terdengar suara isak tangis dari mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Yang dimaksud dengan rasa takut adalah kegelisahan dan keguncangan hati karena mengkhawatirkan hukuman Allah akibat melakukan sesuatu yang diharamkan, meninggalkan kewajiban, atau kurang bersungguh-sungguh dalam mengerjakan amalan sunah. Termasuk pula rasa khawatir apabila Allah tidak menerima amal saleh seseorang. Dengan demikian, jiwa akan tercegah dari perkara-perkara haram dan bersegera melakukan berbagai kebaikan.

### 3\. Perbedaan antara khauf, khasy-yah, wajal, rahbah, dan haibah

Istilah khasy-yah (rasa takut yang disertai pengagungan), wajal (getaran hati karena takut), rahbah (rasa takut yang mendorong menjauhi sesuatu), dan haibah (rasa gentar yang disertai pengagungan) memiliki makna yang berdekatan. Namun, semuanya tidak sepenuhnya sama dengan istilah khauf (rasa takut) dari setiap sisi.

Khasy-yah lebih khusus daripada khauf. Khasy-yah adalah rasa takut kepada Allah yang disertai pengetahuan tentang sifat-sifat-Nya, Yang Mahamulia lagi Mahatinggi.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ﴾

“Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28).

Dalam kitab hadis sahih disebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«أَمَا إِنِّي أَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ»

“Ketahuilah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya di antara kalian.”

Adapun wajal adalah bergetarnya hati dan seolah-olah terbelah karena mengingat Zat yang ditakuti kekuasaan dan hukuman-Nya.

Rahbah adalah menjauh atau melarikan diri dari sesuatu yang tidak disukai.

Haibah adalah rasa takut yang disertai pengagungan dan pemuliaan.

Allah Tabaraka wa Ta'ala adalah Zat yang paling berhak untuk ditakuti, diagungkan, dan digentari.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Khauf merupakan keadaan yang umum di kalangan kaum mukminin, khasy-yah bagi para ulama yang mengenal Allah, haibah bagi orang-orang yang mencintai-Nya, dan ijlal (pengagungan) bagi orang-orang yang didekatkan kepada-Nya. Tingkat rasa takut dan khasy-yah seseorang kepada Allah sesuai dengan kadar ilmu dan pengetahuannya tentang Allah Ta'ala.”

### 4\. Pahala bagi orang yang takut kepada Allah

Allah telah menjanjikan pahala kepada orang yang takut kepada-Nya, lalu rasa takut tersebut menghalanginya dari mengikuti syahwat dan mendorongnya melakukan ketaatan. Allah menjanjikan kepadanya jenis pahala yang paling utama.

Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:

﴿وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ ۝ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ۝ ذَوَاتَا أَفْنَانٍ﴾

“Bagi orang yang takut akan kedudukan Rabb-nya, tersedia dua surga. Maka nikmat Rabb kalian berdua yang manakah yang kalian dustakan? Kedua surga itu mempunyai pepohonan yang rindang dan beraneka ragam.” (QS. Ar-Rahman: 46–48).

Kata afnan berarti cabang-cabang pepohonan yang indah dan segar. Atha' berkata, “Setiap cabang menghimpun berbagai jenis buah.”

Allah juga berfirman:

﴿وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى﴾

“Adapun orang yang takut akan kedudukan Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi'at: 40–41).

Allah Tabaraka wa Ta'ala juga berfirman:

﴿وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ ۝ قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ ۝ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ ۝ إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ﴾

“Sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil saling bertanya. Mereka berkata, ‘Sesungguhnya dahulu, ketika kami berada di tengah keluarga kami, kami selalu merasa takut dan khawatir terhadap azab Allah. Kemudian Allah menganugerahkan karunia kepada kami dan melindungi kami dari azab neraka yang sangat panas. Sesungguhnya dahulu kami selalu berdoa kepada-Nya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Melimpahkan Kebaikan lagi Maha Penyayang.’” (QS. Ath-Thur: 25–28).

Allah menjelaskan bahwa orang yang takut kepada-Nya akan diselamatkan dari perkara-perkara yang tidak disukai, dicukupkan kebutuhannya, dan dianugerahi akhir kehidupan yang baik.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abdul Aziz—yakni Ibnu Abi Rawwad—bahwa telah sampai kepadanya berita bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah membaca ayat berikut:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6).

Saat itu, ada beberapa sahabat di sisi beliau, termasuk seorang lelaki tua. Lelaki itu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah batu-batu neraka Jahanam seperti batu-batu di dunia?”

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:

“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya satu batu dari neraka Jahanam lebih besar daripada seluruh gunung di dunia.”

Lelaki tua itu pun jatuh pingsan. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam meletakkan tangan beliau di dadanya dan mendapati bahwa ia masih hidup. Beliau kemudian memanggilnya seraya berkata, “Wahai orang tua, ucapkanlah la ilaha illallah.”

Lelaki itu pun mengucapkannya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian memberinya kabar gembira berupa surga.

Sebagian sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kabar gembira itu khusus diberikan kepadanya di antara kami?”

Beliau menjawab, “Ya. Allah Ta'ala berfirman:

﴿ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ﴾

“Yang demikian itu adalah bagi orang yang takut akan kedudukan-Ku dan takut terhadap ancaman-Ku.” (QS. Ibrahim: 14).”

Catatan: Riwayat kisah ini disebutkan oleh khatib melalui Ibnu Abi Hatim. Saya menerjemahkannya sesuai teks yang disampaikan, tanpa bermaksud menetapkan kesahihan sanadnya.

### 5\. Keteladanan generasi salaf dalam rasa takut kepada Allah

Generasi salaf sangat didominasi oleh rasa takut kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala. Mereka tetap memperbagus amal dan mengharapkan rahmat Allah Azza wa Jalla. Oleh sebab itu, keadaan mereka menjadi baik, kesudahan mereka terpuji, dan amal-amal mereka suci.

Umar radhiyallahu 'anhu pernah berkeliling pada malam hari untuk memeriksa keadaan rakyatnya. Ia mendengar seorang lelaki membaca Surah Ath-Thur. Umar pun turun dari keledainya dan bersandar pada sebuah dinding. Setelah peristiwa itu, ia jatuh sakit selama sebulan, sementara orang-orang yang menjenguknya tidak mengetahui penyebab penyakitnya.

Amirul Mukminin Ali radhiyallahu 'anhu pernah selesai menunaikan salat Subuh dengan wajah murung. Ia membolak-balikkan telapak tangannya, lalu berkata:

“Aku telah melihat para sahabat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi pada hari ini aku tidak melihat sesuatu pun yang menyerupai keadaan mereka. Dahulu, mereka bangun pagi dengan rambut kusut, wajah pucat, dan tubuh berdebu. Di antara kedua mata mereka terdapat bekas seperti lutut kambing karena lamanya sujud.

Mereka menghabiskan malam untuk Allah dengan bersujud dan berdiri salat. Mereka membaca Kitabullah, bergantian antara dahi dan kaki mereka—yakni lama bersujud dan berdiri. Ketika pagi tiba, mereka berzikir kepada Allah, lalu tubuh mereka bergoyang seperti pohon yang bergoyang pada hari berangin kencang. Mata mereka bercucuran air mata hingga membasahi pakaian mereka.”

Sufyan Ats-Tsauri pernah jatuh sakit karena rasa takut kepada Allah.

Ketika Abdullah bin Rawahah berpamitan kepada para sahabatnya sebelum berangkat menuju Perang Mu'tah, ia menangis seraya berkata:

“Demi Allah, aku tidak menangis karena sangat merindukan kalian, dan bukan pula karena takut berpisah dengan dunia. Akan tetapi, aku teringat sebuah ayat dari Kitabullah Azza wa Jalla. Allah Ta'ala berfirman:

﴿وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا﴾

“Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan akan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabb-mu merupakan ketetapan yang pasti terlaksana.” (QS. Maryam: 71).

Aku tidak tahu bagaimana keadaanku ketika keluar darinya setelah mendatanginya.”

Kisah-kisah tentang rasa takut para salaf kepada Allah masih sangat banyak dan panjang untuk disebutkan seluruhnya.

### 6\. Rasa takut yang terpuji dan rasa takut yang tercela

Rasa takut yang terpuji adalah rasa takut yang mendorong seseorang melakukan amal saleh dan mencegahnya dari perkara-perkara yang diharamkan.

Namun, apabila rasa takut melampaui batas yang terpuji, hingga berubah menjadi keputusasaan dan hilangnya harapan terhadap rahmat Allah, maka hal itu termasuk dosa besar.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

“Batas rasa takut yang wajib adalah rasa takut yang mendorong seseorang menunaikan kewajiban dan menjauhi perkara-perkara yang diharamkan. Jika rasa takut itu bertambah sehingga mendorong jiwa untuk bersungguh-sungguh mengerjakan amalan sunah, menjauhi perkara makruh yang ringan, dan membatasi diri dalam perkara-perkara mubah yang berlebihan, maka hal itu merupakan tambahan yang terpuji.

Namun, jika rasa takut itu semakin bertambah hingga menyebabkan penyakit, kematian, atau kesedihan yang terus-menerus sampai menghalangi seseorang untuk berusaha dan beraktivitas, maka rasa takut seperti itu tidak lagi terpuji.”

Abu Hafsh berkata, “Rasa takut adalah cambuk Allah yang dengannya Dia meluruskan orang-orang yang menyimpang dari pintu-Nya.”

Ia juga berkata, “Rasa takut adalah pelita di dalam hati.”

Abu Sulaiman berkata, “Tidaklah rasa takut meninggalkan sebuah hati melainkan hati itu akan rusak.”

Seorang muslim hidup di antara dua perkara yang membuatnya khawatir: perkara yang telah berlalu, sementara ia tidak mengetahui apa yang akan Allah tetapkan atasnya, dan perkara yang akan datang, sementara ia tidak mengetahui apa yang akan Allah putuskan baginya.

### 7\. Hakikat harapan kepada Allah

Adapun raja’ (harapan), maka maknanya adalah mengharapkan pahala Allah Tabaraka wa Ta'ala atas amal saleh yang dilakukan.

Syarat harapan adalah mendahuluinya dengan amal yang baik serta meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan atau bertobat darinya. Adapun meninggalkan kewajiban, mengikuti hawa nafsu, kemudian hanya berangan-angan dan berharap kepada Allah, maka sikap seperti itu merupakan merasa aman dari makar Allah, bukan harapan yang benar.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ﴾

“Maka tidak ada yang merasa aman dari makar Allah selain orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A'raf: 99).

Allah Ta'ala telah menjelaskan bahwa harapan kepada-Nya harus disertai dengan amal saleh terlebih dahulu. Harapan tidaklah benar apabila tidak disertai amal saleh.

Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi.” (QS. Fathir: 29).

Allah juga berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218).

Harapan merupakan ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Allah Ta'ala. Barang siapa menggantungkan harapan ibadahnya kepada selain Allah, maka ia telah melakukan kesyirikan.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾

“Maka barang siapa mengharapkan pertemuan dengan Rabb-nya, hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Kahfi: 110).

Harapan juga merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:

«أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي»

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

### 8\. Kewajiban menggabungkan rasa takut, harapan, dan cinta kepada Allah

Kewajiban seorang hamba adalah menggabungkan rasa takut dan harapan. Keadaan seorang hamba yang paling sempurna adalah mencintai Allah Ta'ala, dengan rasa takut dan harapan yang seimbang.

Inilah keadaan para nabi 'alaihimush shalatu was salam dan orang-orang beriman.

Allah Ta'ala berfirman tentang mereka:

﴿إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ﴾

“Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan, berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan takut, serta senantiasa khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya: 90).

Allah juga berfirman:

﴿تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ﴾

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya. Mereka berdoa kepada Rabb mereka dengan rasa takut dan penuh harap, serta menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajdah: 16).

Apabila seorang muslim mengetahui betapa luas rahmat Allah, betapa agung kemurahan-Nya, betapa besar ampunan-Nya terhadap dosa-dosa yang besar, betapa luas surga-Nya, dan betapa melimpah pahala-Nya, maka jiwanya akan menjadi lapang dan terdorong untuk berharap serta menginginkan berbagai kebaikan besar yang ada di sisi Allah.

Sebaliknya, apabila ia mengetahui betapa dahsyat hukuman Allah, betapa keras tindakan dan siksa-Nya, betapa berat perhitungan-Nya, betapa mengerikannya keadaan pada hari kiamat, betapa menakutkannya neraka, serta beragamnya azab di dalamnya, maka jiwanya akan tertahan dan terkendali. Ia akan berhati-hati dan takut terhadap hukuman Allah.

Oleh sebab itu, terdapat hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ مَا قَنِطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ»

“Seandainya seorang mukmin mengetahui hukuman yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang berani mengharapkan surga-Nya tanpa rasa takut. Dan seandainya orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang berputus asa dari surga-Nya.” (HR. Muslim).

Allah Azza wa Jalla sering kali menggabungkan penyebutan ampunan dan azab di dalam Kitab-Nya.

Di antara firman-Nya adalah:

﴿وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِلنَّاسِ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ الْعِقَابِ﴾

“Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar memiliki ampunan bagi manusia meskipun mereka berbuat zalim, dan sesungguhnya Rabb-mu sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Ar-Ra'd: 6).

Allah juga berfirman:

﴿اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾

“Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya dan bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ma'idah: 98).

Al-Ghazali rahimahullah menukil perkataan Makhul Ad-Dimasyqi:

“Barang siapa beribadah kepada Allah hanya dengan rasa takut, maka ia adalah seorang Haruri. Barang siapa beribadah kepada Allah hanya dengan harapan, maka ia adalah seorang Murji'ah. Barang siapa beribadah kepada Allah hanya dengan cinta, maka ia adalah seorang zindik. Namun, barang siapa beribadah kepada-Nya dengan rasa takut, harapan, dan cinta, maka ia adalah seorang ahli tauhid yang mengikuti Sunnah.”

Catatan istilah: Haruri merujuk kepada kelompok Khawarij, sedangkan Murji'ah merupakan kelompok yang dikenal dengan pandangan tertentu tentang iman dan amal. Perkataan yang dinukil di atas adalah penilaian dalam konteks pembahasan tersebut, bukan berarti setiap orang yang kuat harapannya otomatis termasuk Murji'ah atau setiap orang yang kuat cintanya otomatis menjadi zindik.

Dalam kitab Madarijus Salikin, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Hati dalam perjalanannya menuju Allah Azza wa Jalla bagaikan seekor burung. Cinta adalah kepalanya, sedangkan rasa takut dan harapan adalah kedua sayapnya. Apabila kepala dan kedua sayapnya selamat, burung itu dapat terbang dengan baik. Namun, apabila kepalanya terputus, burung itu akan mati. Dan apabila kedua sayapnya hilang, burung itu akan menjadi sasaran bagi setiap pemburu dan tidak mampu terbang.”

Para ulama salaf menganjurkan agar ketika seseorang masih sehat, sayap rasa takut lebih kuat daripada sayap harapan. Adapun ketika ia sudah mendekati akhir hayat, sayap harapan hendaknya lebih kuat daripada sayap rasa takut.

Cinta merupakan kendaraan yang membawanya menuju Allah, harapan menjadi penuntunnya, sedangkan rasa takut menjadi pendorongnya. Allah-lah yang menyampaikannya ke tujuan dengan karunia dan kemurahan-Nya.

Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:

﴿نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ۝ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ﴾

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49–50).

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian melalui Al-Qur'an yang agung, serta memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.

Aku mengucapkan perkataanku ini, dan aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung untuk diriku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum muslimin dari setiap dosa. Maka, mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

### Khutbah kedua

Segala puji bagi Allah, Pemilik keagungan dan kemuliaan, serta pemilik kekuatan yang tidak dapat ditandingi.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia Mahaperkasa dan memiliki kekuasaan untuk memberikan pembalasan.

Aku juga bersaksi bahwa Nabi dan pemimpin kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya yang mulia.

Amma ba'du.

Bertakwalah kepada Allah, wahai kaum muslimin. Berharaplah terhadap pahala-Nya dan takutlah terhadap hukuman-Nya. Dengarkanlah firman Allah Tabaraka wa Ta'ala:

﴿اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾

“Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya dan bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ma'idah: 98).

Karena itu, takutlah terhadap hukuman-Nya dan berharaplah terhadap rahmat serta pahala-Nya.

### 1\. Dahsyatnya azab neraka dan besarnya kenikmatan surga

Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari An-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhuma, ia berkata bahwa dirinya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَرَجُلٌ يُوضَعُ فِي أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ، مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا أَشَدُّ مِنْهُ عَذَابًا، وَإِنَّهُ لَأَهْوَنُهُمْ عَذَابًا»

“Sesungguhnya orang yang paling ringan azabnya di antara penghuni neraka pada hari kiamat adalah seseorang yang diletakkan dua bara api di bagian bawah kedua telapak kakinya. Karena kedua bara api itu, otaknya mendidih. Ia merasa bahwa tidak ada seorang pun yang azabnya lebih berat daripada dirinya, padahal dialah orang yang paling ringan azabnya di antara mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Imam Muslim juga meriwayatkan dari Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa Nabi Musa 'alaihissalam bertanya kepada Rabb-nya, “Siapakah penghuni surga yang paling rendah kedudukannya?”

Allah menjawab:

“Dia adalah seorang lelaki yang datang setelah para penghuni surga dimasukkan ke dalam surga. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke surga!’

Lelaki itu berkata, ‘Wahai Rabb-ku, bagaimana mungkin aku masuk, sementara orang-orang telah menempati kedudukan mereka dan memperoleh bagian mereka?’

Allah berfirman kepadanya, ‘Apakah engkau rela jika engkau memiliki kerajaan seperti kerajaan salah seorang raja di dunia?’

Ia menjawab, ‘Aku rela, wahai Rabb-ku.’

Allah berfirman, ‘Itu untukmu, ditambah yang semisalnya, ditambah yang semisalnya, dan ditambah yang semisalnya lagi.’

Ketika Allah menyebutkan yang kelima kalinya, lelaki itu berkata, ‘Aku rela, wahai Rabb-ku.’

Allah berfirman, ‘Itu semua untukmu, ditambah sepuluh kali lipatnya. Engkau juga memperoleh segala sesuatu yang diinginkan oleh jiwamu dan yang menyenangkan matamu.’

Lelaki itu berkata, ‘Aku rela, wahai Rabb-ku.’”

### 2\. Menguatkan rasa takut di dunia dan harapan menjelang kematian

Rasa takut terhadap azab Allah dan harapan terhadap pahala-Nya merupakan perkara yang tidak dapat dipisahkan dari kelurusan seorang muslim.

Pada zaman ini, ketika kekerasan hati, kelalaian, dan kecintaan terhadap dunia telah mendominasi banyak hati, serta banyak orang semakin berani melakukan dosa dan kemaksiatan, sayap rasa takut perlu diperkuat agar jiwa menjadi lurus dan hati menjadi bersih.

Adapun ketika seseorang telah mendekati akhir hayatnya, hendaknya harapan kepada Allah lebih dikedepankan daripada rasa takut, berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

«لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ»

“Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Rabb-nya.” (HR. Muslim).

Rasa takut kepada Allah menuntut seseorang menunaikan hak-hak Allah Ta'ala dan menjauhkannya dari sikap meremehkan kewajiban terhadap-Nya.

Rasa takut juga menghalangi seorang hamba dari menzalimi orang lain dan melampaui batas terhadap mereka. Sebaliknya, rasa takut mendorongnya menunaikan hak-hak orang lain, tidak menyia-nyiakannya, dan tidak meremehkannya.

Selain itu, rasa takut mencegah seorang muslim mengikuti hawa nafsu dan melakukan perkara-perkara yang diharamkan. Rasa takut menjadikannya selalu waspada terhadap fitnah, perhiasan, dan tipu daya dunia, serta menumbuhkan kerinduan terhadap akhirat dan kenikmatan yang ada di dalamnya.

Barang siapa mentauhidkan Allah Tabaraka wa Ta'ala dan Allah melindunginya dari menumpahkan darah manusia, merampas harta mereka, serta merusak kehormatan mereka, maka ia telah diselamatkan dari kesengsaraan dunia, kesulitan-kesulitan akhirat, dan azab Allah Tabaraka wa Ta'ala. Ia pun memperoleh kemenangan berupa surga yang kenikmatannya tidak akan berakhir dan tidak akan binasa.

### 3\. Selawat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam

Wahai hamba-hamba Allah!

Allah Ta'ala berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).

Karena itu, berselawatlah dan ucapkanlah salam kepada pemimpin seluruh manusia dari generasi pertama hingga generasi terakhir serta imam para rasul.

Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan selawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia.

Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia. Dan limpahkanlah salam sebanyak-banyaknya kepada beliau.

### 4\. Doa untuk para sahabat dan kaum muslimin

Ya Allah, rida dan rahmatilah seluruh sahabat Nabi, serta para khalifah yang mendapat petunjuk dan para imam yang diberi hidayah: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Rida dan rahmatilah seluruh sahabat Nabi-Mu, para tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Ya Allah, rida dan rahmatilah kami dengan karunia, kemurahan, dan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara semua yang menyayangi.

Ya Allah, ampunilah orang-orang yang telah meninggal dunia di antara kami dan seluruh kaum muslimin, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, satukanlah hati kaum muslimin dan perbaikilah hubungan di antara mereka.

Ya Allah, menangkanlah agama-Mu, Kitab-Mu, dan Sunnah Nabi-Mu, wahai Zat Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.

Ya Allah, hinakanlah berbagai bid'ah, wahai Rabb seluruh alam, hingga hari kiamat.

Ya Allah, lindungilah darah kaum muslimin. Ya Allah, lindungilah darah kaum muslimin. Ya Allah, cegahlah pertumpahan darah kaum muslimin, dan jagalah kehormatan serta harta mereka, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, cukupkanlah mereka dari keburukan orang-orang yang melampaui batas dan berbuat zalim, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, jagalah kaum muslimin di setiap tempat. Lindungilah mereka dari keburukan orang-orang zalim dan dari tindakan permusuhan mereka, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, padamkanlah fitnah-fitnah yang melanda kaum muslimin, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, padamkanlah fitnah-fitnah itu dengan kemuliaan bagi Islam dan kaum muslimin, dengan segala sesuatu yang Engkau ridai, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara semua yang menyayangi. Jadikanlah kehinaan bagi musuh-musuh agama. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, berikanlah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami. Ya Allah, perbaikilah keadaan para pemimpin kami.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada Penjaga Dua Tanah Suci agar melakukan segala sesuatu yang Engkau cintai dan Engkau ridai. Bimbinglah ia menuju petunjuk-Mu dan jadikanlah amalnya sesuai dengan keridaan-Mu.

Bantulah ia dalam melakukan segala sesuatu yang Engkau ridai dan yang mendatangkan kemaslahatan bagi Islam serta kaum muslimin, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada kedua wakilnya untuk melakukan segala sesuatu yang Engkau cintai dan Engkau ridai, serta segala sesuatu yang membawa kemuliaan bagi Islam, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara semua yang menyayangi.

Ya Allah, turunkanlah pertolongan dan hujan rahmat kepada kami.

Ya Allah, lindungilah kami dari keburukan diri kami sendiri dan dari keburukan amal perbuatan kami. Lindungilah kami dari keburukan setiap makhluk yang memiliki keburukan, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, lindungilah kami dan keturunan kami dari Iblis, keturunannya, bala tentaranya, dan setan-setannya.

Ya Allah, lindungilah seluruh kaum muslimin dari Iblis, keturunannya, dan setan-setannya, wahai Rabb seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾

“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201).

### 5\. Penutup khutbah

Wahai hamba-hamba Allah!

Allah Ta'ala berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ۝ وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ﴾

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kaum kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian mengambil pelajaran.

Penuhilah janji Allah apabila kalian berjanji, dan janganlah kalian membatalkan sumpah-sumpah setelah meneguhkannya, padahal kalian telah menjadikan Allah sebagai saksi atas janji kalian. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. An-Nahl: 90–91).

Ingatlah Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia, niscaya Dia akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat itu kepada kalian.

Sesungguhnya mengingat Allah adalah perkara yang paling besar. Dan Allah mengetahui segala sesuatu yang kalian kerjakan.