Kamis, 05 November 2026

KEBERSIHAN HATI


KEBERSIHAN HATI 


Terjemahan Khutbah Masjid Nabawi

25 Safar 1430 H (20 Februari 2009 M)

Khatib: Syekh Abdul Muhsin bin Muhammad Al-Qasim



 Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, dan memohon ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam yang sebanyak-banyaknya kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya.

Amma ba'du:

Bertakwalah kalian kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah, dengan sebenar-benar takwa. Awasi dan takutlah kepada-Nya, baik dalam keadaan tersembunyi maupun ketika berbisik-bisik.

Wahai kaum muslimin!

Baiknya anggota badan bergantung pada baiknya hati. Amalan-amalan hati dalam hal pahala dan hukuman sama seperti amalan anggota badan. Seseorang diberi pahala karena loyalitas dan permusuhannya karena Allah, dan dia mendapatkan hukuman karena kedengkian, kesombongan, dan riya.

Memperbaiki hati lebih utama daripada memperbanyak ibadah-ibadah sunah. Seorang muslim tidak akan mencapai kesempurnaan kecuali dengan hilangnya kedengkian dan kebencian yang ada di dalam hatinya.

Bersihnya hati merupakan salah satu sifat para nabi. Allah memuji kekasih-Nya, Nabi Ibrahim 'alaihissalam, dengan firman-Nya:

﴿ إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ﴾

"(Ingatlah) ketika dia datang kepada Tuhannya dengan hati yang bersih." (QS. Ash-Shaffat: 84).

Dada Nabi ﷺ pernah dibelah sebanyak dua kali. Pertama, ketika beliau masih kecil, lalu dikeluarkan dari dadanya segumpal darah. Kedua, menjelang peristiwa Isra, hati beliau dicuci di dalam bejana emas menggunakan air Zamzam. Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Hibban.

Di antara doa Nabi ﷺ yang beliau ajarkan kepada umatnya adalah:

«اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي»

"Ya Allah, berilah aku petunjuk dan cabutlah kedengkian dari hatiku."

Maksud sakhimah adalah kebencian dan dendam yang tersimpan di dalam hati. (HR. Abu Dawud).

Allah juga memuji kaum Anshar karena kebersihan hati mereka. Allah berfirman:

﴿ وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا ﴾

"Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada orang-orang Muhajirin itu." (QS. Al-Hasyr: 9).

Maksudnya, mereka tidak merasa iri terhadap keutamaan dan karunia yang diberikan kepada saudara-saudara mereka dari kalangan Muhajirin.

Allah juga mengabarkan tentang orang-orang saleh yang datang setelah mereka melalui firman-Nya:

﴿ وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا ﴾

"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, 'Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.'" (QS. Al-Hasyr: 10).

Kebersihan hati merupakan salah satu sebab masuk surga.

Nabi ﷺ pernah bersabda kepada para sahabatnya:

«يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ مِنْ هَذَا الْفَجِّ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ»

"Akan muncul di hadapan kalian sekarang dari jalan ini seorang laki-laki yang termasuk penghuni surga."

Kemudian muncullah seorang laki-laki dari kalangan Anshar.

Para sahabat bertanya kepadanya tentang amalan yang dilakukannya. Ia menjawab:

"Aku tidak mendapati dalam diriku sedikit pun perasaan curang atau buruk terhadap seorang muslim pun. Aku juga tidak merasa iri kepada siapa pun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya."

(HR. Ahmad).

Para ulama salaf senantiasa berusaha menjaga kebersihan hati mereka sehingga mereka dikenal dengan sifat tersebut.

Ibnu Katsir rahimahullah, ketika menggambarkan sahabat dekatnya, Ibnu Qayyim, berkata:

"Beliau memiliki bacaan yang baik dan akhlak yang mulia, banyak menunjukkan kasih sayang dan kedekatan kepada orang lain. Beliau tidak dengki kepada siapa pun, tidak menyakiti orang lain, tidak mencela keburukan seseorang, dan tidak menyimpan dendam terhadap siapa pun."

Pada hari Kiamat, tidak ada sesuatu pun yang bermanfaat selain kebersihan hati yang disertai keimanan.

Allah Yang Mahamulia berfirman:

﴿ يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ﴾

"(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih." (QS. Asy-Syu'ara: 88–89).

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengutamakan sebagian hamba-Nya atas sebagian yang lain dalam pemberian rezeki. Hal itu merupakan keadilan dan karunia-Nya, agar tampak siapa yang bersabar dan siapa yang bersyukur.

Allah berfirman:

﴿ وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ ﴾

"Dan Allah melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain dalam hal rezeki." (QS. An-Nahl: 71).

Kedengkian merupakan akhlak yang tercela, hina, dan rendah. Orang yang dengki biasanya mengarahkan kedengkiannya kepada orang-orang yang memiliki keutamaan dan kenikmatan.

Iblis memiliki sifat dengki. Ia menolak bersujud kepada Adam karena dengki kepadanya.

Iblis berkata:

﴿ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ ﴾

"Aku lebih baik daripadanya. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah." (QS. Shad: 76).

Dengan demikian, kedengkian merupakan dosa pertama yang dengannya Allah didurhakai di langit.

Kedengkian juga termasuk sifat orang-orang Yahudi dan Nasrani. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

﴿ أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ﴾

"Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad dan umatnya) karena karunia yang telah diberikan Allah kepadanya?" (QS. An-Nisa: 54).

Kedengkian juga merupakan salah satu ucapan orang-orang yang hatinya berpenyakit. Allah berfirman:

﴿ فَسَيَقُولُونَ بَلْ تَحْسُدُونَنَا ﴾

"Maka mereka akan berkata, 'Sebenarnya kalian dengki kepada kami.'" (QS. Al-Fath: 15).

Kedengkian bahkan dapat mengantarkan pelakunya kepada kekufuran kepada Allah.

Allah berfirman:

﴿ إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ ﴾

"Kecuali Iblis. Ia enggan dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan orang-orang kafir." (QS. Al-Baqarah: 34).

Orang-orang nonmuslim menginginkan agar kaum muslimin keluar dari agama mereka.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

﴿ وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ ﴾

"Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena kedengkian yang timbul dari diri mereka sendiri." (QS. Al-Baqarah: 109).

Kedengkian juga dapat menghalangi seseorang untuk masuk Islam.

Al-Miswar bin Makhramah pernah berkata kepada Abu Jahal:

"Apakah dahulu kalian pernah menuduh Muhammad berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang sekarang dia sampaikan?"

Abu Jahal menjawab:

"Demi Allah, dahulu Muhammad berada di tengah-tengah kami ketika masih muda dan dipanggil dengan sebutan Al-Amin (orang yang terpercaya). Kami sama sekali tidak pernah mendapati dirinya berdusta."

Al-Miswar bertanya:

"Lantas, mengapa kalian tidak mengikutinya?"

Abu Jahal menjawab:

"Kami dan Bani Hasyim saling bersaing dalam kemuliaan. Mereka memberi makan, kami pun memberi makan. Mereka memberi minum, kami pun memberi minum. Mereka memberikan perlindungan, kami pun memberikan perlindungan. Hingga ketika kami telah berhadap-hadapan, berlutut satu sama lain, dan kedudukan kami sudah seperti dua kuda pacuan yang saling bersaing, mereka berkata, 'Dari kalangan kami ada seorang nabi.'

"Lantas, kapan kami dapat memperoleh kemuliaan seperti ini?

"Demi Allah, kami tidak akan pernah beriman kepadanya dan tidak akan pernah membenarkannya."

Kedengkian juga dapat mendorong pelakunya membunuh orang lain.

Allah berfirman:

﴿ وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ﴾

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka kurban salah seorang dari mereka diterima, sedangkan yang lain tidak diterima. Ia berkata, 'Sungguh, aku pasti akan membunuhmu!'" (QS. Al-Ma'idah: 27).

Kedengkian juga merupakan ujian bagi hati manusia.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

﴿ وَكَذَلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا ﴾

"Demikianlah Kami menguji sebagian mereka dengan sebagian yang lain, agar mereka berkata, 'Apakah mereka itu orang-orang yang diberi karunia oleh Allah di antara kita?'" (QS. Al-An'am: 53).

Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

"Kedengkian merupakan sesuatu yang tertanam dalam tabiat manusia. Orang yang berbahagia adalah orang yang berusaha menolak dan menghilangkannya."

Kedengkian bertentangan dengan kesempurnaan iman.

Nabi ﷺ bersabda:

«لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ: الْإِيمَانُ وَالْحَسَدُ»

"Keimanan dan kedengkian tidak akan berkumpul dalam hati seorang hamba."

(HR. An-Nasa'i).

Nabi ﷺ telah memperingatkan umatnya dari penyakit berbahaya ini. Beliau bersabda:

«لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا»

"Janganlah kalian saling dengki, janganlah melakukan najasy (menaikkan harga barang dengan tujuan menipu), janganlah saling membenci, dan janganlah saling membelakangi."

(HR. Muslim).

Kedengkian merupakan sumber berbagai keburukan. Ia menyebabkan kezaliman dan melahirkan permusuhan serta keterputusan hubungan.

Ibnu 'Aqil rahimahullah berkata:

"Aku telah mengamati berbagai akhlak manusia. Ternyata akhlak yang paling besar akibat buruknya adalah kedengkian.

"Orang yang dengki adalah orang yang lemah jiwanya. Setiap kenikmatan yang dimiliki orang lain terlihat sangat besar di matanya. Ia membenci kenikmatan Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya.

"Ia merasa sakit ketika melihat keutamaan seseorang tampak atau ketika seseorang mendapatkan pujian atas kebaikannya.

"Apabila ia melihat karunia Allah kepada makhluk-Nya, ia bersedih. Namun, apabila ia menyaksikan hilangnya karunia tersebut, ia merasa gembira.

"Orang yang dengki tidak pernah merasakan ketenangan. Ia bergembira ketika orang lain bersedih dan bersedih ketika orang lain bergembira.

"Ia seakan-akan tidak memandang ketetapan Allah sebagai sesuatu yang adil, dan tidak menganggap orang lain layak mendapatkan nikmat-Nya.

"Lidahnya mengeluarkan apa yang tersembunyi dalam kegelapan hatinya."

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

﴿ أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ ﴾

"Ataukah orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka?" (QS. Muhammad: 29).

Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu berkata:

"Jauhilah kedengkian, karena pengaruhnya akan tampak pada dirimu sebelum tampak pada musuhmu."

Kedengkian akan membinasakan pelakunya dan mengantarkannya kepada kehinaan serta kerendahan. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada saudara-saudara Nabi Yusuf ketika mereka meminta belas kasihan kepada saudara yang dahulu mereka dengki.

Mereka berkata:

﴿ يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهْلَنَا الضُّرُّ وَجِئْنَا بِبِضَاعَةٍ مُزْجَاةٍ فَأَوْفِ لَنَا الْكَيْلَ وَتَصَدَّقْ عَلَيْنَا ﴾

"Wahai Al-'Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan, dan kami datang membawa barang-barang yang tidak berharga. Maka sempurnakanlah takaran untuk kami dan bersedekahlah kepada kami." (QS. Yusuf: 88).

Tidak ada sifat buruk yang lebih merusak daripada kedengkian.

Orang yang dengki sebenarnya telah menyiksa dirinya sendiri sebelum keburukannya sampai kepada orang yang didengkinya.

Barang siapa memperhatikan keadaan orang yang dengki, dengan segala kegelisahan, kesedihan, dan penderitaannya, niscaya ia akan merasa iba kepadanya.

Orang yang dengki telah menyibukkan dirinya dengan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya, sehingga ia menyia-nyiakan sesuatu yang sebenarnya bermanfaat baginya.

Kedengkian justru menjadi tanda keutamaan bagi orang yang didengki, sebab jiwa manusia biasanya tidak merasa dengki kecuali kepada orang yang memiliki kedudukan atau keutamaan.

Betapa banyak kenikmatan tersembunyi yang justru ditampakkan oleh orang yang dengki! Betapa banyak hamba yang mendapatkan pujian setelah dirinya didengki!

Habil, putra Nabi Adam, pernah didengki, tetapi namanya tetap dikenang dan dipuji di dalam Kitab Allah.

Sesuai dengan kadar keutamaan seseorang dan tampaknya nikmat Allah pada dirinya, semakin banyak pula orang yang mendengkinya.

Nikmat terbesar yang membuat seseorang layak didengki adalah nikmat Islam.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

﴿ وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً ﴾

"Mereka menginginkan agar kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, sehingga kamu menjadi sama dengan mereka." (QS. An-Nisa: 89).

Nabi ﷺ sendiri pernah didengki karena Al-Qur'an yang diturunkan kepada beliau.

Allah berfirman:

﴿ وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَذَا الْقُرْآنُ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ ﴾

"Dan mereka berkata, 'Mengapa Al-Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang pembesar dari salah satu dua negeri ini?'" (QS. Az-Zukhruf: 31).

Orang yang didengki adalah orang yang dizalimi. Ia diperintahkan untuk bersabar, bertakwa, memaafkan, dan berlapang dada.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

﴿ وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ﴾

"Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena kedengkian yang timbul dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan berlapang dadalah sampai Allah memberikan perintah-Nya." (QS. Al-Baqarah: 109).

Nabi Yusuf 'alaihissalam berkata kepada saudara-saudaranya:

﴿ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ﴾

"Pada hari ini tidak ada cercaan dan celaan terhadap kalian." (QS. Yusuf: 92).

Api kedengkian dapat dipadamkan dengan berbuat baik kepada orang yang dengki.

Semakin besar keburukan yang dilakukan orang yang dengki, semakin tingkatkanlah kebaikan, nasihat, dan rasa kasih sayang kepadanya.

Kedengkian menghalangi kesempurnaan iman.

Nabi ﷺ bersabda:

«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»

"Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri."

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kedengkian merupakan kemaksiatan yang wajib ditaubati oleh seorang muslim.

Ia harus ridha terhadap ketetapan Allah, tunduk kepada takdir-Nya, dan tidak menentang keputusan Allah.

Hendaknya ia bergembira atas kemurahan Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya.

Ia harus berusaha mengusir kemaksiatan tersebut dari hatinya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, rasa takut terhadap hukuman-Nya, dan agar dirinya tidak membenci nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya.

Hendaknya ia melihat orang yang berada di bawahnya dalam urusan dunia, mengingat berbagai nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya, serta merasa cukup dan puas dengan pemberian Allah.

Sebab, setiap orang yang dengki juga menjadi sasaran kedengkian orang lain.

Hendaknya ia berlindung kepada Allah dari penyakit dengki, segera mendoakan kebaikan bagi orang yang didengkinya, serta mengharapkan bertambahnya kebaikan bagi saudaranya sesama muslim.

Barang siapa yang memberikan nikmat kepada orang lain, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala Mahakuasa untuk memberikan kepadamu nikmat yang serupa, bahkan lebih banyak daripadanya.

Allah berfirman:

﴿ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ ﴾

"Dan Allah mempunyai karunia yang besar." (QS. Al-Hadid: 21).

Adapun ghibthah (keinginan mendapatkan kebaikan seperti yang dimiliki orang lain tanpa mengharapkan hilangnya nikmat orang tersebut), maka yang benar-benar patut menjadi sasaran ghibthah adalah pemberian berupa tingkatan-tingkatan kemuliaan di akhirat.

Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.

Allah berfirman:

﴿ وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ ﴾

"Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain." (QS. An-Nisa: 32).

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dengan Al-Qur'an yang agung.

Semoga Allah memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.

Aku mengatakan apa yang kalian dengarkan ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku, untuk kalian, serta seluruh kaum muslimin dari setiap dosa. Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan-Nya. Segala syukur hanya milik-Nya atas taufik dan karunia-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagai bentuk pengagungan terhadap kedudukan-Nya.

Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam yang sebanyak-banyaknya kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.

Wahai kaum muslimin!

Hati yang paling dekat kepada Allah adalah hati yang paling lembut dan paling bersih.

Tidak ada kehidupan yang lebih menyenangkan daripada kehidupan seorang mukmin yang bersih hatinya.

Apabila ia melihat suatu kenikmatan yang Allah berikan kepada saudaranya, ia ikut bergembira karenanya. Ia menyadari bahwa kenikmatan tersebut merupakan karunia Allah dan bahwa para hamba sangat membutuhkan karunia-Nya.

Tidaklah seseorang memusuhi seorang muslim kemudian ia memperoleh keberuntungan.

Dalam keridhaan terhadap pembagian rezeki yang telah Allah tetapkan terdapat keselamatan hati. Semakin besar keridhaan seorang hamba terhadap ketetapan Allah, semakin bersih pula hatinya.

Hendaknya seseorang menundukkan dirinya dari akhlak-akhlaknya yang tercela dan menahan dirinya dari tabiatnya yang hina.

Inti dari berbagai perkara yang harus dijaga agar hati tetap bersih adalah: ketamakan, hawa nafsu, kemarahan, dan kedengkian.

Barang siapa menginginkan agar Allah memberikan kenikmatan kepadanya, hendaknya ia tidak terlalu memperhatikan keadaan orang lain dan hendaknya ia menjadikan hatinya bersih.

Barang siapa memperhatikan dosa-dosanya sendiri, niscaya ia akan menganggap banyak nikmat yang telah dimilikinya.

Tidak ada sesuatu pun yang lebih baik dalam menjaga nikmat Allah selain mensyukurinya. Dan tidak ada sesuatu pun yang lebih cepat menyebabkan hilangnya nikmat selain menggunakan nikmat tersebut untuk bermaksiat kepada Allah.

Karena itu, bersegeralah untuk mensyukuri berbagai nikmat Allah yang diberikan kepada kalian. Niscaya Allah akan menambah karunia-Nya kepada kalian dan menganugerahkan berbagai kebaikan yang dengannya kalian akan berbahagia di dunia dan akhirat.

Kemudian ketahuilah, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk berselawat dan mengucapkan salam kepada Nabi-Nya.

Allah berfirman dalam kitab-Nya yang kokoh:

﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56).

Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan keberkahan kepada Nabi kami Muhammad.

Ya Allah, ridhailah para khalifah beliau yang mendapatkan petunjuk, yang memutuskan perkara dengan kebenaran dan senantiasa berlaku adil dengannya: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Ridhailah pula seluruh sahabat Nabi, dan jadikanlah kami bersama mereka dengan kemurahan dan karunia-Mu, wahai Zat Yang Mahamulia di antara semua yang memiliki kemuliaan.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik. Hancurkanlah musuh-musuh agama.

Ya Allah, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, tenteram, dan penuh kemakmuran, demikian pula seluruh negeri kaum muslimin.

Ya Allah, jauhkanlah dari kami kejahatan orang-orang yang menyimpan dendam, orang-orang yang bergembira atas musibah orang lain, dan orang-orang yang dengki, wahai Tuhan seluruh alam.

Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.

﴿ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴾

"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Al-Baqarah: 201).

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu taufik dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Ya Allah, ilhamkanlah kepada kami kebenaran, berilah kami taufik untuk mengikuti kebenaran, dan jauhkanlah kami dari berbagai fitnah.

Ya Allah, Engkaulah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkaulah Yang Mahakaya, sedangkan kami adalah orang-orang yang fakir dan membutuhkan-Mu.

Turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.

Ya Allah, sesungguhnya kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.

﴿ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴾

"Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Al-A'raf: 23).

Ya Allah, berilah taufik kepada pemimpin kami untuk mengikuti petunjuk-Mu dan jadikanlah amal perbuatannya berada dalam keridhaan-Mu.

Berilah pula taufik kepada seluruh pemimpin kaum muslimin agar senantiasa mengamalkan Kitab-Mu dan menjadikan syariat-Mu sebagai pedoman hukum, wahai Zat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.

Wahai hamba-hamba Allah!

Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan, berbuat ihsan, dan memberikan hak kepada kaum kerabat. Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberikan pengajaran kepada kalian agar kalian mengambil pelajaran.

﴿ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ﴾

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl: 90).

Maka ingatlah Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia, niscaya Dia akan mengingat kalian.

Bersyukurlah kepada-Nya atas segala karunia dan nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat-Nya kepada kalian.

Allah berfirman:

﴿ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ ﴾

"Dan sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar (keutamaannya). Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan." (QS. Al-'Ankabut: 45).






Catatan istilah: Dalam khutbah ini, istilah salāmat ash-shadr berarti bersihnya hati dari dendam, kebencian, dan kedengkian. 
Adapun hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat yang Allah berikan kepada orang lain, sedangkan ghibthah adalah menginginkan kebaikan serupa tanpa mengharapkan hilangnya nikmat orang tersebut.

AKU PERINGATKAN KALIAN API NERAKA


AKU PERINGATKAN  KALIAN API  NERAKA 



TERJEMAHAN KHUTBAH MASJID NABAWI

8 Rajab 1429 H – 11 Juli 2008 M


Khatib: Syekh Shalah al-Budair حفظه الله



KHUTBAH PERTAMA


Segala puji bagi Allah, Pemilik kemuliaan yang kokoh dan kekuatan yang dahsyat. Dia membalas orang-orang yang mendurhakai-Nya dengan neraka setelah memperingatkan dan mengancam mereka dengannya. Dia memuliakan orang-orang yang takut dan bertakwa kepada-Nya dengan negeri yang di dalamnya terdapat tambahan segala macam kebaikan.

Barang siapa mengerjakan amal saleh, maka manfaatnya adalah untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa berbuat keburukan, maka akibatnya akan menimpa dirinya sendiri. Rabbmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah Pemilik segala pujian, sanjungan, dan pengagungan.

Aku juga bersaksi bahwa Nabi dan junjungan kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya yang menyeru kepada tauhid.

Semoga Allah senantiasa mencurahkan selawat dan salam kepada beliau, keluarga, serta para sahabatnya, selama silih bergantinya malam dan siang terus berlangsung.

Amma ba'du:

Wahai kaum muslimin!

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan bersegeralah berusaha meraih keridaan-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ﴾

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar." (QS. At-Taubah: 119).

Allah menciptakan seluruh makhluk agar mereka beribadah kepada-Nya. Dia menegakkan berbagai bukti tentang keagungan-Nya agar mereka takut kepada-Nya. Dia juga menjelaskan kepada mereka dahsyatnya azab dan negeri hukuman-Nya agar hal itu menjadi penghalang bagi jiwa-jiwa mereka dari penyimpangan dan kerusakan, sekaligus mendorong mereka untuk menyelamatkan diri, meraih keberuntungan, dan menempuh jalan petunjuk.

Maka waspadalah terhadap apa yang telah Allah peringatkan kepada kalian. Takutlah terhadap apa yang telah Dia jadikan sebagai ancaman bagi kalian, yaitu neraka yang telah Allah sebutkan sifat-sifatnya dalam kitab-Nya dan dijelaskan pula oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Neraka adalah negeri yang kemarahannya semakin memuncak dan suara gemuruhnya semakin keras. Kengerian dan keburukannya semakin dahsyat, sementara nyala apinya semakin panas.

Ia adalah tempat yang hitam dan gelap, tandus dan mengerikan, pekat dan membakar.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿لَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُ ۝ لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ ۝ عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ﴾

"Ia tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. Neraka Saqar itu membakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)." (QS. Al-Muddatstsir: 28–30).

Nyala apinya tidak pernah padam dan bara apinya tidak pernah mereda.

Neraka adalah tempat yang penghuninya dijauhkan dari segala kebaikan dan diharamkan dari kenikmatan serta kebahagiaan yang mereka dambakan.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ الْمِهَادُ﴾

"Jahannam, mereka masuk ke dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat tinggal." (QS. Shad: 56).

Gambaran tentang neraka dengan berbagai lapisan, tingkatan, pintu, dan dinding pembatasnya telah memutuskan ketenangan hati orang-orang yang takut kepada Allah. Air mata pun bercucuran dan rintihan kesedihan semakin bertambah.

Nabi pembawa petunjuk ﷺ bersabda:

"ـDemi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Seandainya kalian melihat apa yang aku lihat, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis."

Para sahabat bertanya, "Apa yang engkau lihat, wahai Rasulullah?"

Beliau menjawab:

"Aku melihat surga dan neraka."

(HR. Muslim).

An-Nu'man bin Basyir رضي الله عنه berkata:

Aku mendengar Rasulullah ﷺ berkhutbah seraya bersabda:

"Aku telah memperingatkan kalian tentang neraka! Aku telah memperingatkan kalian tentang neraka!"

Beliau terus mengulanginya hingga kain selendang yang berada di atas pundaknya jatuh ke kedua kakinya.

(HR. Ahmad).

Beliau ﷺ juga bersabda:

"Janganlah kalian melupakan dua perkara yang agung! Janganlah kalian melupakan dua perkara yang agung, yaitu surga dan neraka."

Kemudian beliau menangis, hingga air matanya membasahi kedua sisi janggutnya. Ayah dan ibuku menjadi tebusannya.

Beliau bersabda:

"Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui tentang urusan akhirat, niscaya kalian akan berjalan menuju tempat yang lapang dan menaburkan tanah di atas kepala kalian."

(HR. Abu Ya'la).

Wahai kaum muslimin!

Surga itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada tali sandalnya. Demikian pula neraka.

Api yang kalian nyalakan di dunia ini hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian api neraka Jahannam. Neraka Jahannam dilebihkan atas api dunia dengan enam puluh sembilan bagian, yang masing-masing bagian sama panasnya dengan api dunia.

Sesungguhnya panas yang kalian rasakan pada musim panas dan teriknya cuaca di siang hari merupakan salah satu hembusan panas neraka, yang mengingatkan kalian kepadanya.

Dalam Shahih al-Bukhari disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

"Neraka mengadu kepada Rabbnya seraya berkata, 'Wahai Rabbku, sebagian dariku telah memakan sebagian yang lain.'

Maka Allah mengizinkannya untuk mengeluarkan dua hembusan: satu hembusan pada musim dingin dan satu hembusan pada musim panas.

Maka panas paling dahsyat yang kalian rasakan dan dingin paling menusuk yang kalian rasakan merupakan bagian dari hembusan neraka Jahannam."

Sesungguhnya pada hari Kiamat, neraka Jahannam akan didatangkan dalam keadaan ditarik.

Ia memiliki tujuh puluh ribu tali kekang. Setiap satu tali kekang ditarik oleh tujuh puluh ribu malaikat.

Neraka itu didatangkan dalam keadaan menampakkan kemarahan dan kemurkaan yang sangat dahsyat. Ketika para pelaku kejahatan melihatnya, mereka benar-benar yakin akan kebinasaan diri mereka. Pada saat itu, seluruh umat berlutut di atas lutut mereka, dan setiap manusia mengingat segala amal yang telah dilakukannya.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي ۝ فَيَوْمَئِذٍ لَا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ ۝ وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ﴾

"Dia berkata, 'Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku telah mengerjakan kebajikan untuk hidupku ini.'

Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya. Dan tidak ada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya." (QS. Al-Fajr: 24–26).

Dasar dan kedalaman neraka mencapai tujuh puluh tahun perjalanan.

Nabi ﷺ pernah mendengar suara benda jatuh, lalu beliau bersabda:

"Batu ini dilemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun yang lalu. Sekarang batu itu terus meluncur ke dalam neraka hingga akhirnya sampai ke dasarnya."

(HR. Muslim).

Kemudian dibentangkanlah shirath di atas punggung neraka Jahannam, dengan segala kekasaran dan kengeriannya, serta gelombang api yang menyembur dan suara gemuruhnya yang menggelegak.

Shirath itu licin dan sangat membahayakan. Di atasnya terdapat kait-kait, pengait-pengait besi, dan duri-duri yang mencengkeram.

Orang-orang beriman melintasinya sesuai dengan kadar amal mereka. Ada yang melintas secepat kedipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat angin, ada yang secepat burung, dan ada pula yang secepat kuda-kuda pilihan serta kendaraan yang paling cepat.

Di antara mereka ada yang selamat tanpa terkena apa pun. Ada yang tercakar, tetapi kemudian dilepaskan. Dan ada pula yang tersungkur ke dalam api neraka Jahannam.

Sebagian mereka ada yang terkena api hingga kedua mata kakinya, sebagian hingga kedua lututnya, sebagian hingga bagian pinggulnya, dan sebagian lagi hingga tulang selangkanya.

Para penghuni neraka digiring menuju neraka dalam keadaan kelelahan dan ketakutan. Mereka diseret dengan kasar dan didorong dengan paksa menuju ke dalamnya.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿يُسْحَبُونَ ۝ فِي الْحَمِيمِ ثُمَّ فِي النَّارِ يُسْجَرُونَ﴾

"Mereka diseret ke dalam air yang mendidih, kemudian di dalam neraka mereka dibakar." (QS. Ghafir: 71–72).

Api neraka mendidihkan tubuh mereka sebagaimana air mendidih di dalam periuk.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ﴾

"Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan ketika sedang menggelegak." (QS. Al-Mulk: 7).

Mereka meminta pertolongan karena rasa lapar yang sangat dahsyat. Namun, pertolongan yang diberikan kepada mereka justru berupa makanan paling buruk yang disediakan bagi orang-orang yang melakukan kemaksiatan dan dosa.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿إِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّومِ ۝ طَعَامُ الْأَثِيمِ ۝ كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ ۝ كَغَلْيِ الْحَمِيمِ﴾

"Sesungguhnya pohon zaqqum itu adalah makanan orang yang banyak berdosa. Ia seperti cairan tembaga yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas." (QS. Ad-Dukhan: 43–46).

Nabi ﷺ bersabda:

"Seandainya setetes zaqqum diteteskan ke bumi, niscaya kehidupan seluruh penduduk dunia akan menjadi rusak. Maka bagaimana halnya dengan orang yang menjadikan zaqqum sebagai makanannya, sementara tidak ada makanan lain baginya?"

(HR. Ahmad).

Mereka juga diberi makanan berupa dhari', yaitu tumbuhan berduri yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan rasa lapar.

Duri-duri itu menyakiti mereka. Makanan tersebut tidak dapat masuk ke dalam perut mereka dan tidak pula dapat keluar dari tenggorokan mereka.

Mereka juga diberi makanan berupa ghislin, yaitu nanah dan darah para penghuni neraka yang mengalir dari daging-daging mereka.

Ketika leher mereka terasa kering dan mereka dilanda kehausan yang sangat hebat, mereka diberi minum dari mata air yang sangat panas, yang telah mencapai puncak suhunya dan semakin membakar.

Mereka juga diberi minuman berupa air mendidih yang memotong-motong usus mereka, padahal usus itu dahulu sering digunakan untuk menikmati makanan haram. Air tersebut menghancurkan anggota tubuh mereka, padahal anggota tubuh itu dahulu begitu cepat digunakan untuk melakukan dosa-dosa. Ia juga membakar wajah-wajah mereka, padahal wajah-wajah itu dahulu sering diarahkan untuk bermaksiat kepada Allah, Raja Yang Maha Mengetahui.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا﴾

"Itulah seburuk-buruk minuman dan tempat istirahat yang paling buruk." (QS. Al-Kahfi: 29).

Nabi ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya air yang sangat panas itu akan dituangkan ke atas kepala mereka. Air itu menembus tengkorak hingga sampai ke dalam perutnya. Kemudian air tersebut meluruhkan segala sesuatu yang ada di dalam perutnya hingga keluar melalui kedua kakinya. Setelah itu, tubuhnya dikembalikan seperti semula."

(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan azabnya adalah seseorang yang diberi dua sandal dan dua tali sandal dari api neraka. Karena keduanya, otaknya mendidih sebagaimana mendidihnya air di dalam periuk.

Ia merasa bahwa tidak ada seorang pun yang azabnya lebih berat daripada azab yang diterimanya, padahal dialah orang yang paling ringan azabnya di antara penghuni neraka!

Mereka mengalami berbagai macam siksaan di dalam Jahannam, berupa pakaian-pakaian dari api dan pakaian-pakaian dari ter, yang menyayat hati. Bahkan gunung-gunung yang keras, kokoh, dan kuat pun tidak akan sanggup menanggungnya.

Mereka berguncang di tempat-tempatnya yang sempit, hancur di berbagai tingkatan neraka, dan terombang-ambing di antara kobaran apinya. Mereka dibelenggu secara berpasangan dengan rantai-rantai.

Rantai, belenggu, dan berbagai ikatan telah memberatkan tubuh mereka. Kedua kaki mereka dirantai hingga ke bagian depan kepala mereka. Wajah mereka menghitam akibat kehinaan yang ditimbulkan oleh kemaksiatan.

Di dalam neraka, mereka menjerit meminta pertolongan dan berteriak memohon agar dapat dibebaskan. Harapan mereka hanyalah kematian, tetapi mereka tidak memiliki jalan untuk melepaskan diri dari penjara Jahannam.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿وَلَهُمْ مَقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍ ۝ كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ﴾

"Dan untuk mereka disediakan cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar darinya karena kesengsaraan, mereka dikembalikan lagi ke dalamnya, dan dikatakan kepada mereka, 'Rasakanlah azab api yang membakar ini!'" (QS. Al-Hajj: 21–22).

Pintu-pintu neraka ditutup rapat atas mereka. Di sana, perkara dan musibah yang mereka hadapi semakin dahsyat.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ لِكُلِّ بَابٍ مِنْهُمْ جُزْءٌ مَقْسُومٌ﴾

"Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Setiap pintu telah ditetapkan untuk golongan tertentu dari mereka." (QS. Al-Hijr: 44).

Tangisan dan kesedihan ditimpakan kepada mereka. Mereka menjerit sambil menangis karena dahsyatnya azab, sementara mereka berkeliaran di berbagai jalan, celah, dan lembah neraka.

Mereka berseru:

﴿يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ﴾

"Wahai Malik! Biarlah Rabbmu membinasakan kami saja!"

Malik menjawab, "Sesungguhnya kalian akan tetap tinggal di dalamnya." (QS. Az-Zukhruf: 77).

Kesedihan mereka berlangsung terus-menerus sehingga mereka tidak pernah merasakan kebahagiaan. Keberadaan mereka di dalam neraka telah ditetapkan sehingga mereka tidak akan dapat meninggalkannya.

Nabi ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya penghuni neraka benar-benar menangis. Seandainya kapal-kapal dijalankan di atas air mata mereka, niscaya kapal-kapal itu dapat berlayar. Bahkan mereka menangis hingga mengeluarkan darah."

Maksudnya, darah itu keluar menggantikan air mata.

(HR. Al-Hakim).

Mereka menangisi kehidupan yang telah berlalu tanpa bekal amal saleh. Setiap kali mereka menangis, tangisan mereka semakin bertambah.

Betapa besar penyesalan mereka atas kemurkaan Sang Pencipta! Betapa besar kehinaan mereka di hadapan seluruh makhluk!

Mereka memanggil dan menjerit:

﴿رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ﴾

"Wahai Rabb kami! Keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal saleh, bukan seperti perbuatan yang dahulu kami kerjakan." (QS. Fathir: 37).

﴿رَبَّنَا أَخِّرْنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ نُجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ﴾

"Wahai Rabb kami! Tangguhkanlah kami sampai waktu yang dekat, niscaya kami akan mematuhi seruan-Mu dan mengikuti para rasul." (QS. Ibrahim: 44).

﴿رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ﴾

"Wahai Rabb kami! Kami telah melihat dan mendengar. Maka kembalikanlah kami ke dunia, niscaya kami akan mengerjakan amal saleh. Sesungguhnya sekarang kami telah yakin." (QS. As-Sajdah: 12).

﴿قَالُوا رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَالِّينَ ۝ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْهَا فَإِنْ عُدْنَا فَإِنَّا ظَالِمُونَ﴾

"Mereka berkata, 'Wahai Rabb kami! Kami telah dikuasai oleh kesengsaraan kami dan dahulu kami adalah orang-orang yang sesat. Wahai Rabb kami! Keluarkanlah kami darinya. Jika setelah itu kami kembali melakukan keburukan, sungguh kami adalah orang-orang yang zalim.'" (QS. Al-Mu'minun: 106–107).

Mereka menyeru Tuhan yang selama hidup di dunia perintah-Nya mereka langgar, batasan-batasan-Nya mereka terjang, dan para wali-Nya mereka musuhi.

Mereka menyeru Tuhan yang ketetapan hukuman-Nya atas mereka telah berlaku di akhirat, dan kemurkaan serta azab-Nya telah menimpa mereka.

Maka Allah berfirman:

﴿قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ﴾

"Dia berfirman, 'Tinggallah dengan hina di dalamnya dan janganlah berbicara dengan-Ku!'" (QS. Al-Mu'minun: 108).

Tidak ada belas kasihan bagi tangisan mereka dan tidak ada jawaban bagi doa mereka. Keinginan mereka telah terlepas dari genggaman, sedangkan dosa-dosa mereka telah mengepung diri mereka dari segala arah.

Mereka terus berharap akan adanya kelapangan dan jalan keluar hingga akhirnya terdengar seruan:

"Wahai penghuni surga! Kalian akan hidup kekal dan tidak akan mati. Wahai penghuni neraka! Kalian akan hidup kekal dan tidak akan mati."

Neraka yang tidak akan pernah padam dan jiwa yang tidak akan pernah mati.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿لَا يُقْضَى عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَا كَذَلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ﴾

"Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati, dan azabnya tidak pula diringankan bagi mereka. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat ingkar." (QS. Fathir: 36).

﴿إِنَّهُ مَنْ يَأْتِ رَبَّهُ مُجْرِمًا فَإِنَّ لَهُ جَهَنَّمَ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَى﴾

"Sesungguhnya barang siapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya adalah neraka Jahannam. Dia tidak mati di dalamnya dan tidak pula hidup." (QS. Thaha: 74).

Mereka saling mencela, saling melaknat, saling berhadapan, dan saling mendustakan.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَعَنَتْ أُخْتَهَا﴾

"Setiap kali suatu umat masuk ke dalam neraka, mereka melaknat umat yang sebelumnya." (QS. Al-A'raf: 38).

Sebagian mereka mengingkari sebagian yang lain dan sebagian mereka melaknat sebagian yang lain.

Kemarahan mereka semakin memuncak terhadap orang-orang yang telah menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan dan kebinasaan serta terus-menerus mendorong mereka dalam penyimpangan.

Mereka berkata:

﴿رَبَّنَا أَرِنَا الَّذَيْنِ أَضَلَّانَا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ نَجْعَلْهُمَا تَحْتَ أَقْدَامِنَا لِيَكُونَا مِنَ الْأَسْفَلِينَ﴾

"Wahai Rabb kami! Perlihatkanlah kepada kami dua golongan yang telah menyesatkan kami, yaitu dari kalangan jin dan manusia. Kami akan menginjak keduanya di bawah kaki kami agar keduanya menjadi golongan yang paling bawah." (QS. Fushshilat: 29).

Orang yang berpaling dari mengingat Allah Yang Maha Pengasih berkata kepada teman dekatnya yang dahulu menghalanginya dari Al-Qur'an dan menghiasi kemaksiatan baginya:

﴿يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ﴾

"Alangkah baiknya jika jarak antara aku dan engkau sejauh jarak antara timur dan barat. Sungguh, engkau adalah teman yang paling buruk." (QS. Az-Zukhruf: 38).

Namun, hal itu tidak akan memberikan manfaat kepada mereka, karena mereka sama-sama berada dalam azab. Masing-masing mendapatkan azab yang berlipat ganda, tetapi kalian tidak mengetahuinya.

Wahai hamba-hamba Allah!

Itulah sebagian gambaran tentang neraka dan keadaan para penghuninya.

Maka mintalah perlindungan kepada Allah dari neraka, dan dari setiap perkataan maupun perbuatan yang dapat mendekatkan seseorang kepadanya.

Semoga Allah menjadikan aku dan kalian termasuk orang-orang yang dibebaskan dari neraka, serta mengumpulkan kita bersama golongan orang-orang bertakwa dan berbakti.

Aku cukupkan perkataanku sebagaimana yang telah kalian dengar. Aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum muslimin dari setiap dosa dan kesalahan.

Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.



KHUTBAH KEDUA

Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan dan karunia-Nya. Segala syukur hanya milik-Nya atas taufik dan anugerah-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagai pengagungan terhadap keagungan-Nya.

Aku juga bersaksi bahwa Nabi dan junjungan kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya yang menyeru kepada keridaan-Nya.

Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam sebanyak-banyaknya kepada beliau, keluarga, sahabat, dan saudara-saudaranya.

Amma ba'du:

Wahai kaum muslimin!

Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, orang yang taat dan bertakwa telah memperoleh kemenangan, sedangkan orang musyrik yang celaka telah mengalami kerugian.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan muslim." (QS. Ali 'Imran: 102).

Wahai kaum muslimin!

Sesungguhnya kalian sekarang hidup pada zaman berbagai fitnah yang datang silih berganti dan berbagai keburukan yang terus-menerus bermunculan.

Fitnah syubhat dan fitnah syahwat, yang sebagian darinya semakin memperhalus dan menghiasi sebagian yang lain.

Gelombangnya telah bergolak dan dampaknya terasa menyakitkan dalam kehidupan yang penuh hiruk-pikuk. Fitnah-fitnah tersebut menyeret siapa saja yang mendekatinya menuju kemunduran, baik dalam akidah maupun akhlaknya. Kemunduran itu juga menyakitkan dalam pemikiran dan perilakunya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya di antara perkara yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syahwat-syahwat kesesatan dalam perut dan kemaluan kalian, serta hawa nafsu yang menyesatkan."

Dalam riwayat lain disebutkan:

"Dan fitnah-fitnah yang menyesatkan."

(HR. Ahmad).

Beliau ﷺ juga bersabda:

"Surga itu dikelilingi oleh berbagai perkara yang tidak disukai, sedangkan neraka dikelilingi oleh berbagai syahwat."

(HR. Al-Bukhari).

Maka tempuhlah jalan yang penuh kesulitan demi meraih surga. Lepaskanlah hati dari tempat tidur kelalaiannya. Arahkanlah jiwa agar menjauh dari tempat-tempat yang menjadi sumber pemenuhan syahwatnya.

Perhatikanlah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ.

Ketahuilah bahwa kalian sedang berada dalam masa tenggang yang diberikan kepada kalian. Di belakangnya telah menanti ajal yang semakin dekat dan waktu yang terus berlalu dengan cepat.

Barang siapa tidak mengambil manfaat dari keadaan yang sedang dialaminya sekarang, maka sesuatu yang telah berlalu darinya lebih sulit untuk diraih kembali, sedangkan sesuatu yang masih akan datang lebih lemah untuk dijangkau.

Tidak ada tidur yang lebih berat daripada kelalaian. Tidak ada perbudakan yang lebih menguasai daripada syahwat. Tidak ada musibah yang lebih besar daripada matinya hati. Tidak ada pemberi peringatan yang lebih jelas daripada rambut yang telah memutih. Dan tidak ada tempat kembali yang lebih buruk daripada neraka.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْبَشَرِ ۝ كَلَّا وَالْقَمَرِ ۝ وَاللَّيْلِ إِذْ أَدْبَرَ ۝ وَالصُّبْحِ إِذَا أَسْفَرَ ۝ إِنَّهَا لَإِحْدَى الْكُبَرِ ۝ نَذِيرًا لِلْبَشَرِ ۝ لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ﴾

"Dan neraka Saqar itu tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia. Sekali-kali tidak! Demi bulan, demi malam ketika telah berlalu, dan demi waktu subuh ketika mulai terang.

Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang sangat besar, sebagai peringatan bagi manusia, yaitu bagi siapa di antara kalian yang ingin maju atau mundur." (QS. Al-Muddatstsir: 31–37).

Kemudian ketahuilah bahwa Allah telah memerintahkan kalian dengan suatu perkara yang Dia memulai penyebutannya dari diri-Nya sendiri, kemudian menyebut para malaikat-Nya yang senantiasa bertasbih menyucikan-Nya, lalu menyeru kalian, wahai kaum mukminin, baik dari kalangan jin maupun manusia.

Allah berfirman dengan firman-Nya yang mulia:

﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56).

Wahai orang yang mengharapkan pahala dan balasan kebaikan,

Serta penghapusan dosa-dosa masa lalu yang telah memberatkan punggung,

Hendaklah engkau memperbanyak selawat dan senantiasa menjaganya,

Kepada Ahmad, sang pemberi petunjuk, pemberi syafaat bagi seluruh manusia,

Beliau adalah makhluk Allah yang paling utama dari keturunan Adam,

Yang paling suci nasabnya dan paling mulia kehormatannya.

Sungguh telah sahih bahwa Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia,

Memberikan sepuluh kali rahmat kepada orang yang berselawat kepada Nabi satu kali.

Maka berselawatlah dan ucapkanlah salam kepada sebaik-baik makhluk dan manusia yang paling suci.

Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada hamba dan Rasul-Mu, Muhammad.

Ya Allah, ridhailah para khalifahnya yang baik, para sahabatnya yang suci, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar. Dan ridhailah pula kami bersama mereka, dengan kemurahan-Mu, wahai Zat Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Hancurkanlah orang-orang zalim yang melampaui batas dan para penyerang. Sebarkanlah keamanan, kestabilan, dan kemakmuran di seluruh negeri kaum muslimin, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami di Palestina dalam menghadapi orang-orang Yahudi yang merampas tanah dan kaum Zionis yang berkhianat.

Ya Allah, sucikanlah Masjidil Aqsha dari kotoran dan kekuasaan orang-orang Yahudi, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, kekalkanlah keamanan, kemakmuran, kemuliaan, dan kestabilan di negeri Dua Tanah Suci, yaitu Arab Saudi.

Bimbinglah para pemimpinnya kepada perkara-perkara yang mengandung kemuliaan bagi Islam dan kaum muslimin, serta pelayanan kepada para jamaah haji, para peziarah, dan orang-orang yang melaksanakan umrah, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami untuk melakukan perkara-perkara yang Engkau cintai dan Engkau ridai. Bimbinglah dirinya menuju kebajikan dan ketakwaan, serta perbaikilah orang-orang dekat yang menjadi penasihatnya, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, jauhkanlah dari kami kenaikan harga yang memberatkan, wabah penyakit, riba, zina, gempa bumi, berbagai cobaan, dan fitnah-fitnah yang buruk, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Jauhkanlah pula dari kami tabarruj, membuka aurat, dan percampuran bebas antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, rahmatilah orang-orang kami yang telah meninggal dunia, sembuhkanlah orang-orang kami yang sakit, bebaskanlah para tawanan kami, berikanlah keselamatan kepada orang-orang kami yang tertimpa musibah, dan tolonglah kami dalam menghadapi orang-orang yang memusuhi kami.

Ya Allah, terimalah taubat orang-orang yang bertaubat. Terimalah orang-orang yang kembali kepada-Mu dan bersimpuh memohon ampun kepada-Mu. Berikanlah taufik kepada kami untuk memperoleh taubat yang tulus sebelum datangnya hari perhitungan.

Wahai hamba-hamba Allah!

Allah Ta'ala berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾

"Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl: 90).

Maka ingatlah Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia, niscaya Dia akan mengingat kalian.

Bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat itu kepada kalian.

Dan sungguh, mengingat Allah adalah perkara yang paling besar.

Allah mengetahui segala sesuatu yang kalian kerjakan. 

Rabu, 04 November 2026

KONSEP KEAMANAN DAN KETENTERAMAN


 Konsep Keamanan dan Ketenteraman


 (مفهوم الأمن والأمان)



Khutbah Masjidil Haram

20 Jumadil Akhir 1430 H (20/5/1430 H)


Khatib: Syekh Saud bin Ibrahim asy-Syuraim حفظه الله



KHUTBAH PERTAMA

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan bertobat kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa-jiwa kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim." (QS. Ali Imran: 102).

Allah Ta'ala juga berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan Allah menciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu." (QS. An-Nisa: 1).

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia telah memperoleh kemenangan yang besar." (QS. Al-Ahzab: 70–71).

Amma ba'du.

Wahai sekalian manusia!

Sesungguhnya siapa saja yang meneliti sejarah masa lampau dan masa kini dengan pemahaman yang jernih dan pandangan yang seimbang, serta mengenali keadaan bangsa-bangsa terdahulu dan masyarakat masa sekarang, niscaya tidak akan memiliki keraguan sedikit pun tentang adanya suatu hakikat yang tetap, suatu tujuan yang dicita-citakan oleh setiap masyarakat, dan suatu fondasi yang tidak berubah serta tidak berganti, betapapun zaman terus silih berganti dan angin perjalanan hari-hari yang Allah pergilirkan di antara manusia terus berembus.

Itulah kebutuhan terhadap keamanan dan ketenteraman (الأمن والأمان).

Keamanan yang dengannya makanan dapat dinikmati dengan tenteram, minuman terasa menyenangkan, siang menjadi waktu untuk mencari penghidupan, tidur menjadi waktu istirahat, dan malam menjadi pakaian yang menyelimuti manusia.

Wahai hamba-hamba Allah!

Apabila jaminan-jaminan nyata dan berbagai persiapan menyeluruh untuk menghadapi segala sesuatu yang dapat mengusik ketenangan kehidupan sehari-hari masyarakat Muslim mengalami kerusakan atau tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka ketahuilah bahwa keamanan dan stabilitas kehidupan manusia akan lenyap dan berubah menjadi kebingungan serta kekacauan.

Hal itu disebabkan oleh tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab dan pelanggaran-pelanggaran yang secara jelas tidak dapat diterima terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan keamanan.

Tindakan semacam itu mengancam kestabilan bahtera masyarakat Muslim yang sedang berlayar. Tidak boleh ada toleransi terhadapnya dalam bentuk apa pun, sekalipun berbagai alasan dan dalih dikemukakan untuk membenarkannya. Semua alasan tersebut akan ditolak oleh setiap orang yang akalnya masih sehat dan hatinya tidak kosong dari kebenaran.

Apabila dalam melakukan tindakan-tindakan tersebut terdapat sebagian anggota umat kita sendiri, bahkan orang-orang yang berbicara dengan bahasa kita, maka akibat dari tindakan-tindakan menyimpang itu justru akan menjadi bumerang yang menghancurkan mereka sendiri sebelum menghancurkan orang lain.

Ketika penyakit penyusupan dan tindakan melampaui batas dalam urusan keamanan mulai menjangkiti umat melalui sebagian anggotanya, sesungguhnya mereka sedang menimbun tanah di atas makna stabilitas dan memutus urat-urat kehidupan generasi yang ada sekarang serta harapan-harapan generasi mendatang.

Lebih dari itu, apabila tindakan-tindakan tersebut dijadikan sebagai alasan oleh musuh-musuh Islam dari kalangan orang-orang kafir yang menyimpan kebencian, maka mereka akan menjadikannya sebagai dalih yang dianggap sah menurut pemahaman mereka untuk terus mempersempit ruang gerak kaum Muslimin.

Dengan demikian, pelanggaran-pelanggaran tersebut seakan disuguhkan kepada mereka di atas nampan emas, sehingga mereka dapat menyerbu negeri-negeri kaum Muslimin dengan berbagai tipu daya yang paling sederhana.

Wahai kaum Muslimin!

Dalam kesempatan ini, kita perlu memahami konsep keamanan dengan maknanya yang menyeluruh dan nyata. Jangan sampai konsep tersebut dipersempit atau dipahami secara terbalik mengenai dimensi dan bentuk-bentuknya, ataupun keduanya sekaligus.

Hal itu karena terkadang konsep keamanan hanya dibatasi pada ruang lingkup yang sempit, yaitu sekadar melindungi masyarakat dari pencurian, perampokan, pembunuhan, dan perkara-perkara semisalnya.

Tidak! Sesungguhnya konsep keamanan jauh lebih luas dan lebih agung daripada itu.

Bahkan, konsep keamanan yang pertama dan paling agung adalah ketika masyarakat Muslim berangkat dari penegasan bahwa akidah masyarakat harus diwujudkan melalui persaksian:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ

"Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah."

Hal itu diwujudkan dengan menjauhi kesyirikan kepada Allah dalam uluhiyah-Nya, rububiyah-Nya, serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Juga menjauhi kesyirikan kepada-Nya dalam hukum dan ketetapan-Nya, menjauhi kekafiran terhadap agama Islam dan penyimpangan darinya, serta tidak menyingkirkan syariat Sang Pencipta—Yang Mahamulia kedudukan-Nya—dari realitas kehidupan.

Demikian pula tidak menyandingkan syariat selain syariat Allah dengan syariat-Nya Yang Mahatinggi.

Allah Ta'ala berfirman:

صِبْغَةَ اللّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللّهِ صِبْغَةً

"(Demikianlah) agama Allah. Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada Allah?" (QS. Al-Baqarah: 138).

Allah juga berfirman:

أَفَغَيْرَ دِينِ اللّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

"Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nyalah berserah diri segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan sukarela maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nyalah mereka dikembalikan?" (QS. Ali Imran: 83).

Demikian pula, wahai hamba-hamba Allah, konsep keamanan tidak boleh dipisahkan dari pusat-pusat kekuatan dalam masyarakat Muslim. Jangan sampai kita mengabaikan pengaruh nyata pusat-pusat kekuatan tersebut terhadap keamanan masyarakat, baik pengaruh yang positif maupun negatif.

Di sana terdapat apa yang disebut dengan:

* Keamanan pangan.

* Keamanan kesehatan preventif.

* Ketentuan-ketentuan keamanan dalam bidang solidaritas sosial.

* Penyediaan kesempatan kerja dan lapangan produksi.

* Pemberantasan pengangguran.

* Perhatian terhadap generasi muda dalam segala hal yang bermanfaat dan tidak membahayakan.

Termasuk pula mengatasi sumber pengangguran intelektual dan kekosongan spiritual, apa pun bentuknya, karena kedua hal tersebut dapat menghasilkan berbagai penyimpangan dan kekacauan berupa syubhat maupun syahwat.

Selain itu, perlu pula memahami berbagai aspek keamanan yang bersumber dari kajian terhadap fenomena-fenomena keluarga serta berbagai keretakan dan keguncangan yang menimpa fondasi internalnya.

Kita juga tidak boleh lalai terhadap sesuatu yang menjadi perhatian keamanan setiap masyarakat sekaligus menjadi penentu terbuka atau tertutupnya pintu berbagai bentuk gangguan keamanan.

Itulah yang disebut dengan keamanan pemikiran (الأمن الفكري), yaitu keamanan yang melindungi akal masyarakat dan menjaganya agar tidak terjerumus ke dalam berbagai syubhat karena sikap polos dan tidak kritis, ataupun tenggelam dalam berbagai syahwat dengan penuh keserakahan.

Keamanan jenis ini tidak akan dapat terwujud secara sempurna kecuali dengan memperhatikan dua poros utama:

Pertama: poros pemikiran pendidikan dan pembinaan.

Kedua: poros keamanan media dan kebudayaan.

Umat ini harus menghindari jurang kemerosotan, westernisasi, ketergantungan, dan berbagai bentuk penyimpangan melalui kedua poros tersebut.

Sebab, menjaga keamanan akal tidaklah lebih ringan urgensinya dibandingkan menjaga keamanan jiwa dan harta.

Kita dapat menyaksikan bahwa sebagaimana terdapat pencuri dan pembobol rumah, terdapat pula pencuri dan pembobol akal manusia.

Oleh karena itu, pendidikan di kalangan kaum Muslimin harus dilindungi agar identitasnya tidak disusupi dan dialihkan secara diam-diam.

Pendidikan juga harus dilindungi dengan membangun mekanisme yang efektif untuk menyediakan sarana-sarana ilmu yang bermanfaat, yang mendorong kepada amal saleh.

Hal ini mencakup menjauhkan diri dari ketergantungan yang tercela, tidak meremehkan ilmu-ilmu agama yang bermanfaat, tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang berat bagi jiwa, serta tidak mengakuinya dengan sikap malu-malu dan penuh kekhawatiran.

Sikap seperti itu dapat menimbulkan fitnah yang terus berulang dari waktu ke waktu mengenai sejauh mana manfaat mengambil ilmu-ilmu agama tersebut, seolah-olah mempelajarinya hanyalah sesuatu yang terpaksa dilakukan dan mengkhawatirkan, dengan alasan bahwa ilmu-ilmu tersebut bukan termasuk prioritas kebutuhan pasar kerja.

Padahal, pemikiran pendidikan semestinya memenuhi kebutuhan pasar kerja secara khusus dan kebutuhan pembinaan masyarakat secara umum.

Masyarakat Muslim tidak mungkin terlepas dari kedua kebutuhan tersebut.

Adapun poros pemikiran media, maka ia merupakan pusat kendali kehidupan masyarakat kontemporer dan unsur utama yang memengaruhi masyarakat.

Melalui media, manusia dapat diberi penjelasan dan diarahkan. Melalui media pula manusia dapat ditipu dan diarahkan kepada westernisasi.

Melalui media, persoalan-persoalan kaum Muslimin dapat dilayani dan diperjuangkan. Namun melalui media pula berbagai kebenaran dapat ditutupi dan disia-siakan.

Melalui pemikiran media, dapat diketahui masyarakat yang sungguh-sungguh dan masyarakat yang gemar meremehkan perkara.

Segala bentuk keseimbangan dan kesempurnaan yang terdapat dalam masyarakat merupakan cerminan kesempurnaan dan keseimbangan dalam bangunan keamanan media.

Oleh sebab itu, merupakan kesalahan besar apabila pemikiran media diterjemahkan hanya sebagai sekumpulan film-film rendahan atau lagu-lagu cabul yang tidak mengakui nilai-nilai dan prinsip-prinsip, serta tidak memandang kehidupan sebagai sesuatu yang memiliki gambaran dan hakikat.

Tidak! Ini merupakan kekeliruan dalam memahami sesuatu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

"Barang siapa menipu kami, maka dia bukan termasuk golongan kami."

Demikian pula, setiap orang yang memiliki kemampuan berbicara dengan fasih dan didengar oleh masyarakat, atau memiliki pena yang lancar dan tulisannya dibaca, wajib berbicara mengenai urusan kaum Muslimin dengan penuh kejujuran, realisme, keadilan, dan sikap objektif.

Jangan sampai mereka mudah terprovokasi oleh berbagai peristiwa dan reaksi yang muncul, lalu setan memperdaya mereka sehingga mereka berbicara dengan penuh ketegangan, melontarkan cacian tanpa henti, dan terlibat dalam pertengkaran yang justru menutupi persoalan utama.

Pertengkaran seperti itu terkadang dapat melukai mata, tetapi tidak mampu membunuh musuh.

Allah Ta'ala berfirman:

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

"Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya. Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia akan tetap berada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan." (QS. Ar-Ra'd: 17).

Mengembalikan berbagai persoalan kepada sebab-sebab yang sebenarnya dan menempatkan setiap perkara pada tempatnya semestinya menjadi langkah pertama dalam menyelesaikan berbagai persoalan rumit dan masalah yang meresahkan.

Adapun mengabaikan sebab-sebab dan faktor-faktor yang melatarbelakanginya, atau mengaitkannya dengan sumber yang bukan sebenarnya, tidak akan menambah apa pun selain semakin rumitnya persoalan dan semakin meluasnya keburukan.

Sesungguhnya akal yang sehat akan menganggap bodoh seorang dokter yang mengaitkan penyebab penyakit kanker dengan minum air atau menghirup udara.

Sebab, apa pun hasil diagnosisnya, akibatnya akan menimpa diriku dan dirimu, wahai kaum Muslimin; anakku dan anakmu; putriku dan putrimu; keluargaku dan keluargamu.

Demikian pula, penyelesaian persoalan semacam ini hendaknya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keahlian, yaitu para ulama besar dan orang-orang bijaksana yang terpercaya dalam agama dan amanah mereka.

Hal itu harus dilakukan tanpa membuat kegaduhan, kekacauan, saling menyebarkan kabar yang tidak jelas, prasangka, dan dugaan-dugaan tanpa dasar.

Allah جل وعلا berfirman:

قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ

"Celakalah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan dan kelalaian." (QS. Adz-Dzariyat: 10–11).

Qatadah رحمه الله berkata:

الْخَرَّاصُونَ هُمْ أَهْلُ الْغِرَّةِ وَالظُّنُونِ

"Al-Kharrashun adalah orang-orang yang berada dalam kelalaian dan prasangka-prasangka."

Sesungguhnya membiarkan lisan berbicara tanpa kendali dan membiarkan pena terus mengalir membahas berbagai persoalan pelik serta peristiwa besar tanpa batasan dan kendali, termasuk perkara yang dapat menimbulkan kegaduhan, membangkitkan kebencian dalam dada, dan mengeluarkan masyarakat Muslim dari upaya mendiagnosis peristiwa yang sedang terjadi menuju saling menyerang, perselisihan, dan melampiaskan dendam tersembunyi dalam jiwa.

Setelah itu, janganlah kalian bertanya mengenai usaha pihak-pihak yang meragukan keislaman masyarakat Muslim dan kejernihan sumber ajaran Islam di dalamnya untuk mencari-cari kesalahan, melontarkan sindiran, celaan, dan fitnah melalui adu domba.

Akibatnya, kegaduhan semakin banyak, sedangkan penguasaan ilmu semakin sedikit.

Ketenangan dan keselamatan dari bahaya pun semakin lenyap.

Bahkan, mereka tidak mampu memberikan solusi segera selain dengan mencampuradukkan persoalan, kebodohan, dan penyesatan.

Kemudian, masalah yang ada justru diselesaikan dengan masalah lain yang lebih buruk darinya.

Sebagai contoh:

Seandainya seseorang mencuri di masjid, tentu akan terdengar teriakan sebagian orang yang gemar mencela atau membenci Islam, yang menyerukan agar masjid-masjid ditutup atau dihancurkan demi memutus akar pencurian.

Seandainya seorang perempuan berjilbab melakukan penipuan dan kecurangan, tentu akan terdengar gema seruan untuk menanggalkan jilbab demi menghilangkan sumber penipuan dan kecurangan—demikian menurut anggapan mereka.

Padahal, pada hakikatnya, mereka tidak menyerukan agar tangan pencuri dipotong dan tidak pula menuntut agar perempuan yang menipu dan berbuat curang itu diberikan hukuman yang layak.

Sebaliknya, mereka justru menyerukan penghancuran masjid dan penanggalan jilbab.

Inilah sumber keanehan yang sesungguhnya. Inilah sesuatu yang menimbulkan keterkejutan dan melahirkan sikap berlebih-lebihan serta berbagai reaksi yang tidak terkendali.

Akibatnya, sikap melampaui batas dan sikap meremehkan semakin cepat berkembang dengan mengorbankan sikap moderat yang diharapkan dalam masyarakat Muslim.

Wahai hamba-hamba Allah!

Islam membenci pembicaraan sia-sia yang bertele-tele, yang terkadang secara tersembunyi tidak menimbulkan bahaya yang berarti.

Lantas, bagaimana jika pembicaraan itu benar-benar menimbulkan bahaya yang nyata dan pertikaian yang memecah belah?

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَنَاجَيْتُمْ فَلَا تَتَنَاجَوْا بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُولِ وَتَنَاجَوْا بِالْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan perbuatan dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Akan tetapi, bicarakanlah tentang kebajikan dan ketakwaan. Bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan." (QS. Al-Mujadilah: 9).

Sesungguhnya Islam sangat jelas dalam menentukan sikapnya terhadap kebebasan mengkritik dan berdialog.

Islam tidak memandang bahwa kebebasan tersebut merupakan sesuatu yang terbuka tanpa batas bagi setiap orang.

Islam juga tidak membenarkan seseorang menulis dan berbicara sesuka hatinya, dengan cara apa pun yang dikehendakinya, tanpa terikat oleh ketentuan dan batasan syariat.

Sungguh sangat disayangkan bahwa pemahaman tentang kebebasan berekspresi dan kebebasan berdialog telah tersebar secara terbalik dalam pemikiran sebagian orang yang belum matang dari kalangan penulis dan orang-orang yang pandai berbicara.

Mereka mengira bahwa kebebasan tersebut tidak lebih dari sekadar melepaskan ucapan tanpa pertimbangan dan memenuhi halaman-halaman tulisan dengan berbagai perkataan yang tidak bermutu, yang justru mendatangkan bahaya dan tidak memberikan manfaat.

Sesungguhnya keamanan media dalam masyarakat sangat membutuhkan kajian-kajian luas yang mampu menangkap tujuan yang benar dan penuh kesadaran melalui penelitian terhadap berbagai lapisan masyarakat Muslim.

Kajian tersebut harus menghubungkan keadaan masyarakat dengan latar belakang syariat dan sosial dari kelompok yang menjalankan berbagai aktivitas media yang berpengaruh.

Demikian pula, perlu dilakukan analisis terhadap berbagai tindakan dan reaksi yang muncul dengan mempertimbangkan tuntutan syariat dan tuntutan sosial, serta membandingkannya dengan tuntutan keinginan pribadi yang dikelilingi syubhat atau syahwat.

Juga perlu dikaji pengaruh berbagai keterlibatan tersebut dalam membangkitkan kesadaran keamanan media dan meningkatkan kecukupan produktivitas melalui stabilitas masyarakat.

Stabilitas tersebut pada akhirnya akan kembali memberikan manfaat umum dan ketenangan yang luas bagi keluarga dan individu, baik di dunia maupun di akhirat.

Oleh karena itu, kewajiban kita semua, wahai kaum Muslimin, adalah memandang hakikat keamanan melalui pintu yang paling luas dan jalan yang paling dekat untuk mencapainya.

Kita harus menempatkan setiap persoalan sesuai dengan kedudukannya dalam menghadapi berbagai perkembangan baru.

Janganlah kita melibatkan diri dalam persoalan-persoalan besar yang hanya layak ditangani oleh orang-orang besar yang memiliki kapasitas untuk itu.

Setiap orang hendaknya menjalankan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang Allah berikan kepadanya dalam mengurus kemaslahatan kaum Muslimin, menjaga mereka, serta menegakkan kebenaran dan keadilan terhadap orang-orang yang Allah amanahkan kepadanya.

Maka takutlah kepada Allah! Takutlah kepada Allah!

Janganlah kita memenuhi ruang kehidupan dengan pembicaraan yang berlebihan, kabar yang tidak jelas, dan perkataan yang tidak bermanfaat.

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra': 36).

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian melalui Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat dan hikmah yang terkandung di dalam keduanya.

Apa yang telah aku sampaikan, apabila benar, maka itu berasal dari Allah. Namun, apabila salah, maka itu berasal dari diriku sendiri dan setan.

Aku memohon ampun kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.



 KHUTBAH KEDUA

Segala puji bagi Allah semata, dan semoga shalawat serta salam tercurah kepada orang yang tidak ada nabi setelahnya.

Amma ba'du.

Bertakwalah kepada Allah, wahai kaum Muslimin!

Ketahuilah bahwa terdapat sejumlah perkara yang telah menjadi ketetapan dan prinsip-prinsip mendasar yang harus dipahami oleh masyarakat Muslim secara umum.

Yang aku maksud adalah masyarakat yang menjadikan syariat Allah sebagai tujuan dan cita-citanya.

Penegasan terhadap prinsip-prinsip ini harus terus diulang setiap kali terdapat kesempatan, terlebih ketika berbagai peristiwa besar dan kesulitan melanda.

Di antara prinsip-prinsip tersebut, wahai hamba-hamba Allah, adalah bahwa:

Pertama: Akidah kaum Muslimin berlandaskan tauhid kepada Allah.

Akidah mereka dibangun di atas ketundukan kepada-Nya melalui ketaatan dan pemurnian ibadah dari segala bentuk kesyirikan.

Mustahil ada bentuk keyakinan lain yang dapat mendatangkan keberuntungan apabila menyimpang dari prinsip tersebut.

Allah Ta'ala berfirman:

حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

"Dengan ikhlas beribadah kepada Allah, tanpa mempersekutukan-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh." (QS. Al-Hajj: 31).

Kedua: Syariat Islam merupakan syariat yang tetap dan kokoh.

Syariat Islam sesuai untuk setiap zaman dan tempat. Segala sesuatu harus tunduk kepadanya, sedangkan syariat itu sendiri tidak tunduk kepada segala sesuatu.

Prinsip ini telah berlaku sejak diutusnya Nabi ﷺ hingga hari ini.

Sepanjang perjalanan berabad-abad, kaum Muslimin hidup dalam keadaan silih berganti antara kemenangan yang mereka sikapi dengan kerendahan hati dan kekalahan serta kerugian yang mereka hadapi dengan mengucapkan istirja' dan hauqalah.

Mereka tetap bersabar menghadapi semua keadaan tersebut sampai Allah mendatangkan kemenangan atau keputusan-Nya.

Sementara itu, syariat mereka tetap ada, tidak berubah dan tidak berganti.

Ketiga: Umat Islam tidak akan pernah dapat terlepas dari kebutuhan terhadap para ulama rabbani dan para dai yang jujur.

Betapapun tinggi tingkat persenjataan militer, kemajuan revolusi industri, dan perkembangan globalisasi peradaban yang dicapai umat Islam, mereka tetap tidak dapat terlepas dari kebutuhan terhadap para ulama rabbani dan para dai yang tulus.

Merekalah orang-orang yang hati manusia berkumpul di sekelilingnya dan jiwa-jiwa menjadi bersatu karena mereka.

Mereka berangkat dari pemahaman yang benar dan kokoh terhadap Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ.

Mereka adalah bintang-bintang yang bercahaya terang dan rembulan-rembulan yang menerangi.

Seandainya bukan karena mereka, setelah pertolongan Allah, niscaya bumi akan berguncang bersama para penghuninya.

Namun, keberadaan mereka di tengah umat ibarat pasak-pasak dan gunung-gunung penyangga.

Mereka merupakan bekal utama umat dalam menghadapi pemikiran ateisme yang menyimpang dan berbagai seruan menyesatkan yang membabi buta.

Mereka juga merupakan bekal umat untuk mengendalikan sikap ekstrem dan membangkitkan semangat orang-orang yang bersikap berlebihan dalam meremehkan agama.

Para ulama dan dai tidak akan mampu menjalankan tugas ini apabila kepercayaan terhadap mereka hilang atau masyarakat tidak lagi menghormati dan membanggakan keberadaan mereka.

Sebab, tidak ada kemuliaan bagi suatu masyarakat kecuali dengan menisbatkan dirinya kepada Islam dan berpegang teguh kepada para ulama yang memiliki akal yang matang, kejujuran, dan amanah.

Kemudian, bershalawatlah kalian—semoga Allah merahmati kalian—kepada manusia terbaik dan makhluk paling suci, yaitu Muhammad bin Abdullah, pemilik telaga (Al-Haudh) dan pemberi syafaat.

Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian dengan suatu perintah yang Dia awali dengan menyebut diri-Nya sendiri, kemudian menyebut para malaikat-Nya yang senantiasa bertasbih menyucikan-Nya, lalu memerintahkan kalian, wahai orang-orang beriman, untuk melaksanakannya.

Allah جل وعلا berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56).

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

"Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali."

Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, pemilik wajah yang paling bercahaya dan dahi yang paling bersinar.

Ya Allah, ridhailah empat khalifah beliau: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Ridhailah pula seluruh sahabat Nabi-Mu Muhammad ﷺ, para tabi'in, para pengikut tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat.

Dan ridhailah pula kami bersama mereka dengan ampunan, kemurahan, dan karunia-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik.

Ya Allah, tolonglah agama-Mu, Kitab-Mu, Sunnah Nabi-Mu, dan hamba-hamba-Mu yang beriman.

Ya Allah, lapangkanlah kesedihan orang-orang Muslim yang sedang bersedih.

Hilangkanlah kesusahan orang-orang yang sedang mengalami kesulitan.

Lunasilah utang orang-orang yang terlilit utang.

Sembuhkanlah orang-orang yang sakit di antara kami dan seluruh kaum Muslimin.

Ya Allah, anugerahkanlah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami.

Perbaikilah para pemimpin kami dan para pemegang urusan kami.

Jadikanlah kepemimpinan kami berada di tangan orang-orang yang takut kepada-Mu, bertakwa kepada-Mu, dan mengikuti keridaan-Mu, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami agar dapat melakukan perkataan dan perbuatan yang Engkau cintai dan Engkau ridhai, wahai Zat Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.

Ya Allah, perbaikilah orang-orang dekat dan para penasihatnya, wahai Zat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.

Ya Allah, segala kebaikan yang kami minta kepada-Mu, maka karuniakanlah kepada kami.

Segala kebaikan yang tidak kami minta, maka mulailah dengan menganugerahkannya kepada kami.

Dan segala kebaikan yang belum mampu dijangkau oleh harapan-harapan kami, maka sampaikanlah kami kepadanya.

Allah Ta'ala berfirman:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Wahai Tuhan kami! Berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Al-Baqarah: 201).

Mahasuci Rabb kami, Rabb Yang memiliki keperkasaan, dari segala yang mereka sifatkan kepada-Nya.

Dan keselamatan semoga tercurah kepada para rasul.

Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.





 Catatan pokok kandungan khutbah : 

Khutbah Syekh Saud asy-Syuraim ini menegaskan bahwa keamanan dalam Islam bukan sekadar bebas dari pencurian, pembunuhan, dan gangguan kriminalitas. Keamanan memiliki cakupan yang jauh lebih luas.

Di antara pokok-pokok penting yang ditekankan:

* Keamanan akidah: menjaga tauhid dan memurnikan ibadah kepada Allah dari kesyirikan.

* Keamanan syariat: menjadikan syariat Allah sebagai pedoman kehidupan.

* Keamanan jiwa dan harta: menjaga masyarakat dari kejahatan dan tindakan yang merusak stabilitas.

* Keamanan pangan dan kesehatan: menjamin kebutuhan pokok masyarakat.

* Keamanan sosial dan ekonomi: mengatasi pengangguran serta menyediakan lapangan kerja.

* Keamanan keluarga: memperhatikan keretakan dan berbagai persoalan dalam kehidupan rumah tangga.

* Keamanan pemikiran: melindungi akal dari syubhat dan syahwat yang menyesatkan.

* Keamanan pendidikan dan media: membangun pendidikan yang bermanfaat serta media yang jujur, adil, dan bertanggung jawab.

* Menjaga persatuan: tidak menyebarkan kegaduhan, prasangka, dan pertikaian dalam menghadapi persoalan umat.

* Menghormati ulama: mengembalikan persoalan besar kepada ulama dan orang-orang yang memiliki keahlian serta amanah.

Pesan utama khutbah: Keamanan merupakan nikmat besar yang harus dijaga melalui tauhid, penerapan syariat, ilmu, keadilan, tanggung jawab, persatuan, dan kebijaksanaan dalam menyikapi berbagai persoalan umat.