Jumat, 07 Agustus 2026

KEAMANAN NEGERI ADALAH TANGGUNG JAWAB BERSAMA


"KEAMANAN NEGERI ADALAH TANGGUNG JAWAB BERSAMA"


 Karya : Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al-Muhays


Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi Karunia. 

Dia telah menganugerahkan kepada hamba-hamba-Nya nikmat kesehatan dan kesejahteraan, melimpahkan kelembutan-Nya kepada mereka dalam kesulitan dan musibah, menurunkan pertolongan dan kesabaran kepada mereka, serta mengilhamkan keridaan dan rasa syukur dalam hati mereka.

Kita memuji-Nya dengan pujian yang banyak dan bersyukur kepada-Nya dengan syukur yang berlimpah. 

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. 

Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. 

Semoga Allah melimpahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, keluarga, para sahabat beliau, serta memberikan salam yang sebanyak-banyaknya.

Amma ba‘du...

Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan merasa diawasi oleh-Nya dalam kesendirian maupun keramaian. 

Allah Ta‘ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

Wahai kaum muslimin,
Di antara nikmat yang sangat besar setelah nikmat Islam adalah nikmat keamanan yang Allah anugerahkan kepada negeri kita. 

Dengan keamanan itu negeri menjadi stabil, masyarakat hidup tenteram, bumi dapat dimakmurkan, serta terjaga agama, jiwa, akal, harta, dan kehormatan. 

Semua itu merupakan karunia dan anugerah dari Allah Ta‘ala.

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka, serta sungguh Dia akan menggantikan keadaan mereka setelah ketakutan menjadi keamanan. Mereka beribadah kepada-Ku dan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu apa pun.” (QS. An-Nur: 55)

Karena itu, setelah Allah memuliakan kita dengan nikmat keamanan, maka wajib bagi kita untuk saling bekerja sama, saling menasihati, dan bersatu dalam menjaga nikmat tersebut, terlebih di tengah berbagai peristiwa yang bergolak dan peperangan yang berkecamuk. 

Hal itu dapat dilakukan dengan beberapa cara:

Pertama:

Mensyukuri nikmat keamanan yang Allah berikan dengan istiqamah dalam ketaatan kepada-Nya dan menjauhi segala yang mendatangkan murka serta kemurkaan-Nya.

 Dengan bersyukur, nikmat akan terus terjaga dan bertambah.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian. Tetapi jika kalian kufur, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Kedua:

Memohon kepada Allah ampunan, kesehatan, keselamatan, dan perlindungan yang terus-menerus.

Rifa‘ah bin Rafi‘ radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pernah berdiri di atas mimbar lalu menangis. 
Kemudian beliau berkata: Rasulullah ﷺ pernah berdiri di atas mimbar pada tahun sebelumnya lalu menangis, kemudian bersabda:
‘Mintalah kepada Allah ampunan dan keselamatan (afiyah), karena tidak ada seorang pun yang diberikan sesuatu setelah keyakinan (iman) yang lebih baik daripada afiyah.’”
(HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani)

Yang dimaksud dengan keyakinan (al-yaqin) adalah iman dan pemahaman yang benar dalam agama.

Ketiga:

Waspada dan memperingatkan dari penyebaran serta peredaran berita bohong dan desas-desus, serta tergesa-gesa dalam menyebarkan berita yang menimbulkan kepanikan. 

Sebab hal itu termasuk penyakit paling berbahaya yang mengancam masyarakat dan persatuannya, mengganggu ketenteramannya, serta mengguncang keamanan dan stabilitasnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang didengarnya.” (HR. Muslim)

Keempat:

Hendaknya berhati-hati dari membicarakan berbagai peristiwa dan krisis di majelis-majelis maupun media sosial, serta menyerahkan urusan tersebut kepada para ahli dan pihak yang diberi wewenang oleh Allah untuk menanganinya.

Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka langsung menyiarkannya. Padahal jika mereka menyerahkannya kepada Rasul dan kepada ulil amri di antara mereka, niscaya orang-orang yang mampu mengambil kesimpulan akan mengetahuinya dari mereka.” (QS. An-Nisa’: 83)

Seorang muslim yang berpegang teguh kepada agamanya dengan benar akan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya dan menyibukkan dirinya dengan perkara yang membawa manfaat. 

Ia menggunakan waktu dan umurnya untuk hal-hal yang mendatangkan kebaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi dan lainnya)

Kelima:

Berhati-hatilah dari merekam, menyebarkan, atau memperdagangkan video dan gambar yang berkaitan dengan peristiwa keamanan atau lokasi-lokasi militer. 

Sebab hal itu dapat menimbulkan kepanikan, menyebarkan rasa takut, membahayakan jiwa dan kepentingan umum, membantu musuh melanjutkan agresinya, serta mewujudkan tujuan-tujuan mereka.

Semoga Allah menjaga negeri kita, melanggengkan keamanan dan stabilitasnya, serta menggagalkan tipu daya musuh-musuhnya.

Aku berkata demikian, dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku, kalian, dan seluruh kaum muslimin. 
Maka mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan-Nya. 

Syukur bagi-Nya atas taufik dan karunia-Nya. 

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah sebagai bentuk pengagungan kepada-Nya. 

Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang mengajak kepada keridaan-Nya. 

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, keluarga, para sahabat, dan para penolong beliau.

Amma ba‘du...

Wahai kaum muslimin,..

bertakwalah kepada Allah Ta‘ala dan ketahuilah bahwa siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka ia tidak bersyukur kepada Allah.

Termasuk bentuk syukur kepada Allah adalah menghargai dan menyebut jasa para pemimpin yang Allah berikan taufik dalam menjaga keamanan kita, berjaga demi kenyamanan kita, serta melindungi berbagai kepentingan kita. 

Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk mendengar dan taat kepada mereka dalam perkara yang ma‘ruf, baik ketika senang maupun susah, dalam keadaan lapang maupun sempit.

Demikian pula hendaknya kita mendoakan mereka agar diberikan penjagaan dan taufik, serta memohon kepada Allah agar senantiasa melanggengkan kemuliaan dan kekuatan negeri, menjaga keamanan, ketenteraman, dan stabilitasnya, serta menjaga seluruh negeri kaum muslimin.

Kita juga memohon agar Allah menjaga para prajurit yang membela negeri, meluruskan pandangan mereka, dan menepatkan sasaran mereka.

Kemudian bershalawatlah dan ucapkan salam kepada Nabi kalian sebagaimana Allah memerintahkan:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada hamba dan utusan-Mu, Nabi kami Muhammad, kepada keluarga beliau yang suci, serta ridhailah para Khulafaur Rasyidin, seluruh sahabat, para tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. 

Ridhailah pula kami bersama mereka dengan karunia dan kemurahan-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin, hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik, serta tolonglah hamba-hamba-Mu yang mentauhidkan-Mu.

Ya Allah, jagalah negeri kami dari tipu daya para perusak dan agresi para musuh. 

Ya Allah, berilah taufik kepada para pemimpin kami, kuatkan mereka dengan pertolongan-Mu, jadikan mereka sebagai penolong agama-Mu, dan karuniakan kepada mereka para penasihat yang saleh dan tulus.

Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, yang masih hidup maupun yang telah wafat. 

Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Maha Mengabulkan doa.

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau, dan seluruh sahabat beliau.



NIKMAT KEAMANAN DALAM NEGERI


“Nikmat Keamanan di Negeri”

 Karya Khalid Asy-Syayi'



Khutbah Pertama

Amma ba’du...

Wahai manusia, tidak ada sesuatu pun yang dapat menyamai nikmat keamanan di sebuah negeri setelah hidayah kepada akidah yang benar.

Tanpa keamanan, seorang hamba tidak akan mampu menemukan jalan menuju kebahagiaan. 

Rasa takut akan merusak ketenangan hidupnya setiap saat, bahkan dapat melumpuhkan kehidupan itu sendiri.

Allah telah mengaruniakan nikmat keamanan kepada hamba-hamba-Nya. 

Allah berfirman:
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, padahal manusia di sekeliling mereka saling dirampok dan diculik?” (QS. Al-'Ankabut: 67)

Bukti nyata ayat ini dapat dilihat dengan memperhatikan negeri-negeri di sekitar kita yang kehilangan keamanan; bagaimana keadaan hidup mereka sekarang?

Allah juga memberikan perumpamaan kepada manusia tentang sebuah negeri yang dahulu menjadi pelajaran besar, yaitu negeri Saba'. 

Allah menceritakan kisah mereka dalam Al-Qur'an:
“Sungguh, bagi kaum Saba' terdapat tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua kebun di sebelah kanan dan kiri. (Dikatakan kepada mereka), ‘Makanlah dari rezeki Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu adalah) negeri yang baik dan (Tuhanmu adalah) Tuhan Yang Maha Pengampun.’ Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir besar yang merusak, dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang menghasilkan buah-buahan pahit, pohon atsl dan sedikit pohon bidara. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan hukuman yang demikian itu melainkan kepada orang-orang yang sangat kufur.” (QS. Saba': 15-17)

Di antara raja-raja Himyar di Yaman terdapat Ratu Balqis yang kisahnya disebutkan Allah bersama Nabi Sulaiman ‘alaihis salam. 

Mereka hidup dalam kebahagiaan yang besar, rezeki yang melimpah, buah-buahan dan hasil pertanian yang banyak. 

Mereka juga berada di atas jalan yang lurus dan petunjuk yang benar. 

Namun ketika mereka mengganti nikmat Allah dengan kekufuran, mereka menyeret kaumnya kepada kehancuran.

Wahb bin Munabbih berkata bahwa Allah mengutus kepada mereka tiga belas nabi.

Namun ketika mereka berpaling dari petunjuk menuju kesesatan dan menyembah matahari selain Allah, baik pada masa Balqis maupun sebelumnya, dan terus berlangsung hingga Allah menurunkan kepada mereka banjir besar yang menghancurkan sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat di atas.

Para ulama salaf dan khalaf dari kalangan ahli tafsir menjelaskan bahwa Bendungan Ma'rib dibangun di antara dua gunung. 

Mereka menutup celah di antara kedua gunung itu dengan bangunan yang sangat kokoh sehingga air tertahan dan naik hingga ke puncak-puncak gunung. 

Di sana mereka menanam kebun-kebun yang indah, pohon-pohon berbuah, serta berbagai tanaman yang melimpah.

Dikatakan bahwa yang pertama membangunnya adalah Saba' bin Ya'rub. 

Tujuh puluh lembah mengalir ke bendungan itu. 

Ia membuat tiga puluh saluran air darinya.

Namun ia meninggal sebelum pembangunan selesai, lalu disempurnakan oleh kaum Himyar setelahnya. 

Luas bendungan itu sekitar satu farsakh kali satu farsakh.

Mereka hidup dalam kenikmatan yang luar biasa, kehidupan yang makmur, dan hari-hari yang menyenangkan.

Bahkan Qatadah dan ulama lainnya menyebutkan bahwa seorang wanita berjalan membawa keranjang di atas kepalanya, lalu keranjang itu terisi penuh oleh buah-buahan yang jatuh karena begitu banyak dan matangnya hasil panen.

Disebutkan pula bahwa di negeri mereka tidak ada kutu, serangga berbahaya, maupun hewan pengganggu karena udaranya yang sehat dan lingkungannya yang baik.

Sebagaimana firman Allah:
“Sungguh, bagi kaum Saba' terdapat tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka... 
(yaitu) negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS. Saba': 15)

Dan Allah berfirman:
“Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Tatkala mereka menyembah selain Allah, mengingkari nikmat-Nya, serta merasa bosan dengan kemudahan yang mereka rasakan, dekatnya jarak antar kampung, indahnya kebun-kebun, dan amannya perjalanan, mereka justru meminta agar perjalanan mereka dijadikan jauh dan sulit.

Mereka ingin menukar kebaikan dengan keburukan, sebagaimana Bani Israil meminta mengganti manna dan salwa dengan sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah.

Akibatnya, mereka dicabut dari nikmat yang agung itu. 

Negeri mereka dihancurkan dan mereka tercerai-berai ke berbagai penjuru. 

Allah berfirman:
“Maka mereka berpaling, lalu Kami datangkan kepada mereka banjir besar yang merusak.”

Sebagian ulama menyebutkan bahwa Allah mengirim seekor tikus besar atau sejenis binatang pengerat yang menggerogoti dasar bendungan. 

Ketika mereka menyadarinya, mereka menempatkan banyak kucing untuk mengusirnya, namun semuanya tidak berguna. 

Ketika takdir Allah telah tiba, kewaspadaan manusia tidak lagi dapat menolaknya.

Kerusakan pun semakin besar hingga bendungan runtuh dan jebol. 

Air mengalir deras menghancurkan saluran-saluran dan sungai-sungai.

Buah-buahan terputus, tanaman dan pepohonan rusak. 

Kebun-kebun yang subur berubah menjadi tanaman yang buruk dan hasil yang sedikit.

Sebagaimana firman Allah:
“Dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang menghasilkan buah-buahan pahit, pohon atsl dan sedikit pohon bidara.”

Inilah hukuman bagi orang yang mengingkari nikmat Allah.

Allah berfirman:
“Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan hukuman yang demikian itu melainkan kepada orang-orang yang sangat kufur.”

Artinya, hukuman yang berat seperti ini diberikan kepada orang-orang yang kufur kepada Allah, mendustakan para rasul-Nya, menyelisihi perintah-Nya, dan melanggar larangan-larangan-Nya.

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat kesehatan dan keselamatan yang Engkau berikan, dari datangnya siksa-Mu secara tiba-tiba, dan dari seluruh kemurkaan-Mu.

Aku berkata demikian dan memohon ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian.

Khutbah Kedua

Amma ba’du...

Wahai manusia, tidak ada sesuatu yang lebih menjaga nikmat keamanan selain penerapan syariat Allah. 

Setiap kali manusia menyimpang dari syariat-Nya, Allah akan menimpakan rasa takut kepada mereka dan mencabut keamanan sesuai kadar penyimpangan mereka dari syariat.

Wahai hamba-hamba Allah, kita hidup di negeri yang aman, dengan rezeki yang melimpah dan persatuan antara pemimpin dan rakyat. 

Keadaan inilah yang membuat sebagian pihak di sekitar kita iri dan berharap agar nikmat tersebut hilang dari kita.

Karena itu, waspadalah.

Kenalilah musuh-musuh yang mengintai kalian dan berharap dapat menguasai kalian serta merampas berbagai kebaikan yang kalian nikmati. 

Ketahuilah pula kedudukan saudara-saudara kalian yang berjaga di garis perbatasan Yaman, yang melindungi kita, keluarga kita, dan harta benda kita dengan pengorbanan jiwa mereka. 

Jangan lupakan mereka dalam doa-doa kalian.

Wahai kaum mukminin, berpegang teguhlah pada syariat Allah dan jangan menyimpang darinya. 

Jauhilah segala bentuk maksiat, baik yang kecil maupun yang besar, karena maksiat adalah penyebab hilangnya nikmat.

Ketahuilah bahwa musuh-musuh agama selalu mengintai siang dan malam. 

Namun mereka tidak akan mampu mengalahkan kalian selama kalian berpegang teguh kepada syariat Allah. 

Allah akan menolong orang-orang yang menolong agama-Nya dan menghinakan orang-orang yang meninggalkannya.

Selama kalian tetap setia kepada pemimpin kalian, memberikan nasihat yang baik kepada mereka, mendoakan mereka agar mendapat petunjuk dan kebaikan, serta tidak memberi kesempatan kepada para penghasut untuk memecah belah hubungan antara rakyat dan pemimpinnya, maka kalian akan berada dalam kebaikan.

Waspadalah pula terhadap berbagai fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. 

Kita hidup dalam masyarakat yang dikenal menjaga kehormatan dan kesucian diri, tumbuh dalam lingkungan yang memegang teguh nilai-nilai agama. 

Karena itu, hati-hatilah terhadap fitnah dunia.

Demi Allah, fitnah datang kepada manusia seperti gelapnya malam. 

Seseorang pada pagi hari masih beriman, lalu sore harinya menjadi kafir. 

Ada pula yang sore hari beriman namun pagi harinya menjadi kafir. 

Ia menjual agamanya demi keuntungan dunia yang sedikit.

Demikianlah dahsyatnya fitnah apabila telah terjadi. 

Semoga Allah melindungi kita semua darinya.

Wahai kaum mukminin, umat ini tidak akan binasa selama masih menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar.

Keduanya adalah katup pengaman umat.

Yang harus ditakuti adalah ketika kemungkaran dilakukan secara terang-terangan tetapi tidak ada yang mengingkarinya, hingga kemungkaran dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan kebenaran menjadi kabur.

Pada saat itulah azab Allah dapat menimpa seluruh masyarakat.

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunannya dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu bahwa beliau berkata:
“Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini:
‘Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian; orang yang sesat tidak akan membahayakan kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk.’ (QS. Al-Ma'idah: 105)

Padahal aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Sesungguhnya apabila manusia melihat orang zalim lalu tidak mencegahnya, maka hampir saja Allah menimpakan kepada mereka semua azab dari sisi-Nya.’”

Ya Allah, lindungilah kami dari berbagai fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

NIKMAT KEAMANAN DAN BAHAYA ISU HOAKS DAN FITNAH



NIKMAT KEAMANAN DAN BAHAYA ISU, HOAKS, & FITNAH 


Syaikh Ubaid bin Assaf Ath-Thuyawi


Segala puji bagi Allah. 
Kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, memohon ampunan-Nya, dan berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri kami serta keburukan amal-amal kami. 

Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. 

Dan barang siapa disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. 

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Amma ba’du...

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad ﷺ. 
Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan dalam agama. 
Setiap perkara baru dalam agama adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

Wahai Kaum Muslimin, ...
Hamba-Hamba Allah...
Takwa kepada Allah عز وجل adalah wasiat Allah kepada kalian dan kepada umat-umat sebelum kalian. 

Allah Ta'ala berfirman:
“Dan sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi Kitab sebelum kalian dan juga kepada kalian agar bertakwa kepada Allah.” (QS. An-Nisa: 131)

Maka bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. 
Merasa diawasi oleh-Nya dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan.

Ketahuilah, semoga Allah merahmati kalian, bahwa di antara nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya adalah nikmat keamanan dan kestabilan. 

Dengan keamanan, ibadah dapat dilaksanakan dengan mudah, berbagai bentuk pendekatan diri kepada Allah dapat dilakukan, ketaatan dapat ditegakkan, salat berjamaah dapat terlaksana, hati menjadi tenang, dan kehidupan berjalan dengan baik.

Sebaliknya, apabila keamanan hilang, maka berbagai kemaslahatan akan terhenti, kehidupan menjadi kacau, dan manusia hidup dalam ketakutan serta kecemasan.

Tidak ada kenikmatan makanan ketika seseorang diliputi rasa takut, dan tidak ada kehidupan yang tenteram dalam suasana penuh kepanikan.

Karena itu Allah mengingatkan kaum Quraisy tentang nikmat tersebut dalam firman-Nya:
“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah), yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut.” (QS. Quraisy: 3–4)

Allah menggabungkan bagi mereka dua nikmat besar: kebutuhan jasmani berupa makanan dan kebutuhan hidup berupa keamanan. 

Sebab orang yang lapar dan ketakutan tidak akan memperoleh ketenangan hidup, dan tidak ada kebahagiaan bagi orang yang selalu dihantui kecemasan.

Maka nikmat keamanan adalah nikmat yang sangat agung, kedudukannya sangat mulia.

Termasuk kewajiban seorang hamba adalah menjaganya dan mensyukuri Allah yang telah menganugerahkannya. 

Sebab dengan syukur, nikmat akan terus terjaga dan bertambah.

Allah Ta'ala berfirman:
“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian.” (QS. Ibrahim: 7)

Kelangsungan keamanan sangat terkait dengan syukur kepada Allah. 

Syukur terhadap nikmat dilakukan dengan:
Hati yang mengakui nikmat tersebut berasal dari Allah.
Lisan yang memuji dan memuji-Nya.
Anggota badan yang menjaga dan memelihara nikmat tersebut.

Di antara bentuk syukur yang paling besar terhadap nikmat keamanan adalah menjaga dan melindunginya, serta tidak membantu pihak-pihak yang ingin merusaknya, baik dari kalangan pendendam maupun para perusak.

Mereka adalah orang-orang yang memanfaatkan berbagai krisis untuk menyebarkan ketakutan, kebohongan, dan berbagai isu bohong dari waktu ke waktu. 

Terlebih pada masa-masa seperti sekarang, ketika berbagai peristiwa berlangsung sangat cepat dan berita-berita beredar luas tanpa diketahui sumbernya serta tanpa diketahui kejujuran orang yang menyebarkannya.

Pada saat seperti inilah tampak hakikat keimanan seseorang, kecerdasan akalnya, dan pemahamannya terhadap syariat. 

Sebab Islam tidak membiarkan manusia hidup tanpa aturan dengan menyebarkan setiap berita yang didengarnya. Islam justru mengajarkan metode yang benar.

Allah Ta'ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Allah memerintahkan untuk melakukan tabayyun (klarifikasi) sebelum menyampaikan berita, dan memastikan kebenarannya sebelum menyebarkannya.

Karena tergesa-gesa dalam menyebarkan berita dapat menjadikan seseorang turut serta dalam penyebaran kebohongan tanpa ia sadari.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Maka jika sekadar menyampaikan semua berita yang didengar saja sudah cukup menjadikan seseorang termasuk dalam kategori pendusta, bagaimana lagi dengan orang yang menyebarkan hoaks, meneruskan video-video palsu, atau mengomentari berbagai peristiwa tanpa ilmu dan tanpa tabayyun?

Sesungguhnya pada zaman sekarang, satu kalimat dapat menjangkau berbagai penjuru dunia hanya dalam hitungan detik. 

Satu kali menekan tombol dapat menimbulkan kegelisahan dan kekacauan dalam sebuah masyarakat secara luas.

Karena itu hendaklah setiap orang bertakwa kepada Allah dalam apa yang ia ucapkan dan apa yang ia sebarkan.

Nabi ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya di antara manusia ada yang menjadi kunci-kunci kebaikan dan penutup-penutup keburukan. Dan di antara manusia ada yang menjadi kunci-kunci keburukan dan penutup-penutup kebaikan. 
Maka beruntunglah orang yang Allah jadikan kunci-kunci kebaikan berada di tangannya, dan celakalah orang yang Allah jadikan kunci-kunci keburukan berada di tangannya.” (HR. Ibnu Majah)

Wahai Saudara-Saudaraku
Sesungguhnya membicarakan berbagai peristiwa dan krisis di majelis-majelis maupun media sosial tanpa ilmu yang benar dapat menimbulkan keresahan, menyebarkan ketakutan, dan membuka pintu berbagai penafsiran yang keliru.

Allah telah memperingatkan tentang hal tersebut dalam firman-Nya:
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka langsung menyiarkannya. Padahal jika mereka menyerahkannya kepada Rasul dan kepada ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang mampu mengambil kesimpulan akan mengetahuinya dari mereka.” (QS. An-Nisa: 83)

Ayat ini menunjukkan bahwa perkara-perkara penting hendaknya dikembalikan kepada ahlinya. 
Sebab merekalah yang lebih mengetahui kemaslahatan, lebih memahami kondisi, dan lebih mampu memperkirakan akibat dari suatu tindakan.

Hal ini juga ditegaskan oleh sabda Rasulullah ﷺ:
“Termasuk tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)

Maka bukanlah kesempurnaan Islam seseorang apabila ia ikut berbicara dalam semua urusan. Akan tetapi, termasuk bagian dari pemahaman agama yang baik adalah seseorang mengetahui batas dirinya dan menyerahkan suatu urusan kepada orang yang memang ahli dalam bidang tersebut.

Apabila berbicara sembarangan tentang berbagai peristiwa sudah berbahaya, maka merekam dan menyebarkan gambar atau video kejadian-kejadian keamanan jauh lebih berbahaya lagi.
Sebab hal itu dapat:
Menyebarkan rasa takut di tengah masyarakat.
Membuka dan menampakkan hal-hal yang seharusnya dirahasiakan.
Membantu pihak-pihak yang memusuhi negeri dan masyarakat.
Menjadi sarana bagi para perusak untuk mencapai tujuan mereka.

Padahal Allah Ta'ala berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah: 2)

Maka seorang muslim hendaknya berhati-hati agar tidak menjadi sebab tersebarnya ketakutan, kekacauan, dan fitnah di tengah masyarakat, baik melalui lisannya, tulisannya, maupun media yang ia miliki.

Semoga Allah memberkahi kita semua dengan Al-Qur'an yang agung, memberikan manfaat kepada kita melalui ayat-ayat dan peringatan-peringatan yang ada di dalamnya.

Aku berkata demikian, dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku dan untuk kalian dari segala dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan dan karunia-Nya. 

Segala syukur bagi-Nya atas taufik dan anugerah-Nya. 

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sebagai bentuk pengagungan terhadap-Nya. 

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang mengajak manusia menuju keridaan Allah. 

Semoga salawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Amma ba’du, ...

wahai hamba-hamba Allah...

Sesungguhnya termasuk kewajiban kita, terlebih dalam keadaan dan situasi seperti ini, adalah berpegang teguh kepada agama kita, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mempercayai informasi yang disampaikan oleh para pemimpin melalui lembaga-lembaga resmi.

Hal ini sebagai bentuk pelaksanaan firman Allah Ta'ala:
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian.” (QS. An-Nisa: 59)

Dan sabda Nabi ﷺ:
“Wajib atas seorang muslim untuk mendengar dan taat dalam perkara yang ia sukai maupun yang ia tidak sukai, selama tidak diperintahkan untuk berbuat maksiat.” (Muttafaq ‘Alaih)

Ketaatan kepada pemimpin dalam berbagai musibah dan keadaan genting merupakan sebab terjaganya negeri, terlindunginya masyarakat, bersatunya umat, dan tercegahnya berbagai fitnah.

Karena itu, bersyukurlah kepada Allah atas nikmat keamanan dan ketenteraman yang saat ini masih dirasakan.

Jangan sampai kalian menjadi jembatan yang dilalui oleh berbagai isu dan hoaks, atau menjadi lisan yang mengulang-ulang perkataan orang-orang yang memiliki tujuan buruk.

Jagalah lisan dan tulisan kalian. 
Sebab setiap kata adalah amanah. 
Kata-kata itu laksana anak panah; apabila telah dilepaskan, maka sulit untuk ditarik kembali.

Seorang hamba akan dimintai pertanggungjawaban atas semua yang ia ucapkan dan tuliskan.

Allah Ta'ala berfirman:
“Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)


Maka jadilah, wahai hamba-hamba Allah:

Kunci-kunci kebaikan bagi negeri kalian.

Penutup-penutup pintu keburukan bagi masyarakat kalian.

Penyebar ketenangan, bukan penyebar fitnah.

Pembangun kesadaran, bukan penyebar kekacauan.

Penguat persatuan, bukan pemecah belah umat.

Kemudian perbanyaklah berdoa kepada Allah agar menjaga para pemimpin dan negeri-negeri kita, serta melanggengkan nikmat keamanan dan keimanan.

Ya Allah, berilah taufik kepada para pemimpin kami untuk melakukan segala hal yang membawa kebaikan bagi agama dan dunia kami.

Ya Allah, jagalah para prajurit yang menjaga keamanan negeri.

Ya Allah, tepatkanlah pendapat mereka, luruskan langkah mereka, kuatkan tekad mereka, teguhkan hati mereka, dan tuliskan bagi mereka pahala yang besar.

Ya Allah, anugerahkanlah keamanan di negeri-negeri kami.

Ya Allah, berilah taufik kepada para pemimpin kami.

Ya Allah, satukanlah hati dan kalimat kami di atas kebenaran.

Ya Allah, jauhkanlah dari kami segala fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)

Wahai hamba-hamba Allah,
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat ihsan, memberi kepada kerabat, dan Dia melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90)

Maka ingatlah Allah, niscaya Allah akan mengingat kalian.

Bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat itu kepada kalian. Dan sungguh mengingat Allah adalah perkara yang paling agung. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.




Ringkasan Kandungan Khutbah
Keamanan adalah salah satu nikmat terbesar dari Allah.

Keamanan menjadi syarat tegaknya ibadah, dakwah, dan kehidupan masyarakat.

Syukur atas nikmat keamanan dilakukan dengan menjaganya.

Hoaks, isu bohong, dan fitnah merupakan ancaman bagi keamanan masyarakat.

Islam memerintahkan tabayyun sebelum menyebarkan berita.

Tidak semua berita layak disebarkan.

Membicarakan peristiwa tanpa ilmu dapat menimbulkan keresahan dan fitnah.

Media sosial harus digunakan dengan penuh tanggung jawab.

Menjaga lisan dan tulisan adalah kewajiban setiap muslim.

Persatuan umat, ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta menjauhi fitnah merupakan sebab terjaganya keamanan dan kestabilan negeri.