Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 205
Firman Allah Ta‘ala:
﴿وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِی ٱلۡأَرۡضِ لِیُفۡسِدَ فِیهَا وَیُهۡلِكَ ٱلۡحَرۡثَ وَٱلنَّسۡلَۚ وَٱللَّهُ لَا یُحِبُّ ٱلۡفَسَادَ ٢٠٥﴾
“Dan apabila dia berpaling, dia berusaha di bumi untuk membuat kerusakan padanya serta membinasakan tanaman-tanaman dan keturunan, sedangkan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. Al-Baqarah: 205).
1\. Makna firman Allah: وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا
“Dan apabila dia berpaling, dia berusaha di bumi untuk membuat kerusakan padanya.”
Pada hakikatnya, kata tawallā (تَوَلَّىٰ) berarti berpaling atau pergi dengan tubuh. Kemudian penggunaannya diperluas sehingga kata tersebut juga digunakan untuk menunjukkan tindakan meninggalkan atau berbalik dari sesuatu, baik berupa perkataan maupun perbuatan.
Adapun makna kata tersebut dalam ayat ini, Ibnu Abbas berkata, “Dia marah,” karena kemarahan merupakan bentuk berbaliknya seseorang dari keridaan yang sebelumnya ada pada dirinya.
Al-Hasan berkata, “Dia berpaling dari perkataan yang telah diucapkannya.”
Muqatil dan Ibnu Qutaibah berkata, “Dia pergi dengan tubuhnya.”
Mujahid berkata, “Kata tersebut berasal dari makna kekuasaan atau kepemimpinan,” yakni orang itu menjadi seorang penguasa.
Adapun kata sa‘y (السَّعْي), secara hakikat berarti berjalan cepat dengan kedua kaki. Abu Sulaiman ad-Dimasyqi memaknai kata tersebut berdasarkan makna ini. Demikian pula Ibnu Abbas, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu ‘Athiyyah.
Berdasarkan penafsiran ini, maknanya ialah: apabila orang tersebut pergi meninggalkanmu, wahai Muhammad, setelah sebelumnya berbicara dengan perkataan yang lembut dan tutur kata yang manis, kemudian ia berjalan di bumi dengan kedua kakinya, memutus jalan dan melakukan kerusakan di sana, sebagaimana yang dilakukan oleh Al-Akhnas terhadap kabilah Tsaqif.
Ada pula yang berpendapat bahwa kata sa‘y dalam ayat ini berarti melakukan suatu pekerjaan. Makna ini merupakan bentuk penggunaan majas yang dibenarkan dalam bahasa Arab.
Di antara contohnya adalah firman Allah:
﴿وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ﴾
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39).
Demikian pula firman-Nya:
﴿وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ﴾
“Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia seorang mukmin.” (QS. Al-Isra’: 19).
Seorang penyair berkata:
“Seandainya segala yang kuusahakan hanya untuk sekadar penghidupan yang sederhana, niscaya sedikit harta sudah mencukupiku dan aku tidak akan mencari lebih banyak lagi.
Akan tetapi, sesungguhnya aku berusaha demi kemuliaan yang kokoh dan abadi; dan orang-orang seperti diriku mungkin saja meraih kemuliaan yang kokoh itu.”
Al-A‘syā juga berkata:
“Qais berusaha untuk kepentingan Kinda, bukan seperti usaha orang yang bermalas-malasan. Maka ia menghalau musuh dari mereka dan membangun kekuatan bagi mereka.”
Penyair lainnya berkata:
“Aku berusaha demi kepentingan kaumku, Bani Malik; setiap orang berusaha untuk urusannya masing-masing.”
Dengan demikian, makna ayat tersebut berdasarkan penafsiran ini adalah bahwa orang itu berusaha dengan berbagai tipu daya dan mengatur siasat untuk melawan Islam.
Pendapat ini dikemukakan oleh Mujahid dan Ibnu Juraij. Pendapat serupa juga dinukil dari Ibnu Abbas.
Orang-orang yang berpendapat demikian memberikan penjelasan yang berbeda-beda. Sebagian mengatakan bahwa maksudnya adalah ia berusaha melakukan kerusakan di bumi melalui kekufuran, sedangkan sebagian lainnya mengatakan melalui kezaliman.
Usaha merusak juga dapat dilakukan melalui perkataan. Dalam bahasa Arab, dikatakan bahwa seseorang melakukan sa‘y di antara dua orang apabila ia menyampaikan perkataan kepada keduanya yang mengakibatkan perpecahan di antara mereka.
Contohnya adalah perkataan seorang penyair:
“Aku tidak mengatakan apa yang dikatakan oleh para pengadu domba yang berusaha di antara kami seperti musuh, menyebarkan kabar yang mengguncangkan hubungan kami.”
### 2\. Makna firman Allah: فِي الْأَرْضِ
“Di bumi.”
Telah diketahui bahwa usaha berjalan secara fisik tidak mungkin dilakukan kecuali di bumi. Meskipun demikian, penyebutan kata “di bumi” memberikan makna umum, yaitu bahwa di mana pun orang tersebut berada, ia akan berusaha melakukan kerusakan.
Ungkapan “di bumi” juga menunjukkan banyaknya usaha dan perjalanannya ke berbagai penjuru bumi. Sebab, penggunaan ungkapan yang mencakup seluruh bumi mengandung makna bahwa ia berulang kali melakukan usaha tersebut di berbagai tempat.
Hal yang serupa telah dijelaskan sebelumnya dalam firman Allah:
﴿وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ﴾
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 11).
Apabila orang yang dimaksud dalam ayat ini adalah Al-Akhnas, maka yang dimaksud dengan bumi ialah wilayah Madinah. Dalam hal ini, kata sandang alif-lam pada kata al-ardh menunjukkan tempat yang telah diketahui atau tertentu.
### 3\. Makna firman Allah: لِيُفْسِدَ فِيهَا
“Untuk membuat kerusakan padanya.”
Ungkapan ini menjelaskan tujuan dari usaha orang tersebut sekaligus menjadi alasan yang mendorongnya untuk melakukan berbagai tindakan di bumi.
Kerusakan merupakan lawan dari kebaikan dan perbaikan. Kerusakan juga berarti menentang ketentuan Allah dalam memakmurkan bumi, sebagaimana firman-Nya:
﴿وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا﴾
“Dan Dia menjadikan kamu sebagai pemakmur di bumi itu.” (QS. Hud: 61).
Kerusakan dapat terjadi dalam berbagai bentuk kezaliman, pembunuhan, perampasan harta, penawanan manusia, dan juga kekufuran.
### 4\. Makna firman Allah: وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ
“Dan membinasakan tanaman-tanaman dan keturunan.”
Ungkapan ini dihubungkan dengan tujuan sebelumnya, yaitu “untuk membuat kerusakan padanya”. Susunan seperti ini serupa dengan firman Allah:
﴿وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ﴾
“Para malaikat-Nya, para rasul-Nya, Jibril, dan Mikail.” (QS. Al-Baqarah: 98).
Demikian pula dengan perkataan seorang penyair:
“Aku menyerang mereka dengan kuda yang kuat dan berisi.”
Penyebutan tanaman dan keturunan secara khusus, padahal keduanya sudah tercakup dalam makna kerusakan, bertujuan menegaskan pentingnya kedua hal tersebut. Sebab, tanaman dan keturunan merupakan dua unsur terbesar yang dibutuhkan untuk keberlangsungan kehidupan dan kemakmuran dunia. Oleh karena itu, merusak keduanya merupakan bentuk kerusakan yang sangat besar.
Barang siapa menafsirkan kerusakan dalam ayat ini dengan makna penghancuran, maka penyebutan tanaman dan keturunan merupakan bentuk perincian setelah penyebutan makna yang umum.
Kata al-harth (الْحَرْثُ), yang berarti tanaman atau lahan pertanian, telah disebutkan sebelumnya dalam firman Allah:
﴿وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَ﴾
“Dan tidak mengairi tanaman.” (QS. Al-Baqarah: 71).
Adapun kata an-nasl (النَّسْلُ), yang berarti keturunan, telah dijelaskan sebelumnya dalam pembahasan kosakata.
Berdasarkan penafsiran bahwa ayat ini berkaitan dengan Al-Akhnas, maka yang dimaksud dengan al-harth ialah tanaman pertanian, sedangkan yang dimaksud dengan an-nasl ialah keledai-keledai yang dibunuhnya. Dengan demikian, kata an-nasl di sini dapat bermakna hewan-hewan yang berkembang biak.
Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-harth dalam ayat ini adalah perempuan, sedangkan an-nasl adalah anak-anak.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ﴾
“Istri-istrimu adalah ladang bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 223).
Ibnu ‘Athiyyah menukil kemungkinan penafsiran ini dari Az-Zajjaj. Berdasarkan penafsiran tersebut, ungkapan ini merupakan bentuk kiasan atau sindiran (kinayah), yang termasuk salah satu gaya penyampaian makna dalam bahasa Arab.
### 5\. Perbedaan bacaan Al-Qur’an pada kata يُهْلِكَ
Mayoritas ahli qiraat membaca kata tersebut dengan bentuk:
وَيُهْلِكَ
Kata ini berasal dari bentuk ahlaka (أَهْلَكَ), yang berarti membinasakan. Huruf wawu menghubungkannya dengan kata sebelumnya, yaitu liyufsida (لِيُفْسِدَ).
Ubay bin Ka‘b membacanya:
وَلِيُهْلِكَ
Dalam bacaan ini, huruf lam yang menunjukkan tujuan dinyatakan secara eksplisit.
Sebagian orang membacanya:
وَيُهْلِكُ
Bentuk ini berasal dari kata ahlaka juga, tetapi huruf kaf dibaca dengan harakat damah.
Bacaan ini ditafsirkan melalui beberapa kemungkinan tata bahasa: kata tersebut dapat dihubungkan dengan kata yu‘jibuka (يُعْجِبُكَ), atau dengan kata sa‘ā (سَعَى), karena maknanya mengandung arti “ia berusaha”; dapat pula dianggap sebagai kalimat baru, atau sebagai kalimat yang didahului subjek yang tidak disebutkan, dengan perkiraan makna: “dan dia membinasakan”.
Al-Hasan, Ibnu Abi Ishaq, Abu Haywah, dan Ibnu Muhaisin membacanya:
وَيَهْلِكُ
Bacaan ini berasal dari kata halaka (هَلَكَ), yang berarti binasa, dengan huruf kaf berharakat damah. Adapun kata al-harth dan an-nasl dibaca dengan harakat damah sebagai subjek atau pelaku dari kata kerja tersebut.
Bacaan ini juga diriwayatkan oleh Hammad bin Salamah dari Ibnu Katsir dan oleh Abdul Warits dari Abu Amr.
Al-Mahdawi menjelaskan bahwa bacaan yang diriwayatkan oleh Hammad dari Ibnu Katsir sebenarnya adalah yuhliku (يُهْلِكُ), berasal dari ahlaka, dengan huruf kaf berharakat damah dan kata al-harth dibaca mansub.
Sebagian orang membacanya:
وَيَهْلَكُ
Bacaan ini berasal dari halaka, dengan huruf lam berharakat fathah, huruf kaf berharakat damah, dan kata al-harth dibaca marfu‘.
Bacaan ini merupakan bentuk bahasa yang ganjil atau tidak lazim, serupa dengan pola kata rakana-yarkan (رَكَنَ يَرْكَنُ). Bacaan ini dinisbatkan kepada Al-Hasan dan Az-Zamakhsyari.
Az-Zamakhsyari juga menyebutkan bahwa diriwayatkan dari Al-Hasan suatu bacaan:
وَيُهْلَكُ
dengan bentuk kata kerja pasif, yaitu “dibinasakan”.
Dengan demikian, pada lafaz tersebut terdapat enam bentuk bacaan:
* Wa yuhlika (وَيُهْلِكَ).
* Wa liyuhlika (وَلِيُهْلِكَ).
* Wa yuhliku (وَيُهْلِكُ).
* Wa yahlaku (وَيَهْلَكُ).
* Wa yuhlaku (وَيُهْلَكُ).
* Wa yahlaku dengan pola pelafalan berbeda sebagaimana disebutkan dalam pembahasan qiraat di atas.
Pada tiga bacaan pertama, kata setelahnya dibaca mansub karena kata kerja mengandung pelaku yang berupa kata ganti tersembunyi. Adapun pada tiga bacaan berikutnya, kata setelahnya dibaca marfu‘ karena menjadi subjek atau pelaku yang dinyatakan oleh kata kerja.
Kalimat bersyarat ini dapat dipahami sebagai kalimat baru, sehingga pembicaraan sebelumnya telah selesai pada firman Allah, “Dan dia adalah orang yang paling keras permusuhannya.”
Kalimat tersebut juga dapat dihubungkan dengan sifat atau keterangan yang menjelaskan kata man (مَنْ), sebagaimana dalam firman-Nya, “Dan dia membuatmu kagum.”
### 6\. Makna firman Allah: وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
“Dan Allah tidak menyukai kerusakan.”
Sebelumnya telah disebutkan dua tujuan atau bentuk tindakan: membuat kerusakan di bumi dan membinasakan tanaman serta keturunan. Tujuan yang kedua sebenarnya tercakup dalam tujuan pertama.
Karena itu, Allah Ta‘ala menegaskan bahwa Dia tidak menyukai kerusakan. Cukup dengan menyebutkan tujuan yang pertama, karena tujuan tersebut telah mencakup tujuan yang kedua.
Apabila kata mahabbah (مَحَبَّة), yaitu cinta atau kecintaan, ditafsirkan dengan makna kehendak (irādah), sebagaimana yang dilakukan dalam sejumlah pembahasan teologis, maka ayat ini harus dipahami dengan memberikan batasan tertentu.
Hal ini karena terdapat ayat lain yang menggunakan kata yuhibbūn (يُحِبُّونَ), seperti firman Allah:
﴿إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ﴾
“Sesungguhnya orang-orang yang senang agar perbuatan keji itu tersebar luas.” (QS. An-Nur: 19).
Apabila kecintaan diartikan sama dengan kehendak, maka ayat tersebut harus diberi pengkhususan, yaitu bahwa Allah tidak menghendaki kerusakan dari orang-orang yang saleh.
Menurut pandangan yang dibahas oleh penulis, ayat ini tidak dapat dipahami secara mutlak dalam arti bahwa segala sesuatu yang disebut kerusakan sama sekali tidak berada dalam kehendak Allah, karena kerusakan memang terjadi di dunia. Seandainya hal itu sama sekali tidak berada dalam kehendak-Nya, tentu hal tersebut tidak akan terjadi.
Kaum Mu‘tazilah menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa Allah tidak menghendaki kerusakan. Menurut mereka, sesuatu yang terjadi berupa kerusakan bukanlah sesuatu yang dikehendaki Allah dan bukan pula perbuatan yang dilakukan oleh-Nya. Sebab, menurut argumentasi mereka, apabila Allah melakukan sesuatu, berarti Dia menghendakinya, karena mustahil Dia melakukan sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya.
Mereka juga mengatakan bahwa kecintaan Allah terhadap suatu perbuatan menunjukkan kehendak-Nya terhadap perbuatan tersebut. Menurut mereka, tidak mungkin Allah menyukai terjadinya sesuatu tetapi tidak menghendaki sesuatu itu terjadi; bahkan, jika Dia tidak menghendakinya, berarti Dia membencinya.
Demikianlah argumentasi mereka.
Ada pula yang menafsirkan ayat ini dengan makna, “Allah tidak menyukai kerusakan sebagai agama,” yakni Allah tidak meridai kerusakan untuk dijadikan sebagai agama atau jalan hidup.
Pendapat lainnya menyatakan bahwa terdapat kata yang dihilangkan dalam susunan kalimat tersebut, sehingga maknanya adalah, “Allah tidak menyukai orang-orang yang melakukan kerusakan.”
Ibnu Abbas berkata bahwa maksud ayat ini ialah Allah tidak meridai berbagai kemaksiatan.
Ada pula yang mengatakan bahwa kata “menyukai” digunakan untuk mengungkapkan makna perintah. Dengan demikian, maknanya adalah bahwa Allah tidak memerintahkan kerusakan.
Ar-Raghib berkata:
“Kerusakan adalah mengeluarkan sesuatu dari keadaan yang baik dan terpuji tanpa tujuan yang benar. Hal seperti itu tidak terdapat dalam perbuatan Allah Ta‘ala.”
Berbagai penafsiran tersebut berangkat dari pandangan para ahli ilmu kalam yang mengartikan kecintaan sebagai kehendak.
Ibnu ‘Athiyyah berkata:
“Kecintaan memiliki keistimewaan berupa pemilihan dan pengutamaan dibandingkan sekadar kehendak. Seandainya seseorang mengatakan bahwa kerusakan yang dikehendaki tidak memiliki keistimewaan berupa pengutamaan, niscaya perkataan itu benar. Sebab, kecintaan Allah Ta‘ala hanya berkaitan dengan sesuatu yang baik dari seluruh sisinya.”
Demikian perkataan Ibnu ‘Athiyyah.
Apabila penjelasan ini benar, maka menjadi jelas perbedaan antara kehendak dan kecintaan. Dengan demikian, benar bahwa Allah dapat menghendaki sesuatu, tetapi tidak mencintainya.
Sebagian ulama mengatakan bahwa kaum Mu‘tazilah menyamakan kecintaan dengan kehendak, kemudian menjadikan ayat ini sebagai dalil untuk mendukung pandangan mereka. Padahal, mayoritas ulama berpendapat berbeda.
Perbedaan antara kehendak dan kecintaan merupakan perkara yang jelas. Sebagai contoh, seseorang mungkin menghendaki agar luka yang dialaminya segera sembuh, tetapi ia tidak menyukai luka tersebut.
Apabila secara akal telah jelas adanya perbedaan antara kehendak dan kecintaan, maka gugurlah anggapan bahwa keduanya memiliki makna yang sama.
Makna ayat ini juga sejalan dengan firman Allah Ta‘ala:
﴿وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ﴾
“Dan Dia tidak meridai kekafiran bagi hamba-hamba-Nya.” (QS. Az-Zumar: 7).
Demikian perkataan ulama tersebut.
### 7\. Penjelasan tentang kecintaan Allah dan lawannya
Dalam Kitab Allah Ta‘ala terdapat banyak ayat yang menafikan kecintaan Allah terhadap berbagai perkara.
Dalam kaitannya dengan Allah Ta‘ala, kecintaan dan ketiadaan kecintaan merupakan dua hal yang saling berlawanan. Berbeda dengan makhluk, yang terkadang tidak memiliki kecintaan maupun kebencian terhadap sesuatu.
Dengan demikian, kecintaan dan lawannya, jika dikaitkan dengan Allah Ta‘ala, merupakan dua hal yang saling meniadakan. Adapun jika dikaitkan dengan selain-Nya, keduanya merupakan dua hal yang berlawanan, tetapi masih dimungkinkan adanya keadaan ketika seseorang tidak memiliki keduanya.
Secara lahiriah, kata al-fasād (الْفَسَاد), yaitu kerusakan, mencakup segala bentuk kerusakan yang terjadi pada bumi, harta, maupun agama.
‘Atha’ berdalil dengan firman Allah, “Dan Allah tidak menyukai kerusakan,” untuk menunjukkan larangan merobek pakaian seseorang sebagai bentuk tindakan yang termasuk kerusakan.
Ibnu Abbas berkata, “Kerusakan yang dimaksud di sini adalah kehancuran.”
والله أعلم.
Tafsir
Firman Allah Ta‘ala:
﴿وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ ٢٠٥﴾
“Dan apabila dia berpaling, dia berusaha di bumi untuk membuat kerusakan padanya serta membinasakan tanaman-tanaman dan keturunan, sedangkan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. Al-Baqarah: 205).
### 1\. Tafsir firman Allah: وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا
“Dan apabila dia berpaling, dia berusaha di bumi untuk membuat kerusakan padanya.”
Ada yang berpendapat bahwa kata tawallā (تَوَلَّىٰ) dan sa‘ā (سَعَىٰ) merupakan perbuatan hati. Berdasarkan penafsiran ini, kata tawallā bermakna menyimpang, marah, dan merasa enggan atau menolak dalam dirinya.
Adapun kata sa‘ā, maknanya ialah bahwa ia berusaha menggunakan tipu daya dan kehendaknya untuk melancarkan berbagai siasat terhadap Islam dan kaum muslimin. Pendapat ini dinukil dari Ibnu Juraij dan ulama lainnya.
Ada pula yang berpendapat bahwa kedua kata tersebut merupakan perbuatan anggota badan. Berdasarkan penafsiran ini, kata tawallā berarti berpaling, berbalik, dan pergi meninggalkanmu, wahai Muhammad.
Adapun kata sa‘ā berarti ia berjalan dengan kedua kakinya, lalu merampok di jalan dan membuat kerusakan di sana. Pendapat ini dinukil dari Ibnu Abbas dan ulama lainnya.
Kedua bentuk usaha tersebut sama-sama merupakan kerusakan.
Dalam bahasa Arab dikatakan:
سَعَى الرَّجُلُ يَسْعَى سَعْيًا
Artinya, seseorang berjalan cepat atau berlari.
Ungkapan yang sama juga digunakan ketika seseorang bekerja dan mencari penghasilan.
Dikatakan pula:
فُلَانٌ يَسْعَى عَلَى عِيَالِهِ
Artinya, seseorang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan mengusahakan kemaslahatan mereka.
### 2\. Tafsir firman Allah: وَيُهْلِكَ
“Dan membinasakan.”
Kata yuhlika (يُهْلِكَ) dihubungkan dengan kata liyufsida (لِيُفْسِدَ), sehingga maknanya adalah “untuk membuat kerusakan dan membinasakan”.
Dalam bacaan Ubay bin Ka‘b, lafaz tersebut dibaca:
وَلِيُهْلِكَ
Artinya, “dan agar ia membinasakan.”
Al-Hasan dan Qatadah membacanya dengan harakat damah pada huruf terakhir:
وَيُهْلِكُ
Berkaitan dengan harakat damah tersebut, terdapat beberapa penjelasan.
Pertama, kata tersebut dihubungkan dengan firman Allah:
يُعْجِبُكَ
“Dia membuatmu kagum.”
Kedua, Abu Hatim berkata bahwa kata tersebut dihubungkan dengan kata sa‘ā (سَعَىٰ), karena maknanya adalah “ia berusaha dan membinasakan”.
Abu Ishaq berkata bahwa maknanya ialah:
وَهُوَ يُهْلِكُ
“Dan dia membinasakan.”
Diriwayatkan dari Ibnu Katsir suatu bacaan:
وَيَهْلِكُ
Dengan huruf ya berharakat fathah dan huruf kaf berharakat damah. Dalam bacaan ini, kata al-harth dan an-nasl dibaca marfu‘ karena menjadi subjek dari kata kerja yahlaku.
Bacaan ini merupakan bacaan Al-Hasan, Ibnu Abi Ishaq, Abu Haywah, dan Ibnu Muhaisin. Bacaan tersebut juga diriwayatkan oleh Abdul Warits dari Abu Amr.
Sebagian orang membacanya:
وَيَهْلَكُ
Dengan huruf ya berharakat fathah, huruf lam berharakat fathah, dan kata al-harth dibaca marfu‘.
Bacaan ini mengikuti bentuk bahasa halaka-yahlaku (هَلَكَ يَهْلَكُ), sebagaimana pola kata berikut:
* Rakāna-yarkan (رَكَنَ يَرْكَنُ).
* Abā-ya’bā (أَبَى يَأْبَى).
* Salā-yaslū (سَلَا يَسْلَى).
* Qalā-yaqlā (قَلَى يَقْلَى).
Dan bentuk-bentuk bahasa lainnya yang serupa.
### 3\. Siapakah yang dimaksud dalam ayat ini?
Orang yang dimaksud dalam ayat ini adalah Al-Akhnas, khususnya dalam peristiwa ketika ia membakar tanaman dan membunuh keledai-keledai. Demikianlah yang dikatakan oleh Ath-Thabari.
Ulama lainnya berkata bahwa meskipun ayat ini pada mulanya berkaitan dengan peristiwa tersebut, cakupannya kemudian berlaku umum bagi seluruh manusia.
Barang siapa melakukan perbuatan seperti yang dilakukan oleh Al-Akhnas, maka ia berhak mendapatkan celaan dan hukuman yang disebutkan dalam ayat tersebut.
Sebagian ulama berkata:
“Sesungguhnya orang yang membunuh seekor keledai atau membakar setumpuk hasil panen layak mendapatkan celaan, dan keburukan perbuatannya akan melekat padanya hingga Hari Kiamat.”
Mujahid berkata bahwa maksud ayat ini adalah orang zalim melakukan kerusakan di bumi, kemudian Allah menahan hujan sehingga tanaman dan keturunan binasa.
Ada pula yang berpendapat bahwa al-harth (الْحَرْثَ) berarti perempuan, sedangkan an-nasl (النَّسْلَ) berarti anak-anak.
Penafsiran ini didasarkan pada kenyataan bahwa kemunafikan dapat mengakibatkan perpecahan, perselisihan, dan terjadinya peperangan. Semua itu dapat menyebabkan kebinasaan manusia.
Demikian penjelasan yang dinukil dari Az-Zajjaj.
Usaha di bumi pada dasarnya berarti berjalan dengan cepat. Dalam konteks ayat ini, ungkapan tersebut merupakan gambaran tentang tindakan menimbulkan fitnah dan mengadu domba manusia.
Allah lebih mengetahui kebenarannya.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ وَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ مِنْ عِنْدِهِ
“Sesungguhnya apabila manusia melihat orang zalim, lalu mereka tidak mencegahnya, hampir saja Allah menimpakan hukuman dari sisi-Nya kepada mereka semua.”
Penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini akan datang, insya Allah Ta‘ala.
### 4\. Tafsir firman Allah: الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ
“Tanaman-tanaman dan keturunan.”
### A. Makna kata al-harth (الْحَرْثَ)
Dalam bahasa Arab, kata al-harth secara bahasa berkaitan dengan makna membelah atau menggores.
Dari kata tersebut berasal kata al-mihrāth (الْمِحْرَاثُ), yaitu alat yang digunakan untuk membelah atau mengolah tanah.
Kata al-harth juga dapat berarti mencari dan mengumpulkan harta.
Dalam sebuah ungkapan hadis disebutkan:
احْرُثْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيشُ أَبَدًا
“Berusahalah untuk kehidupan duniamu seakan-akan engkau akan hidup selama-lamanya.”
Kata al-harth juga berarti tanaman atau kegiatan pertanian.
Adapun al-harrāth (الْحَرَّاثُ) berarti petani.
Kata kerja haratha dan ihtaratha (حَرَثَ وَاحْتَرَثَ) digunakan dengan makna menanam atau mengolah tanah, sebagaimana kata zara‘a dan izdara‘a (زَرَعَ وَازْدَرَعَ).
Dikatakan pula:
احْرُثِ الْقُرْآنَ
Artinya, “Pelajarilah Al-Qur’an secara mendalam.”
Dikatakan:
حَرَثْتُ النَّاقَةَ وَأَحْرَثْتُهَا
Artinya, “Aku mengendarai unta betina itu hingga tubuhnya menjadi kurus.”
Ungkapan:
حَرَثْتُ النَّارَ
berarti “Aku menggerakkan atau mengaduk api”.
Adapun al-mihrāth juga berarti alat yang digunakan untuk menggerakkan api di dalam tungku. Penjelasan ini dinukil dari Al-Jauhari.
### B. Makna kata an-nasl (النَّسْلَ)
Kata an-nasl berarti anak atau keturunan yang dilahirkan oleh setiap makhluk betina.
Makna asal kata ini berkaitan dengan sesuatu yang keluar atau jatuh.
Dari akar kata tersebut juga digunakan ungkapan mengenai rambut yang rontok atau bulu burung yang terlepas.
Kata kerja yansilūn (يَنْسِلُونَ) berarti mereka keluar atau bergerak dengan cepat.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ﴾
“Mereka segera keluar menuju Tuhan mereka.” (QS. Yasin: 51).
Allah juga berfirman:
﴿مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ﴾
“Mereka turun dengan cepat dari setiap tempat yang tinggi.” (QS. Al-Anbiya’: 96).
Imru’ul Qais berkata dalam syairnya:
فَسُلِّي ثِيَابِي مِنْ ثِيَابِكِ تَنْسُلِ
“Maka lepaskanlah pakaianku dari pakaianmu, niscaya engkau akan berpisah.”
Awal bait syair tersebut adalah:
وَإِنْ كُنْتِ قَدْ سَاءَتْكِ مِنِّي خَلِيقَةٌ
“Jika ada perangai dariku yang membuatmu tidak senang…”
Maksudnya, apabila ada sifat atau perilakuku yang tidak engkau sukai, lepaskanlah pakaianmu dari pakaianku. Artinya, pergilah dan pisahkan urusanmu dari urusanku.
Penjelasan makna syair ini dinukil dari kitab Syarh Diwan.
### C. Pelajaran yang berkaitan dengan pertanian dan keturunan
Saya katakan: ayat ini menunjukkan pentingnya mengolah tanah, bercocok tanam, dan menanaminya dengan pepohonan, berdasarkan makna al-harth sebagai kegiatan pertanian.
Ayat ini juga menunjukkan pentingnya mengusahakan keturunan, yakni perkembangbiakan hewan.
Dengan kedua hal tersebut, kebutuhan dasar kehidupan manusia dapat terpenuhi dan keberlangsungan hidupnya dapat terjaga.
Penjelasan ini sekaligus menjadi bantahan terhadap orang yang berpendapat bahwa seseorang harus meninggalkan usaha dan sebab-sebab duniawi.
Pembahasan mengenai hal tersebut akan dijelaskan lebih lanjut dalam kitab ini, insya Allah Ta‘ala.
### 5\. Tafsir firman Allah: وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
“Dan Allah tidak menyukai kerusakan.”
Al-Abbas bin Al-Fadhl berkata:
“Kerusakan adalah kehancuran.”
Sa‘id bin Al-Musayyib berkata:
“Memotong atau merusak uang dirham termasuk perbuatan membuat kerusakan di bumi.”
‘Atha’ berkata bahwa dahulu ada seseorang yang bernama ‘Atha’ bin Munabbih. Ia berihram dengan mengenakan jubah, kemudian Nabi ﷺ memerintahkannya untuk melepaskan jubah tersebut.
Qatadah berkata:
Aku bertanya kepada ‘Atha’, “Kami dahulu mendengar bahwa jubah itu harus disobek.”
‘Atha’ menjawab:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai kerusakan.”
Maksudnya, pakaian tersebut tidak perlu disobek karena merusaknya merupakan tindakan yang tidak diperlukan.
Saya katakan: ayat ini, dengan keumuman maknanya, mencakup segala bentuk kerusakan yang terjadi pada bumi, harta, maupun agama.
Inilah pendapat yang benar, insya Allah Ta‘ala.
Ada yang mengatakan bahwa makna firman Allah, “Allah tidak menyukai kerusakan,” adalah bahwa Allah tidak menyukai kerusakan yang dilakukan oleh orang-orang saleh.
Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya ialah Allah tidak menyukai kerusakan sebagai suatu agama atau jalan hidup.
Kemungkinan lainnya, maknanya adalah bahwa Allah tidak memerintahkan kerusakan.
Allah lebih mengetahui kebenarannya.
### Catatan kaki
(1) Al-kuds (الْكَدْسُ)
Kata ini, dengan huruf kaf berharakat damah atau fathah dan huruf dal sukun, berarti tumpukan bahan makanan, kurma, atau dirham.
(2) QS. Yasin ayat 51
﴿فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ﴾
“Maka seketika itu mereka keluar dari kubur menuju Tuhan mereka dengan cepat.”
(3) QS. Al-Anbiya’ ayat 96
﴿حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ﴾
“Hingga apabila dibukakan tembok Ya’juj dan Ma’juj, lalu mereka turun dengan cepat dari setiap tempat yang tinggi.”
(4) Syair Imru’ul Qais
Bagian awal baitnya berbunyi:
وَإِنْ كُنْتِ قَدْ سَاءَتْكِ مِنِّي خَلِيقَةٌ
“Jika ada perangai dariku yang membuatmu tidak senang…”
Kemudian ia berkata:
فَسُلِّي ثِيَابِي مِنْ ثِيَابِكِ تَنْسُلِ
“Maka lepaskanlah pakaianmu dari pakaianmu.”
Maksudnya, jika ada perangai dariku yang tidak engkau sukai, berpisahlah denganku dan pisahkan urusanmu dari urusanku.
Penjelasan ini dinukil dari Syarh Diwan.
Tafsir Imam As Sa'dy rahimahullah.
Firman Allah Ta‘ala:
“Dan apabila dia berpaling, dia berusaha di bumi untuk membuat kerusakan padanya, serta membinasakan tanaman-tanaman dan hewan ternak, sedangkan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. Al-Baqarah: 205).
Penjelasan tafsir:
Firman Allah, “Dan apabila dia berpaling,” maksudnya adalah orang yang perkataannya membuatmu kagum ketika dia hadir di hadapanmu.
Firman Allah, “Dia berusaha di bumi untuk membuat kerusakan padanya,” maksudnya, dia bersungguh-sungguh melakukan berbagai perbuatan maksiat yang merupakan bentuk kerusakan di bumi. Akibatnya, dia membinasakan “tanaman-tanaman dan hewan ternak.” Tanaman, buah-buahan, dan hewan ternak menjadi rusak, mengalami penurunan, serta berkurang keberkahannya disebabkan oleh perbuatan maksiat.
Firman Allah, “Sedangkan Allah tidak menyukai kerusakan” (205). Jika Allah tidak menyukai kerusakan, berarti Dia sangat membenci hamba yang membuat kerusakan di bumi, sekalipun orang tersebut mengucapkan perkataan yang baik dengan lisannya.
Ayat ini menjadi dalil bahwa perkataan yang keluar dari seseorang tidak dapat dijadikan bukti untuk memastikan kejujuran atau kedustaannya, kebaikan atau kefasikannya, sampai terdapat perbuatan yang membenarkan perkataannya dan menyucikan dirinya dari tuduhan.
Ayat ini juga menunjukkan bahwa keadaan para saksi serta orang-orang yang benar dan orang-orang yang batil di antara manusia hendaknya diuji dengan meneliti perbuatan mereka dan memperhatikan berbagai indikasi yang berkaitan dengan keadaan mereka. Seseorang tidak boleh tertipu oleh upaya mereka memperindah penampilan, menyamarkan kenyataan, dan menyatakan bahwa diri mereka bersih.
Kemudian, Allah menyebutkan bahwa orang yang membuat kerusakan di bumi melalui perbuatan maksiat kepada Allah ini, apabila diperintahkan agar bertakwa kepada Allah, justru menjadi sombong dan enggan menerima nasihat.
Catatan kaki:
(1) Dalam naskah asli dan cetakan ṭā’ (ط), tertulis kata ببر. Maksud yang benar dalam konteks ini adalah بِسَبْرِ, yakni meneliti, memeriksa, atau menguji keadaan seseorang melalui perbuatannya.
Tafsir At Tahrir wa At Tanwir :
1\. Makna firman Allah: “Dan apabila dia berpaling, dia berusaha di bumi”
Firman Allah Ta‘ala, “Dan apabila dia berpaling, dia berusaha di bumi,” kata idzā (إذا) merupakan keterangan waktu yang mengandung makna syarat.
Kata tawallā (تَوَلَّى) bisa berasal dari kata at-tawliyah (التولية), yang berarti berpaling dan pergi meninggalkan. Dalam bahasa Arab dikatakan wallā dan tawallā. Makna ini telah dijelaskan sebelumnya dalam firman Allah Ta‘ala:
“Apakah yang memalingkan mereka dari kiblat yang dahulu mereka hadapi?” (QS. Al-Baqarah: 142).
Maksudnya, apabila dia berpisah darimu, dia berusaha di bumi untuk membuat kerusakan.
Kata kerja tawallā memiliki sesuatu yang dihilangkan sebagai objek keterkaitannya, yang diperkirakan berbunyi tawallā ‘anka (تَوَلَّى عَنْكَ), yakni “dia berpaling darimu”. Kata ganti orang kedua yang diperkirakan tersebut dapat dipahami berdasarkan dua kemungkinan makna yang telah disebutkan sebelumnya.
Kemungkinan kedua, kata tawallā berasal dari kata al-wilāyah (الولاية), yang berarti kekuasaan atau kepemimpinan. Dalam bahasa Arab dikatakan, waliya al-balad dan tawallāhu, yang berarti seseorang memegang pemerintahan suatu negeri atau mengambil alih kepemimpinannya.
Dengan demikian, maknanya adalah: apabila dia menjadi penguasa, yakni ketika dia menjadi pemimpin dan tokoh yang memimpin manusia, dia berusaha melakukan kerusakan di bumi.
Al-Akhnas memang merupakan pemimpin orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya, yaitu Bani Zuhrah.
### 2\. Makna kata “berusaha” dan bentuk-bentuk penggunaannya
Firman Allah Ta‘ala:
“Dia berusaha di bumi untuk membuat kerusakan padanya.”
Secara hakiki, kata sa‘ā (سعى), yang berarti berusaha atau berjalan, bermakna berjalan dengan cepat dan bersungguh-sungguh.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota dengan bergegas.” (QS. Al-Qashash: 20).
Kata sa‘ā juga digunakan untuk menunjukkan perbuatan, usaha, dan pekerjaan. Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh.” (QS. Al-Isra’: 19).
Imru’ al-Qais berkata dalam syairnya:
“Seandainya apa yang aku usahakan hanyalah untuk memperoleh penghidupan yang paling rendah …”
Kemudian, kata sa‘ā juga digunakan untuk menunjukkan tindakan menjadi perantara di antara manusia guna memperbaiki hubungan mereka atau mengurangi dampak buruk yang terjadi.
‘Amr bin Kultsum berkata:
“Di antara kami, sebelum dia, terdapat orang yang menjadi perantara, Kulaib. Maka keutamaan apakah yang tidak pernah kami miliki?”
Labid juga berkata:
“Mereka adalah orang-orang yang berusaha menjadi penengah ketika kaum mereka mengalami keadaan yang sangat genting …”
Selain itu, kata sa‘ā digunakan untuk menunjukkan kesungguhan, ambisi, dan pengerahan tekad demi memperoleh sesuatu. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta‘ala mengenai Fir‘aun:
“Kemudian dia berpaling seraya berusaha.” (QS. An-Nazi‘at: 22).
Dengan demikian, kata sa‘ā dalam ayat ini dapat dipahami berdasarkan makna pertama dan keempat yang telah disebutkan, yaitu berjalan atau pergi dengan bersungguh-sungguh, serta mengerahkan tekad untuk mencapai tujuan.
Maksudnya, dia pergi menyusuri bumi dengan melakukan penyerangan dan serangan mendadak untuk membuat kerusakan di sana.
### 3\. Hubungan ayat ini dengan perbuatan Al-Akhnas
Ayat ini dapat menjadi isyarat terhadap tindakan yang dilakukan Al-Akhnas terhadap tanaman milik sebagian kaum Muslimin. Sebab, perbuatan tersebut menunjukkan kekufuran dan kedustaannya dalam menampakkan kecintaan kepada Nabi ﷺ. Seandainya kecintaannya benar-benar tulus, tentu dia tidak akan menyakiti para pengikut beliau.
Ayat ini juga dapat merujuk kepada perbuatannya terhadap tanaman milik kaum Tsaqif, menurut pendapat sebagian ahli tafsir yang mengatakan bahwa Al-Akhnas merencanakan serangan pada malam hari terhadap kaum Tsaqif.
Antara Al-Akhnas dan mereka terdapat permusuhan, padahal mereka berasal dari kaumnya sendiri. Kemudian, dia menyerang mereka bersama orang-orang Bani Zuhrah yang menyertainya, membakar tanaman-tanaman mereka, dan membunuh hewan-hewan ternak mereka.
Perbuatan semacam ini terhadap suatu kaum, meskipun pada waktu itu mereka masih kafir, bukanlah sesuatu yang menguntungkan kaum Muslimin apabila mereka ditimpa kerugian. Terlebih lagi, Al-Akhnas tidak melakukannya demi membela Islam dan tidak pula sedang berada dalam keadaan perang dengan mereka.
Karena itu, tindakannya menunjukkan adanya kebusukan niat yang tidak sesuai dengan kebaikan dan kelembutan perkataan yang dia tampakkan. Sebab, salah satu karakter akhlak seseorang adalah adanya kesesuaian dan keselarasan antara berbagai sisi perilakunya.
Allah tidak meridai tindakan menyakiti hamba-hamba-Nya, sekalipun mereka orang-orang kafir, apabila tindakan tersebut tidak menghasilkan manfaat bagi mereka. Al-Akhnas tidak menyerang mereka dengan tujuan mengajak mereka beriman, tetapi semata-mata untuk merusak dan menghancurkan.
Oleh sebab itu, Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan Allah tidak menyukai kerusakan.”
### 4\. Hikmah penyebutan kata “di bumi”
Firman Allah, “di bumi”, berfungsi mempertegas makna kata sa‘ā.
Hal ini bertujuan menghilangkan kemungkinan anggapan bahwa kata sa‘ā di sini hanya bermakna kiasan, yaitu bekerja dan berusaha secara umum. Sebaliknya, ayat tersebut menegaskan bahwa usaha yang dimaksud adalah perjalanan di bumi untuk melakukan kerusakan, berupa penyerangan dan perampasan yang tidak bertujuan meninggikan kalimat Allah.
Karena itu, setelahnya Allah berfirman:
“Untuk membuat kerusakan padanya.”
Huruf lām pada kata liyufsida (لِيُفْسِدَ) menunjukkan tujuan atau alasan. Hal ini karena kerusakan memang merupakan tujuan yang dikehendaki oleh orang yang melakukan usaha tersebut.
Ada pula kemungkinan bahwa kata sa‘ā digunakan secara kiasan untuk menunjukkan kehendak dan perencanaan. Maksudnya, dia merancang tipu daya, sebab merintis suatu kerusakan dan menggunakan berbagai siasat untuk mewujudkannya, sambil menampakkan nasihat dan kebaikan melalui perkataan, merupakan bentuk tipu daya.
Dalam kemungkinan ini, frasa liyufsida berfungsi sebagai objek dari kata kerja sa‘ā. Perkiraan maknanya adalah: “Dia menghendaki kerusakan di bumi dan merencanakannya.”
Huruf lām di sini disebut lām at-tablīgh, sebagaimana telah dijelaskan dalam firman Allah Ta‘ala:
“Allah menghendaki kemudahan bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Kemudian, firman-Nya:
“Dan agar kamu menyempurnakan bilangan itu.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Dalam penggunaan ini, huruf lām menyerupai huruf tambahan, sedangkan kata kerja yang berada sesudahnya—yang secara takdir didahului kata an (أن)—berfungsi sebagai objek.
Contohnya juga terdapat dalam firman Allah Ta‘ala:
“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka.” (QS. Ash-Shaff: 8).
Demikian pula dalam syair Juz’ bin Kulaib al-Faq‘asi:
“Putra Kaus berusaha dengan kebodohan yang sesuai dengan namanya, agar dia dapat merampas ternak kami ketika kami menghabiskan malam-malam musim dingin.”
Maksudnya, dia berusaha melakukan perampasan ternak dari kami.
Al-Marzūqī berkata, “Penyair menggunakan kata kerja yang disertai huruf lām karena kata tabaghghā memiliki makna seperti arāda (menghendaki). Sebagaimana Allah Yang Mahamulia lagi Mahaagung berfirman, ‘Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka,’ yang bermakna mereka menghendaki pemadaman cahaya Allah, demikian pula perkataan penyair, ‘agar dia dapat merampas ternak,’ maksudnya, dia menghendaki perampasan ternak dari kami.”
Saya (penulis tafsir) berpendapat bahwa penggunaan semacam ini dapat berlaku pada setiap tempat ketika objek suatu kata kerja sekaligus menjadi tujuan atau sebab bagi perbuatan tersebut.
Seorang ahli balagah dapat mengungkapkannya dengan menyertakan huruf lām yang menunjukkan tujuan, dengan mengandalkan pemahaman bahwa kata tersebut juga berfungsi sebagai objek. Fungsi objek itu diketahui melalui perkiraan adanya kata an mashdariyyah sebelum kata kerja tersebut.
Dengan demikian, frasa “di bumi” berkaitan dengan kata sa‘ā. Hal ini menunjukkan bahwa usahanya berkaitan dengan salah satu urusan penduduk negeri kalian.
Adapun pengulangan kata fīhā (فِيها), yakni “padanya”, dalam firman Allah “untuk membuat kerusakan padanya”, berfungsi menjelaskan maksud yang masih umum dalam ungkapan “di bumi”, sekaligus memberikan penegasan.
### 5\. Makna “membinasakan tanaman dan keturunan”
Firman Allah Ta‘ala:
“Dan membinasakan tanaman-tanaman dan keturunan.”
Kata yuhliku (يُهْلِكَ), dengan huruf yā’ berharakat dammah, berarti “membinasakan” atau “merusakkan”.
Kata al-harth (الحرث), dalam ayat ini, dimaksudkan sebagai tanaman pertanian.
Adapun kata an-nasl (النسل) berarti anak-anak hewan. Kata ini berasal dari ungkapan nasala ash-shūfu nusūlan, yang berarti wol terlepas dan jatuh dari tempatnya.
Menurut saya, pembinasaan tanaman dan keturunan merupakan ungkapan kiasan tentang rusaknya hal-hal yang menjadi penopang kehidupan manusia.
Pada masa itu, manusia menggantungkan kehidupan mereka pada pertanian dan hewan ternak. Karena itu, yang dimaksud bukanlah hanya dua hal tersebut secara khusus, melainkan kehancuran segala sesuatu yang menopang kehidupan manusia.
Ungkapan ini termasuk ungkapan yang berlaku seperti peribahasa, yakni penyebutan dua hal tertentu untuk menggambarkan kerusakan yang lebih luas.
Ada pula pendapat bahwa kata al-harth dan an-nasl dalam ayat ini merupakan isyarat terhadap tindakan yang dilakukan Al-Akhnas bin Syuraiq.
Apa pun penafsirannya, ayat ini menunjukkan bahwa siapa pun yang menjadi penyebab terjadinya kerusakan semacam itu, baik secara langsung maupun melalui ungkapan kiasan, berhak mendapatkan hukuman di akhirat.
Karena itulah Allah menutup ayat ini dengan kalimat penegasan:
“Dan Allah tidak menyukai kerusakan.”
Kalimat tersebut berfungsi sebagai peringatan dan kecaman.
### 6\. Makna firman Allah: “Allah tidak menyukai kerusakan”
Makna penafian kecintaan dalam firman Allah “Allah tidak menyukai kerusakan” adalah bahwa Allah tidak meridai kerusakan.
Sebab, jika kata cinta dimaknai sebagai gejolak jiwa dan kecenderungan alami yang timbul karena menganggap sesuatu itu baik, maka makna seperti itu mustahil bagi Allah Ta‘ala. Oleh karena itu, makna tersebut tidak dapat dinisbatkan kepada Allah dalam pengertian tersebut.
Dengan demikian, menurut kami, yang dimaksud adalah konsekuensi dari kecintaan, yaitu keridaan. Adapun menurut kaum Mu‘tazilah, yang dimaksud adalah kehendak.
Persoalan ini berkaitan dengan pembahasan mengenai penciptaan perbuatan-perbuatan manusia.
Tidak diragukan lagi bahwa maksudnya adalah: apabila Allah tidak meridai sesuatu, Dia akan menghukum orang yang melakukannya, karena tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi-Nya dari hal itu.
Allah menyebut tindakan tersebut sebagai kerusakan, meskipun tanaman dan hasil pertanian itu milik orang-orang musyrik. Hal ini karena penghancuran berbagai sumber kebaikan di bumi merupakan kerugian bagi seluruh manusia.
Adapun peperangan dilakukan dengan menghancurkan benda-benda yang menjadi sarana kerusakan dan sebab terjadinya agresi.
### 7\. Hakikat kerusakan dan batasan sesuatu yang boleh dimusnahkan
Kerusakan (al-fasād) merupakan lawan dari kebaikan dan perbaikan (ash-shalāh).
Makna kerusakan adalah menghancurkan sesuatu yang memberikan manfaat kepada manusia secara murni atau manfaatnya lebih dominan.
Sebagai contoh, memusnahkan susu merupakan tindakan menghilangkan manfaat yang murni.
Adapun memusnahkan kayu bakar karena khawatir terjadi kebakaran merupakan tindakan menghilangkan sesuatu yang manfaatnya lebih dominan.
Yang dimaksud dengan dominannya manfaat di sini adalah dominannya penggunaan sesuatu itu oleh manusia, bukan perbandingan kuantitatif antara jumlah manfaat dan jumlah mudaratnya.
Karena itu, memusnahkan obat-obatan beracun termasuk kerusakan jika dilihat dari sisi bahwa obat-obatan tersebut memiliki manfaat untuk pengobatan, meskipun penggunaannya jarang dilakukan. Namun, kemungkinan terjadinya pembunuhan dengan obat-obatan itu dianggap sangat kecil karena akal manusia pada umumnya mencegah mereka melakukan pembunuhan dengannya.
Oleh sebab itu, bahaya obat-obatan tersebut dihindari melalui kehati-hatian dalam peredarannya dan dengan memastikan amanah orang yang menerima serta menyimpannya.
Adapun memusnahkan sesuatu yang manfaatnya lebih kecil daripada mudaratnya tidak termasuk kerusakan, seperti memusnahkan minuman keras. Terlebih lagi, memusnahkan sesuatu yang sama sekali tidak memiliki manfaat, seperti ular, kalajengking, tikus, dan anjing yang berbahaya karena penyakit rabies.
Kerusakan tidak disukai Allah karena kerusakan, berdasarkan penjelasan yang telah kami kemukakan, menyebabkan tidak berfungsinya berbagai hal yang telah Allah ciptakan di alam ini untuk suatu hikmah, yaitu mewujudkan kemaslahatan manusia.
Sesungguhnya Allah Yang Mahabijaksana tidak menyukai terhalangnya fungsi sesuatu yang dikehendaki oleh hikmah-Nya.
Oleh karena itu, memerangi musuh merupakan tindakan menghilangkan mudarat yang lebih dominan. Atas dasar itu, tindakan dalam peperangan dibatasi hanya pada kadar yang diperlukan untuk menghilangkan mudarat tersebut, tanpa melakukan penghancuran yang berlebihan.
Karena alasan inilah, terdapat larangan membakar rumah-rumah dalam peperangan dan menebang pepohonan, kecuali apabila menurut pertimbangan panglima pasukan, membiarkan sesuatu dari hal-hal tersebut akan menambah kekuatan musuh, memperpanjang masa peperangan, dan menimbulkan kekhawatiran bahwa pasukan kaum Muslimin akan mengalami kekalahan.
Keadaan semacam itu kembali kepada kaidah:
“Keadaan darurat harus ditetapkan sesuai dengan kadarnya.”
Artinya, tindakan yang dibolehkan karena keadaan darurat tidak boleh melampaui batas kebutuhan yang benar-benar diperlukan.