Kamis, 08 Oktober 2026

JALAN YANG LURUS


JALAN YANG LURUS: PETUNJUK DI DUNIA DAN KESELAMATAN DI AKHIRAT

Khotib: Syekh Mahir bin Hamad Al-Mu‘aiqili

Unsur-unsur Khutbah

  1. Mendapat petunjuk menuju jalan yang lurus adalah tuntutan terbesar seorang mukmin.
  2. Tauhid dan ittiba‘ adalah dasar istiqamah.
  3. Ilmu dan amal adalah bekal orang-orang yang menempuh perjalanan menuju Allah.
  4. Keteguhan di dunia merupakan sebab keselamatan di atas shirath di akhirat.
  5. Berpegang teguh kepada Allah dan berdoa merupakan sebab memperoleh petunjuk.
  6. Menjaga persatuan dan bertaubat merupakan bagian dari konsekuensi istiqamah.

Kutipan

Barang siapa tersesat dari jalan, ia memohon kepada Allah Ta‘ala agar dikembalikan kepada jalan tersebut. Dan barang siapa telah menempuh jalan itu, ia memohon kepada-Nya agar diteguhkan di atasnya.

Itulah jalan para nabi dan rasul, jalan orang-orang yang sangat benar, para syuhada, dan orang-orang saleh.

Shirath yang lurus adalah agama Islam. Al-Qur’an adalah petunjuknya, sedangkan Nabi ﷺ adalah penjelasnya.


KHUTBAH PERTAMA

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Kitab kepada hamba-Nya, memberikan petunjuk kepada orang-orang beriman menuju jalan petunjuk dan kebenaran, serta menetapkan bagi para hamba-Nya jalan yang lurus. Barang siapa berpegang teguh kepadanya, ia akan mendapatkan petunjuk; dan barang siapa berpaling darinya, ia akan tersesat.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya penciptaan dan perintah, dan kepada-Nya tempat kembali dan kesudahan.

Aku juga bersaksi bahwa junjungan dan nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya. Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi seluruh alam dan sebagai pemberi petunjuk bagi seluruh manusia. Semoga Allah mencurahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepadanya, kepada keluarganya, para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Kiamat.

Amma ba‘du.

Wahai kaum mukminin, aku wasiatkan kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar bertakwa kepada Allah. Barang siapa bertakwa kepada Rabb-nya, niscaya ia selamat. Dan barang siapa mengikuti hawa nafsunya, niscaya ia tersesat.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan bertakwalah pada hari ketika kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak dizalimi.”
(QS. Al-Baqarah: 281)

Wahai umat Islam!

Sesungguhnya Allah Jalla Jalaluhu mengutus Nabi-Nya yang mulia untuk menyeru manusia kepada jalan-Nya yang lurus, memberikan petunjuk kepada jalan-Nya, menjelaskan rambu-rambunya, serta memperingatkan manusia dari berbagai jalan yang memalingkan mereka darinya.

Karena begitu agungnya kedudukan istiqamah di atas jalan ini, Allah Subhanahu wa Ta‘ala memerintahkan kita agar memohon petunjuk menuju jalan tersebut dalam setiap shalat, bahkan dalam setiap rakaat. Kita berkata:

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
(QS. Al-Fatihah: 6)

Maknanya: tunjukilah kami, bimbinglah kami, berilah kami taufik, dan teguhkanlah kami di atas jalan-Mu yang lurus.

Barang siapa tersesat dari jalan tersebut, ia memohon kepada Allah agar dikembalikan kepadanya. Dan barang siapa telah menempuh jalan tersebut, ia memohon kepada-Nya agar diteguhkan di atasnya.

Jalan itu adalah jalan para nabi dan rasul, orang-orang yang sangat benar, para syuhada, dan orang-orang saleh.

Shirath yang lurus adalah agama Islam. Al-Qur’an adalah petunjuknya, sedangkan Nabi ﷺ adalah penjelasnya.

Barang siapa menempuh jalan beliau, berpegang teguh kepada Sunnah beliau, mengikuti petunjuk beliau, dan berjalan di atas metode beliau, maka ia berada di atas jalan yang lurus.

Wahai saudara-saudara seiman!

Seorang hamba tidak akan dapat istiqamah di atas jalan ini kecuali dengan ilmu yang bermanfaat yang memberikan petunjuk kepadanya dan amal saleh yang menyucikan dirinya.

Jalan yang lurus berdiri di atas dua landasan yang agung:

Pertama: mentauhidkan Allah dan mengesakan-Nya dalam ibadah.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.”
(QS. Yasin: 61)

Kedua: mengikuti Nabi ﷺ.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
(QS. Asy-Syura: 52)

Maka barang siapa memalingkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah, atau beribadah kepada Allah dengan cara yang tidak datang dari Rasulullah ﷺ, sungguh ia telah menyimpang dan tersesat dari jalan yang lurus.

Dalam Musnad Imam Ahmad, Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Rasulullah ﷺ membuat satu garis untuk kami, lalu beliau bersabda:

‘Ini adalah jalan Allah.’

Kemudian beliau membuat beberapa garis di sebelah kanan dan kirinya, lalu bersabda:

‘Ini adalah jalan-jalan yang lain. Pada setiap jalan tersebut terdapat setan yang menyeru kepadanya.’

Kemudian beliau ﷺ membaca:

‘Dan bahwa inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan itu; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.’
(QS. Al-An‘am: 153)”

Wahai saudara-saudara seiman!

Sebagaimana Allah mensyariatkan bagi para hamba-Nya di dunia sebuah jalan yang lurus dan tidak bengkok, maka pada Hari Kiamat Dia juga akan memasang shirath di atas Jahannam, yang akan dilewati oleh manusia.

Dalam Shahih Muslim, dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang syafaat pada Hari Kiamat, Nabi ﷺ bersabda:

“Kemudian amanah dan silaturahmi dikirimkan, lalu keduanya berdiri di kedua sisi shirath, di sebelah kanan dan kiri. Kemudian orang pertama di antara kalian melintasinya seperti kilat.”

Abu Hurairah berkata: Aku berkata, “Ayah dan ibuku sebagai tebusan untukmu, bagaimana cepatnya seperti kilat?”

Beliau menjawab:

“Tidakkah kalian melihat bagaimana kilat berlalu dan kembali dalam sekejap mata? Kemudian seperti hembusan angin, kemudian seperti burung, kemudian seperti orang-orang yang berlari dengan cepat. Amal-amal mereka yang membuat mereka berjalan. Dan nabi kalian berdiri di atas shirath sambil berkata: ‘Wahai Rabb-ku, selamatkanlah, selamatkanlah!’ Sampai amal-amal para hamba menjadi lemah, sehingga datang seseorang yang tidak mampu berjalan kecuali dengan merangkak.”

Beliau kemudian bersabda:

“Di kedua sisi shirath terdapat kait-kait yang tergantung, yang diperintahkan untuk mengambil siapa saja yang diperintahkan untuk diambil. Ada yang terluka tetapi selamat, dan ada yang dilemparkan bertumpuk-tumpuk ke dalam neraka.”

Kemudian Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Demi Zat yang jiwa Abu Hurairah berada di tangan-Nya, sesungguhnya dasar Jahannam itu sejauh perjalanan tujuh puluh tahun.”

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak melewatinya. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu ketetapan yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.”
(QS. Maryam: 71–72)

Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya perjalanan manusia di atas shirath, cepat atau lambatnya, sesuai dengan cepat atau lambatnya perjalanan mereka di atas shirath Allah yang lurus di dunia. Orang yang paling lambat di sini akan menjadi orang yang paling lambat di sana. Dan orang yang paling teguh di atas jalan yang lurus di sini akan menjadi orang yang paling teguh di sana.

Barang siapa yang di dunia dicengkeram oleh kait-kait syahwat, syubhat, dan bid‘ah yang menyesatkan, maka di sana ia akan dicengkeram oleh kait-kait yang seperti duri pohon Sa‘dan.”

Wahai saudara-saudara seiman!

Di antara perkara yang membantu seorang hamba memperoleh petunjuk dan mendapatkan taufik untuk tetap teguh di atasnya adalah mengamalkan Sunnah Nabi ﷺ.

Allah Ta‘ala berfirman kepada Nabi-Nya:

“Maka tetaplah engkau istiqamah sebagaimana engkau diperintahkan.”
(QS. Hud: 112)

Jika perintah ini ditujukan kepada Nabi ﷺ, maka hal tersebut menunjukkan bahwa istiqamah bukanlah berdasarkan hawa nafsu dan keinginan seseorang.

Akan tetapi, tolok ukurnya adalah berpegang teguh kepada Al-Kitab dan Sunnah.

Barang siapa berpegang teguh kepada keduanya, Allah Ta‘ala akan memberikan kepadanya taufik menuju petunjuk.

Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab itu dan apakah iman itu, tetapi Kami menjadikannya cahaya yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, yaitu jalan Allah yang milik-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, segala urusan kembali kepada Allah.”
(QS. Asy-Syura: 52–53)

Semoga Allah memberikan keberkahan kepadaku dan kepada kalian melalui Al-Qur’an dan Sunnah, dan memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian dengan ayat-ayat dan hikmah yang terdapat di dalam keduanya.

Aku mengatakan perkataanku ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian. Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.


KHUTBAH KEDUA

Segala puji bagi Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungan wajah-Nya dan kebesaran kekuasaan-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya.

Aku bersaksi bahwa junjungan dan nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya.

Semoga shalawat dan salam dari Rabb-ku senantiasa tercurah kepadanya, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang berjalan di atas jalannya hingga Hari Kiamat.

Amma ba‘du.

Wahai kaum mukminin!

Sesungguhnya mendapatkan petunjuk menuju jalan yang lurus tidaklah dapat diperoleh seorang hamba kecuali dengan taufik dari Zat Yang Mahamulia lagi Maha Penyayang.

Dialah yang memuliakan siapa saja yang Dia kehendaki dengan petunjuk-Nya dan menganugerahkan kepadanya cahaya tauhid dan ibadah.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan sesungguhnya Allah benar-benar memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman menuju jalan yang lurus.”
(QS. Al-Hajj: 54)

Barang siapa yang Allah kehendaki untuk mendapatkan petunjuk, niscaya Dia memberinya petunjuk.

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:

“Barang siapa yang Allah kehendaki untuk disesatkan-Nya, niscaya Dia menyesatkannya; dan barang siapa yang Dia kehendaki, niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.”
(QS. Al-An‘am: 39)

Oleh karena itu, wahai kaum mukminin, di antara sebab terbesar untuk memperoleh dan merealisasikan petunjuk adalah memohon pertolongan dan berpegang teguh kepada Pemilik petunjuk tersebut.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan barang siapa berpegang teguh kepada Allah, sungguh dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
(QS. Ali ‘Imran: 101)

Maka berdoa kepada Allah agar diberi petunjuk menuju jalan yang lurus merupakan salah satu doa yang paling lengkap, paling bermanfaat, paling agung, dan paling mulia.

Dalam hadis qudsi, Nabi ﷺ bersabda bahwa Allah Ta‘ala berfirman:

“Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Setengahnya untuk-Ku dan setengahnya untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.”

Dalam hadis tersebut disebutkan:

“Apabila dia berkata: ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat,’ Allah berfirman: ‘Ini untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.’”

(HR. Muslim)

Wahai saudara-saudara seiman!

Barang siapa merenungkan firman Allah:

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
(QS. Al-Fatihah: 6)

ia akan memahami bahwa mendapatkan petunjuk menuju jalan yang lurus bukanlah suatu tingkatan yang apabila telah dicapai seorang hamba, kemudian ia tidak lagi membutuhkannya.

Akan tetapi, seorang hamba senantiasa membutuhkan agar diteguhkan di atas petunjuk yang telah diperolehnya.

Karena itu Nabi ﷺ banyak memohon kepada Allah agar diberikan petunjuk, padahal beliau adalah manusia yang paling mendapatkan petunjuk dan manusia yang paling sempurna.

Dalam Shahih Muslim, Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya:

“Dengan doa apa Nabi Allah ﷺ memulai shalatnya apabila beliau bangun untuk shalat malam?”

Aisyah menjawab:

“Apabila beliau bangun pada malam hari, beliau memulai shalatnya dengan membaca:

‘Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail, dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Mengetahui perkara yang gaib dan yang nyata. Engkau yang memutuskan perkara di antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang mereka perselisihkan. Berilah aku petunjuk kepada kebenaran dalam perkara yang diperselisihkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus.’”

Di antara keindahan yang terdapat dalam firman Allah:

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
(QS. Al-Fatihah: 6)

adalah bahwa doa tersebut menggunakan bentuk jamak, bukan bentuk tunggal.

Hal ini mengandung pendidikan tentang makna kebersamaan dan persatuan.

Seorang mukmin memohon kepada Allah agar diberikan petunjuk untuk dirinya sendiri sekaligus untuk saudara-saudaranya.

Agama Allah menyatukan, sedangkan hawa nafsu dan bid‘ah memecah-belah.

Maka di antara konsekuensi berpegang teguh kepada jalan yang lurus adalah berpegang teguh kepada jamaah kaum muslimin dan menjauhi sebab-sebab perpecahan dan fitnah.

Allah Jalla Jalaluhu, setelah memerintahkan untuk mengikuti jalan-Nya, berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.”
(QS. Al-An‘am: 153)

Perpecahan merupakan salah satu dampak dari jalan-jalan yang menyimpang, sedangkan persatuan merupakan salah satu dampak dari jalan yang lurus.

Karena itu, manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah dibangun di atas:

  • berpegang teguh kepada Al-Kitab dan Sunnah,
  • menyatukan kalimat,
  • menaati pemimpin kaum muslimin,
  • serta mewaspadai jalan-jalan berlebihan dalam agama.

Kerajaan Arab Saudi, dengan karunia Allah Ta‘ala, dibangun di atas Al-Kitab dan Sunnah serta persatuan.

Semua itu merupakan nikmat yang wajib disyukuri dan hendaknya kita berdoa agar nikmat tersebut senantiasa terjaga.

Sesungguhnya “jamaah adalah rahmat, sedangkan perpecahan adalah azab.”

Wahai saudara-saudara!

Di antara rahmat Allah Ta‘ala kepada para hamba-Nya adalah bahwa istiqamah di atas jalan yang lurus tidak berarti seseorang terbebas dari kesalahan dan kekeliruan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah mereka yang banyak bertaubat.”

Barang siapa melakukan kekurangan, hendaknya ia segera memperbaikinya.

Barang siapa menzalimi seseorang, hendaknya ia mengembalikan hak orang tersebut.

Dan barang siapa dirinya dikuasai oleh hawa nafsu sehingga terjatuh ke dalam dosa, hendaknya ia segera bertaubat darinya.

Allah Jalla Jalaluhu berfirman:

“Maka tetaplah istiqamah kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.”
(QS. Fussilat: 6)

Orang yang mendapatkan taufik adalah orang yang mau merenung dan mengambil pelajaran, kemudian beristiqamah dan memohon ampun, serta mempersiapkan diri untuk menghadapi Hari Mahsyar.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Dan Allah menyeru manusia ke Darussalam (surga), dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”
(QS. Yunus: 25)

Wahai Zat Yang membolak-balikkan hati!

Teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad, kepada istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada keluarga Ibrahim.

Dan limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad, kepada istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim.

Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Ya Allah, ridhailah para khalifah yang mendapatkan petunjuk: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali; juga seluruh sahabat, para tabi'in, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Kiamat.

Dan ridhailah kami bersama mereka dengan ampunan, kemurahan, dan kedermawanan-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin.

Jadikanlah negeri ini aman, tenteram, makmur, dan penuh kesejahteraan, demikian pula seluruh negeri kaum muslimin.

Ya Allah, berikanlah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami.

Berikanlah taufik kepada para imam dan pemimpin kami.

Teguhkanlah pemimpin kami dan wali urusan kami di atas kebenaran.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami, Pelayan Dua Tanah Suci, kepada apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai.

Berikanlah taufik kepadanya dan kepada putra mahkotanya yang terpercaya menuju segala sesuatu yang mengandung kemuliaan Islam, kebaikan kaum muslimin, serta kemaslahatan negeri dan para hamba.

Ya Allah, balaslah mereka dengan kebaikan atas apa yang telah mereka berikan dalam pelayanan terhadap Dua Tanah Suci.

Balaslah mereka atas jasa mereka kepada Islam dan kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan.

Ya Allah, jagalah agama kami, kepemimpinan kami, dan keamanan kami.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada para petugas keamanan kami dan mereka yang berjaga di perbatasan serta benteng-benteng negeri kami.

Menangkanlah mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka, wahai Zat Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.

Ya Allah, lepaskanlah kesusahan saudara-saudara kami di Palestina.

Jadilah penolong, pembela, pendukung, dan penguat bagi mereka.

Ya Allah, jagalah Masjid Al-Aqsha dari kezaliman orang-orang zalim dan agresi para penjajah.

Jadikanlah ia tetap tinggi, mulia, dan terhormat hingga Hari Kiamat.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian diri, dan kecukupan.

Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
(QS. Al-Baqarah: 201)

“Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Yang memiliki keperkasaan, dari apa yang mereka sifatkan. Dan salam sejahtera atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”


Rabu, 07 Oktober 2026

MINTALAH KEPADA ALLAH AMPUNAN DAN KESELAMATAN



MINTALAH KEPADA ALLAH KESELAMATAN DAN KESEJAHTERAAN 



Khutbah Masjidil Haram, 6/3/1434 H — Syaikh Saud asy-Syuraim



Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah, Pemilik kemuliaan dan keagungan, Yang mengampuni dosa dan menerima taubat, Yang keras hukuman-Nya, Yang menganugerahkan setiap keuntungan dan karunia, serta Yang menyingkap setiap kesulitan dan kesempitan. 

Aku memuji-Nya—Mahasuci Dia—atas nikmat-nikmat-Nya yang melimpah, kemurahan-Nya yang luas, dan karunia-karunia-Nya yang agung.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, sejak awal hingga akhir, yang lahir maupun yang batin. 

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. 
Dia mengutusnya kepada dua golongan yang dibebani syariat, yaitu manusia dan jin, sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, serta sebagai penyeru kepada Allah dengan izin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi.

Semoga Allah mencurahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, kepada keluarga beliau yang baik dan suci, kepada para sahabat, para tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Amma ba'du...

Aku berwasiat kepada kalian, wahai manusia, dan kepada diriku sendiri agar bertakwa kepada Allah—Mahasuci Dia. Sesungguhnya kalian di dunia ini hanyalah orang-orang yang diperintah dan dibebani kewajiban. 

Berbagai musibah menimpa kalian, kematian mencabut kalian, dan berbagai nikmat datang silih berganti kepada kalian.

Kalian tidak memperoleh suatu nikmat kecuali dengan berpisah dengan nikmat yang lain.

Tidaklah bagi kalian suatu jejak kehidupan menjadi hidup kecuali jejak yang lain telah mati. 

Tidaklah sesuatu yang baru bagi kalian muncul kecuali sesuatu yang baru lainnya menjadi usang.

Generasi-generasi terdahulu telah berlalu dan kita adalah cabang dari mereka. 

Maka, bagaimana mungkin cabang akan tetap ada setelah pokoknya telah tiada?

Allah berfirman:
“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang sementara.”
(QS. Ar-Ra'd: 26)

Wahai manusia,..

Sesungguhnya seluruh manusia pada umumnya hidup dalam kesungguhan dan kerja keras. Allah telah menciptakan mereka dalam keadaan penuh perjuangan dan kesusahan.

Nabi ﷺ bersabda:
“Setiap manusia berangkat pada pagi hari; maka ada yang menjual dirinya lalu membebaskannya, dan ada pula yang menjual dirinya lalu membinasakannya.”

Manusia berada di antara orang yang bekerja keras dapat menikmati hasilnya dan orang yang lain merasakan penderitaan.

 Mereka terkadang menjadi lemah karena berbagai kesulitan hingga mencapai keadaan hina, dan terkadang mereka bergembira dengan berbagai kenikmatan hingga mencapai batas kesombongan dan kedurhakaan.

Orang yang cerdas di antara mereka adalah orang yang tidak menyimpang dan tidak melampaui batas, serta tetap teguh dan kokoh dalam kedua keadaan tersebut.

Ia mendorong dirinya untuk berdiri di pintu Pencipta dan Tuannya, memohon kepada-Nya ampunan dan 'afiyah—keselamatan, kesehatan, dan perlindungan—dalam agama, dunia, keluarga, dan hartanya.

Sebab, mendahulukan keselamatan merupakan fitrah yang Allah tanamkan dalam jiwa manusia. 

Tidak ada orang yang menyukai bala dan penyakit kecuali orang yang rusak tabiatnya atau hatinya telah tertutup.

Sesungguhnya tidak ada yang mengetahui nilai 'afiyah kecuali orang yang telah kehilangan 'afiyah tersebut, baik dalam agamanya maupun dunianya.

'Afiyah, apabila terus berlangsung, sering kali tidak disadari nilainya. 
Namun ketika ia hilang, barulah nilainya diketahui.

Pakaian 'afiyah merupakan salah satu pakaian terindah bagi kehidupan dunia dan agama. 

Dengan keduanya, kehidupan dunia menjadi nikmat dan kesudahan di akhirat menjadi baik.

Oleh karena itu, Nabi ﷺ memberikan arahan kepada umatnya sebagai bentuk kasih sayang dan perhatian kepada mereka. 

Beliau bersabda:
“Mintalah kepada Allah ampunan dan 'afiyah, karena tidak ada seseorang yang diberikan sesuatu setelah keyakinan yang lebih baik daripada 'afiyah.”
(HR. Ahmad)

Nabi ﷺ tidak hanya mengatakan hal tersebut kepada umatnya, tetapi beliau juga berulang kali mempraktikkannya, agar umatnya benar-benar merasakan nilai nikmat yang agung ini.

Beliau ﷺ berdoa:
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu 'afiyah di dunia dan akhirat. 
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan 'afiyah dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku...”
(HR. Abu Dawud dan selainnya)

Ibnu al-Jazari—rahimahullah—berkata:
“Barang siapa diberikan 'afiyah, maka ia telah memperoleh apa yang diharapkan dan dicintai oleh hatinya, baik secara lahir maupun batin, dalam agama maupun dunia, serta dilindungi dari apa yang ia khawatirkan di kedua negeri.”

Wahai hamba-hamba Allah,
'Afiyah adalah nilai yang bersifat menyeluruh dan tidak dapat dipilah-pilah serta tidak boleh dipandang secara relatif.

 Oleh karena itu, orang yang membatasi 'afiyah hanya pada kesehatan tubuh semata adalah keliru.

Barang siapa hanya meminta keselamatan tubuh tanpa keselamatan agama, maka ia telah berlebihan dalam berpaling dan menyimpang dari jalan yang benar.

Sebaliknya, barang siapa hanya meminta keselamatan dalam agama tanpa keselamatan tubuh, maka ia telah menzalimi dirinya sendiri. 

Bahkan mungkin ia akan melemahkan agamanya karena lemahnya kesehatan dan keselamatan fisiknya.

Padahal Nabi ﷺ bersabda:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.”

Orang yang berbahagia—sebagaimana dikatakan Ibnu al-Jauzi rahimahullah—adalah orang yang merendahkan diri kepada Allah dan meminta 'afiyah kepada-Nya.

Sebab, tidak mungkin seseorang mendapatkan 'afiyah secara mutlak; pasti ada ujian dan cobaan. 

Orang yang berakal senantiasa memohon kepada Allah 'afiyah agar ia dapat mengatasi sebagian besar keadaan yang dihadapinya.

Abu Bakr radhiyallahu 'anhu berkata:
“Orang yang diberi 'afiyah kemudian bersyukur lebih aku sukai daripada orang yang diuji kemudian bersabar.”

Wahai hamba-hamba Allah,..

Setiap orang yang memiliki pandangan dan ketajaman hati dapat melihat betapa besar perhatian manusia secara umum terhadap kesehatan tubuh.

Mereka mencurahkan waktu, tenaga, perhatian, dan doa untuk memperoleh nikmat kesehatan tersebut. 

Namun pada saat yang sama, mereka sering lalai terhadap nilai 'afiyah dalam agama dan keselamatan agama dari berbagai penyakit serta fitnah.

Padahal fitnah yang menimpa agama dapat melemahkan individu-individu yang pada akhirnya merupakan kumpulan dari suatu masyarakat.

Apabila seseorang lalai dalam memperoleh keselamatan bagi agamanya, berarti ia telah membuka pintu kehancuran dan kesesatan bagi dirinya.

Kehancuran dan kerugian akan semakin besar ketika seseorang terang-terangan menampakkan kemaksiatan yang telah menimpanya. 

Allah telah menutupinya, tetapi ia sendiri justru membuka dan mempermalukan dirinya.

Rasulullah ﷺ telah bersabda:
“Seluruh umatku mendapatkan keselamatan kecuali orang-orang yang menampakkan kemaksiatannya.”

Berkurangnya 'afiyah dalam agama terjadi karena penyimpangan dari syariat Allah. 

Hal itu dapat terjadi karena dua hal:
Pertama, dominasi syahwat hewani, yang mengembalikan seseorang kepada derajat yang sangat rendah sehingga ia menenggelamkan dirinya dalam berbagai syahwat seperti hewan-hewan yang kehausan.

Kedua, dominasi syubhat dalam agama, yang menyimpangkan seseorang hingga ia berada di barisan orang-orang yang duduk di setiap jalan untuk mengancam, menghalangi manusia dari jalan Allah, dan menghendaki agar jalan Allah menjadi bengkok.

Nabi ﷺ telah memperingatkan kita dari berbagai hal yang merusak 'afiyah dalam agama. Beliau bersabda:
“Akan terjadi berbagai fitnah. Orang yang duduk ketika itu lebih baik daripada orang yang berdiri; orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan; dan orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari. 
Barang siapa menampakkan diri untuk menghadapi fitnah tersebut, niscaya fitnah itu akan menjerumuskannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Di antara doa yang diajarkan Nabi ﷺ kepada al-Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhuma untuk dibaca dalam doa dan qunut adalah:
“Ya Allah, berilah aku petunjuk bersama orang-orang yang Engkau beri petunjuk, berilah aku 'afiyah bersama orang-orang yang Engkau beri 'afiyah...”
(HR. Ahmad dan para penyusun kitab Sunan)

Wahai hamba-hamba Allah,..

Di antara bentuk kehilangan 'afiyah dalam agama yang paling besar adalah ketika seseorang menjadi perusak, bukan pembangun; menjadi orang yang suka mengejek, bukan orang yang serius; menjadi alat penghancur bagi masyarakatnya, bukan orang yang bekerja membangun bangunan masyarakatnya.

Ia tidak ditemukan kecuali di tempat-tempat yang penuh ejekan, atau dalam upaya membuat sesuatu yang mencederai agama dan fitrah yang Allah ciptakan pada manusia.

Dengan demikian, ia memikul dosanya sendiri dan dosa orang-orang yang mengikuti sunnah buruk yang ia buat hingga hari kiamat.

Dalam Sunnah terdapat dalil yang menunjukkan bahwa seseorang akan dibebani akibat dari peristiwa yang ia sebabkan. 

Ia menanggung dosanya hingga hari kiamat karena kerusakan yang ia timbulkan kepada orang lain dengan menyimpangkan mereka dari manhaj dan syariat Allah.

Di antaranya sabda Nabi ﷺ:
“Tidaklah suatu jiwa dibunuh secara zalim kecuali anak Adam yang pertama mendapatkan bagian dari dosa pembunuhan tersebut, karena dialah orang pertama yang mencontohkan pembunuhan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah merahmati Imam Malik ketika beliau berwasiat kepada salah seorang muridnya:
“Janganlah engkau meletakkan manusia di atas punggungmu.”

Maksudnya: jangan engkau memikul dosa mereka karena berbagai perkara yang mereka ada-adakan.

Dan beliau juga berkata:
“Apa pun yang engkau hanya bermain-main dengannya, maka janganlah engkau bermain-main dengan agamamu.”

Benar, wahai hamba-hamba Allah...

Hendaknya setiap orang yang meletakkan batu bata fitnah atau kerusakan dalam agama maupun akhlak berhati-hati.

 Mereka akan memikul dosa-dosa mereka secara sempurna pada hari kiamat, serta memikul sebagian dosa orang-orang yang mereka sesatkan tanpa ilmu.

Hendaknya setiap orang yang tertipu oleh hiasan kebatilan, serta oleh berbagai ornamen fitnah dan godaan, berhati-hati.

Kebenaran tetap terang meskipun tirai-tirai diturunkan untuk menutupinya.

Sedangkan kebatilan tetap lemah dan kacau. 

Ia hanyalah seperti fatamorgana di tanah datar yang menggoda tetapi tidak memberikan kepuasan.

Seandainya setiap orang yang berjalan memperhatikan apa yang berada di bawah kedua kakinya, niscaya ia tidak akan menginjak duri dan tidak akan terjatuh ke dalam lubang.

Waspadalah—semoga engkau dilindungi—karena di bawah kakimu ada sebuah lubang.

Betapa banyak manusia telah jatuh ke dalamnya.

Barang siapa diberikan 'afiyah, hendaknya ia memuji Allah.

Barang siapa belum tergelincir, hendaknya ia bersyukur. 

Dan barang siapa meminta keselamatan, sesungguhnya keselamatan itu merupakan benteng bagi seseorang dalam menghadapi berbagai perubahan dan keadaan yang dahsyat.

Tidak ada seorang manusia pun—betapapun tinggi cita-citanya—yang diberikan setelah keyakinan sesuatu yang lebih baik daripada 'afiyah.

Semoga Allah memberkahi kita dan kalian dengan Al-Qur'an yang agung, memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.

Apa yang aku sampaikan ini benar, maka itu berasal dari Allah. 

Jika terdapat kesalahan, maka itu berasal dari diriku sendiri dan setan. 
Aku memohon ampun kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.



Khutbah Kedua


Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan-Nya. Syukur kepada-Nya atas taufik dan karunia-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sebagai pengagungan terhadap kedudukan-Nya.

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang menyeru kepada keridhaan-Nya.

Amma ba'du...

Ketahuilah—semoga Allah menjaga kalian—bahwa mengutamakan keselamatan dan 'afiyah dalam agama bukan berarti seseorang rela hidup bermalas-malasan dan meninggalkan berbagai kebaikan atau kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan.

Mengutamakan keselamatan dan 'afiyah adalah dalam situasi fitnah, riya, dan ketika dua perkara sama-sama tampak sehingga kebenaran bercampur dengan kebatilan dan menjadi sulit dibedakan.

Dalam keadaan seperti itu, seseorang meninggalkan perkara yang meragukannya menuju perkara yang tidak meragukannya.

Barang siapa menjaga diri dari perkara-perkara syubhat, berarti ia telah menjaga agama dan kehormatannya.

Dan barang siapa terjatuh ke dalam perkara-perkara syubhat, maka ia akan terjatuh ke dalam perkara haram.

Imam Ahmad—rahimahullah—pernah berkata:
“Sungguh aku meninggalkan sesuatu yang sebenarnya tidak mengapa, karena khawatir terjatuh ke dalam sesuatu yang mengandung dosa.”

Al-Qadhi al-Jurjani—rahimahullah—telah memberikan ungkapan yang sangat indah ketika menggambarkan nilai 'afiyah di tengah berbagai persoalan yang ia keluhkan pada zamannya:

Aku tidak mengorbankan jiwaku dalam melayani ilmu
agar aku melayani orang yang kutemui, tetapi agar aku dilayani.

Aku tidak menunaikan hak ilmu jika setiap kali
muncul suatu keinginan, aku menjadikannya sebagai tangga untuk meraihnya.

Apabila dikatakan, “Ini adalah sumber air,” aku menjawab, “Aku memang melihatnya,”
tetapi jiwa orang merdeka sanggup menanggung rasa haus.

Aku menahan diriku dari sebagian perkara yang sebenarnya tidak mencemarkannya,
karena takut terhadap perkataan orang-orang yang mencela: karena apa dan untuk apa.


Oleh karena itu, termasuk bagian dari keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam menghadapi berbagai fitnah dan perkara besar yang gelap adalah bahwa keselamatan tidak ada sesuatu pun yang menyamainya.

Menjauh dan tidak ikut serta lebih selamat, kecuali apabila kebenaran telah jelas bagi mereka berdasarkan dalil-dalil syariat yang terang, tegas, dan sahih.

Apabila kebenaran telah jelas, mereka membelanya dan mendukungnya tanpa keraguan.

Sebagian ulama menyebutkan dalam kisah Ashhabul Kahfi, berdasarkan perkataan sebagian ahli tafsir:
“Dalam kisah ini terdapat dalil bahwa orang yang melarikan diri demi menyelamatkan agamanya dari berbagai fitnah, Allah akan menyelamatkannya dari fitnah tersebut. 

Barang siapa menginginkan keselamatan, Allah akan memberinya keselamatan.

 Barang siapa berlindung kepada Allah, Allah akan melindunginya.

 Hal itu terutama terjadi ketika fitnah telah mencapai puncak kekuatannya.”

Di antara perkara yang harus diwaspadai adalah pemahaman yang keliru dari sebagian orang yang memilih untuk tidak bertindak.

 Mereka memahami makna 'afiyah secara tidak tepat.

Mereka berdalil dengan firman Allah:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu. 
Orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk.”
(QS. Al-Ma'idah: 105)

Mereka mengira bahwa ayat ini berarti meninggalkan amar makruf nahi mungkar, tidak berusaha memperbaiki manusia, dan tidak menjelaskan kebenaran ketika terjadi fitnah.

Ini bukan maksud Allah dalam ayat tersebut, sebagaimana telah dijelaskan oleh Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu.

Maknanya adalah bahwa kesesatan orang lain tidak akan membahayakan seseorang apabila ia sendiri telah mendapatkan petunjuk dan telah melaksanakan apa yang Allah wajibkan terhadap dirinya berkaitan dengan orang lain, yaitu menunjukkan mereka kepada kebenaran dan memperingatkan mereka dari kebatilan.
Sebab, hidayah berada di tangan Allah.
Kewajiban manusia hanyalah menyampaikan.
Dan Allah-lah yang memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus.

Shalawat dan Doa
Semoga Allah merahmati kalian.

Bershalawatlah kepada manusia terbaik dan manusia paling suci, yaitu Muhammad bin Abdullah, pemilik telaga dan syafaat.

Allah telah memerintahkan kalian dengan suatu perintah yang Dia mulai dengan menyebut diri-Nya sendiri, kemudian menyebut para malaikat-Nya yang bertasbih menyucikan-Nya, kemudian memerintahkan kalian—wahai kaum mukminin.

Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab: 56)

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam, tambahkanlah keberkahan kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad.

Ya Allah, ridhailah keempat khalifah beliau: Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali.

Ridhailah seluruh sahabat Nabi-Mu Muhammad ﷺ, para tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. 

Dan jadikanlah kami bersama mereka dengan ampunan, kemurahan, dan karunia-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik.

Ya Allah, tolonglah agama-Mu, kitab-Mu, Sunnah Nabi-Mu, dan hamba-hamba-Mu yang beriman.

Ya Allah, hilangkanlah kesedihan orang-orang Muslim yang sedang bersedih.

Lapangkanlah kesusahan orang-orang yang sedang mengalami kesulitan.

Lunasilah utang orang-orang yang terlilit utang.

Sembuhkanlah orang-orang sakit di antara kami dan orang-orang sakit dari kaum Muslimin dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu ampunan dan 'afiyah.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ampunan dan 'afiyah dalam agama kami, harta kami, dan keluarga kami, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan, wahai Yang Mahahidup dan Yang terus-menerus mengurus makhluk.

Ya Allah, berikanlah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami.

Perbaikilah para pemimpin dan penguasa kami.

Jadikanlah kepemimpinan kami berada di tangan orang-orang yang takut kepada-Mu, bertakwa kepada-Mu, dan mengikuti keridhaan-Mu, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, berilah taufik kepada pemimpin kami untuk melakukan apa yang Engkau cintai dan ridhai, berupa perkataan dan perbuatan, wahai Yang Mahahidup dan Yang terus-menerus mengurus makhluk.

Ya Allah, perbaikilah orang-orang yang menjadi pendamping dan penasihatnya, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.

Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas dalam agama mereka di seluruh penjuru dunia.

Ya Allah, tolonglah mereka di mana pun mereka berada.

Ya Allah, tolonglah mereka menghadapi orang-orang yang menzalimi dan menelantarkan mereka.

Ya Allah, tolonglah mereka menghadapi musuh-Mu dan musuh mereka.

Ya Allah, jadikanlah urusan musuh mereka berada di tempat yang rendah, dan jadikanlah perkaranya membawa kebinasaan baginya.
Ya Allah, segerakanlah kemenangan dan jalan keluar bagi mereka, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.

Ya Allah, Engkaulah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau.

Engkaulah Yang Mahakaya sedangkan kami adalah orang-orang yang fakir.

Turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.

Ya Allah, sesungguhnya kami adalah makhluk di antara makhluk-makhluk-Mu. 
Maka janganlah dosa-dosa kami menghalangi karunia-Mu dari kami, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.

Allah berfirman:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
(QS. Al-Baqarah: 201)

Mahasuci Rabb kami, Rabb Yang memiliki keperkasaan, dari apa yang mereka sifatkan.

Semoga keselamatan tercurah kepada para rasul.

Dan penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.

Sabtu, 03 Oktober 2026

KECAKAPAN DAN KESADARAN DALAM BERSIKAP


KECAKAPAN BERSIKAP DAN KESADARAN


Oleh fadhilah Syaikh Suud As Syuraim Hafidhohullah Ta'ala 

Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada hamba-hamba-Nya agama-Nya yang lurus dan syariat-Nya, serta memberikan petunjuk kepada mereka untuk mengikuti pemimpin para rasul dan berpegang teguh kepada sunnahnya. Dia telah melimpahkan kepada mereka karunia-Nya yang luas dan rahmat-Nya yang agung.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya seruan kebenaran. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Malam bertasbih kepada-Nya ketika mulai gelap, dan pagi bertasbih ketika mulai terbit dan bernapas.

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, pemimpin para rasul dan pembawa panji orang-orang yang wajah dan anggota wudhunya bercahaya. Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, memberikan nasihat kepada umat, dan berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, kepada keluarga beliau yang baik dan suci, kepada istri-istri beliau yang merupakan ibu kaum mukminin, kepada para sahabat dan tabi'in, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Semoga Allah memberikan salam yang sebanyak-banyaknya.

Amma ba'du.

Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan dan berpegang teguhlah kepada Islam dengan tali yang paling kuat. Ketahuilah bahwa sebaik-baik perkataan adalah Kalam Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ, seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan, setiap perkara yang diada-adakan adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah kesesatan.

Berpeganglah kepada jamaah kaum muslimin, karena tangan Allah bersama jamaah. Barang siapa menyelisihi mereka, maka ia telah menyelisihi jalan keselamatan dan akan mendapatkan akibat yang buruk.

Allah Ta'ala berfirman:

“Barang siapa menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dipilihnya itu dan Kami akan memasukkannya ke dalam Jahanam. Dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.”
(QS. An-Nisa: 115)

Wahai hamba-hamba Allah,

Orang yang sukses dan mendapatkan taufik adalah orang yang beriman kepada Rabb-nya Yang Mahatinggi dan Mahamulia, membenarkan Rasul-Nya ﷺ, menjadikan Islam sebagai pemimpin dan petunjuknya untuk melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan.

Ia menjadikan perasaan keislaman yang sempurna ini sebagai standar untuk membedakan antara yang buruk dan yang baik, antara sesuatu yang indah dan sesuatu yang tercela.

Ia memiliki kebijaksanaan, ketenangan, dan kemampuan merenung yang dengannya ia berusaha menghindari keburukan sebelum keburukan itu terjadi—dengan karunia Allah—atau berusaha menghilangkannya setelah keburukan itu terjadi. Dalam kedua keadaan tersebut, ia tidak membiarkan dirinya terjerumus sepenuhnya ke dalam keburukan itu.

Jika kita merenungkan rahasia yang tersembunyi di balik kecakapan bersikap seperti ini, niscaya kita akan menemukan sebuah sifat penting yang melekat pada seorang mukmin seperti ini. Ia merupakan salah satu dari sedikit orang yang menikmati sifat tersebut, sementara banyak orang kehilangan sifat itu.

Sifat tersebut adalah “kesadaran” (al-wa'yu).

Ya, kesadaran, yang tampak dalam keselamatan dan ketepatan dalam memahami sesuatu, serta menjauhkan pemahaman tersebut dari berbagai pengaruh yang dapat menghilangkan logika dan menjauhkan seseorang dari kenyataan.

Dengan kesadaran, seseorang dapat membaca apa yang tersirat di balik baris-baris tulisan dan menempatkan titik pada huruf-hurufnya; karena kesadaran merupakan sesuatu yang lebih tinggi daripada sekadar mendengar dan melihat.

Tidak setiap orang yang melihat memahami apa yang dilihatnya, dan tidak setiap orang yang mendengar memahami apa yang didengarnya.

Allah Ta'ala berfirman:

“Agar Kami menjadikannya sebagai peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar.”
(QS. Al-Haqqah: 12)

Wahai hamba-hamba Allah,

Kesadaran merupakan tingkatan yang lebih tinggi daripada sekadar kemampuan inderawi untuk mendengar dan melihat.

Karena itu Nabi ﷺ bersabda:

“Semoga Allah memberikan cahaya dan keindahan kepada seseorang yang mendengar perkataanku lalu memahaminya dengan baik.”
(HR. At-Tirmidzi dan selainnya)

Sesungguhnya seorang muslim sangat membutuhkan untuk mengoptimalkan sisi kesadaran dalam dirinya, terutama pada zaman ketika penipuan semakin banyak dan berbagai bentuk manipulasi serta penyamaran kebenaran semakin tersebar di tengah masyarakat, baik dalam perkara agama maupun perkara dunia.

Wahai hamba-hamba Allah,

Kesadaran adalah senjata yang kokoh yang—setelah pertolongan Allah—melindungimu agar tidak menjadi korban penipuan, tipu daya, kelalaian, atau terseret kepada akibat buruk yang tidak akan engkau sukai karena kelalaianmu.

Kesadaran juga melindungimu agar tidak tersandung dalam perkara yang sama berkali-kali karena hilangnya kesadaran dalam dirimu.

Orang mukmin yang sadar akan terlindungi—dengan izin Allah—dari berbagai kesalahan semacam itu, karena Nabi ﷺ bersabda:

“Seorang mukmin tidak akan disengat dari satu lubang dua kali.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Wahai hamba-hamba Allah,

Kesadaran lebih dalam daripada sekadar gambaran lahiriah suatu perkara. Sebab, gambaran lahiriah terkadang telah terkena unsur pemalsuan, penghiasan yang menipu, atau pencampuran antara kebenaran dan kebatilan.

Hal itu dapat menyebabkan seseorang salah dalam menilai suatu perkara dan akhirnya salah pula dalam memperlakukannya setelah penilaian yang keliru tersebut.

Karena itu, kesadaran merupakan sebab yang lebih kuat dalam menemukan kebenaran daripada sekadar berpegang pada gambaran lahiriah yang tampak, tetapi ternyata telah dipalsukan.

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan bahwa dua orang wanita datang kepada Nabi Sulaiman عليه السلام. Keduanya berselisih mengenai seorang anak yang berada bersama mereka. Masing-masing mengaku bahwa anak itu adalah anaknya.

Sulaiman عليه السلام berkata:

“Bawakan kepadaku pisau, aku akan membelah anak ini di antara mereka berdua.”

Mendengar hal itu, wanita yang lebih muda berkata:

“Jangan lakukan itu, semoga Allah merahmatimu. Anak itu adalah anaknya”—yakni anak wanita yang lebih tua.

Maka Sulaiman عليه السلام memutuskan anak itu menjadi milik wanita yang lebih muda.

Artinya, beliau memutuskan anak itu menjadi milik wanita yang menolak agar anak tersebut dibelah dengan pisau, meskipun wanita itu secara lahiriah mengakui bahwa anak tersebut adalah anak wanita yang lebih tua.

Namun Sulaiman عليه السلام memahami hakikat perkara dan tidak berpegang pada pengakuan lahiriah tersebut.

Sebagaimana dikatakan, tindakan itu merupakan “pemimpin segala bukti”, karena seandainya anak itu benar-benar anak wanita yang lebih tua, tentu wanita tersebut tidak akan rela anaknya dibelah menjadi dua.

Wahai hamba-hamba Allah,

Kesadaran bukanlah istilah filsafat dan bukan pula kemewahan intelektual. Sama sekali tidak.

Kesadaran adalah kemampuan memahami yang terkadang diperoleh seseorang secara alami dan terkadang diperoleh melalui proses belajar, pengalaman, dan latihan.

Kesadaran merupakan sifat yang mendukung ilmu sekaligus menyempurnakannya. Dengan kesadaran, seseorang dapat sampai kepada hakikat kebenaran dan memahami berbagai hal yang terjadi di sekelilingnya, meskipun berbagai peristiwa tersebut telah mengalami sedikit perubahan atau penyimpangan dalam penyampaiannya.

Dengan kesadaran, seseorang mengetahui kapan harus membenarkan suatu perkara dan kapan harus mendustakannya.

Dengan kesadaran, seseorang mengetahui kapan berbicara merupakan kebaikan baginya dan kapan diam lebih baik baginya.

Dengan kesadaran, seseorang mengetahui siapa yang benar-benar membutuhkan pertolongannya dan siapa yang justru sedang memanfaatkannya.

Dengan kesadaran pula—wahai hamba-hamba Allah—seseorang dapat memahami berbagai persoalan dan mengumpulkan bagian-bagiannya yang tercerai-berai sehingga penilaiannya terhadap suatu perkara didasarkan pada pemahaman yang benar terhadap hakikat perkara tersebut.

Karena itu, janganlah seseorang tergesa-gesa memberikan penilaian hanya karena seseorang kehilangan salah satu matanya sebelum mendengar keterangan dari pihak yang lain; sebab bisa jadi ternyata kedua mata orang yang lain itu juga telah dicungkil.

Sungguh indah perkataan seseorang:

“Andaikan aku mengatakan: ‘Pagi ini adalah malam,’ apakah orang-orang berilmu akan menjadi buta terhadap cahaya?”

Wahai hamba-hamba Allah,

Kesadaran bukan berarti berprasangka buruk, bukan pula memaksakan diri untuk mencari sesuatu yang berada di balik kenyataan, dan bukan meramal perkara gaib.

Akan tetapi, kesadaran adalah kecerdikan dan ketajaman pemahaman yang lahir dari meneliti berbagai perkara, mengetahui keadaan manusia, memiliki pengetahuan yang luas mengenai berbagai peristiwa, serta memandang secara cermat tanpa tertipu oleh kemewahan penampilan ataupun godaan yang memikat.

Pada hakikatnya, kesadaran merupakan senjata yang terkadang engkau butuhkan untuk menyerang dan terkadang engkau butuhkan untuk mempertahankan diri.

Hal yang paling sering menjadikan seseorang menjadi korban tipu daya dan penipuan adalah sedikitnya kesadaran atau bahkan tidak adanya kesadaran sama sekali.

Semoga Allah merahmati Al-Faruq, Umar رضي الله عنه, ketika beliau berkata:

“Aku bukanlah orang yang suka menipu, dan orang yang suka menipu tidak akan mampu menipuku.”

Dikatakan pula:

“Apabila kesadaran seseorang berkurang pada suatu hari,
niscaya ia akan tersesat dari kebenaran yang nyata dan menjadi lalai.
Adapun orang yang memiliki kesadaran yang lurus,
ia dapat melihat melalui kesadaran itu suatu kebenaran yang tidak diketahui oleh orang lain.”

Maka, wahai seorang muslim, berusahalah agar engkau menjadi batu bata yang sadar dan membangun dalam bangunan masyarakat, agar engkau dapat menempuh perjalanan dengan baik, menyempurnakan pekerjaan dan interaksi dengan orang lain, serta turut mengangkat masyarakatmu dari keadaan yang buruk menuju keadaan yang baik, dan dari keadaan yang baik menuju keadaan yang lebih baik.

Janganlah engkau memilih keterasingan yang tercela dari berbagai urusan kaum muslimin. Sebab keterasingan semacam itu dapat menghalangimu dari berbagai perkara yang baik bagi agama dan kehidupan duniamu, serta menghilangkan berbagai sarana pembentuk kesadaran yang lahir dari pergaulan dengan manusia dan mengetahui keadaan serta perjalanan kehidupan mereka.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar menghadapi gangguan mereka lebih baik daripada orang yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar menghadapi gangguan mereka.”
(HR. Ibnu Majah)

Semoga Allah memberikan keberkahan kepadaku dan kepada kalian melalui Al-Qur'an dan As-Sunnah, memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat, nasihat, dan hikmah yang terdapat di dalam keduanya.

Apa yang aku sampaikan ini adalah apa yang aku sampaikan. Jika benar, maka itu berasal dari Allah; dan jika salah, maka itu berasal dari diriku dan setan. Aku memohon ampun kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.


KHUTBAH KEDUA

Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan-Nya dan segala syukur kepada-Nya atas taufik dan karunia-Nya.

Amma ba'du.

Maka bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah.

Ketahuilah bahwa suatu umat secara keseluruhan tidak akan menjadi umat yang sadar kecuali jika individu-individunya memiliki kesadaran. Sebab merekalah pikiran yang hidup bagi umat dan pandangan yang tinggi yang mengangkat umat menuju perkara-perkara yang mulia.

Sesungguhnya apabila suatu umat telah memiliki kesadaran, maka umat tersebut akan memahami apa yang menjadi hak dan kewajibannya di tengah umat-umat lainnya.

Ia akan memanfaatkan berbagai potensi dan pencapaiannya dalam bidang agama, politik, dan ekonomi untuk memperkokoh identitasnya dan membanggakan identitas tersebut.

Ia juga akan senantiasa mempersiapkan diri untuk menutup berbagai celah kelemahan, baik yang berada di dalam maupun di luar dirinya, agar tidak diserang melalui celah-celah tersebut.

Sesuai dengan kadar kesadaran umat kita, kita akan mampu menghadapi berbagai peristiwa dan krisis dengan pandangan orang yang memahami keadaan.

Ia mampu menentukan prioritas dan menangani berbagai persoalan dengan baik setelah memahami hakikatnya.

Ia tidak membiarkan dirinya dikendalikan oleh berbagai pengaruh psikologis, sosial, maupun politik.

Sebaliknya, ia bergerak berdasarkan prinsip keadilan dan sikap objektif, serta menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.

Dengan demikian, umat tidak akan direndahkan dan diremehkan oleh para penentang dan musuhnya sehingga jatuh dari kedudukannya yang tinggi.

Sesungguhnya kekuatan agama, politik, dan ekonomi suatu umat berawal dari kesadarannya dalam memanfaatkan potensi manusia yang dimilikinya dan mempersiapkan mereka agar menjadi orang-orang terbaik dalam melayani agama dan masyarakatnya.

Semua itu harus dikelilingi oleh pagar kesadaran, agar umat tidak terus-menerus menerima pukulan demi pukulan, tidak diserang dari tempat yang dianggapnya aman, lalu akhirnya didorong kepada sesuatu yang tidak diinginkannya.

Dengan demikian, pihak yang menjadi lawan atau orang yang iri kepadanya tidak akan menganggap remeh dirinya.

Umat yang sadar tidak mudah ditipu dan tidak semestinya tertipu selama ia tetap berpegang kepada pilar-pilar terpenting kesadarannya, yaitu:

agama, keadilan, akhlak, dan ilmu.

Allah tidak menjadikan umat Islam sebagai umat pertengahan di antara umat-umat lainnya kecuali karena prinsip-prinsip semacam itu.

Allah Ta'ala berfirman:

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kamu.”
(QS. Al-Baqarah: 143)

Maka bershalawatlah—semoga Allah merahmati kalian—kepada sebaik-baik makhluk dan manusia yang paling suci, pemilik telaga dan pemberi syafaat.

Allah telah memerintahkan kalian melakukan suatu perkara yang Dia mulai dengan menyebut diri-Nya sendiri, kemudian menyebut para malaikat-Nya yang senantiasa bertasbih menyucikan-Nya, lalu memerintahkan kalian, wahai kaum mukminin.

Allah Ta'ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab: 56)

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, yang memiliki wajah paling bercahaya dan dahi paling bersinar.

Ya Allah, ridhailah empat khalifah beliau: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Ridhailah pula seluruh sahabat Nabi-Mu Muhammad ﷺ, para tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Dan masukkanlah kami bersama mereka dengan ampunan, kemurahan, dan karunia-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin.

Hancurkanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik.

Ya Allah, tolonglah agama-Mu, kitab-Mu, sunnah Nabi-Mu, dan hamba-hamba-Mu yang beriman.

Ya Allah, lapangkanlah kesusahan orang-orang muslim yang sedang ditimpa kegelisahan.

Hilangkanlah kesulitan orang-orang yang sedang mengalami kesusahan.

Lunasilah utang orang-orang yang memiliki utang.

Sembuhkanlah orang-orang sakit di antara kami dan orang-orang sakit dari kaum muslimin dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Ya Allah, berikanlah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami.

Perbaikilah para pemimpin dan penguasa kami.

Jadikanlah kepemimpinan kami berada di tangan orang-orang yang takut kepada-Mu, bertakwa kepada-Mu, dan mengikuti keridaan-Mu, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami agar melakukan segala sesuatu yang Engkau cintai dan Engkau ridai, baik berupa perkataan maupun perbuatan, wahai Dzat Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri Sendiri.

Ya Allah, perbaikilah orang-orang yang menjadi penasihat dan pendampingnya, wahai Dzat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.

Ya Allah, perbaikilah keadaan kaum muslimin di seluruh tempat.

Ya Allah, perbaikilah keadaan kaum muslimin di seluruh tempat.

Ya Allah, perbaikilah keadaan kaum muslimin di seluruh tempat.

Ya Allah, jadilah penolong bagi saudara-saudara kami yang tertindas dalam agama mereka di berbagai negeri, wahai Dzat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan, wahai Dzat Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri Sendiri.

Allah Ta'ala berfirman:

“Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
(QS. Al-Baqarah: 201)

Mahasuci Rabb kami, Rabb Yang memiliki keperkasaan, dari segala yang mereka sifatkan kepada-Nya.

Keselamatan semoga tercurah kepada para rasul.

Dan penutup doa kami adalah:

“Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.”