Tugas Para Nabi – Semoga Selawat dan Salam Allah Tercurah kepada Mereka
Terjemahan Khutbah Masjid Nabawi 5/4/1429 H
Khatib: Syekh Abdul Muhsin bin Muhammad al-Qasim حفظه الله
Tanggal penambahan: 19 April 2008 M / 14 Rabiul Akhir 1429 H.
KHUTBAH PERTAMA
Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga selawat dan salam yang berlimpah tercurah kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya.
Amma ba'du.
Bertakwalah kalian kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah, dengan sebenar-benar ketakwaan. Dan berpegang teguhlah kepada Islam dengan tali yang paling kuat.
Wahai kaum muslimin!
Dahulu manusia merupakan satu umat yang berada di atas fitrah yang lurus. Kemudian setan-setan menyelewengkan orang-orang yang menyimpang dari jalan yang lurus tersebut. Maka Allah mengutus para nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.
Setan senantiasa menyertai manusia, membisikkan godaan kepadanya dan menyesatkannya. Di antara bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya ialah Dia menjadikan bagi manusia para penolong dari kalangan sesama manusia, yang mengajak mereka kepada kebaikan serta memperingatkan mereka dari berbagai fitnah dan mengikuti hawa nafsu. Mereka adalah para rasul dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
﴿إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ أَنْ أَنذِرْ قَوْمَكَ﴾
"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah): Berilah peringatan kepada kaummu." (QS. Nuh: 1).
Allah عز وجل juga berfirman:
﴿وَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنذَرَ قَوْمَهُ بِالْأَحْقَافِ﴾
"Dan ingatlah saudara kaum 'Ad, ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al-Ahqaf." (QS. Al-Ahqaf: 21).
Nabi Syuaib عليه السلام berkata:
﴿وَيَا قَوْمِ أَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ﴾
"Wahai kaumku! Sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil." (QS. Hud: 85).
Allah berfirman kepada Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم:
﴿يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنذِرْ﴾
"Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan!" (QS. Al-Muddatstsir: 1–2).
Di antara sifat Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم yang disebutkan dalam Kitabullah ialah bahwa beliau memerintahkan kepada perkara yang makruf dan melarang dari perkara yang mungkar.
Allah عز وجل memuji beliau dengan firman-Nya:
﴿يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ﴾
"Dia menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar." (QS. Al-A'raf: 157).
Amar makruf dan nahi mungkar merupakan salah satu sendi agama. Inilah tugas yang karenanya Allah mengutus para nabi dan rasul.
Bahkan Allah mendahulukan penyebutannya dalam beberapa ayat sebelum iman kepada Allah, padahal amar makruf dan nahi mungkar merupakan bagian dari keimanan itu sendiri.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
﴿كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ﴾
"Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali Imran: 110).
Allah سبحانه وتعالى juga menyebutkannya sebelum salat dan zakat. Allah berfirman:
﴿وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ﴾
"Orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan salat, menunaikan zakat." (QS. At-Taubah: 71).
Ibnu al-'Arabi رحمه الله berkata:
"Amar makruf dan nahi mungkar merupakan pokok dalam agama dan salah satu pilar utama kaum muslimin. Keduanya merupakan kewajiban atas seluruh manusia, baik secara bersama-sama maupun secara individu."
Umat ini tidak akan memperoleh keberuntungan kecuali dengan menegakkannya.
Allah جل شأنه berfirman:
﴿وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾
"Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran: 104).
Allah bersumpah bahwa manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kebalikannya.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
﴿وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ﴾
"Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati untuk menaati kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran." (QS. Al-'Ashr: 1–3).
Firman Allah, 'saling menasihati untuk menaati kebenaran', maksudnya adalah saling memerintahkan kepada kebaikan dan saling melarang dari kemungkaran.
Amar makruf dan nahi mungkar merupakan salah satu prinsip pokok Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka meyakini pensyariatannya dengan hati, mengakuinya dengan lisan, dan melaksanakannya dengan anggota badan sesuai kemampuan mereka.
Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:
"Kemudian, di samping prinsip-prinsip tersebut, mereka—yakni Ahlus Sunnah—juga memerintahkan kepada perkara yang makruf dan melarang dari perkara yang mungkar. Mereka beragama dengan memberikan nasihat kepada umat, serta meyakini makna sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
'Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.'"
Syekh Muhammad bin Ibrahim رحمه الله berkata:
"Apabila pengamalan terhadap konsekuensi dari apa yang mereka yakini tidak terlaksana, hal itu menunjukkan tidak sempurnanya keyakinan tersebut. Dan apabila pengamalannya melemah, hal itu menunjukkan lemahnya keyakinan."
Para sahabat رضي الله عنهم dahulu berbaiat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم.
Jarir bin Abdullah رضي الله عنه berkata:
"Aku berbaiat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم untuk menegakkan salat, menunaikan zakat, dan memberikan nasihat kepada setiap muslim."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Menegakkan amar makruf dan nahi mungkar juga termasuk bentuk syukur atas nikmat Allah yang diberikan kepada para hamba.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
﴿الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ﴾
"(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar." (QS. Al-Hajj: 41).
Amar makruf dan nahi mungkar juga termasuk sebab penghapusan dosa-dosa dan kesalahan.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
«فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ وَدَارِهِ، يُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصَّوْمُ وَالصَّدَقَةُ، وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ»
"Fitnah (ujian berupa kesibukan dan kekurangan) seseorang pada keluarga, harta, anak, dan tempat tinggalnya dapat dihapuskan oleh salat, puasa, sedekah, serta amar makruf dan nahi mungkar."
(Muttafaq 'alaih).
Amar makruf dan nahi mungkar juga merupakan salah satu bentuk sedekah.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
«وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ»
"Memerintahkan kepada perkara yang makruf adalah sedekah, dan melarang dari perkara yang mungkar adalah sedekah."
Nabi صلى الله عليه وسلم memerintahkan orang-orang yang duduk di jalan agar tetap melaksanakan ibadah tersebut meskipun mereka sedang berada dalam keadaan duduk di jalan.
Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda:
«إِذَا أَتَيْتُمْ إِلَى الْمَجَالِسِ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا»
"Apabila kalian duduk di tempat-tempat berkumpul, maka berikanlah hak jalan."
Para sahabat bertanya:
"Apakah hak jalan itu, wahai Rasulullah?"
Beliau menjawab:
«غَضُّ الْبَصَرِ، وَكَفُّ الْأَذَى، وَرَدُّ السَّلَامِ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ»
"Menundukkan pandangan, menahan diri dari mengganggu orang lain, menjawab salam, memerintahkan kepada perkara yang makruf, dan melarang dari perkara yang mungkar."
(Muttafaq 'alaih).
Kewajiban hisbah (amar makruf dan nahi mungkar) bukanlah sesuatu yang khusus bagi kelompok tertentu dengan mengesampingkan kelompok lainnya. Bahkan setiap individu yang mukalaf berkewajiban melaksanakan ketaatan tersebut, baik laki-laki maupun perempuan.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ»
"Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, hendaklah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman."
(HR. Muslim).
Ibnu 'Athiyyah رحمه الله berkata:
"Telah terwujud kesepakatan bahwa mencegah kemungkaran merupakan kewajiban bagi orang yang mampu melaksanakannya. Hal itu merupakan bukti kesempurnaan iman dan kebaikan Islam, salah satu makna kebaikan dan kecintaan terhadap umat, serta salah satu sebab diperolehnya rahmat Allah bagi para hamba.
Hal itu juga merupakan tanda bersatunya masyarakat, saling menguatkan, dan tercapainya kebahagiaan mereka. Kebaikan senantiasa ada di tengah-tengah manusia. Fitrah manusia telah diciptakan untuk mencintai kebaikan dan mencintai orang yang mengajak mereka kepadanya."
Maka janganlah engkau bermalas-malasan, wahai laki-laki muslim dan perempuan muslimah, dalam melaksanakan ibadah tersebut, mengajak orang lain, bersabar menghadapi mereka, serta bersikap santun kepada mereka.
Sesungguhnya hati manusia sering kali lalai dari kebaikan. Pahala diberikan sesuai dengan kadar keikhlasan dan kesungguhan seseorang. Waspadalah terhadap rasa bosan, dan ulangilah nasihat demi nasihat berikutnya dengan penuh hikmah.
Nabi Nuh عليه السلام tinggal bersama kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Beliau menyeru mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, pada malam dan siang hari.
Imam an-Nawawi رحمه الله berkata:
"Kewajiban amar makruf dan nahi mungkar tidak gugur dari seorang mukalaf hanya karena berdasarkan dugaan kuatnya, apabila ia meninggalkannya, doa kaum muslimin tidak akan dikabulkan dari langit."
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ، ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ»
"Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Sungguh, kalian benar-benar harus memerintahkan kepada perkara yang makruf dan melarang dari perkara yang mungkar. Jika tidak, hampir saja Allah mengirimkan hukuman dari sisi-Nya kepada kalian. Kemudian kalian berdoa kepada-Nya, tetapi doa kalian tidak dikabulkan."
(HR. At-Tirmidzi).
Berpaling dari amar makruf dan nahi mungkar termasuk sebab kehancuran umat-umat terdahulu.
Allah عز وجل berfirman:
﴿لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ﴾
"Orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil telah dilaknat melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain tidak saling mencegah dari kemungkaran yang mereka perbuat. Sungguh, sangat buruk apa yang selalu mereka lakukan." (QS. Al-Ma'idah: 78–79).
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
«إِنَّ أَوَّلَ مَا دَخَلَ النَّقْصُ عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ، كَانَ الرَّجُلُ يَلْقَى الرَّجُلَ فَيَقُولُ: يَا هَذَا، اتَّقِ اللَّهَ وَدَعْ مَا تَصْنَعُ، فَإِنَّهُ لَا يَحِلُّ لَكَ، ثُمَّ يَلْقَاهُ مِنَ الْغَدِ فَلَا يَمْنَعُهُ ذَلِكَ أَنْ يَكُونَ أَكِيلَهُ وَشَرِيبَهُ وَقَعِيدَهُ، فَلَمَّا فَعَلُوا ذَلِكَ ضَرَبَ اللَّهُ قُلُوبَ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ»
"Sesungguhnya kekurangan pertama yang masuk ke dalam kehidupan Bani Israil adalah ketika seseorang bertemu dengan orang lain, lalu berkata: 'Wahai orang ini, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah perbuatan yang engkau lakukan, karena sesungguhnya perbuatan itu tidak halal bagimu.'
Kemudian pada keesokan harinya ia bertemu lagi dengannya, tetapi hal itu tidak menghalanginya untuk tetap makan bersama, minum bersama, dan duduk bersama orang tersebut.
Ketika mereka melakukan hal demikian, Allah menjadikan hati sebagian mereka saling bertentangan."
(HR. Ahmad).
Al-Hasan al-Bashri رحمه الله berkata:
"Perintahkanlah kepada perkara yang makruf dan cegahlah dari perkara yang mungkar. Jika tidak, kalian sendirilah yang akan menjadi pelajaran (bagi orang lain)."
Amar makruf dan nahi mungkar merupakan ibadah yang disyariatkan kepada seluruh umat. Allah bahkan memuji orang-orang yang melaksanakannya dari kalangan Yahudi dan Nasrani sebelum agama mereka mengalami penghapusan hukum syariat sebelumnya.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
﴿مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ﴾
"Di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus. Mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (salat). Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh berbuat yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan bersegera dalam mengerjakan berbagai kebajikan." (QS. Ali Imran: 113–114).
Luqman, yang berasal dari umat terdahulu, juga memberikan nasihat kepada anaknya:
﴿يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ﴾
"Wahai anakku! Dirikanlah salat, suruhlah (manusia) berbuat yang makruf, cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu." (QS. Luqman: 17).
Oleh karena itu, tidaklah mengherankan dalam umat ini apabila seseorang diperintahkan untuk menebarkan salam, seorang perempuan diingatkan agar mengenakan hijab, orang yang tersesat diarahkan menuju jalan petunjuk, atau keburukan sihir seorang penyihir dihilangkan dari tengah-tengah manusia.
Wahai kaum muslimin!
Agama yang diridai Allah adalah Islam, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan agama ini.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
﴿يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ﴾
"Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya." (QS. At-Taubah: 32).
Ibnu Katsir رحمه الله berkata:
"Perumpamaan mereka dalam hal itu seperti orang yang ingin memadamkan sinar matahari dengan tiupannya. Hal ini mustahil dilakukan. Demikian pula agama yang Allah utus Rasul-Nya dengannya, pasti akan disempurnakan dan ditampakkan."
Allah سبحانه وتعالى telah menjamin penyebaran agama ini dan terbukanya hati manusia untuk menerimanya.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
«لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الْأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، وَلَا يَتْرُكُ اللَّهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلَا وَبَرٍ إِلَّا أَدْخَلَهُ هَذَا الدِّينُ»
"Sungguh, urusan agama ini akan mencapai tempat yang dapat dijangkau oleh malam dan siang. Allah tidak akan membiarkan satu pun rumah dari batu bata maupun rumah dari bulu (tenda), melainkan Dia akan memasukkan agama ini ke dalamnya."
(HR. Ahmad).
Tidaklah seseorang berusaha menentang agama ini atau menolak hukum-hukum dan syariatnya, melainkan agama ini akan mengalahkannya.
Kaum Nabi Hud, ketika berkata kepada nabi mereka:
﴿سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ﴾
"Sama saja bagi kami, apakah engkau memberi nasihat atau tidak termasuk orang-orang yang memberi nasihat." (QS. Asy-Syu'ara: 136).
Maka Allah mengirimkan kepada mereka angin yang sangat dingin dan membinasakan.
Adapun kaum Nabi Luth, ketika mereka berkata:
﴿لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ يَا لُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمُخْرَجِينَ﴾
"Jika engkau tidak berhenti, wahai Luth, niscaya engkau termasuk orang-orang yang diusir."
Maka mereka ditimpa suara yang sangat keras ketika matahari terbit.
Barang siapa mengira bahwa dirinya akan mampu memadamkan agama ini atau membatalkan salah satu syiar agama, sungguh ia telah menginginkan sesuatu yang mustahil.
Allah عز وجل berfirman:
﴿وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰ أَمْرِهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ﴾
"Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya." (QS. Yusuf: 21).
Tidaklah seseorang memusuhi agama ini atau pemeluknya, melainkan Allah akan menghinakannya.
Fir'aun pernah berkata kepada para pengikut Musa:
﴿لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ ثُمَّ لَأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ﴾
"Aku pasti akan memotong tangan dan kaki kalian secara bersilang, kemudian aku benar-benar akan menyalib kalian semuanya." (QS. Al-A'raf: 124).
Namun Allah menenggelamkannya dengan air.
Kaum Nabi Syuaib mengingkari nabi mereka dan berkata kepadanya:
﴿أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ﴾
"Apakah salatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang kami, atau agar kami tidak melakukan apa yang kami kehendaki terhadap harta kami?" (QS. Hud: 87).
Maka mereka ditimpa suara yang sangat keras, sehingga pada pagi harinya mereka bergelimpangan mati di tempat tinggal mereka.
Barang siapa mencela salah satu syiar Allah, mengolok-oloknya, atau membencinya, sungguh ia telah menghadapkan dirinya kepada ancaman Allah dalam firman-Nya:
﴿قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ﴾
"Katakanlah: Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok? Tidak perlu kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir setelah beriman." (QS. At-Taubah: 65–66).
Barang siapa menginginkan kemuliaan, kehormatan, dan kedudukan yang tinggi, ia tidak akan mendapatkannya kecuali dengan berpegang teguh kepada agama.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا﴾
"Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) bahwa kemuliaan itu semuanya milik Allah." (QS. Fathir: 10).
Dengan agama, perjalanan hidup para nabi, para sahabat, dan generasi salaf tetap abadi dan dikenang. Sementara dengan memusuhi agama, masa kehidupan Abu Jahal, Abu Lahab, dan Ubay bin Khalaf telah berlalu dan menjadi masa yang tidak lagi bernilai.
Maka hadapkanlah hatimu, lisanmu, dan seluruh anggota badanmu kepada agama ini. Bergembiralah dengannya, berpegang teguhlah kepadanya, pujilah agama ini, dan teguhkanlah pembelaanmu terhadapnya dalam berbagai majelis.
Agungkanlah agama ini dalam pertemuan-pertemuan, forum-forum, dan kesempatan lainnya. Tampakkanlah keutamaan-keutamaan dan keindahan-keindahannya. Tunjukkanlah kecemburuan dan pembelaan terhadap agama ini, serta teguhkanlah ketulusan batinmu dengan hidayah yang Allah berikan kepadamu.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
﴿قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ﴾
"Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan." (QS. Yunus: 58).
Tidaklah seseorang mendekat kepada agama ini, melainkan ia akan menjadi mulia dan terhormat, serta Allah akan meluruskan perkataan dan perbuatannya.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
«لَيْسَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ الْمَدْحُ مِنَ اللَّهِ، مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ مَدَحَ نَفْسَهُ»
"Tidak ada seorang pun yang lebih menyukai pujian daripada Allah. Oleh karena itu, Dia memuji diri-Nya sendiri."
(Muttafaq 'alaih).
Orang yang menegakkan agama, berdakwah kepadanya, serta melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar, berhak mendapatkan ucapan terima kasih, pujian, penghormatan, dan doa.
Kaum Anshar telah menolong agama Allah. Karena itu, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda tentang mereka:
«الْأَنْصَارُ لَا يُحِبُّهُمْ إِلَّا مُؤْمِنٌ، وَلَا يُبْغِضُهُمْ إِلَّا مُنَافِقٌ، مَنْ أَحَبَّهُمْ أَحَبَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ أَبْغَضَهُ اللَّهُ»
"Tidaklah mencintai kaum Anshar kecuali seorang mukmin, dan tidaklah membenci mereka kecuali seorang munafik. Barang siapa mencintai mereka, Allah akan mencintainya. Dan barang siapa membenci mereka, Allah akan membencinya."
(HR. Muslim).
Waraqah bin Naufal, sepupu Nabi صلى الله عليه وسلم, hidup pada masa jahiliah dengan tetap berada di atas fitrahnya. Ketika wahyu turun kepada Nabi صلى الله عليه وسلم, ia telah berusia lanjut.
Ia berharap dapat menjumpai masa kenabian agar bisa menolong Nabi صلى الله عليه وسلم.
Ia berkata kepada Nabi صلى الله عليه وسلم:
"Alangkah baiknya seandainya aku masih muda dan kuat ketika kaummu mengusirmu. Jika aku masih hidup pada hari itu, sungguh aku akan menolongmu dengan pertolongan yang sangat kuat."
Maka orang yang hidup di dalam Islam tentu lebih layak untuk menolong agama, menyebarkannya, dan mencintainya daripada orang yang hidup pada masa jahiliah tetapi berharap dapat menjumpai Nabi dan menolong agama beliau.
Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang (kalian) melakukan perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl: 90).
Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dengan Al-Qur'an yang agung. Semoga Allah memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.
Aku menyampaikan apa yang kalian dengar ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum muslimin dari setiap dosa. Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
### KHUTBAH KEDUA
Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan-Nya. Segala syukur hanya bagi-Nya atas taufik dan karunia-Nya.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagai bentuk pengagungan terhadap kedudukan-Nya.
Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga selawat dan salam yang berlimpah tercurah kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.
Amma ba'du.
Wahai kaum muslimin!
Masyarakat muslim adalah masyarakat yang saling bersatu, saling menguatkan, dan saling membantu. Seseorang yang hidup sendirian akan menjadi lemah ketika menghadapi hawa nafsu dan setan.
Di antara hak persaudaraan dalam agama ialah memberikan nasihat dan kebaikan kepada umat, serta memberikan nasihat dan kebaikan kepada orang lain.
Abu Bakar al-Muzani رحمه الله berkata:
"Abu Bakar ash-Shiddiq dan para sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak mengungguli orang lain karena banyaknya puasa dan salat. Akan tetapi, karena sesuatu yang ada di dalam hati mereka. Di dalam hati mereka terdapat kecintaan kepada Allah dan ketulusan memberikan nasihat kepada makhluk-Nya."
Mendoakan orang lain tanpa sepengetahuan mereka agar mendapatkan hidayah merupakan salah satu bentuk ketulusan dalam memberikan nasihat dan bukti kecintaan kepada mereka.
Orang yang diberi nasihat hendaknya menerima nasihat tersebut dan bergembira dengannya, serta menjadikannya sebagai sarana untuk memperbaiki kekurangan dirinya.
Sebab, engkau tidak akan menemukan orang yang lebih tulus mencintaimu daripada orang yang berusaha menyempurnakan sifat-sifat baikmu dan memperbaiki kekurangan-kekuranganmu.
Dialah orang yang benar-benar mencintaimu. Maka terimalah nasihatnya dan balaslah kebaikannya, meskipun hanya dengan mendoakannya.
Kemudian ketahuilah bahwa Allah telah memerintahkan kalian untuk berselawat dan mengucapkan salam kepada Nabi-Nya.
Allah berfirman dalam kitab-Nya yang kokoh:
﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56).
Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad.
Ya Allah, ridhailah para khalifah beliau yang mendapatkan petunjuk, yang memutuskan perkara dengan kebenaran dan senantiasa berlaku adil dengannya: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.
Ridhailah pula seluruh sahabat beliau, dan ridhailah kami bersama mereka dengan kemurahan dan karunia-Mu, wahai Zat Yang Maha Pemurah di antara semua yang pemurah.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik. Binasakanlah musuh-musuh agama.
Ya Allah, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan tenteram, demikian pula seluruh negeri kaum muslimin, wahai Rabb semesta alam.
Ya Allah, berikanlah taufik kepada orang-orang yang memerintahkan kepada perkara yang makruf dan melarang dari perkara yang mungkar.
Ya Allah, jadilah Engkau pelindung dan penolong mereka, serta berikanlah bantuan dan dukungan kepada mereka.
Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.
Ya Allah, Engkaulah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau Mahakaya, sedangkan kami adalah orang-orang fakir.
Turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.
Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.
Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.
Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.
Wahai Rabb kami, sungguh kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.
Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami untuk mengikuti petunjuk-Mu. Jadikanlah amal perbuatannya berada dalam keridaan-Mu.
Berikanlah pula taufik kepada seluruh pemimpin kaum muslimin agar mereka mengamalkan Kitab-Mu dan menerapkan syariat-Mu, wahai Zat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.
Wahai hamba-hamba Allah!
Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan dan berbuat kebajikan, memberikan bantuan kepada kerabat, serta melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.
Allah memberikan pengajaran kepada kalian agar kalian mengambil pelajaran.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴾
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang (kalian) melakukan perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl: 90).
Maka ingatlah Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia, niscaya Dia akan mengingat kalian.
Bersyukurlah kepada-Nya atas segala karunia dan nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat-Nya kepada kalian.
Sesungguhnya mengingat Allah adalah perkara yang paling besar, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.