Jumat, 23 Oktober 2026

AKIBAT BERBUAT DHOLIM


Terjemahan Khutbah Masjid Nabawi


 Kisah-kisah tentang Akibat Buruk Kezaliman

Khatib: Syekh Husain bin Abdul Aziz Alusy-Syaikh Tanggal khutbah: 23 Rabiul Akhir 1433 H



Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah semata. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa junjungan dan Nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, keluarga, serta para sahabatnya.

Amma ba’du.

Wahai kaum Muslimin!

Sesungguhnya kehidupan yang baik tidak akan terwujud kecuali dengan ketakwaan kepada Allah Yang Mahamulia lagi Mahatinggi. Kebahagiaan di dunia dan akhirat juga tidak akan diperoleh kecuali dengan berpegang teguh pada ketakwaan tersebut. Oleh karena itu, berpegang teguhlah pada ketakwaan kepada Allah, baik pada malam maupun siang hari, dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan.

Wahai saudara-saudara seiman!

Di antara prinsip dasar Islam adalah memerangi kezaliman dalam segala bentuk dan macamnya. Siapa pun yang memperhatikan keadaan manusia, terutama ketika kecintaan terhadap dunia semakin tampak dan menguasai hati, akan mendapati berbagai tindakan zalim terhadap orang lain, baik yang menyangkut jiwa, kehormatan, maupun harta mereka.

Sesungguhnya hal terbesar yang dapat melindungi seseorang dari kezaliman dan mencegahnya terjerumus ke dalamnya adalah mengingat akibat buruk kezaliman di dunia dan kesudahan yang mengerikan di akhirat.

Wahai saudara-saudara seiman!

Kita harus mengetahui bahwa bertindak sewenang-wenang terhadap manusia dan menzalimi mereka merupakan jalan yang akan mengantarkan pelakunya kepada keadaan yang paling buruk dan kesudahan yang paling mengerikan. Ini merupakan ketetapan yang tidak berubah dan tidak berganti.

Kebinasaan orang-orang zalim, baik pada masa dahulu maupun masa sekarang, merupakan bukti paling nyata dan penjelasan paling kuat bagi orang yang memiliki hati atau mau mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

### 1\. Doa orang yang dizalimi tidak memiliki penghalang dari Allah

Wahai kaum Muslimin!

Sesungguhnya doa orang yang dizalimi adalah anak panah yang tidak pernah meleset. Doa itu merupakan senjata yang membinasakan orang zalim, sekalipun waktu telah berlalu cukup lama.

Rasulullah ﷺ bersabda kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika mengutusnya ke Yaman:

> «وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ»

“Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doa tersebut dan Allah.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam kitab-kitab Sunan, dengan sanad yang dinilai hasan, disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

> «دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ تُحْمَلُ عَلَى الْغَمَامِ، وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاوَاتِ، وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ»

“Doa orang yang dizalimi dibawa ke atas awan, lalu pintu-pintu langit dibukakan untuknya. Rabb Yang Mahamulia lagi Mahaagung berfirman, ‘Demi kemuliaan-Ku, sungguh Aku pasti akan menolongmu, meskipun setelah beberapa waktu.’”

Di antara akibat buruk kezaliman adalah bahwa doa orang yang dizalimi dapat dikabulkan, bahkan jika orang tersebut seorang yang fasik atau kafir.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dengan sanad yang dinilai hasan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

> «لَا تُرَدُّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَلَوْ كَانَ فَاجِرًا، فَفُجُورُهُ عَلَى نَفْسِهِ»

“Doa orang yang dizalimi tidak ditolak, meskipun ia seorang yang fasik, karena kefasikannya merupakan tanggungannya sendiri.”

Dalam riwayat lain yang juga dinilai hasan oleh Imam Ahmad, disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

> «اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ وَإِنْ كَانَ كَافِرًا، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ»

“Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, meskipun ia seorang kafir, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doa tersebut dan Allah.”

Benarlah perkataan seorang penyair:

> Janganlah engkau menzalimi ketika engkau memiliki kekuasaan, sebab akibat kezaliman akan kembali kepadamu dengan penyesalan.Matamu tertidur, sementara orang yang dizalimi tetap terjaga, ia berdoa agar keburukan menimpamu, sedangkan mata Allah tidak pernah tidur.

Maka bertakwalah kepada Allah, wahai orang yang tidak menghormati darah kaum Muslimin, tidak menjaga kehormatan mereka, serta tidak menghargai dan melindungi harta mereka!

### 2\. Kisah Khalid bin Abdullah Al-Barmaki dan anaknya

Di antara kisah sejarah yang paling memberikan peringatan adalah kisah Khalid bin Abdullah Al-Barmaki bersama anaknya ketika mereka berbincang di dalam penjara.

Anaknya berkata kepadanya:

“Wahai Ayahku! Dahulu kita hidup dalam kemuliaan dan kekuasaan, tetapi sekarang kita justru berada dalam belenggu dan penjara.”

Sang ayah menjawab:

“Wahai anakku! Ini disebabkan oleh doa seseorang yang dizalimi. Doa itu melesat pada malam hari ketika kita lalai terhadapnya, sedangkan Allah tidak pernah lalai terhadapnya.”

### 3\. Kisah Malik bin Dinar dan orang yang menzaliminya

Para ulama rahimahumullah menyebutkan bahwa Malik bin Dinar, seorang ahli ibadah dan zuhud, pernah mengalami demam selama beberapa hari. Kemudian ia merasa tubuhnya sedikit lebih ringan, lalu keluar untuk memenuhi suatu keperluan.

Di hadapannya, sekelompok orang dari aparat kepolisian sedang lewat. Malik berkata, “Mereka membuatku tergesa-gesa sehingga aku menghalangi jalan.”

Kemudian seorang anggota aparat menyusulnya dan menghujaninya dengan beberapa cambukan. Pukulan itu terasa lebih menyakitkan baginya daripada demam yang sebelumnya ia derita.

Malik pun berkata, “Semoga Allah memotong tanganmu!”

Keesokan harinya, Malik pergi ke jembatan untuk suatu keperluan. Ternyata ia bertemu dengan orang yang sama dalam keadaan tangannya telah terpotong dan ia membawanya di lehernya.

Maka, wahai orang yang menzalimi dan bertindak sewenang-wenang terhadap manusia! Ingatlah saat engkau berdiri di hadapan Allah Yang Mahamulia lagi Mahatinggi. Takutlah terhadap dirimu sendiri dari doa seorang hamba yang saleh, yang dipanjatkan pada malam hari ketika orang-orang sedang tidur.

Jika engkau tidak takut terhadap kedudukanmu di hadapan Allah, setidaknya renungkanlah akibat buruk yang dapat menimpamu di dunia.

### 4\. Kisah Sa’ad bin Abi Waqqash dan orang yang mencela Ali

Sebagian orang hanya takut terhadap akibat buruk yang menimpa dirinya di dunia. Oleh karena itu, Allah terkadang menjadikan hukuman di dunia sebagai peringatan bagi mereka sebelum hukuman di akhirat.

Ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang para perawinya merupakan perawi kitab-kitab hadis sahih bahwa seseorang pernah mencela Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Sa’ad bin Abi Waqqash melarangnya, tetapi orang itu tidak mau berhenti. Sa’ad lalu berkata, “Aku akan berdoa kepada Allah agar engkau mendapatkan hukuman.”

Sa’ad pun berdoa untuk keburukan orang tersebut. Tidak lama kemudian, seekor unta yang lepas kendali datang menyeruduknya hingga ia meninggal dunia.

Abu Nu’aim menyebutkan dalam Hilyatul Auliya’, dan Ibnu Al-Jauzi juga menyebutkan dalam sebagian kitabnya, bahwa Sulaiman At-Taimi, seorang ahli ibadah dan penghafal hadis, pernah berselisih dengan seseorang.

Dalam perselisihan tersebut, orang itu menyerang Sulaiman dan menekan perutnya dengan keras. Sulaiman pun berdoa agar orang tersebut mendapatkan hukuman, lalu tangan orang itu menjadi kering dan tidak berfungsi.

### 5\. Kisah orang yang menampar Utsman bin Affan

Wahai saudaraku Muslim, dengarkanlah pelajaran ini, ambillah nasihat darinya, dan jadikanlah ia sebagai peringatan!

Ibnu Abi Ad-Dunya menceritakan bahwa seseorang dari kalangan orang-orang yang memusuhi Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu pernah bersumpah bahwa ia akan menampar wajah mulia Utsman.

Dalam kisah tersebut, orang itu berkata:

“Aku masuk bersama temanku. Ternyata kepala Utsman berada di pangkuan istrinya.”

Temanku berkata kepada istri Utsman, “Singkaplah wajahnya!”

Istrinya bertanya, “Untuk apa?”

Ia menjawab, “Aku ingin menampar wajahnya yang mulia.”

Istri Utsman berkata, “Tidakkah engkau ingat apa yang pernah disabdakan Rasulullah ﷺ tentang dirinya?” Kemudian ia menyebutkan berbagai keutamaan Utsman yang agung sebagaimana telah disampaikan oleh Rasulullah ﷺ.

Setelah mendengar penjelasan tersebut, temanku merasa malu, lalu mengurungkan niatnya dan pergi.

Namun, aku sendiri berkata kepada istri Utsman, “Singkaplah wajahnya!”

Istri Utsman kemudian pergi untuk berdoa agar keburukan menimpaku. Meskipun demikian, aku tetap menampar wajah Utsman.

Istri Utsman pun berkata:

“Semoga Allah membuat tanganmu kaku, membutakan penglihatanmu, dan tidak mengampuni dosamu!”

Orang tersebut berkata:

“Demi Allah, aku belum sempat keluar dari pintu rumah itu, tangan saya sudah menjadi kaku dan penglihatanku menjadi buta. Aku merasa Allah tidak akan mengampuni dosaku.”

Kemudian, orang tersebut terlihat sedang tawaf mengelilingi Ka’bah. Dalam keadaan buta, ia memohon ampun kepada Allah, tetapi sekaligus merasa putus asa terhadap ampunan-Nya. Ia berkata:

“Ya Allah, ampunilah aku, tetapi aku tidak melihat Engkau akan melakukannya!”

Kisah ini disebutkan sebagai peringatan tentang akibat buruk permusuhan dan tindakan zalim terhadap orang lain.

### 6\. Kisah Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abu Sa’dah

Di antara kisah yang mengandung peringatan keras terhadap kezaliman adalah kisah yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Jabir bin Samurah.

Ia menceritakan bahwa penduduk Kufah mengadukan Sa’ad bin Abi Waqqash kepada Umar bin Khaththab. Bahkan, mereka sampai mengatakan bahwa Sa’ad tidak mampu melaksanakan salat dengan baik.

Sa’ad kemudian berkata:

“Adapun aku, sesungguhnya aku mengimami mereka dengan salat sebagaimana salat Rasulullah ﷺ. Aku tidak mengurangi sedikit pun darinya. Aku memanjangkan bacaan dan pelaksanaan salat pada dua rakaat pertama, serta meringankannya pada dua rakaat terakhir.”

Umar berkata:

“Demi Allah, memang demikianlah prasangkaku terhadapmu, wahai Abu Ishaq!”

Kemudian Umar, sebagai khalifah yang adil dan tidak membiarkan perasaan menghalanginya dari meneliti kebenaran, mengutus beberapa orang untuk menanyakan keadaan Sa’ad kepada masyarakat Kufah.

Mereka tidak mendatangi suatu majelis pun melainkan orang-orang memuji Sa’ad dan menyebutkan kebaikannya.

Sampai akhirnya mereka mendatangi salah satu masjid di Kufah. Di sana, seorang laki-laki yang dikenal dengan nama Abu Sa’dah berkata:

“Jika kalian memang bertanya kepada kami, maka sesungguhnya Sa’ad tidak berlaku adil dalam memutuskan perkara, tidak membagi dengan sama rata, dan tidak memimpin pasukan dengan baik!”

Demikianlah keadaan orang zalim ketika mengikuti hawa nafsunya. Lisannya akan berbicara sesuai dengan apa yang disukainya, dan anggota tubuhnya akan bertindak mengikuti keinginan jiwa yang memerintah kepada keburukan.

Sa’ad kemudian berdoa:

> “Ya Allah, jika orang ini berdusta, maka butakanlah penglihatannya, panjangkanlah kemiskinannya, dan hadapkanlah ia pada berbagai fitnah.”

Abdul Malik, perawi hadis tersebut, berkata:

“Aku melihat orang itu kemudian menjadi tua dalam keadaan buta dan miskin. Ia juga sering mengganggu para perempuan budak di jalan-jalan.”

Ketika orang-orang menegurnya dengan berkata, “Berhentilah, wahai Abu Sa’dah!”, ia menjawab:

“Aku ini orang tua yang miskin dan tertimpa fitnah. Aku telah terkena doa Sa’ad.”

Wahai orang yang melupakan doa orang yang dizalimi! Jadikanlah kisah-kisah ini sebagai peringatan yang mencegah dirimu dari menzalimi orang lain, baik terhadap jiwa, harta, maupun kehormatan mereka.

### 7\. Kisah orang yang membunuh Al-Husain bin Ali

Diceritakan bahwa salah seorang pembunuh Al-Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma—semoga Allah meridai beliau, ayahnya, ibunya, dan seluruh keluarga Nabi—pernah melepaskan anak panah ke arah Al-Husain.

Al-Husain berkata kepadanya:

“Wahai orang ini, bawakanlah air untukku agar aku dapat meminumnya!”

Namun, ketika orang tersebut melepaskan anak panahnya, ia juga menghalangi Al-Husain untuk mendapatkan air.

Al-Husain pun berdoa:

“Ya Allah, jadikanlah ia kehausan!”

Dikisahkan bahwa ketika orang tersebut sedang menghadapi kematian, ia terlihat berteriak karena panas yang membakar perutnya dan dingin yang menyiksa punggungnya.

Di hadapannya terdapat kipas-kipas dan salju, sementara di belakangnya terdapat tempat perapian untuk menghangatkan tubuh. Meskipun demikian, ia terus berteriak:

“Berilah aku minum! Kehausan telah membinasakanku!”

Kemudian dibawakan kepadanya sebuah wadah besar berisi sawiq, yaitu minuman yang disebut dalam kisah tersebut sebagai campuran air dan susu. Jumlahnya begitu banyak sehingga seandainya lima orang meminumnya, niscaya sudah cukup bagi mereka.

Ia meminum seluruh isi wadah itu, tetapi kemudian kembali berteriak:

“Berilah aku minum! Kehausan telah membinasakanku!”

Keadaan itu terus berulang hingga akhirnya perutnya terbelah seperti perut unta yang robek.

Wahai orang yang menzalimi manusia!

Allah Mahabesar! Orang zalim akan mengalami pergiliran keadaan yang menyakitkan, dan berbagai hukuman dapat menimpanya meskipun waktu telah berlalu lama.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> «إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ»

“Sesungguhnya Allah benar-benar memberikan tenggang waktu kepada orang zalim. Namun, ketika Dia menghukumnya, Dia tidak akan melepaskannya.”

Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala:

> ﴿وَكَذَٰلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَىٰ وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۚ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ﴾“Demikianlah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya sangat pedih dan sangat keras.”(QS. Hud: 102).

Oleh karena itu, wahai kaum Muslimin, jauhilah kezaliman terhadap sesama manusia. Berhati-hatilah agar tidak menyakiti mereka melalui perkataan, perbuatan, maupun dengan membantu orang lain melakukan kezaliman.

Demikianlah yang aku sampaikan. Aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum Muslimin dari segala dosa. Maka, mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

### Khutbah Kedua

Segala puji bagi Rabb-ku, dan aku bersyukur kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya.

Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, keluarga, serta para sahabatnya.

Amma ba’du.

Wahai kaum Muslimin!

Wasiat Allah kepada kita semua adalah wasiat yang juga diberikan kepada orang-orang terdahulu dan orang-orang yang datang kemudian, yaitu bertakwa kepada-Nya, senantiasa menaati-Nya, dan menjauhi segala kemaksiatan kepada-Nya.

### 1\. Peringatan bagi orang yang menzalimi harta orang lain

Wahai orang yang menzalimi manusia dalam urusan harta mereka, lalu mengambilnya secara paksa!

Wahai orang yang menahan pembayaran utang, menghalangi hak orang lain, atau sengaja menunda-nunda pembayaran harta yang menjadi hak mereka!

Dengarkanlah nasihat ini dan jadilah penasihat terbaik bagi dirimu sendiri sebelum doa orang-orang yang engkau zalimi menimpamu, dan sebelum akibat buruk dari doa-doa yang mereka panjatkan kepada Pencipta mereka meliputi tubuhmu, hartamu, atau anak-anakmu.

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman:

> «يَا عِبَادِي، إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فَلَا تَظَالَمُوا»

“Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku sendiri, dan Aku menjadikannya haram di antara kalian. Oleh karena itu, janganlah kalian saling menzalimi.”

(HR. Muslim).

### 2\. Anjuran memperbanyak selawat kepada Nabi ﷺ

Selanjutnya, sesungguhnya Allah Yang Mahamulia lagi Mahatinggi memerintahkan kita kepada sesuatu yang dapat menyucikan kehidupan kita dan mendatangkan kebahagiaan bagi kehidupan akhirat kita, yaitu memperbanyak selawat dan salam kepada Nabi yang tercinta.

Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan keberkahan kepada junjungan kami, Nabi kami, kekasih kami, dan penyejuk pandangan kami, Nabi Muhammad.

Ya Allah, ridhailah para khalifah yang mendapat petunjuk dan para imam yang diberi bimbingan: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Ridhailah pula seluruh keluarga Nabi, semua sahabat, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Kiamat.

### 3\. Doa untuk kaum Muslimin di seluruh dunia

Ya Allah, wahai Zat Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus seluruh makhluk, wahai Zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan!

Kami memohon kepada-Mu agar Engkau menjaga kaum Muslimin di mana pun mereka berada.

Ya Allah, jagalah kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia.

Ya Allah, turunkanlah perlindungan dan penjagaan-Mu kepada kaum Muslimin. Jagalah mereka dengan penjagaan-Mu dan lindungilah mereka dengan pemeliharaan-Mu.

Ya Allah, tolonglah mereka menghadapi orang-orang yang melampaui batas terhadap mereka.

Ya Allah, tolonglah mereka menghadapi orang-orang yang melampaui batas terhadap mereka.

Ya Allah, tolonglah mereka menghadapi orang-orang yang melampaui batas terhadap mereka, wahai Zat Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.

Ya Allah, hadapilah musuh-musuh kaum Muslimin. Gagalkanlah tipu daya mereka. Jadikanlah akibat buruk dan kekalahan itu kembali kepada mereka.

Ya Allah, jadikanlah akibat buruk dan kekalahan itu kembali kepada mereka.

### 4\. Doa bagi kaum Muslimin di berbagai negeri

Ya Allah, wahai Zat Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus seluruh makhluk, wahai Zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan!

Jagalah kaum Muslimin di negeri Syam.

Jagalah kaum Muslimin di Afghanistan.

Jagalah kaum Muslimin di Irak.

Jagalah kaum Muslimin di Palestina.

Jagalah kaum Muslimin di Libya.

Jagalah kaum Muslimin di Mesir.

Jagalah kaum Muslimin di Tunisia.

Dan jagalah kaum Muslimin di setiap tempat, wahai Zat Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus seluruh makhluk, wahai Zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan!

Ya Allah, hilangkanlah kesulitan dan penderitaan mereka.

Ya Allah, lapangkanlah kesedihan mereka.

Ya Allah, lapangkanlah kesedihan mereka.

Ya Allah, anugerahkanlah keamanan kepada mereka.

Ya Allah, wujudkanlah keamanan dan ketenteraman bagi mereka.

Ya Allah, wujudkanlah keamanan dan ketenteraman bagi mereka.

Ya Allah, wujudkanlah keamanan dan ketenteraman yang mereka harapkan, wahai Zat Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus seluruh makhluk.

### 5\. Doa agar negeri-negeri kaum Muslimin terjaga

Ya Allah, jagalah negeri-negeri kaum Muslimin dari segala keburukan dan hal-hal yang tidak diinginkan.

Ya Allah, jagalah kaum Muslimin di negeri Dua Tanah Suci dari segala keburukan dan hal-hal yang tidak diinginkan.

Ya Allah, jadikanlah negeri-negeri kaum Muslimin kuat, mulia, dan kokoh sehingga tidak mudah ditundukkan oleh musuh-musuh mereka, wahai Zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.

Ya Allah, jagalah pelayan Dua Tanah Suci.

Ya Allah, kuatkanlah ia dengan pertolongan-Mu.

Ya Allah, panjangkanlah umurnya, wahai Zat Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus seluruh makhluk, dalam ketaatan dan ketakwaan kepada-Mu.

Ya Allah, jadikanlah ia sebagai sarana untuk menolong agama-Mu dan meninggikan kalimat-Mu.

### 6\. Doa agar kaum Muslimin dipimpin oleh orang-orang terbaik

Ya Allah, jadikanlah orang-orang terbaik di antara kaum Muslimin sebagai pemimpin mereka.

Ya Allah, jadikanlah orang-orang terbaik di antara kaum Muslimin sebagai pemimpin mereka.

Ya Allah, jadikanlah orang-orang terbaik di antara kaum Muslimin sebagai pemimpin mereka, wahai Zat Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus seluruh makhluk.

Ya Allah, turunkanlah hujan pertolongan kepada kami.

Ya Allah, turunkanlah hujan pertolongan kepada kami.

Ya Allah, turunkanlah hujan pertolongan kepada kami.

### 7\. Doa untuk kebahagiaan, ampunan, dan surga

Ya Allah, bahagiakanlah kami dengan ketakwaan kepada-Mu.

Ya Allah, bahagiakanlah kami dengan ketakwaan kepada-Mu.

Ya Allah, limpahkanlah karunia-Mu kepada kami.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami.

Ya Allah, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami.

Ya Allah, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami.

Ya Allah, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami.

Masukkanlah kami ke dalam surga bersama orang-orang yang berbakti dan saleh, wahai Zat Yang Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.

Sebagai penutup perkataanku, aku menyampaikan selawat dan salam kepada junjunganku dan Nabi Muhammad.

Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan keberkahan kepada Nabi dan Rasul kami, Muhammad.

والله أعلم.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang menjauhi kezaliman, menunaikan hak sesama manusia, dan senantiasa bertakwa kepada-Nya. آمين.

Kamis, 22 Oktober 2026

BERSEGERA MEMENUHI SERUAN ALLAH DAN RASUL-NYA


 Terjemahan Khutbah Masjid Nabawi

 Bersegera Memenuhi Seruan Allah dan Rasul-Nya

Khatib: Syekh Abdulbari bin ‘Awadh ats-Tsubaiti hafizhahullah

Tanggal khutbah: 21 Dzulqa‘dah 1434 H

Sumber: Alukah, Khutbah Masjid Nabawi: Bersegera Memenuhi Seruan Allah dan Rasul-Nya.

 Pengantar

Syekh Abdulbari bin ‘Awadh ats-Tsubaiti menyampaikan khutbah Jumat berjudul “Bersegera Memenuhi Seruan Allah dan Rasul-Nya”. Beliau menjelaskan bahwa bersegera melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangan keduanya merupakan bukti kejujuran dan kesempurnaan iman. Sikap ini merupakan kebiasaan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka.

Beliau mengingatkan beberapa contoh keteladanan para sahabat dalam menyambut perintah syariat tanpa banyak berpikir untuk menolak ataupun berbantah-bantahan. Beliau juga menjelaskan bahwa ibadah haji termasuk bentuk ketaatan yang paling agung dalam memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya.

 Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah. Segala puji bagi Allah yang telah memerintahkan kita untuk memenuhi seruan-Nya dan mendorong kita meraih keutamaan serta kembali kepada-Nya. Aku memuji dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat taufik dan jalan kebahagiaan yang dianugerahkan-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam ibadah kurban, salat, dan seluruh bentuk peribadatan. Aku juga bersaksi bahwa pemimpin dan Nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya. Beliau telah mengajarkan kepada kita jalan petunjuk dan kepemimpinan yang benar.

Semoga Allah melimpahkan selawat kepada beliau, keluarga beliau, dan para sahabatnya yang memiliki keteguhan hati serta kemuliaan.

Amma ba‘du.

Aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar senantiasa bertakwa kepada Allah.

Allah عز وجل berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102).

Allah سبحانه وتعالى juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru kalian kepada sesuatu yang memberikan kehidupan kepada kalian.” (QS. Al-Anfal: 24).

Memenuhi seruan Allah dan Rasul berarti memenuhi seruan Islam dengan seluruh ajarannya. Ini merupakan ketaatan yang menyeluruh dan luas dalam setiap perkara yang Allah dan Rasul-Nya, shallallahu ‘alaihi wa sallam, serukan kepada kita.

Seorang Muslim memenuhi seruan Allah dalam seluruh urusan kehidupannya: dalam salat, zakat, puasa, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, bermuamalah, berpakaian, berpenampilan, dan bekerja.

Seorang perempuan juga memenuhi seruan Allah dalam mengenakan hijab, menjaga aurat, perhiasan, mengurus rumah, serta menjalankan hubungannya dengan suami dan anak-anaknya.

Bersegera memenuhi seruan Allah merupakan bukti kejujuran dalam berserah diri kepada-Nya. Hal itu merupakan buah dari ilmu yang bermanfaat dan amal saleh.

Orang-orang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya adalah orang-orang yang memperoleh keberuntungan. Merekalah orang-orang yang benar-benar beriman, yang mendapatkan apa yang mereka harapkan dan diselamatkan dari berbagai kesulitan. Mata mereka menjadi sejuk dan jiwa mereka memperoleh kebahagiaan.

Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya ucapan orang-orang mukmin, apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka, hanyalah, ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur: 51).

Inilah ucapan orang-orang beriman: Kami mendengar dan kami taat, baik dalam keadaan bersemangat maupun dalam keadaan tidak menyukai suatu perkara, baik ketika lapang maupun ketika sulit.

Adapun orang-orang munafik, semboyan mereka adalah berpaling dan menolak. Kebiasaan mereka ialah menghalangi manusia dari jalan Allah serta menyelisihi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

“Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul,’ niscaya engkau melihat orang-orang munafik benar-benar berpaling darimu.” (QS. An-Nisa’: 61).

Dengan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, hati dan akal memperoleh kehidupan. Jiwa dan masyarakat memperoleh kehidupan. Bahkan, seluruh umat memperoleh kehidupan.

Oleh karena itu, manusia yang paling sempurna kehidupannya adalah orang yang paling sempurna dalam memenuhi seruan Allah. Barang siapa lemah dalam memenuhi seruan-Nya, maka hatinya pun melemah dan kehidupannya menjadi berkurang.

Adapun orang yang hatinya telah mati, ia tidak lagi memiliki respons terhadap seruan kebenaran.

Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَى وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ

“Sesungguhnya engkau tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar, dan engkau tidak dapat menjadikan orang-orang tuli mendengar seruan apabila mereka telah berpaling ke belakang.” (QS. An-Naml: 80).

Adapun orang-orang yang menolak memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya mereka menolak kehidupan yang baik. Mereka tidak mendapatkan kecuali keadaan yang rendah, dan kesudahan mereka adalah kebinasaan, kehancuran, serta akibat yang buruk.

Allah Ta‘ala berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَتَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ ۝ جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا وَبِئْسَ الْقَرَارُ

“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka Jahanam; mereka masuk ke dalamnya. Itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (QS. Ibrahim: 28–29).

Allah kemudian berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim di antara kalian secara khusus. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25).

Berpaling dari seruan Allah dapat menyebabkan perselisihan, kekacauan keadaan, rusaknya keseimbangan, dan tersebarnya kerusakan. Semua itu termasuk perkara yang diungkapkan dengan istilah fitnah.

Dari Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar pada suatu hari dalam keadaan terkejut dan wajahnya memerah. Beliau bersabda:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ، فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذَا

“Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah. Celakalah bangsa Arab karena keburukan yang telah mendekat. Pada hari ini telah terbuka dari bendungan Ya’juj dan Ma’juj sebesar ini.”

Beliau kemudian membuat lingkaran dengan ibu jari dan jari yang berada di sebelahnya.

Zainab berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah kita akan dibinasakan padahal di tengah-tengah kita terdapat orang-orang saleh?’”

Beliau menjawab:

نَعَمْ، إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ

“Ya, apabila keburukan telah merajalela.”

Umat yang memenuhi seruan wahyu dari Rabb-nya dan menyerahkan diri kepada Penciptanya akan memperoleh keadaan yang baik. Kehidupannya akan berubah menuju kebaikan dan perbaikan.

Keamanan, kehidupan yang baik, dan persatuan sejati di antara kaum mukminin akan terwujud bagi mereka. Permusuhan dan kebencian pun berubah menjadi persaudaraan karena nikmat Allah.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan berempati adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh mengeluh karena sakit, seluruh tubuh turut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan mengalami demam.”

Allah juga akan memenuhi permohonan hamba-hamba-Nya apabila mereka memenuhi seruan-Nya. Allah menentukan waktu terkabulnya permohonan dengan hikmah-Nya yang sempurna.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، فَيَقُولَ: قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

“Doa salah seorang di antara kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, dengan mengatakan, ‘Aku telah berdoa, tetapi doaku belum dikabulkan.’”

Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Allah mengabulkan permohonan orang-orang yang memenuhi seruan-Nya.

Allah Ta‘ala berfirman:

فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ

“Maka Rabb mereka memperkenankan permohonan mereka dan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kalian, baik laki-laki maupun perempuan. Sebagian kalian adalah keturunan dari sebagian yang lain.’” (QS. Ali ‘Imran: 195).

Ketika terjadi kerusakan dalam memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, manusia dapat terhalang dari terkabulnya permohonan mereka dan dibiarkan bergantung kepada diri mereka sendiri. Barang siapa diserahkan kepada dirinya sendiri oleh Allah, maka ia akan merugi, menjadi lemah, dan terhina.

Dalam hal bersegera memenuhi seruan Allah, generasi terdahulu telah mengukir berbagai teladan yang abadi. Ketika salah seorang di antara mereka menerima perintah atau larangan, ia segera mematuhinya tanpa keraguan. Ia mengubah perintah tersebut menjadi kenyataan yang dapat dilihat dan tindakan yang benar-benar dilakukan.

Hal ini menunjukkan kedalaman iman dan ketulusan dalam menerima ketetapan Allah.

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Ketika aku sedang mengedarkan gelas minuman kepada Abu Thalhah dan beberapa orang lainnya, aku mendengar seorang penyeru berseru, ‘Ketahuilah, sesungguhnya khamar telah diharamkan!’

Ia berkata, ‘Tidak ada seorang pun yang masuk kepada kami dan tidak ada seorang pun yang keluar dari tempat kami sebelum kami menumpahkan minuman itu, memecahkan tempayan-tempayan khamar, kemudian sebagian dari kami berwudu dan sebagian lainnya mandi. Kami juga memakai wewangian milik Ummu Sulaim. Setelah itu, kami keluar menuju masjid. Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang membaca ayat berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

‘Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, berkurban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah semua itu agar kalian beruntung.’” (QS. Al-Ma’idah: 90).

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“Sesungguhnya perempuan-perempuan Quraisy memiliki keutamaan. Namun, demi Allah, aku tidak pernah melihat perempuan yang lebih utama daripada perempuan-perempuan Anshar dalam hal membenarkan Kitab Allah.

Ketika turun ayat:

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

‘Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka.’ (QS. An-Nur: 31),

para lelaki mereka pulang menemui istri-istri mereka sambil membacakan apa yang telah Allah turunkan mengenai hal tersebut. Seorang lelaki membacakannya kepada istrinya, putrinya, saudara perempuannya, dan seluruh kerabat perempuannya.

Tidak ada seorang perempuan pun di antara mereka melainkan segera mengambil kain panjang bermotif miliknya, lalu menggunakannya untuk menutupi kepala dan tubuh bagian atasnya, sebagai bentuk pembenaran dan keimanan terhadap apa yang Allah turunkan di dalam Kitab-Nya.

Pada pagi harinya, mereka berada di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan menutupi kepala mereka dengan kain, seolah-olah di atas kepala mereka terdapat burung-burung gagak.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat sebuah cincin emas di tangan seorang lelaki. Beliau melepaskannya, lalu melemparkannya seraya bersabda:

يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إِلَى جَمْرَةٍ مِنْ نَارٍ فَيَجْعَلُهَا فِي يَدِهِ

“Salah seorang di antara kalian sengaja mengambil bara api, lalu meletakkannya di tangannya.”

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi, seseorang berkata kepada lelaki tersebut, “Ambillah kembali cincinmu dan manfaatkanlah.”

Lelaki itu menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan mengambilnya kembali untuk selama-lamanya setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuangnya.”

Wahai hamba-hamba Allah!

Ibadah haji disyariatkan sebagai bentuk pemenuhan seruan Allah. Para jemaah haji datang dari berbagai penjuru yang jauh demi memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya.

Sikap memenuhi seruan Allah dalam ibadah haji tampak pada setiap rangkaian manasik dan setiap tempat pelaksanaannya. Mereka adalah para tamu Allah yang meninggalkan keluarga, harta, dan tanah air mereka.

Allah menyeru mereka untuk melakukan tawaf mengelilingi Baitullah, maka mereka pun memenuhi seruan-Nya.

Allah menyeru mereka untuk menyentuh dan mencium Hajar Aswad, atau memberikan isyarat kepadanya apabila tidak memungkinkan untuk menciumnya, maka mereka pun melaksanakannya, meskipun mereka mengetahui bahwa batu tersebut tidak dapat memberikan mudarat maupun manfaat dengan sendirinya.

Allah menyeru mereka untuk berangkat ke Mina dan bermalam di sana. Mereka pun menyatakan ketundukan kepada Allah dan hukum-Nya.

Mereka tidak melakukan ibadah itu demi riya atau mencari popularitas. Keikhlasan menjadi semboyan mereka, sedangkan mengikuti tuntunan Nabi menjadi pakaian mereka.

Ucapan Labbaik Allahumma labbaik merupakan lambang ketaatan yang sempurna. Maknanya adalah, “Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, sebagai jawaban atas seruan-Mu, pelaksanaan perintah-Mu, dan bentuk keteladanan kepada Nabi-Mu, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Beliau bersabda:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Haji yang mabrur tidak memiliki balasan selain surga.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dengan Al-Qur’an yang agung, serta memberikan manfaat kepada kita melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.

Inilah yang aku sampaikan. Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung untuk diriku dan untuk kalian. Oleh karena itu, mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

### Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan nikmat kepada kita dan memberikan petunjuk kepada kita. Aku memuji dan bersyukur kepada-Nya atas segala karunia yang telah Dia berikan kepada kita.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa pemimpin dan Nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya.

Semoga selawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, serta para sahabatnya.

Amma ba‘du.

Aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar bertakwa kepada Allah.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102).

Memenuhi seruan Allah memiliki sejumlah tanda. Di antara tanda yang paling menonjol adalah menegakkan salat, bermusyawarah dalam urusan bersama, dan menginfakkan rezeki di jalan Allah.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Dan orang-orang yang memenuhi seruan Rabb mereka, melaksanakan salat, sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Asy-Syura: 38).

Kesombongan, kecintaan terhadap kedudukan dan kepemimpinan, serta tenggelam dalam kemewahan merupakan penghalang untuk memenuhi seruan Allah.

Mengikuti hawa nafsu juga menghalangi seseorang dari memenuhi seruan kebenaran.

Allah Ta‘ala berfirman:

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ

“Maka jika mereka tidak memenuhi seruanmu, ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa mendapat petunjuk dari Allah?” (QS. Al-Qashash: 50).

Wahai saudara-saudara seiman!

Barang siapa memenuhi seruan Allah, ia akan memperoleh kebaikan yang terbaik. Adapun orang yang berpaling, bermaksiat, dan tidak memenuhi seruan-Nya, maka sungguh buruk kesudahan yang akan menantinya.

Harta dan kekayaannya tidak akan dapat menyelamatkannya, sekalipun ia memiliki emas sebanyak seluruh isi bumi, bahkan ditambah dengan jumlah yang sama lagi, lalu semuanya ia gunakan untuk menebus dirinya.

Allah Ta‘ala berfirman:

لِلَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمُ الْحُسْنَى وَالَّذِينَ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُ لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لَافْتَدَوْا بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ سُوءُ الْحِسَابِ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ

“Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Rabb mereka disediakan balasan yang terbaik. Adapun orang-orang yang tidak memenuhi seruan-Nya, sekiranya mereka memiliki seluruh apa yang ada di bumi dan ditambah sebanyak itu lagi, niscaya mereka akan menebus diri mereka dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat perhitungan yang buruk, dan tempat tinggal mereka adalah Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.” (QS. Ar-Ra‘d: 18).

Ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah, bahwa Allah telah memerintahkan kalian untuk berselawat kepada Rasul pembawa petunjuk. Allah berfirman di dalam Kitab-Nya:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).

### Doa penutup khutbah

Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad.

Ya Allah, ridhailah empat khalifah yang mendapat petunjuk: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Ridhailah pula keluarga beliau, para sahabat yang mulia, dan kami bersama mereka dengan ampunan, kemurahan, dan karunia-Mu, wahai Zat Yang Mahamulia di antara semua yang mulia.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin. Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin. Hinakanlah kekafiran dan orang-orang kafir. Binasakanlah musuh-musuh-Mu, musuh-musuh agama. Jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan tenteram, demikian pula seluruh negeri kaum Muslimin.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu surga dan segala perkataan serta amalan yang mendekatkan kami kepadanya. Kami berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala perkataan serta amalan yang mendekatkan kami kepadanya.

Ya Allah, perbaikilah agama kami yang menjadi penjaga urusan kami. Perbaikilah dunia kami yang menjadi tempat kehidupan kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagi kami dari setiap keburukan, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan kehormatan diri, dan kecukupan.

Ya Allah, tolonglah kami dan janganlah Engkau menolong pihak yang melawan kami untuk mengalahkan kami. Menangkanlah kami dan janganlah Engkau memenangkan pihak yang melawan kami. Buatlah tipu daya yang menguntungkan kami terhadap musuh-musuh kami, dan janganlah Engkau membiarkan tipu daya mereka mengalahkan kami. Berilah kami petunjuk dan mudahkanlah petunjuk itu bagi kami. Tolonglah kami menghadapi orang yang melampaui batas terhadap kami.

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, tunduk kepada-Mu, banyak merintih memohon kepada-Mu, dan senantiasa kembali kepada-Mu.

Ya Allah, terimalah tobat kami, bersihkanlah dosa-dosa kami, teguhkanlah hujah kami, luruskanlah lisan kami, dan cabutlah kedengkian serta kebencian dari hati kami.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon keridaan-Mu dan surga. Kami berlindung kepada-Mu dari kemurkaan-Mu dan neraka.

Ya Allah, ampunilah seluruh kaum Muslimin yang telah meninggal dunia. Rahmatilah orang-orang yang telah wafat di antara kami, sembuhkanlah orang-orang sakit di antara kami, bebaskanlah para tawanan kami, uruslah perkara-perkara kami, dan hilangkanlah kesedihan serta kesusahan kami, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Ya Allah, jagalah para jemaah haji yang mengunjungi Rumah-Mu yang suci. Ya Allah, jagalah para jemaah haji yang mengunjungi Rumah-Mu yang suci. Ya Allah, jagalah para jemaah haji yang mengunjungi Rumah-Mu yang suci.

Jauhkanlah mereka dari segala keburukan dan dosa. Kembalikanlah mereka ke negeri mereka dalam keadaan selamat, aman, memperoleh pahala, dan diterima amal ibadahnya, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, jadikanlah haji mereka sebagai haji yang mabrur, usaha mereka sebagai usaha yang disyukuri, dosa mereka sebagai dosa yang diampuni, dan amal mereka sebagai amal saleh yang diterima, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, jagalah kaum Muslimin di mana pun mereka berada, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, jagalah dan tolonglah kaum Muslimin di Mesir, Suriah, kawasan Syam, dan di seluruh tempat, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, menangkanlah mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, berilah taufik kepada pemimpin kami untuk melakukan perkara-perkara yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Bimbinglah dia menuju petunjuk-Mu dan jadikanlah amalnya sebagai amal yang diridhai-Mu, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, berilah taufik kepada seluruh pemimpin kaum Muslimin agar mereka mengamalkan Kitab-Mu dan menerapkan syariat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Allah Ta‘ala berfirman:

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Wahai Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A‘raf: 23).

Allah Ta‘ala juga berfirman:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami. Janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10).

Allah Ta‘ala juga berfirman:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201).

Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90).

Maka, ingatlah Allah, niscaya Dia akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat kepada kalian.

Sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar keutamaannya. Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.



Jumat, 16 Oktober 2026

SURGA


SURGA, NEGERI KENIKMATAN DAN TUJUAN ORANG-ORANG BERIMAN

Khatib: Syekh Shalih bin Muhammad al-Budair
Tanggal khutbah: 25 September 2026 / 14 Rabiul Akhir 1448 H

Pokok-pokok khutbah

  1. Surga adalah kenikmatan yang tidak akan pernah sirna.
  2. Firdaus adalah tingkatan surga yang paling tinggi.
  3. Sungai-sungai dan istana-istana surga berada di luar jangkauan gambaran manusia.
  4. Keridaan Allah lebih agung daripada seluruh kenikmatan.
  5. Melihat Allah adalah puncak kenikmatan penghuni surga.
  6. Takwa dan amal saleh adalah jalan untuk meraih kemenangan berupa surga.

KHUTBAH PERTAMA

Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Mencintai, Pemilik keutamaan, kemurahan, kebaikan, dan karunia. Aku memuji-Nya atas nikmat-nikmat-Nya yang melimpah dan pemberian-pemberian-Nya yang jernih. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dengan suatu persaksian yang merendahkan orang-orang yang mengingkari.

Aku bersaksi bahwa Nabi dan junjungan kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya. Cahaya risalahnya telah menerangi dataran-dataran rendah dan pegunungan, serta menghapus kegelapan kebodohan dan malam-malamnya yang kelam.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, kepada keluarga, dan para sahabatnya, selama burung-burung tekukur masih berkicau dan pepohonan masih menghijau.

Amma ba’du.

Wahai kaum Muslimin, bertakwalah kepada Allah dengan ketakwaan orang yang mengobati dirinya dengan ketaatan dan melindungi dirinya dari perkara-perkara yang diharamkan.

Allah Ta'ala berfirman:

“Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 194)

Wahai kaum Muslimin!

Allah telah menciptakan surga dan menjadikannya sebagai negeri bagi para wali-Nya serta tempat tinggal bagi orang-orang pilihan-Nya. Allah memenuhi surga dengan rahmat, kemuliaan, dan keridaan-Nya. Allah mendorong manusia untuk merindukannya dan menyeru mereka menuju kepadanya.

Allah menamakannya Darussalam (negeri keselamatan).

Ia adalah negeri yang kenikmatannya tidak akan habis dan tidak akan binasa. Di dalamnya terdapat tambahan dari segala bentuk kebaikan. Surga telah merindukan orang-orang yang mencarinya dan telah berhias untuk orang-orang yang menginginkannya.

Dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah telah menjelaskan berbagai gambaran tentang apa yang ada di dalamnya.

Betapa berbahagianya para penghuninya dan betapa beruntungnya orang-orang yang mewarisinya!

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda bahwa Allah Ta'ala berfirman:

“Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Surga adalah negeri yang keindahannya bercahaya, halamannya menyenangkan, dan bangunannya sangat agung.

Bangunannya tersusun dari batu bata emas dan batu bata perak, perekatnya adalah misik yang sangat harum, kerikilnya berupa mutiara dan permata, sedangkan tanahnya adalah za'faran.

Barangsiapa memasukinya, ia akan hidup dalam kenikmatan dan tidak akan pernah mengalami kesengsaraan. Ia akan kekal dan tidak akan mati. Pakaiannya tidak akan usang dan masa mudanya tidak akan pernah berakhir.

Orang pertama yang mengetuk pintu surga adalah Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Penjaga surga akan berkata kepadanya:

“Siapakah engkau?”

Beliau menjawab:

“Muhammad.”

Penjaga itu berkata:

“Aku diperintahkan untuk tidak membukakan pintu bagi siapa pun sebelum engkau.”

Surga memiliki delapan pintu.

Jarak antara kedua daun pintu surga adalah seperti jarak antara Makkah dan Hajar, atau seperti jarak antara Makkah dan Bushra.

Rombongan pertama yang memasuki surga akan memiliki wajah seperti bulan purnama. Rombongan berikutnya seperti bintang yang paling terang cahayanya di langit.

Mereka tidak buang air kecil, tidak buang air besar, tidak mengeluarkan ingus, dan tidak meludah.

Sisir mereka terbuat dari emas. Keringat mereka beraroma misik. Tempat pembakaran wewangian mereka adalah kayu gaharu.

Tidak ada perselisihan dan tidak ada kebencian di antara mereka. Hati mereka seperti satu hati.

Mereka memiliki rupa seperti rupa bapak mereka, Adam, dengan tinggi enam puluh hasta ke langit.

Mereka bertasbih kepada Allah pada pagi dan petang.

Penghuni surga memasuki surga dalam keadaan tanpa pakaian dunia, masih muda, berkulit putih, berambut keriting, dan bercelak, berusia tiga puluh tiga tahun.

Pada wajah mereka tampak cahaya, keindahan, kecemerlangan, dan kemuliaan. Engkau dapat mengenali pada wajah mereka kenikmatan hidup.

Mereka akan diseru:

“Sesungguhnya bagi kalian adalah kehidupan, sehingga kalian tidak akan mati selamanya. Bagi kalian kesehatan, sehingga kalian tidak akan sakit selamanya. Bagi kalian masa muda, sehingga kalian tidak akan menjadi tua selamanya. Bagi kalian kenikmatan, sehingga kalian tidak akan mengalami kesengsaraan selamanya.”

Allah Ta'ala berfirman:

“Dan bagi mereka di dalamnya segala macam buah-buahan.”
(QS. Muhammad: 15)

Seandainya seorang lelaki dari penghuni surga menampakkan dirinya kepada penduduk bumi sehingga gelangnya terlihat, niscaya cahaya gelang tersebut akan menghilangkan cahaya matahari sebagaimana cahaya matahari menghilangkan cahaya bintang-bintang.

Mintalah Firdaus

Apabila kalian meminta kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya Al-Firdaus, karena ia merupakan bagian tengah surga dan surga yang paling tinggi. Di atasnya terdapat Arsy Ar-Rahman, dan dari Firdauslah sungai-sungai surga memancar.

Sungai yang paling besar, paling manis, dan paling indah adalah Sungai Al-Kautsar.

Allah menjadikannya sebagai kemuliaan bagi Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kedua tepinya berupa kubah-kubah mutiara yang berlubang. Tanahnya adalah misik yang sangat harum. Kerikilnya berupa mutiara. Airnya lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu.

Bejana-bejananya sebanyak jumlah bintang-bintang di langit. Sungai itu didatangi burung-burung yang lehernya seperti leher unta besar.

Adapun telaga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, maka telaga itu berada di tanah tempat manusia dikumpulkan pada hari Kiamat.

Lebarnya sama dengan panjangnya. Jarak antara kedua sisinya adalah perjalanan selama satu bulan, atau seperti jarak antara Shan'a dan Madinah.

Dua pancuran dari surga mengalir deras ke dalamnya.

Orang-orang beriman akan mendatangi telaga tersebut. Barangsiapa meminum airnya, ia tidak akan pernah haus setelah itu.

Namun akan ada orang-orang yang dihalangi dari telaga tersebut, yaitu orang-orang yang telah mengubah, mengganti, dan membuat perkara-perkara baru dalam agama.

Penghuni Surga yang Paling Rendah Kedudukannya

Penghuni surga yang paling rendah kedudukannya adalah seseorang yang datang setelah para penghuni surga telah masuk ke tempat mereka masing-masing.

Dikatakan kepadanya:

“Masuklah ke surga.”

Ia berkata:

“Wahai Rabbku, bagaimana mungkin, sementara manusia telah menempati tempat-tempat mereka dan telah memperoleh bagian mereka?”

Maka dikatakan kepadanya:

“Apakah engkau rela jika engkau mendapatkan kerajaan seperti kerajaan salah seorang raja di dunia?”

Ia menjawab:

“Aku rela, wahai Rabbku.”

Allah berkata:

“Bagimu yang seperti itu, dan yang semisalnya, dan yang semisalnya, dan yang semisalnya, dan yang semisalnya.”

Pada yang kelima kalinya ia berkata:

“Aku rela, wahai Rabbku.”

Allah berfirman:

“Itu untukmu dan sepuluh kali lipatnya. Bagimu apa saja yang diinginkan oleh jiwamu dan yang menyenangkan matamu.”

Ia berkata:

“Aku rela, wahai Rabbku.”

Adapun penghuni surga yang paling tinggi kedudukannya, maka Allah berfirman tentang mereka:

“Mereka itulah orang-orang yang Aku kehendaki. Aku tanamkan kemuliaan mereka dengan tangan-Ku dan Aku tutup dengan segelnya. Tidak pernah ada mata yang melihatnya, tidak pernah ada telinga yang mendengarnya, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.”

Di dalam surga terdapat sebuah pohon yang apabila seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun, ia belum mampu melewati seluruhnya.

Seorang mukmin di dalam surga memiliki sebuah kemah dari satu mutiara yang berongga. Panjangnya menjulang ke langit sejauh enam puluh mil.

Di dalamnya terdapat keluarga-keluarganya. Seorang mukmin berkeliling mengunjungi mereka, tetapi sebagian dari mereka tidak melihat sebagian yang lain.

Seandainya seorang wanita penghuni surga menampakkan dirinya kepada penduduk bumi, niscaya ia akan menerangi ruang antara keduanya dan memenuhi tempat tersebut dengan aroma harum.

Kerudung yang dikenakannya di atas kepala lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.

Dan di dalam surga tidak ada seorang pun yang hidup tanpa pasangan.

Keridaan Allah

Allah Azza wa Jalla berkata kepada penghuni surga:

“Wahai penghuni surga!”

Mereka menjawab:

“Kami memenuhi panggilan-Mu, wahai Rabb kami. Kami datang memenuhi seruan-Mu. Segala kebaikan berada di tangan-Mu.”

Allah bertanya:

“Apakah kalian telah ridha?”

Mereka menjawab:

“Mengapa kami tidak ridha, wahai Rabb kami, sedangkan Engkau telah memberikan kepada kami sesuatu yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun dari makhluk-Mu?”

Allah berfirman:

“Maukah Aku memberikan kepada kalian sesuatu yang lebih baik daripada itu?”

Mereka berkata:

“Apakah ada sesuatu yang lebih baik daripada itu?”

Allah berfirman:

“Aku halalkan bagi kalian keridaan-Ku. Setelah itu Aku tidak akan pernah murka kepada kalian selama-lamanya.”

Betapa agung kenikmatan ini dan betapa mulianya penghormatan tersebut!

Sesungguhnya pemberian yang paling agung dan kenikmatan yang paling besar, yang membuat seluruh kenikmatan lainnya menjadi kecil di hadapannya, adalah memandang wajah Allah Yang Mahamulia.

Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

“Kami sedang berada di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau memandang bulan pada malam purnama, lalu bersabda:
‘Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata kepala kalian, sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan kesulitan dalam melihat-Nya.’”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak ada yang menghalangi suatu kaum dari melihat Rabb mereka selain hijab kebesaran-Nya di wajah-Nya di dalam Jannah Adn.

Akan ada seorang penyeru yang menyerukan:

“Wahai penghuni surga! Sesungguhnya kalian memiliki suatu janji di sisi Allah yang Dia ingin tunaikan kepada kalian.”

Mereka berkata:

“Apakah itu? Bukankah Dia telah memberatkan timbangan amal kami, memutihkan wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?”

Kemudian hijab dibuka.

Mereka pun memandang kepada Allah.

Tidak ada sesuatu pun yang diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada memandang-Nya.

Allah Mahabesar!

Dia telah memberikan kenikmatan kepada mereka, memberikan manfaat kepada mereka, memenuhi segala keinginan mereka, bahkan menambahkan lebih dari apa yang mereka harapkan.

Semoga Allah menjadikan aku dan kalian termasuk orang-orang yang berbahagia dan memberikan kepada kita al-husna (kebaikan yang terbaik) dan tambahan.

Aku mengatakan apa yang kalian dengarkan ini. Aku memohon ampun kepada Allah untukku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum Muslimin dari setiap dosa dan kesalahan. Maka mohonlah ampun kepada-Nya.

Sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang banyak kembali kepada-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

“Sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang banyak bertobat.”
(QS. Al-Isra: 25)


KHUTBAH KEDUA

Segala puji bagi Allah dengan pujian yang sesuai dengan segala nikmat-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan tidak ada yang berhak disembah selain Dia.

Aku bersaksi bahwa Nabi dan junjungan kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, orang pilihan-Nya dan manusia yang Dia pilih.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya dengan shalawat dan salam yang terus-menerus hingga hari kiamat.

Allah Ta'ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang benar.”
(QS. At-Taubah: 119)

Wahai kaum Muslimin!

Itulah sebagian gambaran tentang surga dan kenikmatannya.

Lalu bagaimana mungkin seseorang menyia-nyiakan kenikmatan yang demikian besar hanya demi dunia yang hina, sementara dunia telah mengumumkan bahwa dirinya akan ditinggalkan dan masa kepergiannya semakin dekat?

Maka waspadalah, wahai hamba-hamba Allah!

Waspadalah!

Kematian telah diikat pada ubun-ubun kalian, dan dunia sedang dilipat di belakang kalian.

Betapa banyak luka yang menyebabkan kematian. Betapa banyak terpeleset yang mengantarkan kepada kebinasaan.

Barangsiapa takut, ia akan berangkat pada awal malam; dan barangsiapa berangkat pada awal malam, ia akan sampai ke tempat tujuan.

Ketahuilah!

Sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah adalah surga.

Wahai kaum Muslimin!

Marilah kita mengingat dengan penuh rasa syukur karunia Allah dan pemberian-Nya yang besar serta kebaikan-Nya kepada negeri yang penuh berkah ini berupa nikmat keamanan dan keimanan, persatuan barisan dan kesatuan kalimat.

Negeri ini telah Allah muliakan dengan pelayanan terhadap dua Masjid Suci. Allah memberikan kepadanya kedudukan yang agung di hati kaum Muslimin.

Di negeri ini terdapat Masjidil Haram, Masjid Nabawi yang mulia, dan tempat-tempat suci untuk ibadah haji.

Di negeri ini pula terdapat tempat turunnya wahyu dan tempat hijrah Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dari negeri inilah risalah Islam tersebar.

Karena itu negeri ini dahulu dan sekarang menjadi tempat tegaknya akidah, mercusuar ilmu, dan medan pelayanan bagi kaum Muslimin serta orang-orang yang datang menuju dua Masjid Suci.

Bershalawat dan ucapkan salam kepada Ahmad sang pemberi petunjuk, pemberi syafaat bagi seluruh manusia.

Barangsiapa bershalawat kepadanya satu kali, Allah akan memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi dan junjungan kami Muhammad, pembawa kabar gembira tentang rahmat dan pahala, pemberi peringatan tentang azab dan hukuman, pemberi syafaat yang diterima syafaatnya pada hari perhitungan.

Ya Allah, ridhailah para khalifah yang mendapatkan petunjuk, para imam yang mendapat petunjuk, orang-orang yang memiliki kemuliaan dan kedudukan tinggi: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta seluruh keluarga dan para sahabat beliau.

Dan jadikanlah kami bersama mereka, wahai Dzat Yang Mahamulia lagi Maha Pemberi.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin. Hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik. Hancurkanlah musuh-musuh agama.

Jagalah negeri kami, Kerajaan Arab Saudi, dan seluruh negeri kaum Muslimin dari tipu daya para pembuat makar, siasat para pendengki, kedengkian orang-orang yang membenci, dan hasad orang-orang yang iri, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, berilah taufik kepada imam kami dan pemegang urusan kami, Penjaga Dua Masjid Suci, kepada apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Tuntunlah dia kepada kebaikan dan ketakwaan.

Ya Allah, berilah taufik kepadanya dan kepada Putra Mahkotanya kepada perkara yang di dalamnya terdapat kemuliaan Islam dan kebaikan kaum Muslimin, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, jagalah pasukan kami. Lindungilah perbatasan kami. Satukanlah persatuan kami. Hinakanlah musuh kami.

Berilah petunjuk kepada putra-putri kami.

Ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum Muslimin, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, jagalah para prajurit kami yang berjaga di perbatasan dan garis depan.

Ya Allah, sembuhkanlah mereka yang sakit di antara mereka. Obatilah mereka yang terluka. Terimalah mereka yang meninggal sebagai syuhada.

Berilah mereka kemenangan atas musuh-Mu dan musuh mereka, wahai Dzat Yang Maha Mendengar doa.

Ya Allah, sembuhkanlah orang-orang sakit di antara kami. Berikanlah kesehatan kepada orang-orang yang sedang mendapatkan ujian. Rahmatilah orang-orang yang telah meninggal di antara kami, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, sucikanlah Masjid Al-Aqsha dari kotoran dan kejahatan para penjajah dan orang-orang yang menyerang.

Ya Allah, berilah kami pertolongan.

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.

Ya Allah, jadikanlah doa kami didengar dan seruan kami diangkat.

Wahai Dzat Yang Mahamulia, Yang Mahaagung, lagi Maha Penyayang.