BULAN SYA’BAN
Turki bin Abdullah Al-Maiman
24 Rajab 1447 H / 13 Januari 2026 M
Khutbah Pertama
Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan bertobat kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami.
Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya; dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam yang banyak kepada beliau, kepada keluarga dan para sahabatnya.
أما بعد:
Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjaganya.
Barang siapa bertawakal kepada-Nya, niscaya Allah akan mencukupinya.
Sebagaimana firman Allah:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.
Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.”
(QS. At-Talaq: 2–3)
Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya ini adalah bulan yang agung, di mana amal-amal diangkat kepada Rabb Yang Mahamulia dan Mahaagung.
Inilah bulan Sya’ban!
Dari Usamah bin Zaid رضي الله عنه berkata:
Aku berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa di bulan mana pun seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban.”
Maka beliau ﷺ bersabda:
“Itu adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadan. Ia adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam, dan aku suka amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.”
Ibnu Rajab رحمه الله berkata:
“Dalam hadits ini terdapat dalil tentang disunnahkannya menghidupkan waktu-waktu yang biasanya dilalaikan manusia dengan ketaatan, dan bahwa hal itu dicintai oleh Allah.”
Puasa di bulan Sya’ban bagaikan latihan untuk puasa Ramadan.
Aisyah رضي الله عنها berkata:
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ menyempurnakan puasa satu bulan penuh selain Ramadan, dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa dalam satu bulan lebih banyak daripada di bulan Sya’ban.”
Para ulama berkata:
“Puasa Sya’ban lebih utama daripada puasa di bulan-bulan haram, karena dekatnya dengan Ramadan.
Ia seperti shalat sunnah rawatib yang mengiringi shalat wajib, sehingga menyatu dengan kewajiban dalam keutamaannya.”
Sya’ban adalah pendahuluan bagi Ramadan.
Oleh karena itu disyariatkan puasa di dalamnya, dan orang-orang saleh memperbanyak membaca Al-Qur’an, agar jiwa siap menyambut Ramadan dan terlatih dalam ketaatan kepada Allah Yang Maha Pengasih.
Sebagian salaf berkata:
“Dahulu dikatakan: bulan Sya’ban adalah bulan para pembaca Al-Qur’an.”
Orang yang bersungguh-sungguh di bulan Sya’ban layak merasakan manisnya Ramadan dan buah keimanan.
Al-Balkhi berkata:
“Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram, dan Ramadan bulan memanen.”
Barang siapa memasuki bulan Sya’ban sementara ia masih memiliki utang puasa Ramadan, hendaklah ia segera mengqadhanya sebelum datang Ramadan berikutnya.
Aisyah رضي الله عنها berkata:
“Kadang aku memiliki utang puasa Ramadan, dan aku tidak bisa mengqadhanya kecuali di bulan Sya’ban.”
Jika bulan ini adalah bulan diangkatnya amal, maka sepatutnya memperbaiki amal agar diridhai Allah.
Ibnu Qayyim رحمه الله berkata:
“Amal tahunan diangkat pada bulan Sya’ban, amal mingguan diangkat pada hari Senin dan Kamis, amal harian diangkat di akhir siang, dan amal malam diangkat di akhir malam.”
Ibnu Hajar رحمه الله berkata:
“Barang siapa saat itu berada dalam ketaatan, maka akan diberkahi rezekinya dan amalnya.”
Di antara amal terbaik yang diangkat kepada Allah adalah membersihkan hati dari kotoran.
Allah berfirman:
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”
(QS. Asy-Syu‘ara: 88–89)
Ibnu Qayyim berkata:
“Hati yang bersih adalah hati yang selamat dari syirik, dendam, iri, dengki, kikir, sombong, cinta dunia, dan cinta jabatan.”
Para salaf berkata:
“Amal terbaik adalah kebersihan dada.”
Tidak disyariatkan mendahului Ramadan dengan puasa satu atau dua hari kecuali jika itu puasa wajib seperti qadha, atau bertepatan dengan kebiasaan puasa seperti Senin dan Kamis.
Nabi ﷺ bersabda:
“Janganlah kalian mendahului Ramadan dengan puasa satu atau dua hari, kecuali seseorang yang biasa berpuasa, maka bolehlah ia berpuasa.”
Haram berpuasa pada hari syak (hari ragu) dengan niat kehati-hatian untuk Ramadan.
Hari syak adalah hari ke-30 Sya’ban ketika hilal tertutup awan.
Saat itu wajib menyempurnakan Sya’ban 30 hari.
Ammar bin Yasir رضي الله عنه berkata:
“Barang siapa berpuasa pada hari yang diragukan oleh manusia, maka ia telah durhaka kepada Abul Qasim ﷺ.”
Mengkhususkan malam Nishfu Sya’ban dengan ibadah atau perayaan tidak memiliki dasar dari Nabi ﷺ.
Ibnu Arabi berkata:
“Tidak ada satu hadits pun yang dapat dijadikan sandaran tentang malam Nishfu Sya’ban.”
Ibnu Utsaimin berkata:
“Malam Nishfu Sya’ban tidak dikhususkan dengan qiyamul lail, kecuali jika seseorang memang terbiasa shalat malam.”
Khutbah Kedua
Segala puji bagi Allah atas kebaikan-Nya dan syukur atas taufik serta karunia-Nya.
Wahai hamba-hamba Allah, muliakanlah bulan Sya’ban, karena ia adalah duta Ramadan dan kesempatan melatih diri dalam ketaatan serta meninggalkan kemungkaran.
Wahai orang yang tertipu oleh panjangnya angan-angan, takutlah terhadap kematian, karena engkau tidak tahu kapan ajal akan datang.
Betapa banyak orang yang berharap esok hari namun tidak pernah sampai kepadanya.
Allah berfirman:
“Dan Allah tidak akan menunda kematian seseorang apabila telah datang ajalnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.”
(QS. Al-Munafiqun: 11)
Kemudian perintah bershalawat kepada Nabi ﷺ, doa untuk para khalifah, kaum muslimin, keamanan negeri, turunnya hujan, serta penutup dengan firman Allah:
“Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan, berbuat ihsan, dan memberi kepada kerabat, serta melarang perbuatan keji, mungkar, dan permusuhan.”
(QS. An-Nahl: 90)
Maka ingatlah Allah, niscaya Dia mengingat kalian.
Bersyukurlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat kepada kalian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar