Kepuasan Hati adalah Kekayaan Batin dan Kenyamanan Hidup
Khutbah Syekh Abdullah bin Abdurrahman al-Baijan
Khutbah Pertama
Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, dan berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami serta keburukan amal perbuatan kami. Barang siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya; dan barang siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan keselamatan kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya.
Amma ba‘du:
Maka bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah, semampu kalian. Sesungguhnya Allah berfirman:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”
(QS. Ath-Thalaq: 4)
Dan Dia berfirman:
“Dan Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya serta memperbesar pahala baginya.”
(QS. Ath-Thalaq: 5)
Dan Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
(QS. Ali ‘Imran: 102)
Wahai kaum Muslimin!
Sesungguhnya Allah Ta‘ala menciptakan makhluk dengan hikmah-Nya, mewujudkan mereka dengan kekuasaan-Nya, melimpahkan nikmat-nikmat-Nya kepada mereka, dan meluaskan karunia-Nya atas mereka. Dia semata yang memiliki hak menciptakan dan memerintah, menentukan dan mengatur.
Allah membagi rezeki di antara hamba-hamba-Nya. Dia membedakan umur mereka dan memberikan perbedaan dalam keadaan mereka.
Di antara manusia ada yang ridha dengan apa yang Allah bagikan kepadanya, sehingga hatinya menjadi tenteram, jiwanya tenang, dan kehidupannya menjadi baik.
Namun ada pula orang yang terus mengarahkan pandangannya kepada apa yang berada di tangan orang lain. Akibatnya, rasa tidak puas menguasai dirinya, ketamakan melelahkannya, dan akhirnya ia menjadi miskin secara batin meskipun hartanya banyak.
Wahai manusia!
Allah telah menetapkan takdir segala sesuatu sebelum menciptakan langit dan bumi. Dia telah menetapkan ajal dan rezeki. Seorang hamba tidak akan memperoleh kecuali apa yang telah dituliskan untuknya, dan tidak akan luput darinya sesuatu yang telah Allah tetapkan baginya.
Maka wahai orang yang dadanya terasa sempit karena sedikitnya harta, wahai orang yang dibebani berbagai persoalan kehidupan, dan wahai orang yang melelahkan dirinya dalam mengejar apa yang dimiliki orang lain:
Tenanglah dengan pengaturan Rabbmu. Tempuhlah sebab-sebab yang dibenarkan syariat. Jangan gantungkan hatimu kepada sesuatu yang memang tidak dituliskan untukmu.
Rezeki telah dibagi dan ajal telah ditentukan.
“Dan apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Asy-Syura: 36)
Wahai hamba-hamba Allah!
Kita hidup pada zaman ketika berbagai daya tarik dunia semakin banyak, persaingan untuk mendapatkan dunia semakin besar, dan banyak manusia mulai mengukur kebahagiaan mereka berdasarkan apa yang mereka miliki, mengukur nilai diri mereka berdasarkan pakaian yang mereka kenakan, serta mengukur kedudukan mereka berdasarkan apa yang mereka tampilkan.
Berbagai foto dan video terus bermunculan di hadapan mata. Jiwa pun mudah terdorong untuk melakukan perbandingan.
Seseorang melihat kenikmatan yang dimiliki orang lain, lalu melupakan nikmat Allah yang ada pada dirinya. Ia melihat apa yang tidak dimilikinya, lalu lalai terhadap apa yang telah ada padanya.
Di tengah keadaan seperti ini, kebutuhan terhadap qanaah menjadi semakin besar.
Qanaah senantiasa menjadi salah satu harta terbesar yang dimiliki manusia. Ia merupakan kekayaan yang hakiki, yang mewujudkan kebahagiaan, keridhaan, dan ketenangan jiwa.
Dengan qanaah, jiwa berhenti membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia terbebas dari rasa tidak puas, hasad, dan kerakusan. Ia hidup dalam kedamaian yang tidak mudah diguncangkan oleh badai ambisi dan ketamakan.
Wahai hamba-hamba Allah!
Qanaah adalah ridha terhadap apa yang Allah bagikan, tidak menginginkan apa yang berada di tangan manusia, merasa cukup dengan apa yang ada, serta meninggalkan keinginan berlebihan terhadap sesuatu yang belum dimiliki.
Qanaah berarti engkau melihat nikmat-nikmat Allah yang ada padamu sebelum engkau menghitung kekurangan-kekuranganmu.
Qanaah adalah harta yang sangat agung dan termasuk nikmat terbaik. Dengan qanaah, kehidupan menjadi baik, seseorang merasakan keridhaan dan ketenteraman, kebahagiaan dan keberuntungan tercapai, ketenangan turun ke dalam hati, keridhaan dan sikap adil tumbuh, kehormatan diri terjaga, dan kebutuhan menjadi tercukupi.
Nabi ﷺ bersabda:
“Sungguh telah beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang mencukupinya, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang telah diberikan kepadanya.”
(HR. Muslim)
Qanaah merupakan salah satu nikmat yang paling agung dan salah satu akhlak serta nilai yang paling utama. Islam mengajarkannya, menganjurkannya, dan mendorong manusia untuk memilikinya. Islam menjadikannya salah satu sebab kekayaan yang hakiki, kehidupan yang baik, dan keselamatan hati.
Nabi ﷺ pernah berwasiat kepada Abu Hurairah:
“Ridhalah dengan apa yang Allah bagikan kepadamu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya.”
Wahai hamba-hamba Allah!
Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, bukan karena bertambahnya saldo dan rekening, bukan pula karena banyaknya rumah dan kendaraan.
Sesungguhnya kekayaan adalah kekayaan jiwa: seorang hamba merasa cukup dengan Rabbnya, ridha terhadap apa yang Allah berikan kepadanya, dan tidak menjadi tawanan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya.
Nabi ﷺ bersabda:
“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.”
(Muttafaqun ‘alaih)
Maka wahai hamba-hamba Allah!
Carilah kekayaan yang tidak dapat dirampas, harta karun yang tidak dapat dicuri, dan nikmat yang tidak akan sirna.
Carilah qanaah dan kekayaan jiwa.
Sesungguhnya orang kaya adalah orang yang kaya dengan jiwanya
meskipun kedua pundaknya tidak berbalut pakaian.Tidaklah segala sesuatu yang ada di atas bumi itu dapat mencukupi,
namun apabila engkau telah merasa cukup, maka segala sesuatu menjadi mencukupi.
Betapa kita sangat membutuhkan qanaah, wahai hamba-hamba Allah, yang mengembalikan ketenteraman ke dalam rumah-rumah kita, keridhaan dan ketenangan ke dalam hati kita, serta kasih sayang ke dalam hubungan kita.
Betapa banyak rumah tangga yang rusak karena perbandingan!
Betapa banyak keluarga yang terbebani utang karena persaingan!
Betapa banyak hati yang kelelahan karena terus melihat apa yang dimiliki orang lain!
Wahai orang yang melihat apa yang dimiliki orang lain, lihatlah nikmat yang telah Allah berikan kepadamu.
Wahai orang yang terus menghitung apa yang telah hilang darimu, hitunglah nikmat yang masih ada padamu.
Wahai orang yang mengeluhkan sempitnya kehidupan, jangan lupakan bahwa di antara nikmat terbesar adalah hati yang sehat, iman yang kokoh, kesehatan dan keselamatan, keluarga dan keamanan, serta berbagai nikmat yang tidak mungkin dihitung dan tidak akan mampu ditunaikan seluruh syukurnya.
Wahai orang yang mengeluhkan sedikitnya harta, renungkanlah berapa banyak nikmat yang Allah limpahkan kepadamu yang tidak mungkin dibeli dengan seluruh harta dunia.
Wahai orang yang selalu memperhatikan rezeki orang lain, tahanlah pandanganmu dari harta mereka dan lihatlah karunia Allah yang diberikan kepadamu.
Wahai orang yang membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain, janganlah engkau membandingkan sisi lahir kehidupanmu dengan sisi lahir kehidupan mereka. Sebab engkau tidak mengetahui apa yang ada di balik layar dan di balik pintu rumah mereka.
Wahai orang yang ingin hidup bahagia!
Belajarlah untuk mengatakan dari lubuk hatimu:
“Segala puji bagi Allah atas apa yang Dia berikan, segala puji bagi Allah atas apa yang Dia tahan, segala puji bagi Allah atas apa yang Dia pertahankan, dan segala puji bagi Allah atas apa yang Dia palingkan.”
Wahai orang-orang beriman!
Qanaah bukan berarti meninggalkan pekerjaan, bukan berarti meninggalkan usaha mencari rezeki, bukan berarti meninggalkan cita-cita, bukan pula berarti menyerah kepada kelemahan atau rela dengan kemalasan dan kekurangan.
Akan tetapi qanaah berarti engkau bekerja dan berusaha, sementara hatimu tetap bergantung kepada Rabbmu. Setelah engkau menempuh sebab-sebab, hatimu tetap ridha terhadap apa yang Allah bagikan kepadamu.
Ketamakan tidak memperbudakmu dan keinginan terhadap apa yang dimiliki orang lain tidak melelahkanmu.
Maka wahai hamba-hamba Allah, satukanlah antara usaha dan keridhaan, antara menempuh sebab-sebab dan bertawakal kepada Rabb seluruh makhluk.
Ketahuilah bahwa orang yang menjadikan ambisinya hanya untuk mengumpulkan dunia tidak akan pernah merasa kenyang darinya. Sedangkan orang yang menjadikan tujuannya adalah mencari keridhaan Allah, maka Allah akan mencukupkan segala sesuatu yang menjadi kegelisahannya.
Kita memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita hati yang qanaah, jiwa yang ridha, rezeki yang baik, dan kehidupan yang penuh kenikmatan.
Aku menyampaikan perkataanku ini dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku dan kalian. Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Khutbah Kedua
Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan-Nya. Syukur kepada-Nya atas taufik dan karunia-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka.
Wahai hamba-hamba Allah!
Sesungguhnya Allah Ta‘ala menguji hamba-hamba-Nya dengan kebaikan dan keburukan sebagai ujian bagi mereka.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan kepada Kami kamu akan dikembalikan.”
(QS. Al-Anbiya: 35)
Orang miskin diuji dengan kemiskinan dan kebutuhannya, sedangkan orang kaya diuji dengan kekayaan dan hartanya.
Sesungguhnya salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada seorang hamba adalah Dia menganugerahkan kepadanya hati yang qanaah dan jiwa yang ridha.
Dengan demikian, ia bersyukur ketika berada dalam kelapangan dan kebahagiaan, serta bersabar ketika berada dalam kesulitan dan penderitaan.
Orang kaya maupun orang miskin, keduanya sama-sama membutuhkan qanaah.
Qanaahnya orang kaya adalah ia ridha dan bersyukur.
Qanaahnya orang miskin adalah ia ridha dan bersabar.
Wahai manusia!
Qanaah merupakan obat bagi berbagai penyakit jiwa dan kedengkian yang ada di dalamnya: kebencian, iri hati, hasad, dendam, kedengkian, kerakusan, kehinaan karena ketamakan, ketidakpuasan, banyak mengeluh, rasa tidak senang, kegelisahan, kecemasan, ketakutan, kesedihan, dan berbagai kegundahan.
Wahai hamba-hamba Allah!
Qanaah adalah akhlak yang dapat diperoleh dan keutamaan yang harus dilatih oleh jiwa.
Di antara perkara terbesar yang membantu seseorang untuk memiliki qanaah adalah iman kepada qadha dan qadar, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, yang manis maupun yang pahit.
Seorang mukmin mengetahui bahwa Rabbnya Mahabijaksana dalam menetapkan takdir dan Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.
Ia mengetahui bahwa apa yang menimpanya tidak mungkin luput darinya, dan apa yang luput darinya tidak mungkin akan menimpanya.
Nabi ﷺ bersabda:
“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah kebaikan, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya.”
Di antara hal yang membantu seseorang memiliki qanaah adalah merenungkan hikmah Allah dalam perbedaan rezeki dan tingkatan manusia.
Hal tersebut agar bumi dapat dimakmurkan dan manusia dapat saling memberikan manfaat dan memenuhi berbagai kebutuhan serta kemaslahatan.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
(QS. Az-Zukhruf: 32)
Tidak boleh bagi seseorang untuk iri terhadap orang lain atas karunia yang Allah berikan kepadanya.
Sebaliknya, ia harus ridha terhadap pembagian Rabbnya, memohon karunia kepada-Nya, dan berusaha semaksimal mungkin dengan sebab-sebab yang dibenarkan.
Tidak akan mati suatu jiwa hingga ia menyempurnakan rezeki dan ajalnya.
Maka carilah rezeki dengan cara yang baik dan tidak berlebihan.
Di antara perkara yang membantu seseorang memiliki qanaah adalah hidup secara hemat, bersikap pertengahan dalam membelanjakan harta, serta tidak berlebihan dan tidak boros.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan harta secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.”
(QS. Al-Isra: 26–27)
Selanjutnya, wahai hamba-hamba Allah!
Bersikap lembutlah kepada orang-orang lemah dan kaum miskin.
Bersikaplah penuh kasih kepada orang-orang fakir dan mereka yang membutuhkan.
Jagalah nikmat agar tidak berubah menjadi ajang membanggakan diri, pamer, dan mempertontonkan kehidupan.
Jangan menjadikan nikmat yang kalian miliki sebagai sebab hancurnya hati saudara-saudara kalian dan melemahnya qanaah mereka.
Sesungguhnya di antara nikmat itu, bentuk mensyukurinya adalah menyembunyikannya.
Sungguh sangat disayangkan pada zaman kita ini, sebagian orang sengaja memotret apa yang Allah anugerahkan kepadanya berupa pakaian, makanan, minuman, perjalanan, rumah, dan kendaraan, kemudian menyebarkannya kepada manusia melalui media sosial.
Seakan-akan nikmat belum sempurna kecuali apabila orang lain melihatnya.
Padahal tidak semua yang engkau miliki pantas untuk engkau tampilkan, dan tidak semua yang mampu engkau lakukan harus engkau pertontonkan kepada manusia.
Sebab di balik layar terdapat jiwa-jiwa yang mungkin lalai terhadap qanaah. Tindakan tersebut dapat membuka pintu perbandingan.
Bisa jadi seseorang sedang membutuhkan kebutuhan-kebutuhan pokok, sementara engkau mempertontonkan berbagai kemewahan.
Hal itu dapat membuatnya merasakan kepedihan, ketidakberdayaan, dan bangkitnya rasa iri.
Betapa banyak orang yang melihat apa yang dimiliki orang lain sementara ia tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkan apa yang dilihatnya.
Akhirnya ia kembali ke rumah dalam keadaan patah hati dan hatinya dipenuhi rasa penyesalan serta kepedihan.
Betapa banyak orang miskin melihat berbagai kenikmatan yang tidak mampu ia miliki.
Betapa banyak orang yang kehilangan sesuatu melihat apa yang sangat ia dambakan sementara ia tidak memiliki jalan untuk mendapatkannya.
Betapa banyak seorang ayah yang tidak mampu menyediakan bagi anak-anaknya sebagian dari apa yang ia lihat dimiliki oleh anak-anak orang lain.
Maka bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah.
Jagalah nikmat-nikmat Allah dengan bersyukur.
Jagalah hati para hamba Allah dengan kasih sayang.
Ketahuilah bahwa termasuk kesempurnaan kehormatan dan keluhuran akhlak adalah engkau bergembira dengan apa yang Allah berikan kepadamu, tanpa menjadikan kegembiraanmu sebagai sebab kesedihan orang lain, kebahagiaanmu sebagai sebab kesedihan seorang fakir, dan nikmatmu sebagai sebab hilangnya qanaah seorang Muslim.
Wahai orang yang Allah luaskan rezekinya!
Bersyukurlah kepada Allah.
Berilah makan orang yang kelaparan.
Berikanlah kepada orang yang tidak memiliki.
Berusahalah memberikan kebahagiaan kepada orang yang membutuhkan.
Apabila engkau ingin menampakkan nikmat Allah yang ada padamu, maka tampakkanlah pengaruh nikmat tersebut dalam sedekahmu, dalam baktimu, dalam kebaikanmu, dalam menyambung silaturahmi, dan dalam berbuat ihsan, disertai keikhlasan kepada Rabbmu.
Jangan menampakkannya dalam bentuk gambar atau tampilan yang membebani hati orang lain.
Maka sembunyikanlah, wahai hamba-hamba Allah, sebagian nikmat Allah yang menyembunyikannya lebih lembut bagi hati saudara-saudara kalian, lebih jauh dari sikap membanggakan diri, dan lebih membantu mereka untuk memiliki qanaah.
Ya Allah, jadikanlah kami merasa cukup dengan rezeki yang Engkau berikan kepada kami dan berkahilah rezeki tersebut bagi kami.
Ya Allah, cukupkanlah kami dengan yang halal sehingga kami tidak membutuhkan yang haram, dan cukupkanlah kami dengan karunia-Mu sehingga kami tidak membutuhkan selain-Mu.
Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang banyak mengingat-Mu dan banyak bersyukur atas nikmat-nikmat-Mu.
Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan dunia sebagai ambisi terbesar kami dan jangan pula menjadikannya sebagai batas tertinggi pengetahuan kami. Jangan Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri walaupun hanya sekejap mata.
Ya Allah, cintakanlah kepada kami keimanan dan hiasilah ia di dalam hati kami. Jadikanlah kami membenci kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan jalan yang benar.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin. Tolonglah hamba-hamba-Mu yang bertauhid. Ya Allah, jadikanlah negeri ini aman dan tenteram, demikian pula seluruh negeri kaum Muslimin.
Ya Allah, kekalkanlah keamanan, keselamatan, dan kestabilan di negeri kami. Jagalah negeri kami dari segala keburukan dan perkara yang tidak menyenangkan. Jauhkan darinya tipu daya orang-orang yang berbuat tipu daya, makar orang-orang yang berbuat makar, kedengkian orang-orang yang dengki, dan hasad orang-orang yang hasad, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, jagalah perbatasan kami. Berilah taufik kepada para tentara kami yang berjaga. Luruskan tembakan mereka, teguhkan langkah mereka, jadikan mereka sebagai perisai yang kokoh, dan menangkanlah mereka atas orang-orang yang memusuhi mereka.
Ya Allah, perbaikilah keadaan kaum Muslimin. Perbaikilah hubungan di antara mereka. Satukanlah kalimat mereka di atas kebenaran, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami, Penjaga Dua Tanah Suci, dengan taufik-Mu. Berikanlah kepadanya dukungan-Mu dan muliakanlah agama-Mu melalui dirinya, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, berikanlah taufik kepadanya dan kepada Putra Mahkotanya untuk melakukan perkara-perkara yang Engkau cintai dan Engkau ridhai, wahai Dzat Yang Maha Mendengar doa.
Ya Allah, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad, kepada keluarga beliau dan seluruh sahabat beliau.