KEBERSIHAN HATI
Terjemahan Khutbah Masjid Nabawi
25 Safar 1430 H (20 Februari 2009 M)
Khatib: Syekh Abdul Muhsin bin Muhammad Al-Qasim
Khutbah Pertama
Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, dan memohon ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam yang sebanyak-banyaknya kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya.
Amma ba'du:
Bertakwalah kalian kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah, dengan sebenar-benar takwa. Awasi dan takutlah kepada-Nya, baik dalam keadaan tersembunyi maupun ketika berbisik-bisik.
Wahai kaum muslimin!
Baiknya anggota badan bergantung pada baiknya hati. Amalan-amalan hati dalam hal pahala dan hukuman sama seperti amalan anggota badan. Seseorang diberi pahala karena loyalitas dan permusuhannya karena Allah, dan dia mendapatkan hukuman karena kedengkian, kesombongan, dan riya.
Memperbaiki hati lebih utama daripada memperbanyak ibadah-ibadah sunah. Seorang muslim tidak akan mencapai kesempurnaan kecuali dengan hilangnya kedengkian dan kebencian yang ada di dalam hatinya.
Bersihnya hati merupakan salah satu sifat para nabi. Allah memuji kekasih-Nya, Nabi Ibrahim 'alaihissalam, dengan firman-Nya:
﴿ إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ﴾
"(Ingatlah) ketika dia datang kepada Tuhannya dengan hati yang bersih." (QS. Ash-Shaffat: 84).
Dada Nabi ﷺ pernah dibelah sebanyak dua kali. Pertama, ketika beliau masih kecil, lalu dikeluarkan dari dadanya segumpal darah. Kedua, menjelang peristiwa Isra, hati beliau dicuci di dalam bejana emas menggunakan air Zamzam. Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Hibban.
Di antara doa Nabi ﷺ yang beliau ajarkan kepada umatnya adalah:
«اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي»
"Ya Allah, berilah aku petunjuk dan cabutlah kedengkian dari hatiku."
Maksud sakhimah adalah kebencian dan dendam yang tersimpan di dalam hati. (HR. Abu Dawud).
Allah juga memuji kaum Anshar karena kebersihan hati mereka. Allah berfirman:
﴿ وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا ﴾
"Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada orang-orang Muhajirin itu." (QS. Al-Hasyr: 9).
Maksudnya, mereka tidak merasa iri terhadap keutamaan dan karunia yang diberikan kepada saudara-saudara mereka dari kalangan Muhajirin.
Allah juga mengabarkan tentang orang-orang saleh yang datang setelah mereka melalui firman-Nya:
﴿ وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا ﴾
"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, 'Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.'" (QS. Al-Hasyr: 10).
Kebersihan hati merupakan salah satu sebab masuk surga.
Nabi ﷺ pernah bersabda kepada para sahabatnya:
«يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ مِنْ هَذَا الْفَجِّ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ»
"Akan muncul di hadapan kalian sekarang dari jalan ini seorang laki-laki yang termasuk penghuni surga."
Kemudian muncullah seorang laki-laki dari kalangan Anshar.
Para sahabat bertanya kepadanya tentang amalan yang dilakukannya. Ia menjawab:
"Aku tidak mendapati dalam diriku sedikit pun perasaan curang atau buruk terhadap seorang muslim pun. Aku juga tidak merasa iri kepada siapa pun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya."
(HR. Ahmad).
Para ulama salaf senantiasa berusaha menjaga kebersihan hati mereka sehingga mereka dikenal dengan sifat tersebut.
Ibnu Katsir rahimahullah, ketika menggambarkan sahabat dekatnya, Ibnu Qayyim, berkata:
"Beliau memiliki bacaan yang baik dan akhlak yang mulia, banyak menunjukkan kasih sayang dan kedekatan kepada orang lain. Beliau tidak dengki kepada siapa pun, tidak menyakiti orang lain, tidak mencela keburukan seseorang, dan tidak menyimpan dendam terhadap siapa pun."
Pada hari Kiamat, tidak ada sesuatu pun yang bermanfaat selain kebersihan hati yang disertai keimanan.
Allah Yang Mahamulia berfirman:
﴿ يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ﴾
"(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih." (QS. Asy-Syu'ara: 88–89).
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengutamakan sebagian hamba-Nya atas sebagian yang lain dalam pemberian rezeki. Hal itu merupakan keadilan dan karunia-Nya, agar tampak siapa yang bersabar dan siapa yang bersyukur.
Allah berfirman:
﴿ وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ ﴾
"Dan Allah melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain dalam hal rezeki." (QS. An-Nahl: 71).
Kedengkian merupakan akhlak yang tercela, hina, dan rendah. Orang yang dengki biasanya mengarahkan kedengkiannya kepada orang-orang yang memiliki keutamaan dan kenikmatan.
Iblis memiliki sifat dengki. Ia menolak bersujud kepada Adam karena dengki kepadanya.
Iblis berkata:
﴿ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ ﴾
"Aku lebih baik daripadanya. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah." (QS. Shad: 76).
Dengan demikian, kedengkian merupakan dosa pertama yang dengannya Allah didurhakai di langit.
Kedengkian juga termasuk sifat orang-orang Yahudi dan Nasrani. Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
﴿ أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ﴾
"Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad dan umatnya) karena karunia yang telah diberikan Allah kepadanya?" (QS. An-Nisa: 54).
Kedengkian juga merupakan salah satu ucapan orang-orang yang hatinya berpenyakit. Allah berfirman:
﴿ فَسَيَقُولُونَ بَلْ تَحْسُدُونَنَا ﴾
"Maka mereka akan berkata, 'Sebenarnya kalian dengki kepada kami.'" (QS. Al-Fath: 15).
Kedengkian bahkan dapat mengantarkan pelakunya kepada kekufuran kepada Allah.
Allah berfirman:
﴿ إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ ﴾
"Kecuali Iblis. Ia enggan dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan orang-orang kafir." (QS. Al-Baqarah: 34).
Orang-orang nonmuslim menginginkan agar kaum muslimin keluar dari agama mereka.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
﴿ وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ ﴾
"Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena kedengkian yang timbul dari diri mereka sendiri." (QS. Al-Baqarah: 109).
Kedengkian juga dapat menghalangi seseorang untuk masuk Islam.
Al-Miswar bin Makhramah pernah berkata kepada Abu Jahal:
"Apakah dahulu kalian pernah menuduh Muhammad berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang sekarang dia sampaikan?"
Abu Jahal menjawab:
"Demi Allah, dahulu Muhammad berada di tengah-tengah kami ketika masih muda dan dipanggil dengan sebutan Al-Amin (orang yang terpercaya). Kami sama sekali tidak pernah mendapati dirinya berdusta."
Al-Miswar bertanya:
"Lantas, mengapa kalian tidak mengikutinya?"
Abu Jahal menjawab:
"Kami dan Bani Hasyim saling bersaing dalam kemuliaan. Mereka memberi makan, kami pun memberi makan. Mereka memberi minum, kami pun memberi minum. Mereka memberikan perlindungan, kami pun memberikan perlindungan. Hingga ketika kami telah berhadap-hadapan, berlutut satu sama lain, dan kedudukan kami sudah seperti dua kuda pacuan yang saling bersaing, mereka berkata, 'Dari kalangan kami ada seorang nabi.'
"Lantas, kapan kami dapat memperoleh kemuliaan seperti ini?
"Demi Allah, kami tidak akan pernah beriman kepadanya dan tidak akan pernah membenarkannya."
Kedengkian juga dapat mendorong pelakunya membunuh orang lain.
Allah berfirman:
﴿ وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ﴾
"Dan bacakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka kurban salah seorang dari mereka diterima, sedangkan yang lain tidak diterima. Ia berkata, 'Sungguh, aku pasti akan membunuhmu!'" (QS. Al-Ma'idah: 27).
Kedengkian juga merupakan ujian bagi hati manusia.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
﴿ وَكَذَلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا ﴾
"Demikianlah Kami menguji sebagian mereka dengan sebagian yang lain, agar mereka berkata, 'Apakah mereka itu orang-orang yang diberi karunia oleh Allah di antara kita?'" (QS. Al-An'am: 53).
Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
"Kedengkian merupakan sesuatu yang tertanam dalam tabiat manusia. Orang yang berbahagia adalah orang yang berusaha menolak dan menghilangkannya."
Kedengkian bertentangan dengan kesempurnaan iman.
Nabi ﷺ bersabda:
«لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ: الْإِيمَانُ وَالْحَسَدُ»
"Keimanan dan kedengkian tidak akan berkumpul dalam hati seorang hamba."
(HR. An-Nasa'i).
Nabi ﷺ telah memperingatkan umatnya dari penyakit berbahaya ini. Beliau bersabda:
«لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا»
"Janganlah kalian saling dengki, janganlah melakukan najasy (menaikkan harga barang dengan tujuan menipu), janganlah saling membenci, dan janganlah saling membelakangi."
(HR. Muslim).
Kedengkian merupakan sumber berbagai keburukan. Ia menyebabkan kezaliman dan melahirkan permusuhan serta keterputusan hubungan.
Ibnu 'Aqil rahimahullah berkata:
"Aku telah mengamati berbagai akhlak manusia. Ternyata akhlak yang paling besar akibat buruknya adalah kedengkian.
"Orang yang dengki adalah orang yang lemah jiwanya. Setiap kenikmatan yang dimiliki orang lain terlihat sangat besar di matanya. Ia membenci kenikmatan Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya.
"Ia merasa sakit ketika melihat keutamaan seseorang tampak atau ketika seseorang mendapatkan pujian atas kebaikannya.
"Apabila ia melihat karunia Allah kepada makhluk-Nya, ia bersedih. Namun, apabila ia menyaksikan hilangnya karunia tersebut, ia merasa gembira.
"Orang yang dengki tidak pernah merasakan ketenangan. Ia bergembira ketika orang lain bersedih dan bersedih ketika orang lain bergembira.
"Ia seakan-akan tidak memandang ketetapan Allah sebagai sesuatu yang adil, dan tidak menganggap orang lain layak mendapatkan nikmat-Nya.
"Lidahnya mengeluarkan apa yang tersembunyi dalam kegelapan hatinya."
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
﴿ أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ ﴾
"Ataukah orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka?" (QS. Muhammad: 29).
Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu berkata:
"Jauhilah kedengkian, karena pengaruhnya akan tampak pada dirimu sebelum tampak pada musuhmu."
Kedengkian akan membinasakan pelakunya dan mengantarkannya kepada kehinaan serta kerendahan. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada saudara-saudara Nabi Yusuf ketika mereka meminta belas kasihan kepada saudara yang dahulu mereka dengki.
Mereka berkata:
﴿ يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ مَسَّنَا وَأَهْلَنَا الضُّرُّ وَجِئْنَا بِبِضَاعَةٍ مُزْجَاةٍ فَأَوْفِ لَنَا الْكَيْلَ وَتَصَدَّقْ عَلَيْنَا ﴾
"Wahai Al-'Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan, dan kami datang membawa barang-barang yang tidak berharga. Maka sempurnakanlah takaran untuk kami dan bersedekahlah kepada kami." (QS. Yusuf: 88).
Tidak ada sifat buruk yang lebih merusak daripada kedengkian.
Orang yang dengki sebenarnya telah menyiksa dirinya sendiri sebelum keburukannya sampai kepada orang yang didengkinya.
Barang siapa memperhatikan keadaan orang yang dengki, dengan segala kegelisahan, kesedihan, dan penderitaannya, niscaya ia akan merasa iba kepadanya.
Orang yang dengki telah menyibukkan dirinya dengan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya, sehingga ia menyia-nyiakan sesuatu yang sebenarnya bermanfaat baginya.
Kedengkian justru menjadi tanda keutamaan bagi orang yang didengki, sebab jiwa manusia biasanya tidak merasa dengki kecuali kepada orang yang memiliki kedudukan atau keutamaan.
Betapa banyak kenikmatan tersembunyi yang justru ditampakkan oleh orang yang dengki! Betapa banyak hamba yang mendapatkan pujian setelah dirinya didengki!
Habil, putra Nabi Adam, pernah didengki, tetapi namanya tetap dikenang dan dipuji di dalam Kitab Allah.
Sesuai dengan kadar keutamaan seseorang dan tampaknya nikmat Allah pada dirinya, semakin banyak pula orang yang mendengkinya.
Nikmat terbesar yang membuat seseorang layak didengki adalah nikmat Islam.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
﴿ وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً ﴾
"Mereka menginginkan agar kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, sehingga kamu menjadi sama dengan mereka." (QS. An-Nisa: 89).
Nabi ﷺ sendiri pernah didengki karena Al-Qur'an yang diturunkan kepada beliau.
Allah berfirman:
﴿ وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَذَا الْقُرْآنُ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ ﴾
"Dan mereka berkata, 'Mengapa Al-Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang pembesar dari salah satu dua negeri ini?'" (QS. Az-Zukhruf: 31).
Orang yang didengki adalah orang yang dizalimi. Ia diperintahkan untuk bersabar, bertakwa, memaafkan, dan berlapang dada.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
﴿ وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ﴾
"Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena kedengkian yang timbul dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan berlapang dadalah sampai Allah memberikan perintah-Nya." (QS. Al-Baqarah: 109).
Nabi Yusuf 'alaihissalam berkata kepada saudara-saudaranya:
﴿ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ﴾
"Pada hari ini tidak ada cercaan dan celaan terhadap kalian." (QS. Yusuf: 92).
Api kedengkian dapat dipadamkan dengan berbuat baik kepada orang yang dengki.
Semakin besar keburukan yang dilakukan orang yang dengki, semakin tingkatkanlah kebaikan, nasihat, dan rasa kasih sayang kepadanya.
Kedengkian menghalangi kesempurnaan iman.
Nabi ﷺ bersabda:
«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»
"Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Kedengkian merupakan kemaksiatan yang wajib ditaubati oleh seorang muslim.
Ia harus ridha terhadap ketetapan Allah, tunduk kepada takdir-Nya, dan tidak menentang keputusan Allah.
Hendaknya ia bergembira atas kemurahan Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya.
Ia harus berusaha mengusir kemaksiatan tersebut dari hatinya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, rasa takut terhadap hukuman-Nya, dan agar dirinya tidak membenci nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya.
Hendaknya ia melihat orang yang berada di bawahnya dalam urusan dunia, mengingat berbagai nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya, serta merasa cukup dan puas dengan pemberian Allah.
Sebab, setiap orang yang dengki juga menjadi sasaran kedengkian orang lain.
Hendaknya ia berlindung kepada Allah dari penyakit dengki, segera mendoakan kebaikan bagi orang yang didengkinya, serta mengharapkan bertambahnya kebaikan bagi saudaranya sesama muslim.
Barang siapa yang memberikan nikmat kepada orang lain, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala Mahakuasa untuk memberikan kepadamu nikmat yang serupa, bahkan lebih banyak daripadanya.
Allah berfirman:
﴿ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ ﴾
"Dan Allah mempunyai karunia yang besar." (QS. Al-Hadid: 21).
Adapun ghibthah (keinginan mendapatkan kebaikan seperti yang dimiliki orang lain tanpa mengharapkan hilangnya nikmat orang tersebut), maka yang benar-benar patut menjadi sasaran ghibthah adalah pemberian berupa tingkatan-tingkatan kemuliaan di akhirat.
Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.
Allah berfirman:
﴿ وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ ﴾
"Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain." (QS. An-Nisa: 32).
Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dengan Al-Qur'an yang agung.
Semoga Allah memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.
Aku mengatakan apa yang kalian dengarkan ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku, untuk kalian, serta seluruh kaum muslimin dari setiap dosa. Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Khutbah Kedua
Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan-Nya. Segala syukur hanya milik-Nya atas taufik dan karunia-Nya.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagai bentuk pengagungan terhadap kedudukan-Nya.
Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam yang sebanyak-banyaknya kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.
Wahai kaum muslimin!
Hati yang paling dekat kepada Allah adalah hati yang paling lembut dan paling bersih.
Tidak ada kehidupan yang lebih menyenangkan daripada kehidupan seorang mukmin yang bersih hatinya.
Apabila ia melihat suatu kenikmatan yang Allah berikan kepada saudaranya, ia ikut bergembira karenanya. Ia menyadari bahwa kenikmatan tersebut merupakan karunia Allah dan bahwa para hamba sangat membutuhkan karunia-Nya.
Tidaklah seseorang memusuhi seorang muslim kemudian ia memperoleh keberuntungan.
Dalam keridhaan terhadap pembagian rezeki yang telah Allah tetapkan terdapat keselamatan hati. Semakin besar keridhaan seorang hamba terhadap ketetapan Allah, semakin bersih pula hatinya.
Hendaknya seseorang menundukkan dirinya dari akhlak-akhlaknya yang tercela dan menahan dirinya dari tabiatnya yang hina.
Inti dari berbagai perkara yang harus dijaga agar hati tetap bersih adalah: ketamakan, hawa nafsu, kemarahan, dan kedengkian.
Barang siapa menginginkan agar Allah memberikan kenikmatan kepadanya, hendaknya ia tidak terlalu memperhatikan keadaan orang lain dan hendaknya ia menjadikan hatinya bersih.
Barang siapa memperhatikan dosa-dosanya sendiri, niscaya ia akan menganggap banyak nikmat yang telah dimilikinya.
Tidak ada sesuatu pun yang lebih baik dalam menjaga nikmat Allah selain mensyukurinya. Dan tidak ada sesuatu pun yang lebih cepat menyebabkan hilangnya nikmat selain menggunakan nikmat tersebut untuk bermaksiat kepada Allah.
Karena itu, bersegeralah untuk mensyukuri berbagai nikmat Allah yang diberikan kepada kalian. Niscaya Allah akan menambah karunia-Nya kepada kalian dan menganugerahkan berbagai kebaikan yang dengannya kalian akan berbahagia di dunia dan akhirat.
Kemudian ketahuilah, sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk berselawat dan mengucapkan salam kepada Nabi-Nya.
Allah berfirman dalam kitab-Nya yang kokoh:
﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56).
Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan keberkahan kepada Nabi kami Muhammad.
Ya Allah, ridhailah para khalifah beliau yang mendapatkan petunjuk, yang memutuskan perkara dengan kebenaran dan senantiasa berlaku adil dengannya: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.
Ridhailah pula seluruh sahabat Nabi, dan jadikanlah kami bersama mereka dengan kemurahan dan karunia-Mu, wahai Zat Yang Mahamulia di antara semua yang memiliki kemuliaan.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik. Hancurkanlah musuh-musuh agama.
Ya Allah, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, tenteram, dan penuh kemakmuran, demikian pula seluruh negeri kaum muslimin.
Ya Allah, jauhkanlah dari kami kejahatan orang-orang yang menyimpan dendam, orang-orang yang bergembira atas musibah orang lain, dan orang-orang yang dengki, wahai Tuhan seluruh alam.
Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.
﴿ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴾
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Al-Baqarah: 201).
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu taufik dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Ya Allah, ilhamkanlah kepada kami kebenaran, berilah kami taufik untuk mengikuti kebenaran, dan jauhkanlah kami dari berbagai fitnah.
Ya Allah, Engkaulah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkaulah Yang Mahakaya, sedangkan kami adalah orang-orang yang fakir dan membutuhkan-Mu.
Turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.
Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.
Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.
Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.
Ya Allah, sesungguhnya kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.
﴿ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴾
"Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Al-A'raf: 23).
Ya Allah, berilah taufik kepada pemimpin kami untuk mengikuti petunjuk-Mu dan jadikanlah amal perbuatannya berada dalam keridhaan-Mu.
Berilah pula taufik kepada seluruh pemimpin kaum muslimin agar senantiasa mengamalkan Kitab-Mu dan menjadikan syariat-Mu sebagai pedoman hukum, wahai Zat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.
Wahai hamba-hamba Allah!
Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan, berbuat ihsan, dan memberikan hak kepada kaum kerabat. Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberikan pengajaran kepada kalian agar kalian mengambil pelajaran.
﴿ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ﴾
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl: 90).
Maka ingatlah Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia, niscaya Dia akan mengingat kalian.
Bersyukurlah kepada-Nya atas segala karunia dan nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat-Nya kepada kalian.
Allah berfirman:
﴿ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ ﴾
"Dan sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar (keutamaannya). Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan." (QS. Al-'Ankabut: 45).
Catatan istilah: Dalam khutbah ini, istilah salāmat ash-shadr berarti bersihnya hati dari dendam, kebencian, dan kedengkian.
Adapun hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat yang Allah berikan kepada orang lain, sedangkan ghibthah adalah menginginkan kebaikan serupa tanpa mengharapkan hilangnya nikmat orang tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar