KEUTAMAAN MEMBERI DAN KEDERMAWANAN
Terjemahan Khutbah Masjid Nabawi 20/3/1434 H
Khatib: Syekh Abdul Bari bin Awwadh ats-Tsubaiti حفظه الله
Pengantar
Syekh Abdul Bari bin Awwadh ats-Tsubaiti — semoga Allah menjaganya — menyampaikan khutbah Jumat berjudul Keutamaan Memberi dan Kedermawanan. Dalam khutbah ini, beliau membahas keutamaan memberi dan bersikap dermawan. Beliau menjelaskan bahwa manusia yang paling agung dalam memberi adalah Nabi Muhammad ﷺ, dan bahwa kegembiraan beliau ketika memberi lebih besar daripada kegembiraan orang yang menerima pemberian. Beliau juga menyebutkan sejumlah contoh kedermawanan dan infak para sahabat, serta beberapa hadis tentang permohonan Nabi ﷺ kepada Allah agar dilindungi dari kelemahan, sifat kikir, dan ketamakan.
Khutbah Pertama
Segala puji bagi Allah yang berfirman:
﴿ فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ ﴾
“Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkan baginya jalan menuju kemudahan.” (QS. Al-Lail: 5–7).
Aku memuji-Nya, Mahasuci Dia, dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya yang tidak terhitung dan tidak terbilang.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia berfirman:
﴿ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا ﴾
“Dan pemberian Tuhanmu tidaklah terhalang.” (QS. Al-Isra’: 20).
Aku juga bersaksi bahwa junjungan dan Nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya. Rabb beliau berfirman kepadanya:
﴿ وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ ﴾
“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau menjadi puas.” (QS. Ad-Duha: 5).
Semoga Allah melimpahkan selawat kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya.
Amma ba’du.
Aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar senantiasa bertakwa kepada Allah. Allah Ta'ala berfirman:
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102).
### 1\. Memberi adalah ibadah dan bentuk syukur atas nikmat Allah
Wahai hamba-hamba Allah!
Memberi merupakan ibadah dan bentuk rasa syukur kepada Allah atas berbagai nikmat-Nya. Rasul kita yang mulia ﷺ telah memberikan teladan paling indah dalam hal memberi. Beliau memberikan segala sesuatu dan dari segala yang dimilikinya, hingga tidak menyisakan apa pun di tangannya dan tidak menahan apa pun dari dirinya.
Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Rasulullah ﷺ tidak pernah dimintai sesuatu pun, lalu beliau menjawab, ‘Tidak.’ Pernah seorang laki-laki meminta kepada beliau kambing yang memenuhi daerah di antara dua gunung, lalu beliau memberikannya kepadanya.”
Demikian besar kemurahan hati beliau, sampai-sampai beliau memberikan pakaian yang sedang dikenakannya di punggungnya.
Di antara bentuk pemberian beliau kepada umatnya ialah beliau mengabdikan seluruh kehidupannya untuk umat, sebagai pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira. Beliau menyeru dengan firman Allah:
﴿ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ ﴾
“Dia tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya azab yang sangat keras.” (QS. Saba’: 46).
Di antara pemberian beliau adalah cinta yang tiada tandingannya kepada umat, serta kasih sayang yang tidak tertandingi oleh siapa pun.
Beliau sering bersabda:
“Seandainya aku tidak khawatir memberatkan umatku, niscaya aku akan memerintahkan mereka …”
Yakni, memerintahkan suatu amalan yang beliau tidak wajibkan kepada mereka karena khawatir akan memberatkan mereka.
Ketika seorang laki-laki bertanya kepada beliau tentang haji, “Apakah wajib setiap tahun, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Seandainya aku menjawab, ‘Ya,’ niscaya haji itu akan diwajibkan dan kalian tidak akan mampu melaksanakannya.”
Beliau terus berdoa:
“Ya Allah, umatku! Ya Allah, umatku!”
Hingga Rabb beliau berfirman kepadanya:
“Sesungguhnya Kami akan membuatmu rida terhadap umatmu dan tidak akan membuatmu bersedih.”
Di antara limpahan kebaikan dan keberkahan Nabi ﷺ adalah bahwa pemberian dan manfaat beliau terus berlanjut hingga hari kiamat.
Para sahabat dan saudara-saudara beliau kemudian mengikuti jalan yang beliau tempuh. Mereka menimba dari sumber kedermawanan beliau hingga menjadi teladan dan tokoh besar dalam hal memberi.
2\. Teladan kedermawanan para sahabat
Tentang Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
«مَا نَفَعَنِي مَالٌ قَطُّ مَا نَفَعَنِي مَالُ أَبِي بَكْرٍ»
“Tidak ada harta seseorang yang memberikan manfaat kepadaku sebagaimana manfaat harta Abu Bakar.”
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pun menangis seraya berkata:
“Wahai Rasulullah, bukankah aku dan hartaku hanyalah untukmu?”
Adapun Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau adalah orang yang sangat dermawan. Setiap malam, beliau memperhatikan keadaan seorang perempuan tua yang buta dan lumpuh. Beliau membantu memenuhi kebutuhannya dan membersihkan kotoran dari rumahnya.
Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu juga memberikan salah satu gambaran kedermawanan. Ia datang ke Madinah, dan dalam kurun waktu satu tahun, sebagian besar rumah penduduk Madinah telah dimasuki Islam melalui dakwahnya.
Sa‘ad bin Mu‘adz radhiyallahu ‘anhu berdiri menyampaikan kesiapan kaum Anshar untuk memberikan jiwa dan harta mereka. Ia berkata:
“Wahai Rasulullah! Demi Zat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, seandainya engkau mengajak kami menyeberangi lautan ini lalu engkau menyelaminya, niscaya kami akan menyelaminya bersamamu. Silakan engkau menjalin hubungan dengan siapa pun yang engkau kehendaki dan memutus hubungan dengan siapa pun yang engkau kehendaki. Ambillah dari harta kami apa pun yang engkau kehendaki. Kami tidak merasa keberatan apabila esok hari kami menghadapi musuh. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sabar ketika perang dan jujur ketika berhadapan dengan musuh. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu dari diri kami sesuatu yang menyejukkan pandanganmu.”
Adapun Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bentuk pemberiannya ialah melalui ilmu.
Setelah salat Subuh, beliau duduk di Masjidil Haram lalu berkata, “Mari, datangkan kepadaku orang-orang yang mempelajari Al-Qur’an.”
Mereka pun datang dan membaca Al-Qur’an hingga matahari terbit.
Kemudian beliau berkata, “Silakan pergi. Datangkan kepadaku orang-orang yang mempelajari hadis.”
Mereka pun datang dan mengajukan pertanyaan kepada beliau.
Setelah selesai, beliau berkata, “Silakan pergi. Datangkan kepadaku orang-orang yang mempelajari fikih.”
Setelah itu, beliau mendatangkan ahli tafsir, kemudian ahli bahasa Arab, dan demikian seterusnya.
Beliau juga mendidik murid-muridnya. Dengan demikian, beliau menggabungkan dua bentuk kebaikan dalam pemberiannya: mencurahkan ilmu dan kemurahan tangan.
3\. Memberi dalam berbagai bidang kehidupan
Pemberian yang terus mengalir dalam berbagai bidang telah mengubah arah peristiwa dan menulis ulang sejarah melalui generasi pertama umat ini.
Betapa indah apabila seorang Muslim memiliki sifat suka memberi dan mencintai kebaikan bagi orang lain!
Pemberian yang tulus tidak dibatasi oleh batasan tertentu dan tidak dikekang oleh persyaratan tertentu. Ia merupakan pemberian kepada orang yang engkau cintai maupun orang yang tidak engkau cintai.
Orang-orang yang gemar memberi tidak mengenal kekikiran, ketamakan, dan kebencian.
Apabila engkau memberikan sesuatu kepada orang lain, engkau akan memperoleh keuntungan berlipat ganda dibandingkan dengan apa yang telah engkau berikan.
Pemberianmu akan memasukkan harapan dan kebahagiaan ke dalam hati orang-orang yang pernah merasakan kesedihan dan penderitaan: anak yatim yang kehilangan kasih sayang seorang ayah, serta janda yang kehilangan orang yang menanggung kehidupannya.
Berilah saudara-saudara Muslimmu di mana pun mereka berada. Berilah kerabat dekatmu. Wujudkanlah pemberian di antara suami dan istri melalui cinta, kasih sayang, dan rahmat.
Pintu kedermawanan sangat luas. Di antaranya ialah memaafkan orang yang menzalimimu, berlapang dada terhadap orang yang berbuat buruk kepadamu, menyambung hubungan dengan orang yang memutus hubungan denganmu, mendoakan kaum Muslimin maupun orang-orang non-Muslim, menerima alasan orang yang meminta maaf, serta memaklumi kekeliruan orang-orang yang melakukan kesalahan.
Mengalah dengan melepaskan sebagian hakmu juga merupakan bentuk pemberian.
Memberi juga dapat berupa gagasan bermanfaat yang engkau sumbangkan bagi pekerjaan dan masyarakatmu.
Ada pemberian berupa harta, ilmu, pengetahuan, informasi, dan pengalaman.
Ada pula pemberian berupa pemanfaatan kedudukan dan pengaruh, pemberian waktu, reputasi, serta bantuan melalui perantaraan atau rekomendasi.
Ada pemberian melalui tenaga dan tubuh, seperti memberikan pelayanan, menyingkirkan gangguan dari jalan, serta berjalan untuk memenuhi kebutuhan orang lain.
Ada pula pemberian berupa pengorbanan jiwa di jalan Allah.
Pintu kedermawanan terbuka bagi semua golongan dan lapisan masyarakat. Memberi itu mudah dan sederhana: senyuman, kunjungan, perkataan yang baik, doa, nafkah, atau pelayanan seorang dokter melalui pengobatan.
Lantas, mengapa kita tidak memasuki pintu kedermawanan?
Mengapa kita tidak belajar memberi, kemudian menyirami masyarakat, negeri, dan umat kita dengan kedermawanan itu?
Dengan demikian, kehidupan akan memiliki makna, interaksi akan terasa indah, dan perasaan akan memiliki ruh.
Orang-orang yang merasakan kebahagiaan dalam memberi rela bersusah payah agar orang lain dapat kenyang. Mereka berkorban agar pemberian mereka kelak didapati di hadapan mereka pada hari kiamat sebagai pertolongan dan penopang.
4\. Setiap orang mampu memberi
Tidak ada seorang pun di tengah umat ini yang benar-benar tidak mampu memberi.
Dengan menolak memberi, seseorang membekukan gerak kehidupannya, mengubur potensi dirinya, dan menghancurkan kemampuannya. Perasaannya pun menjadi seperti jasad yang tidak bernyawa.
Setiap orang di antara kita mampu memberi dan melayani umat melalui perkataan maupun perbuatannya.
Karena itu, kita harus menyingkirkan penghalang-penghalang kedermawanan dari diri kita. Penghalang yang paling menonjol ialah kelemahan dan ketidakberdayaan, yang darinya Rasul kita ﷺ memohon perlindungan kepada Allah:
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ»
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan ketidakberdayaan.”
Sebab, kelemahan sering kali menjadi penyebab kegagalan dan ketidakberhasilan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ»
“Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa lemah.” (HR. Muslim).
Kelemahan akan mengurangi semangat, menghancurkan cita-cita, dan menghilangkan keinginan untuk memberi. Akibatnya, engkau kehilangan bagian besar dari dirimu dan kemampuanmu untuk memberikan manfaat.
Engkau pun menjadi orang yang seolah-olah telah kehilangan kemampuan, sementara orang yang lemah mencari-cari alasan bagi ketidakberdayaannya dengan alasan-alasan yang rapuh dan dalih-dalih yang tidak berdasar.
Akibat kelemahan yang melemahkan semangat ini, sebagian kaum Muslimin berubah menjadi pihak yang selalu meminta dan mengulurkan tangan ke bawah. Ia terus mengambil dan mengambil tanpa pernah merasa cukup.
Ia menjalani hidup dengan mengasingkan diri secara egoistis. Dirinya kikir, semangatnya lemah, dan matanya selalu tertuju kepada apa yang dimiliki orang lain. Bahkan, sekalipun ia hidup berkecukupan, ia tetap merasakan dirinya miskin dan tidak menyukai pemberian.
“Mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah merasa lemah.”
Artinya: bangkitlah, berdirilah, bersegeralah, dan mulailah bergerak.
Namun, sebelum itu, bersamaan dengannya, dan setelahnya, tetaplah memohon pertolongan kepada Allah. Engkau akan mendapati kebaikan yang terus mengalir, pertolongan yang semakin bertambah, serta taufik dari Rabbmu yang membimbing dan menolongmu.
5\. Dampak kedermawanan bagi individu dan umat
Wahai saudaraku Muslim, kedermawanan memiliki pengaruh terhadap orang yang memberi, masyarakatnya, dan umatnya.
Kedermawanan membangkitkan potensi individu dan umat, membuka cakrawala pembangunan, memperkuat kemuliaan umat, serta menumbuhkan kepercayaan di antara anggota masyarakatnya.
Orang yang dermawan dicintai masyarakatnya, dihormati oleh kaumnya, merasa puas terhadap dirinya sendiri, dan memperoleh keridaan Rabbnya.
Pintu rumah orang yang dermawan akan terus diketuk oleh orang-orang yang membutuhkan. Pemberiannya terus berlanjut dan manfaatnya menjangkau banyak pihak dalam skala yang besar, disertai kehadirannya yang terus memberikan manfaat dan kebaikan yang senantiasa berlangsung.
Ketika kedermawanan demi Allah telah tertanam kuat di dalam hatimu, kebahagiaan yang lahir darinya akan segera tumbuh berlipat ganda.
Sebab, memberi memiliki kenikmatan tersendiri yang bahkan melampaui kenikmatan orang yang menerima pemberian tersebut.
Terlibat dalam amal kebaikan, berkorban, dan membantu orang lain dapat melindungi seseorang dari banyak kesedihan dan kegelisahan yang mungkin menghambat kehidupannya.
Karena itu, masukkanlah dirimu ke dalam golongan orang-orang yang suka memberi. Jadilah pelopor kedermawanan dan termasuk orang-orang yang memiliki tangan di atas.
Barang siapa memberi, Allah akan memberinya. Pemberian Allah adalah limpahan yang tidak terputus dan pertolongan yang tidak berakhir.
Umat kita pada hari ini, dengan berbagai penderitaan yang dialaminya dan kobaran peperangan serta fitnah yang membakarnya, sangat membutuhkan kebangkitan kembali nilai-nilai kedermawanan.
Dengan ilmu, kita mengatasi kebodohan yang telah menyebar.
Dengan infak dan pembangunan, kita mengatasi kemiskinan yang meluas.
Dengan penjaminan dan pemeliharaan, kita mengatasi bertambahnya anak-anak yatim.
Dengan keamanan, kita mengatasi ketakutan yang tersebar.
Dengan perdamaian, kita mengatasi peperangan.
Dengan pengawasan dan integritas, kita mengatasi kerusakan.
Inilah saatnya untuk memberi.
Allah Ta'ala berfirman:
﴿ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ﴾
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7).
Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dengan Al-Qur’an yang agung, serta memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.
Aku menyampaikan perkataanku ini, dan aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung untuk diriku dan untuk kalian. Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Khutbah Kedua
Segala puji bagi Allah. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat Islam. Aku memuji-Nya, Mahasuci Dia, dan senantiasa bersyukur kepada-Nya.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku mengucapkan persaksian yang dengannya aku berharap memperoleh keamanan di negeri kedamaian, yaitu surga.
Aku juga bersaksi bahwa junjungan dan Nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya, yang menyeru menuju negeri kedamaian, yaitu surga.
Semoga Allah melimpahkan selawat kepada beliau, keluarga, dan para sahabatnya, dengan selawat yang sempurna dan berkesinambungan.
Amma ba’du.
Aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar senantiasa bertakwa kepada Allah.
1\. Ikhlas dan istiqamah dalam memberi
Agar pemberianmu diterima, bermanfaat, dan terus mengalir, waspadalah terhadap dorongan hawa nafsu, riya, sum‘ah (memperdengarkan amal agar dipuji), dan kemalasan.
Teruslah memberi meskipun sedikit. Amalan yang sedikit tetapi berkesinambungan lebih baik daripada amalan yang banyak tetapi terputus.
Tetesan air yang terus-menerus akhirnya dapat menjadi aliran besar.
Telah sahih bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ»
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling berkesinambungan, meskipun sedikit.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
2\. Jangan meremehkan kebaikan sekecil apa pun
Sekalipun pemberian itu sederhana, Allah Tabaraka wa Ta'ala akan memberkahinya dan mengembangkannya. Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.
Pernah ada seorang laki-laki melewati dahan pohon yang berada di tengah jalan. Ia berkata:
“Demi Allah, sungguh aku akan menyingkirkan dahan ini dari jalan kaum Muslimin agar tidak menyakiti mereka.”
Maka ia pun dimasukkan ke dalam surga.
Dalam hadis sahih juga disebutkan bahwa ada seorang perempuan pezina yang memberi minum seekor anjing yang terengah-engah karena kehausan. Maka Allah mengampuninya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ»
“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
Ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah, bahwa Allah telah memerintahkan kalian untuk berselawat kepada Rasul pembawa petunjuk. Allah berfirman dalam Kitab-Nya:
﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).
Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad.
Ya Allah, rida dan rahmatilah keempat khalifah yang lurus: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Rida dan rahmatilah keluarga beliau serta para sahabat yang mulia, dan sertakanlah kami bersama mereka dengan ampunan, kemurahan, dan kebaikan-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin, hinakanlah kekufuran dan orang-orang kafir, serta binasakanlah musuh-musuh-Mu, musuh-musuh agama.
Ya Allah, jadikanlah negeri ini aman dan tenteram, demikian pula seluruh negeri kaum Muslimin.
Ya Allah, sesungguhnya telah menimpa saudara-saudara kami di Syam berbagai penderitaan yang Engkau Maha Mengetahui dan Maha Kuasa untuk menghilangkannya.
Ya Allah, singkapkanlah dari mereka bencana dan kesengsaraan yang telah menimpa mereka, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, sesungguhnya mereka tidak beralas kaki, maka berilah mereka alas kaki.
Mereka tidak berpakaian, maka berilah mereka pakaian.
Mereka kelaparan, maka berilah mereka makanan.
Mereka dizalimi, maka tolonglah mereka.
Mereka dizalimi, maka tolonglah mereka.
Mereka dizalimi, maka tolonglah mereka.
Ya Allah, Zat Yang menurunkan Kitab, menggerakkan awan, dan mengalahkan pasukan-pasukan musuh, kalahkanlah musuh mereka dan menangkanlah mereka atas musuh-musuh itu, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, tolonglah mereka dengan segera dan jangan ditunda-tunda.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami di Syam dengan segera dan jangan ditunda-tunda.
Ya Allah, satukanlah barisan mereka, teguhkanlah hati mereka, satukanlah perkataan mereka, tolonglah mereka, dan tepatkanlah bidikan mereka, wahai Rabb seluruh alam.
Wahai Yang Maha Pengasih, wahai Yang Maha Perkasa, wahai Yang Mahakuat, wahai Yang Mahamulia, sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri, dan kecukupan.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu surga dan segala perkataan serta perbuatan yang mendekatkan kepadanya.
Kami berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala perkataan serta perbuatan yang mendekatkan kepadanya.
Ya Allah, perbaikilah agama kami yang merupakan penjaga urusan kami.
Perbaikilah dunia kami yang di dalamnya terdapat kehidupan kami.
Perbaikilah akhirat kami yang kepadanya kami akan kembali.
Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagi kami dari segala keburukan, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, bantulah kami dan janganlah Engkau membantu pihak yang melawan kami.
Menangkanlah kami dan janganlah Engkau memenangkan pihak yang melawan kami.
Aturlah urusan kami demi kebaikan kami dan janganlah Engkau menjadikan makar terhadap kami.
Berilah kami petunjuk dan mudahkanlah petunjuk itu bagi kami.
Menangkanlah kami atas orang yang melampaui batas terhadap kami.
Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, tunduk kepada-Mu, banyak merintih memohon kepada-Mu, dan selalu kembali bertobat kepada-Mu.
Ya Allah, terimalah tobat kami, bersihkanlah dosa-dosa kami, teguhkanlah hujah kami, luruskanlah lisan kami, dan cabutlah kedengkian serta kebencian yang tersembunyi di dalam hati kami, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon keridaan-Mu dan surga. Kami berlindung kepada-Mu dari kemurkaan-Mu dan neraka.
Ya Allah, hilangkanlah kegelisahan orang-orang Muslim yang sedang dirundung kesusahan.
Lapangkanlah penderitaan orang-orang yang tertimpa kesulitan.
Lunasilah utang orang-orang yang berutang.
Sembuhkanlah orang-orang sakit di antara kami dan seluruh kaum Muslimin, dengan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.
Ya Allah, berilah taufik kepada pemimpin kami menuju perkara-perkara yang Engkau cintai dan Engkau ridai.
Ya Allah, bimbinglah dia menuju petunjuk-Mu dan jadikanlah amalnya berada dalam keridaan-Mu, wahai Rabb seluruh alam.
Kenakanlah kepadanya pakaian kesehatan dan kesejahteraan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
Berilah taufik kepada seluruh pemimpin kaum Muslimin agar mengamalkan Kitab-Mu dan menerapkan syariat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.
Allah Ta'ala berfirman:
﴿ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴾
“Wahai Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A‘raf: 23).
Allah Ta'ala juga berfirman:
﴿ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴾
“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201).
Allah Ta'ala berfirman:
﴿ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ ﴾
“Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10).
Allah Ta'ala berfirman:
﴿ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ﴾
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90).
Maka ingatlah Allah, niscaya Dia akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat itu kepada kalian.
Sungguh, mengingat Allah itu lebih besar keutamaannya. Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar