Minggu, 25 Oktober 2026

UTSMAN BIN AFFAN RADHIYALLAHU ANHU


 Terjemahan Khutbah Masjid Nabawi



 Biografi Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu

Khatib: Syekh Abdul Muhsin bin Muhammad al-Qasim

Tanggal khutbah: 22 Rabiul Awal 1432 H.

Tanggal penambahan artikel: 1 November 2013 M / 29 Dzulhijjah 1434 H.



Pengantar

Syekh Abdul Muhsin bin Muhammad al-Qasim hafizhahullah menyampaikan khutbah Jumat berjudul Biografi Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Dalam khutbah ini, beliau menjelaskan sebagian perjalanan hidup sahabat yang mulia, Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, dengan menyebutkan sejumlah keutamaan dan kemuliaannya, pujian Nabi ﷺ kepadanya, serta keridaan para sahabat terhadapnya. Kemudian, beliau membahas peristiwa pembunuhannya dan menjelaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan awal munculnya fitnah di tengah umat Islam.




Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan diri kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga selawat dan salam yang melimpah senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga beliau, dan para sahabat beliau.

Amma ba‘du.

Wahai hamba-hamba Allah, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan berpegang teguhlah pada tali Islam yang paling kokoh.

Wahai kaum muslimin!

Allah memilih rasul terbaik untuk umat ini. Allah Subhanahu wa Ta‘ala juga memilih orang-orang terbaik dari umat ini untuk menjadi sahabat Nabi-Nya. Tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada orang-orang yang menyamai mereka dalam keutamaan tersebut.

Allah mengampuni dosa-dosa mereka, mengangkat kedudukan mereka, dan meridai mereka karena keimanan, keikhlasan, persahabatan mereka dengan Nabi, serta ketulusan mereka dalam menolong beliau ﷺ.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”

(QS. At-Taubah: 100).

Di antara perkara yang menambah keimanan adalah mengenal perjalanan hidup orang-orang yang memperoleh kemuliaan sebagai sahabat Nabi, yang bersegera membenarkan beliau, mendampingi beliau, dan menolong beliau ﷺ.

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Termasuk bagian dari Sunnah adalah menyebutkan kebaikan seluruh sahabat Rasulullah ﷺ.”

Mendoakan kebaikan bagi mereka merupakan ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah. Meneladani mereka merupakan jalan menuju kebaikan, sedangkan mencintai mereka termasuk prinsip-prinsip agama.

Imam ath-Thahawi rahimahullah berkata, “Kami mencintai para sahabat Rasulullah ﷺ. Kami tidak berlebihan dalam mencintai seorang pun di antara mereka dan kami tidak berlepas diri dari seorang pun di antara mereka.”

Orang yang paling utama di antara generasi istimewa tersebut adalah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Beliau merupakan orang yang paling kokoh keimanannya, paling luas ilmunya, dan paling sering menyertai Nabi ﷺ.

Kemudian Umar al-Faruq radhiyallahu ‘anhu. Beliau menempati kedudukan berikutnya dalam keutamaan dan kekhalifahan. Beliau merupakan benteng Islam yang kokoh, dengan perjalanan hidupnya yang kuat dan keadilannya yang sempurna. Setiap kali setan menjumpainya sedang menempuh suatu jalan, setan pasti mengambil jalan lain yang bukan jalan Umar.

Orang ketiga adalah sosok yang agung kedermawanannya dan mulia jiwanya, yaitu Abu Abdillah Utsman bin Affan bin Abil Ash, yang memiliki gelar Dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Beliau adalah Amirul Mukminin, khalifah ketiga dari Khulafaur Rasyidin, orang yang berhijrah dua kali, salah seorang dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, serta sahabat Nabi ﷺ di surga.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak ada seorang nabi pun melainkan ia memiliki seorang sahabat dari umatnya yang menjadi pendampingnya di surga. Sesungguhnya Utsman bin Affan ini adalah pendampingku di surga.”

(HR. Ahmad).

Nasab Utsman bertemu dengan nasab Nabi ﷺ pada kakek ketiga beliau. Ia juga merupakan keturunan dari al-Baidha binti Abdul Muthalib, bibi Nabi ﷺ.

Tidak ada seorang laki-laki, baik dari kalangan orang-orang terdahulu maupun orang-orang setelahnya, yang menikahi dua orang putri seorang nabi selain Utsman.

Utsman masuk Islam sejak awal melalui perantaraan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Dengan demikian, beliau menjadi orang keempat dari empat orang yang pertama-tama masuk Islam.

Dalam Baiat Ridhwan, Nabi ﷺ membaiat atas nama Utsman dengan tangan beliau sendiri seraya bersabda:

“Inilah tanganku dan inilah tangan Utsman.”

(HR. Ahmad).

Utsman merupakan khalifah yang paling lama masa kekhalifahannya di antara Khulafaur Rasyidin. Beliau memimpin kaum muslimin selama dua belas tahun.

Beliau banyak beribadah dan memiliki rasa takut yang mendalam kepada Allah. Ketika turun firman Allah:

“Apakah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya ...?”

(QS. Az-Zumar: 9).

Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Orang yang dimaksud adalah Utsman.”

Utsman senantiasa menaati Nabi ﷺ dan mengikuti jejak beliau. Beliau juga setia kepada Nabi, Abu Bakar, dan Umar.

Utsman radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Aku telah menyertai Rasulullah ﷺ dan berbaiat kepada beliau. Demi Allah, aku tidak pernah mendurhakai beliau dan tidak pernah mengkhianati beliau hingga Allah Azza wa Jalla mewafatkannya. Kemudian aku memperlakukan Abu Bakar dengan cara yang sama, lalu Umar dengan cara yang sama pula.”

(HR. Al-Bukhari).

Abdurrahman bin Samurah berkata, “Rasulullah ﷺ wafat dalam keadaan rida kepada Utsman.”

Utsman memiliki rasa takut kepada Rabbnya dan senantiasa mengingat akhirat. Beliau sering mengunjungi pemakaman. Apabila berdiri di dekat sebuah kuburan, beliau menangis hingga janggutnya basah.

Beliau memiliki keyakinan yang kokoh dan menjadi teladan bagi orang lain. Ketika fitnah terjadi, Nabi ﷺ memerintahkan umatnya untuk mengikuti beliau. Nabi juga menyebut Utsman sebagai orang yang terpercaya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya kalian akan menghadapi fitnah dan perselisihan setelahku.”

Seseorang bertanya, “Lalu kepada siapa kami berpegang, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab:

“Berpeganglah kepada orang yang terpercaya beserta para sahabatnya.”

Dalam riwayat ini, Nabi ﷺ menunjuk kepada Utsman.

(HR. Ahmad).

Barang siapa mengenal Allah ketika berada dalam keadaan lapang, Allah akan menolongnya ketika berada dalam kesulitan dan melindunginya dari berbagai fitnah.

Pada suatu hari, Nabi ﷺ menyebutkan tentang fitnah, kemudian bersabda:

“Orang ini berada di atas petunjuk.”

Beliau menunjuk kepada Utsman.

(HR. At-Tirmidzi).

Utsman memiliki hati yang bersih. Beliau tidak menyimpan kedengkian ataupun kebencian terhadap siapa pun.

Ali radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Aku sungguh berharap agar aku dan Utsman termasuk orang-orang yang Allah firmankan tentang mereka:

‘Kami cabut segala rasa dendam yang berada di dalam dada mereka.’”

(QS. Al-Hijr: 47).

Utsman menjaga kehormatan diri dan agamanya. Beliau berkata:

“Demi Allah, aku tidak pernah berzina, baik pada masa jahiliah maupun setelah masuk Islam.”

Beliau memiliki akhlak yang lembut. Allah juga menganugerahkan ilmu kepadanya sehingga para sahabat merujuk kepadanya dalam persoalan agama.

Ibnu Sirin berkata, “Mereka memandang Utsman sebagai orang yang paling berilmu di antara mereka mengenai manasik haji.”

Allah menganugerahkan kepada Utsman keimanan yang kokoh dan akal yang matang.

Ketika Perjanjian Hudaibiyah berlangsung, Nabi ﷺ mengutus Utsman untuk berunding dengan kaum Quraisy.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:

“Seandainya ada seseorang yang lebih dihormati daripada Utsman di tengah kota Makkah, niscaya Nabi akan mengutus orang itu sebagai penggantinya.”

(HR. Al-Bukhari).

Asy-Sya‘bi rahimahullah berkata, “Utsman adalah orang yang dicintai di kalangan Quraisy. Mereka mempercayakan berbagai urusan kepadanya dan menghormatinya.”

Umar radhiyallahu ‘anhu menjadikan Utsman sebagai salah satu dari enam anggota dewan syura yang ditunjuk untuk menentukan khalifah setelahnya.

Utsman menjadi pilihan terbaik di antara mereka. Mereka pun memilihnya sebagai khalifah kaum muslimin dan tidak mengutamakan seorang pun di atasnya.

Ketika Utsman dibaiat sebagai khalifah, Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Kami telah membaiat orang terbaik di antara kami dan kami tidak melalaikan sesuatu yang semestinya dilakukan.”

Imam Ahmad rahimahullah berkata:

“Mereka tidak pernah bersepakat untuk membaiat seseorang sebagaimana mereka bersepakat membaiat Utsman.”

Berinfak demi mengharap keridaan Allah merupakan salah satu tanda kejujuran iman, kecintaan terhadap kaum muslimin, dan tawakal kepada Allah.

Utsman radhiyallahu ‘anhu memiliki jasa yang sangat besar dalam berinfak dan memberikan bantuan.

Pada hari persiapan pasukan dalam Perang Tabuk, yang dikenal sebagai Jaisyul ‘Usrah (pasukan dalam masa kesulitan), kaum muslimin sedang mengalami kesulitan dan kekurangan.

Nabi ﷺ memandang wajah orang-orang yang hadir, kemudian bersabda:

“Siapa yang akan mempersiapkan kebutuhan pasukan ini, maka Allah akan mengampuninya?”

Utsman berkata, “Aku pun mempersiapkan mereka hingga mereka tidak kekurangan tali kekang maupun tali pengikat.”

(HR. An-Nasa’i).

Utsman juga membeli sebuah rumah untuk memperluas Masjid Nabawi pada masa Rasulullah ﷺ.

Hal itu dilakukannya setelah mendengar Nabi ﷺ bersabda:

“Siapa yang bersedia membeli rumah ini untuk memperluas masjid bagi kita, dengan imbalan sebuah rumah di surga?”

(HR. Ahmad).

Utsman memerdekakan begitu banyak budak hingga tidak terhitung jumlahnya.

Beliau berkata:

“Tidaklah datang hari Jumat kepadaku melainkan aku memerdekakan seorang budak pada hari itu, sejak aku masuk Islam.”

Ketika beliau dikepung, Utsman berkata kepada para budaknya:

“Barang siapa menyarungkan pedangnya, maka ia merdeka.”

Rasa malu merupakan akhlak luhur yang menghimpun berbagai sifat kemuliaan. Utsman radhiyallahu ‘anhu memiliki rasa malu yang sangat tinggi, bahkan ketika sendirian.

Ketika berada di rumahnya seorang diri dan pintu telah tertutup, beliau tidak menanggalkan pakaiannya untuk menuangkan air ke tubuhnya ketika mandi. Rasa malunya bahkan menghalanginya untuk menegakkan punggung ketika mandi.

Tidak ada seorang pun di kalangan umat ini yang mendekati beliau dalam hal rasa malu.

Nabi ﷺ bersabda:

“Orang yang paling besar rasa malunya di antara umatku adalah Utsman.”

(HR. At-Tirmidzi).

Nabi ﷺ sendiri merasa malu terhadap Utsman.

Pada suatu hari, Rasulullah ﷺ duduk di suatu tempat yang terdapat air di sana. Kain beliau tersingkap hingga kedua lututnya terlihat. Ketika Utsman masuk, beliau menutupi kedua lututnya.

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Para malaikat pun merasa malu terhadap Utsman.

Pada suatu ketika, Rasulullah ﷺ sedang berbaring di tempat tidurnya. Ketika Utsman masuk, beliau segera duduk dan bersabda:

“Tidakkah aku merasa malu kepada seseorang yang para malaikat merasa malu kepadanya?”

(HR. Muslim).

Al-Qur’an adalah firman Rabb semesta alam. Allah menyifatinya sebagai kitab yang penuh berkah, mulia, dan menjadi petunjuk. Barang siapa mendekatkan diri kepadanya, ia akan memperoleh keberkahan dan derajatnya akan terangkat di sisi Allah.

Utsman radhiyallahu ‘anhu sangat mencintai firman Allah.

Al-Hasan berkata:

“Utsman tidak meninggal dunia hingga mushafnya menjadi usang karena terlalu sering beliau memandang dan membacanya.”

Beliau beberapa kali mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu rakaat, dari waktu Isya hingga terbit fajar.

Utsman juga berkata:

“Seandainya hati kita bersih, niscaya kita tidak akan pernah merasa kenyang dari firman Rabb kita.”

Di antara amal kebajikannya yang sangat agung adalah menyatukan kaum muslimin di atas bacaan Al-Qur’an yang menjadi pegangan bersama dan menuliskan mushaf berdasarkan bacaan terakhir yang dipelajari bersama oleh Jibril dan Nabi ﷺ menjelang akhir kehidupan beliau.

Utsman memerintahkan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu untuk menuliskan Al-Qur’an secara lengkap dengan tangannya, kemudian menggandakan dan mengirimkan mushaf-mushaf tersebut ke berbagai wilayah Islam.

Bentuk penulisan mushaf itu kemudian dikenal dengan nama rasm Utsmani, yang dinisbatkan kepada perintah, masa, dan kepemimpinan Utsman.

Al-Qur’an memberikan manfaat kepada beliau dan juga kepada umat manusia. Tidak ada keberuntungan dan keberhasilan bagi umat ini kecuali dengan Al-Qur’an dan mengamalkan kandungannya.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“Pada masa Utsman bin Affan, wilayah kekuasaan Islam meluas hingga mencapai bagian paling timur dan paling barat bumi. Semua itu merupakan keberkahan dari bacaan Al-Qur’an, mempelajarinya, dan upayanya menyatukan umat dalam menjaga Al-Qur’an.”

Karena keterikatan Utsman yang kuat dengan Kitabullah, akhir hayat beliau pun berlangsung dalam keadaan bersama Al-Qur’an.

Beliau dibunuh ketika mushaf berada di pangkuannya, dan darah beliau mengalir di atas mushaf tersebut.

Di samping ibadahnya dan rasa takutnya kepada Allah, Utsman juga merupakan khalifah yang lurus dan pemimpin yang berpengalaman. Allah memberikan banyak kemenangan wilayah dan kota melalui kepemimpinannya sehingga wilayah kaum muslimin semakin luas.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah memperlihatkan kepadaku bumi sehingga aku melihat bagian timur dan baratnya. Sungguh, kekuasaan umatku akan mencapai bagian-bagian bumi yang telah diperlihatkan kepadaku.”

(HR. Muslim).

Dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah disebutkan:

“Semua itu benar-benar terwujud, menjadi kenyataan yang pasti, dan kokoh pada masa Utsman.”

Pada masa kekhalifahan Utsman, masyarakat hidup dalam kemakmuran, keamanan yang kokoh, persatuan, dan keharmonisan.

Al-Hasan menggambarkan keadaan mereka dengan mengatakan:

“Pemberian-pemberian pada masa kekhalifahannya terus mengalir, penghasilan masyarakat melimpah, musuh dapat diwaspadai, hubungan di antara sesama berjalan baik, dan kebaikan sangat banyak. Tidak ada seorang mukmin yang merasa takut terhadap mukmin lainnya. Siapa pun yang ditemuinya, ia adalah saudaranya, siapa pun orangnya.”

Jalan hidup para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah menjaga kebersihan hati terhadap sesama, saling mencintai, dan saling menghormati.

Para sahabat sangat menghormati Utsman, baik ketika Nabi ﷺ masih hidup maupun setelah beliau wafat. Mereka menempatkannya pada kedudukan yang istimewa.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:

“Ketika Rasulullah ﷺ masih hidup dan para sahabat beliau masih banyak, kami biasa menganggap Abu Bakar, Umar, dan Utsman sebagai orang-orang yang paling utama.”

(HR. Ahmad).

Ali radhiyallahu ‘anhu berkata setelah wafatnya Abu Bakar dan Umar:

“Utsman adalah orang terbaik di antara kami dan yang paling baik dalam bersuci.”

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“Sesungguhnya Utsman adalah orang yang paling menjaga hubungan kekerabatan di antara mereka dan paling bertakwa kepada Rabbnya.”

Utsman juga mencintai para sahabat Rasulullah ﷺ. Beliau memberi nama kunyah kepada dirinya, yaitu Abu Amr dan disebut pula Abu Abdillah dalam riwayat-riwayat biografi. Di antara putra-putranya terdapat seseorang bernama Umar, dan di antara putri-putrinya terdapat seorang yang diberi nama Aisyah.

Ketika kemakmuran semakin luas, keamanan semakin kokoh, dan Islam menyebar ke berbagai penjuru dunia pada masa kekhalifahannya, orang-orang yang hatinya berpenyakit justru menginginkan kematiannya dan menganggap masa hidupnya terlalu panjang.

Mereka pun membunuh Utsman ketika berusia sekitar delapan puluh dua tahun. Saat itu beliau sedang berpuasa, mushaf berada di pangkuannya, dan beliau tengah membaca Kitabullah.

Pembunuhan Utsman menjadi awal munculnya fitnah di tengah umat ini.

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Fitnah yang pertama adalah pembunuhan Utsman, sedangkan fitnah yang terakhir adalah Dajjal.”

Para sahabat sangat bersedih atas pembunuhan Utsman.

Pada hari terbunuhnya Utsman, Ali radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Aku merasa diriku tidak lagi seperti diriku yang dahulu.”

Ketika berita pembunuhan Utsman sampai kepada Sa‘ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, beliau memohonkan ampunan dan rahmat untuk Utsman, kemudian mendoakan keburukan bagi para pembunuhnya dengan berkata:

“Ya Allah, jadikanlah mereka menyesal, kemudian hukumlah mereka.”

Sa‘ad termasuk orang yang doanya dikabulkan.

Sebagian ulama salaf bahkan bersumpah bahwa tidak seorang pun dari para pembunuh Utsman yang meninggal dunia kecuali dalam keadaan terbunuh.

Wahai kaum muslimin!

Kita wajib mencintai para sahabat Nabi ﷺ, membela kehormatan mereka, dan berpegang teguh pada jalan hidup mereka. Mereka telah menjaga agama Allah dan syariat-Nya. Mereka adalah manusia yang paling sempurna dalam mencintai Nabi ﷺ, mengagungkan beliau, dan meneladani beliau.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang telah gugur, dan di antara mereka ada pula yang masih menunggu-nunggu. Mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.”

(QS. Al-Ahzab: 23).

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian melalui Al-Qur’an yang agung. Semoga Allah memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat-Nya dan peringatan-Nya yang penuh hikmah.

Aku menyampaikan apa yang kalian dengar ini, dan aku memohon ampunan kepada Allah untuk diriku, kalian, serta seluruh kaum muslimin dari setiap dosa. Maka, mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

### Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan yang diberikan-Nya. Syukur kepada-Nya atas taufik dan karunia-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagai bentuk pengagungan terhadap keagungan-Nya.

Aku juga bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga selawat dan salam yang semakin melimpah tercurah kepada beliau, keluarga beliau, dan seluruh sahabat beliau.

Wahai kaum muslimin!

Seorang mukmin hendaknya memberikan manfaat yang melampaui dirinya sendiri, sehingga kebaikannya juga dirasakan oleh orang lain.

Segala amal yang dilakukan Utsman radhiyallahu ‘anhu untuk dirinya, untuk Islam, dan untuk kaum muslimin—berupa berbagai amal kebajikan, penaklukan wilayah, masuk Islamnya banyak orang, serta pengumpulan mushaf Al-Qur’an—semuanya juga termasuk kebaikan yang pahalanya mengalir kepada Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Sebab, Abu Bakar-lah yang mengajak Utsman masuk Islam. Dengan demikian, Utsman menjadi salah seorang yang terdahulu masuk Islam dan kemudian menjadi salah seorang Khulafaur Rasyidin yang diperintahkan untuk kita teladani.

Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya mengajak orang lain kepada agama ini dan mendorong mereka untuk berpegang teguh kepadanya.

Sungguh, apabila Allah memberikan hidayah kepada satu orang melalui dirimu, hal itu lebih baik bagimu daripada memperoleh unta-unta merah yang sangat berharga. Dan Allah memiliki karunia yang sangat besar.

Kemudian, ketahuilah bahwa Allah telah memerintahkan kalian untuk berselawat dan mengucapkan salam kepada Nabi-Nya. Allah berfirman dalam Kitab-Nya yang kokoh:

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

(QS. Al-Ahzab: 56).

Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada Nabi kami, Muhammad.

Ya Allah, rida-lah kepada para khalifah beliau yang lurus, yang menetapkan hukum dengan kebenaran dan berlaku adil dengannya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Rida-lah pula kepada seluruh sahabat beliau dan kepada kami bersama mereka, dengan kemurahan dan kemuliaan-Mu, wahai Zat Yang Maha Pemurah di antara semua yang pemurah.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin, hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik, serta hancurkanlah musuh-musuh agama.

Ya Allah, jadikanlah negeri ini aman, tenteram, dan makmur, demikian pula seluruh negeri kaum muslimin, wahai Zat Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan.

Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari segala fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Ya Allah, jauhkanlah dari kami keburukan orang-orang jahat dan tipu daya orang-orang yang durhaka, wahai Rabb semesta alam.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu surga dan segala perkataan serta perbuatan yang mendekatkan kami kepadanya. Kami berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala perkataan serta perbuatan yang mendekatkan kami kepadanya.

Ya Allah, Engkaulah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkaulah Yang Mahakaya, sedangkan kami adalah orang-orang yang membutuhkan-Mu.

Turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.

Allah berfirman:

“Ya Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.”

(QS. Al-A‘raf: 23).

Ya Allah, berilah taufik kepada pemimpin kami agar senantiasa mengikuti petunjuk-Mu. Jadikanlah amal perbuatannya sesuai dengan keridaan-Mu. Anugerahkanlah kepadanya kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan yang sempurna, wahai Rabb semesta alam.

Berilah pula taufik kepada seluruh pemimpin kaum muslimin agar mengamalkan Kitab-Mu dan menerapkan syariat-Mu, wahai Zat Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan.

Wahai hamba-hamba Allah!

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

(QS. An-Nahl: 90).

Maka, ingatlah Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia, niscaya Dia akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Nya atas segala karunia dan nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat itu kepada kalian.

Sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar keutamaannya, dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar