Firman Allah Ta‘ala:
«“Mereka itulah orang-orang yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka usahakan. Dan Allah Mahacepat perhitungan-Nya.”
(QS. Al-Baqarah: 202)»
Dalam ayat ini terdapat tiga pembahasan:
Pertama
Firman Allah Ta‘ala:
«“Mereka itulah orang-orang yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka usahakan.”»
Ini kembali kepada kelompok yang kedua, yaitu kelompok Islam. Maksudnya, mereka memperoleh pahala haji atau pahala doa, karena sesungguhnya doa seorang mukmin merupakan ibadah.
Ada pula yang mengatakan bahwa kata “mereka itulah” kembali kepada kedua kelompok tersebut. Maka, orang mukmin mendapatkan pahala atas amal dan doanya, sedangkan orang kafir mendapatkan hukuman karena kesyirikannya dan karena pandangannya yang pendek, yang hanya tertuju kepada kehidupan dunia.
Hal ini seperti firman Allah Ta‘ala:
«“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Al-An‘am: 132).»
Kedua
Firman Allah Ta‘ala:
«“Dan Allah Mahacepat perhitungan-Nya.”»
Kata سريع (cepat) berasal dari سَرُعَ يَسْرُعُ, sebagaimana عَظُمَ يَعْظُمُ. Bentuk masdarnya adalah سَرْعًا dan سُرْعَةً, sehingga dikatakan سريع, yakni cepat.
Adapun الحساب (perhitungan) merupakan bentuk masdar seperti المحاسبة (perhitungan atau pemeriksaan). Kata الحساب juga terkadang digunakan untuk menyebut sesuatu yang dihitung.
Al-hisab berarti menghitung. Dikatakan:
حَسَبَ يَحْسُبُ حِسَابًا وَحِسَابَةً وَحُسْبَانًا وَحِسْبَانًا وَحَسْبًا
yang semuanya bermakna menghitung.
Ibnu al-A‘rabi melantunkan syair:
«“Wahai Jumal, aku memberimu minum tanpa perhitungan,
pemberian minum seorang raja yang indah pengurusannya.
Engkau telah membunuhku dengan kelembutan, daya tarik, dan pesonamu.”»
Adapun hasab (الحسب) adalah sesuatu yang dihitung sebagai kebanggaan seseorang. Dikatakan pula:
«“Hasab seseorang adalah agamanya.”»
Dan dikatakan pula bahwa hasab adalah hartanya.
Di antaranya adalah hadis:
«“Hasab adalah harta, sedangkan kemuliaan adalah ketakwaan.”»
Hadis ini diriwayatkan oleh Samurah bin Jundub dan dikeluarkan oleh Ibnu Majah. Hadis tersebut juga terdapat dalam kitab asy-Syihab.
Seseorang disebut حَسِيبٌ (hasib). Dikatakan pula:
حَسُبَ حَسَابَةً
dengan dhammah pada huruf س, sebagaimana dikatakan:
خَطُبَ خَطَابَةً.
Makna “Allah Mahacepat perhitungan-Nya”
Makna ayat tersebut adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta‘ala Mahacepat dalam melakukan perhitungan. Dia tidak membutuhkan proses menghitung, mengikat satu per satu, ataupun menggunakan pemikiran sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang menghitung.
Karena itu Allah berfirman — dan firman-Nya adalah benar:
«“Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.”»
Allah juga berfirman:
«“Allahumma munazzilal-kitābi sarī‘al-hisāb...”»
«“Ya Allah, Yang menurunkan Kitab, Yang Mahacepat perhitungan-Nya...”»
Allah Azza wa Jalla mengetahui apa yang menjadi hak para hamba dan apa yang menjadi kewajiban mereka. Oleh karena itu, Dia tidak membutuhkan proses mengingat dan merenungkan kembali.
Sebab, manfaat dari perhitungan adalah mengetahui hakikat sesuatu yang diperhitungkan. Sedangkan Allah telah mengetahui apa yang menjadi hak dan kewajiban orang yang diperhitungkan.
Ada yang mengatakan bahwa makna “Mahacepat perhitungan-Nya” adalah:
«Allah Mahacepat dalam memberikan balasan kepada para hamba berdasarkan amal-amal mereka.»
Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya:
«Tidak ada satu urusan yang menyibukkan Allah dari urusan yang lain.»
Dengan demikian, Allah dapat melakukan perhitungan terhadap mereka dalam satu keadaan sekaligus.
Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
«“Tidaklah penciptaan dan pembangkitan kamu sekalian melainkan seperti satu jiwa saja.”»
Al-Hasan berkata:
«“Perhitungan-Nya lebih cepat daripada kedipan mata.”»
Dalam sebuah riwayat disebutkan:
«“Sesungguhnya Allah melakukan perhitungan dalam kadar waktu memerah seekor kambing.”»
Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya adalah:
«Apabila Allah menghitung satu orang, maka Dia telah menghitung seluruh makhluk.»
Pernah ditanyakan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:
«“Bagaimana Allah menghitung para hamba dalam satu hari?”»
Beliau menjawab:
«“Sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada mereka dalam satu hari.”»
Makna “hisab” pada hari kiamat
Makna hisab adalah:
«Allah memperlihatkan kepada para hamba kadar balasan atas amal-amal mereka dan mengingatkan mereka terhadap apa yang telah mereka lupakan.»
Dalilnya adalah firman Allah Ta‘ala:
«“Pada hari ketika Allah membangkitkan mereka semuanya, lalu Dia memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah telah menghitungnya, sementara mereka telah melupakannya.”»
Ada pula yang mengatakan bahwa makna ayat:
«“Mahacepat perhitungan-Nya”»
adalah:
«Hari perhitungan itu datang dengan cepat.»
Dengan demikian, tujuan ayat ini adalah memberikan peringatan tentang datangnya hari kiamat.
Al-Qurthubi berkata:
«“Menurut saya, semua makna tersebut mungkin.”»
Karena itu, seorang hamba hendaknya berusaha meringankan hisab bagi dirinya dengan amal-amal saleh.
Sesungguhnya hisab di akhirat akan menjadi ringan bagi orang yang telah menghisab dirinya sendiri di dunia.
---
Ketiga
Ibnu Abbas berkata mengenai firman Allah Ta‘ala:
«“Mereka itulah orang-orang yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka usahakan.”»
Maksudnya adalah:
«Seseorang mengambil harta untuk digunakan berhaji atas nama orang lain, maka dia memperoleh pahala.»
Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas mengenai ayat ini bahwa ada seorang laki-laki berkata:
«“Wahai Rasulullah, ayahku telah meninggal dan dia belum berhaji. Apakah aku boleh berhaji atas namanya?”»
Maka Nabi ﷺ bersabda:
«“Bagaimana menurutmu, jika ayahmu mempunyai utang lalu engkau melunasinya, apakah hal itu dianggap melunasi utangnya?”»
Ia menjawab:
«“Ya.”»
Beliau ﷺ bersabda:
«“Maka utang kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan.”»
Laki-laki itu kemudian bertanya:
«“Apakah aku mendapatkan pahala?”»
Maka Allah Ta‘ala menurunkan:
«“Mereka itulah orang-orang yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka usahakan.”»
Maksudnya, orang yang berhaji atas nama orang yang telah meninggal, pahala itu dibagi antara dirinya dan orang yang telah meninggal tersebut.
Abu Abdillah Muhammad bin Khuwaiz Mindad berkata dalam kitabnya tentang hukum-hukum:
«“Perkataan Ibnu Abbas ini sejalan dengan pendapat Imam Malik.”»
Sebab, kesimpulan mazhab Malik adalah bahwa orang yang dihajikan atas namanya memperoleh pahala dari biaya yang dikeluarkan, sedangkan pahala pelaksanaan hajinya adalah untuk orang yang melaksanakan haji.
Seakan-akan orang yang melaksanakan haji memperoleh pahala atas tubuh dan amal perbuatannya, sedangkan orang yang dihajikan memperoleh pahala dari hartanya dan pengeluarannya.
Karena itu kami mengatakan bahwa dalam hal ini tidak berbeda hukumnya antara seseorang yang telah menunaikan haji wajib untuk dirinya sendiri dan seseorang yang belum menunaikannya, karena amal-amal agama yang dapat dilakukan dengan perwakilan tidak berbeda hukum orang yang diwakili di dalamnya, apakah dia telah menunaikannya untuk dirinya sendiri atau belum.
Hal ini dapat dipahami dengan mempertimbangkan amal-amal agama maupun urusan dunia.
Tidakkah engkau melihat bahwa seseorang yang mempunyai kewajiban zakat atau kafarat atau kewajiban lainnya boleh menunaikannya atas nama orang lain, meskipun dia sendiri belum menunaikannya untuk dirinya?
Demikian pula seseorang yang tidak memperhatikan kemaslahatan dirinya sendiri dalam urusan dunia tetap sah apabila dia mewakili orang lain dalam urusan yang semisalnya. Maka urusan orang lain dapat menjadi sempurna meskipun urusannya sendiri belum sempurna.
Demikian pula seseorang dapat menikahkan orang lain, meskipun dia sendiri belum menikah.
---
Selesailah bagian kedua dari Tafsir al-Qurthubi.
Insya Allah Ta‘ala akan dilanjutkan dengan bagian ketiga, yang diawali dengan firman Allah Ta‘ala:
«“Dan berzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan...”»
hingga akhir ayat.
Bagian ketiga
Lanjutan Tafsir Surah Al-Baqarah
Bismillāhir-Rahmānir-Rahīm.
---
Catatan kaki
(1) Lihat jilid 7, halaman 87.
(2) Demikian yang disebutkan oleh al-Jauhari dalam kitab Ash-Shihah, dan demikian pula riwayat yang terdapat dalam naskah-naskah asli. Dalam kitab Lisan al-‘Arab disebutkan: bentuk yang benar dalam pembacaan syair tersebut adalah “يا جمل أسقيت”, yakni: “Wahai Jamal, aku telah memberimu minum,” tanpa perhitungan dan tanpa ukuran.
(3) Dalam naskah-naskah asli tertulis “الرياسة”. Bentuk yang dikoreksi diambil dari Ash-Shihah dan Lisan al-‘Arab. Bentuk riwayatnya dengan kasrah berarti mengurus sesuatu dengan memperbaiki dan memeliharanya. Adapun الخلابة dengan kasrah berarti seorang wanita memikat hati seorang laki-laki dengan perkataan yang paling lembut dan paling manis.
Tafsir al-Basith — al-Wahidi (w. 468 H)
QS. Al-Baqarah: 202
Firman Allah Ta‘ala:
“Mereka itulah orang-orang yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka usahakan. Dan Allah Mahacepat perhitungan-Nya.”
(QS. Al-Baqarah: 202)
Firman Allah Ta‘ala:
﴿أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا﴾
“Mereka itulah orang-orang yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka usahakan.”
Ibnu Abbas berkata:
Maksudnya adalah pahala atas apa yang telah mereka kerjakan.
Abu Ishaq berkata:
Maksudnya adalah doa mereka dikabulkan, karena usaha mereka yang disebutkan dalam ayat ini adalah doa.
Ada pula yang mengatakan bahwa maknanya:
Mereka memperoleh bagian dari usaha mereka karena mereka berhak mendapatkan pahala atas usaha tersebut.
Hal ini berbeda dengan orang yang amalnya batal, sehingga dia tidak memperoleh bagian apa pun darinya.
Firman Allah: “Dan Allah Mahacepat perhitungan-Nya”
Firman Allah:
﴿وَاللهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ﴾
“Dan Allah Mahacepat perhitungan-Nya.”
Kata سريع (cepat) merupakan bentuk fa‘il dari kata السُّرْعَة (kecepatan).
Ibnu as-Sikkit berkata:
Dikatakan: سَرَعَ يَسْرُعُ سَرَعًا وَسُرْعَةً, sehingga dikatakan فهو سريع, “maka dia cepat.”
Adapun الحساب (al-hisab) merupakan masdar seperti المحاسبة (al-muhasabah). Terkadang sesuatu yang telah dihitung juga disebut hisab.
Makna hisab secara bahasa adalah menghitung.
Dikatakan:
حَسَبَ يَحْسُبُ حِسَابًا وَحِسَابَةً وَحِسْبَةً وَحَسْبًا
apabila maksudnya adalah menghitung.
Hal ini disebutkan oleh al-Laits dan Ibnu as-Sikkit.
Keduanya juga membawakan syair an-Nabighah:
“Dan perhitungan itu telah diselesaikan dalam jumlah tersebut.”
Dan syair lainnya:
“Wahai Jumal, aku telah memberimu minum tanpa perhitungan.”
Adapun الحَسَب (hasab) adalah sesuatu yang diperhitungkan. Di antaranya adalah ungkapan:
حَسَبُ الرَّجُلِ
“Hasab seseorang,”
yaitu segala sesuatu yang diperhitungkan sebagai jasa-jasa dan kebanggaan-kebanggaannya.
Adapun الاحتساب (ihtisab) berarti menganggap atau memperhitungkan sesuatu sebagai sesuatu yang bernilai.
Penjelasan az-Zajjaj tentang makna “hisab”
Az-Zajjaj berkata:
“Hisab dalam bahasa diambil dari perkataan mereka: حَسْبُكَ كَذَا, yang berarti: ‘Cukuplah bagimu hal itu.’”
Maka perhitungan dalam transaksi disebut hisab, karena dengannya diketahui sesuatu yang mencukupi kebutuhan, tidak ada tambahan dari kadar yang seharusnya dan tidak pula ada kekurangan.
Tafsir ayat
Adapun dalam penafsiran ayat ini, Ibnu Abbas memahami kata hisab di sini sebagai hisab yang disebutkan berkaitan dengan orang-orang yang dimaksud dalam ayat ini.
Ibnu Abbas berkata:
Maksudnya adalah mereka tidak menjalani hisab yang berat.
Mereka hanya berdiri di hadapan Allah, kemudian diberikan kitab catatan amal mereka dengan tangan kanan mereka. Di dalam kitab tersebut terdapat dosa-dosa mereka.
Lalu dikatakan kepada mereka:
“Inilah dosa-dosa kalian. Aku telah mengampuninya untuk kalian.”
Kemudian mereka diberikan catatan kebaikan mereka, lalu dikatakan kepada mereka:
“Inilah kebaikan-kebaikan kalian. Aku telah melipatgandakannya untuk kalian.”
Pendapat Abu Ishaq
Abu Ishaq berkata:
Maknanya adalah bahwa Allah telah mengetahui apa yang menjadi hak orang yang diperhitungkan dan apa yang menjadi kewajibannya sebelum dia dihentikan untuk menjalani hisabnya.
Karena itu Allah disebut:
“Mahacepat perhitungan-Nya.”
Sebab tujuan dari hisab adalah mengetahui hakikat sesuatu yang diperhitungkan, sedangkan Allah telah mengetahuinya.
Berdasarkan penjelasan Abu Ishaq tersebut, tafsirnya adalah:
Allah mengetahui apa yang menjadi hak orang-orang yang diperhitungkan dan apa yang menjadi kewajiban mereka.
Pendapat Ibnu al-Anbari
Ibnu al-Anbari berkata:
Maknanya adalah Allah Mahacepat dalam memberikan balasan kepada para hamba berdasarkan amal-amal mereka.
Meskipun Allah telah memberi mereka tenggang waktu selama suatu masa dari kehidupan dunia, waktu pemberian balasan menurut Allah adalah dekat.
Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta‘ala:
“Dan milik Allah-lah segala yang gaib di langit dan di bumi. Dan tidaklah urusan Kiamat itu melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat lagi. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
(QS. An-Nahl: 77)
Allah menyebut pemberian balasan sebagai hisab, karena balasan yang diberikan kepada seorang hamba merupakan kecukupan atau kesepadanan terhadap perbuatannya.
Atau karena hamba tersebut mendapatkan balasan pada saat hisab.
Sesungguhnya dia dihisab agar mendapatkan balasan.
Dengan demikian, Allah menyebutkan hisab, sedangkan yang dimaksud adalah balasan.
Pendapat lain: cepat dalam menerima dan mengabulkan doa
Ada pula yang mengatakan bahwa tafsir ayat tersebut adalah:
Allah Mahacepat dalam menerima doa para hamba-Nya dan mengabulkannya.
Hal itu karena Allah Ta‘ala dimintai pada waktu yang sama dengan berbagai macam permintaan, baik mengenai urusan dunia maupun urusan akhirat.
Lalu Allah memberikan balasan kepada setiap hamba sesuai dengan kadar haknya.
Seandainya perkara seperti itu terjadi pada salah seorang makhluk, tentu proses menghitungnya akan berlangsung lama dan perhitungannya akan terus berlanjut.
Namun Allah Ta‘ala memberitahukan bahwa Dia:
“Mahacepat perhitungan-Nya.”
Maksudnya, Dia memiliki cakupan pengetahuan dan penguasaan yang sempurna terhadap seluruh permintaan orang-orang yang berdoa.
Allah tidak membutuhkan:
- menghitung dengan melipat atau menggerakkan jari-jari tangan,
- menyimpan seluruh persoalan di dalam dada,
- melihat,
- ataupun berpikir.
Kemudian tafsir ini kembali kepada makna cepat dalam menerima dan mengabulkan doa, karena Allah mengetahui permintaan setiap orang secara terperinci sehingga Dia dapat mengabulkan apa yang diminta.
Inilah makna doa yang diriwayatkan:
“Wahai Zat yang tidak disibukkan oleh satu pendengaran dari pendengaran yang lain.”
Artinya, banyaknya suara dan banyaknya permohonan tidak menghalangi Allah untuk mendengar semuanya.
Riwayat tentang cepatnya hisab
Di samping berbagai penafsiran yang telah kami sebutkan, terdapat pula riwayat:
“Sesungguhnya Allah melakukan hisab dalam kadar waktu memerah seekor kambing.”
Catatan kaki
(1) Barangkali ini berasal dari riwayat ‘Atha’ yang telah dibicarakan sebelumnya dalam bagian kajian.
(2) Lihat Ma‘ani al-Qur’an karya az-Zajjaj, jilid 1, halaman 275.
(3) Dalam manuskrip م tertulis: ينزل.
(4) Lihat Tafsir ath-Thabari, jilid 2, halaman 302. Ath-Thabari meriwayatkannya dari Qatadah dan Ibnu Zaid. Lihat pula Tafsir ats-Tsa‘labi, jilid 2, halaman 601, dan At-Tafsir al-Kabir, jilid 5, halaman 205.
Kedua pendapat yang disebutkan oleh penulis tersebut dibangun berdasarkan pemahaman bahwa kata “mereka itulah” (أُولَئِكَ) kembali kepada kelompok kedua, yaitu orang-orang mukmin.
Ini merupakan pilihan ath-Thabari dalam tafsirnya, jilid 2, halaman 301. Dalilnya adalah bahwa ketika berbicara tentang kelompok pertama Allah berfirman:
“Dan dia tidak memperoleh bagian apa pun di akhirat.”
(QS. Al-Baqarah: 200)
Allah menyebutkan balasan mereka, kemudian menyebut kelompok kedua, dan inilah balasan bagi mereka.
Lihat At-Tafsir al-Kabir, jilid 5, halaman 205, dan Ad-Durr al-Mashun, jilid 2, halaman 343.
Ada pula yang mengatakan bahwa kata “mereka itulah” kembali kepada kedua kelompok, sebagaimana firman Allah:
“Dan bagi masing-masing mereka ada derajat-derajat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Al-Ahqaf: 19).
(5) Dinukil dalam Tahdzib al-Lughah, jilid 2, halaman 89, dan Tafsir al-Qurthubi, jilid 2, halaman 410. Dinukil dari al-Wahidi tanpa menyebut sumbernya oleh ar-Razi dalam tafsirnya, jilid 5, halaman 206.
(6) Bagian awal syairnya adalah:
“Maka sempurnalah seratus, dan di dalamnya terdapat merpatinya.”
Lihat Diwan an-Nabighah, halaman 25, dan Lisan al-‘Arab, jilid 2, halaman 865, pada pembahasan kata حسب.
(7) Syair rajaz tersebut diriwayatkan dengan bentuk:
“Wahai Jumal, aku telah memberimu minum tanpa perhitungan,
pemberian minum seorang raja yang baik pengurusannya,
engkau telah membunuhku dengan kelembutan dan pesona.”
Syair rajaz ini milik Manzhur bin Martsad al-Asadi, dalam Lisan al-‘Arab, jilid 2, halaman 865, pada pembahasan حسب.
Disebutkan bahwa al-Jauhari meriwayatkannya dengan lafaz:
يا جُمْل أَسْقَاكِ
“Wahai Jumal, semoga aku memberimu minum.”
Namun bentuk yang benar menurut pembacaannya adalah:
يا جُمْل أُسْقِيت
“Wahai Jumal, aku telah memberimu minum.”
Lihat pula At-Tanbih wal-Idhah, jilid 1, halaman 62; Taj al-‘Arus, jilid 1, halaman 419; dan Al-Mu‘jam al-Mufashshal, jilid 9, halaman 51.
Adapun الرِّبابة (ar-ribabah) berarti mengurus sesuatu dengan memperbaiki dan memeliharanya.
Sedangkan الخِلابة (al-khilabah) berarti seorang perempuan memikat hati seorang laki-laki dengan perkataan yang paling lembut dan paling manis.
(8) Lihat pembahasan akar kata حسب dalam Tahdzib al-Lughah, jilid 2, halaman 809–812; Al-Mufradat, halaman 123–125; dan Lisan al-‘Arab, jilid 1, halaman 863–868.
(9) Dinukil dari az-Zajjaj dalam Tahdzib al-Lughah, jilid 2, halaman 810, pada pembahasan حسب.
(10) Dalam manuskrip م tertulis: قال.
(11) Dalam manuskrip م tertulis: إنه يريد.
(12) Disebutkan dalam Ghara’ib an-Naisaburi, jilid 2, halaman 280–281; Al-Wasith, jilid 1, halaman 308; dan At-Tafsir al-Kabir, jilid 5, halaman 206.
(13) Lihat Ma‘ani al-Qur’an karya az-Zajjaj, jilid 1, halaman 275.
(14) Az-Zahir karya Ibnu al-Anbari, jilid 1, halaman 97–98. Lihat pula Al-Wasith karya al-Wahidi, jilid 1, halaman 308; dan Al-Bahr al-Muhith, jilid 2, halaman 106.
(15) Dalam manuskrip ش tertulis: لأنه.
(16) Lafaz ini tidak terdapat dalam manuskrip أ dan م.
(17) Saya tidak menemukan sumber riwayatnya.
(18) Mengenai pendapat-pendapat sebelumnya, lihat Tafsir ath-Thabari, jilid 2, halaman 302; Tafsir ats-Tsa‘labi, jilid 2, halaman 609; Tafsir as-Sam‘ani, jilid 2, halaman 243; Tafsir al-Baghawi, jilid 1, halaman 233; Al-Muharrar al-Wajiz, jilid 2, halaman 181; Zad al-Masir, jilid 1, halaman 216; Tafsir ar-Razi, jilid 5, halaman 207; Al-Bahr al-Muhith, jilid 2, halaman 106; dan Tafsir al-Qurthubi, jilid 2, halaman 412.
Al-Qurthubi berkata:
“Semua pendapat tersebut mungkin. Maka seorang hamba hendaknya berusaha meringankan hisab bagi dirinya dengan amal-amal saleh. Sesungguhnya hisab di akhirat menjadi ringan bagi orang yang telah menghisab dirinya sendiri di dunia.”
(19) Riwayat ini disebutkan oleh ats-Tsa‘labi dalam tafsirnya, jilid 2, halaman 609. Az-Zaila‘i juga menyebutkannya dalam Atsar al-Kasyaf, jilid 1, halaman 128, dan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Takhrij Ahadits al-Kasyaf, jilid 1, halaman 249. Keduanya tidak memberikan komentar terhadap riwayat tersebut.
Al-Munawi berkata dalam Al-Fath as-Samawi, jilid 1, halaman 248:
Al-Wali al-‘Iraqi berkata: “Saya tidak menemukan riwayat tersebut.”
Sedangkan ulama lainnya mengatakan:
“Ibnu Abi Hatim meriwayatkannya dari Ibnu Abbas.”
AMAL MANUSIA: ANTARA IKHTIAR HAMBA DAN TAKDIR ILAHI
Kajian Akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah tentang Perbuatan Manusia dan Penyimpangan Kelompok-Kelompok dalam Masalah Takdir
Pendahuluan
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, dan seluruh orang yang mengikuti sunnah beliau hingga hari Kiamat.
Masalah perbuatan manusia (أفعال العباد) dan hubungannya dengan takdir Allah merupakan salah satu pembahasan penting dalam ilmu akidah. Sejak masa-masa awal Islam, persoalan ini telah menimbulkan perdebatan. Sebagian kelompok berlebihan dalam menetapkan kekuasaan Allah sehingga meniadakan kehendak dan pilihan manusia. Sebaliknya, kelompok lain berlebihan dalam menetapkan kehendak manusia sehingga mengurangi atau bahkan menafikan kehendak dan takdir Allah.
Pertanyaan yang sering muncul adalah:
Apakah seorang manusia melakukan amal dengan kehendak dan pilihannya sendiri, ataukah seluruh amalnya telah ditentukan oleh takdir Allah?
Jawaban yang benar menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah bahwa:
Perbuatan manusia benar-benar dilakukan oleh manusia dengan kehendak, pilihan, dan kemampuannya. Namun, kehendak, kemampuan, dan perbuatannya tersebut berada di bawah kehendak, kekuasaan, penciptaan, dan takdir Allah Ta'ala.
Dengan demikian, Ahlus Sunnah berada di tengah antara dua kelompok ekstrem: Jabariyyah yang meniadakan ikhtiar manusia dan Qadariyyah yang berlebihan dalam menetapkan kebebasan manusia.
BAB I
PENGERTIAN AMAL, IKHTIAR, DAN TAKDIR
A. Pengertian Amal
Amal secara bahasa berarti perbuatan atau pekerjaan. Dalam istilah syariat, amal mencakup segala sesuatu yang dilakukan manusia, baik berupa:
Amal hati.
Amal lisan.
Amal anggota badan.
Amal hati meliputi iman, cinta kepada Allah, takut kepada Allah, berharap kepada-Nya, tawakal, ikhlas, dan sebagainya.
Amal lisan meliputi membaca Al-Qur'an, berdzikir, berdoa, berkata benar, dan amar ma'ruf nahi mungkar.
Sedangkan amal anggota badan meliputi shalat, puasa, zakat, haji, bekerja, membantu orang lain, dan berbagai perbuatan lainnya.
Sebagian amal merupakan ketaatan dan sebagian lainnya merupakan kemaksiatan.
B. Pengertian Takdir
Secara umum, takdir (القدر) adalah ketetapan Allah terhadap segala sesuatu berdasarkan ilmu-Nya yang sempurna dan hikmah-Nya yang agung.
Iman kepada takdir merupakan salah satu rukun iman.
Nabi ﷺ bersabda dalam hadis Jibril:
وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Dan engkau beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.”
Takdir Allah mencakup seluruh makhluk dan seluruh kejadian, termasuk perbuatan manusia.
Allah Ta'ala berfirman:
وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Ash-Shaffat: 96)
Namun, kenyataan bahwa Allah menciptakan perbuatan manusia tidak berarti manusia tidak memiliki kehendak dan pilihan.
BAB II
EMPAT TINGKATAN IMAN KEPADA TAKDIR
Ahlus Sunnah wal Jamaah menjelaskan bahwa iman kepada takdir mencakup empat tingkatan.
1. Ilmu Allah (العلم)
Allah mengetahui segala sesuatu.
Allah mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi.
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Ilmu Allah meliputi seluruh perbuatan manusia sebelum manusia melakukannya.
Allah telah mengetahui siapa yang akan taat dan siapa yang akan bermaksiat. Namun, ilmu Allah tentang sesuatu bukan berarti Allah memaksa manusia untuk melakukannya.
2. Penulisan Takdir (الكتابة)
Allah telah menulis segala sesuatu yang akan terjadi.
Nabi ﷺ bersabda:
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Allah telah menulis takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.”
(HR. Muslim)
Segala sesuatu telah tercatat dalam ilmu dan ketetapan Allah.
3. Kehendak Allah (المشيئة)
Tidak ada sesuatu pun yang terjadi di alam semesta kecuali dengan kehendak Allah.
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb seluruh alam.”
(QS. At-Takwir: 29)
Ayat ini menetapkan dua kehendak:
Kehendak manusia.
Kehendak Allah.
Manusia memiliki kehendak, tetapi kehendaknya berada di bawah kehendak Allah.
4. Penciptaan Allah (الخلق)
Allah adalah Pencipta segala sesuatu.
Allah menciptakan:
manusia,
kemampuan manusia,
kehendak manusia,
serta perbuatan manusia.
Allah Ta'ala berfirman:
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ
“Allah adalah Pencipta segala sesuatu.”
(QS. Az-Zumar: 62)
Dengan demikian, perbuatan manusia termasuk dalam ciptaan Allah.
Namun, manusia tetap menjadi pelaku perbuatannya secara hakiki.
BAB III
MANUSIA MEMILIKI KEHENDAK DAN PILIHAN
Salah satu prinsip penting dalam akidah Ahlus Sunnah adalah bahwa manusia memiliki kehendak (مشيئة) dan kemampuan (قدرة).
Manusia mengetahui perbedaan antara perbuatan yang dilakukan secara sengaja dan perbuatan yang terjadi tanpa kehendaknya.
Misalnya:
Seseorang makan karena ia memilih untuk makan.
Seseorang berjalan karena ia ingin berjalan.
Seseorang berbicara karena ia memilih untuk berbicara.
Berbeda dengan:
jantung yang berdetak,
seseorang yang gemetar karena sakit,
seseorang yang jatuh karena terpeleset.
Perbuatan pertama dilakukan dengan kehendak dan pilihan. Sedangkan yang kedua terjadi tanpa kehendak manusia.
Al-Qur'an menetapkan adanya kehendak manusia.
Allah Ta'ala berfirman:
لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ
“Bagi siapa di antara kamu yang menghendaki untuk menempuh jalan yang lurus.”
(QS. At-Takwir: 28)
Allah juga berfirman:
فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ سَبِيلًا
“Maka barang siapa menghendaki, niscaya dia mengambil jalan menuju Rabbnya.”
(QS. Al-Insan: 29)
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia mempunyai kehendak.
Namun Allah melanjutkan:
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
“Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendaki.”
Dengan demikian, kehendak manusia tidak berdiri sendiri dan tidak keluar dari kekuasaan Allah.
BAB IV
KEDUDUKAN PERBUATAN MANUSIA MENURUT AHLUS SUNNAH
Ahlus Sunnah wal Jamaah menetapkan dua perkara sekaligus:
Pertama:
Manusia benar-benar melakukan perbuatannya.
Kedua:
Allah menciptakan manusia dan menciptakan perbuatannya.
Tidak ada pertentangan antara keduanya.
Manusia disebut sebagai pelaku karena perbuatan itu dilakukan dengan:
kehendaknya,
pilihannya,
kemampuannya,
dan usahanya.
Sedangkan Allah disebut sebagai Pencipta perbuatan karena Allah menciptakan:
manusia,
kekuatan manusia,
kehendak manusia,
sebab-sebab terjadinya perbuatan,
dan terjadinya perbuatan itu sendiri.
Allah Ta'ala berfirman:
لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Bagi siapa di antara kamu yang menghendaki untuk menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb seluruh alam.”
(QS. At-Takwir: 28–29)
Ayat ini merupakan salah satu dalil yang sangat jelas dalam masalah ini.
Manusia memiliki kehendak, tetapi kehendaknya berada di bawah kehendak Allah.
BAB V
KELOMPOK-KELompok YANG MENYIMPANG
Dalam persoalan perbuatan manusia dan takdir, muncul beberapa kelompok yang menyimpang.
A. JABARIYYAH
1. Pengertian Jabariyyah
Jabariyyah berasal dari kata الجبر, yang berarti paksaan.
Mereka berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kehendak dan pilihan yang sebenarnya.
Menurut mereka, manusia dipaksa dalam seluruh perbuatannya.
Mereka menganggap manusia seperti:
bulu yang diterbangkan angin.
Manusia tidak mempunyai pilihan dalam melakukan ketaatan maupun kemaksiatan.
2. Kesalahan Jabariyyah
Pendapat Jabariyyah bertentangan dengan:
a. Al-Qur'an
Allah berfirman:
فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ
“Maka barang siapa menghendaki, hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki, hendaklah dia kafir.”
(QS. Al-Kahfi: 29)
Ayat ini menunjukkan adanya kehendak manusia.
b. Kenyataan manusia
Setiap orang mengetahui perbedaan antara:
berjalan dengan kemauan sendiri,
dan jatuh karena didorong.
Orang yang sengaja memukul seseorang tidak sama dengan orang yang tangannya bergerak tanpa sengaja.
c. Konsekuensi syariat
Jika manusia benar-benar dipaksa, maka tidak ada makna:
pahala,
dosa,
perintah,
larangan,
surga,
dan neraka.
Bagaimana mungkin seseorang dihukum atas sesuatu yang dipaksakan kepadanya?
Karena itu, pendapat Jabariyyah bertentangan dengan keadilan dan hikmah Allah.
B. QADARIYYAH
1. Pengertian Qadariyyah
Qadariyyah merupakan kelompok yang berlebihan dalam menetapkan kebebasan manusia.
Mereka mengatakan bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri.
Menurut kelompok ekstrem ini, perbuatan manusia tidak diciptakan oleh Allah.
2. Kesalahan Qadariyyah
Pendapat ini bertentangan dengan firman Allah:
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ
“Allah adalah Pencipta segala sesuatu.”
(QS. Az-Zumar: 62)
Allah juga berfirman:
وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ
“Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Ash-Shaffat: 96)
Jika manusia menciptakan perbuatannya secara independen, maka berarti ada pencipta selain Allah.
Padahal Allah adalah satu-satunya Pencipta.
BAB VI
KELOMPOK MU'TAZILAH DAN MASALAH PERBUATAN MANUSIA
Mu'tazilah dalam masalah ini memiliki kedekatan dengan Qadariyyah.
Mereka sangat menekankan kebebasan manusia.
Salah satu alasan mereka adalah keinginan untuk menjaga konsep keadilan Allah.
Mereka beranggapan bahwa jika Allah menciptakan perbuatan manusia, kemudian menghukum manusia karena perbuatan tersebut, maka hal itu dianggap bertentangan dengan keadilan.
Namun pemahaman ini keliru.
Kesalahan mereka adalah menganggap bahwa:
Jika Allah menciptakan suatu perbuatan, maka manusia tidak mempunyai peran dalam perbuatan tersebut.
Padahal Ahlus Sunnah menetapkan bahwa Allah menciptakan perbuatan tersebut, sedangkan manusia benar-benar melakukannya dengan kehendak dan kemampuannya.
Dengan demikian, manusia layak mendapatkan pahala atau hukuman.
BAB VII
ASY'ARIYYAH DAN TEORI KASB
Sebagian pembahasan tentang perbuatan manusia juga muncul dalam pemikiran Asy'ariyyah.
Mereka menggunakan konsep yang dikenal dengan istilah:
الكسب (al-kasb)
Secara umum, mereka berusaha menetapkan bahwa Allah adalah Pencipta perbuatan, sedangkan manusia memiliki hubungan dengan perbuatan melalui konsep “kasb” atau “usaha”.
Namun, dalam rincian penjelasan tentang kemampuan manusia dan pengaruhnya terhadap perbuatan, terdapat pembahasan yang diperselisihkan dan dikritik oleh sebagian ulama Ahlus Sunnah.
Ahlus Sunnah menetapkan secara jelas bahwa:
Manusia benar-benar memiliki kehendak dan kemampuan yang dengannya ia melakukan perbuatan.
Kemampuan manusia tersebut adalah kemampuan yang diciptakan oleh Allah.
Karena itu, tidak perlu meniadakan pengaruh kehendak dan kemampuan manusia.
BAB VIII
MADZHAB AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH
Ahlus Sunnah wal Jamaah berada di tengah antara Jabariyyah dan Qadariyyah.
Mereka mengatakan:
العبد فاعل حقيقة، والله خالق فعله حقيقة
“Hamba benar-benar melakukan perbuatannya secara hakiki, sedangkan Allah benar-benar menciptakan perbuatannya.”
Inilah jalan pertengahan.
Jabariyyah berkata:
Manusia tidak memiliki kehendak dan kemampuan.
Ahlus Sunnah membantahnya.
Qadariyyah berkata:
Manusia menciptakan perbuatannya sendiri.
Ahlus Sunnah juga membantahnya.
Ahlus Sunnah berkata:
Manusia mempunyai kehendak dan kemampuan, tetapi keduanya adalah ciptaan Allah dan berada di bawah kehendak Allah.
BAB IX
DALIL-DALIL AL-QUR'AN TENTANG IKHTIAR MANUSIA
1. Manusia memiliki kehendak
Allah Ta'ala berfirman:
فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ مَآبًا
“Maka barang siapa menghendaki, hendaklah dia mengambil jalan kembali kepada Rabbnya.”
(QS. An-Naba': 39)
2. Manusia mendapatkan balasan atas usahanya
Allah berfirman:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
“Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia memiliki usaha.
3. Manusia bertanggung jawab atas perbuatannya
Allah Ta'ala berfirman:
كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“Setiap orang tergadai dengan apa yang telah dikerjakannya.”
(QS. Ath-Thur: 21)
4. Manusia diperintahkan dan dilarang
Allah berfirman:
أَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ
“Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.”
Jika manusia tidak mempunyai kemampuan dan pilihan sama sekali, maka perintah tersebut tidak mempunyai makna.
BAB X
DALIL-DALIL TENTANG KEHENDAK DAN KEKUASAAN ALLAH
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah melakukan apa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Hajj: 18)
Allah juga berfirman:
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan takdir.”
(QS. Al-Qamar: 49)
Dan Allah berfirman:
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
“Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendaki.”
(QS. Al-Insan: 30)
Semua ayat ini menunjukkan bahwa manusia tidak berada di luar kekuasaan Allah.
BAB XI
BOLEHKAH BERDALIH DENGAN TAKDIR UNTUK MELAKUKAN MAKSIAT?
Ini merupakan persoalan penting.
Sebagian orang melakukan kemaksiatan, kemudian berkata:
“Saya melakukan ini karena sudah ditakdirkan Allah.”
Ini adalah dalih yang salah.
Allah memang telah mengetahui dan menakdirkan segala sesuatu. Namun manusia tidak mengetahui takdir Allah sebelum sesuatu terjadi.
Ketika seseorang akan melakukan dosa, ia sebenarnya memiliki pilihan:
melakukan dosa,
atau meninggalkannya.
Ia tidak mengetahui apa yang ditulis Allah untuknya.
Karena itu, tidak boleh seseorang meninggalkan kewajiban atau melakukan kemaksiatan dengan alasan takdir.
Allah berfirman:
سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا
“Orang-orang musyrik akan berkata: ‘Jika Allah menghendaki, tentu kami dan nenek moyang kami tidak akan mempersekutukan-Nya.’”
(QS. Al-An'am: 148)
Allah menyebut perkataan tersebut dan membantah argumentasi mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa berdalih dengan takdir untuk membenarkan kesyirikan dan kemaksiatan adalah jalan yang batil.
BAB XII
KAPAN TAKDIR BOLEH DISEBUT?
Para ulama menjelaskan bahwa takdir dapat disebut dalam konteks tertentu, terutama ketika seseorang mengalami musibah.
Misalnya seseorang mengalami:
kehilangan harta,
sakit,
kegagalan setelah melakukan usaha,
kematian orang yang dicintai.
Ia diperintahkan bersabar dan mengatakan:
قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ
“Allah telah menakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan.”
Namun, seseorang tidak boleh melakukan dosa kemudian berkata:
“Ini sudah takdir saya.”
Sebaliknya, ia harus:
Mengakui kesalahannya.
Bertaubat.
Memohon ampun kepada Allah.
Berusaha memperbaiki diri.
BAB XIII
HUBUNGAN ANTARA TAKDIR DAN USAHA
Beriman kepada takdir bukan berarti meninggalkan usaha.
Justru Nabi ﷺ memerintahkan umatnya untuk berusaha.
Nabi ﷺ bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ
“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.”
(HR. Muslim)
Hadis ini mengandung tiga prinsip:
1. Berusaha
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ
Berusahalah terhadap sesuatu yang bermanfaat.
2. Bertawakal
وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
Mintalah pertolongan kepada Allah.
3. Tidak menyerah
وَلَا تَعْجَزْ
Jangan menjadi lemah dan menyerah.
Inilah keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.
BAB XIV
CONTOH DALAM KEHIDUPAN
1. Mencari rezeki
Rezeki telah ditakdirkan oleh Allah.
Namun manusia tetap diperintahkan bekerja.
Seseorang tidak boleh berkata:
“Kalau rezeki saya sudah ditentukan, saya tidak perlu bekerja.”
Ini bertentangan dengan sunnatullah.
Allah menjadikan usaha sebagai salah satu sebab memperoleh rezeki.
2. Berobat ketika sakit
Kesembuhan berasal dari Allah.
Namun seseorang tetap dianjurkan mencari pengobatan.
Berobat merupakan usaha mengambil sebab.
Kesembuhan adalah hasil yang Allah tentukan.
3. Belajar
Ilmu merupakan pemberian Allah.
Namun seseorang harus:
belajar,
membaca,
menghafal,
bertanya,
dan bersungguh-sungguh.
Tidak mungkin seseorang hanya duduk tanpa belajar kemudian berkata:
“Kalau Allah menakdirkan saya pandai, saya pasti pandai.”
4. Melakukan ketaatan
Hidayah berasal dari Allah.
Namun manusia diperintahkan untuk mencari hidayah.
Ia harus:
mendatangi majelis ilmu,
membaca Al-Qur'an,
berdoa,
meninggalkan dosa,
dan bergaul dengan orang-orang saleh.
BAB XV
HIKMAH BERIMAN KEPADA TAKDIR
1. Melahirkan ketenangan
Seorang mukmin mengetahui bahwa segala sesuatu terjadi dengan ilmu dan hikmah Allah.
Ketika mendapatkan musibah, ia tidak berlebihan dalam kesedihan.
Allah berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam sebuah kitab sebelum Kami mewujudkannya.”
(QS. Al-Hadid: 22)
2. Mendorong seseorang untuk berusaha
Orang yang benar-benar memahami takdir tidak akan malas.
Ia mengetahui bahwa Allah telah menjadikan sebab-sebab untuk mencapai tujuan.
Karena itu ia berusaha.
3. Menumbuhkan tawakal
Seorang mukmin melakukan sebab, tetapi hatinya bergantung kepada Allah.
Ia tidak menggantungkan keberhasilannya kepada:
kekuatannya,
kecerdasannya,
hartanya,
atau kedudukannya.
Ia menyadari bahwa semua itu berada di tangan Allah.
4. Menghilangkan kesombongan
Ketika seseorang berhasil, ia tidak sombong.
Ia menyadari bahwa:
kemampuan adalah pemberian Allah,
kesempatan adalah pemberian Allah,
kekuatan adalah pemberian Allah,
dan keberhasilan terjadi dengan izin Allah.
5. Menumbuhkan kesabaran
Ketika mengalami musibah, seorang mukmin bersabar.
Ia mengetahui bahwa takdir Allah mengandung hikmah, meskipun terkadang manusia belum mengetahui hikmah tersebut.
BAB XVI
KESALAHPAHAMAN YANG SERING TERJADI
Kesalahpahaman Pertama:
“Kalau semuanya sudah ditakdirkan, mengapa kita harus berusaha?”
Jawabannya:
Karena usaha juga termasuk takdir Allah.
Allah menakdirkan hasil melalui sebab-sebab.
Seseorang yang ingin kenyang harus makan.
Orang yang ingin lulus harus belajar.
Orang yang ingin memperoleh panen harus menanam.
Kesalahpahaman Kedua:
“Kalau Allah sudah mengetahui perbuatan kita, berarti kita dipaksa?”
Tidak.
Pengetahuan tidak berarti paksaan.
Contohnya, seorang guru yang mengenal muridnya mungkin mengetahui bahwa seorang murid malas dan kemungkinan besar akan gagal.
Pengetahuan guru tersebut tidak menyebabkan murid itu gagal.
Demikian pula, ilmu Allah tidak memaksa manusia untuk melakukan perbuatan.
Namun tentu saja ilmu Allah jauh lebih sempurna dan tidak dapat dibandingkan dengan ilmu makhluk.
Kesalahpahaman Ketiga:
“Kalau Allah menciptakan perbuatan manusia, mengapa manusia dihukum?”
Karena manusia melakukan perbuatan tersebut dengan:
kehendaknya,
pilihannya,
dan kemampuannya.
Allah telah memberikan manusia kemampuan untuk membedakan antara:
kebaikan dan keburukan,
jalan kebenaran dan kesesatan.
Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab.
Allah berfirman:
رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ
“Para rasul sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan agar manusia tidak mempunyai alasan terhadap Allah setelah diutusnya para rasul.”
(QS. An-Nisa': 165)
BAB XVII
KESIMPULAN AKIDAH AHLUS SUNNAH
Setelah membahas berbagai dalil dan pendapat kelompok-kelompok dalam masalah takdir dan perbuatan manusia, dapat disimpulkan:
1. Allah telah mengetahui segala sesuatu.
Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari ilmu Allah.
2. Allah telah menulis seluruh takdir.
Segala sesuatu terjadi sesuai ilmu dan ketetapan Allah.
3. Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa kehendak Allah.
Kehendak manusia berada di bawah kehendak Allah.
4. Allah adalah Pencipta segala sesuatu.
Termasuk manusia, kemampuan manusia, dan perbuatan manusia.
5. Manusia memiliki kehendak dan kemampuan.
Manusia benar-benar melakukan perbuatannya secara hakiki.
6. Manusia bertanggung jawab atas perbuatannya.
Karena ia melakukan perbuatannya dengan kehendak dan pilihannya.
7. Jabariyyah menyimpang karena meniadakan kehendak dan kemampuan manusia.
Mereka menjadikan manusia seperti makhluk yang dipaksa.
8. Qadariyyah ekstrem menyimpang karena menjadikan manusia seolah-olah menciptakan perbuatannya sendiri di luar penciptaan Allah.
9. Ahlus Sunnah berada di tengah.
Mereka menetapkan:
Manusia benar-benar berbuat, tetapi Allah adalah Pencipta manusia dan perbuatannya.
PENUTUP
Masalah takdir merupakan masalah yang membutuhkan pemahaman berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah serta penjelasan para ulama Ahlus Sunnah.
Seorang muslim tidak boleh terjatuh kepada dua sikap ekstrem.
Ia tidak boleh menjadi Jabariyyah yang mengatakan bahwa manusia tidak memiliki pilihan.
Dan ia tidak boleh menjadi Qadariyyah yang mengatakan bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri secara independen dari kehendak Allah.
Jalan yang benar adalah jalan Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Manusia wajib:
beriman kepada takdir,
berusaha melakukan kebaikan,
menjauhi kemaksiatan,
mengambil sebab,
bertawakal kepada Allah,
bersyukur ketika mendapatkan nikmat,
dan bersabar ketika mendapatkan musibah.
Seorang mukmin beramal dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak bersandar kepada amalnya. Ia memohon pertolongan kepada Allah dan menyadari bahwa tidak ada kekuatan dan kemampuan kecuali dengan pertolongan Allah.
Allah Ta'ala berfirman:
لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Bagi siapa di antara kamu yang menghendaki untuk menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendaki, Rabb seluruh alam.”
(QS. At-Takwir: 28–29)
Semoga Allah memberikan kepada kita pemahaman yang benar tentang agama-Nya, menetapkan hati kita di atas akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, serta memberikan taufik kepada kita untuk melakukan amal-amal yang diridhai-Nya.
والله أعلم بالصواب
DAFTAR PUSTAKA SINGKAT
Al-Qur'an al-Karim.
Shahih Muslim.
Al-Aqidah ath-Thahawiyyah.
Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyyah.
Al-Wasithiyyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
Majmu' al-Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
Kitab at-Tauhid dan kitab-kitab akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Syarh Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah wal Jamaah, karya al-Lalika'i.
Kajian Akidah dan Tadabbur Firman Allah:
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Dia-lah Yang menciptakan langit dan bumi, Yang mengetahui segala yang tampak dan yang tersembunyi, Yang mengetahui apa yang telah terjadi, sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, para sahabat, dan seluruh orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari Kiamat.
Di antara perkara besar yang wajib diimani oleh setiap Muslim adalah adanya hari perhitungan (Yaumul Hisab). Pada hari itu seluruh manusia akan berdiri di hadapan Allah ﷻ. Semua amal akan diperlihatkan, ditimbang, dan setiap manusia akan menerima balasan yang sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya.
Allah ﷻ berfirman:
«إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Sesungguhnya Allah Mahacepat perhitungan-Nya.”»
Kalimat yang singkat ini mengandung makna akidah yang sangat agung. Allah tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menghitung seluruh amal makhluk-Nya. Banyaknya manusia sejak Nabi Adam عليه السلام hingga manusia terakhir tidak menjadikan perhitungan Allah menjadi sulit. Banyaknya amal, dosa, perkataan, rahasia, dan perbuatan manusia tidak menjadikan Allah bingung atau lalai.
Allah menghitung seluruh makhluk dengan ilmu-Nya yang sempurna, kekuasaan-Nya yang mutlak, dan keadilan-Nya yang sempurna.
---
I. MAKNA الْحِسَابُ DALAM AL-QUR'AN
Secara bahasa, الحساب (al-hisāb) berarti perhitungan, penghitungan, atau perhitungan terhadap sesuatu.
Dalam konteks hari Kiamat, hisab berarti:
«Perhitungan Allah terhadap hamba mengenai seluruh amal yang telah mereka lakukan di dunia, kemudian Allah memberikan balasan sesuai dengan amal tersebut.»
Allah ﷻ berfirman:
«إِنْ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ
“Sesungguhnya kepada Kamilah mereka kembali, kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah menghisab mereka.”
(QS. Al-Ghāsyiyah: 25–26)»
Seluruh manusia akan kembali kepada Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat melarikan diri dari pengadilan Allah.
Orang kaya dan miskin, raja dan rakyat, pejabat dan rakyat biasa, ulama dan orang awam, laki-laki dan perempuan, semuanya akan berdiri di hadapan Allah.
Allah ﷻ berfirman:
«وَعُرِضُوا عَلَىٰ رَبِّكَ صَفًّا
“Dan mereka akan dihadapkan kepada Rabbmu dengan berbaris.”
(QS. Al-Kahfi: 48)»
Pada hari itu tidak ada kekuasaan dunia yang dapat menyelamatkan seseorang. Tidak ada jabatan, harta, keluarga, atau kedudukan yang dapat menghindarkan manusia dari perhitungan Allah.
---
II. FIRMAN ALLAH: إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Ungkapan إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur'an.
Di antaranya Allah ﷻ berfirman:
«وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Dan Allah Mahacepat perhitungan-Nya.”
(QS. Al-Baqarah: 202)»
Allah juga berfirman:
«إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Sesungguhnya Allah Mahacepat perhitungan.”
(QS. Āli ‘Imrān: 19)»
Dan Allah berfirman:
«إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
(QS. Āli ‘Imrān: 199)»
Demikian pula Allah ﷻ berfirman:
«وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Dan Allah Mahacepat perhitungan.”
(QS. An-Nūr: 39)»
Pengulangan sifat ini dalam Al-Qur'an menunjukkan pentingnya seorang hamba untuk menyadari bahwa hari perhitungan pasti terjadi dan Allah tidak mengalami kesulitan sedikit pun dalam menghisab seluruh makhluk.
---
III. APA MAKNA ALLAH “MAHACEPAT PERHITUNGAN-NYA”?
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa makna سريع الحساب mengandung beberapa pengertian.
1. Allah tidak memerlukan waktu untuk menghitung
Makhluk membutuhkan waktu untuk melakukan perhitungan.
Seorang manusia apabila harus menghitung harta ribuan orang tentu membutuhkan waktu yang panjang. Apabila harus memeriksa amal miliaran manusia, manusia tidak akan mampu melakukannya.
Tetapi Allah berbeda dengan makhluk.
Allah tidak terbatas oleh waktu.
Allah mengetahui segala sesuatu tanpa perlu berpikir. Allah tidak membutuhkan alat, catatan tambahan, komputer, atau bantuan siapa pun.
Allah ﷻ berfirman:
«وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا
“Dan Rabbmu tidak pernah lupa.”
(QS. Maryam: 64)»
Allah mengetahui seluruh kehidupan seorang manusia, sejak ia berada dalam kandungan hingga meninggal dunia.
Allah mengetahui:
- setiap perkataannya,
- setiap perbuatannya,
- setiap niatnya,
- setiap langkahnya,
- setiap pandangannya,
- setiap kebaikannya,
- setiap dosanya,
- bahkan apa yang tersembunyi di dalam dadanya.
Allah ﷻ berfirman:
«وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh jiwanya.”
(QS. Qāf: 16)»
Jika seluruh amal telah diketahui secara sempurna oleh Allah, maka perhitungan terhadapnya tidak menjadi sesuatu yang sulit bagi-Nya.
---
IV. BANYAKNYA MAKHLUK TIDAK MENYULITKAN ALLAH
Sejak Nabi Adam عليه السلام hingga hari Kiamat, berapa banyak manusia yang hidup?
Jumlahnya tidak terhitung.
Setiap manusia memiliki:
- umur yang berbeda,
- amal yang berbeda,
- dosa yang berbeda,
- perkataan yang berbeda,
- niat yang berbeda.
Namun semua itu berada dalam ilmu Allah.
Allah ﷻ berfirman:
«وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ
“Tidak ada seekor binatang pun di bumi dan tidak pula seekor burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya adalah umat-umat seperti kalian.”
(QS. Al-An‘ām: 38)»
Allah mengetahui seluruh makhluk-Nya.
Allah berfirman:
«أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
“Apakah Dia yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Mulk: 14)»
Pencipta seluruh makhluk tentu mengetahui seluruh ciptaan-Nya.
Oleh karena itu, banyaknya manusia tidak menyebabkan Allah kesulitan dalam menghisab mereka.
---
V. ALLAH MENGETAHUI AMAL SEBELUM HARI PERHITUNGAN
Cepatnya perhitungan Allah juga berkaitan dengan sempurnanya ilmu Allah.
Allah tidak perlu mencari-cari informasi tentang hamba-Nya pada hari Kiamat.
Seluruh amal telah diketahui.
Bahkan amal-amal tersebut telah dicatat.
Allah ﷻ berfirman:
«وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ كِرَامًا كَاتِبِينَ يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ
“Sesungguhnya bagi kalian ada malaikat-malaikat yang mengawasi, yang mulia dan mencatat. Mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.”
(QS. Al-Infiṭār: 10–12)»
Setiap manusia memiliki malaikat pencatat amal.
Allah ﷻ berfirman:
«إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Ketika dua malaikat mencatat amalnya, yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan di sisinya ada pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qāf: 17–18)»
Perhatikanlah.
Tidak ada perkataan yang dianggap terlalu kecil untuk diperhatikan.
Seseorang mungkin melupakan perkataan yang ia ucapkan sepuluh tahun yang lalu. Ia mungkin telah melupakan dosa yang dilakukan ketika muda.
Tetapi Allah tidak lupa.
Allah tidak pernah kehilangan catatan.
Allah tidak pernah salah menghitung.
---
VI. KITAB AMAL: CATATAN YANG TIDAK MENINGGALKAN SESUATU
Pada hari Kiamat, manusia akan melihat kitab amalnya.
Allah ﷻ berfirman:
«وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا
“Dan diletakkanlah kitab, lalu engkau akan melihat orang-orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya. Mereka berkata: ‘Celaka kami! Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan semuanya dicatatnya.’”
(QS. Al-Kahfi: 49)»
Inilah kitab amal.
Tidak ada dosa yang hilang begitu saja.
Tidak ada kezaliman yang terlupakan.
Tidak ada kebaikan yang sia-sia.
Segala sesuatu tercatat.
«لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا»
“Tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan semuanya dihitung.”
Ini merupakan salah satu sebab mengapa Allah Mahacepat perhitungan-Nya.
Sebab seluruh amal telah:
1. diketahui oleh Allah,
2. diawasi,
3. dicatat,
4. dijaga,
5. dan akan ditampakkan pada hari Kiamat.
---
VII. ALLAH TIDAK PERNAH LUPA
Salah satu kelemahan manusia adalah lupa.
Seorang hakim manusia membutuhkan:
- saksi,
- bukti,
- dokumen,
- rekaman,
- pemeriksaan.
Hal itu karena manusia tidak mengetahui perkara yang tidak disaksikannya.
Adapun Allah ﷻ, maka Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
Allah berfirman:
«لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى
“Rabbku tidak akan salah dan tidak pula lupa.”
(QS. Ṭāhā: 52)»
Allah tidak lupa terhadap:
- amal yang dilakukan secara terang-terangan,
- amal yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi,
- dosa yang diketahui manusia,
- dosa yang tidak diketahui manusia,
- air mata yang diteteskan ketika sendirian,
- sedekah yang diberikan secara rahasia,
- kezaliman yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Semua itu diketahui Allah.
---
VIII. HISAB ALLAH BERLANGSUNG DENGAN KEADILAN SEMPURNA
Cepat bukan berarti terburu-buru.
Ini merupakan perkara penting.
Allah Mahacepat perhitungan-Nya, tetapi perhitungan Allah tetap sempurna dan penuh keadilan.
Manusia kadang-kadang apabila ingin cepat, ia menjadi tergesa-gesa.
Akibatnya terjadi:
- kesalahan,
- kekeliruan,
- ketidakadilan.
Tetapi Allah tidak demikian.
Allah Mahacepat sekaligus Mahaadil.
Allah ﷻ berfirman:
«وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
“Dan Rabbmu tidak menzalimi seorang pun.”
(QS. Al-Kahfi: 49)»
Allah juga berfirman:
«إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ
“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah.”
(QS. An-Nisā’: 40)»
Tidak ada seorang pun yang akan dizalimi.
Tidak ada dosa seseorang yang dibebankan kepada orang lain tanpa alasan yang benar.
Tidak ada pahala yang dikurangi.
Tidak ada amal kebaikan yang dilupakan.
Allah berfirman:
«فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)»
---
IX. KECILNYA AMAL TIDAK BERARTI TIDAK DIHITUNG
Sering kali manusia meremehkan dosa karena dianggap kecil.
Ia berkata:
«“Ini hanya perkataan.”»
Atau:
«“Ini hanya candaan.”»
Atau:
«“Ini dosa kecil.”»
Padahal manusia tidak mengetahui bagaimana kedudukan perbuatannya di sisi Allah.
Allah ﷻ berfirman:
«وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ
“Kalian menganggapnya sebagai sesuatu yang ringan, padahal di sisi Allah perkara itu besar.”
(QS. An-Nūr: 15)»
Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh meremehkan dosa.
Nabi ﷺ bersabda:
«إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ
“Hati-hatilah kalian dari dosa-dosa yang dianggap remeh.”»
Sebab dosa-dosa kecil apabila terus dilakukan dapat terkumpul.
Demikian pula amal kebaikan.
Jangan meremehkan:
- senyuman kepada saudara,
- memberi salam,
- menyingkirkan gangguan dari jalan,
- mengucapkan dzikir,
- memberi sedekah walaupun sedikit,
- membantu orang lain.
Semuanya berada dalam perhitungan Allah.
---
X. PERHITUNGAN ALLAH MELIPUTI AMAL LAHIR DAN BATIN
Manusia biasanya hanya mampu menilai perkara yang tampak.
Seorang manusia dapat melihat seseorang:
- shalat,
- bersedekah,
- berdakwah,
- berpuasa.
Tetapi manusia tidak mengetahui apa yang berada dalam hati.
Allah mengetahui semuanya.
Allah ﷻ berfirman:
«يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
“Dia mengetahui pandangan mata yang berkhianat dan apa yang disembunyikan oleh dada.”
(QS. Ghāfir: 19)»
Ini menunjukkan bahwa hisab Allah tidak hanya terhadap perbuatan fisik.
Tetapi juga berkaitan dengan:
- niat,
- keikhlasan,
- riya',
- kesombongan,
- kedengkian,
- kecintaan,
- ketakutan kepada Allah.
Seseorang mungkin melakukan amal yang besar secara lahiriah, tetapi apabila niatnya rusak, maka amalnya dapat menjadi sia-sia.
Allah ﷻ berfirman:
«وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu seperti debu yang berterbangan.”
(QS. Al-Furqān: 23)»
Karena itu, seorang hamba tidak cukup hanya memperhatikan bentuk amal.
Ia harus memperhatikan:
«Untuk siapa aku melakukan amal ini?»
---
XI. ALLAH MENGHISAB SELURUH MAKHLUK TANPA TERTUKAR
Bayangkan manusia sejak Nabi Adam عليه السلام hingga hari Kiamat.
Masing-masing memiliki catatan amal yang berbeda.
Tidak ada yang tertukar.
Allah tidak akan salah memberikan:
- pahala seseorang kepada orang lain,
- dosa seseorang kepada orang lain,
- catatan seseorang kepada orang lain.
Allah Maha Mengetahui setiap individu.
Allah mengetahui nama, kehidupan, amal, dan keadaan setiap hamba.
Allah ﷻ berfirman:
«وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا
“Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada hari Kiamat seorang diri.”
(QS. Maryam: 95)»
Setiap orang datang sendiri.
Tidak membawa:
- kekuasaan,
- pengawal,
- jabatan,
- kedudukan.
Setiap manusia akan menghadapi hasil amalnya sendiri.
---
XII. CEPATNYA HISAB ALLAH MENUNJUKKAN KESEMPURNAAN ILMU-NYA
Allah ﷻ memiliki sifat ilmu yang sempurna.
Ilmu Allah tidak:
- terbatas,
- bertambah karena belajar,
- berkurang,
- dilupakan.
Allah tidak membutuhkan guru.
Allah tidak membutuhkan penelitian.
Allah tidak membutuhkan pengalaman untuk mengetahui sesuatu.
Allah mengetahui segala sesuatu dengan ilmu-Nya yang sempurna.
Allah berfirman:
«وَأَحْصَىٰ كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا
“Dan Dia menghitung segala sesuatu dengan perhitungan yang teliti.”
(QS. Al-Jinn: 28)»
Jika seluruh sesuatu berada dalam ilmu Allah, maka tidak mengherankan apabila Allah Mahacepat dalam perhitungan.
---
XIII. ALLAH TIDAK MEMBUTUHKAN PEMBANTU DALAM HISAB
Raja-raja di dunia membutuhkan banyak pegawai.
Semakin besar kerajaan, semakin banyak pegawai yang dibutuhkan.
Tetapi Allah Rabbul ‘Ālamīn tidak membutuhkan bantuan.
Allah ﷻ berfirman:
«وَمَا كَانَ لَهُ مِنْ شَرِيكٍ فِي الْمُلْكِ
“Dan Dia tidak mempunyai sekutu dalam kekuasaan.”
(QS. Al-Isrā’: 111)»
Malaikat mencatat amal bukan karena Allah tidak mengetahui.
Tetapi pencatatan malaikat terjadi berdasarkan hikmah Allah.
Allah mengetahui amal sebelum malaikat mencatatnya.
Malaikat tidak menambah ilmu Allah.
Sebab Allah telah mengetahui segala sesuatu.
---
XIV. MANUSIA DAPAT MELUPAKAN AMALNYA, TETAPI ALLAH TIDAK
Ada orang yang telah hidup selama enam puluh atau tujuh puluh tahun.
Betapa banyak perkataan yang telah ia ucapkan?
Betapa banyak langkah yang telah ia lakukan?
Betapa banyak dosa dan kebaikan yang telah dikerjakannya?
Ia sendiri tidak dapat menghitungnya.
Ia telah melupakan sebagian besar kehidupannya.
Tetapi Allah tidak lupa.
Allah ﷻ berfirman tentang kitab amal:
«أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ
“Allah telah menghitungnya, sedangkan mereka telah melupakannya.”
(QS. Al-Mujādilah: 6)»
Ini adalah ayat yang sangat menakutkan.
«أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ»
“Allah telah menghitungnya, sedangkan mereka melupakannya.”
Seorang manusia mungkin berkata:
«“Saya sudah lupa.”»
Tetapi lupa bukan alasan.
Karena Allah tidak lupa.
---
XV. HISAB ALLAH TERHADAP ORANG BERIMAN
Di antara rahmat Allah kepada orang beriman adalah bahwa Allah dapat memberikan kemudahan dalam hisabnya.
Allah Maha Pengampun.
Allah Maha Penyayang.
Namun seorang Mukmin tetap harus takut kepada hari hisab.
Sebab Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ عُذِّبَ
“Barang siapa diperiksa secara mendetail dalam hisab, maka dia akan binasa.”»
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang yang diperiksa secara mendetail akan mendapatkan azab.
Hadis ini menunjukkan perbedaan antara:
1. عرض الحساب, yaitu diperlihatkan amalnya.
2. مناقشة الحساب, yaitu pemeriksaan yang sangat rinci dan mendetail.
Oleh sebab itu, seorang Mukmin memohon kepada Allah agar mendapatkan:
«حسابًا يسيرًا
“Hisab yang mudah.”»
Allah ﷻ berfirman:
«فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا
“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperhitungkan dengan perhitungan yang mudah.”
(QS. Al-Insyiqāq: 7–8)»
Ini merupakan harapan besar bagi orang beriman.
Bukan berarti ia tidak memiliki dosa.
Tetapi Allah dapat mengampuni dan memudahkan perhitungannya.
---
XVI. CEPATNYA HISAB ALLAH BUKAN BERARTI HARI KIAMAT SEBENTAR
Perlu dibedakan antara:
1. Cepatnya proses Allah dalam menghitung
Dengan:
2. Lamanya hari Kiamat bagi manusia
Allah ﷻ berfirman:
«تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Para malaikat dan Jibril naik kepada-Nya dalam suatu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.”
(QS. Al-Ma‘ārij: 4)»
Hari Kiamat merupakan hari yang sangat dahsyat.
Tetapi lamanya hari Kiamat tidak berarti Allah lambat dalam melakukan perhitungan.
Allah mampu menghisab seluruh makhluk dengan sangat cepat.
Perkara yang sulit bagi manusia sangat mudah bagi Allah.
---
XVII. JANGAN MERASA AMAN HANYA KARENA AZAB BELUM DATANG
Sebagian manusia melakukan dosa kemudian melihat bahwa tidak ada hukuman yang langsung datang.
Lalu ia mengira:
«“Allah tidak memperhitungkan perbuatanku.”»
Ini adalah kesalahan.
Allah memberikan penangguhan kepada manusia.
Tetapi penangguhan bukan berarti kelalaian.
Allah ﷻ berfirman:
«وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ
“Janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lalai terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim.”
(QS. Ibrāhīm: 42)»
Allah mengetahui semuanya.
Apabila Allah menunda hukuman seseorang, maka hal itu terjadi karena hikmah-Nya.
Tetapi ketika waktu perhitungan datang, tidak ada yang dapat melarikan diri.
---
XVIII. CEPATNYA HISAB SEHARUSNYA MENJADIKAN KITA MUHASABAH
Apabila seorang Muslim benar-benar meyakini:
«إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ»
maka ia akan melakukan muhasabah, yaitu mengoreksi dirinya.
Allah ﷻ berfirman:
«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok.”
(QS. Al-Ḥasyr: 18)»
Seorang Mukmin hendaknya bertanya kepada dirinya:
- Apa yang telah aku persiapkan untuk kematian?
- Bagaimana shalatku?
- Bagaimana hubunganku dengan Allah?
- Apakah hartaku halal?
- Apakah lisanku menjaga orang lain?
- Apakah aku pernah menzalimi seseorang?
- Apakah amal-amalku dilakukan dengan ikhlas?
- Apakah aku telah bertaubat dari dosa-dosaku?
Muhasabah di dunia lebih ringan daripada hisab pada hari Kiamat.
---
XIX. HISAB YANG CEPAT MERUPAKAN PERINGATAN BAGI ORANG YANG MENUNDA TAUBAT
Salah satu kesalahan terbesar manusia adalah menunda taubat.
Ia berkata:
«“Nanti saja ketika sudah tua.”»
Padahal tidak ada jaminan bahwa seseorang akan mencapai usia tua.
Kematian dapat datang:
- ketika muda,
- ketika sehat,
- ketika tidur,
- ketika bekerja,
- ketika bepergian.
Apabila kematian datang, maka kesempatan beramal telah berakhir.
Allah ﷻ berfirman:
«حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ
“Hingga apabila kematian datang kepada salah seorang dari mereka, dia berkata: ‘Wahai Rabbku, kembalikanlah aku, agar aku dapat beramal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.’”
(QS. Al-Mu’minūn: 99–100)»
Tetapi ketika ajal datang, kesempatan telah berakhir.
Oleh karena itu, orang yang berakal tidak menunggu hari tua untuk bertaubat.
---
XX. HUBUNGAN ANTARA سَرِيعُ الْحِسَابِ DAN SIFAT-SIFAT ALLAH
Sifat Allah سريع الحساب berkaitan dengan banyak sifat kesempurnaan Allah.
1. Ilmu Allah
Allah mengetahui segala sesuatu.
«وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ»
“Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
---
2. Kekuasaan Allah
Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
«وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ»
“Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”
---
3. Keadilan Allah
Allah tidak menzalimi seorang pun.
«وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا»
“Dan Rabbmu tidak menzalimi seorang pun.”
---
4. Hikmah Allah
Seluruh keputusan Allah berdasarkan hikmah.
Allah tidak memberikan pahala atau hukuman secara sia-sia.
---
5. Kekayaan Allah
Allah tidak membutuhkan makhluk-Nya.
Allah tidak mendapatkan manfaat dari ketaatan manusia.
Demikian pula, dosa manusia tidak mengurangi kekuasaan Allah.
---
XXI. PERUMPAMAAN YANG HARUS DIHINDARI
Dalam memahami sifat Allah, seorang Muslim harus berhati-hati.
Tidak boleh membayangkan cara Allah menghitung seperti manusia menghitung.
Kita tidak boleh mengatakan:
«“Allah menghitung seperti komputer.”»
Atau:
«“Allah menghitung seperti manusia, tetapi lebih cepat.”»
Ini bukan cara yang tepat.
Sebab Allah ﷻ berfirman:
«لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”
(QS. Asy-Syūrā: 11)»
Kita beriman bahwa:
«Allah Mahacepat perhitungan-Nya.»
Tetapi kita tidak mengetahui bagaimana hakikat dan kaifiyatnya.
Kita menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya tanpa:
- menyerupakan Allah dengan makhluk,
- menolak sifat Allah,
- mengubah maknanya,
- menentukan bagaimana hakikat sifat tersebut.
---
XXII. BUKTI KEADILAN ALLAH DALAM HISAB
Pada hari Kiamat tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan bahwa dirinya dizalimi.
Allah ﷻ berfirman:
«الْيَوْمَ تُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Pada hari ini setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya. Tidak ada kezaliman pada hari ini. Sesungguhnya Allah Mahacepat perhitungan.”
(QS. Ghāfir: 17)»
Ayat ini sangat penting.
Perhatikan hubungan antara:
«لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ
“Tidak ada kezaliman pada hari ini.”»
Dengan:
«إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Sesungguhnya Allah Mahacepat perhitungan.”»
Allah:
- cepat dalam hisab,
- tetapi tidak tergesa-gesa,
- teliti,
- sempurna,
- dan Mahaadil.
Setiap jiwa akan mendapatkan balasan:
«بِمَا كَسَبَتْ»
“Berdasarkan apa yang telah dikerjakannya.”
---
XXIII. PELAJARAN DARI AYAT إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Dari ayat yang agung ini terdapat banyak pelajaran.
1. Wajib mengimani hari akhir
Seorang Muslim wajib meyakini bahwa manusia akan kembali kepada Allah.
---
2. Seluruh amal akan diperhitungkan
Tidak ada amal yang sia-sia.
---
3. Jangan meremehkan dosa
Dosa kecil dapat dicatat dan diperhitungkan.
---
4. Jangan meremehkan kebaikan
Kebaikan sekecil apa pun dapat menjadi sebab keselamatan.
---
5. Allah mengetahui perkara yang tersembunyi
Manusia mungkin dapat menipu manusia lain.
Tetapi tidak dapat menipu Allah.
---
6. Segeralah bertaubat
Jangan menunggu datangnya kematian.
---
7. Lakukan muhasabah
Hitunglah diri sebelum diri dihitung.
---
8. Berusahalah mendapatkan hisab yang mudah
Dengan iman, amal saleh, keikhlasan, dan taubat.
---
XXIV. BAGAIMANA AGAR MENDAPATKAN HISAB YANG MUDAH?
Seorang Muslim hendaknya melakukan beberapa perkara berikut:
Pertama: Memperbaiki tauhid
Tauhid adalah dasar keselamatan.
Seseorang harus beribadah hanya kepada Allah.
Allah ﷻ berfirman:
«إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. An-Nisā’: 48)»
---
Kedua: Memperbanyak taubat
Nabi ﷺ mengajarkan umatnya untuk selalu bertaubat.
Taubat dilakukan dengan:
1. meninggalkan dosa,
2. menyesali dosa,
3. bertekad tidak mengulanginya,
4. apabila berkaitan dengan hak manusia, maka mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf.
---
Ketiga: Menjaga shalat
Shalat merupakan amal yang sangat besar.
Seorang Muslim harus memperhatikan shalatnya.
Bukan hanya melaksanakannya, tetapi berusaha memperbaiki:
- waktu,
- kekhusyukan,
- tata cara,
- dan keikhlasannya.
---
Keempat: Menjaga hak manusia
Banyak orang memperhatikan ibadah kepada Allah tetapi lalai terhadap hak manusia.
Padahal kezaliman terhadap manusia sangat berbahaya.
Seseorang harus berhati-hati terhadap:
- mengambil harta orang lain,
- menipu,
- memfitnah,
- menggunjing,
- memukul,
- menghina,
- merusak kehormatan orang lain.
---
Kelima: Memperbanyak amal saleh yang tersembunyi
Amal rahasia sangat penting dalam menjaga keikhlasan.
Seorang Muslim dapat:
- bersedekah secara sembunyi-sembunyi,
- menangis karena takut kepada Allah,
- berdoa ketika sendirian,
- melakukan shalat malam,
- membantu orang tanpa diketahui.
---
Keenam: Memperbanyak istighfar
Allah Maha Pengampun.
Seorang hamba tidak boleh putus asa dari rahmat Allah.
Allah ﷻ berfirman:
«وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا
“Barang siapa melakukan kejahatan atau menzalimi dirinya sendiri, kemudian dia memohon ampun kepada Allah, niscaya dia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisā’: 110)»
---
XXV. MUHASABAH SEBELUM HISAB
Di antara nasihat yang sangat penting bagi seorang Muslim adalah:
«حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا»
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”
Maknanya, hendaknya manusia mengoreksi dirinya ketika masih berada di dunia.
Setiap malam seorang Muslim dapat bertanya:
- Apa yang telah aku lakukan hari ini?
- Apakah aku telah melaksanakan kewajiban?
- Apakah aku menyakiti seseorang?
- Apakah lisanku menjaga orang lain?
- Apakah aku melakukan dosa?
- Apakah aku telah bertaubat?
Apabila menemukan kesalahan, segera bertaubat.
Apabila memiliki hak orang lain, segera diselesaikan.
Apabila melakukan dosa, jangan menunggu hingga esok hari.
Karena kita tidak mengetahui apakah masih akan hidup esok hari.
---
XXVI. RENUNGAN: SELURUH KEHIDUPAN AKAN DIPERLIHATKAN
Bayangkan suatu hari seseorang menerima kitab yang berisi seluruh kehidupannya.
Semua perkataan.
Semua perbuatan.
Semua dosa.
Semua kebaikan.
Tidak ada yang hilang.
Tidak ada yang terlupakan.
Allah ﷻ berfirman:
«يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ
“Pada hari ketika segala rahasia diuji dan ditampakkan.”
(QS. Aṭ-Ṭāriq: 9)»
Di dunia, manusia dapat menyembunyikan banyak perkara.
Tetapi pada hari Kiamat:
«rahasia akan terbuka.»
Di dunia seseorang mungkin terlihat baik di hadapan manusia.
Tetapi Allah mengetahui isi hatinya.
Di dunia seseorang mungkin menyembunyikan dosa.
Tetapi Allah mengetahuinya.
Oleh karena itu, keselamatan sejati bukanlah sekadar terlihat baik di hadapan manusia.
Keselamatan sejati adalah menjadi baik di hadapan Allah.
---
PENUTUP
Firman Allah ﷻ:
«إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Sesungguhnya Allah Mahacepat perhitungan-Nya.”»
merupakan ayat yang mengandung peringatan sekaligus harapan.
Ia merupakan peringatan bagi orang yang:
- meremehkan dosa,
- menunda taubat,
- berbuat zalim,
- menganggap Allah tidak mengetahui perbuatannya.
Dan ia merupakan harapan bagi orang beriman yang:
- beramal saleh,
- menjaga tauhid,
- memperbanyak taubat,
- memperbaiki diri,
- dan mengharapkan rahmat Allah.
Allah tidak pernah lupa.
Allah tidak pernah salah.
Allah tidak pernah zalim.
Seluruh amal akan diperhitungkan dengan sempurna.
Oleh sebab itu, selama masih hidup, marilah kita memperbaiki diri.
Jangan menunggu kematian.
Jangan menunggu sakit.
Jangan menunggu usia tua.
Jangan menunda taubat.
Karena ketika seorang hamba telah meninggalkan dunia, maka amalnya telah selesai.
Dan setelah itu ia akan menghadapi:
«الْحِسَابَ»
Perhitungan.
Maka beruntunglah orang yang ketika di dunia telah melakukan muhasabah, memperbaiki amalnya, menjaga hak Allah dan hak manusia, serta kembali kepada Allah dengan taubat yang benar.
Semoga Allah ﷻ memberikan kepada kita حسابًا يسيرًا, yaitu perhitungan yang mudah.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal-amal kita, memperbaiki akhir kehidupan kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang menerima kitab amal dari sebelah kanan.
اللَّهُمَّ حَاسِبْنَا حِسَابًا يَسِيرًا، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَاسْتُرْ عُيُوبَنَا، وَثَقِّلْ مَوَازِينَنَا بِالْحَسَنَاتِ، وَنَجِّنَا مِنْ خِزْيِ يَوْمِ الْحِسَابِ.
Ya Allah, hisablah kami dengan hisab yang mudah. Ampunilah dosa-dosa kami, tutuplah aib-aib kami, beratkanlah timbangan kami dengan kebaikan, dan selamatkanlah kami dari kehinaan pada hari perhitungan.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar