PERINGATAN TERHADAP SYIRIK
Syaikh Ṣāliḥ bin Fawzān al-Fawzān رحمه الله
Tanggal publikasi: 11 Oktober 2022 / 15 Rabī‘ul Awwal 1444 H
Unsur-unsur khutbah
1. Tauhid adalah perkara terbesar yang Allah perintahkan.
2. Syirik adalah perkara terbesar yang Allah larang.
3. Syirik terbagi menjadi dua macam.
4. Takut terjatuh ke dalam syirik.
5. Beberapa bentuk syirik yang tersebar di tengah masyarakat.
Tujuan khutbah
Memberikan peringatan terhadap bahaya syirik dan menjelaskan bahayanya, serta mengingatkan sebagian bentuk syirik yang tersebar di masyarakat.
---
KHUTBAH PERTAMA
Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Allah berfirman:
«“Dia telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
(QS. Yūsuf: 40)»
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.
Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Allah mengutus beliau untuk menyeru manusia kepada tauhid dan memperingatkan mereka dari syirik. Beliau berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad hingga menyampaikan risalah Rabb-nya. Kemudian Allah menyempurnakan agama dan menyempurnakan nikmat-Nya melalui beliau.
Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya, serta kepada orang-orang yang menempuh jalan mereka dan mengikuti manhaj mereka hingga hari kiamat.
Amma ba‘du.
Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah Ta‘ala. Laksanakanlah apa yang Dia perintahkan kepada kalian dan jauhilah apa yang Dia larang.
Ketahuilah bahwa perkara terbesar yang Allah perintahkan kepada kalian adalah tauhid, yaitu mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Untuk tujuan inilah kalian diciptakan. Allah Ta‘ala berfirman:
«“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzāriyāt: 56)»
Kemaslahatan dari ibadah tersebut sebenarnya kembali kepada kalian sendiri. Kalian membutuhkan ibadah kepada Allah agar memperoleh rahmat-Nya dan selamat dari azab-Nya.
Allah memerintahkan kalian beribadah demi kemaslahatan kalian sendiri. Adapun Allah سبحانه وتعالى Mahakaya dan tidak membutuhkan ibadah kalian.
Allah berfirman:
«“Jika kalian kafir, kalian dan seluruh manusia yang ada di bumi, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.”
(QS. Ibrāhīm: 8)»
Sedangkan perkara terbesar yang Allah larang adalah syirik, yaitu memberikan sebagian bentuk ibadah kepada selain Allah, seperti doa, penyembelihan, nazar, rasa takut ibadah, harapan ibadah, keinginan, maupun rasa gentar.
Allah Ta‘ala berfirman:
«“Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah telah mengharamkan surga baginya dan tempatnya adalah neraka.”
(QS. Al-Mā’idah: 72)»
Allah juga berfirman:
«“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. An-Nisā’: 48)»
---
SYIRIK TERBAGI MENJADI DUA
Pertama: syirik besar (الشرك الأكبر).
Syirik besar mengeluarkan seseorang dari Islam. Pelakunya dalam kehidupan dunia memiliki hukum-hukum yang berlaku bagi orang yang keluar dari Islam, kecuali apabila terdapat perjanjian atau perlindungan yang sah dari kaum Muslimin.
Adapun di akhirat, pelakunya kekal selama-lamanya di dalam neraka. Allah mengharamkan surga atasnya dan menjauhkannya dari ampunan dan rahmat-Nya.
Syirik ini terjadi ketika seseorang mengarahkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah.
Misalnya seseorang berdoa kepada orang-orang yang telah meninggal, jin, atau setan untuk memenuhi kebutuhannya dan menghilangkan kesusahannya.
Termasuk pula seseorang menyembelih untuk mereka dengan tujuan mendapatkan kesembuhan dari penyakit atau menolak keburukan mereka.
Di antara bentuknya adalah apa yang terjadi sekarang di sebagian kuburan para wali dan orang-orang saleh, ketika kuburan-kuburan tersebut berubah menjadi sesembahan yang disembah selain Allah di banyak negeri.
Demikian pula yang dilakukan oleh kaum Nabi Nuh عليه السلام ketika mereka berlebih-lebihan terhadap orang-orang saleh.
Allah berfirman:
«“Dan mereka berkata: Jangan sekali-kali kalian meninggalkan sesembahan-sesembahan kalian dan jangan pula kalian meninggalkan Wadd, Suwā‘, Yaghūts, Ya‘ūq dan Nasr.”
(QS. Nūḥ: 23)»
Dalam Shahih al-Bukhari, dari Ibnu ‘Abbās رضي الله عنهما, disebutkan bahwa nama-nama yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah nama orang-orang saleh dari kaum Nabi Nuh.
Ketika mereka telah meninggal, setan membisikkan kepada kaum mereka agar membuat patung atau tanda-tanda di tempat-tempat mereka biasa duduk dan menamainya dengan nama-nama mereka.
Mereka pun melakukannya. Pada awalnya patung-patung tersebut belum disembah. Namun ketika generasi yang membuatnya telah meninggal dan ilmu agama mulai dilupakan, akhirnya patung-patung tersebut pun disembah.
Ibnu Jarir رحمه الله meriwayatkan dari Muhammad bin Qais bahwa Yaghūts, Ya‘ūq, dan Nasr dahulu adalah orang-orang saleh dari kalangan manusia. Mereka mempunyai pengikut yang meneladani mereka.
Ketika mereka meninggal, para pengikutnya berkata:
“Seandainya kita membuat gambar mereka, tentu hal itu akan lebih membuat kita rindu untuk beribadah.”
Maka mereka membuat gambar-gambar tersebut.
Kemudian ketika orang-orang yang membuat gambar itu meninggal dan datang generasi berikutnya, Iblis mulai menyesatkan mereka. Iblis berkata kepada mereka:
“Sesungguhnya orang-orang dahulu menyembah mereka dan melalui mereka mereka meminta hujan.”
Akhirnya mereka pun menyembahnya.
---
IBADAH KEPADA KUBUR
Wahai hamba-hamba Allah.
Inilah yang terjadi pada kaum Nabi Nuh berupa penyembahan terhadap orang-orang yang telah meninggal. Hal serupa juga terjadi pada masa sekarang pada sebagian penyembah kubur di berbagai negeri, padahal mereka mengaku sebagai kaum Muslimin.
Mereka melakukan berbagai bentuk ibadah di kuburan.
Ada yang menggantungkan tirai di atas kuburan, meletakkan kotak-kotak untuk mengumpulkan nazar, menyiapkan kuburan untuk dikelilingi dalam bentuk tawaf, mengusap-usap bagian-bagiannya, meminta pertolongan kepada penghuni kubur, serta menjadikan mereka sebagai perantara kepada Allah.
Hal tersebut serupa dengan ucapan kaum musyrikin terdahulu:
«“Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.”
(QS. Az-Zumar: 3)»
Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari ‘Aisyah رضي الله عنها, disebutkan bahwa Ummu Salamah رضي الله عنها pernah menceritakan kepada Nabi ﷺ tentang sebuah gereja yang dilihatnya di negeri Habasyah dan gambar-gambar yang terdapat di dalamnya.
Maka Nabi ﷺ bersabda bahwa apabila seorang yang saleh atau seorang hamba yang saleh meninggal di antara mereka, mereka membangun tempat ibadah di atas kuburnya dan membuat gambar-gambar di dalamnya. Beliau ﷺ menyebut mereka sebagai seburuk-buruk makhluk di sisi Allah.
---
SYIRIK DI SEKITAR KUBUR
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:
Syirik terhadap kuburan seseorang yang diyakini sebagai orang saleh lebih dekat kepada jiwa manusia daripada syirik terhadap sepotong kayu atau batu.
Oleh karena itu, engkau akan menemukan orang-orang musyrik merendahkan diri di hadapan kuburan tersebut, merasa takut, tunduk, dan melakukan ibadah dengan hati mereka yang tidak mereka lakukan di rumah-rumah Allah dan bahkan tidak mereka lakukan pada waktu sahur.
Sebagian mereka bahkan bersujud kepadanya.
Kebanyakan mereka berharap memperoleh keberkahan dari shalat dan doa di sisi kuburan tersebut, sesuatu yang tidak mereka harapkan ketika berada di masjid.
---
KEDUA: SYIRIK KECIL
Jenis syirik yang kedua adalah syirik kecil (الشرك الأصغر).
Contohnya adalah:
- riya,
- bersumpah dengan nama selain Allah,
- mengucapkan: “Apa yang Allah kehendaki dan yang fulan kehendaki,”
- mengucapkan: “Seandainya bukan karena Allah dan engkau, hal itu tidak akan terjadi,”
- dan ucapan-ucapan lain yang semisal.
Syirik kecil tidak mengeluarkan seseorang dari Islam, tetapi ia merupakan perkara yang sangat berbahaya dan dosanya sangat besar. Bahkan syirik kecil dapat menjadi jalan yang menyeret seseorang kepada syirik besar.
---
WAJIB MEMPELAJARI SYIRIK
Wahai hamba-hamba Allah.
Jika syirik memiliki bahaya sebesar ini, maka wajib bagi seorang Muslim untuk mengenal syirik agar ia dapat menghindarinya.
Caranya adalah dengan mempelajari akidah yang benar dan mengetahui apa yang bertentangan dengannya, baik berupa syirik besar maupun apa yang mengurangi kesempurnaan tauhid berupa syirik kecil.
Sebab, orang yang tidak mengetahui keburukan sangat mungkin terjatuh ke dalamnya.
Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه berkata:
«“Hampir saja ikatan-ikatan Islam terurai satu demi satu apabila di dalam Islam tumbuh orang-orang yang tidak mengetahui jahiliah.”»
Hudzaifah bin al-Yaman رضي الله عنه berkata:
«“Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir aku terjatuh ke dalamnya.”»
Bagaimana mungkin seseorang tidak takut terjatuh ke dalam syirik, sedangkan Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام sendiri takut terhadapnya?
Beliau berdoa:
«“Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah berhala. Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak manusia.”
(QS. Ibrāhīm: 35–36)»
Padahal Ibrahim عليه السلام sendiri telah menghancurkan berhala-berhala dengan tangannya.
Namun beliau tetap khawatir terhadap fitnah dan kesesatan.
Seorang mukmin tidak boleh merasa dirinya suci dan aman dari fitnah. Ia selalu membutuhkan pertolongan Allah agar Allah meneguhkannya di atas kebenaran.
---
TAKUT TERHADAP SYIRIK KECIL
Bagaimana mungkin seseorang tidak takut terjatuh ke dalam syirik, sedangkan Nabi kita Muhammad ﷺ bersabda kepada para sahabatnya:
«“Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.”»
Para sahabat bertanya:
«“Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?”»
Beliau menjawab:
«“Riya.”»
Allah Ta‘ala akan berfirman pada hari kiamat, ketika memberikan balasan kepada manusia atas amal-amal mereka:
«“Pergilah kepada orang-orang yang dahulu kalian berbuat riya kepada mereka di dunia, lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka.”»
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan رحمه الله berkata:
«“Jika syirik kecil saja ditakutkan oleh para sahabat Rasulullah ﷺ, padahal mereka memiliki kesempurnaan ilmu dan kekuatan iman, lalu bagaimana mungkin orang yang jauh lebih rendah daripada mereka dalam ilmu dan iman tidak takut terhadap syirik kecil dan bahkan syirik yang lebih besar darinya?”»
Terlebih lagi apabila seseorang mengetahui bahwa banyak orang yang mengaku sebagai ahli ilmu pada masa sekarang tidak memahami tauhid kecuali sebatas perkara yang juga diakui oleh kaum musyrikin.
Mereka tidak memahami makna uluhiyah yang dinafikan oleh kalimat tauhid lā ilāha illallāh dari segala sesuatu selain Allah.
---
BEBERAPA BENTUK SYIRIK YANG TERSEBAR
Wahai hamba-hamba Allah.
Bagaimana mungkin kita tidak takut terhadap syirik sementara banyak di antara kita tidak mengetahui apa itu syirik dan apa saja jenisnya?
Akibatnya, sebagian orang yang bodoh atau yang meremehkan persoalan akidah mereka pergi berobat kepada dukun, tukang sihir, paranormal, dan para pelaku perdukunan.
Bahkan terkadang mereka diperintahkan melakukan perbuatan syirik dan mereka pun melakukannya.
Misalnya:
- menyembelih untuk jin,
- bernazar kepada kuburan tertentu,
- memakai gelang atau benang sebagai jimat,
- memakai benda-benda bertuliskan mantra atau simbol-simbol tertentu.
Sebagian lainnya pergi kepada dukun dan peramal untuk menanyakan perkara-perkara gaib.
Nabi ﷺ telah bersabda:
«“Barang siapa mendatangi peramal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari.”»
(HR. Muslim)
Nabi ﷺ juga bersabda:
«“Barang siapa mendatangi seorang dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.”»
(HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
---
PERINGATAN TERHADAP PENYEMBAHAN KUBUR
Bagaimana mungkin kita tidak takut terjatuh ke dalam syirik, sedangkan banyak orang yang pada zaman sekarang mengaku sebagai bagian dari kaum Muslimin telah terjatuh ke dalamnya dan mempraktikkannya dalam berbagai bentuk di sekitar kuburan?
Di antara mereka ada yang:
- memasang tirai di atas kuburan,
- meletakkan kotak-kotak untuk mengumpulkan nazar,
- menjadikan kuburan sebagai tempat untuk melakukan tawaf,
- mengusap-usap bagian-bagian kuburan,
- meminta pertolongan kepada penghuni kubur,
- dan menjadikan penghuni kubur sebagai perantara kepada Allah.
Mereka melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang musyrik terdahulu:
«“Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.”
(QS. Az-Zumar: 3)»
---
PENUTUP KHUTBAH
Bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah.
Mohonlah kepada-Nya agar Dia memberikan taufik kepada kalian untuk mengetahui kebenaran, mengamalkannya, dan tetap teguh di atasnya.
Berdoalah:
«رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ»
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami. Dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”
(QS. Āli ‘Imrān: 8)
Syaikh Ṣāliḥ bin Fawzān al-Fawzān رحمه الله
Tanggal publikasi: 11 Oktober 2022 / 15 Rabī‘ul Awwal 1444 H
Unsur-unsur khutbah
1. Tauhid adalah perkara terbesar yang Allah perintahkan.
2. Syirik adalah perkara terbesar yang Allah larang.
3. Syirik terbagi menjadi dua macam.
4. Takut terjatuh ke dalam syirik.
5. Beberapa bentuk syirik yang tersebar di tengah masyarakat.
Tujuan khutbah
Memberikan peringatan terhadap bahaya syirik dan menjelaskan bahayanya, serta mengingatkan sebagian bentuk syirik yang tersebar di masyarakat.
---
KHUTBAH PERTAMA
Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Allah berfirman:
«“Dia telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
(QS. Yūsuf: 40)»
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.
Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Allah mengutus beliau untuk menyeru manusia kepada tauhid dan memperingatkan mereka dari syirik. Beliau berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad hingga menyampaikan risalah Rabb-nya. Kemudian Allah menyempurnakan agama dan menyempurnakan nikmat-Nya melalui beliau.
Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya, serta kepada orang-orang yang menempuh jalan mereka dan mengikuti manhaj mereka hingga hari kiamat.
Amma ba‘du.
Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah Ta‘ala. Laksanakanlah apa yang Dia perintahkan kepada kalian dan jauhilah apa yang Dia larang.
Ketahuilah bahwa perkara terbesar yang Allah perintahkan kepada kalian adalah tauhid, yaitu mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Untuk tujuan inilah kalian diciptakan. Allah Ta‘ala berfirman:
«“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzāriyāt: 56)»
Kemaslahatan dari ibadah tersebut sebenarnya kembali kepada kalian sendiri. Kalian membutuhkan ibadah kepada Allah agar memperoleh rahmat-Nya dan selamat dari azab-Nya.
Allah memerintahkan kalian beribadah demi kemaslahatan kalian sendiri. Adapun Allah سبحانه وتعالى Mahakaya dan tidak membutuhkan ibadah kalian.
Allah berfirman:
«“Jika kalian kafir, kalian dan seluruh manusia yang ada di bumi, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.”
(QS. Ibrāhīm: 8)»
Sedangkan perkara terbesar yang Allah larang adalah syirik, yaitu memberikan sebagian bentuk ibadah kepada selain Allah, seperti doa, penyembelihan, nazar, rasa takut ibadah, harapan ibadah, keinginan, maupun rasa gentar.
Allah Ta‘ala berfirman:
«“Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah telah mengharamkan surga baginya dan tempatnya adalah neraka.”
(QS. Al-Mā’idah: 72)»
Allah juga berfirman:
«“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. An-Nisā’: 48)»
---
SYIRIK TERBAGI MENJADI DUA
Pertama: syirik besar (الشرك الأكبر).
Syirik besar mengeluarkan seseorang dari Islam. Pelakunya dalam kehidupan dunia memiliki hukum-hukum yang berlaku bagi orang yang keluar dari Islam, kecuali apabila terdapat perjanjian atau perlindungan yang sah dari kaum Muslimin.
Adapun di akhirat, pelakunya kekal selama-lamanya di dalam neraka. Allah mengharamkan surga atasnya dan menjauhkannya dari ampunan dan rahmat-Nya.
Syirik ini terjadi ketika seseorang mengarahkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah.
Misalnya seseorang berdoa kepada orang-orang yang telah meninggal, jin, atau setan untuk memenuhi kebutuhannya dan menghilangkan kesusahannya.
Termasuk pula seseorang menyembelih untuk mereka dengan tujuan mendapatkan kesembuhan dari penyakit atau menolak keburukan mereka.
Di antara bentuknya adalah apa yang terjadi sekarang di sebagian kuburan para wali dan orang-orang saleh, ketika kuburan-kuburan tersebut berubah menjadi sesembahan yang disembah selain Allah di banyak negeri.
Demikian pula yang dilakukan oleh kaum Nabi Nuh عليه السلام ketika mereka berlebih-lebihan terhadap orang-orang saleh.
Allah berfirman:
«“Dan mereka berkata: Jangan sekali-kali kalian meninggalkan sesembahan-sesembahan kalian dan jangan pula kalian meninggalkan Wadd, Suwā‘, Yaghūts, Ya‘ūq dan Nasr.”
(QS. Nūḥ: 23)»
Dalam Shahih al-Bukhari, dari Ibnu ‘Abbās رضي الله عنهما, disebutkan bahwa nama-nama yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah nama orang-orang saleh dari kaum Nabi Nuh.
Ketika mereka telah meninggal, setan membisikkan kepada kaum mereka agar membuat patung atau tanda-tanda di tempat-tempat mereka biasa duduk dan menamainya dengan nama-nama mereka.
Mereka pun melakukannya. Pada awalnya patung-patung tersebut belum disembah. Namun ketika generasi yang membuatnya telah meninggal dan ilmu agama mulai dilupakan, akhirnya patung-patung tersebut pun disembah.
Ibnu Jarir رحمه الله meriwayatkan dari Muhammad bin Qais bahwa Yaghūts, Ya‘ūq, dan Nasr dahulu adalah orang-orang saleh dari kalangan manusia. Mereka mempunyai pengikut yang meneladani mereka.
Ketika mereka meninggal, para pengikutnya berkata:
“Seandainya kita membuat gambar mereka, tentu hal itu akan lebih membuat kita rindu untuk beribadah.”
Maka mereka membuat gambar-gambar tersebut.
Kemudian ketika orang-orang yang membuat gambar itu meninggal dan datang generasi berikutnya, Iblis mulai menyesatkan mereka. Iblis berkata kepada mereka:
“Sesungguhnya orang-orang dahulu menyembah mereka dan melalui mereka mereka meminta hujan.”
Akhirnya mereka pun menyembahnya.
---
IBADAH KEPADA KUBUR
Wahai hamba-hamba Allah.
Inilah yang terjadi pada kaum Nabi Nuh berupa penyembahan terhadap orang-orang yang telah meninggal. Hal serupa juga terjadi pada masa sekarang pada sebagian penyembah kubur di berbagai negeri, padahal mereka mengaku sebagai kaum Muslimin.
Mereka melakukan berbagai bentuk ibadah di kuburan.
Ada yang menggantungkan tirai di atas kuburan, meletakkan kotak-kotak untuk mengumpulkan nazar, menyiapkan kuburan untuk dikelilingi dalam bentuk tawaf, mengusap-usap bagian-bagiannya, meminta pertolongan kepada penghuni kubur, serta menjadikan mereka sebagai perantara kepada Allah.
Hal tersebut serupa dengan ucapan kaum musyrikin terdahulu:
«“Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.”
(QS. Az-Zumar: 3)»
Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari ‘Aisyah رضي الله عنها, disebutkan bahwa Ummu Salamah رضي الله عنها pernah menceritakan kepada Nabi ﷺ tentang sebuah gereja yang dilihatnya di negeri Habasyah dan gambar-gambar yang terdapat di dalamnya.
Maka Nabi ﷺ bersabda bahwa apabila seorang yang saleh atau seorang hamba yang saleh meninggal di antara mereka, mereka membangun tempat ibadah di atas kuburnya dan membuat gambar-gambar di dalamnya. Beliau ﷺ menyebut mereka sebagai seburuk-buruk makhluk di sisi Allah.
---
SYIRIK DI SEKITAR KUBUR
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:
Syirik terhadap kuburan seseorang yang diyakini sebagai orang saleh lebih dekat kepada jiwa manusia daripada syirik terhadap sepotong kayu atau batu.
Oleh karena itu, engkau akan menemukan orang-orang musyrik merendahkan diri di hadapan kuburan tersebut, merasa takut, tunduk, dan melakukan ibadah dengan hati mereka yang tidak mereka lakukan di rumah-rumah Allah dan bahkan tidak mereka lakukan pada waktu sahur.
Sebagian mereka bahkan bersujud kepadanya.
Kebanyakan mereka berharap memperoleh keberkahan dari shalat dan doa di sisi kuburan tersebut, sesuatu yang tidak mereka harapkan ketika berada di masjid.
---
KEDUA: SYIRIK KECIL
Jenis syirik yang kedua adalah syirik kecil (الشرك الأصغر).
Contohnya adalah:
- riya,
- bersumpah dengan nama selain Allah,
- mengucapkan: “Apa yang Allah kehendaki dan yang fulan kehendaki,”
- mengucapkan: “Seandainya bukan karena Allah dan engkau, hal itu tidak akan terjadi,”
- dan ucapan-ucapan lain yang semisal.
Syirik kecil tidak mengeluarkan seseorang dari Islam, tetapi ia merupakan perkara yang sangat berbahaya dan dosanya sangat besar. Bahkan syirik kecil dapat menjadi jalan yang menyeret seseorang kepada syirik besar.
---
WAJIB MEMPELAJARI SYIRIK
Wahai hamba-hamba Allah.
Jika syirik memiliki bahaya sebesar ini, maka wajib bagi seorang Muslim untuk mengenal syirik agar ia dapat menghindarinya.
Caranya adalah dengan mempelajari akidah yang benar dan mengetahui apa yang bertentangan dengannya, baik berupa syirik besar maupun apa yang mengurangi kesempurnaan tauhid berupa syirik kecil.
Sebab, orang yang tidak mengetahui keburukan sangat mungkin terjatuh ke dalamnya.
Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه berkata:
«“Hampir saja ikatan-ikatan Islam terurai satu demi satu apabila di dalam Islam tumbuh orang-orang yang tidak mengetahui jahiliah.”»
Hudzaifah bin al-Yaman رضي الله عنه berkata:
«“Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir aku terjatuh ke dalamnya.”»
Bagaimana mungkin seseorang tidak takut terjatuh ke dalam syirik, sedangkan Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام sendiri takut terhadapnya?
Beliau berdoa:
«“Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah berhala. Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak manusia.”
(QS. Ibrāhīm: 35–36)»
Padahal Ibrahim عليه السلام sendiri telah menghancurkan berhala-berhala dengan tangannya.
Namun beliau tetap khawatir terhadap fitnah dan kesesatan.
Seorang mukmin tidak boleh merasa dirinya suci dan aman dari fitnah. Ia selalu membutuhkan pertolongan Allah agar Allah meneguhkannya di atas kebenaran.
---
TAKUT TERHADAP SYIRIK KECIL
Bagaimana mungkin seseorang tidak takut terjatuh ke dalam syirik, sedangkan Nabi kita Muhammad ﷺ bersabda kepada para sahabatnya:
«“Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.”»
Para sahabat bertanya:
«“Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?”»
Beliau menjawab:
«“Riya.”»
Allah Ta‘ala akan berfirman pada hari kiamat, ketika memberikan balasan kepada manusia atas amal-amal mereka:
«“Pergilah kepada orang-orang yang dahulu kalian berbuat riya kepada mereka di dunia, lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka.”»
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan رحمه الله berkata:
«“Jika syirik kecil saja ditakutkan oleh para sahabat Rasulullah ﷺ, padahal mereka memiliki kesempurnaan ilmu dan kekuatan iman, lalu bagaimana mungkin orang yang jauh lebih rendah daripada mereka dalam ilmu dan iman tidak takut terhadap syirik kecil dan bahkan syirik yang lebih besar darinya?”»
Terlebih lagi apabila seseorang mengetahui bahwa banyak orang yang mengaku sebagai ahli ilmu pada masa sekarang tidak memahami tauhid kecuali sebatas perkara yang juga diakui oleh kaum musyrikin.
Mereka tidak memahami makna uluhiyah yang dinafikan oleh kalimat tauhid lā ilāha illallāh dari segala sesuatu selain Allah.
---
BEBERAPA BENTUK SYIRIK YANG TERSEBAR
Wahai hamba-hamba Allah.
Bagaimana mungkin kita tidak takut terhadap syirik sementara banyak di antara kita tidak mengetahui apa itu syirik dan apa saja jenisnya?
Akibatnya, sebagian orang yang bodoh atau yang meremehkan persoalan akidah mereka pergi berobat kepada dukun, tukang sihir, paranormal, dan para pelaku perdukunan.
Bahkan terkadang mereka diperintahkan melakukan perbuatan syirik dan mereka pun melakukannya.
Misalnya:
- menyembelih untuk jin,
- bernazar kepada kuburan tertentu,
- memakai gelang atau benang sebagai jimat,
- memakai benda-benda bertuliskan mantra atau simbol-simbol tertentu.
Sebagian lainnya pergi kepada dukun dan peramal untuk menanyakan perkara-perkara gaib.
Nabi ﷺ telah bersabda:
«“Barang siapa mendatangi peramal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari.”»
(HR. Muslim)
Nabi ﷺ juga bersabda:
«“Barang siapa mendatangi seorang dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.”»
(HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
---
PERINGATAN TERHADAP PENYEMBAHAN KUBUR
Bagaimana mungkin kita tidak takut terjatuh ke dalam syirik, sedangkan banyak orang yang pada zaman sekarang mengaku sebagai bagian dari kaum Muslimin telah terjatuh ke dalamnya dan mempraktikkannya dalam berbagai bentuk di sekitar kuburan?
Di antara mereka ada yang:
- memasang tirai di atas kuburan,
- meletakkan kotak-kotak untuk mengumpulkan nazar,
- menjadikan kuburan sebagai tempat untuk melakukan tawaf,
- mengusap-usap bagian-bagian kuburan,
- meminta pertolongan kepada penghuni kubur,
- dan menjadikan penghuni kubur sebagai perantara kepada Allah.
Mereka melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang musyrik terdahulu:
«“Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.”
(QS. Az-Zumar: 3)»
---
PENUTUP KHUTBAH
Bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah.
Mohonlah kepada-Nya agar Dia memberikan taufik kepada kalian untuk mengetahui kebenaran, mengamalkannya, dan tetap teguh di atasnya.
Berdoalah:
«رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ»
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami. Dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”
(QS. Āli ‘Imrān: 8)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar