Sabtu, 05 September 2026

SYIRIK DAN MACAMNYA


SYIRIK KEPADA ALLAH DAN MACAM-MACAMNYA

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan dari keburukan amal-amal kami. Barang siapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Allah Ta'ala berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
(QS. Ali 'Imran: 102)

Allah Ta'ala juga berfirman:

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya (Hawa), dan dari keduanya Dia memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”
(QS. An-Nisa: 1)

Allah Ta'ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah memperoleh kemenangan yang besar.”
(QS. Al-Ahzab: 70–71)

Amma ba'du.

Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitabullah Ta'ala, petunjuk yang paling baik adalah petunjuk Muhammad ﷺ, perkara yang paling buruk adalah perkara-perkara yang diada-adakan dalam agama. Setiap perkara yang diada-adakan adalah bid'ah, setiap bid'ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

Adapun pembicaraan kita pada beberapa menit yang terbatas ini adalah tentang sebuah tema yang berjudul:

“Syirik kepada Allah dan macam-macamnya.”

Aku memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya. Mereka itulah orang-orang yang telah Allah beri petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal yang sehat.

Para ulama telah mendefinisikan syirik besar sebagai perbuatan seorang hamba menjadikan tandingan bagi Allah, lalu ia berdoa kepada tandingan tersebut sebagaimana ia berdoa kepada Allah, meminta syafaat kepadanya sebagaimana ia meminta kepada Allah, berharap kepadanya sebagaimana ia berharap kepada Allah, dan mencintainya sebagaimana ia mencintai Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengabarkan bahwa syirik merupakan dosa yang tidak akan diampuni kecuali dengan bertaubat darinya sebelum kematian.

Syirik besar mengeluarkan seseorang dari agama Islam dan menggugurkan seluruh amalnya.

Allah Ta'ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah melakukan dosa yang besar.”
(QS. An-Nisa: 48)

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga mengabarkan bahwa siapa saja yang meninggal dalam keadaan melakukan syirik besar, maka ia akan kekal di dalam neraka Jahannam. Ia tidak akan dimatikan sehingga terbebas dari azabnya dan azab itu tidak akan diringankan darinya.

Allah Ta'ala berfirman:

“Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim.”
(QS. Al-Ma'idah: 72)

Maka, setelah adanya ancaman yang sangat keras ini, apakah orang yang berakal akan berani melakukan dosa yang sangat buruk seperti ini?!

SYIRIK KECIL

Ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah, bahwa terdapat jenis syirik yang disebut syirik kecil.

Syirik kecil adalah segala sesuatu yang dalam nash-nash syariat disebut sebagai syirik, tetapi tidak sampai pada tingkat syirik besar.

Contohnya adalah bersumpah dengan selain Allah, dan mengucapkan:

“Apa yang Allah kehendaki dan apa yang kamu kehendaki.”

Adapun hukumnya adalah bahwa syirik kecil menggugurkan amal yang di dalamnya terdapat syirik tersebut. Sedangkan pelakunya di akhirat berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah menghendaki, Dia mengampuninya, dan jika Dia menghendaki, Dia mengazabnya, sebagaimana hukum orang yang melakukan dosa besar dari kalangan kaum Muslimin.

DI ANTARA BENTUK-BENTUK SYIRIK: SIHIR

Ketahuilah pula, wahai hamba-hamba Allah, bahwa syirik memiliki banyak jenis dan berbagai bentuk.

Di antaranya adalah sihir.

Sihir adalah mantra-mantra, jimat-jimat, dan ikatan-ikatan yang ditiupkan padanya sehingga menjadi sihir yang benar-benar dapat memberikan mudarat, benar-benar dapat menyebabkan sakit, dan benar-benar dapat menyebabkan kematian.

Sihir yang di dalamnya terdapat penggunaan setan dan meminta pertolongan kepada mereka adalah kekufuran dan syirik besar kepada Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Padahal Sulaiman itu tidak kafir, tetapi setan-setan itulah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babilonia, yaitu Harut dan Marut. Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanyalah cobaan bagimu, sebab itu janganlah kafir.’ Lalu mereka mempelajari dari keduanya apa yang dengan sihir itu mereka dapat memisahkan antara seorang suami dan istrinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Dan sungguh, mereka telah mengetahui bahwa barang siapa membeli (menggunakan) sihir itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat. Dan sungguh, sangat buruk perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir itu, sekiranya mereka mengetahui.”

“Sekiranya mereka beriman dan bertakwa, pahala dari Allah pasti lebih baik bagi mereka, sekiranya mereka mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 102–103)

Seorang penyihir tidak mungkin menjadi penyihir yang sebenarnya kecuali dengan mendekatkan diri kepada setan. Oleh karena itu, sihir merupakan kesyirikan kepada Allah.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:

“Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah tujuh perkara itu?”

Beliau menjawab:

“Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari medan perang, dan menuduh berzina wanita-wanita Mukminah yang menjaga kehormatannya dan tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk melakukan perbuatan keji.”

Dua macam sihir

Sihir terbagi menjadi dua macam:

Pertama: Sihir hakiki

Yaitu suatu perbuatan yang benar-benar memberikan pengaruh terhadap tubuh atau hati.

Ia dapat memengaruhi tubuh dengan penyakit dan kematian.

Ia dapat memengaruhi pikiran sehingga seseorang membayangkan bahwa dirinya telah melakukan sesuatu padahal sebenarnya tidak melakukannya.

Ia juga dapat memengaruhi hati sehingga menimbulkan kebencian atau kecintaan yang tidak wajar.

Di antara bentuknya adalah as-sharf dan al-'athf.

As-sharf adalah sihir untuk memalingkan seseorang, sedangkan al-'athf adalah sihir untuk menarik atau menimbulkan rasa cinta.

Misalnya, membuat seorang wanita mencintai suaminya secara tidak wajar, atau memalingkan kecintaan seorang wanita kepada suaminya, demikian pula sebaliknya.

Di antara contoh sihir hakiki adalah sihir yang dilakukan oleh Labid bin Al-A'sham, seorang Yahudi, terhadap Nabi ﷺ.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata:

“Nabi ﷺ pernah disihir sehingga beliau membayangkan bahwa beliau melakukan sesuatu padahal beliau tidak melakukannya.”

Hingga pada suatu hari, ketika beliau berada bersamaku, beliau berdoa kepada Allah dan terus berdoa. Kemudian beliau bersabda:

“Wahai Aisyah, tahukah engkau bahwa Allah telah memberikan jawaban kepadaku mengenai perkara yang aku tanyakan kepada-Nya?”

Aku bertanya, “Apakah itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab:

“Dua orang laki-laki datang kepadaku. Salah seorang duduk di dekat kepalaku dan yang lainnya di dekat kedua kakiku. Salah seorang berkata kepada temannya, ‘Apa penyakit laki-laki ini?’ Yang lainnya menjawab, ‘Dia terkena sihir.’ Dia bertanya, ‘Siapa yang menyihirnya?’ Ia menjawab, ‘Labid bin Al-A'sham, seorang Yahudi dari Bani Zuraiq.’ Ia bertanya, ‘Dengan apa?’ Ia menjawab, ‘Dengan sisir, rambut yang rontok ketika disisir, dan selaput mayang kurma jantan.’ Ia bertanya, ‘Di mana benda itu?’ Ia menjawab, ‘Di sumur Dzarwan.’”

Kemudian Nabi ﷺ pergi bersama beberapa sahabatnya menuju sumur tersebut. Beliau melihatnya, sementara di atasnya terdapat pohon-pohon kurma.

Kemudian beliau kembali kepada Aisyah dan bersabda:

“Demi Allah, airnya seakan-akan seperti rendaman daun pacar, dan pohon-pohon kurmanya seakan-akan seperti kepala-kepala setan.”

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau telah mengeluarkan benda sihir itu?”

Beliau menjawab:

“Tidak. Adapun aku, Allah telah menyembuhkan dan menyehatkanku. Aku khawatir jika benda itu dikeluarkan akan menimbulkan keburukan di tengah manusia.”

Kemudian beliau memerintahkan agar sumur tersebut ditutup atau ditimbun.

Kedua: Sihir khayali

Yaitu sihir yang memengaruhi penglihatan dan pandangan sehingga seseorang melihat sesuatu tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya.

Contohnya adalah sihir para penyihir Fir'aun.

Allah Ta'ala menceritakan tentang mereka:

“Maka ketika mereka melemparkan, mereka menyihir mata manusia dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar.”
(QS. Al-A'raf: 116)

Firman Allah:

“Mereka menyihir mata manusia.”

menunjukkan bahwa pengaruh sihir tersebut terjadi pada penglihatan, karena Allah tidak mengatakan, “Mereka menyihir manusia.”

Allah Ta'ala juga berfirman:

“Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap dengan cepat karena sihir mereka.”
(QS. Taha: 66)

Aku mengatakan perkataan ini dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku dan untuk kalian.

KHUTBAH KEDUA

Segala puji bagi Allah, dan cukuplah Allah bagi kita. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada hamba-Nya yang telah dipilih-Nya, Muhammad ﷺ, beserta keluarganya yang memiliki kemuliaan yang sempurna.

Amma ba'du.

Di antara bentuk syirik besar adalah perdukunan (kahānah).

Kahanah adalah mengaku mengetahui perkara-perkara gaib.

Pada asalnya, praktik tersebut dikaitkan dengan jin yang mencuri dengar dari perkataan para malaikat, kemudian menyampaikannya ke telinga seorang dukun.

Kahin (dukun) adalah orang yang memberitakan perkara-perkara gaib yang akan terjadi pada masa depan atau mengaku mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati manusia.

Di antara dalil bahwa perdukunan merupakan kesyirikan dan kekufuran besar kepada Allah Ta'ala adalah hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa mendatangi orang yang mengaku mengetahui perkara gaib, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.”

Adapun orang yang datang kepada dukun atau peramal kemudian bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam.

Muslim meriwayatkan dari salah seorang istri Nabi ﷺ bahwa Nabi ﷺ bersabda:

“Barang siapa mendatangi seorang peramal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam.”

Arraf (peramal)

'Arraf adalah istilah yang mencakup dukun, ahli nujum, tukang ramal dengan pasir, dan setiap orang yang mengaku mengetahui perkara gaib.

Ahli nujum

Munajjim (ahli astrologi) adalah orang yang menggunakan ilmu astrologi untuk meramal kejadian berdasarkan posisi dan pergerakan bintang.

Ia mengatakan, misalnya:

“Jika bintang ini muncul dan bertemu dengan bintang itu, berarti akan terjadi demikian dan demikian.”

Atau ia berkata:

“Jika seseorang dilahirkan di bawah rasi bintang tertentu, maka akan terjadi kepadanya kekayaan, kemiskinan, kebahagiaan, kesengsaraan, dan sebagainya.”

Mereka menjadikan pergerakan bintang sebagai dasar untuk mengetahui apa yang akan terjadi di bumi berupa berbagai peristiwa dan kejadian.

Tathayyur atau merasa sial

Di antara bentuk syirik yang dianggap ringan oleh banyak orang adalah tathayyur, yaitu menganggap sesuatu sebagai pertanda baik atau buruk.

Seseorang menjadikan sesuatu yang sebenarnya bukan sebab sebagai sebab.

Misalnya seseorang merasa sial karena mendengar suara burung tertentu atau melihat seseorang tertentu, lalu karena itu ia membatalkan rencana yang hendak dilakukannya.

Sebaliknya, ia bisa merasa mendapat pertanda baik karena melihat seseorang tertentu sehingga hal itu mendorongnya melakukan apa yang telah ia rencanakan.

Pada masa jahiliah, apabila seseorang hendak pergi ke suatu tempat, melakukan perjalanan, atau mengerjakan suatu pekerjaan, mereka memperhatikan gerakan burung atau berbagai kejadian yang dialaminya.

Mereka menganggap perjalanan itu akan membawa keberuntungan sehingga mereka meneruskannya, atau menganggap perjalanan tersebut akan membawa keburukan sehingga mereka membatalkannya.

Misalnya, apabila burung terbang ke arah kanan, mereka merasa optimis dan meneruskan rencananya. Jika burung terbang ke arah kiri, mereka merasa pesimis dan membatalkan rencananya.

Tathayyur merupakan dosa besar. Bahkan, apabila seseorang meyakini bahwa sesuatu tersebut mempunyai pengaruh dengan sendirinya, maka ia telah melakukan syirik besar.

Al-Bazzar meriwayatkan dari Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bukan termasuk golongan kami orang yang melakukan tathayyur atau meminta dilakukan tathayyur untuknya, orang yang melakukan perdukunan atau meminta dilakukan perdukunan untuknya, orang yang melakukan sihir atau meminta dilakukan sihir untuknya. Barang siapa mendatangi seorang dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.”

Maksudnya adalah kufur terhadap Al-Qur'an dan Sunnah Nabi.

Sabda beliau ﷺ:

“Bukan termasuk golongan kami”

menunjukkan bahwa perbuatan tersebut merupakan dosa besar.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak ada 'adwa (penularan penyakit yang berpengaruh dengan sendirinya), tidak ada tathayyur, tidak ada hamah, dan tidak ada safar. Dan larilah dari orang yang terkena lepra sebagaimana engkau lari dari singa.”

Makna “la 'adwa”

Sabda beliau:

“Tidak ada 'adwa.”

Maksudnya adalah tidak ada keyakinan bahwa penularan penyakit mempunyai pengaruh dengan sendirinya.

'Adwa adalah berpindahnya penyakit dari orang yang sakit kepada orang yang sehat.

Maksud hadis tersebut bukan menafikan adanya sebab-sebab medis, tetapi menafikan keyakinan bahwa sebab tersebut mempunyai kekuatan secara independen tanpa kehendak Allah.

Janganlah meyakini bahwa penyakit menular dengan sendirinya. Yang menyembuhkan dan memberikan penyakit hanyalah Allah semata.

Makna “la thiyarah”

Sabda beliau:

“Tidak ada tathayyur.”

Maksudnya adalah tidak ada keyakinan bahwa pertanda dari burung mempunyai pengaruh dengan sendirinya.

Tathayyur adalah merasa optimis atau pesimis berdasarkan burung atau pertanda tertentu.

Maksudnya, jangan meyakini bahwa pertanda tersebut mempunyai pengaruh dengan sendirinya. Yang mendatangkan kebaikan dan keburukan hanyalah Allah semata.

Makna “la hamah”

Hamah adalah burung malam. Ada pula yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah burung hantu.

Dahulu orang-orang Arab merasa sial jika burung tersebut hinggap di rumah seseorang. Mereka mengatakan:

“Burung itu telah memberitahukan kematianku,”

atau:

“Burung itu telah memberitahukan kematian salah seorang penghuni rumahku.”

Kemudian hadis datang untuk menolak dan membatalkan keyakinan tersebut.

Maksudnya: jangan meyakini bahwa burung tersebut mempunyai pengaruh dengan sendirinya. Yang mendatangkan kebaikan dan keburukan hanyalah Allah semata.

Makna “la shafar”

Shafar adalah sesuatu yang dahulu diyakini oleh orang-orang Arab.

Mereka menganggap terdapat ular di dalam perut yang disebut shafar, yang akan menyerang seseorang ketika ia lapar dan menyakitinya, serta mereka menganggapnya dapat menular.

Islam membatalkan keyakinan tersebut.

Maksudnya: jangan meyakini bahwa shafar mempunyai pengaruh dengan sendirinya. Yang mendatangkan kebaikan dan keburukan hanyalah Allah semata.

Bentuk-bentuk tathayyur pada zaman modern

Di antara bentuk tathayyur pada zaman sekarang adalah:

  • Ramalan “hoki kamu hari ini”.

  • Ramalan berdasarkan zodiak atau rasi bintang.

  • Ramalan melalui garis-garis di pasir.

  • Membaca ampas kopi.

  • Menggantungkan boneka atau benda tertentu untuk menangkal 'ain.

  • Menggunakan simbol lima jari/khamsah wa khumaisah sebagai penolak bala.

  • Menggunakan mata biru (evil eye) sebagai benda penolak bala.

  • Dan berbagai bentuk lainnya yang digantung atau digunakan dengan tujuan mendatangkan manfaat atau menolak bahaya.

Akhirnya, aku telah menjelaskan kepada kalian tentang syirik, menerangkan bahayanya, dan menjelaskan sebagian bentuknya.

Karena itu, berusahalah untuk menjauhinya dalam segala bentuknya dan ajaklah orang lain untuk menjauhinya pula.

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita dan kalian menuju segala kebaikan.

DOA

Ya Allah, teguhkanlah hati kami di atas keimanan.

Ya Allah, tunjukilah kami kepada kebenaran dalam perkara-perkara yang diperselisihkan, dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus.

Ya Allah, teguhkanlah kami dengan perkataan yang kokoh di kehidupan dunia dan di akhirat.

Ya Allah, cintakanlah kepada kami keimanan dan hiasilah ia dalam hati kami. Jadikanlah kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan sebagai sesuatu yang kami benci. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan kematangan dalam kebenaran.

Ya Allah, lindungilah kami dari sifat kikir yang ada dalam diri kami dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang beruntung.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan sikap berlebihan kami dalam urusan kami.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.

Ya Allah, satukanlah hati kami.

Ya Allah, bantulah kami untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.

Aku mengatakan perkataanku ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku dan kalian.

Tegakkanlah shalat.


PERINGATAN TERHADAP SYIRIK


PERINGATAN TERHADAP SYIRIK

Syaikh Ṣāliḥ bin Fawzān al-Fawzān رحمه الله

Tanggal publikasi: 11 Oktober 2022 / 15 Rabī‘ul Awwal 1444 H

Unsur-unsur khutbah

1. Tauhid adalah perkara terbesar yang Allah perintahkan.
2. Syirik adalah perkara terbesar yang Allah larang.
3. Syirik terbagi menjadi dua macam.
4. Takut terjatuh ke dalam syirik.
5. Beberapa bentuk syirik yang tersebar di tengah masyarakat.

Tujuan khutbah

Memberikan peringatan terhadap bahaya syirik dan menjelaskan bahayanya, serta mengingatkan sebagian bentuk syirik yang tersebar di masyarakat.

---

KHUTBAH PERTAMA

Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Allah berfirman:

«“Dia telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
(QS. Yūsuf: 40)»

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Allah mengutus beliau untuk menyeru manusia kepada tauhid dan memperingatkan mereka dari syirik. Beliau berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad hingga menyampaikan risalah Rabb-nya. Kemudian Allah menyempurnakan agama dan menyempurnakan nikmat-Nya melalui beliau.

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya, serta kepada orang-orang yang menempuh jalan mereka dan mengikuti manhaj mereka hingga hari kiamat.

Amma ba‘du.

Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah Ta‘ala. Laksanakanlah apa yang Dia perintahkan kepada kalian dan jauhilah apa yang Dia larang.

Ketahuilah bahwa perkara terbesar yang Allah perintahkan kepada kalian adalah tauhid, yaitu mengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Untuk tujuan inilah kalian diciptakan. Allah Ta‘ala berfirman:

«“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzāriyāt: 56)»

Kemaslahatan dari ibadah tersebut sebenarnya kembali kepada kalian sendiri. Kalian membutuhkan ibadah kepada Allah agar memperoleh rahmat-Nya dan selamat dari azab-Nya.

Allah memerintahkan kalian beribadah demi kemaslahatan kalian sendiri. Adapun Allah سبحانه وتعالى Mahakaya dan tidak membutuhkan ibadah kalian.

Allah berfirman:

«“Jika kalian kafir, kalian dan seluruh manusia yang ada di bumi, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.”
(QS. Ibrāhīm: 8)»

Sedangkan perkara terbesar yang Allah larang adalah syirik, yaitu memberikan sebagian bentuk ibadah kepada selain Allah, seperti doa, penyembelihan, nazar, rasa takut ibadah, harapan ibadah, keinginan, maupun rasa gentar.

Allah Ta‘ala berfirman:

«“Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah telah mengharamkan surga baginya dan tempatnya adalah neraka.”
(QS. Al-Mā’idah: 72)»

Allah juga berfirman:

«“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. An-Nisā’: 48)»

---

SYIRIK TERBAGI MENJADI DUA

Pertama: syirik besar (الشرك الأكبر).

Syirik besar mengeluarkan seseorang dari Islam. Pelakunya dalam kehidupan dunia memiliki hukum-hukum yang berlaku bagi orang yang keluar dari Islam, kecuali apabila terdapat perjanjian atau perlindungan yang sah dari kaum Muslimin.

Adapun di akhirat, pelakunya kekal selama-lamanya di dalam neraka. Allah mengharamkan surga atasnya dan menjauhkannya dari ampunan dan rahmat-Nya.

Syirik ini terjadi ketika seseorang mengarahkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah.

Misalnya seseorang berdoa kepada orang-orang yang telah meninggal, jin, atau setan untuk memenuhi kebutuhannya dan menghilangkan kesusahannya.

Termasuk pula seseorang menyembelih untuk mereka dengan tujuan mendapatkan kesembuhan dari penyakit atau menolak keburukan mereka.

Di antara bentuknya adalah apa yang terjadi sekarang di sebagian kuburan para wali dan orang-orang saleh, ketika kuburan-kuburan tersebut berubah menjadi sesembahan yang disembah selain Allah di banyak negeri.

Demikian pula yang dilakukan oleh kaum Nabi Nuh عليه السلام ketika mereka berlebih-lebihan terhadap orang-orang saleh.

Allah berfirman:

«“Dan mereka berkata: Jangan sekali-kali kalian meninggalkan sesembahan-sesembahan kalian dan jangan pula kalian meninggalkan Wadd, Suwā‘, Yaghūts, Ya‘ūq dan Nasr.”
(QS. Nūḥ: 23)»

Dalam Shahih al-Bukhari, dari Ibnu ‘Abbās رضي الله عنهما, disebutkan bahwa nama-nama yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah nama orang-orang saleh dari kaum Nabi Nuh.

Ketika mereka telah meninggal, setan membisikkan kepada kaum mereka agar membuat patung atau tanda-tanda di tempat-tempat mereka biasa duduk dan menamainya dengan nama-nama mereka.

Mereka pun melakukannya. Pada awalnya patung-patung tersebut belum disembah. Namun ketika generasi yang membuatnya telah meninggal dan ilmu agama mulai dilupakan, akhirnya patung-patung tersebut pun disembah.

Ibnu Jarir رحمه الله meriwayatkan dari Muhammad bin Qais bahwa Yaghūts, Ya‘ūq, dan Nasr dahulu adalah orang-orang saleh dari kalangan manusia. Mereka mempunyai pengikut yang meneladani mereka.

Ketika mereka meninggal, para pengikutnya berkata:

“Seandainya kita membuat gambar mereka, tentu hal itu akan lebih membuat kita rindu untuk beribadah.”

Maka mereka membuat gambar-gambar tersebut.

Kemudian ketika orang-orang yang membuat gambar itu meninggal dan datang generasi berikutnya, Iblis mulai menyesatkan mereka. Iblis berkata kepada mereka:

“Sesungguhnya orang-orang dahulu menyembah mereka dan melalui mereka mereka meminta hujan.”

Akhirnya mereka pun menyembahnya.

---

IBADAH KEPADA KUBUR

Wahai hamba-hamba Allah.

Inilah yang terjadi pada kaum Nabi Nuh berupa penyembahan terhadap orang-orang yang telah meninggal. Hal serupa juga terjadi pada masa sekarang pada sebagian penyembah kubur di berbagai negeri, padahal mereka mengaku sebagai kaum Muslimin.

Mereka melakukan berbagai bentuk ibadah di kuburan.

Ada yang menggantungkan tirai di atas kuburan, meletakkan kotak-kotak untuk mengumpulkan nazar, menyiapkan kuburan untuk dikelilingi dalam bentuk tawaf, mengusap-usap bagian-bagiannya, meminta pertolongan kepada penghuni kubur, serta menjadikan mereka sebagai perantara kepada Allah.

Hal tersebut serupa dengan ucapan kaum musyrikin terdahulu:

«“Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.”
(QS. Az-Zumar: 3)»

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari ‘Aisyah رضي الله عنها, disebutkan bahwa Ummu Salamah رضي الله عنها pernah menceritakan kepada Nabi ﷺ tentang sebuah gereja yang dilihatnya di negeri Habasyah dan gambar-gambar yang terdapat di dalamnya.

Maka Nabi ﷺ bersabda bahwa apabila seorang yang saleh atau seorang hamba yang saleh meninggal di antara mereka, mereka membangun tempat ibadah di atas kuburnya dan membuat gambar-gambar di dalamnya. Beliau ﷺ menyebut mereka sebagai seburuk-buruk makhluk di sisi Allah.

---

SYIRIK DI SEKITAR KUBUR

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:

Syirik terhadap kuburan seseorang yang diyakini sebagai orang saleh lebih dekat kepada jiwa manusia daripada syirik terhadap sepotong kayu atau batu.

Oleh karena itu, engkau akan menemukan orang-orang musyrik merendahkan diri di hadapan kuburan tersebut, merasa takut, tunduk, dan melakukan ibadah dengan hati mereka yang tidak mereka lakukan di rumah-rumah Allah dan bahkan tidak mereka lakukan pada waktu sahur.

Sebagian mereka bahkan bersujud kepadanya.

Kebanyakan mereka berharap memperoleh keberkahan dari shalat dan doa di sisi kuburan tersebut, sesuatu yang tidak mereka harapkan ketika berada di masjid.

---

KEDUA: SYIRIK KECIL

Jenis syirik yang kedua adalah syirik kecil (الشرك الأصغر).

Contohnya adalah:

- riya,
- bersumpah dengan nama selain Allah,
- mengucapkan: “Apa yang Allah kehendaki dan yang fulan kehendaki,”
- mengucapkan: “Seandainya bukan karena Allah dan engkau, hal itu tidak akan terjadi,”
- dan ucapan-ucapan lain yang semisal.

Syirik kecil tidak mengeluarkan seseorang dari Islam, tetapi ia merupakan perkara yang sangat berbahaya dan dosanya sangat besar. Bahkan syirik kecil dapat menjadi jalan yang menyeret seseorang kepada syirik besar.

---

WAJIB MEMPELAJARI SYIRIK

Wahai hamba-hamba Allah.

Jika syirik memiliki bahaya sebesar ini, maka wajib bagi seorang Muslim untuk mengenal syirik agar ia dapat menghindarinya.

Caranya adalah dengan mempelajari akidah yang benar dan mengetahui apa yang bertentangan dengannya, baik berupa syirik besar maupun apa yang mengurangi kesempurnaan tauhid berupa syirik kecil.

Sebab, orang yang tidak mengetahui keburukan sangat mungkin terjatuh ke dalamnya.

Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه berkata:

«“Hampir saja ikatan-ikatan Islam terurai satu demi satu apabila di dalam Islam tumbuh orang-orang yang tidak mengetahui jahiliah.”»

Hudzaifah bin al-Yaman رضي الله عنه berkata:

«“Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir aku terjatuh ke dalamnya.”»

Bagaimana mungkin seseorang tidak takut terjatuh ke dalam syirik, sedangkan Nabi Ibrahim al-Khalil عليه السلام sendiri takut terhadapnya?

Beliau berdoa:

«“Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah berhala. Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak manusia.”
(QS. Ibrāhīm: 35–36)»

Padahal Ibrahim عليه السلام sendiri telah menghancurkan berhala-berhala dengan tangannya.

Namun beliau tetap khawatir terhadap fitnah dan kesesatan.

Seorang mukmin tidak boleh merasa dirinya suci dan aman dari fitnah. Ia selalu membutuhkan pertolongan Allah agar Allah meneguhkannya di atas kebenaran.

---

TAKUT TERHADAP SYIRIK KECIL

Bagaimana mungkin seseorang tidak takut terjatuh ke dalam syirik, sedangkan Nabi kita Muhammad ﷺ bersabda kepada para sahabatnya:

«“Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.”»

Para sahabat bertanya:

«“Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?”»

Beliau menjawab:

«“Riya.”»

Allah Ta‘ala akan berfirman pada hari kiamat, ketika memberikan balasan kepada manusia atas amal-amal mereka:

«“Pergilah kepada orang-orang yang dahulu kalian berbuat riya kepada mereka di dunia, lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka.”»

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan رحمه الله berkata:

«“Jika syirik kecil saja ditakutkan oleh para sahabat Rasulullah ﷺ, padahal mereka memiliki kesempurnaan ilmu dan kekuatan iman, lalu bagaimana mungkin orang yang jauh lebih rendah daripada mereka dalam ilmu dan iman tidak takut terhadap syirik kecil dan bahkan syirik yang lebih besar darinya?”»

Terlebih lagi apabila seseorang mengetahui bahwa banyak orang yang mengaku sebagai ahli ilmu pada masa sekarang tidak memahami tauhid kecuali sebatas perkara yang juga diakui oleh kaum musyrikin.

Mereka tidak memahami makna uluhiyah yang dinafikan oleh kalimat tauhid lā ilāha illallāh dari segala sesuatu selain Allah.

---

BEBERAPA BENTUK SYIRIK YANG TERSEBAR

Wahai hamba-hamba Allah.

Bagaimana mungkin kita tidak takut terhadap syirik sementara banyak di antara kita tidak mengetahui apa itu syirik dan apa saja jenisnya?

Akibatnya, sebagian orang yang bodoh atau yang meremehkan persoalan akidah mereka pergi berobat kepada dukun, tukang sihir, paranormal, dan para pelaku perdukunan.

Bahkan terkadang mereka diperintahkan melakukan perbuatan syirik dan mereka pun melakukannya.

Misalnya:

- menyembelih untuk jin,
- bernazar kepada kuburan tertentu,
- memakai gelang atau benang sebagai jimat,
- memakai benda-benda bertuliskan mantra atau simbol-simbol tertentu.

Sebagian lainnya pergi kepada dukun dan peramal untuk menanyakan perkara-perkara gaib.

Nabi ﷺ telah bersabda:

«“Barang siapa mendatangi peramal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari.”»

(HR. Muslim)

Nabi ﷺ juga bersabda:

«“Barang siapa mendatangi seorang dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.”»

(HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

---

PERINGATAN TERHADAP PENYEMBAHAN KUBUR

Bagaimana mungkin kita tidak takut terjatuh ke dalam syirik, sedangkan banyak orang yang pada zaman sekarang mengaku sebagai bagian dari kaum Muslimin telah terjatuh ke dalamnya dan mempraktikkannya dalam berbagai bentuk di sekitar kuburan?

Di antara mereka ada yang:

- memasang tirai di atas kuburan,
- meletakkan kotak-kotak untuk mengumpulkan nazar,
- menjadikan kuburan sebagai tempat untuk melakukan tawaf,
- mengusap-usap bagian-bagian kuburan,
- meminta pertolongan kepada penghuni kubur,
- dan menjadikan penghuni kubur sebagai perantara kepada Allah.

Mereka melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang musyrik terdahulu:

«“Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.”
(QS. Az-Zumar: 3)»

---

PENUTUP KHUTBAH

Bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah.

Mohonlah kepada-Nya agar Dia memberikan taufik kepada kalian untuk mengetahui kebenaran, mengamalkannya, dan tetap teguh di atasnya.

Berdoalah:

«رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ»

“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami. Dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”

(QS. Āli ‘Imrān: 8) 

SYIRIK YANG TERSEBAR PADA KAUM MUSLIMIN


Syirik-Syirik yang Tersebar di Kalangan Sebagian Kaum Muslimin

Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah Yang Mahatinggi, yang telah menciptakan lalu menyempurnakan penciptaan, yang telah menentukan segala sesuatu lalu memberikan petunjuk. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu dan Dia telah menghitung segala sesuatu dengan sangat teliti. Mahasuci Dia, Yang Maha Esa, tempat bergantung segala makhluk.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak, dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya, serta tidak mempunyai penolong dari kehinaan. Dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.”
(QS. Al-Isra’: 111)»

Dialah Yang Mahatinggi, Yang Mahaagung, Yang Mahabesar, Yang Mahamulia, Yang Mahaperkasa dan Yang Mahabesar. Milik-Nya segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Dia adalah Pencipta segala sesuatu.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba. Sungguh, Dia telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada hari Kiamat seorang diri.”
(QS. Maryam: 93–95)»

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahahidup serta tidak akan mati. Di tangan-Nya segala kebaikan dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, imam orang-orang yang bertauhid dan utusan Tuhan seluruh alam. Allah mengutus beliau dengan membawa tauhid sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, istri-istri, dan keturunan beliau.

Amma ba'du.

Sesungguhnya perkara terbesar yang Allah perintahkan adalah tauhid, dan perkara terbesar yang Allah larang adalah syirik.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”
(QS. An-Nisa’: 36)»

Sesungguhnya kezaliman yang paling besar dan dosa yang paling besar adalah mempersekutukan Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
(QS. Luqman: 13)»

Allah juga berfirman:

«“Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.”
(QS. Al-Ma'idah: 72)»

Allah berfirman:

«“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah tersesat sejauh-jauhnya.”
(QS. An-Nisa’: 116)»

Allah telah memperingatkan setiap nabi dari perbuatan syirik. Dia berfirman:

«“Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu: ‘Sungguh, jika engkau mempersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.’ Tetapi sembahlah Allah dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.”
(QS. Az-Zumar: 65–66)»

Allah juga memberitahukan bahwa banyak orang yang beriman kepada-Nya masih terjatuh ke dalam syirik. Allah berfirman:

«“Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah kecuali dalam keadaan mempersekutukan-Nya.”
(QS. Yusuf: 106)»

Hal itu bisa berupa syirik besar maupun syirik kecil. Perkaranya sangat berbahaya.

Dalam hadis sahih Nabi ﷺ bersabda:

«“Syirik di tengah umatku lebih tersembunyi daripada gerakan semut di atas batu yang licin.”»

Nabi ﷺ juga bersabda:

«“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya. Allah akan berfirman pada hari Kiamat ketika manusia diberi balasan atas amal-amal mereka: ‘Pergilah kepada orang-orang yang dahulu kalian berbuat riya kepada mereka di dunia. Lihatlah, apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?’”»

Oleh karena itu, seorang Muslim harus takut terhadap dirinya dari syirik, baik syirik besar maupun syirik kecil.

Berikut ini beberapa bentuk syirik yang tersebar di tengah kaum Muslimin:

1. Meminta pertolongan kepada selain Allah

Sebagian manusia berdoa kepada kuburan dan para wali serta meminta pertolongan kepada mereka ketika menghadapi kesulitan. Ini adalah syirik besar yang mengeluarkan seseorang dari Islam.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu menyembah siapa pun di dalamnya di samping Allah.”
(QS. Al-Jinn: 18)»

Allah juga berfirman:

«“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memperkenankan doanya sampai hari Kiamat, dan mereka lalai dari doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan, mereka menjadi musuh bagi orang-orang yang dahulu mereka sembah, dan mereka mengingkari ibadah yang mereka lakukan.”
(QS. Al-Ahqaf: 5–6)»

Doa adalah ibadah. Barang siapa memalingkan doa kepada selain Allah, berarti dia telah beribadah kepada selain Allah dan mempersekutukan-Nya.

Dalam hadis sahih Nabi ﷺ bersabda:

«“Doa itu adalah ibadah.”»

Kemudian beliau membaca firman Allah:

«“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina.’”
(QS. Ghafir: 60)»

2. Syirik dalam ucapan

Di antara ucapan yang termasuk bentuk kesyirikan adalah perkataan sebagian orang:

- “Aku masuk kepada Allah dan kepadamu.”
- “Aku tidak memiliki siapa-siapa selain Allah dan engkau.”
- “Allah bagiku di langit dan engkau bagiku di bumi.”
- “Apa yang Allah dan engkau kehendaki.”

Dalam hadis sahih Nabi ﷺ bersabda:

«“Janganlah kalian mengatakan: ‘Apa yang Allah dan si fulan kehendaki.’ Tetapi katakanlah: ‘Apa yang Allah kehendaki, kemudian apa yang dikehendaki si fulan.’”»

3. Menisbatkan nikmat kepada selain Allah

Termasuk syirik adalah menisbatkan suatu nikmat kepada manusia, tempat tertentu, pekerjaan seseorang, keahlian, profesi, atau makhluk tertentu, sehingga nikmat tersebut dinisbatkan kepada selain Allah.

Ini termasuk salah satu bentuk syirik kecil.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dalam menafsirkan firman Allah:

«“Maka janganlah kamu menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 22)»

Beliau berkata bahwa tandingan-tandingan tersebut termasuk syirik yang lebih tersembunyi daripada gerakan semut di atas batu hitam dalam kegelapan malam.

Misalnya seseorang mengatakan:

«“Demi Allah dan demi hidupmu, wahai fulan.”»

Atau:

«“Demi hidupku.”»

Atau:

«“Kalau bukan karena anjing ini, tentu pencuri akan datang kepada kita.”»

Atau:

«“Apa yang Allah dan engkau kehendaki.”»

Atau:

«“Kalau bukan karena Allah dan fulan.”»

Janganlah seseorang menjadikan fulan sebagai pasangan dalam ungkapan tersebut. Semua ini termasuk bentuk syirik.

4. Berlebihan terhadap kuburan orang-orang saleh

Di antara sebab munculnya kesyirikan adalah ghuluw, yaitu melampaui batas dalam memperlakukan kuburan orang-orang saleh.

Berlebihan terhadap kuburan dapat menjadi sebab seseorang mengagungkan kuburan tersebut kemudian sampai menyembah penghuni kuburnya.

Bentuk ghuluw terhadap kuburan antara lain:

- meninggikan bangunan kuburan,
- membangun bangunan di atasnya,
- menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah.

Semua ini termasuk sarana yang dapat mengantarkan kepada syirik besar.

Di antara bentuk ghuluw adalah menjadikan kuburan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, atau menjadikan penghuni kubur sebagai pemberi syafaat di sisi Allah.

Sebagian orang yang tertipu dengan kuburan bahkan sampai:

- berdoa kepada orang yang telah meninggal,
- bernazar untuknya,
- menyembelih untuknya,
- meminta syafaat kepadanya,
- mengusap tanah dan dinding kubur dengan keyakinan bahwa hal tersebut memberi manfaat.

Tidak ada perbedaan prinsip antara mencari keberkahan dari kuburan dengan mencari keberkahan dari pohon dan batu dengan cara-cara yang tidak disyariatkan. Semuanya merupakan bentuk kesyirikan.

5. Meyakini selain Allah memiliki kekuasaan mutlak memberi manfaat dan mudarat

Termasuk syirik dalam keyakinan adalah meyakini bahwa selain Allah memiliki kekuasaan untuk memberikan bahaya atau manfaat secara independen.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Al-An'am: 17)»

Allah juga berfirman:

«“Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Katakanlah, ‘Kalau begitu, tahukah kamu tentang apa yang kamu seru selain Allah? Jika Allah hendak mendatangkan kemudaratan kepadaku, apakah mereka mampu menghilangkan kemudaratan-Nya? Atau jika Dia hendak memberikan rahmat kepadaku, apakah mereka mampu menahan rahmat-Nya?’ Katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nyalah orang-orang yang bertawakal berserah diri.’”
(QS. Az-Zumar: 38)»

6. Sihir, perdukunan dan mendatangi paranormal

Termasuk bentuk kesyirikan adalah sihir dan perdukunan serta mendatangi tukang sihir, dukun, paranormal, dan ahli nujum.

Nabi ﷺ bersabda:

«“Barang siapa mendatangi peramal atau dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.”»

7. Bersumpah dengan selain Allah

Termasuk bentuk syirik adalah bersumpah dengan selain Allah, seperti:

- bersumpah dengan Nabi,
- bersumpah demi kedudukan Nabi,
- mengatakan “demi hidup ayahmu”,
- “demi kehormatanku”,
- bersumpah dengan amanah.

Dalam hadis sahih Nabi ﷺ bersabda:

«“Barang siapa bersumpah dengan selain Allah, maka sungguh dia telah berbuat syirik.”»

Beliau ﷺ juga bersabda:

«“Barang siapa bersumpah dengan amanah, maka dia bukan termasuk golongan kami.”»

Karena itu, seseorang tidak boleh bersumpah kecuali dengan nama Allah, dalam keadaan jujur. Hendaknya juga tidak banyak bersumpah dengan nama Allah.

Nabi ﷺ bersabda:

«“Barang siapa hendak bersumpah, hendaknya dia bersumpah dengan Allah atau diam.”»

Maka janganlah bersumpah dengan selain Allah.

Termasuk dalam hal ini adalah kebiasaan bersumpah dengan talak atau mengatakan sesuatu yang diharamkan sebagai sumpah. Perkara seperti ini banyak dilakukan oleh sebagian manusia. Hanya Allah tempat meminta pertolongan.

8. Menyembelih untuk selain Allah

Termasuk syirik adalah menyembelih untuk selain Allah, dan ini merupakan syirik besar karena menyembelih adalah ibadah yang tidak boleh ditujukan kepada selain Allah.

Allah memerintahkan kita untuk menyembelih hanya untuk-Nya:

«“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadah kurbanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya.”
(QS. Al-An'am: 162–163)»

Allah juga berfirman:

«“Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 2)»

Barang siapa menyembelih karena Allah, berarti dia beribadah kepada Allah. Barang siapa menyembelih untuk selain Allah, berarti dia telah mempersekutukan Allah.

Contohnya:

- menyembelih untuk kuburan atau wali sebagai bentuk pendekatan kepada mereka;
- menyembelih untuk jin sebagai bentuk pendekatan kepada jin, sebagaimana dilakukan oleh tukang sihir atau dukun;
- orang-orang bodoh yang mengikuti mereka demi mendapatkan kesembuhan;
- menyembelih ketika membangun rumah dengan niat mengusir setan;
- melumurkan darah hewan sembelihan pada fondasi bangunan ketika memulai pembangunan atau setelah selesai, dengan tujuan melindungi rumah dari gangguan jin.

Semua itu adalah perbuatan syirik yang tidak boleh dilakukan.

9. Bernazar untuk selain Allah

Termasuk syirik adalah bernazar untuk selain Allah.

Nazar adalah ibadah kepada Allah dan tidak boleh dipersembahkan kecuali kepada Allah semata.

Semua ibadah adalah milik Allah, seperti berdiri dengan khusyuk, rukuk dan sujud. Memalingkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah adalah syirik.

10. Bergantung kepada sebab dan melupakan Allah

Termasuk bentuk kesyirikan adalah bergantung kepada sebab dan tidak bergantung kepada Allah.

Yang wajib adalah bertawakal kepada Allah semata. Hati bergantung kepada Allah, sementara seseorang tetap mengambil sebab-sebab yang dibenarkan oleh syariat.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Ma'idah: 23)»

11. Tathayyur atau merasa sial

Termasuk bentuk kesyirikan adalah tathayyur, yaitu menganggap sial karena hari tertentu, bulan tertentu, burung tertentu, nama tertentu, ucapan tertentu, tempat tertentu dan sebagainya.

Sebagian orang menganggap sial hari Rabu, menganggap bulan Safar sebagai bulan sial, merasa sial ketika melihat burung gagak atau burung tertentu, mendengar nama tertentu, atau melewati tempat tertentu.

Semua ini bertentangan dengan tauhid dan tawakal kepada Allah.

Dalam hadis sahih Nabi ﷺ bersabda:

«“Tiyarah adalah syirik.”»

12. Memakai gelang, cincin, tali atau jimat

Termasuk kesyirikan adalah memakai gelang, cincin, tali, jimat atau benda-benda tertentu dengan keyakinan bahwa benda tersebut dapat mendatangkan kebaikan atau menolak keburukan.

Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

«“Sesungguhnya ruqyah, jimat-jimat dan tiwalah adalah syirik.”»

Tiwalah adalah sesuatu yang dibuat oleh sebagian wanita untuk suaminya dengan tujuan menambah kecintaan suami kepadanya. Hal tersebut merupakan kebatilan dan kesyirikan.

13. Menisbatkan hujan kepada bintang

Wahai kaum Muslimin, termasuk bentuk kesyirikan adalah perkataan sebagian orang:

«“Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu.”»

Atau:

«“Kami mendapatkan hujan karena bintang tertentu.”»

Jika seseorang meyakini bahwa bintang itulah yang menciptakan hujan dan mengatur turunnya hujan, maka ini adalah syirik besar.

Jika dia meyakini bintang tersebut hanya sebagai sebab turunnya hujan, maka ini termasuk syirik kecil.

Bintang sama sekali tidak memiliki kekuasaan sebagai sebab atau pengaruh terhadap turunnya hujan. Hujan turun dengan perintah Allah, rahmat-Nya dan kehendak-Nya. Allah menurunkannya kepada siapa yang Dia kehendaki dan menahannya dari siapa yang Dia kehendaki.

Yang disyariatkan ketika hujan turun adalah mengucapkan:

«“Kami diberi hujan karena karunia Allah dan rahmat-Nya.”»

14. Meyakini bintang dan planet memengaruhi kehidupan manusia

Termasuk syirik adalah meyakini bahwa bintang dan planet mempunyai pengaruh terhadap berbagai peristiwa dan kehidupan manusia.

Astrologi adalah menjadikan kondisi benda-benda langit sebagai dasar untuk menentukan kejadian-kejadian di bumi.

Seorang ahli nujum memperhatikan bintang, pertemuan dan perpisahannya, terbit dan tenggelamnya, kedekatan dan kejauhan satu dengan yang lainnya, kemudian mengklaim mengetahui perkara gaib.

Semua ini merupakan kebatilan dan kesyirikan.

Tidak ada yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.”
(QS. An-Naml: 65)»

Allah juga berfirman:

«“Allah tidak akan memperlihatkan kepada kalian perkara gaib.”
(QS. Ali 'Imran: 179)»

Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk menjelaskan kepada manusia bahwa beliau tidak mengetahui perkara gaib, kecuali sebagian perkara gaib yang Allah kehendaki untuk Dia beritahukan kepadanya, seperti berita umat-umat terdahulu, tanda-tanda Kiamat, keadaan hari Kiamat dan semisalnya.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Katakanlah: Aku tidak berkuasa mendatangkan manfaat bagi diriku dan tidak pula menolak mudarat kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku akan membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa keburukan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-A'raf: 188)»

Allah juga berfirman:

«“Katakanlah: Aku tidak mengetahui apakah yang dijanjikan kepadamu itu sudah dekat atau Tuhanku akan memberikan batas waktu baginya. Dia mengetahui yang gaib, dan Dia tidak memperlihatkan perkara gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali kepada rasul yang Dia ridhai.”
(QS. Al-Jinn: 25–27)»

Allah berfirman:

«“Katakanlah: Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui perkara gaib dan yang nyata, Engkaulah yang memutuskan perkara di antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang dahulu mereka perselisihkan.”
(QS. Az-Zumar: 46)»

15. Mengatakan: “Takdir menghendaki”

Di antara kesalahan dalam ucapan adalah perkataan sebagian orang:

«“Takdir menghendaki demikian.”»

Atau:

«“Keadaan menghendaki terjadinya demikian.”»

Ini merupakan ungkapan yang tidak benar, karena keadaan dan takdir tidak memiliki kehendak. Kehendak dan takdir berada di tangan Allah Ta'ala semata.

16. Menisbatkan bencana hanya kepada alam

Termasuk kesalahan ucapan yang tersebar di media adalah menisbatkan berbagai bencana hanya kepada sebab-sebab alamiah dan tidak mengaitkannya dengan Allah Yang Mahatunggal dalam menciptakan dan mengatur alam.

Gempa bumi, banjir, gunung meletus, angin topan dan berbagai bencana lainnya semuanya terjadi dengan takdir dan kehendak Allah.

Karena itu, tidak benar menisbatkannya semata-mata kepada “alam”, sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang tidak memahami hal tersebut.

17. Mengucapkan “seandainya”

Di antara kesalahan adalah ketika seseorang tertimpa sesuatu yang tidak disukainya lalu berkata:

«“Seandainya aku melakukan ini, tentu akan terjadi begini dan begitu.”»

Ungkapan semacam ini sebagai bentuk penyesalan terhadap takdir dilarang.

Yang wajib adalah menerima ketetapan Allah.

Nabi ﷺ bersabda:

«“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah. Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau mengatakan: ‘Seandainya aku melakukan demikian, tentu akan terjadi demikian dan demikian.’ Akan tetapi katakanlah: ‘Ini adalah takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan.’ Sesungguhnya kata ‘seandainya’ membuka pintu bagi pekerjaan setan.”»

Ya Allah, tunjukilah kami kepada kebenaran dalam perkara yang diperselisihkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus.

Karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk beribadah kepada-Mu dengan ikhlas.

Kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak kami ketahui.

---

Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah yang tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia semata. Salam sejahtera atas hamba-hamba-Nya yang Dia pilih.

Amma ba'du.

Wahai kaum Muslimin, kita wajib mengagungkan Allah dengan sebenar-benar pengagungan dan mengenal kedudukan serta keagungan-Nya. Kita menyembah-Nya semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

Kita harus berhati-hati terhadap seluruh bentuk kesyirikan.

Di antara kesalahan terbesar yang dapat membawa seseorang kepada kesyirikan dan kekufuran adalah berwala kepada orang-orang kafir.

Wala' adalah kecintaan dalam hati serta memberikan pertolongan dengan perbuatan dan perkataan.

Sifat ini bertentangan dengan konsep al-wala' wal-bara' dalam Islam, karena orang-orang kafir adalah musuh Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Maka bagaimana mungkin seorang Muslim mencintai mereka dan membantu mereka?

Ada beberapa bentuk wala' kepada orang-orang kafir yang tersebar:

1. Mencintai orang-orang kafir karena kekufuran mereka

Hal ini sering terjadi karena terlalu banyak bergaul dengan mereka di negeri mereka atau di negeri kaum Muslimin, serta terlalu banyak melihat mereka melalui berbagai media.

Yang diwajibkan adalah membenci kekufuran mereka kepada Allah dan Rasul-Nya, pendustaan mereka terhadap Al-Qur'an, serta meninggalkan ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan syariat-Nya, baik karena mengikuti hawa nafsu, mengikuti nenek moyang, kesibukan terhadap dunia, syahwat dan berbagai kesenangan.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian, dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah semata.’”
(QS. Al-Mumtahanah: 4)»

2. Bepergian ke negeri orang-orang kafir tanpa kebutuhan

Termasuk di antaranya bepergian ke negeri orang-orang kafir tanpa kebutuhan atau keadaan darurat, kemudian menetap di sana sementara dirinya terancam terkena fitnah dalam agama.

3. Mengidolakan orang-orang kafir

Termasuk di antaranya adalah menggantungkan hati kepada sebagian orang kafir, baik mereka:

- pemain olahraga,
- penyanyi,
- aktor,
- politisi,

dan tokoh-tokoh lainnya.

4. Memuji orang-orang kafir secara berlebihan

Termasuk di antaranya memuji orang-orang kafir dan menggambarkan kehidupan mereka secara berlebihan dengan cara yang menyebabkan kaum Muslimin dipandang rendah.

5. Membantu orang-orang kafir melawan kaum Muslimin

Termasuk bentuk wala' adalah membela orang-orang kafir dan membantu mereka melawan kaum Muslimin.

Khutbah ini menyebutnya sebagai kemurtadan dari agama.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali. Sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu menjadikan mereka sebagai wali, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”»

Kemudian Allah menyebutkan keadaan orang-orang yang sakit hatinya, yang tergesa-gesa mendekati mereka karena takut tertimpa musibah.

Allah berfirman:

«“Maka kamu akan melihat orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit segera mendekati mereka, seraya berkata: ‘Kami takut akan mendapat bencana.’ Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan atau suatu keputusan dari sisi-Nya, sehingga mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam hati mereka.”»

Allah melanjutkan:

«“Dan orang-orang yang beriman akan berkata: ‘Inikah orang-orang yang bersumpah dengan nama Allah dengan sungguh-sungguh bahwa mereka benar-benar bersama kalian?’ Amal-amal mereka menjadi sia-sia sehingga mereka menjadi orang-orang yang rugi.”»

Kemudian Allah berfirman:

«“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kalian murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya; mereka bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan tegas terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”»

Allah juga berfirman:

«“Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan mereka rukuk. Barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya golongan Allah itulah yang menang.”»

(QS. Al-Ma'idah: 51–56)

Wahai kaum Muslimin, setiap Muslim wajib mencintai seluruh orang beriman, baik generasi terdahulu, generasi tabi'in maupun kaum Muslimin pada masa sekarang.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.”
(QS. At-Taubah: 71)»

Seorang Muslim mencintai kaum Muslimin, menolong mereka dalam kebenaran, dan bekerja sama dengan mereka dalam menegakkan shalat, syiar-syiar agama, amar makruf dan nahi mungkar.

Tidak boleh menghina orang-orang saleh dan tidak boleh mengolok-olok syiar-syiar Islam, seperti shalat, jenggot atau perkara lain yang telah disebutkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah.

Allah Ta'ala berfirman tentang orang-orang munafik:

«“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab: ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main.’ Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?’ Janganlah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir setelah beriman.”
(QS. At-Taubah: 65–66)»

Allah juga berfirman:

«“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka melewati mereka, mereka saling mengedipkan mata. Dan apabila kembali kepada keluarganya, mereka kembali dengan bersenda gurau. Dan apabila melihat mereka, mereka berkata: ‘Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang sesat.’ Padahal mereka tidak diutus sebagai penjaga atas orang-orang beriman.”»

«“Maka pada hari ini orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir. Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang. Apakah orang-orang kafir telah diberi balasan terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan?”»

(QS. Al-Muthaffifin: 29–36)

6. Menaati pembesar dalam mengubah hukum Allah

Wahai kaum Muslimin, termasuk kesyirikan adalah menaati para pembesar dalam mengubah hukum-hukum Allah.

Khutbah ini menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan syirik besar karena hak menetapkan halal dan haram adalah milik Allah semata. Menjadikan selain Allah sebagai pihak yang berhak menetapkan halal dan haram merupakan kesyirikan dan kemurtadan.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang menetapkan aturan agama bagi mereka yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menunda hukuman, niscaya telah dilaksanakan hukuman di antara mereka. Dan sesungguhnya orang-orang zalim akan memperoleh azab yang pedih.”
(QS. Asy-Syura: 21)»

Allah juga berfirman tentang Ahli Kitab sebelum kita:

«“Mereka menjadikan para ulama dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah.”
(QS. At-Taubah: 31)»

Allah menyebut kekufuran mereka karena mereka menaati para pembesar mereka dalam menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang Allah halalkan.

Maka yang halal adalah apa yang Allah halalkan dan yang haram adalah apa yang Allah haramkan.

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Sang Pencipta.

7. Berhukum dengan selain hukum Allah dan memisahkan agama dari kehidupan

Termasuk yang disebut dalam khutbah ini sebagai kesyirikan adalah berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan, memisahkan agama dari negara, serta menolak sebagian hukum syariat.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Hukum itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
(QS. Yusuf: 40)»

Kesimpulan Islam adalah dua perkara:

1. Hukum dan ketetapan mutlak milik Allah.
2. Menyembah Allah semata.

Di dalam kedua perkara tersebut terdapat kebaikan manusia dalam agama, kehidupan dunia dan kehidupan akhirat mereka.

8. Menjadikan hawa nafsu sebagai sesembahan

Termasuk kesyirikan adalah menyembah hawa nafsu dan menjadikannya sebagai tuhan selain Allah.

Contohnya adalah orang yang meninggalkan shalat dan ketaatan kepada Allah karena sibuk dengan dunia dan mengikuti hawa nafsunya.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Tidakkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Apakah kamu dapat menjadi pelindungnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka mendengar atau memahami? Mereka hanyalah seperti hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya.”
(QS. Al-Furqan: 43–44)»

Wahai kaum Muslimin, kita wajib berserah diri kepada Allah dengan tauhid dan mengikhlaskan ibadah serta niat hanya untuk-Nya.

Kita harus berhati-hati terhadap syirik dalam kehendak dan niat.

Barang siapa melakukan amal saleh tetapi menginginkan selain wajah Allah, dan berniat dengan amalnya selain mendekatkan diri kepada Allah, maka dia telah melakukan kesyirikan dalam niatnya.

Allah tidak menerima suatu amal kecuali amal tersebut ikhlas untuk-Nya.

Riya dapat menggugurkan pahala amal saleh.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Barang siapa mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”
(QS. Al-Kahfi: 110)»

Dalam hadis qudsi, Allah Ta'ala berfirman:

«“Aku adalah Zat Yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amal dan mempersekutukan selain Aku di dalam amal tersebut, Aku tinggalkan dia dan kesyirikannya.”»

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami tauhid yang murni.

Jadikanlah amal-amal kami ikhlas hanya untuk-Mu.

Kami berlindung kepada-Mu dari kesyirikan, riya dan sum'ah.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bertauhid, ikhlas, saleh dan jujur.

Wahai Tuhan kami, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Ya Allah, arahkanlah wajah kami hanya kepada-Mu.

Wahai Tuhan kami, kami beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami mengikuti Rasul. Maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi.

Kami berlepas diri kepada-Mu dari seluruh orang kafir dan orang-orang musyrik.

Kami berlepas diri kepada-Mu dari segala bentuk syirik dan riya.

Ya Allah, hanya untuk-Mu kami shalat, hanya untuk-Mu kami rukuk dan sujud.

Kami mengharapkan rahmat-Mu dan takut terhadap azab-Mu.

Ya Allah, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman.

Janganlah Engkau jadikan di dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman.

Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

Ya Allah, berilah petunjuk kepada kami dan seluruh kaum Muslimin.

Ampunilah kami semua.

Keluarkanlah kami dari kegelapan menuju cahaya.

Tunjukilah kami jalan yang lurus dengan karunia dan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki.

Engkaulah pelindung kami, maka ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah sebaik-baik pemberi ampun.

Engkaulah pelindung kami di dunia dan di akhirat.

Wafatkanlah kami dalam keadaan Muslim dan gabungkanlah kami bersama orang-orang saleh.

Janganlah Engkau jadikan kami orang-orang yang terhina dan jangan pula orang-orang yang terkena fitnah.

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.