BERBAIK SANGKA KEPADA ALLAH TA'ALA
karya Syaikh Abdurrahman bin Abdullah Al-Huwaimil.
Khutbah Pertama
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.
Dia telah memilih hamba-hamba-Nya yang bertauhid, serta menjanjikan kepada mereka pertolongan, kemuliaan, dan kekuasaan. Maka mereka pun berbaik sangka kepada-Nya dan memurnikan agama hanya untuk-Nya.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, suatu persaksian yang dibangun di atas tauhid, keikhlasan, dan keyakinan.
Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, manusia terbaik di antara para nabi dan rasul.
Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.
Amma ba'du....
Bertakwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah dengan sebenar-benar takwa, dan awasilah Dia dalam keadaan sendiri maupun di tengah keramaian.
Wahai hamba-hamba Allah,
Sesungguhnya di antara kedudukan iman yang paling agung dan derajat ihsan yang paling tinggi adalah seorang hamba meyakini tentang Rabbnya apa yang layak bagi-Nya berupa kesempurnaan, sehingga ia berbaik sangka kepada-Nya.
Berbaik sangka kepada Allah merupakan sifat orang-orang mukmin yang mengenal Rabbnya, sedangkan buruk sangka kepada Allah merupakan celaan terhadap tauhid, kerusakan dalam akidah, serta ciri khas orang-orang kafir dan munafik.
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan agar Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allah.
Mereka akan mendapat giliran kebinasaan, Allah murka kepada mereka, melaknat mereka, dan menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Itulah seburuk-buruk tempat kembali."
Allah juga berfirman:
"Mereka menyangka terhadap Allah dengan sangkaan jahiliah yang tidak benar." (Ali Imran: 154)
Orang-orang munafik dalam Perang Uhud telah berburuk sangka kepada Rabb mereka, agama-Nya, dan Rasul-Nya.
Mereka menyangka bahwa Allah tidak akan menyempurnakan urusan Rasul-Nya dan bahwa kekalahan tersebut merupakan akhir bagi agama Allah.
Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir As-Sa'di, Allah menjadikan orang-orang munafik dan orang-orang kafir berada dalam satu timbangan, yang sama-sama disatukan oleh buruk sangka mereka kepada Allah.
Maka siapa yang menyangka bahwa Allah akan menelantarkan orang yang bertawakal kepada-Nya, atau tidak menerima orang yang bertaubat kepada-Nya, atau tidak menerima amal orang yang beribadah dengan baik, berarti ia telah berburuk sangka kepada Allah.
Akibatnya, Allah akan menimpakan kepadanya apa yang ia sangkakan terhadap Allah sebagai balasan yang setimpal.
Sebaliknya, siapa yang berbaik sangka kepada Allah, maka Allah akan memperlakukannya sesuai prasangkanya.
Doa dan husnuzan kepada Allah adalah dua perkara yang saling berkaitan dan saling menguatkan, sehingga perjalanan seorang hamba menuju Allah menjadi lurus dan ia memperoleh apa yang diharapkannya dari Rabbnya.
Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah Ta'ala berfirman:
"Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku."
Al-Qadhi Iyadh رحمه الله berkata:
"Maknanya ialah Aku akan mengampuninya jika ia memohon ampun kepada-Ku, menerima taubatnya jika ia kembali kepada-Ku, mengabulkan doanya jika ia berdoa kepada-Ku, dan mencukupinya jika ia meminta kecukupan kepada-Ku.
Sifat-sifat ini tidak akan muncul dari seorang hamba kecuali apabila ia berbaik sangka kepada Allah dan kuat keyakinannya."
Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda bahwa Allah عز وجل berfirman:
"Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.
Jika ia berprasangka baik, maka baginya kebaikan; dan jika ia berprasangka buruk, maka baginya keburukan."
(HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan Al-Albani).
Maknanya, Allah memperlakukan hamba sesuai dengan apa yang ia harapkan dari-Nya, baik atau buruk.
Berbaik sangka kepada Allah berarti keyakinan seorang mukmin bahwa Allah menerima taubatnya apabila ia bertaubat, mengampuni seluruh dosanya apabila ia memohon ampun, mengabulkan doanya apabila ia berdoa, dan memberikan pahala kepadanya apabila ia beramal saleh.
Berbaik sangka kepada Allah adalah kuatnya keyakinan terhadap janji Allah berupa luasnya kemurahan dan rahmat-Nya.
Berbaik sangka berarti lebih mengedepankan sisi kebaikan daripada keburukan.
Berbaik sangka kepada Allah adalah mengharapkan segala yang indah dan baik dari Allah.
Allah Ta'ala berfirman:
"Maka bagaimana prasangkamu terhadap Rabb semesta alam?" (Ash-Shaffat: 87)
Berbaik sangka kepada Allah adalah akidah antara seorang hamba dengan Rabbnya.
Bahkan ia termasuk konsekuensi tauhid dan salah satu kewajiban agama yang paling penting.
Husnuzan kepada Allah sangat ditekankan ketika menjelang kematian.
Ia termasuk sebaik-baik penutup kehidupan seorang hamba.
Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda tiga hari sebelum wafatnya:
"Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah."
Seorang pemuda pernah didatangi Rasulullah ﷺ ketika sedang sakit menjelang wafat. Beliau bertanya:
"Bagaimana keadaanmu?"
Pemuda itu menjawab:
"Wahai Rasulullah, demi Allah aku berharap kepada Allah dan aku takut terhadap dosa-dosaku."
Maka Nabi ﷺ bersabda:
"Tidaklah keduanya (harap dan takut) berkumpul di hati seorang hamba pada keadaan seperti ini melainkan Allah akan memberikan apa yang ia harapkan dan mengamankannya dari apa yang ia takutkan."
(HR. Tirmidzi).
Imam An-Nawawi رحمه الله menjelaskan:
"Makna berbaik sangka kepada Allah adalah seseorang meyakini bahwa Allah akan merahmatinya, mengharapkan hal tersebut, merenungi ayat-ayat dan hadis-hadis tentang kemurahan Allah, ampunan-Nya, rahmat-Nya, janji-Nya kepada ahli tauhid, serta rahmat yang akan Dia limpahkan kepada mereka pada hari kiamat."
Wahai hamba-hamba Allah,
Berbaik sangka kepada Allah merupakan pintu menuju kebaikan yang besar dan karunia yang melimpah.
Sebesar kadar husnuzan seorang hamba kepada Allah, sebesar itu pula rahmat dan kebaikan Allah yang akan ia peroleh.
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:
"Demi Dzat yang tiada sesembahan selain-Nya, tidaklah seorang mukmin diberi sesuatu yang lebih baik daripada berbaik sangka kepada Allah.
Dan demi Dzat yang tiada sesembahan selain-Nya, tidaklah seorang hamba berbaik sangka kepada Allah melainkan Allah akan memberinya sesuai dengan prasangkanya.
Sebab segala kebaikan berada di tangan-Nya."
Berbaik sangka kepada Allah memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan seorang mukmin, baik ketika hidup maupun setelah meninggal.
Apabila seorang hamba berbaik sangka kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya, Allah akan memudahkan seluruh urusannya, menenangkan hatinya, melapangkan dadanya, dan menjadikannya ridha terhadap qadha dan qadar-Nya.
Ya Allah, bantulah kami untuk taat kepada-Mu, berbaik sangka kepada-Mu, dan berilah kami taufik menuju segala kebaikan, wahai Rabb semesta alam.
Aku berkata demikian dan aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung untukku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum muslimin.
Maka mohonlah ampun kepada-Nya dan bertaubatlah kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Khutbah Kedua
Segala puji bagi Allah Yang Maha Agung kebaikan-Nya, luas karunia, kemurahan dan anugerah-Nya.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya.
Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.
Amma ba'du...
Sesungguhnya berbaik sangka kepada Allah dibangun di atas dua perkara:
1. Benarnya akidah tentang Allah
Barang siapa mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya, mengetahui karunia dan nikmat-Nya, maka ia akan berbaik sangka kepada Allah.
Barang siapa meyakini bahwa tidak ada sesuatu pun yang terlalu besar untuk diberikan oleh Allah, bahwa Dia Maha Mulia lagi Maha Dermawan, tangan-Nya penuh dan tidak berkurang karena pemberian, serta karunia-Nya terus mengalir siang dan malam, maka ia akan berbaik sangka kepada Allah.
2. Baiknya amal dalam ketaatan
Orang yang mengenal Allah dengan pengenalan tersebut akan terdorong untuk taat dan bersungguh-sungguh dalam ibadah, berharap karunia Allah yang besar dan takut terhadap azab-Nya yang pedih.
Seorang muslim tidak cukup hanya berbaik sangka kepada Allah sementara ia tetap bergelimang dalam kemaksiatan.
Ia harus berbaik sangka kepada Allah disertai amal saleh, taubat, dan kesungguhan dalam kebaikan.
Adapun berbaik sangka kepada Allah sambil terus menerus melakukan maksiat dan bersikeras di atasnya, maka itu hanyalah tertipu.
Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata:
"Sesungguhnya orang mukmin berbaik sangka kepada Allah sehingga ia memperbaiki amalnya.
Sedangkan orang fajir berburuk sangka kepada Allah sehingga ia merusak amalnya."
Bukanlah orang yang membangkang hukum Allah termasuk orang yang berbaik sangka kepada-Nya.
Bukan pula orang yang durhaka terhadap perintah-Nya.
Dan bukan orang yang berpaling dari sebab-sebab rahmat-Nya.
Ia hanyalah orang yang tertipu oleh angan-angan palsu dan khayalan yang menyesatkan.
Bagaimana mungkin orang yang lalai dan menyia-nyiakan kewajiban dikatakan berbaik sangka kepada Rabbnya, sementara ia menjauh dari Allah, berpaling dari ketaatan, dan meninggalkan pintu-pintu rahmat serta ampunan-Nya?
Karena itu, husnuzan kepada Allah harus disertai dengan kembali kepada Allah dan memperbaiki amal.
Wahai hamba-hamba Allah,
Berbaik sangka kepada Allah hanya akan bermanfaat apabila disertai amal saleh dan rasa takut kepada Allah yang mendorong seseorang meninggalkan kemungkaran.
Inilah yang dinamakan harapan yang terpuji.
Adapun orang yang berbaik sangka kepada Allah namun tetap tenggelam dalam kemungkaran dan melalaikan kewajiban, maka ia telah merasa aman dari makar Allah.
Allah Ta'ala berfirman:
"Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali kaum yang merugi." (Al-A'raf: 99)
Al-Hasan Al-Bashri berkata:
"Ada suatu kaum yang dilalaikan oleh angan-angan akan ampunan sampai mereka keluar dari dunia tanpa membawa satu pun kebaikan. Mereka berkata, 'Kami berbaik sangka kepada Allah.'
Mereka berdusta.
Seandainya mereka benar-benar berbaik sangka kepada Allah, niscaya mereka akan memperbaiki amal mereka."
Wahai hamba-hamba Allah,
Sesungguhnya setan sangat ingin membuat seorang hamba berburuk sangka kepada Allah, memenuhi hatinya dengan keraguan terhadap kekuasaan, rahmat, atau hikmah Allah.
Termasuk buruk sangka kepada Allah adalah meyakini bahwa seseorang tidak dapat sampai kepada Allah kecuali melalui perantara malaikat, nabi, atau wali yang harus diminta syafaatnya.
Di manakah keluasan ilmu Allah?
Di manakah kesempurnaan kerajaan dan kekuasaan-Nya?
Di manakah kesempurnaan rahmat dan ihsan-Nya?
Dan di manakah kedekatan Allah serta pengabulan-Nya terhadap doa hamba-hamba-Nya?
Karena itu, berbaik sangkalah kepada Allah Rabb kalian dengan disertai amal saleh, dan waspadalah terhadap buruk sangka kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.
Aku memohon kepada Allah agar Dia menganugerahkan kepada kita keimanan yang benar kepada-Nya, ketawakalan yang jujur kepada-Nya, serta memberi taufik kepada kita untuk berbaik sangka kepada-Nya dan memperbaiki amal.
Kemudian bershalawatlah kepada Nabi Muhammad ﷺ sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam kitab-Nya:
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan."
Dan Nabi ﷺ bersabda:
"Barang siapa bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali."
"Ya Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi."
"Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka."
"Wahai hamba-hamba Allah, ingatlah Allah niscaya Dia akan mengingat kalian.
Bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya niscaya Dia akan menambahkannya kepada kalian.
Dan sungguh mengingat Allah itu lebih besar, dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan."
(Khutbah Jumat, 13 Syawwal 1446 H).