Kamis, 09 Juli 2026

KEUTAMAAN BULAN DZULQA'DAH



KEUTAMAAN BULAN DZULQA’DAH ’

Tanggal penyampaian: 17-04-2026

Poin-poin khutbah:
Keutamaan bulan-bulan haram
Keutamaan bulan Dzulqa’dah
Mengagungkan syiar dan hari-hari Allah
Peristiwa penting yang terjadi di bulan Dzulqa’dah
Peringatan dari dosa-dosa tersembunyi
Taubat

Kutipan:
“Hendaknya seorang hamba menghadap kepada Rabb-nya di bulan-bulan mulia ini, menjadikannya sebagai momentum untuk membersihkan jiwa, menghadirkan rasa keagungan terhadap Dzat yang ia maksiati ketika bermaksiat. Hendaklah ia yakin bahwa jika Allah melihat kejujuran darinya, maka Allah akan membukakan baginya pintu-pintu rahmat, menjaganya dari keburukan dirinya, dan menyertainya di malam dan siangnya. Barang siapa mengagungkan apa yang diagungkan oleh Allah, maka itu tanda hidupnya hati, lurusnya fitrah, dan benarnya taubatnya.”


KHUTBAH PERTAMA

Segala puji bagi Allah yang menjadikan bulan-bulan sebagai musim ketaatan, meninggikan derajat orang-orang yang mengagungkan hal-hal yang Dia haramkan, dan mengkhususkan sebagian bulan sebagai bulan-bulan haram yang Dia agungkan kedudukannya dan Dia tinggikan nilainya.

Aku memuji-Nya dan bersyukur kepada-Nya, dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. 

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. 

Semoga shalawat, salam, dan keberkahan tercurah kepada beliau, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Amma ba’du:

Aku wasiatkan kepada kalian dan diriku untuk bertakwa kepada Allah, karena itu adalah wasiat Allah bagi orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian. 

Allah Ta’ala berfirman:
"Dan sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan juga kepada kalian agar bertakwa kepada Allah." (An-Nisa: 131)

Wahai hamba-hamba Allah,
Inilah musim-musim kebaikan yang datang silih berganti, dan kini kita telah memasuki salah satu bulan haram. 

Dzulqa’dah termasuk bulan-bulan haram yang Allah agungkan dalam Kitab-Nya:
"Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah ada dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram… maka janganlah kalian menzalimi diri kalian pada bulan-bulan itu." (At-Taubah: 36)

Orang Arab pada masa jahiliyah pun mengagungkannya; mereka berhenti dari peperangan pada bulan itu. 

Kemudian Islam datang menetapkan pengagungan tersebut dan menambah kehormatan serta kesuciannya.

Az-Zamakhsyari رحمه الله berkata:
“Firman-Nya: ‘Itulah agama yang lurus’, maksudnya pengharaman empat bulan itu adalah agama yang lurus, yaitu agama Ibrahim dan Ismail. Orang Arab dahulu tetap berpegang padanya sebagai warisan dari keduanya.”

Wahai hamba-hamba Allah,
Seorang Muslim sepatutnya menjalani waktunya dalam keadaan tunduk, merendah, penuh harap, dan khusyuk. 

Ia meningkatkan imannya di bulan-bulan haram, memperbanyak istighfar sambil menangisi dosa masa lalu, dan memanfaatkan waktu yang tersisa.

Dzulqa’dah termasuk bulan-bulan haji. 

Allah berfirman:
"Haji itu pada bulan-bulan yang telah diketahui." (Al-Baqarah: 197)

Ibnu Umar رضي الله عنهما berkata:
“Bulan-bulan haji adalah Syawal, Dzulqa’dah, dan sepuluh hari dari Dzulhijjah.” (HR. Bukhari)

Wahai hamba-hamba Allah,
Di bulan ini hati mulai bersiap menuju hari-hari terbaik di dunia, yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah. 

Nabi ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya waktu telah berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun ada dua belas bulan, di antaranya empat bulan haram: tiga berturut-turut yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab…" (HR. Muslim)

Penetapan ini menunjukkan kedudukan dan keutamaannya. Oleh karena itu para salaf sangat mengagungkan bulan ini dan menjauhi kezaliman di dalamnya.

Qatadah رحمه الله berkata:
“Sesungguhnya kezaliman di bulan-bulan haram lebih besar dosa dan bebannya dibandingkan di bulan lainnya, meskipun kezaliman dalam setiap keadaan itu besar.”
Wahai kaum Muslimin,
Bulan ini juga menyaksikan peristiwa-peristiwa besar. Di antaranya Bai’at Ridwan, yang Allah puji dalam firman-Nya:
"Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon." (Al-Fath: 18)

Di bulan ini juga terjadi Umrah Hudaibiyah, dan Nabi ﷺ melakukan tiga umrah di bulan ini, sedangkan umrah keempat bersama haji wada’.

Anas رضي الله عنه berkata:
“Rasulullah ﷺ melakukan empat umrah, semuanya pada bulan Dzulqa’dah, kecuali yang bersama hajinya.” (HR. Bukhari)

Ini menunjukkan keutamaan umrah di bulan ini.
Dzulqa’dah adalah pintu menuju Dzulhijjah yang di dalamnya terdapat hari-hari terbaik di dunia. 

Nabi ﷺ bersabda:
"Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini."
(Yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah)

Maka Dzulqa’dah adalah medan persiapan, kesempatan untuk bertaubat, dan waktu untuk memperbanyak amal shalih.

Wahai hamba-hamba Allah,
Bersikap tenang itu terpuji kecuali dalam melakukan ketaatan dan kembali kepada Allah, karena kita diperintahkan untuk bersegera dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Allah berfirman:
"Mereka itulah yang bersegera dalam kebaikan dan mereka adalah orang-orang yang lebih dahulu mendapatkannya." (Al-Mu’minun: 61)

Dan firman-Nya:
"Berlomba-lombalah menuju ampunan dari Rabb kalian dan surga yang luasnya seperti langit dan bumi…" (Al-Hadid: 21)

Maka sudah sepantasnya seorang Muslim memanfaatkan bulan ini dengan ketaatan, menjauhi kezaliman dan maksiat, serta merasakan keagungan waktu yang Allah muliakan.

Wahai hamba-hamba Allah,
Ketaatan adalah cahaya yang memenuhi hati dan ketenangan bagi jiwa. Ia adalah karunia dari Allah yang membuka pintu-pintu kebaikan yang tak terhitung.

Ketaatan melahirkan ketaatan berikutnya, hingga seseorang merasakan kenikmatan ibadah dan membenci maksiat.

 Sebagian salaf berkata:
“Ketaatan adalah tanda diterimanya amal. Siapa yang diberi taufik melakukan kebaikan setelah kebaikan, maka itu kabar gembira baginya.”

Adapun maksiat, maka bahayanya lebih besar jika dilakukan di waktu yang dimuliakan seperti bulan-bulan haram. 

Allah berfirman:
"Di antaranya ada empat bulan haram."

Bulan-bulan tersebut adalah: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Para ulama menjelaskan bahwa dosa di dalamnya bukan sekadar maksiat, tetapi juga bentuk meremehkan kehormatan waktu yang diagungkan Allah.

Qatadah berkata:
“Amal shalih di bulan-bulan haram lebih besar pahalanya, dan kezaliman di dalamnya lebih besar dosanya.”

Maka hendaknya seorang hamba menghadap kepada Rabb-nya di bulan-bulan ini, menjadikannya sebagai sarana membersihkan jiwa, dan menghadirkan rasa takut kepada Allah.

Barang siapa mengagungkan apa yang Allah agungkan, maka itu tanda hidupnya hati,

 sebagaimana firman Allah:
"Barang siapa mengagungkan apa yang dimuliakan Allah, maka itu lebih baik baginya di sisi Rabbnya." (Al-Hajj: 30)

Aku mengatakan ini dan memohon ampun kepada Allah untukku dan kalian.



KHUTBAH KEDUA

Segala puji bagi Allah yang tidak ada sesuatu pun tersembunyi dari-Nya. 
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Amma ba’du:

Aku wasiatkan kepadamu wahai hamba Allah agar bertakwa kepada Allah dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan. Karena takwa adalah sebaik-baik bekal untuk bertemu dengan Allah.

Allah berfirman:
"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (At-Talaq: 2–3)

Wahai hamba Allah,
Jauhilah dosa-dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, karena itu adalah ujian kejujuranmu kepada Allah. Bahayanya sangat besar, karena dilakukan saat tidak ada manusia yang melihat, tetapi tidak pernah luput dari pengawasan Allah.

Allah berfirman:
"Dia mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang tersembunyi di dalam dada." (Ghafir: 19)

Nabi ﷺ bersabda:
"Aku benar-benar mengetahui suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan pahala sebesar gunung Tihamah yang putih, namun Allah menjadikannya debu yang berterbangan."
Para sahabat bertanya:
“Jelaskan kepada kami siapa mereka agar kami tidak termasuk di dalamnya.”
Beliau menjawab:
“Mereka adalah saudara-saudara kalian, dari golongan kalian, mereka juga shalat malam seperti kalian. Namun mereka adalah orang-orang yang jika bersendirian, mereka melanggar larangan Allah.”
(HR. Ibnu Majah, dishahihkan Al-Albani)

Wahai hamba-hamba Allah,
Maksiat yang tersembunyi tidaklah tersembunyi bagi Allah Yang Maha Mengetahui segala rahasia. 

Jika Allah telah menutup aibmu, maka jangan balas dengan melanggar batas-batas-Nya.

Wahai hamba Allah,
Bertaubatlah kepada Allah.

 Taubat di saat sendiri lebih dicintai Allah daripada kepalsuan kebaikan di hadapan manusia.

Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya yang tidak terlihat oleh manusia, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar." (Al-Mulk: 12)

Ya Allah, jadikanlah batin kami lebih baik daripada lahir kami. Tutupilah aib kami di dunia dan akhirat. Ampuni dosa kami yang tersembunyi maupun yang terang-terangan. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ.
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.
Wahai hamba-hamba Allah:
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan." (Al-Ahzab: 56)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar