Jumat, 14 Agustus 2026

BAHAYA RIYA



BAHAYA RIYA' 


Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasul-Nya yang mulia, kepada keluarga beliau dan seluruh sahabatnya.

Amma ba'du...

Di antara definisi riya dan sum'ah adalah apa yang dikatakan oleh Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah:
“Riya diambil dari kata ru'yah (melihat), sedangkan sum'ah berasal dari kata sama' (mendengar).”

Dengan demikian, riya berkaitan dengan indra penglihatan, sedangkan sum'ah berkaitan dengan indra pendengaran.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
“Riya adalah menampakkan ibadah dengan tujuan agar manusia melihatnya, lalu mereka memuji pelakunya.”

Riya terbagi menjadi dua :

Pertama, riya yang merupakan syirik akbar, karena masuk ke dalam dasar dan tujuan amal. Pelakunya termasuk golongan orang-orang munafik. 

Allah Ta'ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya di hadapan manusia dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit.”
(QS. An-Nisa: 142).

Orang munafik pada dasarnya tidak memiliki keinginan untuk melaksanakan ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan lainnya. Ia melakukannya hanya karena riya. Seandainya bukan karena riya, niscaya ia tidak akan shalat, tidak berpuasa, dan tidak berdzikir kepada Allah Ta'ala.

Kedua, riya yang merupakan syirik kecil, yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam. 

Riya jenis ini masuk dalam perkara memperindah atau memperbagus amal karena ingin dilihat manusia.

Misalnya seseorang pada asalnya beribadah karena Allah Ta'ala, tetapi kemudian ia memperindah ibadahnya karena riya dan sum'ah. 

Ia memperpanjang shalat agar dilihat manusia, atau mengeraskan suaranya ketika membaca Al-Qur'an dan berdzikir agar didengar manusia sehingga mereka memujinya.

Di antara sebab terbesar munculnya riya
Di antara sebab dan pendorong terbesar riya adalah:

@ Mencintai kenikmatan mendapatkan pujian, sanjungan dan penghormatan.

@ Takut mendapatkan celaan.

@ Mengharapkan sesuatu yang dimiliki oleh manusia.

Hal ini ditegaskan dalam hadits Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu. Ia berkata:
Rasulullah ﷺ ditanya tentang seseorang yang berperang karena keberanian, seseorang yang berperang karena fanatisme, dan seseorang yang berperang karena riya. Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah di antara mereka yang berada di jalan Allah?”
Rasulullah ﷺ menjawab:
“Barang siapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka ia berada di jalan Allah.”
(HR. Muslim).

Adapun orang yang berperang karena keberanian, tujuannya agar ia disebut-sebut, disyukuri, dipuji dan disanjung.

Orang yang berperang karena fanatisme, tujuannya karena ia tidak mau dikalahkan atau ditundukkan sehingga dirinya mendapatkan celaan.

Sedangkan orang yang berperang karena riya, tujuannya agar kedudukan dan kemuliaannya di hati manusia terlihat.

Bentuk-bentuk Riya
Wahai hamba-hamba Allah, riya memiliki banyak bentuk dan macam. 

Di antara yang paling penting adalah:

1. Riya melalui perbuatan

Contohnya seseorang menampakkan kekhusyukan dalam shalat dengan memperpanjang berdiri, rukuk dan sujudnya agar dilihat manusia.

Nabi ﷺ bersabda:
“Wahai manusia! Jauhilah syirik yang tersembunyi.”
Para sahabat bertanya:
“Wahai Rasulullah, apakah syirik yang tersembunyi itu?”
Beliau menjawab:
“Seseorang berdiri lalu shalat, kemudian ia memperindah shalatnya dengan sungguh-sungguh karena melihat perhatian manusia kepadanya. Itulah syirik yang tersembunyi.”

Hadits ini dinilai shahih dan diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya dan al-Baihaqi dalam As-Sunan.

2. Riya melalui ucapan

Misalnya riya dalam memberikan nasihat dan peringatan, menghafal berbagai berita dan riwayat demi berdebat, berdiskusi dan beradu argumentasi.

Termasuk pula seseorang berbangga-bangga dengan hafalan Al-Qur'annya, menggerakkan kedua bibirnya dengan dzikir di hadapan manusia agar mereka melihatnya, atau mencela dirinya sendiri di hadapan manusia agar tampak sebagai orang yang tawadhu.

3. Riya melalui pakaian

Misalnya seseorang mengenakan pakaian yang bertambal agar terlihat sebagai orang yang zuhud terhadap dunia.

Termasuk pula orang yang sengaja mengenakan pakaian kasar dan sederhana secara berlebihan, atau menggulung pakaiannya terlalu tinggi agar orang mengatakan bahwa ia adalah seorang ahli ibadah.

4. Riya melalui kondisi tubuh

Misalnya seseorang menampakkan tubuh yang kurus dan wajah yang pucat agar manusia melihatnya sebagai orang yang banyak beribadah.

Termasuk pula seseorang sengaja berfoto dengan pakaian ihram di depan Ka'bah agar dilihat oleh manusia.

Bahaya dan Dampak Buruk Riya :

Pertama

Riya merupakan sarana yang dapat menyeret pelakunya kepada syirik akbar, wal'iyadzubillah.

Kedua

Riya dapat menggugurkan amal yang disertainya dan menghilangkan keberkahannya.

Allah Ta'ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu membatalkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan penerima, seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.”
(QS. Al-Baqarah: 264).

Nabi ﷺ bersabda:
“Apabila Allah mengumpulkan manusia pada hari kiamat, pada hari yang tidak ada keraguan padanya, seorang penyeru akan menyeru: ‘Barang siapa yang menyekutukan seseorang dalam amal yang ia kerjakan karena Allah, hendaklah ia mencari pahalanya dari selain Allah. Sesungguhnya Allah Mahakaya dari segala bentuk kesyirikan.’”
(HR. Tirmidzi, dinilai hasan).

Ketiga

Riya dapat menjadi sebab pelakunya mendapatkan azab pada hari kiamat.

Nabi ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya orang yang pertama kali diputuskan perkaranya pada hari kiamat adalah seseorang yang mati syahid...”
Kemudian Nabi ﷺ menyebutkan bahwa Allah memperlihatkan kepadanya berbagai nikmat yang telah diberikan kepadanya, lalu ia mengaku bahwa dirinya telah berperang karena Allah sampai mati syahid.
Allah berkata kepadanya:
“Kamu berdusta. Akan tetapi kamu berperang agar dikatakan: ‘Dia seorang pemberani.’ Dan itu telah dikatakan.”
Kemudian diperintahkan agar ia diseret dengan wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.
Kemudian disebutkan pula seseorang yang mempelajari ilmu, mengajarkannya dan membaca Al-Qur'an. Ketika ditanya tentang amalnya, ia mengaku telah belajar ilmu, mengajarkannya dan membaca Al-Qur'an karena Allah.
Allah berfirman kepadanya:
“Kamu berdusta. Akan tetapi kamu belajar ilmu agar dikatakan: ‘Dia seorang alim.’ Dan kamu membaca Al-Qur'an agar dikatakan: ‘Dia seorang qari.’ Dan itu telah dikatakan.”
Kemudian ia diperintahkan agar diseret dengan wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.
(HR. Muslim).

Keempat

Riya termasuk fitnah yang sangat ditakutkan Nabi ﷺ atas umatnya.

Beliau bersabda:
“Maukah aku beritahukan kepada kalian sesuatu yang lebih aku takutkan atas kalian daripada Al-Masih Ad-Dajjal?”
Para sahabat menjawab, “Tentu.”
Beliau bersabda:
“Syirik yang tersembunyi, yaitu seseorang berdiri untuk shalat kemudian ia memperindah shalatnya karena melihat perhatian seseorang kepadanya.”
(HR. Ibnu Majah, dinilai hasan).

Nabi ﷺ juga bersabda:
“Sesungguhnya perkara yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.”
Para sahabat bertanya:
“Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Riya. 
Allah Ta'ala berfirman kepada mereka pada hari kiamat, ketika manusia mendapatkan balasan atas amal-amal mereka: ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu kalian riya kepada mereka di dunia. Lihatlah, apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?’”
(HR. Ahmad dalam Al-Musnad, dinilai shahih).

Kelima

Riya dapat menyebabkan kehinaan, kerendahan, kenistaan dan terbukanya aib seseorang, baik di dunia maupun di akhirat.

Nabi ﷺ bersabda:
“Barang siapa melakukan sum'ah, Allah akan memperdengarkan keburukannya; dan barang siapa melakukan riya, Allah akan menampakkan riya-nya.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Keenam

Riya menjadi salah satu sebab kekalahan umat.

Nabi ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah hanya memberikan pertolongan kepada umat ini melalui orang-orang lemahnya, yaitu melalui doa, shalat dan keikhlasan mereka.”
(HR. An-Nasa'i, dinilai shahih).

Hadits ini menunjukkan bahwa keikhlasan kepada Allah merupakan sebab seseorang berhak mendapatkan pertolongan Allah, sedangkan riya menjadi salah satu sebab kekalahan umat.



Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah...
Wahai hamba-hamba Allah!
Apabila riya merupakan perkara yang sangat berbahaya, dapat menggugurkan amal, menjadi sebab kemurkaan dan kebencian Allah Ta'ala, serta termasuk perkara yang membinasakan dan dapat menyeret seseorang kepada syirik akbar, maka sudah semestinya seorang muslim bersungguh-sungguh untuk menghilangkannya, memutus akar-akarnya dan berusaha memperoleh keikhlasan kepada Allah Ta'ala dalam seluruh keadaan dan amalnya.

Di antara sarana terpenting untuk mengobati penyakit berbahaya ini adalah:

1. Mengenal keagungan Allah Ta'ala
Yaitu dengan mengenal nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Allah dengan pemahaman yang benar, berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah, sesuai dengan pemahaman salafus shalih.

2. Memohon pertolongan Allah untuk mendapatkan keikhlasan
Hendaknya seorang muslim berlindung kepada Allah, berdoa kepada-Nya dan memohon perlindungan dari riya.

Rasulullah ﷺ telah mengajarkan hal tersebut kepada kita. Beliau bersabda:
“Wahai manusia! Takutlah kalian terhadap syirik ini, karena ia lebih tersembunyi daripada langkah semut.”
Sebagian sahabat bertanya:
“Bagaimana kami dapat menghindarinya, wahai Rasulullah, padahal ia lebih tersembunyi daripada langkah semut?”
Beliau menjawab:
“Ucapkanlah:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ
‘Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampun kepada-Mu dari sesuatu yang tidak kami ketahui.’”
(HR. Ahmad dalam Al-Musnad, dinilai hasan).

3. Mengenal berbagai bentuk amal yang ditujukan untuk dunia

Hendaknya seseorang mengetahui berbagai bentuk amal yang dilakukan demi kepentingan dunia, serta mengetahui macam-macam riya, pembagiannya dan sebab-sebabnya.

Setelah itu ia berusaha memutus dan mencabut akar-akar riya tersebut.
Sebab, seseorang terkadang terkena penyakit ini karena kebodohan atau karena kurang waspada.

4. Mengetahui akibat riya di dunia dan akhirat

Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata:
“Barang siapa menghiasi dirinya dengan sesuatu yang sebenarnya tidak ada pada dirinya, Allah akan membuatnya menjadi buruk.”

Al-Khaththabi rahimahullah berkata:
“Barang siapa melakukan suatu amal tanpa keikhlasan, tetapi hanya ingin agar manusia melihat dan mendengarnya, maka ia akan diberi balasan dengan Allah menyebarluaskan dan mempermalukannya serta menampakkan apa yang selama ini ia sembunyikan.”

Di antara akibat riya di akhirat adalah terbukanya aib seseorang di hadapan seluruh manusia, sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang tiga golongan yang pertama kali api neraka dinyalakan untuk mereka.

5. Menyembunyikan dan merahasiakan amal

Al-Qur'an telah menunjukkan keutamaan sedekah yang dilakukan secara tersembunyi.

Di antara tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya adalah:
“Seseorang yang bersedekah lalu menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu kedua matanya berlinang air mata.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi ﷺ juga bersabda:
“Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bertakwa, merasa cukup, dan tersembunyi.”
(HR. Muslim).

6. Mengingat kematian dan pendeknya angan-angan

Hendaknya seorang muslim selalu mengingat kematian, menyadari bahwa kehidupan dunia ini singkat, dan takut terhadap su'ul khatimah (akhir kehidupan yang buruk).

7. Mengetahui buah dan manfaat keikhlasan

Hendaknya seorang muslim mengetahui berbagai buah dan manfaat ikhlas di dunia maupun di akhirat.

Ia juga hendaknya bergaul dengan orang-orang yang ikhlas dan bertakwa, karena teman yang ikhlas tidak akan membuatmu kehilangan kebaikan.
Berbeda dengan teman yang suka melakukan riya.

Beberapa Hal yang Disangka Riya, Padahal Bukan Riya

Wahai kaum muslimin!

Ada beberapa perkara yang sebagian orang mengira sebagai riya, padahal sebenarnya bukan riya.

1. Mendapatkan pujian setelah melakukan amal secara ikhlas

Apabila seseorang melakukan amal saleh dengan ikhlas karena Allah Ta'ala, kemudian Allah menjadikan pujian yang baik terhadap dirinya muncul di hati dan lisan orang-orang beriman, lalu ia merasa gembira dengan hal tersebut, maka hal itu tidak membahayakannya dan tidak termasuk riya.

Allah Ta'ala berfirman:
“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
(QS. Yunus: 58).

Nabi ﷺ juga pernah ditanya tentang seseorang yang melakukan suatu amal kebaikan lalu manusia memujinya karena amal tersebut.
Beliau menjawab:
“Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.”
(HR. Muslim).

2. Bertambah semangat dalam beribadah ketika melihat orang-orang yang beribadah

Seseorang yang menjadi lebih bersemangat dalam melakukan kebaikan dan beribadah ketika melihat orang-orang yang rajin beribadah atau ketika berkumpul bersama orang-orang yang ikhlas dan saleh, hal itu tidak otomatis merupakan riya.

3. Menyembunyikan dosa

Menyembunyikan dosa dan tidak menampakkannya bukan termasuk riya.

Bahkan, hal itu merupakan kewajiban syar'i, karena Allah Ta'ala membenci ditampakkannya kemaksiatan dan menyukai ditutupinya aib.

4. Menampakkan syiar-syiar Islam

Menampakkan syiar-syiar Islam seperti shalat Jumat, shalat berjamaah, haji, umrah dan yang lainnya, bukanlah riya.

Seorang muslim tidak disebut sebagai orang yang riya hanya karena menampakkan syiar-syiar tersebut, karena meninggalkan sebagian syiar tersebut justru dapat menyebabkan seseorang mendapatkan celaan dan kemurkaan.
Wallahu a'lam.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar