Jumat, 07 Agustus 2026

KEAMANAN NEGERI ADALAH TANGGUNG JAWAB BERSAMA


"KEAMANAN NEGERI ADALAH TANGGUNG JAWAB BERSAMA"


 Karya : Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al-Muhays


Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi Karunia. 

Dia telah menganugerahkan kepada hamba-hamba-Nya nikmat kesehatan dan kesejahteraan, melimpahkan kelembutan-Nya kepada mereka dalam kesulitan dan musibah, menurunkan pertolongan dan kesabaran kepada mereka, serta mengilhamkan keridaan dan rasa syukur dalam hati mereka.

Kita memuji-Nya dengan pujian yang banyak dan bersyukur kepada-Nya dengan syukur yang berlimpah. 

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. 

Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. 

Semoga Allah melimpahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, keluarga, para sahabat beliau, serta memberikan salam yang sebanyak-banyaknya.

Amma ba‘du...

Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan merasa diawasi oleh-Nya dalam kesendirian maupun keramaian. 

Allah Ta‘ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

Wahai kaum muslimin,
Di antara nikmat yang sangat besar setelah nikmat Islam adalah nikmat keamanan yang Allah anugerahkan kepada negeri kita. 

Dengan keamanan itu negeri menjadi stabil, masyarakat hidup tenteram, bumi dapat dimakmurkan, serta terjaga agama, jiwa, akal, harta, dan kehormatan. 

Semua itu merupakan karunia dan anugerah dari Allah Ta‘ala.

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka, serta sungguh Dia akan menggantikan keadaan mereka setelah ketakutan menjadi keamanan. Mereka beribadah kepada-Ku dan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu apa pun.” (QS. An-Nur: 55)

Karena itu, setelah Allah memuliakan kita dengan nikmat keamanan, maka wajib bagi kita untuk saling bekerja sama, saling menasihati, dan bersatu dalam menjaga nikmat tersebut, terlebih di tengah berbagai peristiwa yang bergolak dan peperangan yang berkecamuk. 

Hal itu dapat dilakukan dengan beberapa cara:

Pertama:

Mensyukuri nikmat keamanan yang Allah berikan dengan istiqamah dalam ketaatan kepada-Nya dan menjauhi segala yang mendatangkan murka serta kemurkaan-Nya.

 Dengan bersyukur, nikmat akan terus terjaga dan bertambah.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian. Tetapi jika kalian kufur, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Kedua:

Memohon kepada Allah ampunan, kesehatan, keselamatan, dan perlindungan yang terus-menerus.

Rifa‘ah bin Rafi‘ radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pernah berdiri di atas mimbar lalu menangis. 
Kemudian beliau berkata: Rasulullah ﷺ pernah berdiri di atas mimbar pada tahun sebelumnya lalu menangis, kemudian bersabda:
‘Mintalah kepada Allah ampunan dan keselamatan (afiyah), karena tidak ada seorang pun yang diberikan sesuatu setelah keyakinan (iman) yang lebih baik daripada afiyah.’”
(HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani)

Yang dimaksud dengan keyakinan (al-yaqin) adalah iman dan pemahaman yang benar dalam agama.

Ketiga:

Waspada dan memperingatkan dari penyebaran serta peredaran berita bohong dan desas-desus, serta tergesa-gesa dalam menyebarkan berita yang menimbulkan kepanikan. 

Sebab hal itu termasuk penyakit paling berbahaya yang mengancam masyarakat dan persatuannya, mengganggu ketenteramannya, serta mengguncang keamanan dan stabilitasnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang didengarnya.” (HR. Muslim)

Keempat:

Hendaknya berhati-hati dari membicarakan berbagai peristiwa dan krisis di majelis-majelis maupun media sosial, serta menyerahkan urusan tersebut kepada para ahli dan pihak yang diberi wewenang oleh Allah untuk menanganinya.

Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka langsung menyiarkannya. Padahal jika mereka menyerahkannya kepada Rasul dan kepada ulil amri di antara mereka, niscaya orang-orang yang mampu mengambil kesimpulan akan mengetahuinya dari mereka.” (QS. An-Nisa’: 83)

Seorang muslim yang berpegang teguh kepada agamanya dengan benar akan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya dan menyibukkan dirinya dengan perkara yang membawa manfaat. 

Ia menggunakan waktu dan umurnya untuk hal-hal yang mendatangkan kebaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi dan lainnya)

Kelima:

Berhati-hatilah dari merekam, menyebarkan, atau memperdagangkan video dan gambar yang berkaitan dengan peristiwa keamanan atau lokasi-lokasi militer. 

Sebab hal itu dapat menimbulkan kepanikan, menyebarkan rasa takut, membahayakan jiwa dan kepentingan umum, membantu musuh melanjutkan agresinya, serta mewujudkan tujuan-tujuan mereka.

Semoga Allah menjaga negeri kita, melanggengkan keamanan dan stabilitasnya, serta menggagalkan tipu daya musuh-musuhnya.

Aku berkata demikian, dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku, kalian, dan seluruh kaum muslimin. 
Maka mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan-Nya. 

Syukur bagi-Nya atas taufik dan karunia-Nya. 

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah sebagai bentuk pengagungan kepada-Nya. 

Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang mengajak kepada keridaan-Nya. 

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, keluarga, para sahabat, dan para penolong beliau.

Amma ba‘du...

Wahai kaum muslimin,..

bertakwalah kepada Allah Ta‘ala dan ketahuilah bahwa siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka ia tidak bersyukur kepada Allah.

Termasuk bentuk syukur kepada Allah adalah menghargai dan menyebut jasa para pemimpin yang Allah berikan taufik dalam menjaga keamanan kita, berjaga demi kenyamanan kita, serta melindungi berbagai kepentingan kita. 

Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk mendengar dan taat kepada mereka dalam perkara yang ma‘ruf, baik ketika senang maupun susah, dalam keadaan lapang maupun sempit.

Demikian pula hendaknya kita mendoakan mereka agar diberikan penjagaan dan taufik, serta memohon kepada Allah agar senantiasa melanggengkan kemuliaan dan kekuatan negeri, menjaga keamanan, ketenteraman, dan stabilitasnya, serta menjaga seluruh negeri kaum muslimin.

Kita juga memohon agar Allah menjaga para prajurit yang membela negeri, meluruskan pandangan mereka, dan menepatkan sasaran mereka.

Kemudian bershalawatlah dan ucapkan salam kepada Nabi kalian sebagaimana Allah memerintahkan:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada hamba dan utusan-Mu, Nabi kami Muhammad, kepada keluarga beliau yang suci, serta ridhailah para Khulafaur Rasyidin, seluruh sahabat, para tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. 

Ridhailah pula kami bersama mereka dengan karunia dan kemurahan-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin, hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik, serta tolonglah hamba-hamba-Mu yang mentauhidkan-Mu.

Ya Allah, jagalah negeri kami dari tipu daya para perusak dan agresi para musuh. 

Ya Allah, berilah taufik kepada para pemimpin kami, kuatkan mereka dengan pertolongan-Mu, jadikan mereka sebagai penolong agama-Mu, dan karuniakan kepada mereka para penasihat yang saleh dan tulus.

Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, yang masih hidup maupun yang telah wafat. 

Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Maha Mengabulkan doa.

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau, dan seluruh sahabat beliau.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar