Jumat, 07 Agustus 2026

NIKMAT AMAN DALAM NEGERI



NIKMAT KEAMANAN DALAM NEGERI 



Segala puji bagi Allah yang memberikan rasa aman kepada orang-orang yang takut, dan yang senantiasa melimpahkan nikmat kepada orang-orang yang bersyukur. 

Aku memuji-Nya atas nikmat keamanan dan keimanan, serta bersyukur kepada-Nya atas karunia berupa stabilitas dan ketenteraman. 

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. 

Dia menjadikan keamanan sebagai fondasi pembangunan dan kunci kebahagiaan manusia. 

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang menyeru kepada persatuan dan melarang perpecahan serta kehinaan. 

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kemudian.

Amma ba‘du,..

Bertakwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah, dan ketahuilah bahwa di antara nikmat yang paling agung adalah nikmat keamanan dan stabilitas. 

Nikmat yang apabila hilang, maka kehidupan menjadi kacau, berbagai kepentingan terhenti, hati menjadi gelisah, dan jalan-jalan kehidupan menjadi sempit.

Allah Ta‘ala berfirman:
“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian.” (QS. Ibrahim: 7)

Rasa syukur adalah pengikat nikmat, sebab kelanggengannya, dan penjaga keberlangsungannya.
Allah juga telah memberikan karunia kepada kaum Quraisy dengan nikmat keamanan,

sebagaimana firman-Nya:
“Yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut.” (QS. Quraisy: 4)

Allah menyandingkan keamanan dengan kebutuhan pangan, dan menjadikannya sebagai pasangan kehidupan.

Wahai kaum muslimin,
Kita di negeri yang diberkahi ini hidup dalam nikmat keamanan dan stabilitas. 

Kita dapat menunaikan ibadah dengan tenang dan aman, serta berkumpul di masjid-masjid tanpa rasa takut dan kegelisahan.
Itu semua merupakan karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.

Imam Ibnul Qayyim berkata:
“Agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. 
Agama adalah fondasinya, sedangkan penguasa adalah penjaganya. 
Sesuatu yang tidak memiliki penjaga akan hilang dan rusak.”

Al-Mawardi berkata:
“Kepemimpinan (imamah) ditetapkan sebagai pengganti kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia.”

Keamanan tidak akan tegak kecuali dengan adanya jamaah, jamaah tidak akan tegak kecuali dengan adanya kepemimpinan, dan kepemimpinan tidak akan kokoh kecuali dengan sikap mendengar dan taat dalam perkara yang ma‘ruf.

Wahai hamba-hamba Allah,..

Keamanan memiliki sebab-sebab yang mengantarkannya.

Sebab yang paling agung untuk mewujudkan keamanan adalah menjauhi kesyirikan kepada Allah.

Allah Ta‘ala berfirman:
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang memperoleh keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An‘am: 82)

Agar kita memperoleh keamanan yang sempurna, hendaknya kita menjadi orang-orang yang berusaha mewujudkan kemaslahatan bagi negeri kita dan mencegah berbagai kerusakan yang mengancamnya.

Kita juga harus berhati-hati dari menyebarkan dan memperedarkan berita-berita yang belum jelas kebenarannya, serta merekam dan menyebarkan video yang berkaitan dengan berbagai peristiwa dan kejadian. 

Karena hal itu dapat menjadi sebab hilangnya keamanan, sebab di dalamnya terdapat unsur penyebaran ketakutan, pengguncangan masyarakat, dan bantuan secara tidak langsung kepada musuh.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi berkata:
“Hadis ini merupakan peringatan agar tidak tergesa-gesa dalam menyampaikan berita. 
Seseorang sudah dianggap berdusta ketika ia menceritakan semua yang didengarnya.”

Betapa banyak berita yang disebarkan tanpa tabayyun (klarifikasi), lalu menjadi sebab ketakutan bagi orang yang aman, kegelisahan bagi orang yang tenang, dan kegoncangan dalam masyarakat.

Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka langsung menyiarkannya.” (QS. An-Nisa’: 83)

Kemudian Allah berfirman:
“Seandainya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan kepada ulil amri di antara mereka, niscaya orang-orang yang mampu mengambil kesimpulan akan mengetahuinya.” (QS. An-Nisa’: 83)

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata:
“Dalam ayat ini terdapat pelajaran agar tidak tergesa-gesa dalam berbagai urusan sebelum kebenarannya dipastikan.”

Maka bertakwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah...

Jagalah lisan kalian,.. peliharalah masyarakat kalian,.. dan bersyukurlah kepada Rabb kalian atas nikmat-Nya agar Dia terus melanggengkannya dan memberkahinya bagi kalian.

Di antara petunjuk Islam adalah meninggalkan pembicaraan tentang perkara yang tidak dikuasai ilmunya, yang tidak mampu dikendalikan, dan tidak mampu ditimbang dengan benar.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi)

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata:
“Hadis ini merupakan landasan agung dalam adab. 
Barang siapa meninggalkan perkara yang tidak berkaitan dengannya, maka ia akan selamat dari berbagai keburukan.”

Karena itu, membicarakan berbagai peristiwa dan krisis di majelis-majelis maupun media sosial tanpa ilmu dan tanpa verifikasi bukanlah bagian dari kebijaksanaan. 
Bahkan terkadang termasuk bentuk penyebaran ketakutan dan kegelisahan di tengah masyarakat.

Allah telah melarang penyebaran berita sebelum dikembalikan kepada para ahli dan pihak yang berwenang, karena merekalah yang lebih mengetahui pertimbangan kemaslahatan dan kemudaratan.

Wahai kaum mukminin,..

Sesungguhnya merekam dan menyebarkan video yang berkaitan dengan kejadian-kejadian keamanan dapat membahayakan jiwa manusia, membantu pihak yang berbuat kejahatan mencapai tujuannya, serta menebarkan rasa takut di tengah masyarakat.

Syariat Islam datang untuk menutup jalan-jalan yang mengantarkan kepada kerusakan, menjaga jiwa manusia, dan memelihara kemaslahatan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
“Segala sesuatu yang mengantarkan kepada kerusakan maka ia terlarang, meskipun pada asalnya perkara itu mubah.”

Wahai hamba-hamba Allah,...

Di antara bentuk syukur atas nikmat adalah berdoa agar nikmat tersebut terus berlangsung. 
Karena itu, perbanyaklah doa agar Allah menjaga negeri kita, para pemimpinnya, serta melanggengkan keamanan dan stabilitas di negeri ini.

Berdoalah agar Allah menjaga para prajurit yang bertugas menjaga keamanan dan memberikan ketepatan dalam pandangan serta tindakan mereka.

Di antara doa yang paling agung adalah ucapan:

“Hasbunallāhu wa ni‘mal wakīl”

“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung.”

Kalimat ini senantiasa diucapkan oleh para nabi dan rasul ‘alaihimush shalātu was salām.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
“Hasbunallāhu wa ni‘mal wakīl diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika beliau dilemparkan ke dalam api. 

Dan diucapkan pula oleh Nabi Muhammad ﷺ ketika orang-orang berkata kepada beliau:
‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, maka takutlah kepada mereka.’
Tetapi hal itu justru menambah keimanan mereka, lalu mereka berkata:
‘Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung.’”
(HR. Al-Bukhari)

Kalimat “Hasbunallāhu wa ni‘mal wakīl” adalah kalimat memohon pertolongan kepada Sang Pencipta ketika seluruh sebab-sebab makhluk terasa terputus. 

Ia menjadi tempat berlindung bagi orang yang ketakutan dan penghibur bagi orang yang bersedih.

Makna “Hasbiyallāh” adalah:
“Allah telah mencukupiku, sehingga aku tidak membutuhkan selain-Nya.”

Sedangkan makna “Ni‘mal Wakīl” adalah:
“Sebaik-baik Dzat yang aku serahkan seluruh urusanku kepada-Nya, dan sebaik-baik Dzat yang mengatur segala keadaanku.”

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
“Bagaimana aku dapat merasa tenang sementara pemegang sangkakala telah meletakkan mulutnya pada sangkakala itu, menunggu kapan diperintahkan untuk meniupnya?”
(Para sahabat merasa berat mendengar hal itu)
Maka beliau bersabda:
“Ucapkanlah: Hasbunallāhu wa ni‘mal wakīl, ‘alallāhi tawakkalnā (Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung, hanya kepada Allah kami bertawakal).”
(HR. At-Tirmidzi, dan asal hadisnya terdapat dalam Shahih Al-Bukhari)


Ketahuilah bahwa bersandar kepada sebab-sebab lahiriah semata tanpa bertawakal kepada Allah adalah bentuk kehinaan dan kegagalan yang nyata. 

Sebaliknya, meninggalkan sebab-sebab sama sekali juga merupakan kekeliruan yang tercela.

Seorang mukmin yang benar adalah orang yang bekerja dengan anggota badannya dan bertawakal dengan hatinya kepada Allah.

Ucapan “Hasbiyallāh” (Cukuplah Allah bagiku) diucapkan ketika berbagai pintu terasa tertutup di hadapanmu, lalu Allah membukakan bagimu pintu-pintu langit. 

Keselamatan terletak pada penyerahan urusan kepada Allah, dan kemuliaan terletak pada sikap membutuhkan Raja Yang Maha Perkasa.

Barang siapa mencintai negerinya dengan tulus dan menginginkan kebaikan serta keamanan baginya, maka engkau akan melihatnya sebagai orang yang taat kepada Rabbnya, mengikuti Rasulnya ﷺ, dan taat kepada para pemimpinnya dalam perkara yang ma'ruf.

Ketahuilah bahwa menjaga persatuan kaum muslimin merupakan salah satu prinsip besar Islam. 

Allah telah mewasiatkannya melalui firman-Nya:
“Dan berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)

Demikian pula Nabi ﷺ mewasiatkannya melalui sabdanya:
“Tangan Allah bersama al-jamā‘ah (persatuan kaum muslimin).”

Dan Allah tidak menyukai orang yang berkhianat lagi bergelimang dosa.

Wahai para pemuda Islam,
Berpegangteguhlah kepada bimbingan para ulama kalian, tetaplah bersama jamaah kaum muslimin, dan perbanyaklah doa untuk para pemimpin urusan kalian.

 Mohonlah kepada Allah ampunan, keselamatan, dan perlindungan dari berbagai fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi.

Mohonlah perlindungan dari suara-suara yang menyesatkan dan merusak, yang menyebarkan racun pemikiran mereka dari luar negeri ataupun melalui media internet.

Kita memohon kepada Allah agar Dia memuliakan Islam dan kaum muslimin, menghinakan kekufuran dan orang-orang kafir, serta menjaga negeri kita dari segala keburukan dan musibah.

Aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku dan untuk kalian dari setiap dosa. Maka mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah yang melimpahkan berbagai kebaikan dan meluaskan rahmat-Nya. 

Pada bulan Ramadan Dia memiliki berbagai anugerah dan pemberian yang besar.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. 

Dia mengabulkan doa orang yang memohon kepada-Nya dan memberi petunjuk kepada orang yang tersesat.

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. 

Semoga Allah melimpahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga Hari Kiamat.

Amma ba‘du,

Bertakwalah kepada Allah dan taatilah-Nya. 

Sampaikan seluruh kebutuhan dan harapan kalian kepada-Nya. 

Sesungguhnya telah datang malam-malam penuh harapan, karunia, dan rahmat; malam-malam pembebasan dari api neraka.

Wahai hamba-hamba Allah,..

Janganlah kalian lemah dalam beribadah. Hendaklah kalian berada di masjid-masjid, bersama mushaf-mushaf Al-Qur'an dan para imam kalian; berdiri, rukuk, sujud, membaca Al-Qur'an, berdoa, dan beristighfar.

Sesungguhnya yang tersisa hanyalah beberapa malam yang sedikit. 

Pada malam-malam itu orang yang diterima amalnya akan memperoleh pahala yang besar, dan orang yang dirahmati akan mendapatkan karunia yang melimpah.

Maka perlihatkanlah kepada Allah amal terbaik dari diri kalian, niscaya Dia akan memberikan kebaikan kepada kalian.

Wahai hamba-hamba Allah,
Rasulullah ﷺ bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan melebihi kesungguhan beliau pada malam-malam lainnya.

Sebagaimana Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:
"Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah ﷺ menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh, dan mengencangkan ikat pinggangnya."
(Muttafaq 'alaih)

Bahkan beliau beri'tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan untuk memutuskan diri dari kesibukan dunia dan mencari malam Lailatul Qadar.

Wahai orang-orang yang beriman,...

Betapa indah ucapan seseorang:
"Dahulu aku bertanya-tanya, bagaimana mungkin para salaf dapat berlama-lama bersama Al-Qur'an? Namun ketika aku melihat orang-orang yang begitu lama tenggelam dengan telepon genggam mereka, hilanglah keherananku. 
Aku pun memahami bahwa hati akan selalu terpaut dan tekun pada sesuatu yang dicintainya."

Apakah kalian dapat membayangkan bahwa sebagian orang, karena begitu kuat keterikatannya dengan telepon genggam, sampai tertidur sementara ponsel masih berada di tangannya?

Wahai orang-orang yang beriman,...

Menghadap kepada Allah dengan ketaatan dituntut pada setiap waktu. 
Namun pada sepuluh malam terakhir Ramadan, keutamaan ibadah berpadu dengan kemuliaan waktu.

Maka tinggalkanlah kenikmatan tidur, usirlah rasa malas dari diri kalian, dan jadilah termasuk orang-orang yang Allah puji dalam firman-Nya:

"Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun kepada Allah."
(QS. Adz-Dzariyat: 17–18)

Perbanyaklah mengucapkan:

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عنا

"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, mencintai pemaafan, maka maafkanlah kami."

Wahai hamba-hamba Allah,
Rasulullah ﷺ bersabda:

"Hendaklah kalian melaksanakan qiyamul-lail, karena itu adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian. Ia merupakan sarana mendekatkan diri kepada Rabb kalian, penghapus dosa-dosa, dan pencegah dari perbuatan maksiat."
(HR. At-Tirmidzi)

Maka bersungguh-sungguhlah dalam malam-malam yang penuh berkah ini. 

Barang siapa jujur kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya taufik menuju apa yang dicita-citakannya.

Di antara tanda kejujuran seorang hamba adalah menjauhi segala sesuatu yang menghalanginya dari qiyamul-lail, baik berupa kemaksiatan, begadang dalam dosa, maupun kelalaian.

Ya Allah, ampunilah kesalahan-kesalahan kami, amankanlah ketakutan-ketakutan kami, dan tutuplah aib-aib kami.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin, hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik, serta binasakanlah musuh-musuh-Mu, musuh-musuh agama-Mu.

Ya Allah, siapa saja yang menghendaki keburukan terhadap agama kami, negeri kami, dan keamanan kami, maka sibukkanlah dia dengan dirinya sendiri, cerai-beraikan persatuannya, dan tampakkanlah kehinaannya di hadapan manusia.

Ya Allah, berilah taufik kepada para pemimpin urusan kami menuju apa yang Engkau cintai dan ridhai. Bantulah mereka dalam kebajikan dan ketakwaan.

Ya Allah, tolonglah mereka untuk menegakkan kebenaran dan jangan Engkau jadikan mereka ditolong dalam kebatilan. Berikanlah mereka petunjuk dan mudahkanlah jalan petunjuk bagi mereka.

Ya Allah, tolonglah para tentara kami dan jagalah perbatasan-perbatasan negeri kami.
Penutup Khutbah:

"Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan, berbuat ihsan, dan memberi kepada kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian mengambil pelajaran."
(QS. An-Nahl: 90)

Maka ingatlah Allah, niscaya Dia akan mengingat kalian.

Bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambahkannya kepada kalian. 

Dan sungguh, mengingat Allah adalah perkara yang paling besar, dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar