Jumat, 07 Agustus 2026

NIKMAT KEAMANAN DALAM NEGERI


“Nikmat Keamanan di Negeri”

 Karya Khalid Asy-Syayi'



Khutbah Pertama

Amma ba’du...

Wahai manusia, tidak ada sesuatu pun yang dapat menyamai nikmat keamanan di sebuah negeri setelah hidayah kepada akidah yang benar.

Tanpa keamanan, seorang hamba tidak akan mampu menemukan jalan menuju kebahagiaan. 

Rasa takut akan merusak ketenangan hidupnya setiap saat, bahkan dapat melumpuhkan kehidupan itu sendiri.

Allah telah mengaruniakan nikmat keamanan kepada hamba-hamba-Nya. 

Allah berfirman:
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, padahal manusia di sekeliling mereka saling dirampok dan diculik?” (QS. Al-'Ankabut: 67)

Bukti nyata ayat ini dapat dilihat dengan memperhatikan negeri-negeri di sekitar kita yang kehilangan keamanan; bagaimana keadaan hidup mereka sekarang?

Allah juga memberikan perumpamaan kepada manusia tentang sebuah negeri yang dahulu menjadi pelajaran besar, yaitu negeri Saba'. 

Allah menceritakan kisah mereka dalam Al-Qur'an:
“Sungguh, bagi kaum Saba' terdapat tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua kebun di sebelah kanan dan kiri. (Dikatakan kepada mereka), ‘Makanlah dari rezeki Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu adalah) negeri yang baik dan (Tuhanmu adalah) Tuhan Yang Maha Pengampun.’ Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir besar yang merusak, dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang menghasilkan buah-buahan pahit, pohon atsl dan sedikit pohon bidara. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan hukuman yang demikian itu melainkan kepada orang-orang yang sangat kufur.” (QS. Saba': 15-17)

Di antara raja-raja Himyar di Yaman terdapat Ratu Balqis yang kisahnya disebutkan Allah bersama Nabi Sulaiman ‘alaihis salam. 

Mereka hidup dalam kebahagiaan yang besar, rezeki yang melimpah, buah-buahan dan hasil pertanian yang banyak. 

Mereka juga berada di atas jalan yang lurus dan petunjuk yang benar. 

Namun ketika mereka mengganti nikmat Allah dengan kekufuran, mereka menyeret kaumnya kepada kehancuran.

Wahb bin Munabbih berkata bahwa Allah mengutus kepada mereka tiga belas nabi.

Namun ketika mereka berpaling dari petunjuk menuju kesesatan dan menyembah matahari selain Allah, baik pada masa Balqis maupun sebelumnya, dan terus berlangsung hingga Allah menurunkan kepada mereka banjir besar yang menghancurkan sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat di atas.

Para ulama salaf dan khalaf dari kalangan ahli tafsir menjelaskan bahwa Bendungan Ma'rib dibangun di antara dua gunung. 

Mereka menutup celah di antara kedua gunung itu dengan bangunan yang sangat kokoh sehingga air tertahan dan naik hingga ke puncak-puncak gunung. 

Di sana mereka menanam kebun-kebun yang indah, pohon-pohon berbuah, serta berbagai tanaman yang melimpah.

Dikatakan bahwa yang pertama membangunnya adalah Saba' bin Ya'rub. 

Tujuh puluh lembah mengalir ke bendungan itu. 

Ia membuat tiga puluh saluran air darinya.

Namun ia meninggal sebelum pembangunan selesai, lalu disempurnakan oleh kaum Himyar setelahnya. 

Luas bendungan itu sekitar satu farsakh kali satu farsakh.

Mereka hidup dalam kenikmatan yang luar biasa, kehidupan yang makmur, dan hari-hari yang menyenangkan.

Bahkan Qatadah dan ulama lainnya menyebutkan bahwa seorang wanita berjalan membawa keranjang di atas kepalanya, lalu keranjang itu terisi penuh oleh buah-buahan yang jatuh karena begitu banyak dan matangnya hasil panen.

Disebutkan pula bahwa di negeri mereka tidak ada kutu, serangga berbahaya, maupun hewan pengganggu karena udaranya yang sehat dan lingkungannya yang baik.

Sebagaimana firman Allah:
“Sungguh, bagi kaum Saba' terdapat tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka... 
(yaitu) negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS. Saba': 15)

Dan Allah berfirman:
“Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Tatkala mereka menyembah selain Allah, mengingkari nikmat-Nya, serta merasa bosan dengan kemudahan yang mereka rasakan, dekatnya jarak antar kampung, indahnya kebun-kebun, dan amannya perjalanan, mereka justru meminta agar perjalanan mereka dijadikan jauh dan sulit.

Mereka ingin menukar kebaikan dengan keburukan, sebagaimana Bani Israil meminta mengganti manna dan salwa dengan sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah.

Akibatnya, mereka dicabut dari nikmat yang agung itu. 

Negeri mereka dihancurkan dan mereka tercerai-berai ke berbagai penjuru. 

Allah berfirman:
“Maka mereka berpaling, lalu Kami datangkan kepada mereka banjir besar yang merusak.”

Sebagian ulama menyebutkan bahwa Allah mengirim seekor tikus besar atau sejenis binatang pengerat yang menggerogoti dasar bendungan. 

Ketika mereka menyadarinya, mereka menempatkan banyak kucing untuk mengusirnya, namun semuanya tidak berguna. 

Ketika takdir Allah telah tiba, kewaspadaan manusia tidak lagi dapat menolaknya.

Kerusakan pun semakin besar hingga bendungan runtuh dan jebol. 

Air mengalir deras menghancurkan saluran-saluran dan sungai-sungai.

Buah-buahan terputus, tanaman dan pepohonan rusak. 

Kebun-kebun yang subur berubah menjadi tanaman yang buruk dan hasil yang sedikit.

Sebagaimana firman Allah:
“Dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang menghasilkan buah-buahan pahit, pohon atsl dan sedikit pohon bidara.”

Inilah hukuman bagi orang yang mengingkari nikmat Allah.

Allah berfirman:
“Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan hukuman yang demikian itu melainkan kepada orang-orang yang sangat kufur.”

Artinya, hukuman yang berat seperti ini diberikan kepada orang-orang yang kufur kepada Allah, mendustakan para rasul-Nya, menyelisihi perintah-Nya, dan melanggar larangan-larangan-Nya.

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat kesehatan dan keselamatan yang Engkau berikan, dari datangnya siksa-Mu secara tiba-tiba, dan dari seluruh kemurkaan-Mu.

Aku berkata demikian dan memohon ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian.

Khutbah Kedua

Amma ba’du...

Wahai manusia, tidak ada sesuatu yang lebih menjaga nikmat keamanan selain penerapan syariat Allah. 

Setiap kali manusia menyimpang dari syariat-Nya, Allah akan menimpakan rasa takut kepada mereka dan mencabut keamanan sesuai kadar penyimpangan mereka dari syariat.

Wahai hamba-hamba Allah, kita hidup di negeri yang aman, dengan rezeki yang melimpah dan persatuan antara pemimpin dan rakyat. 

Keadaan inilah yang membuat sebagian pihak di sekitar kita iri dan berharap agar nikmat tersebut hilang dari kita.

Karena itu, waspadalah.

Kenalilah musuh-musuh yang mengintai kalian dan berharap dapat menguasai kalian serta merampas berbagai kebaikan yang kalian nikmati. 

Ketahuilah pula kedudukan saudara-saudara kalian yang berjaga di garis perbatasan Yaman, yang melindungi kita, keluarga kita, dan harta benda kita dengan pengorbanan jiwa mereka. 

Jangan lupakan mereka dalam doa-doa kalian.

Wahai kaum mukminin, berpegang teguhlah pada syariat Allah dan jangan menyimpang darinya. 

Jauhilah segala bentuk maksiat, baik yang kecil maupun yang besar, karena maksiat adalah penyebab hilangnya nikmat.

Ketahuilah bahwa musuh-musuh agama selalu mengintai siang dan malam. 

Namun mereka tidak akan mampu mengalahkan kalian selama kalian berpegang teguh kepada syariat Allah. 

Allah akan menolong orang-orang yang menolong agama-Nya dan menghinakan orang-orang yang meninggalkannya.

Selama kalian tetap setia kepada pemimpin kalian, memberikan nasihat yang baik kepada mereka, mendoakan mereka agar mendapat petunjuk dan kebaikan, serta tidak memberi kesempatan kepada para penghasut untuk memecah belah hubungan antara rakyat dan pemimpinnya, maka kalian akan berada dalam kebaikan.

Waspadalah pula terhadap berbagai fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. 

Kita hidup dalam masyarakat yang dikenal menjaga kehormatan dan kesucian diri, tumbuh dalam lingkungan yang memegang teguh nilai-nilai agama. 

Karena itu, hati-hatilah terhadap fitnah dunia.

Demi Allah, fitnah datang kepada manusia seperti gelapnya malam. 

Seseorang pada pagi hari masih beriman, lalu sore harinya menjadi kafir. 

Ada pula yang sore hari beriman namun pagi harinya menjadi kafir. 

Ia menjual agamanya demi keuntungan dunia yang sedikit.

Demikianlah dahsyatnya fitnah apabila telah terjadi. 

Semoga Allah melindungi kita semua darinya.

Wahai kaum mukminin, umat ini tidak akan binasa selama masih menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar.

Keduanya adalah katup pengaman umat.

Yang harus ditakuti adalah ketika kemungkaran dilakukan secara terang-terangan tetapi tidak ada yang mengingkarinya, hingga kemungkaran dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan kebenaran menjadi kabur.

Pada saat itulah azab Allah dapat menimpa seluruh masyarakat.

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunannya dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu bahwa beliau berkata:
“Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini:
‘Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian; orang yang sesat tidak akan membahayakan kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk.’ (QS. Al-Ma'idah: 105)

Padahal aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Sesungguhnya apabila manusia melihat orang zalim lalu tidak mencegahnya, maka hampir saja Allah menimpakan kepada mereka semua azab dari sisi-Nya.’”

Ya Allah, lindungilah kami dari berbagai fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar