Jumat, 07 Agustus 2026

NIKMAT KEAMANAN DAN BAHAYA ISU HOAKS DAN FITNAH



NIKMAT KEAMANAN DAN BAHAYA ISU, HOAKS, & FITNAH 


Syaikh Ubaid bin Assaf Ath-Thuyawi


Segala puji bagi Allah. 
Kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, memohon ampunan-Nya, dan berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri kami serta keburukan amal-amal kami. 

Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. 

Dan barang siapa disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. 

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Amma ba’du...

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad ﷺ. 
Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan dalam agama. 
Setiap perkara baru dalam agama adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

Wahai Kaum Muslimin, ...
Hamba-Hamba Allah...
Takwa kepada Allah عز وجل adalah wasiat Allah kepada kalian dan kepada umat-umat sebelum kalian. 

Allah Ta'ala berfirman:
“Dan sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi Kitab sebelum kalian dan juga kepada kalian agar bertakwa kepada Allah.” (QS. An-Nisa: 131)

Maka bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. 
Merasa diawasi oleh-Nya dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan.

Ketahuilah, semoga Allah merahmati kalian, bahwa di antara nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya adalah nikmat keamanan dan kestabilan. 

Dengan keamanan, ibadah dapat dilaksanakan dengan mudah, berbagai bentuk pendekatan diri kepada Allah dapat dilakukan, ketaatan dapat ditegakkan, salat berjamaah dapat terlaksana, hati menjadi tenang, dan kehidupan berjalan dengan baik.

Sebaliknya, apabila keamanan hilang, maka berbagai kemaslahatan akan terhenti, kehidupan menjadi kacau, dan manusia hidup dalam ketakutan serta kecemasan.

Tidak ada kenikmatan makanan ketika seseorang diliputi rasa takut, dan tidak ada kehidupan yang tenteram dalam suasana penuh kepanikan.

Karena itu Allah mengingatkan kaum Quraisy tentang nikmat tersebut dalam firman-Nya:
“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah), yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut.” (QS. Quraisy: 3–4)

Allah menggabungkan bagi mereka dua nikmat besar: kebutuhan jasmani berupa makanan dan kebutuhan hidup berupa keamanan. 

Sebab orang yang lapar dan ketakutan tidak akan memperoleh ketenangan hidup, dan tidak ada kebahagiaan bagi orang yang selalu dihantui kecemasan.

Maka nikmat keamanan adalah nikmat yang sangat agung, kedudukannya sangat mulia.

Termasuk kewajiban seorang hamba adalah menjaganya dan mensyukuri Allah yang telah menganugerahkannya. 

Sebab dengan syukur, nikmat akan terus terjaga dan bertambah.

Allah Ta'ala berfirman:
“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian.” (QS. Ibrahim: 7)

Kelangsungan keamanan sangat terkait dengan syukur kepada Allah. 

Syukur terhadap nikmat dilakukan dengan:
Hati yang mengakui nikmat tersebut berasal dari Allah.
Lisan yang memuji dan memuji-Nya.
Anggota badan yang menjaga dan memelihara nikmat tersebut.

Di antara bentuk syukur yang paling besar terhadap nikmat keamanan adalah menjaga dan melindunginya, serta tidak membantu pihak-pihak yang ingin merusaknya, baik dari kalangan pendendam maupun para perusak.

Mereka adalah orang-orang yang memanfaatkan berbagai krisis untuk menyebarkan ketakutan, kebohongan, dan berbagai isu bohong dari waktu ke waktu. 

Terlebih pada masa-masa seperti sekarang, ketika berbagai peristiwa berlangsung sangat cepat dan berita-berita beredar luas tanpa diketahui sumbernya serta tanpa diketahui kejujuran orang yang menyebarkannya.

Pada saat seperti inilah tampak hakikat keimanan seseorang, kecerdasan akalnya, dan pemahamannya terhadap syariat. 

Sebab Islam tidak membiarkan manusia hidup tanpa aturan dengan menyebarkan setiap berita yang didengarnya. Islam justru mengajarkan metode yang benar.

Allah Ta'ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Allah memerintahkan untuk melakukan tabayyun (klarifikasi) sebelum menyampaikan berita, dan memastikan kebenarannya sebelum menyebarkannya.

Karena tergesa-gesa dalam menyebarkan berita dapat menjadikan seseorang turut serta dalam penyebaran kebohongan tanpa ia sadari.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Maka jika sekadar menyampaikan semua berita yang didengar saja sudah cukup menjadikan seseorang termasuk dalam kategori pendusta, bagaimana lagi dengan orang yang menyebarkan hoaks, meneruskan video-video palsu, atau mengomentari berbagai peristiwa tanpa ilmu dan tanpa tabayyun?

Sesungguhnya pada zaman sekarang, satu kalimat dapat menjangkau berbagai penjuru dunia hanya dalam hitungan detik. 

Satu kali menekan tombol dapat menimbulkan kegelisahan dan kekacauan dalam sebuah masyarakat secara luas.

Karena itu hendaklah setiap orang bertakwa kepada Allah dalam apa yang ia ucapkan dan apa yang ia sebarkan.

Nabi ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya di antara manusia ada yang menjadi kunci-kunci kebaikan dan penutup-penutup keburukan. Dan di antara manusia ada yang menjadi kunci-kunci keburukan dan penutup-penutup kebaikan. 
Maka beruntunglah orang yang Allah jadikan kunci-kunci kebaikan berada di tangannya, dan celakalah orang yang Allah jadikan kunci-kunci keburukan berada di tangannya.” (HR. Ibnu Majah)

Wahai Saudara-Saudaraku
Sesungguhnya membicarakan berbagai peristiwa dan krisis di majelis-majelis maupun media sosial tanpa ilmu yang benar dapat menimbulkan keresahan, menyebarkan ketakutan, dan membuka pintu berbagai penafsiran yang keliru.

Allah telah memperingatkan tentang hal tersebut dalam firman-Nya:
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka langsung menyiarkannya. Padahal jika mereka menyerahkannya kepada Rasul dan kepada ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang mampu mengambil kesimpulan akan mengetahuinya dari mereka.” (QS. An-Nisa: 83)

Ayat ini menunjukkan bahwa perkara-perkara penting hendaknya dikembalikan kepada ahlinya. 
Sebab merekalah yang lebih mengetahui kemaslahatan, lebih memahami kondisi, dan lebih mampu memperkirakan akibat dari suatu tindakan.

Hal ini juga ditegaskan oleh sabda Rasulullah ﷺ:
“Termasuk tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)

Maka bukanlah kesempurnaan Islam seseorang apabila ia ikut berbicara dalam semua urusan. Akan tetapi, termasuk bagian dari pemahaman agama yang baik adalah seseorang mengetahui batas dirinya dan menyerahkan suatu urusan kepada orang yang memang ahli dalam bidang tersebut.

Apabila berbicara sembarangan tentang berbagai peristiwa sudah berbahaya, maka merekam dan menyebarkan gambar atau video kejadian-kejadian keamanan jauh lebih berbahaya lagi.
Sebab hal itu dapat:
Menyebarkan rasa takut di tengah masyarakat.
Membuka dan menampakkan hal-hal yang seharusnya dirahasiakan.
Membantu pihak-pihak yang memusuhi negeri dan masyarakat.
Menjadi sarana bagi para perusak untuk mencapai tujuan mereka.

Padahal Allah Ta'ala berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah: 2)

Maka seorang muslim hendaknya berhati-hati agar tidak menjadi sebab tersebarnya ketakutan, kekacauan, dan fitnah di tengah masyarakat, baik melalui lisannya, tulisannya, maupun media yang ia miliki.

Semoga Allah memberkahi kita semua dengan Al-Qur'an yang agung, memberikan manfaat kepada kita melalui ayat-ayat dan peringatan-peringatan yang ada di dalamnya.

Aku berkata demikian, dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku dan untuk kalian dari segala dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan dan karunia-Nya. 

Segala syukur bagi-Nya atas taufik dan anugerah-Nya. 

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sebagai bentuk pengagungan terhadap-Nya. 

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang mengajak manusia menuju keridaan Allah. 

Semoga salawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Amma ba’du, ...

wahai hamba-hamba Allah...

Sesungguhnya termasuk kewajiban kita, terlebih dalam keadaan dan situasi seperti ini, adalah berpegang teguh kepada agama kita, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mempercayai informasi yang disampaikan oleh para pemimpin melalui lembaga-lembaga resmi.

Hal ini sebagai bentuk pelaksanaan firman Allah Ta'ala:
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian.” (QS. An-Nisa: 59)

Dan sabda Nabi ﷺ:
“Wajib atas seorang muslim untuk mendengar dan taat dalam perkara yang ia sukai maupun yang ia tidak sukai, selama tidak diperintahkan untuk berbuat maksiat.” (Muttafaq ‘Alaih)

Ketaatan kepada pemimpin dalam berbagai musibah dan keadaan genting merupakan sebab terjaganya negeri, terlindunginya masyarakat, bersatunya umat, dan tercegahnya berbagai fitnah.

Karena itu, bersyukurlah kepada Allah atas nikmat keamanan dan ketenteraman yang saat ini masih dirasakan.

Jangan sampai kalian menjadi jembatan yang dilalui oleh berbagai isu dan hoaks, atau menjadi lisan yang mengulang-ulang perkataan orang-orang yang memiliki tujuan buruk.

Jagalah lisan dan tulisan kalian. 
Sebab setiap kata adalah amanah. 
Kata-kata itu laksana anak panah; apabila telah dilepaskan, maka sulit untuk ditarik kembali.

Seorang hamba akan dimintai pertanggungjawaban atas semua yang ia ucapkan dan tuliskan.

Allah Ta'ala berfirman:
“Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)


Maka jadilah, wahai hamba-hamba Allah:

Kunci-kunci kebaikan bagi negeri kalian.

Penutup-penutup pintu keburukan bagi masyarakat kalian.

Penyebar ketenangan, bukan penyebar fitnah.

Pembangun kesadaran, bukan penyebar kekacauan.

Penguat persatuan, bukan pemecah belah umat.

Kemudian perbanyaklah berdoa kepada Allah agar menjaga para pemimpin dan negeri-negeri kita, serta melanggengkan nikmat keamanan dan keimanan.

Ya Allah, berilah taufik kepada para pemimpin kami untuk melakukan segala hal yang membawa kebaikan bagi agama dan dunia kami.

Ya Allah, jagalah para prajurit yang menjaga keamanan negeri.

Ya Allah, tepatkanlah pendapat mereka, luruskan langkah mereka, kuatkan tekad mereka, teguhkan hati mereka, dan tuliskan bagi mereka pahala yang besar.

Ya Allah, anugerahkanlah keamanan di negeri-negeri kami.

Ya Allah, berilah taufik kepada para pemimpin kami.

Ya Allah, satukanlah hati dan kalimat kami di atas kebenaran.

Ya Allah, jauhkanlah dari kami segala fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)

Wahai hamba-hamba Allah,
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat ihsan, memberi kepada kerabat, dan Dia melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90)

Maka ingatlah Allah, niscaya Allah akan mengingat kalian.

Bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat itu kepada kalian. Dan sungguh mengingat Allah adalah perkara yang paling agung. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.




Ringkasan Kandungan Khutbah
Keamanan adalah salah satu nikmat terbesar dari Allah.

Keamanan menjadi syarat tegaknya ibadah, dakwah, dan kehidupan masyarakat.

Syukur atas nikmat keamanan dilakukan dengan menjaganya.

Hoaks, isu bohong, dan fitnah merupakan ancaman bagi keamanan masyarakat.

Islam memerintahkan tabayyun sebelum menyebarkan berita.

Tidak semua berita layak disebarkan.

Membicarakan peristiwa tanpa ilmu dapat menimbulkan keresahan dan fitnah.

Media sosial harus digunakan dengan penuh tanggung jawab.

Menjaga lisan dan tulisan adalah kewajiban setiap muslim.

Persatuan umat, ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta menjauhi fitnah merupakan sebab terjaganya keamanan dan kestabilan negeri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar