Sabtu, 05 September 2026

SYIRIK YANG TERSEBAR PADA KAUM MUSLIMIN


Syirik-Syirik yang Tersebar di Kalangan Sebagian Kaum Muslimin

Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah Yang Mahatinggi, yang telah menciptakan lalu menyempurnakan penciptaan, yang telah menentukan segala sesuatu lalu memberikan petunjuk. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu dan Dia telah menghitung segala sesuatu dengan sangat teliti. Mahasuci Dia, Yang Maha Esa, tempat bergantung segala makhluk.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak, dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya, serta tidak mempunyai penolong dari kehinaan. Dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.”
(QS. Al-Isra’: 111)»

Dialah Yang Mahatinggi, Yang Mahaagung, Yang Mahabesar, Yang Mahamulia, Yang Mahaperkasa dan Yang Mahabesar. Milik-Nya segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Dia adalah Pencipta segala sesuatu.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba. Sungguh, Dia telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada hari Kiamat seorang diri.”
(QS. Maryam: 93–95)»

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahahidup serta tidak akan mati. Di tangan-Nya segala kebaikan dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, imam orang-orang yang bertauhid dan utusan Tuhan seluruh alam. Allah mengutus beliau dengan membawa tauhid sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, istri-istri, dan keturunan beliau.

Amma ba'du.

Sesungguhnya perkara terbesar yang Allah perintahkan adalah tauhid, dan perkara terbesar yang Allah larang adalah syirik.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”
(QS. An-Nisa’: 36)»

Sesungguhnya kezaliman yang paling besar dan dosa yang paling besar adalah mempersekutukan Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
(QS. Luqman: 13)»

Allah juga berfirman:

«“Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.”
(QS. Al-Ma'idah: 72)»

Allah berfirman:

«“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah tersesat sejauh-jauhnya.”
(QS. An-Nisa’: 116)»

Allah telah memperingatkan setiap nabi dari perbuatan syirik. Dia berfirman:

«“Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum kamu: ‘Sungguh, jika engkau mempersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.’ Tetapi sembahlah Allah dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.”
(QS. Az-Zumar: 65–66)»

Allah juga memberitahukan bahwa banyak orang yang beriman kepada-Nya masih terjatuh ke dalam syirik. Allah berfirman:

«“Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah kecuali dalam keadaan mempersekutukan-Nya.”
(QS. Yusuf: 106)»

Hal itu bisa berupa syirik besar maupun syirik kecil. Perkaranya sangat berbahaya.

Dalam hadis sahih Nabi ﷺ bersabda:

«“Syirik di tengah umatku lebih tersembunyi daripada gerakan semut di atas batu yang licin.”»

Nabi ﷺ juga bersabda:

«“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya. Allah akan berfirman pada hari Kiamat ketika manusia diberi balasan atas amal-amal mereka: ‘Pergilah kepada orang-orang yang dahulu kalian berbuat riya kepada mereka di dunia. Lihatlah, apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?’”»

Oleh karena itu, seorang Muslim harus takut terhadap dirinya dari syirik, baik syirik besar maupun syirik kecil.

Berikut ini beberapa bentuk syirik yang tersebar di tengah kaum Muslimin:

1. Meminta pertolongan kepada selain Allah

Sebagian manusia berdoa kepada kuburan dan para wali serta meminta pertolongan kepada mereka ketika menghadapi kesulitan. Ini adalah syirik besar yang mengeluarkan seseorang dari Islam.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu menyembah siapa pun di dalamnya di samping Allah.”
(QS. Al-Jinn: 18)»

Allah juga berfirman:

«“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memperkenankan doanya sampai hari Kiamat, dan mereka lalai dari doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan, mereka menjadi musuh bagi orang-orang yang dahulu mereka sembah, dan mereka mengingkari ibadah yang mereka lakukan.”
(QS. Al-Ahqaf: 5–6)»

Doa adalah ibadah. Barang siapa memalingkan doa kepada selain Allah, berarti dia telah beribadah kepada selain Allah dan mempersekutukan-Nya.

Dalam hadis sahih Nabi ﷺ bersabda:

«“Doa itu adalah ibadah.”»

Kemudian beliau membaca firman Allah:

«“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina.’”
(QS. Ghafir: 60)»

2. Syirik dalam ucapan

Di antara ucapan yang termasuk bentuk kesyirikan adalah perkataan sebagian orang:

- “Aku masuk kepada Allah dan kepadamu.”
- “Aku tidak memiliki siapa-siapa selain Allah dan engkau.”
- “Allah bagiku di langit dan engkau bagiku di bumi.”
- “Apa yang Allah dan engkau kehendaki.”

Dalam hadis sahih Nabi ﷺ bersabda:

«“Janganlah kalian mengatakan: ‘Apa yang Allah dan si fulan kehendaki.’ Tetapi katakanlah: ‘Apa yang Allah kehendaki, kemudian apa yang dikehendaki si fulan.’”»

3. Menisbatkan nikmat kepada selain Allah

Termasuk syirik adalah menisbatkan suatu nikmat kepada manusia, tempat tertentu, pekerjaan seseorang, keahlian, profesi, atau makhluk tertentu, sehingga nikmat tersebut dinisbatkan kepada selain Allah.

Ini termasuk salah satu bentuk syirik kecil.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dalam menafsirkan firman Allah:

«“Maka janganlah kamu menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 22)»

Beliau berkata bahwa tandingan-tandingan tersebut termasuk syirik yang lebih tersembunyi daripada gerakan semut di atas batu hitam dalam kegelapan malam.

Misalnya seseorang mengatakan:

«“Demi Allah dan demi hidupmu, wahai fulan.”»

Atau:

«“Demi hidupku.”»

Atau:

«“Kalau bukan karena anjing ini, tentu pencuri akan datang kepada kita.”»

Atau:

«“Apa yang Allah dan engkau kehendaki.”»

Atau:

«“Kalau bukan karena Allah dan fulan.”»

Janganlah seseorang menjadikan fulan sebagai pasangan dalam ungkapan tersebut. Semua ini termasuk bentuk syirik.

4. Berlebihan terhadap kuburan orang-orang saleh

Di antara sebab munculnya kesyirikan adalah ghuluw, yaitu melampaui batas dalam memperlakukan kuburan orang-orang saleh.

Berlebihan terhadap kuburan dapat menjadi sebab seseorang mengagungkan kuburan tersebut kemudian sampai menyembah penghuni kuburnya.

Bentuk ghuluw terhadap kuburan antara lain:

- meninggikan bangunan kuburan,
- membangun bangunan di atasnya,
- menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah.

Semua ini termasuk sarana yang dapat mengantarkan kepada syirik besar.

Di antara bentuk ghuluw adalah menjadikan kuburan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, atau menjadikan penghuni kubur sebagai pemberi syafaat di sisi Allah.

Sebagian orang yang tertipu dengan kuburan bahkan sampai:

- berdoa kepada orang yang telah meninggal,
- bernazar untuknya,
- menyembelih untuknya,
- meminta syafaat kepadanya,
- mengusap tanah dan dinding kubur dengan keyakinan bahwa hal tersebut memberi manfaat.

Tidak ada perbedaan prinsip antara mencari keberkahan dari kuburan dengan mencari keberkahan dari pohon dan batu dengan cara-cara yang tidak disyariatkan. Semuanya merupakan bentuk kesyirikan.

5. Meyakini selain Allah memiliki kekuasaan mutlak memberi manfaat dan mudarat

Termasuk syirik dalam keyakinan adalah meyakini bahwa selain Allah memiliki kekuasaan untuk memberikan bahaya atau manfaat secara independen.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Al-An'am: 17)»

Allah juga berfirman:

«“Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Katakanlah, ‘Kalau begitu, tahukah kamu tentang apa yang kamu seru selain Allah? Jika Allah hendak mendatangkan kemudaratan kepadaku, apakah mereka mampu menghilangkan kemudaratan-Nya? Atau jika Dia hendak memberikan rahmat kepadaku, apakah mereka mampu menahan rahmat-Nya?’ Katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nyalah orang-orang yang bertawakal berserah diri.’”
(QS. Az-Zumar: 38)»

6. Sihir, perdukunan dan mendatangi paranormal

Termasuk bentuk kesyirikan adalah sihir dan perdukunan serta mendatangi tukang sihir, dukun, paranormal, dan ahli nujum.

Nabi ﷺ bersabda:

«“Barang siapa mendatangi peramal atau dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.”»

7. Bersumpah dengan selain Allah

Termasuk bentuk syirik adalah bersumpah dengan selain Allah, seperti:

- bersumpah dengan Nabi,
- bersumpah demi kedudukan Nabi,
- mengatakan “demi hidup ayahmu”,
- “demi kehormatanku”,
- bersumpah dengan amanah.

Dalam hadis sahih Nabi ﷺ bersabda:

«“Barang siapa bersumpah dengan selain Allah, maka sungguh dia telah berbuat syirik.”»

Beliau ﷺ juga bersabda:

«“Barang siapa bersumpah dengan amanah, maka dia bukan termasuk golongan kami.”»

Karena itu, seseorang tidak boleh bersumpah kecuali dengan nama Allah, dalam keadaan jujur. Hendaknya juga tidak banyak bersumpah dengan nama Allah.

Nabi ﷺ bersabda:

«“Barang siapa hendak bersumpah, hendaknya dia bersumpah dengan Allah atau diam.”»

Maka janganlah bersumpah dengan selain Allah.

Termasuk dalam hal ini adalah kebiasaan bersumpah dengan talak atau mengatakan sesuatu yang diharamkan sebagai sumpah. Perkara seperti ini banyak dilakukan oleh sebagian manusia. Hanya Allah tempat meminta pertolongan.

8. Menyembelih untuk selain Allah

Termasuk syirik adalah menyembelih untuk selain Allah, dan ini merupakan syirik besar karena menyembelih adalah ibadah yang tidak boleh ditujukan kepada selain Allah.

Allah memerintahkan kita untuk menyembelih hanya untuk-Nya:

«“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadah kurbanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya.”
(QS. Al-An'am: 162–163)»

Allah juga berfirman:

«“Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 2)»

Barang siapa menyembelih karena Allah, berarti dia beribadah kepada Allah. Barang siapa menyembelih untuk selain Allah, berarti dia telah mempersekutukan Allah.

Contohnya:

- menyembelih untuk kuburan atau wali sebagai bentuk pendekatan kepada mereka;
- menyembelih untuk jin sebagai bentuk pendekatan kepada jin, sebagaimana dilakukan oleh tukang sihir atau dukun;
- orang-orang bodoh yang mengikuti mereka demi mendapatkan kesembuhan;
- menyembelih ketika membangun rumah dengan niat mengusir setan;
- melumurkan darah hewan sembelihan pada fondasi bangunan ketika memulai pembangunan atau setelah selesai, dengan tujuan melindungi rumah dari gangguan jin.

Semua itu adalah perbuatan syirik yang tidak boleh dilakukan.

9. Bernazar untuk selain Allah

Termasuk syirik adalah bernazar untuk selain Allah.

Nazar adalah ibadah kepada Allah dan tidak boleh dipersembahkan kecuali kepada Allah semata.

Semua ibadah adalah milik Allah, seperti berdiri dengan khusyuk, rukuk dan sujud. Memalingkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah adalah syirik.

10. Bergantung kepada sebab dan melupakan Allah

Termasuk bentuk kesyirikan adalah bergantung kepada sebab dan tidak bergantung kepada Allah.

Yang wajib adalah bertawakal kepada Allah semata. Hati bergantung kepada Allah, sementara seseorang tetap mengambil sebab-sebab yang dibenarkan oleh syariat.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Ma'idah: 23)»

11. Tathayyur atau merasa sial

Termasuk bentuk kesyirikan adalah tathayyur, yaitu menganggap sial karena hari tertentu, bulan tertentu, burung tertentu, nama tertentu, ucapan tertentu, tempat tertentu dan sebagainya.

Sebagian orang menganggap sial hari Rabu, menganggap bulan Safar sebagai bulan sial, merasa sial ketika melihat burung gagak atau burung tertentu, mendengar nama tertentu, atau melewati tempat tertentu.

Semua ini bertentangan dengan tauhid dan tawakal kepada Allah.

Dalam hadis sahih Nabi ﷺ bersabda:

«“Tiyarah adalah syirik.”»

12. Memakai gelang, cincin, tali atau jimat

Termasuk kesyirikan adalah memakai gelang, cincin, tali, jimat atau benda-benda tertentu dengan keyakinan bahwa benda tersebut dapat mendatangkan kebaikan atau menolak keburukan.

Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

«“Sesungguhnya ruqyah, jimat-jimat dan tiwalah adalah syirik.”»

Tiwalah adalah sesuatu yang dibuat oleh sebagian wanita untuk suaminya dengan tujuan menambah kecintaan suami kepadanya. Hal tersebut merupakan kebatilan dan kesyirikan.

13. Menisbatkan hujan kepada bintang

Wahai kaum Muslimin, termasuk bentuk kesyirikan adalah perkataan sebagian orang:

«“Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu.”»

Atau:

«“Kami mendapatkan hujan karena bintang tertentu.”»

Jika seseorang meyakini bahwa bintang itulah yang menciptakan hujan dan mengatur turunnya hujan, maka ini adalah syirik besar.

Jika dia meyakini bintang tersebut hanya sebagai sebab turunnya hujan, maka ini termasuk syirik kecil.

Bintang sama sekali tidak memiliki kekuasaan sebagai sebab atau pengaruh terhadap turunnya hujan. Hujan turun dengan perintah Allah, rahmat-Nya dan kehendak-Nya. Allah menurunkannya kepada siapa yang Dia kehendaki dan menahannya dari siapa yang Dia kehendaki.

Yang disyariatkan ketika hujan turun adalah mengucapkan:

«“Kami diberi hujan karena karunia Allah dan rahmat-Nya.”»

14. Meyakini bintang dan planet memengaruhi kehidupan manusia

Termasuk syirik adalah meyakini bahwa bintang dan planet mempunyai pengaruh terhadap berbagai peristiwa dan kehidupan manusia.

Astrologi adalah menjadikan kondisi benda-benda langit sebagai dasar untuk menentukan kejadian-kejadian di bumi.

Seorang ahli nujum memperhatikan bintang, pertemuan dan perpisahannya, terbit dan tenggelamnya, kedekatan dan kejauhan satu dengan yang lainnya, kemudian mengklaim mengetahui perkara gaib.

Semua ini merupakan kebatilan dan kesyirikan.

Tidak ada yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Katakanlah: Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.”
(QS. An-Naml: 65)»

Allah juga berfirman:

«“Allah tidak akan memperlihatkan kepada kalian perkara gaib.”
(QS. Ali 'Imran: 179)»

Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk menjelaskan kepada manusia bahwa beliau tidak mengetahui perkara gaib, kecuali sebagian perkara gaib yang Allah kehendaki untuk Dia beritahukan kepadanya, seperti berita umat-umat terdahulu, tanda-tanda Kiamat, keadaan hari Kiamat dan semisalnya.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Katakanlah: Aku tidak berkuasa mendatangkan manfaat bagi diriku dan tidak pula menolak mudarat kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku akan membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa keburukan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-A'raf: 188)»

Allah juga berfirman:

«“Katakanlah: Aku tidak mengetahui apakah yang dijanjikan kepadamu itu sudah dekat atau Tuhanku akan memberikan batas waktu baginya. Dia mengetahui yang gaib, dan Dia tidak memperlihatkan perkara gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali kepada rasul yang Dia ridhai.”
(QS. Al-Jinn: 25–27)»

Allah berfirman:

«“Katakanlah: Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui perkara gaib dan yang nyata, Engkaulah yang memutuskan perkara di antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang dahulu mereka perselisihkan.”
(QS. Az-Zumar: 46)»

15. Mengatakan: “Takdir menghendaki”

Di antara kesalahan dalam ucapan adalah perkataan sebagian orang:

«“Takdir menghendaki demikian.”»

Atau:

«“Keadaan menghendaki terjadinya demikian.”»

Ini merupakan ungkapan yang tidak benar, karena keadaan dan takdir tidak memiliki kehendak. Kehendak dan takdir berada di tangan Allah Ta'ala semata.

16. Menisbatkan bencana hanya kepada alam

Termasuk kesalahan ucapan yang tersebar di media adalah menisbatkan berbagai bencana hanya kepada sebab-sebab alamiah dan tidak mengaitkannya dengan Allah Yang Mahatunggal dalam menciptakan dan mengatur alam.

Gempa bumi, banjir, gunung meletus, angin topan dan berbagai bencana lainnya semuanya terjadi dengan takdir dan kehendak Allah.

Karena itu, tidak benar menisbatkannya semata-mata kepada “alam”, sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang tidak memahami hal tersebut.

17. Mengucapkan “seandainya”

Di antara kesalahan adalah ketika seseorang tertimpa sesuatu yang tidak disukainya lalu berkata:

«“Seandainya aku melakukan ini, tentu akan terjadi begini dan begitu.”»

Ungkapan semacam ini sebagai bentuk penyesalan terhadap takdir dilarang.

Yang wajib adalah menerima ketetapan Allah.

Nabi ﷺ bersabda:

«“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah. Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau mengatakan: ‘Seandainya aku melakukan demikian, tentu akan terjadi demikian dan demikian.’ Akan tetapi katakanlah: ‘Ini adalah takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan.’ Sesungguhnya kata ‘seandainya’ membuka pintu bagi pekerjaan setan.”»

Ya Allah, tunjukilah kami kepada kebenaran dalam perkara yang diperselisihkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus.

Karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk beribadah kepada-Mu dengan ikhlas.

Kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak kami ketahui.

---

Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah yang tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia semata. Salam sejahtera atas hamba-hamba-Nya yang Dia pilih.

Amma ba'du.

Wahai kaum Muslimin, kita wajib mengagungkan Allah dengan sebenar-benar pengagungan dan mengenal kedudukan serta keagungan-Nya. Kita menyembah-Nya semata dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

Kita harus berhati-hati terhadap seluruh bentuk kesyirikan.

Di antara kesalahan terbesar yang dapat membawa seseorang kepada kesyirikan dan kekufuran adalah berwala kepada orang-orang kafir.

Wala' adalah kecintaan dalam hati serta memberikan pertolongan dengan perbuatan dan perkataan.

Sifat ini bertentangan dengan konsep al-wala' wal-bara' dalam Islam, karena orang-orang kafir adalah musuh Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Maka bagaimana mungkin seorang Muslim mencintai mereka dan membantu mereka?

Ada beberapa bentuk wala' kepada orang-orang kafir yang tersebar:

1. Mencintai orang-orang kafir karena kekufuran mereka

Hal ini sering terjadi karena terlalu banyak bergaul dengan mereka di negeri mereka atau di negeri kaum Muslimin, serta terlalu banyak melihat mereka melalui berbagai media.

Yang diwajibkan adalah membenci kekufuran mereka kepada Allah dan Rasul-Nya, pendustaan mereka terhadap Al-Qur'an, serta meninggalkan ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan syariat-Nya, baik karena mengikuti hawa nafsu, mengikuti nenek moyang, kesibukan terhadap dunia, syahwat dan berbagai kesenangan.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian, dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah semata.’”
(QS. Al-Mumtahanah: 4)»

2. Bepergian ke negeri orang-orang kafir tanpa kebutuhan

Termasuk di antaranya bepergian ke negeri orang-orang kafir tanpa kebutuhan atau keadaan darurat, kemudian menetap di sana sementara dirinya terancam terkena fitnah dalam agama.

3. Mengidolakan orang-orang kafir

Termasuk di antaranya adalah menggantungkan hati kepada sebagian orang kafir, baik mereka:

- pemain olahraga,
- penyanyi,
- aktor,
- politisi,

dan tokoh-tokoh lainnya.

4. Memuji orang-orang kafir secara berlebihan

Termasuk di antaranya memuji orang-orang kafir dan menggambarkan kehidupan mereka secara berlebihan dengan cara yang menyebabkan kaum Muslimin dipandang rendah.

5. Membantu orang-orang kafir melawan kaum Muslimin

Termasuk bentuk wala' adalah membela orang-orang kafir dan membantu mereka melawan kaum Muslimin.

Khutbah ini menyebutnya sebagai kemurtadan dari agama.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali. Sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu menjadikan mereka sebagai wali, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”»

Kemudian Allah menyebutkan keadaan orang-orang yang sakit hatinya, yang tergesa-gesa mendekati mereka karena takut tertimpa musibah.

Allah berfirman:

«“Maka kamu akan melihat orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit segera mendekati mereka, seraya berkata: ‘Kami takut akan mendapat bencana.’ Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan atau suatu keputusan dari sisi-Nya, sehingga mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam hati mereka.”»

Allah melanjutkan:

«“Dan orang-orang yang beriman akan berkata: ‘Inikah orang-orang yang bersumpah dengan nama Allah dengan sungguh-sungguh bahwa mereka benar-benar bersama kalian?’ Amal-amal mereka menjadi sia-sia sehingga mereka menjadi orang-orang yang rugi.”»

Kemudian Allah berfirman:

«“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kalian murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya; mereka bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan tegas terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”»

Allah juga berfirman:

«“Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan mereka rukuk. Barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya golongan Allah itulah yang menang.”»

(QS. Al-Ma'idah: 51–56)

Wahai kaum Muslimin, setiap Muslim wajib mencintai seluruh orang beriman, baik generasi terdahulu, generasi tabi'in maupun kaum Muslimin pada masa sekarang.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.”
(QS. At-Taubah: 71)»

Seorang Muslim mencintai kaum Muslimin, menolong mereka dalam kebenaran, dan bekerja sama dengan mereka dalam menegakkan shalat, syiar-syiar agama, amar makruf dan nahi mungkar.

Tidak boleh menghina orang-orang saleh dan tidak boleh mengolok-olok syiar-syiar Islam, seperti shalat, jenggot atau perkara lain yang telah disebutkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah.

Allah Ta'ala berfirman tentang orang-orang munafik:

«“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab: ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main.’ Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?’ Janganlah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir setelah beriman.”
(QS. At-Taubah: 65–66)»

Allah juga berfirman:

«“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka melewati mereka, mereka saling mengedipkan mata. Dan apabila kembali kepada keluarganya, mereka kembali dengan bersenda gurau. Dan apabila melihat mereka, mereka berkata: ‘Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang sesat.’ Padahal mereka tidak diutus sebagai penjaga atas orang-orang beriman.”»

«“Maka pada hari ini orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir. Mereka duduk di atas dipan-dipan sambil memandang. Apakah orang-orang kafir telah diberi balasan terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan?”»

(QS. Al-Muthaffifin: 29–36)

6. Menaati pembesar dalam mengubah hukum Allah

Wahai kaum Muslimin, termasuk kesyirikan adalah menaati para pembesar dalam mengubah hukum-hukum Allah.

Khutbah ini menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan syirik besar karena hak menetapkan halal dan haram adalah milik Allah semata. Menjadikan selain Allah sebagai pihak yang berhak menetapkan halal dan haram merupakan kesyirikan dan kemurtadan.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang menetapkan aturan agama bagi mereka yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menunda hukuman, niscaya telah dilaksanakan hukuman di antara mereka. Dan sesungguhnya orang-orang zalim akan memperoleh azab yang pedih.”
(QS. Asy-Syura: 21)»

Allah juga berfirman tentang Ahli Kitab sebelum kita:

«“Mereka menjadikan para ulama dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah.”
(QS. At-Taubah: 31)»

Allah menyebut kekufuran mereka karena mereka menaati para pembesar mereka dalam menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang Allah halalkan.

Maka yang halal adalah apa yang Allah halalkan dan yang haram adalah apa yang Allah haramkan.

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Sang Pencipta.

7. Berhukum dengan selain hukum Allah dan memisahkan agama dari kehidupan

Termasuk yang disebut dalam khutbah ini sebagai kesyirikan adalah berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan, memisahkan agama dari negara, serta menolak sebagian hukum syariat.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Hukum itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
(QS. Yusuf: 40)»

Kesimpulan Islam adalah dua perkara:

1. Hukum dan ketetapan mutlak milik Allah.
2. Menyembah Allah semata.

Di dalam kedua perkara tersebut terdapat kebaikan manusia dalam agama, kehidupan dunia dan kehidupan akhirat mereka.

8. Menjadikan hawa nafsu sebagai sesembahan

Termasuk kesyirikan adalah menyembah hawa nafsu dan menjadikannya sebagai tuhan selain Allah.

Contohnya adalah orang yang meninggalkan shalat dan ketaatan kepada Allah karena sibuk dengan dunia dan mengikuti hawa nafsunya.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Tidakkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Apakah kamu dapat menjadi pelindungnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka mendengar atau memahami? Mereka hanyalah seperti hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya.”
(QS. Al-Furqan: 43–44)»

Wahai kaum Muslimin, kita wajib berserah diri kepada Allah dengan tauhid dan mengikhlaskan ibadah serta niat hanya untuk-Nya.

Kita harus berhati-hati terhadap syirik dalam kehendak dan niat.

Barang siapa melakukan amal saleh tetapi menginginkan selain wajah Allah, dan berniat dengan amalnya selain mendekatkan diri kepada Allah, maka dia telah melakukan kesyirikan dalam niatnya.

Allah tidak menerima suatu amal kecuali amal tersebut ikhlas untuk-Nya.

Riya dapat menggugurkan pahala amal saleh.

Allah Ta'ala berfirman:

«“Barang siapa mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”
(QS. Al-Kahfi: 110)»

Dalam hadis qudsi, Allah Ta'ala berfirman:

«“Aku adalah Zat Yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amal dan mempersekutukan selain Aku di dalam amal tersebut, Aku tinggalkan dia dan kesyirikannya.”»

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami tauhid yang murni.

Jadikanlah amal-amal kami ikhlas hanya untuk-Mu.

Kami berlindung kepada-Mu dari kesyirikan, riya dan sum'ah.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bertauhid, ikhlas, saleh dan jujur.

Wahai Tuhan kami, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Ya Allah, arahkanlah wajah kami hanya kepada-Mu.

Wahai Tuhan kami, kami beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami mengikuti Rasul. Maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi.

Kami berlepas diri kepada-Mu dari seluruh orang kafir dan orang-orang musyrik.

Kami berlepas diri kepada-Mu dari segala bentuk syirik dan riya.

Ya Allah, hanya untuk-Mu kami shalat, hanya untuk-Mu kami rukuk dan sujud.

Kami mengharapkan rahmat-Mu dan takut terhadap azab-Mu.

Ya Allah, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman.

Janganlah Engkau jadikan di dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman.

Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

Ya Allah, berilah petunjuk kepada kami dan seluruh kaum Muslimin.

Ampunilah kami semua.

Keluarkanlah kami dari kegelapan menuju cahaya.

Tunjukilah kami jalan yang lurus dengan karunia dan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki.

Engkaulah pelindung kami, maka ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah sebaik-baik pemberi ampun.

Engkaulah pelindung kami di dunia dan di akhirat.

Wafatkanlah kami dalam keadaan Muslim dan gabungkanlah kami bersama orang-orang saleh.

Janganlah Engkau jadikan kami orang-orang yang terhina dan jangan pula orang-orang yang terkena fitnah.

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar