Rabu, 04 November 2026

KONSEP KEAMANAN DAN KETENTERAMAN


 Konsep Keamanan dan Ketenteraman


 (مفهوم الأمن والأمان)



Khutbah Masjidil Haram

20 Jumadil Akhir 1430 H (20/5/1430 H)


Khatib: Syekh Saud bin Ibrahim asy-Syuraim حفظه الله



KHUTBAH PERTAMA

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan bertobat kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa-jiwa kita dan kejelekan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim." (QS. Ali Imran: 102).

Allah Ta'ala juga berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan Allah menciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu." (QS. An-Nisa: 1).

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia telah memperoleh kemenangan yang besar." (QS. Al-Ahzab: 70–71).

Amma ba'du.

Wahai sekalian manusia!

Sesungguhnya siapa saja yang meneliti sejarah masa lampau dan masa kini dengan pemahaman yang jernih dan pandangan yang seimbang, serta mengenali keadaan bangsa-bangsa terdahulu dan masyarakat masa sekarang, niscaya tidak akan memiliki keraguan sedikit pun tentang adanya suatu hakikat yang tetap, suatu tujuan yang dicita-citakan oleh setiap masyarakat, dan suatu fondasi yang tidak berubah serta tidak berganti, betapapun zaman terus silih berganti dan angin perjalanan hari-hari yang Allah pergilirkan di antara manusia terus berembus.

Itulah kebutuhan terhadap keamanan dan ketenteraman (الأمن والأمان).

Keamanan yang dengannya makanan dapat dinikmati dengan tenteram, minuman terasa menyenangkan, siang menjadi waktu untuk mencari penghidupan, tidur menjadi waktu istirahat, dan malam menjadi pakaian yang menyelimuti manusia.

Wahai hamba-hamba Allah!

Apabila jaminan-jaminan nyata dan berbagai persiapan menyeluruh untuk menghadapi segala sesuatu yang dapat mengusik ketenangan kehidupan sehari-hari masyarakat Muslim mengalami kerusakan atau tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka ketahuilah bahwa keamanan dan stabilitas kehidupan manusia akan lenyap dan berubah menjadi kebingungan serta kekacauan.

Hal itu disebabkan oleh tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab dan pelanggaran-pelanggaran yang secara jelas tidak dapat diterima terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan keamanan.

Tindakan semacam itu mengancam kestabilan bahtera masyarakat Muslim yang sedang berlayar. Tidak boleh ada toleransi terhadapnya dalam bentuk apa pun, sekalipun berbagai alasan dan dalih dikemukakan untuk membenarkannya. Semua alasan tersebut akan ditolak oleh setiap orang yang akalnya masih sehat dan hatinya tidak kosong dari kebenaran.

Apabila dalam melakukan tindakan-tindakan tersebut terdapat sebagian anggota umat kita sendiri, bahkan orang-orang yang berbicara dengan bahasa kita, maka akibat dari tindakan-tindakan menyimpang itu justru akan menjadi bumerang yang menghancurkan mereka sendiri sebelum menghancurkan orang lain.

Ketika penyakit penyusupan dan tindakan melampaui batas dalam urusan keamanan mulai menjangkiti umat melalui sebagian anggotanya, sesungguhnya mereka sedang menimbun tanah di atas makna stabilitas dan memutus urat-urat kehidupan generasi yang ada sekarang serta harapan-harapan generasi mendatang.

Lebih dari itu, apabila tindakan-tindakan tersebut dijadikan sebagai alasan oleh musuh-musuh Islam dari kalangan orang-orang kafir yang menyimpan kebencian, maka mereka akan menjadikannya sebagai dalih yang dianggap sah menurut pemahaman mereka untuk terus mempersempit ruang gerak kaum Muslimin.

Dengan demikian, pelanggaran-pelanggaran tersebut seakan disuguhkan kepada mereka di atas nampan emas, sehingga mereka dapat menyerbu negeri-negeri kaum Muslimin dengan berbagai tipu daya yang paling sederhana.

Wahai kaum Muslimin!

Dalam kesempatan ini, kita perlu memahami konsep keamanan dengan maknanya yang menyeluruh dan nyata. Jangan sampai konsep tersebut dipersempit atau dipahami secara terbalik mengenai dimensi dan bentuk-bentuknya, ataupun keduanya sekaligus.

Hal itu karena terkadang konsep keamanan hanya dibatasi pada ruang lingkup yang sempit, yaitu sekadar melindungi masyarakat dari pencurian, perampokan, pembunuhan, dan perkara-perkara semisalnya.

Tidak! Sesungguhnya konsep keamanan jauh lebih luas dan lebih agung daripada itu.

Bahkan, konsep keamanan yang pertama dan paling agung adalah ketika masyarakat Muslim berangkat dari penegasan bahwa akidah masyarakat harus diwujudkan melalui persaksian:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ

"Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah."

Hal itu diwujudkan dengan menjauhi kesyirikan kepada Allah dalam uluhiyah-Nya, rububiyah-Nya, serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Juga menjauhi kesyirikan kepada-Nya dalam hukum dan ketetapan-Nya, menjauhi kekafiran terhadap agama Islam dan penyimpangan darinya, serta tidak menyingkirkan syariat Sang Pencipta—Yang Mahamulia kedudukan-Nya—dari realitas kehidupan.

Demikian pula tidak menyandingkan syariat selain syariat Allah dengan syariat-Nya Yang Mahatinggi.

Allah Ta'ala berfirman:

صِبْغَةَ اللّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللّهِ صِبْغَةً

"(Demikianlah) agama Allah. Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada Allah?" (QS. Al-Baqarah: 138).

Allah juga berfirman:

أَفَغَيْرَ دِينِ اللّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

"Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nyalah berserah diri segala apa yang ada di langit dan di bumi, baik dengan sukarela maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nyalah mereka dikembalikan?" (QS. Ali Imran: 83).

Demikian pula, wahai hamba-hamba Allah, konsep keamanan tidak boleh dipisahkan dari pusat-pusat kekuatan dalam masyarakat Muslim. Jangan sampai kita mengabaikan pengaruh nyata pusat-pusat kekuatan tersebut terhadap keamanan masyarakat, baik pengaruh yang positif maupun negatif.

Di sana terdapat apa yang disebut dengan:

* Keamanan pangan.

* Keamanan kesehatan preventif.

* Ketentuan-ketentuan keamanan dalam bidang solidaritas sosial.

* Penyediaan kesempatan kerja dan lapangan produksi.

* Pemberantasan pengangguran.

* Perhatian terhadap generasi muda dalam segala hal yang bermanfaat dan tidak membahayakan.

Termasuk pula mengatasi sumber pengangguran intelektual dan kekosongan spiritual, apa pun bentuknya, karena kedua hal tersebut dapat menghasilkan berbagai penyimpangan dan kekacauan berupa syubhat maupun syahwat.

Selain itu, perlu pula memahami berbagai aspek keamanan yang bersumber dari kajian terhadap fenomena-fenomena keluarga serta berbagai keretakan dan keguncangan yang menimpa fondasi internalnya.

Kita juga tidak boleh lalai terhadap sesuatu yang menjadi perhatian keamanan setiap masyarakat sekaligus menjadi penentu terbuka atau tertutupnya pintu berbagai bentuk gangguan keamanan.

Itulah yang disebut dengan keamanan pemikiran (الأمن الفكري), yaitu keamanan yang melindungi akal masyarakat dan menjaganya agar tidak terjerumus ke dalam berbagai syubhat karena sikap polos dan tidak kritis, ataupun tenggelam dalam berbagai syahwat dengan penuh keserakahan.

Keamanan jenis ini tidak akan dapat terwujud secara sempurna kecuali dengan memperhatikan dua poros utama:

Pertama: poros pemikiran pendidikan dan pembinaan.

Kedua: poros keamanan media dan kebudayaan.

Umat ini harus menghindari jurang kemerosotan, westernisasi, ketergantungan, dan berbagai bentuk penyimpangan melalui kedua poros tersebut.

Sebab, menjaga keamanan akal tidaklah lebih ringan urgensinya dibandingkan menjaga keamanan jiwa dan harta.

Kita dapat menyaksikan bahwa sebagaimana terdapat pencuri dan pembobol rumah, terdapat pula pencuri dan pembobol akal manusia.

Oleh karena itu, pendidikan di kalangan kaum Muslimin harus dilindungi agar identitasnya tidak disusupi dan dialihkan secara diam-diam.

Pendidikan juga harus dilindungi dengan membangun mekanisme yang efektif untuk menyediakan sarana-sarana ilmu yang bermanfaat, yang mendorong kepada amal saleh.

Hal ini mencakup menjauhkan diri dari ketergantungan yang tercela, tidak meremehkan ilmu-ilmu agama yang bermanfaat, tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang berat bagi jiwa, serta tidak mengakuinya dengan sikap malu-malu dan penuh kekhawatiran.

Sikap seperti itu dapat menimbulkan fitnah yang terus berulang dari waktu ke waktu mengenai sejauh mana manfaat mengambil ilmu-ilmu agama tersebut, seolah-olah mempelajarinya hanyalah sesuatu yang terpaksa dilakukan dan mengkhawatirkan, dengan alasan bahwa ilmu-ilmu tersebut bukan termasuk prioritas kebutuhan pasar kerja.

Padahal, pemikiran pendidikan semestinya memenuhi kebutuhan pasar kerja secara khusus dan kebutuhan pembinaan masyarakat secara umum.

Masyarakat Muslim tidak mungkin terlepas dari kedua kebutuhan tersebut.

Adapun poros pemikiran media, maka ia merupakan pusat kendali kehidupan masyarakat kontemporer dan unsur utama yang memengaruhi masyarakat.

Melalui media, manusia dapat diberi penjelasan dan diarahkan. Melalui media pula manusia dapat ditipu dan diarahkan kepada westernisasi.

Melalui media, persoalan-persoalan kaum Muslimin dapat dilayani dan diperjuangkan. Namun melalui media pula berbagai kebenaran dapat ditutupi dan disia-siakan.

Melalui pemikiran media, dapat diketahui masyarakat yang sungguh-sungguh dan masyarakat yang gemar meremehkan perkara.

Segala bentuk keseimbangan dan kesempurnaan yang terdapat dalam masyarakat merupakan cerminan kesempurnaan dan keseimbangan dalam bangunan keamanan media.

Oleh sebab itu, merupakan kesalahan besar apabila pemikiran media diterjemahkan hanya sebagai sekumpulan film-film rendahan atau lagu-lagu cabul yang tidak mengakui nilai-nilai dan prinsip-prinsip, serta tidak memandang kehidupan sebagai sesuatu yang memiliki gambaran dan hakikat.

Tidak! Ini merupakan kekeliruan dalam memahami sesuatu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

"Barang siapa menipu kami, maka dia bukan termasuk golongan kami."

Demikian pula, setiap orang yang memiliki kemampuan berbicara dengan fasih dan didengar oleh masyarakat, atau memiliki pena yang lancar dan tulisannya dibaca, wajib berbicara mengenai urusan kaum Muslimin dengan penuh kejujuran, realisme, keadilan, dan sikap objektif.

Jangan sampai mereka mudah terprovokasi oleh berbagai peristiwa dan reaksi yang muncul, lalu setan memperdaya mereka sehingga mereka berbicara dengan penuh ketegangan, melontarkan cacian tanpa henti, dan terlibat dalam pertengkaran yang justru menutupi persoalan utama.

Pertengkaran seperti itu terkadang dapat melukai mata, tetapi tidak mampu membunuh musuh.

Allah Ta'ala berfirman:

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

"Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya. Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia akan tetap berada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan." (QS. Ar-Ra'd: 17).

Mengembalikan berbagai persoalan kepada sebab-sebab yang sebenarnya dan menempatkan setiap perkara pada tempatnya semestinya menjadi langkah pertama dalam menyelesaikan berbagai persoalan rumit dan masalah yang meresahkan.

Adapun mengabaikan sebab-sebab dan faktor-faktor yang melatarbelakanginya, atau mengaitkannya dengan sumber yang bukan sebenarnya, tidak akan menambah apa pun selain semakin rumitnya persoalan dan semakin meluasnya keburukan.

Sesungguhnya akal yang sehat akan menganggap bodoh seorang dokter yang mengaitkan penyebab penyakit kanker dengan minum air atau menghirup udara.

Sebab, apa pun hasil diagnosisnya, akibatnya akan menimpa diriku dan dirimu, wahai kaum Muslimin; anakku dan anakmu; putriku dan putrimu; keluargaku dan keluargamu.

Demikian pula, penyelesaian persoalan semacam ini hendaknya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keahlian, yaitu para ulama besar dan orang-orang bijaksana yang terpercaya dalam agama dan amanah mereka.

Hal itu harus dilakukan tanpa membuat kegaduhan, kekacauan, saling menyebarkan kabar yang tidak jelas, prasangka, dan dugaan-dugaan tanpa dasar.

Allah جل وعلا berfirman:

قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ

"Celakalah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan dan kelalaian." (QS. Adz-Dzariyat: 10–11).

Qatadah رحمه الله berkata:

الْخَرَّاصُونَ هُمْ أَهْلُ الْغِرَّةِ وَالظُّنُونِ

"Al-Kharrashun adalah orang-orang yang berada dalam kelalaian dan prasangka-prasangka."

Sesungguhnya membiarkan lisan berbicara tanpa kendali dan membiarkan pena terus mengalir membahas berbagai persoalan pelik serta peristiwa besar tanpa batasan dan kendali, termasuk perkara yang dapat menimbulkan kegaduhan, membangkitkan kebencian dalam dada, dan mengeluarkan masyarakat Muslim dari upaya mendiagnosis peristiwa yang sedang terjadi menuju saling menyerang, perselisihan, dan melampiaskan dendam tersembunyi dalam jiwa.

Setelah itu, janganlah kalian bertanya mengenai usaha pihak-pihak yang meragukan keislaman masyarakat Muslim dan kejernihan sumber ajaran Islam di dalamnya untuk mencari-cari kesalahan, melontarkan sindiran, celaan, dan fitnah melalui adu domba.

Akibatnya, kegaduhan semakin banyak, sedangkan penguasaan ilmu semakin sedikit.

Ketenangan dan keselamatan dari bahaya pun semakin lenyap.

Bahkan, mereka tidak mampu memberikan solusi segera selain dengan mencampuradukkan persoalan, kebodohan, dan penyesatan.

Kemudian, masalah yang ada justru diselesaikan dengan masalah lain yang lebih buruk darinya.

Sebagai contoh:

Seandainya seseorang mencuri di masjid, tentu akan terdengar teriakan sebagian orang yang gemar mencela atau membenci Islam, yang menyerukan agar masjid-masjid ditutup atau dihancurkan demi memutus akar pencurian.

Seandainya seorang perempuan berjilbab melakukan penipuan dan kecurangan, tentu akan terdengar gema seruan untuk menanggalkan jilbab demi menghilangkan sumber penipuan dan kecurangan—demikian menurut anggapan mereka.

Padahal, pada hakikatnya, mereka tidak menyerukan agar tangan pencuri dipotong dan tidak pula menuntut agar perempuan yang menipu dan berbuat curang itu diberikan hukuman yang layak.

Sebaliknya, mereka justru menyerukan penghancuran masjid dan penanggalan jilbab.

Inilah sumber keanehan yang sesungguhnya. Inilah sesuatu yang menimbulkan keterkejutan dan melahirkan sikap berlebih-lebihan serta berbagai reaksi yang tidak terkendali.

Akibatnya, sikap melampaui batas dan sikap meremehkan semakin cepat berkembang dengan mengorbankan sikap moderat yang diharapkan dalam masyarakat Muslim.

Wahai hamba-hamba Allah!

Islam membenci pembicaraan sia-sia yang bertele-tele, yang terkadang secara tersembunyi tidak menimbulkan bahaya yang berarti.

Lantas, bagaimana jika pembicaraan itu benar-benar menimbulkan bahaya yang nyata dan pertikaian yang memecah belah?

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَنَاجَيْتُمْ فَلَا تَتَنَاجَوْا بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُولِ وَتَنَاجَوْا بِالْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan perbuatan dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Akan tetapi, bicarakanlah tentang kebajikan dan ketakwaan. Bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan." (QS. Al-Mujadilah: 9).

Sesungguhnya Islam sangat jelas dalam menentukan sikapnya terhadap kebebasan mengkritik dan berdialog.

Islam tidak memandang bahwa kebebasan tersebut merupakan sesuatu yang terbuka tanpa batas bagi setiap orang.

Islam juga tidak membenarkan seseorang menulis dan berbicara sesuka hatinya, dengan cara apa pun yang dikehendakinya, tanpa terikat oleh ketentuan dan batasan syariat.

Sungguh sangat disayangkan bahwa pemahaman tentang kebebasan berekspresi dan kebebasan berdialog telah tersebar secara terbalik dalam pemikiran sebagian orang yang belum matang dari kalangan penulis dan orang-orang yang pandai berbicara.

Mereka mengira bahwa kebebasan tersebut tidak lebih dari sekadar melepaskan ucapan tanpa pertimbangan dan memenuhi halaman-halaman tulisan dengan berbagai perkataan yang tidak bermutu, yang justru mendatangkan bahaya dan tidak memberikan manfaat.

Sesungguhnya keamanan media dalam masyarakat sangat membutuhkan kajian-kajian luas yang mampu menangkap tujuan yang benar dan penuh kesadaran melalui penelitian terhadap berbagai lapisan masyarakat Muslim.

Kajian tersebut harus menghubungkan keadaan masyarakat dengan latar belakang syariat dan sosial dari kelompok yang menjalankan berbagai aktivitas media yang berpengaruh.

Demikian pula, perlu dilakukan analisis terhadap berbagai tindakan dan reaksi yang muncul dengan mempertimbangkan tuntutan syariat dan tuntutan sosial, serta membandingkannya dengan tuntutan keinginan pribadi yang dikelilingi syubhat atau syahwat.

Juga perlu dikaji pengaruh berbagai keterlibatan tersebut dalam membangkitkan kesadaran keamanan media dan meningkatkan kecukupan produktivitas melalui stabilitas masyarakat.

Stabilitas tersebut pada akhirnya akan kembali memberikan manfaat umum dan ketenangan yang luas bagi keluarga dan individu, baik di dunia maupun di akhirat.

Oleh karena itu, kewajiban kita semua, wahai kaum Muslimin, adalah memandang hakikat keamanan melalui pintu yang paling luas dan jalan yang paling dekat untuk mencapainya.

Kita harus menempatkan setiap persoalan sesuai dengan kedudukannya dalam menghadapi berbagai perkembangan baru.

Janganlah kita melibatkan diri dalam persoalan-persoalan besar yang hanya layak ditangani oleh orang-orang besar yang memiliki kapasitas untuk itu.

Setiap orang hendaknya menjalankan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang Allah berikan kepadanya dalam mengurus kemaslahatan kaum Muslimin, menjaga mereka, serta menegakkan kebenaran dan keadilan terhadap orang-orang yang Allah amanahkan kepadanya.

Maka takutlah kepada Allah! Takutlah kepada Allah!

Janganlah kita memenuhi ruang kehidupan dengan pembicaraan yang berlebihan, kabar yang tidak jelas, dan perkataan yang tidak bermanfaat.

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra': 36).

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian melalui Al-Qur'an dan As-Sunnah, serta memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat dan hikmah yang terkandung di dalam keduanya.

Apa yang telah aku sampaikan, apabila benar, maka itu berasal dari Allah. Namun, apabila salah, maka itu berasal dari diriku sendiri dan setan.

Aku memohon ampun kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.



 KHUTBAH KEDUA

Segala puji bagi Allah semata, dan semoga shalawat serta salam tercurah kepada orang yang tidak ada nabi setelahnya.

Amma ba'du.

Bertakwalah kepada Allah, wahai kaum Muslimin!

Ketahuilah bahwa terdapat sejumlah perkara yang telah menjadi ketetapan dan prinsip-prinsip mendasar yang harus dipahami oleh masyarakat Muslim secara umum.

Yang aku maksud adalah masyarakat yang menjadikan syariat Allah sebagai tujuan dan cita-citanya.

Penegasan terhadap prinsip-prinsip ini harus terus diulang setiap kali terdapat kesempatan, terlebih ketika berbagai peristiwa besar dan kesulitan melanda.

Di antara prinsip-prinsip tersebut, wahai hamba-hamba Allah, adalah bahwa:

Pertama: Akidah kaum Muslimin berlandaskan tauhid kepada Allah.

Akidah mereka dibangun di atas ketundukan kepada-Nya melalui ketaatan dan pemurnian ibadah dari segala bentuk kesyirikan.

Mustahil ada bentuk keyakinan lain yang dapat mendatangkan keberuntungan apabila menyimpang dari prinsip tersebut.

Allah Ta'ala berfirman:

حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

"Dengan ikhlas beribadah kepada Allah, tanpa mempersekutukan-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh." (QS. Al-Hajj: 31).

Kedua: Syariat Islam merupakan syariat yang tetap dan kokoh.

Syariat Islam sesuai untuk setiap zaman dan tempat. Segala sesuatu harus tunduk kepadanya, sedangkan syariat itu sendiri tidak tunduk kepada segala sesuatu.

Prinsip ini telah berlaku sejak diutusnya Nabi ﷺ hingga hari ini.

Sepanjang perjalanan berabad-abad, kaum Muslimin hidup dalam keadaan silih berganti antara kemenangan yang mereka sikapi dengan kerendahan hati dan kekalahan serta kerugian yang mereka hadapi dengan mengucapkan istirja' dan hauqalah.

Mereka tetap bersabar menghadapi semua keadaan tersebut sampai Allah mendatangkan kemenangan atau keputusan-Nya.

Sementara itu, syariat mereka tetap ada, tidak berubah dan tidak berganti.

Ketiga: Umat Islam tidak akan pernah dapat terlepas dari kebutuhan terhadap para ulama rabbani dan para dai yang jujur.

Betapapun tinggi tingkat persenjataan militer, kemajuan revolusi industri, dan perkembangan globalisasi peradaban yang dicapai umat Islam, mereka tetap tidak dapat terlepas dari kebutuhan terhadap para ulama rabbani dan para dai yang tulus.

Merekalah orang-orang yang hati manusia berkumpul di sekelilingnya dan jiwa-jiwa menjadi bersatu karena mereka.

Mereka berangkat dari pemahaman yang benar dan kokoh terhadap Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ.

Mereka adalah bintang-bintang yang bercahaya terang dan rembulan-rembulan yang menerangi.

Seandainya bukan karena mereka, setelah pertolongan Allah, niscaya bumi akan berguncang bersama para penghuninya.

Namun, keberadaan mereka di tengah umat ibarat pasak-pasak dan gunung-gunung penyangga.

Mereka merupakan bekal utama umat dalam menghadapi pemikiran ateisme yang menyimpang dan berbagai seruan menyesatkan yang membabi buta.

Mereka juga merupakan bekal umat untuk mengendalikan sikap ekstrem dan membangkitkan semangat orang-orang yang bersikap berlebihan dalam meremehkan agama.

Para ulama dan dai tidak akan mampu menjalankan tugas ini apabila kepercayaan terhadap mereka hilang atau masyarakat tidak lagi menghormati dan membanggakan keberadaan mereka.

Sebab, tidak ada kemuliaan bagi suatu masyarakat kecuali dengan menisbatkan dirinya kepada Islam dan berpegang teguh kepada para ulama yang memiliki akal yang matang, kejujuran, dan amanah.

Kemudian, bershalawatlah kalian—semoga Allah merahmati kalian—kepada manusia terbaik dan makhluk paling suci, yaitu Muhammad bin Abdullah, pemilik telaga (Al-Haudh) dan pemberi syafaat.

Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian dengan suatu perintah yang Dia awali dengan menyebut diri-Nya sendiri, kemudian menyebut para malaikat-Nya yang senantiasa bertasbih menyucikan-Nya, lalu memerintahkan kalian, wahai orang-orang beriman, untuk melaksanakannya.

Allah جل وعلا berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56).

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

"Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali."

Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, pemilik wajah yang paling bercahaya dan dahi yang paling bersinar.

Ya Allah, ridhailah empat khalifah beliau: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Ridhailah pula seluruh sahabat Nabi-Mu Muhammad ﷺ, para tabi'in, para pengikut tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat.

Dan ridhailah pula kami bersama mereka dengan ampunan, kemurahan, dan karunia-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.

Hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik.

Ya Allah, tolonglah agama-Mu, Kitab-Mu, Sunnah Nabi-Mu, dan hamba-hamba-Mu yang beriman.

Ya Allah, lapangkanlah kesedihan orang-orang Muslim yang sedang bersedih.

Hilangkanlah kesusahan orang-orang yang sedang mengalami kesulitan.

Lunasilah utang orang-orang yang terlilit utang.

Sembuhkanlah orang-orang yang sakit di antara kami dan seluruh kaum Muslimin.

Ya Allah, anugerahkanlah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami.

Perbaikilah para pemimpin kami dan para pemegang urusan kami.

Jadikanlah kepemimpinan kami berada di tangan orang-orang yang takut kepada-Mu, bertakwa kepada-Mu, dan mengikuti keridaan-Mu, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami agar dapat melakukan perkataan dan perbuatan yang Engkau cintai dan Engkau ridhai, wahai Zat Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.

Ya Allah, perbaikilah orang-orang dekat dan para penasihatnya, wahai Zat Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.

Ya Allah, segala kebaikan yang kami minta kepada-Mu, maka karuniakanlah kepada kami.

Segala kebaikan yang tidak kami minta, maka mulailah dengan menganugerahkannya kepada kami.

Dan segala kebaikan yang belum mampu dijangkau oleh harapan-harapan kami, maka sampaikanlah kami kepadanya.

Allah Ta'ala berfirman:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Wahai Tuhan kami! Berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Al-Baqarah: 201).

Mahasuci Rabb kami, Rabb Yang memiliki keperkasaan, dari segala yang mereka sifatkan kepada-Nya.

Dan keselamatan semoga tercurah kepada para rasul.

Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.





 Catatan pokok kandungan khutbah : 

Khutbah Syekh Saud asy-Syuraim ini menegaskan bahwa keamanan dalam Islam bukan sekadar bebas dari pencurian, pembunuhan, dan gangguan kriminalitas. Keamanan memiliki cakupan yang jauh lebih luas.

Di antara pokok-pokok penting yang ditekankan:

* Keamanan akidah: menjaga tauhid dan memurnikan ibadah kepada Allah dari kesyirikan.

* Keamanan syariat: menjadikan syariat Allah sebagai pedoman kehidupan.

* Keamanan jiwa dan harta: menjaga masyarakat dari kejahatan dan tindakan yang merusak stabilitas.

* Keamanan pangan dan kesehatan: menjamin kebutuhan pokok masyarakat.

* Keamanan sosial dan ekonomi: mengatasi pengangguran serta menyediakan lapangan kerja.

* Keamanan keluarga: memperhatikan keretakan dan berbagai persoalan dalam kehidupan rumah tangga.

* Keamanan pemikiran: melindungi akal dari syubhat dan syahwat yang menyesatkan.

* Keamanan pendidikan dan media: membangun pendidikan yang bermanfaat serta media yang jujur, adil, dan bertanggung jawab.

* Menjaga persatuan: tidak menyebarkan kegaduhan, prasangka, dan pertikaian dalam menghadapi persoalan umat.

* Menghormati ulama: mengembalikan persoalan besar kepada ulama dan orang-orang yang memiliki keahlian serta amanah.

Pesan utama khutbah: Keamanan merupakan nikmat besar yang harus dijaga melalui tauhid, penerapan syariat, ilmu, keadilan, tanggung jawab, persatuan, dan kebijaksanaan dalam menyikapi berbagai persoalan umat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar