APA YANG DISISI ALLAH LEBIH BAIK DAN KEKAL
Terjemahan Lengkap Khutbah Masjid Nabawi
Khatib: Syekh Ali bin Abdurrahman al-Hudzaifi حفظه الله
Tanggal khutbah: 13 Dzulhijjah 1431 H
Khutbah Pertama
Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada para hamba-Nya berbagai nikmat-Nya yang tidak terhitung. Mahaberkah dan Mahasuci nama Rabb kita. Milik-Nya nama-nama yang paling indah. Dialah Rabb kita dan Rabb segala sesuatu. Kita tidak mampu menghitung pujian kepada-Nya; Dia sebagaimana Dia memuji diri-Nya sendiri dengan sifat-sifat-Nya yang Mahatinggi.
Segala puji bagi Allah di dunia dan di akhirat.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku menyimpan kesaksian keikhlasan ini untuk hari ketika tidak ada sesuatu pun yang bermanfaat kecuali ketakwaan.
Aku bersaksi bahwa Nabi dan pemimpin kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya yang terpilih.
Ya Allah, limpahkanlah salawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, serta kepada keluarga dan para sahabatnya yang menjadi panji-panji petunjuk.
Amma ba’du.
Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan, dan berpegang teguhlah pada tali Islam yang paling kokoh.
Wahai hamba-hamba Allah!
1\. Kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan dalam ketaatan kepada Allah
Sesungguhnya merasa senang dan gembira ketika memperoleh apa yang diinginkan, meraih sesuatu yang dicintai, dan mencapai berbagai tujuan merupakan sifat jiwa, sesuatu yang telah menjadi tabiat hati, serta perkara yang diusahakan oleh manusia.
Akan tetapi, keinginan duniawi dan berbagai manfaat yang segera diperoleh hanyalah kesenangan yang akan lenyap dan bayangan yang terus berubah. Semuanya berakhir bersamaan dengan berakhirnya umur manusia.
Allah Ta'ala berfirman:
“Dan apa saja yang diberikan kepada kalian, maka itu adalah kesenangan hidup dunia dan perhiasannya; sedangkan apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal. Tidakkah kalian mengerti?”
(QS. Al-Qashash: 60)
Allah Ta'ala juga berfirman:
“Maka apa saja yang diberikan kepada kalian, maka itu adalah kesenangan hidup dunia. Adapun apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman dan hanya bertawakal kepada Rabb mereka.
Dan juga bagi orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, serta apabila mereka marah, mereka memberikan maaf.
Dan juga bagi orang-orang yang memenuhi seruan Rabb mereka, mendirikan salat, memutuskan urusan mereka dengan musyawarah di antara mereka, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”
(QS. Asy-Syura: 36–38)
Kebahagiaan dan kegembiraan yang paling baik, kemenangan yang paling agung, serta keberhasilan yang paling utama adalah ketika seseorang bergembira atas ketaatan kepada Allah Ta'ala yang berhasil dilakukannya dan atas keselamatannya dari kemaksiatan serta dosa.
Allah Ta'ala berfirman:
“Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’”
(QS. Yunus: 58)
Para ahli tafsir berkata, “Katakanlah kepada mereka, wahai Nabi Allah, hendaklah mereka bergembira dengan ketaatan kepada Allah, dengan agama-Nya, dan dengan Al-Qur’an yang merupakan rahmat dari Allah. Bergembira dengan semua itu lebih baik daripada kesenangan dunia yang mereka kumpulkan dan lebih baik daripada segala sesuatu yang mereka inginkan serta berlomba-lomba untuk mendapatkannya.”
2\. Kegembiraan kaum muslimin atas keberhasilan ibadah haji
Setelah para jamaah haji menunaikan manasik haji mereka, melaksanakan ibadah kepada Rabb mereka, dimudahkan untuk berpindah di antara tempat-tempat suci, memperoleh kebutuhan dan pelayanan yang diperlukan, serta menikmati naungan keamanan yang luas dan menenteramkan yang Allah bentangkan di negeri ini, kemudian mereka mulai kembali ke negeri masing-masing dengan selamat dan memperoleh keuntungan berupa ampunan Allah Ta'ala, kaum muslimin pun bergembira atas semua itu.
Mereka bergembira karena pelaksanaan haji dimudahkan, berlangsung dengan lancar, dan diselesaikan dengan baik serta dalam keadaan sehat dan selamat.
Mereka juga bergembira karena keamanan tetap terjaga. Allah telah menjadikan keamanan sebagai salah satu syarat penting bagi pelaksanaan haji. Demikian pula, mereka bergembira karena berbagai sarana telah disiapkan untuk membantu jamaah haji menunaikan manasik dengan ketenangan, kenyamanan, dan kebahagiaan.
Alasan kaum muslimin bergembira atas keberhasilan penyelenggaraan haji adalah bahwa orang yang menunaikan kewajiban haji bergembira karena Allah Ta'ala telah memberinya pertolongan untuk melaksanakannya.
Ia bergembira karena memperoleh kebaikan dunia dan akhirat, serta telah menunaikan kewajiban besar dalam perjalanan hidupnya. Barang siapa yang hajinya terjaga dengan baik, maka ia telah memperoleh keselamatan dalam perjalanan hidupnya.
3\. Keutamaan haji: menghapus dosa dan memperoleh surga
Di antara keistimewaan haji adalah bahwa haji melemahkan penguasaan setan terhadap seorang muslim dan menghapus dosa-dosanya.
Dari Amr bin al-Ash radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Islam menghapuskan apa yang terjadi sebelumnya, dan haji menghapuskan apa yang terjadi sebelumnya.”
HR. Muslim.
Barang siapa menunaikan haji sunah, maka ia menutupi kekurangan dalam pelaksanaan kewajiban dan menambah amal kebaikan di atasnya. Ia juga dijanjikan pahala yang sangat besar.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Haji yang mabrur tidak memiliki balasan selain surga.”
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Barang siapa berhaji karena Allah, kemudian ia tidak berkata kotor dan tidak melakukan kefasikan, niscaya ia kembali dari dosa-dosanya seperti pada hari ketika ibunya melahirkannya.”
HR. Al-Bukhari dan Muslim.
Adapun kegembiraan kaum muslimin lainnya atas keberhasilan pelaksanaan haji adalah karena mereka berharap memperoleh manfaat dari doa saudara-saudara mereka yang sedang berhaji.
Doa khusus yang mereka panjatkan dengan menyebut orang-orang tertentu maupun doa umum untuk kaum muslimin diharapkan dikabulkan oleh Allah.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang-orang yang berhaji dan berumrah adalah utusan-utusan Allah. Jika mereka berdoa kepada-Nya, Dia mengabulkan doa mereka; dan jika mereka memohon ampun kepada-Nya, Dia mengampuni mereka.”
HR. An-Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban dalam kitab-kitab Shahih mereka.
Kaum muslimin juga bergembira karena ibadah haji terus berlangsung dan dilaksanakan setiap tahun.
Hal ini karena keberlangsungan haji dari tahun ke tahun merupakan sebab keamanan bagi penduduk bumi dari azab kebinasaan dan pemusnahan secara menyeluruh. Selain itu, keberlangsungan haji juga menjaga keteraturan berbagai kepentingan, manfaat, dan penghidupan manusia.
Hal tersebut diketahui oleh orang yang mengetahuinya, sedangkan orang yang tidak mengetahuinya tetap tidak mengetahuinya.
Allah Ta'ala berfirman:
“Allah telah menjadikan Ka'bah, rumah suci itu, sebagai pusat kehidupan dan kemaslahatan bagi manusia; demikian pula bulan haram, hewan kurban, dan hewan kurban yang diberi tanda. Yang demikian itu agar kalian mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. Al-Ma’idah: 97)
4\. Musibah terjadi karena sebagian dosa manusia
Berbagai bencana yang menimpa manusia terjadi karena sebagian dosa mereka, sebagaimana firman Allah Tabaraka wa Ta'ala:
“Dan musibah apa pun yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan-kesalahan kalian.”
(QS. Asy-Syura: 30)
Adapun berbagai keburukan yang Allah jauhkan dari manusia jauh lebih banyak daripada yang mereka ketahui. Hal itu terjadi melalui banyaknya doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh, beragam permohonan yang disampaikan kepada Rabb bumi dan langit, banyaknya hewan kurban dalam ibadah haji yang dengannya Allah meridai orang-orang yang beribadah, serta beragam ketaatan yang dilakukan oleh orang-orang saleh.
Bumi akan senantiasa berada dalam kebaikan selama ibadah haji masih berlangsung.
Atha’ bin Abi Rabah berkata:
“Seandainya mereka meninggalkannya selama satu tahun saja, niscaya mereka tidak akan diberi penangguhan.”
Maksudnya, Allah akan segera menimpakan hukuman kepada penduduk bumi.
Makna firman Allah:
“Allah telah menjadikan Ka'bah, rumah suci itu, sebagai pusat kehidupan dan kemaslahatan bagi manusia.”
(QS. Al-Ma’idah: 97)
Adalah bahwa Allah menjadikan Baitullah yang suci ini sebagai sebab kebaikan dan kemaslahatan urusan agama serta dunia manusia. Allah menjadikannya sebagai kebaikan bagi kehidupan mereka di dunia dan akhirat, karena mereka memperoleh manfaat dari haji, umrah, perdagangan, serta berbagai manfaat dan kemaslahatan lainnya.
Sebagaimana firman Allah Ta'ala:
“Sesungguhnya rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.”
(QS. Ali Imran: 96)
Baitullah itu diberkahi, yakni mengandung banyak kebaikan dan keutamaan, karena orang-orang yang mendatanginya untuk berhaji dan berumrah memperoleh pahala yang sangat besar.
Baitullah menjadi petunjuk bagi seluruh alam karena merupakan kiblat mereka. Di dalamnya terdapat berbagai bukti dan tanda yang membimbing orang berakal menuju agama yang benar, yaitu agama yang menjadi tujuan dibangunnya rumah tersebut.
Betapa baik pengaruh kaum muslimin terhadap orang-orang nonmuslim, dan betapa buruk pengaruh orang-orang nonmuslim terhadap kaum muslimin.
Adapun orang yang datang untuk melakukan kejahatan dan kerusakan, bukan untuk menunaikan haji, maka Allah akan mengembalikannya dalam keadaan gagal, kecewa, tertahan, dan hina. Allah akan menimpakan kepadanya apa yang Dia kehendaki untuk menjaga rumah-Nya dan para jamaah haji dari keburukan orang-orang yang membuat kerusakan.
Allah Ta'ala berfirman:
“Dan barang siapa bermaksud melakukan kejahatan secara zalim di dalamnya, niscaya akan Kami rasakan kepadanya siksa yang pedih.”
(QS. Al-Hajj: 25)
5\. Nasihat bagi orang yang telah menunaikan haji dan orang yang belum berhaji
Wahai orang yang telah diberi taufik oleh Allah untuk menunaikan haji!
Sambutlah kehidupanmu dengan berbagai amal yang baik. Allah telah menghapuskan dosa-dosamu apabila engkau mengikuti sunah dalam pelaksanaan hajimu.
Janganlah engkau merusak hajimu dengan perkara-perkara yang membatalkannya.
Orang-orang saleh terdahulu sangat menjaga haji mereka dari segala sesuatu yang dapat merusak dan menggugurkan pahalanya. Mereka bahkan lebih bersungguh-sungguh menjaga haji mereka daripada menjaga diri dan harta mereka sendiri.
Wahai orang yang pada tahun ini belum ditakdirkan untuk menunaikan haji!
Sesungguhnya engkau telah memperoleh banyak kebaikan selama bulan-bulan haji melalui berbagai ketaatan yang telah engkau kerjakan.
Maka iringilah satu kebaikan dengan kebaikan-kebaikan berikutnya, dan janganlah engkau membatalkan amal-amalmu dengan berbagai keburukan. Kesempatan hidupmu masih terbuka, maka manfaatkanlah untuk memperbanyak amal saleh.
Allah Ta'ala berfirman:
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”
(QS. Al-Baqarah: 197)
Segala puji bagi Allah, baik secara lahir maupun batin, atas nikmat-nikmat-Nya yang telah Dia limpahkan kepada kita, kaum muslimin.
Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan para pemimpin negeri ini sebagai pihak yang mengemban amanah untuk mengurus tempat-tempat suci dan Masjid Rasulullah ﷺ.
Mereka mempersiapkan diri, tenaga, dan harta untuk merawat, melayani, serta menyediakan berbagai kebutuhan tempat-tempat suci tersebut bagi para jamaah haji dan umrah.
Hingga berbagai pelayanan itu menjadi pembicaraan yang menyenangkan untuk didengar dalam berbagai majelis dan penjuru dunia.
Mereka akan mendapati kebaikan-kebaikan tersebut tercatat dalam lembaran amal pada hari ketika Allah memberikan balasan kepada seluruh manusia atas kebaikan yang telah mereka kerjakan.
Semoga Allah memberikan balasan terbaik kepada mereka.
Oleh karena itu, kita semua wajib bersyukur kepada Allah dengan berpegang teguh pada ketaatan kepada-Nya dan menjauhi kemaksiatan kepada-Nya, agar Allah menjaga nikmat-nikmat-Nya untuk kita dan menjauhkan hukuman-Nya dari kita.
6\. Sebab kemunduran dan berbagai kesulitan yang menimpa kaum muslimin
Wahai kaum muslimin!
Sesungguhnya kalian menyaksikan dan mendengar berbagai persoalan besar yang menimpa kaum muslimin, berbagai kesusahan yang menimpa mereka, serta persoalan-persoalan yang membuat akal kebingungan di banyak negeri.
Penyebabnya adalah kurangnya perhatian terhadap agama.
Allah Ta'ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra'd: 11)
Apabila kaum muslimin tidak menyelesaikan persoalan mereka sendiri, maka mereka tidak akan memperoleh kebaikan dari musuh-musuh mereka.
Perkara terbesar yang kami nasihatkan kepada diri kami sendiri dan seluruh kaum muslimin adalah memberikan perhatian kepada tauhid Allah Ta'ala, dengan memurnikan ibadah hanya kepada Allah.
Tidak boleh ada seorang pun yang dipersekutukan dengan Allah dalam doa, istigasah atau permohonan pertolongan, penyembelihan kurban, nazar, permintaan untuk memenuhi kebutuhan, maupun permohonan agar kesulitan dihilangkan.
Sebab, tauhid kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala merupakan fondasi agama.
Apabila seorang muslim berdiri di atas fondasi tauhid, kebaikannya akan dilipatgandakan. Adapun keburukannya, Allah dapat mengampuninya dengan karunia, anugerah, dan kemurahan-Nya.
Selanjutnya, kita harus memberikan perhatian terhadap salat, dengan melaksanakannya secara tenang dan sempurna serta menunaikannya sesuai dengan tata cara salat Rasulullah ﷺ semampu kita.
Salat mempunyai kedudukan yang sangat agung dalam memperbaiki keadaan dan seluruh urusan manusia.
Barang siapa memperbaiki salatnya, maka amal-amalnya akan menjadi baik, dan kehidupan dunia serta akhiratnya akan menjadi baik baginya.
Selanjutnya, kita harus memberikan perhatian terhadap persaudaraan Islam dengan saling membantu, saling menasihati, saling menyayangi, dan saling berempati berdasarkan persaudaraan Islam.
Tidak ada perkara yang lebih membahayakan persoalan kaum muslimin daripada perpecahan dan perselisihan.
Allah Ta'ala berfirman:
“Dan berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepada kalian ketika dahulu kalian bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian sehingga dengan karunia-Nya kalian menjadi bersaudara. Padahal, ketika itu kalian berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian mendapat petunjuk.”
(QS. Ali Imran: 103)
Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dengan Al-Qur’an yang agung, memberikan manfaat kepada kita melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya, serta memberikan manfaat kepada kita melalui petunjuk pemimpin para rasul.
Aku mengucapkan perkataanku ini dan memohon ampun kepada Allah untuk diriku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum muslimin dari setiap dosa. Maka mohonlah ampun kepada-Nya.
Khutbah Kedua
Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Aku bersaksi bahwa Nabi dan pemimpin kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya.
Ya Allah, limpahkanlah salawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.
Amma ba’du.
Bertakwalah kepada Allah, wahai kaum muslimin! Bertakwalah kepada Allah dan taatilah Dia, niscaya kalian memperoleh keridaan-Nya, masuk ke dalam surga-Nya, dan selamat dari azab-Nya. Itulah kemenangan yang agung.
7\. Bahaya bid'ah dan kewajiban mengikuti Rasulullah ﷺ
Wahai kaum muslimin!
Sesungguhnya berbagai bid'ah telah memecah belah kaum muslimin. Tidak ada sesuatu yang dapat menyatukan hati selain kebenaran. Kebenaran itu satu dan tidak berbilang-bilang, sedangkan hawa nafsu bercabang-cabang dan terpecah-pecah.
Jalan-jalan kesesatan tidak terhitung banyaknya.
Nabi ﷺ telah memberitakan bahwa umat ini akan terpecah belah. Namun, golongan yang selamat adalah golongan yang berpegang teguh pada apa yang dijalankan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat beliau.
Nabi ﷺ bersabda:
“Orang-orang Yahudi terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, orang-orang Nasrani terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya berada di neraka kecuali satu golongan.”
Kami bertanya, “Siapakah golongan itu, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Orang-orang yang mengikuti jalan seperti yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.”
Sesungguhnya kebodohan merupakan penyakit yang sangat besar.
Apabila kebodohan menguasai kaum muslimin dan mereka mengabaikan pembelajaran terhadap urusan agama mereka, berbagai penyimpangan akan masuk ke tengah-tengah mereka. Bidah pun masuk ke dalam setiap amal yang mereka lakukan.
Kebodohan dapat mengubah pemahaman terhadap makna Islam.
Bahkan, kebodohan terhadap tauhid Allah Tabaraka wa Ta'ala telah mengubah pemahaman tentang tauhid. Akibatnya, tauhid dan orang-orang yang menyerukannya menjadi sesuatu yang dibenci oleh sebagian orang karena mereka tidak memahaminya.
Sebaliknya, kesyirikan dan tawasul yang menyimpang—termasuk kesyirikan kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala, meminta pemenuhan kebutuhan kepada orang-orang saleh, serta meminta kepada penghuni kubur—justru dianggap oleh mereka sebagai bagian dari agama Allah Azza wa Jalla.
Akibatnya, mereka mencintai sesuatu yang dibenci oleh Allah Tabaraka wa Ta'ala dan membenci sesuatu yang dicintai oleh Allah.
8\. Para wali Allah dihormati, tetapi tidak boleh diibadahi
Sesungguhnya para wali Allah Tabaraka wa Ta'ala tidak akan diliputi rasa takut dan tidak pula bersedih hati. Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Allah Azza wa Jalla.
Akan tetapi, mereka tidak boleh diibadahi bersama Allah Tabaraka wa Ta'ala.
Mereka hendaknya dijadikan teladan dalam perbuatan-perbuatan mereka, dan perjalanan hidup serta jalan mereka hendaknya diikuti.
Allah Ta'ala berfirman:
“Katakanlah, ‘Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Ali Imran: 31)
Allah tidak menjadikan kecintaan kepada-Nya cukup dengan pengakuan semata, tanpa mengikuti Rasulullah ﷺ, padahal mencintai Rasulullah ﷺ termasuk kewajiban yang paling agung.
Sebab, kecintaan yang benar tidak akan menjadi kecintaan yang sesungguhnya kecuali dengan mengikuti beliau.
Oleh karena itu, wahai hamba-hamba Allah, jadilah kalian orang-orang yang mengikuti Rasul kalian ﷺ dan mencintai beliau. Cintailah para wali Allah dan teladanilah perbuatan mereka. Namun, janganlah seorang pun mempersekutukan sesuatu dengan Allah.
9\. Akan senantiasa ada golongan yang teguh di atas kebenaran
Nabi ﷺ telah memberitakan bahwa akan senantiasa ada sekelompok orang dari umat beliau yang berada di atas kebenaran.
Beliau ﷺ bersabda:
“Akan senantiasa ada sekelompok orang dari umatku yang tampil teguh di atas kebenaran. Orang-orang yang mengabaikan mereka dan orang-orang yang menyelisihi mereka tidak akan membahayakan mereka, sampai datang ketetapan Allah Tabaraka wa Ta'ala.”
Barang siapa berpegang teguh pada kebenaran, Allah Tabaraka wa Ta'ala akan menolongnya. Sebaliknya, barang siapa memusuhi agama Allah, Allah Azza wa Jalla akan menghinakannya.
Oleh karena itu, wahai hamba-hamba Allah, jadilah kalian para penolong agama Allah dalam diri kalian sendiri, keluarga kalian, dan masyarakat kalian. Serulah manusia menuju Allah Azza wa Jalla dengan hikmah dan nasihat yang baik.
Allah telah memerintahkan kalian melakukan suatu perkara yang Dia mulai dengan menyebut diri-Nya sendiri.
Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab: 56)
Maka, bersalawat dan ucapkanlah salam kepada pemimpin seluruh manusia terdahulu dan yang akan datang, serta imam para rasul.
10\. Doa penutup khutbah
Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan salawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan limpahkanlah salam dengan sebanyak-banyaknya.
Ya Allah, ridhailah seluruh sahabat Nabi, serta para khalifah yang lurus dan para imam yang mendapat petunjuk: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Ridhailah seluruh sahabat lainnya, para tabiin, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
Ya Allah, ridhailah pula kami bersama mereka, dengan anugerah, kemurahan, dan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin.
Ya Allah, berikanlah kepada kami dan kaum muslimin pemahaman yang mendalam tentang agama. Ya Allah, berikanlah kepada kami, keturunan kami, dan kaum muslimin pemahaman yang mendalam tentang agama-Mu, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang berpegang teguh pada syariat Nabi-Mu. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang berpegang teguh pada sunah Nabi-Mu, Muhammad ﷺ.
Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Perlihatkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk menjauhinya, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, anugerahkanlah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami.
Ya Allah, perbaikilah keadaan para pemimpin kami.
Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami, imam kami, pelayan Dua Tanah Suci, agar melakukan perkara-perkara yang Engkau cintai dan Engkau ridhai.
Ya Allah, bimbinglah dia menuju petunjuk-Mu dan jadikanlah amalnya berada dalam keridaan-Mu, wahai Rabb seluruh alam. Tolonglah agama-Mu melalui dirinya.
Ya Allah, perbaikilah orang-orang kepercayaannya yang berada di sekelilingnya. Bantulah dia dalam urusan dunia dan agama, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, berikanlah taufik kepada kedua wakilnya untuk melakukan perkara-perkara yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Bimbinglah keduanya menuju petunjuk-Mu dan jadikanlah amal keduanya berada dalam keridaan-Mu, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, anugerahkanlah kesehatan dan keselamatan kepada mereka semua, wahai Rabb seluruh alam. Bantulah mereka dalam segala perkara yang membawa kebaikan bagi Islam dan kaum muslimin.
Ya Allah, jadikanlah amal para pemimpin kaum muslimin sebagai kebaikan bagi rakyat dan negeri mereka.
Ya Allah, tolonglah agama-Mu, kitab-Mu, dan sunah Nabi-Mu, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, gagalkanlah tipu daya musuh-musuh Islam. Ya Allah, gagalkanlah tipu daya musuh-musuh Islam. Gagalkanlah rencana-rencana musuh Islam yang mereka gunakan untuk memerangi Islam, wahai Rabb seluruh alam.
Jadikanlah kerugian dan kehancuran menimpa mereka, wahai Rabb seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
Ya Allah, siapkanlah bagi kami petunjuk dan kelurusan dalam urusan kami.
Ya Allah, lindungilah kami dari kejahatan orang-orang yang melampaui batas. Lindungilah kami dari kejahatan orang-orang zalim. Lindungilah kami dari kejahatan setiap pemilik kejahatan, wahai Rabb seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
Ya Allah, lindungilah kami dari keburukan diri kami sendiri dan dari keburukan amal-amal kami.
Ya Allah, lindungilah kami dari kejahatan setiap pemilik kejahatan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
Ya Allah, jagalah kami dan keturunan kami dari Iblis, keturunannya, bala tentaranya, dan setan-setannya, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, jagalah kaum muslimin dari Iblis, keturunannya, dan setan-setannya, wahai Rabb seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
Ya Allah, turunkanlah hujan pertolongan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan pertolongan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan pertolongan kepada kami, wahai Rabb seluruh alam.
Janganlah Engkau menghalangi karunia-Mu dari kami karena dosa-dosa kami.
Ya Allah, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang, turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.
Ya Allah, wahai Rabb seluruh alam, kami memohon kepada-Mu agar Engkau mengurusi perkara setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan.
Ya Allah, hilangkanlah penderitaan kaum muslimin yang tertindas, wahai Rabb seluruh alam. Angkatlah penderitaan kaum muslimin yang dizalimi, yang ditindas oleh musuh-musuh-Mu dan musuh-musuh mereka tanpa alasan yang benar.
Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
Ya Allah, wahai Rabb seluruh alam, bebaskanlah Baitul Maqdis dari belenggu penindasan.
Ya Allah, jagalah Baitul Maqdis, wahai Rabb seluruh alam, dari tindakan orang-orang yang membuat kerusakan.
Ya Allah, persiapkanlah Baitul Maqdis agar dapat digunakan untuk beribadah kepada-Mu hingga hari kiamat. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
Wahai hamba-hamba Allah!
Allah Ta'ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.
Dan penuhilah janji Allah apabila kalian berjanji, dan janganlah kalian melanggar sumpah-sumpah setelah diteguhkan, padahal kalian telah menjadikan Allah sebagai saksi atas diri kalian. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian lakukan.”
(QS. An-Nahl: 90–91)
Ingatlah Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia, niscaya Dia akan mengingat kalian.
Bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat tersebut kepada kalian.
Sesungguhnya mengingat Allah adalah perkara yang paling besar. Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar