Terjemah Tafsir Ibnu al-Jauzi
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 204
Karya Imam Ibnul Jauzi رحمه الله (wafat 597 H)
Firman Allah Ta'ala:
“Dan di antara manusia ada orang yang perkataannya tentang kehidupan dunia membuatmu kagum, dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada di dalam hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras.”
(QS. Al-Baqarah: 204)
1. Sebab Turunnya Ayat
Firman Allah Ta'ala:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Dan di antara manusia ada orang yang perkataannya tentang kehidupan dunia membuatmu kagum.”
Para ulama berbeda pendapat mengenai siapa yang menjadi sebab turunnya ayat ini.
Terdapat tiga pendapat :
Pendapat pertama:
Ayat ini turun mengenai Al-Akhnas bin Syuraiq
Pendapat pertama menyatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Al-Akhnas bin Syuraiq.
Dia adalah orang yang tutur katanya lembut, tetapi hatinya kafir. Dia menampakkan sikap yang baik kepada Nabi ﷺ dan bersumpah kepada beliau bahwa dirinya mencintai beliau serta mengikuti agama beliau, padahal sesungguhnya dia menyembunyikan sesuatu yang berbeda dari apa yang dia tampakkan.
Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, As-Suddi, dan Muqatil.
Pendapat kedua:
Ayat ini turun mengenai orang-orang munafik
Pendapat kedua menyatakan bahwa ayat ini turun mengenai orang yang melakukan kemunafikan, yaitu orang yang menampakkan dengan lisannya sesuatu yang tidak terdapat di dalam hatinya.
Pendapat ini dikemukakan oleh Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, dan Ibnu Zaid.
Pendapat ketiga:
Ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa Sariyah Ar-Raji'
Pendapat ketiga menyatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa pasukan Ar-Raji'.
Kisahnya adalah sebagai berikut.
Orang-orang kafir Quraisy mengirim utusan kepada Nabi ﷺ ketika beliau berada di Madinah.
Mereka berkata:
“Sesungguhnya kami telah masuk Islam.
Oleh karena itu, utuslah beberapa orang sahabatmu kepada kami untuk mengajarkan agama kami.”
Maka Nabi ﷺ mengutus sejumlah sahabat.
Mereka adalah :
Khubaib bin Adi,
Martsad Al-Ghanawi,
Khalid bin Bukair,
Abdullah bin Thariq,
dan Zaid bin Ad-Datsinah.
Beliau menunjuk Ashim bin Tsabit sebagai pemimpin mereka.
Mereka pun berangkat menuju Makkah.
Dalam perjalanan, mereka singgah di suatu tempat di antara Makkah dan Madinah.
Mereka membawa bekal berupa kurma dan memakannya.
Kemudian, seorang perempuan tua melewati tempat tersebut dan melihat biji-biji kurma yang mereka tinggalkan.
Perempuan itu kembali kepada kaumnya seraya berkata:
“Orang-orang Yatsrib telah melewati jalan ini!”
Maka, tujuh puluh orang dari kalangan mereka menaiki kendaraan hingga mengepung para sahabat tersebut.
Para sahabat itu pun memerangi mereka.
Dalam pertempuran tersebut, Martsad, Khalid, dan Ibnu Thariq terbunuh.
Ashim kemudian mengeluarkan tempat anak panahnya.
Di dalamnya terdapat tujuh anak panah.
Dengan setiap anak panah, dia berhasil membunuh seorang tokoh terkemuka dari pihak musuh.
Setelah itu, Ashim berdoa:
“Ya Allah, sesungguhnya pada awal hari ini aku telah melindungi agama-Mu.
Maka, lindungilah daging tubuhku pada akhir hari ini.”
Kemudian, mereka mengepung Ashim dan membunuhnya.
Orang-orang kafir itu bermaksud memenggal kepala Ashim untuk menjualnya kepada Sulafah binti Sa'ad.
Sebab, Ashim pernah membunuh beberapa anggota keluarganya.
Perempuan itu telah bernazar bahwa jika dia berhasil memperoleh kepala Ashim, dia pasti akan meminum khamar dari tempurung kepalanya.
Lalu, Allah Ta'ala mengirimkan sekelompok serangga yang disebut ad-dubar, yaitu tawon, untuk melindungi jasad Ashim.
Orang-orang kafir itu tidak mampu mendekatinya.
Mereka kemudian berkata:
“Biarkanlah dia sampai petang, agar serangga-serangga itu pergi meninggalkannya.
Setelah itu, kita akan mengambilnya.”
Namun, datanglah awan yang menurunkan hujan sangat deras, seperti air yang tercurah dari tempat-tempat penampungan air.
Allah kemudian mengalirkan air lembah yang membawa jasad Ashim pergi.
Adapun Khubaib dan Zaid, keduanya berhasil ditawan.
Bani Al-Harits bin Amir membeli Khubaib untuk membunuhnya, karena Khubaib pernah membunuh ayah-ayah mereka.
Ketika mereka membawa Khubaib keluar untuk membunuhnya, dia berkata:
“Biarkanlah aku melaksanakan salat dua rakaat.”
Mereka pun membiarkannya, lalu Khubaib melaksanakan salat dua rakaat.
Setelah selesai, dia berkata:
“Seandainya bukan karena kalian akan mengatakan bahwa Khubaib ketakutan, niscaya aku akan menambah salatku.”
Kemudian, dia melantunkan syair:
وَلَسْتُ أُبَالِي حِينَ أُقْتَلُ مُسْلِمًا
عَلَى أَيِّ شِقٍّ كَانَ فِي اللَّهِ مَصْرَعِي
“Aku tidak peduli ketika aku dibunuh dalam keadaan Muslim, di sisi mana pun tubuhku akan terjatuh karena Allah.”
وَذَلِكَ فِي ذَاتِ الْإِلَهِ وَإِنْ يَشَأْ
يُبَارِكْ عَلَى أَوْصَالِ شِلْوٍ مُمَزَّعِ
“Semua itu demi Zat Allah.
Jika Dia menghendaki, Dia akan memberikan keberkahan pada anggota-anggota tubuh yang telah tercabik-cabik.”
Kemudian, mereka menyalib Khubaib dalam keadaan masih hidup.
Khubaib berkata:
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa tidak ada seorang pun di sekelilingku yang dapat menyampaikan salamku kepada Rasul-Mu.”
Lalu, datanglah seorang laki-laki dari kalangan mereka yang bernama Abu Sirwa'ah.
Dia membawa sebuah tombak dan meletakkannya di hadapan Khubaib.
Khubaib berkata kepadanya:
“Bertakwalah kepada Allah!”
Namun, perkataan tersebut justru semakin menambah kedurhakaannya.
Adapun Zaid,
dia dibeli oleh Shafwan bin Umayyah untuk dibunuh sebagai pembalasan atas kematian ayahnya.
Ketika Zaid dibawa untuk dibunuh,
Abu Sufyan bin Harb datang menemuinya dan berkata:
“Wahai Zaid! Aku memintamu bersumpah demi Allah, apakah engkau lebih suka jika Muhammad sekarang berada di tempatmu, sementara engkau berada bersama keluargamu?”
Zaid menjawab:
“Demi Allah, aku tidak suka jika Muhammad sekarang berada di tempatnya, lalu beliau tertusuk duri yang menyakitinya, sementara aku duduk bersama keluargaku.”
Setelah itu, Zaid pun dibunuh.
Berita tersebut sampai kepada Nabi ﷺ. Beliau kemudian bersabda:
“Siapakah di antara kalian yang bersedia mengambil Khubaib dari kayu tempat penyalibannya, dan baginya surga?”
Az-Zubair berkata:
“Aku dan sahabatku, Al-Miqdad.”
Maka, keduanya berangkat.
Mereka berjalan pada malam hari dan bersembunyi pada siang hari hingga tiba di tempat tersebut.
Ternyata, di sekitar kayu penyaliban itu terdapat empat puluh orang musyrik yang sedang tidur dalam keadaan mabuk.
Mereka mendapati jasad Khubaib masih segar dan lentur.
Tidak ada sesuatu pun yang berubah pada jasadnya meskipun telah berlalu empat puluh hari.
Az-Zubair kemudian mengangkat jasad Khubaib dan meletakkannya di atas kudanya.
Setelah itu, dia berangkat pergi.
Namun, tujuh puluh orang dari kalangan musyrik mengejar mereka.
Az-Zubair kemudian menjatuhkan jasad Khubaib, lalu bumi menelannya.
Az-Zubair berkata:
“Apa yang membuat kalian berani menghadapi kami, wahai orang-orang Quraisy?”
Kemudian, dia mengangkat penutup kepalanya seraya berkata:
“Aku adalah Az-Zubair bin Al-Awwam.
Ibuku adalah Shafiyyah binti Abdul Muthalib.
Bersamaku ada sahabatku, Al-Miqdad.
Kami berdua adalah dua ekor singa yang sedang berbaring untuk melindungi anak-anaknya.
Jika kalian menghendaki, aku akan bertarung dengan kalian menggunakan senjata dari kejauhan.
Jika kalian menghendaki, aku akan menghadapi kalian secara langsung.
Dan jika kalian menghendaki, kalian boleh pergi.”
Mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut.
Az-Zubair dan Al-Miqdad kemudian kembali menemui Rasulullah ﷺ.
Ketika itu, Jibril sedang berada di sisi beliau.
Jibril berkata:
“Wahai Muhammad, sesungguhnya para malaikat benar-benar membanggakan kedua orang sahabatmu ini.”
Sebagian orang munafik kemudian berkata mengenai para sahabat Khubaib yang terbunuh:
“Celakalah orang-orang yang terbunuh itu!
Mereka tidak tinggal duduk di rumah mereka, dan mereka juga tidak berhasil menunaikan tugas yang diberikan oleh sahabat mereka.”
Maka, Allah Ta'ala menurunkan ayat ini
beserta tiga ayat setelahnya berkaitan dengan
Az-Zubair,
Al-Miqdad,
Khubaib
dan para sahabatnya,
serta orang-orang munafik tersebut.
Kisah panjang ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas.
2. Tafsir Firman Allah:
“Dan Dia Menjadikan Allah sebagai Saksi atas Apa yang Ada di Dalam Hatinya”
Allah Ta'ala berfirman:
وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ
“Dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada di dalam hatinya.”
Mengenai makna ayat ini, terdapat dua pendapat.
Pendapat pertama:
Orang tersebut berkata:
“Sesungguhnya Allah menjadi saksi bahwa apa yang diucapkan oleh lisanku adalah sama dengan apa yang ada di dalam hatiku.”
Dengan kata lain, dia mengaku bahwa perkataannya sesuai dengan isi hatinya dan menjadikan Allah sebagai saksi atas pengakuan tersebut.
Pendapat kedua:
Orang tersebut berkata:
“Ya Allah, saksikanlah perkataanku ini!”
Artinya, dia meminta Allah menjadi saksi atas apa yang diucapkannya.
Perbedaan bacaan ayat
Ibnu Mas'ud membaca ayat tersebut dengan tambahan huruf sin dan ta', yaitu:
وَيَسْتَشْهِدُ اللَّهَ
Bacaan ini mengandung makna meminta Allah menjadi saksi.
Adapun Al-Hasan Al-Bashri, Thalhah bin Musharrif, Ibnu Muhayshin, dan Ibnu Ablah membaca:
وَيَشْهَدُ اللَّهُ
Dalam bacaan ini, huruf ya' pada kata yasyhadu dibaca dengan fathah, sedangkan lafaz Allah dibaca dengan harakat rafa'.
3. Tafsir Firman Allah:
“Padahal Dia Adalah Penentang yang Paling Keras”
Allah Ta'ala berfirman:
وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ
“Padahal dia adalah penentang yang paling keras.”
Kata الْخِصَامُ (al-khishām) merupakan bentuk jamak dari kata خَصْمٌ (khashm), yang berarti pihak yang berselisih atau lawan dalam suatu perselisihan.
Dalam bahasa Arab, bentuk-bentuk kata yang digunakan antara lain khashm, khishām, dan khushūm.
Az-Zajjaj berkata:
Kata الْأَلَدُّ (al-aladd) berarti orang yang sangat keras dalam permusuhan dan perdebatan.
Kata tersebut berasal dari ungkapan لَدِيدَيِ الْعُنُقِ, yaitu kedua sisi leher.
Makna yang dimaksud ialah bahwa orang tersebut, dalam menghadapi lawannya, akan mengalahkannya dari sisi mana pun pintu perdebatan itu dimasuki.
Dengan kata lain, dia sangat keras dalam berdebat dan berselisih, serta berusaha mengungguli lawannya melalui berbagai cara.
Kesimpulan makna ayat:
Ayat ini menggambarkan orang yang tutur katanya mengagumkan, bahkan bersumpah dengan menyebut Allah untuk membenarkan pengakuannya, padahal kenyataan batinnya berbeda.
Ia juga sangat keras dalam permusuhan dan perdebatan.
Ayat ini mengingatkan kita agar tidak menilai kejujuran seseorang hanya berdasarkan kefasihan berbicara, sumpah yang diucapkan, atau penampilan lahiriahnya.
Perkataan yang baik harus disertai kejujuran hati dan kesesuaian antara ucapan dengan perbuatan.
Terjemah Kitab Naẓm ad-Durar fī Tanāsub al-Āyāt wa as-Suwar
Karya Imam Burhanuddin al-Biqa‘i (wafat 885 H)
Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 204
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن یُعۡجِبُكَ قَوۡلُهُۥ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَا وَیُشۡهِدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا فِی قَلۡبِهِۦ وَهُوَ أَلَدُّ ٱلۡخِصَامِ ٢٠٤﴾
Artinya:
“Di antara manusia ada orang yang perkataannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada dalam hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras.”
(QS. Al-Baqarah: 204)
Penjelasan Tafsir Imam al-Biqa‘i
Ketika sebelumnya Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah menyebutkan orang yang hanya menginginkan dunia dan orang yang menginginkan kedua negeri, yakni dunia dan akhirat, masih tersisa beberapa kemungkinan golongan manusia berdasarkan pembagian yang dapat dipahami oleh akal.
Di antara golongan tersebut adalah orang yang berpaling dari kedua negeri itu, tetapi golongan semacam ini tidak ditemukan dalam pembahasan tersebut sehingga tidak disebutkan.
Golongan lainnya adalah orang yang hanya menginginkan akhirat.
Masing-masing golongan itu terkadang menyembunyikan apa yang ada dalam hatinya dan terkadang menampakkannya secara terang-terangan.
Adapun hal yang harus diwaspadai di antara golongan-golongan tersebut adalah orang yang secara tersembunyi menginginkan dunia, tetapi menampakkan bahwa dirinya menginginkan akhirat.
Orang seperti inilah yang disebut sebagai orang munafik.
Oleh karena itu, Allah memulai pembahasan tentangnya setelah menyebutkan ketakwaan dan peristiwa penghimpunan manusia pada hari Kiamat (al-ḥasyr).
Tujuannya adalah agar ancaman tersebut langsung menghunjam sejak awal, sekaligus menjadikan orang itu sebagai sasaran peringatan keras tentang hari penghimpunan manusia.
Allah menyampaikan ayat ini dengan susunan ungkapan yang serupa dengan pembahasan tentang orang-orang munafik pada permulaan surah.
Dengan demikian, pendengar akan kembali mengingat kisah-kisah mereka dan menghadirkan kembali keadaan mereka dalam ingatannya.
Hal ini menjadi semakin tepat karena jarak pembahasan antara penyebutan orang-orang munafik pada awal surah dan ayat ini cukup panjang, sehingga peristiwa yang telah disebutkan sebelumnya mungkin telah lama berlalu dari ingatan pendengar.
Kemudian Allah berfirman:
1. Firman Allah:
﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ﴾
“Dan di antara manusia ada orang yang...”
Maksudnya, di antara manusia terdapat seseorang, atau orang tertentu, yang memiliki sifat sebagaimana akan dijelaskan dalam ayat ini.
2. Firman Allah:
﴿يُعْجِبُكَ﴾
“Yang menarik hatimu.”
Maksudnya, perkataannya membuatmu merasa kagum, memikat hatimu, dan mengambil alih perhatianmu secara menyeluruh, wahai orang yang diajak berbicara.
Hal ini sebagaimana telah kami jelaskan pada permulaan surah, bahwa orang tersebut melakukan tipu daya.
Kata yu‘jibuka (يُعْجِبُكَ)
berasal dari kata i‘jāb (إعجاب), yang bersumber dari kata ‘ajab (عجب),
yaitu keadaan ketika sesuatu tampak berbeda dari hal-hal lain yang sejenis dengannya, sehingga menjadi sesuatu yang luar biasa atau langka dalam bentuk dan keadaannya.
Demikianlah penjelasan yang dikemukakan oleh al-Ḥarālī.
Al-Aṣbahānī berkata:
Kekaguman merupakan suatu keadaan yang menyelimuti manusia ketika ia mengetahui adanya kesempurnaan yang sebabnya tidak diketahui.
Adapun ar-Rāghib al-Aṣfahānī menjelaskan bahwa kekaguman bukanlah sesuatu yang melekat pada suatu benda berdasarkan zatnya sendiri.
Akan tetapi, hal itu bergantung pada hubungan antara orang yang mengetahui sebab sesuatu dan orang yang tidak mengetahui sebabnya.
Hakikat ungkapan a‘jabanī kadzā (أَعْجَبَنِي كَذَا),
yang berarti “sesuatu itu membuatku kagum”,
adalah bahwa sesuatu tersebut tampak di hadapanku dengan cara yang belum kuketahui sebabnya.
Dengan demikian, seseorang dapat merasa kagum terhadap suatu perkataan karena perkataan itu tampak luar biasa baginya, sedangkan sebab yang membuatnya demikian belum diketahuinya.
3. Firman Allah:
﴿قَوْلُهُ﴾
“Perkataannya.”
Maksudnya, perkataan orang tersebutlah yang membuatmu kagum dan terpikat.
Ia mampu menyampaikan kata-kata yang tampak indah, meyakinkan, dan memikat hati.
Akan tetapi, keindahan perkataannya itu tidak serta-merta menunjukkan kebenaran isi hatinya.
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, orang semacam ini menggunakan perkataannya untuk melakukan tipu daya.
Ia menampakkan sesuatu yang baik melalui lisannya, padahal keadaan batinnya bisa berbeda dari apa yang ditampakkannya.
4. Firman Allah:
﴿فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا﴾
“Dalam kehidupan dunia.”
Karena penyebutan orang semacam ini datang setelah pembahasan tentang hari penghimpunan manusia pada hari Kiamat, mungkin muncul dugaan bahwa perkataan atau kekaguman yang dimaksud terjadi dalam keadaan tersebut.
Oleh sebab itu, Allah membatasinya dengan firman-Nya, “dalam kehidupan dunia”, yakni perkataan yang menarik hati itu terjadi di kehidupan dunia.
Selama orang tersebut hidup di dunia, ia justru semakin memperindah perkataannya dan semakin berusaha membuatnya tampak baik.
Pada saat yang sama, ia semakin berusaha menyamarkan keburukan perbuatannya yang tersembunyi.
Adapun di akhirat, perkataannya tidak lagi tampak baik dan tidak lagi menimbulkan kekaguman.
Dengan demikian, keindahan perkataannya di dunia tidak menunjukkan bahwa dirinya benar-benar baik.
Sebab, keindahan tersebut bisa jadi hanyalah penampilan lahiriah yang digunakan untuk menutupi keburukan batinnya.
5. Firman Allah:
﴿وَيُشْهِدُ اللَّهَ﴾
“Dan dia menjadikan Allah sebagai saksi.”
Maksudnya, orang tersebut menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang dikatakannya.
Allah adalah Zat yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan.
Orang itu menggunakan nama Allah untuk menguatkan perkataannya dan membuat orang lain percaya kepadanya.
Dengan menyebut Allah sebagai saksi, ia seolah-olah menegaskan bahwa perkataannya benar dan bahwa dirinya sungguh-sungguh memiliki niat yang baik.
Padahal, penggunaan nama Allah sebagai saksi tidak dengan sendirinya membuktikan kejujuran seseorang.
Sebab, seseorang bisa saja mengucapkan sumpah atau menggunakan nama Allah untuk menguatkan perkataannya, sementara kenyataan yang tersembunyi dalam hatinya bertentangan dengan apa yang diucapkannya.
6. Firman Allah:
﴿عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ﴾
“Atas apa yang ada dalam hatinya.”
Maksudnya, ia menjadikan Allah sebagai saksi bahwa apa yang ada dalam hatinya sesuai dengan apa yang telah ia tampakkan melalui lisannya.
Dengan kata lain, orang tersebut ingin meyakinkan orang lain bahwa perkataannya sesuai dengan isi hatinya, bahwa ia benar-benar tulus, dan bahwa apa yang ditampakkannya secara lahiriah merupakan gambaran dari keadaan batinnya.
Padahal, ia justru menyembunyikan kenyataan yang berbeda dari penampilan lahiriahnya.
Ia berusaha menampilkan dirinya sebagai orang yang baik dan jujur, sementara niat serta tujuan yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang diperlihatkannya.
7. Firman Allah:
﴿وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ﴾
“Padahal dia adalah penentang yang paling keras.”
Maksudnya, keadaan orang tersebut justru bertentangan dengan penampilan baik yang diperlihatkannya.
Ia terus-menerus melakukan perdebatan dengan cara yang batil.
Ia tidak berhenti dalam perdebatan dan pertengkarannya, bahkan terus melanjutkannya dengan keras.
Semua itu dilakukannya sambil tetap menampilkan dirinya seolah-olah berada di atas kebaikan dan memiliki perilaku yang terpuji.
Setiap kali terlibat dalam suatu perselisihan, ia berusaha mencari-cari alasan dan memberikan pembenaran terhadap perkataannya.
Ia mengemas setiap sisi perdebatan dengan cara tertentu agar sesuatu yang sebenarnya buruk tampak baik, dan sesuatu yang seharusnya dipandang tercela seolah-olah menjadi indah.
Dengan demikian, ia berusaha mengalihkan perhatian orang lain dari keburukan yang terkandung dalam perkataan dan tindakannya menuju penampilan yang tampak menarik.
Makna kata al-ladad (اللَّدَد)
Al-Ḥarālī menjelaskan bahwa kata al-ladad berarti kerasnya permusuhan dan perdebatan.
Adapun kata al-khiṣām (الخِصَام), menurut penjelasannya,
adalah perkataan dalam suatu perdebatan yang diarahkan kepada lawan bicara,
sehingga orang yang mendengarnya seakan-akan menerima sesuatu yang dimasukkan ke dalam telinganya untuk menghalanginya dari mempertahankan keyakinan dan klaimnya.
Maksudnya, orang yang keras dalam perdebatan berusaha memengaruhi lawannya melalui perkataan-perkataannya, agar lawan tersebut tidak lagi mampu mempertahankan pendapat atau klaim yang sebelumnya ia pegang.
Al-Aṣbahānī berkata:
Kata al-khiṣām menunjukkan pendalaman pembahasan terhadap suatu perkara dan sikap mempersempit ruang gerak lawan dalam perdebatan.
Maksudnya, seseorang terus-menerus mendalami persoalan yang diperdebatkan dan mendesak lawannya dengan berbagai argumen, sehingga lawan tersebut berada dalam keadaan terpojok.
Al-Aṣbahānī juga menjelaskan bahwa kata al-khiṣām dapat dijadikan sebagai sifat yang menunjukkan tingkat yang sangat tinggi dalam permusuhan dan perdebatan.
Dengan demikian, ungkapan al-khiṣām al-aladd menunjukkan orang yang sangat keras dan berlebihan dalam perdebatan.
Selesai penjelasan al-Aṣbahānī
Kesimpulan Makna Tafsir:
Dalam penjelasan ayat ini, Imam al-Biqa‘i menyoroti keadaan seseorang yang perkataannya tampak indah dan mengagumkan dalam kehidupan dunia, tetapi kenyataan batinnya berbeda dari apa yang ditampakkannya.
Orang tersebut menggunakan perkataan yang memikat dan bahkan menjadikan Allah sebagai saksi untuk meyakinkan orang lain bahwa dirinya benar-benar tulus.
Namun, ketika berhadapan dengan perselisihan, ia memperlihatkan sifat keras dalam perdebatan dan terus mempertahankan kebatilan dengan berbagai pembenaran.
Karena itu, keindahan perkataan, penggunaan nama Allah, dan kemampuan berargumentasi tidak dengan sendirinya menjadi bukti ketulusan hati atau kebenaran seseorang.
Perkataan harus dinilai berdasarkan kesesuaiannya dengan kebenaran, sedangkan keadaan seseorang perlu dilihat dari keselarasan antara perkataan, niat, dan perbuatannya.
Ayat ini juga mengingatkan bahwa keburukan seseorang terkadang tidak tampak melalui perkataannya, melainkan justru tersingkap melalui sikap dan perilakunya ketika menghadapi perselisihan.
Dengan demikian, peringatan ayat ini bukan sekadar tentang orang yang pandai berbicara, melainkan tentang bahaya ketidaksesuaian antara penampilan lahiriah dan keadaan batin, serta bahaya menggunakan perkataan yang indah untuk menutupi kebatilan.
Terjemah Tafsir Ibnu Katsir
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 204
Karya Al-Hafizh Ismail bin Umar bin Katsir rahimahullah (wafat 774 H)
Firman Allah Ta'ala
وَمِنَ النَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ ٢٠٤
“Dan di antara manusia ada orang yang perkataannya tentang kehidupan dunia membuatmu kagum, dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada di dalam hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras.” (QS. Al-Baqarah: 204)
1. Sebab Turunnya Ayat dan Cakupan Maknanya
As-Suddi berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan Al-Akhnas bin Syuraiq Ats-Tsaqafi.
Dia datang menemui Rasulullah ﷺ, menampakkan keislamannya, padahal di dalam batinnya tersimpan sesuatu yang bertentangan dengan hal itu.”
Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini turun berkenaan dengan sekelompok orang munafik yang membicarakan Khubaib dan para sahabatnya yang terbunuh di Ar-Raji‘.
Mereka mencela Khubaib dan para sahabatnya tersebut.
Maka Allah menurunkan ayat untuk mencela orang-orang munafik dan memuji Khubaib beserta para sahabatnya,
yaitu firman-Nya:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah.” (QS. Al-Baqarah: 207)
Ada pula yang berpendapat bahwa ayat tersebut berlaku secara umum, mencakup seluruh orang munafik dan seluruh orang beriman.
Inilah pendapat Qatadah, Mujahid, Ar-Rabi‘ bin Anas, dan beberapa ulama lainnya.
Pendapat inilah yang benar.
2. Gambaran Orang yang Memperalat Agama untuk Kepentingan Dunia
Ibnu Jarir berkata, “Yunus telah menceritakan kepadaku,
Ibnu Wahb telah mengabarkan kepada kami,
Al-Laits bin Sa‘ad telah mengabarkan kepadaku,
dari Khalid bin Yazid,
dari Sa‘id bin Abi Hilal,
dari Al-Qurazhi,
dari Nauf—yaitu Al-Bikali,
yang termasuk orang yang membaca kitab-kitab terdahulu—ia berkata:
‘Sungguh, aku menemukan gambaran tentang sekelompok orang dari umat ini di dalam kitab Allah yang diturunkan.
Mereka adalah suatu kaum yang mencari keuntungan dunia melalui agama.
Lidah mereka lebih manis daripada madu, sedangkan hati mereka lebih pahit daripada tanaman ash-shabr.
Mereka mengenakan kulit domba di hadapan manusia, tetapi hati mereka adalah hati serigala.
Allah Ta‘ala berfirman,
“Apakah terhadap-Ku mereka berani lancang?
Apakah dengan-Ku mereka tertipu?
Aku bersumpah demi diri-Ku, sungguh,
Aku akan menimpakan kepada mereka suatu fitnah yang membuat orang yang bijaksana sekalipun menjadi kebingungan di dalamnya.”’
Al-Qurazhi berkata, ‘Aku merenungkan gambaran tersebut di dalam Al-Qur’an.
Ternyata, mereka adalah orang-orang munafik.
Kemudian aku menemukan ayat ini:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ
“Dan di antara manusia ada orang yang perkataannya tentang kehidupan dunia membuatmu kagum, dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada di dalam hatinya.”’”
3. Riwayat Lain tentang Orang yang Memperalat Agama
Muhammad bin Abi Ma‘syar menceritakan kepadaku. Ayahku, Abu Ma‘syar Najih, mengabarkan kepadaku,
ia berkata:
“Aku mendengar Sa‘id Al-Maqburi berdiskusi dengan Muhammad bin Ka‘b Al-Qurazhi.
Sa‘id berkata:
‘Sesungguhnya, di dalam sebagian kitab terdapat keterangan:
“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang lidah mereka lebih manis daripada madu, sedangkan hati mereka lebih pahit daripada tanaman ash-shabr.
Mereka mengenakan kulit domba di hadapan manusia karena kelembutan yang mereka tampakkan, tetapi mereka mencari keuntungan dunia melalui agama.
Allah Ta‘ala berfirman,
‘Apakah terhadap-Ku mereka berani lancang?
Apakah dengan-Ku mereka tertipu?
Demi kemuliaan-Ku,
sungguh, Aku akan menimpakan kepada mereka suatu fitnah yang membuat orang yang bijaksana di antara mereka menjadi kebingungan.’”’
Muhammad bin Ka‘b berkata, ‘Hal ini terdapat di dalam Kitabullah.’
Sa‘id bertanya, ‘Di bagian mana hal itu terdapat di dalam Kitabullah?’
Muhammad bin Ka‘b menjawab, ‘Dalam firman Allah:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Dan di antara manusia ada orang yang perkataannya tentang kehidupan dunia membuatmu kagum.”’”
Sa‘id berkata, “Aku sudah mengetahui siapa yang menjadi sebab turunnya ayat ini.”
Muhammad bin Ka‘b berkata, “Sesungguhnya, suatu ayat bisa saja turun berkenaan dengan seseorang, kemudian setelah itu hukumnya berlaku secara umum.”
Apa yang dikatakan oleh Al-Qurazhi ini merupakan pendapat yang baik dan benar.
4. Makna Firman Allah:
“Dan Dia Menjadikan Allah sebagai Saksi atas Apa yang Ada di Dalam Hatinya”
Adapun firman Allah Ta'ala:
وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ
“Dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada di dalam hatinya.”
Ibnu Muhayshin membaca lafaz tersebut dengan bentuk:
وَيَشْهَدُ اللَّهُ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ
Dengan huruf ya berharakat fathah dan lafaz Allah berharakat dhammah sebagai subjek kalimat.
Menurut bacaan ini, maknanya adalah bahwa meskipun orang tersebut menampakkan berbagai tipu daya di hadapan kalian, Allah tetap mengetahui keburukan yang tersembunyi di dalam hatinya.
Hal ini serupa dengan firman Allah Ta'ala:
إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ
“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar Rasul Allah.’ Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya, dan Allah bersaksi bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (QS. Al-Munafiqun: 1)
Adapun bacaan mayoritas ulama adalah dengan huruf ya berharakat dhammah dan lafaz Allah berharakat fathah sebagai objek kalimat:
وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ
“Dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada di dalam hatinya.”
Maknanya adalah bahwa orang tersebut menampakkan keislaman kepada manusia, tetapi pada saat yang sama, dia secara terang-terangan mempertentangkan dirinya dengan Allah melalui kekufuran dan kemunafikan yang tersimpan di dalam hatinya.
Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala:
يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ
“Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah.” (QS. An-Nisa': 108)
Inilah makna riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Ishaq,
dari Muhammad bin Abi Muhammad,
dari Ikrimah, dari Sa‘id bin Jubair,
dari Ibnu Abbas.
Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa maknanya ialah:
ketika orang tersebut menampakkan keislamannya di hadapan manusia, dia bersumpah dan menjadikan Allah sebagai saksi bagi mereka bahwa apa yang ada di dalam hatinya sesuai dengan apa yang diucapkan oleh lisannya.
Makna ini benar.
Pendapat tersebut dikemukakan oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam.
Ibnu Jarir memilih pendapat ini dan menisbatkannya kepada Ibnu Abbas.
Ia juga meriwayatkannya dari Mujahid.
Allah lebih mengetahui kebenarannya.
5. Makna Firman Allah:
“Padahal Dia adalah Penentang yang Paling Keras”
Allah Ta'ala berfirman:
وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ
“Padahal dia adalah penentang yang paling keras.”
Kata الْأَلَدُّ (al-aladd) dalam bahasa Arab berarti orang yang menyimpang atau berbelit-belit dari kebenaran.
Hal ini serupa dengan firman Allah Ta'ala:
وَتُنْذِرَ بِهِ قَوْمًا لُدًّا
“Dan agar engkau memberi peringatan dengannya kepada kaum yang sangat keras membangkang.” (QS. Maryam: 97)
Artinya, mereka adalah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran.
Demikian pula keadaan orang munafik ketika terlibat dalam perselisihan.
Ia berdusta, berpaling dari kebenaran, dan tidak mau bersikap lurus terhadapnya. Bahkan, ia membuat-buat kebohongan dan melampaui batas.
Sebagaimana telah ditetapkan dalam hadis sahih dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara, ia berdusta; apabila berjanji, ia mengkhianati; dan apabila berselisih, ia melampaui batas.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
6. Orang yang Paling Dibenci oleh Allah dalam Perselisihan
Al-Bukhari berkata,
“Qabishah telah menceritakan kepada kami,
Sufyan telah menceritakan kepada kami,
dari Ibnu Juraij,
dari Ibnu Abi Mulaikah,
dari Aisyah radhiyallahu 'anha, yang menisbatkan hadis ini kepada Nabi ﷺ.
Beliau bersabda:
أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ
‘Orang yang paling dibenci oleh Allah di antara kaum laki-laki adalah orang yang paling keras dalam pertengkaran.’”
Al-Bukhari juga berkata, “Abdullah bin Yazid berkata, Sufyan telah menceritakan kepada kami,
Ibnu Juraij telah menceritakan kepadaku,
dari Ibnu Abi Mulaikah,
dari Aisyah,
dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ
‘Sesungguhnya, orang yang paling dibenci oleh Allah di antara kaum laki-laki adalah orang yang paling keras dalam pertengkaran.’”
Demikian pula hadis ini diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, dari Ma‘mar, mengenai firman Allah Ta'ala:
وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ
“Padahal dia adalah penentang yang paling keras.”
Riwayat tersebut berasal dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Aisyah, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda:
إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ
“Sesungguhnya, orang yang paling dibenci oleh Allah di antara kaum laki-laki adalah orang yang paling keras dalam pertengkaran.”
Catatan penting dari penjelasan Ibnu Katsir:
Perkataan yang menarik tidak selalu mencerminkan kebenaran hati.
Seseorang bisa berbicara dengan indah, menampakkan kesalehan, dan bersumpah atas nama Allah, padahal batinnya menyimpan keburukan.
Memperalat agama untuk memperoleh keuntungan dunia merupakan sifat tercela.
Gambaran orang yang lisannya manis, tetapi hatinya menyimpan keburukan, menjadi peringatan agar kaum muslimin tidak tertipu oleh penampilan dan retorika semata.
Ayat ini memiliki cakupan umum.
Meskipun terdapat riwayat yang menghubungkannya dengan orang-orang tertentu, Ibnu Katsir menegaskan bahwa pendapat yang benar adalah ayat ini mencakup seluruh orang munafik dan menjadi peringatan bagi manusia secara umum.
Keras dalam perselisihan bukanlah tanda kekuatan yang terpuji.
Apabila seseorang berdusta, memutarbalikkan fakta, dan melampaui batas demi memenangkan perdebatan, ia memiliki sifat tercela yang diperingatkan dalam ayat ini dan hadis Nabi ﷺ.
Allah mengetahui hakikat hati manusia.
Seseorang mungkin dapat menipu manusia melalui ucapan dan penampilannya, tetapi tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar