MINTALAH KEPADA ALLAH KESELAMATAN DAN KESEJAHTERAAN
Khutbah Masjidil Haram, 6/3/1434 H — Syaikh Saud asy-Syuraim
Khutbah Pertama
Segala puji bagi Allah, Pemilik kemuliaan dan keagungan, Yang mengampuni dosa dan menerima taubat, Yang keras hukuman-Nya, Yang menganugerahkan setiap keuntungan dan karunia, serta Yang menyingkap setiap kesulitan dan kesempitan.
Aku memuji-Nya—Mahasuci Dia—atas nikmat-nikmat-Nya yang melimpah, kemurahan-Nya yang luas, dan karunia-karunia-Nya yang agung.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, sejak awal hingga akhir, yang lahir maupun yang batin.
Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.
Dia mengutusnya kepada dua golongan yang dibebani syariat, yaitu manusia dan jin, sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, serta sebagai penyeru kepada Allah dengan izin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi.
Semoga Allah mencurahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, kepada keluarga beliau yang baik dan suci, kepada para sahabat, para tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
Amma ba'du...
Aku berwasiat kepada kalian, wahai manusia, dan kepada diriku sendiri agar bertakwa kepada Allah—Mahasuci Dia. Sesungguhnya kalian di dunia ini hanyalah orang-orang yang diperintah dan dibebani kewajiban.
Berbagai musibah menimpa kalian, kematian mencabut kalian, dan berbagai nikmat datang silih berganti kepada kalian.
Kalian tidak memperoleh suatu nikmat kecuali dengan berpisah dengan nikmat yang lain.
Tidaklah bagi kalian suatu jejak kehidupan menjadi hidup kecuali jejak yang lain telah mati.
Tidaklah sesuatu yang baru bagi kalian muncul kecuali sesuatu yang baru lainnya menjadi usang.
Generasi-generasi terdahulu telah berlalu dan kita adalah cabang dari mereka.
Maka, bagaimana mungkin cabang akan tetap ada setelah pokoknya telah tiada?
Allah berfirman:
“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang sementara.”
(QS. Ar-Ra'd: 26)
Wahai manusia,..
Sesungguhnya seluruh manusia pada umumnya hidup dalam kesungguhan dan kerja keras. Allah telah menciptakan mereka dalam keadaan penuh perjuangan dan kesusahan.
Nabi ﷺ bersabda:
“Setiap manusia berangkat pada pagi hari; maka ada yang menjual dirinya lalu membebaskannya, dan ada pula yang menjual dirinya lalu membinasakannya.”
Manusia berada di antara orang yang bekerja keras dapat menikmati hasilnya dan orang yang lain merasakan penderitaan.
Mereka terkadang menjadi lemah karena berbagai kesulitan hingga mencapai keadaan hina, dan terkadang mereka bergembira dengan berbagai kenikmatan hingga mencapai batas kesombongan dan kedurhakaan.
Orang yang cerdas di antara mereka adalah orang yang tidak menyimpang dan tidak melampaui batas, serta tetap teguh dan kokoh dalam kedua keadaan tersebut.
Ia mendorong dirinya untuk berdiri di pintu Pencipta dan Tuannya, memohon kepada-Nya ampunan dan 'afiyah—keselamatan, kesehatan, dan perlindungan—dalam agama, dunia, keluarga, dan hartanya.
Sebab, mendahulukan keselamatan merupakan fitrah yang Allah tanamkan dalam jiwa manusia.
Tidak ada orang yang menyukai bala dan penyakit kecuali orang yang rusak tabiatnya atau hatinya telah tertutup.
Sesungguhnya tidak ada yang mengetahui nilai 'afiyah kecuali orang yang telah kehilangan 'afiyah tersebut, baik dalam agamanya maupun dunianya.
'Afiyah, apabila terus berlangsung, sering kali tidak disadari nilainya.
Namun ketika ia hilang, barulah nilainya diketahui.
Pakaian 'afiyah merupakan salah satu pakaian terindah bagi kehidupan dunia dan agama.
Dengan keduanya, kehidupan dunia menjadi nikmat dan kesudahan di akhirat menjadi baik.
Oleh karena itu, Nabi ﷺ memberikan arahan kepada umatnya sebagai bentuk kasih sayang dan perhatian kepada mereka.
Beliau bersabda:
“Mintalah kepada Allah ampunan dan 'afiyah, karena tidak ada seseorang yang diberikan sesuatu setelah keyakinan yang lebih baik daripada 'afiyah.”
(HR. Ahmad)
Nabi ﷺ tidak hanya mengatakan hal tersebut kepada umatnya, tetapi beliau juga berulang kali mempraktikkannya, agar umatnya benar-benar merasakan nilai nikmat yang agung ini.
Beliau ﷺ berdoa:
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu 'afiyah di dunia dan akhirat.
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan 'afiyah dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku...”
(HR. Abu Dawud dan selainnya)
Ibnu al-Jazari—rahimahullah—berkata:
“Barang siapa diberikan 'afiyah, maka ia telah memperoleh apa yang diharapkan dan dicintai oleh hatinya, baik secara lahir maupun batin, dalam agama maupun dunia, serta dilindungi dari apa yang ia khawatirkan di kedua negeri.”
Wahai hamba-hamba Allah,
'Afiyah adalah nilai yang bersifat menyeluruh dan tidak dapat dipilah-pilah serta tidak boleh dipandang secara relatif.
Oleh karena itu, orang yang membatasi 'afiyah hanya pada kesehatan tubuh semata adalah keliru.
Barang siapa hanya meminta keselamatan tubuh tanpa keselamatan agama, maka ia telah berlebihan dalam berpaling dan menyimpang dari jalan yang benar.
Sebaliknya, barang siapa hanya meminta keselamatan dalam agama tanpa keselamatan tubuh, maka ia telah menzalimi dirinya sendiri.
Bahkan mungkin ia akan melemahkan agamanya karena lemahnya kesehatan dan keselamatan fisiknya.
Padahal Nabi ﷺ bersabda:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.”
Orang yang berbahagia—sebagaimana dikatakan Ibnu al-Jauzi rahimahullah—adalah orang yang merendahkan diri kepada Allah dan meminta 'afiyah kepada-Nya.
Sebab, tidak mungkin seseorang mendapatkan 'afiyah secara mutlak; pasti ada ujian dan cobaan.
Orang yang berakal senantiasa memohon kepada Allah 'afiyah agar ia dapat mengatasi sebagian besar keadaan yang dihadapinya.
Abu Bakr radhiyallahu 'anhu berkata:
“Orang yang diberi 'afiyah kemudian bersyukur lebih aku sukai daripada orang yang diuji kemudian bersabar.”
Wahai hamba-hamba Allah,..
Setiap orang yang memiliki pandangan dan ketajaman hati dapat melihat betapa besar perhatian manusia secara umum terhadap kesehatan tubuh.
Mereka mencurahkan waktu, tenaga, perhatian, dan doa untuk memperoleh nikmat kesehatan tersebut.
Namun pada saat yang sama, mereka sering lalai terhadap nilai 'afiyah dalam agama dan keselamatan agama dari berbagai penyakit serta fitnah.
Padahal fitnah yang menimpa agama dapat melemahkan individu-individu yang pada akhirnya merupakan kumpulan dari suatu masyarakat.
Apabila seseorang lalai dalam memperoleh keselamatan bagi agamanya, berarti ia telah membuka pintu kehancuran dan kesesatan bagi dirinya.
Kehancuran dan kerugian akan semakin besar ketika seseorang terang-terangan menampakkan kemaksiatan yang telah menimpanya.
Allah telah menutupinya, tetapi ia sendiri justru membuka dan mempermalukan dirinya.
Rasulullah ﷺ telah bersabda:
“Seluruh umatku mendapatkan keselamatan kecuali orang-orang yang menampakkan kemaksiatannya.”
Berkurangnya 'afiyah dalam agama terjadi karena penyimpangan dari syariat Allah.
Hal itu dapat terjadi karena dua hal:
Pertama, dominasi syahwat hewani, yang mengembalikan seseorang kepada derajat yang sangat rendah sehingga ia menenggelamkan dirinya dalam berbagai syahwat seperti hewan-hewan yang kehausan.
Kedua, dominasi syubhat dalam agama, yang menyimpangkan seseorang hingga ia berada di barisan orang-orang yang duduk di setiap jalan untuk mengancam, menghalangi manusia dari jalan Allah, dan menghendaki agar jalan Allah menjadi bengkok.
Nabi ﷺ telah memperingatkan kita dari berbagai hal yang merusak 'afiyah dalam agama. Beliau bersabda:
“Akan terjadi berbagai fitnah. Orang yang duduk ketika itu lebih baik daripada orang yang berdiri; orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan; dan orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berlari.
Barang siapa menampakkan diri untuk menghadapi fitnah tersebut, niscaya fitnah itu akan menjerumuskannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Di antara doa yang diajarkan Nabi ﷺ kepada al-Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhuma untuk dibaca dalam doa dan qunut adalah:
“Ya Allah, berilah aku petunjuk bersama orang-orang yang Engkau beri petunjuk, berilah aku 'afiyah bersama orang-orang yang Engkau beri 'afiyah...”
(HR. Ahmad dan para penyusun kitab Sunan)
Wahai hamba-hamba Allah,..
Di antara bentuk kehilangan 'afiyah dalam agama yang paling besar adalah ketika seseorang menjadi perusak, bukan pembangun; menjadi orang yang suka mengejek, bukan orang yang serius; menjadi alat penghancur bagi masyarakatnya, bukan orang yang bekerja membangun bangunan masyarakatnya.
Ia tidak ditemukan kecuali di tempat-tempat yang penuh ejekan, atau dalam upaya membuat sesuatu yang mencederai agama dan fitrah yang Allah ciptakan pada manusia.
Dengan demikian, ia memikul dosanya sendiri dan dosa orang-orang yang mengikuti sunnah buruk yang ia buat hingga hari kiamat.
Dalam Sunnah terdapat dalil yang menunjukkan bahwa seseorang akan dibebani akibat dari peristiwa yang ia sebabkan.
Ia menanggung dosanya hingga hari kiamat karena kerusakan yang ia timbulkan kepada orang lain dengan menyimpangkan mereka dari manhaj dan syariat Allah.
Di antaranya sabda Nabi ﷺ:
“Tidaklah suatu jiwa dibunuh secara zalim kecuali anak Adam yang pertama mendapatkan bagian dari dosa pembunuhan tersebut, karena dialah orang pertama yang mencontohkan pembunuhan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga Allah merahmati Imam Malik ketika beliau berwasiat kepada salah seorang muridnya:
“Janganlah engkau meletakkan manusia di atas punggungmu.”
Maksudnya: jangan engkau memikul dosa mereka karena berbagai perkara yang mereka ada-adakan.
Dan beliau juga berkata:
“Apa pun yang engkau hanya bermain-main dengannya, maka janganlah engkau bermain-main dengan agamamu.”
Benar, wahai hamba-hamba Allah...
Hendaknya setiap orang yang meletakkan batu bata fitnah atau kerusakan dalam agama maupun akhlak berhati-hati.
Mereka akan memikul dosa-dosa mereka secara sempurna pada hari kiamat, serta memikul sebagian dosa orang-orang yang mereka sesatkan tanpa ilmu.
Hendaknya setiap orang yang tertipu oleh hiasan kebatilan, serta oleh berbagai ornamen fitnah dan godaan, berhati-hati.
Kebenaran tetap terang meskipun tirai-tirai diturunkan untuk menutupinya.
Sedangkan kebatilan tetap lemah dan kacau.
Ia hanyalah seperti fatamorgana di tanah datar yang menggoda tetapi tidak memberikan kepuasan.
Seandainya setiap orang yang berjalan memperhatikan apa yang berada di bawah kedua kakinya, niscaya ia tidak akan menginjak duri dan tidak akan terjatuh ke dalam lubang.
Waspadalah—semoga engkau dilindungi—karena di bawah kakimu ada sebuah lubang.
Betapa banyak manusia telah jatuh ke dalamnya.
Barang siapa diberikan 'afiyah, hendaknya ia memuji Allah.
Barang siapa belum tergelincir, hendaknya ia bersyukur.
Dan barang siapa meminta keselamatan, sesungguhnya keselamatan itu merupakan benteng bagi seseorang dalam menghadapi berbagai perubahan dan keadaan yang dahsyat.
Tidak ada seorang manusia pun—betapapun tinggi cita-citanya—yang diberikan setelah keyakinan sesuatu yang lebih baik daripada 'afiyah.
Semoga Allah memberkahi kita dan kalian dengan Al-Qur'an yang agung, memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.
Apa yang aku sampaikan ini benar, maka itu berasal dari Allah.
Jika terdapat kesalahan, maka itu berasal dari diriku sendiri dan setan.
Aku memohon ampun kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.
Khutbah Kedua
Segala puji bagi Allah atas segala kebaikan-Nya. Syukur kepada-Nya atas taufik dan karunia-Nya.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sebagai pengagungan terhadap kedudukan-Nya.
Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang menyeru kepada keridhaan-Nya.
Amma ba'du...
Ketahuilah—semoga Allah menjaga kalian—bahwa mengutamakan keselamatan dan 'afiyah dalam agama bukan berarti seseorang rela hidup bermalas-malasan dan meninggalkan berbagai kebaikan atau kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan.
Mengutamakan keselamatan dan 'afiyah adalah dalam situasi fitnah, riya, dan ketika dua perkara sama-sama tampak sehingga kebenaran bercampur dengan kebatilan dan menjadi sulit dibedakan.
Dalam keadaan seperti itu, seseorang meninggalkan perkara yang meragukannya menuju perkara yang tidak meragukannya.
Barang siapa menjaga diri dari perkara-perkara syubhat, berarti ia telah menjaga agama dan kehormatannya.
Dan barang siapa terjatuh ke dalam perkara-perkara syubhat, maka ia akan terjatuh ke dalam perkara haram.
Imam Ahmad—rahimahullah—pernah berkata:
“Sungguh aku meninggalkan sesuatu yang sebenarnya tidak mengapa, karena khawatir terjatuh ke dalam sesuatu yang mengandung dosa.”
Al-Qadhi al-Jurjani—rahimahullah—telah memberikan ungkapan yang sangat indah ketika menggambarkan nilai 'afiyah di tengah berbagai persoalan yang ia keluhkan pada zamannya:
Aku tidak mengorbankan jiwaku dalam melayani ilmu
agar aku melayani orang yang kutemui, tetapi agar aku dilayani.
Aku tidak menunaikan hak ilmu jika setiap kali
muncul suatu keinginan, aku menjadikannya sebagai tangga untuk meraihnya.
Apabila dikatakan, “Ini adalah sumber air,” aku menjawab, “Aku memang melihatnya,”
tetapi jiwa orang merdeka sanggup menanggung rasa haus.
Aku menahan diriku dari sebagian perkara yang sebenarnya tidak mencemarkannya,
karena takut terhadap perkataan orang-orang yang mencela: karena apa dan untuk apa.
Oleh karena itu, termasuk bagian dari keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam menghadapi berbagai fitnah dan perkara besar yang gelap adalah bahwa keselamatan tidak ada sesuatu pun yang menyamainya.
Menjauh dan tidak ikut serta lebih selamat, kecuali apabila kebenaran telah jelas bagi mereka berdasarkan dalil-dalil syariat yang terang, tegas, dan sahih.
Apabila kebenaran telah jelas, mereka membelanya dan mendukungnya tanpa keraguan.
Sebagian ulama menyebutkan dalam kisah Ashhabul Kahfi, berdasarkan perkataan sebagian ahli tafsir:
“Dalam kisah ini terdapat dalil bahwa orang yang melarikan diri demi menyelamatkan agamanya dari berbagai fitnah, Allah akan menyelamatkannya dari fitnah tersebut.
Barang siapa menginginkan keselamatan, Allah akan memberinya keselamatan.
Barang siapa berlindung kepada Allah, Allah akan melindunginya.
Hal itu terutama terjadi ketika fitnah telah mencapai puncak kekuatannya.”
Di antara perkara yang harus diwaspadai adalah pemahaman yang keliru dari sebagian orang yang memilih untuk tidak bertindak.
Mereka memahami makna 'afiyah secara tidak tepat.
Mereka berdalil dengan firman Allah:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu.
Orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk.”
(QS. Al-Ma'idah: 105)
Mereka mengira bahwa ayat ini berarti meninggalkan amar makruf nahi mungkar, tidak berusaha memperbaiki manusia, dan tidak menjelaskan kebenaran ketika terjadi fitnah.
Ini bukan maksud Allah dalam ayat tersebut, sebagaimana telah dijelaskan oleh Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu.
Maknanya adalah bahwa kesesatan orang lain tidak akan membahayakan seseorang apabila ia sendiri telah mendapatkan petunjuk dan telah melaksanakan apa yang Allah wajibkan terhadap dirinya berkaitan dengan orang lain, yaitu menunjukkan mereka kepada kebenaran dan memperingatkan mereka dari kebatilan.
Sebab, hidayah berada di tangan Allah.
Kewajiban manusia hanyalah menyampaikan.
Dan Allah-lah yang memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus.
Shalawat dan Doa
Semoga Allah merahmati kalian.
Bershalawatlah kepada manusia terbaik dan manusia paling suci, yaitu Muhammad bin Abdullah, pemilik telaga dan syafaat.
Allah telah memerintahkan kalian dengan suatu perintah yang Dia mulai dengan menyebut diri-Nya sendiri, kemudian menyebut para malaikat-Nya yang bertasbih menyucikan-Nya, kemudian memerintahkan kalian—wahai kaum mukminin.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab: 56)
Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam, tambahkanlah keberkahan kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad.
Ya Allah, ridhailah keempat khalifah beliau: Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali.
Ridhailah seluruh sahabat Nabi-Mu Muhammad ﷺ, para tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
Dan jadikanlah kami bersama mereka dengan ampunan, kemurahan, dan karunia-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.
Hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik.
Ya Allah, tolonglah agama-Mu, kitab-Mu, Sunnah Nabi-Mu, dan hamba-hamba-Mu yang beriman.
Ya Allah, hilangkanlah kesedihan orang-orang Muslim yang sedang bersedih.
Lapangkanlah kesusahan orang-orang yang sedang mengalami kesulitan.
Lunasilah utang orang-orang yang terlilit utang.
Sembuhkanlah orang-orang sakit di antara kami dan orang-orang sakit dari kaum Muslimin dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu ampunan dan 'afiyah.
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ampunan dan 'afiyah dalam agama kami, harta kami, dan keluarga kami, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan, wahai Yang Mahahidup dan Yang terus-menerus mengurus makhluk.
Ya Allah, berikanlah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami.
Perbaikilah para pemimpin dan penguasa kami.
Jadikanlah kepemimpinan kami berada di tangan orang-orang yang takut kepada-Mu, bertakwa kepada-Mu, dan mengikuti keridhaan-Mu, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, berilah taufik kepada pemimpin kami untuk melakukan apa yang Engkau cintai dan ridhai, berupa perkataan dan perbuatan, wahai Yang Mahahidup dan Yang terus-menerus mengurus makhluk.
Ya Allah, perbaikilah orang-orang yang menjadi pendamping dan penasihatnya, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.
Ya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang tertindas dalam agama mereka di seluruh penjuru dunia.
Ya Allah, tolonglah mereka di mana pun mereka berada.
Ya Allah, tolonglah mereka menghadapi orang-orang yang menzalimi dan menelantarkan mereka.
Ya Allah, tolonglah mereka menghadapi musuh-Mu dan musuh mereka.
Ya Allah, jadikanlah urusan musuh mereka berada di tempat yang rendah, dan jadikanlah perkaranya membawa kebinasaan baginya.
Ya Allah, segerakanlah kemenangan dan jalan keluar bagi mereka, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.
Ya Allah, Engkaulah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau.
Engkaulah Yang Mahakaya sedangkan kami adalah orang-orang yang fakir.
Turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.
Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.
Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.
Ya Allah, sesungguhnya kami adalah makhluk di antara makhluk-makhluk-Mu.
Maka janganlah dosa-dosa kami menghalangi karunia-Mu dari kami, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.
Allah berfirman:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
(QS. Al-Baqarah: 201)
Mahasuci Rabb kami, Rabb Yang memiliki keperkasaan, dari apa yang mereka sifatkan.
Semoga keselamatan tercurah kepada para rasul.
Dan penutup doa kami adalah segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar