Terjemahan Khutbah Masjid Nabawi
Bersegera Memenuhi Seruan Allah dan Rasul-Nya
Khatib: Syekh Abdulbari bin ‘Awadh ats-Tsubaiti hafizhahullah
Tanggal khutbah: 21 Dzulqa‘dah 1434 H
Sumber: Alukah, Khutbah Masjid Nabawi: Bersegera Memenuhi Seruan Allah dan Rasul-Nya.
Pengantar
Syekh Abdulbari bin ‘Awadh ats-Tsubaiti menyampaikan khutbah Jumat berjudul “Bersegera Memenuhi Seruan Allah dan Rasul-Nya”. Beliau menjelaskan bahwa bersegera melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangan keduanya merupakan bukti kejujuran dan kesempurnaan iman. Sikap ini merupakan kebiasaan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka.
Beliau mengingatkan beberapa contoh keteladanan para sahabat dalam menyambut perintah syariat tanpa banyak berpikir untuk menolak ataupun berbantah-bantahan. Beliau juga menjelaskan bahwa ibadah haji termasuk bentuk ketaatan yang paling agung dalam memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya.
Khutbah Pertama
Segala puji bagi Allah. Segala puji bagi Allah yang telah memerintahkan kita untuk memenuhi seruan-Nya dan mendorong kita meraih keutamaan serta kembali kepada-Nya. Aku memuji dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat taufik dan jalan kebahagiaan yang dianugerahkan-Nya.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam ibadah kurban, salat, dan seluruh bentuk peribadatan. Aku juga bersaksi bahwa pemimpin dan Nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya. Beliau telah mengajarkan kepada kita jalan petunjuk dan kepemimpinan yang benar.
Semoga Allah melimpahkan selawat kepada beliau, keluarga beliau, dan para sahabatnya yang memiliki keteguhan hati serta kemuliaan.
Amma ba‘du.
Aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar senantiasa bertakwa kepada Allah.
Allah عز وجل berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102).
Allah سبحانه وتعالى juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru kalian kepada sesuatu yang memberikan kehidupan kepada kalian.” (QS. Al-Anfal: 24).
Memenuhi seruan Allah dan Rasul berarti memenuhi seruan Islam dengan seluruh ajarannya. Ini merupakan ketaatan yang menyeluruh dan luas dalam setiap perkara yang Allah dan Rasul-Nya, shallallahu ‘alaihi wa sallam, serukan kepada kita.
Seorang Muslim memenuhi seruan Allah dalam seluruh urusan kehidupannya: dalam salat, zakat, puasa, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, bermuamalah, berpakaian, berpenampilan, dan bekerja.
Seorang perempuan juga memenuhi seruan Allah dalam mengenakan hijab, menjaga aurat, perhiasan, mengurus rumah, serta menjalankan hubungannya dengan suami dan anak-anaknya.
Bersegera memenuhi seruan Allah merupakan bukti kejujuran dalam berserah diri kepada-Nya. Hal itu merupakan buah dari ilmu yang bermanfaat dan amal saleh.
Orang-orang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya adalah orang-orang yang memperoleh keberuntungan. Merekalah orang-orang yang benar-benar beriman, yang mendapatkan apa yang mereka harapkan dan diselamatkan dari berbagai kesulitan. Mata mereka menjadi sejuk dan jiwa mereka memperoleh kebahagiaan.
Allah Ta‘ala berfirman:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Sesungguhnya ucapan orang-orang mukmin, apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka, hanyalah, ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur: 51).
Inilah ucapan orang-orang beriman: Kami mendengar dan kami taat, baik dalam keadaan bersemangat maupun dalam keadaan tidak menyukai suatu perkara, baik ketika lapang maupun ketika sulit.
Adapun orang-orang munafik, semboyan mereka adalah berpaling dan menolak. Kebiasaan mereka ialah menghalangi manusia dari jalan Allah serta menyelisihi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah berfirman:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا
“Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul,’ niscaya engkau melihat orang-orang munafik benar-benar berpaling darimu.” (QS. An-Nisa’: 61).
Dengan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, hati dan akal memperoleh kehidupan. Jiwa dan masyarakat memperoleh kehidupan. Bahkan, seluruh umat memperoleh kehidupan.
Oleh karena itu, manusia yang paling sempurna kehidupannya adalah orang yang paling sempurna dalam memenuhi seruan Allah. Barang siapa lemah dalam memenuhi seruan-Nya, maka hatinya pun melemah dan kehidupannya menjadi berkurang.
Adapun orang yang hatinya telah mati, ia tidak lagi memiliki respons terhadap seruan kebenaran.
Allah Ta‘ala berfirman:
إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَى وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ
“Sesungguhnya engkau tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar, dan engkau tidak dapat menjadikan orang-orang tuli mendengar seruan apabila mereka telah berpaling ke belakang.” (QS. An-Naml: 80).
Adapun orang-orang yang menolak memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya mereka menolak kehidupan yang baik. Mereka tidak mendapatkan kecuali keadaan yang rendah, dan kesudahan mereka adalah kebinasaan, kehancuran, serta akibat yang buruk.
Allah Ta‘ala berfirman:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُوا نِعْمَتَ اللَّهِ كُفْرًا وَأَحَلُّوا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا وَبِئْسَ الْقَرَارُ
“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka Jahanam; mereka masuk ke dalamnya. Itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (QS. Ibrahim: 28–29).
Allah kemudian berfirman:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim di antara kalian secara khusus. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25).
Berpaling dari seruan Allah dapat menyebabkan perselisihan, kekacauan keadaan, rusaknya keseimbangan, dan tersebarnya kerusakan. Semua itu termasuk perkara yang diungkapkan dengan istilah fitnah.
Dari Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar pada suatu hari dalam keadaan terkejut dan wajahnya memerah. Beliau bersabda:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ، فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذَا
“Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah. Celakalah bangsa Arab karena keburukan yang telah mendekat. Pada hari ini telah terbuka dari bendungan Ya’juj dan Ma’juj sebesar ini.”
Beliau kemudian membuat lingkaran dengan ibu jari dan jari yang berada di sebelahnya.
Zainab berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah kita akan dibinasakan padahal di tengah-tengah kita terdapat orang-orang saleh?’”
Beliau menjawab:
نَعَمْ، إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ
“Ya, apabila keburukan telah merajalela.”
Umat yang memenuhi seruan wahyu dari Rabb-nya dan menyerahkan diri kepada Penciptanya akan memperoleh keadaan yang baik. Kehidupannya akan berubah menuju kebaikan dan perbaikan.
Keamanan, kehidupan yang baik, dan persatuan sejati di antara kaum mukminin akan terwujud bagi mereka. Permusuhan dan kebencian pun berubah menjadi persaudaraan karena nikmat Allah.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan berempati adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh mengeluh karena sakit, seluruh tubuh turut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan mengalami demam.”
Allah juga akan memenuhi permohonan hamba-hamba-Nya apabila mereka memenuhi seruan-Nya. Allah menentukan waktu terkabulnya permohonan dengan hikmah-Nya yang sempurna.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، فَيَقُولَ: قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
“Doa salah seorang di antara kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, dengan mengatakan, ‘Aku telah berdoa, tetapi doaku belum dikabulkan.’”
Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Allah mengabulkan permohonan orang-orang yang memenuhi seruan-Nya.
Allah Ta‘ala berfirman:
فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ
“Maka Rabb mereka memperkenankan permohonan mereka dan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kalian, baik laki-laki maupun perempuan. Sebagian kalian adalah keturunan dari sebagian yang lain.’” (QS. Ali ‘Imran: 195).
Ketika terjadi kerusakan dalam memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, manusia dapat terhalang dari terkabulnya permohonan mereka dan dibiarkan bergantung kepada diri mereka sendiri. Barang siapa diserahkan kepada dirinya sendiri oleh Allah, maka ia akan merugi, menjadi lemah, dan terhina.
Dalam hal bersegera memenuhi seruan Allah, generasi terdahulu telah mengukir berbagai teladan yang abadi. Ketika salah seorang di antara mereka menerima perintah atau larangan, ia segera mematuhinya tanpa keraguan. Ia mengubah perintah tersebut menjadi kenyataan yang dapat dilihat dan tindakan yang benar-benar dilakukan.
Hal ini menunjukkan kedalaman iman dan ketulusan dalam menerima ketetapan Allah.
Anas radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Ketika aku sedang mengedarkan gelas minuman kepada Abu Thalhah dan beberapa orang lainnya, aku mendengar seorang penyeru berseru, ‘Ketahuilah, sesungguhnya khamar telah diharamkan!’
Ia berkata, ‘Tidak ada seorang pun yang masuk kepada kami dan tidak ada seorang pun yang keluar dari tempat kami sebelum kami menumpahkan minuman itu, memecahkan tempayan-tempayan khamar, kemudian sebagian dari kami berwudu dan sebagian lainnya mandi. Kami juga memakai wewangian milik Ummu Sulaim. Setelah itu, kami keluar menuju masjid. Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang membaca ayat berikut:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
‘Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, berkurban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah semua itu agar kalian beruntung.’” (QS. Al-Ma’idah: 90).
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
“Sesungguhnya perempuan-perempuan Quraisy memiliki keutamaan. Namun, demi Allah, aku tidak pernah melihat perempuan yang lebih utama daripada perempuan-perempuan Anshar dalam hal membenarkan Kitab Allah.
Ketika turun ayat:
وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
‘Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka.’ (QS. An-Nur: 31),
para lelaki mereka pulang menemui istri-istri mereka sambil membacakan apa yang telah Allah turunkan mengenai hal tersebut. Seorang lelaki membacakannya kepada istrinya, putrinya, saudara perempuannya, dan seluruh kerabat perempuannya.
Tidak ada seorang perempuan pun di antara mereka melainkan segera mengambil kain panjang bermotif miliknya, lalu menggunakannya untuk menutupi kepala dan tubuh bagian atasnya, sebagai bentuk pembenaran dan keimanan terhadap apa yang Allah turunkan di dalam Kitab-Nya.
Pada pagi harinya, mereka berada di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan menutupi kepala mereka dengan kain, seolah-olah di atas kepala mereka terdapat burung-burung gagak.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat sebuah cincin emas di tangan seorang lelaki. Beliau melepaskannya, lalu melemparkannya seraya bersabda:
يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إِلَى جَمْرَةٍ مِنْ نَارٍ فَيَجْعَلُهَا فِي يَدِهِ
“Salah seorang di antara kalian sengaja mengambil bara api, lalu meletakkannya di tangannya.”
Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi, seseorang berkata kepada lelaki tersebut, “Ambillah kembali cincinmu dan manfaatkanlah.”
Lelaki itu menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan mengambilnya kembali untuk selama-lamanya setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuangnya.”
Wahai hamba-hamba Allah!
Ibadah haji disyariatkan sebagai bentuk pemenuhan seruan Allah. Para jemaah haji datang dari berbagai penjuru yang jauh demi memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya.
Sikap memenuhi seruan Allah dalam ibadah haji tampak pada setiap rangkaian manasik dan setiap tempat pelaksanaannya. Mereka adalah para tamu Allah yang meninggalkan keluarga, harta, dan tanah air mereka.
Allah menyeru mereka untuk melakukan tawaf mengelilingi Baitullah, maka mereka pun memenuhi seruan-Nya.
Allah menyeru mereka untuk menyentuh dan mencium Hajar Aswad, atau memberikan isyarat kepadanya apabila tidak memungkinkan untuk menciumnya, maka mereka pun melaksanakannya, meskipun mereka mengetahui bahwa batu tersebut tidak dapat memberikan mudarat maupun manfaat dengan sendirinya.
Allah menyeru mereka untuk berangkat ke Mina dan bermalam di sana. Mereka pun menyatakan ketundukan kepada Allah dan hukum-Nya.
Mereka tidak melakukan ibadah itu demi riya atau mencari popularitas. Keikhlasan menjadi semboyan mereka, sedangkan mengikuti tuntunan Nabi menjadi pakaian mereka.
Ucapan Labbaik Allahumma labbaik merupakan lambang ketaatan yang sempurna. Maknanya adalah, “Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, sebagai jawaban atas seruan-Mu, pelaksanaan perintah-Mu, dan bentuk keteladanan kepada Nabi-Mu, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Beliau bersabda:
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
“Haji yang mabrur tidak memiliki balasan selain surga.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dengan Al-Qur’an yang agung, serta memberikan manfaat kepada kita melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.
Inilah yang aku sampaikan. Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung untuk diriku dan untuk kalian. Oleh karena itu, mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
### Khutbah Kedua
Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan nikmat kepada kita dan memberikan petunjuk kepada kita. Aku memuji dan bersyukur kepada-Nya atas segala karunia yang telah Dia berikan kepada kita.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa pemimpin dan Nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya.
Semoga selawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, serta para sahabatnya.
Amma ba‘du.
Aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar bertakwa kepada Allah.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102).
Memenuhi seruan Allah memiliki sejumlah tanda. Di antara tanda yang paling menonjol adalah menegakkan salat, bermusyawarah dalam urusan bersama, dan menginfakkan rezeki di jalan Allah.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
“Dan orang-orang yang memenuhi seruan Rabb mereka, melaksanakan salat, sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Asy-Syura: 38).
Kesombongan, kecintaan terhadap kedudukan dan kepemimpinan, serta tenggelam dalam kemewahan merupakan penghalang untuk memenuhi seruan Allah.
Mengikuti hawa nafsu juga menghalangi seseorang dari memenuhi seruan kebenaran.
Allah Ta‘ala berfirman:
فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ
“Maka jika mereka tidak memenuhi seruanmu, ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa mendapat petunjuk dari Allah?” (QS. Al-Qashash: 50).
Wahai saudara-saudara seiman!
Barang siapa memenuhi seruan Allah, ia akan memperoleh kebaikan yang terbaik. Adapun orang yang berpaling, bermaksiat, dan tidak memenuhi seruan-Nya, maka sungguh buruk kesudahan yang akan menantinya.
Harta dan kekayaannya tidak akan dapat menyelamatkannya, sekalipun ia memiliki emas sebanyak seluruh isi bumi, bahkan ditambah dengan jumlah yang sama lagi, lalu semuanya ia gunakan untuk menebus dirinya.
Allah Ta‘ala berfirman:
لِلَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمُ الْحُسْنَى وَالَّذِينَ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُ لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لَافْتَدَوْا بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ سُوءُ الْحِسَابِ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ
“Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Rabb mereka disediakan balasan yang terbaik. Adapun orang-orang yang tidak memenuhi seruan-Nya, sekiranya mereka memiliki seluruh apa yang ada di bumi dan ditambah sebanyak itu lagi, niscaya mereka akan menebus diri mereka dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat perhitungan yang buruk, dan tempat tinggal mereka adalah Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.” (QS. Ar-Ra‘d: 18).
Ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah, bahwa Allah telah memerintahkan kalian untuk berselawat kepada Rasul pembawa petunjuk. Allah berfirman di dalam Kitab-Nya:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).
### Doa penutup khutbah
Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad.
Ya Allah, ridhailah empat khalifah yang mendapat petunjuk: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Ridhailah pula keluarga beliau, para sahabat yang mulia, dan kami bersama mereka dengan ampunan, kemurahan, dan karunia-Mu, wahai Zat Yang Mahamulia di antara semua yang mulia.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin. Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin. Hinakanlah kekafiran dan orang-orang kafir. Binasakanlah musuh-musuh-Mu, musuh-musuh agama. Jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan tenteram, demikian pula seluruh negeri kaum Muslimin.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu surga dan segala perkataan serta amalan yang mendekatkan kami kepadanya. Kami berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala perkataan serta amalan yang mendekatkan kami kepadanya.
Ya Allah, perbaikilah agama kami yang menjadi penjaga urusan kami. Perbaikilah dunia kami yang menjadi tempat kehidupan kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagi kami dari setiap keburukan, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan kehormatan diri, dan kecukupan.
Ya Allah, tolonglah kami dan janganlah Engkau menolong pihak yang melawan kami untuk mengalahkan kami. Menangkanlah kami dan janganlah Engkau memenangkan pihak yang melawan kami. Buatlah tipu daya yang menguntungkan kami terhadap musuh-musuh kami, dan janganlah Engkau membiarkan tipu daya mereka mengalahkan kami. Berilah kami petunjuk dan mudahkanlah petunjuk itu bagi kami. Tolonglah kami menghadapi orang yang melampaui batas terhadap kami.
Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, tunduk kepada-Mu, banyak merintih memohon kepada-Mu, dan senantiasa kembali kepada-Mu.
Ya Allah, terimalah tobat kami, bersihkanlah dosa-dosa kami, teguhkanlah hujah kami, luruskanlah lisan kami, dan cabutlah kedengkian serta kebencian dari hati kami.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon keridaan-Mu dan surga. Kami berlindung kepada-Mu dari kemurkaan-Mu dan neraka.
Ya Allah, ampunilah seluruh kaum Muslimin yang telah meninggal dunia. Rahmatilah orang-orang yang telah wafat di antara kami, sembuhkanlah orang-orang sakit di antara kami, bebaskanlah para tawanan kami, uruslah perkara-perkara kami, dan hilangkanlah kesedihan serta kesusahan kami, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.
Ya Allah, jagalah para jemaah haji yang mengunjungi Rumah-Mu yang suci. Ya Allah, jagalah para jemaah haji yang mengunjungi Rumah-Mu yang suci. Ya Allah, jagalah para jemaah haji yang mengunjungi Rumah-Mu yang suci.
Jauhkanlah mereka dari segala keburukan dan dosa. Kembalikanlah mereka ke negeri mereka dalam keadaan selamat, aman, memperoleh pahala, dan diterima amal ibadahnya, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, jadikanlah haji mereka sebagai haji yang mabrur, usaha mereka sebagai usaha yang disyukuri, dosa mereka sebagai dosa yang diampuni, dan amal mereka sebagai amal saleh yang diterima, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, jagalah kaum Muslimin di mana pun mereka berada, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, jagalah dan tolonglah kaum Muslimin di Mesir, Suriah, kawasan Syam, dan di seluruh tempat, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, menangkanlah mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, berilah taufik kepada pemimpin kami untuk melakukan perkara-perkara yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Bimbinglah dia menuju petunjuk-Mu dan jadikanlah amalnya sebagai amal yang diridhai-Mu, wahai Rabb seluruh alam.
Ya Allah, berilah taufik kepada seluruh pemimpin kaum Muslimin agar mereka mengamalkan Kitab-Mu dan menerapkan syariat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.
Allah Ta‘ala berfirman:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Wahai Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A‘raf: 23).
Allah Ta‘ala juga berfirman:
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami. Janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10).
Allah Ta‘ala juga berfirman:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201).
Allah Ta‘ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90).
Maka, ingatlah Allah, niscaya Dia akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat kepada kalian.
Sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar keutamaannya. Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar