Rabu, 28 Oktober 2026

TAKUT KEPADA ALLAH DAN PENGARUHNYA DALAM KEHIDUPAN SEORANG MUSLIM


TAKUT KEPADA ALLAH DAN PENGARUHNYA DALAM KEHIDUPAN SEORANG MUSLIM 

 Terjemahan Khutbah Masjid Nabawi



Khatib: Syekh Ali bin Abdurrahman Al-Hudzaifi حفظه الله

Tanggal khutbah: 8 Shafar 1434 H



Khutbah pertama

Segala puji bagi Allah Yang Mahatinggi lagi Mahamulia. Milik-Nya segala yang ada di langit, segala yang ada di bumi, segala yang ada di antara keduanya, dan segala yang ada di bawah tanah.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى ۝ وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى ﴾

“Segala yang ada di langit, segala yang ada di bumi, segala yang ada di antara keduanya, dan segala yang ada di bawah tanah adalah milik-Nya. Jika engkau mengucapkan perkataan dengan suara keras, sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan sesuatu yang lebih tersembunyi.” (QS. Thaha: 6–7).

Aku memuji Rabb-ku dan bersyukur kepada-Nya atas segala yang telah Dia berikan.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan milik-Nya nama-nama yang paling indah.

Aku juga bersaksi bahwa Nabi dan pemimpin kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya yang terpilih.

Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya yang baik lagi bertakwa.

Amma ba'du.

Wahai kaum muslimin, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan. Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam diri kalian, maka waspadalah terhadap-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ ﴾

“Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik di bumi maupun di langit.” (QS. Ali 'Imran: 5).

 Kedudukan amalan hati

Wahai hamba-hamba Allah!

Sesungguhnya amalan-amalan hati merupakan perkara yang paling agung dan paling besar. Pahala yang berkaitan dengannya adalah pahala yang sangat besar, dan hukuman yang berkaitan dengannya pun merupakan hukuman yang sangat besar.

Amalan-amalan anggota badan mengikuti amalan-amalan hati dan dibangun di atasnya. Oleh karena itu, dikatakan, “Hati adalah raja bagi seluruh anggota badan, sedangkan anggota badan lainnya adalah bala tentaranya.”

Dari Anas radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ»

“Iman seorang hamba tidak akan lurus sampai hatinya lurus.” (HR. Ahmad).

Makna lurusnya hati adalah mentauhidkan Allah Ta'ala, mengagungkan-Nya, mencintai-Nya, takut kepada-Nya, berharap kepada-Nya, mencintai ketaatan kepada-Nya, serta membenci kemaksiatan kepada-Nya.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ»

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).

Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata kepada seseorang:

“Obatilah hatimu, karena yang Allah kehendaki dari para hamba adalah baiknya hati mereka.”

Di antara amalan hati yang mendorong seseorang melakukan amal-amal saleh, menjadikan akhirat sebagai sesuatu yang dirindukan, mencegahnya dari perbuatan buruk, membuatnya tidak terlalu terpaut pada dunia, serta mengendalikan jiwa yang melampaui batas adalah rasa takut dan harapan.

Rasa takut kepada Allah Ta'ala menggiring hati untuk melakukan setiap kebaikan dan menghalanginya dari segala keburukan.

Adapun harapan, ia menuntun seorang hamba menuju keridaan Allah dan pahala-Nya, membangkitkan semangat untuk mengerjakan amal-amal yang agung, serta menjauhkannya dari perbuatan-perbuatan tercela.

Rasa takut kepada Allah menghalangi jiwa dari memperturutkan syahwatnya, mencegahnya dari kesesatan, dan mendorongnya menuju perkara-perkara yang mendatangkan kebaikan serta keberhasilannya.

 Takut kepada Allah merupakan bagian dari tauhid

Rasa takut kepada Allah merupakan salah satu cabang tauhid yang wajib ditujukan kepada Rabb seluruh alam. Adapun memalingkan rasa takut yang merupakan ibadah kepada selain Allah Ta'ala merupakan salah satu cabang kesyirikan kepada Allah Ta'ala.

Allah Ta'ala memerintahkan kita agar takut kepada-Nya dan melarang kita takut kepada selain-Nya dalam perkara yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah.

Allah berfirman:

﴿ إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ﴾

“Sesungguhnya mereka itu hanyalah setan yang menakut-nakuti kalian dengan para pengikutnya. Karena itu, janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar orang-orang beriman.” (QS. Ali 'Imran: 175).

Allah Ta'ala juga berfirman:

﴿ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا ﴾

“Maka janganlah kalian takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kalian menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit.” (QS. Al-Ma'idah: 44).

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ ﴾

“Dan hanya kepada-Ku-lah kalian harus takut.” (QS. Al-Baqarah: 40).

Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ pernah berkhutbah kepada kami, lalu bersabda:

«لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا، وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا»

“Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”

Maka para sahabat Rasulullah ﷺ menutupi wajah mereka, sementara terdengar isak tangis dari mereka. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Makna takut, khasy-yah, wajal, rahbah, dan haibah

Yang dimaksud dengan rasa takut adalah keguncangan dan keresahan hati, serta kekhawatiran akan hukuman Allah karena melakukan sesuatu yang diharamkan, meninggalkan kewajiban, atau kurang sempurna dalam melaksanakan amalan sunah. Termasuk pula kekhawatiran bahwa Allah tidak menerima amal saleh yang telah dikerjakan.

Dengan demikian, jiwa akan tercegah dari perkara-perkara yang diharamkan dan bersegera melakukan berbagai kebaikan.

Adapun khasy-yah, wajal, rahbah, dan haibah merupakan istilah-istilah yang maknanya berdekatan, tetapi tidak sepenuhnya sama dengan kata takut dalam segala seginya.

Khasy-yah lebih khusus daripada rasa takut secara umum. Khasy-yah adalah rasa takut kepada Allah yang disertai pengetahuan tentang sifat-sifat Allah Yang Mahamulia lagi Mahatinggi.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ﴾

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28).

Dalam kitab Shahih disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«أَمَا إِنِّي أَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ»

“Ketahuilah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan yang paling bertakwa kepada-Nya.”

Adapun wajal adalah bergetarnya hati dan terguncangnya hati ketika mengingat Zat yang kekuasaan dan hukuman-Nya ditakuti.

Rahbah adalah perasaan takut yang mendorong seseorang menjauh atau melarikan diri dari sesuatu yang tidak disukai.

Haibah adalah rasa takut yang disertai pengagungan dan penghormatan.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:

“Rasa takut merupakan keadaan umum kaum mukminin, khasy-yah merupakan keadaan para ulama yang mengenal Allah, haibah merupakan keadaan orang-orang yang mencintai Allah, sedangkan pengagungan merupakan keadaan orang-orang yang didekatkan kepada-Nya. Sesuai dengan kadar ilmu dan pengenalan seseorang terhadap Allah, demikian pula kadar rasa takut dan khasy-yah-nya kepada Allah Ta'ala.”

Pahala bagi orang yang takut kepada Allah

Allah telah menjanjikan kepada orang yang takut kepada-Nya, sehingga rasa takut itu menghalanginya dari memperturutkan syahwat dan mendorongnya melakukan ketaatan, balasan yang paling utama.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ ۝ فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ۝ ذَوَاتَا أَفْنَانٍ ﴾

“Dan bagi orang yang takut akan kedudukan Rabbnya, ada dua surga. Maka nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian dustakan? Kedua surga itu mempunyai aneka pepohonan dan buah-buahan yang indah.” (QS. Ar-Rahman: 46–48).

Kata afnān berarti cabang-cabang pohon yang indah dan segar.

Atha' berkata, “Setiap cabang menghimpun beragam jenis buah-buahan.”

Allah Ta'ala juga berfirman:

﴿ وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى ۝ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى ﴾

“Adapun orang yang takut akan kedudukan Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi'at: 40–41).

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ ۝ قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ ۝ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ ۝ إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ ﴾

“Sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil saling bertanya. Mereka berkata, ‘Sesungguhnya dahulu, ketika kami berada di tengah-tengah keluarga kami, kami selalu merasa takut. Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan melindungi kami dari azab neraka yang sangat panas. Sesungguhnya dahulu kami selalu berdoa kepada-Nya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Melimpahkan Kebaikan lagi Maha Penyayang.’” (QS. Ath-Thur: 25–28).

Allah menjelaskan bahwa orang yang takut kepada-Nya akan diselamatkan dari perkara-perkara yang tidak disukai, dicukupkan kebutuhannya, dan dianugerahi kesudahan yang baik.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdul Aziz, yaitu Ibnu Abi Rawwad, ia berkata:

“Telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ membaca ayat berikut:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ﴾

‘Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.’ (QS. At-Tahrim: 6).

Ketika itu, di dekat beliau terdapat beberapa sahabat, di antaranya seorang lelaki tua. Lelaki tua itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah batu-batu neraka Jahanam seperti batu-batu di dunia?’

Nabi ﷺ menjawab, ‘Sungguh, sebuah batu dari batu-batu Jahanam lebih besar daripada seluruh gunung di dunia.’

Lelaki tua itu pun jatuh pingsan. Nabi ﷺ meletakkan tangan beliau di dada lelaki tersebut dan ternyata ia masih hidup. Beliau memanggilnya seraya berkata, ‘Wahai orang tua, ucapkanlah: Lā ilāha illallāh.’

Lelaki itu pun mengucapkannya, lalu Nabi ﷺ memberikan kabar gembira kepadanya berupa surga.”

Sebagian sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ia memperoleh keistimewaan itu di antara kami?”

Beliau menjawab, “Ya. Allah Ta'ala berfirman:

﴿ ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ ﴾

“Yang demikian itu adalah bagi orang yang takut akan kedudukan-Ku dan takut terhadap ancaman-Ku.” (QS. Ibrahim: 14).

 Ketakutan para salaf kepada Allah

Para salaf yang saleh didominasi oleh rasa takut kepada Allah Ta'ala. Mereka tetap mengerjakan amal dengan sebaik-baiknya dan mengharapkan rahmat Allah Yang Mahamulia. Karena itulah keadaan mereka menjadi baik, kesudahan mereka indah, dan amal-amal mereka menjadi suci.

Umar radhiyallahu 'anhu dahulu berkeliling pada malam hari untuk memeriksa keadaan rakyatnya. Pada suatu malam, beliau mendengar seorang lelaki membaca Surah Ath-Thur.

Umar turun dari keledainya dan bersandar pada sebuah dinding. Setelah peristiwa itu, beliau jatuh sakit selama sebulan. Orang-orang menjenguknya, tetapi mereka tidak mengetahui penyebab penyakitnya.

Amirul Mukminin Ali radhiyallahu 'anhu pernah mengucapkan salam setelah salat Subuh dalam keadaan tampak sedih. Beliau membolak-balikkan tangannya, lalu berkata:

“Sungguh, aku telah melihat para sahabat Muhammad ﷺ, tetapi aku tidak melihat seorang pun pada hari ini yang menyerupai mereka. Dahulu, ketika pagi tiba, keadaan mereka kusut, pucat, dan berdebu. Di antara kedua mata mereka tampak bekas seperti lutut kambing.

Mereka menghabiskan malam untuk Allah dengan bersujud dan berdiri dalam salat. Mereka membaca Kitabullah, bergantian menggunakan dahi dan kaki mereka untuk berdiri dan bersujud.

Ketika pagi tiba, mereka mengingat Allah, lalu tubuh mereka bergoyang seperti pohon yang bergoyang pada hari berangin. Mata mereka bercucuran air mata hingga membasahi pakaian mereka.”

Sufyan Ats-Tsauri pernah jatuh sakit karena rasa takut kepada Allah.

Riwayat-riwayat mengenai hal ini sangat banyak. Semoga Allah meridai mereka semua.

Rasa takut yang terpuji dan rasa takut yang tercela

Rasa takut yang terpuji adalah rasa takut yang mendorong seseorang melakukan amal saleh dan mencegahnya dari perkara-perkara yang diharamkan.

Apabila rasa takut melampaui batas yang terpuji, sehingga berubah menjadi keputusasaan dan kehilangan harapan terhadap rahmat Allah, maka hal itu termasuk dosa besar.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

“Kadar rasa takut yang wajib adalah rasa takut yang mendorong seseorang menunaikan kewajiban dan menjauhi perkara-perkara yang diharamkan.

Jika rasa takut itu bertambah sehingga mendorong jiwa untuk bersungguh-sungguh mengerjakan amalan-amalan sunah dan ketaatan, menahan diri dari perkara-perkara makruh yang samar atau ringan, serta membatasi diri dalam menikmati perkara-perkara mubah, maka tambahan rasa takut tersebut merupakan keutamaan yang terpuji.

Namun, jika rasa takut itu terus bertambah hingga menyebabkan penyakit, kematian, atau kesedihan yang terus-menerus sehingga menghalangi seseorang untuk berusaha dan beraktivitas, maka rasa takut seperti itu tidak lagi terpuji.”

Abu Hafsh berkata:

“Rasa takut adalah cambuk Allah yang dengannya Dia meluruskan orang-orang yang menyimpang dari pintu-Nya.”

Ia juga berkata:

“Rasa takut adalah pelita di dalam hati.”

Abu Sulaiman berkata:

“Tidaklah rasa takut meninggalkan sebuah hati, melainkan hati itu akan rusak.”

Seorang muslim berada di antara dua perkara yang menimbulkan rasa takut: perkara yang telah berlalu, sementara ia tidak mengetahui apa yang Allah tetapkan terhadapnya; dan perkara yang akan datang, sementara ia tidak mengetahui apa yang Allah putuskan baginya.

Hakikat harapan kepada Allah

Adapun harapan (raja'), maknanya adalah mengharapkan pahala Allah atas amal saleh yang dikerjakan.

Syarat harapan adalah mendahuluinya dengan amal yang baik dan menjauhi perkara-perkara yang diharamkan, atau bertobat darinya.

Adapun meninggalkan kewajiban, mengikuti hawa nafsu, kemudian hanya berangan-angan dan berharap kepada Allah tanpa melakukan ketaatan, maka sikap demikian merupakan perasaan aman dari makar Allah, bukan harapan yang benar.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ ﴾

“Tidak ada yang merasa aman dari makar Allah selain orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A'raf: 99).

Allah Ta'ala telah menjelaskan bahwa harapan harus disertai dengan amal saleh yang dilakukan terlebih dahulu. Harapan tidak terwujud dengan benar tanpa amal tersebut.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ ۝ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan pahala mereka dan menambah karunia-Nya kepada mereka.” (QS. Fathir: 29–30).

Allah Ta'ala juga berfirman:

﴿ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan orang-orang yang berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218).

Harapan merupakan ibadah yang tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah Ta'ala. Barang siapa menggantungkan harapan ibadahnya kepada selain Allah, maka ia telah melakukan kesyirikan kepada Allah.

Allah Yang Mahamulia berfirman:

﴿ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا ﴾

“Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110).

Harapan juga merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:

«أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي»

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.”

Kewajiban memadukan rasa takut dan harapan

Seorang hamba wajib memadukan rasa takut dan harapan kepada Allah. Keadaan seorang hamba yang paling sempurna adalah mencintai Allah Ta'ala dengan rasa takut dan harapan yang seimbang.

Inilah keadaan para nabi 'alaihimush shalatu was salam dan kaum mukminin.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ ﴾

“Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan, berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan takut, dan mereka senantiasa khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya': 90).

Allah Ta'ala juga berfirman:

﴿ تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ ﴾

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya. Mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan penuh harap, serta menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajdah: 16).

Apabila seorang muslim mengetahui betapa luas rahmat Allah, betapa agung kemurahan-Nya, dan betapa besar ampunan-Nya terhadap dosa-dosa yang besar, serta mengetahui luasnya surga dan besarnya pahala-Nya, maka jiwanya akan menjadi lapang. Ia akan semakin bersemangat dalam berharap dan menginginkan kebaikan yang agung di sisi Allah.

Sebaliknya, apabila ia mengetahui betapa dahsyat hukuman Allah, betapa keras tindakan-Nya terhadap orang yang berhak menerimanya, betapa berat perhitungan-Nya, dahsyatnya keadaan pada hari kiamat, mengerikannya neraka, menakutkannya saat kematian dan kebangkitan, serta beragam azab di akhirat, maka jiwanya akan tertahan, tunduk, berhati-hati, dan takut.

Oleh karena itu, dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ»

“Seandainya seorang mukmin mengetahui hukuman yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang berani terlalu berharap untuk memperoleh surga-Nya. Dan seandainya orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang berputus asa dari surga-Nya.” (HR. Muslim).

Allah Ta'ala sering kali menyandingkan ampunan dengan hukuman dalam firman-Nya.

Allah berfirman:

﴿ وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ لِلنَّاسِ عَلَى ظُلْمِهِمْ وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ الْعِقَابِ ﴾

“Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mempunyai ampunan bagi manusia meskipun mereka berbuat zalim, dan sesungguhnya Rabbmu sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Ar-Ra'd: 6).

Al-Ghazali rahimahullah menukil perkataan Makhul Ad-Dimasyqi:

“Barang siapa beribadah kepada Allah hanya dengan rasa takut, maka ia adalah seorang Haruri. Barang siapa beribadah kepada Allah hanya dengan harapan, maka ia adalah seorang Murji'ah. Barang siapa beribadah kepada Allah hanya dengan cinta, maka ia adalah seorang zindik. Dan barang siapa beribadah kepada-Nya dengan rasa takut, harapan, dan cinta, maka ia adalah seorang yang bertauhid dan mengikuti Sunnah.”

Dalam kitab Madarijus Salikin, Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:

“Hati dalam perjalanannya menuju Allah Azza wa Jalla ibarat seekor burung. Cinta adalah kepalanya, sedangkan rasa takut dan harapan adalah kedua sayapnya.

Apabila kepala dan kedua sayapnya selamat, burung itu akan terbang dengan baik. Apabila kepalanya terputus, burung itu mati. Dan apabila kedua sayapnya hilang, ia akan menjadi sasaran setiap pemburu dan pemangsa.”

Akan tetapi, para salaf menganjurkan agar ketika seseorang berada dalam keadaan sehat, sayap rasa takut lebih kuat daripada sayap harapan. Adapun ketika ia mendekati akhir hayat, sayap harapan hendaknya lebih kuat daripada sayap rasa takut.

Cinta adalah kendaraan, harapan adalah pengarah yang menuntun perjalanan, rasa takut adalah pendorong yang menggiringnya, sedangkan Allah Azza wa Jalla-lah yang menyampaikan hamba kepada tujuan dengan karunia dan kemuliaan-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ۝ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ ﴾

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Hijr: 49–50).

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dengan Al-Qur'an yang agung, serta memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.

Aku mengakhiri perkataanku ini dan memohon ampun kepada Allah untuk diriku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum muslimin dari setiap dosa. Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.



Khutbah kedua

Segala puji bagi Allah, Pemilik keagungan dan kemuliaan, serta kekuasaan yang tidak dapat ditandingi.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Dia Mahaperkasa dan memiliki kekuasaan untuk memberikan pembalasan.

Aku bersaksi bahwa Nabi dan pemimpin kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.

Amma ba'du.

Wahai kaum muslimin, bertakwalah kepada Allah. Berharaplah akan pahala-Nya dan takutlah terhadap hukuman-Nya. Dengarkanlah firman Allah Ta'ala:

﴿ اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ ﴾

“Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya dan bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ma'idah: 98).

 Dahsyatnya azab Allah dan besarnya pahala surga

Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari An-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhuma, ia berkata bahwa dirinya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ يُوضَعُ فِي أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ، مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا أَشَدُّ عَذَابًا مِنْهُ، وَإِنَّهُ لَأَهْوَنُهُمْ عَذَابًا»

“Sesungguhnya orang yang paling ringan azabnya di antara penghuni neraka pada hari kiamat adalah seseorang yang diletakkan dua bara api di bagian telapak kakinya yang melengkung. Karena keduanya, otaknya mendidih. Ia merasa bahwa tidak ada seorang pun yang azabnya lebih berat daripada azab yang menimpanya, padahal dialah orang yang paling ringan azabnya di antara mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Imam Muslim meriwayatkan dari Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda:

«سَأَلَ مُوسَى رَبَّهُ: مَا أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً؟ قَالَ: هُوَ رَجُلٌ يَجِيءُ بَعْدَمَا أُدْخِلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، فَيُقَالُ لَهُ: ادْخُلِ الْجَنَّةَ. فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ، كَيْفَ وَقَدْ نَزَلَ النَّاسُ مَنَازِلَهُمْ، وَأَخَذَ النَّاسُ أَخَذَاتِهِمْ؟ فَيُقَالُ لَهُ: أَتَرْضَى أَنْ يَكُونَ لَكَ مِثْلُ مُلْكِ مَلِكٍ مِنْ مُلُوكِ الدُّنْيَا؟ فَيَقُولُ: رَضِيتُ رَبِّ. فَيَقُولُ: لَكَ ذَلِكَ، وَمِثْلُهُ، وَمِثْلُهُ، وَمِثْلُهُ، وَمِثْلُهُ. فَيَقُولُ فِي الْخَامِسَةِ: رَضِيتُ رَبِّ. فَيَقُولُ: هَذَا لَكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ، وَلَكَ مَا اشْتَهَتْ نَفْسُكَ وَلَذَّتْ عَيْنُكَ. فَيَقُولُ: رَضِيتُ رَبِّ»

“Musa bertanya kepada Rabbnya, ‘Siapakah penghuni surga yang paling rendah kedudukannya?’

Allah berfirman, ‘Ia adalah seseorang yang datang setelah para penghuni surga dimasukkan ke dalam surga. Lalu dikatakan kepadanya, “Masuklah ke dalam surga!”

Ia berkata, “Wahai Rabbku, bagaimana mungkin aku masuk, sementara orang-orang telah menempati kedudukan mereka dan memperoleh bagian mereka?”

Kemudian dikatakan kepadanya, “Apakah engkau rela jika engkau memiliki kerajaan seperti kerajaan salah seorang raja di dunia?”

Ia menjawab, “Aku rela, wahai Rabbku.”

Allah berfirman, “Itu menjadi milikmu, ditambah yang semisalnya, ditambah yang semisalnya, ditambah yang semisalnya, dan ditambah yang semisalnya lagi.”

Pada kali kelima, orang itu berkata, “Aku rela, wahai Rabbku.”

Allah berfirman, “Semua itu menjadi milikmu, ditambah sepuluh kali lipatnya. Engkau juga memperoleh apa saja yang diinginkan jiwamu dan yang menyenangkan matamu.”

Orang itu berkata, “Aku rela, wahai Rabbku.” (HR. Muslim).

 Menguatkan rasa takut kepada Allah pada zaman kelalaian

Karena itu, takutlah terhadap azab Allah dan berharaplah akan pahala-Nya.

Pada zaman ini, kekerasan hati, kelalaian, dan kecintaan terhadap dunia telah mendominasi banyak hati. Banyak manusia berani melakukan dosa dan kemaksiatan. Banyak di antara mereka melupakan negeri akhirat dan menganggap ringan hukuman-hukuman Allah Tabaraka wa Ta'ala.

Dalam keadaan seperti ini, sayap rasa takut perlu diperkuat agar jiwa menjadi lurus dan hati menjadi suci.

Adapun ketika seseorang telah mendekati akhir hayat, hendaknya harapan kepada Allah lebih dikedepankan, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

«لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّهِ»

“Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Rabbnya.” (HR. Muslim).

Rasa takut kepada Allah menuntut seseorang untuk menunaikan hak-hak Allah Ta'ala dan menjauhkannya dari kelalaian dalam melaksanakannya.

Rasa takut itu juga menghalangi seorang hamba dari menzalimi orang lain dan melakukan tindakan melampaui batas terhadap mereka. Ia mendorong seseorang menunaikan hak-hak pemiliknya, tidak menyia-nyiakannya, dan tidak meremehkannya.

Selain itu, rasa takut kepada Allah mencegah seorang muslim mengikuti hawa nafsu dan melakukan perkara-perkara yang diharamkan. Rasa takut tersebut menjadikannya selalu waspada terhadap dunia dan fitnah-fitnahnya, sekaligus menumbuhkan kerinduan kepada akhirat dan kenikmatannya.


Wahai hamba-hamba Allah!

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).

Nabi ﷺ bersabda:

«مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا»

“Barang siapa berselawat kepadaku satu kali, Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim).

Karena itu, berselawatlah dan ucapkanlah salam kepada pemimpin manusia terdahulu dan manusia yang datang kemudian, serta imam para rasul.

Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan selawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan limpahkanlah salam dengan sebanyak-banyaknya.

Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada pemimpin dan Nabi kami, Muhammad, beserta istri-istri dan keturunannya hingga hari kiamat.

Ya Allah, rida dan rahmatilah seluruh sahabat Nabi, serta para khalifah yang lurus lagi mendapat petunjuk: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Rida dan rahmatilah pula seluruh sahabat lainnya.

Ya Allah, rida dan rahmatilah para tabi'in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Dan ridailah kami bersama mereka dengan karunia, kemurahan, dan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.


Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin.

Ya Rabb seluruh alam, hinakanlah kekufuran dan orang-orang kafir.

Ya Allah, hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik.

Ya Allah, menangkanlah agama-Mu, Kitab-Mu, dan Sunnah Nabi-Mu, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, menangkanlah agama-Mu, Kitab-Mu, dan Sunnah Nabi-Mu, wahai Zat Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.

Ya Allah, mudahkanlah urusan setiap laki-laki dan perempuan yang beriman.

Ya Allah, lapangkanlah dada kami dan mudahkanlah urusan kami, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Ya Allah, ampunilah orang-orang yang telah meninggal dunia di antara kami dan seluruh kaum muslimin.

Ya Allah, terangilah kubur-kubur mereka, lipatgandakanlah pahala kebaikan mereka, dan maafkanlah kesalahan-kesalahan mereka, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu agar Engkau menurunkan hujan yang membawa pertolongan.

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.

Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, hujan yang mendatangkan pertolongan.

Ya Allah, dengan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.

Jadikanlah hujan itu penuh keberkahan dan kebaikan bagi kaum muslimin, wahai Rabb seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, anugerahkanlah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami.

Ya Allah, perbaikilah keadaan para pemimpin yang mengurus urusan kami.

Ya Allah, berikanlah taufik kepada penjaga Dua Tanah Suci agar melakukan apa yang Engkau cintai dan ridai, serta apa yang mengandung kebaikan bagi Islam, kaum muslimin, rakyatnya, dan negerinya, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, kenakanlah kepadanya pakaian kesehatan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, jagalah negeri kami dari segala keburukan dan perkara yang tidak menyenangkan.

Jagalah negeri-negeri kaum muslimin, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, berlemah lembutlah kepada saudara-saudara kami kaum muslimin di Syam.

Ya Allah, berlemah lembutlah kepada saudara-saudara kami kaum muslimin di Syam.

Ya Allah, tetapkanlah bagi mereka jalan keluar dan petunjuk yang benar dalam urusan mereka, wahai Rabb seluruh alam.

Ya Allah, lindungilah mereka dari orang-orang jahat di antara mereka.

Ya Allah, cukupkanlah mereka dari kejahatan orang-orang yang jahat dan tipu daya orang-orang durhaka.

Ya Allah, lindungilah dan jagalah mereka dari kezaliman orang-orang zalim dan serangan orang-orang yang melampaui batas. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, jagalah Islam dan para pemeluknya di setiap tempat.

Ya Allah, perbaikilah seluruh keadaan kami, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, wahai Rabb seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, jauhkanlah dari kami kenaikan harga yang memberatkan, wabah penyakit, riba, zina, gempa bumi, berbagai musibah, dan keburukan fitnah-fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.


Wahai hamba-hamba Allah!

Allah Ta'ala berfirman:

﴿ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ۝ وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ ﴾

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian mengambil pelajaran.

Penuhilah janji Allah apabila kalian berjanji, dan janganlah kalian melanggar sumpah setelah meneguhkannya, padahal kalian telah menjadikan Allah sebagai saksi atas diri kalian. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. An-Nahl: 90–91).

Ingatlah Allah Yang Mahaagung lagi Mahamulia, niscaya Dia akan mengingat kalian.

Bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat-Nya kepada kalian.

Sesungguhnya mengingat Allah itu lebih besar keutamaannya, dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar