Terjemah Khutbah Masjidil Haram
Jalan-Jalan untuk Melindungi Diri dari Fitnah
Syekh Saud bin Ibrahim asy-Syuraim حفظه الله
Tanggal khutbah: 3/6/1432 H
Sumber: Alukah — Khutbah Masjidil Haram, “سبل الوقاية من الفتن” (Jalan-Jalan untuk Melindungi Diri dari Fitnah).
Khutbah Pertama
Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan bertobat kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Allah Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102).
Allah Ta'ala juga berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan darinya Dia menciptakan pasangannya, serta dari keduanya Dia memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa’: 1).
Allah Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia telah memperoleh kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70–71).
Amma ba‘du.
Wahai sekalian manusia!
Di antara bentuk rahmat Allah عز وجل kepada hamba-hamba-Nya ialah bahwa Dia mengutus Rasul pembawa petunjuk sebagai saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, penyeru kepada Allah dengan izin-Nya, dan sebagai pelita yang menerangi.
Rasulullah ﷺ telah menunaikan tugasnya. Beliau tidak meninggalkan satu kebaikan pun melainkan telah menunjukkan umat kepadanya, dan tidak meninggalkan satu keburukan pun melainkan telah memperingatkan umat darinya.
Di antara perkara yang beliau peringatkan kepada umatnya adalah berbagai fitnah yang akan terjadi pada akhir zaman, semakin banyaknya fitnah tersebut, serta datangnya satu fitnah menyusul fitnah lainnya. Fitnah-fitnah itu bagaikan kegelapan yang menyelimuti manusia dan masyarakat dari segala penjuru. Gelombangnya menerjang mereka seperti gelombang lautan.
Berbagai musibah dan kejadian besar pun menimpa suatu negeri atau wilayah di sekitarnya secara tiba-tiba, pada saat orang-orang sedang lengah. Peristiwa tersebut bahkan tidak pernah terlintas dalam benak orang yang merasa aman dan terlena, serta tidak pernah tampak dalam pandangannya.
Kejadian itu datang mendadak, sehingga manusia diliputi keterkejutan dan kebingungan akibat dahsyatnya peristiwa, perubahan, serta kecepatannya. Orang yang mendengar dan menyaksikannya hampir tidak mampu mencerna apa yang terjadi karena besarnya rasa takut dan keterkejutan.
Hal itu terjadi karena sebelumnya mereka tidak pernah membayangkan atau menduga bahwa berbagai perubahan dan peristiwa besar dalam bidang alam, sosial, politik, maupun pemikiran akan datang secara tiba-tiba, silih berganti, dan berlangsung dengan sangat cepat.
Keadaan ini mengingatkan kita kepada apa yang telah diberitakan oleh Nabi ﷺ mengenai tanda-tanda Hari Kiamat dan terjadinya Kiamat yang berlangsung dengan sangat cepat, di luar dugaan orang-orang yang hidup pada saat itu.
Sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, Nabi ﷺ bersabda:
«لَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَقَدْ نَشَرَ الرَّجُلَانِ ثَوْبَهُمَا بَيْنَهُمَا، فَلَا يَتَبَايَعَانِهِ وَلَا يَطْوِيَانِهِ، وَلَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَقَدِ انْصَرَفَ الرَّجُلُ بِلَبَنِ لِقْحَتِهِ فَلَا يَطْعَمُهُ، وَلَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَهُوَ يُلِيطُ حَوْضَهُ فَلَا يَسْقِي مِنْهُ، وَلَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَقَدْ رَفَعَ أُكْلَتَهُ إِلَى فِيهِ فَلَا يَطْعَمُهَا».
“Sungguh, Kiamat pasti terjadi ketika dua orang telah membentangkan kain di antara mereka, tetapi mereka belum sempat melakukan transaksi jual beli atas kain tersebut dan belum sempat melipatnya. Sungguh, Kiamat pasti terjadi ketika seseorang telah memerah susu untanya, tetapi ia belum sempat meminumnya. Sungguh, Kiamat pasti terjadi ketika seseorang sedang memperbaiki kolam airnya, tetapi ia belum sempat memberi minum dari kolam itu. Dan sungguh, Kiamat pasti terjadi ketika seseorang telah mengangkat suapan makanannya ke mulutnya, tetapi ia belum sempat memakannya.”
Wahai hamba-hamba Allah!
Semua itu menunjukkan betapa cepatnya suatu peristiwa dapat terjadi dan betapa banyak kejutan yang dibawanya. Sesungguhnya, tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang akan diperolehnya esok hari dan di bumi mana ia akan meninggal dunia.
Ketahuilah, silih bergantinya peristiwa dan datangnya kejadian secara berturut-turut dengan sangat cepat merupakan salah satu ciri zaman yang kita alami sekarang. Peradaban material telah mencapai puncaknya, sementara perkembangan pengetahuan dan teknologi telah mencapai tingkat yang sangat tinggi.
Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.
Kecepatan peristiwa dan berbagai kejadian besar telah sedemikian rupa sehingga angin perubahan tidak memberikan kesempatan kepada abu untuk tetap berada di tempatnya, ataupun kepada bara untuk benar-benar padam nyalanya.
Akibatnya, berbagai dampak dan persoalan menumpuk satu demi satu hingga atap ketenangan runtuh. Gelombang keadaan darurat dan kejutan pun datang, baik pada kegelapan malam maupun ketika fajar mulai menyingsing.
Namun, semua itu tidak terjadi begitu saja tanpa pendahuluan atau sebab-sebab yang mendasarinya.
Kita semua sepakat bahwa waktu terjadinya suatu peristiwa mungkin terasa mengejutkan. Akan tetapi, sesungguhnya hal itu menyerupai percikan bara yang tersembunyi di antara abu. Angin kencang bertiup pada suatu hari yang penuh badai, lalu percikan api beterbangan menuju rerumputan kering. Setelah itu, api pun menyala dan berkobar, sehingga terjadilah sesuatu yang tidak mungkin dihindari lagi.
Padahal, sebelumnya telah terdengar suara-suara yang jujur dan seruan-seruan nasihat yang tulus. Namun, semua itu tidak mendapatkan tanggapan. Orang-orang yang mendengarnya baru menyadari kebenaran nasihat tersebut pada keesokan harinya, ketika semuanya sudah terlambat dan tidak ada lagi jalan untuk melarikan diri dari akibatnya.
Wahai hamba-hamba Allah!
Ketika seorang Muslim atau suatu masyarakat bersyukur kepada Allah karena tidak ditimpa oleh berbagai peristiwa dan perubahan tersebut, serta karena musibah itu tidak melanda negeri mereka, mereka tidak boleh melupakan pentingnya memohon keselamatan dan afiat kepada Allah.
Mereka juga tidak boleh membiarkan berbagai kejadian besar itu berlalu begitu saja tanpa mengambil pelajaran, nasihat, dan ibrah darinya.
Nabi ﷺ bersabda:
«السَّعِيدُ مَنْ وُعِظَ بِغَيْرِهِ، وَالشَّقِيُّ مَنْ شَقِيَ فِي بَطْنِ أُمِّهِ».
“Orang yang berbahagia ialah orang yang mengambil pelajaran dari orang lain, sedangkan orang yang celaka ialah orang yang telah ditetapkan kecelakaannya sejak dalam kandungan ibunya.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dengan redaksi yang disebutkan dalam khutbah tersebut.
Wahai hamba-hamba Allah!
Bentuk mengambil pelajaran yang paling baik adalah ketika pelajaran itu diambil bersamaan dengan munculnya sebab yang menuntutnya. Sebab, kesiapan mental untuk menghadapi suatu kejadian akan menjadi lebih kuat apabila berhadapan dengan besarnya peristiwa tersebut.
Jika tidak demikian, manusia akan diliputi kelalaian dan kelupaan.
Apabila suatu dinding tidak terkena debu ketika sedang runtuh, maka tidak ada debu yang dapat mengenainya setelah keruntuhannya selesai. Demikian pula, apabila tindakan pencegahan baru dilakukan setelah musibah terjadi, berbagai upaya yang datang terlambat itu akan dilahap oleh kobaran peristiwa yang semakin membesar, disertai kemarahan dan dahsyatnya akibat yang ditimbulkan.
Semua ini bertujuan agar pelajaran dan nasihat mendorong kita untuk lebih dahulu mengambil langkah-langkah aman sehingga tidak terjerumus ke dalam kejadian serupa.
Dengan istilah yang digunakan pada zaman sekarang, kita menyebutnya: mencegah lebih baik daripada mengobati, atau keamanan preventif.
Adapun dalam ungkapan syariat yang lebih mendasar, prinsip ini disebut:
مبدأ الدفع أولى من الرفع
“Mencegah terjadinya keburukan lebih utama daripada menghilangkannya setelah terjadi.”
Semua orang yang berakal sepakat bahwa mencegah terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan lebih baik dan lebih utama daripada berusaha menghilangkannya setelah hal tersebut terjadi.
Syariat kita yang mulia mendorong manusia untuk segera mengambil langkah-langkah yang dapat mencegah berbagai keburukan sebelum keburukan itu menimpa individu maupun masyarakat.
Di antara dalilnya adalah firman Allah Ta'ala:
وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong.” (QS. Az-Zumar: 54).
Allah سبحانه وتعالى juga berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
“Janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.” (QS. Al-An‘am: 151).
Allah tidak hanya melarang perbuatan keji itu sendiri, tetapi juga melarang mendekatinya. Sebab, mendekati sesuatu yang haram merupakan salah satu jalan yang dapat mengantarkan seseorang untuk terjerumus ke dalamnya.
Ini merupakan bukti pentingnya melakukan pencegahan.
Dalam Sunnah Nabi ﷺ juga terdapat penegasan yang jelas mengenai prinsip tersebut.
Beliau bersabda:
«بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا».
“Bersegeralah melakukan amal saleh sebelum datangnya berbagai fitnah yang seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seseorang masih beriman, tetapi pada sore harinya ia menjadi kafir; atau pada sore hari ia masih beriman, tetapi pada pagi harinya ia menjadi kafir. Ia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.”
(HR. Muslim).
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
«اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ».
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara lainnya: masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, kecukupanmu sebelum kemiskinanmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, dan kehidupanmu sebelum kematianmu.”
(HR. Al-Hakim dan lainnya).
Di antara dalil lain yang menunjukkan perhatian syariat terhadap pencegahan, kesigapan, dan kewaspadaan adalah sabda Nabi ﷺ:
«لَا يُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ».
“Janganlah pemilik unta yang sakit mencampurkannya dengan unta yang sehat.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa di antara anggota delegasi Bani Tsaqif terdapat seorang laki-laki yang menderita penyakit kusta. Nabi ﷺ mengirimkan pesan kepadanya:
«أَنِ ارْجِعْ؛ فَقَدْ بَايَعْنَاكَ».
“Kembalilah, karena kami telah menerima baiatmu.”
Wahai hamba-hamba Allah!
Peristiwa tersebut menunjukkan upaya menghindari kemungkinan penularan penyakit dengan mencukupkan baiat dari jarak jauh.
Jika hal ini telah kita pahami, wahai hamba-hamba Allah, maka prinsip bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati merupakan prinsip yang mencakup seluruh urusan kehidupan.
Kesalahan yang nyata adalah membatasi prinsip ini hanya pada bidang kesehatan. Padahal, prinsip tersebut juga mencakup bidang pangan, ilmu pengetahuan, pemikiran, media, ekonomi, dan politik.
Upaya pencegahan dalam semua bidang itu semestinya dilakukan lebih dahulu dan mendapatkan perhatian yang lebih besar dari seluruh lapisan masyarakat dibandingkan upaya penanganan setelah masalah terjadi.
Di sinilah letak tanggung jawab setiap individu Muslim: menyadari akibat dari berbagai tindakan dan memiliki kewaspadaan terhadap berbagai peristiwa besar yang mungkin muncul.
Jika syariat yang mulia mendorong manusia untuk bersegera melakukan amal, dorongan ini tidak hanya ditujukan kepada satu pihak dan mengabaikan pihak lainnya.
Prinsip ini mencakup individu, keluarga, masyarakat awam, ulama, politisi, pemikir, dan semua pihak yang menjadi bagian dari pembentuk masyarakat.
Sungguh keliru apabila tanggung jawab tersebut dibebankan hanya kepada satu pihak, misalnya hanya kepada pemimpin atau hanya kepada ulama.
Tidak demikian!
Kesatuan masyarakat dan kesadaran akan kewajiban terhadapnya merupakan tanggung jawab semua orang.
Kesungguhan dalam melindungi masyarakat dari segala sesuatu yang dapat menyusup ke dalamnya merupakan bentuk partisipasi positif yang menunjukkan amanah yang sesungguhnya. Tujuannya adalah menyatukan masyarakat di atas kebenaran dan kebaikan serta saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan, bukan dalam dosa dan permusuhan.
Dengan demikian, bahtera besar masyarakat dapat berlayar menuju pantai keselamatan setelah berhasil keluar dari kegelapan lautan dalam, yang diliputi gelombang di atas gelombang dan awan yang menyelimutinya.
Wahai sekalian manusia, semoga Allah menjaga kalian!
Ketidaksiapan dan keterkejutan banyak orang terhadap berbagai perubahan dan kejadian yang berlangsung pada masa sekarang bukanlah terutama disebabkan oleh rendahnya kecerdasan masyarakat secara umum atau lemahnya mekanisme peringatan dini.
Sebaliknya, penyebab yang lebih mendasar adalah pengabaian terhadap prinsip pencegahan, tidak tersedianya sarana-sarana yang diperlukan untuk melakukannya, serta tidak adanya kesadaran yang memadai tentang pentingnya prinsip tersebut.
Sebab, sikap berlebihan dalam merasa aman dari perubahan justru menjadi sumber ketakutan dan bahaya. Sebaliknya, kewaspadaan yang berlebihan juga dapat menjadi sumber kebekuan, ketidakmampuan bergerak, dan keterlambatan kemajuan.
Sikap terbaik dalam perkara ini adalah sikap pertengahan.
Ada yang mengatakan:
“Sikap pertengahan dalam berbagai urusan merupakan keselamatan,
agar bahaya tidak menimpamu dan engkau tidak menimpakan bahaya kepada orang lain.
Seseorang bisa binasa karena rasa aman yang berlebihan,
atau ditimpa keburukan karena kewaspadaan yang melampaui batas.”
Kurangnya kesadaran masyarakat secara menyeluruh mengenai nilai pencegahan, serta kurangnya pemahaman mereka terhadap besarnya kebutuhan dan karakteristik tindakan pencegahan, merupakan sebab yang membuat mereka harus menanggung terjadinya suatu masalah, lalu berusaha mengobatinya setelah masalah itu muncul.
Kedua keadaan tersebut sama-sama menunjukkan jauhnya seseorang dari kenyataan dan dinginnya sikap dalam menghadapi perubahan.
Padahal, seharusnya ada langkah-langkah yang dapat mencegah munculnya berbagai peristiwa buruk atau, setidaknya, memperlambat kedatangannya sampai tersedia perlindungan yang aman untuk mengurangi bahayanya apabila peristiwa tersebut benar-benar terjadi.
Lebih jauh lagi, anggapan bahwa ada semacam tongkat ajaib yang dapat menghalau segala sesuatu kapan saja merupakan anggapan yang lahir dari ketidaksadaran.
Manfaat pencegahan adalah berusaha mencapai keadaan yang lebih baik atau keluar dari keadaan yang lebih buruk.
Tidak seorang pun di antara kita mampu memperbaiki roda pesawat setelah pesawat itu terlanjur mengudara.
Allah Ta'ala berfirman:
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 53).
Karena satu perkara mengingatkan kita kepada perkara lainnya, maka negeri ini—semoga Allah menjaganya—telah memberikan contoh dalam hal hubungan dan keterpaduan antara pemimpin, ulama, dan masyarakatnya.
Di tengah berbagai peristiwa yang terjadi, negeri ini mengambil sikap bertanggung jawab dan menyadari adanya bahaya yang dapat muncul apabila setiap orang mengabaikan tanggung jawabnya.
Karena itulah, terdapat penjelasan yang tuntas dari Hai'ah Kibar al-‘Ulama, yaitu Dewan Ulama Senior di negeri ini—semoga Allah menjaganya. Demikian pula keputusan-keputusan penting yang dikeluarkan oleh pemimpin kami—semoga Allah menjaganya.
Melalui keputusan-keputusan tersebut, ditegaskan bahwa syariat Islam merupakan landasan dan ketetapan bagi negeri ini.
Keputusan-keputusan itu juga menegaskan kedudukan para ulama dan pengaruh mereka dalam masyarakat, melalui kepemimpinan ilmiah yang mendukung kepemimpinan politik.
Selain itu, keputusan-keputusan tersebut menyentuh kebutuhan masyarakat dan warga negara yang memerlukan perbaikan serta pembaruan.
Semoga Allah menjadikan semua itu sebagai pemberat timbangan amal kebaikan. Semoga Allah memberikan taufik kepada negeri ini, baik kepada pemimpin, ulama, maupun rakyatnya, untuk senantiasa berpegang pada kebajikan dan ketakwaan.
Semoga Allah melindunginya dari segala keburukan dan fitnah serta melindungi seluruh negeri kaum Muslimin dari kejahatan fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Allah Ta'ala berfirman:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
“Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal sehat.” (QS. Al-Baqarah: 197).
Semoga Allah memberkahi aku dan kalian melalui Al-Qur’an yang agung, serta memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah di dalamnya.
Apa yang telah aku sampaikan, jika benar, maka itu berasal dari Allah; dan jika salah, maka itu berasal dari diriku sendiri dan setan. Aku memohon ampun kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.
### Khutbah Kedua
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Semoga selawat dan salam tercurah kepada nabi yang paling mulia di antara para nabi dan rasul, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Kiamat.
Amma ba‘du.
Ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah yang semoga senantiasa dijaga-Nya!
Kita telah sepakat mengenai pentingnya mengambil prinsip pencegahan dan mengakui kebenarannya.
Dengan demikian, persoalannya bukan lagi bagaimana kita melindungi diri, melainkan kapan kita melindungi diri dan masyarakat kita.
Sebab, ketika penyakit suka menunda-nunda mulai merasuki jiwa manusia, kemungkinan mereka menghadapi berbagai kejutan dan peristiwa mendadak akan semakin besar.
Jika ungkapan terkenal mengatakan, “Jangan menunda pekerjaan hari ini sampai esok,” maka seakan-akan keadaan banyak orang justru mengatakan, “Jangan menunda sampai esok apa yang sebenarnya bisa kamu kerjakan lusa.”
Seolah-olah dunia ini, wahai hamba-hamba Allah, tidak memiliki perubahan, kejadian yang silih berganti, dan berbagai musibah besar.
Sungguh tepat perkataan seseorang:
“Aku tidak memiliki jaminan atas hari esok dari hari ini,
dan pasti ada negeri keabadian yang kekal.”
Karena itu, waspadalah, wahai hamba-hamba Allah, jangan sampai sebagian kita diam-diam terjangkit penyakit menunda-nunda, padahal kita hidup pada masa ketika tekad dan tindakan nyata sangat diperlukan untuk membentuk karakter dan mendidik masyarakat berdasarkan prinsip pencegahan.
Prinsip inilah yang mengantarkan manusia dari keadaan buruk menuju keadaan baik, dan dari keadaan baik menuju keadaan yang lebih baik.
Apabila tujuan yang hendak dicapai itu mulia, prinsip pencegahan harus didasarkan pada keadilan dalam seluruh jalan yang ditempuh.
Tidak mungkin masyarakat secara umum melaksanakan tugasnya dengan melampaui hak orang lain yang harus mereka hormati.
Pada akhirnya, seluruh usaha itu harus bermuara pada nilai bersama yang menyatukan setiap individu dalam suatu masyarakat ke dalam satu kesatuan yang utuh, dengan standar yang berlaku bagi semuanya.
Dengan demikian, setiap orang melaksanakan tugasnya demi mempertahankan bangunan masyarakat yang sadar dan bersatu, tanpa keretakan, sesuai dengan bidang pekerjaan, keahlian, dan tingkat ilmu yang telah dicapainya.
Tidak semestinya kita meminta mata untuk melakukan pekerjaan tangan, padahal fungsi mata adalah melihat. Demikian pula, tidak semestinya kita meminta telinga untuk berjalan, padahal fungsinya adalah mendengar.
Jika hal itu dilakukan, keadaan kita akan seperti orang yang memakan garam untuk menghilangkan dahaga, meminum air untuk menghilangkan rasa lapar, atau menghirup gas untuk bernapas.
Ketahuilah, setiap kapal memiliki nakhodanya.
Apabila nakhoda kapal menghilang dan angin menerpa kapal itu dengan keras, lalu katak-katak mengambil alih pengaturannya, maka kapal itu tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.
Demikian pula, suatu umat yang memiliki orang-orang yang berperan sebagai pelindung dan pencegah bahaya adalah umat yang seluruh anggotanya, mulai dari rakyat hingga pemimpinnya, menjalankan tanggung jawab masing-masing.
Setiap orang hendaknya memperhatikan hak bersama dan kepentingan seluruh masyarakat. Ia tidak boleh mengejar tujuan yang bertentangan dengan tujuan mayoritas masyarakat, ataupun menempuh sasaran yang menyimpangkannya dari tujuan bersama mereka.
Umat seperti inilah yang memiliki keterpaduan, rasa memiliki yang baik, dan kemampuan mewujudkan kemaslahatan bersama.
Dalam masyarakat semacam itu, setiap individu ikut menjaga kepentingan bersama, bahkan orang yang paling sederhana di antara mereka pun memiliki peran dalam menjamin keamanan dan kehormatan masyarakatnya.
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّى يُبَيِّنَ لَهُمْ مَا يَتَّقُونَ وَإِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum setelah Dia memberi petunjuk kepada mereka sampai Dia menjelaskan kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taubah: 115).
Wahai kaum Muslimin, semoga Allah merahmati kalian!
Berselawatlah kepada manusia terbaik dan makhluk yang paling suci, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib, pemilik telaga dan pemberi syafaat.
Allah telah memerintahkan kalian untuk berselawat kepadanya melalui firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56).
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا».
“Barang siapa berselawat kepadaku satu kali, Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali karenanya.”
Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, tambahan kemuliaan, dan keberkahan kepada hamba dan utusan-Mu, Muhammad, yang memiliki wajah paling bercahaya dan dahi yang bersinar.
Ya Allah, ridhailah empat khalifah beliau: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Ridhailah pula seluruh sahabat Nabi-Mu Muhammad ﷺ, para tabi'in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga Hari Kiamat. Ridhailah pula kami bersama mereka, dengan ampunan, kemurahan, dan karunia-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum Muslimin.
Hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik. Ya Allah, menangkanlah agama-Mu, kitab-Mu, Sunnah Nabi-Mu, dan hamba-hamba-Mu yang beriman.
Ya Allah, perbaikilah keadaan kaum Muslimin di mana pun mereka berada.
Ya Allah, perbaikilah keadaan kaum Muslimin di mana pun mereka berada.
Ya Allah, perbaikilah keadaan kaum Muslimin di mana pun mereka berada.
Satukanlah hati mereka, ya Allah, wahai Tuhan Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.
Ya Allah, lindungilah darah, kehormatan, dan harta mereka, wahai Tuhan Yang Mahahidup dan terus-menerus mengurus makhluk-Nya, wahai Dzat Yang Maha Mendengar doa.
Ya Allah, anugerahkanlah keamanan kepada kami di negeri-negeri kami. Perbaikilah keadaan para imam dan pemegang urusan kami. Jadikanlah kepemimpinan kami berada di tangan orang-orang yang takut kepada-Mu, bertakwa kepada-Mu, dan mengikuti keridaan-Mu, wahai Tuhan seluruh alam.
Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami untuk melakukan perkataan dan perbuatan yang Engkau cintai dan ridhai, wahai Tuhan Yang Mahahidup dan terus-menerus mengurus makhluk-Nya.
Ya Allah, perbaikilah orang-orang terdekat yang menjadi penasihatnya, wahai Tuhan Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.
Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari segala fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari segala fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari segala fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Apabila Engkau hendak menimpakan fitnah kepada hamba-hamba-Mu, maka wafatkanlah kami dalam keadaan kembali kepada-Mu, tanpa terjerumus ke dalam fitnah dan tanpa melalaikan kewajiban, wahai Tuhan Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.
Ya Allah, satukanlah barisan kaum Muslimin.
Ya Allah, satukanlah barisan kaum Muslimin dan persatukanlah hati mereka, wahai Tuhan Yang memiliki keagungan dan kemuliaan.
Allah Ta'ala berfirman:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201).
Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Yang memiliki keperkasaan, dari apa yang mereka sifatkan kepada-Nya.
Semoga keselamatan tercurah kepada para rasul.
Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar