KEZALIMAN ADALAH KEGELAPAN-KEGELAPAN
Penulis: Muhammad bin Hasan Abu ‘Uqail
Sumber: Alukah Tanggal publikasi: 6 Juni 2022 M / 8 Zulkaidah 1443 H.
KHUTBAH PERTAMA
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Penguasa hari pembalasan. Tidak ada kemuliaan kecuali dengan menaati-Nya, tidak ada kebahagiaan kecuali dengan mengharapkan keridaan-Nya, dan tidak ada kenikmatan yang hakiki kecuali dengan mengingat-Nya.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Semoga Allah senantiasa melimpahkan selawat dan salam yang sebanyak-banyaknya kepada beliau.
Amma ba'du.
Wahai hamba-hamba Allah!
Aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar senantiasa bertakwa kepada Allah Ta'ala dan berhati-hati terhadap perbuatan zalim. Sebab, kezaliman merupakan dosa yang besar, kejahatan yang sangat berbahaya, dan akhlak yang buruk.
Kezaliman akan memakan kebaikan-kebaikan, mendatangkan berbagai malapetaka, mewariskan permusuhan dan perselisihan, menyebabkan terputusnya hubungan silaturahmi dan kedurhakaan, serta mengubah kehidupan manusia menjadi neraka, kesengsaraan, kesusahan, dan penderitaan.
Kezaliman adalah melampaui batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla.
Kezaliman merupakan tindakan melampaui batas dan berani menerjang syariat Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, serta melanggar hak-hak orang lain.
Wahai hamba-hamba Allah!
Kezaliman terbagi menjadi dua macam.
Pertama: Kezaliman seseorang terhadap dirinya sendiri.
Bentuk kezaliman yang paling besar dalam kategori ini adalah mempersekutukan Allah Ta'ala (syirik), sebagaimana firman-Nya:
Allah Ta'ala berfirman:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberikan pelajaran kepadanya, 'Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) benar-benar merupakan kezaliman yang besar.'" (QS. Luqman: 13).
Sesungguhnya orang musyrik telah menempatkan makhluk pada kedudukan Sang Pencipta. Ia pun menyembah makhluk tersebut dan menjadikannya sebagai sesembahan.
Syirik kepada Allah Ta'ala merupakan kezaliman yang sangat besar terhadap diri sendiri.
Sebagian besar ancaman dalam Al-Qur'an yang disebutkan mengenai orang-orang zalim, sesungguhnya yang dimaksud adalah orang-orang musyrik.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang suatu hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Baqarah: 254).
Setelah kesyirikan, tingkatan berikutnya dalam kezaliman terhadap diri sendiri adalah berbagai macam kemaksiatan, baik dosa besar maupun dosa kecil.
Setiap kemaksiatan yang dilakukan seorang hamba sesungguhnya merupakan kezaliman terhadap dirinya sendiri yang ia jerumuskan ke dalamnya. Dan ia akan mendapatkan akibat dari perbuatannya tersebut.
Kedua: Kezaliman seorang hamba terhadap orang lain.
Inilah yang dimaksud dalam sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
لَا تَظَالَمُوا
"Janganlah kalian saling menzalimi."
Demikian pula dalam sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam:
مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا، فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ
"Barang siapa memiliki suatu kezaliman terhadap saudaranya, hendaklah ia meminta agar saudaranya tersebut menghalalkan dan membebaskannya dari kezaliman itu. Sebab, pada hari itu tidak ada lagi dinar dan dirham (sebagai alat pembayaran). Sebelum datang suatu hari ketika kebaikan-kebaikannya diambil untuk diberikan kepada saudaranya yang dizalimi. Jika ia tidak memiliki kebaikan, maka dosa-dosa saudaranya itu akan diambil lalu dibebankan kepadanya."
(HR. Al-Bukhari no. 6534).
Di antara bentuk kezaliman adalah mengambil atau menguasai harta anak-anak yatim, orang-orang lemah, dan masyarakat umum yang tidak memiliki kemampuan untuk memperjuangkan kembali hak-hak mereka serta tidak mengetahui jalan untuk mendapatkannya.
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا
"Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api ke dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)." (QS. An-Nisa': 10).
Termasuk pula melanggar hak-hak orang lain, atau menunda-nunda dan mengulur-ulur pembayaran utang, khususnya bagi orang kaya yang mampu membayarnya.
Dalam hadis sahih disebutkan:
مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ
"Penundaan pembayaran utang oleh orang yang mampu adalah suatu kezaliman."
(HR. Al-Bukhari no. 2288 dan Muslim no. 1564).
Dalam hadis ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa penundaan pembayaran utang oleh orang kaya merupakan suatu kezaliman.
Yang dimaksud dengan mathl adalah menunda-nunda dan mengulur-ulur pembayaran utang.
Apabila orang kaya menunda pembayaran utangnya, maka hal tersebut dianggap sebagai kezaliman. Sebab, ia sebenarnya mampu melunasi dan mengembalikan harta tersebut. Namun, ketika ia menahan harta itu dan terus-menerus menunda pembayarannya, berarti ia telah melakukan kezaliman.
Termasuk bentuk kezaliman lainnya adalah menghalangi seorang wanita dari hak warisnya, baik warisan dari ayahnya, suaminya, maupun ahli waris yang meninggalkan harta untuknya, siapa pun orang tersebut. Termasuk pula menunda-nunda pemberian hak waris tersebut.
Di antara bentuk kezaliman yang dilakukan sebagian orang adalah menzalimi para pekerja dan karyawan, seperti para buruh dan semisalnya, dengan cara mengurangi hak-hak mereka, menunda pembayaran hak mereka dari waktu yang telah ditentukan, mengubah kesepakatan kerja yang telah dibuat dengan mereka di negeri asal mereka, atau menghina mereka melalui perkataan maupun perbuatan.
Dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ثَلَاثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: رَجُلٌ أَعْطَى بِي ثُمَّ غَدَرَ، وَرَجُلٌ بَاعَ حُرًّا فَأَكَلَ ثَمَنَهُ، وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُعْطِهِ أَجْرَهُ
"Allah Ta'ala berfirman: Ada tiga golongan yang Aku menjadi lawan mereka pada hari Kiamat:
* Seseorang yang memberikan janji dengan menyebut nama-Ku, kemudian ia mengkhianatinya.
* Seseorang yang menjual orang merdeka, lalu memakan hasil penjualannya.
* Seseorang yang mempekerjakan seorang buruh, kemudian telah mengambil seluruh manfaat pekerjaannya, tetapi tidak memberikan upahnya."
(HR. Al-Bukhari no. 2270).
Termasuk kezaliman pula adalah melakukan tindakan yang menyakiti fisik maupun psikis seseorang.
Dalam hadis disebutkan:
إِنَّ اللَّهَ يُعَذِّبُ الَّذِينَ يُعَذِّبُونَ النَّاسَ فِي الدُّنْيَا
"Sesungguhnya Allah akan mengazab orang-orang yang menyiksa manusia di dunia."
(HR. Muslim no. 2613).
Wahai hamba-hamba Allah!
Di antara orang yang paling dekat dengan seseorang adalah istrinya.
Bentuk kezaliman terhadap istri antara lain dengan bersikap pelit dan tidak mencukupi kebutuhannya, memperlakukannya dengan buruk, menghinanya, mendiamkannya, mengancamnya, atau tidak memperlakukannya dengan akhlak yang baik.
Orang yang tidak memiliki kebaikan terhadap keluarganya, maka tidak ada kebaikan pula padanya bagi umatnya.
Dalam hadis disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku."
(HR. At-Tirmidzi no. 3895).
Termasuk kezaliman juga adalah menzalimi anak-anak dengan cara mengabaikan pendidikan dan pembinaan mereka, memperlakukan mereka dengan buruk, atau mengistimewakan sebagian anak dibandingkan anak-anak yang lainnya.
Wahai hamba-hamba Allah!
Janganlah sekali-kali seseorang menyangka bahwa kezaliman yang dilakukannya terhadap sesama manusia, baik berupa pemukulan, celaan, makian, pemalsuan, mengambil harta dengan cara yang batil, merusak kehormatan, menumpahkan darah, menggunjing, mengadu domba, menghina, mengejek, maupun melukai harga diri seseorang, akan hilang begitu saja tanpa perhitungan dan tanpa hukuman.
Janganlah sekali-kali seseorang mengira demikian!
Bahkan, orang yang zalim dan orang yang dizalimi pasti akan berdiri di hadapan Allah Azza wa Jalla dalam pengadilan keadilan Ilahi, agar Allah memutuskan perkara di antara mereka dengan penuh keadilan.
Itulah hari ketika tidak ada kezaliman, tidak ada perantara, tidak ada kedudukan atau pengaruh yang dapat menyelamatkan seseorang, tidak ada suap, dan tidak ada kesaksian palsu.
Allah Ta'ala berfirman:
اللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
"Allah akan memberikan keputusan di antara kalian pada hari Kiamat tentang apa yang dahulu kalian perselisihkan." (QS. Al-Hajj: 69).
Allah Ta'ala juga berfirman:
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ
"Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata (mereka) terbelalak." (QS. Ibrahim: 42).
Semoga Allah memberkahi aku dan kalian melalui Al-Qur'an yang agung, serta memberikan manfaat kepadaku dan kepada kalian melalui ayat-ayat-Nya dan peringatan yang penuh hikmah.
Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia, Raja Yang Maha Baik, Maha Lembut lagi Maha Penyayang.
Maka, mintalah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
KHUTBAH KEDUA
Segala puji bagi Allah yang telah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya sendiri dan menjadikannya sebagai sesuatu yang diharamkan di antara sesama hamba.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Apabila Dia menghukum orang zalim, maka Dia akan menghukumnya dengan hukuman yang sangat keras.
Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Beliau telah memperingatkan umatnya dari perbuatan zalim dengan sabdanya:
اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Jauhilah perbuatan zalim, karena sesungguhnya kezaliman adalah kegelapan-kegelapan pada hari Kiamat."
(HR. Muslim no. 2578).
Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.
Amma ba'du.
Wahai hamba-hamba Allah!
Aku berwasiat kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar senantiasa bertakwa kepada Allah Ta'ala, saling bekerja sama dalam kebaikan, serta menjauhi kezaliman dengan segala bentuk dan macamnya.
Kezaliman yang paling besar adalah mempersekutukan Allah, mengingkari ayat-ayat-Nya, melanggar perkara-perkara yang diharamkan-Nya, menelantarkan hukum-hukum-Nya, berpaling dari Kitab-Nya, dan menjadikan selain Allah sebagai sumber hukum dan tempat berhukum.
Termasuk kezaliman pula adalah melampaui batas terhadap makhluk-makhluk Allah, melanggar perkara-perkara yang dimuliakan dan diharamkan, merusak kehormatan, merampas harta, serta melanggar berbagai hal yang telah Allah haramkan.
Di antara bentuk kezaliman yang paling buruk adalah seseorang menzalimi dirinya sendiri. Hal itu dilakukan dengan memaksakan dirinya untuk melakukan kefasikan dan kemaksiatan, terjerumus ke dalam perkara-perkara yang diharamkan, serta melakukan berbagai perkara yang dilarang.
Wahai hamba-hamba Allah!
Tidak akan ada keberuntungan bersama kezaliman. Tidak ada kelanggengan bagi orang zalim dan tidak ada kestabilan bagi orang yang melampaui batas, betapapun panjangnya waktu dan betapapun tinggi kedudukan yang dicapainya.
Rabb kita Jalla wa 'Ala berfirman:
إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan beruntung." (QS. Al-An'am: 21).
Allah Azza wa Jalla juga berfirman:
فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
"Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam." (QS. Al-An'am: 45).
Allah Yang Mahatinggi lagi Mahamulia berfirman:
هَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الظَّالِمُونَ
"Tidak ada yang dibinasakan selain kaum yang zalim." (QS. Al-An'am: 47).
Terkadang hukuman atas kezaliman ditangguhkan hingga waktu tertentu dan ajal yang hanya diketahui oleh Allah.
Dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُمْلِي لِلظَّالِمِ، فَإِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ، ثُمَّ قَرَأَ: ﴿وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ﴾
"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memberikan tenggang waktu kepada orang yang zalim. Namun, apabila Dia telah menghukumnya, maka orang itu tidak akan dapat meloloskan diri dari hukuman-Nya."
Kemudian beliau membaca firman Allah:
وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ
"Dan begitulah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, azab-Nya sangat pedih lagi sangat keras." (QS. Hud: 102).
(HR. Muslim no. 2583).
Sesungguhnya berbagai hukuman dan sanksi dari Allah merupakan bagian dari sunnatullah, ketetapan Allah yang tidak akan berubah dan tidak akan berganti.
Sebagaimana firman Allah:
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
"Sungguh, telah berlalu sebelum kalian berbagai ketetapan (Allah). Maka berjalanlah kalian di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)." (QS. Ali 'Imran: 137).
Wahai hamba-hamba Allah!
Di antara sarana terbesar untuk menghilangkan kezaliman adalah melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar, serta berdakwah kepada Allah dengan keadilan, kebijaksanaan, dan nasihat yang baik.
Allah Ta'ala berfirman:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik." (QS. An-Nahl: 125).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا
"Tolonglah saudaramu, baik ketika ia berbuat zalim maupun ketika ia dizalimi."
Kemudian seseorang bertanya:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا، أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ؟
"Wahai Rasulullah, aku akan menolongnya apabila ia dizalimi. Namun, bagaimana menurutmu jika ia justru berbuat zalim, bagaimana aku menolongnya?"
Beliau menjawab:
تَحْجِزُهُ، أَوْ تَمْنَعُهُ، مِنَ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ
"Engkau menahan atau mencegahnya dari perbuatan zalim. Sesungguhnya itulah bentuk pertolongan kepadanya."
(HR. Al-Bukhari).
Penyair berkata:
لَا تَظْلِمَنَّ إِذَا مَا كُنْتَ مُقْتَدِرًا فَالظُّلْمُ آخِرُهُ يَأْتِيكَ بِالنَّدَمِ
Janganlah engkau berbuat zalim ketika engkau memiliki kekuasaan dan kemampuan.
Sebab, pada akhirnya kezaliman itu akan mendatangkan penyesalan kepadamu.
نَامَتْ عُيُونُكَ وَالْمَظْلُومُ مُنْتَبِهٌ يَدْعُو عَلَيْكَ وَعَيْنُ اللَّهِ لَمْ تَنَمِ
Engkau tidur dengan nyenyak, sementara orang yang dizalimi tetap terjaga.
Ia berdoa memohon keburukan atasmu, sedangkan mata Allah tidak pernah tidur.
Maka, bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah!
Berselawat dan ucapkanlah salam kepada Muhammad, Rasulullah.
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56).
Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا
"Barang siapa berselawat kepadaku satu kali, Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali."
Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari Kiamat.
Ya Allah, rida-lah kepada para khalifah yang lurus: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali; juga kepada seluruh sahabat, para tabiin, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat. Dan jadikanlah kami bersama mereka dengan karunia dan kemurahan-Mu, wahai Zat Yang Paling Pemurah di antara semua yang pemurah.
Ya Allah, jadikanlah bagi kami jalan keluar dari setiap kesedihan, jalan keluar dari setiap kesempitan, kemudahan dari setiap kesulitan, dan keselamatan dari setiap musibah.
Ya Allah, lindungilah darah kami dari pertumpahan, jagalah negeri kami, dan satukanlah hati-hati kami.
Barang siapa yang menghendaki keburukan atau kejahatan terhadap kami maupun terhadap negeri kami, maka kembalikanlah tipu dayanya kepada dirinya sendiri, dan jadikanlah rencana jahatnya sebagai kehancuran baginya.
Ya Allah, berikanlah taufik kepada pemimpin kami untuk melakukan perkara-perkara yang Engkau cintai dan Engkau ridai. Karuniakanlah kepadanya para pembantu dan penasihat yang saleh, yang membantunya untuk menegakkan kebenaran, wahai Rabb semesta alam.
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin, hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik.
Ya Allah, tolonglah agama-Mu, Kitab-Mu, sunnah Nabi-Mu, dan hamba-hamba-Mu yang beriman.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, serta seluruh kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
Allah Ta'ala berfirman:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
"Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Al-Baqarah: 201).
Wahai hamba-hamba Allah!
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia melarang (kalian) melakukan perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl: 90).
وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ
"Dan tepatilah janji kepada Allah apabila kalian berjanji, dan janganlah kalian melanggar sumpah setelah diikrarkan, padahal kalian telah menjadikan Allah sebagai saksi atas sumpah kalian. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian perbuat." (QS. An-Nahl: 91).
Maka, ingatlah Allah, niscaya Dia akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat kepada kalian.
Dan sungguh, mengingat Allah adalah perkara yang paling besar. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar