Jumat, 06 November 2026

KEZALIMAN, HUKUMAN DUNIA DAN AKHIRAT


 Kezaliman: Hukumannya di Dunia Sebelum Akhirat

Terjemahan lengkap khutbah karya Yahya bin Hasan Hatarisy



 KHUTBAH PERTAMA

Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Allah Ta'ala berfirman:

 QS. Ali Imran: 102

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim."

QS. An-Nisa: 1

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾

"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan darinya Dia menciptakan pasangannya (Hawa), dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu."

 QS. Al-Ahzab: 70–71

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا﴾

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia telah memperoleh kemenangan yang besar."

Amma ba'du.

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan dalam agama. Setiap perkara baru yang diada-adakan dalam agama adalah bid'ah, setiap bid'ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di dalam neraka.

Wahai kaum Muslimin laki-laki dan perempuan!

Aku berwasiat kepada diriku sendiri dan kepada kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah عز وجل, serta mempersiapkan amal-amal untuk diri kita yang akan menjadikan wajah kita berseri-seri pada hari ketika kita bertemu Allah; yaitu hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi bermanfaat, kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang bersih.


Wahai kaum Muslimin!

Imam Muslim رحمه الله meriwayatkan dari Abu Dzarr رضي الله عنه, ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis qudsi yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Tabaraka wa Ta'ala:


«يَا عِبَادِي، إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا؛ فَلَا تَظَالَمُوا»

"Wahai hamba-hamba-Ku! Sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku menjadikannya sebagai sesuatu yang diharamkan di antara kalian. Maka janganlah kalian saling menzalimi."

(HR. Muslim, no. 2577)

Wahai kaum Muslimin laki-laki dan perempuan!

Sesungguhnya Allah telah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan memerintahkan hamba-hamba-Nya agar tidak saling menzalimi, serta tidak berbuat zalim satu sama lain.

Apa yang kita saksikan pada zaman ini berupa tersebarnya kezaliman di tengah-tengah kaum Muslimin, sungguh demi Allah, merupakan sesuatu yang menyayat hati dan membuat mata menangis.

Kezaliman telah tersebar pada zaman ini dan kita menyaksikannya di berbagai tempat.

Kezaliman telah menyebar di dalam rumah-rumah kita. Betapa banyak seorang ayah yang menzalimi anak-anaknya, keluarganya, dan orang-orang yang berada dalam tanggungannya.

Kezaliman juga tersebar di antara para tetangga. Betapa banyak tetangga yang menzalimi tetangganya, mengganggu kehormatannya, mengambil haknya, bahkan menyerobot sebagian tanah miliknya.

Kezaliman juga tersebar di pengadilan-pengadilan kita. Betapa banyak orang yang dijatuhi hukuman secara zalim, dipersaksikan dengan kesaksian palsu, dan dimasukkan ke dalam penjara secara paksa. Tidak ada penolong baginya selain Allah, Penolong orang-orang yang tertindas.

Allah Ta'ala berfirman:

QS. Ibrahim: 42

﴿وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ﴾

"Dan jangan sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata (mereka) terbelalak."

Di tengah kezaliman yang kita alami dan yang dialami umat Islam ini, Allah telah menetapkan suatu hari bagi orang yang zalim dan orang yang dizalimi. Pada hari itu, setiap orang akan mengambil haknya dari orang yang telah menzaliminya.

Benar, demi Allah! Allah pasti akan menegakkan keadilan-Nya. Dia akan memberikan kepada setiap pemilik hak apa yang menjadi haknya. Rabbmu tidak akan menzalimi seorang pun.

Bahkan, hewan ternak pun akan mendapatkan haknya untuk membalas hewan lain yang pernah menanduknya hingga mematahkan tanduknya, atau hewan bertanduk yang menyerang hewan tanpa tanduk lalu menanduknya.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim رحمه الله dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقُ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، حَتَّى إِنَّهُ لَيُقَادُ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ»

"Sungguh, hak-hak itu benar-benar akan dikembalikan kepada para pemiliknya pada hari kiamat. Sampai-sampai kambing yang tidak bertanduk akan mendapatkan hak pembalasan dari kambing yang bertanduk."

(HR. Muslim, no. 2582)

Wahai umat Islam!

Nabi kita ﷺ telah memperingatkan kita dari perbuatan zalim dan dari tindakan sebagian kita menzalimi sebagian yang lain.

Imam Muslim رحمه الله meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah رضي الله عنهما, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«اتَّقُوا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

"Jauhilah kezaliman, karena sesungguhnya kezaliman adalah kegelapan-kegelapan pada hari kiamat."

(HR. Muslim, no. 2578)

Rasulullah ﷺ juga bersabda ketika melepas kepergian umatnya dalam Haji Wada', sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari رحمه الله:

«أَلَا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ؟ قَالُوا: نَعَمْ. قَالَ: اللَّهُمَّ اشْهَدْ، اللَّهُمَّ اشْهَدْ، ثَلَاثًا، وَيْلَكُمْ، أَوْ وَيْحَكُمْ، انْظُرُوا لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ»

"Ketahuilah, sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kalian darah dan harta kalian, sebagaimana haramnya hari kalian ini, di negeri kalian ini, dan pada bulan kalian ini. Ketahuilah, apakah aku telah menyampaikan?"

Mereka menjawab, "Benar."

Beliau bersabda, "Ya Allah, saksikanlah! Ya Allah, saksikanlah!" Beliau mengulanginya tiga kali.

Kemudian beliau bersabda, "Celakalah kalian, atau betapa buruk keadaan kalian! Janganlah kalian kembali sepeninggalku menjadi orang-orang kafir, dengan sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lain."

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam al-Bukhari رحمه الله juga meriwayatkan dari Abu Musa رضي الله عنه, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ، حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ»

"Sesungguhnya Allah benar-benar memberikan tenggang waktu kepada orang zalim. Namun, ketika Allah telah menghukumnya, Dia tidak akan melepaskannya."

Kemudian Rasulullah ﷺ membaca firman Allah:

QS. Hud: 102

﴿وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ﴾

"Demikianlah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, azab-Nya sangat pedih dan sangat keras."

(HR. Al-Bukhari, no. 4686; Muslim, no. 2583)

Imam al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Aisyah رضي الله عنها bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ ظَلَمَ قِيدَ شِبْرٍ مِنَ الْأَرْضِ طُوِّقَهُ فِي سَبْعِ أَرَاضِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

"Barang siapa menzalimi dengan mengambil tanah meskipun hanya sejengkal, niscaya tanah itu akan dikalungkan kepadanya dari tujuh lapis bumi pada hari kiamat."

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam al-Bukhari رحمه الله meriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ أَرْضِهِ أَوْ مِنْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْ مِنْهُ الْيَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، وَإِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ»

"Barang siapa memiliki tanggungan kezaliman terhadap saudaranya, baik berkaitan dengan tanah maupun perkara lainnya, hendaklah ia meminta agar saudaranya membebaskannya dari tanggungan itu sekarang, sebelum datang suatu hari ketika tidak ada lagi dinar maupun dirham.

Jika ia memiliki amal saleh, maka amal salehnya akan diambil sesuai kadar kezalimannya. Jika ia tidak memiliki kebaikan, dosa-dosa saudaranya yang dizalimi akan diambil lalu dibebankan kepadanya."

(HR. Al-Bukhari, no. 2449)

Imam Muslim رحمه الله meriwayatkan dari Abu Umamah Iyas bin Tsa'labah al-Haritsi رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بِيَمِينِهِ فَقَدْ أَوْجَبَ اللَّهُ لَهُ النَّارَ، وَحَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ»

"Barang siapa mengambil hak seorang Muslim dengan sumpahnya, sungguh Allah telah menetapkan baginya neraka dan mengharamkan surga atasnya."

Seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah, meskipun sesuatu itu sedikit?"

Beliau menjawab:

«وَإِنْ كَانَ قَضِيبًا مِنْ أَرَاكٍ»

"Meskipun hanya sebatang kayu siwak dari pohon arak."

(HR. Muslim, no. 137)

Imam Ahmad dalam Musnad-nya, an-Nasa'i dalam Sunan-nya, dan Ibnu Majah meriwayatkan, serta dinilai sahih oleh Syekh al-Albani رحمه الله, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الْفَقْرِ، وَالْقِلَّةِ، وَالذِّلَّةِ، وَأَنْ تَظْلِمَ، أَوْ تُظْلَمَ»

"Berlindunglah kepada Allah dari kemiskinan, kekurangan, kehinaan, serta dari berbuat zalim atau dizalimi."

Wahai manusia!

Kezaliman adalah suatu istilah yang menghimpun berbagai keburukan dan menunjukkan berbagai perkara tercela. Kezaliman adalah sesuatu yang dibenci oleh pendengaran dan terasa berat diucapkan oleh lisan.

Wahai hamba-hamba Allah! Kezaliman mempunyai kegelapan yang dapat membolak-balikkan keadaan dan mengubah nasib suatu negeri.

Kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. Apabila hukuman dan kemurkaan Allah menimpa orang zalim, maka betapa celakanya dia!

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

QS. Ibrahim: 42

﴿وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ﴾

"Jangan sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata terbelalak."

Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berkata:

«يَوْمُ الْمَظْلُومِ عَلَى الظَّالِمِ أَشَدُّ مِنْ يَوْمِ الظَّالِمِ عَلَى الْمَظْلُومِ»

"Hari ketika orang yang dizalimi mendapatkan haknya atas orang yang menzaliminya jauh lebih berat daripada hari ketika orang zalim berkuasa atas orang yang dizaliminya."

Ada pula bait syair:

"Janganlah engkau berbuat zalim, sebab sesungguhnya engkau akan mati. Dan pada hari kebangkitan, engkau akan ditanya tentang apa yang dahulu engkau lakukan."

Sesungguhnya orang yang menzalimi manusia dalam kehormatan mereka, harta mereka, dan hak-hak mereka, akan ditanya tentang setiap perkara kecil maupun besar.

Orang zalim, sekalipun ia berlaku sewenang-wenang dan menyombongkan diri, pasti akan menghadapi suatu hari. Tahukah engkau betapa dahsyatnya hari itu?

Sufyan bin Uyainah رحمه الله berkata:

«أَوَّلُ مَا كُتِبَ فِي الزَّبُورِ: وَيْلٌ لِلظَّلَمَةِ»

"Perkara pertama yang ditulis dalam kitab Zabur adalah: Celakalah orang-orang zalim."

Al-Qadhi Syuraih رحمه الله berkata:

«سَيَعْلَمُ الظَّلَمَةُ حَقَّ مَنِ انْتَقَصُوا، إِنَّ الظَّالِمَ يَنْتَظِرُ الْعِقَابَ، وَالْمَظْلُومَ يَنْتَظِرُ النَّصْرَ وَالثَّوَابَ»

"Orang-orang zalim kelak akan mengetahui hak siapa yang telah mereka kurangi. Sesungguhnya orang zalim sedang menunggu hukuman, sedangkan orang yang dizalimi sedang menunggu pertolongan dan pahala."

Ada pula syair:

"Wahai orang yang berbuat zalim dalam perbuatannya! Kezaliman itu akan kembali kepada orang yang melakukannya.

Sampai kapan engkau terus demikian? Engkau menyaksikan berbagai musibah, tetapi melupakan hukuman Allah."

Sebagian orang bijak berkata:

«اذْكُرْ عِنْدَ الظُّلْمِ عَدْلَ اللَّهِ فِيكَ، وَعِنْدَ الْقُدْرَةِ قُدْرَةَ اللَّهِ عَلَيْكَ»

"Ketika engkau hendak berbuat zalim, ingatlah keadilan Allah terhadap dirimu. Dan ketika engkau memiliki kekuasaan, ingatlah kekuasaan Allah atas dirimu."

Ingatlah sebelum engkau berbuat zalim bahwa dirimu berada dalam genggaman kekuasaan Allah. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia dapat membenamkanmu ke dalam bumi dan membalas perbuatanmu.

Wahai hamba-hamba Allah!

Ketahuilah bahwa hukuman bagi orang-orang zalim tidak hanya terbatas pada individu. Bahkan, apabila kezaliman telah merata di suatu negeri, hal itu merupakan pertanda kehancurannya dan semakin dekatnya kebinasaan negeri tersebut.

Betapa banyak negara yang hancur karena kezaliman! Betapa banyak negeri yang bangunan-bangunannya hancur, tanahnya menjadi kering, dan tanamannya mati akibat kezaliman penduduknya!

Allah Ta'ala berfirman:

QS. Al-Kahfi: 59

﴿وَتِلْكَ الْقُرَىٰ أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِمْ مَوْعِدًا﴾

"Dan negeri-negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka."

Sufyan bin Uyainah رحمه الله berkata:

Ka'b al-Ahbar berkata:

«إِنِّي لَأَتْلُو فِي كِتَابِ اللَّهِ الْمُنَزَّلِ غَيْرِ الْقُرْآنِ: إِنَّ الظُّلْمَ يُخَرِّبُ الدِّيَارَ»

"Sesungguhnya aku membaca dalam kitab Allah yang diturunkan selain Al-Qur'an: Sesungguhnya kezaliman menghancurkan negeri-negeri."

Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata:

"Aku juga mendapati hal tersebut di dalam Kitabullah."

Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:

QS. An-Naml: 52

﴿فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ﴾

"Maka itulah rumah-rumah mereka yang telah runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mengetahui."

Syekh Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:

«وَيُرْوَى أَنَّ اللَّهَ يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ، وَلَوْ كَانَتْ كَافِرَةً، وَلَا يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الظَّالِمَةَ، وَلَوْ كَانَتْ مُؤْمِنَةً»

"Diriwayatkan bahwa Allah menolong negara yang adil meskipun negara itu kafir, dan tidak menolong negara yang zalim meskipun negara itu beriman."

Keadilan merupakan sebab baiknya suatu negara, kemakmuran negeri, dan kebahagiaan seluruh makhluk.

Pernah seorang pejabat Umar bin Abdul Aziz رحمه الله menulis surat kepadanya:

"Amma ba'du. Sesungguhnya kota kami telah rusak. Jika Amirul Mukminin berkenan, hendaknya ia mengalokasikan sejumlah harta untuk kami agar kami dapat memperbaikinya."

Amirul Mukminin pun membalas suratnya:

"Amma ba'du. Perbaikilah kota itu dengan keadilan. Demi Allah, sesungguhnya keadilan adalah sebab baiknya negeri dan para hamba."

Maka berhati-hatilah, sekali lagi berhati-hatilah, jangan sampai engkau berbuat zalim, wahai hamba Allah!

Sesungguhnya orang yang dizalimi, meskipun tidak mempunyai sesuatu untuk melawan dan menghalangimu, ia memiliki Allah yang tidak pernah lalai dan tidak pernah tidur!

Tahukah engkau, wahai orang zalim, bahwa Allah telah menjanjikan pertolongan bagi orang yang dizalimi? Bahkan, Allah menjadikan doa orang yang dizalimi sebagai doa yang dikabulkan. Dengan doa itu, bisa jadi berakhirlah kehidupanmu; engkau dapat menjadi lumpuh atau menjadi tawanan. Bahkan, engkau mungkin mengharapkan kematian tetapi tidak mendapatkannya!

Tahukah engkau bahwa orang yang dizalimi memiliki doa yang bagaikan api yang membakar?

Al-Hakim dan ad-Dailami meriwayatkan, dan Syekh al-Albani رحمه الله menilainya sahih, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ؛ فَإِنَّهَا تَصْعَدُ إِلَى السَّمَاءِ كَأَنَّهَا شَرَارٌ»

"Takutlah kalian terhadap doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya doa itu naik ke langit seperti percikan api."

Ath-Thabarani meriwayatkan, dan Syekh al-Albani menilainya sahih, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ؛ فَإِنَّهَا تُحْمَلُ عَلَى الْغَمَامِ، فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَعِزَّتِي وَجَلَالِي لَأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ»

"Takutlah kalian terhadap doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya doa itu dibawa ke atas awan. Kemudian Allah عز وجل berfirman: Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh Aku pasti akan menolongmu meskipun setelah beberapa waktu."

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

«اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ وَلَوْ كَانَ فَاجِرًا؛ فَإِنَّ فُجُورَهُ عَلَى نَفْسِهِ»

"Takutlah kalian terhadap doa orang yang dizalimi, meskipun ia seorang pendosa. Sebab, dosa kefajirannya itu menjadi tanggung jawab dirinya sendiri."

Bergembiralah, wahai orang yang dizalimi! Bergembiralah, wahai orang yang dizalimi! Sesungguhnya Allah akan menolongmu.

Meskipun orang yang menzalimimu berlindung, melarikan diri, dan bersembunyi, sekalipun ada orang-orang seperti dirinya yang membelanya, sesungguhnya ia mempunyai suatu hari yang darinya ia tidak akan dapat meloloskan diri.

Yazid bin Hatim رحمه الله berkata:

"Aku tidak pernah merasa takut terhadap sesuatu sebagaimana rasa takutku terhadap seseorang yang pernah aku zalimi, padahal aku mengetahui bahwa tidak ada penolong baginya selain Allah. Ia berkata: 'Cukuplah Allah sebagai penolongku. Antara aku dan engkau, Allah yang akan memutuskan.'

Takutlah terhadap kezaliman kepada orang yang tidak memiliki penolong selain Allah!"

Demi Allah! Betapa banyak orang zalim yang akhirnya menjadi pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran. Betapa banyak orang zalim yang selama bertahun-tahun berbuat kerusakan di bumi, mengambil harta orang-orang lemah, dan menyakiti kaum lemah serta orang-orang miskin, kemudian Allah menghukumnya dengan hukuman dari Zat Yang Mahaperkasa lagi Mahakuat.

Abu Darda' رضي الله عنه berkata:

«إِيَّاكَ وَدَمْعَةَ الْيَتِيمِ، وَدَعْوَةَ الْمَظْلُومِ؛ فَإِنَّهَا تَسْرِي بِاللَّيْلِ، وَالنَّاسُ نِيَامٌ»

"Jauhilah air mata anak yatim dan doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya doa itu berjalan pada malam hari ketika manusia sedang tidur."

Ada pula syair:

"Janganlah engkau menzalimi apabila engkau sedang memiliki kekuasaan, karena akibat kezaliman itu akan kembali berupa penyesalan.

Kedua matamu tertidur, sementara orang yang dizalimi tetap terjaga. Ia berdoa agar keburukan menimpamu, sedangkan mata Allah tidak pernah tidur."


Wahai kaum Muslimin, hamba-hamba Allah!

Sesungguhnya banyak orang yang mungkin tangannya tidak pernah menumpahkan darah kaum Muslimin dan tidak pernah mengambil harta orang lain. Lalu ia mengira bahwa dirinya telah selamat dari kezaliman dan doa orang-orang yang dizalimi.

Padahal, ia tidak mengetahui bahwa kezaliman memiliki beragam bentuk dan macam.

Ada kezaliman terhadap anak-anak yatim, kezaliman terhadap kerabat, kezaliman terhadap anak laki-laki dan perempuan, serta kezaliman terhadap istri-istri.

Betapa banyak rintihan dan keluhan yang keluar dari rumah-rumah kita! Betapa banyak air mata yang mengalir di wajah kaum perempuan kita!

Betapa banyak laki-laki yang menzalimi istrinya atau istri-istrinya, tidak berlaku adil di antara mereka dan tidak memperlakukan mereka dengan baik.

Terkadang ia menzalimi istri pertama, terkadang menzalimi istri yang lain.

Ada seorang laki-laki yang menikah lagi, kemudian menzalimi istri pertamanya, berpaling darinya, tidak lagi memperhatikannya, menekan dan menyakitinya, serta lebih condong kepada istri kedua.

Ada pula yang menzalimi istri kedua, mencurahkan kasih sayang dan hartanya kepada istri pertama dengan alasan bahwa istri pertama adalah teman hidupnya, ibu dari anak-anaknya, atau karena ia merupakan istri yang lebih tua.

Dan berbagai alasan lainnya.

Akibatnya, istri kedua tetap berada di sisinya seperti seorang pembantu atau budak perempuan yang disewa. Seolah-olah ia tidak menikahinya kecuali hanya untuk melayani dan memenuhi kebutuhan syahwatnya.

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Maka bertakwalah kepada Allah, wahai kaum laki-laki! Berlaku adillah terhadap istri-istri kalian. Janganlah kalian mengira bahwa diamnya istri-istri kalian berarti kalian terbebas dari tuntutan, wahai para suami yang melakukan poligami tetapi berlaku tidak adil!

Sesungguhnya keadilan Allah tidak akan melupakan kalian.

Wahai orang yang zalim! Berhati-hatilah terhadap doa orang yang engkau zalimi!

Wahai orang yang zalim! Berhati-hatilah terhadap rintihan orang yang engkau halangi haknya!

Berhati-hatilah terhadap anak panah doa pada waktu malam! Kedudukannya di sisi Allah sangat besar, sekalipun pengaruhnya datang setelah waktu yang lama, dan sekalipun engkau telah melupakannya atau orang yang pernah engkau zalimi juga telah melupakannya.

Sesungguhnya Allah tidak akan melupakannya dan tidak akan membiarkan orang-orang yang dizalimi begitu saja.

Wahai kaum Muslimin, hamba-hamba Allah!

Apa yang telah kita alami dan saksikan pada tahun-tahun sebelumnya berupa kehancuran para penguasa zalim dan selain mereka, menunjukkan kepada kita bahwa Allah memberikan penangguhan, tetapi tidak membiarkan begitu saja.

Mereka memerangi agama Allah, menzalimi hamba-hamba Allah, dan membuat kerusakan di bumi Allah. Maka Allah menghinakan dan menghukum mereka, serta menjadikan mereka sebagai pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran.

Salah seorang dari mereka akhirnya tergantung antara langit dan bumi. Yang lain dipukul dan ditampar wajahnya dengan sepatu hingga meninggal dunia. Orang ketiga berada dalam sebuah sangkar seperti binatang, dibawa dari satu tempat ke tempat yang lain.

Masing-masing akan mengalami bagiannya. Itulah sunnatullah terhadap orang-orang zalim.

Allah Ta'ala berfirman:

QS. An-Nahl: 33

﴿هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ أَمْرُ رَبِّكَ كَذَٰلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ﴾

"Tidak ada yang mereka tunggu-tunggu selain kedatangan para malaikat kepada mereka atau datangnya perintah Tuhanmu. Demikianlah yang telah diperbuat oleh orang-orang sebelum mereka. Allah tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri."

Ada syair:

"Bersabarlah menghadapi kezaliman dan janganlah berputus asa, karena kezaliman itu akan kembali kepada orang yang melakukannya.

Serahkanlah orang zalim kepada Allah, karena Rabbku tidak pernah tidur dan tidak pernah lalai terhadap orang zalim."

Aku memohon kepada Allah agar Dia menjauhkan kita dan kalian dari kezaliman, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui.

Aku cukupkan perkataanku ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum Muslimin dari setiap dosa. Maka mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.




 KHUTBAH KEDUA

Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri kita serta keburukan amal perbuatan kita.

Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.

Wahai kaum Muslimin, hamba-hamba Allah!

Sesungguhnya ancaman Allah terhadap orang-orang yang zalim dan para pelaku kezaliman yang telah kalian dengar tadi, bukanlah hukuman yang hanya berlaku pada hari akhirat. Akan tetapi, mereka juga dapat memperoleh hukuman dan siksa yang disegerakan di dunia sebelum hukuman yang ditangguhkan di akhirat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ، مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ»

"Tidak ada suatu dosa yang lebih pantas untuk Allah segerakan hukumannya bagi pelakunya di dunia, disertai hukuman yang Allah simpan untuknya di akhirat, daripada perbuatan melampaui batas (kezaliman) dan memutuskan hubungan kekerabatan."

(HR. Abu Dawud, no. 4902; At-Tirmidzi, no. 2511; Ibnu Majah, no. 4211. Hadis ini dinilai sahih oleh sejumlah ahli hadis).

Kitab-kitab sejarah dipenuhi dengan kisah kehancuran orang-orang zalim dan berita tentang para penguasa lalim yang membuat kerusakan.

Betapa banyak orang yang berbuat zalim kemudian Allah menghukumnya, dan Allah menyegerakan hukuman baginya di dunia sebelum hukuman di akhirat!

Marilah kita mendengarkan sebagian kisah tersebut dan mengambil pelajaran darinya. Bisa jadi masing-masing dari kita juga mempunyai kisah atau berita tentang seseorang yang berbuat zalim dan bagaimana Allah membalas perbuatannya.



Inilah Sa'ad bin Abi Waqqash رضي الله عنه, paman Rasulullah ﷺ dari pihak ibu.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, Umar bin Khaththab رضي الله عنه pernah mengangkat Sa'ad sebagai gubernur Kufah.

Sa'ad menjalankan tugasnya dengan baik dan adil. Akan tetapi, meskipun beliau berlaku adil, beliau tidak luput dari tuduhan seorang yang zalim.

Orang tersebut mengadukan kepada Umar bahwa gubernur yang diangkatnya di Irak tidak berlaku adil.

Umar رضي الله عنه memang sangat tegas terhadap para pejabatnya. Ketika mengangkat Sa'ad, Umar pernah berpesan kepadanya:

"Berpegang teguhlah kepada ketakwaan, wahai Sa'ad! Berpegang teguhlah kepada ketakwaan, wahai Sa'ad! Janganlah engkau tertipu dengan perkataan orang-orang yang mengatakan bahwa engkau adalah paman Rasulullah ﷺ."

Kemudian Umar mengutus Muhammad bin Maslamah dan berkata kepadanya:

"Pergilah ke setiap masjid di Kufah dan tanyakan kepada mereka tentang Sa'ad."

Muhammad bin Maslamah pun bertanya kepada masyarakat. Mereka memberikan pujian dan penilaian yang baik terhadap Sa'ad.

Namun, tiba-tiba berdirilah seorang laki-laki di antara mereka yang bernama Usamah bin Qatadah, yang dikenal dengan nama panggilan Abu Sa'ad.

Ia berkata:

"Jika engkau meminta kami bersumpah dan memberikan keterangan, sesungguhnya Sa'ad tidak pernah berangkat bersama pasukan, tidak membagi harta rampasan secara merata, tidak memutuskan perkara dengan adil, dan tidak menghadiri salat berjamaah."

Mahasuci Allah! Betapa buruk tuduhan yang dilontarkan oleh orang yang menuduh!

Ketika Sa'ad mendengar tuduhan dusta tersebut, beliau tidak melakukan pembalasan terhadap orang itu. Beliau justru mengangkat kedua tangannya kepada Allah, Penolong orang-orang lemah dan orang-orang yang dizalimi, seraya berdoa:

Doa Sa'ad bin Abi Waqqash رضي الله عنه

«اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ عَبْدُكَ هَذَا كَاذِبًا، وَقَامَ رِيَاءً وَسُمْعَةً، اللَّهُمَّ فَأَطِلْ عُمْرَهُ، وَفَقْرَهُ، وَعَرِّضْهُ لِلْفِتَنِ»

"Ya Allah, apabila hamba-Mu ini berdusta dan melakukan hal itu demi riya serta mencari popularitas, maka panjangkanlah umurnya, jadikanlah ia terus hidup dalam kemiskinan, dan hadapkanlah ia kepada berbagai fitnah."

Allah mengabulkan doa Sa'ad, orang saleh yang dizalimi tersebut.

Laki-laki itu hidup hingga melewati usia seratus tahun. Ia berjalan di pasar-pasar Kufah, sementara ia suka menggoda perempuan.

Orang-orang berkata kepadanya:

"Engkau sudah tua renta, tetapi masih saja menggoda perempuan?"

Ia menjawab:

"Aku adalah orang tua yang terkena fitnah. Aku telah tertimpa doa Sa'ad!"

Abdul Malik bin Umair berkata:

"Aku sendiri melihat laki-laki itu setelah kedua alis matanya terkulai menutupi matanya karena usianya yang sangat tua. Namun, ia masih saja menggoda para budak perempuan."

Kita berlindung kepada Allah dari keadaan seperti itu!

(Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dalam kisah pengaduan terhadap Sa'ad bin Abi Waqqash).

Inilah kezaliman dan inilah akibatnya. Inilah sebagian hukuman yang disegerakan sebelum hukuman yang akan datang di akhirat.



Inilah Sa'id bin Zaid رضي الله عنه, salah seorang dari sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira masuk surga.

Pada masa pemerintahan Bani Umayyah, seorang perempuan bernama Arwa binti Uwais menuduh bahwa Sa'id bin Zaid telah mengambil sebagian tanah miliknya secara zalim, lalu menggabungkannya dengan tanah milik Sa'id sendiri.

Perempuan itu menyebarkan tuduhan tersebut di tengah-tengah kaum Muslimin. Ia berkata:

"Sa'id telah menzalimiku dan mengambil tanahku!"

Kemudian ia mengadukan persoalan tersebut kepada Marwan bin al-Hakam, yang pada waktu itu menjadi gubernur Madinah.

Marwan pun mengutus beberapa orang untuk berbicara dengan Sa'id mengenai masalah tersebut.

Sa'id رضي الله عنه merasa sangat berat mendengar tuduhan itu. Beliau berkata:

"Bagaimana mungkin aku menzaliminya, padahal aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ ظَلَمَ شِبْرًا مِنَ الْأَرْضِ طُوِّقَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي سَبْعِ أَرَضِينَ»

"Barang siapa mengambil tanah sejengkal secara zalim, niscaya tanah tersebut akan dikalungkan kepadanya pada hari kiamat dari tujuh lapis bumi."

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kemudian Sa'id berdoa:

«اللَّهُمَّ إِنَّهَا زَعَمَتْ أَنِّي قَدْ ظَلَمْتُهَا، فَإِنْ كَانَتْ كَاذِبَةً، اللَّهُمَّ فَأَعْمِ بَصَرَهَا، وَأَلْقِهَا فِي بِئْرِهَا الَّتِي تُنَازِعُنِي فِيهِ، وَأَظْهِرْ مِنْ حَقِّي نُورًا لِلْمُسْلِمِينَ يُبَيِّنُ أَنِّي لَمْ أَظْلِمْهَا»

"Ya Allah, sesungguhnya perempuan itu mengaku bahwa aku telah menzaliminya. Jika ia berdusta, ya Allah, butakanlah penglihatannya dan jatuhkanlah ia ke dalam sumur yang ia perselisihkan denganku. Tunjukkanlah kebenaran hakku dengan suatu bukti yang jelas bagi kaum Muslimin sehingga mereka mengetahui bahwa aku tidak menzaliminya."

Tidak lama kemudian, lembah al-Aqiq dilanda banjir besar. Akibatnya, batas tanah yang selama ini diperselisihkan menjadi tersingkap.

Kaum Muslimin akhirnya mengetahui bahwa Sa'id memang benar dan tidak pernah menzalimi perempuan tersebut.

Tidak berselang lama setelah kejadian itu, hanya beberapa bulan kemudian, perempuan tersebut mengalami kebutaan.

Ketika ia berjalan di tanah miliknya, ia terjatuh ke dalam sumur yang ada di sana.

Orang-orang pun berkata:

"Semoga Allah membutakanmu sebagaimana Dia membutakan Arwa."

Akhirnya, perempuan itu menjadi perumpamaan bagi orang-orang yang berbuat zalim dan para pelaku kezaliman.

Ya Allah, jauhkanlah kami dari perbuatan zalim, wahai Rabb seluruh alam!



Diriwayatkan bahwa Al-Hajjaj pernah memenjarakan seseorang selama beberapa hari.

Orang yang dipenjara itu kemudian menulis surat kepada Al-Hajjaj.

Perhatikanlah apa yang ia tuliskan:

"Wahai Al-Hajjaj! Telah berlalu beberapa hari dari penderitaan kami, dan telah berlalu beberapa hari pula dari kenikmatan hidupmu. Adapun waktu pertemuan kita adalah hari kiamat, dan penjara yang sesungguhnya adalah neraka Jahanam."

Kemudian ia menuliskan bait-bait syair pada akhir suratnya:

Syair tentang pertemuan orang zalim dan orang yang dizalimi di hadapan Allah

«سَتَعْلَمُ يَا ظَلُومُ إِذَا الْتَقَيْنَا غَدًا عِنْدَ الْإِلَهِ مَنِ الْمَلُومُ»

"Wahai orang yang sangat zalim, kelak ketika kita bertemu esok hari di hadapan Allah, engkau akan mengetahui siapa sebenarnya yang tercela."

«أَمَا وَاللَّهِ إِنَّ الظُّلْمَ لُؤْمٌ وَمَا زَالَ الظَّلُومُ هُوَ الْمَلُومُ»

"Demi Allah, sesungguhnya kezaliman adalah perbuatan tercela, dan orang yang terus-menerus berbuat zalim senantiasa menjadi orang yang tercela."

«إِلَى الدَّيَّانِ يَوْمَ الدِّينِ نَمْضِي وَعِنْدَ اللَّهِ تَجْتَمِعُ الْخُصُومُ»

"Kita semua akan menghadap Allah, Sang Hakim Yang Mahaadil, pada hari pembalasan. Dan di hadapan Allah, semua orang yang bersengketa akan dikumpulkan."

Kita memohon kepada Allah agar Dia menyucikan tangan dan lisan kita dari tindakan merusak kehormatan kaum Muslimin dan dari menumpahkan darah mereka.

Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari segala bentuk kezaliman, baik yang kecil maupun yang besar.







Catatan penting untuk kajian ilmiah

Beberapa hal perlu diperhatikan apabila khutbah ini akan disampaikan di mimbar:

1\. Kezaliman memiliki tiga bentuk utama:

* Kezaliman seorang hamba terhadap hak Allah, yaitu syirik dan kemaksiatan.

* Kezaliman terhadap sesama manusia, seperti mengambil harta, merusak kehormatan, dan menumpahkan darah.

* Kezaliman terhadap diri sendiri, dengan melakukan kemaksiatan dan meninggalkan kewajiban.

2\. Hadis-hadis yang dicantumkan dalam khutbah perlu dibedakan antara hadis sahih, hadis yang diperselisihkan derajatnya, dan atsar atau perkataan ulama. Khusus riwayat tentang doa orang yang dizalimi yang disebutkan melalui Al-Hakim, Ad-Dailami, dan Ath-Thabarani, sebaiknya dilakukan takhrij tersendiri sebelum dijadikan dalil utama.

3\. Kisah Sa'ad bin Abi Waqqash dan Sa'id bin Zaid merupakan pelajaran penting tentang bahaya menuduh orang saleh tanpa bukti dan bahaya merampas hak orang lain.

Pesan utama khutbah: Jangan merasa aman dari kezaliman hanya karena orang yang kita zalimi tidak mampu melawan. Bisa jadi ia tidak memiliki kekuatan untuk membalas, tetapi ia mempunyai doa yang dipanjatkan kepada Allah.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa berlaku adil, menjauhkan kita dari kezaliman, dan memberikan pertolongan kepada seluruh kaum Muslimin yang dizalimi. آمين.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar