khotbah
“التعامل مع المصائب
(Cara Menghadapi Musibah)” karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim As-Sabr, Hafizhahullah.
Cara Menghadapi Musibah
Karya: Syaikh Muhammad bin Ibrahim As-Sabr
Jaringan Alukah – Fikih Syariah – Mimbar Jumat – Khutbah – Tema Umum
Tanggal unggah: 21 Juni 2020 M / 1 Rabiul Akhir 1441 H
Pendahuluan
Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang terpercaya. Amma ba‘du:
Bertakwalah kalian kepada Allah wahai hamba-hamba Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.
Khutbah Pertama
Wahai hamba-hamba Allah, di antara hakikat yang disepakati oleh seluruh manusia adalah bahwa dunia ini adalah tempat kepayahan dan kesusahan. Musibah di dalamnya beraneka ragam dan keadaan senantiasa berubah-ubah. Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Tidak ada perbedaan dalam hal ini antara muslim dan kafir, orang mukmin dan orang fasik. Inilah realitas kehidupan yang bersifat ketentuan Allah yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun:
“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam keadaan susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)
Namun orang mukmin menghadapi musibah dengan sudut pandang yang berbeda, yang dapat meringankan beban musibah, bahkan membuatnya sampai kepada derajat ridha. Dan itu adalah kedudukan yang agung yang Allah berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.
Karena sunnatullah berupa ujian telah ditetapkan sejak dahulu, maka iman kepada takdir menjadi salah satu rukun iman yang tidak akan sempurna iman seorang hamba tanpa itu.
Oleh sebab itu, dengan banyaknya keluhan tentang musibah dan bertumpuknya kesedihan, maka haruslah diketahui bagaimana cara menyikapi takdir-takdir yang menyakitkan ini berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.
Sesungguhnya ujian hampir pasti tidak terpisahkan dari siapa pun. Kalau ada yang bisa selamat darinya, niscaya para nabi-lah yang paling berhak. Namun Allah dengan hikmah-Nya menguji hamba-hamba-Nya dengan berbagai bentuk ujian: sebagian diuji dengan kenikmatan, sebagian diuji dengan kesempitan.
Engkau tidak sendirian wahai orang yang diuji. Ini menjadi hiburan bagi hati manusia, sebagaimana syair Al-Khansa radhiyallahu ‘anha (sebelum Islam):
Seandainya tidak banyak orang tangis di sekitarku
karena kehilangan saudara mereka
niscaya aku bunuh dirikuMereka memang tidak menangisi sebagaimana aku kehilangan saudaraku
namun aku menghibur diriku dengan meneladani mereka
Allah tidak menetapkan sesuatu kecuali dengan hikmah yang besar, disadari atau tidak. Betapa banyak kenikmatan tersembunyi di balik bencana, dan betapa banyak kelembutan Allah dalam musibah yang tak terjangkau akal manusia.
Berapa banyak orang yang jauh dari Allah, lalu diuji dengan musibah, sehingga itu menjadi sebab taubatnya dan kembalinya kepada Tuhannya. Dan berapa banyak musibah yang menyelamatkan dari musibah yang lebih besar. Namun kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Yakinlah bahwa yang mendatangkan manfaat hanyalah Allah, yang menolak bahaya hanyalah Allah. Apa pun yang terjadi tidaklah tersembunyi dari-Nya. Semuanya berada dalam pengawasan-Nya. Rahmat-Nya mendahului murka-Nya. Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu kepada anaknya, bahkan daripada diri kita sendiri.
Semua ini mengajakmu agar hanya menggantungkan hati kepada Allah, berharap kepada-Nya, tunduk pada-Nya, dan merendahkan diri di hadapan-Nya:
“Maka sembahlah Dia dan bertawakkallah kepada-Nya.” (QS. Hud: 123)
Ingatlah pesan Rasulullah ﷺ kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma – dan ini adalah untuk seluruh umat:
“Apa yang menimpamu tidak mungkin luput darimu, dan apa yang luput darimu tidak mungkin menimpamu.” (HR. Ahmad)
Lantas untuk apa kegelisahan dan keluh kesah? Apakah kegelisahan bisa mengubah keadaan? Apakah bisa menghidupkan yang mati? Menyembuhkan yang sakit? Tidak! Bahkan hanya membawa kerugian. Barang siapa mengenal hakikat dunia, ia akan tenang.
Syair:
Dunia diciptakan penuh keruh
sementara engkau menginginkannya bersih
dari kotoran dan celaOrang yang menentang tabiat dunia
seperti mencari api di dalam air
Kebahagiaan setelah kesedihan adalah ketetapan Allah, seperti datangnya siang setelah malam. Tidak diragukan: pasti ada kelapangan, baik secara nyata maupun batin.
Nabi Ya‘qub diuji puluhan tahun, lalu datang pertolongan. Nabi Ayyub diuji bertahun-tahun, bahkan sampai dijauhi orang terdekatnya, lalu Allah memberinya kesembuhan.
Syair:
Apabila berbagai peristiwa telah mencapai puncaknya
maka dekatlah pertolongan yang menyertainya
Berbaik sangkalah kepada Allah, karena itu adalah ibadah yang besar. Allah berfirman dalam hadits qudsi:
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Muslim)
Maknanya: bila ia berprasangka baik, maka kebaikan untuknya. Bila buruk, maka keburukan.
Pilihan Allah lebih baik daripada pilihan seorang hamba. Tidaklah Allah menetapkan suatu ketetapan bagi orang mukmin kecuali itu baik baginya. Jika mendapatkan kebaikan lalu bersyukur, itu baik baginya. Jika ditimpa musibah lalu bersabar, itu baik baginya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
“Semua ketetapan Allah mengandung kebaikan, rahmat, dan hikmah.”
Ridha terhadap Allah adalah ibadah yang agung. Barang siapa kehilangannya, ia kehilangan kebaikan yang besar.
Al-A‘masy berkata: Kami bersama ‘Alqamah, dibacakan ayat:
“Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)
Ia berkata:
“Itulah orang yang tertimpa musibah, lalu ia tahu itu dari Allah, maka ia ridha dan berserah.”
Semakin besar musibah, maka ketahuilah: itu tanda dekatnya pertolongan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kemenangan bersama kesabaran, kelapangan bersama kesulitan, dan bersama kesempitan ada kemudahan.” (HR. Ahmad)
Pertolongan Allah tidak terduga. Jika Dia menghendaki sesuatu, Dia mudahkan sebab-sebabnya, meskipun tidak terbayangkan oleh manusia.
Allah yang memiliki kunci-kunci kelapangan berfirman:
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5–6)
Ibnu Abbas berkata:
“Satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.”
Hiasilah dirimu dengan sabar, berpeganglah pada ridha, niatkan pahala, dan ingatlah kabar gembira untuk orang-orang yang diuji:
“Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Perhatikan bahwa Allah berkata kepada Nabi-Nya:
“Berilah kabar gembira.”
Maha Suci Engkau, wahai Rabb, betapa luas rahmat dan kelembutan-Mu.
Perbanyaklah doa, karena doanya pasti mengena, dan hasilnya pasti kembali. Orang yang berdoa tidak akan rugi. Bisa jadi musibahnya diangkat, atau dihindarkan dari yang lebih besar, atau disimpan pahalanya untuk akhirat.
Semoga Allah memberkahi saya dan kalian dengan Al-Qur’an yang agung.
Khutbah Kedua
Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta keselamatan bagi hamba-hamba-Nya yang terpilih.
Bertakwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Jika jiwamu terasa sempit karena musibah dan beban terasa berat, maka bangkitlah menuju sujud. Letakkan beban duka di hadapan Rabbmu. Perbanyak tasbih dan dzikir.
Allah berfirman:
“Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit karena apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah termasuk orang yang bersujud.” (QS. Al-Hijr: 97–98)
Dan bergembiralah dengan dekatnya pertolongan.
Maka bershalawatlah kalian atas Muhammad bin Abdullah ﷺ…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar