Selasa, 07 Juli 2015

HAK ORANG ORANG YANG LANJUT USIA

As-Syaikh Prof DR Abdurrozak Al-Badr hafidhohullahu Ta'ala.

Alhamdulillah, was sholaatu was salaamu ala Rosulillah, wa ba'du :

Sesungguhnya agama islam yang lurus datang untuk menyempurnakan adab, akhlak, dan muamalah bagi para manusia, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

 ((إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ))

" Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang terpuji ".

Dan diantara akhlak yang terpuji yang dianjurkan dalam agama islam adalah menjaga kedudukan orang yang lebih tua, mengenal hak-hak mereka dan menunaikan kewajiban kepada mereka.
Agama Islam memerintahkan kita agar menghormati, memuliakan dan mengagungkan  orang yang lebih tua, terlebih jika seseorang tersebut telah lemah membutuhkan perhatian dalam kesehatan, ekonomi dan sosial.
Banyak dijumpai dalil yang memerintahkan agar memberikan penghormatan dan anjuran agar menunaikan hak hak mereka serta memuliakan nya.

Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Amrin radhiyallahu anhuma dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

((مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرِنَا فَلَيْسَ مِنَّا))

" Barangsiapa yang tidak memiliki kasih sayang terhadap yang kecil dan tidak mengenal hak-hak yang lebih tua, sungguh ia bukan termasuk golongan kami ".

Dalam hadist ini terdapat ancaman bagi mereka yang meremehkan hak orang tua dan tidak menuaikan kewajiban semestinya bahwasanya ia tidak berada diatas petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan tidak mengikuti jalannya.

Diriwayatkan dari sahabat Abu Musa Al-Asy'Ary radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

((إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ ، وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ

وَالْجَافِي عَنْهُ ، وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ)) 

"  Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah Ta'ala adalah menghormati orang yang telah beruban dari kaum muslimin, dan orang-orang yang menghafal Al-Qur'an dengan tanpa berlebihan atau mengurangi serta memuliakan penguasa yang

وعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم

قال : ((أَرَانِي فِي الْمَنَامِ أَتَسَوَّكُ بِسِوَاكٍ فَجَذَبَنِي رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ

الْآخَرِ ، فَنَاوَلْتُ السِّوَاكَ الْأَصْغَرَ مِنْهُمَا فَقِيلَ لِي كَبِّرْ ، فَدَفَعْتُهُ إِلَى الْأَكْبَرِ))

Diriwayatkan dari Abdullah ibnu Umar radhiyallahu anhuma, bahwasanya Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda, " Aku diperlihatkan dalam mimpi bersiwak, kemudian dua orang menariknya, salah satu dari keduanya lebih tua dari lainnya, kemudian aku berikan kepada yang paling muda, kemudian dikatakan kepada ku, " Dahulukan yang paling tua " , maka aku berikan kepada yang tua ".

وعن ابن عمر رضي الله عنهما قال : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَهُوَ يَسْتَنُّ ، فَأَعْطَى أَكْبَرَ الْقَوْمِ وَقَالَ : ((إِنَّ جِبْرِيلَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أَمَرَنِي أَنْ أُكَبِّرَ))

Dari Abdullah ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata, Aku melihat Rosulillah shallallahu alaihi wa sallam bersiwak, kemudian memberikan kepada seseorang yang tertua dari kaum tersebut, seraya bersabda, " Sesungguhnya Malaikat Jibril alaihi salaam memerintahkan kepada ku agar memberikan kepada yang paling tua ".

Dan masih banyak dalil beraneka ragam dari As-Sunnah yang menunjukkan tentang anjuran agar memuliakan dan menghormati orang yang lebih tua dari kaum muslimin, mengenal hak-hak mereka dan beradab kepada mereka, bersikap sopan dan ramah, memberikan perhatian khusus yang lemah diantara mereka, yang tidak mampu, menjaga perasaan dan hati mereka, mendahulukan mereka dalam berbicara dan yang lainnya dari segala bentuk adab, sopan santun dan akhlak Karimah terhadap mereka.

Etika tersebut menjadi lebih ditekankan jika orang yang lebih tua tersebut adalah kakek, ayah, paman atau para tetangga, hal ini dikarenakan mencakup hak orang dekat, kerabat, dan tetangga, sebagaimana ia berbuat maka ia pun akan mendapatkan balasan yang serupa, dan sebagaimana ia telah menunaikan hak-hak orang lain di masa mudanya maka tatkala ia telah menjadi tua niscaya Allah Ta'ala akan jaga dan tunaikan  hak-hak untuk dirinya.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :

((مَا أَكْرَمَ شَابٌّ شَيْخًا لِسِنِّهِ إِلَّا قَيَّضَ اللَّهُ لَهُ مَنْ يُكْرِمُهُ عِنْدَ سِنِّهِ ))

Diriwayatkan dari Anas ibnu Ma'lik radhiyallahu berkata, bersabda Rosulillah shallallahu alaihi wa sallam, " Tidaklah seseorang pemuda memuliakan orang yang lebih tua, kecuali Allah Ta'ala berikan balasan untuk nya ketika ia telah tua ".

وفي معناه ما رواه يحي بن سعيد المدني قال : : بلغنا أنه من أهان ذا شيبة

لم يمت حتى يبعث الله عليه من يهين شيبته إذا شاب .

Dan diriwayatkan semisalnya oleh Yahya ibnu Saiid Al-Madany, ia berkata, " Telah sampai kepada kita bahwasanya barang siapa yang menghinakan orang yang lebih tua, sungguh ia tidak akan mati hingga Allah Ta'ala mengutus seseorang untuk menghinakan dirinya ketika ia tua ".

Sesungguhnya orang-orang yang telah udzur dan diberikan umur yang panjang mereka berada di hadapan kehidupan akhirat, perasaan akan mendekati kematian lebih sensitif dibandingkan lainnya, maka ketaatan lebih dominan bagi mereka, kebajikan lebih banyak mereka kerjakan, dan ketenangan lebih nampak baginya.

روى ابن أبي الدنيا قال : دخل سليمان بن عبد الملك المسجد فرأى شيخاً

كبيراً فدعا به ، قال : يا شيخ أتحب الموت ؟ قال : لا ، قال : بمَ ؟ قال : ذهب

الشباب وشره وجاء الكبر وخيره ، فإذا قمت قلت بسم الله ، وإذا قعدت قلت

الحمد لله ، فأنا أحب أن يبقى لي هذا .

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya, suatu hari Kholifah Sulaiman ibnu Abdul Malik memasuki masjid dan melihat seseorang yang sangat tua kemudian memanggil nya, wahai kakek, apakah engkau lebih suka kepada kematian? , kemudian ia berkata, tidak. Kemudian dikatakan, kenapa? , ia berkata, " Telah berlalu masa muda dan segala keburukan, dan datang masa tua yang membawa banyak kebaikan, jika aku masih di berikan umur panjang maka Bismillah dan jika aku di wafatkan maka Alhamdulillah dan aku lebih suka dalam keadaan seperti ini ".

وعن عبد الله بن بُسْر رضي الله عنه : أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ

النَّاسِ ؟ قَالَ : (( مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ))

Diriwayatkan dari Abdullah ibnu Bisrin radhiyallahu anhu, bahwasanya seseorang a'roby bertanya, wahai Rasulullah, siapakah orang yang terbaik? , maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "  Orang-orang yang dianugerahi umur yang panjang dan baik amalannya ".

Sepantasnya bagi para pemuda agar bertakwa kepada Allah Ta'ala  untuk memuliakan, menghormati dan menjaga hak-hak mereka orang-orang baik, utama, mulia, yang mana mereka menghabiskan waktunya untuk ibadah, ketaatan, rukuk, sujud, puasa, sholat malam, takbir, tasbih, tahlil, tahmid dan banyak ibadah.

Diantara perkara yang sangat menyesalkan adalah menerjang dan menyia nyiakan hak-hak mereka yang dilakukan oleh para pemuda yang tidak ber moral yang menghabiskan waktu mereka untuk perbuatan sia-sia dan lalai, mereka kepada ayah ayah mereka tidak menghormati, kepada orang-orang tua tidak menghargai, terhadap hak-hak yang telah diwajibkan tidak di tegakkan, bahkan terhadap Allah Ta'ala mereka tidak merasa di awasi, bahkan sebagian dari mereka telah melakukan penganiayaan dan penyiksaan yang terkutuk di luar etika kemanusiaan dan rasa malu yang menunjukkan bahwa mereka tidak ber akhlak, dan orang-orang yang dzalim kelak pasti akan merasakan balasan yang setimpal.

ألا فليتق الله هؤلاء بمعرفة حقوق آبائهم وأكابرهم وحفظ أقدارهم ومراعاة

واجباتهم ، وإنا لنسأل الله أن يهدي شباب المسلمين وأن يردَّهم إلى الحق

رداً . ونسأله سبحانه أن يمتِّع كبار السن بالصحة والعافية ، وأن يرزقهم

صلاح الذرية وحسن العاقبة ، وأن يختم لنا ولهم بالخير والإيمان .

Sepantasnya bagi mereka para pemuda untuk mengetahui hak-hak ayah ayah mereka dan orang-orang yang lebih tua, menjaga dan menunaikan kewajiban mereka sebagai mana mestinya, dan kita berdoa kepada Allah Ta'ala agar senantiasa memberikan petunjuk kepada para pemuda kaum muslimin dan mengembalikan mereka kepada jalan yang benar dan kita memohon kepada Allah Ta'ala agar memberikan limpahan kesehatan dan kesembuhan bagi orang-orang yang lanjut usia dan memberikan rizki keturunan keturunan yang saleh dan husnul khotimah dan menutup usia mereka dengan kebaikan dan iman.

Minggu, 05 Juli 2015

HATI YANG BERSIH DAN LISAN YANG TERJAGA

As-Syaikh Prof DR Abdurrozak Al-Badr hafidhohullahu Ta'ala.

Sesungguhnya diantara ciri khas yang terbesar dan perangai yang mulia dari seorang mukmin yang menunjukkan akan kesempurnaan keimanan dan kemuliaan agama nya serta tinggi nya akhlak seseorang adalah memiliki hati yang bersih dan lisan yang terjaga terhadap saudara nya se-iman, sehingga tidak memiliki rasa hasad, dengki, benci dan iri, dan tidak pula lisan nya mengumbar ghibah, namimah, dusta, dan celaan, akan tetapi hatinya senantiasa tersimpan rasa cinta kasih, kasih sayang, sayang dan ihsan, menebar kebajikan dan penghormatan terhadap sesama, dan lisan nya tidak terucap kecuali kalimat kalimat yang bermanfaat, ungkapan yang menyejukkan dan seruan yang menentramkan.

Allah Ta'ala berfirman tentang mereka dalam firman Nya,

وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ

وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

" Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berkata : "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang".
(Q.S.59 Al-Hasyr :10)

Allah Ta'ala menerangkan tentang dua sifat yang agung dan mulia salah satu nya adalah berkaitan dengan lisan, yaitu tidak berbicara kecuali do'a dan nasihat, adapun yang kedua adalah berkaitan dengan hati, yaitu hatinya bersih terhadap saudara-saudara mereka, tidak tersimpan dalam hati nya rasa dengki, hasud, benci dan semisalnya.
Sesungguhnya bersihnya hati dan terjaga nya lisan merupakan tanda yang sangat jelas yang menunjukkan tentang sempurna nya iman seseorang, dan dahulu para salafus-sholih menilai seseorang yang paling utama diantara mereka adalah orang yang paling bersih hati dan lisan yang terjaga.

قال إياس بن معاوية بن قرة : " كان أفضلهم عندهم – أي السلف – أسلَمهم صدوراً وأقلهم غيبة " .

Berkata Iyas ibnu Muawiyah ibnu Qurroh rahimahullah, " Orang-orang yang paling utama diantara mereka - para salaf - adalah mereka yang memiliki hati yang bersih dan yang paling jauh dari melakukan ghibah ".

وقال سفيان بن دينار : " قلتُ لأبي بشر : أخبرني عن أعمال من كان قبلنا ، قال : كانوا يعملون يسيراً ويؤجرون كثيرا ، قلت : ولم ذاك ؟ قال لسلامة صدورهم " .

Dan berkata Sufyan ibnu Dinar, Aku bertanya kepada Abu Bisyr, kabarkan kepada ku tentang amalan para pendahulu kita, dia menjawab, “ Mereka beramal sedikit akan tetapi mendulang pahala yang besar ". Aku bertanya, kenapa hal ini terjadi?  Dia berkata, "  Karena hati - hati mereka bersih ".

Yang menjadi sebab hati - hati mereka bersih dan lisan mereka terjaga adalah kuat nya hubungan mereka kepada Allah Ta'ala dan ridho terhadap putusan Allah Ta'ala.

قال ابن القيم رحمه الله : " إنه – أي الرضا عن الله – يفتح له باب السلامة فيجعل قلبه سليماً نقياً من الغش والدغل والغل ، ولا ينجو من عذاب الله إلا من أتى الله بقلب سليم . كذلك وتستحيل سلامة القلب مع السخط وعدم الرضا ، وكلما كان العبد أشد رضًا كان قلبه أسلم ، فالخبثُ والدغل والغش: قرين السخط ، وسلامة القلب وبرُّه ونصحه: قرين الرضا ، وكذلك الحسدُ هو من ثمرات السخط ، وسلامة القلب منه من ثمرات الرضا " ا.هـ .

Berkata imam Ibnul Qoyyim rahimahullah, " Yaitu, - ridho terhadap putusan Allah Ta'ala - akan melahirkan keselamatan, sehingga hatinya bersih selamat dari kedengkian, hasud, kecurangan, dan tidak akan selamat dari adzab Allah Ta'ala kecuali mereka yang menghadap kepada Allah Ta'ala dengan hati yang bersih lagi selamat. Demikian juga mustahil jika hatinya merasa bersih akan tetapi masih dijumpai hasud dan tidak ridho terhadap putusan Allah Ta'ala, selama seorang hamba ridho terhadap putusan Allah Ta'ala niscaya hatinya bersih, adapun kebusukan, kedengkian dan kecurangan, merupakan sekutu-sekutu kemurkaan dan hati yang bersih yang baik yang tulus merupakan sekutu-sekutu ridho, demikian pula hasud merupakan buah dari kemurkaan adapun hati yang bersih buah dari ridho ".

Dan buah dari bersihnya hati yang merupakan buah dari hasil ridho terhadap putusan Allah Ta'ala sangat banyak tidak terhitung, hati yang bersih tatkala di dunia membuahkan rasa yang tenang, sejuk dan menentramkan, adapun di akhirat membuahkan pahala yang melimpah dan berlipat ganda dan keberuntungan yang besar.

لما دُخِل على أبي دجانة رضي الله عنه وهو مريض كان وجهه يتهلَّل ، فقيل له : ما لوجهك يتهلل ؟ فقال : ما من عملِ شيء أوثقُ عندي من اثنتين : كنت لا أتكلم فيما لا يعنيني ، والأخرى فكان قلبي للمسلمين سليماً .

" Tatkala seseorang menemui Abi Duja'nah radhiyallahu anhu yang sedang sakit, sedangkan wajahnya berseri-seri, maka dikatakan kepada nya, apa yang menyebabkan wajahmu berseri-seri? Maka ia berkata, " Tidaklah aku beramal sesuatu yang aku merasa percaya dari dua perbuatan ini, yaitu aku selalu tidak berbicara yang tidak bermanfaat dan hati ku senantiasa tidak menyimpan rasa apapun terhadap kaum muslimin  ( hati yang bersih ) ".

Diantara perkara yang mendatangkan hati yang bersih dan lisan yang terjaga dari menggunjing  saudara saudara kaum muslimin adalah iltija' atau menghadapkan diri kepada Allah Ta'ala dan mendekatkan diri kepada Nya dengan penuh ikhlas dan jujur, serta memandang kepada balasan yang Allah janjikan baik di dunia dan akhirat serta senantiasa mengingat akan ancaman di dunia dan akhirat bagi mereka yang memiliki hati kotor, dengki dan hasud.

Banyak dijumpai riwayat dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang permintaan dan permohonan kepada Allah Ta'ala agar diberikan hati yang bersih dan keteguhan hati, sebagaimana diriwayatkan dari Zaid ibnu Arqom radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berdoa ,

(( ... اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ... اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ ...))

"  Ya Allah, berikanlah jiwaku ketakwaan dan sucikanlah, Engkau adalah Dzat Yang mampu untuk mensucikan, ...Ya Allah, aku berlindung kepada - Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat dan dari hati yang tidak khusyuk. ..." .

وعن أنس رضي الله عنه قال : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ : (( يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ ))

Dari Anas radhiallahu anhu berkata, Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam banyak mengucapkan do'a,  " Wahai Dzat Yang membolak balikkan hati, teguhkanlah hati ku diatas agama -Mu ".

وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال : ... وَكَانَ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ : (( اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا ))

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, dan diantara do'a yang di ucapkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, " Ya Allah, berikanlah cahaya di hati kami. ...".

Sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim agar bermujahadah dengan sekuat tenaga untuk membersihkan hati dan mensucikan nya dari segala kotoran dan noda serta syahwat hati dan senantiasa bersabar memerangi nya hingga ia berjumpa dengan Allah Ta'ala dengan hati yang bersih. 

Diantara do'a yang agung untuk membersihkan hati dan menjaga lisan adalah do'a yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, berkata Abu Bakar radhiyallahu anhu, Aku bertanya kepada Rosulillah shallallahu alaihi wa sallam , Wahai Rasulullah, perintahkan kepada diriku agar aku ucapkan di setiap pagi dan petang, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan agar mengucapkan :

اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرُّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

Allahumma ‘aalimal ghoybi wasy syahaadah faathiros samaawaati wal ardh. Robba kulli syai-in wa maliikah. Asyhadu alla ilaha illa anta. A’udzu bika min syarri nafsii wa min syarrisy syaythooni wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘alaa nafsii suu-an aw ajurruhu ilaa muslim.

“Ya Allah, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Rabb pencipta langit dan bumi, Rabb segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan diriku, setan dan balatentaranya (godaan untuk berbuat syirik pada Allah), dan aku (berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan terhadap diriku atau menyeretnya kepada seorang muslim.”

Terkandung dalam do'a yang agung ini, permohonan perlindungan kepada Allah Ta'ala dari segala keburukan dan penyebabnya dan puncaknya, dikarenakan keburukan bersumber dari dalam hati dan dari setan, dan didalam do'a ini kita diajarkan untuk berlindung kepada Allah Ta'ala dari keduanya.
((أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ ))

sedangkan puncak atau objek dari keburukan terjadi pada dua sasaran yaitu dirinya sendiri secara pribadi dan orang lain dari kalangan kaum muslimin. Sehingga sepantasnya kita berlindung kepada Allah Ta'ala dalam dua objek ini.

((وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءًا أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ )) 

Singkat kata, do'a ini mengandung permohonan perlindungan dari dua sumber keburukan dan berlindung dari menimpakan keburukan kepada dua kemungkinan, dan alangkah sempurnanya kandungan do'a ini, seyogyanya setiap muslim melantunkan do'a agung ini di setiap pagi dan petang dan tatkala merebahkan tubuhnya ketika hendak tidur, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. 

Sabtu, 04 Juli 2015

BULAN RAMADAN BULAN KESABARAN

Prof DR Abdurrozak Al-Badr hafidhohullahu Ta'ala.

Alhamdulillah, was sholaatu was salaamu ala Rosulillah, wa ba'du :

Sesungguhnya sabar merupakan pondasi dari segala akhlak yang terpuji dan merupakan perisai dari segala perbuatan tercela, dimana sabar memiliki arti menahan dari segala yang ia tidak suka, yang tidak sesuai dengan keinginan hati, dalam rangka untuk mencari ridho Allah Ta'ala dan pahala Nya, dan kesabaran tersebut mencakup sabar dalam menuaikan ketaatan, sabar dalam meninggalkan kemaksiatan dan sabar tatkala menerima takdir Allah Ta'ala yang terasa tidak menyenangkan, dan tidak mungkin terlepas dari perkara perkara tersebut kecuali dengan kesabaran yaitu :

* Berbuat ketaatan, terlebih dalam ibadah yang berat seperti jihad fi sabilillah, dan ibadah yang kontinuitas seperti menuntut ilmu dan berdakwah dengan lisan dan perbuatan, hal ini tidak mungkin dilakukan tanpa kesabaran dan membiaskan jiwa untuk menegakkan dan istiqomah diatas nya, sekiranya kesabaran melemah niscaya aktivitas tersebut akan melemah pula dan bisa jadi terhenti.
* Meninggalkan maksiat, terlebih sesuatu yang disukai oleh nafsu, maka hal ini tidak akan mampu menjauhi nya kecuali dengan sabar dan kesabaran untuk menyelisihi keinginan hawa nafsunya.

* Musibah yang menimpa seorang hamba, yang ia terima dengan rasa ridho, syukur dan memberikan pujian kepada Allah Ta'ala, hal ini tidak mungkin dilakukan tanpa kesabaran dan mengharapkan pahala di sisi Nya. Tatkala seseorang hamba telah membiaskan diri untuk senantiasa sabar dan menerima ujian berat maka niscaya ia akan menjumpai keberhasilan dan keberuntungan dan jika seseorang menghendaki suatu perkara dan ia bersungguh sungguh menekuni nya dan disertai kesabaran, niscaya ia akan menuai keberhasilan.

Sesungguhnya bulan suci ramadan merupakan suatu madrasah pendidikan dan medan perjuangan yang banyak mengandung ibroh dan pelajaran yang mendidik jiwa yang senantiasa ia kenang pada bulan ini dan bulan-bulan setelah nya, dan diantara pelajaran yang dapat dipetik dari bulan ramadan ini adalah bahwasanya bulan ramadan mendidik jiwa untuk melatih kesabaran, sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan nama bulan ramadan dengan bulan kesabaran sebagai diriwayatkan dalam beberapa hadist, seperti yang dibawakan oleh imam Ahmad dan Imam Muslim dari hadist Abu Qotadah radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

((صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صَوْمُ الدَّهْرِ))

" Puasa pada bulan kesabaran dan puasa tiga hari pada setiap bulan ibarat melakukan puasa satu tahun penuh ". 

Diriwayatkan oleh imam Ahmad dari Ahmad bin Yazid ibnu As-Sikhiir dari Al-A'roby mendengar Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

(( صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ يُذْهِبْنَ وَحَرَ الصَّدْرِ ))

" Puasa di bulan kesabaran dan puasa tiga hari setiap bulan akan menghilangkan penyakit penyakit hati ".

Diriwayatkan oleh imam An-Nasa'i dari sahabat Al-Ba'hili radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

(صمْ شهرَ الصبرِ وثلاثةَ أيامٍ من كلِّ شهر...))

" Puasa di bulan kesabaran dan puasa tiga hari setiap bulan. .......".

Dalam tiga hadist diatas, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan sifat terhadap bulan ramadan dengan bulan kesabaran, dikarenakan bulan ramadan terkumpul didalam nya tiga bentuk kesabaran, sabar dalam ketaatan, sabar dalam meninggalkan kemaksiatan dan sabar tatkala menerima takdir Allah Ta'ala yang terasa tidak menyenangkan :

- Bulan ramadan didalam nya mengandung banyak ibadah seperti puasa, mendirikan shalat malam, tilawah Al-Qur'an, dzikir, do'a, istigfar, taubat ,berbuat kebajikan, ihsan, dan aneka ragam ketaatan yang ini semua membutuhkan kesabaran untuk menjalankan nya hingga menyelesaikan dengan sempurna.

- Didalam bulan ini, menjaga lisan dari Berkata dusta, berbohong, berkata kotor, ghibah, namimah, menyulut permusuhan, meninggalkan segala bentuk maksiat, dan ini ditinggalkan baik di bulan ramadan atau di luarnya, dan meninggalkan segala bentuk maksiat membutuhkan kesabaran hingga ia mampu menjauhi nya.

- Didalam bulan ramadan meninggalkan makan, minum dan segala yang kita senangi dan menjauhi apa yang halal seperti melakukan hubungan pasutri, dan hal ini tidak akan sukses kecuali dengan kesabaran.

Maka bisa disimpulkan bahwa didalam bulan ramadan terkumpul kesabaran semuanya.
Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

(( والنفس فيها قوتان : قوة الإقدام ، وقوة الإحجام ؛ فحقيقة الصبر أن يجعل قوة الإقدام مصروفة إلى ما ينفعه ، وقوة الإحجام إمساكاً عما يضره ، ومن الناس من تكون قوة صبره على فعل ما ينتفع به وثباتُه عليه أقوى من صبره عما يضره فيصبر على مشقة الطاعة ولا صبر له عن داعي هواه إلى ارتكاب ما نُهي عنه ، ومنهم من تكون قوة صبره عن المخالفات أقوى من صبره على مشقة الطاعات ، ومنهم من لا صبر له على هذا ولا ذاك ، وأفضل الناس أصبرهم على النوعين ، فكثير من الناس يصبر على مكابدة قيام الليل في الحر والبرد وعلى مشقة الصيام ولا يصبر عن نظرة محرمة ، وكثير من الناس يصبر عن النظر وعن الالتفات إلى الصور ولا صبر له على الأمر بالمعروف والنهى عن المنكر وجهاد الكفار والمنافقين بل هو أضعف شيء عن هذا وأعجزه ، وأكثرهم لا صبر له على واحد من الأمرين ، وأقلهم أصبرهم في الموضعين ))

" Jiwa manusia memiliki dua kekuatan, yaitu kekuatan untuk melakukan sesuatu dan kekuatan untuk meninggalkan sesuatu, dan hakikat kesabaran adalah menggunakan kekuatan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat yaitu ketaatan dan meninggalkan sesuatu yang membawa mudhorot yaitu kemaksiatan, dan diantara manusia ada yang memiliki kekuatan untuk mengerjakan ketaatan melebihi dari kekuatan untuk meninggalkan kemaksiatan, sehingga ia lebih mampu bersabar didalam menjalankan ketaatan dan kebajikan dan tidak sabar dalam meninggalkan kemaksiatan dan perkara yang dilarang. Dan diantara manusia memiliki kesabaran untuk menjauhi kemaksiatan dan tidak mampu bersabar untuk mengerjakan ketaatan, dan sebagiannya tidak mampu untuk bersabar untuk ini dan itu. Dan manusia yang paling utama adalah yang bersabar dalam menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Banyak dijumpai dari manusia yang mampu mengerjakan sholat malam di musim dingin atau panas dan menunaikan ibadah puasa, namun ia tidak sabar melihat sesuatu yang haram, dan banyak dijumpai di antara manusia yang mampu bersabar untuk memandang sesuatu yang diharamkan akan tetapi tidak sabar untuk menunaikan amar makruf dan nahi mungkar, jihad melawan kufar dan munafikin, dan yang paling buruk diantara lainnya adalah yang tidak mengerjakan ini dan itu semuanya yang tidak sabar untuk menekuni keduanya ".

Beliau juga berkata,

: ((فالإنسان منا إذا غلب صبرُه باعثَ الهوى والشهوة الْتحق بالملائكة ، وإن غلب باعثُ الهوى والشهوة صبرَه الْتحق بالشياطين ، وإن غلب باعثُ طبعه من الأكل والشرب والجماع صبرَه التحق بالبهائم))

" Manusia jika kesabaran nya mampu untuk membendung penggerak hawa nafsu dan syahwat maka ia serupa dengan malaikat, akan tetapi jika kesabarannya terkalahkan oleh hawa nafsu dan syahwat maka ia menyerupai setan, dan jika kebiasaannya hanya sekedar makan, minum dan menyalurkan keinginan syahwat nya maka ia menyerupai bintang ".

Allah Ta'ala telah memerintahkan kepada para hamba agar bersabar dan memberikan pujian kepada orang yang sabar dan menyediakan pahala yang besar yang tidak terhitung .
Allah Ta'ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱصْبِرُوا۟ وَصَابِرُوا۟ وَرَابِطُوا۟ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

" Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung." (Q.S.3 Ali Imraan:200)

Allah Ta'ala berfirman,

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ

" Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu' ". (Q.S.2 Al-Baqorah :45)

Allah Ta'ala berfirman,

أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَٰتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُهْتَدُونَ

" Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ". (Q.S.2 Al-Baqorah :157)

Allah Ta'ala berfirman,

ۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِى ٱلْبَأْسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلْبَأْسِ ۗ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُتَّقُونَ

" Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (Q.S.2 Al-Baqorah :177)

Allah Ta'ala berfirman,

قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

" Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (Q.S.39 Azzumar :10)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

((وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ))

" Barangsiapa yang berusaha untuk bersabar, niscaya Allah berikan kepadanya kesabaran ". ( HR Al-Bukhary )

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

((وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ))

" Sesungguhnya kemenangan bersama dengan kesabaran ". ( HR Imam Ahmad )

وحسبك من خُلُقٍ يسهِّل على العبد مشقة الطاعات ، ويهوِّن عليه ترك ما تهواه النفوس من المخالفات ، ويسليه عن المصيبات ، ويُمِدُّ الأخلاق الجميلةَ كلها ويكون لها كالأساس للبنيان ، ومتى علِم العبد ما في الطاعات من الخيرات العاجلة والآجلة ، وما في المعاصي من الأضرار العاجلة والآجلة ، وما في الصبر على المصائب من الثواب الجزيل والأجر العظيم ؛ سهل الصبر على النفس ، وربما أتت به منقادة مستحلية لثمراته ، وإذا كان أهل الدنيا يهوِّن عليهم الصبر على المشقات العظيمة لتحصيل حطامها ، فكيف لا يهون على المؤمن الموفق الصبر على ما يحبه الله لحصول ثمراته !! ومتى صبر العبد لله مخلصاً في صبره كان الله معه ؛ فإن الله مع الصابرين بالعون والتوفيق والتأييد والتسديد .

اللهم وفِّقنا للقيام بحق هذا الشهر ، وطهرنا من وحر الصدر ، وألبِسنا فيه حلل اليقين والصبر .

Dan cukup bagi kita jika memiliki perangai yang memudahkan untuk bersabar dalam menjalankan ketaatan dan meninggalkan segala keinginan jiwa dari kemaksiatan dan tegar dalam suatu musibah, dan diberikan limpahan akhlak yang terpuji sehingga menjadi pondasi untuk berbuat kebajikan, dan kapan saja seorang hamba mengetahui bahwasanya didalam ketaatan  terkandung berbagai kebaikan di dunia dan akhirat, dan didalam kemaksiatan terkandung keburukan dan mudhorot di dunia dan akhirat, serta didalam kesabaran memiliki pahala yang besar dan berlipat, niscaya ia akan mampu untuk bersabar karena telah merasakan dan terhibur dengan buah kesabaran.

Apabila manusia bersabar dalam urusan dunia agar mendapatkan tujuan mereka di dunia fana ini, maka bagaimana mungkin seorang mukmin tidak bersabar untuk apa yang di cintai oleh Allah Ta'ala demi menggapai hasilnya di akhirat kelak !!!  Kapan saja seorang hamba sabar karena Allah Ta'ala ikhlas karena Allah Ta'ala, niscaya Allah Ta'ala akan menyertainya, sesungguhnya Allah Ta'ala bersama orang-orang yang bersabar dengan senantiasa memberikan pertolongan, kemenangan dan taufik.

Semoga Allah Ta'ala senantiasa memberikan kekuatan dan taufik untuk menunaikan hak-hak bulan ramadan ini dengan baik dan membersihkan hati hati kita dari kedengkian yang tersembunyi di dalam dada, dan memberikan limpahan keyakinan hati yang mantap dan kesabaran.