Sabtu, 23 November 2024

PEMBELAAN KAUM YANG TERTINDAS



SERUAN UNTUK KEBAIKAN DAN PERBAIKAN SERTA MEMBELA KAUM TERTINDAS 


Oleh: Ali Abdulrahman Al-Hudhaifi

Tanggal Penyampaian: 24 November 2023 / 10 Rabiul Akhir 1445

Tanggal Publikasi: 25 November 2023 / 11 Rabiul Akhir 1445

Kategori: Dakwah dan Pendidikan



Poin-poin Khutbah

1. Perbaikan dunia melalui iman, kerusakannya melalui kezaliman dan tirani.


2. Dorongan untuk menolong kaum tertindas dan membantu mereka.


3. Kewajiban mendukung kaum beriman dan memusuhi musuh-musuh agama.


4. Seruan untuk persatuan dan kesepakatan, serta menjauhi perpecahan dan perselisihan.



Kutipan

"Perbaikan seluruh dunia bergantung pada iman, ilmu yang bermanfaat, amal saleh, dan keadilan. Sedangkan kerusakan dunia berasal dari kefasikan, kemaksiatan, dan kezaliman manusia terhadap manusia lainnya. Untuk memperbaiki manusia dan melindunginya dari kezaliman yang merusak kehidupan, Allah telah menetapkan syariat, menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram..."


---

Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah, Yang Maha Agung dan Mulia, Raja yang Suci dan Maha Pemberi Keselamatan. Aku memuji-Nya atas segala nikmat-Nya, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui.

 Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, satu-satunya, tanpa sekutu, Dia adalah Pemilik segala karunia dan kebaikan. 

Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita, junjungan kita, Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diutus dengan syariat dan hukum yang paling sempurna.

 Ya Allah, limpahkanlah salawat, salam, dan berkah kepada Nabi Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya yang mulia.

Amma ba’du: 

Bertakwalah kepada Allah dengan menunaikan hak-hak-Nya, dan bertakwalah kepada Allah dengan melaksanakan hak-hak sesama makhluk-Nya. 
Sungguh, orang yang bertakwa akan meraih kemenangan, sementara orang yang mengabaikan hak-hak, berlaku zalim, dan melampaui batas akan merugi. 

Allah Ta’ala berfirman:

 “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).



Dan Allah juga berfirman:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan melipatgandakan pahala baginya.” (QS. Ath-Thalaq: 5).



Serta firman-Nya:

 “Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya neraka adalah tempat tinggalnya. Sedangkan orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 37-41).



Kebahagiaan manusia, baik di dunia maupun di akhirat, bergantung pada pelaksanaan hak-hak Allah dan hak-hak sesama makhluk. 
Sebaliknya, kehancuran, kerugian, dan kebinasaan seseorang, bahkan kekalnya di neraka, adalah akibat dari mengabaikan hak-hak Allah dan hak-hak makhluk serta menzalimi mereka. 

Allah Ta’ala berfirman:

 “Dan negeri-negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu untuk kebinasaan mereka.” (QS. Al-Kahfi: 59).



Perbaikan dunia bergantung pada iman, ilmu yang bermanfaat, amal saleh, dan keadilan. 
Sedangkan kerusakan dunia adalah akibat kefasikan, kemaksiatan, dan kezaliman manusia terhadap manusia lainnya. 

Untuk memperbaiki manusia dan melindungi mereka dari kezaliman yang merusak kehidupan, Allah menetapkan syariat, menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang haram.


Allah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab suci. 

Allah berfirman:

 "Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan telah Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat berlaku adil. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan Rasul-Rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (QS. Al-Hadid: 25)



Allah juga berfirman:

 "Dan barang siapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Ali Imran: 85)



Wahai manusia, Allah telah memerintahkan keadilan dan melarang kezaliman. 
Allah mewajibkan kita untuk menolong kaum tertindas dan memberikan hak mereka. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 "Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim atau yang dizalimi." Para sahabat bertanya: 'Wahai Rasulullah, kami menolongnya jika ia dizalimi, tetapi bagaimana cara menolongnya jika ia yang berbuat zalim?' Beliau menjawab: 'Cegahlah dia dari melakukan kezaliman, itulah bentuk pertolonganmu kepadanya.'" (HR. Bukhari dan Muslim)



Salah satu bentuk keadilan terbesar adalah menegakkan hak-hak kaum tertindas, mendukung mereka, dan membantu mereka mendapatkan kembali hak mereka.

 Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 "Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya." (HR. Muslim)



Wahai kaum Muslimin, kita juga diwajibkan untuk mendukung kaum beriman dan memusuhi musuh-musuh agama ini. 

Allah Ta’ala berfirman:

 "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10)


Dan firman-Nya:

 "Sesungguhnya wali kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, serta mereka tunduk (kepada Allah)." (QS. Al-Maidah: 55)



Kaum Muslimin adalah satu tubuh; jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan merasakannya. Kita wajib bersatu dan menjauhi perselisihan serta perpecahan. 

Allah Ta’ala berfirman:

 "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara." (QS. Ali Imran: 103)



Wahai kaum Muslimin, ketahuilah bahwa di antara bentuk ketaatan terbesar adalah berdakwah di jalan Allah, menyeru kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran.

 Allah Ta'ala berfirman:

 "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran: 104)


Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:

 "Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman." (HR. Muslim)



Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya dunia ini adalah tempat ujian dan cobaan. Kehidupan ini penuh dengan liku-liku, kebahagiaan, dan kesedihan. 

Allah Ta’ala berfirman:

 "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)


Allah juga berfirman:

 "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2)



Bersabarlah dalam menghadapi cobaan, karena sesungguhnya kesabaran itu membawa kemenangan, dan ujian adalah sarana untuk meningkatkan derajat di sisi Allah. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 "Sungguh luar biasa perkara seorang mukmin! Seluruh perkaranya adalah baik, dan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, maka itu pun baik baginya." (HR. Muslim)



Wahai kaum Muslimin, ketahuilah bahwa kehidupan ini adalah ladang amal untuk akhirat. 
Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba selain amal saleh yang ia kerjakan di dunia. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 "Gunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu." (HR. Al-Hakim)



Berusahalah untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan-Nya. Janganlah terperdaya oleh dunia dan godaannya. 

Allah Ta'ala berfirman:

 "Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu, serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, lalu hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu." (QS. Al-Hadid: 20)



Wahai kaum Muslimin, berbekallah dengan takwa, karena ia adalah sebaik-baik bekal.

 Allah Ta'ala berfirman:

 "Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal." (QS. Al-Baqarah: 197)



Dan jangan lupa untuk banyak mengingat kematian, karena ia adalah pemutus segala kenikmatan. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 "Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian." (HR. Tirmidzi)



Wahai hamba-hamba Allah, perbaikilah hubungan kalian dengan Allah dan dengan sesama manusia. 
Tunaikanlah hak-hak Allah dan hak-hak makhluk. 
Jadilah umat yang saling mencintai, saling menolong, dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 "Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzhaliminya, tidak menyerahkannya (kepada musuh), dan tidak merendahkannya. Takwa itu di sini," beliau menunjuk ke dadanya tiga kali." (HR. Muslim)



Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa, yang diberikan keberkahan di dunia dan di akhirat.









Segala puji bagi Allah yang disebut dalam sejarah, yang disyukuri atas kepemimpinannya terhadap kerajaan ini, khususnya dalam mengadakan KTT Arab-Islam yang menghasilkan keputusan untuk mengutuk agresi Zionis terhadap Gaza, serta perang pembantaian terhadap anak-anak, wanita, dan orang tua. KTT ini juga menuntut masyarakat internasional untuk segera menghentikan perang zalim ini atas Gaza dan bagian-bagian Palestina lainnya.

Negara ini juga dikenal dan disyukuri atas inisiatifnya dalam membuka pintu bantuan dan sumbangan kemanusiaan yang diserukan dalam KTT tersebut kepada semua negara, demi mendukung perjuangan Palestina, bersolidaritas dengan rakyat Palestina dalam perjuangan mereka yang adil, dan berdiri bersama orang-orang yang tertindas.

Jika Allah, Tuhan kita yang Maha Tinggi, telah berfirman:

  "Dan orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar." (QS. Al-Anfal: 73)



Maka, saudara-saudara kita di Palestina tidak memiliki siapa pun kecuali Allah, kemudian umat Islam. Tidak ada yang menjaga hak-hak umat Islam dari kezaliman diri mereka sendiri kecuali ketakwaan kepada Allah Azza wa Jalla dan keimanan kepada-Nya. 

Allah Ta’ala berfirman:

 "Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. An-Nahl: 128)



Dan barang siapa yang Allah bersamanya, maka ia tidak perlu merasa takut. Tidak ada yang menjaga mereka dari kejahatan musuh kecuali kesabaran dan ketakwaan kepada Allah Ta’ala. 

Allah yang Maha Suci berfirman:

"Dan jika kamu bersabar dan bertakwa, maka tipu daya mereka sedikit pun tidak akan membahayakan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Meliputi apa yang mereka kerjakan." (QS. Ali Imran: 120)



Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur'an yang agung, memberikan manfaat kepada kita semua dari ayat-ayat dan hikmah-Nya, serta memberikan manfaat dari petunjuk Rasul yang mulia dan ucapannya yang lurus. Aku sampaikan apa yang kalian dengar, dan aku memohon ampun kepada Allah, maka mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


---

Khutbah Kedua:

Segala puji bagi Allah, yang menurunkan kitab, menjalankan awan, dan menghancurkan golongan-golongan yang memusuhi Islam. Aku memuji-Nya atas karunia dan nikmat-Nya yang kita ketahui dan yang tidak kita ketahui. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, satu-satunya, tanpa sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Nabi kita, Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya, yang akan memberikan syafaat di Hari Perhitungan.

Wahai kaum Muslimin! Bertakwalah kepada Allah dengan ikhlas dalam amal perbuatan hanya untuk-Nya, maka Allah akan menyucikan amal perbuatan kalian, melipatgandakan pahala kalian, dan memudahkan segala urusan kalian.

Berpeganglah teguh kepada Allah dan jangan bercerai-berai. Ambillah pelajaran dari kejadian-kejadian yang telah berlalu. Hindarilah perselisihan dan perpecahan, karena itu adalah kelemahan dan bahaya bagi agama serta bangsa. Sebaliknya, persatuan adalah kekuatan dan kemuliaan.

Allah berfirman:

 "Katakanlah: Sesungguhnya segala urusan itu milik Allah." (QS. Ali Imran: 154)

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 "Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesulitan, dan bersama kesulitan ada kemudahan." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)


Allah Ta’ala juga berfirman:

 "Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." (QS. Ali Imran: 200)



Penutup dan Doa:

Allah memerintahkan kita untuk bershalawat kepada Nabi-Nya:

 "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56)



Maka marilah kita bershalawat dan mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. 
Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.

Ya Allah, tolonglah Islam dan kaum Muslimin, hinakanlah kekufuran dan kaum kafir. Ya Allah, jagalah Masjid Al-Aqsa dari tangan-tangan penjajah Zionis, dan tolonglah saudara-saudara kami di Gaza.

Ya Allah, berikanlah kemenangan kepada umat Islam, persatukan hati mereka, dan jadikanlah mereka umat yang saling mendukung dalam kebenaran dan keadilan. Kabulkanlah doa-doa kami, ya Rabbal 'Alamin. Aamiin.





















Minggu, 03 November 2024

MANHAJ SALAF BERKAITAN DENGAN PENGUASA


KATA-KATA SALAF DALAM BERURUSAN DENGAN PARA PENGUASA 



Oleh: Fahd bin Abdulaziz bin Abdullah Al-Shuwairkh Hafizhahullah Ta'ala. 


Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada penghulu para nabi dan rasul, Nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.

 Amma ba'du: 

Di antara hal yang telah diketahui dengan pasti dalam agama Islam adalah bahwa tidak ada agama kecuali dengan jamaah, tidak ada jamaah kecuali dengan kepemimpinan (imamah), dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan mendengar dan taat. 
Membangkang terhadap penguasa adalah salah satu sebab terbesar kerusakan yang menimpa hamba dan negeri.

Ibn Taimiyyah rahimahullah berkata: "Membangkang terhadap mereka (para penguasa) mengakibatkan kezaliman dan kerusakan yang lebih besar dibandingkan kezaliman mereka." 

Ibnu al-Qayyim rahimahullah juga berkata: "Mengkritik para penguasa dengan cara membangkang terhadap mereka... adalah sumber segala keburukan dan fitnah hingga akhir zaman."

Para sahabat meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk memerangi para penguasa yang menunda salat dari waktunya. 
Mereka berkata: "Tidakkah kita perangi mereka?" 
Nabi menjawab: "Tidak, selama mereka masih mendirikan salat." 

Beliau juga bersabda: "Barangsiapa melihat sesuatu yang tidak disukainya dari pemimpinnya, maka bersabarlah, dan janganlah ia mencabut ketaatannya."

Imam Ibnul Qayyim berkata bahwa membangkang terhadap penguasa akan mengakibatkan kerusakan besar. 
Bahkan hingga sekarang, umat masih merasakan dampak dari fitnah-fitnah tersebut akibat ketidakpatuhan kepada prinsip ini.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata bahwa bukti menunjukkan bahwa mereka yang membangkang terhadap penguasa dengan alasan ingin menegakkan Islam, justru menyaksikan bahwa situasi menjadi lebih buruk dari sebelumnya. 
Beliau menekankan bahwa jika seseorang melihat sejarah, mereka akan melihat bahwa keburukan selalu timbul dari pembangkangan terhadap penguasa.


Sebagian Kata-kata Salaf Mengenai Berurusan dengan Para Penguasa


1. Menaati Mereka Selama Bukan dalam Kemaksiatan kepada Allah Ta'ala:

Abu Dzar radhiyallahu 'anhu berkata: "Jika Utsman memerintahkanku untuk berjalan di atas kepalaku, aku akan melakukannya."


Imam ath-Thahawi berkata: "Kami melihat bahwa menaati mereka adalah bagian dari ketaatan kepada Allah, selama mereka tidak memerintahkan kemaksiatan."


Imam Ibn Jama’ah berkata: "Hak-hak penguasa adalah... menaati mereka, baik secara lahir maupun batin, dalam segala hal yang mereka perintahkan atau larang, kecuali jika itu adalah kemaksiatan."


Imam an-Nawawi berkata: "Wajib menaati para pemimpin dalam hal yang berat dan tidak disukai oleh nafsu, kecuali jika itu adalah kemaksiatan."


Al-Hafizh Ibn Hajar berkata bahwa ketaatan kepada para pemimpin dibatasi pada hal-hal yang bukan kemaksiatan, karena tujuan ketaatan adalah menjaga persatuan.



2. Memuji Mereka Atas Kebaikan yang Mereka Lakukan:

Diriwayatkan dari Sa’id bin ‘Ubaidah, bahwa seseorang datang kepada Ibn Umar dan bertanya tentang Utsman. 
Ibn Umar menyebut kebaikan-kebaikan perbuatan Utsman.
Orang itu berkata: “Hal itu membuatku tidak suka.” 
Ibn Umar menjawab: “Maka semoga Allah menghina hidungmu.” 

Kemudian orang itu bertanya lagi tentang Ali, 
dan Ibn Umar menyebutkan kebaikan-kebaikan perbuatan Ali. 
Ibn Umar lalu berkata: “Hal itu membuatmu tidak suka, bukan?” 
Orang itu menjawab: “Ya.” 
Maka Ibn Umar berkata: “Semoga Allah menghina hidungmu, berusahalah sekeras apa pun yang kamu inginkan.”



Kesabaran dalam Menghadapi Penguasa dan Menghindari Fitnah

Di antara ajaran para salafus shalih adalah bersabar dalam menghadapi kekurangan atau ketidakadilan dari para pemimpin, selama mereka masih menjalankan kewajiban utama agama, seperti mendirikan salat. 
Keburukan dari melawan mereka sering kali lebih besar daripada manfaat yang mungkin diharapkan. 
Mereka percaya bahwa fitnah dan perpecahan yang timbul dari pemberontakan tidak sebanding dengan tujuan yang ingin dicapai, sehingga lebih baik bersabar dan tetap dalam ketaatan kepada penguasa selama mereka tidak memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Syaikh al-Utsaimin menegaskan kembali pentingnya memahami metode para salaf dalam menghadapi penguasa. 
Menurut beliau, dalam banyak kasus, pemberontakan terhadap penguasa hanya membawa lebih banyak kerusakan pada agama dan dunia. 
Oleh karena itu, kaum muslimin harus berhati-hati dalam bersikap terhadap penguasa, menghindari fitnah, dan berpegang teguh pada prinsip-prinsip kitab dan sunnah serta metode para salafus shalih.



3. Memberikan penghormatan terhadap Penguasa:

Dari Ma'mar, dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, rahimahumullah, ia berkata: "Bagian dari sunnah adalah menghormati empat golongan: ulama, orang tua (beruban), penguasa, dan orang tua (ayah)."

Imam Ibnul Mubarak rahimahullah berkata: "Barang siapa meremehkan penguasa, maka hilanglah dunianya."

Imam Ibn Hibban rahimahullah berkata: "Orang yang berakal tidak akan meremehkan siapapun, karena siapa yang meremehkan penguasa akan merusak dunianya."

Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata: "Para ulama salaf melarang mencela para penguasa." Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: "Para tokoh sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melarang kami mencela para penguasa."

Imam Ibn Jama'ah al-Kanani rahimahullah berkata: "Seseorang harus mengetahui betapa besarnya hak para penguasa, dan harus menghormati serta memuliakan mereka dengan penuh penghargaan, seperti yang Allah telah tetapkan untuk mereka."

Al-Sya’bi rahimahullah berkata bahwa seorang pemuda Quraisy masuk ke hadapan Mu’awiyah radhiyallahu 'anhu dan bersikap kasar. Mu’awiyah berkata kepadanya: "Wahai keponakanku, hindarilah penguasa, karena penguasa jika marah seperti kemarahan anak kecil, dan kekuasaannya seperti singa."

Al-Hafizh Ibn Hajar rahimahullah berkata: "Dalam berinteraksi dengan penguasa, sebaiknya menggunakan cara yang lembut, sehingga nasehat kita lebih mudah diterima. Jangan berbicara kepada penguasa tanpa izin, terlebih dalam hal yang mungkin membuatnya tersinggung. Karena bersikap kasar dapat menyebabkan perlawanan dan membangkitkan permusuhan."



4. Mendoakan Kebaikan untuk Mereka:

Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: "Seandainya aku memiliki satu doa yang mustajab, aku akan menggunakannya untuk (mendoakan) kebaikan penguasa... karena kebaikan penguasa adalah kebaikan bagi rakyat dan negara."

Imam ath-Thahawi rahimahullah berkata: "Kami mendoakan kebaikan dan keselamatan untuk mereka."

Syaikh Shalih al-Fawzan berkata: "Bagian dari sunnah adalah mendoakan kebaikan bagi para pemimpin kaum muslimin, terutama pada waktu-waktu yang mustajab dan tempat-tempat yang diharapkan terkabulnya doa."

Al-Hafizh Ibn Rajab rahimahullah berkata: "Nasihat kepada para pemimpin umat Islam adalah dengan mendoakan agar mereka mendapatkan petunjuk."

Syaikh Sa'ad bin Nashir asy-Syatsri berkata: "Setiap muslim seharusnya mendoakan pemimpin agar Allah memberi hidayah, membimbing, memperbaiki, dan memberikan taufik kepada mereka, karena kebaikan mereka adalah kebaikan bagi umat."

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz al-Syaikh berkata bahwa salaf yang saleh selalu mendoakan kebaikan bagi penguasa.



5. Tidak Mendoakan Keburukan atas Mereka Agar Bencana Tidak Bertambah:

Imam al-Barbahari rahimahullah berkata: "Jika engkau melihat seseorang mendoakan keburukan bagi penguasa, ketahuilah bahwa dia adalah pengikut hawa nafsu."

Abu 'Utsman al-Zahid rahimahullah berkata: "Janganlah engkau mendoakan keburukan bagi mereka dengan melaknat, karena itu hanya akan menambah kejahatan mereka dan menambah bencana bagi kaum muslimin. Sebaliknya, doakanlah agar mereka bertaubat sehingga mereka meninggalkan keburukan, dan dengan begitu bencana akan terangkat dari kaum mukminin."

Imam al-Manawi rahimahullah berkata: "Para ulama salaf telah memperingatkan agar tidak mendoakan keburukan bagi penguasa, karena hal itu hanya akan menambah kejahatan mereka dan meningkatkan bencana bagi umat Islam."

Syaikh Sa'ad bin Nashir asy-Syatsri berkata: "Mengapa kita tidak mendoakan keburukan bagi para pemimpin? Karena Allah yang telah mengangkat mereka sebagai pemimpin kaum muslimin, dan mendoakan keburukan atas mereka hanya akan menambah bencana."

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz al-Syaikh berkata bahwa salaf yang saleh dan para imam Islam tidak pernah mendoakan keburukan bagi para pemimpin, karena mendoakan keburukan bagi mereka adalah salah satu tanda pengikut pemberontakan. Menurut mereka, doa keburukan untuk pemimpin dapat menimbulkan kebencian di hati rakyat, yang dapat memicu pemberontakan terhadap mereka.



6. Tidak Membangkang Terhadap Mereka dan Bersabar Atas Ketidakadilan Mereka:

Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: "Wahai manusia, sesungguhnya penguasa ini adalah cobaan bagi kalian. Jika mereka berlaku adil, itu adalah kebaikan bagi mereka dan kalian harus bersyukur. Jika mereka berlaku zalim, dosa itu akan ditanggung mereka dan kalian harus bersabar."

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: "Barang siapa yang memberontak terhadap pemimpin kaum muslimin, padahal umat telah sepakat atas kepemimpinannya, baik dengan kerelaan atau dengan kekuatan, maka ia telah memecah persatuan kaum muslimin dan menyelisihi tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. 
Jika ia mati dalam keadaan memberontak, maka matinya adalah mati jahiliyah."

Imam Ali bin al-Madini rahimahullah berkata: "Tidak diperbolehkan bagi siapapun memerangi atau memberontak terhadap penguasa, siapa pun yang melakukannya adalah pelaku bid'ah yang tidak mengikuti sunnah."

Malik bin Dinar berkata: "Sesungguhnya Hajjaj adalah hukuman yang Allah tetapkan atas kalian. Jangan hadapi hukuman Allah dengan pedang, tapi hadapilah dengan doa dan ketundukan."

Imam ath-Thahawi rahimahullah berkata: "Kami tidak melihat perlunya memberontak terhadap para pemimpin kami dan penguasa kami, walaupun mereka berbuat zalim."

Imam al-Sabuni rahimahullah berkata: "Para ulama hadits melihat bahwa shalat Jumat, shalat Id, dan shalat lainnya tetap sah di belakang setiap imam, baik yang saleh maupun yang zalim... dan mereka tidak melihat adanya kebutuhan untuk memberontak dengan pedang."

Imam al-Nawawi rahimahullah berkata: "Memberontak dan memerangi para pemimpin adalah haram menurut ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin, bahkan jika mereka adalah pemimpin yang fasik dan zalim."

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: "Bagian dari ilmu dan keadilan yang diperintahkan adalah bersabar atas kezaliman para pemimpin, sebagaimana ini  merupakan prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah."


Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Penuhilah kewajiban kalian kepada mereka, dan mintalah kepada Allah untuk kebaikan bagi diri kalian.”

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata: "Nasihat kepada para pemimpin kaum Muslimin...adalah dengan tidak membenci mereka yang hendak memberontak kepada mereka."

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: "Para ahli fiqh sepakat atas wajibnya menaati penguasa yang berkuasa, serta berjihad bersamanya, dan bahwa menaati mereka lebih baik daripada memberontak terhadap mereka karena hal ini dapat menghindarkan pertumpahan darah dan menenangkan masyarakat...Kecuali jika penguasa menunjukkan kekufuran yang nyata, maka tidak boleh mentaatinya dalam hal tersebut." 

Ia juga berkata: 
"Para khalifah seperti al-Ma'mun, al-Mu'tasim, dan al-Wathiq mengajak kepada bid'ah yang mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk, dan mereka menyiksa para ulama yang menolaknya dengan hukuman mati, cambukan, dan penjara selama bertahun-tahun, tetapi tidak ada seorang pun yang menyerukan pemberontakan terhadap mereka."


7. Memberi Nasihat kepada Penguasa Secara Rahasia dan Tidak Mengumbar Kesalahan Mereka di Depan Umum:

Dari Usamah bin Zaid, ada yang berkata kepadanya: "Tidakkah engkau masuk menemui Utsman radhiyallahu 'anhu untuk menasihatinya?" Usamah menjawab: "Apakah kalian mengira aku hanya akan menasihatinya jika kalian mendengar? Demi Allah, aku telah menasihatinya secara rahasia tanpa membuka hal yang aku tidak ingin jadi pembukanya."

Al-Sindi rahimahullah berkata: "Nasihat kepada penguasa sebaiknya dilakukan secara rahasia, bukan di hadapan orang banyak."

Al-Allamah asy-Syaukani rahimahullah berkata: "Jika seseorang melihat kesalahan penguasa dalam beberapa perkara, sebaiknya ia menasihati mereka tanpa mengungkapkannya di depan umum."

Al-Allamah Ibnu Baz rahimahullah berkata: "Bukan dari manhaj salaf untuk mengumbar kesalahan penguasa di mimbar, karena itu dapat menimbulkan kekacauan, kurangnya ketaatan dalam hal yang ma’ruf, dan memicu keburukan yang merugikan dan tidak bermanfaat. Metode yang diikuti oleh salaf adalah memberi nasihat secara pribadi antara mereka dan penguasa."

Al-Allamah al-Utsaimin rahimahullah berkata: "Kesalahan penguasa tidak dijadikan alasan untuk menghasut orang-orang, atau menimbulkan kebencian terhadap mereka, karena ini adalah sumber kerusakan dan akar dari fitnah di antara umat, serta menyebabkan permusuhan dan ketidakstabilan."


8. Menghadapi Kezaliman dengan Kesabaran dan Memohon Perlindungan kepada Allah:

Hasan al-Basri rahimahullah berkata: "Ketahuilah, semoga Allah memberimu keselamatan, bahwa kezaliman penguasa adalah bentuk hukuman dari Allah, dan hukuman dari Allah tidak bisa dilawan dengan pedang. Hukuman ini harus dihadapi dengan doa, taubat, dan kembali kepada Allah."

Malik bin Dinar berkata bahwa Hajjaj biasa berkata: "Ketahuilah, setiap kali kalian melakukan dosa, Allah akan menimpakan hukuman melalui penguasa kalian."

Diceritakan bahwa seorang laki-laki menulis kepada seorang ulama yang saleh mengadukan kezaliman para pejabat. Ulama itu menulis balik: "Wahai saudaraku, aku telah menerima suratmu yang menyebutkan kezaliman para pejabat terhadap kalian, tetapi ketahuilah bahwa tidak pantas bagi orang yang melakukan kemaksiatan untuk mengeluh ketika hukuman datang. Apa yang menimpamu adalah akibat dari dosa."


9. Kesabaran sebagai Tanggapan Terhadap Kezaliman Penguasa:

Imam Ibnu Abi al-Izz al-Hanafi rahimahullah berkata: "Allah tidak akan menimpakan penguasa zalim atas kita kecuali sebagai balasan atas dosa-dosa kita, dan balasan sesuai dengan amal. Maka hendaklah kita bersungguh-sungguh dalam beristighfar, bertaubat, dan memperbaiki amal perbuatan kita."


10. Menjaga Negeri-negeri Kaum Muslimin dari Pemberontakan yang Tidak Memberi Kebaikan:

Al-Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata: "Ketahuilah bahwa siapa pun yang melakukan pemberontakan sebenarnya melayani musuh-musuh Islam. Tidak penting sekedar memberontak atau bereaksi, tetapi yang utama adalah kebijaksanaan." Ia juga berkata: "Kami tidak mendukung demonstrasi, aksi protes, atau semacamnya sama sekali. Kami yakin perbaikan bisa dicapai tanpa cara-cara tersebut, karena pasti ada pihak-pihak tersembunyi baik dari dalam maupun luar yang berusaha memicu kerusakan seperti ini."


Kesimpulan: 
Menghadapi Kezaliman dengan Memperbaiki Diri dan Kembali kepada Allah Ta'ala. 

Pada akhirnya, kita perlu introspeksi diri dan menyadari bahwa apa yang menimpa kita berupa kezaliman penguasa adalah akibat dari dosa-dosa kita sendiri. Sebagaimana Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan: "Kezaliman penguasa adalah hukuman dari Allah yang tidak dapat dilawan dengan pedang, tetapi harus dihadapi dengan doa, taubat, dan perbaikan diri."

Para ulama juga menekankan bahwa tidak ada jalan keluar dari kezaliman ini kecuali dengan kembali kepada Allah, memperbanyak istighfar, memperbaiki amal perbuatan, dan berusaha menjauhi dosa dan maksiat yang dapat menyebabkan turunnya hukuman berupa penguasa yang zalim.

Imam Ibnu Abi al-Izz al-Hanafi rahimahullah berkata: "Allah tidak menimpakan penguasa yang zalim kepada kita kecuali karena kezaliman kita sendiri, dan hukuman yang diberikan sebanding dengan perbuatan kita. Maka kewajiban kita adalah bersungguh-sungguh dalam memperbanyak istighfar, bertaubat, dan memperbaiki amal."


Doa untuk Kebaikan Penguasa sebagai Bentuk Kesalehan dan Ketakwaan:

Doa kita untuk kebaikan penguasa, baik mereka berlaku adil maupun sebaliknya, merupakan bagian dari adab kita kepada Allah dan usaha untuk menjaga stabilitas umat. Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: "Jika aku memiliki doa yang mustajab, maka akan aku tujukan untuk penguasa, karena kebaikan penguasa akan membawa kebaikan bagi seluruh rakyat dan negeri."

Para ulama mengingatkan bahwa kebiasaan kaum salaf adalah mendoakan kebaikan bagi para pemimpin, bukan melaknat atau mendoakan keburukan atas mereka. Ini agar Allah membimbing penguasa kepada jalan yang lurus dan menjadikan mereka sebagai pelindung bagi rakyat, bukan penyebab kehancuran.


Menjauhi Hasutan, Menerima Keputusan Takdir, dan Menjaga Persatuan Umat:

Para ulama menekankan untuk tidak melakukan pemberontakan atau menghasut masyarakat terhadap penguasa, bahkan ketika terjadi ketidakadilan. Persatuan umat dan menghindari pertumpahan darah lebih diutamakan dibanding melawan penguasa. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu yang berkata: "Wahai manusia, sesungguhnya penguasa ini adalah ujian bagi kalian. Jika dia berlaku adil, maka baginya pahala dan bagi kalian adalah syukur. Jika dia berlaku zalim, maka baginya dosa dan bagi kalian adalah kesabaran."

Demikianlah, dalam menghadapi segala cobaan berupa kezaliman penguasa, Islam mengajarkan kita untuk bersabar, memperbanyak doa, memperbaiki diri, dan menjaga persatuan umat. Pemberontakan atau demonstrasi bukanlah solusi yang diajarkan para ulama salaf, melainkan kesabaran dan introspeksi diri.


METODE SALAF DALAM MENGINGKARI KESALAHAN PENGUASA


METODE SALAF DALAM MENGINGKARI KESALAHAN PENGUASA 



Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya.

Adapun setelah itu: 

Terjadi permasalahan di antara beberapa saudara dalam memahami perkataan para ulama tentang pengingkaran secara terbuka, maka saya menulis artikel ini dengan harapan dapat memberikan solusi atas apa yang sulit dipahami oleh mereka. Saya memohon kepada Allah petunjuk dan ketepatan.

Pertama: 

Kewajiban Menasihati Penguasa

Menasehati penguasa adalah hak mereka dan merupakan kewajiban syar'i bagi rakyat terhadap penguasanya. Beberapa dalil yang menunjukkan hal ini antara lain:

1. Allah Ta'ala berfirman: "Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Ali Imran: 104).


2. Dari Tamim ad-Dari radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Agama itu nasihat." Kami bertanya, "Untuk siapa?" Beliau menjawab, "Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan umatnya secara umum." (HR. Muslim).


3. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah meridhai tiga hal untuk kalian dan membenci tiga hal. Allah meridhai bahwa kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, bahwa kalian berpegang teguh kepada tali Allah secara bersama-sama dan tidak berpecah belah, serta bahwa kalian menasihati orang yang Allah jadikan sebagai penguasa atas kalian. Dan Allah membenci gosip, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta." (HR. Muslim).



Kedua: 

Cara Mengingkari Kemungkaran pada Penguasa

Jika seorang penguasa melakukan kemungkaran, maka pengingkarannya memiliki dua bentuk:

Bentuk Pertama:  ( 1 )

Mengingkari Kemungkaran Tanpa Menyebut Pelakunya

Wajib mengingkari kemungkaran dan maksiat yang muncul secara terang-terangan di tengah masyarakat tanpa menyebut pelakunya, baik pelakunya adalah penguasa atau bukan. 
Misalnya, mengingkari pemberlakuan hukum buatan manusia, riba, kezaliman, minum khamr, dan lainnya. 

Sebagaimana disebutkan dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim 177).


Syaikh Abdulaziz bin Baz berkata dalam Majmu' Fatawa-nya (8/210): 
"Adapun mengingkari kemungkaran tanpa menyebut pelakunya, seperti mengingkari zina, khamr, dan riba tanpa menyebutkan siapa yang melakukannya, maka itu wajib, karena umumnya dalil-dalil syar'i. 
Cukup mengingkari maksiat dan memperingatkan darinya tanpa menyebutkan pelakunya, baik itu seorang penguasa maupun bukan."

Syaikh Abdulmuhsin Al-Abbad dalam artikelnya Hak Penguasa Muslim: Menasihati, Mendoakan, dan Menaati Mereka dalam Hal Kebaikan, menyatakan: "Jika muncul kemungkaran dari pejabat atau orang lain, baik di media atau di tempat lain, maka wajib mengingkari kemungkaran itu secara terbuka sebagaimana kemungkaran itu juga terlihat secara terbuka."

Bentuk Kedua:  ( 2 )

Mengingkari Secara Langsung kepada Pelaku Kemungkaran - dalam Hal Ini Penguasa

Wajib mengingkari penguasa dengan cara yang syar’i, yaitu menasihati mereka dengan lembut secara pribadi, tidak secara terbuka di hadapan umum.

Dalil-dalil yang mendukung metode ini antara lain:

1. Dari Syuraih bin Ubaid al-Hadhrami, dikisahkan bahwa Iyadh bin Ghanm pernah mencambuk seorang tuan rumah setelah penaklukan, lalu Hasyim bin Hakim berbicara kasar kepadanya hingga Iyadh marah. Beberapa malam kemudian, Hasyim datang meminta maaf kepadanya dan berkata, "Tidakkah kau mendengar Rasulullah bersabda: 
'Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya adalah yang paling berat siksaan duniawinya kepada orang lain'?" Iyadh berkata, "Wahai Hasyim, kami telah mendengar apa yang engkau dengar dan melihat apa yang engkau lihat.
 Tidakkah engkau mendengar Rasulullah bersabda:
 'Barangsiapa yang hendak menasihati penguasa dengan suatu hal, maka janganlah dia tampakkan secara terbuka, tetapi hendaklah dia pegang tangannya dan menyendiri dengannya. 
Jika penguasa menerima nasihatnya, maka itulah yang diharapkan, namun jika tidak, maka ia telah menunaikan kewajibannya.' Dan engkau, wahai Hasyim, begitu berani melawan penguasa Allah. 
Tidakkah kau khawatir bahwa penguasa itu akan membunuhmu hingga engkau menjadi korban dari penguasa Allah?" (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah, dishahihkan oleh Al-Hakim dan Al-Albani, serta dianggap baik oleh Bin Baz).


2. Dari Abu Wa’il, ia berkata bahwa ada yang berkata kepada Usamah bin Zaid: "Tidakkah engkau datang kepada Utsman untuk berbicara dengannya?" Usamah menjawab: "Kalian mengira bahwa aku tidak berbicara dengannya kecuali harus didengar oleh kalian? Sungguh, aku berbicara dengannya secara pribadi, tanpa membuka pintu (pengingkaran) yang aku tidak ingin menjadi orang pertama yang membukanya." (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).


Imam An-Nawawi dalam Syarh Muslim (18/160) menjelaskan maksud Usamah: "Perkataannya ‘tidak membuka pintu yang aku tidak ingin menjadi orang pertama yang membukanya’ artinya adalah pengingkaran secara terbuka terhadap penguasa di hadapan umum, sebagaimana yang terjadi pada para pembunuh Utsman radhiyallahu ‘anhu."


Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (13/51) mengutip perkataan al-Muhallab:
 "Mereka ingin agar Usamah berbicara kepada Utsman... 
Usamah berkata, ‘Aku telah berbicara kepadanya secara pribadi tanpa membuka pintu (pengingkaran) terhadap penguasa secara terang-terangan, khawatir bahwa hal itu akan memecah belah kesatuan.’"

Al-Qadhi Iyadh berkata bahwa maksud Usamah adalah tidak membuka pintu pengingkaran terang-terangan kepada penguasa karena khawatir akan akibatnya. Pendekatan yang lembut dan nasihat rahasia lebih memungkinkan untuk diterima.


Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam takhrij-nya terhadap Mukhtashar Shahih Muslim menjelaskan:
 "Yaitu pengingkaran secara terang-terangan terhadap penguasa di hadapan umum, karena pengingkaran secara terbuka dikhawatirkan akibat buruknya, sebagaimana terjadi dalam kasus pengingkaran terhadap Utsman yang secara terbuka hingga berujung pada pembunuhannya."


3. Dari Sa’id bin Jubair, dia berkata, "Aku bertanya kepada Ibnu Abbas, 'Apakah aku harus memerintahkan pemimpinku untuk berbuat baik?' 
Dia menjawab, 'Jika engkau khawatir dia akan membunuhmu, maka jangan. 
Namun jika harus dilakukan, maka lakukanlah antara dirimu dan dirinya, dan jangan menggunjing pemimpinmu.'" (Diriwayatkan oleh Sa'id bin Manshur dalam Sunan-nya, dan hal serupa diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah).


4. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata: "Wahai rakyat, sesungguhnya kami memiliki hak atas kalian: nasihat dalam ketidakhadiran kami dan membantu dalam kebaikan." (Diriwayatkan oleh Hunaad dalam Az-Zuhd 2/602).


5. Imam Ahmad meriwayatkan dari Sa'id bin Jumhan, dia berkata: 
"Aku menemui Abdullah bin Abi Aufa yang sudah buta. Aku memberi salam padanya dan dia bertanya, 'Siapa engkau?' Aku menjawab, 'Aku Sa'id bin Jumhan.' Dia bertanya, 'Apa yang terjadi dengan ayahmu?' Aku menjawab, 'Dia dibunuh oleh kelompok Azariqah (salah satu sekte Khawarij).' Dia berkata, 'Semoga Allah melaknat kelompok Azariqah, mereka adalah anjing-anjing neraka.' Aku bertanya, 'Apakah hanya kelompok Azariqah atau semua kelompok Khawarij?' Dia menjawab, 'Ya, seluruh Khawarij.' Aku berkata, 'Sesungguhnya penguasa menzhalimi manusia dan melakukan berbagai hal kepada mereka.' Dia kemudian menggenggam tanganku erat-erat dan berkata, 'Wahai Sa'id, berpeganglah pada jamaah terbesar (sawad al-a’zam). Jika penguasa mau mendengar perkataanmu, temuilah dia di rumahnya dan beri tahu apa yang kau ketahui. Jika dia menerima, maka baik, jika tidak, tinggalkan dia, karena sesungguhnya engkau bukan orang yang lebih mengetahui darinya.'" (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani, dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Takhrij As-Sunnah 2/523).


6. Diriwayatkan dari Abdullah bin Ukaym, dia berkata: "Aku tidak akan pernah membantu menumpahkan darah seorang khalifah setelah Utsman." Ketika dikatakan kepadanya, 'Wahai Abu Ma’bad, apakah engkau turut serta dalam penumpahan darahnya?' Dia menjawab, 'Aku menganggap bahwa menyebutkan keburukannya termasuk membantu dalam pembunuhannya.'" (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa'd dalam At-Tabaqat 6/115, dan Al-Fasawi dalam Al-Ma'rifah wa At-Tarikh 1/231-232. Disahihkan oleh Abdul Salam bin Barjas dalam Mu’amalat Al-Hukkam 88).



Imam pembaru Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata dalam Ad-Durar As-Saniyyah (9/121): "Kesimpulannya adalah, jika muncul kemungkaran dari seorang pemimpin atau lainnya, hendaknya ia dinasihati dengan lembut secara rahasia, tidak ada yang mengetahuinya. Jika ia setuju, baik, jika tidak, maka ia boleh dibantu oleh seseorang yang dekat dengannya secara rahasia. Jika tidak diterima, maka diperbolehkan pengingkaran secara terang-terangan, kecuali jika menyangkut seorang penguasa. Maka sampaikan perkara ini kepada kami secara rahasia."


Syaikh Abdurrahman As-Sa'di rahimahullah berkata dalam Ar-Riyadh An-Nadhirah 50: "Bagi yang melihat sesuatu yang tidak baik dari penguasa, hendaknya ia menasihatinya dengan rahasia, bukan terang-terangan, dengan lemah lembut dan bahasa yang sesuai dengan situasi."


Syaikh Abdulaziz bin Baz rahimahullah juga menyatakan dalam Majmu' Fatawa (7/306): "Nasehat harus disampaikan dengan cara yang baik, baik dengan menulis maupun secara langsung. Bukanlah termasuk nasehat untuk menyebarluaskan aib-aib atau mengkritik penguasa di atas mimbar dan sejenisnya. Nasehat yang benar adalah dengan mencari cara yang dapat menghilangkan kejahatan dan menegakkan kebaikan dengan cara yang bijaksana yang diridhai Allah."


Syaikh Abdulmuhsin Al-Abbad juga menyatakan dalam artikelnya Hak Penguasa Muslim: "Termasuk hak penguasa Muslim dari rakyatnya adalah menasihati mereka secara rahasia dan dengan kelembutan serta menaati mereka dalam hal yang makruf."


Pengecualian dari Asal Pengingkaran

Pada dasarnya, pengingkaran kepada penguasa harus dengan kelembutan dan secara rahasia, tidak dilakukan secara terbuka di hadapan umum, sebagaimana telah dibuktikan oleh dalil-dalil di atas. Namun, terdapat pengecualian, yaitu:

1. Pengingkaran kepada penguasa boleh dilakukan secara terbuka, dengan syarat:

Dilakukan di hadapan penguasa, bukan di belakangnya.

Ada maslahat yang tercapai dari pengingkaran tersebut.



Dalil pengecualian ini adalah kisah Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu dengan Marwan, Amir Madinah, ketika ia mendahulukan khutbah sebelum shalat Id. Abu Sa'id mengingkari perbuatannya. (Diriwayatkan oleh Bukhari no. 956). Alasannya, Abu Sa'id ingin mencegah kemungkaran yang akan dilakukan Marwan di depan umum, sehingga pengingkaran tersebut tidak dapat ditunda.

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam Syarh Muslim (18/160) tentang tindakan Usamah: 
"Dalam hadits ini terkandung adab terhadap para penguasa, kelembutan kepada mereka, menasihati mereka secara rahasia, serta menyampaikan apa yang dikatakan orang-orang mengenai mereka agar mereka menghindarinya. Semua ini dilakukan jika memungkinkan. Jika tidak memungkinkan menasihati secara rahasia, maka boleh dilakukan secara terbuka agar hak tidak terabaikan."


Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata dalam Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh (3/353-359):
 "Namun kita harus memahami bahwa perintah syar'i dalam hal ini mempunyai tempatnya dan harus dilakukan dengan kebijaksanaan. Jika kita melihat bahwa pengingkaran secara terbuka dapat menghilangkan kemungkaran dan menghasilkan kebaikan, maka lakukanlah secara terbuka. 
Jika tidak, dan justru menambah kebencian penguasa kepada para pengingkar dan orang-orang baik, maka lebih baik dilakukan secara rahasia. Dengan ini, dalil-dalil yang menganjurkan pengingkaran terbuka dan rahasia dapat dipadukan. 
Pengingkaran terbuka dilakukan jika ada maslahat yang diharapkan, yaitu tercapainya kebaikan dan hilangnya keburukan. 
Sedangkan pengingkaran secara rahasia dilakukan jika pengingkaran terbuka justru menambah keburukan dan tidak menghasilkan kebaikan."


Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: 
“Kewajiban kita adalah menasihati para penguasa secara rahasia sebagaimana disebutkan dalam teks yang dibawakan oleh penanya. 
Kami katakan: dalil-dalil tidak saling bertentangan dan tidak saling bertolak belakang. 
Maka pengingkaran boleh dilakukan secara terang-terangan apabila ada maslahat, yaitu ketika keburukan dapat dihilangkan dan kebaikan dapat diwujudkan. Namun, pengingkaran dilakukan secara rahasia jika menyampaikan secara terbuka tidak menguntungkan maslahat, yaitu ketika keburukan tidak hilang dan kebaikan tidak terwujud.”

Di sini, Syaikh mensyaratkan adanya maslahat untuk memperbolehkan pengingkaran secara terbuka di hadapan penguasa.

Kemudian Syaikh Muhammad bin Utsaimin ditanya dalam majelis yang sama: 
“Wahai Fadhilatus Syaikh, apakah maksud dari perkataan Anda sebelumnya dalam masalah pengingkaran terhadap penguasa berarti tidak boleh mengingkari kemungkaran yang ada di masyarakat secara terang-terangan?”

Beliau menjawab:
 “Tidak. Kami berbicara tentang pengingkaran terhadap penguasa, bukan dalam mengingkari kemungkaran yang umum tersebar di masyarakat.”

Beliau melanjutkan: 
“Saya katakan bahwa mengingkari kemungkaran yang tersebar di masyarakat adalah sesuatu yang dianjurkan dan tidak ada masalah dalam hal itu. Namun, pembicaraan kami adalah tentang pengingkaran terhadap penguasa. Misalnya, seseorang berdiri di masjid dan berkata, ‘Negara ini telah berbuat zalim, negara ini telah melakukan ini dan itu,’ lalu ia berbicara tentang para penguasa secara terbuka sementara yang bersangkutan tidak hadir di majelis tersebut.”

Beliau melanjutkan: “Ada perbedaan antara apabila seorang pemimpin atau penguasa yang akan Anda bicarakan hadir di hadapan Anda atau tidak.
 Karena seluruh pengingkaran yang dilakukan oleh para salaf terjadi di hadapan penguasa. 
Jika ia hadir, maka ia bisa membela diri dan menjelaskan pandangannya, mungkin ia benar dan kita yang salah.
 Namun jika ia tidak hadir, maka ia tidak dapat membela dirinya.
 Hal ini termasuk perbuatan zalim. 
Maka wajib untuk tidak berbicara tentang penguasa yang tidak hadir. 
Jika Anda benar-benar menginginkan kebaikan, maka datanglah kepadanya, temui, dan nasihatilah dia secara pribadi.”

Dalam perkataan ini, Syaikh mensyaratkan bahwa pengingkaran secara terang-terangan kepada penguasa hanya diperbolehkan jika penguasa tersebut hadir, bukan jika ia tidak hadir.

Ditulis oleh: Prof. Dr. Syaikh Hamad bin Muhammad Al-Hajri
Dosen Fakultas Syariah di Universitas Kuwait