Selasa, 18 Maret 2025

QIYAMUL LAIL


Tentang Qiyam al-Lail


Segala puji bagi Allah yang Maha Esa dalam keagungan-Nya, yang Maha Suci dari persekutuan dan kefanaan, yang Maha Mengetahui segala sesuatu, yang tidak diawali oleh permulaan dan tidak diakhiri oleh kesudahan, yang Maha Mendengar sehingga tidak tersembunyi bagi-Nya suara-suara yang beragam di berbagai bahasa, yang Maha Melihat sehingga dapat melihat langkah semut di malam yang gelap, yang Maha Mengetahui sehingga tidak ada satu atom pun yang luput dari-Nya, baik di bumi maupun di langit, yang Maha Penyantun sehingga kemurahan-Nya mencurahkan penutup dan perlindungan yang indah bagi hamba-Nya, yang Maha Memberi Nikmat sehingga karunia-Nya menyelimuti segala sesuatu, yang Maha Bijaksana sehingga meninggikan bintang-bintang di ketinggian langit dan menggantungkan bumi di udara serta menjadikan air sebagai dasar yang mengalir di seluruh alam, yang Maha Suci dari segala sekutu, teman, anak, dan pasangan, yang Maha Mengetahui sehingga tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya dalam setiap waktu dan keadaan, serta tidak ada sesuatu pun yang samar bagi-Nya di bumi maupun di langit.

Syair:
Maha Suci Tuhan yang meliputi segala sesuatu,
Maha Suci Tuhan yang tak tertutupi oleh apa pun dan tak terhalang.

Yang mengetahui segala rahasia, walaupun samar, tetap Ia memaafkan,
Di depan pintu-Nya ada hijab, tetapi...

Ia memiliki masjid yang dipenuhi oleh orang-orang yang menangis,
Mereka bersimpuh memohon perlindungan dari api neraka.

Ia mengampuni keburukan perbuatan di hari pembalasan,
Dialah yang di belakang tabir-Nya terdapat suara doa.

Wahai orang yang lalai, bangunlah dan bergegaslah!
Ambillah bagian dari karunia-Nya dengan limpahan anugerah. Maha Suci Dia yang menentukan zaman dan membedakan musim, yang menenggelamkan akal dan pikiran dalam lautan pengetahuan tentang-Nya, dan menyucikan hati dari segala prasangka agar mencapai makrifat yang benar.

Allah telah mengkhususkan bulan Ramadan dengan ampunan, ridha, dan penerimaan. Dia menjanjikan bahwa puasa di bulan ini akan mencapai tujuan yang diharapkan. Maka beruntunglah orang yang menyambutnya dengan amal saleh, menyucikan anggota tubuh dari keraguan dan keburukan hati.

Maka, wahai orang yang lalai, tinggalkan kelalaian!
Segeralah selagi masih ada waktu sebelum perjalanan umur berakhir. Bulan telah berlalu, maka bangkitlah, wahai orang yang berakal! Ingatlah Tuhan yang tidak akan meninggalkanmu.

Letakkan pipimu di pintu harapan, karena engkau di malam hari tidak berbeda dengan orang yang malas. Bersungguh-sungguhlah dalam puasa bulan ini, mudah-mudahan engkau meraih penerimaan dari Allah. Ikutilah jalan yang benar, dan kobarkan semangatmu dengan petunjuk Rasul. Semoga shalawat senantiasa tercurah kepada Rasul yang terpilih, selama bintang-bintang masih beredar antara timur dan barat.

Segala puji bagi Allah yang telah memilih suatu kaum dengan kelembutan-Nya, dan menyibukkan mereka dengan kecintaan-Nya. Maka ketika mereka mengetahui kehinaan kesibukan dengan selain-Nya, mereka berpuasa dari syahwat, menjauhi kelezatan, serta menjaga maksud dan amal mereka. Mereka membiasakan diri dengan puasa, menegakkannya dalam aturan yang telah ditentukan, dan bangun di malam-malam yang panjang. Mereka mendengar dalam hadits shahih bahwa puasa adalah perisai dari keburukan perbuatan dan kehinaan akhlak.

Maka beruntunglah orang yang diterima amalnya dalam bulan ini, dan sungguh celaka orang yang di bulan ini masih melakukan dosa dan kesia-siaan. Ia tidak menjaga puasanya dari hal-hal yang haram, serta tidak menjaga lisannya dari ucapan yang sia-sia. Dengarkanlah apa yang dikatakan oleh Sya’ban kepada Ramadhan, seakan-akan ia berbicara: "Wahai bulan yang penuh kesungguhan dan ketakwaan, apakah engkau tidak malu kepada-Ku? Engkau datang dengan penuh kesungguhan sementara Aku dilalaikan dengan berbagai kebatilan." Wahai bulan yang penuh keberkahan, di manakah engkau dari bulan yang di dalamnya banyaknya keburukan?

Apa yang ada padamu yang menjadikanmu tentram, dan apa yang ada pada selainmu yang menjadikanmu resah? Apa yang memperbaiki dirimu, wahai sahabat? Hanya sekadar perkataan dan ucapan belaka? Tidakkah engkau merenungkan perjalanan dalam puasa, tidak takut dari tidur yang melalaikan? Maka, berjihadlah di malam hari dan beramal di siang hari. Tetaplah berada di jalan ini dengan istiqamah, sempurnakan puasamu dengan penuh keridhaan, agar Allah meridhaimu dan memperbaiki keadaanmu."

Maha Suci Allah yang membangunkan hamba-hamba-Nya yang tertidur, menyadarkan mereka dari kelalaian yang berkepanjangan, dan mengarahkan mereka kepada kemuliaan ibadah. 

Mereka berlomba-lomba dalam menggapai ridha-Nya ketika orang lain sibuk dengan urusan dunia. Mereka berdagang dengan Tuhan mereka dan meninggalkan perniagaan dengan makhluk ketika datang waktu pertimbangan. 

Jika mereka diberi ujian, mereka menilainya sebagai bentuk karunia-Nya. Jika mereka diberi nikmat, mereka menyadari bahwa keuntungan dalam hubungan mereka dengan-Nya jauh lebih besar. 

Oleh karena itu, mereka mengorbankan dunia untuk akhirat, dan mereka memahami bahwa dalam muamalah dengan Tuhan, mereka tidak akan pernah merugi. Maka jadilah mereka sebagai panji-panji hidayah bagi yang datang sesudahnya.

Maha Suci Allah Yang Maha Lembut, Yang telah mengutus seorang pemimpin bagi umat ini sebagai penyempurna kebaikan-Nya. 

Dia mengutuskannya dengan keutamaan-keutamaan yang berlimpah, menjadikannya sebagai lautan kasih sayang dan pengampunan, serta rahmat yang luas bagi seluruh makhluk-Nya.

Aku memuji-Nya atas segala nikmat dan kebaikan-Nya.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Kesaksian ini ringan di lisan tetapi berat di timbangan. 

Dan aku bersaksi bahwa junjungan kita, Nabi Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya, pemimpin orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah. 

Semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya, kepada para sahabatnya yang mulia, serta kepada para pengikutnya yang berbuat ihsan.

Allah Ta’ala berfirman:

أَمَّنْ هُوَ قَٰنِتٌ ءَانَآءَ ٱلَّيْلِ سَاجِدًا وَقَآئِمًا يَحْذَرُ ٱلْءَاخِرَةَ وَيَرْجُوا۟ رَحْمَةَ رَبِّهِۦ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ ﴿٩﴾

"(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, "Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran." (Az-Zumar: 9)

Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa ia membaca ayat ini, lalu ia berkata: "Itu adalah Utsman bin Affan."

Ibnu Umar berkata demikian karena banyaknya shalat malam yang dilakukan oleh Amirul Mukminin Utsman bin Affan serta bacaannya (terhadap Al-Qur'an), bahkan sering kali beliau membaca Al-Qur’an dalam satu rakaat.
Dalam perkataan ini terdapat pujian bagi orang yang memiliki sifat tersebut.

Abu Dzar berkata: "Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ: Salat malam manakah yang paling utama?"
Beliau bersabda: "Pada pertengahan malam, tetapi hanya sedikit yang melaksanakannya."

Nabi Dawud berkata: "Wahai Tuhanku, pada waktu manakah aku harus bangun (untuk beribadah)?"
Maka Allah mewahyukan kepadanya: "Wahai Dawud, janganlah engkau salat pada awal malam lalu meninggalkannya, tetapi hendaknya engkau bangun pada pertengahan malam hingga engkau menyendiri bersama-Ku dan Aku mengangkat doamu kepada-Ku."

Maka selayaknya bagi orang yang mendapat taufik, yang mengharap pahala dari Allah dan takut terhadap kedahsyatan akhirat, untuk tidak menyia-nyiakan ibadah ini, khususnya pada malam-malam sepuluh terakhir Ramadan. Karena Ramadan adalah bulan yang di dalamnya puasa merupakan salah satu rukun Islam, dan mendirikan salat malam di dalamnya merupakan sunah yang dikukuhkan.

Rasulullah ﷺ biasa menghidupkan malam dengan salat di bulan Ramadan. Dan beliau ﷺ membuka salat malamnya dengan doa istiftah:

اللهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ، وَمِيكَائِيلَ، وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيم

"Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui perkara ghaib dan nyata. Engkaulah yang akan menghakimi di antara hamba-hamba-Mu dalam perkara yang mereka perselisihkan. Maka berilah aku petunjuk kepada kebenaran dalam perkara yang mereka perselisihkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus."

Dan Hudzaifah pernah shalat bersamanya pada suatu malam di bulan Ramadan. Beliau membaca (surah) Al-Baqarah, kemudian Ali ‘Imran. Beliau tidak melewati ayat yang mengandung ancaman kecuali berhenti untuk berdoa, dan tidak melewati ayat yang mengandung kabar gembira kecuali berhenti untuk memohon. Beliau tetap berdiri hingga datang Bilal mengumumkan azan untuk shalat.

Ketahuilah bahwa puasa dan qiyam memiliki adab.

Adab puasa mencakup: menjaga anggota tubuh lahiriah dan mengawasi bisikan hati yang tersembunyi.

Seyogianya seseorang menyambut Ramadan dengan niat yang tulus, ketaatan yang jujur, dan tekad yang benar. Tidak boleh tidak, ia harus menjaga lisannya dari perkataan keji dan ghibah. Karena tidaklah seseorang dikatakan berpuasa jika ia masih terus memakan daging manusia (berghibah), dan tidaklah puasa seseorang sempurna jika ia masih membiarkan pandangannya melihat yang haram.

Syair:

Hak bulan puasa itu ada dua bagian, jika engkau termasuk orang yang mengagungkan hak puasa.
Engkau menahan diri dari makan di siang hari yang diberkahi,
Dan engkau menegakkan di kegelapan malam dalam qiyam.

Di antara adab qiyam adalah bahwa seseorang harus mengikhlaskan amalnya pertama kali untuk Allah,
Dan tidak berjalan di atas keuntungan, serta memperpanjang bacaan, rukuk, dan sujud.

Wahai hamba Allah,
Bulan kalian ini tidak ternilai harganya, dan tidak bisa ditebus dengan kelalaian.

Wahai orang yang menyia-nyiakan waktu,
Apa yang telah berlalu dalam kebaikan, maka lanjutkanlah dalam berbuat baik.
Dan wahai jiwa yang buruk, tinggalkanlah kelalaian dan jangan menunda-nunda.
Jika engkau kehilangan (kesempatan) di bulan ini, kapan lagi engkau akan kembali?
Jika engkau lalai dari keuntungan di dalamnya, kapan lagi engkau akan memperoleh manfaat?

Bagaimana bisa seseorang berpuasa namun tidak menegakkan shalat malam?
Jika ia menunggu waktu Isya, maka ia banyak tidur di malam hari.
Jika ia mengantuk, ia tidur dan kehilangan waktu sahur,
Jika ia sahur, ia tidur di siang hari dengan kemalasan.
Apa yang dilihat oleh Ramadhan darimu?
Ia melihatnya sebagai (bukti) pemutusan hubungan yang menyedihkan bagi orang-orang yang lalai.
Seakan-akan mereka kehilangan satu hari dari Ramadhan,
Sementara engkau justru dalam kondisi lalai, malas, dan lalai.

Abu Dzar radhiyallahu anhu berkata kepada orang-orang: "Bagaimana menurut kalian jika salah seorang di antara kalian hendak melakukan perjalanan, bukankah ia akan mengambil bekal yang dapat memperbaikinya dan menyampaikannya ke tujuan?" Mereka menjawab, "Tentu!" Maka ia berkata, "Perjalanan menuju hari Kiamat lebih jauh. Maka ambillah bekal yang dapat memperbaiki kalian."

"Perhatikanlah perkara-perkara besar, berpuasalah pada hari yang sangat panas untuk menghadapi panasnya hari kebangkitan. Shalatlah dua rakaat dalam kegelapan malam sebagai bekal menghadapi gelapnya kubur. Bersedekahlah secara diam-diam sebagai perlindungan dari hari yang sulit."

"Dan semoga Allah memberi taufik, sesungguhnya keutamaan shalat malam dibandingkan shalat siang adalah lebih dekat kepada keikhlasan, lebih kokoh dalam menyatukan hati dan lisan, mengusir penyakit dari tubuh, serta meringankan perhitungan (hisab) di akhirat."

Dikatakan dalam Syair ;

Perpanjanglah puasa dengan shalat malam sebagai ibadah,
Berdirilah dalam sunyi malam dan bacalah Kitab, janganlah engkau tidur.

Sungguh, esok datang berita yang pasti,
Engkau akan dipindahkan dari tempat tidur ke dalam kafan.

Wahai orang yang matanya menangis dalam kerinduan malam,
Karena takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, menangis dengan air mata yang deras.

Maka demi Allah, dosa-dosanya akan diampuni tanpa perhitungan,
Karena setiap malam ia diberi pahala malam Lailatul Qadr.

Mereka akan bertanya: Apakah ada orang yang bertanya tentangnya?
Maka aku akan menjawab: Aku adalah orang yang dekat, aku menjawab seruan mereka.

Abu Hanifah (semoga Allah meridhainya) memiliki wajah yang bercahaya karena seringnya shalat. Ia tidak pernah tidur di malam hari, dan dijuluki "Al-Watad" (tiang) karena seringnya shalat. Ia biasa mengajarkan shalat subuh dari wudhu shalat Isya' berulang kali selama empat puluh tahun. 

Sepanjang malam, ia membaca seluruh Al-Qur'an dalam satu rakaat. Ia juga sering menangis karena takut kepada Allah hingga para tetangganya merasa iba kepadanya.

Ia mengkhatamkan Al-Qur'an di tempat dimana beliau wafat sebanyak tujuh ribu kali.

"Diriwayatkan bahwa beliau - Abu Hanifah  rahimahullah - mengerjakan salat lima waktu dengan satu wudu.

Malik bin Anas, ketika memasuki rumahnya, kesibukannya adalah mushaf dan membaca Al-Qur’an.

Imam Syafi’i membagi malam menjadi tiga bagian: sepertiga pertama ia menulis, sepertiga kedua ia salat, dan sepertiga terakhir ia tidur.

Ahmad bin Hanbal—semoga Allah merahmatinya—mengerjakan 300 rakaat dalam sehari semalam. 

Suatu malam, Abu Ashim menginap di rumahnya. Ketika pagi tiba, Ahmad melihat air wudu yang diletakkan di sisinya masih utuh, lalu ia berkata, 'Subhanallah! Seorang laki-laki yang mencari ilmu, tetapi tidak memiliki wirid di malam hari?!'

Wahai hamba-hamba Allah! Hari-hari kalian adalah perjalanan, dan malam kalian adalah kendaraan. Kalian pasti akan berangkat, sebagaimana orang-orang terdahulu telah pergi. Tempat tujuan kalian adalah kuburan, itulah rumah-rumah sejati. Maka hendaklah orang-orang yang datang belakangan mengambil pelajaran dari yang terdahulu."

"Dengarkanlah, wahai orang yang yakin bahwa tiada keraguan bahwa ia adalah seorang musafir, sedangkan ia tidak memiliki bekal atau perbekalan.

Maka bangunlah, wahai saudaraku, di waktu malam, dalam keadaan penuh kasih sayang kepada orang yang meminta dan menanggapi seruan: 'Adakah orang yang meminta?' Agar kamu mendapatkan anugerah penerimaan, menang dengan mendapatkan yang dimaksud, dan meraih tujuan serta harapan.

Wahai kaum yang berpuasa, waspadalah terhadap segala bentuk kebohongan dan kesalahan. Jagalah puasa kalian demi pahala dan ganjaran, jauhilah caci maki, celaan, dan perkataan dusta. Sebab, orang yang merugi dan tertipu adalah yang beribadah tetapi tidak meninggalkan dusta. Barang siapa berpuasa tetapi tidak meninggalkan dusta, maka ia tidak benar-benar berpuasa. Jika kalian menginginkan kedekatan di surga dan istana (dalamnya), maka bersungguh-sungguhlah dalam beristighfar saat sahur, karena di dalamnya terdapat keberkahan.

Hal ini telah disebutkan dalam hadits yang masyhur. Jauhilah segala bentuk maksiat, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dikatakan bahwa puasa tidak diterima dari seseorang yang tidak meninggalkan kebohongan dalam perkataan dan perbuatannya. Maka, carilah keridhaan Tuhan kalian dalam waktu ini yang penuh kemuliaan."**

 Disebutkan dalam syair;

Sungguh beruntung orang-orang yang bangun di malam hari,
Mereka menyeru Tuhan mereka dengan sepenuh hati.
Kaum yang beriman kepada-Nya dengan penuh kesetiaan,
Mereka tinggalkan kelalaian dan nikmat dunia yang fana.

Mereka berdiri untuk memohon cinta yang agung,
Menutup wajah mereka dengan air mata kerinduan.
Wajah mereka bersinar dengan cahaya kebahagiaan,
Dan air mata mereka mengalir di waktu malam.

Lalu pagi pun tersenyum melihat tangisan mereka,
Di siang hari mereka terlihat bersinar bahagia.
Malam menjadi saksi keluhuran jiwa mereka,
Begitu juga siang menyaksikan kemuliaan hati mereka.

Mereka hidup dalam keridhaan Sang Kekasih,
Dan kelak di hari pertemuan, wajah mereka berseri.

 Fasal; 


Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّا سَنُلْقِى عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا ﴿٥

إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيْلِ هِىَ أَشَدُّ وَطْـًٔا وَأَقْوَمُ قِيلًا ﴿٦

"Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam itu lebih kuat (mengisi jiwa) dan lebih berkesan dalam membaca." (QS. Al-Muzzammil: 5-6)

Para ulama berkata: "Tahajjud tidak terjadi kecuali setelah tidur, sedangkan Qiyamullail tidak terjadi kecuali setelah bangun tidur."

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram. Dan salat yang paling utama setelah salat fardhu adalah salat malam."
(Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lainnya.)

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
"Barang siapa yang mendirikan salat pada malam Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."

An-Nakha’i berkata:
"Puasa sehari di bulan Ramadhan lebih utama dari seribu hari lainnya. Tasbih yang dibaca di dalamnya lebih utama dari seribu tasbih, dan satu rakaat di dalamnya lebih utama dari seribu rakaat."

Dalam Syair dikatakan: 

"Jagalah kewajiban dengan penuh ketulusan,
Ambillah bagian dalam tahajud di waktu sahur.
Saat kau berdiri di malam hari, berserulah dengan harapan,
Dekatkanlah hatimu dengan munajat yang penuh ketundukan.
Hulurkan tanganmu kepada-Nya dengan kerendahan diri,
Lihatlah, bagaimana air matamu menetes deras."

"Di waktu malam, amal ibadah dan amal orang tidur berbeda,
Siapa yang tidak ikut serta dalam kelezatan ibadah, ia akan rugi.
Tidak aman dari malapetaka mereka yang tenggelam dalam lalai dan malas.
Setiap malam, Allah menurunkan rahmat ke langit dunia,
Berseru: Adakah yang bertaubat agar Aku menerima taubatnya?
Adakah yang memohon ampun agar Aku mengampuninya?
Adakah yang berdoa agar Aku mengabulkan doanya?
Hingga fajar terbit, dan mereka yang menangis di malam hari mendapatkan pahala."

Dalam Syair dikatakan: 

"Kami adalah hamba yang apabila ditimpa cobaan, kami memohon karunia-Nya,
Kami bersyukur atas nikmat-Nya dan mengagungkan-Nya.
Kami bertanya saat istighfar: Adakah yang bertaubat?
Wahai para pendiri malam, berlemah lembutlah kepada yang tertidur,
Wahai hati yang hidup, kasihilah mereka yang telah mati."

Ibn al-Sammak, rahimahullah, berkata:
Aku sedang duduk di depan pintu rumahku ketika seorang lelaki dari saudara-saudaraku datang menemuiku. Ia berkata, "Wahai Abu Bakr, aku memiliki seorang anak yang termasuk di antara ahli ibadah dan orang-orang yang ikhlas dalam niatnya. Ia menghidupkan malam dengan salat dan berpuasa di siang hari. Namun, meskipun begitu, ia tidak bisa menahan diri dari menangis."

"Aku telah melarangnya dari perbuatannya itu dengan tanganku sendiri karena aku takut ia akan binasa. Aku ingin ia bersikap lembut terhadap dirinya sendiri, maka aku menyuruhnya untuk tidur di malam hari, meskipun hanya satu kali, agar ia memiliki kekuatan untuk beribadah kepada Allah."

Ibn al-Sammak berkata, "Jika Allah menghendaki, ia akan tidur."

Kemudian tiba-tiba muncul di hadapan kami seorang pemuda dengan wajah yang bercahaya seperti lentera. Tubuhnya kurus. Orang itu berkata, "Wahai Abu Bakr, inilah anakku."

Aku pun berkata kepadanya, "Kekasihku, sesungguhnya Allah telah mewajibkan ketaatan kepadamu kepada ayahmu dan melarangmu untuk mendurhakainya. Dan engkau telah meminta kepadaku suatu nasihat. "

Ia berkata: "Apa itu, wahai Syaikh?" Aku menjawab: "Engkau berbuka puasa pada hari Jumat dan bangun di malam hari untuk shalat, karena dengan itu engkau menguatkan diri untuk beribadah kepada Allah." Ia berkata: "Demi Allah, engkau telah meminta kepadaku untuk lalai dalam beramal sebelum datangnya ajal."

"Wahai Guru, sesungguhnya aku berjanji dengan saudara-saudaraku untuk berlomba dalam kebaikan, dan aku khawatir amalanku akan diperlihatkan di hadapan amalan mereka, lalu dalam amalanku terdapat kekurangan. Maka sungguh buruk keadaanku jika aku diberitahu bahwa mereka telah mendahuluiku dalam kebaikan!"

"Wahai Abu Bakar, seandainya engkau melihat saudara-saudaraku di malam hari, mereka telah meninggalkan tempat tidur, menunggangi kendaraan di kegelapan, dan menempuh perjalanan malam sementara manusia terlelap dalam tidur. Mereka telah sampai di tempat yang tinggi dengan kesungguhan. Apakah engkau ingin aku bersikap lemah, wahai Syaikh, dengan sikap meremehkan? Demi Allah, aku tidak akan bersikap lemah dan akan bersungguh-sungguh sampai aku menyusul mereka dalam kemenangan!"

Cinta kepada seseorang yang telah menguasai hatiku

Aku tidak akan melanggar perintah orang yang kucintai,
dan aku tidak akan menentang para musuhku dalam mencintainya.
Aku tidak akan menjadikan kesenanganku sebagai tangisan kesedihan,
dan aku tidak akan menyembunyikan rahasia cintaku dalam ketakutan.
Aku tidak akan mengampuni seseorang yang mencelaku karena cintaku,
dan aku tidak akan meninggalkan penderitaanku serta tangisku.
Aku akan menghiasi kelopak mataku dengan air mata kesedihan,
dan aku akan menghitamkan pelupuk mataku dengan kesaksian cintaku.

Namun, mereka tidak mengetahui betapa sakitnya hatiku.

Saudara-saudaraku!
Keuntungan yang berharga tidak boleh disia-siakan dalam hari-hari yang agung ini,
karena tidak ada gantinya dan tidak ada nilainya yang sebanding.
Bergegaslah dalam beramal, karena tergesa-gesa lebih baik sebelum penyesalan datang. 

Sebelum orang yang lalai menyesali apa yang telah ia lakukan; sebelum ia meminta kesempatan untuk kembali dan melakukan amal saleh, namun tidak dikabulkan atas apa yang ia minta; sebelum kematian menjadi penghalang antara harapan dan pencapainya; sebelum seseorang berada dalam penyesalan karena apa yang telah ia lakukan.

Al-Bukhari dan al-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya."

Hadis ini memiliki makna seperti yang dikatakan sebagian ulama bahwa niat adalah syarat sah puasa. Dan Allah lebih mengetahui.

Al-Tirmidzi juga meriwayatkan dari Sahl bin Sa’d dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
"Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pintu yang disebut al-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melaluinya. Siapa yang memasukinya, maka ia tidak akan pernah merasa haus selamanya."

Saudara-saudaraku,
Ini adalah bulan kesucian, bulan ketulusan dalam muamalah dan kesetiaan. Beruntunglah orang-orang yang berpuasa dan meninggalkan syahwat, serta menyendiri dalam kesunyian untuk membaca ayat-ayat peringatan dengan penuh kekhusyukan. Mereka mendapatkan pahala berlipat ganda, tempat tinggal mereka di surga dijanjikan dalam istana yang megah dan tinggi. Sabar pun menjadi sedikit dibandingkan dengan besarnya balasan yang mereka terima atas perbuatan baik mereka. Bahkan dosa-dosa mereka diampuni dan kesalahan mereka dihapuskan.

Namun, betapa celakanya orang-orang yang lalai dari amal perbuatan baik! Mereka telah mengharamkan diri dari amal kebaikan, mengabaikan puasa terus-menerus, dan menghabiskan waktu dengan kelalaian dan kesia-siaan.

Wahai orang-orang yang mengabaikan perjanjian dengan Allah!
Bertaubatlah, karena bulan ketulusan telah datang kepada kalian. Bulan ini adalah bulan keridhaan dan ampunan, jangan sampai kalian diharamkan darinya! Demi Allah, dosa-dosa telah dihapuskan dalam bulan ini, karena bulan ini memiliki keutamaan yang tidak dimiliki bulan lainnya.

Maka, manfaatkanlah malam-malamnya yang bercahaya. Berusahalah dengan air mata penyesalan, mohonlah kepada Allah dengan penuh kerendahan hati. Sebab, Dialah yang menghapus dosa dan menerima taubat dengan kelembutan-Nya.

Para salafush shalih senantiasa melazimi shalat malam, terutama pada malam-malam bulan Ramadhan.

Maka seyogianya bagi orang yang shalat untuk menghadirkan hati dengan penuh kesadaran, mengharap pahala dari Allah Ta'ala dalam shalatnya, serta berusaha untuk ikhlas dan khusyuk dalam shalatnya. Sebab, khusyuk adalah inti dari shalat.

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
"Perkara pertama yang akan diangkat dari umat ini adalah khusyuk, hingga engkau tidak lagi melihat seorang pun yang khusyuk."

Ketika hati lalai dari tadabbur (merenungkan) Al-Qur'an, dan tubuh hanya sekadar berdiri di tempat sementara hatinya berada di tempat lain, maka sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan tubuh, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal perbuatan.

Rabi'ah Al-Adawiyah pernah sakit suatu kali, lalu dia tetap melaksanakan shalat dengan wiridnya di siang hari. Dia terbiasa dengan hal itu dan tidak pernah meninggalkan shalat malam. Pada suatu malam, ia membaca ayat hingga seakan-akan ia melihat dirinya telah sampai ke sebuah taman hijau yang luas, di dalamnya terdapat rumah dengan pintu terbuka. Dari rumah itu terpancar cahaya yang hampir menyilaukannya. Lalu keluarlah dari rumah itu para pemuda dengan wajah bersinar, tangan mereka membawa obor cahaya.

Rabi'ah bertanya kepada mereka: "Siapakah kalian, dan apa yang kalian inginkan?"
Mereka menjawab: "Kami datang untuk menghadiri majelis ilmu di lautan cahaya."
Rabi'ah bertanya: "Apakah kalian mengenal perempuan ini?"
Mereka menjawab: "Ya, perempuan ini memiliki bagian di dalamnya."

Maka Rabi'ah pun tersenyum, lalu ia kembali kepada dirinya, bangkit, dan melanjutkan ibadahnya dengan penuh semangat dan ketenangan.

Kemudian berkata; 

Salatmu adalah cahaya, ibadahmu adalah kedekatan, dan tidurmu adalah kebalikan dari salat.

Seorang ulama dahulu sering bangun untuk salat malam, tetapi suatu malam ia tidak melakukannya. Kemudian, ia melihat dalam mimpinya dua orang laki-laki berdiri di hadapannya. Salah satu dari mereka berkata kepada yang lain: "Orang ini termasuk mereka yang memohon ampun di waktu sahur, tetapi ia telah meninggalkannya."

Wahai orang yang hatinya telah berpaling, siapapun yang memiliki waktu bersama Allah tetapi meninggalkannya, maka ia telah kehilangan.
Bangun di waktu sahur akan merasa asing darimu, puasa di siang hari akan menanyakan tentangmu, malam-malam pertemuan telah meninggalkanmu.
Apakah fajar akan menyinarimu? Apakah engkau merindukan pertemuan?
Hijrahmu telah lama bagi kami, maka kembalilah kepada kami dengan penuh kasih, dan jangan mengambil cinta selain cinta kami sebagai agamamu.

Wahai kaum!
Tidakkah kalian menghadap kepada Tuhan Yang Maha Pengasih di bulan ini? Tidakkah kalian menginginkan apa yang telah Allah persiapkan bagi orang-orang yang taat di surga? Tidakkah kalian mencari apa yang diberitakan tentang kenikmatan abadi, meskipun ia bukanlah sesuatu yang dapat dibandingkan dengan kenikmatan dunia?

Syair:
Siapa yang menolak kerajaan surga
dan lebih memilih kegelapan kesengsaraan?
Tidakkah sebaiknya ia beralih menuju cahaya Al-Qur'an
dan berpuasa demi kebahagiaan abadi?
Sungguh, hidup sejati adalah di sisi Allah,
di negeri keamanan dan kedamaian.

Diriwayatkan dari Malik bin Dinar – rahimahullah – bahwa ia berkata:
"Aku memiliki kebiasaan membaca Al-Qur’an setiap malam. Suatu malam aku tertidur dan dalam mimpi, seorang budak perempuan yang sangat cantik datang kepadaku. Di tangannya ada lembaran. Ia bertanya kepadaku, 'Apakah engkau membaca dengan baik?' Aku menjawab, 'Ya.' Lalu ia menyerahkan lembaran itu kepadaku. Ketika aku membacanya, tertulis di dalamnya ;

**"Tinggalkanlah tidur dari mengejar angan-angan dan dari pertemuan yang sia-sia di taman-taman. Engkau hidup dalam kelalaian tanpa mati di dalamnya, dan engkau bermain-main di dalam kemah bersama para pemalas. Bangunlah dari tidurmu! Sungguh, yang terbaik adalah siapa yang sadar!

Wahai yang jauh dari sifat-sifat para pecinta! Wahai yang terlambat dari kebersamaan dengan orang-orang yang benar! Wahai yang lalai dari keadaan ahli keyakinan! Wahai yang kurang dalam meniru para hamba yang tekun! Dengarkanlah sifat-sifat mereka, lalu kenalilah keistimewaan mereka. Mereka adalah kaum yang telah meninggalkan dunia dan meninggalkannya dengan penuh kesadaran, serta mencari akhirat dengan kesungguhan.

Jika siang tiba, mereka menyibukkan diri dengan puasa. Dan jika malam datang, mereka menghidupkannya dengan qiyam (shalat malam). Pandangan mereka tajam dalam melihat aib dunia dan keburukannya. Mereka sadar betapa cepatnya dunia hancur, dan apa yang mereka bangun di dalamnya hanyalah sementara.

Mereka melihat tanda-tanda petunjuk, lalu mereka pun tegak mengikuti petunjuk itu. Mereka mencari keridhaan Tuhan mereka dengan apa yang mereka temukan. Maka ingatlah! Saat malam menjadi gelap, mereka menghadapkan kaki-kaki mereka dalam ibadah dan meluruskan tubuh mereka. Dan jika siang datang, mereka menjalankannya dengan puasa, menjaga diri dari perkara haram, serta menahan diri darinya."**

Diriwayatkan dari sebagian salaf bahwa dikatakan:
"Kami telah diberitahu bahwa sebuah hidangan akan disiapkan bagi orang-orang yang berpuasa. Mereka akan makan darinya sementara orang-orang lain sedang dalam perhitungan (hisab). Lalu mereka bertanya, 'Wahai Tuhan kami! Kami sedang dihisab, sedangkan mereka ini makan?' Maka dikatakan, 'Mereka tetap berpuasa dan berbuka sepanjang waktu (di dunia).'"

Ketahuilah bahwa kemuliaan ini tidak diberikan kecuali kepada orang yang berpuasa dari segala yang diharamkan Allah, bukan hanya dari makanan dan minuman.

Maka kewajiban bagi orang yang berpuasa dan mengharapkan pahala puasanya adalah pertama-tama menyucikan amalannya untuk Allah Ta’ala, menjaga pendengarannya, menahan pandangannya, menjaga lisannya, anggota tubuhnya, serta seluruh inderanya dari hal-hal yang bertentangan dengan ibadah puasanya.

Saudara-saudaraku! Ini adalah kabar gembira bagi orang-orang beriman di dalam ujian:

  • Kesabaran dalam menahan syahwat dengan berpuasa,
  • Kesabaran dalam ketaatan yang diberikan pahala,
  • Barang siapa bersyukur, ia akan mendapatkan tambahan nikmat,
  • Barang siapa bersedekah, ia akan memperoleh keutamaan dan kebajikan,
  • Barang siapa memperbaiki ibadahnya, ia akan disiapkan kedudukan yang tinggi,
  • Barang siapa mengikhlaskan puasanya dan shalatnya, dosanya akan diampuni,
  • Barang siapa mengingat Allah dalam dirinya, ia akan mendapati para malaikat menyertainya,
  • Dan barang siapa berpegang teguh pada ketakwaan, ia akan meraih kemenangan dan kabar gembira.

Wahai sekalian orang yang berpuasa, bergembiralah dengan kabar bahagia!
Kalian telah dianugerahi bulan yang di dalamnya terdapat pembebasan dan rahmat.
Masjid-masjidnya dipenuhi dengan lantunan shalat,
Dan pada sepuluh malam terakhirnya terdapat Lailatul Qadr.

Beruntunglah bagi kaum yang mendapatkannya dan menyaksikannya,
Mereka pun meraih ampunan dari Tuhan hingga mereka berbahagia.
Telah tersebar cahaya api (kebaikan) dengan sanjungan atas kalian,
Allah telah melimpahkan pahala bagi orang yang berpuasa.

Disebutkan dalam pujian dan dzikir, 
Ia (Lailatul Qadr) memiliki kedudukan yang agung sebagaimana ia dipenuhi dengan kebaikan.
Para malaikat turun dengan tanda kebesarannya,
Mereka membawa keharuman yang menyebar dari aromanya yang wangi.

"Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung."

"Ya Allah, teguhkanlah hamba-hamba-Mu yang beriman untuk melaksanakan kewajiban-Mu, janganlah Engkau hinakan mereka dengan buruknya amal perbuatan mereka pada hari pertemuan dengan-Mu. Dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang yang mencintai orang yang bersungguh-sungguh tetapi tidak Engkau ridhai."

"Ya Allah, berikanlah kepada kami malam yang penuh kebaikan untuk orang-orang yang berbuat ihsan, dan jadikanlah akhir hidup kami dalam keyakinan. Kasihilah kami, wahai Tuhan kami, dan janganlah Engkau hinakan kami."

"Ya Allah, siapa pun yang berada di jalan yang lurus dan adil, maka tambahkanlah ia keteguhan dalam jalannya, karena Engkau Maha Mencukupi. Dan siapa pun yang dalam kesesatan dan jauh dari keadilan, maka bimbinglah dia, arahkanlah dia kepada perbuatan dan perkataan yang lebih baik. Dan ampunilah kami semua, dengan rahmat-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Penyayang."


Senin, 17 Maret 2025

SEPULUH HARI TERAKHIR BULAN RAMADAN

 Sepuluh Hari Terakhir Ramadan dan Keutamaan I'tikaf

Segala puji bagi Allah yang kesempurnaan-Nya tidak terjangkau oleh akal dan yang tanda-tanda kekuasaan serta ayat-ayat-Nya menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya keagungan-Nya. Ilmu-Nya meliputi segala yang tersembunyi dan nyata, dan pandangan-Nya menembus segala yang tersingkap maupun yang tertutup. Dia Raja Yang Maha Kuasa dan Maha Menentukan, yang menganugerahkan kebaikan dan karunia serta menahan dan mengangkat derajat, memperlihatkan rahasia dan hikmah-Nya, memilih di antara ciptaan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya, serta menjadikan mereka orang-orang pilihan tanpa kesalahan. Dia memberi mereka kedudukan tinggi dan memantapkan mereka dalam ketaatan sebagai orang-orang yang diampuni. Hamba yang bahagia adalah yang tetap di jalan kebenaran dan istiqamah dalam keimanan, sedangkan yang celaka adalah yang menyimpang dan sesat.

Dia membedakan antara para pengikut kebenaran dan para penentangnya, menjadikan sebagian mereka sebagai pemimpin bagi yang lain, serta meninggikan kedudukan mereka yang berpegang teguh pada ketaatan. Sedangkan orang-orang yang tertipu oleh kehidupan dunia, mereka lalai dan mengikuti hawa nafsu. Mereka terlena oleh angan-angan kosong dan menunda taubat, hingga akhirnya tersadar saat semuanya telah terlambat.

Allah mempercepat bagi mereka yang berhak mendapat balasan dengan kebaikan dan keburukan, serta memperingatkan mereka dari tipu daya dunia dan ketergantungan pada selain-Nya. Dia tetap berkuasa meskipun waktu terus berlalu, dan kekuasaan-Nya tak tergoyahkan oleh apa pun. Dia adalah Raja yang Maha Perkasa, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya. Dialah yang menentukan segala urusan dengan kebijaksanaan dan kasih sayang-Nya.

Dia membuka pintu-pintu pahala bagi mereka yang menginginkan kebaikan, mengampuni orang-orang yang bertaubat, memuliakan yang rendah, dan memberi kekayaan kepada yang fakir. Aku memuji-Nya atas segala karunia dan nikmat-Nya, serta bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, Yang Esa, tanpa sekutu dalam kekuasaan dan keagungan-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang terpilih, semoga Allah memberinya rahmat dan kedudukan yang tinggi di sisi-Nya.

Allah meninggikan sebutannya, meringankan bebannya, dan menghilangkan kehinaan serta keburukan dari dirinya. Sebaliknya, Dia menimpakan kehinaan dan kehancuran kepada siapa saja yang menentang perintahnya. Semoga shalawat Allah tercurah kepadanya serta kepada para sahabatnya yang mulia dan suci, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar.

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا ٱللَّهَ ۖ فَعَسَىٰٓ أُو۟لَٰٓئِكَ أَن يَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُهْتَدِينَ ﴿١٨﴾

"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk." (At-Taubah: 18)

Ayat ini memiliki kandungan yang agung, yaitu bahwa Allah Ta’ala mengaitkan pemakmuran masjid dengan keimanan.

 Sebelumnya telah disebutkan sabda Nabi ﷺ:

  "Apabila kalian melihat seseorang rajin pergi ke masjid, maka saksikanlah bahwa ia memiliki iman."

Yang dimaksud dengan pemakmuran masjid adalah menghidupkannya dengan dzikir, shalat, dan tauhid, bukan sekadar membangun secara fisik namun tetap melakukan perbuatan syirik terhadap Allah.

Dalam hadits shahih dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata:

  "Ketika memasuki sepuluh hari terakhir (Ramadhan), Rasulullah ﷺ mengencangkan kainnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya."

Dalam riwayat lain: 

"Jika memasuki sepuluh hari terakhir, beliau bersungguh-sungguh dalam beribadah, menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan kainnya."

Dan dalam riwayat Muslim, Aisyah berkata:

  "Rasulullah ﷺ bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari terakhir (Ramadhan) dengan kesungguhan yang tidak beliau lakukan di hari-hari lainnya."

Nabi ﷺ mengkhususkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadan dengan amalan yang tidak beliau lakukan di waktu lain dalam bulan tersebut. Di antaranya adalah i'tikaf. Beliau senantiasa melakukan i'tikaf dalam sepuluh hari terakhir hingga Allah mewafatkan beliau. Hal ini karena Nabi ﷺ mencari Lailatul Qadar yang pasti terdapat dalam sepuluh hari terakhir. Maka, beliau berdiam diri (i'tikaf) untuk menyibukkan diri dengan ibadah, memisahkan diri dari manusia, dan mendedikasikan malam-malamnya untuk bermunajat kepada Tuhannya, berzikir, dan berdoa.

Beliau mengisolasi diri dalam i'tikaf, memisahkan diri dari manusia, tidak menyibukkan diri dengan mereka, dan tidak menyentuh mereka. Oleh karena itu, Imam Ahlus Sunnah Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa orang yang ber-i'tikaf tidak boleh menyibukkan diri dengan bergaul dengan orang lain, bahkan tidak untuk mengajarkan ilmu atau membaca Al-Qur'an kepada mereka. Yang lebih utama baginya adalah menyendiri dan menghabiskan waktu untuk bermunajat kepada Allah, berzikir, dan berdoa.

I'tikaf ini adalah bentuk khalwat (pengasingan diri) yang disyariatkan, yaitu dilakukan di masjid. Tidak seperti khalwat yang memisahkan seseorang dari jamaah dan kelompok masyarakat, karena hal tersebut terlarang.

Seseorang bertanya kepada Ibnu Abbas tentang seorang pria yang berpuasa di siang hari dan salat di malam hari tetapi tidak menghadiri salat Jumat dan salat berjamaah. Ibnu Abbas menjawab, "Dia berada di neraka."

Khalwat (menyendiri) yang disyariatkan bagi umat ini adalah beriktikaf di masjid, terutama di bulan Ramadan, khususnya pada sepuluh hari terakhirnya, sebagaimana Nabi ﷺ melakukannya. Orang yang beriktikaf telah mengkhususkan dirinya untuk ketaatan kepada Allah dan mengingat-Nya, serta memutuskan dirinya dari segala hal yang menyibukkannya. Ia menyendiri dengan hatinya dan menghadapkan dirinya kepada Tuhannya dengan segenap dirinya. Tidak ada lagi yang penting baginya selain Allah dan apa yang mendekatkan dirinya kepada-Nya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Daud At-Ta’i dalam munajatnya:

"Keinginan(berjumpadenganMu Ya Allah) meredupkan segala Keinginan, tertutup pandanganku terhadap alam semesta dan tertuju kepada kesaksianMu, dan kerinduan untuk memandang-Mu lebih menentramkan hatiku dibanding seluruh keindahan, dan mengusir syahwat dalam hatiku"

Makna hakiki dari iktikaf adalah memutus keterikatan dari makhluk untuk bersambung dengan Sang Khalik. Semakin kuat kenikmatan dalam cinta dan kedekatan kepada Allah, semakin menguatkan bagi pemiliknya ketenangan dan kebersamaan dengan-Nya. Hal ini mewariskan baginya perasaan cukup hanya dengan Allah dalam segala keadaan.

Sebagian mereka tidak pernah merasa kesepian meski sendiri di rumah mereka bersama Tuhannya. Seseorang pernah bertanya kepada salah satu dari mereka, "Tidakkah engkau merasa kesepian?" Ia menjawab: "Bagaimana aku merasa kesepian, sementara Dia berfirman: 'Aku bersama orang yang mengingat-Ku'?"

Engkau membuatku takut dengan kesendirianku,
Tetapi dari setiap teman Engkaulah yang paling dekat.
Jika Engkau bersamaku, lalu siapa yang kutakuti?
Dan jika Engkau pergi, lalu siapa yang akan kutemui?

Orang yang menyendiri ini telah meninggalkan makhluk, menerima keterasingan dengan Allah Yang Maha Benar, dan menjauh dari manusia seperti para malaikat, sebagaimana dikatakan:

"Jika engkau hidup sendiri, maka jangan katakan: Aku telah hidup sendirian, tetapi katakan: Aku sedang menunggu Tuhan-ku, dan janganlah merasa aman walau sesaat, karena mungkin kematian datang secara tiba-tiba.
Maka, bertobatlah atas dosa-dosamu yang telah lalu, dan menangislah atas kekuranganmu dalam ketakwaan.
Sesungguhnya seseorang yang telah mencapai usia lima puluh tahun, maka tidak ada alasan baginya untuk bersikap lalai."

Orang yang sukses adalah yang selamat dengan hatinya yang bersih,
Bukan bagi yang menimbun tanah sebagai kekayaannya.
Maka, perbaikilah balasan atas usahamu, karena apa yang engkau kumpulkan akan berlalu, sedangkan utang-utang akan tetap ada sebagai keharusan.

**"Engkau telah berusaha mendekatkan dirimu kepada-Nya dengan hatimu yang penuh keikhlasan. Namun, hal itu bukan untuk orang yang bersandar pada debu dunia. Maka, perbaikilah usahamu karena sesungguhnya engkau akan memperoleh balasan yang baik dari apa yang telah engkau usahakan. Sesungguhnya, perjalananmu mengharuskan engkau untuk terus bergerak dan menghadapi ujian, karena perjalanan ini menuntut ketekunan dan kesabaran.

Sekarang, marilah kita menyebutkan sedikit dari rahasia i‘tikaf. Rasulullah ﷺ bersabda tentang i‘tikaf:

Ketika hati telah mencapai kesucian dan lurus dalam perjalanannya menuju Allah, maka ia akan terus berada dalam keterpautan yang sempurna kepada-Nya. Ia tidak akan terpecah oleh perkara-perkara duniawi atau terikat oleh kebiasaan dan hawa nafsu. Sebab, hati yang benar-benar ikhlas hanya akan terpaut kepada Allah semata. Maka, berlebihan dalam makan dan minum, banyaknya ucapan yang sia-sia, serta keterikatan terhadap perkara-perkara duniawi, semua itu akan menjadi penghalang bagi hati untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi dalam ibadah.

Oleh karena itu, syariat telah menetapkan puasa sebagai salah satu cara untuk menyucikan hati dan mengajarkan manusia tentang makna i‘tikaf. I‘tikaf adalah bentuk penyucian jiwa yang sesungguhnya, di mana seseorang meninggalkan segala sesuatu selain Allah dan mengikat hatinya hanya kepada-Nya. Inilah tujuan utama dari i‘tikaf, yaitu mengalihkan perhatian dari makhluk menuju Sang Khalik, serta melepaskan diri dari segala kesibukan dunia untuk berkonsentrasi penuh dalam ibadah.

Jika seseorang telah mencapai tingkat ini, maka pikirannya tidak akan lagi dipenuhi oleh keinginan duniawi, melainkan akan tertuju hanya kepada Allah, mengingat-Nya dan merenungkan keagungan-Nya. Dengan demikian, hatinya akan benar-benar terpaut kepada-Nya, hingga ia tidak merasa tenteram kecuali bersama Allah, tidak merasa bahagia kecuali dengan-Nya. Dan kelak, pada hari kiamat, ia akan dibangkitkan dalam keadaan demikian, bersama Tuhan yang dicintainya, bukan bersama selain-Nya."**

Inilah maksud dari i‘tikaf yang agung. Maka Rasulullah ﷺ, jika ingin beri‘tikaf, beliau memerintahkan agar dibuatkan tempat khusus di masjid yang beliau ingin beri‘tikaf di dalamnya. Jika telah shalat Subuh, beliau masuk ke tempat i‘tikafnya, seperti yang beliau lakukan pada tahun wafatnya, di mana beliau beri‘tikaf selama dua puluh hari. Jika beri‘tikaf, beliau masuk ke dalamnya sendirian, dan tidak masuk ke rumahnya kecuali karena kebutuhan mendesak manusia. Jika keluar, beliau hanya mengeluarkan kepalanya dari masjid ke rumah Aisyah, lalu beliau mencuci dan menyisir rambutnya, sedangkan Aisyah dalam keadaan haid. Beberapa istri beliau juga terkadang mengunjungi beliau di tempat i‘tikafnya, dan jika salah satu dari mereka datang, beliau hanya menyambutnya dengan berdiri sebentar, lalu kembali ke dalam.

Beliau tidak menyentuh istrinya, baik dengan mencium atau yang lainnya, saat berada dalam keadaan i‘tikaf. Jika beri‘tikaf, dipersiapkan untuk beliau tikar dan tempat tidur yang diletakkan di dalam tempat i‘tikafnya. Jika memiliki keperluan yang mengharuskannya keluar, beliau tidak berbicara dengan siapapun di jalan, kecuali untuk menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Beliau juga beri‘tikaf di tenda kecil yang dibangun khusus untuknya, sebagai bentuk penyempurnaan tujuan i‘tikaf dan perhatiannya terhadapnya. Hal ini berbeda dengan yang dilakukan oleh orang-orang lalai, yang menjadikan tempat i‘tikaf sebagai tempat pertemuan dan pembicaraan kosong dengan pengunjung mereka.

Inilah bentuk i‘tikaf yang benar, yang sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ. Allah berfirman, "Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian."

Dikatakan dalam lautan syair;

Janganlah sibukkan dirimu kecuali dengan sesuatu yang membawa manfaat,
Dan dalam kesendirian, manusia mendapat ketenangan dengan ilmu.
Engkau akan selamat dari perkataan yang tidak bermanfaat dan gangguan,
Dan berbahagialah dengan kedudukan yang kau tempati dengan keagungan dan kemuliaan.

Jangan tundukkan jiwamu yang suci kepada keburukan,
Dan jadikan agama sebagai pegangan dalam keterasingan saat bertauhid.
Jauhilah duduk bersama orang yang membangkitkan kedengkian dan iri hati,
Perhiasannya adalah mengingat Allah di tempat sujud.


Fasal ;


Di antara (amalan pada bulan Ramadan) adalah menghidupkan malam. Nabi ﷺ menghidupkan malam-malam sepuluh terakhir dari Ramadan.

Dan disebutkan dalam hadis Abu Hurairah ketika menyebut tentang Ramadan: "Barang siapa yang mendirikan (salat) Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu." Hadis ini diriwayatkan oleh An-Nasa’i.

Dalam riwayat lain disebutkan: "Sesungguhnya Allah telah mewajibkan puasa Ramadan atas kalian, dan aku telah mensunnahkan qiyam-nya bagi kalian. Maka barang siapa yang berpuasa dan mendirikannya dengan iman dan mengharap pahala, diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu."

Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata:

"Rasulullah ﷺ biasa menganjurkan untuk menunaikan salat malam di bulan Ramadan tanpa mewajibkannya, lalu beliau bersabda:
'Barang siapa yang menunaikan salat malam di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.'"

Penjelasan tentang "menghidupkan malam":
Dapat dimaknai sebagai menghidupkan seluruh malam dengan ibadah, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Aisyah radhiyallahu anha: "Beliau menghidupkan seluruh malam." 

Namun, juga dapat dimaknai sebagai menghidupkan sebagian besar malam. Sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah menghidupkan setengah malam.

 Imam Asy-Syafi'i menyebutkan bahwa keutamaan menghidupkan malam dapat diperoleh meskipun tidak dilakukan sepanjang malam.

Kebiasaan Nabi ﷺ di sepuluh malam terakhir Ramadan:
Nabi ﷺ biasa membangunkan keluarganya untuk menunaikan salat pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Dalam hadis Abu Dzar radhiyallahu anhu disebutkan bahwa ketika malam ke-23, 25, dan 27, Nabi ﷺ membangunkan keluarganya untuk salat. Dalam hadis lain, disebutkan bahwa Nabi ﷺ membangunkan keluarganya pada malam ke-27.

Riwayat dari Ath-Thabrani dan Ali radhiyallahu anhu:
Diriwayatkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, Nabi ﷺ membangunkan keluarganya dan bersungguh-sungguh dalam ibadah, serta melipat tempat tidurnya untuk mengurangi tidur.

Berkata SufyanAts-Tsauri rahimahullah:
"Barang siapa yang beribadah dengan sungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir Ramadan, maka ia akan mendapatkan pahala yang besar dan dihindarkan dari siksa."

Maka ketahuilah bahwa bagi orang-orang beriman dalam bulan Ramadan terdapat dua bentuk jihad bagi dirinya: jihad di siang hari dengan berpuasa dan jihad di malam hari dengan bangun untuk qiyam. Maka siapa yang menggabungkan dua jihad ini, menunaikan hak-haknya, dan bersabar atas keduanya, maka baginya pahala tanpa perhitungan. Oleh karena itu, hendaknya manusia bersungguh-sungguh dalam malam-malam yang diberkahi ini dengan qiyam, membaca (Al-Qur’an), dan berdoa, karena ini adalah kebiasaan para salaf di sepanjang waktu, apalagi dalam bulan Ramadan, terutama dalam sepuluh malam terakhir ini.

Wahai orang yang telah beruban putih setelah mencapai usia empat puluh, wahai orang yang telah berlalu usianya setelah malam ketujuh belas hingga mencapai lima puluh, wahai orang yang berada di persimpangan maut di antara enam puluh dan tujuh puluh, apa lagi yang kau tunggu setelah kabar ini, kecuali datangnya keyakinan (kematian)? Wahai orang yang dosa-dosanya berlipat, dan yang bertambah ketakutannya, tidakkah engkau malu kepada para dermawan yang Maha Pemurah? Ataukah engkau termasuk orang yang mendustakan hari pembalasan? Wahai orang yang kegelapan hatinya seperti malam, tidakkah lebih baik bagimu untuk menyinari hatimu atau menerangi nya. 

Sesungguhnya dalam sepuluh hari ini, ujian dan cobaan ditimpakan oleh Allah kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Maka siapa yang menerimanya dengan kesabaran, ia akan berbahagia dengan kebahagiaan yang kekal abadi.

Sebagian ulama salaf yang saleh ada yang melaksanakan shalat setiap hari sebanyak seribu rakaat, hingga ia semakin dekat kepada Allah. Ia melaksanakan shalat dalam keadaan duduk, dan ketika tiba waktu Ashar, ia menghadap kiblat dengan khusyuk dan berkata:
"Aku heran dengan pertanyaan orang-orang kepada al-Haq (Allah). Bahkan aku heran dengan pertanyaan al-Haq kepada manusia. Bukankah hati mereka telah tercerahkan dengan mengingat-Nya?"

Umar bin Khattab radhiyallahu anhu selalu mengingat ayat Allah dalam ibadah malamnya. Ia sering menangis hingga janggutnya basah dengan air mata. Suatu kali ia membaca ayat:

"Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi." (QS. At-Tur: 7)

Ia menangis hingga jatuh sakit dan tidak dapat bangun dari tempat tidurnya.

Utbah al ghulaam tidak makan dan minum dalam waktu lama. Ketika ditanya mengapa, ia menjawab:
"Wahai anakku, angkat dirimu sendiri. Tidurlah sejenak dan bangunlah kembali untuk beribadah. Sesungguhnya tidur itu hanya sebentar dan perjalanan ini masih panjang."

Mua'dzah al adawiyah setiap malam tidak tidur, jika rasa kantuk menguasainya, ia berkata pada dirinya sendiri:
"Wahai jiwaku, jika engkau mati saat ini, maka engkau akan menyesal selamanya."

Dan anak perempuan Ibnu Sirin adalah seorang wanita yang rajin beribadah. Ia mendirikan salat di tempat ibadahnya selama lima belas tahun, tidak keluar kecuali untuk berwudu.

Yahya bin Bistam berkata:
"Kami masuk menemui Syu‘anah, lalu kami menyuruhnya untuk lebih menyayangi dirinya sendiri dan mencelanya karena terlalu banyak menangis. Maka ia pun diam sejenak, lalu berkata, ‘Demi Allah, aku ingin menangis sampai air mataku habis, lalu aku menangis hingga tidak tersisa setetes darah pun dalam tubuhku.’

"Kemudian ia berkata kepadaku, ‘Apakah kamu tidak pernah menangis?’ Maka aku pun tidak bisa berkata apa-apa. Lalu ia berkata lagi, ‘Apakah kamu tidak pernah menangis?’ Sampai akhirnya aku merasa kasihan kepadanya."

Sungguh, mereka adalah suatu kaum yang membayangkan dosa-dosa mereka, lalu merasa kecil terhadap amal-amal mereka. Mereka pun menangis atas diri mereka sendiri, seolah-olah neraka tidak diciptakan kecuali untuk mereka.

Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan selalu memohon ampunan pada waktu sahur. (QS. Adz-Dzariyat: 17-18)

Dengan tangisan dan ketakutan mereka terhadap Allah, mereka menjadi tenang, dan ketika siang tiba, mereka tetap berbuat kebajikan.

"Maka Allah menjauhkan mereka dari kaum yang tertipu oleh harta mereka, meremehkan amal perbuatan mereka, dan menangis atas diri mereka seakan-akan neraka tidak diciptakan kecuali untuk mereka. Mereka tidur hanya sedikit di malam hari, lalu pada waktu sahur mereka memohon ampunan. Dengan menangis dan ketakutan kepada Allah, mereka menangis. Dan kaki mereka tidak tergesa-gesa seperti langkah hewan ternak yang bergegas."

"Mereka bersabar, dan di antara keselamatan serta kebinasaan mereka bimbang. Mereka bertobat sedikit, tetapi bersantai banyak, dan mereka merasa nyaman di taman-taman yang menyenangkan. Sedangkan manusia miskin, yang belum menemukan jalan menuju Tuhan mereka, terlantar. Orang-orang yang tertipu adalah mereka yang ridha dengan keberuntungan dunia yang fana. Wahai orang yang kehilangan keberuntungan, apakah engkau tidak ingin menggantinya? Dan ambillah dalam bulan ini jalan menuju Tuhanmu. 'Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman bahwa sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.'"

"Engkaulah yang Maha Mulia." Dan setiap sesembahan selain-Mu adalah batil. Kepada-Mu para pencari berlomba dalam permintaan mereka, dan di depan pintu-Mu mereka menunggu pemberian-Mu.

Mereka telah mengambil amal saleh sebagai perantara menuju-Mu, dan aku hanyalah hamba-Mu yang tunduk dan memohon. Aku telah mengulurkan tanganku dengan penuh harapan, berharap mendapatkan ampunan dan keutamaan.

Dan aku tidak terbiasa kembali dengan tangan kosong setelah memohon kepada-Mu.

Ya Allah, kepada-Mu orang-orang yang mencari mendekat, dengan ampunan-Mu orang-orang berdosa berlindung, dan dengan kelembutan-Mu harapan orang-orang mukmin semakin kuat, serta dengan kasih sayang-Mu hati orang-orang yang bertaubat bergetar.

Dosa-dosaku besar, tetapi ampunan-Mu lebih besar, ya Tuhanku. Aku senantiasa berbuat kesalahan dan masih terus menzalimi diri sendiri. Aku telah terjerumus dalam kebodohan karena hawa nafsu. Namun kini aku kembali dengan penuh penyesalan. Aku telah lelah dan kini menjadi orang yang kebingungan. Maka rahmatilah aku, wahai Tuhan yang Maha Pengasih. Maafkanlah aku, wahai Tuhanku yang Maha Mulia.

Ya Allah, wahai Kekasih setiap yang merasa asing, wahai Penghibur setiap yang bersedih, rahmatilah kami jika kami telah tiada dari dunia ini dan berada di alam kubur. Tenangkanlah kami di hari kebangkitan dan perhitungan amal. Siapakah orang yang terputus dari segalanya tetapi tidak terputus dari-Mu? Siapakah orang yang Engkau tolak doanya? Engkaulah yang menerima permohonan hamba-hamba-Mu dan melapangkan hati para pemohon.

Ya Allah, pertemukan kami di atas shirath (jembatan di akhirat) bersama orang-orang yang melintasinya dengan selamat. Anugerahkanlah kepada kami air dari telaga Nabi-Mu, dan jadikan kami di antara mereka yang meminumnya. Berikan kami pakaian orang-orang yang berhasil melewatinya. Anugerahkanlah kami kedamaian dengan agama ini. Dan jadikan kami termasuk orang-orang yang memperoleh syafaat Nabi-Mu. Aamiin.

"Ya Allah, berilah setiap pemohon kepada-Mu bagian dari kebaikan sesuai dengan maksudnya, anugerahkanlah kepada kami kebaikan dan tambahan, berilah kami ketetapan, angkatlah derajat kami, beratkanlah timbangan kebaikan kami, karena Engkaulah Yang Maha Mulia dari semua yang mulia, dan Yang Maha Pemurah dari semua yang pemurah. Ya Allah, ampunilah kami dan kedua orang tua kami serta seluruh kaum Muslimin, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat, dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang pengasih."



Minggu, 16 Maret 2025

RAMADAN BULAN BERDOA


Ramadan, Bulan Doa


Oleh; Prof DR. Abdulrazaq elbadr Hafizhahullah. 

Alhamdulillah, was sholatu was salamu ala' Rosulillah, wa ba'du; 

Diriwayatkan dalam Sunan dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

"Doa adalah ibadah."

Kemudian beliau membaca firman Allah:

"Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina." (QS. Ghafir: 60)

Doa adalah salah satu ibadah yang paling agung dan utama. Ia adalah hak Allah ﷻ yang tidak boleh diberikan kepada selain-Nya dalam keadaan apa pun. Doa memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama karena ia mencerminkan ketundukan, kelemahan, dan kebutuhan seorang hamba kepada Allah. Semakin hadir dan khusyuk hati dalam ibadah, semakin baik dan sempurna ibadah tersebut. Dan doa adalah ibadah yang paling memungkinkan terwujudnya kondisi ini.

Doa juga menunjukkan ketergantungan seorang hamba kepada Allah serta kepercayaannya kepada-Nya dalam memperoleh kebaikan dan menolak keburukan. Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan doa.

Keistimewaan Doa di Bulan Ramadan

Bulan Ramadan memiliki keistimewaan khusus dalam hal doa. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Ada tiga doa yang tidak akan ditolak: doa orang yang berpuasa, doa orang yang terzalimi, dan doa orang yang sedang bepergian." (HR. Thabrani dan Baihaqi)

Dalam hadis lain, beliau ﷺ bersabda:

"Tiga doa yang tidak akan tertolak: doa orang tua untuk anaknya, doa orang yang berpuasa, dan doa orang yang bepergian." (HR. Baihaqi)

Keistimewaan doa dalam bulan Ramadan juga terlihat dalam susunan ayat-ayat di dalam Al-Qur'an. Dalam Surat Al-Baqarah, Allah berfirman:

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran." (QS. Al-Baqarah: 186)

Ayat ini berada di antara ayat-ayat tentang puasa. Sebelumnya Allah berfirman: "Bulan Ramadan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an", dan setelahnya Allah berfirman: "Dihalalkan bagi kalian pada malam puasa untuk bercampur dengan istri-istri kalian."

Penempatan ayat tentang doa di antara ayat-ayat puasa menunjukkan bahwa doa memiliki kedudukan istimewa di bulan Ramadan. Seorang hamba di bulan ini penuh harapan agar Allah membimbingnya dalam menjalankan ibadah dengan sempurna. Tidak ada jalan lain untuk mencapai itu kecuali dengan memohon kepada Allah melalui doa.

Selain itu, seorang Muslim banyak melakukan ibadah dan amal saleh di bulan ini dan berharap agar diterima oleh Allah. Tidak ada cara lain untuk memastikan penerimaan amal tersebut selain dengan berdoa dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Seorang hamba juga mungkin telah melakukan dosa sebelum Ramadan atau melakukan kesalahan saat berpuasa. Dia ingin Allah mengampuninya, dan tidak ada jalan lain untuk itu selain doa.

Pentingnya Doa dalam Islam

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

"Dasar dari segala kebaikan adalah mengetahui bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. Maka, jika seorang hamba yakin bahwa kebaikan berasal dari nikmat Allah, ia akan bersyukur kepada-Nya dan berdoa agar nikmat tersebut terus berlanjut. Jika dia yakin bahwa keburukan adalah akibat dari kehinaan dan hukuman dari Allah, dia akan bersungguh-sungguh memohon perlindungan kepada-Nya. Para ulama sepakat bahwa segala kebaikan bersumber dari taufik Allah, dan segala keburukan bersumber dari kelemahan dan kehinaan hamba itu sendiri. Maka kunci taufik adalah doa, perasaan butuh kepada Allah, serta ketulusan dalam berharap dan takut kepada-Nya." (Al-Fawaid, 127-128)

Doa memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Ia adalah ibadah yang paling agung, ketaatan yang paling utama, dan pendekatan diri yang paling bermanfaat. Oleh karena itu, banyak ayat dan hadis yang menjelaskan keutamaan doa serta menganjurkan untuk melakukannya.

Bahkan, Allah membuka dan menutup Al-Qur'an dengan doa. Surat Al-Fatihah, yang merupakan pembuka Al-Qur'an, berisi doa kepada Allah dengan permintaan terbaik dan tujuan paling sempurna, yaitu memohon hidayah ke jalan yang lurus serta bantuan dalam beribadah kepada-Nya.

Di akhir Al-Qur'an, dalam Surat An-Nas, Allah mengajarkan doa perlindungan dari kejahatan setan yang membisikkan godaan ke dalam hati manusia.

Doa sebagai Esensi Ibadah

Allah menyebut doa sebagai ibadah dalam banyak ayat, seperti firman-Nya:

"Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina." (QS. Ghafir: 60)

Allah juga menyebut doa sebagai agama dalam ayat:

"Maka berdoalah kepada-Nya dengan ikhlas dalam beragama." (QS. Ghafir: 65)

Semua ini menunjukkan bahwa doa adalah inti dari ibadah, lambang ketundukan, dan bukti ketergantungan kepada Allah. Oleh karena itu, Allah sangat menganjurkan doa dalam banyak ayat, seperti:

"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-A'raf: 55)

Allah juga mengabarkan bahwa Dia dekat dengan hamba-hamba-Nya, menjawab doa mereka, dan memenuhi kebutuhan mereka:

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah: 186)

"Siapakah yang mengabulkan doa orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan, serta yang menjadikan kalian sebagai khalifah di bumi?" (QS. An-Naml: 62)

Semakin kuat hubungan seorang hamba dengan Allah, semakin ia banyak berdoa dan semakin ia merendahkan diri di hadapan-Nya. Oleh karena itu, para nabi dan rasul adalah orang-orang yang paling banyak berdoa dalam semua keadaan mereka. Allah memuji mereka dalam firman-Nya:

"Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan takut, dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (QS. Al-Anbiya: 90)

Kesimpulan

Seorang Muslim hendaknya memanfaatkan bulan Ramadan dengan memperbanyak doa, bersungguh-sungguh dalam beribadah, dan memohon kepada Allah dengan penuh harap dan takut. Dengan begitu, ia bisa menjadi bagian dari mereka yang memperoleh keberuntungan dan keselamatan dari api neraka.

"Ya Allah, terimalah puasa, salat, dan doa kami. Anugerahkanlah kepada kami kebebasan dari neraka, wahai Tuhan yang Maha Hidup dan Maha Mengatur!"