Selasa, 13 April 2021

MENYAMBUT BULAN RAMADHAN

As-Syaikh Prof. DR. Abdurrozak Al-Badr  hafidhohullahu Ta'ala.

Alhamdulillah, was sholaatu was salaamu ala Rosulillah, wa ba'du :

Sesungguhnya umat islam di seluruh penjuru dunia, pada hari-hari akan datang akan menyambut tamu mulia yang sangat ditunggu tunggu dan di rindukan kedatangannya, tamu yang dinanti, dimuliakan, diharapkan, diagungkan di hati kaum mukminin, semua berharap agar dapat menyambut nya, saling berucap selamat diantara mereka, berlomba lomba untuk mendapatkan barokah dan kebaikan di dalam nya , tamu tersebut adalah bulan ramadan yang penuh berkah dan kemuliaan, bulan ketaatan dan ibadah, bulan puasa dan sholat malam, bulan tilawah, dzikir, istigfar, do'a, dan munajat, bulan kemuliaan, kedermawanan, kasih, sayang, saling memberi dan berbuat ihsan, bulan yang didalam nya dipenuhi aneka kebajikan aneka keberkahan, dan mendulang kesuksesan serta keberuntungan, yaitu syahru saum yang Allah Ta'ala telah berikan kekhususan dan keutamaan yang agung dan besar terbedakan dengan bulan-bulan lainnya.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam tatkala menjumpai kedatangan bulan ramadan beliau senantiasa memberikan kabar gembira kepada segenap para sahabat radhiyallahu anhum , serta memberikan penjelasan tentang keutamaan dan kemuliaan bulan ini, serta memberikan semangat agar mereka berijtihad dalam beribadah dan taqorrub kepada Allah Ta'ala untuk menggapai keridhoan Nya.

Sebagaimana telah tetap dalam musnad imam Ahmad, dari sahabat Anas radhiyallahu anhu berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, " Ini bulan ramadan telah datang kepada kalian, dibuka pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka dan para setan telah diikat ".

Diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzy dan lain nya, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, " Jika datang permulaan bulan ramadan maka para setan dan para jin yang jahat diikat, dan ditutup pintu-pintu neraka, dan tidak dibuka salah satu dari nya, dan dibuka pintu-pintu surga dan tidak akan tertutup salah satu dari nya, serta datang seseorang yang menyeru dengan lantang, " Wahai pelaku kebajikan, berlomba-lombalah, dan wahai para pelaku kejahatan, berhentilah , dan setiap malam Allah Ta'ala membebaskan orang-orang dari neraka ".

Hadist - hadist yang mejelaskan tentang keutamaan bulan ramadan disisi Allah Ta'ala dan keagungan nya sangat banyak tidak terhitung , maka sepantasnya kita bergembira dan berbahagia dengan kehadiran bulan mulia ini, menjaga keutamaan nya, bersungguh sungguh dalam menyambut nya, menegakkan hak haknya,  sebagaimana Allah Ta'ala berfirman,

قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

Artinya, " Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan". (Q.S.10 Yunus : 58)

Sesungguhnya bergembira dengan kehadiran tamu agung dan mulia ini, bersemangat untuk berlomba-lomba dalam kebijakan serta tidak menyia nyiakan kesempatan berharga ini hanya berlaku kepada mereka yang mengagungkan syariah Allah Ta'ala, adapun orang yang bodoh terhadap syariat, niscaya ia akan lalai, masa bodoh, dan terlewatkan dengan acuh.
Sekiranya ia sadar dengan keagungan bulan ini serta mengilmui dengan sepenuh keilmuan niscaya ia akan bersemangat, bersiap siap, berijtihad dalam beribadah sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta'ala serta menggapai ridho Nya.

Pertanyaan yang sepatutnya dilontarkan dimasa sekarang ini, Apa persiapan untuk menyambut kedatangan bulan suci ini ? , Apa yang hendak kita lakukan dan persiapkan ? , Apa bekal kita siapkan untuk musim yang penuh barokah ini  ? .

Menyambut kedatangan bulan ramadan bukan dengan kita menyiapkan karangan bunga yang indah, atau melantunkan nasyid dan aneka syiir penyemangat, atau menyambut dengan aneka pertunjukan dan kesenian budaya, atau dengan menyiapkan aneka makanan dan hidangan yang lezat serta minuman yang beraneka ragam.
Akan tetapi menyambut kehadiran bulan suci ini dengan mempersiapkan diri untuk berbuat ketaatan, beribadah kepada Allah Ta'ala, menghadapkan diri dan menyiapkan mental untuk kembali ke jalan Allah Ta'ala, dan bertaubat nasuha dengan sepenuh hati dari segala kesalahan dan dosa.

Sesungguhnya bulan suci ramadan merupakan kesempatan emas dan momen yang tepat untuk kembali ke jalan yang lurus dan bertaubat dari kejelekan , sebagaimana kita jika merenung - dan ini pasti ada pada setiap diri kita - sesungguhnya banyak terdapat kekurangan dalam menuaikan dan menjalankan kewajiban serta hak-hak Allah Ta'ala .
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

كل بني آدم خطأ وخير الخطاءين التوابون 

" Setiap anak cucu Adam pasti melakukan kesalahan, dan sebaik baik orang yang bersalah adalah bertaubat ".

Jika kita bermuhasabah, niscaya kita jumpai kesalahan diri kita banyak, kekurangan pasti ada, dan dihadapan kita suatu musim yang penuh barokah untuk bertaubat dan kembali ke jalan Allah Ta'ala.

Jika pada kesempatan emas ini kita tidak melakukan taubat, menyesal, memperbaiki diri, menghapus dosa, kapan kita akan lakukan. .....!!
Telah tetap dalam suatu hadist dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

َ «رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ» رواه الترمذي

" Sungguh celaka bagi seseorang yang ia berjumpa bulan ramadan dan lewat bulan tersebut sedangkan dosa-dosa nya belum terampuni  ". ( HR. At-Tirmidzy )

Bulan Ini merupakan bulan yang suci, bulan ampunan, bulan yang agung, setiap hati niscaya tergerak untuk bertaubat dan memperbaiki diri, ber inabah kepada Allah Ta'ala dan beribadah kepada Nya.

Diantara upaya untuk menyambut kedatangan bulan suci ini, melantunkan do'a sepenuh hati dan bersimpu memohon kepada Allah Ta'ala agar diberikan kekuatan dan taufik untuk menjalankan perintah perintah Nya, beribadah dengan baik, dimasa bulan suci ini, dikarenakan seorang hamba lemah dan tidak berdaya dengan kekuatan nya, tidak akan mampu melakukan ibadah, sebagaimana dikatakan,

« لَوْلَا اللَّهُ مَا اهْتَدَيْنَا وَلَا صُمْنَا وَلَا صَلَّيْنَا »

"Sekiranya bukan karena Allah Ta'ala, niscaya kita tidak mendapatkan hidayah, tidak mampu menegakkan sholat tidak bisa mengerjakan puasa ".

Sepantasnya bagi setiap hamba hendaknya ber do'a ber munajat, memohon pertolongan kepada Allah Ta'ala agar diberikan taufik dan kemudahan dalam menjalankan ibadah puasa ramadan ini, diberikan kekuatan untuk menegakkan sholat malam, dimudahkan baginya untuk mengerjakan aneka ibadah dan ketaatan, dan dituliskan disisi Allah Ta'ala sebagai amal saleh dan di golongkan sebagai hamba hamba yang dibebaskan dari api neraka , sesungguhnya tidak ada daya dan kekuatan kecuali semata-mata datang dari Allah Ta'ala, apa yang dikehendaki oleh Allah Ta'ala pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki tidak akan terjadi.

Diantara upaya untuk menyambut kedatangan bulan suci ramadan, sepantasnya seorang muslim untuk merenungkan tentang keutamaan dan kekhususan dan kelebihan bulan ramadan yang penuh berkah ini, serta mengetahui apa yang sepatutnya dikerjakan oleh setiap muslim dari ibadah puasa dan sholat malam, dan pelajaran pelajaran penting yang dapat dipetik di bulan ramadan, diantaranya disebutkan dalam shohih imam Al-Bukhary dan Muslim, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »

" Barangsiapa yang berpuasa bulan ramadan dengan penuh keimanan dan semata-mata mencari pahala kepada Allah Ta'ala, niscaya dosa-dosa nya yang terdahulu akan diampuni ".

Diantara upaya untuk menyambut kedatangan bulan suci ramadan adalah seyogyanya seorang muslim berusaha untuk membersihkan hati dan jiwanya dari perbuatan keji dan kotor seperti iri, dengki, hasad, permusuhan, dan semisalnya. 
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ يُذْهِبْنَ وَحَرَ الصَّدْرِ »

" Berpuasa dibulan kesabaran  (puasa ramadan) dan puasa tiga hari setiap bulan, akan menghilangkan penyakit di hati ".

Sesungguhnya setiap hati manusia memiliki penyakit dan keburukan yang tersimpan di dalam dadanya, seperti hasad, iri, dengki, kemurkaan, kemarahan, dan apabila telah datang bulan ramadan maka ini merupakan kesempatan untuk menghilangkan penyakit penyakit hati tersebut.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

« لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا »

" Janganlah kalian saling hasad, berbuat curang, bermusuhan, berselisih, dan membeli suatu barang atas belian saudaranya yang lain, dan menjadilah hamba hamba Allah yang saling bersaudara ".

Bulan suci ramadan merupakan kesempatan dan momen untuk membersihkan hati dan jiwa dan menyatukan kalimat diatas jalan Allah Ta'ala , menjalankan ibadah bersatu padu menghadapkan diri kepada Allah Ta'ala, hingga meraih ridho Nya dan terhindar dari murka Nya.

أسأل الله جلّ وعلا أن يبلِّغنا أجمعين شهر رمضان ، وأن يعيننا فيه على الصيام والقيام ، وأن يصلح ذات بيننا ، وأن يؤلف بين قلوبنا ، وأن يهدينا سبل السلام ، وأن يخرجنا من الظلمات إلى النور ، وأن يجعلنا من عباده المتقين وأوليائه المقربين الذين لا خوف عليهم ولا هم يحزنون . 

Kita memohon kepada Allah Ta'ala agar menjumpai bulan ramadan dan diberikan kekuatan untuk melaksanakan puasa dan sholat malam, dan semoga Allah Ta'ala memperbaiki urusan kita dan menyatukan hati hati kita serta menunjukkan jalan keselamatan dan menyelamatkan dari kegelapan menuju cahaya, dan menjadikan kita sebagai orang yang bertakwa dan kekasih Nya yang dekat yang senantiasa tidak merasa takut dan khawatir. 

   📒📔📓📙📘

KESALAHAN SEPUTAR BULAN RAMADHAN

Alhamdulillah, was sholaatu was salaamu ala Rosulillah, wa ba'du :

Umat islam di seluruh penjuru dunia sedang menjalani ibadah yang agung yang menjadi syiar agama islam yang telah diperintahkan oleh Allah Ta'ala dalam firman Nya;

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

" Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"
(Q.S.2 Al-Baqorah : 183)

Akan tetapi disana dijumpai beberapa perkara yang wajib diperhatikan agar tidak terjerumus dalam kesalahan sehingga dapat mengurangi pahala ibadah puasa, demikian pula dalam rangka nasihat, sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

رب صائم ليس له من صيامه إلا الجوع  ورب قائم ليس له من قيامه إلا السهر

" Bisa jadi bagi mereka yang berpuasa tidak mendapatkan suatu pahala kecuali hanya kelaparan, dan bisa jadi bagi mereka yang menunaikan sholat malam tidak mendapatkan suatu pahala kecuali hanya begadang  ". (HR. Ibnu Majah)

Dalam hadist diatas Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa sekelompok manusia yang menjalankan ibadah puasa bulan ramadan akan tetapi ia tidak meraih pahala puasa disisi Allah Ta'ala, akan tetapi sekedar haus dan dahaga serta rasa lapar, hal ini dikarenakan anggota badan nya tidak berpuasa dari perbuatan yang dilarang oleh Allah Ta'ala dan Rasul-Nya, seperti mata memandang sesuatu yang diharamkan syariat, telinga mendengarkan sesuatu yang dilarang agama, sedangkan lisannya senantiasa berbicara dengan kemurkaan Allah Ta'ala.

Adapun kelompok lainnya adalah orang-orang yang menunaikan sholat malam yang mana pahala ini sangat besar, akan tetapi ia tidak meraih pahala disisi Allah Ta'ala, bisa jadi dikarenakan ia tidak ikhlas atau mengerjakan ibadah tidak sesuai tuntunan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Diantara kesalahan yang terjadi bagi orang yang menuaikan ibadah puasa adalah menunda sholat dari waktu yang telah ditentukan oleh syariat, sebagaimana dijumpai sebagian orang tatkala setelah makan sahur mereka tidur dan tidak bangun untuk menunaikan sholat subuh kecuali setelah terbit matahari, sebagian lainnya tidur setelah dhuhur dan tidak bangun kecuali menjelang magrib dan terlewatkan sholat asar dari waktu yang telah ditentukan.

Allah Ta'ala berfirman,

فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا ٱطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ ۚ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَٰبًا مَّوْقُوتًا

" Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (Q.S.4 An-Nisaa :103)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

من ترك صلاة العصر فقد حبط عمله

" Barangsiapa yang meninggalkan sholat asar, sungguh telah gugur amalan nya ". (HR Al-Bukhari)

Diantara kesalahan yang terjadi di saat bulan ramadan adalah tidak menuaikan sholat lima waktu ber jamah di masjid-masjid.

Allah Ta'ala berfirman memberikan syariat tentang sholat ber jamah tatkala terjadi peperangan,

وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوٓا۟ أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا۟ فَلْيَكُونُوا۟ مِن وَرَآئِكُمْ وَلْتَأْتِ طَآئِفَةٌ أُخْرَىٰ لَمْ يُصَلُّوا۟ فَلْيُصَلُّوا۟ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا۟ حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ ۗ وَدَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُم مَّيْلَةً وَٰحِدَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن كَانَ بِكُمْ أَذًى مِّن مَّطَرٍ أَوْ كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَن تَضَعُوٓا۟ أَسْلِحَتَكُمْ ۖ وَخُذُوا۟ حِذْرَكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَٰفِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا

" Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu], dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu."
(Q.S.4 An-Nisaa :102)

Ini merupakan syariat sholat ber jamah tatkala terjadi pertempuran dalam perang melawan musuh, bagaimana jika kondisi nya aman. ...?!?

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

“Shalat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.” ( HR Al-Bukhary dan Muslim )

Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,

وفي اهتمامه بأن يحرق على قوم تخلفوا عن الصلاة بيوتهم أبين البيان على وجوب فرض الجماعة

“keinginan beliau (membakar rumah) orang yang tidak ikut shalat berjamaah di masjid merupakan dalil yang sangat jelas akan wajib ainnya shalat berjamaah di masjid”.

Tatkala seseorang tidak shalat berjamaah di masjid di anggap “munafik” oleh para sahabat.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu dia berkata:

وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ

“Menurut pendapat kami (para sahabat), tidaklah seseorang itu tidak hadir shalat jamaah, melainkan dia seorang munafik yang sudah jelas kemunafikannya. Sungguh dahulu seseorang dari kami harus dipapah di antara dua orang hingga diberdirikan si shaff (barisan) shalat yang ada.”

Diantara kesalahan yang terjadi tatkala bulan ramadan adalah melakukan begadang di malam hari bukan untuk melakukan sesuatu ibadah akan tetapi untuk urusan duniawi bahkan untuk perkara yang tidak penting seperti menonton televisi dan semisalnya .

Diantara kesalahan yang terjadi bagi orang yang menuaikan ibadah puasa, mereka pada malam hari merokok, sebagaimana dirinya mampu menahan dari merokok di siang hari maka hendaklah ia meninggalkan juga di malam hari, karena bulan ramadan merupakan momen yang tepat untuk berlepas diri dari merokok yang ini merupakan perbuatan yang dilarang agama dikarenakan rokok termasuk khoba'its atau sesuatu yang keji dan buruk yang haram.

Allah Ta'ala berfirman,

ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِىَّ ٱلْأُمِّىَّ ٱلَّذِى يَجِدُونَهُۥ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ وَٱلْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَىٰهُمْ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ ٱلْخَبَٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَٱلْأَغْلَٰلَ ٱلَّتِى كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلنُّورَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ ۙ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

" (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Q.S.7 Al-A'raaf :157)

Diantara kesalahan yang terjadi pada bulan ramadan adalah berkata kata dengan kebohongan, kebodohan dan berucap kotor.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

من لم يدع قول الزور والعمل به  فليس لله حاجة في أن يدع طعامه و شرابه

" Barangsiapa yang tidak mampu untuk meninggalkan ucapan dusta dan berbuat dusta, maka Allah Ta'ala tidak merasa butuh dari ibadah orang tersebut yang sekedar meninggalkan makan dan minumnya ".

Semoga ulasan ini bermanfaat bagi kita semua dan semoga Allah Ta'ala memberikan taufik dan hidayah agar kita meraih ampunan dari segala dosa - dosa dan digolongkan sebagai hamba yang dibebaskan dari api neraka serta masuk ke dalam surga Nya.

   📙📙📙📘📘📙📙📙

Minggu, 28 Maret 2021

SHOLAT TASBIH

Hadits Rasulullah sallallahu `alaihi wa sallam kepada pamannya Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu`anhu yang berbunyi, “Wahai Abbas pamanku, Aku ingin memberikan padamu, aku benar-benar mencintaimu, aku ingin engkau melakukan -sepuluh sifat- jika engkau melakukannya Allah akan mengampuni dosamu, baik yang pertama dan terakhir, yang terdahulu dan yang baru, yang tidak sengaja maupun yang disengaja, yang kecil maupun yang besar, yang tersembunyi maupun yang terang-terangan. Sepuluh sifat adalah: Engkau melaksanakan sholat empat rakaat; engkau baca dalam setiap rakaat Al-Fatihah dan surat, apabila engkau selesai membacanya di rakaat pertama dan engkau masih berdiri, mka ucapkanlah: Subhanallah Walhamdulillah Wa laa Ilaaha Ilallah Wallahu Akbar 15 kali, Kemudian ruku’lah dan bacalah do’a tersebut 10 kali ketika sedang ruku`, kemudian sujudlah dan bacalah do’a tersebut 10 kali ketika sujud, kemudian bangkitlah dari sujud dan bacalah 10 kali kemudian sujudlah dan bacalah 10 kali kemudian bangkitlah dari sujud dan bacalah 10 kali. Itulah 75 kali dalam setiap rakaat, dan lakukanlah hal tersebut pada empat rakaat. Jika engkau sanggup untuk melakukannya satu kali dalam setiap hari, maka lakukanlah, jika tidak, maka lakukanlah satu kali seminggu, jika tidak maka lakukanlah sebulan sekali, jika tidak maka lakukanlah sekali dalam setahun dan jika tidak maka lakukanlah sekali dalam seumur hidupmu” (HR Abu Dawud 1297, Ibnu Majah 1386/1387, Ibnu Khuzaimah 1216, di dalam shohihnya, dan berkata: "Jika riwayat ini benar, maka terdapat sesuatu yang terbalik dalam isnadnya).

Para ulama berbeda pendapat dalam pengesahan hadits ini serta pengamalannya. Diantara mereka ada yang mengesahkannya, ada juga yang melemahkannya, dan ada juga yang menghukuminya dengan hadits palsu.

Ibnu Jauzy berkata, "Hadits-hadits yang diriwayatkan tentang sholat tasbih semua jalannya lemah dan telah aku kupas dan terangkan di dalam kitab Al Maudhu`at".

Imam At Tirmidzi berkata, "Diriwayatkan dari Nabi shalallahu `alaihi wa sallam hadits tentang sholat tasbih dan tidak ada yang shohih kebanyakannya.

Dinukil dari Imam An Nawawi dari Al Ukaili berkata, "Riwayat dalam sholat tasbih tidak ada satupun yang sah, demikian juga dikatakan oleh Ibnul Aroby dan yang lainnya bahwa tidak ada riwayat yang shohih juga hasan".

Imam An Nawawi berkata, "Di dalam pensunnahan sholat tasbih perlu dikaji ulang, karena haditsnya lemah, dan di dalamnya terdapat perubahan tata cara shalat yang telah di ketahui bersama, maka seyogyanya tidak dilakukan dengan tanpa dalil, sedangkan dalil yang digunakan tidak kuat". (Disebut kan di dalam syarah al muhadzab).

Di nukil dari imam Suyuthy dari Ibnu Hajar berkata, "Pendapat yang benar, bahwa semua riwayat sholat tasbih adalah lemah, sedangkan hadits Ibnu Abbas mendekati prasyarat hasan, akan tetapi terdapat sudzudz (menyelisihi riwayat lain) dan tidak dijumpai mutabi` (pendamping yang menguatkan riwayatnya) dan di dalamnya pula menyelisihi gerakan sholat yang telah di ketahui bersama".

Hadits ini juga di riwayatkan oleh Imam Ahmad, dan ia berkata, "Hadits ini tidak sah, dan di katakan pula dusta, serta di makruhkan melakukannya, dan tidak seorangpun imam menyatakan amalan mustahab".

Berkata Fakihuz Zaman Al Allamah Al Fakih Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rohimahullahu, "Pendapat yang rojih (benar) menurutku, bahwa sholat tasbih bukanlah sunnah, dan hadits yang menyebutkannya adalah lemah, dan di antara sebab yang melemahkannya sebagai berikut:
» Asal muasal ibadah adalah di larang dan tidak di lakukan, hingga di jumpai dalil yang kuat yang menetapkan pensyariatannya.
» Hadits yang menyebutkan tentang tata cara sholat tasbih semuanya muthorib (lemah tidak ada riwayat yang sama antara satu dengan lainnya) .
» Tidak seorangpun imam menyatakan tentang sunnahnya sholat tasbih, sebagai mana di sebutkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Taimiyah.
» Jikalau amalan ini disyariatkan niscaya telah dinukil oleh para ulama secara mutawatir dan masyhur di antara mereka, karena gerakan sholat yang diriwayatkan menyelisihi gerakan yang populer dalam ibadah sholat. Sebagai mana pula di dalamnya terdapat pilihan untuk melakukannya, setiap hari sekali, atau setiap pekan sekali, atau setiap bulan sekali, atau setiap tahun sekali, ataupun seumur hidup sekali, jika di banding dengan keutamaannya. Pensyariatan semacam ini tidak di jumpai dalam agama islam, bahkan tidak memiliki asal muasalnya yang serupa.

~ Fatawa Fikih jus 14 hal 324 no : 896 ~