Kamis, 11 Januari 2024

MERUQYAH ORANG SAKIT

#DAURAH_SYAR’IYYAH_SOLO_MAHAD_IMAM_AL_BUKHARI
#PERTEMUAN_KEDELAPAN
KITAB 
سبيل الرشاد في تقرير مسائل الإعتقاد


Muqoddimah dari Syaikh Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaily hafizhahullah:
===========
 
*PERMASALAHAN YANG BERKAITAN DENGAN RUQYAH*

1 - Menjelaskan hukum ruqyah dan apakah itu tawqifiyah atau ijtihadiyah:
Telah disebutkan bahwa ruqyah yang sesuai syar’I  adalah yang memenuhi tiga syarat ruqyah sebelumnya, antara lain ruqyah itu dengan Kalamullah, atau dengan nama dan sifat-sifat-Nya, dan dengan apa yang diturunkan dari Rasulullah ﷺ. Allah Ta’ala, mengenai ruqyah dan lafazh-lafazh doanya. Lalu apakah perkataan ruqyah hanya sebatas yang disebutkan dalam  as-sunnah, sehingga tidak dilakukan kecuali dengan surah, ayat, dan kata-kata yang disebutkan dalam sunnah, tanpa penambahan atau pengurangan, sehingga kata-kata ruqyah tersebut adalah tauqifiyyah dan itu Apakah tidak boleh terjadi pembaharuan padanya? Ataukah bukan termasuk tauqifiyyah, sehingga boleh ruqyah dengan setiap kalam Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan apa yang dijadikan permintaan perlindungan berupa lafazh-lafazh syar’iyyah dari apa saja yang tidak dikhususkan untuk ruqyah?
Yang disepakati sebagian besar ulama adalah bahwa ruqyah bukanlah ruqyah tauqifiyyah, melainkan boleh melakukan ruqyah dengan doa-doa yang disyari’atkan dan lafazh-lafazh yang dijadikan permintaan perlindungan, dan mereka menggunakan  landasan hadits Awf bin Malik al-Asja’iy sebagai dalilnya. –

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِرَجُلٍ مَا تَقُولُ فِي الصَّلَاةِ قَالَ أَتَشَهَّدُ ثُمَّ أَسْأَلُ اللَّهَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِهِ مِنْ النَّارِ أَمَا وَاللَّهِ مَا أُحْسِنُ دَنْدَنَتَكَ وَلَا دَنْدَنَةَ مُعَاذٍ قَالَ حَوْلَهَا نُدَنْدِنُ

Rasulullah ﷺ bersabda kepada seorang lelaki, "Apa yang kamu ucapkan di dalam shalat?" Dia menjawab, "Aku membaca tasyahhud, kemudian meminta surga kepada Allah, dan berlindung kepada-Nya dari neraka. Demi Allah, sesungguhnya ucapan-ucapan pujianmu sangat baik dan bukan ucapan pujiam-pujian dari Mu'adz." Beliau bersabda, "Semua dalam shalat kita mengucapkan pujian." (HR. Ibnu Majah no. 3847). 

وقد سئل الإمام مالك الله: «أيرقى الرجل ويسترقي ؟ فقال لا بأس بذلك بالكلام
الطيب» 

Imam Malik rahimahullah pernah ditanya:  “Bolehkah seseorang meruqyah dan meminta untuk diruqyah? Beliau berkata, tidak ada mengapa yang demikian dengan perkataan yang baik. (Lihat at-Tamhiid: 8/129).

وقال الربيع: «سألت الشافعي عن الرقية فقال : لا بأس أن يُرْقَى بكتاب الله وما
يُعْرَفُ من ذكر الله)  

Ar-Rabi’ rahimahullah berkata, : “Saya bertanya kepada Imam as-Syafi’i tentang ruqyah, dan dia menjawab: Tidak mengapa ruqyah dengan Kitabullah dan apa yang dikenal dari dzikir-dzikir kepada Allah. (Lihat Syarah as-Sunnah lil Baghowi 12/159).


قال ابن عبد البر الله : « وفيه الرقي بالقرآن وفي معناه كل ذكر الله جائز الرقية به) (٤).

Ibnu Abdul-Barr Allah bersabda: “Di dalamnya terdapat ruqyah melalui Al-Qur'an, dan dalam maknanya dzikir kepada Allah dibolehkan untuk ruqyah dengannya”  (lihat at-Tamhiid 8/129).


 وقال البغوي رحمه الله : والمنهي من الرقى ما كان فيه شرك، أو كان يذكر مردة الشياطين أو ما كان منها بغير لسان العرب، ولا يدرى ما هو، ولعله يدخله سحر، أو كفر، فأما ما كان بالقرآن، وبذكر الله عز وجل، فإنه جائز مستحب» (٥).

Al-Baghawi rahimahullah berkata: Yang diharamkan dari ruqyah adalah jika menyangkut kemusyrikan, atau menyebutkan Syaitan atau yang dalam bahasa selain bahasa Arab, dan tidak diketahui apa itu, dan mungkin masuk ke dalam sihir atau kekafiran., Adapun apa yang ada dalam Al-Qur'an dan dzikir kepada Allah, maka hal itu diperbolehkan dan dianjurkan. » 
(lihat Syarah Sunnah lil Baghawy 12/159)


۲- جواز الرقية من كل الأمراض.
دلت الأدلة على جواز الرقية للاستشفاء من كل الأمراض دون تخصيص مرض دون
مرض.
2- Ruqyah diperbolehkan untuk segala penyakit.
Bukti-bukti menunjukkan bahwa ruqyah diperbolehkan untuk kesembuhan segala penyakit tanpa menyebutkan penyakit tertentu.
Yang termasuk dalil tersebut adalah:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اشْتَكَى الْإِنْسَانُ الشَّيْءَ مِنْهُ أَوْ كَانَتْ بِهِ قَرْحَةٌ أَوْ جُرْحٌ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِإِصْبَعِهِ هَكَذَا وَوَضَعَ سُفْيَانُ سَبَّابَتَهُ بِالْأَرْضِ ثُمَّ رَفَعَهَا بِاسْمِ اللَّهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيقَةِ بَعْضِنَا لِيُشْفَى بِهِ سَقِيمُنَا بِإِذْنِ رَبِّنَا

Dari 'Aisyah, bahwa apabila seseorang mengadukan suatu penyakit yang dideritanya kepada Rasulullah ﷺ, seperti sakit kudis, atau luka, maka Nabi ﷺ berdoa sambil menggerakkan anak jarinya seperti ini -Sufyan meletakkan telunjuknya ke tanah, kemudian mengangkatnya- (Dengan nama Allah, dengan debu di bumi kami, dan dengan ludah sebagian kami, semoga disembuhkan orang yang sakit di antara kami dengan izin Rabb kami). (HR. Muslim no. 2194). 

قال القرطبي الله : فيه دلالة على جواز الرقى من كل الآلام وأن ذلك كان أمرا فاشيا
معلوما» 

Al-Qurtubi rahimahullah berkata: Ini menunjukkan dibolehkannya ruqyah untuk segala macam rasa sakit, dan ini adalah masalah yang dikenal orang banyak lagi diketahui” (Lihat Fathul Bari Ibni Hajar 10/208)

Begitu juga ruqyah malaikat Jibril terhadap Nabi ﷺ dengan doa:

بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ اللَّهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ

'Dengan nama Allah aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu dan dari kejahatan segala makhluk atau kejahatan mata yang dengki. Allah lah yang menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu.' (HR. Muslim no. 2186)
Kedua hadis tersebut dan lainnya menunjukkan disyariatkannya  ruqyah untuk segala penyakit, tanpa mengkhususkan ruqyah untuk suatu penyakit tertentu saja.
 
وأما قول النبي ﷺ: « لَا رُقْيَةَ إِلَّا مِنْ عَيْنٍ أَوْ حُمَةٍ

Sedangkan sabda Nabi ﷺ yaitu: "Tidak ada ruqyah kecuali karena 'ain (pandangan jahat/hasad) atau bisa (sengatan hewan berbisa)." (HR. Ahmad no. 19908, Abu Dawud no. 3884, Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shohih dan Dhoif Abi Dawud no. 3884).
Ini tidak bertentangan dengan hadits-hadits diatas, dan tidak menunjukkan kepada pembatasan ruqyah hanya berlaku pada penyakit ain, sengatan hewan berbisa, namun maknanya adalah tidak ada ruqyah yang lebih utama dan lebih manfaat dari ruqyah terhadap penyakit ain, dan hummah (sengatan hewan berbisa). 

===HUKUM MENGAMBIL UPAH ATAS RUQYAH

Mengambil upah untuk ruqyah adalah dibolehkan secara hukum asalnya, dan dalilnya adalah hadits Abu Sa’id al-Khudry radhiallahu’anhu, Dimana Beliau mendapatkan kambing setelah meruqyah dengan al-Fatihah kepala suatu suku yang terkena sengatan kalajengking (sebagaimana yang telah disebutkan). 
Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ

"Sesungguhnya upah yang paling berhak kalian ambil adalah upah karena (mengajarkan) kitabullah." (HR. Al-Bukhari no. 5737).
Imam an-Nawawy rahimahullah mengatakan:

هذا تصريح بجواز أخذ الأجرة على الرقية بالفاتحة والذكر وأنها حلال لا كراهة فيها

“Ini adalah pernyataan membolehkan memungut biaya untuk membaca Al-Fatihah dan doa-doa lainnya, dan ruqyah tersebut diperbolehkan tanpa ada keberatan terhadapnya.” (Syarah an-Nawawi ‘Ala Sahih Muslim no. 14/188).

Syaikh Dr. Ibrahim ar-Ruhaily hafizhahullah berkata:

وينبه هنا إلى أن أخذ الأجرة إنما هو للانتفاع بالرقية والشفاء لا على مجرد القراءة
فإنه غير جائز.

Perlu diketahui di sini bahwa mengambil biaya tersebut adalah untuk mendapatkan manfaat ruqyah dan kesembuhan, bukan sekedar untuk membaca, maka hal ini tidak diperbolehkan.

قال شيخ الإسلام ابن تيمية الله : وأما الاستئجار لنفس القراءة والإهداء فلا يصح   ذلك، فإن العلماء إنما تنازعوا في جواز أخذ الأجرة على تعليم القرآن والأذان والإمامة والحج عن الغير؛ لأن المستأجر يستوفي المنفعة» 

Syaikhul  Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Adapun menyewakan untuk bacaan yang sama dan memberi hadiah, maka tidak sah. karena para ulama hanya mempermasalahkan kebolehan mengambil upah untuk pengajaran Al-Qur'an, adzan, memimpin shalat. dan menunaikan haji atas nama orang lain. Karena penyewa mendapat manfaatnya”  (Lihat Majmu’ al-Fatawa 24/315).

===FENOMENA PENYIMPANGAN DALAM RUQYAH

Fenomena  penyimpangan dalam ruqyah banyak dan beragam, yang paling menonjol adalah:
1. Ruqyah menggunakan kata-kata syirik, seperti ruqyah yang menggunakan nama jin, setan, dan ruqyah lainnya. Dan mencari bantuan dengan amalan syirik, atau pergi ke dukun. 

2. Begitu pula ruqyah yang dilakukan dengan sesuatu yang tidak berbahasa Arab, atau dengan jimat dan simbol yang tidak dipahami maknanya, yang dikhawatirkan merupakan bentuk kesyirikan. 

3. Orang yang meruqyah jarak jauh tidak faham apa itu maksud ruqyah syar’iyyah karena itu ada bacaan dan ada sentuhan atau tiupan ke orang yang di ruqyah. Maka ini adalah suatu yang baru alias bid’ah. dilakukan dari jarak jauh melalui telepon atau televisi untuk semua orang yang mendengarkan atau menonton. Ini adalah hal yang baru, karena tiupan angin hanya dilakukan pada satu orang saja, bukan karena sakit atau kesakitan

4. Bid’ah dalam ruqyah yaitu beberapa pelaku ruqyah pada era ini memperkenalkan hal-hal bid’ah yang sebelumnya tidak diketahui dari Sunnah atau dari para pendahulu yang shalih, dan Itu termasuk:yang disebut ruqyah berkelompok, yaitu mengumpulkan orang-orang sakit dalam satu tempat, lalu pelaku ruqyah (Roqiy) membacakan pada mereka dan meniupnya sekaligus, bacaannya bisa dengan atau tanpa pengeras suara, dan maknanya adalah ruqyah. 

5. Ruqyah harus dilakukan langsung pada orang yang sakit, dan tidak boleh dilakukan Melalui pengeras suara, atau melalui telepon; Karena hal ini bertentangan dengan apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ, Para sahabatnya radhiyallahu 'anhu, dan para pengikutnya yang pandai ruqyah, dan beliau bersabda: “Barangsiapa yang berinovasi dalam urusan kami,

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Membaca ruqyah bersama untuk orang yang menderita bukanlah metode salaf, hal itu termasuk dibuat-buat.” (lihat Majmu; Fatawa Syaikh Ibnu Ustaimin 17-18).

6. Ruqyah dengan merekam ruqyah kemudian memutar alat perekamnya agar dapat didengar oleh pasien. Ini merupakan sesuatu yang baru dan bertentangan dengan maksud hukum ruqyah. Karena yang dimaksud dengan ruqyah adalah membaca Al-Qur'an, menyebut nama-nama Allah, kemudian meniupkan ludah pada tempat sakit yang dicampur dengan bacaan dan zikir, dan karena ruqyah memerlukan niat dan kesengajaan dalam melaksanakannya, dan itu semua. tidak terjadi melalui hal hal tersebut. Perangkat tidak dapat melakukan itu.”  

7. Ruqyah dalam tangki dan bejana besar untuk menampung air, dengan membaca Al-Qur'an atau dzikir Kemudian meniup ke dalam tangki dengan alasan bahwa ini adalah ruqyah umum bagi siapa saja yang minum atau mandi dari tangki tersebut. 

8. Ruqyah melalui (kulit serigala) dengan cara pasien mencium kulit serigala, untuk mengungkapkan keberadaannya Jin atau bukan, karena jin takut pada serigala, mengusirnya, dan merasa terganggu saat merasakannya. Dengan kehadirannya. Kemudian pasien bangkit setelah itu. Ini adalah suatu hal yang baru ditemukan dan belum ada buktinya, dan pernyataan bahwa jin tidak menyukai serigala adalah tidak benar. menjadi ilmu sihir: Penggunaan kulit serigala; Ini mungkin jenis jimat terlarang.

9. Hati menjadi melekat pada ruqyah dan penyimpangan-penyimpangan yang menyertainya
Diantaranya adalah:
A- Orang mukmin yang melaksanakan shalat tukang sihir yang menyatakan bahwa dukun itu mempunyai kesembuhan dan keterikatannya terhadapnya adalah batil, karena kesembuhan hanya dimiliki oleh Allah. Telah disebutkan sebelumnya bahwa salah satu syarat ruqyah yang sah adalah keyakinan bahwa kesembuhan ada di tangan Tuhan, dan bahwa ruqyah hanya sekedar alasan, dan hati yang melekat pada ruqyah bertentangan dengan syarat sah. ruqyah dan agak musyrik, makanya musyrik. Hal ini merupakan salah satu bentuk penyimpangan pada bab Ruqyah.
B: Keyakinan para ruqyah bahwa ada rahasia khusus ruqyah yang hanya diketahui oleh para ruqyah: Salah satu penyimpangan ruqyah masa kini adalah keyakinan sebagian pasien, dan orang yang mencari ruqyah, bahwa beberapa ruqyah mempunyai rumusan khusus yang tidak diketahui orang lain, dan barangkali kesamaan ini menguatkan sebagian dari apa yang diklaim oleh ruqyah tersebut, bahwa ia mempunyai ruqyah yang dia melihatnya dalam mimpi, atau bahwa itu adalah ruqyah yang terbukti dan tidak ada orang lain yang mengetahuinya, maka dari itu dia mengklaimnya. Bahwa Dia  mempunyai rumusan ruqyah khusus untuknya dan tidak untuk yang lain. Tidak disyaria’atkan untuk menggunakan ruqyah ini. dan sebaliknya ruqyah yang menggunakannya apa saja yang haram, sehingga tidak ada manfaatnya bagi orang yang melakukan ruqyah atau orang yang ditawari ruqyah darinya.
Beberapa orang yang sakit percaya bahwa jika mereka melakukan ruqyah, mereka tidak akan sembuh:
Hal ini juga merupakan salah satu penyimpangan kekinian dimana sebagian orang sakit meyakini bahwa jika dia ruqyah sendiri, maka dia tidak akan sembuh karena dia mengetahui kekurangannya dalam menjalankan perintah Allah, dan bahwa Allah tidak akan menyembuhkannya jika dia ruqyah sendiri, jadi hatinya melekat pada sebagian ruqyah dari orang yang dikiranya Sholih, maka perkara itu kembali lagi pada pelanggaran hukum dalam urusan ruqyah. Dan orang yang membaca ruqyah itu tidak melakukan ruqyah karena yakin bahwa kesembuhan ada di tangan Allah. , dan bahwa ruqyah itu ada sebab kesembuhan, malahan ia meyakini kesembuhan itu ada pada ruqyah si fulan dan fulan yang menurutnya shalih. dan keyakinannya bahwa Allah tidak akan membalas ruqyahnya untuk dirinya sendiri, dan ini adalah buruk sangka kepada Allah dan kebodohan.
Allahu A’lam

Semoga bermanfaat.

Bersambung ke tulisan selanjutnya, inSya Allah.

Akhukum Zaki Rakhmawan Abu Usaid

RUQYAH

#DAURAH_SYAR’IYYAH_SOLO_MAHAD_IMAM_AL_BUKHARI
#PERTEMUAN_KETUJUH

KITAB 
سبيل الرشاد في تقرير مسائل الإعتقاد


Syaikh Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaily hafizhahullah menjelaskan:


PASAL KETIGA
*AQIDAH AHLUS SUNNAH TENTANG RUQYAH*

==Definisi Ruqyah secara bahasa dan syar’i:
Definisi secara bahasa adalah:  jamak dari ruqyah. Meminta perlindungan dengan bacaan terhadap orang yang mendapatkan gangguan dan sakit.
Ruqyah secara syar’i belum ada definisi yang bagus, oleh karena Syaikh  hafizhahullah berijtihad dengan definisi ruqyah yang Beliau nukilkan di dalam kitab ini:

هي القراءة على المريض بالقرآن وأسماء الله وصفاته وبما ورد في السنة من التعاويذ، مع النفث بالريق وبدونه.

Yaitu membacakan kepada orang yang sakit Al-Qur’an, nama-nama dan sifat-sifat Allah, dan lafazh-lafazh doa  dari as-Sunnah yang termasuk meminta perlindungan, bersamaan tiupan  dengan air liur atau tanpanya.

MACAM-MACAM RUQYAH DAN HUKUMNYA

Macam yang pertama: Ruqyah yang dibolehkan secara syar’I, adalah adalah yang mencangkup berbagai syarat ruqyah yang shohihah dan ini dijelaskan bolehnya dengan berbagai hadits dari Nabi ﷺ yaitu:

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ قَالَ كُنَّا نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ فَقَالَ اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ

Dari 'Auf bin Malik Al Asyja'i dia berkata, "Kami biasa melakukan mantera pada masa jahiliah. Lalu kami bertanya kepada Rasulullah ﷺ, 'Ya Rasulullah! bagaimana pendapat Anda tentang mantera?' Jawab beliau: 'Peragakanlah manteramu itu di hadapanku. Mantera itu tidak ada salahnya selama tidak mengandung syirik.' (HR. Muslim no. 2200). 

Hadits yang dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari rahimahullah:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْفُثُ عَلَى نَفْسِهِ فِي الْمَرَضِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ فَلَمَّا ثَقُلَ كُنْتُ أَنْفِثُ عَلَيْهِ بِهِنَّ وَأَمْسَحُ بِيَدِ نَفْسِهِ لِبَرَكَتِهَا

Dari 'Aisyah radhiallahu'anha bahwa Nabi ﷺ meniupkan kepada diri beliau sendiri dengan Mu'awwidzat (surah An-Naas dan Al-Falaq) ketika beliau sakit menjelang wafatnya, dan tatkala sakit beliau semakin parah, sayalah yang meniup dengan kedua surat tersebut dan saya megusapnya dengan tangan beliau sendiri karena berharap untuk mendapat berkahnya." Aku bertanya kepada Az Zuhri, "Bagaimana cara meniupnya?" dia menjawab, "Beliau meniup kedua tangannya, kemudian beliau mengusapkan ke wajah dengan kedua tangannya." (HR. Al-Bukhari no. 5735).

Hadits yang Ketiga:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ نَزَلْنَا مَنْزِلًا فَأَتَتْنَا امْرَأَةٌ فَقَالَتْ إِنَّ سَيِّدَ الْحَيِّ سَلِيمٌ لُدِغَ فَهَلْ فِيكُمْ مِنْ رَاقٍ فَقَامَ مَعَهَا رَجُلٌ مِنَّا مَا كُنَّا نَظُنُّهُ يُحْسِنُ رُقْيَةً فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ فَأَعْطَوْهُ غَنَمًا وَسَقَوْنَا لَبَنًا فَقُلْنَا أَكُنْتَ تُحْسِنُ رُقْيَةً فَقَالَ مَا رَقَيْتُهُ إِلَّا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ قَالَ فَقُلْتُ لَا تُحَرِّكُوهَا حَتَّى نَأْتِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْنَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ مَا كَانَ يُدْرِيهِ أَنَّهَا رُقْيَةٌ اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ مَعَكُمْ

 Dari Abu Sa'id Al Khudri dia berkata, Kami singgah pada suatu tempat, lalu datanglah seorang wanita kepada kami dan berkata, "Sesungguhnya pemimpin wilayah ini sedang sakit, maka apakah dari kalian ada seseorang yang bisa meruqyah?" Abu Sa'id berkata, "Maka berdirilah seorang laki-laki mengikuti wanita tersebut, padahal kami tidak mengira bahwa laki-laki tersebut pandai meruqyah. lalu ia meruqyahnya dengan surah Al-Fatihah hingga iapun sembuh. Lalu mereka memberi seekor kambing kepadanya dan memberi kami minuman susu." Maka kami bertanya kepadanya; Apakah kamu pandai meruqyah? Dia menjawab, Aku tidak meruqyahnya kecuali dengan surah Al-Fatihah. Abu Sa'id berkata, Aku lalu berkata, "Kalian jangan melakukan apapun (mengenai surah Al-Fatihah) sehingga kita datang kepada Rasulullah ﷺ, " lalu kami menemui Rasulullah ﷺ, kemudian aku menceritakan hal tersebut kepada beliau, maka beliau pun bersabda, "Tidakkah dia tahu bahwa itu adalah ruqyah, bagilah (hadiah itu) dan ikutkan aku dalam pembagian kalian." (HR. Muslim no. 2201)

Maka Ketiga hadits ini membolehkan ruqyah dengan tiga sudut pandang yaitu: dengan izin dari Rasulullah ﷺ, hadits yang kedua dengan perbuatan Nabi ﷺ dan hadits Ketiga dengan persetujuan ketetapn Nabi ﷺ, dan hadits yang seperti ini pun masih banyak yang lainnya.

Dokter itu adalah memberikan perawatan dan terapi, sedangkan yang memberikan kesembuhan adalah Allah Azza wa Jalla.

SYARAT RUQYAH SYAR’IYYAH:

Ibnu Hajar rahimahullah memberikan penjelasan tentang syarat Ruqyah syar’iyyah yaitu:
1. Dengan kalam Allah, atau dengan Nama dan Sifat-sifat Allah
2. dengan bahasa arab, (karena kalau menggunakan bahasa lain bisa jatuh kepada kesyirikan).
3. Ruqyah tidak memberikan pengaruh secara dzatnya namun yang memberikan kesembuhan  dan kemanfaatan adalah dari Allah.

Berikut Ketiga syarat tersebut secara detailnya:
===================
==Syarat yang pertama: 
===================
Harus dengan Kalam Allah  atau dengan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah yang ada dalilnya dari Nabi ﷺ dari ruqyah dan doa minta perlindungan kepada Allah. Dan para ulama menambahkan termasuk kedalamnya yaitu apa yang mempunyai makna yang berkaitan dengannya.
Seperti hadits Sa’id al-Khudry yang telah lalu yaitu Beliau pernah meruqyah pemimpin kaum yang terkena sengatan kalajengking, dan meruqyahnya dengan bacaan al-Fatihah

فَانْطَلَقَ فَجَعَلَ يَتْفُلُ وَيَقْرَأُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ 

Kemudian Beliau bergegas dan menjadikan ludahnya kemudian membaca alhamdulillah rabil ‘alamin .. (HR. Al-Bukhari no. 5749)
Dalam Riwayat yang Shohih:

فَجَعَلَ يَقْرَأُ بِأُمِّ الْقُرْآنِ وَيَجْمَعُ بُزَاقَهُ وَيَتْفِلُ

"Lalu seorang sahabat Nabi membaca Ummul Qur'an dan mengumpulkan ludahnya seraya meludahkan kepadanya. (HR. Al-Bukhari no. 5736 dan Muslim no. 2201). 

Hadits :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَعَوَّذُ مِنْ عَيْنِ الْجَانِّ ثُمَّ أَعْيُنِ الْإِنْسِ فَلَمَّا نَزَلَتْ الْمُعَوِّذَتَانِ أَخَذَهُمَا وَتَرَكَ مَا سِوَى ذَلِكَ

dari Abu Sa'id dia berkata, "Seringkali Rasulullah ﷺ berlindung dari 'Ain (tatapan mata) Jin dan manusia, tatkala turun surat Mu'awidzatain, beliau menggunakannya dan meninggalkan yang lainnya." (HR. Ibnu Majah no. 3511, dishohihkan Syaikh al-Albani dalam Shohih dan Dhoif Sunan Ibni Majah 8/11).

Ibnu Bathol rahimahullah berkata:

‌وإذا ‌جازت ‌الرقية ‌بالمعوذتين وهما سورتان من القرآن كانت الرقية بسائر القرآن مثلها فى الجواز؛ إذ كله قرآن

Jika dibolehkan ruqyah dengan dua surah Al-Qur'an yang merupakan dua surah Al-Qur'an, maka ruqyah dengan sisa Al-Qur'an juga diperbolehkan. Karena semuanya Al-Qur'an. (Lihat Syarah Shohih al-Bukhari 9/429).

===================
==Syarat yang kedua: 
===================

Harus dengan bahasa arab atau dengan apa yang difahami maknanya sesuai syar’i.
Dalilnya adalah:

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ قَالَ كُنَّا نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ فَقَالَ اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ

dari 'Auf bin Malik Al Asyja'i dia berkata, "Kami biasa melakukan mantera pada masa jahiliah. Lalu kami bertanya kepada Rasulullah ﷺ, 'Ya Rasulullah! bagaimana pendapat Anda tentang mantera?' Jawab beliau: 'Peragakanlah manteramu itu di hadapanku. Mantera itu tidak ada salahnya selama tidak mengandung syirik.' (HR. Muslim no. 2200)

وقال شيخ الإسلام ابن تيمية رحم الله : وعامة ما بأيدي الناس من العزائم والطلاسم والرقى التي لا تفقه بالعربية فيها ما هو شرك بالجن. ولهذا نهى علماء المسلمين عن الرقى التي لا يفقه معناها؛ لأنها مظنة الشرك وإن لم يعرف الراقي أنها شرك» 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Pada umumnya jimat, jimat, dan mantra yang ada di tangan manusia yang tidak bisa dipahami dalam bahasa Arab merupakan bentuk kesyirikan dengan jin. Inilah sebabnya para ulama melarang ruqyah yang tidak dipahami maknanya; Karena ruqyah yang seperti itu bisa disangka bentuk kesyirikan, bahkan orang yang meruqyah pun tidak mengetahui bahwa itu kesyirikan” (LIhat Majmu’ al-Fatawa 13/19)

===================
==Syarat yang ketiga 
===================
أن يعتقد أن الرقية لا تؤثر بذاتها، وإنما هي سبب من الأسباب تنفع بإذن الله تعالى، وأن الشفاء بيد الله.

Ia harus meyakini bahwa ruqyah itu sendiri tidak mempunyai efek samping/pengaruh dari dzat ruqyahnya melainkan salah satu sebab yang manfaatnya, dengan izin Allah Ta’ala, dan kesembuhan itu hakekatnya ada di tangan Allah.
Dalilnya adalah:

عَلَى أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ فَقَالَ ثَابِتٌ يَا أَبَا حَمْزَةَ اشْتَكَيْتُ فَقَالَ أَنَسٌ أَلَا أَرْقِيكَ بِرُقْيَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَلَى قَالَ اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لَا شَافِيَ إِلَّا أَنْتَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا
Maka Anas berkata, "Maukah kamu aku ruqyah dengan ruqyah Rasulullah ﷺ?" dia menjawab, "Tentu." Anas berkata, "ALLAAHUMMA RABBAN NAASI MUDZHIBAL BA`SA ISYFI ANTASY SYAAFI LAA SYAAFIYA ILLAA ANTA SYIFAA-AN LAA YUGHAADIRU SAQAMA (Ya Allah Rabb manusia, Dzat yang menghilangkan rasa sakit, sembuhkanlah, sesungguhnya Engkau Maha Penyembuh, tidak ada yang dapat menyembuhkan melainkan Engkau, yaitu kesembuhan yang tidak menyisakan rasa sakit)." (HR. Al-Bukhari no. 5675)
Dalam hadits tersebut:
Beliau ﷺ mengingkari kesembuhan dari selain Allah, Ruqyah berasal dari perbuatan seorang hamba, dan itu termasuk di antara sebab-sebabnya. Sebab-sebab itu tidak terlepas melainkan dipengaruhi oleh kehendak Allah, maka jika Allah memerintahkan kesembuhan melalui sebab-sebab itu, maka itu dari Allah, dan jika Dia tidak menetapkannya sebagai suatu kesembuhan maka dipastikan tidak ada obatnya kecuali obat dari-Nya.

TATA CARA RUQYAH
1. Membaca dengan disertai tiupan dan ludahan.
Dalilnya adalah:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْفُثُ عَلَى نَفْسِهِ فِي الْمَرَضِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ فَلَمَّا ثَقُلَ كُنْتُ أَنْفِثُ عَلَيْهِ بِهِنَّ وَأَمْسَحُ بِيَدِ نَفْسِهِ لِبَرَكَتِهَا فَسَأَلْتُ الزُّهْرِيَّ كَيْفَ يَنْفِثُ قَالَ كَانَ يَنْفِثُ عَلَى يَدَيْهِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ

Dari 'Aisyah radhiallahu'anha bahwa Nabi ﷺ meniupkan kepada diri beliau sendiri dengan Mu'awwidzat (surah An-Naas dan Al-Falaq) ketika beliau sakit menjelang wafatnya, dan tatkala sakit beliau semakin parah, sayalah yang meniup dengan kedua surat tersebut dan saya megusapnya dengan tangan beliau sendiri karena berharap untuk mendapat berkahnya." (HR. Al-Bukhari no. 5735)

Hadits mulia:

فَجَعَلَ يَقْرَأُ بِأُمِّ الْقُرْآنِ وَيَجْمَعُ بُزَاقَهُ وَيَتْفِلُ

"Lalu seorang sahabat Nabi membaca Ummul Qur'an dan mengumpulkan ludahnya seraya meludahkan kepadanya  (HR. Al-Bukhari no. 5736 dan Muslim no. 2201).

BEDA AN-NAFTS & AT-TAFL – النفث و التفل

- وقيل : إن النفث يكون معه ريق يسير والتفل أكثر منه في الريق

An-Nafts itu dengan tiupan yang ada ludah nya sedikit, sedangkan at-Tafl adalah  tiupan dengan ludah yang lebih banyak lagi. (itulah yang diambil oleh Ibnu Faris dan Ibnul Atsir).

2. Ruqyah tanpa dengan tiupan.
3. Ruqyah dengan meletakkan tangan menyentuh dan mengusap daerah yang sakit.
Dalilnya:

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ الثَّقَفِيِّ أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعًا يَجِدُهُ فِي جَسَدِهِ مُنْذُ أَسْلَمَ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ بِاسْمِ اللَّهِ ثَلَاثًا وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

Dari 'Utsman bin Abu Al 'Ash Ats Tsaqafi bahwa dia mengadukan kepada Rasulullah ﷺ suatu penyakit yang dideritanya sejak ia masuk Islam. Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, "Letakkan tanganmu di tubuhmu yang terasa sakit, kemudian ucapkan Bismillah tiga kali, sesudah itu baca tujuh kali: A'udzu billahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadziru." (Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari penyakit yang aku derita dan aku cemaskan). (HR. Muslim no. 2202).

4. Ruqyah dengan mencampurkan air liur dan tanah kemudian menyeka/mengusapkan kepada tempat yang sakit.
5. Ruqyah dengan air dan minyak atau benda cair lainnya.
Dalilnya:

عَنْ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ ثُمَّ أَخَذَ تُرَابًا مِنْ بَطْحَانَ فَجَعَلَهُ فِي قَدَحٍ ثُمَّ نَفَثَ عَلَيْهِ بِمَاءٍ وَصَبَّهُ عَلَيْهِ

Dari Tsabit bin Qais bin Syammas, "Kemudian beliau mengambil tanah dari Bathhan dan memasukkannya ke dalam sebuah gelas, beliau kemudian menyemburkan air ke dalamnya, lalu menuangkannya kepadanya."  (HR. Abu Dawud no. 3885, tapi sanadnya dhoif, lihat Dhoif Abi Dawud no. 3885).

6.  RUQYAH BAGI ORANG KERASUKAN DENGAN PUKULAN 

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ قَالَ لَمَّا اسْتَعْمَلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الطَّائِفِ جَعَلَ يَعْرِضُ لِي شَيْءٌ فِي صَلَاتِي حَتَّى مَا أَدْرِي مَا أُصَلِّي فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ رَحَلْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ابْنُ أَبِي الْعَاصِ قُلْتُ نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا جَاءَ بِكَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَرَضَ لِي شَيْءٌ فِي صَلَوَاتِي حَتَّى مَا أَدْرِي مَا أُصَلِّي قَالَ ذَاكَ الشَّيْطَانُ ادْنُهْ فَدَنَوْتُ مِنْهُ فَجَلَسْتُ عَلَى صُدُورِ قَدَمَيَّ قَالَ فَضَرَبَ صَدْرِي بِيَدِهِ وَتَفَلَ فِي فَمِي وَقَالَ اخْرُجْ عَدُوَّ اللَّهِ فَفَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ قَالَ الْحَقْ بِعَمَلِكَ قَالَ فَقَالَ عُثْمَانُ فَلَعَمْرِي مَا أَحْسِبُهُ خَالَطَنِي بَعْدُ

dari Utsman bin Abu Al 'Ash dia berkata, "Tatkala Rasulullah ﷺ menugaskan aku di Tha`if, tiba-tiba ada sesuatu yang selalu menggangguku di dalam shalat sehingga aku tidak menyadari shalat yang aku kerjakan. Ketika aku sadari, maka aku lekas pergi kembali menemui Rasulullah ﷺ, beliau lalu bertanya, "Ibnu Abu Al 'Ash?" Aku menjawab, Ya, wahai Rasulullah." Beliau bertanya lagi, "Kabar apa yang kamu bawa?" Aku menjawab, "Ada sesuatu yang mengganguku di dalam shalat, sehingga aku tidak menyadari shalat yang aku kerjakan." Beliau bersabda, "Itu adalah setan, mendekatlah kamu." Maka aku pun mendekat kepada beliau, dan aku duduk di atas kedua telapak kakiku. Dia melanjutkan, "Kemudian beliau menyentuh dadaku dengan tangannya, lalu meludah di mulutku dan bersabda, "Keluarlah wahai musuh Allah." Beliau melakukan hal itu hingga tiga kali, kemudian bersabda, "Kembalilah kepada tugasmu semula." (Perawi) berkata, "Utsman berkata, "Demi Dzat yang menghidupkan aku, aku tidak pernah lagi merasakan ada yang menggangguku." (HR. Ibnu Majah no. 3548 dan Dishohihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shohih dan Dhoif Ibni Majah no. 3548).
Ruqyah bagi orang yang kerasukan pernah dilakukan oleh Syaikhul Islam Ibni Taimiyah dan inipun diceritakan oleh Ibnul Qoyyim  dan ini pun diakui oleh sebagian ulama zaman sekarang.
Syaikhul Islam Ibni Taimiyah rahimahullah berkata:

وَلِهَذَا قَدْ ‌يَحْتَاجُ ‌فِي ‌إبْرَاءِ ‌الْمَصْرُوعِ وَدَفْعِ الْجِنِّ عَنْهُ إلَى الضَّرْبِ فَيُضْرَبُ ضَرْبًا كَثِيرًا جِدًّا وَالضَّرْبُ إنَّمَا يَقَعُ عَلَى الْجِنِّيِّ وَلَا يَحُسُّ بِهِ الْمَصْرُوعُ حَتَّى يَفِيقَ الْمَصْرُوعُ وَيُخْبِرَ أَنَّهُ لَمْ يَحُسَّ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ وَلَا يُؤَثِّرُ فِي بَدَنِهِ وَيَكُونُ قَدْ ضُرِبَ بِعَصَا قَوِيَّةٍ عَلَى رِجْلَيْهِ نَحْوَ ثَلَاثِمِائَةٍ أَوْ أَرْبَعِمِائَةِ ضَرْبَةً وَأَكْثَرَ وَأَقَلَّ بِحَيْثُ لَوْ كَانَ عَلَى الْإِنْسِيِّ لَقَتَلَهُ وَإِنَّمَا هُوَ عَلَى الْجِنِّيِّ وَالْجِنِّيُّ يَصِيحُ وَيَصْرُخُ وَيُحَدِّثُ الْحَاضِرِينَ بِأُمُورٍ مُتَعَدِّدَةٍ كَمَا قَدْ فَعَلْنَا نَحْنُ هَذَا وَجَرَّبْنَاهُ مَرَّاتٍ كَثِيرَةً يَطُولُ وَصْفُهَا بِحَضْرَةِ خَلْقٍ كَثِيرِينَ

Oleh karena itu, untuk menyembuhkan penyakit epilepsinya dan mengusir jin darinya, maka ia perlu dipukul, maka ia akan sering dipukul, dan pemukulan itu hanya menimpa jin saja, dan orang yang mengidap penyakit itu tidak akan merasakannya sampai penderita epilepsi bangun dan diberitahu bahwa dia tidak merasakan semua itu dan itu tidak mempengaruhi tubuhnya, dan dia telah dipukul dengan tongkat yang kuat pada kaki Dia menimbulkan sekitar tiga atau empat ratus pukulan pada kakinya. apalagi kalau melawan manusia pasti sudah membunuhnya, tapi itu hanya terhadap jin, dan jin berteriak-teriak dan berbicara kepada yang hadir tentang berbagai hal, seperti Kami tidak melakukan ini. dan mengalaminya berkali-kali sehingga butuh waktu lama untuk menggambarkannya di hadapan banyak orang. (Lihat Majmu’ al-Fatawa: 60/19)

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata:

شاهدت ‌شيخنا ‌يرسل ‌إلى المصروع من يُخاطب الروح التي فيه ويقول: قال لك الشيخ اخرجي، فإن هذا لا يحل لك، فيفيق المصروع ولا يحس بألم. وقد شاهدنا نحن وغيرنا منه ذلك مراراً. وكان كثيراً ما يقرأ في أذن المصروع: {أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاً وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لا تُرْجَعُونَ} [المؤمنون، الآية 115] . وحدثني أنه قرأها مرة في أذن المصروع، فقالت الروح: نعم. ومدّ بها صوته. قال: فأخذت له عصا، وضربته بها في عروق عنقه، حتى كلّت يداي من الضرب، ولم يشك الحاضرون أنه يموت لذلك الضرب، ففي أثناء الضرب قالت: أنا أحبه، فقلت لها: هو لا يُحبّك. قالت: أنا أُريد أن أحُجّ به، فقلت لها: هو لا يُريد أن يحجّ معك. فقالت: أنا أدعه كرامة لك. قال: قلت: لا، ولكن طاعة لله ولرسوله. قالت: فأنا أخرج منه. قال: فقعد المصروع يلتفت يميناً وشمالاً، وقال: ما جاء بي إلى حضرة الشيخ؟ قالوا له: وهذا الضرب كله؟ فقال: وعلى أي شيء يضربني الشيخ ولم أُذنب. ولم يشعر بأنه وقع به ضرب البتة

Aku melihat Syaikh kami (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)  mengirimkan seseorang kepada orang lumpuh itu untuk menyapa roh yang ada di dalam dirinya dan berkata: Syaikh menyuruhmu keluar, karena hal ini tidak diperbolehkan bagimu, sehingga orang lumpuh itu bangun dan tidak merasakan sakit. Kami dan orang lain telah melihat hal ini berulang kali. Beliau (Syaikhul Islam) sering membacakan di telinga orang yang tertimpa musibah: “Maka apakah kamu mengira, bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS Al-Mukminun : 115) . Dia menceritakan kepadaku bahwa dia pernah membacanya di telinga orang lumpuh, dan roh itu berkata: Ya. Dia memperluas suaranya padanya. Dia berkata: Maka aku mengambil tongkat untuknya dan memukul lehernya dengan tongkat itu, sampai tanganku lelah karena pemukulan itu, dan orang-orang yang hadir yakin bahwa dia sedang sekarat karena pemukulan itu. Aku mencintainya, dan aku berkata kepadanya: Dia tidak mencintaimu. Dia berkata: Aku ingin menunaikan haji bersamanya. Aku berkata kepadanya: Dia tidak ingin menunaikan haji bersamamu. Dia berkata: Saya akan meninggalkannya karena menghormati Anda. Dia berkata: Aku menjawab: Tidak, tapi karena ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dia berkata: Saya akan keluar dari situ. Beliau berkata: Lalu orang yang terluka itu duduk sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, seraya berkata: Apa yang membawaku ke hadapan Syaikh? Mereka berkata kepadanya: Dan pemukulan ini secara keseluruhan? Dia berkata: Untuk apa Syaikh  memukulku, dan aku tidak berbuat dosa? Dia tidak merasa telah dipukuli sama sekali. (Lihat Zaadul Ma’ad 4/62-63).

وقد سئل الشيخ عبد العزيز بن باز تعم الله : هل يجوز للذي يعالج المرضى بقراءة القرآن
الكريم أن يضرب ويخنق ويتحدث مع الجن؟»
فأجاب: «هذا قد وقع شيء منه من بعض العلماء السابقين مثل شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله تعالى، فقد كان يخاطب الجني ويخنقه ويضربه حتى يخرج، أما المبالغة في هذه
الأمور مما نسمعه عن بعض القراء فلا وجه لها .) 

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya: Bolehkah seseorang yang merawat pasien dengan membaca Al-Qur'an untuk  memukul, mencekik, dan berbicara dengan jin yang meerasukinya?
Beliau rahimahullah menjawab: "Beberapa ulama sebelumnya, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, rahimahullah, pernah mengalami hal seperti ini. Beliau rahimahullah biasa berbicara dengan jin, mencekiknya, dan memukulinya sampai dia keluar. Adapun hal yang berlebihan dalam hal ini,  dari Hal-hal yang kami dengar dari sebagian ahli ruqyah tidak ada dasarnya.) 

Semoga bermanfaat.

Bersambung ke tulisan selanjutnya, inSya Allah.


Rabu, 10 Januari 2024

TABARUK YANG SYAR`I

#DAURAH_SYAR’IYYAH_SOLO_MAHAD_IMAM_AL_BUKHARI
#PERTEMUAN_KEENAM

KITAB 
سبيل الرشاد في تقرير مسائل الإعتقاد


Syaikh Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaily hafizhahullah menjelaskan:


*TABARUK YANG DISYARI’ATKAN:*

1. Tabaruk dengan al-Qur’an (sudah dibahas di tulisan sebelumnya)
2. Tabaruk dengan dzikir kepada Allah (sudah dibahas di tulisan sebelumnya)
===========================
*3. TABARUK DENGAN NABI ﷺ 
==========================
--- ini ada tiga :
a. Tabaruk dengan cara beriman kepadanya
Yaitu dengan mentaati apa yang menjadi perintahnya, memegang teguh petunjuknya ﷺ dan ini adalah sebab terbesar bagi seorang muslim untuk bisa mendapatkan kebarokahan dalam umur, ilmu, amal dan rezkinya.
Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A’raaf: 96).

اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖۗ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖ ۗ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ

Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.” (QS. Al-Baqarah: 285)
Ini menunjukkan sebab kebarokahan itu dengan beriman kepada Nabi ﷺ.

b. Tabaruk dengan dzatnya Nabi ﷺ

Nabi ﷺ diberikan kebarokahan dalam jasadnya, anggota badannya dan telah banyak hadits yang menjelaskan tentang hal tersebut. 
Hadits yang mulia:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَيَنْفُثُ فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجَعُهُ كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُ بِيَدِهِ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا
dari Aisyah radhiallahu'anha, Bahwasanya Rasulullah ﷺ apabila menderita sakit, maka beliau membacakan AL MU'AWWIDZAAT (surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas) untuk dirinya sendiri, lalu beliau meniupkannya. Dan ketika sakitnya parah, maka akulah yang membacakannya pada beliau, lalu mengusapkan dengan menggunakan tangannya guna mengharap keberkahannya. (HR. Al-Bukhari no. 5016 dan Muslim no. 2192).

c. Tabaruk dengan Peninggalan Nabi ﷺ

=====Tabaruk dengan peninggalan Nabi ﷺ ketika Beliau masih hidup:
Seperti:
1.) Tabaruk dengan rambut Nabi ﷺ
Sebagaimana hadits :

عَنْ أَنَسٍ قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَلَّاقُ يَحْلِقُهُ وَأَطَافَ بِهِ أَصْحَابُهُ فَمَا يُرِيدُونَ أَنْ تَقَعَ شَعْرَةٌ إِلَّا فِي يَدِ رَجُلٍ

Dari Anas dia berkata, "Sungguh saya pernah melihat Rasulullah ﷺ sedang dicukur oleh seorang tukang cukur dengan dikerumuni oleh para sahabat beliau. Sebenarnya yang mereka inginkan adalah agar setiap helai rambut beliau yang tercukur itu jatuh ke tangan seorang sahabat yang mengerumuninya." (HR. Muslim no. 2325). 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَمَى جَمْرَةَ الْعَقَبَةِ ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَى الْبُدْنِ فَنَحَرَهَا وَالْحَجَّامُ جَالِسٌ وَقَالَ بِيَدِهِ عَنْ رَأْسِهِ فَحَلَقَ شِقَّهُ الْأَيْمَنَ فَقَسَمَهُ فِيمَنْ يَلِيهِ ثُمَّ قَالَ احْلِقْ الشِّقَّ الْآخَرَ فَقَالَ أَيْنَ أَبُو طَلْحَةَ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ

dari Anas bin Malik bahwasanya; Setelah Rasulullah ﷺ melempar Jamratul 'Aqabah, beliau langsung bergegas menuju Unta (hewan kurbannya) dan menyembelihnya. Sementarara tukang bekam sedang duduk di sekitar itu. Maka beliau memberi isyarat dengan tangannya ke arah kepala (agar ia mencukurnya). Lalu tukang cukur itu pun mencukur rambut beliau yang sebelah kanan dan kemudian beliau membagikannya kepada orang yang berada di dekatnya. Setelah itu, rambut yang sebelahnya lagi, kemudian beliau bertanya, "Mana Abu Thalhah?" maka beliau pun memberikan rambut itu padanya. (HR. Muslim no. 1305).

2.) Mengambil Keberkahan dari tahnik yang dilakukan oleh Nabi ﷺ: 

عَنْ أَسْمَاءَ أَنَّهَا حَمَلَتْ بِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ بِمَكَّةَ قَالَتْ فَخَرَجْتُ وَأَنَا مُتِمٌّ فَأَتَيْتُ الْمَدِينَةَ فَنَزَلْتُ بِقُبَاءٍ فَوَلَدْتُهُ بِقُبَاءٍ ثُمَّ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَهُ فِي حَجْرِهِ ثُمَّ دَعَا بِتَمْرَةٍ فَمَضَغَهَا ثُمَّ تَفَلَ فِي فِيهِ فَكَانَ أَوَّلَ شَيْءٍ دَخَلَ جَوْفَهُ رِيقُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ حَنَّكَهُ بِالتَّمْرَةِ ثُمَّ دَعَا لَهُ وَبَرَّكَ عَلَيْهِ وَكَانَ أَوَّلَ مَوْلُودٍ وُلِدَ فِي الْإِسْلَامِ

dari Asma', Ketika dia mengandung anaknya 'Abdullah bin Zubair, dia masih berada di Makkah. Dia berkata, "Kemudian aku hijrah ke Madinah, padahal aku sudah hamil tua. Kemudian aku berhenti di Quba, dan aku melahirkan di sana. Lalu aku bawa anakku kepada Rasulullah dan meletakkannya di pangkuan beliau. Rasulullah meminta sebuah kurma lalu dikunyahnya. Sesudah itu disuapkannya ke mulut bayiku. Itulah makanan yang pertama kali masuk ke mulut bayi itu, kurma yang telah bercampur dengan air ludah beliau. Kemudian Nabi ﷺ mendoakan keberkahan baginya. Dialah bayi yang pertama-tama lahir dalam Islam." (HR. Al-Bukhari no. 5469 dan Muslim no. 2146).

3.) Tabaruk dengan keringat Nabi ﷺ:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عِنْدَنَا فَعَرِقَ وَجَاءَتْ أُمِّي بِقَارُورَةٍ فَجَعَلَتْ تَسْلِتُ الْعَرَقَ فِيهَا فَاسْتَيْقَظَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ مَا هَذَا الَّذِي تَصْنَعِينَ قَالَتْ هَذَا عَرَقُكَ نَجْعَلُهُ فِي طِيبِنَا وَهُوَ مِنْ أَطْيَبِ الطِّيبِ

dari Anas bin Malik dia berkata, Nabi ﷺ pernah berkunjung ke rumah kami. kemudian beliau tidur sebentar (Qailulah) di rumah kami hingga berkeringat. Lalu Ibu saya mengambil sebuah botol dan berupaya memasukkan keringat Rasulullah ﷺ itu ke dalam botol tersebut. Tiba-tiba Rasulullah terjaga sambil berkata kepada ibu saya, 'Hai Ummu Sulaim, apa yang kamu lakukan terhadap diriku? Ibu saya menjawab, 'Kami hanya mengambil keringat engkau untuk kami jadikan wewangian kami.' keringat beliau merupakan salah satu wewangian yang paling harum wanginya. (HR. Muslim no. 2331).

Terdapat di Shohih Muslim hadits:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ بَيْتَ أُمِّ سُلَيْمٍ فَيَنَامُ عَلَى فِرَاشِهَا وَلَيْسَتْ فِيهِ قَالَ فَجَاءَ ذَاتَ يَوْمٍ فَنَامَ عَلَى فِرَاشِهَا فَأُتِيَتْ فَقِيلَ لَهَا هَذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَامَ فِي بَيْتِكِ عَلَى فِرَاشِكِ قَالَ فَجَاءَتْ وَقَدْ عَرِقَ وَاسْتَنْقَعَ عَرَقُهُ عَلَى قِطْعَةِ أَدِيمٍ عَلَى الْفِرَاشِ فَفَتَحَتْ عَتِيدَتَهَا فَجَعَلَتْ تُنَشِّفُ ذَلِكَ الْعَرَقَ فَتَعْصِرُهُ فِي قَوَارِيرِهَا فَفَزِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا تَصْنَعِينَ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا قَالَ أَصَبْتِ

"Rasulullah ﷺ pernah berkunjung ke rumah Ummu Sulaim. Lalu beliau tidur di atas tempat tidur Ummu Sulaim, ketika ia sedang tidak berada di rumah. Anas berkata, 'Pada suatu hari, Rasulullah ﷺ datang ke rumah kami dan tidur di atas tempat tidur Ummu Sulaim. Kemudian Ummu Sulaim disuruh pulang dan diberitahu bahwasanya Nabi ﷺ ﷺ sedang tidur di atas tempat tidurnya. Anas berkata, 'Ketika Ummu Sulaim tiba di rumah, Nabi ﷺ telah berkeringat, dan keringat beliau tergenang di tikar kulit di atas tempat tidur.' Maka Ummu Sulaim segera membuka tasnya dan segera mengusap keringat Rasulullah dengan sapu tangan dan memerasnya ke dalam sebuah botol. Tiba-tiba Nabi ﷺ terbangun dan terkejut seraya berkata, 'Apa yang kamu lakukan hai Ummu Sulaim? Ummu Sulaim menjawab, 'Ya Rasulullah, kami mengharapkan keberkahan keringat engkau untuk anak-anak kami. Rasulullah ﷺ bersabda, "Kamu benar hai Ummu Sulaim!" (HR. Muslim no.  2331)
Hadits ini menunjukkan bolehnya mengambil kebarokahan dengan keringat Nabi ﷺ dengan apa yang dilakukan oleh Ummu Sulaim dan dibenarkan oleh Rasulullah ﷺ.

4.  Mereka mengambil kebarokahan dari apa yang disentuh  oleh badan Nabi ﷺ yaitu:
a. Mereka mengambil kebarokahan dengan pakaian Nabi ﷺ
sebagaimana hadits di Shohih al-Bukhari 

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبُرْدَةٍ فَقَالَ سَهْلٌ لِلْقَوْمِ أَتَدْرُونَ مَا الْبُرْدَةُ فَقَالَ الْقَوْمُ هِيَ الشَّمْلَةُ فَقَالَ سَهْلٌ هِيَ شَمْلَةٌ مَنْسُوجَةٌ فِيهَا حَاشِيَتُهَا فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَكْسُوكَ هَذِهِ فَأَخَذَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُحْتَاجًا إِلَيْهَا فَلَبِسَهَا فَرَآهَا عَلَيْهِ رَجُلٌ مِنْ الصَّحَابَةِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَحْسَنَ هَذِهِ فَاكْسُنِيهَا فَقَالَ نَعَمْ فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَامَهُ أَصْحَابُهُ قَالُوا مَا أَحْسَنْتَ حِينَ رَأَيْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَهَا مُحْتَاجًا إِلَيْهَا ثُمَّ سَأَلْتَهُ إِيَّاهَا وَقَدْ عَرَفْتَ أَنَّهُ لَا يُسْأَلُ شَيْئًا فَيَمْنَعَهُ فَقَالَ رَجَوْتُ بَرَكَتَهَا حِينَ لَبِسَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَلِّي أُكَفَّنُ فِيهَا

Dari Sahl bin Sa'd dia berkata, "Seorang wanita datang kepada Nabi ﷺ dengan membawa selimut bersulam. Sahal bertanya: Apa kalian tahu selimut apakah itu? Mereka menjawab, "Ya, ia adalah mantel." Sahal berkata, Ia adalah mantel bersulam yang ada rendanya. Lalu wanita itu berkata, "Wahai Rasulullah! aku membawanya untuk mengenakannya pada Anda." Lalu Nabi ﷺ mengambilnya karena beliau sangat memerlukannya. Kemudian beliau mengenakan mantel tersebut ternyata salah seorang dari sahabat melihat beliau mengenakan mantel itu lalu berkata, "Alangkah bagusnya selimut ini, kenakanlah untukku wahai Rasulullah!" Rasulullah ﷺ bersabda, "Ya." Ketika Nabi ﷺ beranjak pergi, orang-orang pun mencela sahabat tersebut sambil berkata, "Demi Allah, kau berlaku kurang ajar. Kamu tahu, Rasulullah ﷺ diberi selimut itu saat beliau memerlukannya, malahan kau memintanya, padahal kau tahu beliau tidak pernah menolak seorang peminta pun." Sahabat itu berkata, "Aku hanya mengharap keberkahannya ketika Nabi ﷺ mengenakannya semoga kain itu menjadi kafanku pada saat aku meninggal." (HR. al-Bukhari no. 6036)

Hadits mulia:
عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ الْأَنْصَارِيَّةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ دَخَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ تُوُفِّيَتْ ابْنَتُهُ فَقَالَ اغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافُورًا أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ فَإِذَا فَرَغْتُنَّ فَآذِنَّنِي فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ فَأَعْطَانَا حِقْوَهُ فَقَالَ أَشْعِرْنَهَا إِيَّاهُ تَعْنِي إِزَارَهُ

dari Ummu 'Athiyyah seorang wanita Anshar radhiallahu'anha, ia berkata, Rasulullah ﷺ menemui kami saat kematian putrinya, lalu beliau bersabda, "Mandikanlah dengan mengguyurkan air yang dicampur dengan daun bidara tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan jadikanlah yang terakhirnya dengan kafur barus (wewangian) atau yang sejenis. Dan bila kalian telah selesa,i beritahu aku." Ketika kami telah selesai, kami memberitahu beliau. Maka kemudian beliau memberikan kain beliau kepada kami seraya bersabda, "Pakaikanlah ini kepadanya." Maksudnya pakaian beliau". (HR. Al-Bukhari no. 1253 dan Muslim no. 939).

b. Mereka para shahabat mengambil kebarokahan dengan posisi jari-jarinya pada makanan. 
Shahabat Abu Ayub al-Anshori pernah menyaksikan:

فَكَانَ يَصْنَعُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا فَإِذَا جِيءَ بِهِ إِلَيْهِ سَأَلَ عَنْ مَوْضِعِ أَصَابِعِهِ فَيَتَتَبَّعُ مَوْضِعَ أَصَابِعِهِ

 Abu Ayyub Al Anshari pernah membuatkan makanan untuk Nabi ﷺ. Bila tempat makanan di kembalikan Abu Ayyub Al Anshari bertanya dimanakah tempat jari-jari Nabi ﷺ, lalu ia makan pada bekas jari-jari Nabi ﷺ. (HR. Muslim no. 2053)
Al-Nawawi rahimahullah berkata: jika makanan diberikan kepadanya dan Nabi ﷺ makan darinya sesuai kebutuhannya lalu mengembalikan sisanya, maka Abu Ayyub memakannya dari posisi jari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mencari berkah” (Lihat Syarah an-Nawawy 10/14)
c. Mereka para shahabat mengambil kebarokahan dengan posisi minum Rasulullah ﷺ dan kelebihan dari air minumnya.
Hadits yang mulia:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِشَرَابٍ فَشَرِبَ مِنْهُ وَعَنْ يَمِينِهِ غُلَامٌ وَعَنْ يَسَارِهِ الْأَشْيَاخُ فَقَالَ لِلْغُلَامِ أَتَأْذَنُ لِي أَنْ أُعْطِيَ هَؤُلَاءِ فَقَالَ الْغُلَامُ لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَا أُوثِرُ بِنَصِيبِي مِنْكَ أَحَدًا قَالَ فَتَلَّهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي يَدِهِ

dari Sahal bin Sa'ad As-Sa'idiy radhiallahu'anhu bahwa kepada Rasulullah ﷺ disuguhkan minuman, lalu beliau meminumnya sementara disamping kanan beliau ada seorang anak kecil sedangkan di sebelah kiri beliau ada para orang-orang tua. Maka beliau berkata, kepada anak kecil itu, "Apakah kamu mengizinkan aku untuk memberi minuman ini kepada mereka?" Anak kecil itu berkata, "Demi Allah, tidak wahai Rasulullah, aku tidak akan mendahulukan seorangpun daripadaku selain Anda." Maka beliau memberikan kepadanya. (HR. Al-Bukhari 2451 dan Muslim no. 2030) 

d. Mereka para shahabat mengambil kebarokahan dari sisa air wudhu Nabi ﷺ:
hadits Abu Juhaifah radhiallahu’anhu, pernah berkata:

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْهَاجِرَةِ فَأُتِيَ بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَجَعَلَ النَّاسُ يَأْخُذُونَ مِنْ فَضْلِ وَضُوئِهِ فَيَتَمَسَّحُونَ بِهِ

"Rasulullah ﷺ pernah keluar mendatangi kami di waktu tengah hari yang panas. Beliau lalu diberi air wudhu hingga beliau pun berwudhu, orang-orang lalu mengambil sisa air wudhu beliau seraya mengusap-ngusapkannya. (HR. Al-Bukhari no. 187 dan Muslim no. 503)

(فضل وضوئه) محتمل لمعنيين ذكرهما شراح الحديث

(Fadhlu wadhuihi) dimungkinkan karena dua makna yang disebutkan oleh para ahli tafsir hadis  
Yang pertama: sisa air wudhunya yang ada di dalam bejana, dan yang kedua: sisa air wudhunya yang mengalir dari anggota tubuh Beliau ﷺ. Dari sini jelas bahwa para sahabat bermaksud mencari keberkahan dari air yang menyentuh anggota badan dan badannya, dan tujuan mencari keberkahan dengan air tersebut didasarkan pada makna pertama bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah mengambil dengan tangannya dari bejana untuk membasuh organ-organ tubuhnya, maka sisa air itu mendapat keberkahannya karena Rasulullah ﷺ mencelupkan tangannya yang mulia ke dalamnya, Kedua: Air memperoleh keberkahannya dengan mengalir dari organ-organ tubuhnya ﷺ

===== Tabaruk dari peninggalan Nabi ﷺ setelah kematian Nabi ﷺ
Ini dibolehkan manakala ada dasar yang ilmiyah sebagaimana hadits mulia:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ قَدَحَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْكَسَرَ فَاتَّخَذَ مَكَانَ الشَّعْبِ سِلْسِلَةً مِنْ فِضَّةٍ قَالَ عَاصِمٌ رَأَيْتُ الْقَدَحَ وَشَرِبْتُ فِيهِ

Dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu berkata, "Gelas milik Nabi ﷺ pecah lalu beliau mengumpulkan dan mengikatnya dengan Rantai terbuat dari perak." 'Ashim berkata, "Aku melihat gelas tersebut lalu kupergunakan untuk minum". (HR. Al-Bukhari no. 3109)

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَوْهَبٍ قَالَ أَرْسَلَنِي أَهْلِي إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ وَقَبَضَ إِسْرَائِيلُ ثَلَاثَ أَصَابِعَ مِنْ قُصَّةٍ فِيهِ شَعَرٌ مِنْ شَعَرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ إِذَا أَصَابَ الْإِنْسَانَ عَيْنٌ أَوْ شَيْءٌ بَعَثَ إِلَيْهَا مِخْضَبَهُ فَاطَّلَعْتُ فِي الْجُلْجُلِ فَرَأَيْتُ شَعَرَاتٍ حُمْرًا

Dari Utsman bin Abdullah bin Mauhab berkata, "Keluargaku pernah menyuruhku menemui Ummu Salamah istri Nabi ﷺ dengan membawa mangkuk berisi air, sementara Isra'il memegang mangkuk tersebut menggunakan tiga jarinya yang di dalamnya terdapat beberapa helai rambut Nabi ﷺ yang diikat, apabila ada seseorang yang terkena sihir atau sesuatu, maka tempat mewarnai rambut beliau diberikan kepada Ummu Salamah, lalu aku mendongakkan kepala ke wadah yang menyerupai lonceng, aku melihat rambut beliau sudah berubah merah." (HR. Al-Bukhari no. 5896)

FENOMENA PENYIMPANGAN DALAM TABARUK
1. Tabaruk dengan tempat-tempat yang Nabi ﷺ pernah singgah dan Beliau ﷺ lewati.
Seperti Jabal Tsur, Goa Hira, Jabal Arafah, Jabal Uhud, Jabal ar-Ramaah/Jabal ‘Ainain dekat Jabal Uhud, Tempat di khondaq, tempat perang badar, dan lainnya. Tempat-tempat tersebut tidak bisa diambil kebarokahannya.
2. Tidak Tabaruk dengan kubur Nabi ﷺ
3. Tidak Tabaruk dengan Masjidl Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsho, baik dengan menyentuhnya, tiangnya, pintu-pintunya dan lainnya.
4. Tabaruk dengan orang-orang Sholih dari ulama atau ahli ibadah dari badannya mereka ataupun peninggalan mereka ataupun bajunya mereka.

يقول ابن رجب رحمه الله : والتبرك بالآثار إنما كان يفعله الصحابة رضي الله عنهم مع النبي ولم يكونوا يفعلونه مع بعضهم بعضا ولا يفعله التابعون مع الصحابة مع علو قدرهم فدل على أن هذا لا يفعل إلا مع الرسول ﷺ مثل التبرك بالوضوء وغيره.» (۳).

Ibnu Rajab rahimahullah berkata: Tabaruk dengan peninggalan, itu hanya dilakukan oleh Para sahabat radhiyallahu 'anhu dengan peninggalan Nabi ﷺ, dan mereka tidak melakukannya sebagian kepada sebagian lainnya, dan para Tabi’in  tidak melakukannya dengan peninggalan para Sahabat, padahal kemampuan mereka tinggi, hal ini menandakan bahwa hal tersebut hanya dilakukan terhadap Rasulullah ﷺ, seperti mencari kebarokahan melalui wudhu dan lainnya. (Lihat Majmu’ Rasa’il Ibni Rajab 1/252)

Semoga bermanfaat.

Bersambung ke tulisan selanjutnya, inSya Allah.




==============