Jumat, 22 Agustus 2025

HARI KIAMAT

Oleh: Syaikh DR Sa'ad ibn Abdullah Al Humaid Hafizhahullah 


Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta berlindung kepada-Nya dari keburukan jiwa-jiwa kita dan dari kejelekan amal perbuatan kita. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan-Nya, maka tiada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi kita, kekasih kita, dan teladan kita Muhammad bin ‘Abdillah adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat, salam, dan keberkahan senantiasa tercurah kepadanya, selama siang dan malam silih berganti.

Allah Ta‘ālā berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan Muslim.” (Ali Imran: 102)

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa, lalu darinya Allah ciptakan pasangannya, dan dari keduanya Allah sebarkan banyak laki-laki dan perempuan. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kalian saling meminta, serta peliharalah hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.” (An-Nisa: 1)

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki amal-amal kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia memperoleh kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab: 70-71)

Amma ba‘du, wahai hamba-hamba Allah:

Sungguh dunia telah melalaikan kita dengan hiburan, godaan, peristiwa, dan peperangannya. Dunia telah melalaikan kita dari Allah.

Majelis-majelis kita lebih banyak dipenuhi dengan pembicaraan tentang dunia dan urusannya. Kita pun lalai dari Kitabullah. Kita lalai dari mengingat kubur, kematian, dan hari kebangkitan.

Kita lalai dari hari yang paling agung, paling panjang, paling menakutkan, dan paling dahsyat; hingga hati-hati menjadi keras, dan dunia menjadi satu-satunya cita-cita dalam hati, kecuali orang-orang yang dirahmati Allah.

Hari itu adalah Hari Kiamat: hari akhir, hari kebangkitan, hari keluar dari kubur, hari kehancuran, hari keputusan, hari pembalasan, hari tiupan yang menggelegar, hari bencana besar, hari penyesalan, hari yang meliputi semua, hari keabadian, hari perhitungan, hari yang pasti terjadi, hari ancaman, hari yang dekat, hari perhimpunan, hari yang benar-benar pasti, hari pertemuan, hari panggilan, hari kerugian, dan hari ditampakkan amal.

Itu adalah hari yang sangat berat bagi orang-orang kafir, hari yang agung, hari yang disaksikan seluruh makhluk; baik manusia terdahulu maupun yang terakhir, jin, hewan, dan burung. Allah menyebutnya:

“Suatu hari yang penuh kesulitan dan sangat berat.” (Al-Insan: 10)

Allah menyebut hari itu ratusan kali dalam Al-Qur’an. Itu adalah bukti keagungan dan kedahsyatannya. Allah menggambarkannya dengan sifat-sifat yang amat dahsyat.

Allah berfirman:

“Dan jagalah diri kalian dari suatu hari yang seseorang tidak dapat menolong orang lain sedikit pun, dan tidak akan diterima syafa‘at darinya, tidak pula tebusan, dan mereka tidak akan ditolong.” (Al-Baqarah: 48)

“Bagaimanakah nanti apabila Kami mengumpulkan mereka pada suatu hari yang tidak diragukan adanya, lalu tiap jiwa diberikan balasan atas apa yang telah diusahakannya, dan mereka tidak akan dizalimi sedikit pun.” (Ali Imran: 25)

“Allah, tiada sesembahan selain Dia, sungguh Dia akan mengumpulkan kalian pada hari Kiamat yang tidak diragukan adanya. Siapakah yang lebih benar ucapannya daripada Allah?” (An-Nisa: 87)

“Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang takut akan azab akhirat. Itulah hari di mana manusia dikumpulkan, dan itulah hari yang disaksikan. Dan tidaklah Kami menundanya melainkan sampai waktu yang ditentukan. Pada hari itu tidak ada seorang pun yang dapat berbicara kecuali dengan izin-Nya. Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia…” (Hud: 103–108)

“(Ingatlah) hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain, demikian pula langit, dan semua manusia tampil di hadapan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Dan engkau melihat para pendosa pada hari itu diikat dengan belenggu. Pakaian mereka dari cairan aspal, dan wajah mereka ditutupi api. (Semua itu terjadi) agar Allah memberi balasan kepada tiap-tiap jiwa sesuai dengan apa yang telah diperbuatnya. Sungguh Allah Maha Cepat perhitungan-Nya.” (Ibrahim: 48–51)

Hari itu, kehidupan dunia berakhir. Tidak ada lagi yang tersisa kecuali amal yang dilakukan karena Allah.

Allah berfirman:

“Dan terang-benderanglah bumi dengan cahaya Rabbnya, lalu diberikanlah kitab (catatan amal), didatangkanlah para nabi dan para saksi, dan diputuskanlah perkara di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dizalimi.” (Az-Zumar: 69)

Hari itu sangkakala ditiup. Semua makhluk di langit dan bumi binasa, kecuali yang Allah kehendaki. Lalu Allah berfirman:

“Milik siapakah kerajaan pada hari ini?” (Ghafir: 16)

Tidak ada yang menjawab, lalu Allah sendiri menjawab:

“Milik Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (Ghafir: 16)

Sangkakala itu dipegang oleh malaikat Israfil. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bagaimana aku bisa tenang, sementara pemilik sangkakala (Israfil) sudah meletakkan sangkakala di mulutnya, menundukkan kepalanya, dan menajamkan pendengarannya, menunggu kapan diperintahkan untuk meniup, lalu ia akan meniupnya…” (HR. Tirmidzi, shahih)

Setelah tiupan pertama, semua makhluk mati. Lalu Allah memerintahkan Israfil meniup tiupan kedua, maka manusia pun bangkit kembali dari kubur. Allah berfirman:

“Kemudian ditiup sangkakala sekali lagi, maka tiba-tiba mereka bangkit menunggu (keputusan Allah).” (Az-Zumar: 68)

“Dan ditiuplah sangkakala, maka seketika itu mereka keluar dari kubur menuju Rabb mereka. Mereka berkata: ‘Celakalah kami, siapa yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami ini?’ Inilah yang dijanjikan Tuhan Yang Maha Pemurah, dan benarlah para rasul. Tidak lain itu hanyalah satu teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami.” (Yasin: 51–53)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Aku adalah penghulu anak Adam pada hari kiamat. Aku adalah orang pertama yang tanah kuburnya dibuka, orang pertama yang memberi syafa‘at, dan orang pertama yang dikabulkan syafa‘atnya.” (HR. Muslim)

Hari itu semua makhluk dikumpulkan, maka disebutlah ia sebagai Yaumul Jam‘ (hari perhimpunan). Allah berfirman:

“Katakanlah: Sesungguhnya orang-orang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian benar-benar akan dikumpulkan pada waktu tertentu pada hari yang dikenal.” (Al-Waqi‘ah: 49–50)

Semua manusia hadir, tanpa jabatan, tanpa kedudukan, tanpa nama besar. Mereka datang kepada Allah sebagai hamba. Allah berfirman:

“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi melainkan akan datang kepada Allah Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba. Sungguh Allah telah menghitung dan mencatat mereka dengan teliti. Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada-Nya pada hari kiamat seorang diri.” (Maryam: 93–95)

Manusia dikumpulkan dalam keadaan tanpa alas kaki, telanjang, dan belum disunat. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah laki-laki dan perempuan saling melihat satu sama lain?” Beliau menjawab:

“Wahai ‘Aisyah, urusan pada hari itu jauh lebih dahsyat daripada sekadar saling melihat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hari itu lamanya 50.000 tahun. Matahari begitu dekat. Tidak ada naungan, tidak ada air, tidak ada makanan, tidak ada tempat beristirahat. Allah berfirman:

“Pada hari ketika kamu melihatnya, setiap wanita yang menyusui akan lalai dari anak yang disusuinya, setiap wanita hamil akan gugur kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk padahal mereka tidak mabuk; tetapi azab Allah itu sangat keras.” (Al-Hajj: 2)

Langit digulung, gunung dihancurkan, lautan meluap, bintang-bintang beterbangan, matahari digulung, bulan hilang cahayanya, dan semua makhluk ketakutan.

Allah berfirman:

“Apabila langit terbelah, bintang-bintang berjatuhan, lautan diluapkan, dan kubur dibongkar.” (Al-Infithar: 1–4)

“Apabila matahari digulung, bintang-bintang berjatuhan, gunung-gunung dihancurkan, unta-unta ditelantarkan, binatang liar dikumpulkan, lautan meluap, jiwa-jiwa dipertemukan, bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya karena dosa apa ia dibunuh, kitab-kitab amal dibuka, langit disingkapkan, neraka dinyalakan, surga didekatkan—maka setiap jiwa mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (At-Takwir: 1–14)

Wahai manusia, marilah kita bersiap menghadapi hari itu! Siapkan amal sekarang, karena yang menyelamatkan kita di hari itu hanyalah amal shalih, dengan rahmat Allah.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang aman dari kengerian terbesar, dan selamat dengan rahmat-Mu, wahai Dzat yang Maha Penyayang.

Aku cukupkan khutbah ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan kalian.


Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat, salam, dan keberkahan semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta.

Amma ba‘du, wahai hamba-hamba Allah…

Setelah Allah menyelesaikan keputusan-Nya di hari itu, manusia terbagi menjadi dua golongan:

  1. Golongan celaka, yaitu orang-orang kafir. Allah berfirman:

    “Dan orang-orang kafir digiring ke neraka Jahanam secara berkelompok. Hingga apabila mereka sampai kepadanya, dibukakanlah pintu-pintunya, dan penjaga-penjaganya berkata: ‘Apakah belum pernah datang kepada kalian rasul-rasul dari kalangan kalian yang membacakan ayat-ayat Rabb kalian dan memperingatkan kalian akan pertemuan pada hari ini?’ Mereka menjawab: ‘Benar, tetapi sudah pasti berlaku ketetapan azab atas orang-orang kafir.’ Dikatakan (kepada mereka): ‘Masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya.’ Maka nerakalah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.” (Az-Zumar: 71–72)

  2. Golongan beruntung, yaitu orang-orang yang bertakwa. Allah berfirman:

    “Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka digiring ke surga secara berkelompok. Sehingga apabila mereka sampai ke surga, dibukakanlah pintu-pintunya, dan para penjaganya berkata: ‘Salam sejahtera bagi kalian, kalian telah suci, maka masukilah surga ini, kekal di dalamnya.’ Mereka berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan mewariskan bumi ini kepada kami. Kami dapat menempati surga ini di mana saja kami kehendaki. Maka surga inilah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.’” (Az-Zumar: 73–74)

Maka betapa bahagianya ahli surga! Betapa agung kemenangan mereka!

Wahai kaum Muslimin, semua ini adalah peringatan dan pelajaran bagi kita. Karena masih banyak peristiwa besar pada hari itu yang belum kita sebutkan.

Maka marilah kita bersiap menghadapi hari itu dengan bekal terbaik, yaitu takwa. Allah berfirman:

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (Al-Baqarah: 197)

Mari kita isi hidup dengan taat kepada Allah: shalat berjamaah di masjid, amal shalih, akidah yang lurus sesuai Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ. Mari sucikan hati kita dari syirik, keraguan, kedengkian, kebencian, pengkhianatan, dan syahwat yang haram.

Allah berfirman:

“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (Asy-Syu‘ara: 88–89)

Mari kita kembalikan hak-hak orang lain, menjauhi kezhaliman, ghibah, dan permusuhan. Karena itulah bekal akhirat dan jalan keselamatan di hadapan Allah pada hari yang agung itu.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang beruntung, bahagiakan kami di dunia dan akhirat, dan naungilah kami di bawah naungan ‘Arsy-Mu pada hari tiada naungan selain naungan-Mu.

Dan bershalawatlah kalian atas Nabi yang mulia, pembawa kabar gembira sekaligus pemberi peringatan.


📖 Sumber teks Arab asli: Khutbah Hari Kiamat – alukah.net



KEADAAN HARI KIAMAT


 "Aḥwāl Yawm al-Qiyāmah" 


(Kengerian Hari Kiamat)

karya Syaikh Sāmī bin Khālid al-Ḥamūd:


Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah Yang Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemilik Hari Pembalasan. Dialah yang menjadikan kehidupan dunia sebagai tempat ujian dan cobaan, tempat untuk beramal dan mengambil pelajaran. Dia pula yang menjadikan akhirat sebagai dua negeri: negeri bagi orang-orang yang bertakwa, dekat dengan-Nya, penuh kemuliaan; dan negeri bagi orang-orang kafir dan durhaka, penuh kemurkaan dan siksa-Nya.

Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Dia Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, Nabi pilihan, semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga beliau, dan para sahabat beliau yang mulia, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Amma ba‘du.

Wahai manusia, bertakwalah kalian kepada Rabb kalian, dan takutlah pada suatu hari ketika seorang ayah tidak dapat menolong anaknya sedikit pun, dan seorang anak tidak dapat menolong ayahnya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdaya kalian, dan janganlah kalian tertipu oleh setan yang menipu.

Wahai hamba-hamba Allah, aku bertanya kepada kalian dan kepada diriku yang penuh dosa ini: Mengapa keadaan kita rusak? Mengapa dosa-dosa kita banyak? Mengapa hati kita keras? Mengapa jiwa kita lemah?

Itu semua, wahai saudara-saudara tercinta, karena lemahnya iman kita terhadap hari kebangkitan, lemahnya keyakinan kita akan perjumpaan dengan Rabb kita, karena harapan kita lebih besar daripada rasa takut kita, hingga kita lebih mendahulukan dunia daripada akhirat, dan kita melupakan malapetaka besar: hari ketika kubur-kubur dibongkar, isi dada ditampakkan, dan orang yang lalai menyadari bahwa ia hidup dalam tipu daya.

Wahai hamba-hamba Allah, iman kepada hari akhir adalah salah satu rukun iman, pengokoh hati dalam pengenalan kepada Allah. Sering sekali Allah mengaitkan iman kepada-Nya dengan iman kepada hari akhir, seperti dalam firman-Nya:

  • "Itulah yang dinasihatkan kepada orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir."
  • "Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir."
  • "Jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir."

Hal itu karena orang yang tidak beriman kepada kebangkitan, hisab, balasan, pahala, dan siksa, tidak mungkin ia benar-benar beriman kepada Allah, Rabb semesta alam.

Wahai hamba-hamba Allah, janganlah kalian tertipu oleh kehidupan dunia. Sesungguhnya:

"Setiap yang ada di atasnya akan binasa."

Semua yang hidup akan mati, semua yang baru akan usang. Hanya sekejap, ruh akan keluar menuju Penciptanya, dan hamba akan termasuk jajaran orang mati. Umur sudah lewat, wahai tawanan hawa nafsu, waktumu telah habis dalam kelalaian dan permainan, sementara engkau tetap dalam kesesatan, hingga dikatakan: telah mati.

Ya, demi Allah, syahwat sudah hilang, kesenangan sudah sirna, namun tanggungan dosa tetap tersisa. Lembaran amal telah ditutup, apakah berisi kebaikan atau keburukan.

Kematian bukanlah akhir perjalanan hidup, tetapi awal perjalanan panjang menuju akhirat. Barang siapa mati, maka kiamat kecilnya telah tegak.

Bila hamba telah mati, ia turun ke alam kubur, taman surga atau lubang neraka. Ia masuk ke sana seorang diri, tanpa teman, kecuali amalnya. Bumi terus menampung jenazah-jenazah hingga Allah berkehendak menegakkan kiamat.

Lalu Allah memerintahkan Isrāfīl meniup sangkakala. Tiupan pertama adalah tiupan kehancuran: semua makhluk mati, dunia seluruhnya sirna. Segala yang engkau lihat akan binasa: kekuatan manusia, teknologi mereka, lembaga antariksa mereka, kapal luar angkasa dan satelit mereka – semuanya hancur.

Ketika semua makhluk mati, dan tiada yang tersisa kecuali Allah, maka Allah berfirman:

"Milik siapakah kerajaan pada hari ini? Milik siapakah kerajaan pada hari ini? Milik siapakah kerajaan pada hari ini?"

Tak seorang pun menjawab, lalu Allah sendiri menjawab:

"Milik Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa."

Dimanakah raja-raja dunia? Dimanakah pasukan-pasukan besar? Dimanakah negara-negara adidaya yang angkuh? Tiada tersisa kecuali Allah.

"Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan."

Kemudian Allah menurunkan hujan antara dua tiupan, lalu manusia tumbuh dari tulang ekor mereka sebagaimana tumbuhnya tumbuhan. Semua jasad hancur kecuali tulang ekor. Pengecualian adalah para nabi, sebab bumi tidak memakan jasad mereka.

Setelah tubuh manusia tumbuh kembali, Isrāfīl meniup sangkakala kedua, tiupan kebangkitan. Ruh-ruh pun kembali ke jasad, lalu manusia bangkit, menyingkirkan debu dari kepala mereka. Yang pertama kali dibangkitkan adalah Nabi kita ﷺ, beliau pula yang pertama kali bumi terbelah darinya.

Seluruh manusia keluar dari kubur mereka tanpa alas kaki, telanjang, dan tidak berkhitan. Mereka dikumpulkan di bumi yang berbeda dengan bumi ini:

"Pada hari bumi diganti dengan bumi lain dan demikian pula langit, dan mereka semua muncul di hadapan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa."

Dalam hadits sahih disebutkan: Nabi ﷺ bersabda:

"Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat di bumi yang putih bersih, rata, seperti roti tipis dari tepung putih, tidak ada tanda bangunan di atasnya."

Manusia berkumpul di padang mahsyar. Kengerian menyelimuti mereka, ketakutan mencekam mereka, hingga anak kecil beruban, pandangan mata terbelalak, dan hati naik ke tenggorokan.

Matahari digulung, cahayanya padam. Bintang-bintang jatuh berserakan. Gunung-gunung dihancurkan hingga seperti kapas beterbangan. Harta benda ditinggalkan, perdagangan, properti, saham – semuanya dilupakan. Langit dilenyapkan, laut menjadi api, neraka dinyalakan, surga didekatkan.

Allah berfirman:

"Wahai manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian. Sesungguhnya guncangan kiamat itu sesuatu yang sangat besar. Pada hari itu setiap wanita menyusui lalai terhadap anak yang disusuinya, setiap wanita hamil menggugurkan kandungannya, dan engkau melihat manusia mabuk padahal mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras."

Itulah hari kiamat – hari ledakan dahsyat, hari bencana besar, hari guncangan, hari kebinasaan, hari yang panjangnya lima puluh ribu tahun. Semua makhluk dari zaman Nabi Adam hingga kiamat dikumpulkan untuk diadili.

Matahari didekatkan sejauh satu mil. Manusia berkeringat sesuai amalnya: ada yang keringatnya sampai mata kaki, sampai lutut, sampai pinggang, sampai pundak, bahkan ada yang tenggelam oleh keringatnya. Hanya sekelompok orang yang berada dalam naungan Allah, ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya.

Allah memuliakan para nabi dengan memberikan telaga. Setiap nabi memiliki telaga, dan telaga Nabi Muhammad ﷺ adalah yang terbesar dan terbaik. Airnya lebih putih daripada susu, lebih manis dari madu, lebih wangi dari kasturi, bejananya sebanyak bintang di langit. Siapa yang minum darinya tidak akan haus selamanya.

Orang-orang beriman mendatangi telaga itu, sedangkan orang-orang yang enggan mengikuti sunnah beliau akan terusir darinya.

Saat kegelisahan semakin memuncak, manusia mendatangi para nabi ulul azmi untuk meminta syafaat: Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa. Mereka semua mengatakan: "Nafsi, nafsi (diriku, diriku)." Hingga mereka mendatangi Nabi Muhammad ﷺ, maka beliau bersabda:

"Ana lahā, ana lahā (Akulah yang sanggup, akulah yang sanggup)."

Beliau sujud di bawah Arsy, memuji Allah dengan pujian yang belum pernah terdengar sebelumnya. Lalu Allah mengizinkan beliau memberi syafaat.

Setelah itu, malaikat turun dari langit pertama, lalu kedua, hingga ketujuh, mengelilingi manusia. Kemudian Allah datang untuk mengadili makhluk sesuai keagungan-Nya. ‘Arsy dipikul oleh delapan malaikat.

Ditegakkanlah timbangan amal. Barang siapa berat timbangan kebaikannya, dialah yang beruntung. Barang siapa ringan timbangannya, dialah yang merugi dan kekal di neraka.

Lalu dibagikan kitab catatan amal. Setiap orang diberi kitabnya:

"Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung terhadapmu."

Orang beriman menerima dengan tangan kanan, bergembira seraya berkata:

"Ambillah, bacalah kitabku, aku yakin akan menghadapi hisabku."

Adapun orang kafir menerima dengan tangan kiri dari belakang punggungnya, penuh kehinaan, lalu berkata:

"Celakalah aku, seandainya aku tidak diberi kitab ini. Alangkah baiknya jika kematian itulah akhir segalanya. Hartaku tidak berguna bagiku, kekuasaanku hilang dariku."

Allah menghisab manusia, kecuali mereka yang diberi kemuliaan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab.

Allah berduaan dengan hamba-Nya yang beriman, menutupinya, tidak ada yang mendengar dan melihat. Allah berkata: "Engkau melakukan ini dan itu." Hamba itu mengakui dosanya, lalu Allah berfirman: "Aku telah menutupinya bagimu di dunia, dan Aku mengampunimu pada hari ini."

Adapun orang kafir, diserukan di hadapan khalayak:

"Mereka inilah orang-orang yang berdusta atas Rabb mereka. Laknat Allah menimpa orang-orang zalim."

Lalu mulut mereka ditutup, anggota tubuh mereka bersaksi: telinga, mata, tangan, kaki, kulit. Mereka berkata kepada kulit mereka: "Mengapa kalian bersaksi atas kami?" Kulit menjawab: "Allah yang menjadikan segala sesuatu dapat berbicara telah menjadikan kami berbicara. Dialah yang menciptakan kalian pertama kali, dan kepada-Nyalah kalian dikembalikan."

Akhirnya, ditegakkan jembatan shirath di atas neraka Jahannam. Ia licin, tipis seperti rambut, tajam seperti pedang, ada kait-kait yang mencengkeram manusia. Orang beriman diberi cahaya, mereka menyeberang sesuai amal mereka: ada yang secepat kilat, ada yang seperti angin, ada yang seperti kuda, ada yang berlari, berjalan, merangkak, dan ada pula yang tersambar lalu terjerumus ke neraka.

Allah berfirman:

"Dan tidak ada seorang pun dari kalian melainkan pasti akan melewatinya; hal itu bagi Rabbmu adalah keputusan yang pasti. Kemudian Kami selamatkan orang-orang yang bertakwa, dan Kami biarkan orang-orang zalim di dalamnya berlutut."

Semoga Allah memberi manfaat kepadaku dan kepada kalian dengan Al-Qur’an dan sunnah Nabi-Nya ﷺ.


Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah Yang menghidupkan dan mematikan, Yang memulai dan mengembalikan, Yang berbuat sesuai kehendak-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, pemilik telaga, pemegang panji, serta keluarga dan sahabat beliau.

Amma ba‘du.

Wahai hamba-hamba Allah, barang siapa ingin hatinya baik dan urusannya lurus, hendaklah ia selalu mengingat perjumpaan dengan Rabbnya, saat berdiri di hadapan-Nya.

Wahai saudaraku tercinta, bayangkan dirimu di hari kiamat, berdiri di hadapan seluruh makhluk, lalu namamu dipanggil: "Fulan bin Fulan, majulah untuk diperlihatkan amalmu di hadapan Allah." Maka engkau berdiri gemetar, tubuhmu bergetar, anggota tubuhmu bergetar karena takut.

Bayangkan saat engkau berdiri di hadapan Allah Yang Maha Perkasa, dengan hati penuh ketakutan, mata tertunduk, tubuh hina, memegang kitab catatan amal berisi semua perbuatanmu, besar dan kecil. Lalu engkau membaca dengan lidah yang kaku, hati yang hancur, penuh rasa malu kepada Allah yang selalu berbuat baik kepadamu.

Dengan lisan apa engkau akan menjawab ketika Allah menanyaimu tentang dosa-dosamu? Dengan kaki apa engkau berdiri di hadapan-Nya? Dengan mata apa engkau memandang-Nya? Bagaimana jika Allah berkata:

"Wahai hamba-Ku, mengapa engkau tidak menghormati-Ku? Mengapa engkau tidak malu kepada-Ku? Apakah engkau meremehkan penglihatan-Ku kepadamu? Bukankah Aku telah berbuat baik kepadamu, memberi nikmat kepadamu? Lalu apa yang memperdayamu dari-Ku?"

"Apakah yang memperdayakanmu terhadap Rabbmu Yang Maha Mulia?"

Wahai saudaraku, ingatlah orang-orang beriman ketika keluar dari kubur dengan wajah bersinar karena amal saleh mereka. Mereka tidak ditimpa kegelisahan besar, malaikat menyambut mereka:

"Inilah hari yang dahulu dijanjikan kepada kalian."

Allah berfirman kepada malaikat:

"Bawalah hamba-hamba-Ku ke surga yang penuh kenikmatan, ke ridha-Ku yang agung."

Mereka pun hidup dalam kebahagiaan abadi, surga terbuka, bidadari dan pelayan mendampingi mereka, tiada lagi kesedihan, kesusahan, dan penderitaan.

Sebaliknya, bayangkan orang kafir yang berpaling dari agama Allah. Allah berfirman:

"Tangkaplah dia, belenggulah dia, lalu masukkan ke dalam neraka yang menyala-nyala."

Mereka diseret ke neraka yang menggelegak, penuh kemarahan dan teriakan. Mereka berharap kembali ke dunia untuk bertobat, namun itu mustahil. Mereka dilemparkan terjungkal ke neraka, tersiksa dalam penyesalan.

Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah. Betapa besar perbedaan antara orang-orang beriman dan orang-orang durhaka. Benarlah firman Allah:

"Sesungguhnya orang-orang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang durhaka benar-benar berada dalam azab."

Maka bertakwalah kalian kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah. Bertakwalah pada hari ketika kalian dikembalikan kepada Allah, lalu setiap jiwa diberi balasan atas apa yang diperbuat, dan mereka tidak dizalimi.

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد ...


Minggu, 01 Juni 2025

KEUTAMAAN HARI-HARI SEPULUH DZULHIJJAH

Keutamaan Hari-Hari Sepuluh Dzulhijjah


Disusun dan diteliti oleh:
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin


Disertai dengan beberapa hukum seputar kurban

Diterbitkan dari pelajaran Syaikh yang mulia:
Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Semoga Allah merahmati beliau, kedua orang tuanya, dan seluruh kaum muslimin.


Penerbit: Madar Al-Watan untuk Penerbitan
(www.madar-alwatan.com)


Keutamaan Sepuluh Hari Dzulhijjah

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, shalawat dan salam kepada penghulu para rasul. Amma ba'du:

Sesungguhnya termasuk dari karunia dan nikmat Allah adalah Dia menjadikan untuk hamba-hamba-Nya yang shalih beberapa musim (waktu-waktu utama) di mana mereka bisa memperbanyak amal shalih. Dan di antara musim-musim itu adalah:

Sepuluh Hari Dzulhijjah

  1. Telah datang dalam keutamaannya dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah, di antaranya:
  • Firman Allah Ta'ala: "وَٱلۡفَجۡرِ * وَلَيَالٍ عَشۡرٍ"
    (Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh)
    Ibnu Katsir rahimahullah berkata: Yang dimaksud dengan sepuluh malam itu adalah sepuluh hari Dzulhijjah, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Ibnu Az-Zubair, Mujahid, dan lainnya. Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari.
  1. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Tidak ada hari-hari yang amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari ini.”
    Para sahabat bertanya: “Tidak juga jihad di jalan Allah?”
    Beliau ﷺ menjawab:
    “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang keluar dengan diri dan hartanya, lalu tidak kembali dengan sesuatu pun dari itu.”

  2. Firman Allah Ta’ala: "وَيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡلُومَٰتٖ"
    (… dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan…)
    Ibnu ‘Abbas berkata: “Hari-hari yang telah ditentukan itu adalah hari-hari sepuluh (Dzulhijjah).” (Tafsir Ibnu Katsir)

  3. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak ada amal yang lebih dicintai untuk dilakukan di dalamnya selain sepuluh hari ini. Maka perbanyaklah di dalamnya tahlil, takbir, dan tahmid.”
    Diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

  4. Sa’id bin Jubair rahimahullah – dan beliau adalah yang meriwayatkan hadis dari Ibnu ‘Abbas sebelumnya – jika masuk sepuluh hari (Dzulhijjah), beliau bersungguh-sungguh dalam amal ibadah sampai tak mampu lagi. HR Ad-Da'rimi. 


Ibnu Hajar dalam kitab Fath al-Bari berkata bahwa alasan keistimewaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah karena di dalamnya berkumpul berbagai macam ibadah utama, yaitu: shalat, puasa, sedekah, dan haji — dan hal ini tidak terjadi di waktu lain.

Amalan yang Dianjurkan pada Hari-hari Ini:

1. Shalat:
Dianjurkan untuk menjaga shalat fardhu dan memperbanyak shalat sunnah (nawafil), karena ia termasuk amalan paling utama.
Dari sahabat Tsauban رضي الله عنه, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
"Perbanyaklah sujud kepada Allah, karena tidaklah engkau sujud kepada Allah satu sujud, melainkan Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapus satu dosa karena itu."
(HR. Muslim) — dan ini berlaku sepanjang waktu.

2. Puasa:
Puasa dianjurkan di hari-hari ini sebagai bentuk amal shalih. Dari Hafshah رضي الله عنها, istri Nabi ﷺ, ia berkata:
"Rasulullah ﷺ biasa berpuasa sembilan hari dari Dzulhijjah, hari ‘Asyura, dan tiga hari setiap bulan."
(HR. Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasa’i).

Imam Nawawi رحمه الله berkata: “Puasa di sepuluh hari ini sangat dianjurkan secara kuat.”

3. Takbir, Tahlil, dan Tahmid:
Hal ini berdasarkan hadits dari Ibnu Umar رضي الله عنهما:
"Perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid pada hari-hari tersebut."

Imam Al-Bukhari رحمه الله berkata:
"Ibnu Umar dan Abu Hurairah رضي الله عنهما biasa keluar ke pasar pada hari-hari sepuluh itu lalu mengumandangkan takbir, dan orang-orang pun ikut bertakbir mengikuti mereka."

Dikatakan juga:
"Umar رضي الله عنه biasa bertakbir di kemahnya di Mina hingga orang-orang yang mendengar dari masjid pun ikut bertakbir. Maka penduduk Mina ikut bertakbir karena takbirnya Umar, Pasar-pasar dipenuhi dengan takbir hingga sampai ke Mina.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bertakbir di hari-hari itu (10 hari Dzulhijjah), baik di dalam tenda, di atas kasurnya, di tendanya, maupun di jalannya. Maka orang-orang pun mengikuti takbir Umar. Begitu pula putranya dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma bertakbir dengan suara keras.

Sudah seharusnya bagi kita sebagai kaum muslimin untuk menghidupkan sunnah ini yang telah banyak dilalaikan pada zaman ini, hingga nyaris terlupakan kecuali oleh segelintir orang-orang saleh.

Lafal Takbir:

A. اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Kabīran.

B. اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, lā ilāha illallāh, waAllāhu Akbar, Allāhu Akbar wa lillāhil-ḥamd.

C. اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, lā ilāha illallāh, waAllāhu Akbar, Allāhu Akbar wa lillāhil-ḥamd.

4. Puasa Hari Arafah:

Disunnahkan untuk berpuasa pada hari Arafah jika tidak sedang berhaji. Dari Nabi ﷺ, beliau bersabda tentang puasa hari Arafah:

"Aku mengharapkan dari Allah bahwa puasa hari Arafah akan menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya."
(HR. Muslim)

Namun bagi yang sedang berhaji dan sedang berada di Arafah, maka tidak disyariatkan berpuasa, karena Nabi ﷺ tidak berpuasa ketika di Arafah.

5. Keutamaan Hari Nahr (Hari Raya Qurban):

Banyak orang lalai dari keutamaan hari agung ini bagi kaum muslimin, padahal hari ini memiliki kemuliaan yang besar serta keutamaan yang agung di sisi Allah dan bagi kaum mukminin.

Sebagian ulama berpendapat bahwa hari ini (10 Dzulhijjah) adalah hari yang paling utama sepanjang tahun, bahkan lebih utama daripada hari Arafah.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
"Hari yang paling utama di sisi Allah adalah hari Nahr (10 Dzulhijjah), dan itulah yang disebut 'Hari Haji Akbar' sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Dawud."

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya hari-hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari penyembelihan (hari Nahr), kemudian hari qarr (hari setelahnya untuk menetap di Mina)."
(HR. Abu Dawud)

Hari qarr adalah hari menetap di Mina, yaitu hari ke-11 Dzulhijjah. Dan sebelumnya adalah hari Arafah yang lebih utama dari hari lainnya. Karena puasa pada hari Arafah dapat menghapus dosa dua tahun — setahun sebelumnya dan setahun setelahnya. Dan tidak ada hari yang Allah membebaskan lebih banyak hamba dari neraka dibanding hari Arafah, karena Allah turun (dengan cara yang layak bagi-Nya) ke langit dunia dan membanggakan hamba-hamba-Nya kepada para malaikat, seraya berfirman: "Apa yang mereka inginkan?"

Dan ada perselisihan pendapat apakah hari Arafah lebih utama ataukah hari Nahr (Idul Adha). Pendapat yang benar adalah bahwa hari Nahr adalah hari yang paling utama. Karena hadits tersebut menunjukkan bahwa itu adalah hari yang paling utama secara mutlak.

Dengan apa kita menyambut musim-musim kebaikan?

  1. Seorang Muslim hendaknya menyambut musim-musim kebaikan secara umum dengan:

    • Taubat yang jujur,
    • Niat yang ikhlas,
    • Meninggalkan dosa dan maksiat.

    Karena dosa-dosa adalah penghalang yang menghalangi seseorang dari keutamaan dan menjauhkan hatinya dari Tuhannya.

  2. Begitu pula, menyambut musim-musim kebaikan dengan:

    • Tekad kuat dan semangat yang jujur untuk memanfaatkannya dengan apa yang diridhai Allah.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(Surah Al-Ankabut: 69)

Maka wahai saudaraku Muslim, bersungguh-sungguhlah dalam memanfaatkan kesempatan emas ini sebelum ia berlalu dan engkau menyesal, dan tiada guna penyesalan saat itu.
Semoga Allah memberimu taufik dan menolongmu untuk memanfaatkan musim-musim kebaikan ini.
Kami memohon kepada-Nya agar menjadikan kita termasuk orang yang taat dan baik dalam beribadah kepada-Nya.

Beberapa Hukum dan Legalitas Kurban:

Hukum asal kurban adalah bahwa ia disyariatkan untuk orang-orang yang masih hidup. 

Sebagaimana Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya berkurban untuk diri mereka dan keluarga mereka. Adapun anggapan sebagian masyarakat umum bahwa berkurban hanya khusus untuk orang yang sudah meninggal, maka itu tidak benar. Berkurban untuk orang yang telah wafat terbagi menjadi tiga jenis:

Pertama: Berkurban atas nama orang yang sudah wafat sebagai bagian dari kurban untuk orang yang masih hidup, seperti seseorang berkurban untuk dirinya sendiri dan keluarganya, dan termasuk di dalamnya orang-orang yang telah meninggal dari keluarganya. Ini adalah dasar kurban Nabi ﷺ untuk dirinya dan keluarganya.

Kedua: Berkurban atas nama orang yang telah meninggal karena wasiat dari mereka. Maka ini termasuk pelaksanaan wasiat, dan dasarnya adalah firman Allah Ta'ala:

"Maka barang siapa mendengarnya lalu mengubahnya (wasiat itu), maka sesungguhnya dosanya hanyalah atas orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
(Surah Al-Baqarah: 181)

Ketiga: Berkurban atas nama orang yang sudah wafat secara terpisah dari orang hidup, sebagai bentuk sedekah atas nama mereka. Ini diperbolehkan. Para ulama mazhab Hanbali secara eksplisit menyatakan bahwa pahalanya akan sampai kepada mayit dan mereka menganalogikannya dengan sedekah atas nama mayit. Namun kami tidak melihat adanya dalil bahwa Nabi ﷺ mengkhususkan kurban untuk satu pun dari orang yang telah wafat di antara kerabatnya, padahal beliau memiliki banyak kerabat yang meninggal saat beliau masih hidup. Mereka adalah tiga anak perempuan yang telah menikah, tiga anak laki-laki yang masih kecil, dan juga istrinya Khadijah – yang merupakan wanita yang paling beliau cintai – serta tidak diriwayatkan bahwa para sahabat beliau mengkhususkan kurban untuk seseorang dari keluarga mereka yang telah meninggal.

Kami juga melihat sebagai suatu kesalahan apa yang dilakukan sebagian orang, yaitu berkurban atas nama orang yang telah meninggal pada tahun pertama kematiannya dan mereka menyebutnya “kurban tahunan” (أضحية الحفرة), dan mereka meyakini bahwa tidak boleh ada yang menyertai orang yang telah meninggal tersebut dalam pahalanya atau berkurban untuk mereka secara terpisah dari orang hidup.

Atau mereka menyembelih utk yang mati dalam rangka sedekah atau sesuai wasiat nya namun mereka tidak berkurban dari diri mereka dan keluarganya. Seandainya mereka mengetahui bahwa seorang lelaki yang berkurban dari hartanya atas nama dirinya dan keluarganya, maka amal mereka juga akan mencakup keluarganya dan orang-orang yang telah meninggal, niscaya mereka akan melakukan hal tersebut.

Larangan Bagi Orang yang Ingin Berkurban

Apabila seseorang ingin berkurban dan telah masuk bulan Dzulhijjah — baik terlihat hilal atau diyakini masuknya bulan dengan sempurna 30 hari — maka diharamkan baginya mengambil sedikit pun dari rambut, kuku, atau kulitnya sampai ia menyembelih hewan kurbannya. Berdasarkan hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

“Apabila telah masuk sepuluh hari (Dzulhijjah) dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim)

Dalam riwayat lain berbunyi:
“Janganlah ia mengambil sedikit pun dari rambut dan kulitnya hingga ia menyembelih kurban.”

Jika seseorang berniat untuk berkurban selama sepuluh hari itu, maka ia wajib menahan diri dari memotong rambut dan kukunya sejak ia berniat, dan tidak berdosa atas apa yang telah diambil sebelum berniat.

Hikmah dari larangan ini:

Karena orang yang berkurban ikut serta dalam beberapa ibadah haji, dan ia mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan menyembelih hewan kurban, maka ia diajak untuk menyerupai sebagian dari orang-orang yang berihram yang juga menahan diri dari memotong rambut dan kuku.

Namun demikian, tidak diharamkan bagi anggota keluarganya untuk mengambil dari rambut dan kuku mereka di hari-hari sepuluh (awal Dzulhijjah), dan tidak dianjurkan bagi mereka untuk menahan diri. Larangan ini khusus bagi orang yang akan berkurban saja.

Larangan ini tidak berlaku bagi orang yang berkurban atas nama orang lain, karena Nabi ﷺ bersabda:
“Dan ingin berkurban…”
dan tidak mengatakan: “dan berkurban.”

Karena Nabi ﷺ sendiri berkurban atas nama keluarganya, dan tidak disebutkan bahwa beliau melarang mereka untuk menahan diri dari memotong rambut atau kuku. Jika seseorang yang ingin berkurban memotong sesuatu dari rambut atau kukunya, maka ia telah meninggalkan yang seharusnya, dan tidak membatalkan kurbannya.

Barang siapa melihat rambutnya atau kukunya rontok (karena lupa atau tidak sengaja sebelum menyembelih kurban), maka hendaknya ia segera bertaubat kepada Allah Ta'ala. Tidak ada kafarah (denda) baginya, dan hal tersebut tidak mencegahnya untuk berkurban, sebagaimana pandangan sebagian ulama. Jika seseorang mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya karena lupa, tidak tahu, atau tidak sengaja, maka tidak berdosa baginya. Namun jika ia melakukannya dengan sengaja, maka ia berdosa. Jika ia butuh mencabut sesuatu yang mengganggunya, maka tidak mengapa — seperti jika bulu matanya mengganggu penglihatannya, atau rambutnya menyebabkan luka dan sejenisnya.

Hukum dan Adab Hari Raya Idul Adha

Saudaraku tercinta,
Kami menyapamu dengan salam Islam dan berkata kepadamu:
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kami mengucapkan selamat hari raya Idul Adha yang penuh berkah, dan berkata kepadamu: Semoga Allah menerima (amal) dari kami dan darimu. Kami berharap kamu menerima pesan ini yang kami kirimkan kepadamu, dan kami mohon kepada Allah 'Azza wa Jalla agar ia menjadi manfaat bagimu dan bagi seluruh kaum muslimin di setiap tempat.

Saudaraku Muslim,
Kebaikan seluruhnya ada dalam mengikuti petunjuk Nabi ﷺ dalam semua urusan kehidupan kita. Dan keburukan seluruhnya ada dalam menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ. Oleh karena itu, terkadang kami mengingatkanmu akan sebagian adab dan hukum yang disyariatkan untuk dilakukan pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyrik — yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Poin-poin penting tersebut antara lain:

1. Takbir:

Disyariatkan untuk memperbanyak takbir mulai dari fajar hari Arafah hingga sore hari terakhir dari hari-hari tasyrik, yaitu tanggal 13 Dzulhijjah.

Allah Ta'ala berfirman:
“Dan sebutlah nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.”
(QS. Al-Baqarah: 203)

Sifat bacaan takbir tersebut adalah:
"Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallaah, wallaahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillaahil hamd."
(Lafaz ini disunnahkan dibaca dengan suara keras oleh para laki-laki di masjid, pasar, rumah, dan jalan, seusai shalat lima waktu, mengumandangkan pengagungan kepada Allah Ta’ala dan dalam rangka ibadah serta bersyukur kepada-Nya.)

2. Menyembelih hewan qurban:

Dilakukan setelah salat Id. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barangsiapa menyembelih sebelum salat, maka itu hanya sembelihan biasa untuk keluarganya, dan bukan kurban. Dan barangsiapa belum menyembelih, maka hendaknya ia menyembelih."
(HR. Bukhari dan Muslim).
Waktu penyembelihan berlangsung selama empat hari: hari raya dan tiga hari tasyriq.
Nabi ﷺ bersabda: "Semua hari-hari tasyriq adalah waktu untuk menyembelih."
Lihat: Silsilah Ash-Shahihah no. 2476.

3. Mandi dan berhias untuk pria, dan memakai pakaian terbaik:

Tanpa berlebihan, boros, atau mencukur jenggot karena hal ini haram. Adapun wanita, disunnahkan keluar ke tempat salat Id tanpa berhias dan memakai wangi-wangian.
Tidak pantas pergi untuk menaati Allah dan melaksanakan salat dalam keadaan bermaksiat kepada-Nya dengan berhias dan memakai parfum di hadapan laki-laki.

4. Tidak makan sebelum salat Idul Adha:

Nabi ﷺ tidak makan apapun hingga pulang dari salat Id, lalu beliau memakan daging kurban.
(Zaadul Ma'ad 1/441)

5. Pergi ke tempat salat Ied dengan berjalan kaki jika mudah:

Dan disunnahkan menunaikan salat di tanah lapang (musalla), bukan di masjid, kecuali jika ada udzur.

6. Salat bersama kaum muslimin dan disunnahkan menghadiri khutbah:

Mayoritas ulama berpendapat, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, bahwa salat Id hukumnya wajib.
Karena firman Allah Ta'ala:
"Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan sembelihlah (hewan kurban)."
(QS. Al-Kawtsar: 2)

Kewajiban ini tidak gugur kecuali dengan udzur.
Wanita juga dianjurkan untuk menyaksikan salat Id bersama kaum muslimin, termasuk wanita haid dan yang belum baligh. Namun mereka menjauh dari tempat salat (mushalla).

7. Menyelisihi jalan (ketika pergi dan pulang ke tempat salat Ied):

Disunnahkan bagimu untuk pergi ke tempat salat Id melalui satu jalan dan pulang melalui jalan lain, karena mengikuti sunnah Nabi ﷺ.

8. Ucapan selamat Ied:
Disyariatkan mengucapkan selamat Id. Hal ini diriwayatkan dari para sahabat Rasulullah ﷺ.

9. Waspadalah wahai saudaraku muslim dari jatuh ke dalam sebagian kesalahan yang banyak terjadi di kalangan manusia, di antaranya:

⛔. Takbir berjamaah:
Dengan satu suara atau mengikuti seseorang yang mengucapkan takbir.

⛔. Mengisi hari-hari Ied dengan hal-hal yang haram:
Seperti mendengarkan lagu, menonton film, percampuran laki-laki dengan wanita yang bukan mahram, dan hal-hal mungkar lainnya.

⛔ Memotong rambut atau kuku sebelum menyembelih hewan kurban, bagi orang yang ingin berkurban. Nabi ﷺ melarang hal tersebut.

⛔ Berlebihan dan mubazir dalam hal yang tidak ada manfaatnya, bahkan mungkin membawa keburukan. Hal ini tidak ada maslahatnya, dan tidak ada faedah darinya. Allah Ta‘ala berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (Al-An‘am: 141)

✺ Terakhir:
Jangan lupa wahai saudaraku muslim untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan amal kebaikan dan kebajikan seperti menyambung silaturahmi, menjenguk orang sakit, berbuat baik kepada orang tua, menyenangkan hati orang lain, menyayangi fakir miskin, anak yatim, membantu mereka, dan memasukkan kebahagiaan ke dalam hati mereka.

Kami memohon kepada Allah agar Dia memberi taufik kepada kita untuk melakukan hal yang dicintai dan diridhai-Nya, agar kita istiqamah dalam agama kita, dan agar Dia menjadikan kita termasuk orang-orang yang beramal pada hari-hari ini – hari-hari 10 Dzulhijjah – dengan amal yang saleh dan ikhlas karena wajah-Nya yang mulia.

Semoga shalawat dan salam tercurah atas Nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.

*****