Senin, 02 Februari 2026

KEUTAMAAN BULAN SYA’BAN



KEUTAMAAN BULAN SYA'BAN


Ahmad bin Abdullah Al-Hazimi

Tanggal: 14 Januari 2026 M / 26 Rajab 1447 H


Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah yang membangunkan hati-hati dengan musim-musim ketaatan, dan menyadarkan orang-orang yang lalai dengan dekatnya hembusan rahmat.

Aku memuji-Nya dengan pujian yang banyak, baik dan penuh berkah. 

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. 

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. 

Semoga shalawat, salam, dan berkah tercurah kepada beliau, kepada keluarga dan para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Amma ba‘du:

Aku wasiatkan kepada kalian dan kepada diriku sendiri agar bertakwa kepada Allah Yang Mahatinggi, yang berfirman dalam kitab-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, sembahlah Tuhanmu dan lakukanlah kebaikan agar kalian beruntung.”
(QS. Al-Hajj: 77)

Wahai kaum mukminin,..

Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma memperhatikan kebiasaan Nabi ﷺ di bulan Sya’ban. 

Ia melihat beliau banyak berpuasa di bulan itu melebihi bulan-bulan lainnya. 
Maka ia berkata dengan heran:

“Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa di bulan mana pun seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban.”

Maka Nabi ﷺ bersabda dengan sebuah kalimat agung yang seandainya dipahami oleh orang-orang yang lalai, niscaya hidup mereka akan berubah:

“Itu adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadan. 
Ia adalah bulan diangkatnya amalan kepada Rabb semesta alam, dan aku suka amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.”

Wahai kaum muslimin, ..

kita memuji Allah yang telah memuliakan kita dengan dipertemukan kembali dengan bulan Sya’ban. 

Di dalamnya berhembus angin iman yang membawa kabar gembira tentang dekatnya bulan Ramadan. 

Bulan yang ditunggu orang beriman, bulan para pembaca Al-Qur’an, bulan diangkatnya amal, bulan persiapan menuju Ramadan. 

Namun, apakah kita benar-benar menyadari kedatangannya? 

Apakah kita merasakan nilai bulan ini? 

Tampaknya banyak di antara kita yang lalai!

Saudara-saudara seiman,..

masalah kita setiap tahun adalah kita memasuki Ramadan dalam keadaan lalai.

Kita memulai ibadah dari nol, lalu meningkat sedikit demi sedikit. 
Tidak terasa manisnya ibadah dan lezatnya ketaatan kecuali ketika Ramadan hampir berlalu. 
Lalu kita menyesal dan berkata: “Tahun depan kita akan lebih baik.” 
Namun tahun depan datang dan keadaannya sama saja, hingga akhirnya seseorang meninggal dunia tanpa perubahan berarti.

Padahal para salaf dahulu menyambut Ramadan enam bulan sebelumnya. 

Itulah sebabnya mereka merasakan kenikmatan Ramadan yang mungkin tidak kita rasakan.

Jika seorang muslim menyadari bahwa bulan Sya’ban adalah pertanda dekatnya Ramadan, maka semangatnya akan bangkit, tekadnya menguat, dan ia merasakan energi yang tidak ia temukan di waktu lain. 

Seakan-akan Sya’ban itu memotivasi kita untuk bersiap menghadapi Ramadan.

Wahai orang beriman, ..

Sya’ban bukanlah bulan malas dan lemah, tetapi bulan persiapan dan latihan. 

Sya’ban bagi seorang mukmin seperti atlet yang akan menghadapi kejuaraan besar: ia tidak masuk arena tanpa latihan, tetapi mempersiapkan diri jauh-jauh hari.

Demikian pula seorang mukmin, tidak menunggu Ramadan untuk bertobat, tidak menunda qiyamul lail, puasa, dan membaca Al-Qur’an sampai Ramadan datang. 

Ia memasuki Ramadan dalam keadaan siap, telah melatih diri di bulan Sya’ban.

Jika atlet lalai latihan, ia kalah.

Jika mukmin lalai di bulan Sya’ban, dikhawatirkan ia memasuki Ramadan dalam keadaan lemah.

Barang siapa ingin kuat ibadahnya di Ramadan, khusyuk shalatnya, maka mulailah dari sekarang. 

Hasan Al-Bashri رحمه الله jika masuk Sya’ban, berubah keadaannya dan bertambah rasa takutnya, seraya berkata:

“Orang beriman menggabungkan kebaikan dan rasa takut, sedangkan orang munafik menggabungkan keburukan dan rasa aman.”

Abu Bakr Al-Balkhi رحمه الله berkata:

“Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram, dan Ramadan bulan panen. 
Siapa yang tidak menanam di Rajab dan tidak menyiram di Sya’ban, maka dengan apa ia akan memanen di Ramadan?”

Wahai saudaraku,..

 jika engkau ingin Ramadan yang berbeda, Ramadan dengan hati hidup dan ibadah khusyuk, maka mulailah dari Sya’ban. 

Bersihkan hatimu dari dengki, iri, dan permusuhan. 
Perbarui tobat dari dosa-dosa. Ramadan itu seperti parfum, dan pakaian tidak akan harum kecuali setelah dicuci. 
Sya’ban adalah bulan mencuci diri dari dosa.
Biasakan dirimu berpuasa di Sya’ban. 

Nabi ﷺ sangat banyak berpuasa di bulan ini. 
Aisyah رضي الله عنها berkata:

“Rasulullah ﷺ tidak pernah berpuasa dalam satu bulan lebih banyak daripada di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berpuasalah di hari-hari utama seperti Senin, Kamis, dan ayyamul bidh. 

Latih anak-anakmu agar mereka tidak berat menjalani Ramadan.

Jangan lupa pula wirid membaca Al-Qur’an. 

Sya’ban adalah bulan para pembaca Al-Qur’an. 

Anas رضي الله عنه berkata:

“Jika masuk bulan Sya’ban, kaum muslimin sibuk dengan mushaf dan mengeluarkan zakat.”

Amr bin Qais رحمه الله jika masuk Sya’ban, menutup tokonya dan fokus membaca Al-Qur’an.

Tidak cukup hanya meminta agar dipertemukan dengan Ramadan, tetapi mintalah agar diberi taufik untuk beramal di dalamnya. 

Syaikh As-Sa‘di رحمه الله berkata:

“Jika engkau berdoa agar dipertemukan dengan Ramadan, jangan lupa berdoa agar diberi keberkahan di dalamnya. 
Bukan soal mencapainya, tetapi apa yang engkau lakukan di dalamnya.”


Khutbah Kedua

Wahai kaum mukminin, wajib mengqadha puasa bagi yang meninggalkan puasa Ramadan sebelumnya. 

Tidak boleh menunda tanpa uzur hingga datang Ramadan berikutnya. 

Barang siapa mampu qadha namun menunda, ia berdosa dan wajib bertobat serta mengqadha, dan menurut sebagian ulama wajib memberi makan satu orang miskin setiap hari.

Tidak boleh pula mendahului Ramadan dengan puasa satu atau dua hari karena kehati-hatian. 

Puasa hanya dilakukan setelah melihat hilal atau menyempurnakan Sya’ban tiga puluh hari.

Nabi ﷺ tidak mengkhususkan Sya’ban dengan ibadah selain puasa. 

Doa “Allahumma barik lana fi Rajab wa Sya’ban” adalah hadits yang lemah.

Tidak ada pengkhususan malam Nishfu Sya’ban dengan perayaan atau ibadah khusus.

Semua itu tidak ada dasarnya dari Nabi dan sahabat.

Wahai hamba Allah,..

muliakanlah bulan ini. 
Ia adalah duta Ramadan, tempat mengisi iman dan melatih ketaatan. 

Selesaikan urusan duniamu di Sya’ban agar fokus di Ramadan, terutama sepuluh malam terakhir.

Engkau akan memasuki pasar besar dan arena perlombaan agung. 

Jadikan semboyanmu: 

“Tak seorang pun akan mengalahkanku dalam mendekat kepada Allah.”

Yang beruntung adalah yang dirahmati di Ramadan, dan yang rugi adalah yang melewatkan rahmat Ramadan.

اللهم بلغنا رمضان واجعلنا من المقبولين

Ya Allah, sampaikan kami ke bulan Ramadan dan jadikan kami termasuk orang-orang yang diterima.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar