Jumat, 07 Februari 2025

PUASA DI BULAN SYA'BAN


Khutbah: 

Anjuran Memperbanyak Puasa di Bulan Sya'ban, Keutamaan Puasa Sunnah, dan Hukum Mengqadha Puasa Ramadhan yang Terlewat


Khutbah Pertama

Segala puji bagi Allah yang mengetahui rahasia setiap jiwa dan bisikannya, serta mencatat semua perkataan dan perbuatan hamba-hamba-Nya. 

Pada hari kiamat, Dia akan memberi balasan, memuliakan orang yang mensucikan dirinya, dan mengazab orang yang mengotorinya. 

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada hamba dan Rasul-Nya, Muhammad, yang diutus dengan syariat paling sempurna, serta memiliki derajat tertinggi. 

Juga kepada keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang berpegang teguh pada sunnahnya, semoga kita termasuk di antara mereka.

Amma ba’du, ...

wahai hamba-hamba Allah:...

Saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada kalian semua untuk bertakwa kepada Allah—baik dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan.

 Bertakwalah kepada-Nya dengan ketakwaan hati yang khusyuk. 

Janganlah kalian merasa aman dari makar-Nya atau berputus asa dari rahmat-Nya.

 Dekatkanlah diri kepada sebab-sebab rahmat dan ampunan-Nya. 

Berusahalah mengerjakan segala sesuatu yang dapat mendatangkan ridha-Nya, serta menjauhkan kalian dari api neraka.

 Sesungguhnya, rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang berbuat baik. Allah telah memerintahkan kita untuk bertakwa, mengingatkan kita untuk selalu mengevaluasi diri, serta melarang kita dari kelalaian terhadap-Nya, 

sebagaimana dalam firman-Nya:

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Hasyr: 18-19)


Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Salah satu ibadah yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang dapat mengangkat derajat seseorang, membersihkan jiwa, melunakkan hati, serta menjaga diri dari perbuatan haram adalah ibadah puasa

Rasulullah ﷺ bersabda tentang keutamaan puasa dalam hadits qudsi:

"Setiap amal anak Adam akan dilipatgandakan pahalanya; satu kebaikan mendapat sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan memberikan balasannya. Ia meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku." (HR. Bukhari & Muslim)


Diriwayatkan dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu bahwa ia pernah berkata kepada Rasulullah ﷺ:

"Wahai Rasulullah, perintahkan kepadaku suatu amalan yang dapat memberi manfaat bagiku." Rasulullah ﷺ menjawab, ‘Hendaklah kamu berpuasa, karena tidak ada amalan yang sebanding dengannya.’ Maka Abu Umamah dan keluarganya pun rajin berpuasa hingga apabila terlihat asap di siang hari di rumah mereka, orang-orang berkata, ‘Mereka pasti sedang kedatangan tamu.’"


Wahai kaum Muslimin,...

Kita sekarang berada di ambang bulan Sya’ban. 

Apakah kalian tahu keutamaan bulan ini?

  Bulan ini adalah bulan diangkatnya amalan manusia kepada Allah. 

Maka beruntunglah bagi mereka yang amalannya diangkat dalam keadaan berpuasa. 

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

"Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa di bulan lain sebanyak di bulan Sya’ban." Beliau menjawab, ‘Bulan itu adalah bulan yang dilupakan oleh banyak orang, terletak antara Rajab dan Ramadhan. Padahal, di bulan itu amalan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.’" (HR. Nasa’i dan Ahmad)


Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

"Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ berpuasa lebih banyak dalam satu bulan selain bulan Sya’ban. Bahkan beliau biasa berpuasa sebulan penuh kecuali sedikit hari." (HR. Bukhari & Muslim)


Maka dari itu, marilah kita meneladani Rasulullah ﷺ dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. 

Semoga ketika amal kita diangkat kepada Allah, kita berada dalam keadaan berpuasa, sehingga Allah memberikan pahala yang besar serta mengampuni kekurangan dan dosa-dosa kita.

Wahai hamba-hamba Allah,

Banyak di antara kita yang lalai dalam puasa sunnah, padahal keutamaannya sangat agung. 

Rasulullah ﷺ menganjurkan berbagai bentuk puasa sunnah, dan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya sangat banyak. 

Berikut beberapa keutamaannya:

Puasa sunnah dapat menghapus dosa-dosa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Fitnah (ujian dan dosa) seseorang dalam keluarganya, hartanya, dan tetangganya dapat dihapus oleh shalat, puasa, dan sedekah." (HR. Bukhari & Muslim)


Puasa sunnah dapat menjaga diri dari perbuatan haram. 

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang mampu menikah, hendaklah ia menikah. Sebab menikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Namun, siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah tameng baginya." (HR. Bukhari & Muslim)


Puasa sunnah menyempurnakan kekurangan dalam puasa wajib.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat sebagai amalan yang sempurna. Jika ada kekurangan dalam shalat wajibnya, maka Allah akan berkata: ‘Lihatlah apakah hambaku memiliki shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah akan menyempurnakan kekurangan shalat wajibnya. Begitu pula dengan amal lainnya." (HR. Tirmidzi)


Puasa sunnah mendekatkan hamba kepada Allah dan menjadikannya dicintai-Nya. 

Allah berfirman dalam hadits qudsi:

"Hamba-Ku tidak akan mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan ia terus mendekat kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia mendengar dengannya, penglihatannya yang ia melihat dengannya, tangannya yang ia gunakan untuk bertindak, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku kabulkan. Jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Aku lindungi." (HR. Bukhari)


Allah berfirman:

"Dan bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang bertakwa." (QS. Ali ‘Imran: 133)


Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk memperbanyak puasa sunnah dan menerima amalan kita.


Khutbah Kedua:

 Hukum Mengqadha Puasa Ramadhan yang Terlewat

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. 

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ, keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh pengikutnya hingga hari kiamat.

Amma ba’du:

Wahai kaum Muslimin, dalam khutbah pertama tadi, kita telah membahas keutamaan puasa sunnah, khususnya di bulan Sya’ban. 

Sekarang, marilah kita membahas hukum mengqadha puasa Ramadhan yang terlewat—karena ini adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang pernah meninggalkan puasa wajib di bulan suci Ramadhan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur’an:

"Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkan itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu." (QS. Al-Baqarah: 185)


Ayat ini menegaskan bahwa orang yang tidak berpuasa karena uzur syar'i, seperti sakit atau dalam perjalanan, wajib menggantinya di hari-hari lain setelah Ramadhan.

1. Waktu Mengqadha Puasa

Para ulama sepakat bahwa puasa yang terlewat harus diqadha sebelum datangnya Ramadhan berikutnya. 

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:

"Aku memiliki utang puasa Ramadhan, tetapi aku tidak bisa mengqadhanya kecuali pada bulan Sya’ban, karena kesibukanku melayani Rasulullah ﷺ." (HR. Bukhari & Muslim)


Hadits ini menunjukkan bahwa mengqadha puasa harus dilakukan sebelum masuk Ramadhan berikutnya

Oleh karena itu, bagi yang masih memiliki utang puasa, hendaklah segera mengqadhanya sebelum Ramadhan tiba.

2. Hukum Menunda Qadha Hingga Masuk Ramadhan Berikutnya

Jika seseorang sengaja menunda qadha hingga melewati satu tahun tanpa uzur yang dibenarkan, maka menurut mayoritas ulama, ia tetap wajib mengqadha puasanya serta membayar fidyah sebagai denda.

 Fidyahnya adalah memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan.

Namun, jika penundaan itu karena uzur yang sah (misalnya sakit berkepanjangan), maka ia hanya wajib mengqadha tanpa fidyah.

3. Apakah Qadha Harus Dilakukan Secara Berurutan?

Qadha puasa tidak harus dilakukan berturut-turut. 

Hal ini berdasarkan firman Allah:

"Maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkan itu, pada hari-hari yang lain." (QS. Al-Baqarah: 185)


Ayat ini menunjukkan bahwa seseorang boleh mengqadha secara terpisah asalkan jumlah hari yang ditinggalkan terpenuhi sebelum Ramadhan berikutnya.

4. Bolehkah Berpuasa Sunnah Sebelum Mengqadha?

Mayoritas ulama berpendapat bahwa mengqadha puasa lebih utama dilakukan terlebih dahulu sebelum menjalankan puasa sunnah, terutama sebelum Ramadhan tiba. 

Namun, jika seseorang ingin berpuasa sunnah seperti puasa Senin-Kamis atau Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15 Hijriyah), maka boleh saja selama ia yakin masih memiliki waktu yang cukup untuk mengqadha puasanya.

Namun, yang lebih baik dan lebih hati-hati adalah menyelesaikan qadha terlebih dahulu agar terbebas dari tanggungan kewajiban.

5. Orang yang Tidak Mampu Mengqadha Puasa

Orang yang tidak mampu mengqadha puasa, seperti orang tua renta atau orang sakit yang tidak ada harapan sembuh, tidak diwajibkan berpuasa. 

Sebagai gantinya, mereka cukup membayar fidyah dengan memberikan makanan kepada fakir miskin sebanyak satu mud (sekitar 0,75 kg) makanan pokok per hari yang ditinggalkan.

Allah berfirman:

"Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) untuk membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin." (QS. Al-Baqarah: 184)

Maka, bagi orang yang sudah sangat tua atau memiliki penyakit yang tidak bisa disembuhkan, cukup membayar fidyah tanpa perlu mengqadha.

Kesimpulan

  1. Mengqadha puasa wajib dilakukan sebelum Ramadhan berikutnya.
  2. Jika melewati satu tahun tanpa uzur, wajib qadha dan membayar fidyah.
  3. Qadha puasa boleh dilakukan terpisah, tidak harus berturut-turut.
  4. Sebaiknya qadha puasa didahulukan sebelum puasa sunnah.
  5. Orang yang tidak mampu berpuasa bisa menggantinya dengan fidyah.

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk menyelesaikan kewajiban kita sebelum Ramadhan tiba dan menerima segala amal ibadah kita.


Khutbah Penutup


Wahai kaum Muslimin, marilah kita menutup khutbah ini dengan doa dan permohonan kepada Allah.


Inilah doaku, dan aku memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah agar menjauhkan aku dan kalian dari kesyirikan dan bid’ah.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami keteguhan dalam berpegang teguh pada tauhid dan sunnah serta istiqamah di atasnya hingga akhir hayat. 

Sucikanlah ucapan kami, pendengaran kami, dan anggota tubuh kami dari segala sesuatu yang membuat-Mu murka.

 Lapangkanlah hati kami dengan sunnah dan keteladanan (Nabi), perbaikilah para pemimpin kami, tentara kami, keluarga kami, anak-anak kami, dan tetangga kami dengan kebaikan dan petunjuk.

Ya Allah, teguhkanlah kami dalam kehidupan ini untuk selalu taat kepada-Mu, ketika ajal menjemput dengan kalimat Lā ilāha illallāh, serta di dalam kubur saat menghadapi pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir. 

Lunakkanlah hati kami sebelum kematian melunakkannya. Jadikanlah hati kami tunduk dan khusyuk mengingat-Mu dan menerima kebenaran yang telah Engkau turunkan. 

Rahmatilah orang-orang yang telah wafat dari kalangan kami dan kaum Muslimin.

Ya Allah, angkatlah kesulitan dari saudara-saudara Muslim yang sedang tertimpa musibah di mana pun mereka berada.

 Lindungilah kami dan mereka dari segala fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.

اللهم اغفر لنا ذنوبنا، وكفّر عنا سيئاتنا، وتوفّنا مع الأبرار، اللهم بلّغنا رمضان، ووفقنا لصيامه وقيامه إيمانًا واحتسابًا، اللهم تقبّل صيامنا وقيامنا، واغفر لنا ولآبائنا وأمهاتنا، واغفر للمسلمين والمسلمات، الأحياء منهم والأموات، برحمتك يا أرحم الراحمين.

"Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami dalam keadaan bersama orang-orang yang saleh. Ya Allah, sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan, dan berilah kami taufik untuk berpuasa dan menegakkan qiyamullail dengan penuh keimanan dan keikhlasan. Ya Allah, terimalah amal ibadah kami, ampunilah dosa-dosa kami, serta dosa kedua orang tua kami, dan ampunilah dosa seluruh kaum Muslimin, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Dengan rahmat-Mu, wahai Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى، وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي، يعظكم لعلكم تذكرون

"Sesungguhnya Allah memerintahkan (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl: 90)

Semoga khutbah ini bermanfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua.

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

"Aku akhiri khutbah ini dengan memohon ampun kepada Allah untuk diriku dan untuk kalian semua. Maka mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."


موقع: "عبد القادر بن محمد بن عبد الرحمن الجنيد" العلمي>المقالات>


BULAN SYA'BAN DAN KEUTAMAAN


BULAN SYA'BAN DAN KEUTAMAAN NYA 



Khutbah Pertama:

Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan agama bagi kita, menyempurnakan nikmat-Nya atas kita, dan meridai Islam sebagai agama kita. Aku memuji-Nya, bersyukur kepada-Nya, bertaubat, dan memohon ampun kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, satu-satunya tanpa sekutu. Aku juga bersaksi bahwa junjungan kita, Nabi Muhammad, adalah hamba dan utusan-Nya, seorang yang memiliki akhlak yang luhur dan budi pekerti yang tinggi. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya hingga hari kiamat.

Amma ba’du:

 Wahai saudara-saudaraku yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. 

Barang siapa yang takut akan ancaman Allah, maka jarak yang jauh terasa dekat baginya, dan barang siapa yang panjang angan-angannya, maka amalnya menjadi lemah. 

Iman adalah sebaik-baik pemimpin, amal saleh adalah sebaik-baik pembimbing, berbuat baik kepada sesama adalah sebaik-baik balasan, dan akhlak yang baik adalah sebaik-baik kelebihan.

Manusia di dunia ini dalam keadaan lalai, jenazah melewati mereka, sementara kematian terus mengintai dan mendekat. Mereka membangun rumah yang tidak akan mereka tinggali, dan mereka mengumpulkan harta yang tidak akan mereka makan. Betapa beruntungnya orang yang memanfaatkan dunia untuk kepentingan akhiratnya! Dan betapa suksesnya orang yang bersungguh-sungguh mencari rida Allah dan beramal dalam ketaatan kepada-Nya! 

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia, serta berbuat baiklah (kepada sesama) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan" (QS. Al-Qashash: 77).

Wahai kaum muslimin, 

telah datang kepada kalian seorang duta yang mulia mendahului tamu agung dan tercinta, maka muliakanlah duta dari tamu kalian. 

Sambutlah utusan dari tamu kalian dengan baik. 

Dia adalah bulan Sya’ban, duta dan utusan dari bulan Ramadan yang membawa beritanya kepada kalian. 

Maka, sebagai bentuk penghormatan kita kepada Ramadan, kita harus menyambut dan memuliakan saudaranya, yaitu bulan Sya’ban. 

Caranya sangat mudah bagi mereka yang hatinya menginginkan kelapangan dan cahaya kuburnya, serta tujuannya adalah mendapatkan rahmat dan rida Tuhannya.

Wahai saudara-saudara sekalian,..

penghormatan pertama terhadap bulan Sya’ban yang datang dan akan pergi ini adalah dengan memperbanyak puasa di dalamnya. 

Sesungguhnya, kekasih kita, Nabi Muhammad ﷺ, banyak berpuasa di bulan Sya’ban. 

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:

  “Aku tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa selain di bulan Sya’ban.” 

Dalam riwayat lain, beliau berkata: 

“Nabi ﷺ biasa berpuasa hampir seluruh bulan Sya’ban, kecuali sedikit saja.”

Nabi ﷺ menjelaskan alasan beliau banyak berpuasa di bulan ini. 

Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma bertanya kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau banyak berpuasa dalam satu bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban?” 

Beliau menjawab:

  “Itu adalah bulan yang banyak dilupakan oleh manusia, antara Rajab dan Ramadan. Bulan ini adalah bulan diangkatnya amal kepada Tuhan semesta alam, dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa.”

Ada dua alasan yang disebutkan oleh Nabi ﷺ:

  1. Bulan Sya’ban adalah bulan yang sering dilupakan oleh manusia karena berada di antara dua bulan yang agung, yaitu Rajab dan Ramadan. Waktu-waktu yang sering dilupakan manusia adalah saat yang paling baik untuk beribadah dan melipatgandakan pahala.
  2. Bulan Sya’ban adalah bulan di mana amalan diangkat kepada Allah, dan Nabi ﷺ ingin amalannya diangkat dalam keadaan beliau sedang berpuasa.

Maka marilah kita meneladani kekasih kita, Nabi Muhammad ﷺ, dalam memperbanyak puasa di bulan ini. 

Selain itu, puasa di bulan Sya’ban juga merupakan latihan sebelum memasuki bulan Ramadan, agar kita tidak merasa berat saat mulai berpuasa di bulan Ramadan.

Wahai hamba Allah,..

penghormatan kedua terhadap bulan Sya’ban adalah dengan membersihkan diri dari dosa dan maksiat serta menyucikan rumah kita dari kemungkaran dan pelanggaran syariat. 

Maka bertobatlah dengan sungguh-sungguh kepada Allah. Perbaikilah hubungan kalian dengan Tuhan kalian. Mulailah lembaran baru yang putih dalam sisa hidup kalian. 

Bergembiralah dengan penerimaan Allah terhadap tobat kalian.

  "Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. Az-Zumar: 53).

Wahai saudaraku muslim,...

jangan sampai Ramadan datang sedangkan hatimu masih kotor dengan dosa. Sesungguhnya, Ramadan itu seperti wewangian, dan tidaklah seseorang berhak menggunakannya kecuali setelah membersihkan dirinya. Inilah saatnya untuk membersihkan diri dari noda dosa dan maksiat.

Wahai orang yang masih memiliki hutang kepada sesama, bayarlah hutangmu!
Wahai anak yang durhaka kepada orang tua, kembalilah kepada mereka dengan penuh bakti!


Wahai pemuda yang terjerumus dalam kemaksiatan, jangan biarkan setan menang dengan membuatmu putus asa dari rahmat Allah!

Wahai saudara-saudara yang dikasihi Allah,...

penghormatan ketiga terhadap bulan Sya’ban adalah dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an. 

Para salafus shalih sangat bersungguh-sungguh di bulan ini dalam membaca Al-Qur’an dan bersiap menyambut Ramadan.

 Sufyan bin Uyainah berkata: 

“Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyiram, dan bulan Ramadan adalah bulan memanen.”

Maka, marilah kita memperbanyak ibadah dan menjauhi maksiat. 

Manfaatkan waktu luang sebelum kesibukan, kesehatan sebelum sakit, hidup sebelum mati, dan kekayaan sebelum kemiskinan.

Aku akhiri khutbah ini dengan beristighfar kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.



Khutbah Kedua:


Segala puji bagi Allah atas segala nikmat-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, satu-satunya tanpa sekutu, sebagai bentuk pengagungan terhadap-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Wahai manusia,...

kalian akan mendapati balasan dari apa yang telah kalian lakukan. 

Bertakwalah kepada Allah! 

Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya untuk kehidupan setelah kematian.

Waktu terus berlalu. 

Rajab telah berlalu tanpa kita sadari. 

Kini Sya’ban telah datang. 

Maka wahai yang telah menyia-nyiakan waktu, bangunlah dari kelalaianmu!

Kita memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang mulia agar Dia memberkahi kita di bulan Sya’ban dan mempertemukan kita dengan bulan Ramadan. 

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya.

Ya Allah, terimalah amal ibadah kami dan masukkan kami ke dalam surga-Mu.

Ya Allah, berkahilah kami di bulan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan. 

Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang meraih rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari neraka di bulan yang penuh berkah ini.

Ya Allah, perbaikilah keadaan umat Islam di mana pun mereka berada. 

Satukanlah hati-hati mereka dalam kebaikan dan hidayah-Mu. 

Teguhkanlah langkah mereka di atas jalan kebenaran.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa guru-guru kami, dan dosa seluruh kaum muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

Ya Allah, kuatkanlah iman kami, hiasi hati kami dengan ketakwaan, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang istiqamah di jalan-Mu.

Ya Allah, jauhkanlah kami dari kemaksiatan, bersihkanlah hati kami dari penyakit iri, dengki, dan permusuhan.

Anugerahkanlah kepada kami hati yang bersih, lisan yang jujur, dan amal yang diterima di sisi-Mu.

Ya Allah, bimbinglah kami agar dapat mengisi bulan Sya’ban dengan ibadah, puasa, dan amal saleh. 

Jangan biarkan kami lalai sehingga bulan ini berlalu tanpa keberkahan bagi kami.

Ya Allah, sampaikanlah kami ke bulan Ramadan dalam keadaan sehat dan kuat.

Jadikanlah Ramadan kami tahun ini lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Berikanlah kepada kami kekuatan untuk berpuasa dengan penuh keikhlasan, mendirikan shalat malam dengan khusyuk, dan memperbanyak tilawah Al-Qur’an.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami rezeki yang halal, berkah, dan mencukupi.

Jauhkanlah kami dari rezeki yang haram dan syubhat. Mudahkanlah urusan kami di dunia dan akhirat.

Ya Allah, lindungilah saudara-saudara kami yang sedang tertimpa musibah, kesulitan, dan penderitaan. 

Berikanlah kesabaran kepada mereka, lapangkanlah dada mereka, dan gantikanlah penderitaan mereka dengan kebahagiaan yang lebih baik.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami husnul khatimah. 

Jadikanlah akhir hidup kami dalam keadaan beriman dan beramal saleh.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang ketika kembali kepada-Mu, Engkau ridha kepada kami dan kami ridha kepada-Mu.

Rabbana atina fi’d-dunya hasanah, wa fi’l-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaba’n-nar.

Hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan, kebaikan, dan memberi kepada kerabat, serta melarang perbuatan keji, mungkar, dan kedzaliman. Dia memberi nasihat kepada kalian agar kalian mengambil pelajaran.

Maka ingatlah Allah Yang Maha Agung, niscaya Dia akan mengingat kalian. Bersyukurlah atas nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat-Nya kepada kalian. Mintalah kepada-Nya, niscaya Dia akan mengabulkan permintaan kalian.

Dan dirikanlah shalat…


وزارة الشؤون الدينيـة والأوقـاف. كل الحقوق محفوظة

BULAN SYA'BAN ANTARA KELALAIAN DAN KEPEDULIAN



Bulan Sya'ban: Antara Kelalaian dan Kepedulian


Mengapa nasihat ini diberikan?

  1. Untuk menjelaskan keadaan Nabi ﷺ di bulan Sya'ban sebagai teladan yang harus diikuti.
  2. Untuk menjelaskan rahasia kepedulian terhadap bulan Sya'ban dan memperingatkan dari kelalaian.
  3. Untuk mengingatkan keutamaan amal saleh di bulan ini, karena bulan ini merupakan penutup amal setahun yang diangkat kepada Allah Ta'ala.
  4. Untuk menjelaskan amalan-amalan yang dianjurkan di bulan ini.
  5. Untuk meneladani generasi salaf yang saleh dan mendapatkan pahala serta ganjaran.


Pendahuluan:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, sahabatnya, dan siapa saja yang mengikutinya.

Sesungguhnya di antara nikmat besar yang Allah Ta'ala berikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman adalah Dia menyediakan bagi mereka sebab-sebab untuk meraih keridhaan-Nya dan memperbanyak amal saleh. Hal ini terjadi melalui berbagai musim kebaikan yang penuh berkah, di mana seorang hamba dapat semakin dekat kepada-Nya dan memperoleh derajat yang lebih tinggi. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Muhammad bin Maslamah Al-Anshari:

"Sesungguhnya Tuhan kalian memiliki hembusan-hembusan rahmat dalam hari-hari kehidupan kalian, maka manfaatkanlah hembusan tersebut. Semoga salah seorang di antara kalian mendapatkan hembusan itu sehingga dia tidak akan sengsara selamanya."
(Al-Mu’jam Al-Kabir, no. 519, dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 1890)

Di antara musim kebaikan yang dinantikan oleh orang-orang beriman adalah bulan Sya'ban. Ini adalah bulan para pembaca Al-Qur’an, bulan di mana amal perbuatan diangkat kepada Rabb semesta alam, serta bulan persiapan menuju Ramadhan.

Ketika kita merenungkan keadaan Nabi ﷺ saat memasuki bulan Sya'ban, kita akan mendapati bahwa beliau memberikan perhatian khusus terhadap bulan ini yang tidak beliau berikan kepada bulan-bulan lainnya. Diriwayatkan oleh Ahmad dan An-Nasa'i dari Usamah bin Zaid رضي الله عنه, ia berkata:

"Aku berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa di bulan lain sebanyak di bulan Sya'ban?" Beliau menjawab: 'Itu adalah bulan yang banyak dilupakan oleh manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Bulan ini adalah bulan diangkatnya amal perbuatan kepada Allah Rabb semesta alam, dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa’.”

Padahal puasa adalah ibadah yang tersembunyi dan tidak mudah diketahui oleh orang lain. Namun karena Rasulullah ﷺ sangat sering berpuasa di bulan ini, para sahabat pun memperhatikannya.


Mengapa perhatian terhadap bulan Sya'ban begitu penting?

1. Karena bulan ini adalah bulan kelalaian bagi banyak orang

Sebagaimana disebutkan dalam hadits: "Itu adalah bulan yang banyak dilupakan oleh manusia antara Rajab dan Ramadhan."

Banyak orang yang mengagungkan bulan Rajab karena kedudukannya sebagai salah satu bulan haram, dan mereka juga sangat memperhatikan bulan Ramadhan karena keutamaannya yang besar. Akibatnya, bulan Sya'ban justru terabaikan. Jika kita perhatikan, banyak orang yang menggunakan bulan ini untuk menyelesaikan urusan duniawi mereka agar bisa fokus pada bulan Ramadhan. Dengan demikian, bulan Sya'ban berubah menjadi bulan yang hanya dihabiskan untuk urusan dunia, dan inilah bentuk kelalaian.

Namun, seorang mukmin sejati akan memanfaatkan bulan Sya'ban untuk menghindari kelalaian ini dengan memperbanyak ibadah dan ketaatan. Jika orang lain lalai, ia tetap tekun beribadah. Jika orang lain tidur, ia bangun untuk shalat malam. Jika orang lain tidak berpuasa, ia memilih untuk berpuasa.

Dengan melakukan ini, ia akan mendapatkan kecintaan Allah. Dalam hadits tentang tiga golongan yang dicintai Allah, Nabi ﷺ bersabda:

*"Tiga golongan yang dicintai Allah:

  1. Seseorang yang datang kepada suatu kaum dan meminta bantuan kepada mereka karena Allah, tetapi mereka menolaknya. Lalu seseorang dari mereka diam-diam memberinya tanpa diketahui orang lain, maka Allah mencintainya.
  2. Sekelompok orang yang berjalan semalaman, hingga ketika tidur menjadi sesuatu yang paling mereka sukai, mereka pun berhenti dan merebahkan kepala mereka. Namun, salah seorang dari mereka bangun untuk bermunajat kepada-Ku dan membaca ayat-ayat-Ku.
  3. Seorang pria yang ikut serta dalam sebuah ekspedisi perang. Ketika pasukan bertemu musuh, mereka pun mundur. Namun, ia tetap maju hingga terbunuh atau meraih kemenangan.”*
    (HR. At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ahmad)

Jika kita perhatikan, ada satu sifat yang menghubungkan tiga golongan yang dicintai Allah ini, yaitu mereka tetap beribadah dengan penuh ketulusan di saat orang lain lalai.


Keutamaan beramal di saat orang lain lalai

Selain mendapatkan kecintaan Allah, seseorang yang beribadah di waktu kelalaian juga akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Nabi ﷺ bersabda:

"Akan datang setelah kalian hari-hari di mana bersabar dalam ketaatan seperti menggenggam bara api. Pada hari-hari itu, seorang yang beramal akan mendapatkan pahala seperti lima puluh orang yang melakukan amalan serupa dengan kalian (para sahabat)."

Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah maksudnya pahala lima puluh dari kami atau dari mereka?"

Beliau menjawab: "Bahkan lima puluh dari kalian, karena kalian mendapatkan banyak penolong dalam melakukan kebaikan, sedangkan mereka tidak."
(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah)

Hadits ini menunjukkan bahwa beramal saleh dalam masa kelalaian dan fitnah memiliki nilai yang lebih besar di sisi Allah Ta'ala. Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan bulan Sya'ban ini untuk memperbanyak ibadah dan persiapan menuju Ramadhan.


Bulan Sya'ban: Antara Kelalaian dan Kepedulian (Bagian 2)

Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda:

"Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana ia bermula, maka beruntunglah orang-orang yang asing."

Lalu ditanyakan kepada beliau: "Wahai Rasulullah, siapakah orang-orang asing itu?"

Beliau menjawab: "Mereka yang tetap berbuat kebaikan ketika manusia telah rusak."

Pahala Berlipat bagi Orang yang Beramal di Saat Kelalaian

Perhatikanlah bagaimana amalan-amalan tertentu memiliki pahala yang besar karena dilakukan di saat kebanyakan orang lalai:

  • Shalat Subuh berjamaah memiliki keutamaan yang luar biasa karena dilakukan di waktu banyak orang masih terlelap.
  • Shalat malamdua rakaat dhuha, serta dzikir di pasar (tempat yang penuh kelalaian karena sibuk dengan jual beli) juga termasuk amalan yang dicatat dengan pahala besar.


Alasan Kedua: Bulan Sya'ban adalah Waktu Tahunan Diangkatnya Amal kepada Allah

Rasulullah ﷺ bersabda:

"… bulan ini adalah bulan diangkatnya amal kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa."

Pengangkatan amal kepada Allah terjadi dalam tiga bentuk:

  1. Pengangkatan harian:

    • Amal manusia diangkat kepada Allah setiap hari, siang dan malam.
    • Rasulullah ﷺ bersabda:
      "Allah tidak tidur, dan tidak layak bagi-Nya untuk tidur. Dia menurunkan dan mengangkat timbangan (amal). Amal malam diangkat sebelum amal siang, dan amal siang sebelum amal malam."
      (Shahih Muslim, dari Abu Musa Al-Asy’ari)
  2. Pengangkatan mingguan (setiap Senin dan Kamis):

    • Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
      "Amal manusia diperlihatkan kepada Allah setiap Senin dan Kamis, lalu Allah mengampuni setiap hamba yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, kecuali orang yang bermusuhan dengan saudaranya. Maka Allah berfirman: 'Tangguhkan keduanya hingga mereka berdamai.'"
    • Dalam riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, Rasulullah ﷺ bersabda:
      "Amal diperlihatkan kepada Allah setiap Senin dan Kamis, dan aku ingin amalanku diperlihatkan dalam keadaan aku sedang berpuasa."
  3. Pengangkatan tahunan (di bulan Sya'ban):

    • Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
      "Bulan ini adalah bulan diangkatnya amal kepada Rabb semesta alam."

Karena itu, bulan Sya'ban adalah bulan pengangkatan amal selama setahun penuh.


Mengapa Rasulullah ﷺ Memilih Puasa dalam Pengangkatan Amal?

  • Puasa membangunkan anggota tubuh dari kelalaian, sehingga amal yang diangkat dalam keadaan terbaik.
  • Puasa adalah ibadah yang terus berlangsung sepanjang hari, sehingga kapan pun amal diangkat, seseorang masih dalam keadaan beribadah.
  • Puasa mendorong ibadah lainnya, seperti bangun sahur, shalat malam, shalat subuh tepat waktu, dan banyak dzikir.


Alasan Ketiga: Bulan Sya'ban adalah Bulan Ampunan

Dalam Sunan Ibnu Majah, dari Abu Musa Al-Asy’ari رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya Allah melihat kepada makhluk-Nya pada malam nisfu Sya'ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali orang yang musyrik atau yang bermusuhan dengan saudaranya."

Jika seseorang mendapatkan ampunan di bulan Sya'ban, ia akan memasuki Ramadhan dengan hati yang bersih dan siap untuk meraih keberkahan yang lebih besar.


Alasan Keempat: Bulan Sya'ban adalah Persiapan Menuju Ramadhan

  • Sya'ban adalah masa pemanasan bagi Ramadhan.

  • Sya'ban adalah bulan penyucian hati, sebagaimana dikatakan oleh salah seorang ulama salaf:

    "Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya'ban adalah bulan menyiram, dan bulan Ramadhan adalah bulan panen."

  • Diriwayatkan bahwa beberapa orang saleh ketika memasuki bulan Sya'ban, mereka menutup toko mereka sebagai persiapan untuk Ramadhan.


Amalan yang Dianjurkan di Bulan Sya'ban

  1. Membersihkan hati dari kebencian dan permusuhan

    • Allah berfirman:

      {إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى ٱلسَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ}
      (Artinya: "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang memiliki hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.")
      (Q.S. Qaf: 37)

    • Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

      "Ketahuilah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik. Jika ia rusak, maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah bahwa itu adalah hati."

    • Ibnu Rajab رحمه الله berkata:
      "Jika hati seseorang baik, maka seluruh anggota tubuhnya akan baik. Ia akan mencukupkan diri dengan yang halal dan menjauhi yang haram. Namun jika hatinya rusak, maka rusaklah semua amalannya."

  1. Memperbanyak puasa

    • Puasa di bulan Sya'ban adalah sunnah dan termasuk ibadah yang sangat dianjurkan karena meneladani Rasulullah ﷺ.

    • Sebagaimana dalam hadits:

      "Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ berpuasa dalam bulan lain sebanyak di bulan Sya'ban."
      (Shahih Bukhari dan Muslim)


Keutamaan Bulan Sya'ban dan Amalan yang Dianjurkan

Dalam Shahih Bukhari, Aisyah رضي الله عنها berkata:

"Rasulullah ﷺ berpuasa hingga kami berkata: Beliau tidak akan berbuka. Dan beliau berbuka hingga kami berkata: Beliau tidak akan berpuasa. Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dalam sebulan selain di bulan Sya'ban."

Dalam riwayat lain disebutkan:

"Beliau berpuasa Sya'ban seluruhnya," dan dalam riwayat lain: "Beliau berpuasa Sya'ban kecuali sedikit."

Para ulama menjelaskan bahwa perbedaan riwayat ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ kadang berpuasa hampir seluruh Sya'ban di satu tahun, dan di tahun lain mungkin sedikit menguranginya.


Mengapa Dianjurkan Memperbanyak Puasa di Bulan Sya'ban?

  1. Puasa adalah salah satu amalan terbaik yang melipatgandakan pahala dan kebaikan.
  2. Setiap hari yang dijalani dengan puasa memperbesar peluang seseorang untuk selamat dari api neraka.
  3. Puasa Sya'ban ibarat sunnah qabliyah (pendahuluan) sebelum memasuki kewajiban puasa Ramadhan.
  4. Puasa adalah bukti kecintaan kepada Allah dan usaha mendekatkan diri kepada-Nya.
  5. Bulan Sya'ban menjadi kesempatan bagi yang memiliki utang puasa Ramadhan sebelumnya untuk mengqadha.
  6. Puasa di Sya'ban membantu tubuh dan jiwa terbiasa dengan ibadah puasa, sehingga ketika Ramadhan tiba, seseorang bisa menjalani ibadah dengan semangat dan kekhusyukan.

Sebaliknya, orang yang tidak berlatih puasa sebelum Ramadhan sering kali merasakan kesulitan pada hari-hari pertama Ramadhan.


Hukum Berpuasa Setelah Pertengahan Sya'ban

Para ulama menyebutkan beberapa ketentuan tentang puasa di akhir bulan Sya'ban:

  1. Jika seseorang sudah terbiasa berpuasa (misalnya puasa Senin-Kamis atau puasa Daud), maka ia boleh terus berpuasa hingga akhir Sya'ban, bahkan sehari sebelum Ramadhan.

  2. Jika seseorang telah berpuasa sejak awal Sya'ban, ia boleh melanjutkan puasanya hingga akhir.

  3. Namun, jika seseorang baru mulai berpuasa setelah pertengahan Sya'ban, maka ia hanya boleh berpuasa hingga beberapa hari sebelum Ramadhan dan tidak boleh berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan.

  4. Dilarang berpuasa pada hari syak (hari yang diragukan apakah sudah masuk Ramadhan atau belum), kecuali jika bertepatan dengan puasa yang memang rutin ia lakukan. Rasulullah ﷺ bersabda:

    "Barang siapa berpuasa pada hari yang diragukan (apakah itu sudah Ramadhan atau belum), maka ia telah mendurhakai Abul Qasim (Rasulullah ﷺ)."
    (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan sanad shahih.)


Amalan Lain yang Dianjurkan di Bulan Sya'ban

1. Menjaga Salat Lima Waktu

  • Memperhatikan salat wajib, terutama salat Subuh dan Isya'.
  • Berusaha mendapatkan takbiratul ihram bersama imam.
  • Memperbanyak salat sunnah, terutama qiyamul lail (salat malam), meskipun hanya dua rakaat.

2. Memperbanyak Membaca Al-Qur'an

Anas bin Malik رضي الله عنه berkata:

"Ketika bulan Sya'ban tiba, kaum Muslimin bergegas membaca Al-Qur'an."

Salamah bin Kuhail رحمه الله mengatakan:

"Dulu orang-orang menyebut bulan Sya'ban sebagai bulan para pembaca Al-Qur'an."

Bahkan, diceritakan bahwa Amr bin Qais رحمه الله menutup tokonya ketika masuk bulan Sya'ban agar bisa fokus membaca Al-Qur'an.


3. Menjalin Silaturahmi dan Meningkatkan Hubungan dengan Sesama

  • Silaturahmi adalah sebab turunnya rahmat Allah. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

    "Ketika Allah menciptakan makhluk-Nya, rahim (hubungan kekerabatan) berkata: 'Ini adalah tempat perlindungan bagi orang yang ingin terhindar dari pemutusan silaturahmi.' Allah berfirman: 'Apakah kamu senang jika Aku menyambung orang yang menyambungmu dan memutus orang yang memutusmu?' Rahim berkata: 'Ya, wahai Rabb.' Allah pun berfirman: 'Itulah yang akan Aku lakukan bagimu.'"

  • Silaturahmi bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti mengunjungi kerabat, bertanya kabar melalui telepon, atau mendoakan mereka.

  • Menyelesaikan konflik dan memperbaiki hubungan antar sesama.

Mengapa ini penting di bulan Sya'ban?

  • Amal perbuatan diangkat kepada Allah pada bulan ini. Jika seseorang masih memiliki permusuhan, amalnya bisa tertahan.
  • Pada malam Nisfu Sya'ban, Allah mengampuni semua makhluk-Nya, kecuali orang yang masih bermusuhan atau berbuat syirik.


4. Bertaubat kepada Allah dengan Sungguh-Sungguh

Taubat bukan hanya diwajibkan di bulan Sya'ban, tetapi sepanjang hidup. Namun, karena Sya'ban adalah bulan persiapan menuju Ramadhan, maka taubat menjadi semakin penting agar seseorang memasuki Ramadhan dengan hati yang bersih.

Allah berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ}
(Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, mudah-mudahan Rabb kalian menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.")
(Q.S. At-Tahrim: 8)

Dalam Shahih Muslim, dari Abu Musa Al-Asy'ari رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di siang hari, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di malam hari, hingga matahari terbit dari barat."


Dan yang kami maksud dengan taubat adalah taubat yang menyeluruh atas segala bentuk kelalaian dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dengan izin Allah Ta’ala, engkau memasuki musim (ibadah) ini dengan lembaran yang putih dan bersih.

♦ Betapa indahnya keadaan seorang hamba ketika ia menyambut musim ini dengan taubat yang tulus dan murni kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

♦ Ia menyambut musim yang agung ini setelah meninggalkan dan melepaskan diri dari dosa dan maksiat yang selama ini telah menghalanginya dari banyak pintu kebaikan.

♦ Ia menyambut musim ini dengan tekad dan wajah yang baru, karena ia ingin membuka lembaran baru bersama Allah Ta’ala. Maka, harus ada proses "takhliyah" (membersihkan diri dari dosa dan maksiat dengan bertaubat kepada Allah) sebelum "tahliyah" (menghiasi diri dengan ketakwaan serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan ketaatan dan amal saleh).

Kami memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar Dia memberi taufik kepada kita untuk bertaubat dan beramal saleh, serta mempertemukan kita dengan bulan Ramadan dalam keadaan sehat dan sejahtera.



Kesimpulan

Bulan Sya'ban adalah kesempatan emas untuk:

  1. Memperbanyak puasa sebagai persiapan Ramadhan.
  2. Menjaga salat dan meningkatkan ibadah sunnah.
  3. Memperbanyak membaca Al-Qur'an.
  4. Menjalin silaturahmi dan memperbaiki hubungan dengan sesama.
  5. Bertaubat dan menyucikan hati sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk menghidupkan bulan Sya'ban dengan amal saleh dan menyambut Ramadhan dalam keadaan hati yang bersih dan penuh keimanan.