Jumat, 07 Agustus 2026

NIKMAT AMAN DALAM NEGERI



NIKMAT KEAMANAN DALAM NEGERI 



Segala puji bagi Allah yang memberikan rasa aman kepada orang-orang yang takut, dan yang senantiasa melimpahkan nikmat kepada orang-orang yang bersyukur. 

Aku memuji-Nya atas nikmat keamanan dan keimanan, serta bersyukur kepada-Nya atas karunia berupa stabilitas dan ketenteraman. 

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. 

Dia menjadikan keamanan sebagai fondasi pembangunan dan kunci kebahagiaan manusia. 

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang menyeru kepada persatuan dan melarang perpecahan serta kehinaan. 

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kemudian.

Amma ba‘du,..

Bertakwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah, dan ketahuilah bahwa di antara nikmat yang paling agung adalah nikmat keamanan dan stabilitas. 

Nikmat yang apabila hilang, maka kehidupan menjadi kacau, berbagai kepentingan terhenti, hati menjadi gelisah, dan jalan-jalan kehidupan menjadi sempit.

Allah Ta‘ala berfirman:
“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian.” (QS. Ibrahim: 7)

Rasa syukur adalah pengikat nikmat, sebab kelanggengannya, dan penjaga keberlangsungannya.
Allah juga telah memberikan karunia kepada kaum Quraisy dengan nikmat keamanan,

sebagaimana firman-Nya:
“Yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut.” (QS. Quraisy: 4)

Allah menyandingkan keamanan dengan kebutuhan pangan, dan menjadikannya sebagai pasangan kehidupan.

Wahai kaum muslimin,
Kita di negeri yang diberkahi ini hidup dalam nikmat keamanan dan stabilitas. 

Kita dapat menunaikan ibadah dengan tenang dan aman, serta berkumpul di masjid-masjid tanpa rasa takut dan kegelisahan.
Itu semua merupakan karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.

Imam Ibnul Qayyim berkata:
“Agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. 
Agama adalah fondasinya, sedangkan penguasa adalah penjaganya. 
Sesuatu yang tidak memiliki penjaga akan hilang dan rusak.”

Al-Mawardi berkata:
“Kepemimpinan (imamah) ditetapkan sebagai pengganti kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia.”

Keamanan tidak akan tegak kecuali dengan adanya jamaah, jamaah tidak akan tegak kecuali dengan adanya kepemimpinan, dan kepemimpinan tidak akan kokoh kecuali dengan sikap mendengar dan taat dalam perkara yang ma‘ruf.

Wahai hamba-hamba Allah,..

Keamanan memiliki sebab-sebab yang mengantarkannya.

Sebab yang paling agung untuk mewujudkan keamanan adalah menjauhi kesyirikan kepada Allah.

Allah Ta‘ala berfirman:
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang memperoleh keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An‘am: 82)

Agar kita memperoleh keamanan yang sempurna, hendaknya kita menjadi orang-orang yang berusaha mewujudkan kemaslahatan bagi negeri kita dan mencegah berbagai kerusakan yang mengancamnya.

Kita juga harus berhati-hati dari menyebarkan dan memperedarkan berita-berita yang belum jelas kebenarannya, serta merekam dan menyebarkan video yang berkaitan dengan berbagai peristiwa dan kejadian. 

Karena hal itu dapat menjadi sebab hilangnya keamanan, sebab di dalamnya terdapat unsur penyebaran ketakutan, pengguncangan masyarakat, dan bantuan secara tidak langsung kepada musuh.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi berkata:
“Hadis ini merupakan peringatan agar tidak tergesa-gesa dalam menyampaikan berita. 
Seseorang sudah dianggap berdusta ketika ia menceritakan semua yang didengarnya.”

Betapa banyak berita yang disebarkan tanpa tabayyun (klarifikasi), lalu menjadi sebab ketakutan bagi orang yang aman, kegelisahan bagi orang yang tenang, dan kegoncangan dalam masyarakat.

Allah Ta‘ala berfirman:
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka langsung menyiarkannya.” (QS. An-Nisa’: 83)

Kemudian Allah berfirman:
“Seandainya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan kepada ulil amri di antara mereka, niscaya orang-orang yang mampu mengambil kesimpulan akan mengetahuinya.” (QS. An-Nisa’: 83)

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata:
“Dalam ayat ini terdapat pelajaran agar tidak tergesa-gesa dalam berbagai urusan sebelum kebenarannya dipastikan.”

Maka bertakwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah...

Jagalah lisan kalian,.. peliharalah masyarakat kalian,.. dan bersyukurlah kepada Rabb kalian atas nikmat-Nya agar Dia terus melanggengkannya dan memberkahinya bagi kalian.

Di antara petunjuk Islam adalah meninggalkan pembicaraan tentang perkara yang tidak dikuasai ilmunya, yang tidak mampu dikendalikan, dan tidak mampu ditimbang dengan benar.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi)

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata:
“Hadis ini merupakan landasan agung dalam adab. 
Barang siapa meninggalkan perkara yang tidak berkaitan dengannya, maka ia akan selamat dari berbagai keburukan.”

Karena itu, membicarakan berbagai peristiwa dan krisis di majelis-majelis maupun media sosial tanpa ilmu dan tanpa verifikasi bukanlah bagian dari kebijaksanaan. 
Bahkan terkadang termasuk bentuk penyebaran ketakutan dan kegelisahan di tengah masyarakat.

Allah telah melarang penyebaran berita sebelum dikembalikan kepada para ahli dan pihak yang berwenang, karena merekalah yang lebih mengetahui pertimbangan kemaslahatan dan kemudaratan.

Wahai kaum mukminin,..

Sesungguhnya merekam dan menyebarkan video yang berkaitan dengan kejadian-kejadian keamanan dapat membahayakan jiwa manusia, membantu pihak yang berbuat kejahatan mencapai tujuannya, serta menebarkan rasa takut di tengah masyarakat.

Syariat Islam datang untuk menutup jalan-jalan yang mengantarkan kepada kerusakan, menjaga jiwa manusia, dan memelihara kemaslahatan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
“Segala sesuatu yang mengantarkan kepada kerusakan maka ia terlarang, meskipun pada asalnya perkara itu mubah.”

Wahai hamba-hamba Allah,...

Di antara bentuk syukur atas nikmat adalah berdoa agar nikmat tersebut terus berlangsung. 
Karena itu, perbanyaklah doa agar Allah menjaga negeri kita, para pemimpinnya, serta melanggengkan keamanan dan stabilitas di negeri ini.

Berdoalah agar Allah menjaga para prajurit yang bertugas menjaga keamanan dan memberikan ketepatan dalam pandangan serta tindakan mereka.

Di antara doa yang paling agung adalah ucapan:

“Hasbunallāhu wa ni‘mal wakīl”

“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung.”

Kalimat ini senantiasa diucapkan oleh para nabi dan rasul ‘alaihimush shalātu was salām.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
“Hasbunallāhu wa ni‘mal wakīl diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika beliau dilemparkan ke dalam api. 

Dan diucapkan pula oleh Nabi Muhammad ﷺ ketika orang-orang berkata kepada beliau:
‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, maka takutlah kepada mereka.’
Tetapi hal itu justru menambah keimanan mereka, lalu mereka berkata:
‘Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung.’”
(HR. Al-Bukhari)

Kalimat “Hasbunallāhu wa ni‘mal wakīl” adalah kalimat memohon pertolongan kepada Sang Pencipta ketika seluruh sebab-sebab makhluk terasa terputus. 

Ia menjadi tempat berlindung bagi orang yang ketakutan dan penghibur bagi orang yang bersedih.

Makna “Hasbiyallāh” adalah:
“Allah telah mencukupiku, sehingga aku tidak membutuhkan selain-Nya.”

Sedangkan makna “Ni‘mal Wakīl” adalah:
“Sebaik-baik Dzat yang aku serahkan seluruh urusanku kepada-Nya, dan sebaik-baik Dzat yang mengatur segala keadaanku.”

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
“Bagaimana aku dapat merasa tenang sementara pemegang sangkakala telah meletakkan mulutnya pada sangkakala itu, menunggu kapan diperintahkan untuk meniupnya?”
(Para sahabat merasa berat mendengar hal itu)
Maka beliau bersabda:
“Ucapkanlah: Hasbunallāhu wa ni‘mal wakīl, ‘alallāhi tawakkalnā (Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung, hanya kepada Allah kami bertawakal).”
(HR. At-Tirmidzi, dan asal hadisnya terdapat dalam Shahih Al-Bukhari)


Ketahuilah bahwa bersandar kepada sebab-sebab lahiriah semata tanpa bertawakal kepada Allah adalah bentuk kehinaan dan kegagalan yang nyata. 

Sebaliknya, meninggalkan sebab-sebab sama sekali juga merupakan kekeliruan yang tercela.

Seorang mukmin yang benar adalah orang yang bekerja dengan anggota badannya dan bertawakal dengan hatinya kepada Allah.

Ucapan “Hasbiyallāh” (Cukuplah Allah bagiku) diucapkan ketika berbagai pintu terasa tertutup di hadapanmu, lalu Allah membukakan bagimu pintu-pintu langit. 

Keselamatan terletak pada penyerahan urusan kepada Allah, dan kemuliaan terletak pada sikap membutuhkan Raja Yang Maha Perkasa.

Barang siapa mencintai negerinya dengan tulus dan menginginkan kebaikan serta keamanan baginya, maka engkau akan melihatnya sebagai orang yang taat kepada Rabbnya, mengikuti Rasulnya ﷺ, dan taat kepada para pemimpinnya dalam perkara yang ma'ruf.

Ketahuilah bahwa menjaga persatuan kaum muslimin merupakan salah satu prinsip besar Islam. 

Allah telah mewasiatkannya melalui firman-Nya:
“Dan berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)

Demikian pula Nabi ﷺ mewasiatkannya melalui sabdanya:
“Tangan Allah bersama al-jamā‘ah (persatuan kaum muslimin).”

Dan Allah tidak menyukai orang yang berkhianat lagi bergelimang dosa.

Wahai para pemuda Islam,
Berpegangteguhlah kepada bimbingan para ulama kalian, tetaplah bersama jamaah kaum muslimin, dan perbanyaklah doa untuk para pemimpin urusan kalian.

 Mohonlah kepada Allah ampunan, keselamatan, dan perlindungan dari berbagai fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi.

Mohonlah perlindungan dari suara-suara yang menyesatkan dan merusak, yang menyebarkan racun pemikiran mereka dari luar negeri ataupun melalui media internet.

Kita memohon kepada Allah agar Dia memuliakan Islam dan kaum muslimin, menghinakan kekufuran dan orang-orang kafir, serta menjaga negeri kita dari segala keburukan dan musibah.

Aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku dan untuk kalian dari setiap dosa. Maka mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah yang melimpahkan berbagai kebaikan dan meluaskan rahmat-Nya. 

Pada bulan Ramadan Dia memiliki berbagai anugerah dan pemberian yang besar.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. 

Dia mengabulkan doa orang yang memohon kepada-Nya dan memberi petunjuk kepada orang yang tersesat.

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. 

Semoga Allah melimpahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga Hari Kiamat.

Amma ba‘du,

Bertakwalah kepada Allah dan taatilah-Nya. 

Sampaikan seluruh kebutuhan dan harapan kalian kepada-Nya. 

Sesungguhnya telah datang malam-malam penuh harapan, karunia, dan rahmat; malam-malam pembebasan dari api neraka.

Wahai hamba-hamba Allah,..

Janganlah kalian lemah dalam beribadah. Hendaklah kalian berada di masjid-masjid, bersama mushaf-mushaf Al-Qur'an dan para imam kalian; berdiri, rukuk, sujud, membaca Al-Qur'an, berdoa, dan beristighfar.

Sesungguhnya yang tersisa hanyalah beberapa malam yang sedikit. 

Pada malam-malam itu orang yang diterima amalnya akan memperoleh pahala yang besar, dan orang yang dirahmati akan mendapatkan karunia yang melimpah.

Maka perlihatkanlah kepada Allah amal terbaik dari diri kalian, niscaya Dia akan memberikan kebaikan kepada kalian.

Wahai hamba-hamba Allah,
Rasulullah ﷺ bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan melebihi kesungguhan beliau pada malam-malam lainnya.

Sebagaimana Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:
"Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah ﷺ menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh, dan mengencangkan ikat pinggangnya."
(Muttafaq 'alaih)

Bahkan beliau beri'tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan untuk memutuskan diri dari kesibukan dunia dan mencari malam Lailatul Qadar.

Wahai orang-orang yang beriman,...

Betapa indah ucapan seseorang:
"Dahulu aku bertanya-tanya, bagaimana mungkin para salaf dapat berlama-lama bersama Al-Qur'an? Namun ketika aku melihat orang-orang yang begitu lama tenggelam dengan telepon genggam mereka, hilanglah keherananku. 
Aku pun memahami bahwa hati akan selalu terpaut dan tekun pada sesuatu yang dicintainya."

Apakah kalian dapat membayangkan bahwa sebagian orang, karena begitu kuat keterikatannya dengan telepon genggam, sampai tertidur sementara ponsel masih berada di tangannya?

Wahai orang-orang yang beriman,...

Menghadap kepada Allah dengan ketaatan dituntut pada setiap waktu. 
Namun pada sepuluh malam terakhir Ramadan, keutamaan ibadah berpadu dengan kemuliaan waktu.

Maka tinggalkanlah kenikmatan tidur, usirlah rasa malas dari diri kalian, dan jadilah termasuk orang-orang yang Allah puji dalam firman-Nya:

"Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun kepada Allah."
(QS. Adz-Dzariyat: 17–18)

Perbanyaklah mengucapkan:

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عنا

"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, mencintai pemaafan, maka maafkanlah kami."

Wahai hamba-hamba Allah,
Rasulullah ﷺ bersabda:

"Hendaklah kalian melaksanakan qiyamul-lail, karena itu adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian. Ia merupakan sarana mendekatkan diri kepada Rabb kalian, penghapus dosa-dosa, dan pencegah dari perbuatan maksiat."
(HR. At-Tirmidzi)

Maka bersungguh-sungguhlah dalam malam-malam yang penuh berkah ini. 

Barang siapa jujur kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya taufik menuju apa yang dicita-citakannya.

Di antara tanda kejujuran seorang hamba adalah menjauhi segala sesuatu yang menghalanginya dari qiyamul-lail, baik berupa kemaksiatan, begadang dalam dosa, maupun kelalaian.

Ya Allah, ampunilah kesalahan-kesalahan kami, amankanlah ketakutan-ketakutan kami, dan tutuplah aib-aib kami.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin, hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik, serta binasakanlah musuh-musuh-Mu, musuh-musuh agama-Mu.

Ya Allah, siapa saja yang menghendaki keburukan terhadap agama kami, negeri kami, dan keamanan kami, maka sibukkanlah dia dengan dirinya sendiri, cerai-beraikan persatuannya, dan tampakkanlah kehinaannya di hadapan manusia.

Ya Allah, berilah taufik kepada para pemimpin urusan kami menuju apa yang Engkau cintai dan ridhai. Bantulah mereka dalam kebajikan dan ketakwaan.

Ya Allah, tolonglah mereka untuk menegakkan kebenaran dan jangan Engkau jadikan mereka ditolong dalam kebatilan. Berikanlah mereka petunjuk dan mudahkanlah jalan petunjuk bagi mereka.

Ya Allah, tolonglah para tentara kami dan jagalah perbatasan-perbatasan negeri kami.
Penutup Khutbah:

"Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan, berbuat ihsan, dan memberi kepada kerabat. Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian mengambil pelajaran."
(QS. An-Nahl: 90)

Maka ingatlah Allah, niscaya Dia akan mengingat kalian.

Bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambahkannya kepada kalian. 

Dan sungguh, mengingat Allah adalah perkara yang paling besar, dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.

Kamis, 06 Agustus 2026

KHOSYAH RASA TAKUT KEPADA ALLAH

RASA TAKUT KEPADA ALLAH MERUPAKAN IBADAH




Alhamdulilah, Was Sholatu was Salamu ala' Rosulillah,  wa ba' du ;


Sesungguhnya amalan hati merupakan amalan yang sangat agung, pahala nya merupakan pahala yang sangat besar, sedangkan amalan lahiriyah mengikuti amal hati manusia dan berkedudukan sebagai penjelas dari amalan amalan hati, sehingga dikatakan: '' Hati adalah raja seluruh badan manusia, anggota tubuh merupakan prajurit nya ''. 


Diriwayatkan dari sahabat Anas radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:  



«لا يستقيمُ إيمانُ عبدٍ حتى يستقيمَ قلبُه»؛ رواه أحمد.


Tidak akan pernah lurus iman seseorang hamba sehingga lurus hati nya ". (HR Ahmad)


Arti dari lurus nya hati seorang hamba adalah mentauhidkan Allah Ta'ala didalam hati nya, mengagungkan, mencintai, berharap dan takut kepada Allah Ta'ala, gemar melakukan ibadah ketaatan dan membenci kemaksiatan. 


Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam shohih nya dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:



«إن الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم، ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم».



" Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak melihat kepada rupa-rupa kalian dan harta-harta kalian, akan tetapi Allah Ta'ala melihat kepada hati-hati dan amal-amal kalian ". (HR Muslim).



وقال الحسن لرجلٍ: "داوِ قلبك؛ فإن حاجة الله إلى العباد صلاحُ قلوبهم".



Dan Al Imam Al Hasan rahimahullah berkata kepada seseorang: " Perbaiki lah hati mu, sesungguhnya apa yang diperlukan Allah Ta'ala kepada seorang hamba adalah baiknya hati hati mereka ".



Sesungguhnya diantara amalan hati yang dapat membangkitkan berbuat amalan ketaatan kepada Allah Ta'ala dan menghidupkan rasa gemar berbuat untuk kampung akhirat serta membentengi diri dari kemaksiatan dan zuhud untuk dunia dan pengekang jiwa dari nafsu adalah rasa takut kepada Allah Ta'ala. 


Rasa takut kepada Allah Ta'ala merupakan pengendali hati manusia untuk selalu berbuat baik dan ketaatan kepada Allah Ta'ala serta sebagai benteng diri dari berbuat maksiat dan durhaka dan menggiring kepada kebaikan dan perbaikan jiwa manusia. 


Rasa takut kepada Allah Ta'ala merupakan salah satu cabang dari cabang cabang keimanan, yang hendaklah ditujukan hanya kepada Allah Ta'ala semata, jikalau sekiranya diselewengkan kepada selain Nya maka ini merupakan bentuk kesyirikan. 


Dan sungguh Allah Ta'ala memerintahkan kepada para hamba agar hanya takut kepada Allah Ta'ala dan melarang dari takut kepada selain Nya. 


Allah Ta'ala berfirman: 


إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ ٱلشَّيْطَٰنُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَآءَهُۥ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ﴿١٧٥﴾


"Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (Q.S.3:175)



Allah Ta'ala berfirman:  


 ۚ فَلَا تَخْشَوُا۟ ٱلنَّاسَ   


Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku(Q.S.5:44)



Allah Ta'ala berfirman: 


 وَإِيَّٰىَ فَٱرْهَبُونِ ﴿٤٠﴾



"dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk)." (Q.S.2:40)



وعن أنس - رضي الله عنه - قال: خطبَنا رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فقال: «لو تعلمون ما أعلم لضحِكتم قليلاً، ولبكيتُم كثيرًا»، فغطَّى أصحاب رسول الله - صلى الله عليه وسلم - وجوهَهم ولهم خَنين - أي: لهم صوتٌ من البكاء -؛ رواه البخاري ومسلم.



Diriwayatkan oleh sahabat Anas radhiyallahu anhu berkata: " Suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkhutbah dihadapan kami seraya bersabda: " Sekiranya kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis ".

Maka para sahabat menutupi wajah wajah mereka dan terdengar suara isak tangis ".

(HR Al Bukhari dan Muslim)



Rasa takut yang dimaksudkan adalah bergetar nya hati dan khawatir dari tertimpa nya petaka dan adzab Allah Ta'ala ketika meninggalkan kewajiban atau menerjang suatu larangan atau melalaikan suatu mustahab atau bergelimang dengan makruhat atau takut sekiranya amal amal nya tidak diterima oleh Allah Ta'ala sehingga ia berusaha sekuat tenaga melakukan kebajikan dan menjauhi seluruh keburukan. 



Sesungguhnya rasa khosyah, wajal, Rohbah, Haibah, merupakan lafadz yang maknanya berdekatan, namun bukan satu arti dengan khouf yang berarti rasa takut, karena sesungguhnya arti dari khosyah adalah rasa takut kepada Allah Ta'ala yang lebih khusus, karena  dibarengi dengan mengilmui terhadap sifat sifat Allah Ta'ala. 



Allah Ta'ala berfirman: 



 ۗ إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ﴿٢٨﴾


Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (Q.S.35:28)




Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:  



«أمَا إني أخشاكم لله وأتقاكم لله».



" Adapun aku merupakan seseorang yang paling khosyah (takut kepada Allah Ta'ala) diantara kalian dan aku adalah seseorang yang paling bertakwa kepada Allah diantara kalian ".


Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: " al khouf merupakan rasa takut yang menimpa kaum muslimin secara umum dan sedangkan al Khosyah merupakan rasa takut yang dimiliki para ulama yang mengetahui ilmu. 


Dan Allah Ta’ala telah memberikan janji kepada orang-orang yang takut kepada Nya, hingga rasa takut tersebut membentengi diri dari segala pintu keburukan syahwat dan menggiring kepada kebaikan dan ketaatan, hingga Allah Ta'ala berikan imbalan yang sangat agung sebagaimana firman Nya: 


وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ جَنَّتَانِ ﴿٤٦﴾



"Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga." (Q.S.55:46)


Allah Ta'ala berfirman:  



وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ ﴿٤٠﴾  فَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ ﴿٤١﴾


"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,"

"maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)."
(Q.S.79:40-41)


Allah Ta'ala berfirman: 


قَالُوٓا۟ إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِىٓ أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ ﴿٢٦﴾  فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَىٰنَا عَذَابَ ٱلسَّمُومِ ﴿٢٧﴾



"Mereka berkata: "Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)"."

"Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka." (Q.S.52:26-27)



روى ابن أبي حاتم عن عبد العزيز - يعني: ابن أبي رواد -قال: بلغني أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - تلا هذه الآية: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ [التحريم: 6] وعنده بعض أصحابه، وفيهم شيخٌ، فقال الشيخ: يا رسول الله! حجارةُ جهنَّم كحجارة الدنيا؟ فقال النبي - صلى الله عليه وسلم -: «والذي نفسي بيده؛ لصخرةٌ من جهنم أعظمُ من جبال الدنيا كلها»، قال: فوقع الشيخُ مغشيًّا عليه، ووضع النبي - صلى الله عليه وسلم - يدَه على فؤاده فإذا هو حيٌّ، فناداه قال: «يا شيخُ! قل: لا إله إلا الله»، فقالها، فبشَّره النبي - صلى الله عليه وسلم - بالجنة، فقال بعض أصحابه: يا رسول الله! أمن بيننا؟ قال: «نعم، يقول الله تعالى: ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ [إبراهيم: 14]».



Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim rahimahullah dari Abdul Aziz ibnu Abi Rowwad rahimahullah berkata telah sampai dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya beliau membaca firman Allah Ta'ala:  


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ .... ﴿٦﴾



"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; .....  (Q.S.66:6)


Dan disekeliling Nabi Shallallahu alaihi wa sallam terdapat banyak sahabat dan diantara nya seseorang yang sudah berumur, dan bertanya, wahai Rasulullah, bebatuan neraka jahanam apakah seperti bebatuan didunia? ....

Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: " Demi yang jiwaku berada dalam genggaman Nya , sungguh bebatuan di neraka jahanam lebih besar daripada seluruh gunung gunung di dunia ". 

Maka orang tua tersebut terjatuh pingsan, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam memeriksa nya dan meletakkan tangan nya di dada orang tersebut dan ternyata ia masih hidup, dan Nabi pun berkata kepada nya, wahai orang tua, ucapkan LA ILAHA ILLALLAHU , Maka dia pun mengucapkan nya hingga Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memberikan kabar gembira bahwa ia masuk surga. 

Maka sebagian para sahabat bertanya, wahai Rasulullah, apakah hal tersebut juga berlaku bagi kita semua?

Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Ya benar. 

Allah Ta'ala berfirman; 


 ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِى وَخَافَ وَعِيدِ ﴿١٤﴾



"Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku"." (Q.S.14:14)


Dahulu para generasi salaf terdominasi perasaan mereka takut kepada Allah Ta'ala hingga mereka tekun dalam beramal ibadah dan rajin berharap kepada Allah Ta'ala hingga keadaan mereka menjadi baik dan akhir kehidupan mereka harum. 



وقال أمير المؤمنين علي - رضي الله عنه - وقد سلَّم من صلاة الفجر وقد علاه كآبة، وهو يُقلِّبُ يدَه -: "لقد رأيتُ أصحاب محمدٍ - صلى الله عليه وسلم - فلم أر اليوم شيئًا يُشبِههم، لقد كانوا يُصبِحون شُعثًا صُفرًا غُبرًا، بين أعينهم أمثالُ رُكَب المِعزَى، قد باتوا لله سُجَّدًا وقيامًا، يتلون كتابَ الله، يُراوِحون بين جِباههم وأقدامهم، فإذا أصبَحوا ذكروا الله فمادُوا كما يميدُ الشجر في يوم الريح، وهمَلت أعينهم بالدموع حتى تبُلّ ثيابهم".


Amirul mukmin Aly radhiyallahu anhu telah salam dari Sholat subuh dan sakitnya telah memuncak, dan membalikkan tangan beliau seraya berkata: " Aku dahulu melihat para sahabat sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam namun sekarang ia tidak lagi melihat orang orang yang serupa dengan mereka, dahulu mereka para sahabat diwaktu subuh wajah wajah mereka layu mengurus dan menguning dan dihadapan mereka seolah rombongan perang padahal semalam suntuk mereka berdiri dan sujud membaca ayat ayat Allah Ta'ala, mereka bersandar dengan kaki kaki mereka dan kening kening mereka(sujud), dan apabila diwaktu pagi mereka banyak berdzikir kepada Allah Ta'ala tegak penuh khusyuk bak layaknya sebuah pohon yang teguh menjulang tatkala diterpa angin dan mata mata mereka berkaca kaca mengalirkan tetesan hingga membasahi baju baju mereka ".



ففي الحديث القدسي: "وعزتي وجلالي لا أجمع على عبدي أمنين، ولا أجمع عليه خوفين؛ إن أمنني في الدنيا أخفته في الآخرة، وإن خافني في الدنيا أمنته يوم القيامة".


Disebutkan dalam hadits Qudsi, Allah Ta'ala berfirman: " Demi keagungan Ku dan kemuliaan Ku , tidak akan Aku kumpulkan  pada seseorang hamba dua rasa aman dan dua rasa takut,  jika seseorang hamba mendapatkan rasa aman tatkala ia didunia maka sungguh aku akan beri ketakutan ketika di akhirat , dan sekiranya ia merasa takut Kepada Ku didunia maka niscaya Aku akan berikan rasa aman ketika di akhirat ". 


قال أبو حفص عمر بن مسلمة الحداد النيسابوري: الخوف سراج في القلب، به يبصر ما فيه من الخير والشر، وكل أحد إذا خفته هربت منه، إلا الله عز وجل فإنك إذا خفته هربت إليه. فالخائف من ربه هارب إليه.

وقال أبو سليمان: ما فارق الخوف قلباً إلا خرب

وقال إبراهيم بن سفيان: إذا سكن الخوف القلوب أحرق مواضع الشهوات منها، وطرد الدنيا عنه

وقال ذو النون: الناس على الطريق ما لم يَزُلْ عنهم الخوف؛ فإذا زال الخوف ضلّوا الطريق.


Abu Hafs Umar ibnu Salamah Al Haddad An Naisabury rahimahullah berkata: " rasa takut kepada Allah Ta'ala merupakan pelita dan cahaya di dalam hati manusia,  dengan nya seseorang dapat melihat dan membedakan antara kebaikan dan keburukan, dan seseorang apabila merasa takut niscaya ia akan lari menjauh darinya kecuali takut kepada Allah engkau akan lari mendekat Nya, maka seseorang yang takut kepada Tuhannya ia akan mendekat Nya ". 

Berkata Abu Sulaiman rahimahullah: " Tidaklah rasa takut yang meninggalkan dari hati manusia kecuali akan merusak hati tersebut ". 

Ibrahim  ibnu Sufyan rahimahullah berkata: " Jika sekiranya rasa takut kepada Allah Ta'ala berada dalam hati manusia maka niscaya akan menyingkirkan syahwat dalam hati nya dan akan mengusir cinta dunia dalam hati nya ".

Dzun Nun rahimahullah berkata: " Sesungguhnya para manusia senantiasa berada pada jalan yang lurus selagi memiliki rasa takut kepada Allah Ta'ala, jika sekiranya tercabut rasa takut tersebut niscaya akan tersesat dari jalan yang benar ".


Jumah 10 juni 2022
Masjid AR-Rohman solo.

📓📓📓📗📓📓📓

RASA TAKUT KEPADA ALLAH MERUPAKAN IBADAH




Alhamdulilah, Was Sholatu was Salamu ala' Rosulillah,  wa ba' du ;


Sesungguhnya amalan hati merupakan amalan yang sangat agung, pahala nya merupakan pahala yang sangat besar, sedangkan amalan lahiriyah mengikuti amal hati manusia dan berkedudukan sebagai penjelas dari amalan amalan hati, sehingga dikatakan: '' Hati adalah raja seluruh badan manusia, anggota tubuh merupakan prajurit nya ''. 


Diriwayatkan dari sahabat Anas radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:  



«لا يستقيمُ إيمانُ عبدٍ حتى يستقيمَ قلبُه»؛ رواه أحمد.


Tidak akan pernah lurus iman seseorang hamba sehingga lurus hati nya ". (HR Ahmad)


Arti dari lurus nya hati seorang hamba adalah mentauhidkan Allah Ta'ala didalam hati nya, mengagungkan, mencintai, berharap dan takut kepada Allah Ta'ala, gemar melakukan ibadah ketaatan dan membenci kemaksiatan. 


Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam shohih nya dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:



«إن الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم، ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم».



" Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak melihat kepada rupa-rupa kalian dan harta-harta kalian, akan tetapi Allah Ta'ala melihat kepada hati-hati dan amal-amal kalian ". (HR Muslim).



وقال الحسن لرجلٍ: "داوِ قلبك؛ فإن حاجة الله إلى العباد صلاحُ قلوبهم".



Dan Al Imam Al Hasan rahimahullah berkata kepada seseorang: " Perbaiki lah hati mu, sesungguhnya apa yang diperlukan Allah Ta'ala kepada seorang hamba adalah baiknya hati hati mereka ".



Sesungguhnya diantara amalan hati yang dapat membangkitkan berbuat amalan ketaatan kepada Allah Ta'ala dan menghidupkan rasa gemar berbuat untuk kampung akhirat serta membentengi diri dari kemaksiatan dan zuhud untuk dunia dan pengekang jiwa dari nafsu adalah rasa takut kepada Allah Ta'ala. 


Rasa takut kepada Allah Ta'ala merupakan pengendali hati manusia untuk selalu berbuat baik dan ketaatan kepada Allah Ta'ala serta sebagai benteng diri dari berbuat maksiat dan durhaka dan menggiring kepada kebaikan dan perbaikan jiwa manusia. 


Rasa takut kepada Allah Ta'ala merupakan salah satu cabang dari cabang cabang keimanan, yang hendaklah ditujukan hanya kepada Allah Ta'ala semata, jikalau sekiranya diselewengkan kepada selain Nya maka ini merupakan bentuk kesyirikan. 


Dan sungguh Allah Ta'ala memerintahkan kepada para hamba agar hanya takut kepada Allah Ta'ala dan melarang dari takut kepada selain Nya. 


Allah Ta'ala berfirman: 


إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ ٱلشَّيْطَٰنُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَآءَهُۥ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ﴿١٧٥﴾


"Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (Q.S.3:175)



Allah Ta'ala berfirman:  


 ۚ فَلَا تَخْشَوُا۟ ٱلنَّاسَ   


Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku(Q.S.5:44)



Allah Ta'ala berfirman: 


 وَإِيَّٰىَ فَٱرْهَبُونِ ﴿٤٠﴾



"dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk)." (Q.S.2:40)



وعن أنس - رضي الله عنه - قال: خطبَنا رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فقال: «لو تعلمون ما أعلم لضحِكتم قليلاً، ولبكيتُم كثيرًا»، فغطَّى أصحاب رسول الله - صلى الله عليه وسلم - وجوهَهم ولهم خَنين - أي: لهم صوتٌ من البكاء -؛ رواه البخاري ومسلم.



Diriwayatkan oleh sahabat Anas radhiyallahu anhu berkata: " Suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkhutbah dihadapan kami seraya bersabda: " Sekiranya kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis ".

Maka para sahabat menutupi wajah wajah mereka dan terdengar suara isak tangis ".

(HR Al Bukhari dan Muslim)



Rasa takut yang dimaksudkan adalah bergetar nya hati dan khawatir dari tertimpa nya petaka dan adzab Allah Ta'ala ketika meninggalkan kewajiban atau menerjang suatu larangan atau melalaikan suatu mustahab atau bergelimang dengan makruhat atau takut sekiranya amal amal nya tidak diterima oleh Allah Ta'ala sehingga ia berusaha sekuat tenaga melakukan kebajikan dan menjauhi seluruh keburukan. 



Sesungguhnya rasa khosyah, wajal, Rohbah, Haibah, merupakan lafadz yang maknanya berdekatan, namun bukan satu arti dengan khouf yang berarti rasa takut, karena sesungguhnya arti dari khosyah adalah rasa takut kepada Allah Ta'ala yang lebih khusus, karena  dibarengi dengan mengilmui terhadap sifat sifat Allah Ta'ala. 



Allah Ta'ala berfirman: 



 ۗ إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ﴿٢٨﴾


Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (Q.S.35:28)




Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:  



«أمَا إني أخشاكم لله وأتقاكم لله».



" Adapun aku merupakan seseorang yang paling khosyah (takut kepada Allah Ta'ala) diantara kalian dan aku adalah seseorang yang paling bertakwa kepada Allah diantara kalian ".


Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: " al khouf merupakan rasa takut yang menimpa kaum muslimin secara umum dan sedangkan al Khosyah merupakan rasa takut yang dimiliki para ulama yang mengetahui ilmu. 


Dan Allah Ta’ala telah memberikan janji kepada orang-orang yang takut kepada Nya, hingga rasa takut tersebut membentengi diri dari segala pintu keburukan syahwat dan menggiring kepada kebaikan dan ketaatan, hingga Allah Ta'ala berikan imbalan yang sangat agung sebagaimana firman Nya: 


وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ جَنَّتَانِ ﴿٤٦﴾



"Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga." (Q.S.55:46)


Allah Ta'ala berfirman:  



وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ ﴿٤٠﴾  فَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ ﴿٤١﴾


"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,"

"maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)."
(Q.S.79:40-41)


Allah Ta'ala berfirman: 


قَالُوٓا۟ إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِىٓ أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ ﴿٢٦﴾  فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَىٰنَا عَذَابَ ٱلسَّمُومِ ﴿٢٧﴾



"Mereka berkata: "Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)"."

"Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka." (Q.S.52:26-27)



روى ابن أبي حاتم عن عبد العزيز - يعني: ابن أبي رواد -قال: بلغني أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - تلا هذه الآية: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ [التحريم: 6] وعنده بعض أصحابه، وفيهم شيخٌ، فقال الشيخ: يا رسول الله! حجارةُ جهنَّم كحجارة الدنيا؟ فقال النبي - صلى الله عليه وسلم -: «والذي نفسي بيده؛ لصخرةٌ من جهنم أعظمُ من جبال الدنيا كلها»، قال: فوقع الشيخُ مغشيًّا عليه، ووضع النبي - صلى الله عليه وسلم - يدَه على فؤاده فإذا هو حيٌّ، فناداه قال: «يا شيخُ! قل: لا إله إلا الله»، فقالها، فبشَّره النبي - صلى الله عليه وسلم - بالجنة، فقال بعض أصحابه: يا رسول الله! أمن بيننا؟ قال: «نعم، يقول الله تعالى: ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ [إبراهيم: 14]».



Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim rahimahullah dari Abdul Aziz ibnu Abi Rowwad rahimahullah berkata telah sampai dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya beliau membaca firman Allah Ta'ala:  


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ .... ﴿٦﴾



"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; .....  (Q.S.66:6)


Dan disekeliling Nabi Shallallahu alaihi wa sallam terdapat banyak sahabat dan diantara nya seseorang yang sudah berumur, dan bertanya, wahai Rasulullah, bebatuan neraka jahanam apakah seperti bebatuan didunia? ....

Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: " Demi yang jiwaku berada dalam genggaman Nya , sungguh bebatuan di neraka jahanam lebih besar daripada seluruh gunung gunung di dunia ". 

Maka orang tua tersebut terjatuh pingsan, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam memeriksa nya dan meletakkan tangan nya di dada orang tersebut dan ternyata ia masih hidup, dan Nabi pun berkata kepada nya, wahai orang tua, ucapkan LA ILAHA ILLALLAHU , Maka dia pun mengucapkan nya hingga Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memberikan kabar gembira bahwa ia masuk surga. 

Maka sebagian para sahabat bertanya, wahai Rasulullah, apakah hal tersebut juga berlaku bagi kita semua?

Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Ya benar. 

Allah Ta'ala berfirman; 


 ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِى وَخَافَ وَعِيدِ ﴿١٤﴾



"Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku"." (Q.S.14:14)


Dahulu para generasi salaf terdominasi perasaan mereka takut kepada Allah Ta'ala hingga mereka tekun dalam beramal ibadah dan rajin berharap kepada Allah Ta'ala hingga keadaan mereka menjadi baik dan akhir kehidupan mereka harum. 



وقال أمير المؤمنين علي - رضي الله عنه - وقد سلَّم من صلاة الفجر وقد علاه كآبة، وهو يُقلِّبُ يدَه -: "لقد رأيتُ أصحاب محمدٍ - صلى الله عليه وسلم - فلم أر اليوم شيئًا يُشبِههم، لقد كانوا يُصبِحون شُعثًا صُفرًا غُبرًا، بين أعينهم أمثالُ رُكَب المِعزَى، قد باتوا لله سُجَّدًا وقيامًا، يتلون كتابَ الله، يُراوِحون بين جِباههم وأقدامهم، فإذا أصبَحوا ذكروا الله فمادُوا كما يميدُ الشجر في يوم الريح، وهمَلت أعينهم بالدموع حتى تبُلّ ثيابهم".


Amirul mukmin Aly radhiyallahu anhu telah salam dari Sholat subuh dan sakitnya telah memuncak, dan membalikkan tangan beliau seraya berkata: " Aku dahulu melihat para sahabat sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam namun sekarang ia tidak lagi melihat orang orang yang serupa dengan mereka, dahulu mereka para sahabat diwaktu subuh wajah wajah mereka layu mengurus dan menguning dan dihadapan mereka seolah rombongan perang padahal semalam suntuk mereka berdiri dan sujud membaca ayat ayat Allah Ta'ala, mereka bersandar dengan kaki kaki mereka dan kening kening mereka(sujud), dan apabila diwaktu pagi mereka banyak berdzikir kepada Allah Ta'ala tegak penuh khusyuk bak layaknya sebuah pohon yang teguh menjulang tatkala diterpa angin dan mata mata mereka berkaca kaca mengalirkan tetesan hingga membasahi baju baju mereka ".



ففي الحديث القدسي: "وعزتي وجلالي لا أجمع على عبدي أمنين، ولا أجمع عليه خوفين؛ إن أمنني في الدنيا أخفته في الآخرة، وإن خافني في الدنيا أمنته يوم القيامة".


Disebutkan dalam hadits Qudsi, Allah Ta'ala berfirman: " Demi keagungan Ku dan kemuliaan Ku , tidak akan Aku kumpulkan  pada seseorang hamba dua rasa aman dan dua rasa takut,  jika seseorang hamba mendapatkan rasa aman tatkala ia didunia maka sungguh aku akan beri ketakutan ketika di akhirat , dan sekiranya ia merasa takut Kepada Ku didunia maka niscaya Aku akan berikan rasa aman ketika di akhirat ". 


قال أبو حفص عمر بن مسلمة الحداد النيسابوري: الخوف سراج في القلب، به يبصر ما فيه من الخير والشر، وكل أحد إذا خفته هربت منه، إلا الله عز وجل فإنك إذا خفته هربت إليه. فالخائف من ربه هارب إليه.

وقال أبو سليمان: ما فارق الخوف قلباً إلا خرب

وقال إبراهيم بن سفيان: إذا سكن الخوف القلوب أحرق مواضع الشهوات منها، وطرد الدنيا عنه

وقال ذو النون: الناس على الطريق ما لم يَزُلْ عنهم الخوف؛ فإذا زال الخوف ضلّوا الطريق.


Abu Hafs Umar ibnu Salamah Al Haddad An Naisabury rahimahullah berkata: " rasa takut kepada Allah Ta'ala merupakan pelita dan cahaya di dalam hati manusia,  dengan nya seseorang dapat melihat dan membedakan antara kebaikan dan keburukan, dan seseorang apabila merasa takut niscaya ia akan lari menjauh darinya kecuali takut kepada Allah engkau akan lari mendekat Nya, maka seseorang yang takut kepada Tuhannya ia akan mendekat Nya ". 

Berkata Abu Sulaiman rahimahullah: " Tidaklah rasa takut yang meninggalkan dari hati manusia kecuali akan merusak hati tersebut ". 

Ibrahim  ibnu Sufyan rahimahullah berkata: " Jika sekiranya rasa takut kepada Allah Ta'ala berada dalam hati manusia maka niscaya akan menyingkirkan syahwat dalam hati nya dan akan mengusir cinta dunia dalam hati nya ".

Dzun Nun rahimahullah berkata: " Sesungguhnya para manusia senantiasa berada pada jalan yang lurus selagi memiliki rasa takut kepada Allah Ta'ala, jika sekiranya tercabut rasa takut tersebut niscaya akan tersesat dari jalan yang benar ".


Jumah 10 juni 2022
Masjid AR-Rohman solo.

📓📓📓📗📓📓📓










 








 








 








 

Selasa, 04 Agustus 2026

TAUHID DAN KEUTAMAANNYA



TAUHID, PENTINGNYA DAN KEUTAMAANNYA 


Syaikh Abdurrahman bin Abdullah Al-Huwaimil 

Khutbah Pertama:

Segala puji hanya milik Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, memohon ampunan-Nya, dan bertobat kepada-Nya. 
Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan dari keburukan amal-amal kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. 
Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. 
Semoga Allah melimpahkan shalawat, salam, dan keberkahan kepada beliau, keluarga beliau, para sahabat beliau, serta seluruh pengikut mereka.

Amma ba'du....

Aku berwasiat kepada diri sendiri dan kepada kalian semua agar bertakwa kepada Allah Ta'ala dan senantiasa merasa diawasi oleh-Nya, baik ketika sendiri maupun di hadapan manusia.

Wahai hamba-hamba Allah,
Khutbah kita pada hari ini membahas tentang suatu pokok agama yang sangat agung. 
Karena tauhidlah Allah menciptakan jin dan manusia, mengutus para rasul, serta menurunkan kitab-kitab-Nya.
Itulah tauhid.

Tauhid merupakan kewajiban pertama yang harus dipenuhi seorang hamba, ibadah terbesar yang Allah wajibkan kepada manusia dan jin, ketaatan yang paling agung, amal kebajikan yang paling mulia, dan pendekatan diri kepada Allah yang paling utama.

Sebab, tauhid adalah pokok agama, fondasi Islam, dan rukun yang paling mendasar.

Tauhid mencakup seluruh kebaikan. 
Tidak ada satu amal saleh pun yang diterima tanpa tauhid. Amal yang sedikit akan dilipatgandakan pahalanya apabila disertai tauhid, sedangkan tanpa tauhid seluruh amal akan gugur meskipun sebesar gunung.

Barang siapa merealisasikan tauhid dalam hidupnya lalu meninggal di atasnya, maka ia akan masuk surga.

Tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah, serta mengesakan-Nya dalam rububiyah, uluhiyah, dan nama-nama serta sifat-sifat-Nya yang sempurna.

Di antara dalil yang menunjukkan agungnya kedudukan dan pentingnya tauhid adalah:

1. Tauhid adalah kewajiban pertama.

Tidak ada kewajiban yang dituntut dari seorang hamba sebelum tauhid.

Allah Ta'ala berfirman:
"Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu." (QS. Muhammad: 19).

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ mengutus Mu'adz bin Jabal ke Yaman, beliau bersabda:
"Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan Ahli Kitab. Maka hendaklah yang pertama kali engkau dakwahkan kepada mereka adalah persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah."

Dalam riwayat lain:
"Agar mereka mentauhidkan Allah. Jika mereka telah menaati hal itu, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan lima salat dalam sehari semalam. Jika mereka menaati hal itu, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan zakat yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir mereka. Jika mereka menaati hal itu, maka janganlah engkau mengambil harta terbaik mereka, dan takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doa itu dengan Allah."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

2. Tauhid adalah tujuan Allah menciptakan seluruh makhluk.

Allah Ta'ala berfirman:
"Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Makna "agar mereka beribadah kepada-Ku" adalah agar mereka mentauhidkan-Ku dalam ibadah, karena hakikat ibadah dibangun di atas tauhid.

3. Tauhid adalah hak Allah yang paling agung atas seluruh hamba.

Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu berkata:
Aku pernah membonceng Nabi ﷺ di atas seekor keledai. Beliau bertanya:
"Wahai Mu'adz, tahukah engkau apakah hak Allah atas para hamba, dan apakah hak para hamba yang Allah janjikan?"
Aku menjawab:
"Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."
Beliau bersabda:
"Hak Allah atas para hamba ialah agar mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Adapun hak para hamba yang Allah janjikan ialah Allah tidak akan mengazab orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

4. Tauhid merupakan inti dan poros dakwah seluruh rasul.

Tidak ada seorang rasul pun yang diutus kecuali membawa dakwah tauhid dan mengajak umatnya untuk mengesakan Allah.

Allah Ta'ala berfirman:
"Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat (untuk menyerukan): 'Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.'" (QS. An-Nahl: 36).

Allah juga berfirman:
"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya: 'Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku.'" (QS. Al-Anbiya': 25).

Seluruh nabi dan rasul memulai dakwah mereka dengan mengajak manusia kepada tauhid.

Demikian pula Nabi Muhammad ﷺ. Beliau tinggal di Makkah selama tiga belas tahun, dan fokus utama dakwah beliau adalah satu perkara, yaitu tauhid.

Beliau juga mendidik para sahabatnya agar memiliki tauhid yang benar kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala.

Di antaranya ketika beliau bersabda kepada Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma:
"Wahai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya selalu bersamamu. Jika engkau meminta, mintalah hanya kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan hanya kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu memberimu manfaat kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran catatan telah kering."
(HR. At-Tirmidzi, dinyatakan sahih).

5. Tauhid merupakan syarat diterimanya seluruh amal saleh.

Tidak ada amal yang diterima tanpa tauhid.

Allah Ta'ala berfirman:
"Barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arahnya dengan sungguh-sungguh sedang ia beriman, maka usaha mereka itulah yang akan dibalas dengan baik." (QS. Al-Isra': 19).

Allah juga berfirman:
"Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelum engkau: Jika engkau berbuat syirik, niscaya gugurlah seluruh amalmu dan engkau benar-benar termasuk orang-orang yang merugi. Maka sembahlah Allah saja dan jadilah termasuk orang-orang yang bersyukur." (QS. Az-Zumar: 65–66).

Ayat ini menunjukkan bahwa syirik menghapus seluruh amal, sedangkan tauhid merupakan fondasi diterimanya semua amal ibadah.

6. Seluruh isi Al-Qur'an mengajak kepada tauhid dan segala konsekuensinya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
"Sesungguhnya setiap ayat dalam Al-Qur'an mengandung tauhid, menjadi saksi atasnya, dan mengajak kepadanya." (Madarijus Salikin).

Artinya, seluruh kandungan Al-Qur'an, baik berupa kisah para nabi, hukum-hukum syariat, janji dan ancaman, perintah dan larangan, semuanya kembali kepada peneguhan tauhid serta penyempurnaannya.

Ya Allah, hidupkanlah kami di atas tauhid.

Wafatkanlah kami dalam keadaan membawa tauhid.

Berilah kami taufik untuk merealisasikan tauhid dengan sebenar-benarnya, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.

Aku mengucapkan perkataan ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku, untuk kalian, dan untuk seluruh kaum muslimin dari setiap dosa.
Maka mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Khutbah Kedua: 

Segala puji bagi Allah Yang Maha Agung kebaikan-Nya, Maha Luas karunia, kemurahan, dan nikmat-Nya.

 Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. 

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. 

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga beliau, dan seluruh sahabat beliau.

Amma ba'du...

Maka bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan senantiasalah merasa diawasi oleh-Nya sebagaimana orang yang yakin bahwa Rabbnya mendengar setiap ucapannya dan melihat setiap perbuatannya.

Wahai hamba-hamba Allah,
Sesungguhnya tauhid memiliki keutamaan yang sangat besar dan pengaruh yang agung, baik di dunia maupun di akhirat.

Orang yang paling berbahagia dengan keutamaan-keutamaan tersebut adalah mereka yang mentauhidkan Allah dan berlepas diri dari segala bentuk kesyirikan.

Di antara keutamaan tauhid adalah:

1. Tauhid menjaga darah dan harta seorang muslim di dunia.

Dari Thariq bin Asyim radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:
"Barang siapa mengucapkan 'Lā ilāha illallāh' dan mengingkari segala sesuatu yang disembah selain Allah, maka haramlah darah dan hartanya (untuk diganggu). Adapun hisabnya diserahkan kepada Allah."
(HR. Muslim).

Artinya, seseorang yang masuk Islam dengan tauhid memiliki kehormatan jiwa dan hartanya yang wajib dijaga menurut syariat.

2. Orang yang merealisasikan tauhid dan menjauhi syirik akan memperoleh keamanan dan petunjuk di dunia maupun di akhirat.

Allah Ta'ala berfirman:
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang memperoleh keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-An'am: 82).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
"Tauhid merupakan sebab paling kuat untuk memperoleh rasa aman dari segala ketakutan, sedangkan syirik merupakan sebab terbesar datangnya berbagai ketakutan."

Semakin sempurna tauhid seseorang, semakin besar pula ketenangan hati, rasa aman, dan petunjuk yang Allah berikan kepadanya.

3. Tauhid menjadi sebab datangnya pertolongan, kekuasaan, dan kemenangan bagi umat Islam.

Allah Ta'ala berfirman:
"Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara kalian bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengganti keadaan mereka sesudah ketakutan menjadi aman. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu apa pun." (QS. An-Nur: 55).

Ayat ini menunjukkan bahwa kemenangan, kejayaan, dan keamanan umat tidak akan diraih kecuali dengan iman, amal saleh, dan tauhid yang murni.

4. Tauhid merupakan sebab diampuninya dosa-dosa.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah Ta'ala berfirman:
"Wahai anak Adam, selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu atas dosa-dosamu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosamu mencapai setinggi awan di langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu apa pun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi pula."
(HR. At-Tirmidzi, beliau berkata: Hadis hasan).

Hadis yang agung ini menunjukkan bahwa sebesar apa pun dosa seorang hamba, selama ia meninggal di atas tauhid dan tidak berbuat syirik kepada Allah, maka ia berada di bawah kehendak Allah dan memiliki harapan besar untuk memperoleh ampunan-Nya.


5. Tauhid merupakan sebab terbesar masuk surga dan selamat dari neraka.

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa bertemu Allah dalam keadaan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, niscaya ia akan masuk surga. Dan barang siapa bertemu-Nya dalam keadaan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu, niscaya ia akan masuk neraka."
(HR. Muslim).

Dalam riwayat lain, Jabir radhiyallahu 'anhu berkata:
Seorang Arab Badui datang kepada Nabi ﷺ lalu bertanya:
"Wahai Rasulullah, apakah dua perkara yang pasti (menentukan nasib seseorang)?"
Beliau menjawab:
"Barang siapa meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, maka ia masuk surga. Dan barang siapa meninggal dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia masuk neraka."
(HR. Muslim).

Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa tauhid adalah sebab terbesar memperoleh keselamatan di akhirat, sedangkan syirik merupakan sebab terbesar kebinasaan.

6. Tauhid adalah jalan keselamatan dari berbagai kesulitan dan musibah.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
"Inilah sunnatullah yang berlaku pada hamba-hamba-Nya. Tidak ada sesuatu yang mampu menolak berbagai kesulitan dunia seperti tauhid.

 Oleh sebab itu, doa ketika tertimpa kesusahan selalu berisi tauhid. Demikian pula doa Nabi Yunus ('Dzun Nun'), tidaklah seorang yang sedang dilanda kesusahan berdoa dengannya melainkan Allah akan menghilangkan kesusahannya karena tauhid yang terkandung di dalamnya.

 Tidak ada yang menyebabkan manusia terjerumus ke dalam musibah-musibah besar selain syirik, dan tidak ada yang menyelamatkannya darinya selain tauhid. Tauhid adalah tempat berlindung seluruh makhluk, benteng mereka, dan tujuan akhir mereka."
(Al-Fawā'id, karya Ibnul Qayyim).

Karena itu, ketika seorang mukmin menghadapi kesulitan, hendaknya ia memperbarui tauhidnya, memperbanyak doa, tawakal, dan hanya bergantung kepada Allah semata.

7. Orang yang merealisasikan tauhid adalah manusia yang paling berbahagia memperoleh syafaat Nabi ﷺ pada hari kiamat.

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Orang yang paling berbahagia memperoleh syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan 'Lā ilāha illallāh' dengan ikhlas dari dalam hatinya."
(HR. Al-Bukhari).

Keikhlasan dalam bertauhid menjadi sebab utama seseorang mendapatkan syafaat Rasulullah ﷺ pada hari kiamat.

Doa Penutup Khutbah
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang benar-benar mentauhidkan-Mu dan tidak mempersekutukan-Mu dengan sesuatu apa pun hingga kami bertemu dengan-Mu.

Ya Allah, jauhkanlah kami dari segala bentuk kesyirikan, baik yang kecil maupun yang besar, yang tampak maupun yang tersembunyi.

Wahai hamba-hamba Allah,
Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk beliau dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad.
Ya Allah, ridhailah para Khulafaur Rasyidin, seluruh sahabat, para tabi'in, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. 
Jadikanlah kami termasuk golongan mereka dengan rahmat dan karunia-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin, hinakanlah kesyirikan dan orang-orang musyrik serta seluruh musuh agama.

Ya Allah, perbaikilah keadaan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia.

Ya Allah, anugerahkan kepada kami kesehatan jasmani, keamanan di negeri-negeri kami, serta kemenangan memperoleh kenikmatan surga dan keridaan-Mu.

Ya Allah, ampunilah kami, kedua orang tua kami, seluruh kaum mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal.

"Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka."

Kemudian dirikanlah salat.....