Kamis, 11 April 2013

MENYESAL

Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Mu'minun ayat 99-100, yang artinya: "(Demikianlah keadaan orang kafir), hingga bila datang kematian kepada salah seorang diantara mereka, ia berkata: 'Ya Tuhanku, kembalikan aku ke dunia. Agar aku dapat berbuat kebaikan yang telah aku tinggalkan'."

Sungguh itu hanya dalih yang ia ucapkannya saja. Dan dihadapannya ada Barzah(alam kubur).

Berkata Ibn Qoyyim rahimahullah: "Renunggilah bagaimana ia memohon pertolongan di hari tersebut dengan berkata: 'Ya Robbku'. Dan menyeru kepada Malaikat agar ia dikembalikan di dunia. Dan menyebutkan alasan agar dikembalikan supaya ia bisa melakukan kebajikan yang telah terlewat, terlalaikan atau ditinggalkan. Maka dijawab: "Tdk ada jalan utk kembali". Dan dijelaskan itu hanya sekedar alasan belaka, karena Allah Ta'ala Maha Mengetahui apa yang di lisan yang tidak mengandung ketulusan di dalam hati. Jikalau dikembalikan didunia niscaya ia akan kembali ke jalan kebejatan semula."

 - Bada'iut-Tafsir 3/237 -

AQIDAH DAN KEUTAMAANNYA

Definisi aqidah berasal dari kata 'aqd yang berarti pengikatan, yaitu apa yang diyakini oleh seseorang. Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu keyakinan hati & pembenarannya kepada sesuatu.

Adapun secara istilah syar'i, yaitu iman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, para Rasul-Nya & kepada Hari Akhir serta kepada takdir yang baik & yang buruk.

Sementara syari'at terbagi menjadi dua:
1. I'tiqadiyah, yaitu hal-hal yang tidak berhubungan dengan tata cara beramal, seperti i'tiqad (keyakinan) terhadap rububiyah (ke-Tuhanan) Allah & kewajiban beribadah kepada-Nya & beraqidah terhadap rukun-rukun iman yang lain. Inilah yang disebut pokok agama.
2. Amaliyah, yaitu segala apa yang berhubungan dengan tata cara amal ibadah, seperti shalat, zakat, puasa, haji & seluruh hukum-hukum amaliyah yang lain. Bagian inilah yang disebut cabang-cabang agama.

Amaliyah harus dibangun di atas I'tiqad (keyakinan) yang benar. Karena benar & rusaknya amal setiap muslim tergantung dari benar & rusaknya aqidahnya.

Maka aqidah yang benar merupakan fundamen bagi bangunan agama serta merupakan syarat sahnya amal seseorang. Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih & janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya."(QS. Al-Kahfi: 110)

Ayat-ayat yang senada sangatlah banyak, diantaranya: QS. Az-Zumar: 65; QS.Az-Zumar: 2-3 yang menunjukkan bahwa segala amal tidak akan diterima jika tidak bersih dari syirik.

Dan karena itulah sehingga perhatian Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam adalah pelurusan masalah aqidah demikian juga diutusnya para rasul adalah untuk mendakwahkan kepada ummatnya agar menyembah Allah semata & meninggalkan segala yang dituhankan selain Allah Ta'ala.

Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) 'Sembahlah Allah (saja)'.." (QS.An-Nahl: 36) Dan setiap Rasul selalu mengucapkan pada awal dakwahnya kepada tauhid/ aqidah. (QS. Az-Zumar: 59, 65,73, dan 85) Demikian, betapa pentingnya aqidah yang benar.

Semoga bermanfaat.

HATI YANG MATI

Hati yang mati adalah lawan dari hati yang bersih lagi selamat, yang mana ia tidak kenal Tuhannya, apalagi mengetahui perintah dan larangan-Nya, tidak bisa membedakan perkara yang dicintai atau diridhoi dan perkara yang dimurkai, ia tidak akan peduli syariat Allah, yang ada di hatinya semata menggapai syahwat dan nafsunya. Dengan ini bisa dikatakan ia menghambakan diri pada nafsu semata, bila ia cinta, cinta berdasarkan nafsu, bila ia memberi, maka sekehendak nafsu belaka.

Maka singkat kata, Hawa nafsu adalah imamnya, Syahwat adalah penunjuk arahnya, Kebodohan adalah pengemudinya, Kelalean adalah tunggangannya, senantiasa mengikuti jejak syaiton. Berkawan dengan orang yang hatinya mati seperti ini akan membawa kepada bencana, paling tidak akan meracuni kehidupannya yang akan menyeret jurang kebinasaan.

- Tazkiyatun nufus 26 -