Rabu, 26 Februari 2014

KATAKAN إِنْ شَاءَ اللّهُ

Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam surat Al-Kahfi ayat 23-24 yang artinya: "Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, 'Aku pasti melakukan itu besok pagi', kecuali (dengan mengatakan) إِنْ شَاءَ اللّهُ (jika Allah menghendaki)".

Berkata Al-Allamah As-Syinkithy dalam Adwa'ul Bayan, "Ayat muliya ini Allah سبحانه وتعالى melarang Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم untuk mengatakan: 'Aku akan melakukan sesuatu esok hari', kecuali jika digantungkan dengan ucapan إِنْ شَاءَ اللّهُ , yang mana tiada sesuatu yang terjadi sekecil apapun di alam semesta ini kecuali atas kehendak Allah سبحانه وتعالى, oleh karenanya dilarang mengatakan akan melakukan sesuatu dengan pasti esok hari.

Kalimat 'esok hari/ besok pagi' adalah ungkapan umum dan global untuk masa yang akan datang, sebagaimana dikatakan dalam lantunan sya'ir: "Dan aku mengetahui apa yang aku ilmui hari ini dan kemarin hari sebelumnya, akan tetapi terhadap apa yang ada di esok hari Aku tidak mengetahuinya".

Sebab turunnya Ayat muliya ini, bahwasanya orang yahudi berkata kepada orang-orang kafir Quraisy, "Bertanyalah kepada Muhammad tentang ruh, tentang Dzul Qurnain, dan tentang Ashabul Kahfi". Maka ditanyakan hal itu kepada Nabi dan dijawab, "Aku akan berikan jawaban besok", tanpa mengatakan إِنْ شَاءَ اللّهُ. Maka beberapa hari wahyu tidak turun kepada Nabi صلى الله عليه وسلم hingga dikatakan 15 hari. Maka keterlambatan wahyu ini menjadikan Nabi صلى الله عليه وسلم bersedih, kemudian turunlah teguran ayat ini sekaligus memberikan jawaban tiga pertanyaan di atas.

Teguran seperti ini juga Allah سبحانه وتعالى lakukan terhadap Nabi Sulaiman 'alaihissalam tatkala ia berkata, "Sungguh Aku akan keliling dalam malam ini terhadap isrti-istriku yang berjumlah 70 (dalam riwayat lain 90, dalam riwayat lain 100) dan niscaya akan melahirkan setiap darinya anak laki-laki yang akan berperang di jalan Allah". Dan ia tidak mengatakan kalimat إِنْ شَاءَ اللّهُ. Maka ia pun keliling ke seluruh istrinya akan tetapi tidak seorangpun darinya terlahir, kecuali hanya satu dari istrinya yang hanya berbentuk separuh manusia (tidak utuh berbentuk manusia). Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, "Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, jika ia mengatakan kalimat إِنْ شَاءَ اللّهُ , niscaya terpenuhi keinginannya". Dalam riwayat lain, "Niscaya masing-masing lahir anak lelaki yang semuanya berjuang di jalan Allah".

- Adwa'ul Bayan 540 -

BERSEGERA MENDATANGI SHOLAT

Oleh : Asy Syaikh Abdullah Al-Fauzan hafidzahullah                                           

Banyak dijumpai dalil yang menganjurkan pada kita agar bersegera dalam beramal kebaikan, berlomba di dalamnya, diantaranya adalah yang berkaitan dalam mendatangi masjid, dan duduk di dalamnya untuk menunggu waktu sholat berikutnya.

Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Dan bersegeralah kalian menuju ampunan Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang diperuntukkan bagi orang yang bertakwa". (QS Ali-Imran: 133). Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Maka berlombalah kalian di dalam kebaikan". (QS Al-Ma'idah: 48).                                                   

Berkata Syaikh Abdurraohman ibn Sa'di rahimahullah, "Perintah agar bersegera dan berlomba dalam kebaikan memiliki arti lebih dari hanya sekedar melaksanakan dan mengerjakan, dikarenakan bersegera artinya melaksanakan dan menjalankan dengan sesempurna mungkin dengan cara berlomba menjadi yang terbaik, dan barangsiapa berlomba menjadi yang terbaik di dunia maka ia akan medapat imbalan di akhirat yang berupa surga, maka orang yang terbaik ia mendapat derajat tertinggi, dan kebaikan yang dimaksud dalam ayat adalah mencakup seluruh bentuk ketaatan yang fardhu maupun yang nafilah, baik dari sholat, puasa, zakat, haji, umroh, jihad dan segala kebaikan yang membawa manfaat yang terbatas dan tidak terbatas. 

Diantara bentuk kebaikan adalah bersegera menuju masjid dan menunggu waktu sholat dengan memperbanyak berdzikir, tilawah, melakukan sholat sunnah, dan sebagainya adalah sarana untuk mendapatkan maghfiroh yaitu ampunan dan keutamaan yang agung.                 

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, "Jika sekiranya mereka mengetahui keutamaan bersegera dalam mendatangi sholat, niscaya mereka akan berlomba di dalamnya". (HR Bukhary dan Muslim).                                 

Berkata imam An-Nawawy: "Arti bersegera dalam mendatangi sholat adalah umum untuk sholat apa saja". Berkata imam Al-Harowy: "Ini hanya khusus sholat Jum'ah. Akan tetapi yang rojih dan kuat adalah yang pertama yaitu umum untuk segala sholat".

Sesungguhnya bersegera mendatangi sholat merupakan bentuk pengagunggan terhadap ibadah sholat, dan ketergantungan hati menuju masjid, dan menunjukkan bahwa urusan sholat adalah perkara yang harus didahulukan dan dinomersatukan dari segala bentuk urusan di kehidupannya. Dan ini merupakan tanda keberuntungan dan tanda kebaikan bagi seseorang.             

Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Rumah-rumah yang disana diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, disana bertasbih dengan nama-Nya pada waktu pagi dan petang. Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan perniagaan dari menginggat Allah, melaksanakan sholat, zakat, mereka takut kepada hari ketika hati dan mata menjadi guncang (hari kiyamat). Mereka melakukan hal itu agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan dan agar Dia menambahkan karunia- Nya kepada mereka".  (QS An-Nur: 36-38).

Setiap manusia pasti memiliki aktifitas dan kesibukan, akan tetapi hendaknya ia mendahulukan sholat tatkala datang waktunya, dan ini tidak akan diraih kecuali bagi mereka yang mendapat taufiq dari Allah dan karunia-Nya untuk mengagungkan syiar-syiar-Nya, maka ia mendahulukan ketaatan Allah, bersegera menuju jalan kebaikan dan mendekatkan diri dengan mendatangi masjid sebelum sholat didirikan.

Para Salaf memiliki semangat tinggi dalam menegakkan sholat, karena mereka mengetahui kedudukannya di sisi Allah سبحانه وتعالى, hingga terabadikan dalam banyak riwayat tentang mereka.

Berkata Imam Ibnu Muba'rok dari Ady ibnu Ha'tim berkata, "Tidaklah masuk waktu sholat kecuali aku rindu untuk mengerjakannya". (Kitab Az-Zuhud, 460). 

Berkata Imam Ad-Dzahaby, "Tidaklah sholat dikumandangkan sejak aku masuk islam kecuali aku telah melakukan wudhu' sebelumnya". (Kitab Siyar A'lam Nubala, 3/164).

Said ibnu Musyayyib dahulu ia sesalu mendatangi masjid sebelum adzan dikumandangkan, dan ini berlangsung lebih dari 30 th, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam ibnu Abi Syaibah, dari Said berkata, "Tidaklah muadzin mengumandangkan adzan kecuali aku berada di Masjid, hal ini aku lakukan lebih dari 30 th". (Kitab Mushonaf 1/351).

Dan berkata Ibnu Saad ," Aku tidak pernah tertinggal sholat jamaah selama 40 th". (Kitab Thobakot ibnu Saad 5/131).

Dahulu imam A'masy walau ia sudah tua tdk pernah tertinggal takbir pertama bersama imam, selama 70 th". (Kitab Tahdzibut-Tahdzib 4/196).

Dahulu muhadist Bisr ibn Hasan As-shoffy senantiasa berdiri di shof pertama pada masjid basroh lebih dari 50 th. (Kitab Tahdzib 1/391).

Senin, 03 Februari 2014

NABI MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم

Hari senin 12 robi'ul Awwal, menurut sebagian Ahli Tarikh,  Allah سبحانه وتعالى karuniakan dengan lahirnya Muhammad ibnu Abdillah ibnu Abdul Mutholib Al-Ha'syimy, yang mana terlahir dalam kondisi yatim tidak memiliki Ayah. setelah menginjak usia 6 th wafat ibunya, hingga diasuh oleh kakeknya Abdul Mutholib. Setelah dua tahun berikutnya wafatlah sang kakek, maka diasuh oleh pamannya Abu Tholib. 

Tepat pada usia 40 th Allah سبحانه وتعالى mengutus Muhammad صلى الله عليه وسلم sebagai Nabi yang membawa kabar gembira dan peringatan dan dakwah ini dijalankan dengan sebaik-baiknya hingga para manusia tegak padanya pemisah antara cahaya petunjuk dan kesesatan. Maka mulai kaumnya memberikan gangguan dan siksaan terhadap para pengikut setia Nabi صلى الله عليه وسلم , hingga nampak sahabat setia yang mempertahankan iman dan akhirat, hingga rela meninggalkan dunia dan isinya.

Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Bagi kaum Fukoro' dari Muhajirin yang mereka diusir dari rumah-rumah mereka, dirampas harta-harta mereka, dalam rangka menggapai keutamaan dan keridhoan dari Allah, dan mereka senantiasa menolong Allah dan Rosul-Nya, merekalah orang-orang yang jujur". (QS Al-Hasyr: 8).                

Selama 13 th Nabi صلى الله عليه وسلم berdakwah pada kaumnya hingga diperintahkan agar berhijrah ke Madinah, meninggalkan harta, rumah, kerabat, sanak, dan saudara, dalam rangka di jalan Allah سبحانه وتعالى.

Tatkala Nabi صلى الله عليه وسلم sampai di Madinah maka disambut oleh penduduknya dengan suka cita dan meriah, hingga kaum Muhajirin diberikan penghormatan dan pertolongan dari kaum Anshor, bahkan diantara mereka merelakan rumah, harta, bahkan istri-istri mereka untuk dinikahi kaum Muhajirin. Berkata Anshor yang memiliki dua istri kepada Muhajirin, "Pilihlah salah satu pasanganku kemudian akan aku talaq dan engkau nikahi".

Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Dan orang-orang Anshor yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka Muhajirin, mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka, dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka Muhajirin, dan mereka mengutamakan Muhajirin atas dirinya sendiri, walau mereka juga memerlukan. Dan barang siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran maka mereka itulah orang yang beruntung". (QS Al-Hasyr: 9).

Nabi صلى الله عليه وسلم senantiasa berdakwah hingga mencakup semua jazirah hingga Allah سبحانه وتعالى bukakan kota Makkah beserta para penduduknya untuk memeluk ajaran islam dan semakin menyebar keseluruh pelosok Arab.

Setelah 23 th Nabi berdakwah dan berjihad maka tuntaslah risalah Beliau صلى الله عليه وسلم, hingga Allah memanggil ke hadapan-Nya kembali. Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul, sebelumnya telah berlalu beberapa Rasul. Apakah jika dia wafat atau terbunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang maka ia tidak akan merugikan Allah sedikitpun. Allah akan memberikan balasan kepada orang yang bersyukur". (QS Ali Imron: 144).

Dengan diwafatkan Nabi صلى الله عليه وسلم seakan akan segala kesedihan tumpah meluap, bagaimana tidak? Nabi صلى الله عليه وسلم telah bersabda, "Jika diantara kalian tertimpa musibah, maka hendaknya ingat akan musibah diwafatkannya diriku, karena ini adalah musibah terbesar". (HR Ibnu Sa'ad). Tiada musibah besar menimpa alam semesta semenjak diciptakan-Nya yang melebihi musibah diwafatkan Nabi صلى الله عليه وسلم. 

Berkata Fathimah putri Nabi صلى الله عليه وسلم tatkala Ayahnya wafat, "Wahai ayah, engkau telah menghadap panggilan Robb Subhana wa Ta'ala.....Wahai ayah, semoga surga firdaus tempat kembalinya........"              

Berkata Anas ibnu Malik, "Kita masih inggat, tatkala Nabi صلى الله عليه وسلم memasuki Madinah, maka terasa cahaya menerangi seluruh pelosok Madinah. Dan tatkala dihari wafatnya Nabi صلى الله عليه وسلم terasa amat gelap lagi berkabung kita tidak dapat melakukan apa-apa, hingga Nabi صلى الله عليه وسلم dikubur senantiasa hati kita mengingkarinya". (HR Tirmidzy).

Abu Bakar berkata kepada Umar, setelah wafatnya Nabi صلى الله عليه وسلم , "Mari kita pergi menuju Ummu Aiman berziarah kepadanya sebagaimana Nabi صلى الله عليه وسلم datang kepadanya. Maka tatkala sampai maka Ummu Aiman menangis, kemudian ditanya, "Apa yang membuat engkau menangis? Apa yang di sisi Allah adalah apa yang terbaik untuk Nabi صلى الله عليه وسلم."  Maka dijawab, "Aku tau apa yang ada disisi Allah adalah apa yang terbaik untuk Nabi صلى الله عليه وسلم. Akan tetapi aku bersedih lantaran wahyu dari langit telah terputus". Maka seraya Abu Bakar dan Umar turut bersedih dan menangis. (HR Muslim).