Senin, 08 Agustus 2022

HUKUM FATWA

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0fVMh4bpRLNpJKzUaRKeV91QysQUobUBBzTQKqrtG5WWWpaDn55WemWrbNUV54T5Wl&id=100009926563522

HUKUM-HUKUM FATWA & HAL-HALYANG BERKAITAN DENGANNYA

Ringkasan Muhadharah Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili -hafizhahullaah-:

Mufti (pemberi fatwa) sebenarnya mengabarkan tentang hukum dari Rabbul ‘Alamin. Oleh karena itu Imam Ibnul Qayyim menamakan kitab beliau (tentang kaidah-kaidah fatwa): “I’laamul Muwaqqi’iin ‘an Rabbil ‘Aalamiin” (Pemberitahuan kepada para Penstempel dari Rabbul ‘Alamin). Dari sinilah kita mengetahui tentang pentingnya fatwa.

Harus ada aturan yang rinci untuk Fatwa:

[1]- Pengertian Fatwa:

Secara bahasa: “al-Ibaanah” (penjelasan).

Secara istilah: penjelasan hal yang  janggal dari hukum-hukum.

Pengertian lain: pengabaran hukum syar’i dengan tidak ada paksaan/pengharusan (untuk melaksanakannya). Dan inilah pengertian yang lebih  tepat.

[2]- Perbedaan antara Qadha (memberi hukum) dengan Fatwa (mengabarkan fatwa):

a. Hukum Qadha’ tidak masuk dalam bab ibadah, berbeda dengan Fatwa yang masuk dalam bab ibadah dan lainnya. Qadha’ hanyalah dalam menyelesaikan maasalah manusia dalam sengketa di antara manusia, dan ketika itu hukum dari Qadhi’ (pemberi hukum) harus dilaksanakan walaupun termasuk masalah yang diperselisihkan di antara para ulama.

b. Qadha’ adalah pengabaran disertai pengharusan (untuk dilaksanakan).

c. Fatwa mencakup untuk orang yang bertanya dan orang lain yang keadaannya semisal dengannya. Adapun Qadha’ hanya khusus berkaitan dengan yang bertanya/berperkara. Oleh karena itu fatwa-fatwa para ulama bisa dikumpulkan dan dibukukan, sedangkan Qadha’ tidak dibukukan dan tidak disebarkan (karena khusus berkaitan dengan orang-orang yang berperkara).

Faedah: (Jika kita sudah mengetahui bahwa fatwa para ulama adalah boleh disebarkan; maka) perkara yang penting dalam menukil Fatwa adalah: harus disertakan dengan pertanyaannya.

d. Fatwa (dikeluarkan dengan) berporos pada pertanyaan Mustafti’ (orang yang bertanya, yang meminta fatwa). Adapun Qadha’; maka dibangun di atas “bayyinaat” (bukti-bukti), tidak semata-semata klaim/pengakuan.

[3]- Pentingnya Fatwa:

Fatwa besar tanggung jawabnya, dilihat dari berbagai segi:

a. Allah langsung yang memberi Fatwa, sebagaimana Allah firmankan:

{يَسْتَفْتُوْنَكَۗ قُلِ اللّٰهُ يُفْتِيْكُمْ فِى الْكَلٰلَةِ ۗ...}

“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalālah). Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalālah,...” (QS. An-Nisaa’: 176)

b. Kedudukan Fatwa langsung diemban oleh Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- semasa hidup beliau.

c. Fatwa sangat dibutuhkan secara umum.

[4]- Bahayanya Fatwa:

Fatwa perkaranya besar, dan bisa berbahaya: jika tidak didasari ilmu atau tidak dikembalikan kepada “ashl” (pondasi) syar’i.

Allah -Ta’aalaa- berfirman:

{وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا}

“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Israa’: 36)

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنِ النَّار

“Barangsiapa yang berdusta atasku dengan sengaja; maka siapkanlah tempatnya di neraka.”

[5]- Pengagungan Para Salaf terhdap Perkara Fatwa:

Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah ditanya dan beliau menjawab: “Saya tidak ahli dalam masalah tersebut, anda jangan hanya melihat kepada panjangnya jenggotku dan banyaknya orang yang ada di sekelilingku, aku benar-benar tidak menguasai masalah tersebut. Dipotongnya lidahku lebih baik bagiku daripada aku berbicara tentang sesuatu yang aku tidak punya ilmu tentangnya.”

Imam Malik ditanya banyak pertanyaan dan sebagaian besarnya beliau jawab dengan: “Aku tidak tahu.”

Ketika Imam Malik ditanya tentang bagaimana tentang istiwa’ (bersemayam)nya Allah; beliau menunduk sampai diliputi banyak keringat.

Ini semua menunjukkan tentang pengagungan terhadap perkara Fatwa.

[6]- Dhawabith (Aturan-Aturan) Fatwa:

a. Berkaitan dengan Mufti (pemberi Fatwa):

(1)- Ia harus menguasai ilmu syar’i terhadap perkara yang ditanyakan kepadanya.

(2)- Ia harus memiliki gambaran terhadap permasalahan yang ditanyakan oleh Mustafti (penanya).

(3)- Ia harus mengetahui cara penerapan ilmu syar’i yang ia miliki pada permasalahan yang ditanyakan oleh Mustafti.

b. Berkaitan dengan Mustafti (orang yang meminta Fatwa, orang yang bertanya):

(1)- Ia harus bagus niatnya ketika bertanya.

(2)- Ia ingin mengetahui jawaban dari pertanyaannya karena ia ingin mengamalkan jawaban tersebut.

(3)- Ia harus mengenal hak dari Mufti; yakni memiliki adab yang baik terhadapnya.

(4)- Memperhatikan keadaan Mufti ketika ditanya, jangan sampai bertanya kepadanya ketika ia dalam keadaan yang menyibukkannya, ia harus memilih waktu yang sesuai. Dan Mufti pun harus menunda jawabannya jika ia ditanya dalam keadaan yang tidak tepat untuk menjawab (karena sibuk dan lainnya).

(5)- Ia harus berusaha mencari Mufti yang terbaik; yakni: yang paling berilmu dan wara’.

(6)- Ia bisa bertanya langsung dan bisa juga mewakilkan orang lain untuk bertanya kepada Mufti.

(7)- Dalam masalah yang berkaitan dengan negerinya; maka hendaknya ia bertanya kepada Mufti yang berada di daerahnya. Adapun dalam permasalahan-permasalah yang umum -seperti masalah Tauhid dan lainnya-; maka tidak ada keharusan bahwa Mufti yang akan ia  tanya: harus berasal dari negerinya.

c. Berkaitan dengan Proses Meminta Fatwa:

(1)- Pertanyaannya harus jelas.

(2)- Tidak ada pengulangan lafazh (yang bsia membingungkan).

(3)- Menyebutkan sifat yang bisa berpengaruh pada jawaban.

(4)- Orang awam hendaknya tidak bertanya tentang dalil secara rinci; kecuali jika ia adalah penuntut ilmu; maka tidak mengapa.

(5)- Hendaknya tidak meminta Fatwa tentang sesuatu yang belum terjadi.

(6)- Hendaknya bertanya tentang yang bermanfaat untuknya dan meninggalkan pertanyaan yang tidak penting baginya.

(7)- Mendo’akan kebaikan untuk Mufti.

(8)- Kalau Fatwanya ditulis; maka hendaknya ditulis dengan jelas.

(9)- Terkadang ada orang yang bertanya hanya untuk menjatuhkan orang ‘alim lain dikarenakan hasad kepada ‘alim tersebut. Maka ia memotong perkataan ‘alim tersebut dan diajukan kepada Mufti dengan bentuk pertanyaan kemudian menyebarkan jawabannya dengan diberi caption: Mufti Fulan Membantah ‘Alim Fulan.

[7]- Hukum Fatwa:

a. Wajib ‘Ain, jika di suatu negeri tidak ada Mufti lain atau jika Mustafti hanya mau jawaban dari Mufti tersebut, maka dalam dua keadaan ini Fatwa wajib atas Mufti yang tersebut.

b. Wajib Kifayah, jika ada Mufti lain yang mencukupi.

c. Makruh, jika pertanyaannya adalah tenang sesuatu yang jarang sekali terjadi; maka makruh hukumnya berfatwa tentangnya.

d. Haram, jika berfatwa tanpa ilmu atau ketika dalam keadaan disibukkan dengan sesuatu yang mengganggu.

[8]- Kaidah-Kaidah Berkaitan Dengan Fatwa:

a. Mufti harus melihat jenis-jenis pertanyaan dengan jeli.

b. Mufti memberi jawaban yang lebih bermanfaat dari yang ditanyakan. Seperti Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- yang ditanya: Kapan Hari Kiamat? Maka beliau menjawab: “Apa yang sudah engkau persiapkan untuknya?!”

c. Mufti memberikan jawaban yang melebihi pertanyaan. Seperti Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- yang ditanya tentang pakaian yang dibolehkan untuk orang yang Ihram; maka beliau menjawab dengan yang tidak boleh dipakai oleh orang yang sedang Ihram; sehingga yang selain dari itu adalah boleh.

d. Menyebutkan ganti yang halal ketika memberikan jawaban atas haramnya sesuatu.

e.. Menyebutkan dalil dan segi pendalilannya jika memungkinkan.

f. Memberikan muqaddimah sebagai penguat ketika akan menyebutkan suatu hukum/perkara yang akan dianggap asing.

g. Boleh bersumpah dalam memberikan Fatwa.

-ditulis dengan ringkas oleh: Ahmad Hendrix

Jumat, 29 Juli 2022

FAIDAH DARI PROF DR. A`SIM AL QORYUTI

*MENDULANG FAWAID DARI DAURAH SYAR’IYYAH JOGJA 1443 H*

Bersama Syaikh Prof. Dr. A’shim bin Abdillah bin Ibrahim al-Qoryuti hafizhahullah

Syaikh hafizhahullah berkata:
lam pertemuan ini, dan beliau hafizhahullah sebenarnya berkeinginan untuk bisa berlama-lama memberikan faidah dalam daurah bukan hanya satu hari saja, namun karena adanya kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan maka beliau menyempatkan sebelum beliau hafizhahullah pulang, untuk memberikan faidah kajian ilmiyah kepada asatidz peserta daurah ilmiyyah di Jogja. Sebagaimana dikatakan:

ما لا يُدرَك كُلُّه، لا يُترَك جُلُّه

“Barangsiapa yang tidak bisa mendapatkan seluruhnya maka jangan ditinggalkan secara keseluruhan”

Syaikh hafizhahullah berdoa, “Agar pertemuan ini adalah pertemuan yang dipenuhi dengan kebaikan dan kebarokahan serta bermanfaat buat kaum muslimin.”

Setelah membuka daurah dengan khutbatul Hajah, beliau hafizhahullah berkata:
Mengucapkan selamat datang dan menyambut hangat da kebaikan yang senantiasa menjadikan saling tolong menolong dalam ketakwaan dan memberikan kebaikan untuk dakwah Islamiyyah dan saling tolong menolong dalam apa yang bisa memberikan kemanfaatan.

Dalam pertemuan ini kita akan membaca hadits awaliyyah, Ini adalah hadits awaliyyah yaitu hadits yang didengar awal oleh seorang murid dari gurunya. Ini semua silsiah nya bersambung sampai Sufyan bin Uyainah terhenti sambungnya sanad hadits.

Hadits ini adalah hadits yang paling banyak dibacakan dan dipelajari terutama bagi yang menginginkan untuk mendapatkan ijazah sanad hadits, karena faidah yang sangat besar.

Begitu pula akan dibahas pula ثلاثيات البخاري tsulatsiyat al-Bukhori – yaitu hadits yang diriwayatkan oleh tiga tingkatan perawi yaitu jarak antara Imam al-Bukhori dengan Rasulullah ﷺ adalah tiga perawi saja, baik dari tabiut tabi’in, tabi’in dan shahabat. Dan ini adalah kumpulan sanad yang paling ringkas dari Imam al-Bukhori.

Semoga Allah memberikan keberkahan kepada waktu kita dan usaha kita ini.
Hadits yang akan kita sebutkan adalah hadits musalsah bil awaliyyah --- yaitu hadits :

4941 - حَدَّثَنَا ‌مُسَدَّدٌ ‌وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ الْمَعْنَى، قَالَا: نَا ‌سُفْيَانُ، عَنْ ‌عَمْرٍو، عَنْ ‌أَبِي قَابُوسَ مَوْلًى لِعَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ ‌عَبْدِ اللهِ بْنِ  عَمْرٍو يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ‌ارْحَمُوا أَهْلَ الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ». لَمْ يَقُلْ مُسَدَّدٌ: مَوْلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، وَقَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Abu Dawud rahimahullah berkata, “Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Musaddad secara makna, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amru dari Abu Qabus -mantan budak (yang telah dimerdekakan oleh) Abdullah bin Amru- dari Abdullah bin Amru dan sanadnya sampai kepada Nabi ﷺ, (beliau bersabda): "Orang-orang penyayang akan disayangi oleh Ar Rahman. Sayangilah penduduk bumi maka kalian akan disayangi oleh siapa saja yang di langit."  (HR. Abu Dawud no. 4941, Ahmad no. 6494, at-Tirmidzi no. 1924 dan lainnya, SHOHIH)
Aku telah mendengar dari banyak ulama tentang hadits tersebut di Saudi, Hijaz, Tunis, India dan lainnya. Dan aku diberikan ijazah sanad hadits ini oleh beberapa ulama, termasuk Syaikh Muhammad Asy-Syaadzali bin Muhammad bin as-Shodiq an-Naifar rahimahullah seorang ‘alim dari Tunisia, Syaikh Umar bin Hamdan al-Makhrosy dan masih banyak lagi. Sanad dan ijazah haditsnya akan disebutkan dalam kiriman pdf beliau hafizhahullah kepada asatidz peserta daurah hafizhahumullah.
Terkadang hadits yang seperti ini dibutuhkan untuk tadabur bukan hanya dibaca tapi tidak dapat difahami kandungan isinya.
Ini adalah mutlak berlaku untuk menjelaskan tentang pahala itu tergantung dari jenis amal. Rahmat kebaikan itu tidak terbatas pada birrul walidain tapi secara umum
Timbangan ini adalah dalam kebaikan yang sangat besar dalam Islam.
Dan ini bisa menjawab syubhat yang banyak tentang Islam, dakwah Islam. Banyak pekerjaan dari para dai untuk mengajak kaum muslimin untuk menguatkan islamnya karena musuh islam orang-orang kafir tetap berusaha untuk mengeluarkan kaum muslimin dari agamanya.
Kedatangan risalah Nabi ﷺ adalah rahmat yang sangat agung kepada manusia.
Dan inilah rahmat karena manusia akan bahagia di dunia dan setelah nya bahagian di Surga dengan risalah Nabi ﷺ.
Rahmat Allah yang besar ini ditujukkan kepada orang-orang dekat, kerabat, bahkan yang paling dekat dengan kita yaitu orang tua begitupun kaum muslimin.
Hadits ini juga berkaitan dengan hadits Agama itu nasehat,

عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِي رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Tamim ad-Dari radhiallahu’anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Agama itu adalah nasihat." Kami bertanya, "Nasihat untuk siapa?" Beliau menjawab, "Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, dan para pemimpin kaum muslimin, serta kaum muslimin seluruhnya." (HR. Muslim no. 55)

Dakwah dengan penuh rahmat itu adalah dakwah tauhid yang menerapkan keilmiyahan yang bisa menjawab syubhat yang menyerang kaum muslimin dari orang-orang kafir. Agama islam adalah agama penuh rahmat. Nabi ﷺ adalah sosok yang penuh rahmat.

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

   Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam. (QS. Surat Al-Anbiya: 107)

Bahkan dalam islam memberlakukan rahmat ketika penyembelihan hewan. Begitu pula dalam ayat banyak sekali menjelaskan tentang Rahmat.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَرَبُّكَ الْغَنِيُّ ذُو الرَّحْمَةِ

Dan Rabbmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. [QS. al-An’aam: 133].
Firman Allah Azza wa Jalla :

وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ

Dan Rabbmu Yang Maha Pengampun lagi mempunyai rahmat..[QS. al Kahfi: 58].

Ar-Rahman – meliputi semua baik itu yang kafir maupun yang muslim.
Ar-Rahim – meliputi semua kaum muslimin orang-orang yang beriman.
Orang yang bertauhid itu harus beriman dengan Asma wa Shifat:
Ahlus Salaf adalah ahlus sunnah dan itu adalah nama yang satu, dan disebut as-Salaf karena generasi terbaik umat:
عن  عبدالله بن مسعود :خيرُ النّاسِ قرني ، ثمَّ الَّذين يلونُهم ، ثمَّ الَّذين يلونهم
الزرقاني (ت ١١٢٢)، مختصر المقاصد ٤٣٧ • صحيح • أخرجه البخاري (٢٦٥٢)، ومسلم (٢٥٣٣)

Sebaik baik generasi adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya. (Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, Al-Bukhori no. 2652 dan Muslim no. 2533).
Ini adalah metode ahli Islam yang menerapkan kasih sayang.

KAIDAH dalam memahami Tauhid Asma Wa shifat:
KAIDAH PERTAMA:
Masdhar Awal Talaqi:  Adalah wahyu – Al-Qur’an dan as-Sunnah tidak bisa diqiyaskan dengan akal dan filsafat tapi ini adalah perkara Tauqifi – yaitu makna diserahkan kepada keterangan yang telah Allah dan Rasulullah ﷺ tetapkan untuk dirinya tidak

KAIDAH KEDUA:
Allah memberitahukan tentang diri-Nya, kita tidak tahu tentang apa yang menjadi diri Allah kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya.
Hadits adalah hujjah dalam I’tiqad baik itu hadits mutawattir ataupun ahad. Hadits Mutawatir jelas lebih kuat dari pada Ahad. Namun keduanya tetap dipakai sebagai hujjah baik dalam aqidah, siroh, dan hukum tidak ada pembedaan antara hadits tersebut sebagaimana yang telah dilakukan oleh para ahli filsafat/mantiq. Tafriq yang seperti itu tidak ada masalah dalam menjelaskan ke umat. Namun pendapat bahwa mutawatir itu untuk aqidah dan ahad tidak berlaku untuk hujjah di aqidah maka itu adalah kesalahan yang telah banyak terjadi.
Para penuntut ilmu yang ingin membahas lebih banyak maka hendaknya membaca kitab Syaikh Al-Albani rahimahullah Ahaadits Hujjatun Binafsihi Fil ‘Aqoid wal Ahkaam - الحديث حجة بنفسه في العقائد والأحكام, kitab Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah  
الصواعق المرسلة على الجهمية والمعطلة
As-Showa’iq al-Mursalah ‘alal Jahmiyah wal Mu’athhilah
Begitupula kitab ar-Risalah yang menginginkan madzhab as-Syafi’I. dan kita semua adalah madzhab syafi’I sesuai dengan perkataan Imam as-Syafi’i rahimahullah,

إذا صح الحديث فهو مذهبي
Kalau shohih hadits maka dia adalah madzhabku.
Dan kitab ar-Risalah ini bagus sekali manakala bisa dijadikan acuan dasar untuk daurah syar’iyah.
Dulu para salaf tidak pernah mengenal tafriq pembedaan dari hadits mutawatir dan ahad. Maksudnya tidak ada perbedaan dalam kekuatan bisa dipakai sebagai hujjah atau tidak.

KAIDAH KETIGA:
Wajib iman dengan apa yang ada pada maknanya dan yang berkaitan dengan Atsar.
Misalnya : Al-‘Alim maka nama itu ditujukan untuk memberitahukan bahwa Allah mempunyai sifat Maha Mengetahui.
Al-Ghofur dan al-Karim itu beda secara Bahasa, setiap nama punya makna yang berbeda-beda harus difahami sesuai makna aslinya sebagaimana terdapat penjelasan dalam Al-Qur’an, as-Sunnah dan penjelasan para ulama salaf.
Ini adalah koridor yang bisa mejadikan orang yang memaknai selain dari apa yang seharusnya bisa keluar dari penyebutan ahlus sunnah wal Jama’ah.
Nama Allah tidak terbatas 99 nama saja: sebagaimana hadits:

عن أبي هريرة: إنَّ للهِ تسعةً وتسعينَ اسمًا مَن أَحصاها دَخلَ الجنَّةَ
الألباني (ت ١٤٢٠)، صحيح الترمذي ٣٥٠٨ • صحيح •

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama barangsiapa yang menghafalkannya, menjaganya, mengamalkannya, mengimaninya masuk surga. (HR. At-Tirmidzi, lihat Shohih at-Tirmidzi no. 3508).

أنَّ رَسولَ اللَّهِ ﷺ قالَ: إنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وتِسْعِينَ اسْمًا مِئَةً إلّا واحِدًا، مَن أحْصاها دَخَلَ الجَنَّةَ.
أبو هريرة • البخاري (ت ٢٥٦)، صحيح البخاري ٢٧٣٦ • [صحيح

Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama 100 kurang satu barangsiapa yang menghafalkannya, menjaganya, mengamalkannya, mengimaninya masuk surga. (HR. Al-Bukhori no. 2736).
99 itu bukan pembatasan terhadap jumlah nama-nama Allah namun Allah mempunyai lebih dari itu sebagaimana dijelaskan dalam hadits doa karb:
Tapi sesuai dengan hadits doa karb – doa gundah gulana:
Dari Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا قَالَ عَبْدٌ قَطُّ إِذَا أَصَابَهُ هَمٌّ وَحَزَنٌ: اللهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجِلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي، إِلَّا أَذْهَبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هَمَّهُ، وَأَبْدَلَهُ مَكَانَ حُزْنِهِ فَرَحًا "، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ يَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَتَعَلَّمَ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ؟ قَالَ: " أَجَلْ، يَنْبَغِي لِمَنْ سَمِعَهُنَّ أَنْ يَتَعَلَّمَهُنَّ

Tidak ada seorang pun yang sedang dilanda kegundahan dan kesedihan, lalu mengucapkan do’a : “Allahumma innii ‘abduka, wabnu ‘abdika, wabnu amatika, naashiyatii biyadika, maadhin fiyya hukmuka, ‘adlun fiyya qodhoo-uka, as-aluka bikullismin huwa laka, sammaita bihi nafsaka, au anzaltahu fii kitaabika, au ‘allamtahu ahadan min kholqika, awista’tsarta bihi fii ‘ilmil ghoibi ‘indaka, an taj’alal qur-aana robii’a qolbii, wa nuuro shodrii, wa jalaa-a huznii, wa dzahaaba hammii.”
“Ya Allah , sesungguhnya diri ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba laki-laki Mu, dan anak dari hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku berada dalam genggaman-Mu, Hukum-Mu telah berjalan, dan keputusan-Mu merupakan keputusan yang adil, Aku memohon dengan seluruh nama-nama-Mu, yang engkau namai diri-Mu, atau nama yang engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau telah engkau ajarkan kepada seseorang dari hamba-Mu, atau nama yang masih Engkau simpan di sisi-Mu, jadikan Al-Qur’an sebagi penentram jiwaku, cahaya hatiku, pelenyap duka dan lara ku.” Tidaklah seorangpun mengucapkan do’a ini melainkan Allah akan hilangkan kesedihannya, dan akan jadikan kebahagiaan untuknya. Wahai Rasulullah, seharusnya kita mempelajari dan menghafal do’a tersebut. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Betul sekali, hendaknya siapa saja yang mendengar do’a ini untuk mempelajarinya. (HR. Ahmad, hadist no. 4318, Shohih lihat Silsilah Ahadits as-Shohihah no. 199).
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah menulis dengan tangannya asma wa shifat, ini dalam rangka menerapkan ihsho’ dalam Asma wa shifat.

KAIDAH KEEMPAT:
Iman dengan apa yang ada pada Sifat-sifat Allah dengan Itsbat dan meniadakan tamtsil wa ta’thil berlaku juga pada Nama-nama Allah Azza wa Jalla.
القول في الصفات كما القول في الذات

Perkataan dalam sifat begitupula sama dengan perkataan dalam Dzat. Maksudnya beriman dalam sifat harus pula beriman dengan nama Allah. Bukan membedakan yaitu menetapkan sebagian sifat kemudian mengingkarinya atau menyelewengkan beberapa shifat dan nama bahkan Mentakwilkan nama Allah dan mentasybihkan.
Iman dengan Nama-Nama Allah mengharuskan pula untuk beriman dengan seluruh sifat Allah. Begitupula sebaliknya.
Kaidah Ahlus Sunnah dalam menafikan adalah:

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS. Asy-Syuuraa: 11)
Hanya ini saja yang dipakai oleh Ahlu Sunnah tidak memakai bahwa Allah bukan seperti ini, bukan seperti itu. Hanya memakai penafian yang sesuai al-Qur’an saja.
Mumatsiilah dan mutasyabih – bisa menyebabkan orang menjadi terjatuh kepada penyimpangan aqidah yang fatal –

‌ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ
Sayangilah para penghuni di bumi.
Ini dalam hadits sebagai penekanan ta’qiid dalam sifat ar-Rahmat, baik itu berlaku untuk anak kecil, kepada orang tua, untuk kaum muslimin bahkan kepada binatang.
Tafsir keduanya tidak bertentangan – Ikhtilaf Tanawwu’

وقال شيخنا حماد الأنصاري رحمه الله : فقـه هـذا الحديث ومن الشريف : أن صفة الرحمـة مـن صفات الله عز وجل التي يجب الإيمان بها على الأسس التالية :

Syaikh Hamaad al-Anshory rahimahullah:
Pemahaman hadits ini adalah sangat mulia:
Sesungguhnya sifat Ar-Rahmah adalah salah satu dari sifat Allah Azza wa Jalla yang wajib diimani berdasarkan asas berikut ini:

أ‌. إثباتها.
• Penetapannya
ب‌. تنزيهها عن مشابهة صفات المخلوقات .

• Penyuciannya dari Tasybih terhadap sifat-sifat makluk

ج.  الْيَأْسُ مِنْ إِدْرَاكِ كَيْفِيَّتِهَا وَكُنْهِهَا، وَقَدْ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي سُورَةِ الشُّورَى: « لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

• Putus asa dari pengetahuan berkaitan dengan kaifiyahnya dan kontekstual esensinya, Allah Azza wa Jalla berfirman di Surat as-Syuuraa:

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS. Asy-Syuuraa: 11)

وقال في سورة البقرة : ( ولا يحيطون بشيء مـن عـامـه إلا بما شاء .... الآية، وقال في سورة طه: ( ولا يحيطون بـه علما » .ومعنى {في} في قوله: « مـن في السماء ؟ يحتمل أحـد أمـرين كلاهما صحيح :

Dan Allah berfirman di Surat al-Baqorah 255:

وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ

mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki.
Dan surat at-Thoha:

وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِهٖ عِلْمًا

sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya. (QS. Ath-Thoha: 110)
dan makna Fi dalam ( Man Fis Samaa) – siapa yang ada di langit? Ini meliputi salah satu dari dua perkara yang kedua-dua nya shohih:

PERTAMA:
أ‌. بقاء (في) على الظرفية على أن معنى السماء العلق، كقوله عز وجل عـن النخلة: « وفرعها في السماء ، أي : في العلـو.

Fi dalam makna sebagai Adhorfiyah keterangan  yaitu maknanya langit yang terkait, sebagaimana firman Allah tentang pohon kurma:
وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ
dan cabangnya (menjulang) ke langit, (QS. Ibrahim: 24).
Fis Samaa’ di langit yaitu Fil Uluw – di Ketinggian

ب‌. أن تكون (في) بمعنى (على) أي : مـن عـلى السماء، أي : عـلى أن معنى السماء المبنيـة، كقوله عز وجل « فسيحوا في الأرض ، وقوله : ( قـل سيروا في الأرض » أي: على الأرض.

KEDUA:
Fi bermakna ‘Ala yaitu dari atas Langit, yaitu makna langit itu adalah mabni tetap sebagaimana ayat:

فَسِيْحُوْا فِى الْاَرْضِ
Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di bumi (QS. At-Taubah: 2)
Dan firman Allah:

قُلْ سِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ 

Katakanlah (Muhammad), “Jelajahilah bumi,  (QS. Al-An’aam: 11)
(jadi bukan berjalan didalam bumi tapi diatas bumi).

فكلمة و السماء ؟ في القرآن لها خمسة معان :

Kata Was Samaa’ “Dan Langit” dalam al-Qur’an ada 5 makna:
أ‌. السماء بمعنى العـلـو كما تقدم في قوله عز وجـل عـن النخلة : « وفرعها  في السماء ؟
Langit dengan makna ‘Al – ‘Uluw tinggi sebagaimana telah berlalu, dalam firman Allah tentang pohon kurma
وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ
dan cabangnya (menjulang) ke langit, (QS. Ibrahim: 24).

ب‌. السماء بمعنى المطر، كقوله عز وجل « يرسل السماء عليكم مدرارا ؟ أي: المطر؛ لأن المطـر يـنـزل مـن فـوق

Langit dengan makna al-Mathor – hujan, sebagaiman firman Allah:

يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ

Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, (QS. Nuh: 11)
Yaitu hujan, karena hujan itu turun dari atas.

ج. السماء المبنية كقوله عز وجل * أو لم ينظروا إلى السماء فوقهم ؟

Langit bermakna bangunan seperti firman Allah Ta’ala:
اَفَلَمْ يَنْظُرُوْٓا اِلَى السَّمَاۤءِ فَوْقَهُمْ

Maka tidakkah mereka memperhatikan langit yang ada di atas mereka? (QS. Qof; 6)

السماء بمعنى السحاب، كقوله عز وجل (ونزلنا من السماء
Langit dengan makna awan,

Seperti perkataan Allah
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً مُّبٰرَكًا
Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah (QS. Qof: 9)

د. السماء بمعنى السقف، كقوله عز وجل ( من كان يظن أن لـن ينصره الله في الدنيا والآخرة فليمدد بسبب إلى السماء ... » الآية، أي: "إلى سقف البيت كما قال ابن عباس رضي الله عنهما انتهى كلامه رحمه الله .

Langit bermakna atap, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

مَنْ كَانَ يَظُنُّ اَنْ لَّنْ يَّنْصُرَهُ اللّٰهُ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ فَلْيَمْدُدْ بِسَبَبٍ اِلَى السَّمَاۤءِ 

Barangsiapa menyangka bahwa Allah tidak akan menolongnya (Muhammad) di dunia dan di akhirat, maka hendaklah dia merentangkan tali ke langit-langit, (QS. Al-Hajj: 15)
Yaitu ke atap rumah sebagaimana perkataan Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma.
Kebaikan adalah dengan apa yang telah ditempuh oleh generasi salaf.
Aqidah bukan sebagaimana yang telah didengarkan dari penjelasan Syaikhul Islam, Syaikh Bin Baaz, Syaikh Al-Albani dan Syaikh Utsaimin. Namun ini pada hakekatnya apa yang ditetapkan oleh mereka adalah sebagaimana yang telah dikatakan oleh para generasi pendahulunya yaitu Imam as-Syafi’i dan yang lainnya yang mengambil perkataan mereka dari al-Qur’an dan as-Sunnah dalam hal pembahasan dalam aqidah.
Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu berkata:

الخلاف كله شر

Perpecahan itu adalah kejelekan.
Perbedaan pendapat itu bisa menjadi awal perpecahan, namun seharusnya diantara para penuntut ilmu harus saling menyayangi satu sama lain dengan sifat rahmat Islam yang sesungguhnya.
Ini yang berkaitan dengan syarah hadits diatas.
Semoga bermanfaat.
Bagian Pertama
(besambung bagian kedua)
Semoga bermanfaat
Zaki Rakhmawan Abu Usaid

Senin, 13 Juni 2022

TAKUT KEPADA ALLAH TA`ALA MERUPAKAN IBADAH




Alhamdulilah, Was Sholatu was Salamu ala' Rosulillah,  wa ba' du ;

Sesungguhnya amalan hati merupakan amalan yang sangat agung, pahala nya merupakan pahala yang sangat besar, sedangkan amalan lahiriyah mengikuti amal hati manusia dan berkedudukan sebagai penjelas dari amalan amalan hati, sehingga dikatakan: '' Hati adalah raja seluruh badan manusia, anggota tubuh merupakan prajurit nya ''. 

Diriwayatkan dari sahabat Anas radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:  

«لا يستقيمُ إيمانُ عبدٍ حتى يستقيمَ قلبُه»؛ رواه أحمد.

Tidak akan pernah lurus iman seseorang hamba sehingga lurus hati nya ". (HR Ahmad)

Arti dari lurus nya hati seorang hamba adalah mentauhidkan Allah Ta'ala didalam hati nya, mengagungkan, mencintai, berharap dan takut kepada Allah Ta'ala, gemar melakukan ibadah ketaatan dan membenci kemaksiatan. 

Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam shohih nya dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

«إن الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم، ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم».

" Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak melihat kepada rupa-rupa kalian dan harta-harta kalian, akan tetapi Allah Ta'ala melihat kepada hati-hati dan amal-amal kalian ". (HR Muslim).

وقال الحسن لرجلٍ: "داوِ قلبك؛ فإن حاجة الله إلى العباد صلاحُ قلوبهم".

Dan Al Imam Al Hasan rahimahullah berkata kepada seseorang: " Perbaiki lah hati mu, sesungguhnya apa yang diperlukan Allah Ta'ala kepada seorang hamba adalah baiknya hati hati mereka ".

Sesungguhnya diantara amalan hati yang dapat membangkitkan berbuat amalan ketaatan kepada Allah Ta'ala dan menghidupkan rasa gemar berbuat untuk kampung akhirat serta membentengi diri dari kemaksiatan dan zuhud untuk dunia dan pengekang jiwa dari nafsu adalah rasa takut kepada Allah Ta'ala. 

Rasa takut kepada Allah Ta'ala merupakan pengendali hati manusia untuk selalu berbuat baik dan ketaatan kepada Allah Ta'ala serta sebagai benteng diri dari berbuat maksiat dan durhaka dan menggiring kepada kebaikan dan perbaikan jiwa manusia. 

Rasa takut kepada Allah Ta'ala merupakan salah satu cabang dari cabang cabang keimanan, yang hendaklah ditujukan hanya kepada Allah Ta'ala semata, jikalau sekiranya diselewengkan kepada selain Nya maka ini merupakan bentuk kesyirikan. 

Dan sungguh Allah Ta'ala memerintahkan kepada para hamba agar hanya takut kepada Allah Ta'ala dan melarang dari takut kepada selain Nya. 

Allah Ta'ala berfirman: 

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ ٱلشَّيْطَٰنُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَآءَهُۥ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ﴿١٧٥﴾

"Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (Q.S.3:175)

Allah Ta'ala berfirman:  

 ۚ فَلَا تَخْشَوُا۟ ٱلنَّاسَ   

Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku(Q.S.5:44)

Allah Ta'ala berfirman: 

 وَإِيَّٰىَ فَٱرْهَبُونِ ﴿٤٠﴾

"dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk)." (Q.S.2:40)

وعن أنس - رضي الله عنه - قال: خطبَنا رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فقال: «لو تعلمون ما أعلم لضحِكتم قليلاً، ولبكيتُم كثيرًا»، فغطَّى أصحاب رسول الله - صلى الله عليه وسلم - وجوهَهم ولهم خَنين - أي: لهم صوتٌ من البكاء -؛ رواه البخاري ومسلم.

Diriwayatkan oleh sahabat Anas radhiyallahu anhu berkata: " Suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkhutbah dihadapan kami seraya bersabda: " Sekiranya kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis ".

Maka para sahabat menutupi wajah wajah mereka dan terdengar suara isak tangis ".

(HR Al Bukhari dan Muslim)

Rasa takut yang dimaksudkan adalah bergetar nya hati dan khawatir dari tertimpa nya petaka dan adzab Allah Ta'ala ketika meninggalkan kewajiban atau menerjang suatu larangan atau melalaikan suatu mustahab atau bergelimang dengan makruhat atau takut sekiranya amal amal nya tidak diterima oleh Allah Ta'ala sehingga ia berusaha sekuat tenaga melakukan kebajikan dan menjauhi seluruh keburukan. 

Sesungguhnya rasa khosyah, wajal, Rohbah, Haibah, merupakan lafadz yang maknanya berdekatan, namun bukan satu arti dengan khouf yang berarti rasa takut, karena sesungguhnya arti dari khosyah adalah rasa takut kepada Allah Ta'ala yang lebih khusus, karena  dibarengi dengan mengilmui terhadap sifat sifat Allah Ta'ala. 

Allah Ta'ala berfirman: 

 ۗ إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ﴿٢٨﴾

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (Q.S.35:28)


Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:  

«أمَا إني أخشاكم لله وأتقاكم لله».

" Adapun aku merupakan seseorang yang paling khosyah (takut kepada Allah Ta'ala) diantara kalian dan aku adalah seseorang yang paling bertakwa kepada Allah diantara kalian ".

Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: " al khouf merupakan rasa takut yang menimpa kaum muslimin secara umum dan sedangkan al Khosyah merupakan rasa takut yang dimiliki para ulama yang mengetahui ilmu. 

Dan Allah Ta’ala telah memberikan janji kepada orang-orang yang takut kepada Nya, hingga rasa takut tersebut membentengi diri dari segala pintu keburukan syahwat dan menggiring kepada kebaikan dan ketaatan, hingga Allah Ta'ala berikan imbalan yang sangat agung sebagaimana firman Nya: 

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ جَنَّتَانِ ﴿٤٦﴾

"Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga." (Q.S.55:46)

Allah Ta'ala berfirman:  

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ ﴿٤٠﴾  فَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ ﴿٤١﴾

"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,"

"maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)."
(Q.S.79:40-41)

Allah Ta'ala berfirman: 

قَالُوٓا۟ إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِىٓ أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ ﴿٢٦﴾  فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَىٰنَا عَذَابَ ٱلسَّمُومِ ﴿٢٧﴾

"Mereka berkata: "Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)"."

"Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka." (Q.S.52:26-27)

روى ابن أبي حاتم عن عبد العزيز - يعني: ابن أبي رواد -قال: بلغني أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - تلا هذه الآية: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ [التحريم: 6] وعنده بعض أصحابه، وفيهم شيخٌ، فقال الشيخ: يا رسول الله! حجارةُ جهنَّم كحجارة الدنيا؟ فقال النبي - صلى الله عليه وسلم -: «والذي نفسي بيده؛ لصخرةٌ من جهنم أعظمُ من جبال الدنيا كلها»، قال: فوقع الشيخُ مغشيًّا عليه، ووضع النبي - صلى الله عليه وسلم - يدَه على فؤاده فإذا هو حيٌّ، فناداه قال: «يا شيخُ! قل: لا إله إلا الله»، فقالها، فبشَّره النبي - صلى الله عليه وسلم - بالجنة، فقال بعض أصحابه: يا رسول الله! أمن بيننا؟ قال: «نعم، يقول الله تعالى: ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ [إبراهيم: 14]».

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim rahimahullah dari Abdul Aziz ibnu Abi Rowwad rahimahullah berkata telah sampai dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya beliau membaca firman Allah Ta'ala:  

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ .... ﴿٦﴾

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; .....  (Q.S.66:6)

Dan disekeliling Nabi Shallallahu alaihi wa sallam terdapat banyak sahabat dan diantara nya seseorang yang sudah berumur, dan bertanya, wahai Rasulullah, bebatuan neraka jahanam apakah seperti bebatuan didunia? ....

Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: " Demi yang jiwaku berada dalam genggaman Nya , sungguh bebatuan di neraka jahanam lebih besar daripada seluruh gunung gunung di dunia ". 

Maka orang tua tersebut terjatuh pingsan, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam memeriksa nya dan meletakkan tangan nya di dada orang tersebut dan ternyata ia masih hidup, dan Nabi pun berkata kepada nya, wahai orang tua, ucapkan LA ILAHA ILLALLAHU , Maka dia pun mengucapkan nya hingga Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memberikan kabar gembira bahwa ia masuk surga. 

Maka sebagian para sahabat bertanya, wahai Rasulullah, apakah hal tersebut juga berlaku bagi kita semua?

Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Ya benar. 

Allah Ta'ala berfirman; 

 ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِى وَخَافَ وَعِيدِ ﴿١٤﴾

"Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku"." (Q.S.14:14)

Dahulu para generasi salaf terdominasi perasaan mereka takut kepada Allah Ta'ala hingga mereka tekun dalam beramal ibadah dan rajin berharap kepada Allah Ta'ala hingga keadaan mereka menjadi baik dan akhir kehidupan mereka harum. 

وقال أمير المؤمنين علي - رضي الله عنه - وقد سلَّم من صلاة الفجر وقد علاه كآبة، وهو يُقلِّبُ يدَه -: "لقد رأيتُ أصحاب محمدٍ - صلى الله عليه وسلم - فلم أر اليوم شيئًا يُشبِههم، لقد كانوا يُصبِحون شُعثًا صُفرًا غُبرًا، بين أعينهم أمثالُ رُكَب المِعزَى، قد باتوا لله سُجَّدًا وقيامًا، يتلون كتابَ الله، يُراوِحون بين جِباههم وأقدامهم، فإذا أصبَحوا ذكروا الله فمادُوا كما يميدُ الشجر في يوم الريح، وهمَلت أعينهم بالدموع حتى تبُلّ ثيابهم".

Amirul mukmin Aly radhiyallahu anhu telah salam dari Sholat subuh dan sakitnya telah memuncak, dan membalikkan tangan beliau seraya berkata: " Aku dahulu melihat para sahabat sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam namun sekarang ia tidak lagi melihat orang orang yang serupa dengan mereka, dahulu mereka para sahabat diwaktu subuh wajah wajah mereka layu mengurus dan menguning dan dihadapan mereka seolah rombongan perang padahal semalam suntuk mereka berdiri dan sujud membaca ayat ayat Allah Ta'ala, mereka bersandar dengan kaki kaki mereka dan kening kening mereka(sujud), dan apabila diwaktu pagi mereka banyak berdzikir kepada Allah Ta'ala tegak penuh khusyuk bak layaknya sebuah pohon yang teguh menjulang tatkala diterpa angin dan mata mata mereka berkaca kaca mengalirkan tetesan hingga membasahi baju baju mereka ".

ففي الحديث القدسي: "وعزتي وجلالي لا أجمع على عبدي أمنين، ولا أجمع عليه خوفين؛ إن أمنني في الدنيا أخفته في الآخرة، وإن خافني في الدنيا أمنته يوم القيامة".

Disebutkan dalam hadits Qudsi, Allah Ta'ala berfirman: " Demi keagungan Ku dan kemuliaan Ku , tidak akan Aku kumpulkan  pada seseorang hamba dua rasa aman dan dua rasa takut,  jika seseorang hamba mendapatkan rasa aman tatkala ia didunia maka sungguh aku akan beri ketakutan ketika di akhirat , dan sekiranya ia merasa takut Kepada Ku didunia maka niscaya Aku akan berikan rasa aman ketika di akhirat ". 

قال أبو حفص عمر بن مسلمة الحداد النيسابوري: الخوف سراج في القلب، به يبصر ما فيه من الخير والشر، وكل أحد إذا خفته هربت منه، إلا الله عز وجل فإنك إذا خفته هربت إليه. فالخائف من ربه هارب إليه.

وقال أبو سليمان: ما فارق الخوف قلباً إلا خرب

وقال إبراهيم بن سفيان: إذا سكن الخوف القلوب أحرق مواضع الشهوات منها، وطرد الدنيا عنه

وقال ذو النون: الناس على الطريق ما لم يَزُلْ عنهم الخوف؛ فإذا زال الخوف ضلّوا الطريق.

Abu Hafs Umar ibnu Salamah Al Haddad An Naisabury rahimahullah berkata: " rasa takut kepada Allah Ta'ala merupakan pelita dan cahaya di dalam hati manusia,  dengan nya seseorang dapat melihat dan membedakan antara kebaikan dan keburukan, dan seseorang apabila merasa takut niscaya ia akan lari menjauh darinya kecuali takut kepada Allah engkau akan lari mendekat Nya, maka seseorang yang takut kepada Tuhannya ia akan mendekat Nya ". 

Berkata Abu Sulaiman rahimahullah: " Tidaklah rasa takut yang meninggalkan dari hati manusia kecuali akan merusak hati tersebut ". 

Ibrahim  ibnu Sufyan rahimahullah berkata: " Jika sekiranya rasa takut kepada Allah Ta'ala berada dalam hati manusia maka niscaya akan menyingkirkan syahwat dalam hati nya dan akan mengusir cinta dunia dalam hati nya ".

Dzun Nun rahimahullah berkata: " Sesungguhnya para manusia senantiasa berada pada jalan yang lurus selagi memiliki rasa takut kepada Allah Ta'ala, jika sekiranya tercabut rasa takut tersebut niscaya akan tersesat dari jalan yang benar ".

📓📓📓📗📓📓📓