Rabu, 04 September 2024

SYUKUR


SYUKUR 


Oleh: Dr. Mehran Maher Othman

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang



Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Aku bershalawat dan salam kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. Amma ba’du;

Di antara ibadah besar yang buahnya bisa dirasakan oleh manusia di dunia maupun di akhirat adalah syukur kepada Allah Ta’ala atas segala nikmat yang diberikan-Nya. Syukur adalah separuh dari agama, sebagaimana yang disampaikan oleh para ulama salaf. Kitab Allah juga dipenuhi dengan perintah untuk bersyukur, dan tidak ada ayat yang diakhiri dengan firman-Nya: {agar kamu bersyukur} atau {semoga kamu bersyukur}, kecuali ia adalah perintah untuk bersyukur.

Berikut ini adalah risalah yang membahas beberapa hal terkait syukur.


Makna Syukur:

Definisi terbaik tentang syukur adalah pengakuan terhadap kebaikan.
Ada juga yang mengatakan: pengakuan atas nikmat dari Sang Pemberi dengan sikap tunduk.
Ibnu Qayyim berkata: "Syukur adalah munculnya pengaruh nikmat Allah pada lisan hamba-Nya: dengan pujian dan pengakuan, pada hatinya: dengan kesaksian dan cinta, dan pada anggota badannya: dengan ketaatan dan kepatuhan." [Madarij As-Salikin (2/244)].
Ini menunjukkan bahwa syukur memiliki tiga rukun.


Rukun Syukur:

1. Mengakui nikmat dalam hati.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: "Manusia diberi hujan pada masa Nabi ﷺ, lalu Nabi ﷺ bersabda: 'Di antara mereka ada yang bersyukur dan ada yang kafir. Mereka berkata: Ini adalah rahmat Allah. Sedangkan sebagian mereka berkata: Telah benar apa yang dikatakan oleh bintang anu dan anu.'" [Muslim].

2. Mengungkapkannya dan memuji Sang Pemberi.
Allah Ta’ala berfirman: {Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)} [Adh-Dhuha: 11].

3. Menggunakannya dalam ketaatan kepada Sang Pemberi nikmat.
Allah Ta’ala berfirman: {Beramallah, hai keluarga Dawud, sebagai wujud syukur} [Saba': 13].
Makna ayat ini adalah: Wahai keluarga Dawud, beramallah sebagai rasa syukur kepada Allah atas apa yang telah diberikan kepada kalian, yaitu dengan menaati-Nya dan melaksanakan perintah-Nya.

Oleh karena itu, seorang penyair berkata:
"Engkau berikan kepadaku nikmat tiga hal: Tangan, lidah, dan hati yang tersembunyi."

Abu Abdurrahman Al-Hubli berkata: "Shalat adalah syukur, puasa adalah syukur, dan setiap kebaikan yang engkau lakukan untuk Allah adalah syukur. Dan syukur yang paling utama adalah pujian." [Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir].


Perbedaan antara Syukur dan Hamd:

Ada dua perbedaan:

1. Syukur dilakukan dengan anggota badan, sedangkan hamd dilakukan dengan lisan dan hati.
Oleh karena itu, kita mendengar tentang sujud syukur, tetapi tidak pernah mendengar tentang sujud hamd, karena syukur dilakukan dengan anggota badan. Sebagaimana telah dijelaskan dalam rukun syukur bahwa syukur dilakukan dengan menggunakan nikmat dalam ketaatan kepada Allah, dan ini adalah amal yang dilakukan dengan anggota badan.

2. Syukur dilakukan saat mendapatkan nikmat, sedangkan hamd dilakukan dalam segala keadaan. Rasulullah ﷺ ketika mendapatkan kabar gembira beliau mengucapkan: "Alhamdulillah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna." Dan jika mendapatkan musibah beliau mengucapkan: "Alhamdulillah atas segala keadaan."


Syukur adalah sifat Allah:

Di antara nama-nama Allah adalah Asy-Syakir dan Asy-Syakur.

Allah Ta’ala berfirman: {Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syiar Allah, maka barangsiapa yang berhaji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya untuk melakukan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebaikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui} [Al-Baqarah: 158].

Dan Allah Ta’ala berfirman: {Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri} [Asy-Syura: 23].

Dan Allah Ta’ala berfirman: {Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Penyantun} [At-Taghabun: 17].

Allah tidak menyia-nyiakan amal kebaikan seseorang, mensyukuri amal yang sedikit tetapi ikhlas, dan mengampuni banyak kesalahan.
 Bahkan Allah melipatgandakannya berkali-kali lipat tanpa perhitungan.
Salah satu bentuk syukur-Nya adalah memberikan kenikmatan di akhirat yang tidak terbatas atas amal yang dilakukan dalam waktu yang terbatas di dunia, {Makan dan minumlah dengan nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu} [Al-Haqqah: 24].

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Suatu ketika, seorang laki-laki sedang berjalan lalu ia merasa sangat haus. Kemudian ia turun ke sebuah sumur dan minum darinya. Setelah keluar, ia melihat seekor anjing menjilat tanah karena sangat haus. Laki-laki itu berkata: 'Anjing ini telah merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan.' Lalu ia mengisi sepatunya dengan air, memegangnya dengan mulutnya, lalu memanjat keluar dan memberi minum kepada anjing itu. Maka Allah mensyukurinya dan mengampuninya." Para sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, apakah kita juga mendapat pahala karena (berbuat baik) kepada binatang?" Rasulullah ﷺ menjawab: "Pada setiap makhluk hidup yang memiliki hati yang lembut (ada pahala)." [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim].

Dalam banyak hadits disebutkan bahwa barangsiapa yang melakukan amal kebaikan tertentu, maka baginya surga. Ini adalah bukti bahwa Allah adalah Asy-Syakur, yang memberikan balasan berlipat ganda kepada hamba-Nya, dan memberikan banyak pahala atas amal yang sedikit. Betapa Maha Penyayangnya Allah sebagai Tuhan kita! Betapa Maha Agungnya Dia sebagai Tuhan!


Syukur adalah sifat para nabi:

Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh ‘alaihis salam: {Anak keturunan orang-orang yang Kami bawa bersama Nuh, sesungguhnya dia adalah hamba yang banyak bersyukur} [Al-Isra’: 3].

Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salam: {Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan selalu bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus} [An-Nahl: 120-121].

Dan pemimpin orang-orang yang bersyukur adalah Nabi kita Muhammad ﷺ.

 Diriwayatkan dari Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ berdiri untuk shalat hingga kedua kakinya bengkak. Lalu beliau ditanya, dan beliau menjawab: "Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim].


Perintah untuk bersyukur:

Allah Ta’ala berfirman: {Ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan mengingatmu, bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat-Ku)} [Al-Baqarah: 152].

Allah Ta’ala berfirman: {Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu} [Luqman: 14].

Nabi kita Muhammad ﷺ juga memerintahkan kita untuk bersyukur: {Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka sembahlah Allah saja, dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur"} [Az-Zumar: 65-66].

Allah Ta’ala juga memerintahkan Nabi Musa ‘alaihis salam untuk bersyukur: {Hai Musa, sesungguhnya Aku telah memilih kamu dari manusia yang ada, untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, maka berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur} [Al A'rof 144)

Dan Allah juga memerintahkan kepada orang-orang yang beriman: "Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allah jika hanya kepada-Nya kalian menyembah." (QS. Al-Baqarah: 172).

Allah berfirman: "Dan suatu tanda bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami menghidupkannya dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka dari itu mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur, dan Kami pancarkan padanya mata air, agar mereka dapat makan dari buahnya, dan bukan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka, mengapa mereka tidak bersyukur?" (QS. Yasin: 33-35).

Dan Allah juga berfirman: "Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Kami telah menciptakan untuk mereka hewan ternak dengan kekuasaan Kami, sehingga mereka menjadi pemiliknya. Dan Kami tundukkan hewan-hewan itu untuk mereka, sehingga sebagian mereka jadikan sebagai kendaraan dan sebagian lagi mereka makan. Dan bagi mereka terdapat manfaat-manfaat lain darinya, serta minuman. Maka, mengapa mereka tidak bersyukur?" (QS. Yasin: 71-73).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Allah Azza wa Jalla berfirman pada hari kiamat: 'Wahai anak Adam, Aku telah membawa kalian di atas kuda dan unta, Aku nikahkan kalian dengan para wanita, dan Aku jadikan kalian sebagai pemimpin dan kepala kaum, maka di manakah rasa syukur atas semua itu?'" (HR. Ahmad).

Keterangan:

- "Terba'" maksudnya adalah mendapatkan seperempat dari harta rampasan perang.
- "Tara'as" maksudnya adalah menjadi pemimpin atau kepala kaum.


Buah dari Syukur:

1. Merupakan Ciri-Ciri Orang Beriman:

Dalam Shahih Muslim, dari Shuhaib radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman; sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik, dan hal ini tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali orang yang beriman. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, dan itu adalah kebaikan baginya. Dan jika dia mendapat kesusahan, dia bersabar, dan itu adalah kebaikan baginya."

2. Menjadi Penyebab Ridha Allah kepada Hamba-Nya:

Allah Ta'ala berfirman: "Jika kamu bersyukur, Dia akan meridhai kamu." (QS. Az-Zumar: 7).

3. Menjadi Perlindungan dari Azab:

Allah Ta'ala berfirman: "Mengapa Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman?" (QS. An-Nisa: 147).

Qatadah rahimahullah berkata: "Sesungguhnya Allah Yang Maha Agung tidak akan menyiksa orang yang bersyukur dan beriman." (Tafsir Ath-Thabari: 9/342).

4. Menjadi Penyebab Bertambahnya Nikmat:

Allah Ta'ala berfirman: "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu'." (QS. Ibrahim: 7).

Beberapa ulama salaf rahimahumullah berkata: "Nikmat itu liar, maka ikatlah ia dengan syukur."

Al-Hasan Al-Bashri berkata: "Sesungguhnya Allah akan memberikan kenikmatan selama yang Dia kehendaki, tetapi jika tidak disyukuri, Dia akan mengubahnya menjadi azab. Oleh karena itu, mereka (para ulama) menyebut syukur sebagai penjaga, karena syukur menjaga nikmat yang ada, dan sebagai pengundang, karena syukur mengundang nikmat yang hilang."

5. Pahala Besar di Akhirat:

Allah Ta'ala berfirman: "Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (QS. Ali Imran: 145).

Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (QS. Ali Imran: 144).



Peringatan terhadap Pengingkaran dan Ketidaksyukuran:

Saya cukupkan dengan menyebutkan dua peristiwa yang disebutkan dalam Al-Qur'an:

   Pertama:

Allah Ta'ala berfirman: "Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), 'Makanlah dari rezeki yang diberikan Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun.' Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirimkan kepada mereka banjir besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami membalas mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak memberi balasan (yang demikian itu), kecuali kepada orang-orang yang sangat kafir." (QS. Saba': 15-17).

Al-Arim: Air yang meluap, ini adalah bentuk penamaan dengan sifatnya.

Khamth: Buah yang pahit.

Atsl: Pohon yang tidak berbuah.

      Kedua:

Allah Ta'ala berfirman: "Dan Allah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat." (QS. An-Nahl: 112).

Ungkapan "pakaian" digunakan karena ia selalu melekat pada pemakainya, maka kelaparan dan ketakutan selalu menyelimuti mereka, seperti pakaian yang selalu melekat pada tubuh.



Bagaimana Kita Bisa Menjadi Orang yang Bersyukur?

- Dengan menjalankan rukun-rukun syukur yang telah disebutkan sebelumnya.

- Dengan bersyukur kepada orang yang telah berbuat baik kepadamu dari kalangan manusia.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia." (HR. At-Tirmidzi).

Dalam Sunan Abi Dawud, dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi Allah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang telah berbuat kebaikan kepadamu, maka balaslah ia. Jika kamu tidak menemukan apa yang dapat kamu balas dengannya, maka doakanlah dia hingga kamu merasa bahwa kamu telah membalas kebaikannya."

Dan dari Jabir radhiyallahu 'anhuma, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang diberikan sesuatu, lalu ia menemukan (sesuatu untuk membalasnya), maka balaslah. Jika tidak, maka pujilah. Sesungguhnya orang yang memuji berarti telah bersyukur, dan barang siapa yang menyembunyikannya berarti telah kufur." (HR. Abu Dawud).

Dan dari Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang berbuat kebaikan kepadanya, lalu ia berkata kepada pelakunya: 'Jazakallahu khairan,' maka sungguh ia telah mencapai pujian yang sempurna." (HR. At-Tirmidzi).

- Dengan merenungkan nikmat-nikmat Allah atasmu:

Allah Ta'ala berfirman: "Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kalian bersyukur." (QS. An-Nahl: 78).

Yunus bin Ubaid rahimahullah berkata kepada seorang yang mengeluhkan kesempitan hidupnya: "Apakah kamu rela jika penglihatanmu ini diganti dengan seratus ribu dirham?" Orang itu menjawab: "Tidak." Yunus berkata: "Apakah kamu rela jika tanganmu diganti dengan seratus ribu?" Dia menjawab: "Tidak." Yunus bertanya lagi: "Apakah kamu rela jika kedua kakimu diganti dengan seratus ribu?" Dia menjawab: "Tidak." Maka Yunus mengingatkannya akan nikmat-nikmat Allah padanya, lalu berkata: "Aku melihat engkau memiliki ratusan ribu (nikmat), tetapi engkau mengeluhkan kebutuhanmu?"

- Dengan bertakwa kepada Allah dan beramal dalam ketaatan kepada-Nya:

Allah Ta'ala berfirman: "Dan sungguh Allah telah menolong kalian dalam Perang Badar, padahal kalian dalam keadaan lemah. Maka bertakwalah kepada Allah, agar kalian bersyukur." (QS. Ali Imran: 123).

Ibnu Ishaq berkata: "Artinya: Maka bertakwalah kepada-Ku, karena itu adalah bentuk syukur atas nikmat-Ku." (As-Sirah 3/113).

- Dengan merasa cukup dan ridha dengan apa yang Allah bagikan untukmu:

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jadilah engkau orang yang merasa cukup, niscaya engkau menjadi orang yang paling bersyukur." (HR. Ibnu Majah).

- Dengan Shalat Dhuha:

Dari Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Setiap pagi di atas setiap persendian dari salah seorang dari kalian terdapat sedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan yang ma'ruf adalah sedekah, dan mencegah yang mungkar adalah sedekah, dan semua itu dapat diganti dengan dua rakaat yang dilakukan pada waktu Dhuha." (HR. Bukhari dan Muslim).

- Dengan Sujud Syukur:

Dari Abu Bakrah Nufai' bin Al-Harith radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, apabila datang kepada beliau suatu kabar yang menggembirakan, beliau segera sujud sebagai bentuk syukur kepada Allah. (HR. Abu Dawud).

Sujud ini tidak disyaratkan wudhu dan menghadap kiblat.

Nikmat itu terbagi dua: Nikmat yang terus menerus dan nikmat yang baru. Untuk nikmat yang baru, manusia bersujud kepada Allah ketika ia diberikan kenikmatan tersebut.


- Dengan mengucapkan saat pagi dan petang: "Ya Allah, apa pun nikmat yang ada padaku atau pada makhluk-Mu, itu semua berasal dari-Mu semata, tiada sekutu bagi-Mu. Maka hanya bagi-Mu segala pujian dan syukur."

Dari Abdullah bin Ghannam Al-Bayadhi radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang mengucapkan ketika pagi hari: 'Ya Allah, apa pun nikmat yang ada padaku atau pada makhluk-Mu, itu semua berasal dari-Mu semata, tiada sekutu bagi-Mu. Maka hanya bagi-Mu segala pujian dan syukur.' Maka ia telah menunaikan syukur untuk hari itu, dan barangsiapa yang mengucapkan demikian ketika petang hari, maka ia telah menunaikan syukur untuk malamnya." (HR. Abu Dawud).



Kesejahteraan dengan syukur lebih baik daripada cobaan dengan kesabaran:


Mutarrif rahimahullah berkata: "Lebih baik aku sehat dan bersyukur daripada aku diuji dengan cobaan lalu bersabar." (Mukhtashar Minhaj Al-Qasidin, hal. 295).

         Penutup:

Jika syukur memiliki kedudukan yang demikian tinggi, maka patutlah bagi kita untuk selalu berdoa dengan doa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memegang tangannya dan bersabda: "Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, maka janganlah engkau meninggalkan doa di setiap akhir shalat dengan mengucapkan: 'Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.'" (HR. Abu Dawud).

Dalam Sunan At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berdoa dengan mengucapkan: "Ya Rabb, bantulah aku dan jangan Engkau tolong (orang lain) melawan aku, tolonglah aku dan jangan Engkau tolong (orang lain) melawan aku, tipu muslihatkanlah untukku dan jangan Engkau tipu muslihatkan (orang lain) melawan aku, berikan petunjuk kepadaku dan mudahkanlah hidayah untukku, dan tolonglah aku terhadap orang yang berbuat aniaya kepadaku. Ya Rabb, jadikanlah aku orang yang banyak bersyukur, banyak berdzikir, banyak takut, banyak taat, banyak khusyuk, banyak bertaubat, banyak kembali kepada-Mu, ya Rabb, terimalah tobatku, bersihkan dosaku, kabulkan doaku, teguhkan hujjahku, luruskan lisanku, berikanlah petunjuk kepada hatiku, dan hilangkan kedengkian dari dadaku."

Pembaca yang terhormat, semoga Allah menjadikan saya dan Anda termasuk orang-orang yang paling bersyukur.

Ya Allah, limpahkanlah salawat, salam, berkah, dan nikmat-Mu kepada junjungan kami Nabi Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.

KEDUDUKAN SYUKUR

KEDUDUKAN SYUKUR 




Ditulis oleh: Komite Ilmiah  

Grup: Edisi Rabiul Akhir 1438 H  



Pendahuluan:


Alhamdulillah, Was Sholatu was Salamu ala Rosulillah, wa ba'du;

Sejak manusia pertama kali menangis keluar dari rahim ibunya, ia telah berada dalam limpahan nikmat Allah, berbolak-balik dari pagi hingga malam. Tidak ada satu pun momen yang berlalu kecuali di dalamnya terdapat nikmat dari Allah yang wajib disyukuri.


Allah berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan bahwa Allah telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan di bumi, dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya yang zahir dan yang batin. Namun di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu atau petunjuk atau kitab yang memberi penerangan.”(QS. Luqman: 20)


Allah telah memberikan banyak nikmat kepada manusia seperti matahari, bulan, bintang, awan, hewan, tumbuhan, air, laut, dan kapal. Semua itu diperuntukkan bagi manfaat mereka, untuk makanan, rezeki, dan kesenangan mereka. Mereka menikmati sebagian dari semuanya itu dan memanfaatkan semuanya. Namun demikian, tidak semua manusia beriman. Bahkan, di antara mereka ada yang membantah Allah, yakni tentang keesaan-Nya dan pengutusan rasul-Nya. Bantahan mereka tersebut dilakukan tanpa ilmu, tanpa dasar argumen yang benar, dan tanpa kitab yang benar (berasal dari Allah) sebagai petunjuk.


Sebaliknya, banyak orang - kecuali yang dirahmati Allah - yang menyambut semua nikmat ini dengan kekufuran, pengingkaran, dan penolakan. Nikmat yang tidak disyukuri akan berubah menjadi malapetaka bagi pemiliknya.


Makna Syukur:


Ibn Manzur berkata: "Syukur adalah mengenali kebaikan dan menyebarkannya."


Al-Kafawi berkata: "Asal makna syukur adalah membayangkan nikmat dan menampilkannya. Syukur dari hamba adalah mengenali kebaikan, dan dari Allah adalah balasan dan pujian yang indah."


Al-Munawi berkata: "Syukur terbagi menjadi dua: yang pertama adalah syukur dengan lisan, yakni memuji pemberi nikmat. Yang kedua adalah syukur dengan seluruh anggota badan, yakni membalas nikmat sesuai dengan kadar haknya."


Ibn Qayyim berkata: "Syukur adalah tampaknya pengaruh nikmat Allah pada lisan hamba-Nya berupa pujian dan pengakuan, pada hatinya berupa kesaksian dan cinta, serta pada anggota tubuhnya berupa ketaatan dan kepatuhan. Dikatakan pula bahwa syukur adalah pengakuan terhadap nikmat pemberi nikmat dengan penuh kerendahan hati."


Abu Abdurrahman al-Hubuli berkata: "Shalat adalah bentuk syukur, puasa adalah bentuk syukur, dan setiap kebaikan yang dilakukan untuk Allah adalah syukur. Dan syukur yang terbaik adalah pujian."

(Diriwayatkan oleh Ibn Jarir)


Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim meriwayatkan dari Muhammad ibn Ka'b al-Quradhi bahwa ia berkata: "Syukur adalah takwa kepada Allah dan amal saleh."


  Kedudukan Syukur:


Kedudukan syukur sangat tinggi sehingga Allah Ta'ala menyebut diri-Nya sebagai "Syakir" (Yang Maha Bersyukur) dan "Syakur" (Yang Maha Menghargai). Ia juga menyebut orang-orang yang bersyukur dengan kedua nama tersebut, memberikan mereka sifat-Nya, dan menyebut mereka dengan nama-Nya. Hal ini cukup untuk menunjukkan betapa besar kasih sayang dan keutamaan-Nya bagi orang-orang yang bersyukur.


Allah berfirman: "Agar Allah menyempurnakan pahala mereka dan menambah karunia-Nya kepada mereka. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri."(QS. Fathir: 30)


Allah juga berfirman: "Dan mereka berkata, segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan segala kesedihan dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri."(QS. Fathir: 34)


Allah berfirman: "Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Dia melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untukmu dan mengampuni dosamu. Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Penyantun." (QS. At-Taghabun: 17)


Allah berfirman: "Mengapa Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Bersyukur lagi Maha Mengetahui." (QS. An-Nisa: 147)


Allah memuji hamba-hamba-Nya yang bersyukur dalam Al-Quran, termasuk para nabi. Sebagai contoh, Allah memuji Nabi Nuh Alaihi salam yang merupakan rasul pertama yang diutus karena syukurnya, dengan berfirman: "Keturunan orang-orang yang Kami bawa bersama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Kami) yang banyak bersyukur." (QS. Al-Isra: 3)


Allah juga memuji kekasih-Nya, Ibrahim Alaihisalam, atas rasa syukurnya terhadap nikmat-nikmat-Nya, dengan berfirman: "Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan, yang patuh kepada Allah lagi lurus, dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya ke jalan yang lurus." (QS. An-Nahl: 120-121)


Allah berfirman kepada keluarga Daud Alaihisalam.: "Beramallah kalian, wahai keluarga Daud, sebagai bentuk syukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur." (QS. Saba: 13)


Bukti Kedudukan Tinggi Syukur:


1. Merupakan Salah Satu Dasar Agama:


Ibn Qayyim berkata: "Agama ini dibangun di atas dua dasar, yakni dzikir dan syukur. Allah berfirman: 'Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.' (QS. Al-Baqarah: 152)."


2. Disandingkan dengan Iman:


Allah berfirman: "Mengapa Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Bersyukur lagi Maha Mengetahui."(QS. An-Nisa: 147)


Allah menyandingkan syukur dengan iman, dan menyatakan bahwa Dia tidak akan menyiksa hamba-Nya jika mereka bersyukur dan beriman kepada-Nya.


3. Tuntutan Allah dari Hamba-Nya:


Allah berfirman: "Bersyukurlah kepada Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya."(QS. Al-Baqarah: 172)


Allah berfirman: "Bersyukurlah atas nikmat Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya." (QS. An-Nahl: 114)


As-Sa'di berkata: "Firman-Nya: 'Jika kamu hanya menyembah kepada-Nya' artinya adalah bersyukurlah kepada-Nya. Ini menunjukkan bahwa barang siapa yang tidak bersyukur kepada Allah, maka ia tidak menyembah-Nya dengan benar. Sebaliknya, barang siapa yang bersyukur kepada-Nya, maka ia telah menyembah-Nya dan melaksanakan apa yang diperintahkan."


4. Tujuan Penciptaan dan Perintah-Nya:


Allah berfirman: "Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur." (QS. An-Nahl: 78)


Setelah Allah menjelaskan tentang nikmat-nikmat besar-Nya kepada hamba-hamba-Nya, Dia menutup ayat ini dengan berfirman: *"Agar kamu bersyukur."* Ini menunjukkan bahwa tujuan dari semua ini adalah agar manusia bersyukur. Ini mirip dengan firman-Nya: "Katakanlah: Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan, dan hati. Namun sedikit sekali dari kalian yang bersyukur."(QS. Al-Mulk: 23)


Syukur kepada Allah atas nikmat-nikmat ini dan lainnya dilakukan dengan menggunakan nikmat-nikmat tersebut untuk taat kepada-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya.


5. Orang-Orang yang Bersyukur Sangat Sedikit:


Allah berfirman: "Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur." (QS. Saba: 13)


Ayat ini mendorong kita untuk memperhatikan amal saleh, karena ketika amal disebut sebagai syukur, hal ini mengindikasikan bahwa orang-orang yang melakukannya sangat sedikit.


Syukur hakikatnya adalah mengakui nikmat dari Pemberi nikmat dan menggunakan nikmat tersebut dalam ketaatan kepada-Nya, sementara kekufuran adalah menggunakan nikmat tersebut dalam kemaksiatan. Dan sedikit sekali orang yang melakukannya, karena kebaikan lebih sedikit daripada keburukan, dan ketaatan lebih sedikit daripada kemaksiatan.


Oleh karena itu, Nabi -shalallahu 'alaihi wa sallam- sering melakukan shalat hingga kakinya bengkak, lalu dikatakan kepadanya: "Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang," ia menjawab: "Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?"


6- Syukur yang diterima oleh Tuhan kita yang Maha Agung:


Allah berfirman: {Jika kamu bersyukur, Aku akan menambah nikmat-Ku kepadamu} (Az-Zumar: 7)


Allah meridhoi syukur kepada-Nya karena syukur merupakan sebab kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat, seperti yang dikatakan Allah: {Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat-Ku kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat} (Ibrahim: 7). Jadi, syukur selalu disertai dengan tambahan, dan apabila engkau tidak melihat keadaanmu dalam tambahan, maka sambutlah dengan syukur.




Nikmat-Nikmat yang Sering Terlupakan:



Sesungguhnya Allah Ta'ala telah menganugerahkan nikmat-nikmat kepada hamba-Nya yang tidak terhitung jumlahnya, sebagaimana firman-Nya:


"Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu minta. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)" (Ibrahim: 34). 

Allah meminta mereka untuk bersyukur dan ridha dengan apa yang telah diberikan-Nya.


Maksud dari *"jika kamu menghitung"* adalah: jika kalian mencoba untuk menghitung nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian, bahkan secara umum saja, apalagi secara rinci, kalian tidak akan mampu melakukannya dalam kondisi apapun. Ini termasuk nikmat-nikmat yang sudah biasa diterima sehingga orang-orang lupa bahwa itu adalah nikmat, seperti nikmat bernafas, nikmat pancaindra, dan nikmat pencernaan makanan.


Seorang laki-laki datang kepada Yunus bin Ubaid mengeluhkan kesulitan hidupnya dan merasa sangat tertekan karenanya. Yunus kemudian berkata kepadanya, "Apakah kamu rela dengan penglihatanmu ini, yang dengannya kamu bisa melihat, jika aku menawarkannya seharga seratus ribu?"

 Dia menjawab, *"Tidak."* 

Yunus berkata lagi, *"Bagaimana dengan pendengaranmu yang kamu gunakan untuk mendengar, apakah kamu rela jika aku menawarkannya seharga seratus ribu?"* Dia menjawab, *"Tidak."

Yunus melanjutkan, *"Bagaimana dengan lidahmu yang kamu gunakan untuk berbicara, apakah kamu rela jika aku menawarkannya seharga seratus ribu?"* Dia menjawab, *"Tidak."* 

Yunus bertanya lagi, *"Bagaimana dengan hatimu yang kamu gunakan untuk berpikir, apakah kamu rela jika aku menawarkannya seharga seratus ribu?"* 

Dia menjawab, *"Tidak."* 

Kemudian Yunus menyebutkan nikmat-nikmat Allah yang ada pada dirinya dan berkata, *"Aku melihat kamu memiliki ratusan ribu, tetapi kamu masih mengeluhkan kekurangan."


Sesungguhnya nikmat-nikmat Allah atas hamba-Nya sangatlah banyak, hingga sulit untuk dihitung atau diperkirakan, dan hanya sedikit yang bersyukur atasnya, sebagaimana Allah berfirman:


"Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur." (Saba: 13).


Allah juga berfirman: "Dan sungguh, Kami telah menempatkan kalian di bumi dan Kami jadikan di sana sumber penghidupan bagi kalian, tetapi sedikit sekali kalian bersyukur." (Al-A'raf: 10).


Dan juga firman-Nya: "Katakanlah: 'Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.'" (Al-Mulk: 23).



Hendaknya orang-orang yang lalai dari bersyukur atas nikmat-nikmat Allah berhati-hati, karena Allah akan menanyakan tentang hal itu pada hari kiamat.


Dalam sebuah hadits disebutkan: "Sesungguhnya Allah Ta'ala akan menemui hamba pada hari kiamat, lalu berkata: 'Wahai Fulan, bukankah Aku telah memuliakanmu, menjadikanmu seorang pemimpin, menikahkanmu, menundukkan kuda dan unta untukmu, dan memberimu kekuasaan? Maka ia menjawab: 'Benar, wahai Tuhanku.' Kemudian Allah berkata: 'Apakah kamu menyangka bahwa kamu akan bertemu dengan-Ku?' Ia menjawab: 'Tidak.' Maka Allah berkata: 'Aku melupakanmu sebagaimana kamu melupakan-Ku.' Kemudian Allah menemui orang kedua dan berkata kepadanya seperti yang dikatakan kepada yang pertama, dan ia menjawab: 'Ya Tuhanku, aku beriman kepada-Mu, kepada Kitab-Mu, dan kepada rasul-rasul-Mu, aku shalat, puasa, dan bersedekah.' Maka Allah berkata: 'Jika demikian, apakah kamu menyangka bahwa kamu akan bertemu dengan-Ku?' Ia menjawab: 'Tidak.' Maka Allah berkata: 'Aku melupakanmu sebagaimana kamu melupakan-Ku.' Lalu Allah menemui yang ketiga, dan berkata kepadanya seperti yang dikatakan kepada yang pertama. Ia berkata: 'Ya Tuhanku, aku beriman kepada-Mu, dan kepada Kitab-Mu, dan kepada rasul-rasul-Mu, aku shalat, berpuasa, dan bersedekah.' Maka Allah berkata: 'Jika demikian, maka Aku akan menolongmu sebagaimana kamu telah menolong-Ku.'" (HR. Bukhari dan Muslim).


Dalam riwayat lain: Allah Ta'ala berkata, "Wahai anak Adam, pada hari kiamat Aku telah menundukkan kuda dan unta untukmu, dan Aku telah menikahkanmu dengan istri-istrimu, serta Aku telah memberikan kekuasaan padamu, maka dimanakah syukurmu atas nikmat-nikmat tersebut?"


Barangsiapa yang tidak mampu bersyukur atas nikmat Allah, maka hendaklah segera bertaubat kepada Allah Ta'ala. 


Sebagaimana yang dikatakan oleh Thalq bin Habib: "Sesungguhnya hak-hak Allah terlalu berat untuk dipikul oleh hamba-hamba-Nya, dan nikmat-nikmat Allah terlalu banyak untuk dihitung oleh hamba-hamba-Nya. Tetapi, hendaklah kalian menjadi orang-orang yang senantiasa bertaubat di pagi hari dan sore hari."



Syukur didasarkan pada lima prinsip:


1. Ketundukan orang yang bersyukur kepada yang disyukuri.

2. Cintanya kepada-Nya.

3. Pengakuannya atas nikmat-Nya.

4. Memuji-Nya atas nikmat tersebut.

5. Tidak menggunakannya untuk sesuatu yang dibenci oleh-Nya.


Kelima prinsip ini adalah dasar dari syukur. Jika salah satu dari prinsip ini hilang, maka prinsip syukur menjadi kurang sempurna.



Beberapa hal yang dapat membantu dalam bersyukur atas nikmat:


- Mengakui nikmat-nikmat Allah dan mengingat bahwa semuanya berasal dari karunia dan rahmat-Nya. Umar bin Abdul Aziz berkata: "Ingatlah nikmat-nikmat, karena barangsiapa yang mengingatnya, ia akan bersyukur atasnya."


- Memperbanyak ibadah dan amal shaleh sebagai wujud syukur dan pujian kepada Allah atas nikmat-Nya.


- Memperbanyak doa dan memohon pertolongan kepada Allah untuk dapat bersyukur dan beribadah dengan baik kepada-Nya.


- Memikirkan besarnya pertanyaan Allah tentang nikmat-nikmat tersebut pada hari kiamat, sebagaimana firman-Nya: "Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu peroleh di dunia itu)." (At-Takatsur: 8). 

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata: "Nikmat yang dimaksud adalah kesehatan tubuh, pendengaran, dan penglihatan. Allah akan menanyakan kepada hamba bagaimana mereka memanfaatkannya."


- Meninggalkan dosa dan maksiat karena hal itu menghilangkan nikmat dan mendatangkan azab.


- Melihat orang yang berada di bawah dalam hal duniawi karena hal itu akan membantu untuk mengingat nikmat-nikmat yang ada. 


Sebagaimana sabda Nabi Shallallahualaihiwasallam : "Lihatlah orang yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian." (HR. Muslim).



Buah dari Bersyukur:


Sesungguhnya keutamaan bersyukur adalah salah satu nikmat terbesar, dan tidak ada yang dapat mempertahankan nikmat ini kecuali dengan pertolongan dari Allah. 

Oleh karena itu, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memberikan wasiat kepada Mu’adz Radhiyallahu anhu dengan berkata: "Aku wasiatkan kepadamu, wahai Mu’adz, jangan lupa untuk mengucapkan di akhir setiap shalat: 'Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.'" (HR. Abu Dawud).


Doa Nabi Shallallahualaihiwasallam: "Ya Rabb, bantulah aku dan jangan Engkau membantu melawan diriku, tolonglah aku dan jangan Engkau menolong orang yang melawanku, rencanakanlah kebaikan untukku dan jangan Engkau merencanakan yang buruk terhadapku, tunjukkanlah dan mudahkanlah petunjuk bagiku, dan tolonglah aku melawan orang yang menganiayaku, Ya Rabb, jadikanlah aku orang yang banyak bersyukur kepada-Mu, banyak mengingat-Mu, takut kepada-Mu, taat kepada-Mu, khusyuk kepada-Mu, bertobat kepada-Mu, dan kembali kepada-Mu." (HR. Ahmad).



Manfaat dan buah dari syukur yang kembali kepada hamba:


1. Syukur adalah perlindungan dari azab Allah:

Allah Ta'ala berfirman: "Mengapa Allah akan mengazab kalian jika kalian bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui." (An-Nisa: 147).


2. Syukur adalah sebab bertambahnya nikmat Allah pada seorang hamba. 

Allah Ta'ala berfirman: " Sekiranya kalian bersyukur terhadap nikmat-nikmat-Ku niscaya akan Aku tambah nikmat tersebut, namun bilamana kalian kufur, sesungguhnya adzab Ku sangat pedih sekali ". (Ibrahim: 7)



*****

PENGAWASAN ALLAH TA'ALA


Khutbah Jumat Tanggal 15-8-1435 H



Segala puji bagi Allah, Yang Maha Mengawasi dan Menyaksikan, Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat, Yang Maha Mengetahui dan Maha Memahami, Yang Maha Luas dan Maha Meliputi; Dia mengetahui segala sesuatu dan menghitung segala sesuatu dengan teliti, kegelapan bagi-Nya adalah cahaya, yang gaib bagi-Nya adalah nyata, dan yang tersembunyi bagi-Nya adalah terang benderang. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya; semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, keluarga, dan seluruh sahabatnya.


Amma ba'du, wahai orang-orang beriman, hamba-hamba Allah:

 Bertakwalah kepada Allah Ta'ala, dan ketahuilah bahwa Allah Yang Maha Agung adalah saksi atas kalian, mengawasi kalian, mengetahui segala amal perbuatan kalian, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya, baik di bumi maupun di langit.

 Tidak ada yang luput dari-Nya sebesar zarrah pun, Dia mengetahui segalanya tentang hamba-hamba-Nya dan menghitung segala sesuatu dengan teliti.


Wahai orang-orang beriman, 

hamba-hamba Allah: 

salah satu tingkatan tertinggi dalam agama dan derajat tertinggi dari hamba-hamba Allah yang beriman adalah derajat muraqabah, yaitu selalu sadar dan meyakini bahwa Allah Ta'ala selalu mengetahui dan mengawasi kita, serta mengetahui setiap hal tentang kita, sehingga tidak ada yang tersembunyi dari-Nya.

 Kesadaran dan keyakinan yang berkelanjutan ini akan menumbuhkan rasa takut kepada Allah, meningkatkan kualitas ibadah kepada-Nya, serta menjauhkan diri dari larangan-Nya.


Wahai orang-orang beriman, hamba-hamba Allah: kesadaran akan pengetahuan Allah terhadap kita dan pengawasan-Nya atas kita akan mendatangkan kebaikan yang besar dan keutamaan yang agung; karena salah satu nama Allah yang paling indah adalah "Ar-Raqib" (Yang Maha Mengawasi),


 Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kalian." (An-Nisa: 1), 


Dan Allah berfirman: "Dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu." (Al-Ahzab: 52), 


Dan Allah juga berfirman: "Dan Aku adalah saksi atas mereka selama Aku berada di antara mereka, tetapi setelah Engkau mewafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka, dan Engkau adalah Maha Menyaksikan segala sesuatu." (Al-Ma'idah: 117).


Wahai orang-orang beriman, hamba-hamba Allah: "Ar-Raqib" dari nama-nama Allah menunjukkan kesempurnaan pengawasan Allah atas segala sesuatu dengan kesempurnaan pengetahuan, pendengaran, dan penglihatan-Nya; Dia mengawasi kita dengan pendengaran-Nya yang meliputi segala suara, Dia mengawasi kita dengan penglihatan-Nya yang meliputi segala yang terlihat, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari penglihatan-Nya, dan Dia mengawasi kita dengan pengetahuan-Nya yang meliputi segala sesuatu; tidak ada yang tersembunyi dari-Nya, Dia mengetahui segala sesuatu dan menghitung segala sesuatu dengan teliti.


Wahai orang-orang beriman, hamba-hamba Allah: kesadaran dan pengawasan ini harus diterapkan dalam dua keadaan:


Pertama,


 wahai hamba-hamba Allah: 


Mengawasi Allah Ta'ala dalam melaksanakan perintah-Nya; dalam shalat, puasa, haji, dan semua ketaatan lainnya, kita harus menyadari bahwa Allah mengetahui dan mengawasi kita serta mengetahui setiap keadaan kita; hal ini akan melahirkan kesempurnaan dalam ibadah dan ketaatan kita.


 Oleh karena itu, dalam hadits yang terkenal tentang Jibril ketika ia bertanya kepada Nabi Muhammad tentang derajat ihsan yang merupakan derajat tertinggi dalam agama, Nabi menjawab: 

"Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."


Kedua, 


wahai hamba-hamba Allah: 


Mengawasi Allah Ta'ala dalam menjauhi larangan-Nya; jika jiwa seorang hamba terdorong untuk berbuat maksiat atau melakukan sesuatu yang haram, hendaknya ia mengingat bahwa Allah mengawasi dan mengetahui keadaannya, dan bahwa Allah melihatnya, mendengar perkataannya, dan mengetahui keadaannya, serta tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.


Wahai hamba-hamba Allah:


Di antara manusia ada yang ketika berada dalam kesendirian tidak peduli dengan maksiat yang dilakukannya, tetapi jika ada seekor kucing yang mendekat, dia akan panik, atau jika ada seorang anak kecil yang masuk, dia akan gelisah, atau jika angin menggerakkan jendela kamarnya, dia akan takut!! Namun, dia tetap tidak takut kepada Allah, tidak mengawasi Allah, dan tidak merasa khawatir terhadap Allah!!


 Salah seorang dari salaf berkata kepada seseorang yang meminta nasihat: "Bertakwalah kepada Allah agar jangan sampai Dia menjadi yang paling rendah dari para pengawas terhadapmu."


Ya, wahai hamba-hamba Allah: 


Betapa kita sangat membutuhkan kesadaran ini, terutama di zaman ini yang dipenuhi dengan banyak fitnah dan pintu-pintu keburukan yang terbuka lebar, terutama melalui perangkat dan media modern yang telah membawa banyak kejahatan dan bencana besar kepada banyak orang.


Wahai hamba-hamba Allah: 


Apakah banyak dari mereka yang memiliki perangkat ini dan menggunakannya untuk hal-hal yang haram, menyadari bahwa Allah mengetahui dan mengawasi mereka?! 


Allah Ta'ala berfirman:

"Tidakkah dia mengetahui bahwa Allah melihat?" (Al-'Alaq: 14), 


Allah Ta'ala berfirman: 

"Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka nyatakan?" (Al-Baqarah: 77), 



Allah Ta'ala berfirman: 

"Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada, dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan." (Al-Hadid: 4), 


Allah Ta'ala berfirman: 

"Mereka menyembunyikan (dosa) dari manusia, tetapi mereka tidak menyembunyikan (dosa) dari Allah, padahal Dia bersama mereka ketika mereka merencanakan pada malam hari (perbuatan yang) tidak diridhai-Nya." (An-Nisa: 108).


Wahai orang-orang beriman, hamba-hamba Allah: jika kesadaran ini hilang atau pengawasan ini melemah di hati seorang hamba, hal itu akan menyebabkan bencana besar dan keburukan yang banyak, 


Allah Ta'ala berfirman: "Kalian tidak dapat menyembunyikan (dosa) dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulit kalian, tetapi kalian menyangka bahwa Allah tidak mengetahui banyak dari apa yang kalian lakukan. Dan itulah sangkaan buruk kalian terhadap Tuhan kalian yang telah membinasakan kalian sehingga kalian menjadi orang-orang yang merugi." (Fussilat: 22-23).


Wahai orang-orang beriman, hamba-hamba Allah: betapa kita sangat membutuhkan, terutama di zaman yang penuh dengan fitnah ini, untuk menyadari derajat ini; derajat pengawasan dan rasa takut kepada Allah Ta'ala baik dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan; agar kita bisa meraih pahala yang besar dan tempat kembali yang mulia, 


Allah Ta'ala berfirman: "Surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selamanya, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya." (Al-Bayyinah: 8),


 Dan Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya dalam keadaan tersembunyi, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar." (Al-Mulk: 12), 


Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa, tidak jauh (tempatnya). Inilah yang dijanjikan kepada kalian, yaitu kepada setiap hamba yang selalu bertaubat (kepada Allah) dan selalu memelihara (syariat-Nya); (yaitu) orang yang takut kepada Allah Yang Maha Pemurah meskipun Dia tidak melihat-Nya dan datang dengan hati yang bertaubat. Masuklah ke dalamnya dengan damai, itulah hari kekekalan. Mereka mendapatkan apa yang mereka kehendaki di dalamnya, dan Kami memiliki tambahan (kenikmatan) bagi mereka." (Qaf: 31-35).


Ya Allah, jadikan kami termasuk di antara mereka dengan rahmat, kebaikan, dan kemurahan-Mu, ya Allah, kami memohon kepada-Mu rasa takut kepada-Mu dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan, ya Allah, perbaikilah segala urusan kami dan jangan serahkan kami kepada diri kami sendiri walaupun sekejap mata, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa, Engkau adalah tempat kami bergantung, dan Engkau sebaik-baik pelindung.





Segala puji bagi Allah yang Maha Besar, dan Maha Suci Allah pagi dan petang, dan aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada beliau, keluarga beliau, dan seluruh sahabat beliau.



Amma ba’du wahai orang-orang mukmin, hamba-hamba Allah: Bertakwalah kepada Allah Ta’ala, dan awasilah Dia dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan, sebagaimana orang yang mengetahui bahwa Tuhannya mendengar dan melihatnya.


Wahai orang-orang mukmin, hamba-hamba Allah: Sesungguhnya takwa dan pengawasan terhadap Allah di setiap keadaan akan membawa kepada ridha Allah, serta menghindarkan kita dari azab-Nya yang pedih. Maka, perbaikilah diri kalian, baik dalam keadaan kalian dilihat manusia maupun tidak, dan ketahuilah bahwa kalian selalu berada dalam pengawasan Allah, yang Maha Mengetahui segala apa yang ada di dalam hati dan pikiran kalian.


Wahai orang-orang mukmin, hamba-hamba Allah: Janganlah kalian terpedaya oleh kehidupan dunia yang fana, serta fitnah-fitnah yang ada di dalamnya, yang sering kali menghiasi jalan keburukan dengan perhiasan dunia. Ingatlah, sesungguhnya akhir dari dunia ini adalah kefanaan, dan yang tersisa hanyalah amal-amal kalian yang akan ditimbang di hadapan Allah pada hari kiamat.


Wahai orang-orang mukmin, hamba-hamba Allah: Tegakkanlah shalat kalian, tunaikanlah zakat kalian, dan perbanyaklah amal shalih. Janganlah kalian lalai dalam mengingat Allah, serta mohonlah perlindungan kepada-Nya dari segala keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi. 


Ya Allah, limpahkanlah kepada kami ketakwaan dan murāqabah-Mu di setiap waktu dan keadaan. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang senantiasa memperbaiki diri dan beramal shalih. Ya Allah, ampuni dosa-dosa kami, rahmati kami, dan masukkan kami ke dalam surga-Mu yang penuh kenikmatan.


Ya Allah, hancurkanlah musuh-musuh Islam dan kaum Muslimin, dan peliharalah negeri-negeri kami dari segala macam fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Ya Allah, tegakkanlah kalimat kebenaran, dan tolonglah hamba-hamba-Mu yang beriman di mana pun mereka berada.


Wahai hamba-hamba Allah, ingatlah bahwa Allah memerintahkan kalian untuk bershalawat kepada Nabi-Nya, sebagaimana Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." [QS. Al-Aḥzāb: 56].


Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad, kepada keluarga beliau, dan seluruh sahabat beliau. Ya Allah, ridhailah para Khulafāur Rāsyidīn yang mendapat petunjuk, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, serta seluruh sahabat beliau yang mulia, dan juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.


Ya Allah, berilah kekuatan kepada para pemimpin kami untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, serta berikanlah kepada mereka kebijaksanaan dalam memimpin umat ini. Ya Allah, peliharalah negeri kami, dan jadikanlah ia negeri yang aman, damai, dan makmur.


Wahai hamba-hamba Allah, ingatlah Allah Yang Maha Agung dan Mulia, maka ingatlah Allah akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah nikmat kepada kalian. Sesungguhnya mengingat Allah adalah hal yang besar, dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.


Demikianlah khutbah ini, semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendengar dan mengikuti kebaikan. Amin, ya Rabbal 'Alamin.