Sabtu, 19 Desember 2015

PANJANG ANGAN - ANGAN

Oleh : As-Saikh Prof.DR Abdurrozak Al-Badr hafidhohullah Ta'ala. 

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba'du; 

Allah Ta'ala berfirman, 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّ وَعْدَ ٱللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلْغَرُورُ ﴿٥﴾

" Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah."
(Q.S . Fa'thir:5)

Allah Ta'ala berfirman, 

ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمًا ۖ وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٌ ۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ ﴿٢٠﴾

" Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Q.S. Al-Hadid:20)

وعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال : أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ : ((كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ )) . وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ : إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ ".

Dari Sahabat Abdullah ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata, " Suatu hari Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam memegang pundakku seraya bersabda, " Hiduplah didunia seakan akan menjadi orang yang asing atau orang yang lewat dalam suatu perjalanan ".

Dan Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata, " Apabila telah datang waktu sore, janganlah menunda amalan hingga datang waktu pagi, dan apabila telah datang waktu pagi, janganlah menunda amalan hingga datang waktu sore, gunakan waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, dan gunakan waktu hidupmu sebelum menghampiri kematian mu ". ( HR. Al-Bukhari ) 

Sesungguhnya dalam hadist yang mulia ini terdapat anjuran agar seseorang tidak ber panjang angan-angan terhadap dunia, dikarenakan seorang mukmin tidak sepantasnya menjadikan dunia fana ini tempat tinggal dan tempat tujuan sekiranya ia merasa nyaman, akan tetapi selayaknya ia menjadikan dunia ini seakan bergegas meninggalkan nya seperti layaknya seseorang musafir yang hendak bepergian jauh sehingga menyiapkan perbekalan untuk mencapai tempat tujuan. 

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : نَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَصِيرٍ فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ ، فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً ؟ فَقَالَ : (( مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا))

Diriwayatkan oleh Sahabat Abdullah ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu berkata, " Suatu hari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berbaring tidur di atas tikar dan bangun dalam keadaan terdapat bekas-bekas tikar, dan para sahabat menawarkan untuk memberikan kasur, maka Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda, " Apa hajatku dengan dunia, tidaklah aku didunia ini kecuali ibarat seseorang musafir menunggang kendaraan yang singgah di bawah pohon kemudian segera pergi dan meninggalkan nya ". ( HR. At-Tirmidzi ) 

Diriwayatkan oleh Ibnu Abid-Dunya dengan sanad nya dari Al-Hasan, ia berkata, " Telah sampai kepadaku bahwasanya Rasulullah salallahu alaihi wasallam besabda, " Sesungguhnya perumpamaan diriku dan kalian dan dunia, ibarat suatu kaum yang sedang menempuh perjalanan jauh ditempat yang tandus dan kering tanpa batas, tidak mengetahui apakah perjalanan yang telah ditempuh lebih banyak atau yang tersisa jauh lebih banyak, sehingga punggung mereka terasa sakit dan mereka kehabisan perbekalan hingga jatuh ditengah-tengah tempat yang kering hingga yakin akan binasa, tiba-tiba datang seseorang yang berpakaian rapi dan rambutnya basah, maka dikatakan, bahwasanya orang ini menjumpai hasil panen kebunnya yang subur, maka mereka bergegas menuju nya, maka dia berkata, " Apa yang terjadi dengan kalian ?". Maka dijawab, "  Seperti apa yang kamu lihat , telah letih punggung punggung kami, dan habis perbekalan kami, hingga kami berjatuhan di gurun pasir ini dan kita tidak tahu apa yang kita lewati lebih jauh atau apa yang tersisa lebih jauh ". Kemudian orang tersebut berkata, " Apa imbalan kalian jika aku berikan kepada kalian sumber air yang sangat jernih dan kebun yang hijau di tanah yang subur ?" Semua menjawab : " Kami menuruti apa yang engkau mau ". Orang tersebut berkata, " Kalian berjanji dan bersumpah agar tidak bermaksiat kepada ku ". Kemudian mereka semua sepakat untuk berjanji dan memegang janji agar tidak bermaksiat kepada nya. Maka mereka diberikan mata air yang sangat jernih dan kebun yang tumbuhan nya hijau pada tanah yang subur. Maka mereka semua tinggal di tempat tersebut. Kemudian mereka diseru, " Marilah kita menuju tempat yang airnya lebih jernih dari ini dan kebunnya lebih subur dari ini ". Maka kebanyakan mereka menjawab : " Kami tidak bisa meninggalkan tempat ini hingga kita tidak mampu untuk melakukan apa yang engkau minta ". Maka sebagian mereka mengingatkan : " Bukankah kalian telah berjanji dan bersumpah agar tidak bermaksiat kepada orang ini ?". Dan bukankah  benar apa yang dikatakan oleh orang ini, demikian pula akhir perkataannya seperti permulaan nya. Maka orang tersebut pergi dan di Ikuti sebagai dari kelompok ini, dan benar, mereka mendapatkan sumber air yang lebih jernih dan kebun yang lebih subur. Adapun yang tidak mengikuti, maka pada malam harinya didatangi oleh musuh-musuh dan diserbu, hingga pada pagi harinya hanya tersisa antara mati terbunuh dan sisanya tertawan". ( HR. Ibnu Muba'rok dan Ro'mharmuzy melalui jalur Al-Hasan secara mursal )

Dan ini merupakan perumpamaan yang agung yang sangat mirip dengan keadaan Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bersama umat nya, tatkala datang masa kenabian Sallallahu alaihi wa sallam sedangkan orang-orang Arab merupakan manusia yang paling hina derajat, martabat serta kehidupan dunia dan akhirat. Kemudian mereka diseru kepada jalan yang lurus menuju keselamatan, dan diberikan tanda-tanda kenabian yang menunjukkan akan kebenaran Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, seperti apa yang terjadi pada sekelompok orang yang kehabisan bekal dan makan ditengah-tengah gurun pasir, dan menjumpai seseorang yang ber penampilan rapi yang menunjukkan akan kebenarannya, sehingga kelompok tersebut mengikuti nya, sebagaimana dalam riwayat di atas. Demikian pula umat ini, di janjikan di bukanya negri Romawi dan Persia dan mewarisi harta-harta dua negeri ini. Dan diberikan peringatan agar tidak terlena dan terfitnah akan hal ini, dan diperintahkan agar ber zuhud terhadap dunia serta bersungguh sungguh terhadap perkara akhirat dan mempersiapkan nya. Dan hal ini semua benar terjadi pada umat ini, tatkala di buka pintu dunia maka kebanyakan mereka terlena bahkan rakus serta berlomba-lomba mengejar nya dan ridho terhadap kehidupan dunia, bersenang senang dengan syahwatnya dan lalai dari mencari akhirat. Adapun kelompok yang sedikit yang selamat dan masuk ke dalam surga mendampingi Nabi nya Shallallahu alaihi wa sallam, yang senantiasa patuh terhadap wasiat dan perintah nya, adapun selebihnya maka tergelincir dan mabuk dengan dunia hingga ajal menjemput  nya. 

Perumpamaan kehidupan dunia sebagaimana telah diriwayatkan oleh Sahabat Abi Sa'id Al Hudriy radhiyallahu anhu, 

 أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قام على المنبر فقال : (( إِنَّمَا أَخْشَى عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِي مَا يُفْتَحُ عَلَيْكُمْ مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ )) ثم ذَكَرَ زَهْرَةَ الدُّنْيَا فَبَدَأَ بِإِحْدَاهُمَا وَثَنَّى بِالْأُخْرَى ، فَقَامَ رَجُلٌ  فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوَيَأْتِي الْخَيْرُ بِالشَّرِّ ؟ فَسَكَتَ عَنْهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْنَا يُوحَى إِلَيْهِ ، وَسَكَتَ النَّاسُ كَأَنَّ عَلَى رُءُوسِهِمْ الطَّيْرَ ثُمَّ إِنَّهُ مَسَحَ عَنْ وَجْهِهِ الرُّحَضَاءَ فَقَالَ : (( أَيْنَ السَّائِلُ آنِفًا أَوَخَيْرٌ هُوَ ؟ - ثَلَاثًا - إِنَّ الْخَيْرَ لَا يَأْتِي إِلَّا بِالْخَيْرِ ، وَإِنَّهُ كُلَّمَا يُنْبِتُ الرَّبِيعُ مَا يَقْتُلُ حَبَطًا أَوْ يُلِمُّ إِلَّا آكِلَةَ الْخَضِرِ كُلَّمَا أَكَلَتْ ، حَتَّى إِذَا امْتَلَأَتْ خَاصِرَتَاهَا اسْتَقْبَلَتْ الشَّمْسَ فَثَلَطَتْ وَبَالَتْ ثُمَّ رَتَعَتْ . وَإِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ وَنِعْمَ صَاحِبُ الْمُسْلِمِ لِمَنْ أَخَذَهُ بِحَقِّهِ فَجَعَلَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ، وَمَنْ لَمْ يَأْخُذْهُ بِحَقِّهِ فَهُوَ كَالْآكِلِ الَّذِي لَا يَشْبَعُ وَيَكُونُ عَلَيْهِ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَة)

Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdiri di atas mimbar seraya menyampaikan khutbah nya  kepada manusia, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya yang aku khawatirkan kepada kalian setelah sepeninggal diri ku adalah kemegahan dunia yang Allah keluarkan dari perbendaharaan bumi ". Kemudian menyebutkan tentang kemegahan dunia, satu demi satu... Maka ada seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah  kebaikan itu akan membawa keburukan?”. Kemudian Nabi Sallallahu alaihi wa sallam mendiamkan orang yang bertanya tadi, sehingga para sahabat mengira bahwa sedang turun wahyu kepada Nabi Sallallahu alaihi wa sallam. Para sahabat pun terdiam khusuk, seakan diatas kepala mereka terdapat burung yang hinggap.  Kemudian Nabi Sallallahu alaihi wa sallam mengusap keringat yang bercucuran di wajah, seraya berkata, " Mana orang yang bertanya tadi, apakah ia Baik-baik saja ?" ( diucapkan hingga tiga kali ).

Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: " Sesungguhnya kebaikan itu hanya mendatangkan kebaikan. Dan sesungguhnya diantara apa yang tumbuh pada musim semi, ada yang bisa menyebabkannya mati sia-sia atau menjadikannya sakit.  kecuali binatang binatang yang memakan rumput hijau, hingga apabila telah penuh lambungnya, ia menghadap matahari (berjemur), lalu membuang kotorannya yang encer, dan kencing. Kemudian ia tertarik lagi, lalu makan rumput kembali.
Sesungguhnya harta ibarat rerumputan yang hijau lagi manis, dan sesungguhnya sebaik-baik pemilik harta adalah orang muslim yang ia mendapatkan dengan cara yang hak dan digunakan untuk di jalan Allah Ta'ala dan untuk anak yatim serta orang-orang miskin dan orang-orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan. Maka barangsiapa mengambil harta dengan hak, niscaya dia akan diberkahi pada hartanya. Dan barangsiapa mengambil harta tanpa hak, maka perumpamaannya seperti binatang yang makan dan tidak pernah kenyang.” (HR.Al-Bukhari dan Muslim ) 

Sesungguhnya dunia tidak dicela secara dzat pribadinya, akan tetapi celaan tercurah kepada perbuatan seorang hamba atasnya, maka hakikat nya dunia adalah jembatan dan tahapan untuk menyampaikan menuju surga atau neraka, sesungguhnya dunia adalah ladang untuk bercocok tanam dan lahan berbekal untuk kehidupan akhirat, sebagaimana penduduk surga mendapatkan kehidupan yang baik di surga lantaran bekal mereka didunia.

Allah Ta'ala berfirman, 

كُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ هَنِيٓـًٔۢا بِمَآ أَسْلَفْتُمْ فِى ٱلْأَيَّامِ ٱلْخَالِيَةِ ﴿٢٤﴾

" (kepada mereka dikatakan): "Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu". ( QS. Al-Haaqqoh:24 )

Dan sesungguhnya celaan dan cercaan hakikat nya tercurah kepada orang-orang yang mengutamakan dunia atas akhirat, sehingga dunia menjadi tumpuan, keinginan terbesar dan puncak pengetahuan nya. 

Allah Ta'ala berfirman, 

فَأَمَّا مَن طَغَىٰ ﴿٣٧﴾ وَءَاثَرَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا ﴿٣٨﴾ فَإِنَّ ٱلْجَحِيمَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ ﴿٣٩﴾

" Adapun orang yang melampaui batas"." Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia". "Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya)." (QS. An-Na'ziaat 37-39)

Adapun cara selamat adalah seseorang hamba berbuat adil antara amalan dunia dan akhirat, tidak sibuk urusan dunia sedangkan ia lupa akan akhirat, ataupun meninggalkan dunia secara keseluruhan sehingga memadhoroti akan jiwanya, atau hidup nya dengan cara meminta-minta kepada orang lain. 

اللهم لا تجعل الدنيا أكبر همنا ولا مبلغ علمنا ، ولا تسلط علينا بذنوبنا من لا يخافك ولا يرحمنا .

Ya Allah, jangan Engkau jadikan dunia sebagai harapan terbesar kami dan puncak dari pengetahuan kami, dan janganlah Engkau berikan cobaan kepada kami lantaran dosa-dosa kami melalui orang-orang yang tidak takut kepada Mu dan tidak belas kasih kepada kami.

                          *********   

Jumat, 18 Desember 2015

AGAMA ISLAM MELARANG MEMBERIKAN UCAPAN SELAMAT KEPADA AGAMA LAIN

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba'du; 

Allah Ta'ala berfirman, 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ ٱلْكَٰفِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلْمُؤْمِنِينَ ۚ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُوا۟ لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَٰنًا مُّبِينًا ﴿١٤٤﴾

" Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu ? ") ( QS. An-Nisa ' 144 ).

 Allah Ta'ala berfirman,

لَّقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ مَرْيَمَ ۚ قُلْ فَمَن يَمْلِكُ مِنَ ٱللَّهِ شَيْـًٔا إِنْ أَرَادَ أَن يُهْلِكَ ٱلْمَسِيحَ ٱبْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُۥ وَمَن فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا ۗ وَلِلَّهِ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ ﴿١٧﴾

" Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam". Katakanlah: "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?". Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al Ma'idah 17 ).

Allah Ta'ala berfirman, 

يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ لَا تَغْلُوا۟ فِى دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْحَقَّ ۚ إِنَّمَا ٱلْمَسِيحُ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ ٱللَّهِ وَكَلِمَتُهُۥٓ أَلْقَىٰهَآ إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِّنْهُ ۖ فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ ۖ وَلَا تَقُولُوا۟ ثَلَٰثَةٌ ۚ ٱنتَهُوا۟ خَيْرًا لَّكُمْ ۚ إِنَّمَا ٱللَّهُ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ سُبْحَٰنَهُۥٓ أَن يَكُونَ لَهُۥ وَلَدٌ ۘ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلًا ﴿١٧١﴾

" Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara." (QS. An-Nisa ' 171 ).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullaah memberikan penjelasan yang sangat tegas tentang hukum seorang muslim ucapkan selamat Natal kepada orang kristiani.

تهنئة الكفار بعيد الكريسماس أو غيره من أعيادهم الدينية حــرام بالاتفاق

“ Mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir berkaitan hari Christmas (Natal) atau hari-hari besar kagamaan lainnya adalah haram, berdasarkan kesepakatan ulama ". ( Majmu’ Fatawa wa Rasa-il al-Syaikh Ibni Utsaimin: 3/369 )

Pernyataan Syaikh di atas merupakan jawaban atas pertanyaan yang ditujukan kepadanya, “Apa hukum mengucapkan selamat hari raya Natal Kepada orang kafir?”

Beliau mengutip perkataan Ibnul Qayyim dalam Ahkam Ahl Adz-Dzimmah, di mana murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tersebut berkata, “Mengucapkan selamat kepada syiar agama orang kafir adalah haram berdasarkan kesepakatan ulama. Seperti mengucapkan selamat atas hari raya dan puasa mereka dengan mengatakan, 'Ied Mubarak 'Alaik (hari raya penuh berkah atasmu) atau selamat bergembira dengan hari raya ini dan semisalnya. Jika orang yang berkata tadi menerima kekufuran maka hal itu termasuk keharaman, statusnya seperti mengucapkan selamat bersujud kepada salib. Bahkan, di sisi Allah dosanya lebih besar dan lebih dimurkai daripada mengucapkan selamat meminum arak, selamat membunuh, berzina, dan semisalnya. Banyak orang yang tidak paham Islam terjerumus kedalamnya semantara dia tidak tahu keburukan yang telah dilakukannya. Siapa yang mengucapkan selamat kepada seseorang karena maksiatnya, kebid'ahannya, dan kekufurannya berarti dia menantang kemurkaan Allah.”

Dari ungkapan Syaikh Islam Ibnul Qayyim di atas, Fadhilatus Syaikh Utsaimin menyimpulkan alasannya keharaman tersebut, “karena di dalamnya terdapat pengakuan atas syi’ar-syi’ar kekufuran dan ridha terhadapnya walaupun dia sendiri tidak ridha kekufuran itu bagi dirinya.”

Bagi seorang muslim diharamkan ridha terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran atau mengucapkan selamat dengan syi’ar tersebut kepada orang lain karena Allah tidak ridha dengan semua itu. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala,

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)-mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridai bagimu kesyukuranmu itu.” (QS. Al-Zumar: 7)

Juga firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Beliau menutup keterangannya, “Dan mengucapkan selamat kepada mereka dengan semua itu adalah haram, baik ikut serta di dalamnya ataupun tidak.” 

             ...........☆☆☆☆☆...........

Kamis, 10 Desember 2015

KEUTAMAAN SURAT AL IKHLAS

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba'du; 

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

" قل هو الله أحد " تعدل ثلث القرآن  "

 

" Surat Al Ikhlas  menyamai sepertiga dari Al-Qur'an ". ( HR Muslim ) 

Para ulama membahas kandungan lafadz hadist ini dengan berbagai pemahaman, diantaranya :

Bahwasanya makna menyamai sepertiga Al-Qur'an, karena didalam surat ini terdapat kandungan makna tauhid dan pokok keimanan, sedangkan didalam Al-Qur'an disana terdapat tiga kandungan yaitu : 

• Hukum-hukum syariat secara lahiriah dan batiniah yang berupa ibadah dan muamalah. 

• Kisah-kisah dan berita dari keadaan dan ciptaan masa lalu serta keadaan manusia pada hari pembalasan ketika di akhirat kelak. 

• Tauhid dan pengetahuan tentang keimanan yang berkaitan dengan Nama-Nama Allah Ta'ala beserta Sifat-Sifat Nya dan pembahasan tentang ke Esa-an Rububiyah dan Uluhiyah serta pensucian dari segala sifat lemah dan kekurangan. 

Adapun surat Al-Ikhlas ini mencakup bagian yang ketiga, yang menjadi tonggak yang wajib di imani. 

Oleh karena nya, Allah Ta'ala berfirman memerintahkan kepada setiap kita agar mengucapkan dengan lisan-lisan kita dan meyakini dengan hati-hati kita serta beribadah dengan amalan anggota badan kita, menunaikan firman Nya,

 

قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ 

" Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa."

Allah adalah Dzat Yang Esa untuk di ibadahi, yang memiliki sifat Uluhiyah yang sempurna, yang hanya berhak untuk disembah, diagungkan, disucikan, Dia adalah Dzat Yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia.

Maha Esa adalah Sempurna dalam segala Sifat-Sifat Nya, Maha Agung, Maha Pencipta, Maha Pemilik, Maha Pengatur, dan Maha Suci dari segala tandingan dan sekutu. 

Ungkapan ini merupakan persaksian terhadap berlepas diri dari syirik ilmiah makrifi, sebagaimana surat Al Ka'firun merupakan persaksian terhadap berlepas diri dari syirik amaliah irodiyah. 

ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ 

" Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu."

Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dia adalah Allah Ta'ala, Dzat Yang Maha Kuasa, Maha Mampu, Maha Agung, Maha Mengatur, Maha Sempurna, sehingga seluruh ciptaan tunduk dan bergantung kepada Allah Ta'ala. 

Allah Ta'ala berfirman, 

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ﴿٢٦﴾  وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو ٱلْجَلَٰلِ وَٱلْإِكْرَامِ ﴿٢٧﴾  فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ﴿٢٨﴾ يَسْـَٔلُهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِى شَأْنٍ ﴿٢٩﴾

" Semua yang ada di bumi itu akan binasa." "Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan." "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" "Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan."
(QS. Ar-Rahman :26-29)

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولد 

" Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan".

Sesungguhnya semua makhluk terlahirkan dari satu dengan lainnya, mereka adalah ciptaan Allah Ta'ala, sedangkan Dzat Al-Malik Al-Ahad Maha Suci dari sifat beranak atau diperanakkan. 

وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ 

" Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia"."

Dikarenakan Allah Ta'ala adalah Dzat Yang Maha Agung, Maha Sempurna, sehingga tidak ada yang setara, menyerupai, menandingi, Maha Suci Allah dari segala kekurangan. 

Sungguh betapa agung kandungan surat ini, yang terdapat penjelasan tentang Sifat-Sifat Allah Ta'ala, dan segala yang tercantum di dalam Al-Qur'an Al-Karim dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Nya, merupakan rincian dari apa yang termaktub dalam surat ini. 

Diantara keutamaan surat ini adalah :

● Hadits A’isyah Radhiyallahu 'anha, beliau berkata;

أَنَّ النَّبِيَّ بَعَثَ رَجُلاً عَلَى سَرِيَّةٍ، وَكَانَ يَقْرَأُ لأَصْحَابِهِ فِي صَلاَتِهِ، فَيَخْتِمُ بِـ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، فَلَمَّا رَجَعُوا، ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ ، فَقَالَ: ((سَلُوْهُ، لأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ؟))، فَسَأَلُوْهُ، فَقَالَ: لأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ، وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ : ((أَخْبِرُوْهُ أَنَّ اللهَ يُحِبُّهُ)).

"Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus seseorang kepada sekelompok pasukan, dan ketika orang itu mengimami yang lainnya di dalam shalatnya, ia membaca, dan mengakhiri (bacaannya) dengan قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ, maka tatkala mereka kembali pulang, mereka menceritakan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau pun bersabda: “Tanyalah ia, mengapa ia berbuat demikian?” Lalu mereka bertanya kepadanya. Ia pun menjawab: “Karena surat ini (mengandung) sifat ar Rahman, dan aku mencintai untuk membaca surat ini,” lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Beritahu dia, sesungguhnya Allah pun mencintainya”. ( HR Al-Bukhary dan Muslim ) 

● Hadits Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, beliau berkata ;

كَانَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ يَؤُمُّهُمْ فِي مَسْجِدِ قُبَاءٍ، وَكَانَ كُلَّمَا اِفْتَتَحَ سُوْرَةً يَقْرَأُ بِهَا لَهُمْ فِي الصَّلاَةِ مِمَّا يَقْرَأُ بِهِ، اِفْتَتَحَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، حَتَّى يَفْرَغَ مِنْهَا. ثُمَّ يَقْرَأُ سُوْرَةً أُخْرَى مَعَهَا، وَكَانَ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ. فَكَلَّمَهُ أَصْحَابُهُ، فَقَالُوا: إِنَّكَ تَفْتَتِحُ بِهَذِهِ السُّوْرَةِ، ثُمَّ لاَ تَرَى أَنَّهَا تُجْزِئُكَ حَتَّى تَقْرَأَ بِأُخْرَى، فَإِمَّا تَقْرَأُ بِهَا، وَإِمَّا أَنْ تَدَعَهَا وَتَقْرَأَ بِأُخْرَى. فَقَالَ: مَا أَنَا بِتَارِكِهَا، إِنْ أَحْبَبْتُمْ أَنْ أَؤُمَّكُمْ بِذَلِكَ فَعَلْتُ، وَإِنْ كَرِهْتُمْ تَرَكْتُكُمْ. وَكَانُوا يَرَوْنَ أَنَّهُ مِنْ أَفْضَلِهِمْ، وَكَرِهُوا أَنْ يَؤُمَّهُمْ غَيْرُهُ. فَلَمَّا أَتَاهُمْ النَّبِيُّ n أَخْبَرُوْهُ الخَبَرَ، فَقَالَ: ((يَا فُلاَنُ، مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَفْعَلَ مَا يَأْمُرُكَ بِهِ أَصْحَابُكَ؟ وَمَا يَحْمِلُكَ عَلَى لُزُوْمِ هَذِهِ السُّوْرَةِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ؟)) فَقَالَ: إِنِّي أُحِبُّهَا، فَقَالَ: ((حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَـنَّةَ)).

"Seseorang (sahabat) dari al Anshar mengimami (shalat) mereka (para shahabat lainnya) di Masjid Quba. Setiap ia membuka bacaan (di dalam shalatnya), ia membaca sebuah surat dari surat-surat (lainnya) yang ia (selalu) membacanya. Ia membuka bacaan surat di dalam shalatnya dengan قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ, sampai ia selesai membacanya, kemudian ia lanjutkan dengan membaca surat lainnya bersamanya. Ia pun melakukan hal demikan itu di setiap raka’at (shalat)nya. (Akhirnya) para sahabat lainnya berbicara kepadanya, mereka berkata: “Sesungguhnya engkau membuka bacaanmu dengan surat ini, kemudian engkau tidak menganggap hal itu telah cukup bagimu sampai (engkau pun) membaca surat lainnya. Maka, (jika engkau ingin membacanya) bacalah surat itu (saja), atau engkau tidak membacanya dan engkau (hanya boleh) membaca surat lainnya”. Ia berkata: “Aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian suka untuk aku imami kalian dengannya, maka aku lakukan. Namun, jika kalian tidak suka, aku tinggalkan kalian,” dan mereka telah menganggapnya orang yang paling utama di antara mereka, sehingga mereka pun tidak suka jika yang mengimami (shalat) mereka adalah orang selainnya. Sehingga tatkala Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mendatangi mereka, maka mereka pun menceritakan kabar (tentang itu), lalu ia (Nabi) bersabda: “Wahai fulan, apa yang menghalangimu untuk melakukan sesuatu yang telah diperintahkan para sahabatmu? Dan apa pula yang membuatmu selalu membaca surat ini di setiap raka’at (shalat)?” Dia menjawab,"Sesungguhnya aku mencintai surat ini,” lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Cintamu kepadanya memasukkanmu ke dalam surga”.(HR. Ahmad dan Al-Bukhary dan At-Tirmidzi)

● Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata;

أَقْبَلْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ، فَسَمِعَ رَجُلاً يَقْرَأُ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ. اللهُ الصَّمَدُ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ : ((وَجَبَتْ))، قُلْتُ: وَمَا وَجَبَتْ؟ قَالَ: ((الجَـنَّةُ)).

"Aku datang bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau mendengar seseorang membaca:

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ. اللهُ الصَّمَدُ

Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Telah wajib,” aku bertanya: “Apa yang wajib?” Beliau bersabda, "(Telah wajib baginya) surga.” ( HR At-Tirmidzi dan An-Nasa'i ) 

● Hadits Mihjan bin al Adru’ Radhiyallahu 'anhu, beliau berkata;

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ دَخَلَ المَسْجِدَ، إِذَا رَجُلٌ قَدْ قَضَى صَلاَتَهُ وَهُوَ يَتَشَهَّدُ، فَقَالَ: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ يَا اَللهُ بِأَنَّكَ الوَاحِدُ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ، أَنْ تَغْفِرَ لِي ذُنُوْبِي، إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ : ((قَدْ غُفِرَ لَهُ))، ثَلاَثاً.

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam masuk ke dalam masjid, tiba-tiba (ada) seseorang yang telah selesai dari shalatnya, dan ia sedang bertasyahhud, lalu ia berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta (kepadaMu) bahwa sesungguhnya Engkau (adalah) Yang Maha Esa, Yang bergantung (kepadaMu) segala sesuatu, Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara denganNya, ampunilah dosa-dosaku, (karena) sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh ia telah diampuni (dosa-dosanya),” beliau mengatakannya sebanyak tiga kali. ( HR Abu Dawud ) 

● Hadits Buraidah bin al Hushaib al Aslami Radhiyallahu 'anhu, beliau berkata;

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ سَمِعَ رَجُلاً يَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ، فَقَالَ: ((لَقَدْ سَأَلْتَ اللهَ بِالاِسْمِ الَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى، وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ)).

"Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mendengar seseorang berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadaMu, bahwa diriku bersaksi sesungguhnya Engkau (adalah) Allah yang tidak ada ilah yang haq disembah kecuali Engkau Yang Maha Esa, Yang bergantung (kepadaMu) segala sesuatu, Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara denganNya,” kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh dirimu telah meminta kepada Allah dengan namaNya, yang jika Ia dimintai dengannya (pasti akan) memberi, dan jika Ia diseru dengannya, (pasti akan) mengabulkannya”. ( HR Abu Dawud ) 

Adapun dua hadist yang sering disebut dan beredar di kalangan masyarakat ini adalah hadits lemah dan palsu serta tidak dapat dijadikan sebagai sandaran dan hujjah :

عن عبد الله بن أحمد بن عامر : حدثنا أبي : حدثنا علي بن موسى عن أبي موسى بن جعفر بن محمد عن أبيه عن أبيه محمد بن علي عن أبيه عن أبيه الحسين عن أبيه علي مرفوعا: من مر بالمقابر فقرأ ( قل هوالله أحد ) إحدى عشرة مرة , ثم وهب أجره للأموات , أعطي من الأجر بعدد الأموات ”

Diriwayatkan Dari Abdullah bin Ahmad bin Amir, ia berkata, telah menceritakan kepada kami ayahku, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ali bin Musa, Dari Abu Musa bin Ja’far bin Muhammad, Dari ayahnya, dari ayahnya (yang bernama) Muhammad bin Ali, Dari ayahnya, Dari ayahnya (yang bernama) Al-Husain, Dari ayahnya (yang bernama) Ali radhiyallahu anhu secara marfu’, “Barangsiapa melewati pekuburan lalu ia membaca (Qul Huwallahu Ahad) sebelas kali, kemudian ia hadiahkan pahala (bacaan) nya itu kepada orang-orang mati, maka ia akan diberi pahala (oleh Allah) sejumlah orang-orang yang telah mati.”

(HR. Abu Muhammad Al-Khollaal dan Ad-Dailami, lihat: Silsilah Al-Ahaadiits Adh-Dho’iifah wa Al-Maudhuu’ah III/452)

روى أبو نعيم من حديث أبي العلاء يزيد بن عبد الله بن الشخير عن أبيه قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: “من قرأ { قل هو الله أحد } في مرضه الذي يموت فيه لم يفتن في قبره، وأمن من ضغطة القبر، وحملته الملائكة يوم القيامة بأكفها حتى تجيزه من الصراط إلى الجنة”

Abu Nu’aim meriwayatkan dari hadits dari Abul ‘Alaa’ Yazid bin Abdullah Asy-Syikhkhir, dari ayahnya, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ”Barangsiapa membaca surat “Qul Huwallaahu Ahad” pada sakit yang membawa kepada kematiannya, niscaya ia tidak akan menghadapi fitnah dalam kuburnya, ia jg aman dari himpitan siksa kubur dan para Malaikat akan membawanya dengan sayap-sayapnya melalui titian shirotol mustaqim sampai ke dalam Surga.” (HR. Abu Nu’aim dan Ath-Thobroni, lihat: Silsilah Al-Ahaadiits Adh-Dho’ifah wa Al-Maudhuu’ah  I/473).