Selasa, 18 Juli 2017

DUNIA UNTUK EMPAT GOLONGAN

إنما الدنيا لأربعة نفر

Tweet

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba'du : 

Manusia dalam kecenderungan urusan dunia terbagi menjadi empat kelompok, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi Sallallahu alaihi wa sallam dalam satu hadist yang agung, yang dibawakan oleh sahabat Abi Kabsyah Al-Anshari radhiyallahu anhu, bahwasanya ia mendengar Rosulullah Sallallahu alaihi wa sallam bersabda : 

  أُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : إِنَّمَا الدُّنْيَا لأَرْبَعَةِ نَفَرٍ : عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَعِلْمًا ، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَيَعْلَمُِ للهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً ، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ ، يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا ، فَه ُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ ، لاَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَلاَ يَعْلَمُ ِللهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالاً وَلاَ عِلْمًا ، فَهُوَ يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ.

“ Aku akan sampaikan kepada kalian satu perkataan dan hafalkanlah, "Beliau bersabda: “Sesungguhnya dunia ini untuk empat golongan :

● Seorang hamba yang dikaruniai harta dan ilmu kemudian ia bertakwa kepada Rabb-nya, menyambung silaturrahmi dan mengetahui hak-hak Allah Ta'ala, ini merupakan kedudukan yang paling mulia.

● Seorang hamba yang dikaruniai ilmu tapi  tidak dikaruniai harta, kemudian dengan niat yang tulus ia berkata: "Jika seandainya aku mempunyai harta, maka aku akan beramal seperti amalannya si-fulan ". Dengan niat seperti ini, maka keduanya mendapatkan pahala yang sama.

● Seorang hamba yang dikaruniai harta namun tidak diberi ilmu, lalu ia membelanjakan hartanya secara serampangan tanpa bersandarkan dengan ilmu, dan ia tidak
bertakwa kepada Rabbnya, serta tidak menyambung silaturrahim, dan tidak
mengetahui hak-hak Allah Ta'ala, maka ia berada pada kedudukan paling buruk. 

● Dan seorang hamba yang tidak dikaruniai harta dan juga tidak diberikan ilmu oleh
Allah Ta’ala, lantas ia berkata : "Kalau seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan berbuat seperti yang dilakukan si-Fulan". Maka dengan niat tersebut, keduanya memiliki dosa yang sama ". ( HR. At-Tirmidzi ) 

هذا الحديث الجامع لأنواع الناس وأحوالهم تجاه ما ينعم الله به عليهم في الدنيا، يستهله - صلى الله عليه وسلم - بكلمات تبعث على الاهتمام بما سيُقال، وتجعل السامعين يتطلعون لما سيذكره، حيث قال: (أحدثكم حديثا فاحفظوه)؛ ولذا ينبغي على دعاة الخير فعل ذلك في المواضع المهمة التي تستلزم الرعاية والعناية.

Hadist ini merupakan salah satu hadist yang memiliki kandungan makna yang agung, yang menerangkan tentang keadaan para manusia tatkala dihadapkan dengan apa yang telah Allah Ta'ala karuniakan dari kenikmatan dunia, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memulai ungkapan nya dengan suatu pembukaan yang menarik perhatian terhadap wejangan yang akan disampaikan, dan membuat para pendengar tertarik untuk menyimak nya, dimana Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda : " Aku akan sampaikan kepada kalian satu perkataan dan hafalkanlah ".

Oleh karena nya, sepantasnya para da'i jalan kebaikan, menggunakan ungkapan seperti ini dalam sebagian kesempatan yang dirasakan penting, agar menarik perhatian para pendengar nya. 

ثم يقول النبي - صلى الله عليه وسلم - (إنما الدنيا لأربعة نفر): أي إنما حال أهلها حال أربعة، اثنان عاملان، واثنان تبع لهما، فالثاني تبع للأول، والرابع تبع للثالث، وقد ذكر الدنيا - رغم أنها تشمل الدنيا والآخرة كما سيأتي - ليصبِّر الناس على طلب العلم، ويخبرهم أن العلم يجلب خيري الدنيا والآخرة، وأيضا فإن من طلب الدنيا بالعلم نال الدنيا وحازها، فالعلماء سلاطين غير متوّجين، والعامة تخضع لهم أكثر من خضوعهم للسلطان؛ لأن العلماء يملكون سلطان الحجة الذي يخضع له القلب، بينما السلاطين لا يملكون إلا سلطان اليد؛ الذي قد لا يخضع البعض له، وعلى كل حال فالناس لا يخرجون عن أحوال أربعة:

Kemudian, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :  “Sesungguhnya dunia ini untuk empat golongan ".

Maksud dari perkataan ini, bahwasannya penduduk dunia ini memiliki keragaman empat golongan dan karakterisistik, dua golongan yang menjadi panutan yang saling bertolak belakang, dan dua golongan sebagai pengikut, yang urutan kedua sebagai pengikut yang pertama dan yang urutan keempat mengikuti yang ketiga. 

Dan di ungkapkan kalimat : " Dunia ", walaupun secara kenyataan mencakup perkara dunia dan akhirat, -sebagaimana nanti akan dijelaskan - agar menumbuhkan kesabaran dalam menuntut ilmu, dan diberitahukan bahwa ilmu akan mendatangkan manfaat kebaikan di dunia dan akhirat, demikian pula jika seseorang mencari dunia dengan ilmu maka niscaya ia dapat menggapai nya dan melampaui nya. 

Sebagai contoh para ulama penguasa  yang jarang terjadi, kebanyakan rakyat akan tunduk dan patuh kepada mereka, daripada tunduk nya mereka kepada penguasa, karena para ulama memiliki kekuasaan hujjah yang mampu menundukkan hati hati manusia, berbeda dengan penguasa yang hanya mengandalkan kekuatan tangan yang mungkin saja sebagian manusia tidak tunduk, dan secara global manusia terbagi menjadi empat golongan :

الأولى: عالم غني (عبد رزقه الله مالاً وعلمًا فهو يتقي فيه ربه ويصل فيه رحمه ويعلم لله فيه حقا، فهذا بأفضل المنازل)، يتخيّر الله تعالى من يرزقه المال أو من يرزقه العلم أو من يرزقه العلم والمال معا، فإذا رُزق العبد العلم والمال معا كانت تلك أفضل منزلة، وذلك لاقتران العلم بالعمل، لأنه سيعمل في ماله بعلمه.

■ Pertama : Orang Alim yang kaya, sebagaimana sabda Nabi Sallallahu alaihi wa sallam : "Seorang hamba yang dikaruniai harta dan ilmu kemudian ia bertakwa kepada Rabb-nya, menyambung silaturrahmi dan mengetahui hak-hak Allah Ta'ala, ini merupakan kedudukan yang paling mulia".

Allah Ta'ala menentukan bagi hamba, ada yang dikaruniai harta, ada pula yang dikaruniakan ilmu dan ada juga yang dikaruniakan ilmu dan harta dalam satu waktu, dan ini merupakan keadaan yang paling mulia, dikarenakan diberikan ilmu dan amal, ia membelanjakan harta nya degan berdasarkan ilmu. 

Dan Allah Ta'ala menganjurkan orang-orang yang berilmu untuk beramal, dan dicela orang-orang yang berilmu tidak mengamalkan ilmunya. 

Allah Ta'ala berfirman : 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ﴿٢﴾  كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ ﴿٣﴾

"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?"
"Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (Q.S. Ash-Shof :2-3)

 وفي صحيح مسلم عن أسامة بن زيد رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يقول: (يؤتى بالرجل يوم القيامة فيلقى في النار فتندلق أقتاب بطنه فيدور بها كما يدور الحمار بالرحى فيجتمع إليه أهل النار فيقولون: يا فلان ما لك؟ ألم تكن تأمر بالمعروف وتنهى عن المنكر؟ فيقول: بلى قد كنت آمر بالمعروف ولا آتيه , وأنهى عن المنكر وآتيه)

Di dalam shahih Muslim diriwayatkan oleh Sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu, dia berkata : “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Pada hari kiamat nanti akan ada seseorang yang didatangkan kemudian dilemparkan ke dalam neraka. Isi perutnya terburai, sehingga ia berputar-putar sebagaimana berputarnya keledai yang menggerakkan penggilingan. Penduduk neraka pun berkumpul mengerumuninya. Mereka bertanya, ‘Wahai fulan, apakah yang terjadi pada dirimu? Bukankah dahulu engkau memerintahkan kami untuk berbuat kebaikan dan melarang kami dari kemungkaran?’. Dia menjawab, ‘Dahulu aku memerintahkan kalian berbuat baik akan tetapi aku tidak mengerjakannya. Dan aku melarang kemungkaran sedangkan aku sendiri justru melakukannya ".

 وسُئل سفيان الثوري: طلب العلم أحب إليك أو العمل؟ فقال: "إنما يراد العلم للعمل, فلا تدع طلب العلم للعمل, ولا تدع العمل لطلب العلم".

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah pernah di tanya, manakah yang engkau lebih sukai, menuntut ilmu atau mengamalkan ilmu ? 

Maka dijawab : " Sesungguhnya tujuan mencari ilmu adalah untuk diamalkan, maka jangan engkau meninggalkan mencari ilmu karena takut tidak dapat mengamalkan dan jangan engkau meninggalkan amalan karena beralasan mencari ilmu ". 

وقد دلت عبارة النبي - صلى الله عليه وسلم - على أن بركة المال لا تكون إلا إذا أُنفق بشرطين: العلم بما ينفق من أبواب الخير، والإخلاص، وهذان شرطا العبادة: الإخلاص لله، وأن يكون العمل على بصيرة وعلم.

Dan telah ditunjukkan dalam hadist Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bahwa barokah nya harta tidak teraih kecuali dengan dua syarat, yaitu ilmu terhadap pintu-pintu kebajikan dan ikhlas. 

Dan ini merupakan syarat sah suatu ibadah yaitu ikhlas hanya karena Allah Ta'ala dan mengerjakan amal tersebut diatas bashiroh ilmu. 

كما دلت العبارة على أن صلة الرحم من أعظم القربات، وأن من أسباب تقوية صلة الرحم: العون المادي، فقد يكون قريبك فقيرا فإعطاؤك له مما أعطاك الله يزيد الأواصر، كما أن طلبة العلم الفقراء هم أولى الناس بالعون، إذا كانوا غير قادرين لأن نفعهم يتعدى، وعلى دعاة الخير أن يكونوا أسبق الناس في هذا الأمر، ورحم العلم أبلغ من رحم القرابة.

Demikian juga sebagaimana sabda Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bahwasanya menyambung tali silaturrahmi merupakan ibadah yang paling agung, dan sebab-sebab untuk menguatkan hubungan silaturrahmi adalah memberikan bantuan secara materi, bisa jadi kerabatmu adalah seorang yang fakir sedang membutuhkan, maka dengan santunan materi dapat menguatkan hubungan kekerabatan, sebagaimana para penuntut ilmu yang fakir adalah orang-orang yang paling utama untuk diberikan santunan jika mereka tidak mampu, karena manfaatnya akan ganda melimpah kepada yang lain nya, dan kepada mereka dai-dai kebaikan hendaknya menjadi orang-orang yang menjadi urutan pertama dalam hal ini, dan rahim ilmu lebih utama daripada rahim kekerabatan. 

كما ينبغي على العالم تعليم العلم وبذله لمن يستحقه، فعن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : (طلب العلم فريضة على كل مسلم، وواضع العلم عند غير أهله كمقلِّد الخنازير الجوهر واللؤلؤ والذهب) رواه ابن ماجة في سننه.

Sebagaimana pula orang-orang alim hendaknya menyebarkan ilmu dan menularkan kepada orang-orang yang berhak mendapatkan nya, sebagaimana diriwayatkan oleh Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : " Menuntut ilmu merupakan fardhu bagi setiap muslim, dan menularkan ilmu kepada orang-orang yang tidak berhak seperti menghias se ekor babi dengan permata, intan dan emas ". ( HR. Ibnu Majah )  

الثانية: عالم فقير (وعبد رزقه الله علمًا ولم يرزقه مالاً فهو صادق النية يقول لو أن لي مالاً لعملت بعمل فلان، فهو بنيته، فأجرهما سواء) ينفع الله تعالى بصاحب العلم أكثر مما ينفع بصاحب المال، لأن العلم غذاء للقلوب والأرواح، والمال غذاء للأبدان، وغذاء القلوب أعظم من غذاء البطون، وإذا صدق الإنسان في نيته فإن الله يثيبه على ذلك، ويكتب له الأجر كما لو فعل، وذلك أن النية الصادقة سبب في حصول الأجر وهي شرط لصحة الأعمال، يقول النبي - صلى الله عليه وسلم - : (إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها، فهجرته إلى ما هاجر إليه) متفق عليه، وعن جابر بن عبد الله الأنصاري رضي الله عنهما قال: سمعت رسول اللهِ - صلى الله عليه وسلم - يقول في غزوة تبوك بعد أن رجعنا: (إن بالمدينة لأقواما ما سرتم مسيرا ولا هبطتم واديا إلا وهم معكم، حبسهم المرض) رواه الإمام أحمد، وكما أن النية تجعل المرء يحصل على أجر العمل إذا حيل بينه وبين العمل، فإنها أيضا تجعل العمل كبيرا وإن كان صغيرا، يقول عبد الله بن المبارك: "رُبّ عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية"، وقال سفيان الثوري: "كانوا يتعلمون النية للعمل، كما تتعلمون العمل".

■ Kedua : Orang berilmu yang fakir, Seorang hamba yang dikaruniai ilmu tapi  tidak dikaruniai harta, kemudian dengan niat yang tulus ia berkata: "Jika seandainya aku mempunyai harta, maka aku akan beramal seperti amalannya si-fulan ". Dengan niat seperti ini, maka keduanya mendapatkan pahala yang sama.

Dalam hadits ini digambarkan bahwa orang yang memiliki ilmu lebih bermanfaat daripada orang yang memiliki harta, karena ilmu merupakan santapan bagi hati dan arwah, sedangkan harta merupakan santapan badan dan kebutuhan ruh lebih utama daripada kebutuhan peru.

Dan jika seseorang jujur akan niatnya, maka niscaya Allah Ta'ala akan memberikan ganjaran atas niatnya, sebagaimana jika ia mengerjakan nya, dikarenakan niat yang jernih akan mendatangkan pahala, sebagaimana ini juga merupakan syarat sah diterima nya suatu amalan. 

Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bersabda : " Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap manusia akan mendapat apa yang ia niatkan, maka barangsiapa yang pergi berhijrah dengan niat karena Allah Ta'ala dan Rasul-Nya, maka ia mendapatkan pahala hijrah kepada Allah Ta'ala dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrah karena untuk meraih dunia atau wanita yang ia nikahi, maka hijrah nya sesuai yang ia niatkan ". ( HR. Al-Bukhari dan Muslim ) 

Diriwayatkan oleh Sahabat Ja'bir bin Abdullah Al-Anshari radhiyallahu anhu, ia berkata, aku mendengar Rosulullah Sallallahu alaihi wa sallam bersabda tatkala usia dari perang Tabuk : " Sesungguhnya di kota Madinah terdapat orang-orang yang senantiasa bersama kalian walaupun kalian berjalan menempuh perjalanan atau menyeberangi lembah, hanya saja mereka sedang terkurung oleh sakit ". ( HR. Ahmad ) 

Sebagaimana pula niat mendatangkan pahala jika seseorang terhalang antara dirinya dan suatu hambatan, dan niat pula yang menjadikan suatu amalan kecil menjadi ber pahala besar.

Al-Imam Abdullah ibnu Muba'rok rahimahullah berkata : "  Bisa jadi suatu amalan yang kecil menjadi besar lantaran niat dan bisa jadi suatu amalan besar menjadi kecil dikarenakan niat ".

Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata : " Dahulu - para salaf - mereka belajar niat untuk beramal, sebagaimana kalian mempelajari suatu amalan ".

فهذا الرجل تمنى أن يكون له مال كمال الأول وعلم كعلمه, حتى يؤدي حق الله فيهما, ولذا أُجِرَ على هذه النية الصالحة, قال يحيى بن أبي كثير: "تعلموا النية، فإنها أبلغ من العمل".

Dalam hadits diatas, orang tersebut memiliki kehendak untuk memiliki banyak harta dan ilmu sebagaimana golongan yang pertama, hingga ia dapat menunaikan hak-hak Allah Ta'ala dalam harta dan ilmu nya, sehingga orang tersebut diberikan pahala atas niatnya yang baik.

Al-Imam  Yahya ibnu Abi Katsir rahimahullah berkata : " Pelajari lah niat, karena hal tersebut lebih dalam daripada amalan ".

الثالثة: غني جاهل (وعبد رزقه الله مالاً ولم يرزقه علمًا فهو يخبط في ماله بغير علم لا يتقي فيه ربه ولا يصل فيه رحمه ولا يعلم لله فيه حقا، فهذا بأخبث المنازل)، وقد جعله النبي - صلى الله عليه وسلم - من أشر الناس لأنه سفيه لا يحسن التصرف في المال فيبدده ويضيعه, وقد نهى الإسلام عن إعطاء السفهاء الأموال, وأجاز الحجر على مال السفيه، قال تعالى: {ولا تؤتوا السفهاء أموالكم التي جعل الله لكم قياما وارزقوهم فيها واكسوهم وقولوا لهم قولا معروفا} (النساء: 5)، وكذا حرم الإسلام تبذير المال وإضاعته, قال تعالى: {وءات ذا القربى حقه والمسكين وابن السبيل ولا تبذر تبذيرا * إن المبذرين كانوا إخوان الشياطين وكان الشيطان لربه كفورا} (الإسراء: 26-27)، 

■ Ketiga : Orang kaya tapi bodoh, yaitu seorang hamba yang dikaruniai harta namun tidak diberi ilmu, lalu ia membelanjakan hartanya secara serampangan tanpa bersandarkan dengan ilmu, dan ia tidak
bertakwa kepada Rabbnya, serta tidak menyambung silaturrahim, dan tidak
mengetahui hak-hak Allah Ta'ala, maka ia berada pada kedudukan paling buruk. 

Nabi Sallallahu alaihi wa sallam menggolongkan orang-orang ini sebagai golongan yang terburuk, karena ia seorang yang pandir yang tidak dapat mengelola keuangan sehingga menyia-nyiakan dan menghamburkan nya, sehingga agama islam melarang untuk memberikan harta kepada orang-orang yang belum mampu dan boleh untuk menyimpan nya. 

Allah Ta'ala berfirman : 

وَلَا تُؤْتُوا۟ ٱلسُّفَهَآءَ أَمْوَٰلَكُمُ ٱلَّتِى جَعَلَ ٱللَّهُ لَكُمْ قِيَٰمًا وَٱرْزُقُوهُمْ فِيهَا وَٱكْسُوهُمْ وَقُولُوا۟ لَهُمْ قَوْلًا مَّعْرُوفًا ﴿٥﴾

"Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik." (Q.S. An-Nisaa :5)

Dan dalam islam, dilarang memubadzirkan harta, sebagaimana firman Allah Ta'ala : 

وَءَاتِ ذَا ٱلْقُرْبَىٰ حَقَّهُۥ وَٱلْمِسْكِينَ وَٱبْنَ ٱلسَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا ﴿٢٦﴾  إِنَّ ٱلْمُبَذِّرِينَ كَانُوٓا۟ إِخْوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِ ۖ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورًا ﴿٢٧﴾

"Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros."
"Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya." (Q.S. Al - Isra ' : 26-27)

وأوجه كثرة الإنفاق ثلاثة:

أولها: إنفاقه في الوجوه المذمومة شرعاً، فلا شك في منعه، وهو المقصود معنا في هذا النوع (لا يتقي فيه ربه ولا يصل فيه رحمه ولا يعلم لله حقا).

وثانيها: إنفاقه في الوجوه المحمودة شرعاً، فلا شك في كونه مطلوباً بالشرط المذكور في الحديث (يتقي فيه ربه ويصل فيه رحمه ويعلم لله فيه حقا).

وثالثها: إنفاقه في المباحات بالأصالة، كملاذّ النفس فهذا ينقسم إلى قسمين: أحدهما: أن يكون على وجه يليق بحال المنفق وبقدر ماله، فهذا ليس بإسراف، والثاني: ما لا يليق به عرفاً، وهو ينقسم إلى قسمين: أحدهما ما يكون لدفع مفسدة ناجزة أو متوقعة فهذا ليس بإسراف، والثاني ما لا يكون في شيء من ذلك، فالراجح أنه إسراف.

Disana terdapat tiga golongan dalam membelanjakan harta yaitu : 

Pertama : Membelanjakan harta dalam urusan yang tercela dalam syariat, maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini terlarang, dan ini masuk dalam sabda Nabi Sallallahu alaihi wa sallam : " dan ia tidak bertakwa kepada Rabbnya, serta tidak menyambung silaturrahim, dan tidak mengetahui hak-hak Allah Ta'ala ".

Kedua : " Membelanjakan harta dalam urusan yang terpuji dalam syariat, sehingga hal ini terpuji, jika terpenuhi syarat yang tercantum dalam hadist : " 
ia bertakwa kepada Rabb-nya, menyambung silaturrahmi dan mengetahui hak-hak Allah Ta'ala ".

Ketiga : Membelanjakan harta dalam urusan yang mubah secara asal nya, seperti sesuatu yang menyenangkan, dan bagian ini terbagi menjadi dua keadaan, yang pertama, sesuai dengan keadaan  harta dan pemilik nya, maka ini tidak termasuk perbuatan isyrof atau mubazir.  Dan yang kedua tidak sesuai secara urf atau adat setempat. Dan hal ini terdapat dua keadaan : pertama, jika dilakukan dalam rangka menghindari mafsadat atau keburukan yang sedang terjadi atau akan terjadi, maka ini bukan termasuk perbuatan isyrof atau pemborosan. Yang kedua tidak dalam rangka menghindari keburukan, maka ini tergolong dalam pemborosan. 

وزعيم هذه الطائفة المذمومة من الناس (قارون)، فقد آتاه الله مالاً ولم يؤته علما، قال الله عنه: {إذ قال له قومه لا تفرح إن الله لا يحب الفرحين * وابتغ فيما آتاك الله الدار الآخرة ولا تنس نصيبك من الدنيا وأحسن كما أحسن الله إليك ولا تبغ الفساد في الأرض إن الله لا يحب المفسدين} (القصص:  6-77).

Dan pemuka dalam kelompok terburuk ini adalah Qorun, dan Allah Ta'ala telah memberikan harta yang melimpah namun tidak diberikan ilmu. 

Allah Ta'ala berfirman : 

 ۞ إِنَّ قَٰرُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَءَاتَيْنَٰهُ مِنَ ٱلْكُنُوزِ مَآ إِنَّ مَفَاتِحَهُۥ لَتَنُوٓأُ بِٱلْعُصْبَةِ أُو۟لِى ٱلْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُۥ قَوْمُهُۥ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْفَرِحِينَ ﴿٧٦﴾
وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ ﴿٧٧﴾

"Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri ".
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (Q.S. Al - Isra ' :76-77)
 

الرابعة: فقير جاهل (وعبد لم يرزقه الله مالاً ولا علمًا فهو يقول لو أن لي مالاً لعملت فيه بعمل فلان، فهو بنيته، فوزرهما سواء) دائما ما تكون سوء النية سبباً في حصول الوزر، فهذا الرجل وقع بجهله في سوء النية، فتمنى أن يكون له مالٌ مثل مال هذا الرجل الذي يخبط في ماله بغير علم, فلا يؤدي حق الله تعالى فيه؛ ولذا تحمَّل وزرًا على هذه النية السيئة، وليس هذا بظلم له، لأن الله تعالى علم من نيته أنه لو أُعطِي مثل صاحبه لأفسد وفسق، وأيضا لكونه لم يأخذ بالأسباب الموصلة للعلم ورفع الجهالة عن نفسه، نسأل الله أن يعافينا من ذلك، وأن يرزقنا النية الصالحة والعلم النافع والعمل الصالح.

■  Keempat : Orang fakir lagi jahil atau bodoh. Sebagaimana sabda Nabi Sallallahu alaihi wa sallam :" Dan seorang hamba yang tidak dikaruniai harta dan juga tidak diberikan ilmu oleh
Allah Ta’ala, lantas ia berkata : "Kalau seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan berbuat seperti yang dilakukan si-Fulan". Maka dengan niat tersebut, keduanya memiliki dosa yang sama ". 

Dan niat buruk senantiasa membawa kepada dosa, orang yang berniat buruk ini lantaran ia bodoh, ia berkeinginan memiliki banyak harta dan membelanjakan meniru seperti rekan nya yang membelanjakan secara serampangan tanpa ilmu, tidak menunaikan hak Allah Ta'ala, sehingga ia mendapatkan dosa lantaran keinginan yang buruk tersebut. 

Dan hal ini bukanlah kezaliman, karena Allah Ta'ala mengetahui, jika orang tersebut diberikan harta, ia akan berbuat kerusakan dan kefasikan. 

Dan ia tidak berusaha untuk mendapatkan ilmu dan melepaskan kebodohan yang melekat pada diri nya.

Semoga kita semua senantiasa dibebaskan dari keadaan yang seperti ini, dan kita diberikan ilmu yang bermanfaat serta amalan yang sholih. 

Minggu, 18 Juni 2017

SHOLAT MALAM


كلمة الشيخ صالح العصيمي البارحة بعد التراويح 

............
21/ 9/ 1434

أما بعد أيها المؤمنون

Amma ba'du; wahai para kaum mukminin. ..

إن من آيات الله المبصرة، وشواهد قدرته المظهرة آية الليل، قال الله تعالى: ( إن في خلق السماوات والأرض واختلاف الليل والنهار لآيات لأولي الألباب )

Sesungguhnya merupakan sebagian tanda kebesaran Allah Ta'ala yang sangat terang, bukti keagungan Allah Ta'ala yang sangat jelas, adalah diciptakan nya malam hari, sebagaimana firman Allah Ta'ala : 

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal". (Q.S. Ali-Imran :190)

Allah Ta'ala berfirman : 

وَءَايَةٌ لَّهُمُ ٱلَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ ٱلنَّهَارَ فَإِذَا هُم مُّظْلِمُونَ ﴿٣٧﴾

"Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan." (Q.S. Yaa'siin :37)

Sesungguhnya Allah Ta'ala tatkala mengkhususkan suatu malam dari malam yang lainnya, yaitu malam yang penuh berkah, yang diturunkan pada nya kitab suci Al-Qur'an, sebagaimana firman Allah Ta'ala : 

إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ ﴿٣﴾

"sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan." (Q.S. Ad-Dhukhaan :3)

Dan dijadikan malam yang penuh berkah ini senantiasa kekal sebagaimana turunnya malam lailatul qodar pada umat ini. 

Allah Ta'ala berfirman : 

إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ ﴿١﴾  وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ ﴿٢﴾

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan."
"Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?" (Q.S. Al-Qodr :1-2)

Dan Allah Ta'ala tidak memberikan berita tentang hakikat kejadian dan kenyataan nya, namun telah memberitakan tentang keutamaan nya. 

Allah Ta'ala berfirman : 

لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿٣﴾

"Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan." (Q.S. Al-Qodr :3)

Makna ayat ini bahwasanya ibadah yang dikerjakan pada malam tersebut lebih utama daripada beribadah seribu bulan pada malam selainnya. 

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah memberitahukan waktu kedatangan malam lailatul qodar, sebagaimana telah sah riwayat dari Al-Imam Al-Bukhary dan Muslim bahwasannya beliau bersabda : “ Carilah (lailatul qodar) pada sepuluh hari terakhir bulan ramadan ".

 

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda : 

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ.

“Carilah lailatul Qadr pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” ( HR. Al-Bukhari ) 

Sesungguhnya malam yang Allah Ta'ala berikan kekhususan dengan kemuliaan yang agung ini, Allah Ta'ala menjadikan amalan yang paling utama dalam malam tersebut adalah dengan mendirikan shalat, diberikan ganjaran yang sangat agung yaitu berupa ampunan dosa-dosa yang terdahulu, sebagaimana sabda Nabi Sallallahu alaihi wa sallam : 

من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه 

" Barangsiapa yang menghidupkan (dengan mendirikan sholat) malam lailatul qodar dengan penuh iman dan semata-mata mencari pahala niscaya ia akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu ". ( HR. Al-Bukhari dan Muslim ) 

Dalam hadits ini Nabi Sallallahu alaihi wa sallam menyebutkan satu amalan dan disebutkan pula syarat serta balasan dari amalan tersebut. 

Adapun amalan yaitu mendirikan shalat malam, dan syarat nya adalah penuh dengan iman dan menjalankan ketaatan tersebut hanya mencari pahala Allah Ta'ala, dan balasannya adalah diberikan ampunan atas dosa-dosa yang terdahulu. 

Dan amalan yang khusus pada malam tersebut adalah menghidupkan nya, dengan mendirikan sholat malam. 

Dan keadaan manusia tatkala mendirikan sholat malam terdapat beberapa kondisi, diantaranya : 

● Mengerjakan sholat malam semalam suntuk, dan ini yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika pertama kali diperintahkan mengerjakan sholat malam pada bulan ramadan, kemudian beliau meninggalkan nya. Beliau mengerjakan sholat di hampir semalaman hingga beliau khawatir terhadap para sahabat kehilangan waktu sahur.

Dan di syariat kan pula bagi yang hendak menghidupkan malam lailatul qodar untuk menggunakan sholat sepenuhnya jika ia mampu, namun hal ini tentunya sangat berat bagi kebanyakan manusia, sehingga jika sekiranya ia mengerjakan sholat malam di awal malam dan di akhir malam, kemudian ia menjumpai waktu longgar sehingga melanjutkan sholat malam sendirian, ini lebih utama daripada ia duduk dan membaca Al-Qur'an.

Oleh karenanya jika seseorang sholat berjamaah bersama imam di awal malam, dan ia akan melanjutkan di akhir malam bersama imam pula, maka disyari’atkan pula ia agar memanfaatkan waktu kosong antara keduanya untuk melakukan sholat dalam rangka memperbanyak sholat pada malam tersebut.  

● Mengerjakan sholat malam di awal dan akhir malam, dan ini yang menjadi kebiasaan manusia dan sesuai fatwa  (para ulama), karena kebanyakan manusia tidak mampu untuk mendirikan sholat di sepanjang malam, sehingga mengerjakan sholat malam diawal malam dengan sholat tarwih kemudian mengerjakan sholat di akhir malam dengan sholat tahajud dan keduanya termasuk menghidupkan malam ramadan, dan tidak terdapat perbedaan dalam keduanya, sebagaimana telah sah riwayat dari Umar radhiyallahu anhu yang telah memerintahkan kepada para sahabat yang mengerjakan sholat malam di awal waktu, beliau berkata : “ Waktu yang kalian gunakan untuk tidur adalah waktu yang lebih utama daripada waktu yang kalian gunakan untuk sholat ".

Maksudnya adalah :  menggabungkan sholat malam di akhir malam dan di awal malam adalah lebih utama daripada sekedar mengerjakan sholat malam di waktu awal malam. 

● Membatasi sholat malam di waktu akhir malam jika ia tidak mampu menggabungkan dengan awal malam, karena akhir malam adalah waktu yang disaksikan oleh para malaikat. 

● Mengerjakan sholat malam di awal malam, jika tidak mampu mengerjakannya di akhir malam. 

Adapun orang-orang yang tidak mengerjakan sholat malam, tidak di waktu awal atau akhir,  maka sesungguhnya ia kehilangan keutamaan yang telah disabdakan oleh Nabi Sallallahu alaihi wa sallam : 

من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه 

" Barangsiapa yang menghidupkan malam lailatul qodar dengan penuh iman dan semata-mata mencari pahala niscaya ia akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu ". ( HR. Al-Bukhari dan Muslim ) 

Sesungguhnya malam malam yang terbatas ini yaitu yang sepuluh hari terakhir bulan ramadan, terdapat malam lailatul qodar yang lebih utama daripada seribu bulan, maka sepantasnya setiap kita untuk bersungguh-sungguh dalam memakmurkan malam tersebut denganmengerjakan sholat malam, dan ini merupakan amalan yang disyari’atkan untuk dikerjakan dan di perbanyak. 

Jika digabungkan dengan amalan sholih lainnya seperti tilawah Al-Qur'an, berdzikir dan berdoa, maka disana terdapat tambahan ganjaran dan pahala. 

Semoga kita diberikan kekuatan dan limpahan taufiq dan hidayah untuk memakmurkan hari hari yang tersisa di bulan suci ini. 

Jumat, 16 Juni 2017

KEUTAMAAN MALAM LAILATUL QODAR

 

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba'du : 

Sesungguhnya malam lailatul qodar merupakan malam yang mulia, dimana Allah Ta'ala menurunkan kitab suci Al-Qur'an dan malam tersebut merupakan malam yang penuh barokah yang memiliki keutamaan lebih baik dari seribu bulan. 

Allah Ta'ala berfirman : 

حمٓ ﴿١﴾  وَٱلْكِتَٰبِ ٱلْمُبِينِ ﴿٢﴾  إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ ﴿٣﴾  فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ ﴿٤﴾ أَمْرًا مِّنْ عِندِنَآ ۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ ﴿٥﴾  رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ ﴿٦﴾

"Haa miim."
"Demi Kitab (Al Quran) yang menjelaskan,"

"sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan."
"Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,"

"(yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul,"

"sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
(Q.S. Ad-Dhukhaan :1-6)

Allah Ta'ala berfirman : 

إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ ﴿١﴾  وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿٣﴾   تَنَزَّلُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ ﴿٤﴾  سَلَٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ ﴿٥﴾

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan."
"Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?"
"Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan."
"Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan."
  "Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (Q.S. Al-Qodr :1-5)

Sebagaimana telah sah riwayat dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :  

من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه 

 " Barangsiapa yang menghidupkan malam lailatul qodar dengan penuh iman dan semata-mata mencari pahala niscaya ia akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu ". ( HR. Al-Bukhari dan Muslim ) 

Menghidupkan malam lailatul qodar dengan cara mengerjakan sholat malam, tilawah Al-Qur'an, berdzikir dan berdoa dan semisalnya dari amalan yang baik dan berdasarkan firman Allah Ta'ala diatas menunjukkan bahwa beramal pada malam tersebut lebih utama dari seribu bulan dibandingkan malam lainnya, dan hal ini merupakan keutamaan yang agung yang Allah Ta'ala limpahkanlah kepada umat ini, sehingga sepantasnya setiap muslim agar memaksimalkan ibadah di waktu sepuluh hari terakhir bulan suci ini dan hari hari ganjil lebih diharapkan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam : 

 
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ.

“Carilah lailatul Qadr pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.” ( HR. Al-Bukhari ) 

Dan telah sah riwayat dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa malam lailatul qodar berpindah pindah di sepuluh terakhir bulan ramadan dan tidak menetap dalam satu waktu, sehingga bisa kemungkinan terjadi pada malam keduapuluh satu atau duapuluh tiga atau duapuluh lima atau duapuluh tujuh dan ini kemungkinan yang terbesar atau mungkin pada malam duapuluh sembilan, bahkan bisa terjadi pula pada malam malam genap, maka barangsiapa yang bersungguh sungguh pada sepuluh terakhir bulan ini niscaya ia akan mendapatkan keutamaan malam lailatul qodar, sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersungguh-sungguh ketika memasuki sepuluh terakhir bulan suci ini. 

Sebagaimana diriwayatkan oleh Ummul Mukminin A'isyah radhiyallahu anha : 

 كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

" Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  ketika memasuki sepuluh terakhir bulan Ramadhan, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim ) 

Yang dimaksud dengan beliau mengencangkan sarungnya adalah meninggalkan istri-istri beliau karena ingin konsentrasi untuk ibadah di akhir-akhir Ramadhan.  

Demikian pula telah sah riwayat  bahwasannya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ber i'tikaf di sepuluh hari terakhir bulan ramadan. 

Telah diriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha, (dia) berkata : “Aku bertanya, “Ya Rasulullah ! Apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan ?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah :

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku". ( HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah ) 

Dan telah sah riwayat dari para sahabat serta para Salafus-Sholih menghidupkan malam sepuluh terakhir bulan ramadan dan bersungguh-sungguh dalam beribadah serta mengagungkan waktu mulia ini. 

Maka seyogyanya setiap muslim agar meneladani jejak-jejak Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mengikuti jalan para sahabat dan generasi Salafus-Sholih untuk senantiasa menghidupkan malam malam terakhir bulan ramadan ini untuk beribadah dengan maksimal, mengerjakan sholat malam, ber dzikir, berdoa, tilawah Al-Qur'an, yang dilandasi oleh imam dan semata-mata mencari pahala Allah Ta'ala, sehingga mendapatkan ganjaran yang berupa diberikan ampunan dosa-dosa yang terdahulu dan dibebaskan dari neraka dan tergolong menjadi penghuni surga. 

Allah Ta'ala menjelaskan bahwa keutamaan diatas diraih bagi mereka yang menjauhi dosa-dosa besar, sebagaimana firman Allah Ta'ala : 

إِن تَجْتَنِبُوا۟ كَبَآئِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُم مُّدْخَلًا كَرِيمًا ﴿٣١﴾

"Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)." (Q.S. An-Nisaa :31)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Antara shalat lima waktu, antara Jumat yang satu dan Jumat lainnya, di antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim ) 

Sesungguhnya puasa merupakan ibadah yang sangat agung, terlebih puasa di bulan suci ramadan, maka sepantasnya setiap muslim mengagungkan ibadah mulia ini dengan dasar niat yang sholih dan berjuang guna menjaga ibadah ini dan bersegera dalam berbuat ketaatan dan bertaubat dari segala bentuk dosa dan kemaksiatan. 

Dan hendaklah senantiasa menjauhi segala larangan Allah Ta'ala dan Rasul-Nya, dan tetap istiqomah diatas kebaikan di bulan ramadan atau diluar ramadan, dan saling menasihati dalam kebajikan dan kesabaran serta amar makruf nahi mungkar agar dapat menggapai keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat hingga menuju surga Allah Ta'ala yang kekal abadi , dan semoga sholawat dan salam terlimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.