Kamis, 09 April 2020

HIDAYAH DARI AL QUR`AN AL KARIM

هدایات من القران الکریم

ENAM PILAR DARI PETUNJUK AL- QUR`AN AL- KARIM

Oleh : Fadhilatu As-Syaikh Prof DR. Abdurrozak Al- Badr Hafidhohullahu Ta`ala.

Alhamdulillah, wa sholatu wa salamu ala` Rosulillah, wa ba` du :

Banyak perbincangan para manusia dalam majlis secara umum ataupun khusus tentang kejadian yang dahsyat yang merupakan ujian besar sekarang ini yang mereka sangat kawatir dengan nya yaitu firus korona.

Dari sini wahai para hamba Allah Ta`ala, semoga kita dapat memetik hidayah dan petunjuk dari ayat - ayat Al-Qur`an Al-Karim hingga kita sebagai seorang mukmin dapat berjalan diatas jalan yang benar dan diatas petunjuk yang lurus.

Diantara petunjuk Al-Qur`an Al-Adhim :

1). Seorang hamba tidak akan mendapatkan suatu musibah kecuali jika Allah telah menakdirkan bagi nya dan menuliskan utuk nya.

Allah Ta`ala berfirman :

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ ﴿٥١﴾

"Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal". (Q.S.9:51)

2). Seorang mukmin mengetahui dan yakin bahwa tidak ada yang bisa mengangkat suatu musibah kecuali hanya Allah Ta`ala , tidak ada yang bisa menolak balak kecuali Allah Ta`ala , yang menurunkan penyakit dan yang dapat mengangkat , menurunkan musibah dan menghilangkan , memberikan keberuntungan dan kesengsaraan hanya Allah Ta`ala.
Keputusan adalah keputusan Nya .....
Makhuk adalah makhluk ciptaan Nya ....

Allah Ta`ala berfirman :

أَمَّن يُجِيبُ ٱلْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ ٱلسُّوٓءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَآءَ ٱلْأَرْضِ ۗ أَءِلَٰهٌ مَّعَ ٱللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ ﴿٦٢﴾

"Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)." (Q.S.27:62)

3). Hendaknya kita bertawakal kepada Allah Ta`ala dan menyerahkan keputusan pada Nya, dan jujur dalam berlindung kepada Nya .

Allah Ta`ala berfirman :

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا ﴿٣﴾

"Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (Q.S.65:3)

4). Hendaknya kita memperbanyak berdo`a kepada Allah Ta`ala , karena do`a merupakan kunci segala kebajikan dan pengusir segala keburukan serta keberuntungan dari segala kekhawatiran yang merupakan senjata seorang mukmin, bahkan dapat mengusir balak dan menghilangkan nya dengan sangat luar biasa bahkan bisa dikatakan bahwa do`a merupakan musuh dari balak, melindungi, menjaga dan mencegah nya bagi seorang muslim.

Allah Ta`ala berfirman :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ ﴿١٨٦﴾

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (Q.S.2:186)

5). Hendaknya setiap kita yakin dengan seyakin yakin nya bahwa kehidupan dunia adalah ladang untuk ujian dan cobaan .

Allah Ta`ala berfirman :

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ ﴿٢﴾

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun," . (Q.S.67:2)

Oleh karena nya wahai para hamba Allah, seyogyanya kita mengetahui bahwa kesenangan dunia bercampur dengan kesedihan, kebahagiaan nya berpadu dengan kegundahan dan kesedihan, sehat nya diselai dengan sakit, dan kekayaan nya berseling dengan kefakiran. ( bahkan hidupnya akan diputus oleh kematian )

6). Seorang mukmin hendak nya mengetahui dan meyakini bahwa kesembuhan dan pengangkat penyakit hanya datang dari Allah Ta`ala tidak ada sekutu bagi Nya.
hendak nya kita merenungkan perkataan Nabi Ibrahim alaihisalam - kekasih Allah Ar-Rahman - dalam firman Nya :

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ ﴿٨٠﴾

"dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku," . (Q.S.26:80)

Kita memohon kepada Allah Ta`ala dengan Nama-Nama Yang Indah dan Sifat-Sifat Yang Tinggi untuk menyembuhkan orang-orang yang sakit diantara kita dan dari kalangan kaum muslimin, dan semoga menghilangkan kesusahan orang-orang yang mendapat kesusahan dan kegundahan dan kita memohon kepada Allah Ta`ala untuk melindungi kita dan kaum muslimin disetiap tempat dan waktu dari segala balak, petaka dan keburukan.

Minggu, 08 Maret 2020

RIDHO ALLAH TA`ALA

Khutbah Jum`at masjid Nabawy

oleh : As-Syaikh  DR. Abdul Muhsin ibn Muhammad Al-Qo`sim, hafidhohullahu Ta`ala.

(  Jum`at : 5 Safar 1441 H  )

Khutbah Pertama:

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

Amma ba`du : 

Wahai para hamba, bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar taqwa, dan berpeganglah dengan agama Islam dengan genggaman yang kuat.

Wahai kaum muslimin...

Sesungguhnya Allah Ta`ala memiliki nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang agung, dan setiap dari nama dan sifat tersebut merupakan permisalan yang sangat agung, dan beriman dengannya merupakan rukun Tauhid dan menjadikan suatu amalan menjadi baik dan diterima. 

Diantara sifat Allah Ta`ala yang ditetapkan dalam al-Qur`an dan as-Sunnah adalah sifat Ridho, dan Allah ridho dan murka tidak seperti makhluknya para manusia, dan para generasi salaf telah menetapkannya dari para sahabat dan tabi´in dan seterusnya.

Menggapai ridho Allah Ta`ala semata merupakan tujuan dari perjuangan para Nabi, kekasih Allah dan orang-orang shaleh. 

Allah Ta`ala berfirman : 

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْرِى نَفْسَهُ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ رَءُوفٌۢ بِٱلْعِبَادِ ﴿٢٠٧﴾

"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya." (Q.S. 2: 207)

Allah Ta`ala memberikan pujian dan sanjungan kepada nabiyullah Ismail ´alahissalam karena telah menggapai ridho-Nya . 

Allah Ta`ala berfirman: 

وَٱذْكُرْ فِى ٱلْكِتَٰبِ إِسْمَٰعِيلَ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ صَادِقَ ٱلْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَّبِيًّا ﴿٥٤﴾  وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُۥ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِۦ مَرْضِيًّا ﴿٥٥﴾

"Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya."  (Q.S. 19: 54-55)

Allah Ta`ala berkisah tentang nabi Musa  ´alaihissalam menggapai ridho dengan bersegera mendatangi bukit Thurisina setelah dipetintahkan kepadanya .

Allah Ta`ala berfirman : 

۞ وَمَآ أَعْجَلَكَ عَن قَوْمِكَ يَٰمُوسَىٰ ﴿٨٣﴾  قَالَ هُمْ أُو۟لَآءِ عَلَىٰٓ أَثَرِى وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَىٰ ﴿٨٤﴾

"Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?" Berkata, Musa: "Itulah mereka sedang menyusuli aku dan aku bersegera kepada-Mu. Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)". (Q.S. 20: 83-84)

Nabiyullah Sulaiman ´alahissalam berdoa memohon kepada Allah Ta`ala agar dikaruniai kepadanya amal shaleh yang dapat menggapai ridho-Nya. 

Allah Ta`ala berfirman : 

 وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿١٩﴾

"Dan dia (sulaiman) berdoa: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". (Q.S. 27: 19)

Nabiyullah Zakaria ´alaihissalam berdoa memohon kepada Allah agar diberikan keturunan yang senantiasa diridhoi.

Allah Ta`ala berfirman : 

يَرِثُنِى وَيَرِثُ مِنْ ءَالِ يَعْقُوبَ ۖ وَٱجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا ﴿٦﴾

"Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai". (Q.S. 19: 6)

Allah Ta`ala mengkisahkan nabi kita Muhammad Shallallahu ´alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang senantiasa berbuat ihsan dan beramal saleh untuk menggapai ridho-Nya.

Allah Ta`ala berfirman: 

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَراهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًا ۖ﴿٢٩﴾

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya". (Q.S. 48: 29)

Dalam rangka menggapai ridho Allah Ta`ala, kaum Muhajirin rela hijrah meninggalkan rumah dan harta benda mereka .

Allah Ta`ala berfirman : 

لِلْفُقَرَآءِ ٱلْمُهَٰجِرِينَ ٱلَّذِينَ أُخْرِجُوا۟ مِن دِيَٰرِهِمْ وَأَمْوَٰلِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًا  ﴿٨﴾

"(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya ." (Q.S. 59: 8)

Dan seorang yang beriman bertawasul dalam doanya dengan ridho Allah Ta`ala dari murka-Nya, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ´alaihi wa sallam dalam doanya:   

اللَّهُمَّ انی أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

"Allohumma inni a’uudzu biridlooka min sakhotik, wa bimu’aafaatika min ‘uquubatik, wa a’uudzubika minka laa uhshii tsanaa-an ‘alaika anta kamaa atsnaita ‘alaa nafsik".

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dengan keridhaanMu (agar selamat) dari kebencianMu, dan dengan keselamatanMu (agar terhindar) dari siksaanMu. Dan aku berlindung kepadaMu dariMu, Aku tidak membatasi pujian kepadaMu. Engkau (dengan kebesaran dan keagunganMu) adalah sebagaimana pujianMu kepada diriMu.”

Dan barometer baiknya suatu amalan dan diterimanya tergantung pada keikhasan seorang hamba dan berharap akan ridho-Nya .

Allah Ta`ala berfirman: 

۞ لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَىٰهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَٰحٍۭ بَيْنَ ٱلنَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا ﴿١١٤﴾

"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar." (Q.S. 4: 114)

Nafkah yang diberikan untuk anak dan keluarga akan diberikan ganjaran dan keberkahan jika nafkah tersebut diniatkan untuk mencari ridho Allah Ta`ala.

Allah Ta`ala berfirman : 

وَمَثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمُ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍۭ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَـَٔاتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ ﴿٢٦٥﴾
"Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat." (Q.S. 2: 265)

Allah Ta`ala mengagungkan orang orang yang menunaikan ibadah haji menuju baitullah yang mencari ridho-Nya .

Allah Ta`ala berfirman : 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُحِلُّوا۟ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ وَلَا ٱلشَّهْرَ ٱلْحَرَامَ وَلَا ٱلْهَدْىَ وَلَا ٱلْقَلَٰٓئِدَ وَلَآ ءَآمِّينَ ٱلْبَيْتَ ٱلْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّن رَّبِّهِمْ وَرِضْوَٰنًا ۚ  ﴿٢﴾

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang hadya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya."  (Q.S. 5: 2)

Seorang muslim dituntut untuk senantiasa menggapai ridho Allah Ta`ala dimanapun ia berada, baik ketika mukim (berdiam dirumah) ataupun musafir bepergian dari rumahnya, dalam keadaan suka maupun berduka, dan dalam semua keadaannya.

Dalam bersafar diajarkan melantunkan doa agar senantiasa menggapai ridho-Nya : 

سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَـٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْن  اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِيْ سَفَرِنَا هَـٰذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى

"Subhanal-ladzii sakh-khoro lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahu muqriniin. 
Wa innaa ilaa robbinaa lamunqolibuun, 
Allaahumma innaa nas-aluka fii safarinaa haadzal birro wat-taqwaa, wa minal 'amali maa tardho"

Maha Suci Tuhan yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (di hari Kiamat).
Ya Allah sesungguhnya kami memohon kebaikan dan taqwa dalam bepergian ini, kami mohon perbuatan yang meridhokan-Mu."

Jika seorang muslim dilanda musibah maka seyogyanya tidak berucap kecuali apa yang diridhoi oleh Allah Ta`ala, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ´alaihi wa sallam tatkala mendapati musibah wafatnya putra beliau Ibrahim, beliau berkata:

إنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ والقَلب يَحْزنُ ، وَلاَ نَقُولُ إِلاَّ مَا يُرْضِي رَبَّنَا ، وَإنَّا لِفِرَاقِكَ يَا إبرَاهِيمُ لَمَحزُونُونَ 

”Sungguh mata menangis dan hati bersedih akan tetapi tidak kita ucapkan kecuali yang diridhoi oleh Allah, dan sungguh kami sangat bersedih berpisah denganmu wahai Ibrahim”. (HR Al-Bukhari)

Dan diantara rahmat Allah Ta`ala dan karunia-Nya, menurunkan syariat agama islam yang senantiasa diridhoi-Nya. 

Allah Ta`ala berfirman: 

 ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ  ﴿٣﴾

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (Q.S. 5: 3)

Dan dengan merealisasikan agama islam, seseorang mendapat ridho ar-Rohman dan dengan beriman kepada-Nya akan menghantarkan pada kebahagiaan dunia dan akhirat dan mewariskan ridho-Nya.

Allah Ta`ala berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ خَيْرُ ٱلْبَرِيَّةِ ﴿٧﴾  جَزَآؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۖ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِىَ رَبَّهُۥ ﴿٨﴾

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya." (Q.S. 98: 7-8)

Orang-orang yang beriman dan beramal saleh sunggah ia telah menempuh jalan ridho. 

Allah Ta`ala berfirman: 

إِن تَكْفُرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلْكُفْرَ ۖ وَإِن تَشْكُرُوا۟ يَرْضَهُ لَكُمْ ۗ ﴿٧﴾

"Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu." (Q.S. 39: 7)

Tauhid merupakan pengesaan kepada Allah Ta`ala dalam ibadah yang merupakan amalan paling mulia di sisi Allah Ta`ala dan ridho jika para hamba hanya menyembah-Nya serta murka jika disekutukan dan dijadikan tandingan dan ridho jika seluruh hamba berpegang teguh dengan tali Allah serta tidak bercerai berai.

Nabi Shallallahu ´alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا، وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا، فَيَرْضَى لَكُمْ: أَنْ تَعْبُدُوهُ، وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا، وَيَكْرَهُ لَكُمْ: قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةِ الْمَالِ

“Sesungguhnya Allah ridho terhadap kalian pada tiga hal dan memurkai kalian karena tiga hal. Allah meridhoi kalian jika, Kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya dan Kalian semua berpegang teguh dengan tali Allah serta tidak berpecah belah." (HR. Muslim)

Barangsiapa yang merealisasikan Tauhid niscaya Allah Ta`ala ridho kepada-Nya.

Allah Ta`ala berfirman: 

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلآخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُون 

"Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung." (Q.S.58: 22)

Barang siapa yang menolong agama Allah Ta`ala niscaya Allah akan menolongnya dan menguatkannya.

Allah Ta`ala berfirman:

۞ لَّقَدْ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنِ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَٱلشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِى قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَٰبَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)." (Q.S.48: 18)

Kejujuran merupakan pokok keimanan dan dengannya seorang hamba mendapatkan manfaat di dunia dan akhirat.

Allah Ta`ala berfirman:  

قَالَ ٱللَّهُ هَٰذَا يَوْمُ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّٰتٌتَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ ﴿١١٩

" Allah berfirman: "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar"." (Q.S.5: 119)

Syukur merupakan amalan yang dapat mengikat kenikmatan, melanggengkan dan bahkan menambahnya, dan menggapai pahala yang sangat besar serta mendapat ridho-Nya.

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

إن ثلاثة من بني إسرائيل : أبرص وأقرع وأعمى، فأرادالله أن يبتليهم، فبعث إليهم ملكا،...........
. قال : وأتى الأعمى في صورته فقال : رجل مسكين وابن سبيل قد انقطعت بي الحبال في سفري، فلا بلاغ لي اليوم إلا بالله ثم بك، أسألك بالذي رد عليك بصرك شاة أتبلغ بها في سفري، فقال : قد كنت أعمى فرد الله إلي بصري، فخذ ما شئت، ودع ما شئت، فوالله لا أجهدك اليوم بشيء أخذته لله، فقال : أمسك مالك، فإنما ابتليتم، فقد رضي الله عنك وسخط على صاحبيك.

“Sesungguhnya ada tiga orang dari bani Israil, yaitu : Penderita penyakit kusta, orang berkepala botak, dan orang buta. Kemudian Allah Subhanahu wata’ala ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat.....

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta, dengan menyerupai keadaannya dulu disaat ia masih buta, dan berkata kepadanya : “Aku adalah orang yang miskin, yang kehabisan bekal dalam perjalanan, dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga kau tidak dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini, kecuali dengan pertolongan Allah kemudian pertolongan anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan anda, aku minta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku”. Maka orang itu menjawab : “Sungguh aku dulunya buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang anda sukai, dan tinggalkan apa yang tidak anda sukai. Demi Allah, saya tidak akan mempersulit anda dengan mengembalikan sesuatu yang telah anda ambil karena Allah”. Maka malaikat tadi berkata : “Peganglah harta kekayaan anda, karena sesungguhnya engkau ini hanya diuji oleh Allah, Allah telah ridho kepada anda, dan murka kepada kedua teman anda”. (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Seorang hamba senantiasa membutuhkan makanan dan minuman, dan dari keutamaan Allah Ta`ala senantiasa mencurahkan nikmat makanan dan minuman, dan jika hamba tersebut menyantapnya kemudian memuji kepada Allah niscaya ia akan diridhoi.

Rosulullah shallallahu ´alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ اللهَ لَيَرْضَى عَنِ العَبْدِ أنْ يَأكُلَ الأَكْلَةَ ، فَيَحمَدَهُ عَلَيْهَا ، أَوْ يَشْرَبَالشَّرْبَةَ ، فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah sangat ridho kepada seorang hamba yang memakan makanan lalu memuji Allah karena makanan tersebut, atau meminum suatu minuman lalu memuji Allah karenanya” (HR. Muslim)

Kehidupan dunia dipenuhi dengan ujian dan cobaan dan barangsiapa yang berlapang dada dan ridho maka sedungguhnya ia mendapat ridho Allah Ta`ala. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya balasan terbesar dari ujian yang berat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Barangsiapa ridho, maka Allah pun ridho. Dan barangsiapa murka atau tidak suka pada cobaan tersebut, maka baginya murka Allah.” (HR. At-Tirmidzy)

Lisan merupakan pintu kebajikan ataupun pintu keburukan, dan ucapan yang baik membawa pada ridho Allah Ta`ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ الله تَعَالَى مَا يُلْقِي لَهَا بَالاً يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجاتٍ

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu perkataan yang diridhoi oleh Allah, yang tidak ia pedulikan perkataan tersebut, maka Allah mengangkatnya beberapa derajat karena perkataan tersebut.”  (HR Al-Bukhari)

Sebagaimana Allah Ta`ala menyukai kesucian hati, maka Ia mencintai kesucian secara lahiriyah.

Rasulullah shallallahu ´alaihi wa sallam bersabda: 

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Bersiwak membuat mulut bersih dan mendatangkan ridha Allah.” (HR. An-Nasa`i)

Pada hari kiamat harta dan keturunan tidak meliliki arti.

Allah Ta`ala berfirman: 

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ﴿٨٨﴾ إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ﴿٨٩﴾

"(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (Q.S. 26: 88-89)

Seseorang tidak dapat memberikan Syafaat antara satu dengan lainnya kecuali diberikan ijin oleh Allah dan orang tersebut diridhoi-Nya.

Allah Ta`ala berfirman:

يَوْمَئِذٍ لَّا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ ٱلرَّحْمَٰنُ وَرَضِىَ لَهُۥ قَوْلًا ﴿١٠٩﴾

"Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya." (Q.S. 20: 109)

Dan tidak akan dapat memberikan syafaat kecuali pada orang yang diridhoi.

Allah Ta`ala berfirman:

 وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرْتَضَىٰ 

"Dan mereka tiada memberi syafa'at melainkan kepada orang yang diridhai Allah." (Q.S. 2: 28)

Di dalam Surga orang-orang yang beriman mendapatkan banyak limpahan kenikmatan yang tiada tara, namun ridho Allah lebih dari semua itu.

Allah Ta´ala berfirman:

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَةً فِى جَنَّٰتِ عَدْنٍ ۚ وَرِضْوَٰنٌ مِّنَ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ ﴿٧٢﴾

"Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar." (Q.S. 9: 72)

Jika Allah ridho dengan para penduduk Surga, maka mereka tidak akan mendapat murka Allah selamanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ الله – عز وجل – يَقُولُ لأَهْلِ الجَنَّةِ : يَا أهْلَ الجَنَّةِ ، فَيقولُونَ : لَبَّيكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ ، فَيقُولُ : هَلْ رَضِيتُم ؟ فَيقُولُونَ : وَمَا لَنَا لاَ نَرْضَى يَا رَبَّنَا وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أحداً مِنْ خَلْقِكَ ، فَيقُولُ : ألاَ أُعْطِيكُمْ أفْضَلَ مِنْ ذلِكَ ؟ فَيقُولُونَ : وَأيُّ شَيءٍ أفْضَلُ مِنْ ذلِكَ ؟ فَيقُولُ : أُحِلُّ عَلَيكُمْ رِضْوَانِي فَلاَ أسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أبَداً

“Sesungguhnya Allah azza wa jalla berkata kepada penghuni surga: “Wahai penghuni surga..”, mereka berkata: “Kami memenuhi panggilanMu, kami menta’atiMu”. Allah berkata: “Apakah kalian ridho (puas)?”, maka mereka berkata: “Kenapa kami tidak ridho (puas) sementara Engkau telah memberikan kepada kami apa yang tidak Engkau berikan kepada seorangpun dari ciptaanMu”. Maka Allah berkata: “Maukah Aku berikan kepada kalian yang lebih baik dari ini?”. Mereka berkata: “Apakah yang lebih baik dari ini?”. Allah berkata: “Aku telah menurunkan kepada kalian keridhoanKu, maka Aku tidak akan marah kepada kalian setelah ini selama-lamanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Wahai kaum muslimin.....

Sesungguhnya beberuntungan yang hakiki diraih dengan berpegang erat tehadap ajaran agama islam, dan dengannya menggapai ridho Allah Ta`ala, dan barang siapa berpegang erat dengan ridho Allah niscaya ia akan dirihoi.

Barang siapa yang mencari ridho Allah Ta`ala dan mengutamakan dari segalanya maka niscaya ia akan diridhoi Allah dan Allah perintahkan para manusia untuk ridho kepadanya.

Namun, barangsiapa yang mencari keridhoan manusia dengan kemarahan Allah maka Allah akan marah kepadanya dan menjadikan manusia marah kepadanya.

Allah Ta`ala berfirman: 

أَفَمَنِ ٱتَّبَعَ رِضْوَٰنَ ٱللَّهِ كَمَنۢ بَآءَ بِسَخَطٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَمَأْوَىٰهُ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ ٱلْمَصِيرُ ﴿١٦٢﴾

"Apakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Allah dan tempatnya adalah Jahannam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali." (Q.S. 3: 162)

بارک الله لی ولکم فی القران العظبم ونفعنی وایاکم بما فیه من الایات والذکر الحکیم واقول قیل هذا واستغفرالله لی ولکم ولساٸر المسلمین من کل ذنب واستغفروه انه هو الغفور الرحیم

Khubah Kedua: 

الحمد لله علی احسانه، والشکر له علی توفیقه وامتنانه، واشهد ان لااله الا الله واشهد ان نبینا محمدا عبده ورسوله، وصلی الله علیه وعلی اله واصحابه وسلم تسلیما مزیدا 

Wa ba`du: 

Sesungguhnya barangsiapa yang diridhoi Allah Ta`ala niscaya akan diberikan nikmat yang paling agung di dalam Surga.

Allah Ta`ala berfirman:

۞ لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ ٱلْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ  ﴿٢٦﴾

"Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya." (Q.S. 10: 26)

Dan tambahannya adalah melihat wajah Allah Yang Maha Mulia, sebagaimana ditafsirkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dan jika kaum mukminin melihat wajah Allah Ta`ala maka hal tersebut merupakan kenikmatan yang paling agung bagi mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنْ النَّارِ قَالَ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ 

“Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Ta’ala berfirman :  “Apakah kalian wahai penghuni surga menginginkan sesuatu sebagai tambahan dari kenikmatan surga ?” Maka mereka menjawab :“Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari azab neraka?” Maka pada waktu itu Allah membuka hijab yang menutupi wajah-Nya Yang Mahamulia, dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu kenikmatan yang lebih mereka sukai daripada melihat wajah Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Muslim )

Dan apabila kaum mukminin telah melihat wajah Allah Ta`ala, maka wajah penghuni surga bertambah bersinar dan gemerlap.

Allah Ta`ala berfirman: 

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ ﴿٢٢﴾  إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ﴿٢٣﴾

"Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat." (Q.S. 75: 22-23)

Al-Imam Al-Hasan rahimahullah berkata: "Kaum mukminin melihat Allah Ta`ala maka wajah mereka menjadi bertambah bersinar dan bercahaya".

Kemudian ketahuilah wahai para hamba, sesungguhnya Allah Ta`ala memerintahkan kepada kalian untuk bershalawat dan salam kepada Nabi yang Mulia, Allah berfirman: 

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا ﴿٥٦﴾

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (Q.S. 33: 56)

اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد، وارض اللهم عن خلفائه الراشدين، الذين قضوا بالحق وبه كانوا يعدلون، أبی بكر وعمر وعثمان وعلي، وعن سائر الصحابة أجمعین، وعنا معهم بجودك وكرمك يا أكرم الأكرمين. .. .
اللهم أعز الإسلام والمسلمين، وأذل الشرك والمشركين، ودمر أعداء الدين، واجعل اللهم هذا البلد آمنا مطمئنا رخاء وسائر بلاد المسلمين..... 
اللهم ارض عنا، وارزقنا لذة النظر إلى وجهك الكریم، ياذا الجلال ولاإكرام......
اللهم إنا نسألك التو فيق والسعادة فی الدنيا والآخرة. 
اللهم ألهمنا رشدنا، َوقنا شر أنفسنا، واصرف عنا الفتن ما ظهر منها وما بطن....
اللهم وفق إمامنا وولی عهده لما تحب وترضى، وخذ بناصيتهما للبر والتقوى، ووفق جميع ولاة أمور المسلمین للعمل بكتابك وتحكيم شرعك يا قوي يا عزيز.......
ربنا اتنا فی الدنیا حسنة وفی الاخرة حسنة وقنا عذاب النار.....
عباد الله : 
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ، فاذكروا الله العظيم الجليل يذكركم، واشكروه على 
آلائه ونعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.

Senin, 13 Januari 2020

KEINDAHAN UKHUWAH ISLAMIYAH

RINGKASAN KAJIAN “KEINDAHAN UKHUWWAH ISLAMIYYAH”

Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili -hafizhahullaah-

[DEFINISI UKHUWWAH SECARA BAHASA DAN UKHUWWAH DALAM AGAMA ISLAM (UKHUWWAH ISLAMIYYAH)]

- Definisi Ukhuwwah secara bahasa adalah: persaudaraan sebapak, seibu, atau sebapak seibu.

Dan bangsa Arab hanya mengenal Ukhuwwah secara bahasa. Dan ini adalah salah satu dari makna Ukhuwwah. Karena Ukhuwwah ada dua:

Pertama: Saudara dalam nasab.

Kedua: Saudara dalam agama dan iman

Dan yang kedua inilah yang dimaksud dalam kajian ini. Dan pengertian Ukhuwwah dalam agama Islam (Ukhuwwah Islamiyyah) adalah: bahwa setiap yang beragama Islam -dimana dia bersyahadat dengan dua kalimat syahadat, menegakkan Shalat, dst-: maka dia adalah saudara kita, berdasarkan nash hadits dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah -radhiyallaahu ‘anhu-, bahwa Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ: لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَكْذِبُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا -وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ-

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain; maka tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, dan menghinakannya. Takwa itu di sini.” Beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali.

Inilah Ukhuwwah Islamiyyah: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain.”

Dan terlebih lagi seorang mukmin; maka dia adalah saudara kita; karena mukmin adalah lebih tinggi derajatnya dari muslim.

Dan agama ini ada tiga tingkatan: muslim (tingkatan islam), mukmin (tingkatan iman), dan muhsin (tingkatan ihsan). Sebagaimana dalam hadits Jibril, Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- ditanya oleh Malaikat Jibril (yang berbentuk seorang laki-laki) tentang: Islam, Iman, dan Ihsan. Kemudian setelah menjawabnya; beliau bersabda di akhirnya:

فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ، أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ

“Dia adalah Jibril, yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.”

Para ulama berkata: hadits ini menunjukkan bahwa agama ada tiga tingkatan: Islam, Iman, dan Ihsan.

Maka mukmin adalah saudara kita. Allah berfirman:

{إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ...}

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…” (QS. Al-Hujurat: 10)

Dan terlebih lagi seorang muhsin; maka juga saudara kita.

Jika telah kita fahami ini; maka ini menunjukkan bahwa Ukhuwwah Islamiyyah bertingkat-tingkat sebagaimana Ukhuwwah dalam nasab: yang paling tinggi saudara sebapak seibu, kemudian sebapak, dan terakhir: seibu. Maka Ukhuwwah Islamiyyah yang paling tinggi: Ukhuwwah dengan Muhsin, kemudian dengan Mukmin, terakhir: Ukhuwwah dengan Muslim.

Sehingga kita wajib melaksanakan hak-hak Ukhuwwah sesuai dengan derajat masing-masing dari saudara-saudara kita seagama. Maka orang-orang yang bertakwa; merekalah yang paling besar kita berikan hak, kemudian yang di bawahnya, dan yang di bawahnya. Semakin bertakwa seseorang; maka semakin besar hak Ukhuwwah-nya.

[KEINDAHAN-KEINDAHAN UKHUWWAH ISLAMIYYAH]

Keindahan Ukhuwwah Islamiyyah sangatlah banyak. Maka saya isyaratkan kepada yang paling penting; yaitu: yang berkaitan dengan hak-hak yang Allah wajibkan atas kaum muslimin. Maka DALAM HAK-HAK INI TERDAPAT CONTOH YANG AGUNG ATAS KEINDAHAN UKHUWWAH ISLAMIYYAH.

PERTAMA: Di antara hak terbesar yang Allah wajibkan atas kaum muslimin adalah: Cinta karena Allah. Ini merupakan hak yang agung sekaligus buah yang besar dari Ukhuwwah Islamiyyah. Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ؛ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا للهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ؛ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Ada tiga perkara, barangsiapa (ketiga perkara) itu terdapat di dalam dirinya; maka dia pasti mendapatkan manisnya iman: (1)Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari pada yang lain, (2)mencintai orang lain yang tidak dia cintai kecuali hanya karena Allah, dan (3)tidak mau kembali kepada kekafiran -setelah dia diselamatkan oleh Allah darinya-; sebagaimana dia benci kalau dicampakkan ke dalam api.”

Maka dalam hadits ini terdapat: hak Allah dan Rasul-Nya; yakni dalam sabda beliau: “Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari pada yang lain”, kemudian terdapat isyarat kepada hak antara kaum muslimin dalam sabda beliau: “mencintai orang lain yang tidak dia cintai kecuali hanya karena Allah”.

Jika seorang masuk Islam; maka dia berhak mendapatkan hak mahabbah (kecintaaan) dari kita sesuai dengan kadar ketaatannya. Semakin meningkat ketaatannya; maka semakin besar pula haknya.

Jika seorang muslim bisa mewujudkan mahabbah ini; maka dia akan meraih derajat yang agung dalam iman, bahkan dia bisa menyempurnakan derajat keimanannya. Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

مَنْ أَحَبَّ للهِ، وَأَبْغَضَ للهِ، وَأَعْطَى للهِ، وَمَنَعَ للهِ؛ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيْمَانَ

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan pemberian karena Allah; maka dia telah menyempurnakan iman.”

Perhatikan bahwa dalam hadits ini disebutkan: muslim akan sempurna imannya dengan melaksanakan perkara-perkara di atas. Dan ini termasuk keindahan Ukhuwwah; yaitu: bisa menyempurnakan iman.

KEDUA: Di antara keindahan Ukhuwwah Islamiyyah dan hak-haknya adalah: “Muwaalah” (mencintai) dan “Nushrah” (menolong) kaum muslimin. Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

{وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ...}

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong (memberikan muwaalaah) bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar…” (QS. At-Taubah: 71)

Muwaalaah adalah: Mahabbah (mencintai) disertai Nushrah (menolong). Dan sebelumnya telah disebutkan tentang Mahabbah, maka di sini ditekankan tentang Nushrah. Maka siapa saja yang engkau cintai dan engkau tolong; maka engkau telah membrikan Muwaalaah kepadanya. Jangan sampai seorang muslim menyerahkan muslim yang lain kepada musuhnya; bahkan harus menolongnya.

Dan di antara buah dari memberikan Muwaalaah kepada kaum mukminin ini adalah: bahwa barangsiapa memberikan Muwaalaah kepada mukmin; maka Allah akan memberikan Muwaalaah kepadanya. Allah berfirman:

{وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ...}

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong (memberikan muwaalaah) bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar…” (QS. At-Taubah: 71)

Maka dalam ayat ini disebutkan: barangsiapa memberikan Muwaalaah kepada mukmin; maka dia merupakan orang yang beriman. Dan siapa saja yang mewujudkan keimanan; maka Allah akan memberikan Muwaalaah kepadanya; sebagaimana dalam firman-Nya:

{اللهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ...}

“Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman)…” (QS. Al-Baqarah: 257)

Dan Allah berfirman dalam hadits qudtsi:

مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ...

“Barangsiapa memusuhi wali-Ku; maka sungguh Aku telah mengumumkan perang kepadanya…”

KETIGA: Di antara hak-hak yang Allah wajibkan dan merupakan buah dan keindahan dari Ukhuwwah Islamiyyah adalah: bahwa mukmin mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri. Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman (dengan sempurna) seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”

Maka ini hadits yang agung tentang Ukhuwwah, bahwa tidak beriman seseorang sampai dia mencintai untuk saudaranya sesama muslim apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri. Dan tidak beriman di sini maksudnya: tidak beriman dengan keimanan yang wajib. Karena dinafikannya keimanan terkadang maksudnya dinafikan asal keimanan; sehingga menjadi kafir. Dan terkadang maksudnya dinafikannya kesempurnaan yang wajib dari iman tersebut; bukan asal imannya. Dan hadits di atas merupakan penafian kesempurnaan yang wajib dari iman. Dan Khawarij telah sesat dalam masalah ini ketika mereka mengkafirkan kaum muslimin disebabkan kemaksiatan yang kaum muslimin lakukan; sehingga Khawarij tidak memberikan Ukhuwwah lagi kepada mereka.

Hadits ini di antara hadits yang paling agung tentang Ukhuwwah. Dan “Mafhuum Mukhaalafah” (pemahaman sebaliknya) dari hadits ini adalah: engkau tidak menyukai untuk saudaramu apa yang tidak engkau sukai untukmu. Dan para ulama mengatakan: “Hadits ini merupakan timbangan bagi Ukhuwwah Islamiyyah.” Jika engkau menyukai untuk saudaramu apa yang engkau sukai untuk dirimu sendiri; maka tidak mungkin engkau menzhalimi saudaramu sesama muslim, tidak mungkin engkau mengganggunya dan melampaui batas terhadapnya.

Sungguh, kalau kaum muslimin mengamalkan hadits ini; tentulah tidak ada gangguan, kedengkian dan kecurangan di antara mereka. Maka, hadits ini mengandung manhaj yang agung.

Pernah datang seorang pemuda kepada Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- meminta izin untuk berzina. Maka orang-orang pun mencelanya, dan Rasulullah tidak memarahinya. Beliau bersabda: “Apakah engkau suka kalau ibumu melakukannya?” Anak muda itu menjawab: “Tidak.” Beliau bertanya lagi: “Apakah engkau suka kalau anak perempuanmu melakukannya?” Anak muda itu menjawab: “Tidak.” Beliau bertanya lagi: “Apakah engkau suka kalau saudari perempuanmu melakukannya?” Anak muda itu menjawab: “Tidak.” Beliau bertanya lagi: “Apakah engkau suka kalau bibimu melakukannya?” Anak muda itu menjawab: “Tidak.” Maka beliau berdo’a: “Ya Allah, ampunilah dosanya dan sucikanlah hatinya.”

Kalaulah setiap orang yang ingin berbuat tidak senonoh terhadap perempuan: dia memperhatikan hadits ini; maka tentu dia akan menahan dirinya dari perbuatan tersebut. Karena perempuan itu adalah anak perempuan dari saudaranya sesama muslim, atau saudari perempuannya, atau bibi, atau bahkan ibu dari saudaranya sesama muslim.

Hadits yang agung ini hendaknya diamalkan dalam semua perkara:

- Untuk pedagang yang berbuat curang: “Apakah engkau suka kalau dicurangi?”

-Untuk pegawai yang suka menunda-nunda pekerjaan: “Apakah engkau suka kalau urusanmu ditunda-tunda?”

- Untuk suami yang menzhalimi istrinya: “Apakah engkau suka kalau anak perempuanmu dizhalimi oleh suaminya?”

- Untuk pengajar yang bersikap tidak baik terhadap anak didiknya: “Apakah engkau suka kalau anakmu diperlakukan seperti itu oleh gurunya?”

Maka segala hal yang engkau tidak sukai untuk dirimu: janganlah engkau bermu’amalah terhadap kaum muslimin dengan hal tersebut.

KEEMPAT: Di antara Ukhuwwah Islamiyyah dan buahnya adalah: saling menasehati di antara kaum muslimin. Hendaknya seorang muslim bersikap dengan nasehat (tulus) terhadap kaum muslimin. Sebagaimana dalam hadits Jarir bin ‘Abdillah -radhiyallaahu ‘anhu-, dia berkata: Aku membai’at Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- untuk: menegakkan Shalat, menunaikan Zakat, dan memberikan nasehat terhadap setiap muslim.”

Maka di sini disebutkan “setiap muslim” tanpa pandang bulu.

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- juga bersabda:

((الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ)) قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: ((للهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ))

“Agama itu adalah nasihat.” Mereka (para Sahabat) bertanya: Untuk siapa, (wahai Rasulullah)? Beliau menjawab: “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, imam-imam kaum Muslimin, dan kaum Muslimin pada umumnya.”

Nasehat kepada Allah yaitu dengan melaksanakan syari’at-Nya. Kepada Kitabullah: dengan mengamalkannya. Kepada Rasul-Nya: dengan ittiba’ (mengikuti) beliau. Kepada imam kaum muslimin: masuk di dalamnya nasehat kepada para penguasa; dengan tidak memberontak melawan mereka dan tidak menghasut manusia untuk membenci mereka. Nasehat kepada umumnya kaum muslimin: dengan mengerahkan kebaikan untuk mereka dan dengan menolong mereka dalam urusan mereka. Siapa saja yang mengerahkan kebaikan untuk saudaranya sesama muslim; maka dia telah memberikan nasehat kepadanya.

KELIMA: Dan di antara hak-hak Ukhuwwah: selamatnya dada terhadap saudaranya sesama muslim: dengan tidak dendam, hasad, dan benci terhadap seorang pun dari kaum muslimin. Dan yang menjelaskan hakikat dan menjadi prinsip dalam perkara ini adalah: sabda Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

((لَا تَحَاسَدُوْا، وَلَا تَنَاجَشُوْا، وَلَا تَبَاغَضُوْا، وَلَا تَدَابَرُوْا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا، الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ: لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَكْذِبُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا)) وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ((بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ((

“Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling najsyu (suatu bentuk tipuan dalam jual beli), janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi, dan janganlah sebagian kalian membeli barang yang sedang ditawar orang lain. Dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain; maka tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, dan menghinakannya. Takwa itu di sini.” Beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali. “Cukuplah keburukan bagi seseorang jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Setiap orang muslim atas orang muslim lainnya adalah haram: darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” [HR. Muslim]

Semua ini menunjukkan atas selamatnya dada terhadap kaum muslimin dan menunjukkan atas mencintai kebaikan untuk mereka. Dan ini merupakan kedudukan yang agung; dimana seorang datang menemui Allah dengan “qalbun saliim” (hati yang selamat), yaitu: selamat dari kesyirikan, dan juga selamat dari dendam dan hasad terhadap kaum muslimin. Allah berfirman tentang perkatan mereka:

{...وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا...}

“…dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman…” (QS. Al-Hasyr: 10)

KEENAM: Dan di antara keindahan Ukhuwaah Islamiyyah adalah: husnu zhann (berperasangka baik) terhadap kaum muslimin. Jangan sampai su-u zhann (berperasangka buruk) terhadap kaum muslimin, bahkan hendaknya segala perkara yang muncul dari mereka: dibawa kepada kemungkinan yang terbaik. Allah -Ta’aalaa- berfirman tentang tuduhan zina dari munafik kepada ‘Aisyah:

{لَوْلا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنفُسِهِمْ خَيْرًا...}

“Mengapa orang-orang mukmin dan mukminat tidak berbaik sangka terhadap diri mereka sendiri, ketika kamu mendengar berita bohong itu...” (QS. An-Nur: 12)

Maka, kita jauhi su-u zhann (berperasangka buruk) terhadap kaum muslimin, dan kita berhati-hati terhadap tipu daya syaithan yang berusaha memecah belah kaum muslimin.

KETUJUH: Di antara hak-hak Ukhuwwah: apa yang Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- sebutkan dalam sabdanya:

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

“Hak muslim atas muslim yang lain ada enam: (1)Jika engkau bertemu dengannya; maka ucapkanlah salam. (2)Jika dia mengundangmu; maka penuhilah undangannya. (3)Jika dia meminta nasehat kepadamu; maka nasehatilah dia. (4)Jika dia bersin kemudian mengucapkan “alhamdulillaah”; maka jawablah dengan “yarhamukallaah”. (5)Jika dia sakit; maka jenguklah. (6)Dan jika dia meninggal; maka antarkanlah jenazahnya.”

Ini adalah hak-hak yang agung; di dalamnya terdapat mahabbah (kecintaan) terhadap kaum muslimin:

(1)- Dimulai dari mengucapkan salam. Dan salam yang paling sempurna adalah: Assalaamu’alaikum Wa Rahmatullaahi Wa Baarakaatuh, kemudian Assalaamu’alaikum Wa Rahmatullah, kemudian Assalaamu’alaikum. Kemudian dijawab dengan yang semisal atau lebih baik. Akan tetapi sangat disayangkan kita saksikan kaum muslimin banyak yang mengabaikan salam ini. Dan kalaupun salam; maka hanya pada orang yang dikenal. Padahal salam itu diucapkan pada orang yang dikenal maupun tidak, karena demikianlah yang diajarkan oleh Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.

(2)- Undangan walimah dari muslim harus dipenuhi. Bahkan para ulama mengatakan bahwa memenuhi undangan walimah adalah wajib dengan sesuai kemampuan dan jika tidak ada kemungkaran.

(3)- Jika ada seorang muslim yang meminta nasehat kepada kita; maka kita harus menasehatinya.

(4)- Jika ada yang bersin dan dia mengucapkan alhamdulillaah; maka kita jawab dengan yarhamukallaah. Dan jika dia tidak mengucapkan alhamdulillaah; maka tidak perlu kita jawab.

(5)- Jika dia sakit; maka jenguklah.

(6)- Dan jika dia meninggal; maka antarkanlah jenazahnya.

Maka alangkah agungnya ajaran Islam. Dan alangkah agungnya hak-hak ini.

KEDELAPAN: Di antara hak-hak Ukhuwwah Islamiyyah adalah: memenuhi kebutuhan kaum muslimin.

Dari Ibnu ‘Umar -radhiyallaahu ‘anhumaa-: bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, dan ia bertanya: Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling dicintai oleh Allah dan amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah? Maka beliau bersabda:

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah: yang paling memberikan manfaat kepada orang lain. Dan amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah: memasukkan kegembiraan kepada seorang muslim, atau menghilangkan kesusahan darinya, atau membayarkan hutangnya, atau menghilangkan kehausannya. Sungguh, aku berjalan bersama saudara (sesama muslim) untuk menunaikan kebutuhannya: lebih aku sukai daripada i’tikaf sebulan di masjid ini (masji Nabawi)...” [HR. Atj-Thabrani]

Dan ini merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah: memenuhi kebutuhan kaum fakir miskin, kebutuhan orang yang sakit, dan lainnya.

KESEMBILAN: Di antara hak-hak Ukhuwwah adalah: mendamaikan antara kaum muslimin yang berselisih. Dan hal ini memiliki kedudukan yang besar. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

{لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ...}

“Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia…” (QS. An-Nisaa’: 114)

Allah juga berfirman:

{وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ * إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ...}

“Dan apabila ada dua golongan orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zhalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zhalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih)…” (QS. Al-Hujurat: 9-10)

Terkadang terjadi perselisihan dan kesalah fahaman di antara kaum muslimin. Maka tugas muslim yang lainnya adalah: mendamaikan mereka yang berselisih, akan tetapi mendamaikannya dengan keadilan. Karena terkadang ada orang yang mendamaikan akan tetapi dengan menzhalimi salah satu dari dua pihak yang bertikai. Maka Allah firmankan di sini bahwa mendamaikan haruslah dengan adil.

[PENUTUP]

Inilah sebagian dari hak-hak Ukhuwwah Islamiyyah. Dan banyak kaum muslimin pada zaman sekarang yang lalai terhadap banyak dari hak-hak ini; sehingga kita harus senantiasa menjaga hak-hak ini.

-ditulis dengan ringkas oleh: Ahmad Hendrix