Kamis, 02 Februari 2023

DAMPAK DOSA DAN MAKSIAT

DAMPAK DOSA DAN MAKSIAT 


Alhamdulillah, Was Sholatu was Salamu ala Rosulillah, wa ba'du;


Bertakwalah kalian kepada Allah Ta'ala dengan sebenar ketakwaan, sesungguhnya ketakwaan merupakan sebaik-baik kemuliaan yang kalian simpan dan kemuliaan yang agung dari apa yang kalian nampakkan, dan sebaik-baik pakaian yang dikenakan. 


Sesungguhnya kehidupan adalah hidupnya hati, seorang mukmin ia hidup dengan keimanan nya, sedangkan orang kafir adalah mayit walaupun ia hidup dikarenakan ia berpaling dari syariat Allah Ta'ala. 


Allah Ta'ala berfirman; 


أَمْوَٰتٌ غَيْرُ أَحْيَآءٍ ۖ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ ﴿٢١﴾


"(Berhala-berhala itu) benda mati, tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui kapankah (penyembahnya) dibangkitkan." (Q.S.16:21)


Umur manusia berguna jika dimakmurkan dengan ketaatan kepada Allah Ta'ala, jika tidak maka tidak bermanfaat Umur panjang baginya. 


Seorang hamba jika berpaling dari ketaatan kepada Allah Ta'ala maka ia terjatuh didalam kemaksiatan dan ia akan kehilangan hari-hari dunianya dan yang tersisa adalah penyesalan yang tidak berguna. 


Allah Ta'ala berfirman; 


يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى قَدَّمْتُ لِحَيَاتِى ﴿٢٤﴾


"Dia berkata, "Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini." (Q.S.89:24)


Sesungguhnya dosa dan maksiat sangat berbahaya bagi manusia dan hatinya, dampaknya sangat buruk bagi negeri dan kehidupan masyarakat yang akan mendatangkan keburukan dan bencana dan musibah yang besar, nikmat akan berganti menjadi adzab dan mengundang petaka dan kehancuran yang silih berganti, dengan kemaksiatan menjadikan segala urusan dan perkara terbelenggu dan terkunci kemudahan berganti dengan kesulitan, diharamkan rizki dari langit dan bumi, terangkatnya keberkahan, berubahnya kebaikan menjadi keburukan, pujian berganti dengan celaan dan cercaan pahala berganti menjadi dosa.


Sesungguhnya ketaatan kepada Allah Ta'ala merupakan benteng yang kokoh barangsiapa yang memasukinya ia mendapatkan jaminan rasa aman dan ketentraman, dan barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah Ta'ala akan menganti keamanan dengan ketakutan kerendahan dan kehinaan. 


Kemuliaan hanya diraih dan dicapai dengan keimanan dan ketaatan.


Allah Ta'ala berfirman; 


مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْعِزَّةَ فَلِلَّهِ ٱلْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ  ﴿١٠﴾


"Barangsiapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. " (Q.S.35:10)


Jiwa manusia akan mulia dan berderajat tinggi dengan ketaatan kepada Allah Ta'ala dan kemaksiatan mendatangkan kerendahan dan kehinaan, pelaku maksiat akan tertunduk dan terhina walaupun ia berpangkat dan berderajat. 


Allah Ta'ala berfirman; 


إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحَآدُّونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ أُو۟لَٰٓئِكَ فِى ٱلْأَذَلِّينَ ﴿٢٠﴾


"Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. "

(Q.S.58:20)


Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda;


 وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي.....


" Dan dijadikan kerendahan dan kehinaan bagi orang yang menyelisihi perintahku ".(HR. Ahmad)


Al Imam Al Hasan Al Basry rahimahullah berkata: " Allah Ta'ala enggan untuk memberikan kepada orang-orang yang bermaksiat kecuali kehinaan ".


Sesungguhnya dosa merupakan penyakit yang menjalar, kapan penyakit tersebut menguasai hati maka niscaya akan menjadikan dirinya binasa, dan merebaknya maksiat niscaya akan mendatangkan kebinasaan dan kehancuran bagi negri dan masyarakat. 


Sahabat mulia Abdullah Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu berkata; " Jika merebak perbuatan zina dan riba pada suatu negeri niscaya Allah Ta'ala mengumandangkan kehancuran dan petaka bagi mereka ".

 (HR. Ahmad)


Tiada keburukan dan kehancuran didunia yang lebih mengerikan yang disebabkan karena dosa dan maksiat. 


Allah Ta'ala berfirman; 


وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا۟ عَن كَثِيرٍ ﴿٣٠﴾


"Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)."

(Q.S.42:30)


Keburukan maksiat senantiasa menghantui dan mengikuti pelakunya sepanjang masa, sebagaimana iblis yang senantiasa terlaknat dan terbelenggu oleh dosa masa lalu. 


Allah Ta'ala berfirman; 


وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِىٓ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلدِّينِ ﴿٧٨﴾


"Dan sungguh, kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan." (Q.S.38:78)



Sebahagian orang mengira jika dosa tidak mendatangkan bencana secara seketika maka ia tidak menganggap nya sebagai dosa, ia lalai dan tertipu bahwa hukuman Allah Ta'ala akan datang secara tidak terkira walau pada masa akan datang tanpa kesadaran nya. 


Allah Ta'ala berfirman; 


 ۗ مَن يَعْمَلْ سُوٓءًا يُجْزَ بِهِۦ وَلَا يَجِدْ لَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا ﴿١٢٣﴾


" Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu, dan dia tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah." (Q.S.4:123)


Iblis dilaknat dan direndahkan derajat nya oleh Allah Ta'ala dikenakan enggan taat terhadap perintah Nya, Adam alaihi salam tersingkap aurat nya dan diturunkan ke bumi karena menerjang larangan Allah Ta'ala, seorang wanita yang rajin puasa dan sholat malam dicampakkan ke neraka dikarenakan memenjarakan tanpa makan dan minum pada seekor kucing peliharaan nya, dan seseorang yang sedang sombong akan derajat dan hartanya tiba-tiba Allah Ta'ala tenggelamkan dan benamkan kedalam bumi sepanjang masa ia merintih kesakitan dan merana. 


Maka takutlah dari melakukan dosa dan jangan pernah merasa aman dari hukuman Allah Ta'ala yang tertunda, dikarenakan merendahkan dosa dan menganggap kecil suatu kemaksiatan merupakan tanda kebinasaan dan kehancuran, setiap dosa yang diremehkan maka ketahuilah bahwa maksiat tersebut sangat besar dihadapan Allah Ta'ala Yang Maha Kuasa. 


Allah Ta'ala berfirman; 


 وَتَحْسَبُونَهُۥ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٌ ﴿١٥﴾


"Dan kamu menganggapnya sesuatu yang remeh, padahal dalam pandangan Allah itu suatu yang sangat besar." (Q.S.24:15)



Diriwayatkan dari sahabat mulia Sahal bin Sa’ad radiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda:


 إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَقَوْمٍ نَزَلُوا فِي بَطْنِ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ.


“Berhati-hatilah dari dosa-dosa yang dianggap remeh, karena permisalan dosa-dosa yang dianggap remeh ibarat sekelompok rombongan yang bersafar yang bermalam di suatu lembah, setiap orang mengumpulkan sebuah  kayu bakar, ini dengan kayu nya, itu dengan kayu nya, hingga mereka dapat memasak roti mereka. Sesungguhnya dosa-dosa yang dianggap remeh jika terhitung  keseluruhan nya dapat membinasakan pelakunya ” (HR. Ahmad)



Diriwayatkan oleh sahabat mulia Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan; 


إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ ، إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُوبِقَاتِ


“Sesungguhnya kalian mengerjakan amalan (dosa) di hadapan mata kalian tipis seperti rambut, namun kami (para sahabat) yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap dosa semacam itu seperti dosa besar.” (HR. Al-Bukhari)


Al Imam Muhammad bin Munkadir rahimahullah tatkala ajal menjemputnya beliau menangis, maka dikatakan kepada nya, apa yang menjadikan dirinya menangis? Maka ia berkata: " Aku tidak sedang menangisi dosa yang aku sadar melakukan nya, namun aku sedang menangis karena dosa yang aku tidak sadar melakukan nya sedangkan aku mengira itu dosa yang kecil namun ternyata dihadapan Allah Ta'ala itu merupakan dosa yang sangat besar ". 


Sesungguhnya jika suatu dosa dilakukan secara sembunyi dan tidak nampak dihadapan banyak orang, maka tidak akan mendatangkan keburukan kecuali hanya kepada pelakunya, namun jika dosa tersebut dilakukan secara terbuka terang-terangan dihadapan khalayak umum dan tidak ada upaya pengingkaran maka sungguh akan mendatangkan kehancuran dan petaka secara umum. 


Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda;


ما من قومٍ يُعملُ فيهم بالمعاصي ، هم أعزُّ و أكثرُ ممن يعملُه ، ثم لم يغيِّروه ، إلا عمَّهم اللهُ تعالى منه بعقابٍ


“Tidaklah suatu kaum berbuat maksiat, sementara di tengah-tengah mereka ada seorang yang lebih kuat dari mereka dan lebih disegani, namun orang yang lebih kuat dan disegani itu bersikap diam dan tidak mau mengubah kemaksiatan orang-orang tersebut, kecuali Allah akan meratakan siksa-Nya kepada mereka semua ". (HR. Ahmad)



Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda;


ما ظهرَ في قومٍ الزِّنا والرِّبا ؛ إلَّا أحلُّوا بأنفسِهِم عذابَ اللهِ .

Apabila perbuatan zina dan riba sudah terang-terangan di suatu negeri, maka penduduk negeri itu telah rela terhadap datangnya adzab Allah untuk diri mereka,“ (HR. Al Hakim)


Dosa akan menjadi besar dan berbahaya jika pelakunya menerjang dengan terang-terangan atau menganggap remeh atau berbangga atau menyebar luaskan dosa dan maksiat tersebut. 


Sebahagian manusia dengan sengaja mendatangkan kotak hitam(tv)  dirumahnya yang dapat merusak akidah muslim dan menyaksikan kemunkaran dan kemaksiatan dengan leluasa. 


Sebahagian manusia menebar benih-benih riba ke segala penjuru bahkan ke daerah pelosok yang penduduknya sangat jarang dengan menawarkan pinjaman dengan mengembalikan lebih banyak dari yang dipinjamkan, bahkan praktik riba telah masuk hingga dalam segala jenis transaksi di kota maupun desa. 


Sebahagian manusia menyebar luaskan praktik sihir dan perdukunan dengan menawarkan pengobatan, melariskan perdagangan, dan aneka ragam ramalan rizki, perjodohan, kesehatan, dan kesuksesan. 


Sebahagian manusia menjadi penggerak kemunkaran dengan membuka pintu ikhtilat, mensejajarkan antara pria dan wanita, menggalakkan lepas dari hijab, berdandan, bersolek, menampilkan aurat dengan dalih explorer seni dan budaya. 


Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata; " Dan jenis manusia semacam ini mereka tidak diampuni dosa-dosanya dan akan menutup pintu taubat dan menempuh jalan yang buntu ". 


Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda; 


كُلُّ أُمَّتِـي مُعَافًى إِلاَّ الْـمُجَاهِرِيْنَ وَإِنَّ مِنَ الْـمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ فَيَقُولُ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا؛ وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ


“Seluruh umatku akan dimaafkan oleh Allah, kecuali orang-orang yang berbuat (maksiat) secara terang-terangan.

Di antara bentuk menampakkan maksiat adalah ketika seseorang melakukan dosa di malam hari, dan Allah telah menutupinya. Namun, pagi harinya ia berkata kepada para manusia, "Wahai Fulan! Semalam aku telah melakukan dosa ini dan itu". 

Sungguh, pada malam itu Rabbnya telah menutupi aibnya, namun di pagi hari ia justru membeberkan sendiri apa yang telah Allah subhanahu wa ta’ala tutupi.” (HR. Al-Bukhari)


Sesungguhnya dosa bukan sebatas menerjang larangan saja, namun ketika seseorang meninggalkan kewajiban yang telah dibebankan, maka perbuatan tersebut adalah dosa. 


Seperti meninggalkan kewajiban sholat, puasa, zakat, haji dan sebagainya, demikian juga meninggalkan berdakwah dan amar ma'ruf dan nahi mungkar seperti seorang ayah yang tidak peduli dengan kehidupan anak dan istri nya secara nafkah, pendidikan, ibadah dan tarbiyah. 


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menerangkan, " Dan sungguh kebanyakan orang-orang yang bodoh mengira bahwa ber-istigfar hanya dilakukan oleh hamba tatkala menerjang larangan muharrom saja, bukan tatkala meninggalkan suatu kewajiban ". 


Sebagaimana dikatakan, barang siapa yang tidak mengerjakan dan melangkah menuju kewajiban atau ketaatan maka niscaya ia mundur dan terjatuh dalam dosa dan keburukan. 


Allah Ta'ala berfirman; 


لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ ﴿٣٧﴾


"(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang ingin maju atau mundur." (Q.S.74:37)



Jika suatu negeri dipenuhi pelaku dosa dan maksiat serta kedholiman, maka saat itulah adzab dari Allah Ta'ala segera turun. 


Allah Ta'ala berfirman; 


وَكَمْ قَصَمْنَا مِن قَرْيَةٍ كَانَتْ ظَالِمَةً وَأَنشَأْنَا بَعْدَهَا قَوْمًا ءَاخَرِينَ ﴿١١﴾  فَلَمَّآ أَحَسُّوا۟ بَأْسَنَآ إِذَا هُم مِّنْهَا يَرْكُضُونَ ﴿١٢﴾  لَا تَرْكُضُوا۟ وَٱرْجِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَآ أُتْرِفْتُمْ فِيهِ وَمَسَٰكِنِكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْـَٔلُونَ ﴿١٣﴾  قَالُوا۟ يَٰوَيْلَنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿١٤﴾ فَمَا زَالَت تِّلْكَ دَعْوَىٰهُمْ حَتَّىٰ جَعَلْنَٰهُمْ حَصِيدًا خَٰمِدِينَ ﴿١٥﴾



"Dan berapa banyak (penduduk) negeri yang zalim yang telah Kami binasakan, dan Kami jadikan generasi yang lain setelah mereka itu (sebagai penggantinya)."

" Maka ketika mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari (negerinya) itu."

"Janganlah kamu lari tergesa-gesa; kembalilah kamu kepada kesenangan hidupmu dan tempat-tempat kediamanmu (yang baik), agar kamu dapat ditanya."

" Mereka berkata, "Betapa celaka kami, sungguh, kami orang-orang yang zalim."

" Maka demikianlah keluhan mereka berkepanjangan, sehingga mereka Kami jadikan sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi." (Q.S.21:11-15)


Allah Ta'ala berfirman; 


وَكَذَٰلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلْقُرَىٰ وَهِىَ ظَٰلِمَةٌ ۚ إِنَّ أَخْذَهُۥٓ أَلِيمٌ شَدِيدٌ ﴿١٠٢﴾


"Dan begitulah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, sangat berat." (Q.S.11:102)



وعَنِ أَبِى قَتَادَةَ بْنِ رِبْعِىٍّ الأَنْصَارِىِّ أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ فَقَالَ : مُسْتَرِيحٌ ، وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ: الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ


Dari Abu Qatadah bin Rib’i al-Anshâri radhiyallahuanhu, dia menceritakan bahwa ada jenazah yang dipikul melewati Rasûlullâh Shallallahu alaihiwasallam, maka beliau bersabda, “Orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya”. 

Mereka para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah maksud orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya?”

Beliau menjawab, “Seorang hamba yang Mukmin beristirahat dari kepayahan dan gangguan dunia menuju rahmat Allâh. Sedangkan hamba yang fajir yang jahat berlumuran dosa maka seluruh manusia, bumi, pepohonan, dan binatang, beristirahat dari keburukan nya”. (HR. Al Bukhari dan Muslim)


Allah Ta'ala berfirman;


وَذَرُوا۟ ظَٰهِرَ ٱلْإِثْمِ وَبَاطِنَهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكْسِبُونَ ٱلْإِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوا۟ يَقْتَرِفُونَ ﴿١٢٠﴾


"Dan tinggalkanlah dosa yang terlihat ataupun yang tersembunyi. Sungguh, orang-orang yang mengerjakan (perbuatan) dosa kelak akan diberi balasan sesuai dengan apa yang mereka kerjakan."

(Q.S.6:120)




Sesungguhnya bentuk tertipunya seorang hamba adalah terus menerus bergelimang dengan dosa dan maksiat dengan berbesar harapan atas ampunan Allah Ta'ala tanpa ada penyesalan dan berhenti dari dosa, ia merasa dekat dengan Allah Ta'ala walaupun menerjang banyak dosa, mengharapkan buah surga dengan menanam perbuatan kemaksiatan dan keburukan di neraka. 


Ketahuilah bahwa berusaha sekuat tenaga menghindari dosa dan maksiat merupakan bentuk pengagungan terhadap larangan, namun sebagian manusia bersandar dengan rahmat dan ampunan Allah Ta'ala tanpa melakukan amal, ia menelanartarkan perintah perintah Nya dan lupa bahwa Ia adalah Dzat Yang Maha Keras Siksa-Nya dan adzab Nya tidak akan jauh dari pelaku pelaku dosa. 


Maka hendaklah orang-orang yang sentiasa bermaksiat sadar sebelum melakukan kemaksiatan bahwa bersabar menahan kemaksiatan lebih ringan dan mudah daripada bersabar atas dampak buruk dari suatu kemaksiatan, dikarenakan dosa memiliki dampak buruk yang berupa adzab dan siksaan, atau menghilangkan suatu nikmat yang sangat berharga, atau tercabut nya karunia dan limpahan rahmat yang lebih besar daripada sekadar syahwat yang ia dapatkan. 


Maka berlarilah menggengam agama dan  menjauh dari fitnah, pegang eratlah dengan Al Qur'an dan As Sunnah dan bergabunglah bersama orang-orang yang saleh dan hindari teman buruk dan pelaku maksiat, jangan pernah terlena dengan dosa dan harapan kosong, bangkit dan lawanlah godaan dan tipudaya syetan yang terkutuk, dan berusahalah untuk senantiasa memperbaiki keluarga dan masyarakat sekitar dengan mengajak kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran dan jangan berputus asa tatkala mereka bergelimang dengan dosa, sesungguhnya fitrah suatu jiwa mencintai kebaikan dan benci keburukan, dan sabar dan bersabar dalam berdakwah dan membimbing manusia menuju jalan kebenaran. 


Allah Ta'ala berfirman; 


وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ ٱلْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ ﴿١١٧﴾وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ ٱلنَّاسَ أُمَّةً وَٰحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ ﴿١١٨﴾  إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ ۚ وَلِذَٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجْمَعِينَ ﴿١١٩﴾



"Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan."

"Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat),"

"kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat (keputusan) Tuhanmu telah tetap, "Aku pasti akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya." (Q.S.11:117-119)

📓📓📘📘📔📔

Jumat, 27 Januari 2023

HUKUM AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR

Alhamdulillah, Was Sholatu was Salamu ala Rosulillah, wa ba'du; 



Keempat :  HUKUM AMAR MA'RUF DAN NAHI MUNGKAR 



Amar ma'ruf dan nahi mungkar merupakan kewajiban yang sangat agung dari kewajiban kewajiban yang dijumpai dalam syariat, sebagaimana telah dijelaskan di dalam Al Kitab dan As Sunnah dan Al Ijma'. 


Allah Ta'ala berfirman : 


وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ ﴿١٠٤﴾


"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Q.S.3:104)


Para ahli ilmu berdalih dengan ayat ini tentang wajibnya menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar. 


Al Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata: " Para Imam ahli agama seluruh nya telah sepakat tentang wajibnya amar ma'ruf dan nahi mungkar tanpa dijumpai perbedaan, berdasarkan ayat, " Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar ". (Ahkamul Qur'an : 2/34)


Adapun dalil dari As Sunnah: 


عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

[رواه مسلم]


Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman. (Riwayat Muslim)


Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan agar merubah kemunkaran sesuai kadar kemampuan, dan perintah dalam hadits ini memiliki hukum wajib sebagaimana yang telah ditetapkan oleh jama’ah dari ahli ilmu. 


Al Imam An Nawawy rahimahullah menerangkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, " Maka rubahlah ", ini merupakan perintah kewajiban sebagaimana Ijma' / Kesepakatan umat ". (Syarah An Nawawy: 2/22)


Al Imam Al Qurthuby rahimahullah berkata: " Perintah dalam hadits diatas memiliki hukum wajib, dikarenakan menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar merupakan perkara yang wajib dalam keimanan serta tonggak agama islam yang ditetapkan dalam Al Kitab dan As Sunnah dan Al Ijma'". (Al Mufhim: 1/233)


Al Imam As Suyhuthy rahimahullah berkata: " Barangsiapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah ", " Ini merupakan perintah yang wajib kepada umat ". (Syarah As Suyhuthy: 1/65)


Dan dalil lain didalam As Sunnah diantaranya:


Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 


وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْـمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْـمُنْكَرِ أَوْ لَيُوْشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ، ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ.


Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya. Hendaklah kalian menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, atau kalau tidak, hampir saja Allâh menurunkan adzab-Nya kepada kalian, kemudian kalian berdo’a kepada-Nya, namun do’a kalian tidak dikabulkan". (HR. Ahmad dan At Tirmidzi)


Dalam hadits diatas menunjukkan atas ancaman dari Allah Ta'ala kepada orang-orang yang meninggalkan amar ma'ruf dan nahi mungkar, sehingga dari sini sangat terang atas wajibnya menegakkan perkara tersebut dikarenakan tidak akan dijatuhkan suatu hukuman kecuali terhadap orang yang meninggalkan kewajiban atau menerjang perkara yang diharamkan. 


Adapun dalil dari Al Ijma' , maka jama’ah dari kalangan para ulama telah menyatakan kesepakatan nya. 


Al Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata: "Umat seluruhnya telah sepakat tentang wajibnya amar ma'ruf dan nahi mungkar tanpa dijumpai perbedaan dari salah seorang dari mereka ". (Fasl fiil milal wal ahwa' : 4/132)


Al Imam An Nawawy rahimahullah berkata: " Dan telah disepakati atas wajibnya amar ma'ruf dan nahi mungkar berdasarkan Al Kitab dan As Sunnah dan Ijma' nya para umat dan ini juga termasuk bagian dari nasehat yang merupakan bagian agama dan tidak dijumpai orang-orang yang menyelisihi kesepakatan tersebut kecuali kelompok syiah rofidhoh yang tidak diterima perbedaan tersebut ". (Syarah An Nawawy ala' Muslim: 2/22)


Al Imam Ibnul Qotthon Al Faashy rahimahullah berkata: " Dan telah disepakati atas wajibnya amar ma'ruf dan nahi mungkar dengan menggunakan tangan dan lisan jika sekiranya mampu atas hal tersebut, jika tidak mampu maka dengan hatinya ". (Al Iqna' fi masailil Ijma' : 1/62)


Jika telah ditetapkan tentang wajibnya amar ma'ruf dan nahi mungkar sesuai dalil dari Al Kitab dan As Sunnah dan Ijma' para ulama, maka disini ada dua permasalahan yang berkaitan dengan masalah diatas, yaitu: 



@. Pertama:  Apakah wajibnya amar ma'ruf dan nahi mungkar merupakan kewajiban yang aini/dibebankan kepada setiap individu dari umat ini atau sebatas wajib kifayah?


Ada dua pendapat dari kalangan para ulama: 


1). Amar ma'ruf dan nahi mungkar merupakan kewajiban aini/individual bagi  setiap muslim sesuai kadar kemampuan masing-masing, hal ini berdasarkan ayat yang dalam lafadz "  من  "  dalam firman Allah Ta'ala  :  


وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ ﴿١٠٤﴾


Memiliki tafsir arti: " Untuk menjelaskan tentang jenis ". 


Yang berarti: " Hendaklah setiap dari kalian seluruhnya menjadi umat yang sentiasa menyeru kepada kebajikan dan menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, bukan hanya sebahagian dari golongan kalian ".


Hal ini seperti dalam firman Allah Ta'ala: 


 ۖ فَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلرِّجْسَ مِنَ ٱلْأَوْثَٰنِ وَٱجْتَنِبُوا۟ قَوْلَ ٱلزُّورِ ﴿٣٠﴾


" maka jauhilah olehmu (penyembahan) berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan dusta." (Q.S.22:30)


Yang artinya: " Menjauhi seluruh bentuk penyembahan berhala-berhala seluruhnya dan menjauhi seluruh bentuk perkataan yang dusta , bukan hanya sebahagian nya saja ". (Tafsir As Sam'a'niy : 1/347)


Dan dalil tentang wajibnya keseluruhan umat untuk melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar adalah firman Allah Ta'ala: 


كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ ﴿١١٠﴾


"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik."  (Q.S.3:110)


Dan yang berpendapat demikian ini diantaranya Al Imam Az Zajjaz dan Al Imam As Sam'a'niy dan Al Imam Al Baghowy dan Al Imam Ibnu Katsir dan As Syaikh Rosyid Ridho.  (Ma'anil Qur'an: 1/457 , Tafsir As Sam'a'niy: 1/347 , Tafsir Ibnu Katsir: 2/94 , Tafsir Al Manar: 4/23)



2. Amar ma'ruf dan nahi mungkar merupakan kewajiban kifayah yang tidak dibebankan kepada setiap individu muslim, namun jika sebahagian muslimin ada yang menegakkan maka gugur hukumnya bagi yang lainnya seperti halnya perkara jihad fi sabilillah.

Dan pendapat ini berhujjah dengan firman Allah Ta'ala dalam surat Ali Imron diatas bahwa lafadz, "  من  "  dari ayat : 


وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْر


Memiliki arti: Sebahagian dari kalian, sehingga makna ayat tersebut adalah: 

" Dan hendaklah di antara kamu ada sebahagian/segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah kemungkaran ".


Dikatakan, dikarenakan menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar bukan kewajiban bagi setiap individu muslim akan tetapi hanya bagi para ulama, sedangkan keumuman manusia bukanlah ulama, sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah Ta'ala secara tegas dalam firman Nya: 


ٱلَّذِينَ إِن مَّكَّنَّٰهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ أَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَمَرُوا۟ بِٱلْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا۟ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلْأُمُورِ ﴿٤١﴾


"(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan." (Q.S.22:41)


Dan tidak setiap muslim diberikan kekuasaan sebagaimana ayat diatas. 


Dan ini merupakan pendapat kebanyakan para ulama dan ini yang dikatakan orang Al Imam Ibnul Araby dan Al Imam Al Qurthuby dan Al Imam An Nawawy dan Al Imam Ibnu Daqiq dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Al Imam Ibnul Qoyyim dan Al Imam Ibnun Nakhaas dan Al Imam As Safaariniy dan Al Imam As Syaukani dan Al Imam Al Alusyi dan Al Imam As Sa'diy dan As Syaikh Muhammad Al Amin As Syangqithy rahimahumullah dan selainnya. 


Didalam firman Allah Ta'ala:  وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْر  merupakan dalil bahwa amar ma'ruf dan nahi mungkar hukumnya adalah Fardhu yang dilakukan oleh kaum muslimin walaupun tidak memiliki sifat adil, berbeda dengan apa yang disyaratkan oleh sekelompok ahli bid'ah yang harus mensyarstkan sifat adil dalam amar ma'ruf dan nahi mungkar. 


Dan telah kita terangkan didalam Kitab-kitab ushul bahwa syarat ketaatan tidak boleh ditetapkan kecuali jika ada dalil-dalil nya, dan setiap individu memiliki kewajiban didalam dirinya menunaikan ketaatan, dan yang fardhu untuk dirinya didalam agama nya adalah memperingatkan kepada orang lain yang ia jahil dan tidak mengerti tentang ketaatan atau kemaksiatan dan menasihati nya dalam dosa yang ia terjatuh didalam nya.  


Dan telah Kami jelaskan pada ayat pertama pada sebelumnya. 


Dan ini adalah pendapat yang benar yang sesuai ketentuan dalil-dalil secara keseluruhan. 


Akan tetapi akan dijumpai nanti rincian yang akan berpengaruh terhadap hukum dari sisi derajat yang diperintahkan dan yang dilarang pada dirinya, dan dari sisi derajat manusia dalam kemampuan pada perkara tersebut, dan dari sisi martabat pengingkaran dan keterkaitan nya dengan tangan atau lisan atau hati. 


Adapun dari sudut pandang keragaman yang diperintahkan dan yang dilarang,  maka telah disebutkan sebelumnya bahwa perkara ma'ruf masuk didalam nya perkara wajib dan perkara mustahab atau yang dianjurkan, sedangkan perkara mungkar masuk didalam nya keumuman perkara yang haram dan perkara yang makruh atau di benci, maka dari itu hendaknya amar ma'ruf dan nahi mungkar selayaknya mengikuti pada hukum asal yang disyariatkan secara wajib atau sunnah.


Maka dengan ini terdapat dua martabat: 

Wajib, yaitu mengajak kepada kebajikan yang bersifat wajib dan mencegah mungkar yang bersifat muharrom/yang diharamkan. 


Dan mustahab/sunnah, yaitu mengajak kepada kebajikan yang bersifat sunnah dan mencegah kemungkaran yang bersifat makruh/dibenci. 


Dan ini yang sesuai pondasi syariat, yaitu sesuatu yang disyariatkan Allah Ta'ala secara sunnah dan sesuatu yang dilarang secara makruh maka Allah tidak akan mewajibkan nya kepada umat, maka demikian pula dengan perintah yang sunnah dan larangan yang makruh bagi yang berkedudukan menegakkan hisbah/amar ma'ruf hendaknya didudukkan kedudukan hukum asalnya. 


Sebagai mana telah dinyatakan secara gamblang oleh para ulama. 


Al Imam Ibnu Bathol rahimahullah Ta'ala: " Berkata sebahagian ulama: " Amar ma'ruf terdapat dua bagian, diantaranya fardhu dan diantaranya sunnah, maka setiap sesuatu yang wajib dikerjakan maka wajib untuk diperintahkan nya seperti menjaga kesempurnaan bersuci dan kesempurnaan rukuk dan sujud ketika sholat, dan mengeluarkan zakat dan yang semisalnya, dan sesuatu dari perkara yang sunnah maka memerintahkan nya pun juga sunnah dan engkau tidak berdosa bila meninggalkannya kecuali ketika dalam keadaan mempertanyakan nya, dikarenakan wajibnya memberikan nasihat yang merupakan fardhu bagi seluruh kaum mukminin". (Syarah sohih Al Bukhari: 9/294)


Adapun yang di sandarkan pada keberagaman manusia dalam kemampuan  pada amar ma'ruf dan nahi mungkar, maka sesungguhnya sebagaimana diketahui seksama bahwa tidak setiap manusia memiliki kemampuan yang sama.


Sebagaimana diterangkan dalam hadits sahabat mulia Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ،...رواه مسلم


 "Barang siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, .....(HR. Muslim)


Dari sini, maka sesungguhnya menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar walaupun merupakan perkara yang fardhu kifayah sebagaimana terdahulu penjelasannya, maka sesungguhnya bagi yang tidak mampu maka tidak berkewajiban melakukan nya bahkan tidak disyariatkan bagi nya, sebagaimana keumuman dalil dalil tentang tidak terbebaninya bagi mereka yang tidak mampu. 


Allah Ta'ala berfirman: 


فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ .... ﴿١٦﴾


"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu ". (Q.S.64:16)


Allah Ta'ala berfirman: 


لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ .... ﴿٢٨٦﴾


"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya". (Q.S.2:286)


Dikarenakan orang-orang yang tidak mampu gugur pada mereka perkara yang fardhu aini bagaimana dengan fardhu kifayah?


Maka dari sini menjadi kewajiban bagi mereka yang mampu dari umat ini tanpa mereka yang lemah, sehingga memiliki hukum fardhu kifayah bagi orang-orang yang mampu meskipun hanya tersisa pada satu orang saja maka baginya berubah menjadi fardhu aini dalam masalah ini. 


Al Imam An Nawawy rahimahullah berkata; "Kemudian terkadang menjadi fardhu aini bagi seseorang jika tidak mengetahui tempat kemunkaran kecuali hanya dia seseorang atau tidak dapat menghilangkan kemungkaran kecuali dia seperti seorang suami yang melihat kemunkaran atau meninggalkan suatu kewajiban pada istrinya atau anaknya  atau budaknya (dalam rumah) ( Syarah An Nawawy: 2/23)


Al Imam Al Qorofy rahimahullah berkata: "Dan jika tidak dapati (seseorang yang dapat merubah kemunkaran atau menjalankan suatu kewajiban) kecuali hanya seseorang saja, maka ia menjadi wajib aini baginya untuk melakukan hal tersebut dikarenakan terbatasnya kemampuan yang kompeten dari para manusia, seperti ibarat akhir waktu bagi mengerjakan shalat ". (Al Furuuq: 2/93)


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam perkara amar ma'ruf dan nahi mungkar: " Dan ini merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang diberikan kemampuan, dan hukumnya adalah fardhu kifayah, dan bisa berubah menjadi fardhu aini bagi seseorang yang hanya dia yang mampu sedangkan yang lainnya tidak berkemampuan " (Majmu Al Fatawa: 28/65)



Adapun yang berkaitan dengan derajat mengingkari kemungkaran yang berkaitan dengan menggunakan tangan atau lisan atau hati : 


Maka dalil-dalil secara dhohir menunjukkan bahwa merubah kemunkaran dengan hati adalah perkara yang wajib dilakukan, adapun merubah kemunkaran dengan menggunakan tangan dan lisan maka dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu terdahulu dan yang semakna dengan nya dalam hadits hadits yang lainnya, bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengaitkan kemampuan dalam merubah kemunkaran dengan tangan dan lisan, adapun merubah kemunkaran dengan hati maka tidak dikatakan setelah nya, : " Jika tidak mampu ", disebutkan bahwa perkara tersebut merupakan selemah-lemahnya iman. 


Diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Abi Syaibah rahimahullah dengan sanad yang sah dari Thorik Ibnu Syihab berkata, seseorang berkata kepada Abdullah Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu: " Binasalah orang-orang yang tidak melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar ". Maka dijelaskan oleh Abdullah Ibnu Mas'ud : "Akan tetapi Binasalah orang-orang yang tidak mengetahui perkara ma'ruf didalam hati nya dan mengingkari kemungkaran dengan hatinya ". (Mushonaf: 7/504, Al Baihaqy: 10/71)


Al Imam Ibnu Rojab rahimahullah berkata memberikan catatan dalam perkataan sahabat Abdullah Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu: " Memberikan isyarat bahwa mengetahui dan mengenal perbuatan ma'ruf dan mungkar dengan hati merupakan amalan yang fardhu tidak gugur hukumnya bagi siapapun, maka barangsiapa yang tidak mengetahui ia termasuk golongan yang akan Binasa, adapun merubah kemunkaran dengan menggunakan tangan dan lisan maka wajib bagi yang memiliki kemampuan ". (Jami'ul Ulum wal hikam: 2/245)


Al Imam As Safaariniy rahimahullah berkata: " Dalam perkara ini terdapat banyak hadist dan seluruhnya menunjukkan bahwa merubah kemunkaran sesuai kadar kemampuan namun mengingkari kemungkaran dengan hati merupakan keharusan ". (Lawamiul Anwar Al Bahiyah: 3/713) 


Maka bisa disimpulkan disini: Bahwa amar ma'ruf dan nahi mungkar dari tinjauan hukum asal merupakan fardhu kifayah, akan tetapi disana terdapat keadaan keadaan tertentu yang keluar dari hukum asal sebagaimana penjelasan terdahulu, wa Allahu A'lam. 

📔📔📘📘📓📓

  

Selasa, 17 Januari 2023

KEDUDUKAN AMAR MA'RUF DAN NAHI MUNGKAR


Ketiga : KEDUDUKAN AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR DALAM AGAMA 


Amar ma'ruf dan nahi mungkar merupakan pondasi yang agung dari pokok agama dan menjadi bagian yang agung dalam cabang keimanan serta sebagai syiar yang luhur dalam syiar syiar agama islam.  

Memungkinkan bagi kita menguraikan kedudukannya dalam agama seperti berikut : 


1. Allah Ta'ala memberikan sifat kepada nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai teladan dalam amar ma'ruf dan nahi mungkar yang menunjukkan betapa agung nya kedudukan perkara ini yang Allah Ta'ala memuji nya dihadapan seluruh para rasul dan penutup dari para nabi Nya. 

Allah Ta'ala berfirman : 

ٱلَّذِينَ يَتَّبِعُونَ ٱلرَّسُولَ ٱلنَّبِىَّ ٱلْأُمِّىَّ ٱلَّذِى يَجِدُونَهُۥ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِى ٱلتَّوْرَاةِ وَٱلْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ ٱلْخَبَٰٓئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَٱلْأَغْلَٰلَ ٱلَّتِى كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلنُّورَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ ۙ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ ﴿١٥٧﴾

"(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang beruntung." (Q.S.7:157)


2. Amar ma'ruf dan nahi mungkar jika disertai keimanan kepada Allah Ta'ala merupakan puncak kebajikan yang diraih oleh umat ini diatas seluruh umat yang lain. 

Allah Ta'ala berfirman : 

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ  ﴿١١٠﴾

"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (Q.S.3:110)

Sahabat mulia Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata tentang tafsir ayat ini : " Kalian wahai para sahabat merupakan manusia yang terbaik yang diperuntukkan bagi para manusia, kalian didatangkan kepada orang orang-orang yang musyrik dalam keadaan terbelenggu dan kalian menjadikan mereka masuk dalam ajaran agama islam ". (Tafsir At Thobary : 5/673)

Diriwayatkan dari Al Imam Mujaahid rahimahullah menafsirkan, " Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia", " Dengan syarat ini hendaknya kalian beramar ma'ruf dan nahi mungkar serta beriman kepada Allah Ta'ala". (Tafsir At Thobary :5/674)

Syaikhul Islam Ahmad Ibnu Abdul Halim rahimahullah berkata, " Maka Allah Ta'ala menerangkan bahwa umat ini merupakan umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, mereka merupakan umat manusia yang paling membawa manfaat bagi manusia dan yang paling berjasa dengan berbuat ihsan untuk para manusia, dikarenakan mereka menyempurnakan para manusia dengan mengajak berbuat ma'ruf dan mencegah dari mungkar dari segala sudut perbuatan dan takdir, dimana mereka memerintahkan segala bentuk kema'rufan dan mencegah dari segala kemungkaran kepada setiap individu dan menegakkan perkara tersebut dengan berjihad fi sabilillah dengan nyawa dan harta-harta mereka, maka dengan ini menjadi kesempurnaan manfaat bagi manusia ". (Al Amru bil ma'ruf wan Nahi anil mungkar : 7)


3. Perintah Allah Ta'ala agar menjalankan amar ma'ruf dan nahi mungkar yang disebutkan dalam Al Qur'an dan Allah Ta'ala mengkhabarkan tentang keberuntungan bagi orang-orang yang menegakkan nya. 

Allah Ta'ala berfirman : 

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ ﴿١٠٤﴾

"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Q.S.3:104)


4. Allah Ta'ala mengkhabarkan tentang orang-orang yang beriman yang sentiasa setia menjalankan amar ma'ruf dan nahi mungkar dan pujian Allah Ta'ala kepada mereka. 

Allah Ta'ala berfirman : 

وَٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ ٱللَّهُ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ﴿٧١﴾

"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana." (Q.S.9:71)


5. Allah Ta'ala memberikan pujian dan sanjungan kepada orang-orang yang diberikan kekuasaan dan kemenangan dari para penguasa dan pemimpin yang sentiasa menegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar. 

Allah Ta'ala berfirman : 

ٱلَّذِينَ إِن مَّكَّنَّٰهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ أَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَمَرُوا۟ بِٱلْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا۟ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلْأُمُورِ ﴿٤١﴾

"(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan." (Q.S.22:41)


6. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kepada umat nya agar mengingkari kemungkaran sesuai dengan kemampuan dan tidak memberikan udzur untuk meninggalkan nya betapa pun kondisi nya, bahkan dihubungkan antara mencegah kemungkaran dengan keimanan dan diterangkan bahwa paling rendah derajat nahi mungkar adalah derajat keimanan yang paling rendah. 


عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

( رواه مسلم )


Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa melihat kemungkaran, maka hendaklah dia merubah dengan tangannya. Bila tidak mampu, maka hendaklah dia rubah dengan lisannya. Bila tidak mampu, maka hendaklah dia rubah dengan hatinya. Dan hal itu merupakan selemah-lemahnya iman.”(HR.  Muslim.)


7. Umat akan terpapar mendapatkan hukuman secara merata jikalau mereka meninggalkan mencegah kemungkaran secara total. 

Allah Ta'ala berfirman : 

وَٱتَّقُوا۟ فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمْ خَآصَّةً ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ ﴿٢٥﴾

"Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya." (Q.S.8:25)

Sahabat mulia Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata tentang tafsir ayat ini, " Allah Ta'ala memerintahkan kepada kaum Mukminin agar tidak mendiamkan kemungkaran dihadapan mereka sehingga Allah Ta'ala akan menimpakan adzab kepada mereka semuanya ". (Tafsir At Thobary : 11/115)

As Syaikh Muhammad Al Amin As Syangqithy rahimahullah berkata, : " Dan arti yang benar bahwasanya maksud dari fitnah/adzab yang Allah Ta'ala timpakan secara umum kepada mereka yaitu jika para manusia menyaksikan suatu kemungkaran dan tidak berusaha merubah nya maka akan Allah Ta'ala turunkan adzab kepada orang-orang yang baik dan buruk secara menyeluruh, dan demikian yang telah ditafsirkan oleh segolongan ahli ilmu dan banyak hadist yang shohih menguatkan pendapat tersebut ". (Adwa'ul bayan : 1/461-462)


8. Allah Ta'ala memberitahukan tentang kelompok ahli kitab yang menegakkan nahi mungkar serta sanjungan kepada mereka. 

Allah Ta'ala berfirman : 

۞ لَيْسُوا۟ سَوَآءً ۗ مِّنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ أُمَّةٌ قَآئِمَةٌ يَتْلُونَ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ءَانَآءَ ٱلَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ ﴿١١٣﴾

يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُسَٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَأُو۟لَٰٓئِكَ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿١١٤﴾

"Mereka itu tidak (seluruhnya) sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (salat)."

"Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang saleh." (Q.S.3:113-114)


9. Wasiat orang-orang yang memiliki hikmah dan orang-orang sholih agar menjalankan nahi mungkar dan perkara tersebut merupakan perkara yang sangat penting. 

Allah Ta'ala berfirman : 

يَٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأْمُرْ بِٱلْمَعْرُوفِ وَٱنْهَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ ﴿١٧﴾

"Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting." (Q.S.31:17)


10. Allah Ta'ala memberikan celaan kepada orang-orang kafir dari bani Israel melalui lisan para nabi dikarenakan kekufuran dan meninggalkan perbuatan nahi mungkar. 

Allah Ta'ala berfirman : 

لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ ﴿٧٨﴾

كَانُوا۟ لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ ﴿٧٩﴾

"Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan (ucapan) Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas."

Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang selalu mereka perbuat. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat." (Q.S.5:78-79)


📔📔📗📘📕📕