Jumat, 14 Juni 2013

KABAR GEMBIRA

Allah Ta'ala berfirman dalam Al Qur'an Surat Al-Hajj: 34-35, yang artinya, "Dan sampaikanlah (wahai Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah). (Yaitu) Orang-orang yang apabila disebut nama Allah hati mereka bergetar, orang-orang yang sabar atas apa yang menimpa mereka, dan orang-orang yang menegakkan sholat dan orang-orang yang menginfakkan sebagian rezeki yang Kami karuniakan kepada mereka".

Al-Imam As-Syinkity rahimahullah berkata di dalam tafsirnya, "Allah Ta'ala memerintahkan kepada Nabi-Nya shalallahu 'alaihi wa sallam agar menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk dan patuh, mereka rendah diri kepada Allah, senantiasa tenang kepada-Nya, yang dari sifat mereka apabila disebut nama Allah hati mereka bergetar takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, demikian pula orang-orang yangg sabar atas apa yang menimpa mereka, yang mana Allah berikan kabar gembira atas pahala dan surga Nya. Merekalah orang-orang yang benar-benar beriman secara hak, sehingga pantas memasuki surga Allah Azza wa Jalla.

Allah berfirman, "Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu apabila mereka ditimpa musibah mereka mengatakan" Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un". Mereka mendapat ampunan dan rahmat dan mendapat petunjuk". (Al-Baqoroh: 155-157.)

Kamis, 13 Juni 2013

CINTA DUNIA

Penyakit yang menggelayuti kebanyakan umat islam sebagaimana yang diisyaratkan dalam riwayat yang masyhur adalah 'Al WAHN', yaitu cinta dunia dan takut mati.

Dunia merupakan sumber ketergelinciran. Sedangkan harta mengandung banyak penyakit, paling tidak ia akan menjadikan seseorang sombong dan takabur, minimal, menyibukkan dari mengingat Allah dan ayat-ayat-Nya. Sedang orang yang lalai, ia adalah orang yang merugi. Bila ia jauh dari mengingat Allah, ia akan terkuasai syaiton dan syaiton akan menghiasi keburukan-keburukan seolah-olah kebaikan.

Seseorang yang mabuk dunia keadaannya lebih parah dari mabuk arak, orang tersebut tidak akan pernah sadar dan siuman kecuali bila telah merasakan sempit dan gelapnya liang lahat. Berkata Yahya ibnu Mu'adz, "Dunia merupakan araknya syaithon, barang siapa yang mabuk, ia tidak akan sadar hingga merasakan hadirnya kematian dan ia tergolong dari orang-orang yg menyesal selamanya".

Diriwayatkan oleh Anas, bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang Akhirat memenuhi keinginan hatinya, maka Allah jadikan rasa kaya berada di hatinya dan dikumpulkan baginya perbendaharaan harta, datang kepadanya isi dunia, sedang ia merasa tidak butuh padanya. Dan barangsiapa dunia memenuhi isi hatinya, maka Allah jadikan kefakiran melekat di hadapan matanya, dan menjauh darinya perbendaharaan harta, dan gemerlap dunia menjauh darinya kecuali apa yg ditaqdirkan baginya". (HR.Tirmidy)

SALAF DAN SYUKUR

Imam Ahmad meriwayatkan di dalam kitab Musnadnya bahwa Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam berpesan kepada Mu'adz seraya bersabda, "Demi Allah, Aku mencintaimu, Aku bepesan kepadamu agar kamu tidak melupakan di setiap akhir sholatmu do'a: 'Ya Allah mudahkan untukku agar senantiasa mengingat-Mu dan bersyukur kepada-Mu dan beribadah kepada-Mu dengan baik". (HR.Ahmad dan Tirmidzy).

Syukur adalah pengikat dan sebab yang menjadikan bertambahnya suatu nikmat. Berkata Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, "Ikatlah suatu nikmat agar terus menerus turun dengan banyak besyukur kepada Allah.

Berkata Ali bin Abi Tholib radhiyallahu 'anhu, "Sesungguhnya suatu nikmat akan terus bersambung dengan bersyukur, dan syukur pula yang akan menjadikan nikmat bertambah, dan keduanya terikat dalam satu ikatan, bertambahnya nikmat tidak akan putus selagi hamba senantiasa bersyukur".

Abul-Mughiroh bila ditanya, Bagaimana keadaanmu pagi ini? Ia menjawab, "Pagi ini kami penuh dengan kenikmatan, akan tetapi tidak pandai untuk mensyukurinya". Dikatakan kepada Abu Hazim: bagaimana bersyukurnya mata? Ia menjawab: "Bila kamu melihat kebaikan maka kamu ceritakan, dan bila melihat keburukan maka kamu menutupinya". Bagaimana bersyukurnya telinga? Ia menjawab, "Bila engkau mendengar kebaikan maka kamu hafalkan, dan jika mendengar keburukan maka engkau tinggalkan". Bagaimana bersyukurnya tangan? Ia menjawab, "Jangan engkau mengambil yang bukan hak kamu, dan jangan kamu menahan hak Allah yang telah dititipkan kepadamu."