Rabu, 19 Juni 2013

ROJA' ATAU BERHARAP

Roja' artinya berharapnya hati untuk menanti apa yang dicintai disisinya. Jikalau harapan tersebut tanpa sebab musabab, maka berarti ia sedang tertipu, dan kepandiran lebih tepat untuknya. Sebagaimana dalam ungkapan sya'ir, "Engkau berharap tercapainya keberhasilan sedang dirimu tidak menjalani sebab-sebabnya. Sesungguhnya suatu bahtera tidak akan berlayar di pasir yang kering".

Demikian juga, jikalau sesuatu yang diharapkan tersebut dipastikan terjadi, maka ini bukanlah harapan, sebagaimana ucapan seseorang, "Aku berharap terbitnya matahari". Akan tetapi ucapan yang tepat, "Aku berharap hujan turun". Ia katakan disaat ia melihat mendung di langit.

Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, merekalah orang-orang yang sesungguhnya berharap kepada rahmat Allah, dan Allah adalah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Peyayang". (QS.Al Baqoroh: 218)

Sesungguhnya mereka-merekalah yang berharap rahmat Allah. Dan barangsiapa yang harapannya membawa ketaatan dan menjauh dari maksiyat, maka harapan tersebut adalah benar, dan sebaliknya jika mengiring kearah maksiyat, menjauh dari ketaatan maka harapan tersebut adalah tipuan belaka.

Sabtu, 15 Juni 2013

RIDHO TERHADAP MUSIBAH

Seorang hamba yang beriman tatkala tertimpa musibah, baginya ada dua keadaan:
Δ Pertama, ridho terhadap musibah, dan ini yang paling tinggi derajatnya dan paling sempurna.
Δ Kedua, sabar terhadap musibah, dan ini kewajiban seorang mukmin. Orang yang ridho pada cobaan dan ujian, mereka memandang hikmah dibalik ujian tersebut, dan kandungan yang ada di dalamnya. Di lain sisi mereka memandang keagungan Dzat Yang Memberikan cobaan, yaitu Allah Ta'ala Yang Maha Mulia dan Sempurna, yang menjanjikan pahala dan surga.

Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah Ta'ala apabila mencintai suatu kaum maka memberikan ujian kepadanya, barangsiapa yang ridho dengan ujian tersebut, maka ia meraih keridhoan Allah, dan barangsiapa yang murka (menggerutu/tidak ridho), maka baginya murka Allah". (HR.Tirmidzy).

Berkata Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, "Sesungguhnya Allah dengan pengetahuan dan Adil-Nya, menjadikan kelapangan dan kebahagiaan terletak pada ridho dan yakin. Dan menjadikan kesedihan dan kesusahan terletak pada keraguan dan kemurkaan".

Berkata Alqomah, menafsirkan firman Allah Ta'ala, "Dan barangsiapa yang beriman dengan Allah(atas suatu musibah) niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya". (QS.At-Taghabun: 11). Yaitu, suatu musibah yang menimpa seorang hamba, maka ia menyadari bahwa musibah tersebut datang dari Allah dan senantiasa ridho atas apa yang menimpa padanya.

Berkata Abu Mua'wiyah Al-Aswar, menafsirkan firman Allah Ta'ala, "Maka Kami pasti akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik". (QS.An-Nahl: 97). Yaitu; Ridho dan Qona'ah.

Suatu hari Aly melihat Ady ibn Ha'tim bersedih. Maka Aly berkata, "Apa yang membuat dirimu gelisah?" Maka Ady menjawab: "Bagaimana aku tidak murung, anakku telah meninggal, sedang mataku buta". Maka Aly ibn Abi Tholib berkata, "Wahai Ady, barang siapa yang ridho terhadap apa yang terjadi,maka baginya pahala. Barang siapa yang tidak ridho atas apa yang terjadi maka amalnya sia-sia dan gugur". Berkata Abdul Wahid ibn Zaid, "Ridho merupakan pintu Allah yang paling agung, Surga dunia dan Pelapang dada bagi ahli-ahli ibadah ".

TAWAKKAL

Tawakal adalah kejujuran dalam bersandarnya hati kepada Allah Ta'ala di dalam meraih kebaikan dan menghindar keburukan di dalam urusan dunia dan akhirat. Allah Ta'ala berfirman, "Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya". (QS.At-Talaq: 3).

Diriwayatkan dari sahabat Umar radhiyallahu 'anhu, dari NabI shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar tawakal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana para burung, mereka meninggalkan sarang dalam keadaan lapar, kembali dalam keadaan kenyang makanan". (HR.Tirmidzy).

Berkata Said ibnu Jubair, "Tawakal adalah kumpulan dari keimanan". Tawakal tidaklah meniadakan dan bersebarangan dengan menjalankan sebab-musabab yang ditakdirkan Allah yang telah digariskan dalam sunah-Nya pada para makluk. Sesungguhnya Allah memerintahkan para makluk agar menempuh sebab-sebab dan juga memerintahkan tawakal. Singkat kata, menempuh sebab musabab adalah ibadah, dan tawakal hati adalah ibadah dan keimanan.

Berkata Salaf, "Mencela usaha(menempuh sebab musabab) maka sungguh ia mencela sunnah Allah, dan barang siapa mencela tawakal maka ia mencela keimanan". Dikatakan pula, "Barangsiapa tidak menempuh sebab-akibat, maka sungguh ia melecehkan syariat, dan barang siapa yang hanya bergantung dengan sebab-akibat maka ia melecehkan tauhid".