Selasa, 16 Juli 2013

I'TIQOD

I'tiqod adalah mengikuti wazn(timbangan) iftial yang berupa masdar yang artinya ikatan. Yang dimaksud ikatan di sini adalah ikatan hati yang bersifat keyakinan yang pasti yang sesuai dengan kenyataan yang benar. Nama lain kalimat I'tiqod ini adalah kalimat: Tauhid, Sunnah, Syariah, Fikih Akbar, atau 'Ushulud Diin.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, "Dan merupakan kebiasaan penulis I'tiqod mereka mengkhususkan I'tiqod bagi keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama'ah, hingga membedakan dari keyakinan orang kafir dan ahlul bid'ah. Seperti contohnya: menetapkan Sifat bagi Allah Ta'ala, meyakini bahwa Al-Qur'an adalah kalam Allah Ta'ala, berbeda dengan keyakinan kelompok jahmiyah dari kalangan mu'tazilah".

Disebutkan pula dalam Masa'il I'tiqod, Allah Ta'ala menciptakan perbuatan hamba, dan kehendak Allah membawahi seluruh kehendak para makhluk-Nya, apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki tidak akan terjadi. Berbeda keyakinan Qodariyah dari kalangan Muktazilah dan yang lainnya".

Disebutkan pula diantara Masail I'tiqod, "Meyakini janji-janji Allah dan ancaman-ancaman-Nya, dan seorang mukmin tidak dikafirkan lantaran suatu dosa, dan tidak memberikan vonis kekal di neraka kepada seseorang, berbeda dengan keyakinan Khowarij dan Muktazilah.

Disebutkan pula, "Mengimani kekholifahan dan keutamaan Abu Bakar, Umar, Utsman dan 'Aly, berbeda dengan keyakinan Syi'ah dari Rafidhoh. Akidah hanya bersumber dari dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah yang telah disepakati para Salaf (Taukify), tidak boleh bersandar dari selain keduanya, tidak boleh berlandaskan semata akal, angan-angan, perasaan, dan prasangka".

Berkata Syaikhul Islam, "Kewajiban bagi seorang muslim yang bersyahadat tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, hendaknya pondasi keyakinannya adalah: Pengesaan ibadah kepada Allah, tidak menyekutukan, taat kepada Allah dan taat kepada Rasul, dan senantiasa berpegang dengannya dimanapun berada, meyakini bahwa sebaik-baik makhluk setelah para nabi adalah para sahabat, tidak fanatik kecuali kepada Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, dan tidak fanatik kepada suatu kelompok kecuali kepada para sahabat, dikarenakan kebenaran melekat kepada Nabi dan para sahabatnya".

Berkata pula Syaikhul Islam, "Penyebab terjerumusnya seseorang dalam kesesatan dikarenakan berpaling dari pemahaman kitab Allah sebagaimana yang telah difahami para sahabat dan para tabi'in, dan ini bentuk pembangkangan kepada Allah dan Rasul-Nya".

Minggu, 14 Juli 2013

AGAMA FITRAH

Allah Ta'ala berfirman yang artinya, "Maka hadapkanlah wajahmu dengan tulus kepada agama (Islam) yang sesuai fitrah Allah yang Dia telah ciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (QS.Ar-Ruum: 30).

Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata, "Allah Ta'ala menerangkan bahwa arti 'menghadapkan wajah' adalah berbuat iklas dalam hati, dan berjuang untuk Agama Allah, yang mengandung atas kecintaan kepada-Nya, yang diwujudkan dengan beribadah sesuai kebenaran, hanya menghambakan diri kepada-Nya, dan berpaling dari selain-Nya. Dan ini adalah agama fitrah yang Allah telah ciptakan para hamba-Nya di atas fitrah ini.

Akan tetapi kemudian para manusia merusak fitrah tersebut, melumurinya dengan noda dan kotoran, sebagaimana Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Tidaklah seseorang yang dilahirkan kecuali ia di atas fitrah (agama tauhid) maka ayah mereka merubahnya menjadi yahudi, nasrani atau majusi". Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadist Qudsi, Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya aku ciptakan manusia dalam keadaan lurus tidak condong, akan tetapi kemudian para syaiton datang dan menggoda mereka dari agamanya, mereka diperintah agar menyekutukan-Ku yang tidak ada dalil sedikitpun padanya". (HR. Muslim). - Bada'iut Tafsir 3/391 -

Jumat, 12 Juli 2013

SALAF DAN IKHLAS

Berkata Ya'kub: "Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan amal kebajikannya sebagaimana ia menyembunyikan keburukannya". Berkata As Susyi: "Orang yang ikhlas niscaya akan menghilangkan pandangan keikhlasan. Sesungguhnya barang siapa yang bersaksi tentang keikhlasan, maka sungguh keikhlasannya butuh pada ikhlas".

Apa yang disebutkan oleh para salaf adalah isyarat agar suatu amal hendaknya terbebas dari ujub dan bangga diri. Sesungguhnya orang yang memandang pada keikhlasan, maka ia terjerumus pada penyakit ujub dan bangga diri. Dan ini adalah jeratan syaithon, sedang orang yang ikhlas niscaya terbebas dari jeratan syaithon.

Berkata Ayyub: "Memurnikan niat dalam beramal merupakan perkara yang paling berat dari pada mengerjakan segala bentuk amalan". Berkata para salaf: "Melakukan Ikhlas sesaat, akan membawa keberuntungan selamanya, akan tetapi ikhlas itu amat berat". Dikatakan kepada Suhail, "Apa yang paling berat bagi jiwa?" Ia menjawab: "Ikhlas".

Berkata Al-Fudhail: "Meninggalkan amal lantaran manusia adalah riya'. Sedang beramal untuk manusia adalah syirik. Dan Ikhlas adalah bilamana Allah membebaskan hatimu dari keduanya".

- Tazkiyantun Nufus 17 -