Rabu, 04 September 2024

KEWAJIBAN MENCINTAI RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM

KEWAJIBAN MENCINTAI RASULULLAH ﷺ



Alhamdulillah, Was Sholatu was Salamu ala Rosulillah, wa ba'du;


Cinta kepada Nabi ﷺ adalah salah satu kewajiban terbesar dalam agama. Allah Ta'ala berfirman: "Katakanlah: 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (daripada) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.' Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik" (At-Taubah: 24).


Artinya, katakanlah -wahai Muhammad- kepada orang-orang yang enggan berhijrah ke negeri Islam: Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, seluruh kerabatmu, harta yang kamu peroleh, dan yang kamu usahakan dengan susah payah, perniagaan yang kamu khawatirkan -jika kamu berhijrah- tidak akan laku atau merugi, atau rumah-rumah yang kamu cintai untuk ditinggali, sehingga kamu tidak ingin meninggalkannya, jika hal-hal tersebut lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta jihad untuk meninggikan kalimat-Nya, maka tunggulah -wahai orang-orang yang enggan berhijrah dan berjihad- hingga Allah mendatangkan hukuman-Nya kepadamu, baik segera maupun nanti. Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasik yang memilih sesuatu dari hal-hal tersebut daripada mencintai Allah Ta'ala.


Dalam firman-Nya: "Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik," terdapat ancaman bagi siapa saja yang mendahulukan cinta kepada sesuatu daripada cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Ancaman ini hanya berlaku atas kewajiban yang harus dipenuhi. Dan hubungan antara cinta kepada Allah dan cinta kepada Rasul-Nya dalam firman-Nya: "lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya," menunjukkan bahwa cinta kepada Allah tidak akan sempurna kecuali dengan mencintai apa yang dicintai-Nya, dan membenci apa yang dibenci-Nya.

 Tidak ada cara untuk mengetahui apa yang dicintai dan dibenci oleh Allah kecuali melalui Nabi-Nya yang menyampaikan apa yang dicintai dan dibenci oleh-Nya.

 Oleh karena itu, cinta kepada Allah memerlukan cinta kepada Rasul-Nya, pembenaran terhadapnya, dan mengikutinya ﷺ.


Qadi Iyad berkata: "Allah Ta'ala berfirman: 'Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan' (At-Taubah: 24). 

Ayat ini cukup sebagai dorongan, peringatan, petunjuk, dan hujah yang menunjukkan kewajiban mencintai Nabi, keharusan melaksanakannya, betapa pentingnya kewajiban tersebut, dan hak Nabi ﷺ untuk dicintai.

 Karena Allah Ta'ala telah memperingatkan siapa pun yang lebih mencintai harta, keluarga, dan anak-anak mereka daripada Allah dan Rasul-Nya, dan mengancam mereka dengan firman-Nya: 'Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.' Kemudian Allah menyebut mereka sebagai orang-orang fasik di akhir ayat tersebut, dan memberitahukan bahwa mereka termasuk orang-orang yang tersesat dan tidak mendapat petunjuk dari Allah."


Ibnul Qayyim berkata: "Setiap cinta dan penghormatan kepada manusia hanya boleh dilakukan jika mengikuti cinta dan penghormatan kepada Allah, seperti cinta kepada Rasul-Nya dan menghormatinya. Cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah bagian dari cinta kepada Allah dan penghormatan kepada-Nya. Umat Rasulullah ﷺ mencintainya karena cinta mereka kepada Allah dan menghormati serta memuliakannya karena penghormatan Allah kepadanya. Maka cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah cinta kepada Allah, dan merupakan konsekuensi dari cinta kepada Allah."


Dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Ada tiga hal yang jika ada pada seseorang, dia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada yang lain..." (HR. Bukhari dan Muslim).


Manusia terbagi dalam tiga kelompok dalam mencintai Nabi ﷺ:

1. Orang-orang yang berlebihan.

2. Orang-orang yang meremehkan.

3. Orang-orang yang berada di tengah-tengah antara berlebihan dan meremehkan.



Golongan pertama adalah orang-orang yang berlebihan dalam mencintai Nabi ﷺ dengan cara mengada-adakan hal-hal yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Salah satu hal tersebut adalah mereka berlebihan dalam memuji Nabi ﷺ, sampai menganggapnya memiliki sifat-sifat yang hanya layak dimiliki oleh Allah Ta'ala. Mereka juga melakukan sebagian bentuk ibadah kepadanya, seperti berdoa, bertawassul, bersumpah dengan nama Nabi, menyentuh-nyentuh makamnya, dan hal-hal lain yang bersifat syirik atau bid’ah yang mereka lakukan atas nama cinta kepada Rasul ﷺ. Padahal, Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mensyariatkan hal tersebut, dan para sahabat yang dikenal sangat menghormati dan mencintai Rasulullah ﷺ tidak pernah melakukannya. Hal-hal ini telah diperingatkan oleh syariat agar tidak dilakukan, dan golongan ini termasuk golongan yang paling durhaka kepada Nabi ﷺ dalam hal peringatan terhadap syirik dan bid’ah.


Wajib dibedakan antara hak-hak yang khusus milik Allah saja, hak-hak yang milik Allah dan Rasul-Nya, serta hak-hak yang khusus milik Rasul ﷺ. Allah telah membedakan hal ini dalam firman-Nya: "Agar kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang." (Al-Fath: 9). Menguatkan dan membesarkan adalah hak Rasul, sementara bertasbih di pagi dan petang adalah hak Allah.


Allah Ta'ala juga berfirman: "Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." (An-Nur: 52). Jadi, ketaatan adalah untuk Allah dan Rasul-Nya, sementara rasa takut dan takwa hanya untuk Allah semata.



Ibnu Baz berkata: "Cinta kepada Nabi ﷺ tidak dilakukan dengan bid'ah, melainkan dengan mengikuti jalannya, menjalankan perintahnya, meninggalkan larangannya, dan bersalawat serta mengucapkan salam kepadanya setiap kali namanya disebut, kapan saja. Adapun mengada-adakan bid'ah adalah sesuatu yang membuatnya marah, dan merupakan sesuatu yang dilarang serta diingkari oleh Nabi ﷺ.

 Ini juga sesuatu yang membuat Allah marah. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingkari para pelaku bid'ah, sebagaimana firman-Nya: 'Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?' (Asy-Syura: 21).


 Maka wajib bagi setiap Muslim untuk mengikuti (syariat) dan tidak membuat hal-hal baru. Mereka harus mengikuti syariat, itu sudah cukup, alhamdulillah. Adapun berbuat bid'ah adalah keburukan dan bencana.

 Agama ini sudah sempurna, alhamdulillah, sehingga tidak boleh bagi siapa pun untuk mengada-adakan sesuatu yang tidak disyariatkan oleh Allah. 

Tidak boleh merayakan maulid atau lainnya, termasuk membangun bangunan di atas kuburan, menjadikan kuburan sebagai masjid, ini semua adalah bid'ah dan merupakan salah satu sarana menuju syirik. Demikian juga mengapur kuburan, membangun kubah di atasnya, atau menutupinya dengan tirai, ini juga bid'ah dan termasuk sebab-sebab serta sarana menuju syirik. 

Oleh karena itu, wajib bagi kaum Muslimin untuk menjauhi bid'ah, agar tidak bertentangan dengan Nabi mereka ﷺ dan agar mereka mengikuti apa yang diperintahkannya dan menjauhi apa yang dilarangnya."



Ibnu Utsaimin berkata: "Kita harus mengetahui bahwa mencintai dan menghormati Nabi ﷺ tidak dilakukan dengan berlebihan. Sebaliknya, orang yang berlebihan dalam memuliakan Nabi ﷺ sebenarnya tidak memuliakan Nabi ﷺ karena Nabi ﷺ melarang tindakan berlebihan dalam menghormatinya. Jika seseorang berlebihan dalam menghormati Nabi ﷺ, maka dia telah mendurhakai Nabi ﷺ. Apakah orang yang mendurhakai seseorang bisa dikatakan menghormatinya? Oleh karena itu, kita harus berhati-hati agar tidak berlebihan dalam memuliakan Nabi ﷺ seperti yang dilakukan oleh Ahli Kitab terhadap para nabi mereka. Kita mengatakan bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba yang tidak disembah, dan rasul yang tidak didustakan."


Adapun kelompok kedua adalah mereka yang lalai dalam memenuhi kewajiban mencintai Nabi ﷺ. Mereka adalah orang-orang yang tidak memperhatikan hak Nabi ﷺ untuk didahulukan cintanya di atas cinta kepada diri sendiri, keluarga, dan harta benda. Mereka juga tidak memperhatikan hak-hak lain yang wajib bagi Nabi ﷺ, seperti menghormati, memuliakan, menjunjung tinggi, menaati, mengikuti sunnahnya, dan bersalawat serta mengucapkan salam kepadanya, serta hak-hak besar lainnya yang wajib dipenuhi untuknya. Penyebab kelalaian ini bisa disebabkan oleh salah satu atau semua hal berikut:


1. Mengabaikan sunnahnya ﷺ dan tidak mengikuti syariatnya karena dosa atau mendahulukan hawa nafsu daripada petunjuk.


2. Keyakinan bahwa sekadar mengakui Nabi ﷺ sudah cukup untuk mencapai keimanan, tanpa perlu mengikuti petunjuk dan ajarannya.


3- Kebodohan tentang hak-hak yang wajib bagi Nabi ﷺ, termasuk cinta kepada beliau ﷺ.


Asy-Syinqithi berkata: "Firman-Nya, 'Katakanlah, jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian' (Ali Imran: 31). 


Allah menegaskan dalam ayat yang mulia ini bahwa mengikuti Nabi-Nya adalah sebab bagi cinta Allah Yang Maha Tinggi kepada orang yang mengikuti tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada Rasul-Nya ﷺ adalah sama dengan ketaatan kepada Allah Ta'ala. Allah menjelaskan hal ini dalam firman-Nya, 'Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh ia telah menaati Allah' (An-Nisa: 80).


 Dan dalam firman-Nya, 'Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah' (Al-Hasyr: 7). 


Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa tanda cinta yang benar kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ adalah dengan mengikuti beliau ﷺ. Maka, siapa yang menyelisihinya dan mengaku mencintainya, dia adalah pendusta dan pembohong. Jika dia mencintainya, dia pasti akan menaatinya. Hal ini juga diketahui oleh orang awam bahwa cinta selalu membawa kepada ketaatan, sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang penyair:


'Jika cintamu tulus, niscaya engkau akan menaatinya, karena sesungguhnya pecinta itu patuh kepada yang dicintainya.'"


Adapun kelompok ketiga adalah mereka yang berada di tengah-tengah antara kedua kelompok sebelumnya; yaitu kelompok yang berlebihan dan kelompok yang meremehkan.


Mereka adalah salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in, serta orang-orang yang mengikuti jalan mereka. Mereka meyakini kewajiban mencintai Nabi ﷺ sebagai suatu keharusan, dan mereka melaksanakan tuntutannya dengan keyakinan, ucapan, dan perbuatan tanpa berlebihan atau meremehkan. 

Mereka beriman dan membenarkan kenabian dan risalah beliau ﷺ, serta apa yang datang dari Rabb mereka عزَّ وجَلَّ. Mereka melaksanakan apa yang diwajibkan kepada mereka sesuai kemampuan mereka dalam menaati beliau ﷺ, tunduk kepada perintahnya, meneladani sunnahnya, dan melaksanakan hak-hak yang Allah سبحانه وتعالى perintahkan yang lebih dari sekadar membenarkan kenabian beliau ﷺ dan apa yang termasuk dalam tuntutan risalahnya.


Di antara hal tersebut adalah melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى untuk bersalawat dan mengucapkan salam kepada beliau ﷺ.


Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya" (Al-Ahzab: 56).


Termasuk juga dalam hal ini adalah berbicara kepadanya dengan cara yang pantas.


Allah سبحانه وتعالى berfirman: "Janganlah kalian jadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain" (An-Nur: 63).


Termasuk juga larangan mendahului beliau dalam berbicara sampai beliau mengizinkan, larangan mengangkat suara di atas suaranya, serta larangan berbicara keras kepadanya seperti berbicara keras kepada orang lain.


Allah عزَّ وجَلَّ berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

 Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian di atas suara Nabi, dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebagian kalian kepada sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalan kalian, sedangkan kalian tidak menyadari. Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Mereka mendapat ampunan dan pahala yang besar" (Al-Hujurat: 1-3).


Di antara cinta kepada beliau ﷺ adalah mempelajari sunnahnya, memahami makna perkataannya, dan menyibukkan diri dengan mempelajari sirah dan akhlaknya, serta tanda-tanda kenabiannya, dengan tujuan meneladani sifat-sifatnya yang mulia, tindakan dan perkataan yang baik, memperdalam keimanan terhadap kebenaran kenabiannya, serta meningkatkan cinta dan penghormatan kepadanya. 


Salaf sangat memperhatikan hal ini, sehingga mereka menulis kitab-kitab yang menjelaskan aspek-aspek tersebut, seperti kitab-kitab syamail yang memperhatikan penjelasan tentang sifat-sifat dan keadaan beliau ﷺ dalam ibadahnya, akhlaknya, bimbingannya, dan muamalatnya; seperti kitab "Syamail" karya At-Tirmidzi, dan kitab "Syamail" karya Ibnu Katsir.

 Juga kitab-kitab yang membahas tentang tanda-tanda kenabian beliau ﷺ, seperti kitab "Dalail An-Nubuwwah" karya Abu Nu’aim Al-Ashbahani, dan kitab "Dalail An-Nubuwwah" karya Al-Baihaqi. Serta kitab-kitab yang membahas tentang kehidupan beliau, pengutusan sebagai nabi, peristiwa-peristiwa sebelum hijrah dan sesudahnya, dakwah, peperangan, serta urusan-urusan lainnya, seperti "As-Sirah An-Nabawiyyah" karya Ibnu Hisyam, dan "As-Sirah An-Nabawiyyah" karya Ibnu Katsir.

CINTA KEPADA RASUL ADALAH CINTA KEPADA ALLAH TA'ALA





CINTA KEPADA RASUL ADALAH CINTA KEPADA ALLAH 




Diterbitkan pada 14 Juli 2023, pukul 10:00 oleh Ahmad Al-Faraq


Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan cinta kepada Rasul-Nya sebagai bagian dari cinta kepada-Nya. Allah dan para malaikat-Nya bersalawat kepadanya, dan Allah memerintahkan kita untuk bersalawat kepadanya. Ya Allah, limpahkanlah salawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad, pemimpin para rasul, pemimpin umat terdahulu dan yang akan datang, kepada istri-istrinya yang suci, ibu dari orang-orang beriman, kepada keturunannya dan keluarga yang baik, kepada para sahabatnya yang mulia, dan kepada saudara-saudaranya serta pengikutnya. Amin.

     Cinta adalah Syarat Iman

Cinta kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah kewajiban bagi setiap orang yang beriman dan mempercayainya. Cinta ini adalah bagian dari agama, dari inti agama, bukan hanya dari pinggirannya. Cinta ini adalah syarat iman dan bukti keimanan. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : 
"Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai olehnya daripada anaknya, orang tuanya, dan semua manusia." 

Cinta kepada Rasulullah harus melebihi cinta kepada segala sesuatu yang dapat dicintai, karena beliau Shallallahu alaihi wa sallam adalah anugerah terbesar, rahmat yang dihadiahkan, dan pemberi syafaat.

 Dalam hadits lain disebutkan :
 "Tidak ada seorang pun mukmin kecuali aku adalah orang yang paling berhak terhadapnya di dunia dan akhirat, bacalah jika kalian mau: 'Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka sendiri.'"

Barang siapa yang mencintai seseorang (anak, orang tua, istri...) lebih dari cintanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihiwasallam, maka ia harus menangisi sikap dingin, kesalahannya, dan kelalaiannya, serta jaraknya dari keimanan. Belumlah iman masuk ke dalam hatinya. Dengan keimanan yang tulus, seorang mukmin yang beruntung akan menggenggam erat tali iman dan lebih mencintai Rasulullah daripada dirinya sendiri atau orang lain. 

Sebagai contoh, ketika kaum Quraisy kafir mengangkat Khubaib Radhiyallahu anhu di atas kayu salib di Mekah untuk membunuhnya, mereka bertanya kepadanya :
 "Apakah kamu ingin agar Muhammad menggantikan tempatmu?" Dia menjawab, "Demi Allah, aku tidak ingin Rasulullah digantikan oleh bahkan sebuah duri yang menyakiti kakinya."

Siapa pun yang berpikir bahwa ada jalan lain menuju Allah selain melalui jalan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah keluar dari agama Islam. Allah Ta'ala berfirman :
 "Dan barang siapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang beriman, Kami biarkan dia dalam kesesatannya dan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali."

Bagaimana mungkin kita tidak mencintai Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan mengingat cintanya setiap hari? Dia adalah saksi kita di dunia dan akhirat.

 Ketaatan kepada Rasulullah adalah ketaatan kepada Allah Ta'ala. 
Rasulullah menjadi saksi amal perbuatan kita setiap Senin dan Kamis, bersyukur kepada Allah atas kebaikannya, dan memohon ampun kepada Allah untuk kita atas kelalaian kita. 
Rasulullah adalah pembawa berita gembira, pemberi peringatan yang diutus di hadapan azab yang dahsyat, dan cahaya yang menerangi alam semesta dan hati dengan sinarnya. 
Rasulullah adalah penghapus dosa yang diutus untuk menghapus dosa-dosa kita. Beliau adalah rahmat terbesar dan tali iman yang kokoh.
 Rasulullah bersabda, "Aku hanyalah rahmat yang dihadiahkan."
 Beliau adalah penutup para nabi yang dengan kedatangannya wahyu berakhir, yang peduli dengan penderitaan umat, yang sangat ingin agar seluruh umatnya mendapatkan petunjuk.
 Rasulullah adalah berakhlak Al-Qur'an yang mulia, berakhlak agung, penyayang, dan penuh belas kasih. 
Allah Ta'ala berfirman tentangnya :  "Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin."


     Cinta kepada Nabi adalah Cinta kepada Allah 

Dalam firman Allah Ta’ala: 
"Katakanlah: jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai lebih kalian cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik" [At-Taubah: 24].

Ayat ini memisahkan antara dua kelompok manusia:
 kelompok yang menunggu keputusan Allah karena mereka lebih mencintai dunia dan kenikmatannya daripada mencintai Allah, Rasul-Nya, dan berjihad di jalan-Nya. Mereka terjebak dalam nafsu syahwat, kekayaan, dan kekuasaan yang menghalangi mereka dari cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
 Mereka hanya mengejar dunia di dunia ini. Mereka lebih mencintai persaudaraan, pernikahan, perdagangan, tempat tinggal, dan kendaraan daripada mencintai Allah, Rasul-Nya, dan berjihad di jalan-Nya. Mereka tidak merasakan kebahagiaan kecuali kebahagiaan yang tercela, sebagaimana firman Allah: 
"Yang demikian itu karena kalian bersuka ria di bumi dengan cara yang tidak benar dan karena kalian selalu bersuka ria" [Ghafir: 75]. 

Contoh nyata adalah kegembiraan mereka yang duduk-duduk saat jihad, yang tertinggal dari sahabat, yang membuat alasan palsu, yang Allah berfirman tentang mereka: 
"Orang-orang yang ditinggalkan itu merasa senang dengan tempat mereka duduk-duduk, berlawanan dengan Rasulullah" [At-Taubah: 81]. 
Mereka merasa senang karena tertinggal! Bahkan, mereka menganggapnya sebagai prestasi!!!

Kelompok yang kedua adalah kaum mukminin yang jujur yang lebih mengutamakan akhirat daripada dunia, dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.

 Mereka mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuh hati sehingga cinta ini menguasai mereka dan mengecilkan porsi dunia di hati mereka. Dunia mereka pun teratur dalam naungan akhirat mereka, dan mereka tidak mengambil dari dunia kecuali apa yang diridhai Allah bagi mereka.

 Mereka bangkit dengan mengatasi rintangan dan berdakwah kepada Allah dengan penuh pengetahuan. Mereka tidak mencampur keimanan mereka dengan kezaliman, mereka sabar, saling membantu, dan berjuang, dengan panutan sempurna yaitu kekasih yang terpilih, Nabi Muhammad shallallahualaihiwasallam.

 Mereka gembira kepada Allah dan dengan karunia-Nya, bukan dengan hal-hal duniawi itu sendiri. Allah berfirman: 
"Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan" [Yunus: 58]. 

Dalam tafsir "Ad-Durr Al-Manthur", Imam As-Suyuthi menyebutkan dari Ibnu Abbas bahwa dalam tafsir ayat ini ia berkata: "Karunia Allah adalah ilmu, dan rahmat-Nya adalah Nabi Muhammad Shallallahualaihiwasallam". Inilah bentuk kegembiraan yang paling tinggi sebagaimana disebutkan oleh Sultan para ulama, Al-Izz bin Abdus Salam, rahimahullah.



        Sekarang Ya Umar

Allah Ta’ala memerintahkan dalam kitab-Nya yang mulia untuk memuliakan Rasulullah Shallallahualaihiwasallam, menghormatinya, dan beradab di hadapannya. 

Para sahabat diperintahkan dalam surat Al-Hujurat untuk tidak mengangkat suara mereka di atas suaranya, tidak berbicara dengan keras seperti mereka berbicara satu sama lain, dan tidak memanggilnya seperti mereka memanggil satu sama lain.

 Mereka diberitahu bahwa membaiat Rasulullah adalah membaiat Allah Ta’ala, dan tangan Allah di atas tangan orang-orang yang membaiat. Maka berkumpullah bagi para sahabat faktor-faktor penghormatan, pengagungan, dan cinta sebagai perintah yang diwahyukan dari langit, dan dorongan yang menggelora dari hati. Tanpa dorongan ini, perintah surgawi dan penjelasan nabi tentang kesucian tidak akan diterima.

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Abdullah bin Hisyam, ia berkata: 
“Kami bersama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan beliau memegang tangan Umar bin Khattab. 
Maka Umar berkata kepadanya: Ya Rasulullah! Engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri!” Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tidak, demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri!” Maka Umar berkata: “Sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri!” Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sekarang ya Umar!”


Cinta yang dituntut oleh iman seorang mukmin dan mukminah adalah lebih mencintai Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam daripada mencintai makhluk lainnya. Qadhi Iyadh berkata:
 "Ketahuilah bahwa siapa yang mencintai sesuatu maka ia akan mengutamakannya dan ingin menyamakannya; jika tidak, maka ia tidak tulus dalam cintanya dan hanya mengaku-ngaku".

 Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, rahimahullah, membagi para pecinta menjadi tiga jenis: mereka yang menginginkan sesuatu dari yang dicintai, mereka yang menginginkan yang dicintai, dan mereka yang menginginkan bersama keinginan mereka terhadap yang dicintai, apa yang diinginkan oleh yang dicintai. Ini adalah puncak dari pengikut.

Tidaklah ada tanda cinta kepada Allah selain cinta kepada kekasih-Nya.



        Cinta dan Pengikut

Mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bukan hanya klaim lisan, atau pembicaraan biasa, atau perasaan semu dalam hati. Diriwayatkan bahwa Dzu An-Nun Al-Mishri pernah berada di sebuah majelis yang membicarakan tentang cinta kepada Rasulullah Shallallahualaihiwasallam, ia berkata: “Diamlah agar tidak didengar oleh jiwa dan mereka mengakuinya.” Cinta adalah belajar, kerinduan, perjalanan, perjuangan, dan jihad. 

Allah berfirman: "Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" [Ali Imran: 31].

 Maka dari itu, petunjuk Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan petunjuk saudara-saudaranya dari nabi-nabi sebelumnya bukan sekadar menyampaikan risalah, meskipun penyampaian adalah salah satu rukun petunjuk. Namun, petunjuk itu juga adalah pengajaran, pengelolaan, kelembutan, dan kepemimpinan yang mengarah pada pengikut dan keimanan. 
Mengikuti ini meningkatkan cinta kepada pribadi Rasulullah, dan cinta kepada Rasulullah meningkatkan cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah mewajibkan cinta kepada Rasul dan pengikut setia, serta membawa hamba ke derajat pilihan dan keberuntungan.

Maka, pengikut sejati tidak terjadi hingga hati menjadi jernih, sehingga hawa nafsu seorang mukmin sejalan dengan apa yang dibawa Rasulullah, hingga cinta menjadi murni sehingga ia mencintai Nabi lebih dari dirinya sendiri yang berada di antara kedua sisinya, hingga pelajaran menjadi nyata sehingga ia mengutamakan apa yang dicintai Rasulullah daripada yang ia inginkan, hingga dorongan menjadi lebih kuat sehingga ia bangkit menolong agama Allah di atas agama musuh-musuh-Nya.

Ketahuilah, saudaraku yang mulia, bahwa cinta kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan mengikutinya memiliki tanda-tanda, yang di antaranya:

1. Berpegang Teguh pada Allah Ta'ala dan Mencintai-Nya:

Ini dilakukan dengan terus-menerus bertaubat, kembali kepada-Nya, berdiri di depan pintu-Nya, dan tunduk merendahkan diri di hadapan-Nya. 

Allah Ta'ala berfirman: "Dan barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus" (QS. Ali Imran: 101). 

Jika kamu ingin Allah menolongmu, maka tolonglah agama-Nya. Jika kamu ingin Allah mengingatmu, maka ingatlah Dia. Jika kamu ingin doa-doamu dikabulkan, maka berdoalah kepada-Nya.

2. Mengagungkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan Beradab dengan Adab Beliau, Lahir dan Batin:

Ini dilakukan dengan menjaga dan mempelajari haditsnya, memperbanyak menyebut namanya dan bershalawat kepadanya. Barang siapa mencintai sesuatu, ia akan sering menyebutnya. Begitu pula dengan kerinduan untuk bertemu dengannya, karena setiap kekasih pasti merindukan pertemuan dengan kekasihnya. Dalam sebuah hadits tentang kaum Asy'ariyyin ketika mereka datang ke Madinah, mereka bersenandung: "Besok kita akan bertemu dengan orang-orang yang kita cintai, yaitu Muhammad dan para sahabatnya."

3. Membaca Al-Qur'an dengan Khusyuk dan Tadabbur:

Membaca Al-Qur'an dengan niat untuk memahami perintah Allah dan mengamalkan apa yang diperintahkan. Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu anhu berkata: 
"Seseorang tidak perlu bertanya tentang dirinya, kecuali pada Al-Qur'an. Jika ia mencintai Al-Qur'an, maka ia mencintai Allah dan Rasul-Nya." 

Ini dilakukan dengan membaca, belajar, menghafal, berakhlak, dan berperilaku sesuai dengan Al-Qur'an, serta menggunakan akal untuk mengikuti petunjuk yang diturunkan, bukan mengikuti hawa nafsu yang menyesatkan.

4. Berpegang Teguh pada Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam Secara Keseluruhan:

Ini termasuk mengikuti seluruh sunnah Rasulullah Shallallahualaihiwasallam, baik yang mudah bagi diri maupun yang berat. Baik yang diterima oleh manusia maupun yang ditolak. 
Mencontoh kesabaran, ketabahan, keteguhan, perjuangan, dan harapan untuk pertolongan dari Tuhan Yang Maha Mulia. Ini juga mencakup mencintai Ahlul Bait, para istri Nabi, para khalifah yang mendapat petunjuk, para Anshar, Muhajirin, sahabat, tabi'in, tabi'at, serta orang-orang mukmin dan mukminat. 
Mendukung, menyayangi, dan mendoakan mereka. Secara keseluruhan, kita diperintahkan untuk mengambil apa yang telah diberikan Rasulullah kepada kita dan menjauhi apa yang beliau larang.

5. Mencintai Apa yang Dicintai Kekasih (Rasulullah Shallallahualaihiwasallam)

Ini berarti mencintai apa yang dicintai oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan apa yang dicintai oleh para sahabat yang mendapat petunjuk.

 Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: 
"Berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk setelahku, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian" (HR. Tirmidzi).

 Ibnu Hajar Rahimahullah memberikan komentar tentang hadits ini: 
"Dalam hadits ini terdapat makna bahwa barangsiapa mencintai sesuatu, maka ia juga akan mencintai apa yang disukai oleh kekasihnya, dan apa yang mirip dengannya, serta apa yang berkaitan dengannya." 

Oleh karena itu, dikatakan: "Tanda paling tulus dari Ahli Allah adalah kecintaan mereka dalam meniru kekasih dalam sunnahnya yang sempurna." 

Sebaliknya, mereka juga menghindari apa yang dibenci oleh Rasulullah Shallallahualaihiwasallam. 

Allah Ta'ala berfirman: 
"Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya" (QS. Al-Mujadilah: 22).

6. Berada Bersama Orang-Orang yang Jujur

Allah Ta'ala berfirman: 
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur" (QS. At-Taubah: 119). 

Maksudnya adalah orang-orang yang jujur dalam keimanan dan keyakinan, para pendahulu dalam kebaikan, para ulama rabbani, dan mereka yang banyak mengingat Allah, serta yang memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran.
 Dari merekalah, dan bersama mereka, kita belajar arti cinta, kerinduan, dan mengikuti Rasulullah Shallallahualaihiwasallam. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam diperintahkan untuk bersabar bersama mereka.

 Pada hari kiamat nanti, Allah Ta'ala berfirman: 
"Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini Aku naungi mereka dalam naungan-Ku, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Ku" (HR. Muslim).

 Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda: 
"Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah" (HR. Ahmad).

7. Menyampaikan Ajaran Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam 

Ini dilakukan dengan mengamalkan wasiat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang abadi:
 "Sampaikan dariku walaupun satu ayat" (HR. Bukhari). 

Maksudnya adalah menyampaikan seluruh ajaran agama dan menjelaskannya, serta jangan menyembunyikan apa pun darinya.

 Allah Ta'ala berfirman: 
"Sampaikanlah ajaran ini kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya" (QS. Ali Imran: 187). 

Sampaikanlah kabar besar ini kepada manusia. Dalam menyampaikan dakwah, hendaknya kita mengedepankan kelembutan dan kasih sayang, mencintai orang-orang beriman kepada Allah, dan membuat mereka mencintai Allah, serta bersikap lembut kepada umat dan berusaha untuk kepentingan mereka.

 Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat: "Apakah aku telah menyampaikan?" Mereka menjawab: "Ya." 
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata: "Ya Allah, saksikanlah." 
Kemudian beliau bersabda: "Hendaklah yang hadir di antara kalian menyampaikan kepada yang tidak hadir" (HR. Bukhari dan Muslim).

Penutup

Ya Allah, karuniakanlah kami cinta kepada-Mu, cinta kepada Nabi-Mu, dan cinta kepada orang-orang yang mencintai-Mu dan yang cinta mereka bermanfaat bagi kami di sisi-Mu. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang merayakan Nabi-Mu di dunia dan akhirat. Termasuk mereka yang Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda tentang mereka: "Orang-orang yang paling mencintaiku dari umatku adalah mereka yang datang setelahku, salah satu dari mereka rela melihatku meski harus mengorbankan keluarga dan hartanya" (HR. Muslim). Amin.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam sebanyak-banyaknya kepada junjungan kami, Nabi Muhammad, beserta keluarganya, sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti petunjuknya. Beliau adalah kekasih yang diridhoi, pilihan yang terpilih, yang ketaatannya merupakan ketaatan kepada-Mu, dan yang berpaling darinya adalah kekufuran, baiat kepadanya adalah baiat kepada-Mu, dan mencintainya adalah cinta kepada-Mu. Beliau adalah hamba-Mu, Nabi-Mu, Rasul-Mu, dan pilihan-Mu dari makhluk-Mu, tali yang kuat yang menghubungkan kitab-Mu yang Engkau turunkan, tali yang membentang antara Engkau dan para kekasih-Mu, orang-orang yang Engkau pilih, serta wali-wali-Mu. Beliau adalah sandaran yang berkesinambungan. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhuma: 
"Cintailah Allah atas nikmat yang Dia berikan kepada kalian, dan cintailah aku karena cinta kepada Allah, dan cintailah keluargaku karena cintaku" (HR. Tirmidzi).

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

SYUKUR


SYUKUR 


Oleh: Dr. Mehran Maher Othman

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang



Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Aku bershalawat dan salam kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. Amma ba’du;

Di antara ibadah besar yang buahnya bisa dirasakan oleh manusia di dunia maupun di akhirat adalah syukur kepada Allah Ta’ala atas segala nikmat yang diberikan-Nya. Syukur adalah separuh dari agama, sebagaimana yang disampaikan oleh para ulama salaf. Kitab Allah juga dipenuhi dengan perintah untuk bersyukur, dan tidak ada ayat yang diakhiri dengan firman-Nya: {agar kamu bersyukur} atau {semoga kamu bersyukur}, kecuali ia adalah perintah untuk bersyukur.

Berikut ini adalah risalah yang membahas beberapa hal terkait syukur.


Makna Syukur:

Definisi terbaik tentang syukur adalah pengakuan terhadap kebaikan.
Ada juga yang mengatakan: pengakuan atas nikmat dari Sang Pemberi dengan sikap tunduk.
Ibnu Qayyim berkata: "Syukur adalah munculnya pengaruh nikmat Allah pada lisan hamba-Nya: dengan pujian dan pengakuan, pada hatinya: dengan kesaksian dan cinta, dan pada anggota badannya: dengan ketaatan dan kepatuhan." [Madarij As-Salikin (2/244)].
Ini menunjukkan bahwa syukur memiliki tiga rukun.


Rukun Syukur:

1. Mengakui nikmat dalam hati.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: "Manusia diberi hujan pada masa Nabi ﷺ, lalu Nabi ﷺ bersabda: 'Di antara mereka ada yang bersyukur dan ada yang kafir. Mereka berkata: Ini adalah rahmat Allah. Sedangkan sebagian mereka berkata: Telah benar apa yang dikatakan oleh bintang anu dan anu.'" [Muslim].

2. Mengungkapkannya dan memuji Sang Pemberi.
Allah Ta’ala berfirman: {Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)} [Adh-Dhuha: 11].

3. Menggunakannya dalam ketaatan kepada Sang Pemberi nikmat.
Allah Ta’ala berfirman: {Beramallah, hai keluarga Dawud, sebagai wujud syukur} [Saba': 13].
Makna ayat ini adalah: Wahai keluarga Dawud, beramallah sebagai rasa syukur kepada Allah atas apa yang telah diberikan kepada kalian, yaitu dengan menaati-Nya dan melaksanakan perintah-Nya.

Oleh karena itu, seorang penyair berkata:
"Engkau berikan kepadaku nikmat tiga hal: Tangan, lidah, dan hati yang tersembunyi."

Abu Abdurrahman Al-Hubli berkata: "Shalat adalah syukur, puasa adalah syukur, dan setiap kebaikan yang engkau lakukan untuk Allah adalah syukur. Dan syukur yang paling utama adalah pujian." [Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir].


Perbedaan antara Syukur dan Hamd:

Ada dua perbedaan:

1. Syukur dilakukan dengan anggota badan, sedangkan hamd dilakukan dengan lisan dan hati.
Oleh karena itu, kita mendengar tentang sujud syukur, tetapi tidak pernah mendengar tentang sujud hamd, karena syukur dilakukan dengan anggota badan. Sebagaimana telah dijelaskan dalam rukun syukur bahwa syukur dilakukan dengan menggunakan nikmat dalam ketaatan kepada Allah, dan ini adalah amal yang dilakukan dengan anggota badan.

2. Syukur dilakukan saat mendapatkan nikmat, sedangkan hamd dilakukan dalam segala keadaan. Rasulullah ﷺ ketika mendapatkan kabar gembira beliau mengucapkan: "Alhamdulillah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna." Dan jika mendapatkan musibah beliau mengucapkan: "Alhamdulillah atas segala keadaan."


Syukur adalah sifat Allah:

Di antara nama-nama Allah adalah Asy-Syakir dan Asy-Syakur.

Allah Ta’ala berfirman: {Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syiar Allah, maka barangsiapa yang berhaji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya untuk melakukan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebaikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui} [Al-Baqarah: 158].

Dan Allah Ta’ala berfirman: {Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri} [Asy-Syura: 23].

Dan Allah Ta’ala berfirman: {Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Penyantun} [At-Taghabun: 17].

Allah tidak menyia-nyiakan amal kebaikan seseorang, mensyukuri amal yang sedikit tetapi ikhlas, dan mengampuni banyak kesalahan.
 Bahkan Allah melipatgandakannya berkali-kali lipat tanpa perhitungan.
Salah satu bentuk syukur-Nya adalah memberikan kenikmatan di akhirat yang tidak terbatas atas amal yang dilakukan dalam waktu yang terbatas di dunia, {Makan dan minumlah dengan nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu} [Al-Haqqah: 24].

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Suatu ketika, seorang laki-laki sedang berjalan lalu ia merasa sangat haus. Kemudian ia turun ke sebuah sumur dan minum darinya. Setelah keluar, ia melihat seekor anjing menjilat tanah karena sangat haus. Laki-laki itu berkata: 'Anjing ini telah merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan.' Lalu ia mengisi sepatunya dengan air, memegangnya dengan mulutnya, lalu memanjat keluar dan memberi minum kepada anjing itu. Maka Allah mensyukurinya dan mengampuninya." Para sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, apakah kita juga mendapat pahala karena (berbuat baik) kepada binatang?" Rasulullah ﷺ menjawab: "Pada setiap makhluk hidup yang memiliki hati yang lembut (ada pahala)." [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim].

Dalam banyak hadits disebutkan bahwa barangsiapa yang melakukan amal kebaikan tertentu, maka baginya surga. Ini adalah bukti bahwa Allah adalah Asy-Syakur, yang memberikan balasan berlipat ganda kepada hamba-Nya, dan memberikan banyak pahala atas amal yang sedikit. Betapa Maha Penyayangnya Allah sebagai Tuhan kita! Betapa Maha Agungnya Dia sebagai Tuhan!


Syukur adalah sifat para nabi:

Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh ‘alaihis salam: {Anak keturunan orang-orang yang Kami bawa bersama Nuh, sesungguhnya dia adalah hamba yang banyak bersyukur} [Al-Isra’: 3].

Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salam: {Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan selalu bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus} [An-Nahl: 120-121].

Dan pemimpin orang-orang yang bersyukur adalah Nabi kita Muhammad ﷺ.

 Diriwayatkan dari Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ berdiri untuk shalat hingga kedua kakinya bengkak. Lalu beliau ditanya, dan beliau menjawab: "Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim].


Perintah untuk bersyukur:

Allah Ta’ala berfirman: {Ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan mengingatmu, bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat-Ku)} [Al-Baqarah: 152].

Allah Ta’ala berfirman: {Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu} [Luqman: 14].

Nabi kita Muhammad ﷺ juga memerintahkan kita untuk bersyukur: {Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka sembahlah Allah saja, dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur"} [Az-Zumar: 65-66].

Allah Ta’ala juga memerintahkan Nabi Musa ‘alaihis salam untuk bersyukur: {Hai Musa, sesungguhnya Aku telah memilih kamu dari manusia yang ada, untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, maka berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur} [Al A'rof 144)

Dan Allah juga memerintahkan kepada orang-orang yang beriman: "Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allah jika hanya kepada-Nya kalian menyembah." (QS. Al-Baqarah: 172).

Allah berfirman: "Dan suatu tanda bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami menghidupkannya dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka dari itu mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur, dan Kami pancarkan padanya mata air, agar mereka dapat makan dari buahnya, dan bukan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka, mengapa mereka tidak bersyukur?" (QS. Yasin: 33-35).

Dan Allah juga berfirman: "Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Kami telah menciptakan untuk mereka hewan ternak dengan kekuasaan Kami, sehingga mereka menjadi pemiliknya. Dan Kami tundukkan hewan-hewan itu untuk mereka, sehingga sebagian mereka jadikan sebagai kendaraan dan sebagian lagi mereka makan. Dan bagi mereka terdapat manfaat-manfaat lain darinya, serta minuman. Maka, mengapa mereka tidak bersyukur?" (QS. Yasin: 71-73).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Allah Azza wa Jalla berfirman pada hari kiamat: 'Wahai anak Adam, Aku telah membawa kalian di atas kuda dan unta, Aku nikahkan kalian dengan para wanita, dan Aku jadikan kalian sebagai pemimpin dan kepala kaum, maka di manakah rasa syukur atas semua itu?'" (HR. Ahmad).

Keterangan:

- "Terba'" maksudnya adalah mendapatkan seperempat dari harta rampasan perang.
- "Tara'as" maksudnya adalah menjadi pemimpin atau kepala kaum.


Buah dari Syukur:

1. Merupakan Ciri-Ciri Orang Beriman:

Dalam Shahih Muslim, dari Shuhaib radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman; sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik, dan hal ini tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali orang yang beriman. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, dan itu adalah kebaikan baginya. Dan jika dia mendapat kesusahan, dia bersabar, dan itu adalah kebaikan baginya."

2. Menjadi Penyebab Ridha Allah kepada Hamba-Nya:

Allah Ta'ala berfirman: "Jika kamu bersyukur, Dia akan meridhai kamu." (QS. Az-Zumar: 7).

3. Menjadi Perlindungan dari Azab:

Allah Ta'ala berfirman: "Mengapa Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman?" (QS. An-Nisa: 147).

Qatadah rahimahullah berkata: "Sesungguhnya Allah Yang Maha Agung tidak akan menyiksa orang yang bersyukur dan beriman." (Tafsir Ath-Thabari: 9/342).

4. Menjadi Penyebab Bertambahnya Nikmat:

Allah Ta'ala berfirman: "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu'." (QS. Ibrahim: 7).

Beberapa ulama salaf rahimahumullah berkata: "Nikmat itu liar, maka ikatlah ia dengan syukur."

Al-Hasan Al-Bashri berkata: "Sesungguhnya Allah akan memberikan kenikmatan selama yang Dia kehendaki, tetapi jika tidak disyukuri, Dia akan mengubahnya menjadi azab. Oleh karena itu, mereka (para ulama) menyebut syukur sebagai penjaga, karena syukur menjaga nikmat yang ada, dan sebagai pengundang, karena syukur mengundang nikmat yang hilang."

5. Pahala Besar di Akhirat:

Allah Ta'ala berfirman: "Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (QS. Ali Imran: 145).

Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (QS. Ali Imran: 144).



Peringatan terhadap Pengingkaran dan Ketidaksyukuran:

Saya cukupkan dengan menyebutkan dua peristiwa yang disebutkan dalam Al-Qur'an:

   Pertama:

Allah Ta'ala berfirman: "Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), 'Makanlah dari rezeki yang diberikan Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun.' Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirimkan kepada mereka banjir besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami membalas mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak memberi balasan (yang demikian itu), kecuali kepada orang-orang yang sangat kafir." (QS. Saba': 15-17).

Al-Arim: Air yang meluap, ini adalah bentuk penamaan dengan sifatnya.

Khamth: Buah yang pahit.

Atsl: Pohon yang tidak berbuah.

      Kedua:

Allah Ta'ala berfirman: "Dan Allah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat." (QS. An-Nahl: 112).

Ungkapan "pakaian" digunakan karena ia selalu melekat pada pemakainya, maka kelaparan dan ketakutan selalu menyelimuti mereka, seperti pakaian yang selalu melekat pada tubuh.



Bagaimana Kita Bisa Menjadi Orang yang Bersyukur?

- Dengan menjalankan rukun-rukun syukur yang telah disebutkan sebelumnya.

- Dengan bersyukur kepada orang yang telah berbuat baik kepadamu dari kalangan manusia.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia." (HR. At-Tirmidzi).

Dalam Sunan Abi Dawud, dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi Allah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang telah berbuat kebaikan kepadamu, maka balaslah ia. Jika kamu tidak menemukan apa yang dapat kamu balas dengannya, maka doakanlah dia hingga kamu merasa bahwa kamu telah membalas kebaikannya."

Dan dari Jabir radhiyallahu 'anhuma, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang diberikan sesuatu, lalu ia menemukan (sesuatu untuk membalasnya), maka balaslah. Jika tidak, maka pujilah. Sesungguhnya orang yang memuji berarti telah bersyukur, dan barang siapa yang menyembunyikannya berarti telah kufur." (HR. Abu Dawud).

Dan dari Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang berbuat kebaikan kepadanya, lalu ia berkata kepada pelakunya: 'Jazakallahu khairan,' maka sungguh ia telah mencapai pujian yang sempurna." (HR. At-Tirmidzi).

- Dengan merenungkan nikmat-nikmat Allah atasmu:

Allah Ta'ala berfirman: "Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kalian bersyukur." (QS. An-Nahl: 78).

Yunus bin Ubaid rahimahullah berkata kepada seorang yang mengeluhkan kesempitan hidupnya: "Apakah kamu rela jika penglihatanmu ini diganti dengan seratus ribu dirham?" Orang itu menjawab: "Tidak." Yunus berkata: "Apakah kamu rela jika tanganmu diganti dengan seratus ribu?" Dia menjawab: "Tidak." Yunus bertanya lagi: "Apakah kamu rela jika kedua kakimu diganti dengan seratus ribu?" Dia menjawab: "Tidak." Maka Yunus mengingatkannya akan nikmat-nikmat Allah padanya, lalu berkata: "Aku melihat engkau memiliki ratusan ribu (nikmat), tetapi engkau mengeluhkan kebutuhanmu?"

- Dengan bertakwa kepada Allah dan beramal dalam ketaatan kepada-Nya:

Allah Ta'ala berfirman: "Dan sungguh Allah telah menolong kalian dalam Perang Badar, padahal kalian dalam keadaan lemah. Maka bertakwalah kepada Allah, agar kalian bersyukur." (QS. Ali Imran: 123).

Ibnu Ishaq berkata: "Artinya: Maka bertakwalah kepada-Ku, karena itu adalah bentuk syukur atas nikmat-Ku." (As-Sirah 3/113).

- Dengan merasa cukup dan ridha dengan apa yang Allah bagikan untukmu:

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jadilah engkau orang yang merasa cukup, niscaya engkau menjadi orang yang paling bersyukur." (HR. Ibnu Majah).

- Dengan Shalat Dhuha:

Dari Abu Dzarr radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Setiap pagi di atas setiap persendian dari salah seorang dari kalian terdapat sedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan yang ma'ruf adalah sedekah, dan mencegah yang mungkar adalah sedekah, dan semua itu dapat diganti dengan dua rakaat yang dilakukan pada waktu Dhuha." (HR. Bukhari dan Muslim).

- Dengan Sujud Syukur:

Dari Abu Bakrah Nufai' bin Al-Harith radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, apabila datang kepada beliau suatu kabar yang menggembirakan, beliau segera sujud sebagai bentuk syukur kepada Allah. (HR. Abu Dawud).

Sujud ini tidak disyaratkan wudhu dan menghadap kiblat.

Nikmat itu terbagi dua: Nikmat yang terus menerus dan nikmat yang baru. Untuk nikmat yang baru, manusia bersujud kepada Allah ketika ia diberikan kenikmatan tersebut.


- Dengan mengucapkan saat pagi dan petang: "Ya Allah, apa pun nikmat yang ada padaku atau pada makhluk-Mu, itu semua berasal dari-Mu semata, tiada sekutu bagi-Mu. Maka hanya bagi-Mu segala pujian dan syukur."

Dari Abdullah bin Ghannam Al-Bayadhi radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang mengucapkan ketika pagi hari: 'Ya Allah, apa pun nikmat yang ada padaku atau pada makhluk-Mu, itu semua berasal dari-Mu semata, tiada sekutu bagi-Mu. Maka hanya bagi-Mu segala pujian dan syukur.' Maka ia telah menunaikan syukur untuk hari itu, dan barangsiapa yang mengucapkan demikian ketika petang hari, maka ia telah menunaikan syukur untuk malamnya." (HR. Abu Dawud).



Kesejahteraan dengan syukur lebih baik daripada cobaan dengan kesabaran:


Mutarrif rahimahullah berkata: "Lebih baik aku sehat dan bersyukur daripada aku diuji dengan cobaan lalu bersabar." (Mukhtashar Minhaj Al-Qasidin, hal. 295).

         Penutup:

Jika syukur memiliki kedudukan yang demikian tinggi, maka patutlah bagi kita untuk selalu berdoa dengan doa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memegang tangannya dan bersabda: "Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu, maka janganlah engkau meninggalkan doa di setiap akhir shalat dengan mengucapkan: 'Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.'" (HR. Abu Dawud).

Dalam Sunan At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berdoa dengan mengucapkan: "Ya Rabb, bantulah aku dan jangan Engkau tolong (orang lain) melawan aku, tolonglah aku dan jangan Engkau tolong (orang lain) melawan aku, tipu muslihatkanlah untukku dan jangan Engkau tipu muslihatkan (orang lain) melawan aku, berikan petunjuk kepadaku dan mudahkanlah hidayah untukku, dan tolonglah aku terhadap orang yang berbuat aniaya kepadaku. Ya Rabb, jadikanlah aku orang yang banyak bersyukur, banyak berdzikir, banyak takut, banyak taat, banyak khusyuk, banyak bertaubat, banyak kembali kepada-Mu, ya Rabb, terimalah tobatku, bersihkan dosaku, kabulkan doaku, teguhkan hujjahku, luruskan lisanku, berikanlah petunjuk kepada hatiku, dan hilangkan kedengkian dari dadaku."

Pembaca yang terhormat, semoga Allah menjadikan saya dan Anda termasuk orang-orang yang paling bersyukur.

Ya Allah, limpahkanlah salawat, salam, berkah, dan nikmat-Mu kepada junjungan kami Nabi Muhammad, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.